0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan31 halaman

Klasifikasi dan Patofisiologi Varises

Referat ini membahas tentang varises, termasuk definisi, epidemiologi, etiologi, patofisiologi, klasifikasi, diagnosis, tatalaksana, komplikasi, dan prognosisnya. Varises adalah pembuluh darah balik (vena) yang melebar dan berkelok-kelok akibat gangguan aliran darah. Faktor risikonya antara lain berdiri lama, faktor hormonal, kehamilan, usia, dan obesitas. Diagnosis didasarkan pada pemeriksaan fis

Diunggah oleh

Ade Novita Sam
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan31 halaman

Klasifikasi dan Patofisiologi Varises

Referat ini membahas tentang varises, termasuk definisi, epidemiologi, etiologi, patofisiologi, klasifikasi, diagnosis, tatalaksana, komplikasi, dan prognosisnya. Varises adalah pembuluh darah balik (vena) yang melebar dan berkelok-kelok akibat gangguan aliran darah. Faktor risikonya antara lain berdiri lama, faktor hormonal, kehamilan, usia, dan obesitas. Diagnosis didasarkan pada pemeriksaan fis

Diunggah oleh

Ade Novita Sam
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAGIAN ILMU BEDAH REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN JANUARI 2021


UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VARISES

Oleh :
Nurul Qalbi
111 2019 2107

Pembimbing :
dr. Reeny Purnamasari, Sp.B, [Link]

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK PADA


BAGIAN ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2021

1
HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertandatangan dibawah ini menyatakan bahwa :


Nama : Nurul Qalbi
NIM : 111 2019 2107
Universitas : Universitas Muslim Indonesia
Laporan Kasus : Varises

Adalah benar telah menyelesaikan tugas kepaniteraan klinik berjudul Varises dan
telah disetujui serta telah dibacakan dihadapan supervisor pembimbing dalam rangka
kepaniteraan klinik pada bagian Ilmu Bedah Rumah Sakit I bnu Sina Makassar
Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia.

Makassar, Januari 2021


Supervisor Pembimbing

dr. Reeny Purnamasari, Sp.B, [Link]

2
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahuwa Ta’ala atas segala rahmat
dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan referat ini sebagai salah satu
tugas kepaniteraan klinik pada Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas
Muslim Indonesia.

Dalam referat ini penulis melakukan pembahasan mengenai “Varises”. Kami


sangat menyadari bahwa penulisan referat ini belum mencapai sebuah kesempurnaan.
Oleh karena itu, kami dengan penuh harap beberapa saran dan kritik saudara saudari
yang dapat memperbaiki penulisan selanjutnya. Baik yang kami tulis sendiri atau
orang lain.

Akhir kata, semoga penulisan ini dapat memberikan sumbangsih bagi


keilmuan baik bagi diri sendiri, institusi terkait, dan masyarakat umum.

Makassar, Januari 2021

Penulis

3
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...........................................................................................1

HALAMAN PENGESAHAN.............................................................................2

KATA PENGANTAR.........................................................................................3

DAFTAR ISI.......................................................................................................4

BAB I PENDAHULUAN...............................................................................5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................6

2.1 Definisi..........................................................................................................6

2.2 Epidemiologi.................................................................................................6

2.3 Etiologi..........................................................................................................7

2.4 Patofisiologi...................................................................................................8

2.5 Klasifikasi....................................................................................................10

2.6 Diagnosis ....................................................................................................11

2.7 Tatalaksana..................................................................................................20

2.8 Komplikasi..................................................................................................26

2.9 Prognosis.....................................................................................................27

BAB III KESIMPULAN................................................................................28

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................29

4
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sejak 2500 tahun yang lalu pada zaman Hippocrates, varises sudah dikenal

sebagai penyakit kronis yang diakibatkan oleh posisi tegak manusia dan gaya

gravitasi. Istilah varises sendiri berasal dari kata latin yaitu varicous yang berarti vena

melebar. Varises tidak hanya menimbulkan pelebaran vena melainkan juga berliku-

liku dan memanjang. Varises ini merupakan suatu manifestasi yang dari sindrom

insufisiensi vena dimana pada sindrom ini aliran darah dalam vena mengalami arah

aliran retrograde atau aliran balik menuju tungkai yang kemudian mengalami

kongesti. Setiap vena bisa menjadi varises. Kondisi ini disebabkan oleh kurang

berfungsi (kompeten) katup dalam pembuluh darah dan penurunan elastisitas dinding

vena, yang memungkinkan darah terdeoksigenasi harus dipompa kembali ke jantung,

kemudian mengalir ke belakang pada vena superfisial, menyebabkan pembesaran

pembuluh darah. Hal ini sering terjadi pada persimpangan saphenofemoral dan

saphenopopliteal, dan pembuluh darah perforantes yang menghubungkan sistem vena

dalam dan dangkal di tungkai. Meskipun penyakit ini sering dijumpai di klinik,

namun masih sedikit perhatian dari profesi kedokteran, dengan alasan bahwa kelainan

ini mempunyai perjalanan yang ringan dan mortalitasnya yang rendah.1,2,3

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Varises atau vein varicouse adalah pembuluh darah balik (vena) yang melebar

dan berkelok-kelok akibat gangguan (hambatan) aliran darah. Hal ini terjadi antaran

ketidakmampuan katub (klep) vena dalam mengatur aliran darah. Akibatnya aliran

darah yang seharusnya mengalir lancar ke arah jantung, mengalami hambatan dan

terjadi arus balik sebagian aliran darah dalam pembuluh darah vena, sehingga

pembuluh darah vena melebar dan berkelok-kelok. Dalam literature lainnya dikatakan

bahwa varises adalah vena yang membesar dengan diameter lebih dari 3 mm saat

berdiri dan terdistorsi. Sering terjadi pada pada vena superfisial ekstremitas bawah

tetapi dapat terjadi di tempat lain.4,5

2.2 Epidemiologi

Angka kejadian varises di Indonesia saat ini belum pasti namun prevalensi

varises pada populasi masyarakat Eropa diperkirakan sekitar 25% sampai 30% pada

wanita dan 10% sampai 20% pada pria. Studi epidemiologi lain menunjukkan

prevalensi berkisar antara 1% sampai 40% pada laki-laki, dan 1% sampai 73% pada

wanita Diperkirakan penyakit ini mempengaruhi sekitar 5-30% pasien usia dewasa

dengan perbandingan wanita dan pria 3:1. Insiden varises meningkat seiring

bertambahnya usia. Menurut penelitian yang dilakukan di Inggris, prevalensi pada

6
penderita usia 40 tahun adalah 22% sedangkan pada usia 50 tahun adalah 35% dan

pada usia 60 tahun adalah 41%.6,7

2.3 Etiologi

Etiologi varises diduga dipengaruhi oleh defek pada matriks seluler dan

ekstraseluler yang menyebabkan gangguan pada tonus vena. Berbagai perubahan

pada matriks yang dapat menyebabkan varises di antaranya adalah adanya deposit

kolagen dengan hiperplasia ireguler pada tunika intima, infiltrasi sel otot polos, dan

plak pada endotel.8

Adapun kondisi patologis intrinsik dan faktor lingkungan ekstrinsik

bergabung untuk menghasilkan spektrum penyakit varises yang luas. Sebagian besar

penyakit varises disebabkan oleh peningkatan tekanan vena superfisial, tetapi

beberapa orang memiliki kelemahan dinding vena bawaan dan dapat

mengembangkan varises meskipun tidak ada tekanan vena yang meningkat.2

Salah satu faktor risiko terjadinnya varises adalah berdiri lama. Hal ini

menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik sehingga terjadi distensi vena kronis

dan inkompetensi katup sekunder di mana saja dalam sistem vena superfisial. Jika

katup junctional proksimal menjadi tidak kompeten, tekanan tinggi berpindah dari

vena profunda ke vena superfisial dan kondisi ini secara progresif mejadi irreversible

dalam waktu yang singkat.2

Faktor lain yang menjadi penyebab varises adalah faktor hormonal. . Wanita

sangat rentan terhadap jenis masalah varises ini karena dinding dan katup vena secara

7
berkala menjadi lebih distensi di bawah pengaruh peningkatan siklik progesteron.

Wanita yang hamil juga dapat berisiko mengalami varises. Pada saat yang sama, vena

harus menampung volume darah yang bersirkulasi secara signifikan. Pada akhir

kehamilan, uterus yang membesar menekan vena kava inferior, menyebabkan

hipertensi vena lebih lanjut dan distensi sekunder vena tungkai. Selain itu, Selama

kehamilan, kenaikan berat badan yang disebabkan oleh peningkatan total jumlah

cairan tubuh dan tekanan intra abdomen dapat menjadi predisposisi seorang wanita

mengalami varises. Risiko ini juga dilaporkan meningkat seiring dengan jumlah

paritas.2,8

Usia juga berperan sebagai faktor risiko independen untuk varises. Dengan

bertambahnya usia, lamina elastis dari vena menjadi atrofi dan lapisan otot polos

mulai merosot, meninggalkan vena yang melemah sehingga lebih rentan terhadap

dilatasi. Risiko varises meningkat seiring dengan usia. Studi menunjukkan bahwa

prevalensi varises pada laki-laki berusia <30 tahun adalah 1% dan pada wanita adalah

10%. Sedangkan pada laki-laki berusia >70 tahun prevalensinya sebesar 57% dan

pada wanita 77%.2,8

2.4 Patofisiologi

Patofisiologi varises adalah stasis dan peningkatan tekanan di vena yang dapat

disebabkan oleh kelainan struktural ataupun biokima pada pembuluh darah. Aliran

darah pembuluh darah vena ditentukan oleh patensi katup vena, dinding pembuluh

8
darah vena, dan hemodinamik aliran darah vena. Pada keadaan normal, aliran darah

balik akan terkumpul di kapiler vena superfisial dan selanjutnya akan melewati

pembuluh darah vena besar di superfisial dan melewati katup vena dalam yang akan

mengalirkan darah ke jantung. Pembuluh darah superfisial ini terletak di supra fasia

sedangkan vena dalam terletak di dalam otot. Saphenofemoral junction adalah

pembuluh darah vena yang menghubungkan vena besar superfisial dan vena dalam

dan memiliki katup vena. Anatomi katup vena yang memiliki dua daun akan

mencegah aliran darah balik ke jantung. Kontraksi otot di dalam kompartemen

ekstremitas akan menekan pembuluh darah vena dalam dan menimbulkan efek

pompa darah kembali ke jantung dan melawan gaya gravitasi.  Struktur pembuluh

darah vena bagian dalam yang dibatasi oleh fasia akan memungkinkan pembuluh

darah tidak berubah jika terjadi peningkatan tekanan, namun pembuluh darah

superfisial akan lebih rentan mengalami perubahan karena tekanan, sehingga

menimbulkan pelebaran pembuluh darah vena. ada varises, aliran darah menjadi

terganggu karena adanya stasis dan hipertensi vena. Jika keadaan ini berlangsung

terus menerus akan mencetuskan adanya peradangan dan iskemia pada pembuluh

darah vena dan menimbulkan gangguan struktur dan fungsi vena. Gangguan struktur

vena yang dapat timbul adalah hiperpigmentasi dan fibrosis jaringan subkutan. Kedua

hal ini yang akan menimbulkan ulkus vena. Disfungsi dan inkompetensi katup vena

akan menimbulkan adanya aliran darah balik dan meningkatkan tekanan hidrostatik

vena sehingga menimbulkan pelebaran pembuluh darah vena.2,6,8

9
Gambar 1. Patofisiologi Varises

2.5 Klasifikasi

Penggunaan klasifikasi Clinical, Etiological, Anatomic, Pathophysiologic

(CEAP) direkomendasikan sebagai dasar untuk mendokumentasikan klasifikasi

klinis, etiologi, anatami, dan patofisiologi Chronic Venous Disorder. Varises dibagi

berdasarkan berat ringan manifestasi klinisnya, yaitu:7

1. Derajat 0 : Tidak terlihat atau teraba tanda gangguan vena

2. Derajat 1 : Telangiektasis, vena retikuler

3. Derajat 2 : Varises vena

4. Derajat 3 : Edem tanpa perubahan kulit

5. Derajat 4 : Perubahan kulit akibat gangguan vena (pigmentasi, dermatitis

statis, lipodermatosklerosis)

10
6. Derajat 5 : Perubahan kulit seperti diatas dengan ulkus yang sudah

sembuh

7. Derajat 6 : Perubahan kulit seperti diatas dengan ulkus aktif

Gambar 2. Klasifikasi varises berdasarkan manifestasi klinis

2.6 Diagnosis

Banyak pasien dengan varises tidak menunjukkan gejala tetapi menganggap

varises sebagai masalah kosmetik. Keluhan lain yang cukup sering adalah penampilan

kosmetik yang buruk, terutama pada perempuan. Perlu ditanyakan riwayat thrombosis

vena dalam sebelumnya, riwayat pekerjaan, keluhan yang sama dalam kelurga, dan

factor risiko lainnya yang dapat menjadi penyebab dari munculnya varises. Pasien

lain mengalami berbagai gejala, umumnya diperburuk dengan berdiri lama atau di

penghujung hari, yang berkurang dengan elevasi tungkaiu. Selain itu, pasien dengan

11
varises dapat mengeluhkan adanya rasa berat di kaki, kesemutan, kelelahan pada

kaki, bahkan kemerahan, kering, dan gatal apabila telah terjadi dermatitis atau eksim

statis vena.5,6

Pada pemeriksaan fisik, cukup sulit dilakukan untuk menilai sistem vena. Di

sebagian besar area tubuh, sistem vena profunda tidak dapat diinspeksi, diraba,

auskultasi, atau perkusi. Sehingga pemeriksaan system vena superfisial dapat

dilakukan dan berfungsi sebagai panduan untuk menegakkan diagnosis varises.2

1. Inspeksi

Inspeksi tungkai dilakukan di bawah penyinaran yang cukup pada posisi

eksorotasi tungkai dan pemeriksaan pada tungkai yang abduksi dari arah

belakang akan membantu visualisasi. erlu diperhatikan tanda kronisitas dan

kelainan kulit seperti talengiektasis, dermatitis statis, edem, perdarahan,

ulkus. Vena yang mengalami varises diperhatikan apakah vena superfisial

utama (vena saphena magna atau vena saphena parva) atau cabangnya.

Biasanya vena tersebut tampak jelas melebar dan berkelok-kelok, dan

berwarna kebiruan. Varises pada cabang vena superfisial biasnaya lebih

berkelok-kelok disbanding pada vena superfisial utama.7

12
Gambar 3. Varises vena yang tampak di area betis

Gambar 4. Vrises berat dan besar di sisi posterior dan medial tungkai kanan

13
Gambar 5. Varises pada vena superfisial dengan vena saphena mayor yang tidak kompeten di kedua esktremitas bawah

2. Palpasi

Seluruh permukaan kulit dipalpasi secara pelan dengan ujung jari

karena vena yang melbear dapat teraba bahkan ditempat yang tidak terlihat.

Palpasi membantu menemukan vena normal dan abnormal. Setelah palpasi

pelan dilakukan untuk mengidentifikasi kelainan vaskular superfisial, palpasi

yang lebih dalam membantu menjelaskan penyebab dan sumber masalah.2

Lengkungan dari long-saphenous-vein dapat teraba pada beberapa

pasien yang tidak memiliki varises, tetapi dapat sangat terlihat pada pasien

yang memiliki refluks pada saphenofemoral junction. Paling baik diraba

dengan 2 ujung jari dibawah ligamentum inguinal dan tepat di medial arteri

femoralis. Jika timbul refluks, maneuver batuk yang dipaksakan (forced

coughing maneuver) dapat menghasilkan sensasi yang teraba atau ekspansi

tiba-tiba pada vena tersebut.2

14
3. Perkusi

Perkusi dilakukan untuk mengetahui kedaan katup vena superficial. Dengan

pasien dalam posisi berdiri, segmen vena di perkusi pada satu posisi

sementara tangan pemeriksa merasakan gelombang nadi di posisi lain. Tes

perkusi / Schwartz dilakukan dengan meletakkan satu tangan di atas

saphenofemoral junction atau saphenopopliteal junction sementara tangan

lainnya digunakan untuk menekan bagian distal dari vena saphenous panjang

atau pendek. Kehadiran impuls menyiratkan ketidakcukupan katup di segmen

antara kedua tangan. Katup yang terbuka atau inkompeten pada pemeriksaan

perkusi akan dirasakan adanya gelombang tersebut.2,9

Gambar 6. Teknik perkusi menggunakan Schawartz test

4. Manuver Perthes

Manuver Perthes adalah sebuah teknik untuk membedakan antara aliran darah

15
retrogade dengan aliran darah antegrade. Tes ini digunakan untuk penentuan

berfungsinya sistem vena profunda. Penderita berdiri beberapa saat lalu

dipasang ikatan elastis di bawah lutut untuk membendung vena superfisial.

Kemudian penderita melakukan gerakan berjingkat beberapa kali agar otot-

otot betis berkontraksi sehingga darah dipompa dari sinusoid vena otot dan

vena sekitarnya. Bila vena yang terletak di distal dari ikatan kempis / kosong

berarti katup-katup vena perforantes dan vena profunda berfungsi baik dan

tidak ada sumbatan. Sebaliknya bila vena superfisial bertambah lebar berarti

katup-katup tersebut mengalami kegagalan atau terdapat sumbatan pada vena

profunda.7

Gambar 7. Manuver Perthes

5. Tes Trendelenburg

16
Tes ini digunakan untuk menentukan derajat insuffisiensi katup pada vena

komunikans. Mula-mula penderita berbaring dengan tungkai yang akan

diperiksa ditinggikan 30°-45° selama beberapa menit untuk mengosongkan

vena. Setelah itu dipasang ikatan yang terbuat dari bahan elastis di paha, tepat

di bawah percabangan safenofemoral untuk membendung vena superfisial

setinggi mungkin. Kemudian penderita berdiri dan pengisian vena

diperhatikan. Bila vena lambat sekali terisi ke proksimal, berarti katup

komunikans baik. Vena terisi darah dari peredaran darah kulit dan subkutis.

Bila vena cepat terisi misalnya dalam waktu 30 detik, berarti terdapat

insuffisiensi katup komunikans. Uji Trendelenburg positif berarti terdapat

pengisian vena safena yang patologis.7

Gambar 8. Tes Trendelenberg

17
Pemeriksaan fisik seperti yang dijelaskan sebelumnya sejauh ini tidak dapat

membedakan vena yang melebar dengan fungsi normal dari varises yang membawa

darah vena ke arah retrograde. Pemeriksaan Doppler merupakan tambahan yang dapat

langsung menunjukkan apakah aliran pada vena yang dicurigai antegrade, retrograde,

atau to-and-fro. Ultrasonografi Doppler dapat menunjukkan dengan tepat lokasi katup

yang mengalami abnormal.2,7

Selain itu, adapula pemeriksaan Duplex ultrasonography yang merupaakan

modalitas pencitraan standar untuk diagnosis sindrom insuffisiensi vena dan untuk

perencanaan pengobatan serta pemetaan sebelum operasi. Venous duplex

ultrasound adalah modalitas radiologi yang menggabungkan ultrasonografi dua

dimensi yang konvensional dan pemeriksaan doppler yang untuk evaluasi aliran

darah. Setelah gambaran anatomi vena ditemukan melalui pemeriksaan

ultrasonografi, dilakukan pemeriksaan aliran darah dengan menggunakan doppler.

Pemeriksaan venous duplex ultrasound dapat memperlihatkan gambaran vena dengan

jelas yaitu hambatan akibat adanya bekuan darah atau gangguan fungsi lainnya. Pada

awalnya pemeriksaan ini digunakan untuk pemeriksaan insufisiensi vena dalam dan

keterlibatan sapheno popliteal junction. Saat ini, pemeriksaan venous duplex

ultrasound rutin dilakukan pada kasus varises.2,6

Adapula pemeriksaan plebography yang merupakan pemeriksaan invasif yang

menggunakan medium kontras. Terdapat 4 teknik pemeriksaan yaitu : ascending,

descending, intra osseus, dan varicography. Pemeriksaan ini untuk mengetahui

18
adanya sumbatan dan menunjukkan vena yang melebar, berkelok-kelok serta katup

yang rusak. Plebography juga dapat menunjukkan kekambuhan varises paska operasi

yang sering disebabkan oleh kelainan vena perforantes di daerah kanalis Hunter di

paha.7

Gambar 9. Venous Dulplex Ultrasound (atas), Hasil scan menunjuukan adanya refluks pada Vena saphena mayor (bawah)

19
Gambar 10. Phlebography Varises pada paha kiri dari tampak depan

2.7 Tatalaksana

Penanganan varises dapat berupa konservatif (non bedah) dan/atau

pembedahan, tergantung keadaan penderita serta berat ringannya penyakit.

Penanganan ditujukan bukan hanya untuk menghilangkan keluhan, memperbaiki

fungsi vena, perbaikan kosmetik, dan mencegah komplikasi, tetapi juga untuk

memperbaiki kualitas hidup penderita.7

2.7.1 Terapi Konservatif

Gejala varises dapat dikontrol dengan mengangkat tungkai untuk mengurangi

edema, olahraga teratur seperti berjalan dapat memperkuat otot betis sehingga

memulihkan kembali fungsi pompa otot betis. Kemudian pemakaian stocking

20
kompresi yang merupakan andalan terapi konservatif, telah terbukti dapat

memperbaiki pembengkak- an, pertukaran nutrisi, dan meningkatkan mikrosirkulasi

pada tungkai yang terkena varises. Stocking pendukung atau stocking kompresi

adalah stocking tungkai atau celana ketat yang terbuat dari bahan elastis yang kuat.

Stocking ini akan menekan varises untuk menghambat perkembangannya dan

membantu aliran darah di tungkai, serta mengurangi rasa nyeri.6

Dasar penanganan terhadap insufisiensi vena adalah terapi kompresi. Cara ini

berfungsi sebagai katup vena yang membantu pompa otot betis untuk mencegah

kembalinya aliran darah vena, edem kaki, dan bocornya bahan fibrin sehingga

mencegah pembesaran vena lebih lanjut, tetapi tidak mengembalikan ukuran vena.

Terapi kompresi dapat berupa compression stockings, compression bandages, dan

pneumatic compression pumps.7

Gambar 11. Stocking compression

21
2.7.2 Skleroterapi

Merupakan tindakan penyuntikan larutan ke dalam pembuluh darah vena yang

melebar secara abnormal atau yang mengganggu secara kosmetik. Terapi ini juga

akan menghilangkan keluhan nyeri dan rasa tidak nyaman serta mencegah komplikasi

seperti phlebitis yang kambuhan dan ulserasi. Penyuntikan larutan (sklerosan) ke

dalam vena menyebabkan iritasi tunika intima dan merusak lapisan endotel, sehingga

menyebabkan trombosis, endosklerosis, dan fibrosis pembuluh darah yang

selanjutnya diserap oleh jaringan sekitarnya tanpa terjadi rekanalisasi. Skleroterapi

diindikasikan untuk berbagai kondisi termasuk spider veins (< 1 mm), varises dengan

diameter 1-4 mm, perdarahan varises, dan hemangioma kavernosus kecil (malformasi

vaskuler).6,7

22
Gambar 10. Tindakan Skleroterapi

2.7.3 Terapi Ablasi

Terapi ablasi adalah penggunaan energi termal dalam bentuk radiofrequency

atau laser untuk mengobliterasi vena.6

 Radiofrequency Ablation

Teknik ini seringkali digunakan pada refluks vena safena sebagai alternatif

stripping. Panas yang terbentuk menyebabkan injuri termal lokal pada dinding

vena yang menyebabkan trombosis dan akhirnya fibrosis. Dengan endovenous

radiofrequency ablation (ERA) vena safena besar, 85% pasien mengalami

obliterasi lengkap setelah 2 tahun dengan rekanalisasi sekitar 11%, namun

90% pasien bebas dari refluks vena safena, dan 95% melaporkan perbaikan

gejala.

23
 Endovenous Laser Therapy

Endovenous laser therapy (ELT) adalah terapi untuk varises dimana serat

optik dimasukkan ke dalam pembuluh darah yang akan diobati dan sinar laser

(biasanya di bagian inframerah dari spektrum) diarahkan ke bagian dalam

pembuluh darah. Terapi ini lebih tidak menyakitkan dibanding vein ligation

and stripping, menggunakan anestesi lokal serta memiliki waktu pemulihan

yang lebih pendek. Selain itu, laser adalah pilihan yang baik untuk mengobati

pembuluh yang resisten terhadap skleroterapi.7

Gambar 12.. EVLT

2.7.4 Teknik Pembedahan

Beberapa teknik bedah meliputi stripping yang lebih invasif hingga prosedur

yang kurang invasif seperti cryosurgery.6

24
 Stripping

Stripping adalah pengambilan seluruh atau sebagian batang utama vena safena

(besar/ panjang atau lebih kecil/pendek). Komplikasi meliputi trombosis vena

(5,3%), emboli paru (0,06 %), dan komplikasi luka termasuk infeksi

(2,2%).19 Ada bukti bahwa vena safena besar tumbuh kembali setelah

stripping. Untuk operasi, dilaporkan tingkat kekambuhan setelah 10 tahun

berkisar 5-60%.20 Selain itu, karena stripping menghilangkan batang utama

safena, tidak tersedia lagi vena untuk cangkokan bypass vena di masa depan

(penyakit arteri koroner atau tungkai.6

Gambar 13. Vein Strippimg

 Ligasi vena dan phlebectomy

25
Kumpulan varises vena besar yang berhubungan dengan vena safena

inkompeten dapat diavulsi dengan teknik stab phlebectomy. Tindakan ini

dilakukan dengan cara mengangkat varises melalui luka kecil yang dibuat

menggunakan Beaver blade No.11. Tindakan ini dilaporkan menimbulkan

perbaikan hemodinamika dan mempercepat perbaikan gejala varises vena dan

penyembuhan ulkus.6,10

 Cryosurgery

Dalam teknik ini, sebuah cryoprobe diturunkan melalui vena safena panjang

setelah ligasi saphenofemoral. Kemudian probe didinginkan dengan NO2 atau

CO2 hingga suhu -85oC. Vena tersebut membeku ke arah probe dan dapat

ditarik secara retrograde setelah 5 detik pembekuan. Ini adalah varian

stripping. Satu-satunya keunggulan teknik ini adalah untuk menghindari

sayatan distal dalam pelepasan stripper.6

2.9 Komplikasi

Beberapa komplikasi yang dapat timbul pada varises antara lain:11

 Insufisiensi vena kronik yang timbul akibat dilatasi vena yang menimbulkan aliran

refluks

 Ulkus vena yang disebabkan peningkatan dilatasi dan tekanan intravena  yang

menimbulkan hipertensi vena dan meningkatkan risiko terjadinya ulkus.

26
 Lipodermatosclerosis dan deposisi hemosiderin. Gejala ini timbul akibat fibrosis dan

perubahan pada kapiler yang terjadi akibat sistem mikrosirkulasi. 

Gambar 14. Ulkus vena akibat proses insufisiensi vena

2.10 Prognosis

Pada umumnya prognosis varises tergantung pada penatalaksanaan kasus ini,

namun pada umumnya hampir > 95% kasus varises dapat membaik. Sebenarnya tidak

ada pengobatan yang berhasil menyembuhkan varises, bahkan setelah tindakan

pembedahan, kekambuhan masih sering terjadi. Pasien dengan varises yang telah

berkembang menjadi ulkus vena memilki morbiditas tinggi dan kualitas hidup yang

buruk. Tidak seperti system vena dalam (profunda), bekuan di vena superfisial arang

mengalami emboli sehinggi risiko emboli paru jarang terjadi. Varises yang tidak

diobati mencerminkan estetika yang buruk dan inilah alasan utama mengapa

kebanyakan orang mencari pengobatan.11,12

27
BAB III

KESIMPULAN

Varises banyak dijumpai di semua kalangan, pada tahapan tertentu dapat

mengganggu pasien. Gejala yang timbul mulai dengan hanya keluhan kosmetik,

hingga mengeluhkan rasa berat dan kram pada kaki, bahkan bila menahun bisa timbul

ulkus yang sulit sembuh. Varises biasanya disebabkan karena posisi berdiri yang

terlalu lama sehingga menyebabkan aliran darah statis dan menimbulkan dilatasi vena

yang berkelok-kelok. Adapun penyebab lainnya seperti faktor hormonal, kehamilan

dan usia juga berpengaruh. Stocking kompresi merupakan terapi konservatif andalan

untuk mengatasi varises. Pada pasien yang refrakter, dapat dilakukan terapi ablasi

hingga teknk bedah dapat dipertimbangkan.

28
DAFTAR PUSTAKA

1. Agustina, PS, dkk. 2014. Hubungan Masa Kerja Dengan Terjadinya Varises
Tungkai Bawah pada Pengemudi Bus di Terminal Tirtonadi. Diakses melalui
[Link] pada tanggal 18 Januari 2021.

2. Weiss, Robert. 2020. Varicose Veins and Spider Veins. Diakses melalui
[Link] pada tanggal 18
Januari 2021.

3. Pratiknyo, KA, dkk. 2015. Faktor Resiko Terjadinya Varises Vena Tungkai
Bawah (VVTB) pada Pramuniaga di Kota Semarang. Diakses melalui
[Link] pada tanggal 18 Januari 2021.

4. Juniana, M. 2011. Gangguan Pembuluh Darah Vena pada Pekerja Quality

Control di Kebun Klambir V PTP Nusantara II Tahun 2011. Diakses melalui

[Link]

sequence=4 pada tanggal 18 Januari 2021.

5. ClinicalKey. [Link] Veins. Elsevier. Diakses melalui

[Link]

b079-4c0e-bd54-9d248c4b082d pada tanggal 18 Januari 2021.

6. Kartika, Ronald Winardi. 2015. Gangguan Vena Menahun. Jurnal Cermin

Dunia Kedokteran. 42(1):36-41.

29
7. Adriana, Carina. 2012. Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Terjadinya

Varises Vena Tungkai Bawah pada Wanita Usia Produktif. Diakses melalui

[Link] pada tanggal 19 Januari 2021.

8. Lim CS, Davies AH. 2009. Pathogenesis of primary varicose veins. British Journal

of Surgery, 96(11): 1231–1242. doi:10.1002/bjs.6798

9. Akbar, Faizal. 2018. Analisis Faktor Risiko Varises Tungkai Bawah Pada

Buruh Perempuan Pemetik Tembakau Kecamatan Ajung Kabupaten Jember.

Fakultas Kedokteran Universitas Jember.

10. Mallick Rajiv, Raju Aditya, Campbell Chelsey, Carlton Rashad, Wright David. 2016.

"Treatment Patterns and Outcomes in Patients with Varicose Veins.". American

Health & Drug Benefis: 455-465.

11. Leon, Luis R. "Varicose veins." BMJ Best Practice (2017): 1-30

12. Antani, Meghal. 2020. Varicose Veins. Diakses melalui

[Link] pada tanggal 20 Januari 2021.

30
31

Common questions

Didukung oleh AI

Komplikasi jangka panjang dari varises termasuk insufisiensi vena kronik, ulkus vena, dan lipodermatosclerosis. Insufisiensi vena meningkatkan risiko ulkus, yang dapat menyebabkan morbiditas tinggi dan menurunkan kualitas hidup pasien. Selain itu, deposisi hemosiderin dan fibrosis juga memperburuk kondisi estetika dan klinis, membuat banyak pasien mencari pengobatan .

Radiofrequency ablation menggunakan panas untuk menghasilkan injuri termal lokal pada dinding vena, menyebabkan trombosis dan fibrosis. Sebaliknya, endovenous laser therapy menggunakan sinar laser untuk mengarah ke bagian dalam pembuluh darah. ELT cenderung tidak menyakitkan dan menggunakan anestesi lokal. Sementara radiofrequency ablation melaporkan efektivitas tinggi dalam obliterasi vena setelah jangka waktu tertentu .

Varises yang tidak ditangani menyebabkan insufisiensi vena kronis, mengakibatkan refluks darah dan hipertensi vena. Ini dapat menyebabkan ulkus vena yang sulit sembuh, elevasi dan ketidaknyamanan kronis pada tungkai, serta gangguan kosmetik signifikan. Selain itu, bisa mengganggu kualitas hidup dan aktivitas harian pasien .

Wanita lebih rentan terhadap varises karena dinding dan katup vena menjadi lebih distensi di bawah pengaruh siklus hormon progesteron yang meningkat. Kehamilan lebih lanjut mempengaruhi karena peningkatan volume darah, tekanan intra-abdomen, dan uterus membesar, yang semuanya berkontribusi pada peningkatan risiko varises. Statistik menunjukkan prevalensi lebih tinggi dibandingkan dengan pria .

Klasifikasi CEAP berfungsi untuk mendokumentasikan dan mempermudah penilaian varises berdasarkan manifestasi klinis, etiologi, anatomi, dan patofisiologi. Beberapa derajatnya antara lain: derajat 0 (tidak ada tanda gangguan), derajat 1 (telangiektasis), derajat 2 (varises vena), derajat 3 (edema tanpa perubahan kulit), hingga derajat 6 (perubahan kulit dengan ulkus aktif).

Dalam patofisiologi varises, aliran darah vena terganggu akibat stasis dan hipertensi vena, yang memicu peradangan dan iskemia. Hal ini menyebabkan gangguan struktur dan fungsi vena, termasuk hiperpigmentasi dan fibrosis jaringan subkutan. Disfungsi katup vena juga menimbulkan aliran darah balik dan meningkatkan tekanan hidrostatik vena, menyebabkan dilatasi vena .

Faktor risiko utama yang berkontribusi terhadap perkembangan varises meliputi berdiri dalam waktu lama, faktor hormonal, kehamilan, dan usia. Berdiri lama meningkatkan tekanan hidrostatik, menyebabkan distensi vena dan inkompetensi katup (klep) sekunder. Pada wanita, peningkatan progesteron membuat dinding dan katup vena lebih distensi. Seiring bertambahnya usia, prevalensi varises meningkat, karena lamina elastis dari vena menjadi atrofi dan otot polos merosot .

Tatalaksana varises non-bedah meliputi elevasi tungkai untuk mengurangi edema dan penggunaan stocking kompresi untuk meningkatkan mikrosirkulasi dan menghambat pembesaran varises. Olahraga teratur seperti berjalan membantu memperkuat fungsi pompa otot betis, sehingga membantu mengurangi gejala yang dialami pasien .

Teknik skleroterapi melibatkan penyuntikan larutan ke dalam vena yang mengalami dilatasi. Proses ini mengiritasi tunika intima dan merusak lapisan endotel, menyebabkan thrombosis dan fibrosis pembuluh darah. Skleroterapi diindikasikan untuk kondisi seperti spider veins, varises dengan diameter 1-4 mm, perdarahan varises, dan hemangioma kavernosus kecil .

Tekanan hidrostatik yang meningkat karena berdiri lama berkontribusi pada distensi vena. Aliran darah menjadi statis dan menyebabkan peningkatan tekanan dalam vena, mengakibatkan kelemahan dinding vena dan berkembangnya varises. Posisi tegak manusia dan gravitasi berperan dalam memfasilitasi sindrom insufisiensi vena .

Anda mungkin juga menyukai