Praktikum Analisis Kualitas Udara EPAM 5000
Praktikum Analisis Kualitas Udara EPAM 5000
i
5. 1 Kesimpulan ............................................................................................. 13
ii
DAFTAR TABEL
Tabel 2. 1 Parameter Pencemar Udara .................................................................... 4
Tabel 2. 2 Baku Mutu Emisi Sumber Bergerak ...................................................... 5
Tabel 2. 3 Baku Mutu Daerah/Kawasan Industri Kimia Dasar .............................. 6
Tabel 4 1 Hasil Pengukuran EPAM 5000 ............................................................. 12
iii
DAFTAR GAMBAR
iv
BAB I
PENDAHULUAN
1
Menurut Siswanto (1991c) faktor yang menentukan besarnya gangguan
kesehatan akibat debu, antara lain: (a) Kadar debu di udara. Makin tinggi
kadar debu, makin cepat menimbulkan gangguan kesehatan dan kenikmatan
dalam bekerja; (b) Ukuran atau diameter debu. Debu yang berdiameter kecil
akan dapat masuk jauh ke dalam alveoli, sementara yang besar akan tertahan
pada cilia di saluran pernafasan atas; (c) Sifat debu. Debu mempunyai sifat
inert, fibrogenik dan karsinogenik; (d) Reaktifitas debu. Debu organik kurang
reaktif namun dapat menyebabkan reaksi iritasi; (d) Cuaca kerja. Lingkungan
yang panas dan kering, mendorong timbulnya debu dan debu yang terbentuk
dalam keadaan panas akan menjadi lebih reaktif; (e) Lama waktu papar. Debu
dapat menimbulkan kelainan paru dalam jangka waktu cukup lama; (f)
Kepekaan individu.
Bentuk kepekaan seseorang sangat berbeda antara satu dengan yang lain.
Kepekaan disini tidak hanya dalam bidang morfologis, namun juga dalam
bidang fisiologis dan iritasi. Pemaparan akibat debu sangat berbahaya, antara
lain mempunyai 3 respon yang berbeda, yaitu respon allergic atau atopi (hay
fever pada saluran pernafasan) dan pemaparan yang menahun dapat
menyebabkan Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD), respon
perubahan immunologic pada jaringan paru dan pada perubahan tersebut dapat
terjadi secara permanen. Penyakit yang disebabkan oleh ketiga respon tersebut
dikenal sebagai allergic alveolitis atau hypersensitivitas pneumonitis
(Siswanto, 1991b)
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Debu
Debu merupakan salah satu polutan udara yang memiliki tingkat toksisitas
yang tinggi dan sangat berperan terhadap rusaknya udara [Link]
mengandung partikel zat padat yan dapat menimbulkan berbagai macam
penyakit saluran pernapasan dan dapat mencemari udara. Debu akan masuk
ke dalam paru manusia jika seseorang tersebut menghirup udara yan
mengandung debu, utamanya debu yang memiliki ukuran 1 hingga 3 mikron
yang kemudian akan menempel pada alveoli (Zaen, 2015).
Debu merupakan salah satu bahan yang sering disebut sebagai partikel
yang melayang di udara (Suspended Particulate Matter / SPM) dengan ukuran
1 mikron sampai dengan 500 mikron. Dalam kasus pencemaran udara (Indoor
and Out Door Pollution) debu sering dijadikan salah satu indikator
pencemaran yang digunakan untuk menunjukan tingkat bahaya baik terhadap
lingkungan maupun terhadap kesehatan dan keselamatan [Link]
merupakan salah satu faktor kimiawi yang dapat mempengaruhi pekerja
dalam melakukan pekerjaannya. Debu dalam pekerjaan konstruksi didapatkan
dari pengerjaan bangunan, perobohan, penggalian dan lainnya. Apabila debu
tersebut masuk melalui saluran pernapasan dan masuk ke dalam paru, maka
dapat berakibat terganggunya fungsi paru (Yulaekah, 2007). Masyarakat
dapat berisiko terkena pencemaran udara dari berbagai polutan, yaitu
masyarakat pengguna jalan raya, masyarakat yang tinggal di tepi jalan,
maupun masyarakat yang bekerja di jalan raya seperti polisi lalu lintas,
pedagang kaki lima, pedagang asongan, dan anak jalanan yang mengamen di
persimpangan jalan (Sandra, 2013)
3
dan kegiatan lainnya memiliki peranan yang signifikan dalam mendorongnya
terjadi pencemaran [Link] ambien adalah udara bebas di permukaan bumi
pada lapisan troposfir yang berada di dalam wilayah yurisdiksi Republik
Indonesia yang dibutuhkan dan mempengaruhi kesehatan manusia, makhluk
hidup dan unsur lingkungan hidup lainnya. Status mutu udara ambien adalah
keadaan mutu udara di suatu tempat pada saat dilakukan inventarisasi.
4
4. NO₂ 0,003-0,02 ppm 0,02-0,1 ppm
5. CO₂ 310-330 ppm 350-700 ppm
6. Hidrokarbon < 1 ppm 1-20 ppm
Sumber : Buletin WHO dalam Mukono, 2005
5
roda 2*)
-Untuk 4 tak Bensin Idling 4,5 3.300
-Untuk 2 tak Bensin Idling
Sumber : Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup
Nomor Kep-02/MENKLH/1998
6
8. TSP (Debu) 24 jam 230 ug/Nm³ Gravimetric Hi – Vol
1 Thn 90 ug/Nm³
9. Pb (Timah Hitam) 24 jam 2 ug/Nm³ Gravimetric Hi – Vol
1 Thn 1 ug/Nm³ Ekstaraktif AAS
Pengabuan
10. Dustfall 10Ton/Km2 Canister
(debu Jatuh) 30 hari /bulan(Pem Colourimetrc
ukiman)
20Ton/Km2
/Bulan
(Industri)
11. Total Fluorida 24 jam 3 ug/Nm³ Specific Ion Impinger
(as F) 90 hari 0,5 ug/Nm³ Electrode atau
Continous
Analyzer
12. Fluor Indeks 24 jam Colourimetrc Limited
Filter Paper
13. Sulphat Indeks 30 hari 1 mg Colourimetrc Lead
SO3/100Cm Peroxid
³ Candle
Sumber : SLHD Sumatera Selatan tahun 2009
7
Gangguan kesehatan lain diantara kedua pengaruh yang ekstrim ini,
misalnya kanker pada paru-paru atau organ tubuh lainnya, penyakit pada
saluran tenggorokan yang bersifat akut maupun khronis, dan kondisi yang
diakibatkan karena pengaruh bahan pencemar terhadap organ lain sperti paru,
misalnya sistem syaraf. Karena setiap individu akan terpajan oleh banyak
senyawa secara bersamaan, sering kali sangat sulit untuk menentukan
senyawa mana atau kombinasi senyawa yang mana yang paling berperan
memberikan pengaruh membahayakan terhadap kesehatan.
8
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1.1 Alat
a. EPAM 5000
9
3.2.2 Cara Kerja Alat
a. Pengukuran Sampel
10
Setelah selesai pengukuran, untuk menghentikan
pengukuran tekan tombol Enter
Pengukuran selesai
Gambar 3. 3 Cara Kerja
b. Memilih Sampling Rate
Pilih Statistics
11
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3 Pembahasan
Praktikum kali ini menggunakan alat EPAM 5000 yang merupakan alat
mengukur debu. Pengukuran ini bertujuan untuk mendapatkan hasil dari
kualitas udara pada lingkungan Universitas Sriwijaya. Pengukuran dilakukan
di simpang 4 Auditorium Universitas Sriwijaya . Dengan hasil yang diperoleh
dari pengukuran yang menunjukkan nilai rata-rata 0,0915 mg/m3. Yang
diketahuai nilai ambang batass 0,23 mg/m3. Dapat disimpulkan dari hasil
pengukuran udara pada Universitas Sriwijaya masih tergolong udara yang
baik serta tidak menimbulkan dampak bagi kesehatan baik lingkungan
maupun masyarakat sekitar Universitas Sriwijaya.
12
BAB V
PENUTUP
5. 1 Kesimpulan
Dapat disimpulkan dari pengukuran menggunakan alat EPAM 5000:
13
DAFTAR PUSTAKA
Ardam, K.A.Y., 2015. Hubungan paparan debu dan lama paparan dengan
gangguan faal paru pekerja overhaul power plant. The Indonesian Journal
of Occupational Safety and Health, 4(2), pp.155-166.
Ardyanto, D. and Atmaja, A.S., 2007. Identifikasi kadar debu di lingkungan kerja
dan keluhan subyektif pernafasan tenaga kerja bagian finish mill. Jurnal
Kesehatan Lingkungan Unair, 3(2), p.3931.
Nasichin, M. and Setiawan, B.A., 2019. AKIBAT HUKUM PERBEDAAN
BAKU MUTU UDARA AMBIEN PARAMETER DEBU PADA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41
TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA
DENGAN PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 10
TAHUN 2009 TENTANG BAKU MUTU UDARA AMBIEN DAN
EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK. Jurnal Pro Hukum: Jurnal
Penelitian Bidang Hukum Universitas Gresik, 8(2), pp.223-235.
Pinugroho, S.B. and Yuli Kusumawati, S.K.M., 2017. Hubungan Usia, Lama
Paparan Debu, Penggunaan APD, Kebiasaan Merokok dengan Gangguan
Fungsi Paru Tenaga Kerja Mebel di Kec. Kalijambe Sragen (Doctoral
dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).
Sholihah, M. and Tualeka, A.R., 2015. Studi Faal Paru dan Kebiasaan Merokok
pada Pekerja yang Terpapar Debu pada Perusahaan Konstruksi di
Surabaya. The Indonesian Journal of Occupational Safety and
Health, 4(1), pp.1-10.
Simandjuntak, A.G., 2013. Pencemaran udara. Buletin Limbah, 11(1).
Syahputra, D.A., Amir, Z. and Pandia, P., 2015. Hubungan Kadar Debu Kapas
dengan Kejadian Bisinosis pada Pekerja Pabrik X Pembuat Tilam di Kota
Medan. J Respir Indo, 35(3), pp.135-143.
Tugaswati, A.T., 2004. Emisi gas buang kendaraan bermotor dan dampaknya
terhadap kesehatan. Health and Human Ecology Journal, 61, pp.261-275.
14