MATERI IN HOUSE TRAINING
KOMITE KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
A. KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA RUMAH SAKIT
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 66 Tahun
2016 Tentang Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit yang selanjutnya
disingkat K3RS adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi
keselamatan dan kesehatan bagi sumber daya manusia rumah sakit,
pasien, pendamping pasien, pengunjung, maupun lingkungan rumah sakit
melalui upaya pencegahan kecelakan kerja dan penyakit akibat kerja di
Rumah Sakit.
1. Kecelakaan Kerja
Berdasarkan UU No. 1 Tahun 1970 tentang keselamatan
kerja, kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang tidak diduga
semula dan tidak dikehendaki, yang mengacaukan proses yang telah
diatur dari suatu aktivitas dan dapat menimbulkan kerugian baik
korban manusia maupun harta benda
Jenis kecelakaan akibat kerja, meliputi :
a) Terjatuh
b) Tertimpa benda jatuh.
c) Tertumbuk atau terkena benda-benda
d) Terjepit oleh benda
e) Gerakan-gerakan melebihi kemampuan
f) Pengaruh suhu tinggi
g) Terkena arus listrik
h) Kontak dengan bahan-bahan berbahaya atau radiasi.
i) Tergores, terkena benda tajam dan tertusuk jarum
j) dan lain-lain
2. Penyakit Akibat Kerja
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2019
Tentang Penyakit Akibat Kerja. Penyakit Akibat Kerja adalah
penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja.
Pekerja yang didiagnosis menderita Penyakit Akibat Kerja
berdasarkan surat keterangan dokter berhak atas manfaat JKK
meskipun hubungan kerja telah berakhir.
Penyakit yang disebabkan pajanan faktor yang timbul dari
aktivitas pekerjaan penyakit akibat kerja pada klasifikasi jenis ini
sebagai berikut:
a) Fakor kimia
b) Faktor fisika
c) Penyakit infeksi
d) Target organ
e) Penyakit kulit
f) Otot dan rangka
g) Mental dan perilaku
3. Insiden
Insiden adalah serangkaian kejadian yang tidak direncanakan
atau tidak diinginkan atau tak terkendalikan atau tak terduga yang
dapat menyebabkan kecelakaan, luka, kehilangan, kerugian atau
permasalahan yang serius atau besar financial bagi para pekerja
atau instansi, pengunjung, dan pasien. Jenis insiden di Rumah
Sakit, meliputi :
a. Bahaya lingkungan atau kebakaran
Contoh : Kebakaran gedung, banjir, dll
b. Masalah perlengkapan/peralatan
Contoh : kerusakan alat Kesehatan fatal , Kerusakan genset dll
c. Kerusakan fasilitas
Contoh : Plafonjatuh (rusak), jatuhnya bangunan, dll
d. Keselamatan pengunjung, pasien dan petugas
Contoh :pasien/pengunjungterjatuh, terpleset, dll
e. Kerusakan utilitas
Contoh : Gangguan arus listrik, Pipa air pecah, dll
Alur pelaporan KAK, PAK dan Insiden
B. PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3)
Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) adalah zat, energi, dan/atau
komponen lain yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau jumlah, baik
secara langsung maupun tidak langsung, dapat membahayakan
kesehatan, kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup serta
mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup sekitarnya.
Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dari aspek
keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah upaya meminimalkan risiko
penggunaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dan limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun (B3) terhadap sumber daya manusia Rumah
Sakit, pasien, pendamping pasien, pengunjung, maupun lingkungan
Rumah Sakit.
Jenis bahan berbahaya dan beracun (B3) yang ada dirumah sakit,
meliputi :
1. Infeksius
2. Benda tajam
3. Patologis
4. Bahan kimia kedaluwarsa, tumpahan, atau sisa kemasan
5. Radioaktif
6. Farmasi
7. Sitotoksik
8. Peralatan medis yang memiliki kandungan logam berat tinggi;
9. Tabung gas atau kontainer bertekanan
Sarana keselamatan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), meliputi :
1. Lemari Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)
2. Penyiram badan (body wash)
3. Pencuci mata (eyewasher)
4. Alat Pelindung Diri (APD)
5. Rambu dan Simbol Bahan Berbahaya dan Beracun (B3); dan
6. Spill Kit B3
Dalam menangani tumpahan Bahan berbahaya dan beracun yang harus
dilakukan oleh petugas,yaitu :
1. Petugas mempersiapkan alat Spil Kit B3
2. Memasang papan rambu “Lantai Licin” pada area ceceran B3
3. Petugas Menggunakan Alat pelindung diri (APD)
4. Petugas menaruh apsorpen (sponge) di sekeliling tumbahan/ceceran
5. Petugas menggunakan kain/flannel untuk mengangkat tumpahan
dengan memutar arah jarum jam
6. Petugas memasukkan kain kedalam tempat/plastic khusus dan
tutup hingga rapat
7. Petugas membersihkan lantai dengan mengepel lantai
Petugas mengambil papan rambu
C. PENGENDALIAN KEBAKARAN
Kebakaran merupakan salah satubencana yang mungkin terjadi di
Rumah Sakit. Dimana akibat yang ditimbulkannya akan berdampak
buruk sangat luas dan menyeluruh bagi pelayanan, operasional, sarana
dan prasarana pendukung lainnya, dimana didalamnya juga terdapat
pasien, keluarga, pekerja dan pengunjung lainnya. Untuk hal tersebut
maka Rumah Sakit harus melakukan upaya pengelolaan keselamatan
kebakaran.
Pengecekan sarana proteksi kebakaran ada dua yaitu proteksi
kebakaran pasif dan aktif. Proteksi kebakaran secara aktif yaitu APAR,
Hidrant, Detektorapi, detektor asap dan sprinkler. Sedangkan proteksi
kebakaran secara pasif yaitu jalur evakuasi, pintu darurat, tangga
darurat, tempat titik kumpul aman dan ram.
Cara pengunaan APAR yang digunakan,yaitu:
Cara Menggunakan Hydrant yang digunakan, yaitu :
1. Persiapkan Selang Fire Hose (Hoseman)
a. Angkat selang fire hose mendekat, bisa juga dipanggul jika
terasa berat dan lempar selang tersebut kearah yang
mendekati api.
b. Posisikan selang agar tidak terbelit, sehingga aliran air
nantinya bisa berjalan dengan lancar.
c. Menyambungkan pangkal selang dengan hydrant pillar.
2. Persiapkan Nozzle (Nozzleman)
a. Posisikan kaki agak merenggang agar tumpuan ketanah
kuat, persiapkan nozzle den ganpegangan yang sempurna.
b. Posisi salah satu tangan adalah memegang ujung nozzle, dan
tangan satunya pada selang.
Ujung Nozzle
Selang
c. Sedangkan kode untuk menghentikan aliran air adalah
melipat siku tangan dengan berulang-ulang.
3. Persiapkan Aliran Air (Commando, Valveman, Pumpman )
a. Kode untuk mengalirkan air dari pemegang nozzle adalah tangan
lurus keatas
b. Sedangkan kode untuk menghentikan aliran air adalah melipat
siku tangan dengan berulang-ulang.
Lokasi Titikkumpul RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun,
meliputi :
1. TITIK KUMPUL 1 : Bagian Depan IGD
2. TITIK KUMPUL 2 : Bagian Depan Poliklinik
3. TITIK KUMPUL 3 : Bagian Samping VIP VK
4. TITIK KUMPUL 4 : Bagian Belakang IPSRS
5. TITIK KUMPUL 5 : Bagian Samping Beringin
Standar Pemakaian helm bagi petugas pada saat terjadi kebakaran,
yaitu:
1. Proses pemadaman api lebih diutamakan (Petugas
pemakaian helm MERAH).
2. Apabila api tidak bisa dipadamkan utamakan proses evakuasi
(Petugas pemakai helm KUNING).
3. Pengamanan data (Petugas helm PUTIH) mengamankan data
penting (utamakan berkas CMpasien).
4. Pengamanan alat medis (Petugas helm BIRU) mengamankan
alkes (utamakan alkes yang mudah dimobilisasi/bisa di evakuasi
dengan mudah).
KODE KOMUNIKASI DARURAT
Salah satu sistem peringatan dini (Early Warning Sistem)
dalam rangka penanggulangan kedaruratan / bencana di
Rumah Sakit:
PANGGILAN
NO KODE KODE DARURAT PEDOMAN DARURAT
Informasi
1 KODE MERAH 102 (Satpam)
kebakaran
Informasi henti 187
2 KODE BIRU
jantung (IGD,ICU,VIP)
KODE MERAH Informasi
3 MUDA penculikan bayi 101 (Satpam)
Setiap petugas Rumah Sakit yang melihat/mendengar
ancaman/mengetahui kejadian Emergency/Darurat wajib
melaporkan ke petugas yang berwenang dengan menyebutkan :
1. Kode Darurat;
2. Nama pelapor;
3. Unit Kerja;
4. Lokasi Kejadian;
5. Jumlah Korban ( bila ada).
Apabila terjadi kebakaran maka yang harus dilakukan, meliputi :
1. Tetap tenang dan jangan panik
2. Hubungi Satpam di nomor telp 102 & laporkan KODE MERAH.
3. Lakukan Usaha pemadaman api dengan APAR.
4. Cara Penggunaan APAR dengan cara Tarik, Arahkan,
Semprotkan, Sapukan.
5. Bantu evakuasi pasien dan selamatkan diri melalui jalur
evakuasi ketitik kumpul (Assembly Point).
6. Kenalilah titik kumpul terdekat
7. Jangan gunakan lift, gunakanlah tangga darurat.
D. KESIAPSIAGAAN MENGHADAPI KONDISI DARURAT ATAU BENCANA
Suatu rangkaian kegiatan yang dirancang untuk meminimalkan
dampak kerugian atau kerusakan yang mungkin terjadi akibat keadaan
darurat oleh karena kegagalan teknologi, ulah manusia atau bencana yang
dapat terjadi setiap saat dan dimanasaja (internal dan eksternal).
Meminimalkan dampak terjadinya kejadian akibat kondisi darurat
dan bencana yang dapat menimbulkan kerugian fisik, material, jiwa, bagi
sumber daya manusia Rumah Sakit, pasien, pendamping pasien, dan
pengunjung yang dapat mengganggu operasional serta menyebabkan
kerusakan lingkungan atau pun mengancam finansial dan citra Rumah
[Link] darurat atau bencana berdasarkan kerentanan bencana
dilakukan terhadap keadaan, antara lain:
1. Darurat air;
2. Darurat listrik;
3. Penculikan bayi;
4. Ancaman bom;
5. Tumpahan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3);
6. Kebocoran radiasi;
7. Gangguan keamanan;
8. Banjir;
Berdasarkan analisi resiko bencana yang ada di kotawaringin barat,
yaitu :
JENIS BENCANA RESIKO
Asap Tinggi
Kebakaran Pemukiman Tinggi
Kebakaran internal Sedang
Banjir Tinggi
Tanah longsor Rendah
Abrasi Rendah
Kekeringan Sedang
Puting Beliung Sedang
Kecelakaan lalulintas darat Sedang
Kecelakaan laut Sedang
Kecelakaan udara Tinggi
Suatu penilaian potensi ancaman bencana di suatu wilayah dan
menilai dampak yang ditimbulkannya sehingga dapat dilakukan prioritas
mitigasi dan kesiap siagaannya.