TERAPI MODALITAS
“TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK”
DISUSUN OLEH :
JULIANA KALIDU
LIDYA MANIBUI
MARGARITHA JULIANA LANTAA
INDRIYANI DEBORA CRISTI MEMA
REYNALDI MERCIANO LIANDO
RENALDO F.R PAULUS
UNIVERSITAS PEMBAGUNAN INDONESIA
MANADO
i
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Mahan Kuasa karena dimana atas
kasih dan AnugerahNya kami dapat menyelesaikan makalh kami yang berjudul “Terapi
Modaitas ” tepat pada waktunya.
Kami menyadari bahwa makalah yang telah kami buat ini masih jauh dari kata sempurna
oleh karena itu kami sangat menerima kritik dan saran dari pembaca untuk menjadi masukan
dalam kami memperbaiki makalah kami ini di kemudian hari.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada segala pihak yang telah membantu kami
dalam penyusunan makalah ini, kiranya Tuhan yang Maha Kuasa memberkati kita semua.
Manado, 12 Desember 2022
Penulis
Terapi Kelompok
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR …………………………………………………………….. ii
DAFTAR ISI …………………………………………………………………….. iii
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………………….. 1
A. Latar Belakang ……………………………………………………………. 1
B. Rumusan Masalah ………………………………………………………….. 2
C. Tujuan Penulisan ………………………………………………………….. 2
BAB II PEMBAHASAN ………………………………………………………….. 3
A. Konsep Dasar Terapi Modalitas ………………………………………………. 3
B. Konsep Dasar Terapi Aktivitas Kelompok ………………………………… 4
BAB III PENUTUP ………………………………………………………………… 16
A. Kesimpulan ………………………………………………………………… 16
B. Saran ………………………………………………………………………. 16
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………… 17
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia sebagai mahkluk sosial yang hidup berkelompok dimana satu dengan
yang lainnya saling behubungan untuk memenuhi kebutuhan sosial. Kebutuhan sosial
yang dimaksud antara lain : rasa menjadi milik orang lain atau keluarga, kebutuhan
pengakuan orang lain, kebutuhan penghargaan orang lain dan kebutuhan pernyataan diri.
Terapi modalitas merupakan terapi yang memfokuskan cara pendekatan dengan
pasien gangguan jiwa yang bertujuan untuk mengubah prilaku pasien gangguan jiwa
yang tadinya berprilaku maladaptif menjadi adaptif (Sutejo,2017)
Secara alamiah individu selalu berada dalam kelompok, sebagai contoh individu
berada dalam satu keluarga. Dengan demikian pada dasarnya individu memerlukan
hubungan timbal balik, hal ini bisa melalui kelompok.
Penggunaan kelompok dalam praktek keperawatan jiwa memberikan dampak
positif dalam upaya pencegahan, pengobatan atau terapi serta pemulihan kesehatan
seseorang. Meningkatnya penggunaan kelompok terapeutik, modalitas merupakan bagian
dan memberikan hasil yang positif terhadap perubahan perilaku pasien atau klien, dan
meningkatkan perilaku adaptif dan mengurangi perilaku maladaptif.
Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh individu atau klien melalui terapi
aktifitas kelompok meliputi dukungan (support), pendidikan meningkatkan pemecahan
masalah, meningkatkan hubungan interpersonal dan juga meningkatkan uji realitas
(reality testing) pada klien dengan gangguan orientasi realitas (Birckhead, 1989).
Terapi aktifitas kelompok sering digunakan dalam praktek kesehatan jiwa, bahkan
dewasa ini terapi aktifitas kelompok merupakan hal yang penting dari ketrampilan
terapeutik dalam keperawatan. Terapi kelompok telah diterima profesi kesehatan.
Pimpinan kelompok dapat menggunakan keunikan individu untuk mendorong
anggota kelompok untuk mengungkapkan masalah dan mendapatkan bantuan
penyelesaian masalahnya dari kelompok, perawat juga adaptif menilai respon klien
selama berada dalam kelompok
1
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Terapi Modalitas?
2. Apa yang dimaksud dengan Terapi Aktivitas Kelompok [TAK]?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini ialah agar Mahasiswa mampu
mengetahui apa yang dimaksud dengan terapi modalitas dan apa yang dimaksud dengan
erapi Aktivitas Kelompok [TAK]
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. KONSEP DASAT TERAPI MODALITAS
1. Pengertian Terapi Modalitas
Terapi modalitas adalah terapi utama dalam keperawatan jiwa yang bertujuan
mampu mengubah perilaku mal adaptif pasien menjadi perilaku yang adaptif serta
meningkatkan potensi yang dimiliki pasien.
Ada bermacam-macam terapi modalitas dalam keperawatan jiwa seperti terapi
individu, terapi keluarga, terapi bermain, terapi lingkungan dan terapi aktifitas
kelompok.
Terapi modalitas dapat dilakukan secara individu maupun kelompok atau dengan
memodifikasi lingkungan dengan cara mengubah seluruh lingkungan menjadi
lingkungan yang terapeutik untuk klien, sehingga memberikan kesempatan klien untuk
belajar dan mengubah perilaku dengan memfokuskan pada nilai terapeutik dalam
aktivitas dan interaksi.
2. Tujuan Terapi Modalitas
Tujuan dilaksanakannya terapi modalitas dalam keperawatan jiwa adalah:
a. Menimbulkan kesadaran terhadap salah satu perilaku pasien
b. Mengurangi gejala gangguan jiwa
c. Memperlambat kemunduran
d. Membantu adaptasi terhadap situasi sekarang
e. Membantu keluarga dan orang-orang yang berarti
f. Mempengaruhi ketrampilan merawat diri sendiri
g. Meningkatkan aktivitas
h. Meningkatkan kemandirian
3. Peran Perawat Dalam Terapi Modalitas
3
Secara umum penan perawat dalam pelaksanaan terapi modalitas bertindak
sebagai leader, fasilitator, evaluator dan motivator ( Nasir dan Muhits, 2011).Tindakan
tersebut meliputi:
a. Mendidik dan mengorientasi kembali seluruh anggota keluarga, misalnya
perawat menjelaskan mengapa komunikasi itu penting ,apa visi seluruh
keluarga,kesamaan harapan apa yang dimiliki semua anggota keluarga
b. Memberikan dukungan kepada klien serta sistem yang mendukung klien untuk
mencapai tujuan dan usaha untuuk berubah. Perawat menyakinkan bahwa anggota
keluarga klien mampu memecahkan masalah yang dihadapi anggota keluarganya.
c. Mengkoodinasi dan mengintegrasi sumber pelayanan kesehatan. Perawat
menunjukkan institusi kesehatan mana yang harusbekerja sama dengan keluarga
dan siapa yang bisa diajak konsultasi
d. Memberi pelayanan prevensi primer, sekunder dan tersier melalui penyuluhan,
perawatan dirumah, pendidikan dan sebagainnya. Bila ada anggota keluarga yang
kurang memahami perilaku sehat didiskusikan atau bila ada keluarga yang
membutuhkan perawatan
4. Jenis-jenis Terapi Modalitas
a. Terapi Individu
b. Terapi Lingkungan
c. Terapi Biologis
d. Terapi Kognitif
e. Terapi Keluarga
f. Terapi Aktifitas Kelompok ( TAK )
g. Terapi Perilaku
B. KONSEP DASAR TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK
1. Pengertian Terapi Aktivitas Kelompok [TAK]
Kelompok adalah kumpulan individu yang mempunyai hubungan antara satu
dengan yang lainnya, saling ketergantungan serta mempunyai norma yang sama.
4
Sedangkan kelompok terapeutik memberi kesempatan untuk saling bertukar
(Sharing) tujuan, misalnya membantu individu yang berperilaku destruktif dalam
berhubungan dengan orang lain, mengidentifikasi dan memberikan alternatif untuk
membantu merubah perilaku destruktif menjadi konstruktif.
Setiap kelompok mempunyai struktur dan identitas tersendiri. Kekuatan
kelompok memberikan kontribusi pada anggota dan pimpinan kelompok untuk saling
bertukar pengalaman dan memberi penjelasan untuk mengatasi masalah anggota
kelompok. Dengan demikian kelompok dapat dijadikan sebagai wadah untuk praktek
dan arena untuk uji coba kemampuan berhubungan dan berperilaku terhadap orang
lain.
Terapi aktivitas kelompok adalah terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada
sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama. Aktivitas yang
digunakan sebagai terapi, dan kelompok digunakan sebagai target asuhan. Di dalam
kelompok terjadi dinamika interaksi yang saling bergantung, saling membutuhkan dan
menjadi laboratorium tempat klien berlatih perilaku baru yang adaptif untuk
memperbaiki perilaku lama yang maladaptif.
2. Tujuan Terapi Aktivitas Kelompok [TAK]
a. Mengembangkan stimulasi kognitif
Tipe: biblioterapy
Aktivitas: menggunakan artikel, sajak ,puisi, buku, surat kabar untuk merangsang
dan mengembangkan hubungan dengan orang lain.
b. Mengembangkan stimulasi sensori
Tipe: music, seni, menari.
Aktivitas: menyediakan kegiatan, mengekspresikan perasaan.
Tipe: relaksasi
Aktivitas: belajar teknik relaksasi dengan cara napas dalam, relaksasi otot, dan
imajinasi.
c. Mengembangkan orientasi realitas
Tipe: kelompok orientasi realitas, kelompok validasi.
5
Aktivitas: focus pada orientasi waktu,tempat dan orang, benar, salah bantu
memenuhi kebutuhan.
d. Mengembangkan sosialisasi
Tipe: kelompok remitivasi
Aktivitas: mengorientasikan klien yang menarik diri, regresi
Tipe: kelompok mengingatkan
Aktivitas: focus pada mengingatkan untuk menetapkan arti positif
Secara umum tujuan kelompok adalah :
a. Setiap anggota kelompok dapat bertukar pengalaman
b. Memberikan pengalaman dan penjelasan pada anggota lain
c. Merupakan proses menerima umpan balik
3. Manfaat Terapi Aktivitas Kelompok [TAK]
Secara umum manfaat terapi aktivitas kelompok adalah :
a. Meningkatkan kemampuan uji realitas (reality testing) melalui komunikasi dan
umpan balik dengan atau dari orang lain.
b. Melakukan sosialisasi.
c. Membangkitkan motivasi untuk kemajuan fungsi kognitif dan afektif.
Secara khusus manfaatnya adalah :
a. meningkatkan identitas diri
b. menyalurkan emosi secara konstruktif
c. meningkatkan ketrampilan hubungan interpersonal atau social.
Di samping itu manfaat rehabilitasinya adalah :
a. Meningkatkan keterampilan ekspresi diri.
b. Meningkatkan keterampilan sosial.
c. Meningkatkan kemampuan empati.
d. Meningkatkan kemampuan atau pengetahuan pemecahan masalah.
4. Tahap-tahap dalam Terapi Aktivitas Kelompok [TAK]
Menurut Yalom yang dikutip oleh Stuart dan Sundeen, 1995, fase – fase dalam terapi
aktivitas kelompok adalah sebagai berikut :
6
a. Pre kelompok
Dimulai dengan membuat tujuan, merencanakan, siapa yang menjadi leader,
anggota, dimana, kapan kegiatan kelompok tersebut dilaksanakan, proses
evaluasi pada anggota dan kelompok, menjelaskan sumber – sumber yang
diperlukan kelompok seperti proyektor dan jika memungkian biaya dan
keuangan.
b. Fase awal
Pada fase ini terdapat 3 kemungkinan tahapan yang terjadi yaitu orientasi,
konflik atau kebersamaan.
1) Orientasi.
Anggota mulai mengembangkan system social masing – masing, dan leader
mulai menunjukkan rencana terapi dan mengambil kontrak dengan
anggota.
2) Konflik
Merupakan masa sulit dalam proses kelompok, anggota mulai memikirkan
siapa yang berkuasa dalam kelompok, bagaimana peran anggota, tugasnya
dan saling ketergantungan yang akan terjadi.
3) Kebersamaan
Anggota mulai bekerja sama untuk mengatasi masalah, anggota mulai
menemukan siapa dirinya.
c. Fase kerja
Pada tahap ini kelompok sudah menjadi tim. Perasaan positif dan engatif
dikoreksi dengan hubungan saling percaya yang telah dibina, bekerjasama
untuk mencapai tujuan yang telah disepakati, kecemasan menurun, kelompok
lebih stabil dan realistic, mengeksplorasikan lebih jauh sesuai dengan tujuan
dan tugas kelompok, dan penyelesaian masalah yang kreatif.
d. Fase terminasi
Ada dua jenis terminasi (akhir dan sementara). Anggota kelompok mungkin
mengalami terminasi premature, tidak sukses atau sukses
5. Peran Perawat Dalam Terapi Aktivitas Kelompok [TAK]
7
Peran perawat jiwa professional dalam pelaksanaan terapi aktivitas kelompok adalah :
a. Mempersiapkan program terapi aktivitas kelompok
Sebelum melaksanakan terapi aktivitas kelompok, perawat harus terlebih
dahulu, membuat proposal.
Proposal tersebut akan dijadikan panduan dalam pelaksanaan terapi aktivitas
kelompok, komponen yang dapat disusun meliputi : deskripsi, karakteristik
klien, masalah keperawatan, tujuan dan landasan teori, persiapan alat, jumlah
perawat, waktu pelaksanaan, kondisi ruangan serta uraian tugas terapis.
b. Tugas sebagai leader dan coleader
Meliputi tugas menganalisa dan mengobservasi pola-pola komunikasi yang
terjadi dalam kelompok, membantu anggota kelompok untuk menyadari
dinamisnya kelompok, menjadi motivator, membantu kelompok menetapkan
tujuan dan membuat peraturan serta mengarahkan dan memimpin jalannya
terapi aktivitas kelompok.
c. Tugas sebagai fasilitator
Sebagai fasilitator, perawat ikut serta dalam kegiatan kelompok sebagai
anggota kelompok dengan tujuan memberi stimulus pada anggota kelompok
lain agar dapat mengikuti jalannya kegiatan.
d. Tugas sebagai observer
Tugas seorang observer meliputi : mencatat serta mengamati respon penderita,
mengamati jalannya proses terapi aktivitas dan menangani peserta/anggota
kelompok yang drop out.
e. Tugas dalam mengatasi masalah yang timbul saat pelaksanaan terapi
Masalah yang mungkin timbul adalah kemungkinan timbulnya sub kelompok,
kurangnya keterbukaan, resistensi baik individu atau kelompok dan adanya
anggota kelompok yang drop out.
Cara mengatasi masalah tersebut tergantung pada jenis kelompok terapis,
kontrak dan kerangka teori yang mendasari terapi aktivitas tersebut.
f. Program antisipasi masalah
8
Merupakan intervensi keperawatan yang dilakukan untuk mengantisipasi
keadaan yang bersifat darurat (emergensi dalam terapi) yang dapat
mempengaruhi proses pelaksanaan terapi aktivitas kelompok.
Dari rangkaian tugas diatas, peranan ahli terapi utamanya adalah sebagai
fasilitator. Idealnya anggota kelompok sendiri adalah sumber primer penyembuhan
dan perubahan.
Iklim yang ditimbulkan oleh kepribadian ahli terapi adalah agen perubahan yang
kuat. Ahli terapi lebih dari sekedar ahli yang menerapkan tehnik; ahli terapi
memberikan pengaruh pribadi yang menarik variable tertentu seperti empati,
kehangatan dan rasa hormat (Kaplan & Sadock, 1997).
Sedangkan menurut Depkes RFI 1998, di dalam suatu kelompok, baik itu
kelompok terapeutik atau non terapeutik tokoh pemimpin merupakan pribadi yang
paling penting dalam kelompok. Pemimpin kelompok lebih mempengaruhi tingkat
kecemasan dan pola tingkah laku anggota kelompok jika dibandingkan dengan
anggota kelompok itu sendiri. Karena peranan penting terapis ini, maka diperlukan
latihan dan keahlian yang betul-betul professional.
Stuart & Sundeen (1995) mengemukakan bahwa peran perawat psikiatri dalam
terapi aktivits kelompok adalah sebagai leader/co leader, sebagai observer dan
fasilitator serta mengevaluasi hasil yang dicapai dalam kelompok.
Untuk memperoleh kemampuan sebagai leader/co leader, observer dan fasilitator
dalam kegiatan terapi aktivitas kelompok, perawat juga perlu mendapat latihan dan
keahlian yang professional.
6. Macam-macam Terapi Aktivitas Kelompok [TAK]
a. Terapi aktifitas kelompok stimulasi kognitif atau persepsi
Terapi aktifitas kelompok stimulus kognitif/persepsi adalah terapi yang bertujuan
untuk membantu klien yang mengalami kemunduran orientasi, menstimuli persepsi
dalam upaya memotivasi proses berfikir dan afektif serta mengurangi perilaku
maladaptif.
Tujuan :
1) Meningkatkan kemampuan orientasi realita
9
2) Meningkatkan kemampuan memusatkan perhatian
3) Meningkatkan kemampuan intelektual
4) Mengemukakan pendapat dan menerima pendapat orang lain
5) Mengemukakan perasaanya
Karakteristik :
1) Penderita dengan gangguan persepsi yang berhubungan dengan nilai-nilai
2) Menarik diri dari realitas
3) Inisiasi atau ide-ide negative
4) Kondisi fisik sehat, dapat berkomunikasi verbal, kooperatif dan mau mengikuti
kegiatan
b. Terapi aktifitas kelompok stimulasi sensori
Terapi aktifitas kelompok untuk menstimulasi sensori pada penderita yang
mengalami kemunduran fungsi sensoris. Teknik yang digunakan meliputi fasilitasi
penggunaan panca indera dan kemampuan mengekpresikan stimulus baik dari
internal maupun eksternal.
Tujuan :
1) Meningkatkan kemampuan sensori
2) Meningkatkan upaya memusatkan perhatian
3) Meningkatkan kesegaran jasmani
4) Mengekspresikan perasaan
c. Terapi Aktivitas kelompok orientasi realitas
Terapi aktifitas kelompok orientasi realitas adalah pendekatan untuk
mengorientasikan klien terhadap situasi nyata (realitas). Umumnya dilaksanakan
pada kelompok yang menghalami gangguan orientasi terhadap orang, waktu dan
tempat. Teknik yang digunakan meliputi inspirasi represif, interaksi bebas maupun
secara didaktik.
Tujuan :
1) Penderita mampu mengidentifikasi stimulus internal (fikiran, perasaan, sensasi
somatik) dan stimulus eksternal (iklim, bunyi, situasi alam sekitar)
2) Penderita dapat membedakan antara lamunan dan kenyataan
10
3) Pembicaraan penderita sesuai realita
4) Penderita mampu mengenali diri sendiri
5) Penderita mampu mengenal orang lain, waktu dan tempat
Karakteristik :
1) Penderita dengan gangguan orientasi realita (GOR); (halusinasi, ilusi, waham, dan
depresonalisasi ) yang sudah dapat berinteraksi dengan orang lain
2) Penderita dengan GOR terhadap orang, waktu dan tempat yang sudah dapat
berinteraksi dengan orang lain
3) Penderita kooperatif
4) Dapat berkomunikasi verbal dengan baik
5) Kondisi fisik dalam keadaan sehat
d. Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi
Kegiatan sosialisasi adalah terapi untuk meningkatkan kemampuan klien dalam
melakukan interaksi sosial maupun berperan dalam lingkungan social. Sosialisasi
dimaksudkan memfasilitasi psikoterapis untuk :
1) Memantau dan meningkatkan hubungan interpersonal
2) Memberi tanggapan terhadap orang lain
3) Mengekspresikan ide dan tukar persepsi
4) Menerima stimulus eksternal yang berasal dari lingkungan
Tujuan umum :
Mampu meningkatkan hubungan interpersonal antar anggota kelompok,
berkomunikasi, saling memperhatikan, memberi tanggapan terhadap orang lain,
mengekpresikan ide serta menerima stimulus eksternal.
Tujuan khusus :
1) Penderita mampu menyebutkan identitasnya
2) Menyebutkan identitas penderita lain
3) Berespon terhadap penderita lain
4) Mengikuti aturan main
5) Mengemukakan pendapat dan perasaannya
Karakteristik :
11
1) Penderita kurang berminat atau tidak ada inisiatif untuk mengikuti kegiatan
ruangan
2) Penderita sering berada ditempat tidur
3) Penderita menarik diri, kontak sosial kurang
4) Penderita dengan harga diri rendah
5) Penderita gelisah, curiga, takut dan cemas
6) Tidak ada inisiatif memulai pembicaraan, menjawab seperlunya, jawaban sesuai
pertanyaan
7) Sudah dapat menerima trust, mau berinteraksi, sehat fisik
e. Penyaluran Energi
Penyaluran energi merupakan teknik untuk menyalurkan energi secara kontruktif
dimana memungkinkan penembanghan pola-pola penyaluran energi seperti katarsis,
peluapan marah dan rasa batin secara konstruktif dengan tanpa menimbulkan
kerugian pada diri sendiri maupun lingkungan.
Tujuan :
1) Menyalurkan energi; destruktif ke konstrukstif.
2) Mengekspresikan perasaan
3) Meningkatkan hubungan interpersonal
7. Kerangka Teoritis Terapi Aktivitas Kelompok [TAK]
a. Model fokal konflik
Menurut Whiteaker dan Liebermen’s, terapi kelompok berfokus pada kelompok dari
pada individu.
Prinsipnya: terapi kelompok dikembangkan berdasarkan konflik yang tidak disadari.
Pengalaman kelompok secara berkasinambungan muncul kemudian konfrontir
konflik untuk penyelesaian masalah, tugas terapi membantu anggota kelompok
memahami konflik dan mencapai penyelesaian konflik
Menurut model ini pimpinan kelompok (leader) harus memfasilisati dan
memberikan kesempatan kepada anggota untuk mengekspresikan perasaan dan
mendiskusikannya untuk menyelesaiakan masalah.
b. Model komunikasi
12
Model komunikasi menggunakan prinsip-prinsip teori komunikasi dan komunikasi
terapeutik. Diasumsikan bahwa disfungsi atau komunikasi tak efektif dalam
kelompok akan menyebabkan ketidak puasan anggota kelompok, umpan balik tidak
sekuat dari kohesi atau keterpaduan kelompok menurun.
Dengan menggunakan kelompok ini leader memfasilitasi komunikasi efektif,
masalah individu atau kelompok dapat diidentifikasi dan diselesaikan.
Leader mengajarkan pada kelompok bahwa:
1) Perlu berkomunikasi
2) Anggota harus bertanggung jawab pada semua level, misalnya komunikasi
verbal, nonverbal, terbuka dan tertutup.
3) Pesan yang disampaikan dapat dipahami orang lain
4) Anggota dapat menggunakan teori komunikasi dalam membantu satu dan yang
lain untuk melakukan komunikasi efektif
Model ini bertujuan membantu meningkatkan keterampilan interpersonal dan social
anggota kelompok.
Selain itu teori komunikasi membantu anggota merealisasi bagaimana mereka
berkomunikasi lebih efektif.
Selanjutnya leader juga perlu menjelaskan secara singkat prinsip-prinsip komunikasi
dan bagaimana menggunakan didalam kelompok serta menganalisa proses
komunikasi tersebut.
c. Model interpersonal
Sullivan mengemukakan bahwa tingkah laku (pikiran, perasaan dan tindakan)
dagambarkan melalui hubungan interpersonal.
Contoh: interaksi dalam kelompok dipandang sebagai proses sebab akibat dari
tingkah laku anggota lain.
Pada teori ini terapis bekerja dengan individu dan kelompok. Anggota kelompok ini
belajar dari interaksi antar anggota dan terapis. Melalui ini kesalahan persepsi dapat
13
dikoreksi dan perilaku social yang efektif dipelajari. Perasaan cemas dan kesepian
merupakan sasaran untuk mengidentifikasi dan merubah tingkah laku/perilaku.
Contoh: tujuan salah satu aktivitas kelompok untuk meningkatkan hubungan
interpersonal. Pada saat konplik interpersonal muncul, leader menggunakan situasi
tersebut untuk mendorong anggota untuk mendiskusikan perasaan mereka dan
mempelajari konplik apa yang membuat anggota merasa cemas dan menentukan
perilaku apa yangdigunakan untuk menghindari atau menurunkan cemas pada saat
terjadi konflik.
d. Model psikodrama
Dengan model ini memotivasi anggota kelompok untuk berakting sesuai dengan
peristiwa yang baru terjadi atau peristiwa yang lalu. Anggota memainkan peran
sesuai dengan yang perna dialami.
Contoh: klien memerankan ayahnya yang dominin atau keras.
8. Terapis
Terapis adalah orang yang dipercaya untuk memberikan terapi kepada klien yang
mengalami gangguan jiwa. Adapun terapis antara lain :
a. Dokter
b. Psikiater
c. Psikolog
d. Perawat
e. Fisioterapis
f. Speech teraphis
g. Occupational teraphis
h. Sosial worker
Persyaratan dan kwalitas terapis
Menurut Globy, Kenneth Mark seperti yang dikutif Depkes RI menyatakan bahwa
persyaratan dan kualifikasi untuk terapi aktivitas kelompok adalah :
a. Pengetahuan pokok tentang pikiran-pikiran dan tingkah laku normal dan patologi
dalam budaya setempat
14
b. Memiliki konsep teoritis yang padat dan logis yang cukup sesuai untuk
dipergunakan dalam memahami pikiran-pikiran dan tingkah laku yang normal
maupun patologis
c. Memiliki teknis yang bersifat terapeutik yang menyatu dengan konsep-konsep
yang dimiliki melalui pengalaman klinis dengan pasien
d. Memiliki kecakapan untuk menggunakan dan mengontrol institusi untuk membaca
yang tersirat dan menggunakannya secara empatis untuk memahami apa yang
dimaksud dan dirasakan pasien dibelakang kata-katanya
e. Memiliki kesadaran atas harapan-harapan sendiri, kecemasan dan mekanisme
pertahanan yang dimiliki dan pengaruhnya terhadap teknik terapeutiknya
f. Harus mampu menerima pasien sebagai manusia utuh dengan segala kekurangan
dan kelebihannya
15
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Terapi modalitas merupakan terapi yang memfokuskan cara pendekatan dengan
pasien gangguan jiwa yang bertujuan untuk mengubah prilaku pasien gangguan jiwa
yang tadinya berprilaku maladaptif menjadi adaptif.
Kelompok adalah kumpulan individu yang mempunyai hubungan antara satu
dengan yang lainnya, saling ketergantungan serta mempunyai norma yang sama.
Sedangkan kelompok terapeutik memberi kesempatan untuk saling bertukar
(Sharing) tujuan, misalnya membantu individu yang berperilaku destruktif dalam
berhubungan dengan orang lain, mengidentifikasi dan memberikan alternatif untuk
membantu merubah perilaku destruktif menjadi konstruktif.
Terapi aktivitas kelompok adalah terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada
sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama. Aktivitas yang
digunakan sebagai terapi, dan kelompok digunakan sebagai target asuhan. Di dalam
kelompok terjadi dinamika interaksi yang saling bergantung, saling membutuhkan dan
menjadi laboratorium tempat klien berlatih perilaku baru yang adaptif untuk memperbaiki
perilaku lama yang maladaptif.
B. Saran
Semoga makalah yang dibuat ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan lebih
khusus untuk mahasiswa keperawatan agar mahasiswa mampu menerapkan terapi
modalitas ini pada pasien dengan gangguan jiwa.
16
DAFTAR PUSTAKA
[Link]
[Link]
17