TINDAK PIDANA KORUPSI
PENGERTIAN DAN DASAR HUKUM TIPIKOR
Dibuat Oleh:
Remy F A Lumbantobing
Npm : 190710014
PROGRAM ILMU HUKUM
FAKULTAS ILMU SOSIAL & HUMANIORA
UNIVERSITAS PUTERA BATAM
2022
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI..................................................................................................................................
KATA PENGANTAR...................................................................................................................
BAB I.............................................................................................................................................
PENDAHULUAN..........................................................................................................................
A. Latar Belakang..........................................................................................................
B. Rumusan Masalah....................................................................................................
BAB II............................................................................................................................................
PEMBAHASAN............................................................................................................................
A. Pengertian Korupsi.................................................................................................
B. Dasar Hukum Pidana Korupsi.............................................................................
C. Lembaga Pemberantasan Korupsi.....................................................................
D. Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi.......................................................
BAB III..........................................................................................................................................
PENUTUP.....................................................................................................................................
Kesimpulan................................................................................................................
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada khadirat tuhan semesta alam yang telah memberikan
Kesehatan serta anugrahnya sehingga penulis dalam hal ini dalam menyelesaikan
sebuah karya tulis berjudul “PENGERTIAN DAN DASAR HUKUM TIPIKOR” sebagai
pemenuhan tugas mandiri hukum perusahaan.
Penulis tidak lupa berterima kasih kepada pembimbing Bapak Moh. Andika
Surya Lebang, S.H, M.H . Yang telah membimbing penulis mengarahkan dan
memberikan motivtasi untuk dapat menyelesaikan karya tulis ini. Serta tidak lupa
penulsi meminta kritik dan saran terkait kelebihan serta kekurangan dari hasil
karya tulis ini dengan memaklumi kemampuan diri penulis agar dapat berkembang
menjadi lebih bagi di masa depan.
Batam, 23 Juli 2022
Remy F A Lumbantobing
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kemajuan suatu negara sangat ditentukan oleh kemampuan dan
keberhasilannya dalam melaksanakan pembangunan. Pembangunan sebagai suatu
proses perubahan yang direncanakan mencakup semua aspek kehidupan
masyarakat. Efektifitas dan keberhasilan pembangunan terutama ditentukan oleh
dua faktor, yaitu sumber daya manusia, yakni (orang - orang yang terlibat sejak dari
perencanaan sampai pada pelaksanaan) dan pembiayaan. Diantara dua faktor
tersebut yang paling dominan adalah faktor manusianya. Indonesia merupakan
salah satu negara terkaya di asia dilihat dari keanekaragaman kekayaan sumber
daya alamnya.
Tetapi ironisnya, negaratercinta ini dibandingkan dengan negara lain di
kawasan asia bukanlah merupakan sebuah negara yang kaya malahan termasuk
negara yang miskin. Mengapa demikian? Salah satu penyebabnya adalah rendahnya
kualitas sumber daya manusianya. Kualitas tersebut bukan hanya dari segi
pengetahuan atau intelektualnya tetapi juga menyangkut kualitas moral dan
kepribadiannya. Rapuhnya moral dan rendahnya tingkat kejujuran dari aparat
penyelenggara negara menyebabkan terjadinya [Link] di indonesia
dewasa ini sudah merupakan patologi social (penyakit social) yang sangat
berbahaya yang mengancam semua aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara.
Korupsi telah mengakibatkan kerugian materiil keuangan negara yang
sangat besar. Namun yang lebih memprihatinkan lagi adalah terjadinya perampasan
dan pengurasan keuangan negara yang dilakukan secara kolektif oleh kalangan
anggota legislatif dengan dalih studi banding, thr, uang pesangon dan lain
sebagainya di luar batas kewajaran. Bentuk perampasan dan pengurasan keuangan
negara demikian terjadi hampir di seluruh wilayah tanah air. Hal itumerupakan
iv
cerminan rendahnya moralitas dan rasa malu, sehingga yang menonjol adalah sikap
kerakusan dan aji mumpung. Persoalannya adalah dapatkah korupsi diberantas?
Tidak ada jawaban lain kalau kita ingin maju, adalah korupsi harus diberantas. Jika
kita tidak berhasil memberantas korupsi,atau paling tidak mengurangi sampai pada
titik nadir yang paling rendah maka jangan harap negara ini akan mampu mengejar
ketertinggalannya dibandingkan negara lain untuk menjadi sebuah negara yang
maju. Karena korupsi membawa dampak negatif yang cukup luas dan dapat
membawa negara ke jurang kehancuran.
Sorotan masyarakat yang demikian tajam tersebut harus difahami sebagai
bentuk kepedulian dan sebagai motivator untuk terus berjuang mengerahkan segala
daya dan strategi agar maksud dan tujuan pemberantasan korupsi dapat lebih cepat,
dan selamat tercapai. Selain itu, diperlukan dukungan yang besar dari segenap
kalangan akademis untuk membangun budaya anti korupsi sebagai komponen
masyarakat berpendidikan tinggi.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa Pengertian Korupsi?
2. Apa yang menjadi Dasar Hukum Korupsi?
3. Apa Lembaga Pemberantasan Korupsi?
v
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN KORUPSI
Korupsi atau rasuah. ( bahasa Latin : corruptio dari kata kerja corrum-
pere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok)
adalah tindakan pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, serta pihak
lain yang terlibat dalam tindakan itu yang secara tidak wajar dan tidak
legal menyalahgunakan kepercayaan publik yang dikuasakan kepada mereka untuk
mendapatkan keuntungan sepihak. Dalam arti yang luas, korupsi atau korupsi
politis adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk keuntungan pribadi. Semua
bentuk pemerintahan rentan korupsi dalam prakteknya. Beratnya korupsi berbeda -
beda, dari yang paling ringan dalam bentuk penggunaan pengaruh dan dukungan
untuk memberi dan menerima pertolongan, sampai dengan korupsi berat yang
diresmikan, dan sebagainya. Titik ujung korupsi adalah kleptokrasi, yang arti
harafiahnya pemerintahan oleh para pencuri, dimana pura-pura bertindak jujur pun
tidak ada sama sekali.
Korupsi yang muncul di bidang politik dan birokrasi bisa berbentuk sepele
atau berat, terorganisasi atau tidak. Walau korupsi sering memudahkan kegiatan
kriminal seperti penjualan narkotika, pencucian uang, dan prostitusi, korupsi itu
sendiri tidak terbatas dalam hal-hal ini saja. Untuk mempelajari masalah ini dan
membuat solusinya, sangat penting untuk membedakan antara korupsi
dan kejahatan.
Tergantung dari negaranya atau wilayah hukumnya, ada perbedaan antara
yang dianggap korupsi atau tidak. Sebagai contoh, pendanaan partai politik ada yang
legal di satu tempat namun ada juga yang tidak legal di tempat lain.
vi
Menurut Undang - Undang :
Menurut Undang - Undang No.31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi, yang termasuk dalam tindak pidana korupsi adalah :
“Setiap orang yang dikategorikan melawan hukum, melakukan perbuatan
memperkaya diri sendiri, menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu
korporasi, menyalahgunakan kewenangan maupun kesempatan atau sarana yang
ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan
negara atau perekonomian negara.”
Menurut Para Ahli :
Haryatmoko : Korupsi adalah upaya campur tangan menggunakan kemampuan
yang didapat dari posisinya untuk menyalahgunakan informasi, keputusan,
pengaruh, uang atau kekayaan demi kepentingan keuntungan dirinya.
B. DASAR HUKUM PIDANA KORUPSI
a. UU No. 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
b. UU No. 28 tahun 1999 tentang Penyelengaraan Negara yang Bersih dan Bebas
KKN.
c. UU No. 3 tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
d. UU No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
e. Ketetapan MPR No. X/MPR/1998 tentang Penyelengaraan Negara yang Bersih
dan Bebas KKN.
f. UU No. 15 tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.
g. UU No. 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
(KPK).
h. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 5 tahun 2004 tentang Percepatan
Pemberantasan Korupsi.
i. Peraturan Pemerintah No. 71 tahun 2000 tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran
Serta Masyarakat dan Pemberian Penghargaan dalam Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
C. LEMBAGA PEMBERANTASAN KORUPSI
vii
• KPK : Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia (biasa disingkat KPK RI
atau KPK), adalah lembaga negara yang dibentuk dengan tujuan meningkatkan
daya guna dan hasil guna terhadap upaya pemberantasan tindak pidana korupsi.
Komisi ini didirikan berdasarkan kepada Undang –Undang Republik Indonesa
Nomor 30 Tahun 2002 mengenai Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Tugas :
1. Koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan
tindak pidana korupsi;
2. Melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana
korupsi
Wewenang :
1. Mengkoordinasikan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana
korupsi;
2. Menetapkan sistem pelaporan dalam kegiatan pemberantasan tindak pidana
korupsi
D. PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN KORUPSI
1. Membentuk lembaga independen yang khusus menangani korupsi.
2. Mewajibkan pejabat publik melaporkan dan mengumumkan jumlah kekayaan
yang dimiliki baik sebelum dan sesudah menjabat. Masyarakat ikut memantau
tingkat kewajaran peningkatan jumlah kekayaan setelah selesai menjabat.
Kesulitan timbul ketika kekayaan yang didapatkan dengan melakukan korupsi
dialihkan kepemilikannya ke orang lain.
3. Memberi hak kepada masyarakat untuk mendapatkan akses terhadap informasi.
Perlu dibangun sistem dimana masyarakat (termasuk media) diberikan hak
meminta segala informasi sehubungan dengan kebijakan pemerintah yang
berkaitan dengan hajat hidup orang banyak.
vii
4. Pemberantasan tindak pidana korupsi harus dimulai dari diri sendiri dari hal –
hal yang kecil dan mulai hari ini agar setiap daerah terbebas dari korupsi.
5. Perlu pemantauan dan evaluasi terhadap seluruh pekerjaan atau kegiatan
pemberantasan korupsi agar diketahui capaian yang telah dilakukan. Melalui
pemantauan dan evaluasi dapat dilihat strategi atau program yang sukses dan
gagal. Program yang sukses sebaiknya silanjutkan, sementara yang gagal dicari
penyebabnya.
ix
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Korupsi adalah suatu tindak perdana yang memperkaya diri yang secara
langsung merugikan negara atau perekonomian negara. Jadi, unsur dalam
perbuatan korupsi meliputi dua aspek. Aspek yang memperkaya diri dengan
menggunakan kedudukannya dan aspek penggunaan uang Negara untuk
kepentingannya.
Adapun penyebabnya antara lain, ketiadaan dan kelemahan pemimpin,
kelemahan pengajaran dan etika, kolonialisme, penjajahan rendahnya pendidikan,
kemiskinan, tidak adanya hukuman yang keras, kelangkaan lingkungan yang subur
untuk perilaku korupsi, rendahnya sumber daya manusia, serta struktur ekonomi.
Korupsi dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu Adminstrative Coruption dan
Against The Rule Corruption. Serta ada hukum yang mengatur tindakan tersebut
dan ada lembaga tersendiri yang menangani kasus tersebut.