0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
380 tayangan19 halaman

Praktikum Analisis Kualitas Udara EPAM 5000

Laporan ini membahas tentang praktikum analisis kualitas udara menggunakan alat EPAM 5000 untuk mengukur tingkat polutan udara seperti debu. Dibahas pula dampak kesehatan dari paparan debu dan parameter standar kualitas udara.

Diunggah oleh

agustina tris
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
380 tayangan19 halaman

Praktikum Analisis Kualitas Udara EPAM 5000

Laporan ini membahas tentang praktikum analisis kualitas udara menggunakan alat EPAM 5000 untuk mengukur tingkat polutan udara seperti debu. Dibahas pula dampak kesehatan dari paparan debu dan parameter standar kualitas udara.

Diunggah oleh

agustina tris
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN

PRAKTIKUM EPAM 5000

Laporan Ini Dibuat Sebagai Syarat


Dalam Matakuliah Praktikum Analisis Kualitas Lingkungan
Program Studi Kesehatan Lingkungan
OLEH

Nama : Tris Agustina


NIM : 10031381924053
Kelompok : 7 (Tujuh)
Dosen : 1. Elvi Sunarsih, SKM.,[Link]
2. Inoy Trisnaini, SKM.,[Link]
3. Dr. Suheryanto, [Link]
Asisten : Arifqah Dhiya Ulhaq

LABORATORIUM KESEHATAN MASYARAKAT


PROGRAM STUDI KESEHATAN LINGKUNGAN
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2021
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ............................................................................................................ i

DAFTAR TABEL .................................................................................................. iii

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. iv

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................ 3

2.1 Debu ......................................................................................................... 3

2.2 Udara ambien ........................................................................................... 3

2.3 Udara emisi............................................................................................... 4

2.4 Nilai Ambang Batas ................................................................................. 4

2.5 Dampak kesehatan .................................................................................... 7

2.6 Epam 5000 ................................................................................................ 8

BAB III METODOLOGI PENELITIAN .............................................................. 9

3.1 Alat dan Bahan ......................................................................................... 9

3.1.1 Alat .................................................................................................... 9

3.2 Prosedur Kerja .......................................................................................... 9

3.2.1 Kalibrasi Alat .................................................................................... 9

3.2.2 Cara Kerja Alat ............................................................................... 10

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................. 12

4.1 Tempat Penelitian ................................................................................... 12

4.2 Hasil Penelitian....................................................................................... 12

4.3 Pembahasan ............................................................................................ 12

BAB V PENUTUP ........................................................................................... 13

i
5. 1 Kesimpulan ............................................................................................. 13

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 14

ii
DAFTAR TABEL
Tabel 2. 1 Parameter Pencemar Udara .................................................................... 4
Tabel 2. 2 Baku Mutu Emisi Sumber Bergerak ...................................................... 5
Tabel 2. 3 Baku Mutu Daerah/Kawasan Industri Kimia Dasar .............................. 6
Tabel 4 1 Hasil Pengukuran EPAM 5000 ............................................................. 12

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 3. 1 Alat EPAM 5000 ................................................................................ 9


Gambar 3. 2 Kalibrasi Alat ..................................................................................... 9
Gambar 3. 3 Cara Kerja ........................................................................................ 11
Gambar 3. 4 Memilih Sampling Rate ................................................................... 11
Gambar 3. 5 Cara Kerja Alat................................................................................. 11

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pencemaran udara adalah masuknya atau tercampurnya unsur-unsur
berbahaya ke dalam atmosfir yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan
lingkungan sehingga menurunkan kualitas lingkungan. Dengan demikian akan
terjadi gangguan pada kesehatan manusia. Terdapat dua jenis sumber
pencemaran udara, yang pertama adalah pencemaran akibat sumber alamiah
(natural sources) seperti letusan gunung berapi dan yang kedua berasal dari
kegiatan manusia (anthropogenic sources) seperti yang berasal dari
transportasi, emisi pabrik, dan lain-lain. Pencemaran udara dapat terjadi
dimana-mana, seperti di dalam rumah, sekolah, dan kantor. Pencemaran
seperti ini sering disebut dengan pencemaran dalam ruangan (indoor
pollution). Sedangkan pencemaran di luar ruangan (outdoor pollution) berasal
dari emisi kendaraan bermotor, industri, perkapalan, dan proses alami oleh
makhluk hidup. Sumber pencemar udara dapat diklasifikasikan menjadi
sumber diam dan sumber bergerak. Sumber diam terdiri dari pembangkit
listrik, industri dan rumah tangga. Sedangkan sumber bergerak adalah aktifitas
lalu lintas kendaraan bermotor di darat dan tranportasi laut.

Debu merupakan salah satu faktor kimiawi yang dapat mempengaruhi


pekerja dalam melakukan pekerjaannya. Debu dalam pekerjaan konstruksi
didapatkan dari pengerjaan bangunan, perobohan, penggalian dan lainnya.
Apabila debu tersebut masuk melalui saluran pernapasan dan masuk ke dalam
paru, maka dapat berakibat terganggunya fungsi paru (Yulaekah, 2007).
Masyarakat dapat berisiko terkena pencemaran udara dari berbagai polutan,
yaitu masyarakat pengguna jalan raya, masyarakat yang tinggal di tepi jalan,
maupun masyarakat yang bekerja di jalan raya seperti polisi lalu lintas,
pedagang kaki lima, pedagang asongan, dan anak jalanan yang mengamen di
persimpangan jalan (Sandra, 2013)

1
Menurut Siswanto (1991c) faktor yang menentukan besarnya gangguan
kesehatan akibat debu, antara lain: (a) Kadar debu di udara. Makin tinggi
kadar debu, makin cepat menimbulkan gangguan kesehatan dan kenikmatan
dalam bekerja; (b) Ukuran atau diameter debu. Debu yang berdiameter kecil
akan dapat masuk jauh ke dalam alveoli, sementara yang besar akan tertahan
pada cilia di saluran pernafasan atas; (c) Sifat debu. Debu mempunyai sifat
inert, fibrogenik dan karsinogenik; (d) Reaktifitas debu. Debu organik kurang
reaktif namun dapat menyebabkan reaksi iritasi; (d) Cuaca kerja. Lingkungan
yang panas dan kering, mendorong timbulnya debu dan debu yang terbentuk
dalam keadaan panas akan menjadi lebih reaktif; (e) Lama waktu papar. Debu
dapat menimbulkan kelainan paru dalam jangka waktu cukup lama; (f)
Kepekaan individu.

Bentuk kepekaan seseorang sangat berbeda antara satu dengan yang lain.
Kepekaan disini tidak hanya dalam bidang morfologis, namun juga dalam
bidang fisiologis dan iritasi. Pemaparan akibat debu sangat berbahaya, antara
lain mempunyai 3 respon yang berbeda, yaitu respon allergic atau atopi (hay
fever pada saluran pernafasan) dan pemaparan yang menahun dapat
menyebabkan Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD), respon
perubahan immunologic pada jaringan paru dan pada perubahan tersebut dapat
terjadi secara permanen. Penyakit yang disebabkan oleh ketiga respon tersebut
dikenal sebagai allergic alveolitis atau hypersensitivitas pneumonitis
(Siswanto, 1991b)

Pajanan debu di lingkungan kerja dapat menimbulkan berbagai penyakit


paru kerja yang mengakibatkan gangguan fungsi paru dan kecacatan.
Meskipun angka kejadiannya tampaknya lebih kecil dibandingkan dengan
penyakit-penyakit utama penyebab cacat yang lain, terdapat bukti bahwa
penyakit ini mengenai cukup banyak orang, khususnya di Negara-negara yang
sedang giat mengembangkan industri.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Debu
Debu merupakan salah satu polutan udara yang memiliki tingkat toksisitas
yang tinggi dan sangat berperan terhadap rusaknya udara [Link]
mengandung partikel zat padat yan dapat menimbulkan berbagai macam
penyakit saluran pernapasan dan dapat mencemari udara. Debu akan masuk
ke dalam paru manusia jika seseorang tersebut menghirup udara yan
mengandung debu, utamanya debu yang memiliki ukuran 1 hingga 3 mikron
yang kemudian akan menempel pada alveoli (Zaen, 2015).
Debu merupakan salah satu bahan yang sering disebut sebagai partikel
yang melayang di udara (Suspended Particulate Matter / SPM) dengan ukuran
1 mikron sampai dengan 500 mikron. Dalam kasus pencemaran udara (Indoor
and Out Door Pollution) debu sering dijadikan salah satu indikator
pencemaran yang digunakan untuk menunjukan tingkat bahaya baik terhadap
lingkungan maupun terhadap kesehatan dan keselamatan [Link]
merupakan salah satu faktor kimiawi yang dapat mempengaruhi pekerja
dalam melakukan pekerjaannya. Debu dalam pekerjaan konstruksi didapatkan
dari pengerjaan bangunan, perobohan, penggalian dan lainnya. Apabila debu
tersebut masuk melalui saluran pernapasan dan masuk ke dalam paru, maka
dapat berakibat terganggunya fungsi paru (Yulaekah, 2007). Masyarakat
dapat berisiko terkena pencemaran udara dari berbagai polutan, yaitu
masyarakat pengguna jalan raya, masyarakat yang tinggal di tepi jalan,
maupun masyarakat yang bekerja di jalan raya seperti polisi lalu lintas,
pedagang kaki lima, pedagang asongan, dan anak jalanan yang mengamen di
persimpangan jalan (Sandra, 2013)

2.2 Udara ambien


Udara merupakan komponen kehidupan yang sangat vital bagi kehidupan
manusia. Akan tetapi, karena seiring dengan perkembangan zaman yang diikuti
oleh beragamnya aktifitas manusia, kualitas udara cenderung mengalami
penurunan. Beragam aktifitas manusia seperti kegiatan industri, transportasi,

3
dan kegiatan lainnya memiliki peranan yang signifikan dalam mendorongnya
terjadi pencemaran [Link] ambien adalah udara bebas di permukaan bumi
pada lapisan troposfir yang berada di dalam wilayah yurisdiksi Republik
Indonesia yang dibutuhkan dan mempengaruhi kesehatan manusia, makhluk
hidup dan unsur lingkungan hidup lainnya. Status mutu udara ambien adalah
keadaan mutu udara di suatu tempat pada saat dilakukan inventarisasi.

2.3 Udara emisi


Uji emisi adalah sesuatu yang baru yang diperkenalkan pemerintah untuk
masyarakat Indonesia terkait dengan pengecekan kondisi kendaraan. Setiap
kendaraan perlu melakukan pengujian ini untuk mengetahui tingkat kesehatan
mesin dan performanya. Pengujian ini perlu dilakukan karena memberikan
dampak besar bagi lingkungan hidup maupun kondisi kendaraan itu sendiri. uji
emisi ini memberikan dampak positif di beberapa aspek. Salah satunya adalah
lingkungan. Melalui proses ini akan diketahui kadar buangan dari hasil
pembakaran mesin yang akan berpengaruh pada lingkungan. Jika kadar
buangan mesin memiliki jumlah yang melebihi batas maksimal, berarti
kendaraan tersebut sedang dalam kondisi tidak beres. Dalam hal ini, uji emisi
juga bermanfaat untuk mengetahui ukuran kesehatan mesin kendaraan.

2.4 Nilai Ambang Batas


Baku mutu udara ambien ditetapkan pemerintah untuk mencegah dan
mengontrol penurunan mutu udara ambien akibat pencemaran. Penentuan
baku mutu udara ambien sangatlah penting karena digunakan sebagai tolak
ukur atau penentu status mutu udara di suatu wilayah, dan juga sebagai
pencegah terjadinya pencemaran udara. penentuan pencemar atau tidaknya
udara suatu daerah berdasarkan parameter sebagai berikut:

Tabel 2. 1 Parameter Pencemar Udara

No. Parameter Udara Bersih Udara Tencemar


1. Bahan Partikel 0,01-0,02 mg/m3 0,07-0,7mg/m3
2. SO₂ 0,003-0,02 ppm 0,02-2 ppm
3. CO < 1 ppm 5-200 ppm

4
4. NO₂ 0,003-0,02 ppm 0,02-0,1 ppm
5. CO₂ 310-330 ppm 350-700 ppm
6. Hidrokarbon < 1 ppm 1-20 ppm
Sumber : Buletin WHO dalam Mukono, 2005

Menurut (Sarudji, 2010), yang termasuk sumber pencemar dari bahan


bakar bersumber menetap adalah pembakaran beberapa jenis bahan bakar
yang diemisikan pada suatu lokasi yang tetap.

Tabel 2. 2 Baku Mutu Emisi Sumber Bergerak

No. Kategori Bahan Uji COgr/km Baku Mutu Maks Rata-


Kendaraan Bakar tahap Hidrokarbon rata
Operasi gr/Km
Maks Maks rata-
rata-rata rata
1. Mobil
penumpang
dengan
tempat Bensin 10 28,2 24,6 4,2 3,6 3,7 3,3
duduk
Mkasimal 9
orang
2. Mobil
dengan berat Bensin 10 31,4 26,8 4,8 4,3 3,7 3,3
dari 2-3 ton
3. Kendaraa
bermotor
disel*)
-Direct Solar 6 1.050 920 1.010 920
Injection
-Indirect Solar 6 1.050 920 680 590 1.010 920
Injection
4. Kendaraan

5
roda 2*)
-Untuk 4 tak Bensin Idling 4,5 3.300
-Untuk 2 tak Bensin Idling
Sumber : Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup
Nomor Kep-02/MENKLH/1998

Tabel 2. 3 Baku Mutu Daerah/Kawasan Industri Kimia Dasar

No Parameter Waktu Baku Mutu Metode Peralatan


Pengukuran Analisis
1. SO₂ 1 jam 900 ug/Nm³
(Sulfur Dioksida) 24 jam 365 ug/Nm³ pararosanilin Spektrofoto
1 thn 60 ug/Nm³ meter
2. CO 1 jam 30 ug/Nm³
(Karbon 24 jam 10 ug/Nm³ NDIR NDIR
Monoksida) 1 thn Analyzer
3. NO₂ 1 jam 400 ug/Nm³ Spektrofoto
(Nitrogen 24 jam 150 ug/Nm³ Saltzman meter
Dioksida) 1 thn 100 ug/Nm³
4. O₃ (Oksidan) 1 jam 235 ug/Nm³ Cheemilumin Spektrofoto
1 Thn 50 ug/Nm³ escent meter
5. HC (Hidro 3 jam 160 ug/Nm³ Flame Gas
Karbon) Ionization Chomatogra
fi
6. PM₁₀
(Partikel<10 um) 24 jam 150 ug/Nm³ Gravimetric Hi – Vol
PM₂,₅
(Partikel<2,5 um) 24 jam 65 ug/Nm³ Gravimetric Hi – Vol
1 Thn 15 ug/Nm³ Hi – Vol
7. Khiorine & Impinger
Khlorine 30 hari 150 ug/Nm³ Specific Ion atau
Dioksida Electrode Continous
Analyzer

6
8. TSP (Debu) 24 jam 230 ug/Nm³ Gravimetric Hi – Vol
1 Thn 90 ug/Nm³
9. Pb (Timah Hitam) 24 jam 2 ug/Nm³ Gravimetric Hi – Vol
1 Thn 1 ug/Nm³ Ekstaraktif AAS
Pengabuan
10. Dustfall 10Ton/Km2 Canister
(debu Jatuh) 30 hari /bulan(Pem Colourimetrc
ukiman)
20Ton/Km2
/Bulan
(Industri)
11. Total Fluorida 24 jam 3 ug/Nm³ Specific Ion Impinger
(as F) 90 hari 0,5 ug/Nm³ Electrode atau
Continous
Analyzer
12. Fluor Indeks 24 jam Colourimetrc Limited
Filter Paper
13. Sulphat Indeks 30 hari 1 mg Colourimetrc Lead
SO3/100Cm Peroxid
³ Candle
Sumber : SLHD Sumatera Selatan tahun 2009

2.5 Dampak kesehatan


Senyawa-senyawa di dalam gas buang terbentuk selama energi diproduksi
untuk mejalankan kendaraan bermotor. Beberapa senyawa yang dinyatakan
dapat membahayakan kesehatan adalah berbagai oksida sulfur, oksida
nitrogen, dan oksida karbon, hidrokarbon, logam berat tertentu dan partikulat.
Pembentukan gas buang tersebut terjadi selama pembakaran bahan bakar
fosil-bensin dan solar didalam mesin. Dibandingkan dengan sumber stasioner
seperti industri dan pusat tenaga listrik, jenis proses pembakaran yang terjadi
pada mesin kendaraan bermotor tidak sesempurna di dalam industri dan
menghasilkan bahan pencemar pada kadar yang lebih tinggi, terutama
berbagai senyawa organik dan oksida nitrogen, sulfur dan karbon.

7
Gangguan kesehatan lain diantara kedua pengaruh yang ekstrim ini,
misalnya kanker pada paru-paru atau organ tubuh lainnya, penyakit pada
saluran tenggorokan yang bersifat akut maupun khronis, dan kondisi yang
diakibatkan karena pengaruh bahan pencemar terhadap organ lain sperti paru,
misalnya sistem syaraf. Karena setiap individu akan terpajan oleh banyak
senyawa secara bersamaan, sering kali sangat sulit untuk menentukan
senyawa mana atau kombinasi senyawa yang mana yang paling berperan
memberikan pengaruh membahayakan terhadap kesehatan.

Ukuran debu sangat berpengaruh terhadap terjadinya penyakit pada


saluran pernafasan. Adapun jenis penyakit akibat kerja yang diakibatkan oleh
debu diantaranya adalah Pneumokoniosis, Silikosis, Anthrakosilikosis,
Asbestosis, Berryliosis, Byssinosis, Stannosis, Siderosis. Efek debu terhadap
kesehatan sangat tergantung pada Solubity (mudah larut), Komposisi Kimia,
Konsentrasi Debu, dan Ukuran partikel debu. Partikel debu memiliki dampak
terhadap kesehatan seperti timbulnya iritasi pada mata, alergi, gangguan
pernafasan dan kanker pada paru-paru, bronchitis khronis, emfisema paru,
asma bronchial, dan gangguan kardiovaskular.

2.6 Epam 5000


Real-Time Particulate Air Monitor EPAM 5000 / Haz-Dust EPAM-
5000 Environmental Particulate Air Monitor adalah Alat ukur Kadar debu
indoor/outdoor dengan ukuran TSP, PM10, PM2.5, PM1.0. Epam 5000 salah
satu alat ukur debu secara digital dan portabel.

8
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat
a. EPAM 5000

Gambar 3. 1 Alat EPAM 5000


3.2 Prosedur Kerja

3.2.1 Kalibrasi Alat


Dari menu utama,
Pilih System
pilih special functions Pilih
Options
Extended
Options

Pilih manual-Zero Pilih


Pilih Manual-
sekali lagi Calibration
Zero

Setelah proses selesai,


Tunggu kira kira 99 layar akan kembali ke
detik menu pengukuran

Gambar 3. 2 Kalibrasi Alat

9
3.2.2 Cara Kerja Alat
a. Pengukuran Sampel

Tekan tombol Power ON

Dari menu utama, pilih Special Functions

Pilih System Options

Pilih Extended Options

Pilih Size Select

Tentukan ukuran 1.0 µm – E, 2.5 µm - E, PM 10, atau TSP

Masukan/pasang sampling inlet (impactor jet sesuai ukuran)


untuk pengukuran debu TSP tanpa menggunakan impactor jet

Lakukan prosedur ‘Zero’ menu utama: Pilih Special Functions 


System Options  Extended Options  Calibration Options 
Auto Zero/Manual Zero

Pengukuran siap dilakukan dengan : Tekan Enter  Run 


Continue/Overwrite data  Run untuk pengukuran tanpa alrm
continue unuk pengukuran dengan alarm

10
Setelah selesai pengukuran, untuk menghentikan
pengukuran tekan tombol Enter

Pengukuran selesai
Gambar 3. 3 Cara Kerja
b. Memilih Sampling Rate

Menu utama pilih Special Functions

Pilih System Options

Pilih Sampling Rate

Gambar 3. 4 Memilih Sampling Rate


c. Melihat yang sudah disimpan

Pilih Review Data

Pilih Statistics

Pilih lokasi data dengan menggunakan ↑↓ untuk


mengubah digit, dan konfirmasi dengan Enter

Gambar 3. 5 Cara Kerja Alat

11
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tempat Penelitian


A. Waktu Pengukuran : Selasa, 02 November 2021

B. Tempat Pengukuran : Simpang 4 Auditorium Unsri

4.2 Hasil Penelitian


Tabel 4 1 Hasil Pengukuran EPAM 5000

No. Time Hasil


1. 08 : 17 : 59 0,093 mg/m³
2. 08 : 18 : 29 0,092 mg/m³
3. 08 : 18 : 50 0,091 mg/m³
4. 08 : 19 : 06 0,090 mg/m³
Rata – rata 0,0915 mg/m³

4.3 Pembahasan
Praktikum kali ini menggunakan alat EPAM 5000 yang merupakan alat
mengukur debu. Pengukuran ini bertujuan untuk mendapatkan hasil dari
kualitas udara pada lingkungan Universitas Sriwijaya. Pengukuran dilakukan
di simpang 4 Auditorium Universitas Sriwijaya . Dengan hasil yang diperoleh
dari pengukuran yang menunjukkan nilai rata-rata 0,0915 mg/m3. Yang
diketahuai nilai ambang batass 0,23 mg/m3. Dapat disimpulkan dari hasil
pengukuran udara pada Universitas Sriwijaya masih tergolong udara yang
baik serta tidak menimbulkan dampak bagi kesehatan baik lingkungan
maupun masyarakat sekitar Universitas Sriwijaya.

12
BAB V
PENUTUP

5. 1 Kesimpulan
Dapat disimpulkan dari pengukuran menggunakan alat EPAM 5000:

1. Debu merupakan salah satu bahan yang sering disebut sebagai


partikel yang melayang di udara (Suspended Particulate Matter /
SPM) dengan ukuran 1 mikron sampai dengan 500 mikron.
2. Uji Emisi adalah sesuatu yang baru diperkenalkan oleh Pemerintah
untuk masyarakat Indonesia terkait dengan pengecekan kondisi
kendaraan.
3. Pajanan debu di lingkungan kerja dapat menimbulkan berbagai
penyakit paru kerja yang mengakibatkan gangguan fungsi paru dan
kecacatan.
4. Hasil pengukuran udara yang dilakukan di Simpang 4 Audiotorium
Universitas Sriwijaya masih tergolong udara yang baik serta tidak
menimbulkan dampak bagi kesehatan baik lingkungan maupun
mahasiswa dan masyarakat sekitar Universitas Sriwijaya..
5. Berdasarkan peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41
Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara, serta Nilai
ambang batas kadar monoksida (CO) yang diperbolehkan di udara
sebesar 30.000 µg/ Nm3 dalam 1 jam pengukuran.

13
DAFTAR PUSTAKA
Ardam, K.A.Y., 2015. Hubungan paparan debu dan lama paparan dengan
gangguan faal paru pekerja overhaul power plant. The Indonesian Journal
of Occupational Safety and Health, 4(2), pp.155-166.
Ardyanto, D. and Atmaja, A.S., 2007. Identifikasi kadar debu di lingkungan kerja
dan keluhan subyektif pernafasan tenaga kerja bagian finish mill. Jurnal
Kesehatan Lingkungan Unair, 3(2), p.3931.
Nasichin, M. and Setiawan, B.A., 2019. AKIBAT HUKUM PERBEDAAN
BAKU MUTU UDARA AMBIEN PARAMETER DEBU PADA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41
TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA
DENGAN PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 10
TAHUN 2009 TENTANG BAKU MUTU UDARA AMBIEN DAN
EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK. Jurnal Pro Hukum: Jurnal
Penelitian Bidang Hukum Universitas Gresik, 8(2), pp.223-235.
Pinugroho, S.B. and Yuli Kusumawati, S.K.M., 2017. Hubungan Usia, Lama
Paparan Debu, Penggunaan APD, Kebiasaan Merokok dengan Gangguan
Fungsi Paru Tenaga Kerja Mebel di Kec. Kalijambe Sragen (Doctoral
dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).
Sholihah, M. and Tualeka, A.R., 2015. Studi Faal Paru dan Kebiasaan Merokok
pada Pekerja yang Terpapar Debu pada Perusahaan Konstruksi di
Surabaya. The Indonesian Journal of Occupational Safety and
Health, 4(1), pp.1-10.
Simandjuntak, A.G., 2013. Pencemaran udara. Buletin Limbah, 11(1).
Syahputra, D.A., Amir, Z. and Pandia, P., 2015. Hubungan Kadar Debu Kapas
dengan Kejadian Bisinosis pada Pekerja Pabrik X Pembuat Tilam di Kota
Medan. J Respir Indo, 35(3), pp.135-143.
Tugaswati, A.T., 2004. Emisi gas buang kendaraan bermotor dan dampaknya
terhadap kesehatan. Health and Human Ecology Journal, 61, pp.261-275.

14

Anda mungkin juga menyukai