Lagu Seorang Gerilya
Karya: W.S Rendra
Engkau melayang jauh, kekasihku.
Engkau mandi cahaya matahari.
Aku di sini memandangmu,
menyandang senapan, berbendera pusaka.
Di antara pohon-pohon pisang di kampung kita yang berdebu,
engkau berkudung selendang katun di kepalamu.
Engkau menjadi suatu keindahan,
sementara dari jauh
resimen tank penindas terdengar menderu.
Malam bermandi cahaya matahari,
kehijauan menyelimuti medan perang yang membara.
Di dalam hujan tembakan mortir, kekasihku,
engkau menjadi pelangi yang agung dan syahdu.
Peluruku habis
dan darah muncrat dari dadaku.
Maka di saat seperti itu
kamu menyanyikan lagu-lagu perjuangan
bersama kakek-kakekku yang telah gugur
di dalam berjuang membela rakyat jelata.
Jakarta, 2 september 1977
Potret Pembangunan dalam Puisi
Krawang-Bekasi
Karya Chairil Anwar
kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkata senjata lagi
tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
terbayang kami maju berdegap hati?
kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
kami mati muda. yang tinggal tulang diliputi debu.
kenang, kenanglah kami
kami sudah beri kami punya jiwa
kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti
4~5 ribu nyawa
kami cuma tulang-tulang berserakan
tapi adalah kepunyaanmu
kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
kaulah sekarang yang berkata
kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
kenang, kenanglah kami
teruskan, terskanlah jiwa kami
menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
kami sekarang mayat
berilah kami arti
berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
(1949 - Deru Campur Debu)
Pahlawan Tak Dikenal
Karya: Toto Sudarto Bachtiar
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang
Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapan
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang
wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda
Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda.
(1953)
Kita Adalah Pemilik Sah Republik ini
Karya : Taufiq Ismail
Tidak ada pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Karena berhenti atau mundur
Berarti hancur
Apakah akan kita jual keyakinan kita
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan para pembunuh tahun yang lalu
Dalam setiap kalimat yang berakhiran
“Duli Tuanku ?”
Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka
Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara
Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus.
(1996)