0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
100 tayangan10 halaman

Manajemen Terapi Islam dan Prosedurnya

Manajemen terapi Islam melibatkan proses terapi berdasarkan prinsip-prinsip Alquran dan Sunnah untuk menyembuhkan gangguan jiwa. Terapi Islam meliputi wawancara awal, mengkaji pengalaman masa lalu klien, dan mengkaji kembali pembelajaran klien. Terapi berakhir jika tujuan tercapai atau klien berhenti.

Diunggah oleh

M. Abdul Azis
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
100 tayangan10 halaman

Manajemen Terapi Islam dan Prosedurnya

Manajemen terapi Islam melibatkan proses terapi berdasarkan prinsip-prinsip Alquran dan Sunnah untuk menyembuhkan gangguan jiwa. Terapi Islam meliputi wawancara awal, mengkaji pengalaman masa lalu klien, dan mengkaji kembali pembelajaran klien. Terapi berakhir jika tujuan tercapai atau klien berhenti.

Diunggah oleh

M. Abdul Azis
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Al-Irsyad Al-Nafs, Jurnal Bimbingan Penyuluhan Islam Volume 7, Nomor 1 Mei 2020 : 77-86

MANAJEMEN TERAPI ISLAM DAN PROSEDUR PELAYANANNYA

Oleh: Sattu Alang


Jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam
Fakultas Dakwah dan Komunikasi
UIN Alauddin Makassar
Sattualang31@[Link]

Abstrak;

Terapi terapi adalah suatu proses untuk menyembuhkan sesorang dari penyakit yang
dialaminya, baik penyakit psikis maupun mental yang mana dilakukan oleh ahlinya .Terapi
harus dilakukan seuatu secara teratur, terprogram dengan baik dan berulang-ulang untuk
tujuan memperbaiki diri agar menjadi lebih sehat dan memperoleh kehidupan yang lebih
baik. Dalam bidang medis, kata terapi sama engan kata pengobatan.
Proses terapi Islam dalam penyembuhan melalui pendekatan islami yang sering
disebut dengan istilah Istisfa’., yaitu penyembuhan terhadap penyakit-penyakit dan
gangguan psikis yang didasarkan kepada tuntunan nilai-nilai Al-Qur’an dan do’a. Terapi
Islam harus melalui beberapa tahapan yaitu: Dimulai dengan wawancara awal tentang apa
yang akan terjadi selama terapi. Prosedur selanjutnya terapis (konselor) perlu mengkaji dan
mendalami pengalaman klien, menggali pengalaman masa lalu selama hal itu relevan
dengan permasalahan yang dihadapi oleh klien. Tindakan, berikutnya, baik terapis maupun
klien mengkaji ulang kembali apa yang telah dipelajari klien selama terapi berlangsung, dan
apa yang akan diterapkannya nanti dalam kehidupannya. Dan terakhir adalah terapi dapat
berakhir kalau tujuan telah disepakati, namun bisa juga terapi berakhir apabila apabila klien
tidak melanjutkan terapi.
Kata Kunci : Manajemen, Terapi Islam, Pelayanan

Therapeutic therapy is a process to cure someone of a disease they experience, both


psychological and mental illness which is done by experts. Therapy must be done regularly,
well-programmed and repeatedly for the purpose of improving themselves to become
healthier and get a better life. better. In the medical field, the word therapy is the same as the
word treatment.
The process of Islamic therapy in healing through an Islamic approach which is often
referred to as Istisfa '. Islamic therapy must go through several stages, namely: Begin with an
initial interview about what will happen during therapy. The next procedure the therapist
(counselor) needs to study and explore the experience of the client, explore past experiences
as long as it is relevant to the problems faced by the client. The next action, both the therapist
and the client, reexamins what the client has learned during therapy, and what he will apply
later in his life. And finally, therapy can end if the goal has been agreed, but it can also end if
the client does not continue therapy.
Keywords: Management, Islamic Therapy, Services

PENDAHULUAN
Secara naluriyah manusia selalu mendambakan kehidupan yang tenang dan
[Link] realitasnya problematika kehidupan bagi manusia adalah suatu

77
Manajemen Terapi Islam dan...(Sattu Alang)

keniscayaan, sehingga permasalahan yang dirasakan manusia begitu kompleks, baik dari
segi fisik, psikis, sosial maupun ekonomi. Hal itu dirasakan pada setiap dimensi masa dan
usia dari seseorang.1Kemajuan zaman yang sedemikian cepat menuntut manusia untuk bisa
menyesuaikan ritmenya. Mereka yang menang orang-orang yang mampu berjalan selaras
dengan kemajuan dan bertahan dalam persaingan hidup. Sementara siapa saja yang tidak
mampu menyesuaikan diri, maka akan tersingkir dan [Link] realita hidup masa
kini, manusia dihadapkan pada tekanan hidup yang berat yang tentu saja sangat
memengaruhi kondisi psikis mereka,sehingga tidak jarang mereka yang tidak kuat
menghadapi tekanan-tekanan hidup akan stress yang berujung pada gangguan kejiwaan.
Dalam bukunya The Heart of Sufism, Hazrat Inayat Khan mendefinisikan sakit sebagai sebuah
keadaan yang tidak harmonis, baik secara fisik maupun mental yang saling bereaksi satu
sama lain.2
Akhir-akhir ini, di lapangan banyak berbagai metode psikoterapi yang
menyembuhkan penyakit jiwa. Hal ini dibuktikan oleh sebagian kajian yang mengemukakan
bahwa peringkat kesembuhan pasien-pasien jiwa yang disembuhkan dengan psikoterapi
yang berkisar 60% sampai 64%, sedangkan peringkat pasien-pasien jiwa yang disembuhkan
tanpa menggunakan psikoterapi berkisar antara 44% sampai 60%. Jadi dapat disimpulkan
bahwa, penyembuhan dengan metode psikoterapi hingga kini, belum sampai pada peringkat
yang memuaskan dalam menyembuhkan penyakit jiwa.3 Terapi adalah usaha untuk
memulihkan kesehatan orang yang sedang sakit, pengobatan penyakit dan perawatan
penyakit. Dalam bidang medis, kata terapi sinonim dengan kata pengobatan. 4 Menurut
kamus lengkap psikologi, terapi adalah suatu perlakuan dan pengobatan yang ditujukan
kepada penyembuhan suatu kondisi patologis (pengetahuan tentang penyakit atau
gangguan).
Agama bukanlah hanya sekedar kepercayaan yang dianut oleh seseorang untuk
mempercayai Dzat Maha pencipta alam semesta ini. Ternyata agama dapat memberi
dampak yang cukup berarti dalam kehidupan manusia, termasuk terhadap kesehatan.
Berkaitan dengan hal tersebut, Nabi Muhammad saw., mengajarkan dan menerapkan nilai-
nilai yang penting dalam keseluruhan hidup, termasuk berkaitan dengan masalah kesehatan.
Beliau telah menunjukkan perhatian yang besar akan hubungan antara kesehatan psiko-
spiritual dan kesehatan fisik saat ini. Kesehatan psiko-spiritual menjadi kunci kesehatan
[Link] obat dan makanan, beliau juga menganjurkan praktik religius, seperti, sholat
kesabaran, puasa dan membaca Al-Qur’an sebagai ciri prilaku yang sehat.5
Pengkajian terhadap sejarah agama-agama, khususnya agama Islam,membekali
mukmin berbagi bukti tentang keberhasilan iman kepada Allah dalam menyembuhkan jiwa
dari berbagai penyakit, merealisasi perasaan aman dan tertentram. Mengenai rasa aman dan
tentaram yang di timbulkan keimanan kepada Allah dalam jiwa seorang mukmin,

1 Cowie, Helen & Dawn Jennifer. Penanganan Kekerasan Di Sekolah : Pendekatan Lingkup Di
Sekolah
Untuk Mencapai Praktik Terbaik, (Jakarta: PT Indeks, 2009), h.32

2 Hazrat Inayat Khan, The Heart of Sufism, terj. Andi Haryadi, (Bandung :PT Remaja Rosdakarya,
2002), h.211.

3 [Link] Najati, Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa, (Bandung :Penerbit Pustaka, 2004), h. 285.

4 Suharso dan Ana Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Semarang: Widya Karya, 2013), h.
506
5 [Link] Najati, Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa, (Bandung : Penerbit Pustaka, 2004), h. 155

78
Al-Irsyad Al-Nafs, Jurnal Bimbingan Penyuluhan Islam Volume 7, Nomor 1 Mei 2020 : 77-86

Muhammad Ustman Najati berpendapat bahwa Al-Qur’an diturunkan untuk mengubah


pikiran manusia, kecenderungannya, dan tingkah lakunya, memberi petunjuk kepada
mereka, mengubah kesesatan dan kebodohan mereka, mengarahkan mereka suatu hal yang
baik untuknya, dan membekali mereka dengan pikiran-pikiran baru tentang tabiat manusia
dan misinya dalam kehidupan, serta nilai-nilai moral. Keseimbangan antara tubuh dan jiwa
dalam kepribadian manusia adalah sebagaimana keseimbangan yang terjadi pada alam
semesta ini. Allah menciptakan segala sesuatu dengan ukuran dan timbangan yang serasi,
yang tak satu makhlukpun akan bisa menciptakan semua keresaian tersebut.67

PEMBAHASAN
A. Konsep Dasar Manajemen Terapi
1. Pengertian Manajemen
Secara umum aktivitas manajemen dalam organisasi diarahkan untuk mencapai
tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Manajemen adalah proses bekerja sama antara
individu dan kelompok serta sumber daya lainnya dalam mencapai tujuan, organisasi adalah
sebagai aktivitas manajemen. Dengan kata lain, aktivitas manajerial hanya ditemukan dalam
wadah sebuah organisasi, baik organisasi bisnis, sekolah dan juga lainnya.8
Setiap ahli memberikan pandangan yang berbeda tentang batasan manajemen,
karena itu tidak mudah memberikan arti universal yang dapat diterima semua orang.
Namun demikian dari pikiran-pikiran semua ahli tentang definisi manajemen kebanyakan
menyatakan bahwa manajemen merupakan suatu proses tertentu yang menggunakan
kemampuan atau keahlian untuk mencapai suatu tujuan yang didalam pelaksanaannya
dapat mengikuti alur keilmuan secara ilmiah dan dapat pula menonjolkan kekhasan atau
gaya manajer dalam mendayagunakan kemampuan orang lain.9
Dalam makna yang sederhana “management” diartikan sebagai pengelolaan. Suatu
proses menata atau mengelola organisasi dalam mencapai tujuan yang diinginkan dipahami
sebagai manajemen. Dalam prespektif lebih luas, manajemen adalah suatu proses
pengaturan dan pemanfaatan sumber daya yang dimiliki organisasi melalui kerjasama para
anggota, untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien10
Jadi manajemen merupakan suatu proses tertentu yang menggunakan kemampuan
atau keahlian untuk mencapai suatu tujuan yang didalam pelaksanaannya dapat mengikuti
alur keilmuan secara ilmiah.
2. Pengertian Terapi
Pengertian terapi berbeda-beda pada setiap disiplin ilmu. Tujuan utama terapi ialah
membantu pasien agar dapat menerima diri mereka apa adanya, bukan menghabiskan
hidup dengan berfantasi bahwa ada ‘tempat yang sempurna’ untuk ditinggali dan ‘diri yang

6 Aliah [Link], Pengantar Psikologi Kesehatan Islami, (Jakarta: PT RajagrafindoPersada,


7 ), h. 19

8 Syafaruddin, Manajemen Lembaga Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Press, 2005), h.41

9 Tim Dosen Administrasi Pendidikan UI, Manajemen Pendidikan (Bandung: AlFabeta, 2009), h. 86

10 Syafaruddin & Nurmawati, Pengelolaan Pendidikan Mengembangkan Keterampilan Manajemen


Pendidikan Menuju Sekolah Efektif (Medan: perdana Publishing, 2011), h. 16

79
Manajemen Terapi Islam dan...(Sattu Alang)

sempurna’ untuk dicapai. Terapi dapat menawarkan banyak perubahan, tetapi kontribusi
terbesar mencangkup penerimaan; penerimaan terhadap diri sendiri dan terhadap keadaan,
membantu pasien mendapatkan sebagian besar kesempatan. Pasien sewajarnya berusaha
‘mengikutsertakan’ terapis sebagai permulaan, seperti dalam mencari penegasaan atau
persetujuan, yang biasanya dikenal dengan istilah umpan balik. Ini proses yang normal
selama tahap-tahap awal dinamika ilmu terapi dimana pasien merupakan anak kecil yang
ingin disayangi yang faktanya ingin disetujui oleh orang tua atau terapis1112
Istilah „‟Psikoterapi‟‟ berasal dari dua kata, yaitu “Psiko” dan “terapi. “Psiko” artinya
kejiwaan atau mental dan “terapi” adalah penyembuhan atau usada. Jadi kalau di bahasa
Indonesiakan psikoterapi mungkin dapat disebut usada jiwa atau usada mental. 13 Therapy
(dalam bahasa Inggeris) bermakna pengobatan dan penyembuhan, dalam bahasa Arab
Terapi sepadan dengan „‟al-Istisyfa‟ yang berasal dari kata „‟syafa-yasfi-syifa‟ yang artinya
menyembuhkan. Terapi juga dapat diartikan sebagai upaya sistematis dan terencana dalam
menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi oleh klien dengan tujuan mengembalikan,
memelihara, dan mengembangkan kondisi klien agar akal dan hatinya berada dalam kondisi
dan posisi yang proporsional. Manusia yang akal dan qolbunya proporsional inilah yang
merupakan sosok manusia yang sehat serta bahagia dunia dan akhirat.14
Menurut May psikoterapi seharusnya membuat manusia menjadi lebih manusiawi:
membantu mereka memperluas kesadaran mereka supaya mereka akan berada dalam posisi
yang lebih baik untuk membuat keputusan. May yakin bahwa tujuan dari psikoterapi adalah
untuk membebaskan [Link] juga mendeskripsikan terapi adalah sebagian agama,
sebagian ilmu pengetahuan dan sebagian hubungan [Link] tetapi hubungan
pertemanan disini bukanlah suatu hubungan sosial yang biasa. Melainkan menuntut terapis
untuk menjadi sangat terbuka, tidak berbasa-basi serta menentang pasien.
James P. Chaplin membagi pengertian psikoterapi dalam dua sudut pandang. Secara
khusus, psikoterapi diartikan sebagai penerapan teknik khusus pada penyembuhan penyakit
mental atau pada kesulitan-kesulitan penyesuain diri setiap [Link] luas, psikoterapi
mencakup penyembuhan lewat keyakinan agama melalui pembicaraan nonformal atau
diskusi personal dengan guru atau teman.
Wolberg and Frank berpendapat bahwa psikoterapi adalah bentuk perlakuan atau
treatment terhadap masalah-masalah yang sifatnya emosional dengan tujuan
menghilangkan, mengubah, memmperlambat symptom untuk meningkatkan perkembangan
pribadi yang
positif.15
Terapi Islam adalah proses pengobatan dan penyembuhan dengan melalui
bimbingan al-Quran dan As-Sunnah Nabi Muhammad s.a.w. atau secara empirik adalah
melalui bimbingan dan pengajaran Allah, Malikat-Malaikat-Nya, Rasul-Nya. H. Fuad
Anshori juga mengemukakan psikoterapi Islam adalah upaya penyembuhan jiwa (nafs)
manusia secara rohaniyyah yang didasarkan pada tuntutan al-Quran dan al-Hadis, dengan
metode analisi esensial empiris serta ma’rifat terhadap segala yang tampak pada manusia.16

11 Weir Arabella, Besar Itu Indah, (Cetakan:1;PT Gramedia Pustaka Utama, anggota IKAPI, Jakarta,
juli
12 ), h. 48

13 Johana E, dkk. Psikoterapi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), h.1-2


14 M. Solihin, Terapi Sufistik, (Bandung: Pustaka Setia, 2004), hlm. 32-33

15 [Link]
16 http:/[Link] (diakses pada tanggal 21 september 2019)

80
Al-Irsyad Al-Nafs, Jurnal Bimbingan Penyuluhan Islam Volume 7, Nomor 1 Mei 2020 : 77-86

Dari paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa psikoterapi adalah suatu proses
untuk menyembuhkan sesorang dari penyakit yang dialaminya, baik penyakit psikis
maupun mental yang mana dilakukan oleh ahlinya. Sedang Psikoterapi Islam adalah proses
pengobatan dan penyembuhan dengan melalui bimbingan al-Quran dan As-Sunnah Nabi
Muhammad s.a.w. atau secara empirik adalah melalui bimbingan dan pengajaran Allah,
Malikat-Malaikat-Nya, Rasul-Nya.
Setelah pemaparan tentang pengertian manajemen dan terapi, maka dapat dipahami bahwa
manajemen terapi merupakan suatu proses penataan atau pengelolaan utama untuk
membantu pasien agar dapat menerima diri mereka apa adanya, dengan petunjuk dan
bimbingan al-Quran dan As-Sunnah Nabi Muhammad s.a.w. bukan menghabiskan hidup
dengan berfantasi bahwa ada ‘tempat yang sempurna’ untuk ditinggali dan ‘diri yang
sempurna’ untuk dicapai.

B. Proses Pelaksanaan Terapi Islam


Pelaksanaan terapi dan rencana diagnostik dengan sendirinya dilaksanakan oleh pasien
bagi pasien rawat jalan dan oleh pasien, perawat, dan dokter pada pasien rawat
[Link] selanjutnya adalah untuk pasien berobat jalan. Di dalam konsep asuhan medic
terdapat prinsip dasar bahwa proses pengobatan adalah usaha bersama antara pasien
(dibantu oleh keluarganya) dengan dokter, setelah dokter menerangkan segalah sesuatunya
kepada pasien, dan kemudian pasien memahami dan menyetujui untuk melaksanakan
rencana tersebut.
Tahapan selanjutnya adalah proses pemantauan. Sebenarnya proses pelaksanaan terapi dan
pemantauan berjalan bersama. Proses permantauan dilaksanakan dengan jalan membuka
akses komunikasi selebar-lebarnya antara dokter dan pasien. Komunikasi yang akrab antara
dokter dan pasien selama terapi sampai pasien sembuh adalah kunci kepuasan pasien.
Beberapa topik yang perlu dilaporkan pasien kepada dokter adalah (1). Bila pelaksanaan
mengalami kesulitan atau terdapat ketidakjelasan. (2). Bila terdapat kekhawatiran, dan (3).
Bila penyakit makin berat17
Proses terapi dan penyembuhan melalui pendekatan islami sering disebut dengan istilah
Istisfa’.Salah satu metodenya ialah do’a. Menurut Isep Zainal, terapi Islam dapat dapat
diistilahkan sebagai al-Istisfa’bi al-Qur’an wa al-Du’a’, yaitu penyembuhan terhadap
penyakitpenyakit dan gangguan psikis yang didasarkan kepada tuntunan nilai-nilai Al-
Qur’an dan do’a.18
Do’a bagi umat Islam merupakan suatu kekuatan yang luar biasa. Do’a merupakan
suatu alat yang paling kuat untuk menolak sesuatu yang tidak diinginkan, juga do’a dapat
mendatangkan sesuatu yang diminta. Tetapi pengaruh do’a itu akan berbeda-beda menurut
kadar iman, keyakinan dan harapan seseorang. Jika ada doa yang tidak dikabulkan oleh
Allah swt., hal itu bisa saja disebabkan karena di dalam hati orang yang berdoa rasa
permusuhan atau mungkin karena lemah imannya atau kurang bersungguh-sungguh ketika
berdoa kepada Allah. Tidak terkabulnya doa ada kalanya karna adanya hal yang
menghambat terkabulnya doa itu seperti memakan barang haram, dosa-dosa yang melekat
di hati, terlalu cinta kepada duani an kelengahan (kelalaian) hati. Hal ini sesuai dengan

17 Daldiyono, Menuju Seni Ilmu Kedokteran, (Cetakan:1:PT Gramedia Pusataka Utama, anggota
IKAPI, Jakarta 2006) h. 264
18 Isep Zainal Arifin, Bimbingan Penyuluhan Islam Pengembangan Dakwah Melalui Psikoterapi
Islam, (Jakarta: RajaGarfindo Persada, 2009), h. 23-24.

81
Manajemen Terapi Islam dan...(Sattu Alang)

sabda Rasulullah saw. Yang driwyatkan oleh al-Tirmidzi “Ud’ullaha wa antum muqinuna al-
ijabah” yang artinya, berdoalah kepada Allah dengan keyakinan bahwa doamu akan
dikabulkan. Sementara itu, menurut Ibnu Qayyim, doa adalah obat yang paling kuat untuk
menyembuhkan suatu penyakit, tetapi hati hati yang lupa kepada Allah akan
mempengaruhi kemanjuran doa tersebut.19
Dalam proses Terapi Islam harus melalui beberapa tahapan yaitu: a.
Wawancara awal
Pada tahap awal ini perlu dirumuskan tentang apa yang akan terjadi selama terapi
[Link]-aturan apa saja yang harus diketahui dan akan dilaksanakan oleh
konseli/klien. Dalam tahap awal ini perlu dibina rapport yaitu hubungan yang meninbulkan
keyakinan dan kepecyaan klien bahwa ia akan dapat ditolong. Dalam tahap awal ini juga
klien harus bersedia mengutarakan pikiran dan perasaannya kepada konselor.

a. Proses terapi
Pada tahap ini, terapis (konselor) perlu mengkaji dan mendalami pengalaman klien,
menggali pengalaman masa lalu selama hal itu relevan dengan permasalahan yang dihadapi
oleh klien. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah menghidupkan suasana keakraban dan
komunikasi dua arah.
b. Tindakan
Pada tahap ini, baik terapis maupun klien mengkaji ulang kembali apa yang telah
dipelajari klien selama terapi berlangsung, dan apa yang akan diterapkannya nantinya
dalam kehidupannya. Hal yang sangat penting dilakukan adalah agar tujuan terapi yang
telah disepakati bersama dapat tercapai.
c. Mengakhiri terapi
Terapi dapat berakhir kalau tujuan telah disepakati, namun bisa juga terapi berakhir
apabila apabila klien tidak melanjutkan terapi. Tetapi bisa juga bisa berakhir apabila tidak
dapat menolong kliennya, namun terapis sebaliknya merujuk kliennyakepada ahli lain sesui
dengan jenis masalah/problem yang dihadapi oleh klien tersebut. Terapis harus
menghilangkan sedikit demi sedikit ketergantungan klien terhadap dirinya, karena klien
akan menghadapi lingkungannya tampa bantuan terapis(konselor)20

1. Model-model Psikoterapi dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasul


a. Terapi keimanan; adalah keimanan murni melalui ibadah kepada Allah swt.
Keimanan seperti inilah yang mendatangkan ketenangan dan juga petunjuk kejalan
kebenaran dan kebaikan. Dalam kaitan ini, jika konseli/klien mempunyai masalah atau
gangguan kejiwaan, maka konselor mengajukan agar memperbaiki keimanan atau dekat
dengan Allah bermakna klien berupaya untuk memperbanyak ibadah dan selalu ingat
kepada Allah. Sesuai dengan firman Allah swt dalam Q.S. al-Ra’d 13:28, sebagai berikut: ٨٢
ُ‫ئن ۡٱلقلُوُب‬ ۡ ۡ
ُِّ ‫ئن قلُ ُوبهُُم ب ِذ ۡك ِر ٱل َّل ِۗ ِه أ ََل ب ِذ ۡك ِر ٱهللَِّ تطَ َم‬
ُِّ ‫ٱلذينَ َءا َمن ُو ْا َوتطَ َم‬
َِّ
Terjemahnya:

19 Ibnu Qayyim, Terapi Penyakit Dengan al-Qur’an dan Sunnah, terj. Achmad Sunarto (Jakarta:
Pustaka Amani, 1999), h. 7-8.

20 [Link]

82
Al-Irsyad Al-Nafs, Jurnal Bimbingan Penyuluhan Islam Volume 7, Nomor 1 Mei 2020 : 77-86

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi
tenteram”.21

b. Psikoterapi melalui ibadah. Menunaikan ibadah merupakan salah satu cara untuk
menghapuskan dosa dan memperkuat ikatan seorang mukmin kepada Allah swt. Dengan
selalu mematuhi perintah Allah dan menjauhi dari segala larangan-Nya dengan
memperbanyak dan memperbaiki kualitas ibadah kepada Allah, maka akan muncul sebuah
harapan bahwa Allah dapat mengampuni segala kesalahannya. Terapi mental melalui
ibadah ini lebih terlihat lagi dari ibadah shalat, melalui ibadah shalat terjalin suatu ikatan
atau hubungan yang kuat antara hamba dengan tuhannya.
c. Psikoterapi dengan puasa. Puasa merupakan salah satu latihan dan didikan jiwa dan
banyak mengandung terapi penyakit kejiwaan dan penyakit fisik, karena itu, bagi orang
yang sakit fisik (selama sakit itu tidak berbahaya) lebih baik berpuasa, karena melalui puasa
biasa menjadikan fisik semakin sehat (shumu tashihu) .Disaat berpuasa inilah seorang
muslim selalu berusaha untuk berperilaku baik dan mendengarkan kata hatinya walaupun
tidaak ada satu orang pun yang mengawasi perilakunya. Dengan berpuasa juga seorang
akan berlatih untuk bersabar atas lapar dan haus serta dalam menahan syawatnya.
d. Psikoterapi melalui ibadah haji. Ibadah haji dapat melahirkan sifat-sifat yang mulia,
seperti kebersamaan, kesatuan pandangan disamping mendekatkan diri kepada Allah swt.
dengan memperbanyak mengalungkan kalimat-kalimat talbiyah. Haji merupakan pusat
pelatihan bagi umat Islam,karena dalam ibadah haji seorang akan selalu mengingat Allah.
e. Psikoterapi melalui sabar. Sabar adalah salah satu penyebab datangnya
keberuntungan, kemenangan, dan kebahagiaan, karena orang yang sabar atas segala ujian
dan cobaan dari Allah swt., akan diberikan pahala atau balasan yang lebih baik. Sabar dan
sifat saling mengingatkan untuk bersabar adalah dua hal yang masuk dalam cakupan ibadah
dan cakupan hubungan interaksi manusia dengan sesamanya.22
f. Psikoterapi melalui istighfar dan taubat. Ucapan istighfar dan bertaubat kepada
Allah swt., merupakan sesuatu yang sangat dianjurkan dalam ajaran Islam, karena pada
dasarnya setiap manusia pernah bersalah atau berdosa baik kecil maupun besar.23
g. Psikoterapi melalui zikir. Semua ibadah termasuk zikir pada hakikatnya adalah
usaha untuk mengingat Allah. Zikir atau mengingat Allah sangat dianjurkan dalam ajaran
islam, bahkan zikir, (shalat) adalah sebaik-baik ibadah. 24 Sebagaimana firman Allah SWT
dalam Q.S.
٨٢ ُ‫ئن ۡٱلقلُوُب‬ ۡ ۡ
ُِّ ‫ئن قلُ ُوبهُُم ب ِذ ۡك ِر ٱل َّل ِۗ ِه أ ََل ب ِذ ۡك ِر ٱهللَِّ تطَ َم‬
ُِّ ‫ٱلذينَ َءا َمن ُو ْا َوتطَ َم‬
َِّ :al-Ra’d 13:28, sebagai berikut

21 Kementerian Agama RI., AlQuran dan Terjemahnya (Jakarta: Direktorat Jenderal Bimbingan
Masyarakat Isalm Direktorat Jenderal Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah,2012), h.341
22 Taufiq Izzuddin Muhammad, Panduan Lengkap & PraktesPsikologi IslamI, (Cetakan:1;Jl. Ir. H.
Juanda, Depok 2006), h. 219

23 Gunarsa D. Singgih, Konseling Dan Psikoterapi, (Cetakan:7; PT BPK Gunung Mulia, Jl. Kwitang
22-23, Jakarta 2007), h. 187

24 Rejeki Sri,Dimensi Psikoterapi Dalam Suluk Linglung Sunan Kalijaga:Laporan Penelitian Individu,
(Pusat Penelitian, IAIN Walisongo, 2010), h.35

83
Manajemen Terapi Islam dan...(Sattu Alang)

Terjemahnya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi
tenteram”.25

h. Terapi dengan doa. Doa merupakan salah satu senjata yang sangat ampuh bagi umat
Islam, dan merupakan sarana ibadah dalam mengingat Allah swt. Orang yang berdoa
kepada Allah adalah orang yang mempunyai harapan dan keyakinan bahwa Allah akan
mengabulkan harapan dan doanya. Hal ini dalam firman Allah swt. dalam Q.S. al-Baqarah
2:186, sebagai berikut: ‫ان ف ۡلَيَ ۡست َِجيب ُو ْا لِي َو ۡل ۡيُؤ ِمن ُو ْا‬
ٌِ ۖ ‫ع إ ِذاَ د َع‬ ۡ ۖ
ِ َّ‫ي قَ ِري بٌ أ ُِجيبُ د َع َوةَ ٱلدا‬
ِ ‫ي فَإ ِن‬
ِ ‫ك ِعبا َ ِدي عَن‬
َ َ‫ َوإ ِذاَ َسأل‬٦٢١
َ‫بي ل َعلَهَُّمۡ يَ ۡر ُشدوُن‬
ِ
Terjemahnya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka
(jawablah), bahwasanya Aku adalah [Link] mengabulkan permohonan
orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka
itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman
kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.26

Dengan demikian dapat dipahami bahwa ada beberapa model psikoterapi Islam
menurut Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw., diantaranya dengan terapi keimanan, terapi
ibadah, terapi ibadah Haji, terapi sabar, terapi melalui tobat, terapi melalui zikir dan doa.

KESIMPULAN
Konsep dasar terapi Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw., yang aplikasinya
dapat dengan beberapa cara dan pendekatan. Terapi yang dilaksanakan dan dikembangkan
oleh para fakar Barat, sepanjang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi
saw. Dapat diterima dan itu yang dinamakan terapi Islami.
Prosedur terapi Islam, melalui beberapa tahapan, yaitu terapis (konselor) perlu
mengkaji dan mendalami pengalaman klien, menggali pengalaman masa lalu selama hal itu
relevan dengan permasalahan yang dihadapi oleh klien. Tindakan, berikutnya, baik terapis
maupun klien mengkaji ulang kembali apa yang telah dipelajari klien selama terapi
berlangsung, dan apa yang akan diterapkannya nanti dalam kehidupannya. Dan terakhir
adalah terapi dapat berakhir kalau tujuan telah disepakati, namun bisa juga terapi berakhir
apabila apabila klien tidak melanjutkan [Link] pendekatannya, bisa dengan terapi
keimanan, ibadah, puasa, haji, sabar, taubat, zikir dan doa.

DAFTAR PUSTAKA

Arabella, Weir, Besar Itu Indah, Cetakan:1;PT Gramedia Pustaka Utama, anggota IKAPI,
Jakarta, juli 2003

Cowie, Helen & Dawn Jennifer. Penanganan Kekerasan Di Sekolah : Pendekatan Lingkup Di
Sekolah Untuk Mencapai Praktik Terbaik, Jakarta: PT Indeks, 2009
25 Kementerian Agama RI., AlQuran dan Terjemahnya, h. 341

26 Kementerian Agama RI., AlQuran dan Terjemahnya, h. 35

84
Al-Irsyad Al-Nafs, Jurnal Bimbingan Penyuluhan Islam Volume 7, Nomor 1 Mei 2020 : 77-86

Daldiyono, Menuju Seni Ilmu Kedokteran, Cetakan:1:PT Gramedia Pusataka Utama, anggota
IKAPI, Jakarta 2006

D. Singgih, Gunarsa, Konseling Dan Psikoterapi, Cetakan:7; PT BPK Gunung Mulia, Jl.
Kwitang 22-23, Jakarta 2007

Hasan, Aliah [Link], Pengantar Psikologi Kesehatan Islami, Jakarta: PT


RajagrafindoPersada, 2008

Ibnu Qayyim, Terapi Penyakit Dengan al-Qur’an dan Sunnah, terj. Achmad Sunarto Jakarta:
Pustaka Amani, 1999

Isep Zainal Arifin, Bimbingan Penyuluhan Islam Pengembangan Dakwah Melalui Psikoterapi
Islam, Jakarta: RajaGarfindo Persada, 2009

Izzuddin, Muhammad Taufik,, Panduan Lengkap & PraktesPsikologi IslamI, Cetakan:1;Jl. Ir.
H. Juanda, Depok 2006

Johana E, dkk. Psikoterapi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002

J.P Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, Trans. Kartini Kartono, Jakarta : PT. Raja Grafindo
Persada, 2001

Kementerian Agama RI., AlQuran dan Terjemahnya (Jakarta: Direktorat Jenderal Bimbingan
Masyarakat Isalm Direktorat Jenderal Urusan Agama Islam dan Pembinaan
Syariah,2012

Khan, Inayat, Hazrat, The Heart of Sufism, terj. Andi Haryadi, Bandung :PT Remaja
Rosdakarya, 2002

M. Solihin, Terapi Sufistik, Bandung: Pustaka Setia, 2004/

Najati, [Link], Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa, Bandung :Penerbit Pustaka, 2004

Rejeki, Sri, Dimensi Psikoterapi Dalam Suluk Linglung Sunan Kalijaga:Laporan Penelitian
Individu, Pusat Penelitian, IAIN Walisongo, 2010

Romdlon, Fauzi, Terapi Taat,Pasien Sehat, Cetakan:1; Jl, Anggrek No. 58, Sambilegi Kidul,
Maguwoharjo, Jogja, 2018

Suharso dan Ana Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa IndonesiaSemarang: Widya Karya,
2013

Syafaruddin, Manajemen Lembaga Pendidikan Islam Jakarta: Ciputat Press, 2005

85
Manajemen Terapi Islam dan...(Sattu Alang)

Syafaruddin & Nurmawati, Pengelolaan Pendidikan Mengembangkan Keterampilan


Manajemen Pendidikan Menuju Sekolah Efektif Medan: perdana Publishing, 2011

Tim Dosen Administrasi Pendidikan UI, Manajemen Pendidikan Bandung: AlFabeta, 2009

[Link]

[Link]

86

Anda mungkin juga menyukai