Kebijakan Perkreditan Bank
Fithrony Kurniawan, ST, MM
Dasar Hukum KPB
Apakah Kebijakan Perkreditan
Bank ??
Dasar Hukum KPB
• Menurut POJK Nomor 42/POJK.03/2017
Suatu kebijakan perkreditan atau pembiayaan
Bank secara tertulis sebagai acuan standar
dalam pelaksanaan pemberian Kredit atau
Pembiayaan Bank sehingga diharapkan dapat
membantu Bank dalam menghadapi berbagai
risiko yang ada dan terhindar dari kerugian
yang mungkin timbul.
KEBIJAKAN PERKREDITAN BANK
BAB I KEBIJAKAN UMUM
BAB II PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PERKREDITAN
BAB III ORGANISASI DAN MANAJEMEN PERKREDITAN
BAB IV KEBIJAKAN PUTUSAN KREDIT
BAB V DOKUMENTASI DAN ADMINISTRASI KREDIT
BAB VI PEMBINAAN DAN PENGAWASAN KREDIT
BAB VII PENGELOLAAN KREDIT BERMASALAH
BAB I KEBIJAKAN UMUM
LATAR BELAKANG KPB
KEBIJAKAN PERKREDITAN BANK
KPB BANK
Pemberian kredit di Bank dapat
dilaksanakan secara konsisten serta
berdasarkan asas-asas perkreditan
• BISNIS UTAMA yang sehat
• RISIKO
kebijakan perkreditan secara
tertulis, yang dibakukan dalam
dokumen
BAB I KEBIJAKAN UMUM
PERANAN
Kebijakan Perkreditan
Bank
• Panduan dalam melaksanakan perkreditan
yang sehat dan menguntungkan bagi Bank
• Panduan dalam menerapkan asas-asas
perkreditan yang sehat secara konsisten
dan berkesinambungan
• Menetapkan dan memperjelas wewenang
dan tanggung jawab
• Alat pengawasan portofolio perkreditan
• Acuan standar dalam
pengawasan/pengendalian intern
BAB I KEBIJAKAN UMUM
SASARAN
Kebijakan Perkreditan
Bank
• Tercapainya Visi & Misi Bank
• Mengoptimalkan Pendapatan &
Pengendalian Risiko Bank
• Merumuskan Kebijakan Perkreditan
Bank
• Meningkatkan Disiplin Pejabat
Perkreditan Bank
• Membentuk Disiplin Pelayanan Kredit
yang Tertib & Seragam
BAB I KEBIJAKAN UMUM
CAKUPAN
Kebijakan Perkreditan
Bank
Kebijakan
Perkreditan
Bank
BAB II PRINSIP KEHATI-HATIAN
DALAM PERKREDITAN
BAB II PRINSIP KEHATI-HATIAN
DALAM PERKREDITAN
2. Pokok-Pokok Pengaturan Mengenai
Pemberian Kredit Kepada Pihak-Pihak Yang
Terkait dengan Bank, Kelompok Peminjam
(Grup)) atau Debitur-Debitur/ Pihak-Pihak Yang
Tidak Terkait dengan Bank
3. Sektor Ekonomi, Segmen Pasar, Kegiatan
Usaha Dan Debitur Yang Mengandung Risiko
Tinggi Bagi Bank
BAB II PRINSIP KEHATI-HATIAN
DALAM PERKREDITAN
1 POKOK POKOK PENGATURAN MENGENAI
TATACARA PEMBERIAN KREDIT
BAB II PRINSIP KEHATI-HATIAN
DALAM PERKREDITAN
BAB II PRINSIP KEHATI-HATIAN
DALAM PERKREDITAN
BAB II PRINSIP KEHATI-HATIAN
DALAM PERKREDITAN
BAB II PRINSIP KEHATI-HATIAN
DALAM PERKREDITAN
2 Pokok-pokok pengaturan mengenai pemberian kredit kepada
pihak-pihak yang terkait dengan Bank, kelompok peminjam
(grup) atau debitur-debitur/pihak-pihak yang tidak terkait
dengan Bank
PIHAK TERKAIT Maksimal 10% dari
DENGAN Bank Modal Bank
PIHAK TIDAK TERKAIT
DENGAN Bank
Maksimal 20% dari Modal Bank untuk debitur individual
Maksimal 25% dari Modal Bank untuk debitur kelompok
Maksimal 30 % dari Modal Bank untuk debitur yang melakukan
pembiayaan menyangkut hajat hidup orang banyak yang
dikelola oleh BUMN
BAB II PRINSIP KEHATI-HATIAN
DALAM PERKREDITAN
3 Sektor Ekonomi, Segmen Pasar, Kegiatan Usaha dan debitur
yang mengandung risiko tinggi bagi Bank
Divisi Administrasi menyiapkan dan
menyusun Pasar Sasaran (PS) dan
Kriteria Risiko yang dapat
Diterima (KRD) masing-masing
bidang bisnis setiap tahun.
harus mendapat persetujuan Direktur
Bisnis sebelum disahkan Direktur
Pengendalian Risiko Kredit dan Aset
BAB II PRINSIP KEHATI-HATIAN
DALAM PERKREDITAN
Pasar Sasaran (PS)
sekelompok nasabah dalam suatu industri, segmen ekonomi,
pasar atau suatu daerah geografis, yang memiliki ciri-ciri
tertentu yang diinginkan dan dipandang
perlu untuk pengalokasian usaha
dan biaya pemasaran dalam
mencari peluang-peluang
bisnis baru atau
perluasan bisnis.
BAB II PRINSIP KEHATI-HATIAN
DALAM PERKREDITAN
Kriteria Risiko yang Dapat Diterima (KRD)
kriteria-kriteria risiko termasuk
kriteria nasabah atau calon nasabah
yang dlpllih dan dapat diterima oleh
unit kerja bisnis untuk setiap pasar
sasaran yang telah ditetapkan.
BAB II PRINSIP KEHATI-HATIAN
DALAM PERKREDITAN
4
a. Produksi, pengiriman dan perdagangan
senjata, kecuali untuk kepentingan
Pemerintah RI.
b. Pornografi atau bisnis-bisnis yang
sejenis.
c. Kegiatan partai-partai dan organisasi-
organisasi politik termasuk usahanya.
d. Perusahaan-perusahaan atau proyek-
proyek yang membahayakan lingkungan.
Kategori perusahaan atau proyek yang
membahayakan lingkungan sesuai
ketentuan yang berlaku.
e. Taruhan, perjudian, serta pencucian uang
BAB II PRINSIP KEHATI-HATIAN
DALAM PERKREDITAN
4
f. Pembiayaan, pengadaan, dan atau
pengolahan tanah, kecuali ditentukan
lain oleh Bank Indonesia, dan atau
Pemerintah.
g. Pembiayaanuntuk pembelian saham
dan pemilikan saham, kecuali untuk
tujuan akuisisi atau pengambilalihan
perusahaan oleh debitur atau calon
debitur.
h. Perusahaan atau perorangan yang tidak
bisa atau tidak akan memberikan
informasi yang memadai.
i. Kredit untuk tujuan spekulasi.
BAB II PRINSIP KEHATI-HATIAN
DALAM PERKREDITAN
4
j. Kredit yang memerlukan keahlian
khusus yang tidak dimiliki bank.
k. Kredit kepada debitur bermasalah dan
atau macet, kecuali kredit macet
disebabkan kondisi diluar kemampuan
debitur dan debitur menunjukkan itikad
yang baik untuk memenuhi
kewajibannya, dan dengan pemberian
kredit baru tersebut diperkirakan akan
memperbesar potensi debitur untuk
membayar kembali kredit macet
tersebut.
l. Sektor lain yang dilarang oleh
Pemerintah
BAB II PRINSIP KEHATI-HATIAN
DALAM PERKREDITAN
TATA CARA PENILAIAN KUALITAS KREDIT
BAB II PRINSIP KEHATI-HATIAN
DALAM PERKREDITAN
PROFESIONALISME DAN INTEGRITAS
PEJABAT KREDIT
1. Semua pejabat Bank yang terkait dengan
perkreditan harus mentaati etika pemberian
kredit meliputi:
a) Melaksanakan kemahiran profesionalnya di
bidang perkreditan secara jujur, obyektif,
cermat dan seksama
b) Menyadari dan memahami sepenuhnya :
Undang Undang Republik Indonesia No. 10
tahun 1998 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang No. 7 tahun 1992 tentang
Perbankan, serta menjauhkan diri dari
perbuatan-perbuatan sebagaimana
disebutkan dalam pasal 49 ayat 2 (dua) UU
dimaksud
BAB II PRINSIP KEHATI-HATIAN
DALAM PERKREDITAN
PROFESIONALISME DAN INTEGRITAS
PEJABAT KREDIT
2. Menyadari bahwa setiap
pemberian kredit kepada
peminjam manapun dan atau
dari kelompok apapun
hendaknya benar-benar
didasarkan pada asas-asas
kredit yang sehat, didasarkan
pada pertimbangan-
pertimbangan yang obyektif,
independen dan
profesionalisme perbankan.
BAB II PRINSIP KEHATI-HATIAN
DALAM PERKREDITAN
PROFESIONALISME DAN INTEGRITAS
PEJABAT KREDIT
3. Menyadari bahwa profesionalisme
perbankan merupakan tuntutan
bagi pejabat bank dalam
penguasaan kondisi usaha
peminjam, obyektifitas dari
analisa/putusan yang diambil,
kemandirian dalam mengambil
sikap/putusan, pemahaman aspek
legal perkreditan dan ketertiban
pelaksanaan kepatuhan terhadap
peraturan.
BAB II PRINSIP KEHATI-HATIAN
DALAM PERKREDITAN
PROFESIONALISME DAN INTEGRITAS
PEJABAT KREDIT
4. Menyadari bahwa dalam 5. Menyadari bahwa peningkatan
memberikan persetujuan kredit, kemampuan dan pengalaman
pejabat bank tidak boleh pejabat kredit merupakan
terpengaruh oleh permintaan- kebutuhan dan tanggung jawab
permintaan dari pihak manapun pejabat kredit itu sendiri.
yang dapat berpengaruh dalam Disamping itu, peningkatan
pengambilan keputusan kemampuan dan pengalaman
pejabat kredit yang lebih yunior
6. Mengikuti praktek-praktek Good merupakan kewajiban dan
Corporate Governance yang tanggung jawab pejabat kredit
berlaku di Bank. yang lebih senior
BAB III ORGANISASI DAN
MANAJEMEN PERKREDITAN
ORGANISASI DAN
MANAJEMEN PERKREDITAN
Perangkat
Perkreditan Bank
BAB III ORGANISASI DAN
MANAJEMEN PERKREDITAN
BAB III ORGANISASI DAN
MANAJEMEN PERKREDITAN
BAB IV KEBIJAKAN PUTUSAN KREDIT
KEBIJAKAN PUTUSAN KREDIT
BAB IV KEBIJAKAN PUTUSAN KREDIT
KONSEP HUBUNGAN TOTAL
PEMOHON KREDIT (KHTPK)
pemohon kredit meliputi seluruh
perusahaan maupun perorangan yang
terkait dengan pemohon kredit yang
telah mendapat fasilitas kredit atau akan
diberikan kredit secara bersamaan oleh
Bank
Konsep Total Eksposure
Institusional Customer
Group
BAB IV KEBIJAKAN PUTUSAN KREDIT
PENETAPAN BATAS
WEWENANG PUTUSAN KREDIT
Penetapan batas wewenang
harus berupa keputusan Direksi
dan tertuang secara tertulis
PDWK
Dasar Pemberian
Putusan Kredit
BAB IV KEBIJAKAN PUTUSAN KREDIT
TANGGUNG JAWAB
PEJABAT KREDIT LINI
Setiap Pejabat Kredit Lini atau
Komite Kredit yang
membubuhkan tandatangannya
pada dokumen analisis,
rekomendasi dan putusan kredit,
masing-masing bertanggung
jawab atas kebenaran dari isi
dokumen yang ditanda-
tanganinya
BAB IV KEBIJAKAN PUTUSAN KREDIT
PROSES PUTUSAN KREDIT
BAB IV KEBIJAKAN PUTUSAN KREDIT
PERJANJIAN KREDIT
Memenuhi keabsahan dan persyaratan hukum yang dapat
melindungi kepentingan Bank
Memuat jumlah, jangka waktu,
tatacara pembayaran kembali
kredit, tujuan penggunaan
serta persyaratan-persyaratan
kredit lainnya sebagaimana
ditetapkan di dalam keputusan
persetujuan dimaksud.
Membuat perjanjian accesoir
(perjanjian tambahan) yang
menunjuk pada perjanjian
kreditnya
BAB IV KEBIJAKAN PUTUSAN KREDIT
PERSETUJUAN PENCAIRAN
KREDIT
Semua dokumen yang berhubungan dengan persetujuan
pemberian kredit telah ditandatangani oleh Pejabat Pemutus Kredit
yang lengkap dan sesuai dengan kewenangannya.
Semua dokumen yang mendukung
pemberian kredit dan syarat-syarat kredit
yang ditetapkan telah dipenuhi dengan
lengkap.
Biaya-biaya yang disyaratkan harus
disetor sebelum pencairan kredit
telah disetor oleh debitur.
BAB V DOKUMENTASI DAN
ADMINISTRASI KREDIT
DOKUMEN KREDIT
1. Perolehan dan
2. Jenis Dokumen
segala bentuk catatan yang Penggolongan
Kredit
Dokumen Kredit
berkaitan dengan riwayat
pinjaman mulai dari
4. Pemeriksaan
permohonan, pembinaan 3. Penundaan
Keabsahan
sampai dengan pelunasan Dokumen
Dokumen Kredit
pinjaman.
5. Penyimpanan,
Pengamanan dan
Penggunaan
Dokumen Kredit
BAB V DOKUMENTASI DAN
ADMINISTRASI KREDIT
Jenis-jenis dokumen kredit I. Dokumen-dokumen yang berkaitan
yang diperlukan sekurang- dengan identitas atau legalitas debitur
dan usahanya
kurangnya harus ada
II. Dokumen-dokumen yang berkaitan
dengan permohonan, analisis dan
evaluasi, negosiasi,rekomendasi,
persetujuan kredit.
III. Dokumen-dokumen yang berkaitan
dengan perjanjian dan pencairan kredit.
IV. Dokumen-dokumenyang berkaitan
dengan jaminan dan pengikatannya.
V. Dokumen-dokumen yang berkaitan
dengan pembinaan, pengawasan, dan
penyelamatan atau penyelesaiankredit.
BAB V DOKUMENTASI DAN
ADMINISTRASI KREDIT
KUMPULAN
DOKUMEN
LENGKAP
SISTEMATIS
EFISIEN
INFORMATIF
BERKAS
KREDIT
BAB V DOKUMENTASI DAN
ADMINISTRASI KREDIT
PENUNDAAN
DOKUMEN
penundaan pemenuhan dokumen-
dokumen kredit pada saat
pencairan kredit.
Pada dasarnya penundaan
pemenuhan dokumen tidak
diperkenankan, kecuali dalam
keadaan tertentu
BAB V DOKUMENTASI DAN
ADMINISTRASI KREDIT
PENUNDAAN
DOKUMEN
Pejabat Pemutus Kredit atau Komite Kredit
sesuai dengan tingkat kewenangannya
dapat memberikan persetujuan penundaan
pemenuhan dokumen tertentu, setelah
mempertimbangkan aspek keamanan
kredit, kepentingan Bank,dan kepastian
pemenuhan dalam jangka waktu yang telah
ditetapkan.
BAB V DOKUMENTASI DAN
ADMINISTRASI KREDIT
Dokumen-dokumen yang tidak boleh
ditunda pemenuhannya pada saat
pencairan kredit adalah :
i. Perjanjian Kredit
ii. Perjanjian PengikatanAgunan
iii. Dokumen kewenangan bertindak
menandatangani perjanjian, seperti
• Surat Persetujuan Komisaris atau
RUPS,atau sesuai yang diatur dalam
Anggaran Dasar/Anggaran Rumah
Tangga perusahaan, dan Surat Kuasa
Direksi untuk debitur Perseroan
Terbatas.
• Surat kuasa suami atau istri untuk
debitur perorangan (dalam hal
suami/istri berhalangan hadir).
BAB V DOKUMENTASI DAN
ADMINISTRASI KREDIT
ADMINISTRASI KREDIT
Pelaksanaan administrasi
kredit bertujuan untuk
mendukung langkah-langkah
pembinaan atau penilaian
atas perkembangan kredit
atau usaha debitur dan
pengawasan kredit, sehingga
kepentingan Bank dapat
terlindungi
BAB V DOKUMENTASI DAN
ADMINISTRASI KREDIT
Jenis-jenis dokumen, berkas atau
warkat yang ditata-usahakan adalah
:
i. Dokumen atau berkas atau warkat
yang termasuk dalam berkas kredit,
ii. Register-register atau file yang
berkaitan dengan perkreditan,
iii. Laporan-Iaporanyang berkaitan
dengan perkreditan, dan
iv. Dokumen-dokumen penting lainnya
yang berkaitan dengan perkreditan
BAB VI PEMBINAAN DAN
PENGAWASAN KREDIT
PEMBINAAN DAN
PENGAWASAN KREDIT
Mengantisipasi atas timbulnya
risiko kerugian dalam
pemberian fasilitas kredit
memberikan arah agar kredit yang diberikan
berjalan sesuai dengan tujuannya, dan
mengidentifikasi kelemahan yang terjadi
dalam prosespemberiankredit, serta mencari
solusi atas kelemahan atau kekurangan
tersebut
BAB VI PEMBINAAN DAN
PENGAWASAN KREDIT
PRINSIP PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
KREDIT
BAB VI PEMBINAAN DAN
PENGAWASAN KREDIT
OBYEK PEMBINAAN DAN
PENGAWASAN KREDIT
Semua Pejabat Bank yang
berkaitan dengan bidang
perkreditan
Semua jenis fasilitas
kredit yang diberikan
BAB VI PEMBINAAN DAN
PENGAWASAN KREDIT
BAB VII PENGELOLAAN KREDIT
BERMASALAH
PENGELOLAAN KREDIT
BERMASALAH
menjaga kualitas portofolio kredit
meminimalkan kerugian kredit
memaksimalkan pengembalian aset berisiko
Antisipatif Proaktif Disiplin
BAB VII PENGELOLAAN KREDIT
BERMASALAH
PENYEBAB KREDIT
BERMASALAH
Sisi Debitur Sisi Intern Bank Sisi Ekstern
i. Masalah Operasional i. Itikad tidak baik dan i. Force Majeur
Usaha atau kurang ii. Perubahan-perubahan
i. Manajemen mampunya pejabat eksternal lingkungan
ii. Kecurangan dan/atau atau pegawai Bank (environment)
ketidakjujran debitur ii. Kelemahan sejak awal
dalam mengelola kredit dalam pemberian
kredit
iii. Kelemahan pembinaan
kredit
BAB VII PENGELOLAAN KREDIT
BERMASALAH
PENDEKATAN TERHADAP
KREDIT BERMASALAH
Tidak membiarkan atau
bahkan menutup-nutupi
Mendeteksi secara dini
adanya kredit bermasalah
Menangani secara dini dan
sesegera mungkin
Tidak mengkapitalisasi
tunggakan bunga atau yang
lazim dikenal dengan Tidak melakukan pengecualian
plafondering kredit
BAB VII PENGELOLAAN KREDIT
BERMASALAH
STRATEGI PENGELOLAAN
KREDIT BERMASALAH
Posisi Bank
Terhadap Debitur
BAB VII PENGELOLAAN KREDIT
BERMASALAH
RENCANA
TINDAK LANJUT
BAB VII PENGELOLAAN KREDIT
BERMASALAH
RESTRUKTURISASI KREDIT
UPAYA perbaikan yang dilakukan
Bank dalam kegiatan perkreditan
terhadap debitur yang mengalami
kesulitan untuk memenuhi
kewajibannya
BAB VII PENGELOLAAN KREDIT
BERMASALAH
RESTRUKTURISASI KREDIT
SYARAT
Masih memiliki prospek usaha
yang baik
Telah atau diperkirakan akan
mengalami kesulitan pembayaran
pokok kredit dan atau bunga
kredit
Menunjukkan itikad yang positif
untuk bekerja sama (kooperatif)
BAB VII PENGELOLAAN KREDIT
BERMASALAH
PENYELESAIAN KREDIT
UPAYA penyelesaian kredit yang
dilakukan oleh Bank terhadap debitur
yang sudah tidak mempunyai prospek
usaha; atau usahanya sudah tidak
ada; atau tidak mempunyai itikad baik
BAB VII PENGELOLAAN KREDIT
BERMASALAH
PENYELESAIAN KREDIT
BAB VII PENGELOLAAN KREDIT
BERMASALAH
PENGELOLAAN
KREDIT
EKSTRAKOMTABEL
Kredit ekstrakomtabel adalah kredit
yang telah dihapusbukukan dan dicatat
dalam register ekstrakomtabel.
Pengelolaan terhadap kredit
ekstrakomtabel dilakukan sama halnya
dengan pengelolaan terhadap kredit
dalam Kredit bermasalah.
Kredit ekstrakomtabel harus dikaji dan
wajib ditagih serta dilaporkan secara
berkala.