0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
219 tayangan28 halaman

Penyelesaian Masalah Transportasi dan Degeneracy

Makalah ini membahas tentang penyelesaian masalah transportasi yang tidak seimbang dan masalah degenerasi. Pertama, masalah transportasi yang tidak seimbang dijelaskan dengan menambahkan sumber atau tujuan semu untuk menyeimbangkan jumlah persediaan dan permintaan. Kedua, contoh soal transportasi dengan dua garasi dan empat penyewa mobil dijelaskan dengan menggunakan metode pendekatan Vogel. Ketiga, penyelesaian masalah

Diunggah oleh

Rizkon Alfaqih
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
219 tayangan28 halaman

Penyelesaian Masalah Transportasi dan Degeneracy

Makalah ini membahas tentang penyelesaian masalah transportasi yang tidak seimbang dan masalah degenerasi. Pertama, masalah transportasi yang tidak seimbang dijelaskan dengan menambahkan sumber atau tujuan semu untuk menyeimbangkan jumlah persediaan dan permintaan. Kedua, contoh soal transportasi dengan dua garasi dan empat penyewa mobil dijelaskan dengan menggunakan metode pendekatan Vogel. Ketiga, penyelesaian masalah

Diunggah oleh

Rizkon Alfaqih
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROGRAM LINEAR

PENYELESAIAN MASALAH TRANSPORTASI DAN MASALH


DEGENERACY

Oleh Kelompok II:

WILDA NUGRALIA (A1I1 19 097)


ARFIANI (A1I1 21 005)
DISTIA WATI (A1I1 21 007)
MUHAMMAD AGUNG ISLAMI (A1I1 21 015)
ASHARFIAN (A1I1 21 085)
FELIN (A1I1 21 089)
MADE YOGA DWITAMA (A1I1 21 095)
RISNA (A1I1 21 108)

DOSEN PENGAMPU: RAHMAT [Link]., [Link]

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha esa. Atas rahmat dan hidayah-
Nya, kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul "Penyelesaian
masalah transportasi dan masalah degeneracy" dengan tepat waktu.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah "Program
Linear". Selain itu, makalah ini bertujuan agar Mahasiswa mampu memahami
serta mengaplikasikan materi yang ada di dalam makalah ini.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Pak Rahmat [Link]., [Link]. selaku
dosen Mata Kuliah Profesi Kependidikan. Dan ucapan terima kasih juga
disampaikan kepada Rekan-rekan kelompok serta semua pihak yang telah
membantu menyelesaikannya makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh
sebab itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi
kesempurnaan makalah ini.

Kendari, 7 November 2022

Tim Penyusun
DAFTAR ISI

BAB I....................................................................................................................... 3

PENDAHULUAN................................................................................................. 3
A. Latar Belakang.................................................................................................... 3
B. Rumusan Masalah.............................................................................................. 4
C. Tujuan.................................................................................................................... 4

BAB II..................................................................................................................... 5

PEMBAHASAN.................................................................................................... 5
A. Masalah Transportasi tidak seimbang..........................................................5
B. Penyelesaian Masalah Degenerasi..............................................................15

BAB III PENUTUP.............................................................................................. 20


A. Kesimpulan........................................................................................................ 20
B. Saran.................................................................................................................... 20

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 22
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Permasalahan transportasi berkaitan dengan pendistribusian
beberapa komoditas dari beberapa pusat penyediaan, yang disebut dengan
sumber menuju ke beberapa pusat penerima yang disebut tujuan, dengan
maksud untuk memperkecil total biaya distribusi. Pengertian lain menurut
Anwar dan Nasandi (dalam Barani, 2002, hlm. 35) mengatakan bahwa
model transportasi (transportation models) merupakan salah satu bentuk
khusus atau variasi dari linier programming yang dikembangkan khusus
untuk memecahkan masalah-masalah yang berhubungan dengan
transportasi (pengangkutan) dan distribusi produk atau sumber daya dari
berbagai sumber (pusat pengadaan atau titik suplai) ke berbagai tujuan
(titik permintaan).
Sementara itu, Taha menyatakan bahwa model transportasi pada
dasarnya merupakan sebuah program linier yang dapat dipecahkan dengan
metode simpleks biasa. Tetapi strukturnya yang khusus memungkinkan
pengembangan sebuah prosedur pemecahan yang disebut teknik
transportasi yang lebih efisien dalam perhitungan. Model ini berkaitan
dengan penentuan rencana berbiaya terendah untuk mengirimkan satu
barang dari sejumlah sumber ke sejumlah tujuan. Model ini dapat
diperluas secara langsung
untuk mencakup situasi-situasi praktis dalam bidang pengendalian
mutu, penjadwalan dan penugasan tenaga kerja, diantara bidang-bidang
lainnya. Menurut Taha, dalam arti sederhana, model transportasi berusaha
menentukan sebuah rencana transportasi sebuah barang dari sejumlah
sumber ke sebuah tujuan. Data dalam model ini mencakup :
1. Tingkat penawaran di setiap sumber dan jumlah permintaan di setiap
tujuan.
2. Biaya transportasi per unit barang dari setiap sumber ke setiap tujuan.
Tujuan dari model transportasi adalah menentukan jumlah yang
harus dikirimkan dari setiap sumber ke setiap tujuan sedemikian rupa
sehingga biaya transportasi total diminimumkan. Sebuah tujuan dapat
menerima permintaannya dari satu sumber atau lebih.

B. Rumusan Masalah
1. Penyelesaian masalah Transportasi
2. Penyelesaian masalah degeneracy

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui penyelesaian masalah Transportasi
2. Untuk mengetahui penyelesaian masalah Degeneracy
A.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Masalah Transportasi tidak seimbang


Kadang-kadang terjadi keadaan di mana jumlah persediaan tidak
sama dengan jumlah permintaan. Dalam penyelesaian optimalnya pasti
ada permintaan yang tidak terpenuhi (jika jumlah permintaan lebih besar
dari jumlah persediaan) atau persediaan yang tidak terkirim (jika jumlah
persediaan lebih besar dari jumlah permintaan).
Pada kasus yang tidak seimbang, sebelum membuat penyelesaian
fisibel awal, tabel transportasi terlebih dahulu diseimbangkan dengan
menambah sebuah sumber/tujuan semu (tergantung mana yang jumlah
barangnya lebih sedikit). Besarnya persediaan/ permintaan sumber/tujuan
semu merupakan selisih antara jumlah persediaan dan jumlah permintaan
awal. Langkah berikutnya adalah menyelesaikan masalah transportasi
dengan cara yang sudah dijelaskan sebelumnya.
Contoh 1 :
Sebuah perusahaan persewaan mobil menghadapi masalah dalam hal
mengalokasikan mobil untuk memenuhi permintaan pelanggan. Ada 2
garasi tempat menyimpan mobil yang hendak disewa(semua mobil bertipe
sama), yang masing masing mampu menampung15 dan 13 mobil. Ada 4
penyewa yang masing masing membutuhkan 9,6,7, dan 9 buah mobil.
Biaya perjalanan mobil(ribuan rupiah) dari garasi ke tempat penyewa
tampak pada tabel dibawah ini,

Tujuan
1 2 3 4
A 45 17 21 30
B 14 18 19 31

Buatlah alokasi pengiriman mobil yang akan meminimumkan total


biaya pengiriman! Gunakan metode pendekatan vogel sebagai
penyelesaian awal!
Penyelesaian :
Total mobil yang ada 15 + 13 = 28 buah, sedangkan total permintaan
mobil 9 +6 + 7 + 9 = 31. Jadi jumlah permintaan > jumlah persediaan.
Untuk menyeimbangkan tabel, ditambahkan sebuah persediaan semu
(garasi C) yang memiliki persediaan 31 – 28 = 3 buah mobil. Biaya
pengiriman dari garasi semu ke semua tujuan = 0 (karena memang tidak
ada mobil yang dikirimkan) tabel dibawah ini menunjukkan tabel awal
transportasi.

 Dengan metode Pendekatan Vogel

Pada baris-1, dua sel yang biayanya terkecil adalah c12 = 17 dan c13 = 21.
Selisihnya adalah = 21 – 17 = 4. Pada baris-2, dua sel yang biayanya terkecil
adalah c21 = 14 dan c22 = 18. Selisihnya adalah = 18 – 14 = 4.

Demikian seterusnya dihitung selisih 2 sel dengan biaya terkecil pada tiap
baris dan kolom. Hasilnya tampak pada table dibawah ini.

Baris/Kolom 2 Sel dengan Biaya Selisih


Terkecil
Baris-1 c12 = 17 dan c13 = 21 21 – 17 = 4
Baris-2 c21 = 14 dan c22 = 18 18 – 14 = 4
Baris-3 0 0
Kolom-1 c21 = 14 dan c31 = 0 14 – 0 = 14
Kolom-2 c12 = 17 dan c32 = 0 17 – 0 = 17
Kolom-3 c23 = 19 dan c33 = 0 19 – 0 = 19
Kolom-4 c14 = 30 dan c34 = 0 30 – 0 = 30*
Selisih terbesar (=30) terjadi pada kolom ke-4. Biaya terkecil pada
kolom ke-4 adalah c14 = 0. Pada sel ini dimasukan barang-barang
sebanyak- banyaknya, yaitu 3 unit. Jadi x14 = 3. Dengan pengisian ini
maka Garasi C sudah terpenuhi permintaannya sehingga sel an pada baris
ke-3 tidak diikutkan pada iterasi berikutnya.

Proses perhitungan selisih 2 sel yang biayanya terkecil dilanjutkan tetapi


dengan menghilangkan baris ke-3 dari perhitungan sehingga kemudian
didapat :

Baris/Kolom 2 Sel dengan Biaya Selisih


Terkecil
Baris-1 c12 = 17 dan c13 21 – 17 = 4
= 21(tetap)
Baris-2 c21 = 14 dan 18 – 14 = 4
c22 = 18(tetap)
Baris-3 Tidak dihitung lagi -
Kolom-1 c21 = 14 dan c11 = 45 45 – 14 = 31*
Kolom-2 c12 = 17 dan c22 = 18 18 – 17 = 1
Kolom-3 c23 = 19 dan c13 = 21 21 – 19 = 2
Kolom-4 c14 = 30 dan c23 = 31 31 – 30 = 1

Selisih terbesar (=31) terjadi pada kolom ke-1. Biaya terkecil pada kolom
ke-1 adalah c21 = 14. Pada sel ini dimasukan barang-barang sebanyak-
banyaknya, yaitu 9 unit. Jadi x21 = 9. Dengan pengisian ini maka Tujuan
1 sudah terpenuhi permintaannya sehingga sel an pada kolom-1 tidak
diikutkan pada iterasi berikutnya.

Proses perhitungan selisih 2 sel yang biayanya terkecil dilanjutkan tetapi


dengan menghilangkan kolom ke-1 dari perhitungan sehingga kemudian
didapat :

Baris/Kolom 2 Sel dengan Biaya Selisih


Terkecil
Baris-1 c12 = 17 dan 21 – 17 = 4*
c13 = 21(tetap)
Baris-2 c23 = 19 dan c22 =18 19 – 18 = 1
Baris-3 Tidak dihitung lagi -
Kolom-1 Tidak dihitung lagi -
Kolom-2 c12 = 17 dan c22 18 – 17 = 1
=18(tetap)
Kolom-3 c23 = 19 dan c13 21 – 19 = 2
=21(tetap)
Kolom-4 c14 = 30 dan c23 32 – 30 = 1
=31(tetap)

Selisih terbesar (=4) terjadi pada baris ke-1, biaya terkecil pada baris ke-1
adalah c12 = 17. Pada sel ini dimasukan barang-barang sebanyak-
banyaknya, yaitu 6 unit. Jadi x12 = 6. Dengan pengisian ini maka Tujuan
2 sudah terpenuhi permintaannya sehingga sel an pada kolom-2 tidak
diikutkan pada iterasi berikutnya.

Proses perhitungan selisih 2 sel yang biayanya terkecil dilanjutkan tetapi


dengan menghilangkan kolom ke-2 dari perhitungan sehingga kemudian
didapat :
Baris/Kolom 2 Sel dengan Selisih
Biaya
Terkecil
Baris-1 c14 = 30 dan c13 = 21 30 – 21 = 9
Baris-2 c23 = 19 dan c24 =31 31 – 19 = 12*
Baris-3 Tidak dihitung lagi -
Kolom-1 Tidak dihitung lagi -
Kolom-2 Tidak dihitung lagi -
Kolom-3 c23 = 19 dan 21 – 19 = 2
c13
=21(tetap)
Kolom-4 c14 = 30 dan 31 – 30 = 1
c23
=31(tetap)

Selisih terbesar (=12) terjadi pada baris ke-2,Biaya terkecil pada baris ke-2
adalah c23 = 19. Pada sel ini dimasukan barang-barang sebanyak-
banyaknya, yaitu 4 unit. Jadi x23 = 4. Karena pada kolom ke-3 hanya
kurang pengisian di x13 maka x13 diisi dengan 7 - 4 = 3. Dengan
pengisian ini maka Tujuan 3 dan Garasi B sudah terpenuhi permintaannya
sehingga sel pada kolom-3 tidak diikutkan pada iterasi berikutnya.

Karena sekarang sisanya tinggal pada x14 maka x14 diisi dengan 15 – 6 –
3 = 6.
Sehingga tabel penyelesaian awal dengan Metode Pendekatan Vogel
tampak terlihat dibawah ini

 Metode stepping stone

Menguji sel–sel yang masih kosong, apakah masih bisa memiliki nilai
negatif atau tidak, artinya masih bisa menurunkan biaya transportasi atau
tidak. Sel yang diuji adalah : Sel x11, x22, x24, x31, x32 dan x33.
Pengujian dilakukan pada setiap sel kosong tersebut dengan
menggunakan metode SteppingStone.
Pada metode ini, pengujian dilakukan mulai dari sel kosong tersebut, selanjutnya
bergerak (boleh searah jarum jam dan boleh berlawanan) secara lurus/tidak
boleh diagonal, ke arah sel yang telah terisi dengan alokasi, begitu seterusnya
sampai kembali ke sel kosong tersebut. Setiap pergerakan ini akan mengurangi
dan menambah secara bergantian biaya pada sel kosong tersebut. Perhatikan
tanda panah dan tanda (+)/(-) nya.

Pengujian
Sel x11 = 45 – 21 + 19 –14 = 29
Sel x22 = 18 – 17 + 21 - 19 = 3
Sel x24= 31 – 30 + 21 – 19 = 3
Sel x31 = 0 – 14+ 19 – 21 + 30 - 0 = 14
Sel x32 = 0 – 17+ 30 – 0 = 13
Sel x33 = 0 – 21+ 30 - 0 = 9
Dari hasil pengujian tersebut, ternyata semua sel sudah tidak ada yang
bernilai negatif, atau dengan kata lain semua sel sudah tidak dapat
memberikan penurunan biaya lagi, sehingga dengan demikian dapat
dikatakan kasus telah optimal, dengan total biaya minimumnya :
6(17) + 3(21) + 6(30) +4(19) + 9(14) + 3(0) = 547 (ribuan)

Contoh 2 :
Sebuah perusahaan pakaian meiliki tiga pabrik yaitu pabrik Denim, Satin
dan Sutra. Selanjutnya dari ketiga pabrik tersebut akan mengirimkan
pakaian ke tiga toko untuk memenuhi kebutuhan toko. Dari pabrik-pabrik
dapat memasok masing-masing secara berurutan adalah dari pabrik Denim
40 pcs, pabrik satin 80 pcs dan pabrik sutra 120 pcs. Sedangkan
permintaan dari toko 1 sebanyak 50 pcs, toko 2 sebanyak 80 pcs, dan toko
3 sebanyak 70 pcs. Secara berurutan biaya angkut dari pabrik danim ke
toko 1,2 dan 3 adalah 10,3,3, dari pabrik satin ke toko 1,2 dan 3 adalah
9,8,5 serta dari pabrik sutra ke toko 1,2 dan 3 adalah 15, 10, 12 dalam ribu
rupiah. Maka berapakah biaya minimum dengan memenuhi batas pasokan
dan kebutuhan?

Sumber Tujuan Supply


1 2 3
Denim 10 3 9 40

Satin 9 8 5 80

Sutra 15 10 12 120

Demmad 50 80 70 ?

Langkah 1 :
Selidiki apakah banyaknya persedian dan banyaknya permintaan
merupakan kasus tidak seimbang
Total persediaan = 40 + 80 + 120 = 240
Total permintaan = 50 + 80 + 70 = 200
Banyaknya persediaan ¿ banyaknya permintaan
∴ sehingga kondisi tidak seimbang

Langkah 2 :
Menambahkan 1 kolom tujuan semua/artificial destinatioan dengan biaya
setiap kolom tambahan bernilai 0.
Hitung banyaknya permintaan untuk kolom artifisial destination yaitu
sebanyak :
Sumber Tujuan Supply

1 2 3 Artificial
destination

Denim 10 3 9 0 40

Satin 9 8 5 0 80

Sutra 15 10 12 0 120

Demmad 50 80 70 40 240

240 – (50 + 80 + 70) = 40

Langkah 3 : Mencari solusi awal dengan metode VAM

Sumber Tujuan Supply


1 2 3 Artificial
destinatio
n
Denim - 10 40 3 - 9 - 0 40 0

Satin 10 9 - 8 70 5 - 0 80 10
0
Sutra 40 15 40 10 - 12 40 0 120 80
40
Demmad 50 40 0 80 40 0 70 0 40 0 240

Langkah 4 : Perhitungan total biaya(total cost)

Sumber Tujuan Supply


1 2 3 Artificial
destination
Denim 10 40 3 9 0 40
Satin 10 9 8 70 5 0 80

Sutra 40 15 40 10 12 40 0 120

Demmad 50 80 70 40 240

TC (awal) :
(40 ×3 ) + (10×9) + (70 ×5) + (40×15) + (40 ×10) + (40×0) = 1.560

Mencari solusi optimal dengan metode MODI


a. Menentukan perubahan biaya C ij untuk variabel basis
C ij =U i+ V j
tetapkan nilai nol padaU 1+(U 1=0)
Sumber Tujuan Supply
1 2 3 Artificial
destination
Denim 10 40 3 9 0 40

Satin 10 9 8 70 5 0 80

Sutra 40 15 40 10 12 40 0 120

Demmad 50 80 70 40 240

X 12=C 12=U 1 +V 2 → 3=0+V 2


V 2=3
X 32=C 32=U 3 +V 2 →10=U 3 +3
U 3=7
X 31=C 31=U 3 +V 1 →15=7+V 1
V 1=8
X 21=C 21=U 2 +V 1 →9=U 2 +8
U 2=1
X 23 =C23=U 2+V 3 →5=1+V 3
V 3=4
X 34 =C34 =U 3 +V 4 → 0=7+V 4
V 4 =−7
b. Perubahan biaya C ij untuk variabel non basis
C ij =c ij −U i -V j
Tetapkan nilai nol pada U i
Sumber Tujuan Supply Ui
1 2 3 Artificial
destination
Denim 10 40 3 9 0 40 U 1=0

Satin 10 9 8 70 5 0 80 U 2=1

Sutra 40 15 40 10 12 40 0 120 U 3=7

Demmad 50 80 70 40 240
Vj V 1=8 V 2=3 V 3=4 V 4 =−7

C 11=c 11−U 1−V 1=10−0−8=2


C 13=c 13−U 1−V 3 =9−0−4=5
C 14=c 14−U 1 −V 4 =0−0−(−7 )=7
C 22=c 22−U 2−V 2=8−1−3=4
C 24=c 24−U 2−V 4 =0−1−(−7 ) =6
C 33=c 33−U 3−V 3 =12−7−4=1
Karena seluruh nilai C ij positif maka C ij merupakan penyelesaian optimum

B. Penyelesaian Masalah Degenerasi


Pada degenerasi, sel yang terisi kurang dari persyaratan yang
ditentukan. Degenerasi terjadi saat jumlah sel yang terisi kurang dari
persyaratn (m + n) -1, maka pada salah satu sel yang kosong harus di
tambahkan nilai epsilon (ε ¿ . Epsilon merupakan bilangan positif yang
nilainya sangat kecil, penambahan epsilon di lakukan pada sel yang
kososng. (catatan : jangan menempatkan nilai ε pada sel yang kososng di
mana di sekelilingnya terdapat tiga sel yang terisi.

contoh soal :
perusahaan Anang HD memiliki tioga buah pabrik yaitu jambi dengan
kapasitas 370 unit, Aceh dengan kapasitas 330 unit, dan bali dengan
kapasitas 150 unit yang memili daerah pemasaran di Kota Malanga dengan
permintaan 450 unit, bekasi dengan permintaan 250 unit dan cikarang
dengan permintaan 150 unit. Biaya angkut per unit (dalam ribuan) dari
pabrik ke daerah pemasaran seperti yang tertera pada tebel di bawah ini :

Tujuan Tujuan (pemasaran) Kapasitas


(supply)
Malang bekasi cikarang
sumber
S 15 9 11 370
U Jambi
370 × ×
M
B aceh 29 19 23 330
E
80 250 ×
R
bali 5 17 19 150
× × 150
Permintaan 450 250 150 850
(demand)

Pada soal terlihat bahwa tabel terjadi degenerasi yang dimana henya
terdapat 4 sel yang terisi seharusnya persyaratannya harus ada 5 sel yang
terisi. Jadi variabel epsilon di butuhkan dan diletakan pada salah satu sel
yang kosong untuk memenuhi persyaratan yang ada. Penempatan ε dapat
dilakukan pada jambi-cikarang, aceh-cikarang, bali-malang, atau bali-
bekasi. Tetapi pada sel jambi-bekasi nilai ε tidak dapat di tempatkan,
karena terdapat tiga sel yang terisi disekitarnya sehingga pada saat proses
eksekusi solusi optimal tidak dapat di lakukan.

Degenerasi (stepping stone)


Menempatkan niali ε pada jambi-cikarang. Sehingga tabel menjadi :
Tujuan Tujuan (pemasaran) Kapasitas
(supply)
Malang bekasi cikarang
sumber
S 15 9 11 370
U Jambi
370 × 0
M
B aceh 29 19 23 330
E
80 250 ×
R
bali 5 17 19 150
× × 150
Permintaan 450 250 150 850
(demand)

Karena jumlah sel yang terisi adalah 5 dan memenuhi syarat m+n-1 (3+3-
1=5). Lalu di lakukan pengujian menggunakan solusi optimal, pengujian
dengan metode batu loncatan (stepping stone) berdasarkan langkah-
langkahnya.
Sehingga total biaya awal :
¿ ( 370 ×15 ) + ( 0 ×11 ) + ( 80 × 29 ) + ( 250 ×19 ) + ( 150 ×19 )=Rp 15 . 470

Tujuan Tujuan (pemasaran) Kapasitas


sumber (supply)
Malang bekasi cikarang
S 15 9 0 11 370
U Jambi
M 370
B aceh 29 19 23 330
E
R 80 250 ×
bali 5 17 19 150
× × 150
Permintaan 450 250 150 850
(demand)

Melakukan perhitungan dengan metode batu loncatan, memberikan hasil


sel-sel yang kosong :
Jambi-bekasi = 9-15+29-19 = 4
Aceh-cikarang = 23-11+15-29 = -2
Bali-malang =5-19+11-15 = -18 (nilai negatif terbesar)
Bali-bekasi = 17-19+11-15+29-19 = 4

Karena bali-malang masih bernilai negatif maka di lakukan pergeseran alokasi


sebagai berikut :
370(-) 150 0 (+) 150 menjadi 220 150
X (+) 150 150 (-) 150 150 0 atau x

Sehingga tabel berubah menjadi


Tujuan Tujuan (pemasaran) Kapasitas
(supply)
sumber Malang bekasi cikarang
S 15 9 11 370
U Jambi
M 220 X 150
B aceh 29 19 23 330
E
R 80 250 X
bali 5 17 19 150
150 X X
Permintaan 450 250 150 850
(demand)

Selanjutnya kita melakukan perhitungan mengunakan batu loncatan lagi,


sehingga memberikan hasil sel-sel yang kosong :
Jambi-bekasi = 9-15+29-19 = 4
Aceh-cikarang = 23-11+15-29 = -2 (nilai negatif terbesar)
Bali-bekasi =17-19+29-5 = 22
Bali-cikarang =19-11+15-5 = 18

Karena aceh-cikarang masih bernilai negatif maka di lakukan pergeseran


alokasi sebagai berikut :
220 (+) 80 150 (-) 80 menjadi 300 70
80 (-) 80 X (+) 80 0 atau x 80

Tujuan Tujuan (pemasaran) Kapasitas


Malang bekasi cikarang (supply)
sumber
S 15 9 11 370
U Jambi 300 X 70
M aceh 29 19 23 330
B X 250 80
E bali 5 17 19 150
R 150 X X
Permintaan 450 250 150 850
(demand)

Karena tadi masih menghasilkan nilai negatif maka kita harus melakukan
perhitungan melakukan perhitungan dengan metode batu loncatan
sehingga menghasilkan sel-sel yang kosong :
Jambi-bekasi = 9-19+23-11 = 2
Aceh-malang = 29-23+11-15 = 2
Bali-bekasi =17-19+23-11+15-5 = 20
Bali-cikarang =19-11+15-5 = 18

Kesimpulan :
Dari hasil perhitungan, karena sudah tidak ada nilai negatif maka solusi
yang di tunjukan oleh tabel sebelumnya adalah solusi optimal.
Degenerasi ( Metode MODI)

Untuk metode MODI menggunakan Tabel yang sudah ditambah dengan


nilai epsilon (ε ¿ , seperti dibawah ini :
Tujuan Tujuan (pemasaran) Kapasitas
(supply)
Malang bekasi cikarang
sumber
S 15 9 11 370
U Jambi
370 × 0
M
B aceh 29 19 23 330
E
80 250 ×
R
bali 5 17 19 150
× × 150
Permintaan 450 250 150 850
(demand)

Menghitung dan mengisi nilai pada kolom sumber dan baris tujuan.
Ri + K j=C ij → misalkan R1=0
jambi-malang → R1 + K 1=15 → K 1=15
jambi-cikarang → R1 + K 3=11 → K 3=11
aceh-malang → R2 + K 1=29 → R2=14
aceh-bekasi → R2 + K 2=19 → K 2=5
bali-cikarang → R3 + K 3=19→ R3=8
Tujuan Tujuan (pemasaran) Kapasitas
(supply)
Malang Bekasi Cikarang
sumber
K 1=15 K 2=5 K 3=11
S 15 9 11 370
U Jambi
370 × 0
M R1 = 0
B aceh 29 19 23 330
E R2= 14
R 80 250 ×
Bali 5 17 19 150
R3 = 8
× × 150
Permintaan 450 250 150 850
(demand)
Menghitung perubahan nilai pada setiap sel yang kosong, menggunakan
rumus :
I ij =Cij −Ri −K j
Sehingga di dapatkan :
Jambi-bekasi → I 12 =9−0−5=4
Aceh-cikarang → I 23=23−14−11=−2
Bali-malang → I 31 =5−8−15=−18 (negatif terbesar)
bali-bekasi → I 32=17−8−5=4

Tujuan Tujuan (pemasaran) Kapasitas


(supply)
Malang Bekasi Cikarang
sumber
K 1=15 K 2=5 K 3=11
S Jambi 15 9 11 370
U R1= 0
370 × 0
M
B aceh 29 19 23 330
E R2= 14
80 250 ×
R
Bali 5 17 19 150
R3 = 8
× × 150
Permintaan 450 250 150 850
(demand)

Melakukan pergeseran nilai akumulasi pada tabel, dengan menggunakan


metode stepping stone
Pada indeks tabel bali-malang = -18, maka di lakukan pergeseran sebagai
berikut :
370(-) 150 0 (+) 150 menjadi 220 150
X (+) 150 150 (-) 150 150 0 atau x
Sehingga tabel berubah menjadi :
Tujuan Tujuan (pemasaran) Kapasitas
(supply)
Malang Bekasi Cikarang
sumber
K 1=15 K 2=5 K 3=11
S 15 9 11 370
U Jambi
370 × 0
M R1 = 0
B aceh 29 19 23 330
E R2= 14
R 80 250 ×
Bali 5 17 19 150
R3 = 8
× × 150
Permintaan 450 250 150 850
(demand)

Menghitung dan mengisi nilai pada kolom sumber dan baris tujuan.
Ri + K j=C ij → misalkan R1=0
jambi-malang → R1 + K 1=15 → K 1=15
jambi-cikarang → R1 + K 3=11 → K 3=11
aceh-malang → R2 + K 1=29 → R2=14
aceh-bekasi → R2 + K 2=19 → K 2=5
bali-malang → R3 + K 1=5 → R3=−10
Tujuan Tujuan (pemasaran) Kapasitas
(supply)
Malang Bekasi Cikarang
sumber
K 1=15 K 2=5 K 3=11
S 15 9 11 370
U Jambi
220 × 150
M R1= 0
B aceh 29 19 23 330
E R2= 14
R 80 250 ×
Bali 5 17 19 150
R3= -10
150 × X
Permintaan 450 250 150 850
(demand)

Menghitung perubahan nilai pada setiap sel yang kosong, menggunakan


rumus :
I ij =Cij −Ri −K j
Sehingga di dapatkan :
Jambi-bekasi → I 12 =9−0−5=4
Aceh-cikarang → I 23=23−14−11=−2 (negatif terbesar)
Bali-bekasi → I 32 =17+10−5=22
bali-cikarang → I 33=19+10−11=18
Tujuan Tujuan (pemasaran) Kapasitas
(supply)
Malang Bekasi Cikarang
sumber
K 1=15 K 2=5 K 3=11
S Jambi 15 9 11 370
U R1= 0
220 × 150
M
B aceh 29 19 23 330
E R2= 14
80 250 ×
R
Bali 5 17 19 150
R3= -10
150 × X
Permintaan 450 250 150 850
(demand)

Melakukan pergeseran nilai akumulasi pada tabel, dengan menggunakan


metode stepping stone
Pada indeks tabel aceh-cikarang = -2, maka di lakukan pergeseran sebagai
berikut :
220(+) 80 150 (-) 80 menjadi 300 70
80 (-) 80 X (+) 80 0 atau X 80

Sehingga tabel berubah menjadi :


Tujuan Tujuan (pemasaran) Kapasitas
(supply)
Malang Bekasi Cikarang
sumber
K 1=15 K 2=5 K 3=11
S 15 9 11 370
U Jambi
300 × 70
M R1 = 0
B aceh 29 19 23 330
E R2= 14
R X 250 80
Bali 5 17 19 150
R3= -10
150 × X
Permintaan 450 250 150 850
(demand)

Menghitung dan mengisi nilai pada kolom sumber dan baris tujuan.
Ri + K j=C ij → misalkan R1=0
jambi-malang → R1 + K 1=15 → K 1=15
jambi-cikarang → R1 + K 3=11 → K 3=11
aceh-bekasi → R2 + K 2=19 → K 2=7
aceh-cikarang → R2 + K 3=23→ R2=12
bali-malang → R3 + K 1=5 → R3=−10
Tujuan Tujuan (pemasaran) Kapasitas
(supply)
Malang Bekasi Cikarang
sumber
K 1=15 K 2=7 K 3=11
S 15 9 11 370
U Jambi
300 × 70
M R1= 0
B aceh 29 19 23 330
E R2= 12
R X 250 80
Bali 5 17 19 150
R3= -10
150 × X
Permintaan 450 250 150 850
(demand)

Menghitung perubahan nilai pada setiap sel yang kosong, menggunakan


rumus :
I ij =Cij −Ri −K j
Sehingga di dapatkan :
Jambi-bekasi → I 12=9−0−7=2
Aceh-malang → I 21 =29−12−15=2
Bali-bekasi → I 32=17+10−7=20
bali-cikarang → I 33 =19+10−11=18
Tujuan Tujuan (pemasaran) Kapasitas
(supply)
Malang Bekasi Cikarang
sumber
K 1=15 K 2=7 K 3=11
S 15 9 11 370
U Jambi
300 × 70
M R1 = 0
B aceh 29 19 23 330
E R2= 12
R X 250 80
Bali 5 17 19 150
R3= -10 150 × X
Permintaan 450 250 150 850
(demand)

Kesimpulan :
Karena tidak ada nilai yang negatif, maka solusi yang di tunjukan oleh tabel
sebelumnya adalah solusi optimal.
BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Masalah transportasi merupakan pemrograman linear jenis khusus


yang berhubunga dengan pendistribusian barang dari sumber ke tujuan.
Tujuannya adalah untuk menentukan rencana pendistribusian untuk
meminimumkan total biaya pendistribusian agar batas suplai dan
permintaan terpenuhi.
Pada kasus yang tidak seimbang, sebelum membuat penyelesaian
fisibel awal, tabel transportasi terlebih dahulu diseimbangkan dengan
menambah sebuah sumber/tujuan semu (tergantung mana yang jumlah
barangnya lebih sedikit). Besarnya persediaan/ permintaan sumber/tujuan
semu merupakan selisih antara jumlah persediaan dan jumlah permintaan
awal.
Memecahkan masalah degenerasi menggunakan sel tiruan yang
biasanya akan diisi dengan nol untuk menunjukkan dummy requirement
pada salah satu square yang tidak dipergunakan dan kemudian
membiarkan semua jalur stepping stone tertutup meskipun dalam
kenyataannya akan sangat fleksibel memilih square yang akan diisi dengan
angka nol.
Degenerasi akan terjadi jika jumlah pengambilan tempat atau rute
dalam tabel solusi transportasi kurang dari jumlah baris ditambah jumlah
kolom dikurangi satu. Situasi tersebut akan muncul pada solusi awal
maupun pada langkah selanjutnya. Degenerasi memerlukan beberapa
prosedur khusus untuk memperbaiki masalah. Tanpa square terpakai (used
square) dan yang tidak dipergunakan (unused square) yang cukup, maka
proses tersebut tidak mungkin untuk diaplikasikan ke metode stepping
stone atau untuk menghitung nilai-nilai R dan K yang diperlukan untuk
teknik MODI.

B. Saran

Demikian makalah yang kami susun, semoga dapat memberikan


manfaat bagi penyusun khususnya dan bagi pembaca umumnya. Penyusun
menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kami
mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan
makalah kami.
DAFTAR PUSTAKA

[Link]
[Link]

Anda mungkin juga menyukai