MAKALAH PERAWATAN (CURING) BETON
Penyusun :
KARINA LARASATI GUNAWAN
NRP. 1020040003
PL 3A
PROGRAM STUDI D4 TEKNIK PENGOLAHAN LIMBAH
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA
2021/2022
BAB I
DASAR TEORI
Beton adalah material komposit yang tersusun dari tiga penyusun utama
yaitu: semen, agregat, dan air, dimana beton mempunyai kuat tekan yang besar,
sementara kuat tariknya yang kecil. Tetapi sebelum material beton mengeras,
campuran beton merupakan campuran yang plastis, sehingga keadaan ini sering
kita sebut kelecakan beton. Sehingga, kekuatan tekan merupakan salah satu
kinerja utama beton. Kekuatan tekan (f’c) adalah kemampuan beton untuk
menerima gaya tekan per-satuan luas. Kuat tekan beton adalah salah satu
parameter yang digunakan untuk mengontrol mutu dari sebuah beton.
Beton dibentuk dari campuran agregat halus, agregat kasar, semen, dan air
dengan perbandingan tertentu. Beton merupakan salah satu bahan konstruksi yang
banyak digunakan pada pekerjaan struktur di Indonesia. Mulai dari rumah, tiang
listrik, tiang pancang, pondasi, bendungan, jembatan, gedung bertingkat, dan
sebagainya. Hal tersebut menunjukan bahwa beton merupakan material bangunan
yang paling banyak digunakan di era modern ini.
Seiring dengan laju pertumbuhan penduduk dan kemajuan teknologi,
minat masyarakat dalam penggunaan beton sebagai struktur utama suatu
bangunan mengalami perkembangan yang pesat. Hal ini menunjukan bahwa
beton telah menjadi komponen yang penting dalam dunia pembangunan. Dalam
menggunakan beton sebagai bahan utama suatu konstruksi, pelaksanaan
pekerjaannya harus mempertahankan kualitas sesuai perencanaan. Maka perlu
adanya pengendalian mutu beton. Pengendalian kekuatan beton diperlukan
sebagai indikator yang memperlihatkan apakah mutunya telah terpenuhi atau
tidak. Terpenuhi atau tidaknya mutu beton akan mempengaruhi kualitas dari
bangunan yang dihasilkan.
Curing atau perawatan beton dilakukan saat beton sudah mulai mengeras
yang bertujuan untuk menjaga agar beton tidak cepat kehilangan air dan sebagai
tindakan menjaga kelembahan/suhu beton sehingga beton dapat mencapai mutu
beton yang diinginkan. Pelaksanaan perawatan beton dilakukan setelah beton
mengalami atau memasuki fase hardening (untuk permukaan beton yang terbuka)
atau setelah bekisting beton dilakukan bongkaran dengan durasi tertentu yang
dimaksudkan untuk memastikan terjaganya kondisi yang diperlukan untuk proses
reaksi senyawa kimia yang terkandung dalam campuran beton. Proses curing pada
beton memainkan peran penting pada pengembangan kekuatan dan daya tahan
beton. Proses curing ini meliputi pemeliharaan kelembaban dan kondisi suhu, baik
dalam beton maupun di permukaan beton dalam periode waktu tertentu.
Tujuan dilakukannya curing (perawatan) beton yaitu :
1. Menjaga beton dari kehilangan air semen yang banyak pada saat – saat
setting time concrete
2. Menjaga perbedaan suhu beton dengan lingkungan yang terlalu besar
3. Stabilitas dari demikian struktur
4. Mendapatkan kekuatan beton yang tinggi
5. Menjaga beton dari kehilangan air akibat penguapan pada hari – hari
pertama
6. Menjaga keretakan
Terdapat berbagai macam metode curing beton yang umum dilakukan baik
dengan pembasahan sederhana, penguapan, dan menggunakan membrane.
Pemilihan cara yang tepat dalam melakukan pemeliharaan beton merupakan hal
yang harus diperhatikan karena sangat berpengaruh terhadap biaya yang akan
dikeluarkan.
1. Perawatan dengan pembasahan (water curing)
Perawatan beton dengan metode water curing adalah metode
perawatan terbaik karena memenuhi semua persyaratan perawatan seperti :
hidrasi semen, penghapusan susut, dan penyerapan panas hidrasi. Water
curing umumnya dilakukan dengan cara yang berbeda, seperti :
penyemprotan kolam, perendaman atau pengasapan dan penutup basah.
Water curing diadopsi berdasarkan persyarayan beton, yaitu : item
beton pracetak biasanya direndam dalam tangka perawatan untuk jangka
waktu tertentu. Kolam diadopsi untuk pelat perkerasan, pelat atap, dan lain
– lain. Penyemprotan atau pengasapan dilakukan pada vertikal dinding
penahan atau permukaan yang diplester atau kolom beton.
Dalam beberapa kasus penutup basah seperti tas goni basah, kain
goni anyaman, jerami dipasangkan ke permukaan vertikal untuk menjaga
beton agar tetap basah. Selain dari keempat hal itu untuk permukaan
vertikal, permukaan horizontal dapat menggunakan serbuk gergaji, tanah
atau pasir yang digunakan sebagai penutup basah dengan tujuan untuk
menjaga beton dalam kondisi basah, untuk waktu yang lebih lama
sehingga beton tidak kering, dan untuk mencegah hidrasi.
Dalam metode water curing, beton diselimuti dengan air untuk
mengambat penguapan air pada adukan beton cor. Metode ini dapat
dilakukan dengan beberapa cara diantaranya sebagai berikut :
a. Menaruh beton segar dalam ruangan yang lembab
b. Menaruh beton segar dalam air
c. Menyelimuti permukaan beton dengan air
d.
Menyelimuti permukaan beton dengan karung basah
e. Menyiram permukaan beton secara continue
Pembasahan air (water curing) pada beton pasca bakar dapat
mengembalikan kekuatan dengan membangun β CSH dalam kristalnya.
(Partowiyatmo & Sudarmadi, 2004; Kusno & Mediyanto, 2008).
Perawatan dengan pembasahan air selama 28 hari pada beton ringan
metakolin berserat aluminium dapat meningkatkan kuat tekan rata – rata,
modulus elastisitas rata – rata, kuat belah rata – rata dan modulus runtuh
rata – rata.
2. Perawatan dengan metode membrane (membrane curing)
Membran yang digunakan untuk perawatan beton ini merupakan
penghalang fisik untuk menghalangi penguapan air. Bahan yang
digunakan harus kering dalam waktu 4 jam (sesuai final setting time), dan
membentuk selembar film yang continue, melekat dan tidak beracun, tidak
selip, bebas dari
lubang-lubang halus dan
tidak
membahayakan beton. Lembaran plastik atau lembaran lain yang kedap air
dapat digunakan dengan sangat efesien. Perawatan dengan menggunakan
membran sangat berguna untuk perawatan pada lapisan perkerasan beton
(rigid pavement). Cara ini harus dilaksanakan sesegera mungkin setelah
waktu pengikatan beton. Perawatan dengan cara ini dapat juga dilakukan
setelah atau sebelum perawatan dengan pembahasan.
Di beberapa tempat dimana terdapat kekurangan air yang akut,
perawatan air mungkin tidak dapat dilakukan karena alasan ekonomi.
Perawatan beton dilakukan karena air yang ditambahkan ke dalam beton
akan menguap setelah ditempatkan. Jika perawatan air tidak
memungkinkan penutup dengan membran akan secara efektif menutup
penguapan air dari beton. Namun sejumlah kecil air disemprotkan sebelum
ditutup dengan membran. Ada sejumlah besar senyawa penyegel yang
dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir.
Beberapa bahan umum yang digunakan adalah senyawa bitumen,
polietilen atau poliester film, kertas tahan air, dan karet kompon. Alasan
pengawetan menggunakan metode membran adalah karena mengalami
peningkatan volume konstruksi, kekurangan air, kebutuhan untuk
konservasi air, peningkatan biaya tenaga kerja, dan ketersediaan senyawa
pengawet yang efektif. Perawatan membran umumnya lebih disukai untuk
perawatan saluran, melapisi atap miring dan permukaan bertekstur.
Pelapisan dengan membran diperlukan agar air pada beton tidak
langsung menguap dengan cepat.
3. Perawatan dengan penguapan (application of heat curing)
Perkembangan beton tidak hanya tergantung pada waktu tetapi
juga pada suhu lingkungan, sehingga ketika beton dikenai oleh suhu yang
lebih tinggi, maka akan mempercepat proses hidrasi, sehingga lebih cepat
mempertahankan kekuatan. Karena keberadaan uap air sangat penting,
beton tidak dapat dikenai panas kering untuk mempercepat proses hidrasi.
Oleh karena itu menundukkan beton ke suhu yang lebih tinggi dan
sementara itu mempertahankan kelembaban yang diperlukan dapat dicapai
dengan proses apapun dari perawatan uap, perawatan inframerah atau
perawatan listrik.
Metode perawatan seperti ini membuat beton mencapai kekuatan
lebih cepat sehingga memiliki banyak keuntungan seperti waktu
pengerasan yang dipercepat, waktu yang dibutuhkan untuk perawatan
lebih sedikit. Tetapi metode ini paling umum diadopsi dalam perawatan
elemen prefabrikasi, metode perawatan yang berbeda dengan penerapan
panas adalah pengawetan uap pada pengeringan uap tekanan biasa pada
curing tekanan tinggi dengan radiasi inframerah dan curing listrik.
4. Perawatan dengan listrik (electrical curing)
Perawatan beton metode listik secara luas diadopsi dalam
pertambahan iklim yang sangat dingin. Dalam metode ini beton dirawat
dengan melewatkan arus bolak balik melalui beton antara dua elektroda
dibentuk pelat yang ditempatkan di seluruh area sisi yang berlawanan.
Perbedaan potensi antara pelat dipertahankan yaitu 30 Volt atau 60 Volt.
Perawatan yang cukup harus dilakukan untuk mencegah keluarnya
air sepenuhnya dari beton. Dengan metode perawatan listrik beton dapat
mencapai normal 28 hari kekuatan dalan jangka waktu tiga hari. Namun
metode ini jarang digunakan karena mahal.
5. Perawatan dengan radiasi infrared (infrared radiation curing)
Perawatan beton dengan radiasi infra merah umumnya dilakukan
dengan penerapan infra merah pada beton. Dalam metode ini kekuatan
beton dapat diperoleh lebih cepat daripada metode perawatan uap. Suhu
tinggi awal yang diberikan pada beton tidak menyebabkan penurunan
kekuatan ultimit. Metode perawatan ini umumnya diadopsi untuk
perawatan produk beton berongga. Pemanas ditempatkan di ruang
berongga yang disajikan dalam produk. Suhu oprasi normal metode ini
adalah sekitar 90°C.
6. Perawatan dengan penguapan (steam curing)
Sebelum perawatan dengan proses steam dilaksanakan, beton harus
dipertahankan terlebih dahulu berada pada suhu 10℃ - 30℃ selama
beberapa jam. Perawatan dengan penguapan berguna pada daerah yang
mempunyai musim dingin.
Metode steam dilakukan dengan 2 cara, yaitu :
1. Perawatan dengan tekanan yang rendah berlangsung selama 10-12
jam. Dengan tekanan berkisar antara 40 ℃ - 50℃
2. Perawatan dengan tekanan tinggi berlangsung selama 10-16 jam.
Dengan tekanan pada suhu 65℃ - 95℃ , dengan suhu akhir 40℃ - 55
℃.
BAB II
METODE PRAKTIKUM
Pada penelitian ini dilakukan 2 macam proses curing, yakni pada tahapan
pertama curing dengan air biasa/suhu normal ruangan dengan suhu (15℃ – 20℃
), yang kemudian pada masing masing umur 3, 7, 14, 21, 28 hari perendaman
dilakukan kembali perendaman dengan curing air mendidih 1 hari sebelum
pengujian, dengan durasi waktu 1, 2 , dan 3 jam perendaman dengan suhu (90 ℃ –
100℃ ).
Bahan-bahan penyusun campuran beton yang digunakan pada penelitian
ini adalah sebagai berikut:
1. Semen portlandtipe I dan tipe II
2. Agregat halus pasir kuarsa #50; pasir kuarsa #200
3. Aditif mineral silicafume
4. Adatif kimia tipe F (high range water reducer) jenis super plasticizer
5. Serat kawat bendrat diameter 0,8 mm dengan panjang 1-2 cm
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil dan Pembahasan
a. Pengujian kuat tekan kubus 5 x 5 x 5 cm dengan curing air suhu normal
(15℃ - 20℃ ).
Pengujian kuat tekan dilakukan untuk mengetahui mutu beton yang
digunakan dalam penelitian. Kubus beton diuji tekan pada umur 7, 14, 21,
dan 28 hari. Hasil pengujian dapat dilihat pada tabel berikut :
b. Pengujian kuat tekan kubus 5 x 5 x 5 cm dengan curing air suhu mendidih
(95℃ - 100℃ ).
Pengujian kuat tekan kubus 5 x 5 x 5 cm pada curing air mendidih
dilakukan pada umur 3, 14, 21 dan 28 hari. Dengan lama perendaman
selama 1 jam, 2 jam dan 3 jam, Adapun pelaksanaan perendaman 1 hari
sebelum pengujian uji tekan. Hasil pengujian dapat dilihat pada tabel
dibawah ini :
pengaruh lama perendaman dalam air mendidih terhadap perkembangan
kuat tekan benda uji, dengan menaikkan suhu awal proses pengikatan
beton berdampak pada prosentase pencapaian kuat tekan pada umur-umur
awal terhadap umur beton 28 hari.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengujian dan Analisa data yang telah dilakukan, maka
dapat diambil kesimpulan yaitu : perendaman beton dengan air mampu
meningkatkan kuat tekan beton pada semen tipe II dan pada semen tipe I
mengalami penurunan kuat tekan.
REFERENSI
Badan Standarisasi Nasional, 2002. SNI 03-2847-2002 “Curing Beton”
Mooy, Merzy & dkk, Jurnal, 2012. Pengaruh Suhu Curing Beton TerhadapKuat
Tekan Beton, Vol. VI, No.1.
Ramadhan, M., dkk. Pengaruh proses curing dengan cara perendaman dalam air
mendidih terhadap beton reaktif semen. : 1- 11. Universitas Pakuan.
Steam Curing of Concrete at Ordinary Pressure || Manufacture of Concrete #33. 2
Februari 2018. (Diakses 10 Desember 2021). Diakses dari
[Link]
Eelectrical Curing of Concrete || Manufacture of Concrete #36. 8 Februari 2018.
(Diakses 10 Desember 2021). Diakses dari [Link]
Curing of Concrete by Infrared Radiation || Manufacture of Concrete #35. 6
Februari 2018. (Diakses 10 Desember 2021). Diakses dari
[Link]
Curing of Concrete by Application of Heat || Manufacture of Concrete #32. 28
Februari 2018. (Diakses 10 Desember 2021). Diakses dari
[Link]
Perawatan Air dan Beton || Jenis || Pembuatan Beton #30. 26 Januari 2018.
(Diakses 10 Desember 2021). Diakses dari [Link]
What is Membrane Curing of Concrete || Manufacture of Concrete #31. 28
Februari 2018. (Diakses 10 Desember 2021). Diakses dari
[Link]
Pentingnya Curing Untuk Menjaga Kualitas Beton. (Diakses pada 10 Desember
2021). Diakses dari [Link]
perawatan-beton-curing/
4 Metode Curing Beton (Perawatan Beton) Untuk Hasil Yang maksimal. 18
Januari 2018. (Diakses pada 10 Desember 2021). Diakses dari
[Link]
Mengenal Tujuan dan Metode Perawatan (Curing) Beton. 12 Juli 2018. (Diakses
10 Desember 2021). Diakses dari
[Link]
[Link]
Cara dan Metode Curing Beton Terlengkap. (Diakses pada 10 Desember 2021).
Diakses dari [Link]