27
BAB IV
MANUVER RANPUR DALAM HUBUNGAN KELOMPOK
19. Umum. Di dalam suatu pertempuran, keberadaan ranpur sangat
menentukan karena memiliki mobilitas dan kecepatan bergerak yang mampu
melindungi pasukan yang ada di dalamnya. Selama melaksanakan pergeseran
membutuhkan beberapa ranpur untuk mengangkut personil yang sedang
melaksanakan suatu operasi. Tentunya, selama pergeseran tersebut dibutuhkan
susunan bergerak ranpur dalam bentuk formasi pergerakan dan manuver ranpur agar
sasaran dapat tercapai dengan cepat.
20. Formasi dan Metode bergerak.
a. Formasi bergerak.
1) Berbanjar. Dalam formasi ini, regu 1 berada paling depan diikuti
oleh regu 2 selanjutnya koton dan regu 3 berada paling belakang. Apabila
pasukan bergerak dalam hubungan kompi, maka 2 peleton didepan,
selanjutnya koki dan terakhir 1 peleton berada dibelakang. Formasi ini
digunakan apabila akses jalan terbatas.
Gambar : Berbanjar
a) Keuntungan :
(1) Pengendalian mudah.
(2) Manuver ranpur cepat.
(3) Jaring jalan tidak luas.
(4) Mudah mengawasi medan.
(5) Mudah untuk berubah ke formasi selanjutnya.
(6) Daya tembak ke arah lambung pasukan maksimal.
b) Kerugian :
(1) Daya tembak kearah depan lemah.
(2) Memerlukan pasukan pengaman lambung.
28
2) Zig zag. Penggunaan formasi ini memanfaatkan lebar jalan
yang dilalui oleh rangkaian ranpur. Susunan pasukan adalah 1 ranpur
berada di kanan depan. 1 ranpur terletak di arah belakang kiri dari ranpur
yang pertama. Koton berada di belakang regu pertama, Regu tiga terletak
di kiri belakang ranpur koton.
Gambar : Zig Zag
a) Keuntungan :
(1) Pengendalian mudah.
(2) Dapat dengan mudah berganti formasi.
(3) Lebih aman dari pada formasi berbanjar.
(4) Daya tembak besar.
(5) Dapat dengan mudah menganti formasi
b) Kerugian :
(1) Pergeseran ranpur lambat.
(2) Membutuhkan jaring jalan yang lebar dan keras untuk
dilalui ranpur
3) Paruh lembing. Formasi ini digunakan apabila pasukan harus
melalui medan yang terbuka lebar, dengan penempatan regu satu
berada paling depan. Regu dua terletak di bagian kiri formasi, koton di
sebelah kanan, ranpur paling belakang adalah regu tiga.
Gambar : Paruh Lembing
29
a) Keuntungan :
(1) Pengendalian gerakan fleksibel.
(2) Daya tembak kedepan dan kelambung maksimal.
(3) Lebih aman dari pada formasi berbanjar.
b) Kerugian :
(1) Pergeseran ranpur lambat.
(2) Membutuhkan jalan yang lebar
(3) Memerlukan tempat yang luas untuk menyusun
pasukan secara mendalam.
4) Kotak ( V ). Formasi ini meletakkan dua ranpur di depan sebagai
pengaman depan, sementara ranpur koton berada di belakang ranpur
pengaman depan, 1 ranpur berada paling belakang.
Gambar : Kotak (V)
a) Keuntungan :
(1) Dapat saling membantu dalam pemberian tembakan.
(2) Daya tembak yang besar.
(3) Pengendalian gerakan mudah.
(4) Dapat memberikan daya tembak kesegala arah.
(5) Sangat mudah untuk bermanuver.
b) Kerugian :
(1) Sulit dalam memelihara arah gerakan.
(2) membutuhkan jaring jalan agak lebar.
30
5) Serong kanan/kiri. Dalam formasi ini rangkaian ranpur disusun ke
arah serong kanan/kiri sesuai dengan keadaan medan yang dilalui.
Penempatan ranpur berurutan dari depan adalah ranpur regu pertama,
ranpur regu kedua, ranpur koton dan terakhir ranpur regu ketiga.
Gambar : Serong Kanan/kiri
a) Keuntungan :
(1) Daya tembak lambung besar.
(2) Pengendalian gerakan fleksibel.
b) Kerugian :
(1) Sulit dalam memelihara arah gerakan.
(2) membutuhkan jaring jalan lebar.
(3) Manuver lambat.
6) Bersyaf . dalam formasi ini, maka seluruh ranpur disusun secara
bersyaf. Ranpur disusun mulai dari paling kanan : 2 ranpur, diikuti koton
dan 1 ranpur berada disebelah kiri koton. Formasi ini digunakan pada
saat pergerakan ranpur didataran luas dan tanah yang keras.
Gambar : Bersyaf
31
a) Keuntungan :
(1) Daya tembak ke depan sangat baik.
(2) Pengendalian tembakan sangat baik.
(3) Mudah berubah formasi
b) Kerugian :
(1) Tidak ada pasukan cadangan.
(2) membutuhkan jaring jalan lebar.
(3) Pengendalian gerakan sangat sulit.
b. Metode bergerak.
1) Berbanjar, yaitu metode gerakan ranpur dengan formasi segaris,
biasa digunakan pada saat konvoi/perpindahan pasukan.
Gambar : Berbanjar
2) Lompat katak, yaitu metode gerakan ranpur dengan teknik saling
melintasi secara bergantian yang digunakan pada saat menghadapi
serangan musuh.
Gambar : Lompat katak
3) Ulat kilan, yaitu metode gerakan ranpur dimana ranpur paling
depan mengamankan medan depan, sementara ranpur yang lainnya
merapat ke depan. Metode ini digunakan pada saat pasukan penyerang
yakin akan kontak dengan musuh.
1 2 3
Gambar : Ulat kilan
32
21. Lintas ganti.
Lintas ganti merupakan suatu upaya, kegiatan dan tindakan yang
dilaksanakan dalam rangka menjaga moril pasukan dengan cara mengadakan
pergantian tugas dan tanggung jawab dalam suatu operasi. Lintas ganti dalam
Batalyon Infanteri Mekanis dilaksanakan antar satuan tingkat peleton maupun
tingkat kompi dengan menggunakan ranpur.
Lintas ganti biasanya dilaksanakan pada saat pemindahan pasukan
menuju ke daerah operasi atau ke daerah persiapan untuk melaksanakan
operasi. Berikut ini akan dibahas tentang teknik pelaksanaan lintas ganti :
a. Lintas ganti hubungan peleton : Dalam hubungan peleton, apabila
susunan regu bergerak dengan urutan Ru pertama, Ru kedua, Koton &
Ru ketiga. Jika melaksanakan lintas ganti maka Ru ketiga bergerak
kedepan diikuti Ru kedua, Koton dan Ru pertama.
b. Lintas ganti hubungan kompi : Dalam hubungan kompi, apabila
susunan peleton bergerak dengan urutan Ton pertama, Ton kedua, Koki
& Ton ketiga. Jika melaksanakan lintas ganti maka Ton ketiga bergerak
kedepan diikuti Ton kedua, Koki dan Ton pertama.
Gambar : Lintas ganti
22. Formasi didaerah persiapan. Pengaturan personel di daerah persiapan
sangat mendukung untuk melaksanakan kegiatan taktis dan administrasi. Penyusunan
dalam bentuk formasi akan mengefektifkan manuver ranpur selama di daerah
persiapan, dan juga apabila dilihat dari aspek taktis, maka dapat melindungi pasukan
dari kemungkinan datangnya musuh.
a. Formasi Ranpur. Penyusunan ranpur di daerah persiapan disusun
dalam formasi kotak, dimana 2 regu didepan, koton ditengah-tengah dan 1 regu
di belakang.
33
Gambar : Formasi ranpur
b. Formasi ranpur dengan personel. Personel ditempatkan diantara ranpur
membentuk satu lingkaran penuh, sehingga dapat mengamankan ke segala
arah.
Gambar : Formasi ranpur dengan personel
c. Formasi dalam hubungan 1 Kompi. Penyusunan pasukan dan ranpur di
daerah persiapan dalam hubungan kompi adalah tiap-tiap peleton menyusun
formasi 3 ranpur di depan dan ranpur koton di belakang, digabungkan
membentuk lingkaran sehingga seluruh pasukan menghadap kearah luar (360 ° ).
Personel keluar dari ranpur di gelar di sela-sela ranpur mengelilingi kedudukan
daerah persiapan.
34
Gambar : FormaG
si ranpur dengan personel
23. Melewati sudut mati.
Sudut mati adalah suatu kondisi medan berbentuk sudut yang dapat
menjadi kerawanan bagi satuan Infanteri mekanis dalam pergerakannya, dapat
berupa pertigaan/perempatan jalan antar bangunan, tebing dan bentuk medan
yang sekiranya dapat menghalangi pandangan bagi pengemudi ranpur untuk
melewati tempat tersebut.
Dalam pergerakan pasukan menuju sasaran atau koordinat yang telah
ditentukan, akan sering menemukan kondisi - kondisi medan yang dapat menjadi
penghalang baik peninjauan maupun penembakan dan tidak dapat dilalui secara
langsung oleh ranpur sehingga saat akan melintasi medan – medan tersebut
agar terlebih dahulu dilaksanakan tindakan keamanan untuk menghindari hal -
hal yang dapat membahayakan satuan Infanteri Mekanis.
Sudut mati sangat dimungkinkan dijadikan “Killing Ground” (Daerah
Penghancuran) oleh musuh. Pelaksanaan tindakan keamanan saat menemukan
sudut mati adalah sebagai berikut :
a. Apabila menemukan sudut mati, pengemudi ranpur yang pertama segera
menghentikan ranpurnya pada jarak + 100-200 m sebelum sudut mati dan
melaporkan kepada Danru. Kemudian Danru yang paling depan melaporkan
situasi yang terjadi didepan secara hirarki.
35
Gambar : Melewati Sudut Mati
b. Peleton mengeluarkan 2 regu untuk melaksanakan pembersihan dan
pengamanan sudut mati. Tetapi apabila sudut mati dalam kondisi yang lebih
luas, maka dapat dibersihkan dan diamankan oleh kekuatan yang lebih besar.
c. Danton menentukan tepi dekat dan tepi jauh. Regu pertama
melaksanakan pengamanan tepi dekat dan Regu kedua melaksanakan
pengamanan tepi jauh, setelah kedudukan dinyatakan aman, maka masing-
masing Regu mengeluarkan personel untuk membersihkan jalan yang akan
dilewati ranpur.
Gambar : Pam tepi dekat dan tepi jauh
d. Setelah selesai, Danru laporan kepada Danton bahwa sudut mati bisa
dilewati ranpur. Selanjutnya seluruh ranpur melintasi sudut mati dengan cepat.
36
Gambar : Melintasi Rintangan Sudut Mati
e. Setelah seluruh ranpur melintasi sudut mati, berdasarkan PKT/PKM Danki
dapat diadakan lintas ganti antar peleton sebagai satuan depan.
Gambar : Pam tepi dekat dan tepi jauh masuk Ranpur
f. Setelah seluruh ranpur melintasi sudut mati, maka seluruh personel yang
bertindak sebagai pengaman tepi dekat dan tepi jauh kembali masuk kedalam
ranpur masing-masing untuk melanjutkan perjalanan.
24. Teknik melintasi jembatan. Teknik melintasi jembatan adalah teknik yang
dilaksanakan oleh Satuan Infanteri Mekanis dimana dalam pelaksanaan perpindahan
pasukan menggunakan ranpur. Menemukan rintangan, berupa jembatan – jembatan
yang dimungkinkan memiliki kerawanan bagi satuan Infanteri Mekanis. Maka tindakan
yang akan dilakukan adalah :
37
a. Apabila konvoi menemukan jembatan maka, pada jarak + 100-200 m
sebelum jembatan konvoi dihentikan. Danru laporan kepada Danton. Regu yang
berada dikendaraan paling depan segera turun dari kendaraan dengan tetap
menggunakan perlindungan, kemudian Danton melaksanakan PKT/PKM.
Gambar : Mengatasi Rintangan Jembatan
b. Danton memerintahkan 2 Regu untuk melaksanakan pembersihan dan
pengamanan tepi dekat dan tepi jauh jembatan. Pembersihan Jembatan
dilaksanakan dengan cara berloncatan. Selama kegiatan dilakukan agar, tetap
memelihara kontak pandang baik sisi kiri dan kanan jalan.
Gambar : Pam tepi dekat dan tepi jauh
c. Apabila regu yang melaksanakan pembersihan jembatan menemukan
bahan peledak segera memberikan sandi dengan cara personel yang melihat
kepada personel yang melihat bahan peledak balik kanan dan mengusap lengan
kiri sampai ulu hati dengan menggunakan telapak tangan kiri. Pada saat
menemukan bahan peledak, maka pasukan tidak boleh berteriak, tetapi tetap
menggunakan sandi lapangan. Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi jika bahan
38
peledak tersebut dikendalikan dari jarak jauh. Seorang penembak regu yang
melihat sandi, segera melaksanakan gerakan yang sama yaitu mengusap lengan
kiri sampai ulu hati secara berurutan ke belakang sampai seluruh pasukan
mengetahui apa yang sedang terjadi. Selanjutnya mencari perlindungan yang
aman. Danru yang melaksanakan pembersihan, segera melapor ke Danton ,
Danton melaporkan ke Danki selanjutnya dilaporkan ke satuan atas agar
mendapatkan penanganan.
Gambar : Melintasi Jembatan
d. Setelah bahan peledak diatasi, pembersihan dilaksanakan kembali
sampai ke tepi jauh. Setelah regu pembersih sampai di tepi jauh, Danru segera
laporan ke Danton. Kemudian Danton memberikan perintah untuk bergerak.
Apabila ranpur terakhir telah memasuki jembatan, regu yang berada di tepi dekat
bergerak dibelakang ranpur dengan tetap memperhatikan faktor kewaspadaan.
Setelah ranpur terakhir melintasi tepi jauh, regu yang bergerak dari tepi dekat
segera naik ranpur disusul oleh regu yang berada tepi jauh. Apabila pasukan
sudah berada di dalam ranpur, Danru laporan kepada Danton selanjutnya
melanjutkan gerakan menuju kedudukan atau koordinat yang telah ditentukan.