Prinsip dan Jenis Galvanometer
Prinsip dan Jenis Galvanometer
Sejarah Galvanometer
Luivi Galvani merupakan seseorang yang
berada dibalik istilah galvanometer. Penggunaan
galvanometer yang pertama kali dilaporkan adalah
pada 18 september 1820 oleh Johann Schweigger
dari Universitas Halle di Nurremberg. Konsep
tentang Galvanometer pertama kali muncul tahun
1820 dicetuskan oleh seorang peneliti bernama
Hans Christian Oersted. Tokoh lain yang berperan
dalam pengembangan galvanometer adalah
Gambar 1. Galvanometer (Sumber: Andre-Marie Ampere. Andre-Marie Ampere
[Link]
[Link]) memunculkan kalibrasi atas yang ditemukan oleh
Oersted dan menamainya dengan Galvanometer.
Pengertian Galvanometer
Galvanometer adalah alat ukur listrik yang digunakan untuk mengukur kuat arus dan
beda potensial listrik yang relatif kecil (Wulandari, n.d.). Galvanometer pada umumnya dipakai
untuk penunjuk analog arus searah, dimana arus yang diukur merupakan arus-arus kecil
misalnya yang diperoleh pada pengukuran fluks magnet. Galvanometer memiliki komponen
internal yang tidak mendukung sehingga tidak dapat digunakan untuk mengukur kuat arus
maupun beda potensial listrik yang relatif besar. Namun, galvanometer bisa digunakan untuk
mengukur kuat arus maupun beda potensial listrik yang besar atau tinggi, jika dipasang
hambatan eksternal (pada voltmeter disebut hambatan depan, sedangkan pada ampermeter
disebut hambatan shunt) pada galvanometer tersebut.
Jenis Galvanometer
1. Galvanometer Balistik
Untuk mengukur fluksi maknit digunakan galvanometer balistik, dimana
galvanometer ini bekerja menggunakan prinsip d’Arsonval dan dirancang khusus untuk
pemakaian selama 20 – 30 sekon dengan kepekaan tinggi (Wulandari, n.d.).
Pengukuran pada galvanometer balistik ini,
kumparan menerima impuls arus sesaat, akibatnya
kumparan berayun ke satu sisi dan kemudian
kembali berhenti dalam gerakan berosilasi.
Jika impuls arus berlangsung singkat, maka
defleksi mula-mula dari posisi berhenti
berbanding lurus dengan kuantitas pengosongan
muatan listrik melalui kumparan. Nilai relatif
impuls arus yang diukur dalam defleksi sudut
Gambar 2. Galvanometer Balistik (Sumber:
[Link] mula-mula dari kumparan adalah :
detail/ballistic-galvanometer-
[Link])
Q=Kθ
Dimana:
Q = muatan listrik ( coulomb )
K = kepekaan galvanometer ( coulomb / radian defleksi )
θ = defleksi sudut kumparan ( radian )
Cara Kerja
Jarum galvanometer akan menyimpang ke kanan ketika arus positif masuk ke terminal
positif dan menyimpang ke kiri jika sebaliknya.
Secara umum, didalam galvanometer terdiri dari magnet permanen yang memiliki dua
kutub yaitu kutub utara dan selatan. Selain magnet juga terdapat lilitan kawat atau kumparan,
jarum, pegas spiral, dan skala yang akan ditunjukkan oleh jarum.
Gambar 6. Bagian-bagian Galvanometer (Sumber: [Link]
Pada magnet permanen yang ada di galvanometer terdapat medan magnet disekitar
magnet tersebut. Karena magnet memiliki kutub yang berbeda, maka medan magnet yang ada
mengarah dari kutub utara menuju kutub selatan. Medan magnet pada galvanometer dapat
dituliskan dengan “B”.
Kemudian arus listrik mengalir pada kumparan yang ada diantara kutub utara dan kutub
selatan magnet permanen. Arus listrik mengalir dari terminal positif menuju kumparan dan
mencapai terminal negatif.
Kawat yang dialiri arus listrik di sekitar medan magnet akan mengalami gaya lorentz.
Gaya Lorentz adalah gaya yang timbul akibat adanya arus listrik dalam suatu medan magnet.
Dengan menggunakan kaidah tangan kanan, arah gaya lorents pada kawat sebelah kanan yang
akan ditunjukan adalah ke bawah. Kemudian pada kawat sebelah kiri, gaya lorentz mengarah
ke atas.
Arah gaya Lorenzt dapat ditentukan dengan aturan tangan kanan. Namun, posisi telapak
tangan tidak tergenggam melainkan terbuka. Caranya adalah sebagai berikut. Bukalah telapak
tanganmu dan rapatkan keempat jarimu. Ibu jari dibuka hingga tegak lurus terhdapa empat jari
[Link] jari ini menunjukkan arah arus listrik , keempat jari lainnya menunjukkan arah
medan magnet, sedangkan telapak tangan yang terbuka menunjukkan arah gaya Lorenzt.
Kedua kawat memiliki panjang yang sama dan arus listrik yang sama, maka besarnya
gaya lorentz keduanya adalah sama. Perbedaan arah arus membuat arah gaya lorentz keduanya
menjadi berbeda. Dengan demikian resultan gaya dalam arah vertikal adalah 0 atau ∑𝐹𝑦 = 0.
Artinya kumparan tidak akan bergerak translasi sama sekali. Meskipun demikian garis tengah
kumparan adalah sebuah poros.
∑𝑭𝒚 = 𝑭𝟐 − 𝑭𝟏 = 𝟎
Dapat dilihat bahwa kedua gaya lorentz memiliki lengan torsi dengan nilai tertentu.
Menurut hukum dasar eletromaknetik , persamaan untuk torsi adalah :
𝝉 = B x A x I x N
𝝉 = torsi dalam Newton-meter ( N-m )
B = kerapatan fluksi didalam celah udara ( Wb / m2 )
A = luas efektif kumparan ( m2 )
I = arus dalam kumparan putar ( Ampere, A )
N = jumlah lilitan kumparan
Menggunakan konsep torsi, kedua gaya akan memiliki torsi dengan tanda yang sama.
Nilai sigma tidak sama dengan nol akan tetapi kurang dari nol. Artinya kumparan akan berputar
searah dengan erputaran arah jarum jam.
∑𝝉 = −𝑭𝟏. 𝒍𝟏 − 𝑭𝟐. 𝑳𝟐 ≠ 𝟎
Gambar 10. Kumparan berputar dan jarum menunjukkan skala (Sumber: [Link]
Mengapa jarum bisa berhenti di angka tertentu? Hal itu dikarenakan oleh pegas spiral.
Perputaran dari kumparan menyebabkan penyimpangan posisi sudut dari pegas spiral. Menurut
Hukum Newton pegas spiral akan memberikan reaksi dengan memberikan torsi dalam arah
yang berlawanan. Pada nilai penyimpangan tertentu, kedua torsi akan seimbang sehingga jarum
berhenti bergerak. Tanpa adanya pegas spiral jarum akan terus berputar selam arus listrik masih
mengalir.
Analisis Galvanometer
Arus listrik yang akan diukur dilewati kumparan dimana kumparan sendiri berada
dalam medan magnet (terinduksi magnet) (Warnana & Fadjar, 2017). Induksi magnet yang
ditimbulkan oleh medan permanen memiliki arah induksi magnet dari kutub U ke kutub S.
Akibatnya pada kumparan terdapat dua buah gaya yang sama besar tetapi arahnya berlawanan
dan tidak dalam satu garis kerja, sehingga membentuk suatu momen kopel yang akan memutar
kumparan, besarnya momen kopel tersebut adalah:
τ=BIAN
τ = Momen kopel (weber ampere)
B = Induksi magnet permanen (weber/m2)
I = Arus listrik (ampere)
A = Luas penampang kumparan (m2)
N = Jumlah lilitan kumparan
Karena ada pegas spiral sebagai imbangan, maka bekerjalah momen gaya pegas
sebesar:
τ=k
“k” adalah konstanta pegas dan adalah sudut simpangan dari kumparan. Dari kedua
persamaan diatas maka dapat kita peroleh hubungan untuk menentukan simpangan sudut θ,
yakni:
kθ=NBIA
𝐍𝐁𝐈𝐀
θ= =sI
𝐤
𝐍𝐁𝐀
Dengan s = dikenal sebagai kepekaan arus galvanometer (Current sensitivity of
𝐤
galvanometer).
Daftar Pustaka
Apik Issetyorini, D. A. (2012). Gaya Gerak Listrik Pada Motor AC. Teknik Elektro, Polines, 3–6.
Warnana, D. D., & Fadjar, P. (2017). Alat ukur listrik. Elektronika, c, 1–62.