0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
78 tayangan15 halaman

Kualitas Batubara di PT Globalindo Prima Raya

Proposal ini membahas penentuan kualitas batubara berdasarkan analisis proksimat dan ultimat serta nilai kalori pada tambang batubara PT Globalindo Prima Raya di Kalimantan Tengah. Tujuannya adalah mengetahui karakteristik dan lingkungan pengendapan batubara serta hubungannya dengan kualitas batubara di daerah penelitian. Metode yang digunakan meliputi analisis proksimat, ultimat, dan kalori.

Diunggah oleh

Frangky
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
78 tayangan15 halaman

Kualitas Batubara di PT Globalindo Prima Raya

Proposal ini membahas penentuan kualitas batubara berdasarkan analisis proksimat dan ultimat serta nilai kalori pada tambang batubara PT Globalindo Prima Raya di Kalimantan Tengah. Tujuannya adalah mengetahui karakteristik dan lingkungan pengendapan batubara serta hubungannya dengan kualitas batubara di daerah penelitian. Metode yang digunakan meliputi analisis proksimat, ultimat, dan kalori.

Diunggah oleh

Frangky
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENENTUAN KUALITAS COAL BERDASARKAN ANALISIS

PROKSIMAT DAN ULTIMAT TERHADAP NILAI KALORI PADA PIT

TIMUR MERANTI PT GLOBALINDO PRIMA RAYA Site PT SEMBILAN

TIGA PERDANA DESA KATANJUNG KABUPATEN KAPUAS

PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

PROPOSAL TUGAS AKHIR

NAMA : IREINE ESTER WOWILING


NIM : 471 419 027

TEKNIK GEOLOGI
JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
FAKULTAS MATEMATIKA DAN IPA
GORONTALO
2022
i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat Rahmat, Hidayah dan Karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan
pembuatan Tugas Akhir yang ditujukan kepada PT. GLOBALINDO PRIMA
RAYA job site PT SEMBILAN TIGA PERDANA.

Proposal Tugas Akhir (TA) ini menjadi langkah awal mahasiswa untuk
mendapatkan kesempatan berpartisipasi secara langsung dalam kegiatan kerja
praktek di perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan khususnya batubara.
Penulis berharap proposal ini dapat menjadi bahan pertimbangan dan kebijakan
bagi perusahaan untuk memberikan kesempatan mahasiswa melakukan kegiatan
Tugas Akhir (TA) yang juga menjadi syarat kelulusan matakuliah dan untuk
memperoleh gelar S1 di Program Studi Teknik Geologi Universitas Negeri
Gorontalo.

Dalam kesempatan ini pemohon/mahasiswa menyampaikan kesediaannya


dalam mengikuti segala bentuk kebijakan dan aturan yang telah dibuat dan
diberlakukan di PT. GLOBALINDO PRIMA RAYA job site PT SEMBILAN
TIGA PERDANA termasuk dalam penentuan tema dan topik Kerja Praktek
nantinya disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.

Akhir kata penulis menyampaikan banyak terimakasih kepada pimpinan PT.


GLOBALINDO PRIMA RAYA job site PT SEMBILAN TIGA PERDANA atas
kesempatan yang diberikan. Penulis memohon maaf apabila terdapat kesalahan
dalam penyusunan proposal ini. Kritik dan saran yang membangun sangat
diharapkan untuk perbaikan proposal yang lebih baik selanjutnya.

Semoga proposal ini dapat bermanfaat dengan baik secara individu maupun
secara umum.

Gorontalo,27September2022

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...............................................................................................i
KATA PENGANTAR............................................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................................iii
A. Latar Belakang............................................................................................1
B. Maksud dan Tujuan....................................................................................1
C. Batasan Masalah.........................................................................................2
D. Output..........................................................................................................2
E. Dasar Teori..................................................................................................3
F. Metodologi Penelitian.................................................................................8
G. Waktu Penelitian.........................................................................................9
H. Penutup........................................................................................................9
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................11
LAMPIRAN..........................................................................................................12

iii
A. Latar Belakang
Kebutuhan energi merupakan hal fundamental yang sangat sering diberitakan
saat ini. Batubara merupakan salah satu sumber energi yang digunakan di
Indonesia. Listrik, industri semen, industri lain (metalurgi, tekstil, kertas pulp),
dan industri kecil, merupakan sektor utama yang sangat membutuhkan pasokan
batubara dari Indonesia, dimana sektor listrik dan industri semen merupakan
konsumen utama dalam negeri. Produksi batubara di Indonesia diperkirakan akan
terus meningkat, baik untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri (domestik)
maupun untuk pemenuhan permintaan luar negeri (ekspor). Namun, peningkatan
jumlah sumberdaya dan cadangan tidak seimbang dengan produksi yang terus
dilakukan.
Hal ini tentu saja harus mendapat perhatian agar produksi batubara dapat
terus berjalan sehingga pemenuhan kebutuhan baik dalam maupun luar negeri
dapat terpenuhi. Penemuan sumberdaya dan cadangan baru dengan proses
eksplorasi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan jumlah sumberdaya dan
cadangan. Batubara memiliki karakteristik yang berbeda untuk setiap daerah
pengendapannya. Tumbuhan asal pembentuk, lingkungan pengendapan, dan
kontrol dari proses geologi merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi
karakteristik batubara. Maseral batubara adalah salah satu komponen yang
menentukan karakteristik batubara sebagai representasi jenis tumbuhan asal
pembentuk.
PT GLOBALINDO PRIMA RAYA Job Site PT SEMBILAN TIGA
PERDANA merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang
pertambangan batubara yang berada di Desa Katanjung Kabupaten Kapuas Hulu
Provinsi Kalimantan Tengah menyimpan sumber daya batubara yang cukup besar.
Oleh karena itu, dengan melakukan kegiatan Tugas Akhir di PT GLOBALINDO
PRIMA RAYA Job Site PT SEMBILAN TIGA PERDANA akan mendapatkan
pengalaman serta gambaran secara langsung di lapangan mengenai tahapan –
tahapan aktivitas penambangan batubara, salah satunya tahapan eksplorasi.
Dengan pengalaman yang nantinya diperoleh, semoga wawasan dan aplikasi ilmu
di dunia pertambangan secara nyata dapat bertambah dan bermanfaat.
B. Maksud dan Tujuan
Maksud dari Tugas Akhir ini adalah untuk mendapatkan gambaran maupun

1
pengalaman kerja, baik secara teoritis maupun praktik serta

2
mengetahui kualitas serta lingkungan pengendapan batubara pada daerah penelitian
berdasarkan metode dan analisis yang dipakai.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui dan memahami kondisi geologi penelitian
2. Untuk mengetahui karakteristik batubara meliputi kualitas batubara
daerah penelitian
3. Untuk mengetahui dan menganalisis lingkungan pengendapan batubara
daerah penelitian
4. Mengetahui hubungan lingkungan pengendapan terhadap kualitas
batubara di daerah penelitian

C. Batasan Masalah
Ruang lingkup dalam kegiatan Kerja Praktek dan Tugas Akhir ini meliputi :
1. Kondisi geologi daerah penelitian merupakan wilayah pertambangan PT.
GPR
2. Karakteristik batubara meliputi kualitas batubara
3. Lingkungan pengendapan batubara di daerah penelitian
4. Hubungan antara lingkungan pengendapan terhadap kualitas batubara

D. Output
Output yang diharapkan dari proposal ini adalah berupa izin pengambilan
data dan pengolahan data yang berkaitan dengan analisis lingkungan Pengendapan
dan kualitas Batubara, sehingga tercapai tujuan penelitian dari peneliti.

E. Dasar Teori Pengertian Batubara


Batubara adalah batuan sedimen yang secara kimia dan fisika adalah
heterogen yang mengandung unsur – unsur karbon, hidrogen, dan oksigen sebagai
unsur utama dan belerang serta nitrogen sebagai tambahan. Zat lain, yaitu
senyawa anorganik pembentuk ash tersebar sebagai partikel zat mineral terpisah –
terpisah di seluruh senyawa batubara. Beberapa jenis batubara meleleh dan
menjadi plastis apabila dipanaskan, tetapi meninggalkan suatu residu yang disebut
kokas. Batubara dapat dibakar untuk membangkitkan uap atau dikarboninasikan
untuk membuat bahan bakar cair atau dihidrogenasikan untuk membuat metan.
Gas sintesis atau

3
bahan bakar berupa gas dapat diproduksi sebagai produk utama dengan jalan
gasifikasi sempurna dari batubara dengan oksigen dan uap atau udara dan uap
(Elliot, 1981).
Pembentukan Batubara
Batubara dan bahan bakar fosil lainnya mengandung karbon, unsur keenam
yang paling mudah ditemukan di dunia. Karbon terdapat di atmosfer, di dalam air,
dan di batuan, biasanya dalam bentuk karbon dioksida. Tumbuhan dan hewan juga
menggunakan karbon atau karbon dioksida. Sebagai contoh, tumbuhan menyerap
karbon dioksida dan melepaskan oksigen, sedangkan hewan mengambil oksigen
untuk bernapas dan melepaskan karbon dioksida ke atmosfer. Seperti yang telah
dideskripsikan oleh Radovic dan Schobert (1992) pada gambar 1.1. Siklus ini
dapat terganggu oleh beberapa kejadian seperti banjir, gempa bumi, erupsi
vulkanik, pembentukan gunug, dan lain – lain, yang menyebabkan membusuknya
tumbuhan dan hewan sehingga terkubur di bawah sedimentasi.

Karbon Karbon Karbon


dioksida dioksida dioksida
di dalam di di batuan
air atmosfer

Bahan bakar fosil

Tumbuhan dan hewan mati


Tumbuhan

Hewan

Gambar 1.1 Siklus Karbon Global, Radovic dan Schobert (1992)

Senyawa organic yang terkubur dan terakumulasi mengalami pembusukan


lanjut oleh bakteri secara aerobik maupun anaerobik (tergantung ketersediaan
oksigen) dan setelah ratusan tahun berlalu terbentuklah kerogen. Semakin
terkubur lebih dalam, suhu akan semakin meningkat dan keterogen pecah menjadi
molekul

4
rantai karbon yang lebih pendek. Kerogen dari ganggang dan plankton
membentuk minyak mentah. Kemudian, semakin lama, suhu endapan meningkat
dan akan membentuk gas.

Kerogen dari tumbuhan yang lebih tinggi memiliki struktur yang lebih kaku.
Atom karbon akan cenderung membentuk cincin dibanding rantai seperti pada
minyak atau gas. kerogen ini pada akhirnya akan membentuk gambut setelah
terpapar panas, tekanan, dan waktu (10-100 juta tahun). Selama proses tersebut,
mineral – mineral yang ada di dalam sedimen memiliki kesempatan untuk masuk
ke dalam gambut dan membentuk beberapa lapisan tipis.

Setelah gambut (materi tumbuhan) berhenti mengendap di bawah sedimen,


terjadi kontak dengan panas, tekanan, dan waktu, akhirnya akan membentu
batubara (gambut dengan kelembaban di bawah 75%) (ISO, 2005). Kombinasi
panas dan tekanan dari kedalaman penguburan atau pembentukan gunung serta
lamanya penguburan, akan membentuk batubara dengan peringkat yang berbeda
dari lignit (brown coal) hingga peringkat bituminous dan antrasit (batubara keras).
Sepanjang proses “coalification” ini, struktur kimia batubara berubah.

Pemahaman mengenai proses pembentukan batubara secara sederhana ini


penting agar dapat lebih mudah dipahami bahwa tidak ada dua batubara yang
sama persis di dunia. Bahkan di dalam satu cadangan batubara, pada lapisan yang
berbeda pun akan menghasilkan batubara yang berbeda pula berdasarkan mineral
yang terserap ke dalam rawa gambut atau paparan intrusi batuan beku yang
menyebabkan adanya panas local tambahan sehingga dapat meningkatkan
peringkat batubara serta menghasilkan struktur kimia dan sifat batubara yang
sangat berbeda (Osborne, 2013).

Jenis Batubara
Jenis tumbuhan yang membentuk batubar aberubah dari waktu ke waktu
sesuai dengan kondisi iklim dan tanah gambut yang tersedia di alam. Hal ini
menyebabkan terbentuknya jenis batubara yang berbeda – beda sehingga
mempengaruhi cara penambangan, pengolahan, dan pemanfaatan yang sesuai
untuk masing – masing jenis tersebut.

5
Secara mikroskopis, bahan – bahan organic pembentuk batubara disebut
sebagai “maseral”, yang dapat dianalogikan dengan mineral dalam batuan. Istilah
ini pada awalnya dikenalkan oleh Stopes (1935) untuk menamai material terkecil
penyusun batubara yang hanya dapat diamati di bawah mikroskop sinar pantul.
Maseral diklasifikasikan menjadi tiga kelompok berdasarkan bentuk morfologi,
ukuran, relief, struktur, komposisi kimia warna pantul, intensitas refleksi, dan
tingkat kualitas batubara (Stach et al., 1975).

a. Kelompok vitrinit
Vitrinit berasal dari tumbuhan – tumbuhan yang mengandung serat kayu
seperti batang, akar, dahan, dan serat daun. Umumnya vitrinit merupakan
bahan pembentuk utama batubara ( >50%). Jika diamati dengan mikroskop,
kelompok ini berwarna cokelat kemerahan hingga gelap, tergantung dari
tingkst kematangan maseralnya.
b. Kelompok liptinit/exinit
Liptinit berasal dari organ – organ tumbuhan (alga, spora, kotak spora,
kulit luar/kutikula, getah tumbuhan, dan serbuk sari). Di bawah mikroskop,
kelompok ini menunjukkan pantulan berwarna abu- abu hingga gelap,
mempunyai tingkat refleksivitas yang rendah dan fluoresen yang tinggi.
c. Kelompok inertinit
Inertini berasal dari tumbuhan yang sudah terbakar (charcoal) dan
sebagian lagi diperkirakan berasal dari maseral lain yang telah mengalami
proses oksidasi atau proses dekarboksilasi yang disebabkan oleh jamur atau
bakteri (proses biokimia). Kelompok ini berwarna kuning muda, putih,
sampai kekuningan bila diamati dengan mikroskop. Karakteristik lainnya
adalah tingkat reflektansi dan reliefnya tinggi disbanding maseral lain.
Selanjutnya, ketiga kelompok maseral tersebut dapat diklasifikasikan lagi
menjadi subkelompok maseral. Pengklasifikasian ini mengacu pada standar
Australia yang dikeluarkan oleh Standards Association of Australia (1986).
Klasifikasi tersebut dapat dilihat pada tabel 1.1.

6
Kelompok Maseral Subkelompok Maseral Maseral

Tekstinit
Telovitrinit Teksto-ulminit
Eu-ulminit
Telokolinit

Vitrinit Atrinit
Detrovitrinit Densinit
Desmokolinit
Korpogelinit
Gelovitrinit Porigelinit
Eugelinit
Sporinit
Kutinit
Resinit
Liptodetrinit
Liptinit/Eksinit Alginit
Suberinit
Fluorinit
Eksudatinit
Bitumunit
Fusinit
Telo-inertinit Semifusinit
Sklerotinit
Inertinit
Inertodetrinit
Detro-inertinit
Mikrinit
Gelo-inertinit Makrinit
Tabel 1.1 Klasifikasi Maseral Batubara, AS 2586 (1986)

Kualitas Batubara
Tingkat pembatubaraan secara umum dapat diasosiasikan dengan mutu atau
kualitas batubara. Batubara dengan tingkat pembatubaraan yang rendah, disebut
juga batubara peringkat rendah, seperti lignit dan sub-bituminus biasanya lebih
lembut dengan materi yang rapuh dan berwarna suram seperti tanah, memiliki
moisture yang tinggi dan kadar karbon yang rendah, sehingga memiliki
kandungan energy yang rendah. Semakin tinggi peringkat batubara, umumnya
akan semakin keras dan kompak. Serta warnanya akan semakin hitam mengkilat.
Selain itu, kelembaban batubara pun akan berkurang sedangkan kadar karbonnya
akan meningkat, sehingga memiliki kandungan energy yang juga semakin besar.

7
Klasifikasi batubara menurut ASTM berdasarkan kuantitas fraksi karbon
dan heating value-nya, yaitu :

1. Memiliki kadar karbon yang paling rendah diantara keempat jenis batubara
lainnya. Hal tersebut mengakibatkan rendahnya heating value dari lignit.
2. Sub-bituminus
Batubara jenis ini merupakan hasil dehidrogenasi dan metanogenesis lignit.
Batubara ini memiliki tingkat maturitas organic yang lebih tinggi, lebih
keras dan lebih gelap daripada lignit.
3. Bituminous
Batubara ini merupakan batubara yang mengalami reaksi lanjutan dari
dehidrogenasi pada pembentukan dan pemisahan gas metana dan gas
hidrokarbon lebih tinggi seperti etana, propane dan lainnya akan
membentuk batubara jenis ini.
4. Antrasit
Merupakan batubara yang lebih sempurna karena memiliki heating vlue
yang paling besar dan kandungan moisture yang terendah diantara lainnya.
Oleh karena itu, batubara jenis ini merupakan batubara yang paling
tinggimutunya.
Lingkungan Pengendapan
Batubara merupakan hasil akumilasi tumbuh – tumbuhan pada kondisi
lingkungan pengendapan tertentu. Akumulasi tersebut telah dikenal pengaruh –
pengaruh synsedimentary dan post-sedimentary. Akibat pengaruh – pengaruh
tersebut dihasilkanlah batubara dengan tingkat (rank) dan kerumitan struktur yang
bervariasi.
Lingkungan pengendapan batubara dapat mengontrol penyebaran lateral,
ketebalan, komposisi, dan kualitas batubara. Untuk pembentukan suatu endapan
diperlukan suatu susunan pengendapan dimana terjadi produktifitas organik tinggi
dan penimbunan secara perlahan – lahan namun terus menerus terjadi dalam
kondisi reduksi tinggi dimana terdapat sirkulasi air yang cepat sehingga tercipta
kondisi anaerob dan zat organik dapat terawetkan. Kondisi demikian dapat terjadi
diantaranya di lingkungan paralik (pantai atau muara sungai) dan limnik (rawa –
rawa).

8
Menurut Diessel (1986) lebih dari 90% batubara di dunia terbentuk di
lingkungan paralik (daerah seperti ini dijumpai di dataran pantai, lagunal, deltaic,
atau juga fluviatil) dan sisanya dilingkungan limnik. Diessel juga mengemukakan
bahwa terdapat 6 tipe lingkungan pengendapan utama pembentuk batubara yaitu
gravelly braid plain, sandy braid plain, alluvial valley and upper delta plain,
lower delta plain, backbarrier stand plain, dan estuary. Tiap lingkungan
pengendapan mempunyai asosiasi dan menghasilkan karakter batubara yang
berbeda.

F. Metodologi Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian dibagi menjadi empat tahap, yaitu
tahap pendahuluan, tahap pengumpulan data, tahap analisis dan pengolahan
data serta tahap penyusunan laporan.
1. Tahap Pendahuluan
Tahap pendahuluan dilakukan untuk mendapatkan informasi awal dan
gambaran mengenai keadaan geologi regional daerah penelitian. Tahap
ini meliputi studi literatur, dan pembahasan literatur hasil penelitian
terdahulu serta persiapan perlengkapan penelitian dan administrasi
Studi literatur dilakukan sebelum dan selama penelitian berlangsung
yang bertujuan untuk memperoleh informasi yang berhubungan dengan
topic penelitian.
2. Tahap Pengumpulan Data
Tahap pengumpulan data dilakukan untuk mendapatkan data geologi di
lapangan dan data di laboratorium. Data geologi di lapangan didapatkan
dari observasi singkapan batubara dan pengambilan sampel batubara.
Sedangkan data di laboratorium meliputi :
a. Data analisis maseral batubara yang meliputi data analisis komposisi
maseral organik batubara
b. Data kualitas batubara diperoleh dari analisis sampel di laboratorium,
meliputi data analisis proksimat (TM, IM, Ash, Volatile Matter &
Fixed Carbon), data nilai kalori batubara dan data kandungan sulfur
c. Data Pemboran inti yang dilakukan oleh PT GLOBALINDO PRIMA
RAYA sebagai data pendukung
3. Tahap Analisis dan Pengolahan Data

9
Tahap ini dilakukan untuk mengolah dan menganalisis data geologi di
lapangan, data laboratorium, dan data pemboran untuk menghasilkan
suatu laporan
4. Tahap Penyusunan Laporan
Tahap penyusunan laporan merupakan tahap terakhir dari kegiatan penelitian
G. Waktu Penelitian
Waktu penelitian akan dilaksanakan pada bulan November 10 sampai 10
[januari 2022 (disesuaikan dengan kesepakatan dan ketentuan perusahaan)
Tahun 2022
Kegiatan November Desember Jan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2
Persiapan
Studi Literatur
Pengambilan
Data
Pengolahan dan
Analisis Data
Penyusunan
Laporan

H. Penutup
Proposal usulan tugas akhir ini diajukan untuk memberi penjelasan
tentang maksud dan tujuan dari Tugas Akhir yang akan dilaksanakan di PT.
Globalindo Prima Raya Suatu kesempatan yang berharga apabila penulis
dapat melakukan Tugas Akhir yang didukung oleh PT. Globalindo Prima
Raya, sehingga dapat membuka wawasan dan pengalaman mahasiswa
dibidang pertambangan Batubara. Hasil dari Kerja Praktek dan Tugas Akhir
ini akan disusun dalam bentuk laporan hasil penelitian dan akan
dipresentasikan di lingkungan Program Studi Teknik Geologi, Universitas
Negeri Gorontalo. Besar harapan penulis atas terkabulnya permohonan
Tugas Akhir ini. Atas perhatian dan bantuannya, penulis ucapkan terima
kasih.

10
IREINE ESTER
WOWILING
MA HA SI SWA

TENTANG DIRI SAYA


Saya adalah Mahasiswa Teknik
Geologi UNG angkatan 2019.
NIM: 471419027
Semester: vii
Tempat, tgl lahir: Manado,19 maret 2000
Jenis kelamin: perempuan
Status: belum menikah
Kebangsaan: Indonesia

INFORMASI KONTAK

Ponsel: 0853-99349-922
Email: ireinewowiling19@[Link]
ireine_s1geologi2019@[Link]
[Link]
Alamat: jalan garuda no21, kel
mahakeret barat, kec wenang, kota
manado, Sulawesi utara RIWAYAT PENDIDIKAN
Alamat sekarang: Jalan kasmat lahay,
Kel. Bongohulawa,bongopini, Kec. Universitas Negeri Gorontalo
tilongkabila, kab, bonebolango Teknik Geologi, 2019 - sekarang
Gorontalo SMA Negeri 7 MANADO
Lulus SMA, 2015 - 2018
KEMAMPUAN DASAR
SMP Negeri 1 MANADO
•Microsoft Office
Lulus SMP, 2012 – 2015
•Arcgis
SD Negeri 20 MANADO
DAFTAR PUSTAKA

Australian Standard 2586. 1986. Coal Maceral Analysis. NSW: The Standard
Association of Australian Standard House.
Diessel, C, F.K. 1986. On the Correlation between coal facies and depositional
environments. Proceedings of the 20th Sydney Basin Symposium, Department of
Geology, University of Newcastle, 19 – 22.
Elliot, M.A dan Yohe, G.R. 1981. The Coal Industry and Coal Reserch and
Development in Prospective, dalam Muchjidin. 2005. Pengendalian Mutu dalam
Industri Batubara. Bandung: Institut Teknologi Bandung
Osborne, D. 2013. The Coal Handbook towards Cleaner Production. Vol. 1: Coal
Production. United Kingdom: Woodhead Publishing Ltd.
Radovic, L.R. dan Schobert, H.H. 1992. Energy and Fuels in Society. New York:
McGraw-Hill Inc.
Stach, E., Mackowsky, M-T.H., Teichmuller, M., Taylor, G.H., Chandra, D., and
TeichMuller, R. 1975. Stach’s Textbook of Coal Petrology. Berlin:
Gebruder Borntraeger

Anda mungkin juga menyukai