0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
128 tayangan16 halaman

Asuhan Keperawatan pada Isolasi Sosial

Dokumen tersebut membahas tentang isolasi sosial sebagai masalah keperawatan jiwa. Isolasi sosial dijelaskan sebagai ketidakmampuan berinteraksi dengan orang lain yang dapat disebabkan oleh faktor psikologis, sosial, dan budaya. Dokumen tersebut juga menjelaskan konsep dasar asuhan keperawatan untuk pasien dengan isolasi sosial yang mencakup pengkajian identitas pasien, keluhan utama, faktor ris

Diunggah oleh

rila lagarusu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
128 tayangan16 halaman

Asuhan Keperawatan pada Isolasi Sosial

Dokumen tersebut membahas tentang isolasi sosial sebagai masalah keperawatan jiwa. Isolasi sosial dijelaskan sebagai ketidakmampuan berinteraksi dengan orang lain yang dapat disebabkan oleh faktor psikologis, sosial, dan budaya. Dokumen tersebut juga menjelaskan konsep dasar asuhan keperawatan untuk pasien dengan isolasi sosial yang mencakup pengkajian identitas pasien, keluhan utama, faktor ris

Diunggah oleh

rila lagarusu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS KEPERAWATAN JIWA

“ISOLASI SOSIAL”

OLEH:

KELOMPOK 3
ALMUNAWAR UMAIYA NIM: 711490122086
ANGGRIANI ABD. LATIF NIM: 711490122087
APRILIA LARASATI DUMBI NIM: 711490122088
ATIKA PARWATI KAHARU NIM: 711490122089
AURA DIA FANITA ULOLI NIM: 711490122090

POLITEKNIK KESEHATAN MANADO


KEMENTRIAN KESEHATAN RI
2022
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL

A. KONSEP DASAR ISOLASI SOSIAL


1. Pengertian
Isolasi sosial adalah keadaan dimana seseorang individu
mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu
berinteraksi dengan orang lain disekitarnya. Pasien mungkin merasa
ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan
yang berarti dengan orang lain (Purba, dkk. 2008).
Isolasi sosial adalah gangguan dalam berhubungan yang
merupakan mekanisme individu terhadap sesuatu yang mengancam
dirinya dengan cara menghindari interaksi dengan orang lain dan
lingkungan (Dalami, dkk. 2009).

2. Tanda dan Gejala


a. Gejala subjektif
1) Klien menceritakan perasaan kesepian atau ditolak oleh orang lain
2) Klien merasa tidak aman berada dengan orang lain
3) Klien merasa bosan
4) Klien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan
5) Klien merasa tidak berguna
b. Gejala objektif
1) Menjawab pertanyaan dengan singkat, yaitu “ya” atau “tidak”
dengan pelan
2) Respon verbal kurang dan sangat singkat atau tidak ada
3) Berpikir tentang sesuatu menurut pikirannya sendiri
4) Menyendiri dalam ruangan, sering melamun
5) Mondar-mandir atau sikap mematung atau melakukan gerakan
secara berulang-ulang
6) Apatis (kurang acuh terhadap lingkungan)
7) Ekspresi wajah tidak berseri
8) Tidak merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri
9) Kontak mata kurang atau tidak ada dan sering menunduk
10) Tidak atau kurang sadar terhadap lingkungan sekitarnya
(Trimelia, 2011:15)

3. Pohon Masalah
Defisit Perawatan Diri

4. Proses terjadinya masalah

a. Faktor predisposisi

1) Faktor perkembangan
Pada setiap tahapan tumbuh kembang individu ada tugas
perkembangan yang harus dilalui individu dengan sukses
agar tidak terjadi gangguan dalam hubungan sosial.
Apabila tugas ini tidak terpenuhi, akan mencetuskan
seseorang sehingga mempunyai masalah respon sosial
maladaptif. (Damaiyanti, 2012)

2) Faktor biologis
Faktor genetik dapat berperan dalam respon sosial maladaptif
3) Faktor sosial budaya
Isolasi sosial merupakan faktor utama dalam gangguan
berhubungan. Hal ini diakibatkan oleh norma yang tidak
mendukung pendekatan terhadap orang lain, atau tidak
menghargai anggota masyarakat yang tidak produktif
seperti lansia, orang cacat, dan penderita penyakit kronis.

4) Faktor komunikasi dalam keluarga


Pada komunikasi dalam keluarga dapat mengantarkan
seseorang dalam gangguan berhubungan, bila keluarga
hanya menginformasikan hal-hal yang negative dan
mendorong anak mengembangkan harga diri rendah.
Seseorang anggota keluarga menerima pesan yang saling
bertentangan dalam waktu bersamaan, ekspresi emosi yang
tinggi dalam keluarga yang menghambat untuk
berhubungan dengan lingkungan diluar keluarga.

b. Stressor presipitasi

1) Stressor sosial budaya


Stres dapat ditimbulkan oleh beberapa faktor antara faktor
lain dan faktor keluarga seperti menurunnya stabilitas unit
keluarga dan berpisah dari orang yang berarti dalam
kehidupannya, misalnya karena dirawat di rumah sakit.

2) Stressor psikologis
Tingkat kecemasan berat yang berkepanjangan terjadi
bersamaan dengan keterbatasan kemampuan untuk
mengatasinya. Tuntutan untuk berpisah dengan orang
dekat atau kegagalan orang lain untuk memenuhi
kebutuhan ketergantungan dapat menimbulkan kecemasan
tingkat tinggi (Prabowo, 2014: 111).
5. Akibat
Salah satu gangguan berhubungan sosial diantaranya perilaku
menarik diri atau isolasi sosial yang disebabkan oleh perasaan tidak
berharga yang bisa dialami pasien dengan latar belakang yang penuh
dengan permasalahan, ketegangan, kekecewaan, dan kecemasan
(Prabowo, 2014:112).
Perasaan tidak berharga menyebabkan pasien makin sulit dalam
mengembangkan berhubungan dengan orang lain. Akibatnya pasien
menjadi regresi atau mundur, mengalami penurunan dalam aktivitas
dan kurangnya perhatian terhadap penampilan dan kebersihan diri.
Pasien semakin tenggelam dalam perjalinan terhadap penampilan dan
tingkah laku masa lalu serta tingkah laku yang tidak sesuai dengan
kenyataan, sehingga berakibat lanjut halusinasi (Stuart danSudden
dalam Dalami, dkk 2009).

6. Mekanisme koping
Mekanisme yang digunakan klien sebagai usaha mengatasi
kecemasan yang merupakan suatu kesepian nyata yang mengancam
dirinya. Mekanisme yang sering digunakan pada isolasi sosial adalah
regresi, represi, isolasi (Damaiyanti, 2012: 84).
a. Regresi adalah mundur ke masa perkembangan yang telah lain.
b. Represi adalah perasaan-perasaan dan pikiran pikiran yang
tidak dapat diterima secara sadar dibendung supaya jangan tiba
di kesadaran.
c. Isolasi adalah mekanisme mental tidak sadar yang
mengakibatkan timbulnya kegagalan defensif dalam
menghubungkan perilaku dengan motivasi atau bertentangan
antara sikap dan perilaku.
Mekanisme koping yang muncul yaitu:
1) Perilaku curiga : regresi,represi
2) Perilaku dependen: regresi
3) Perilaku manipulatif: regresi,represi
4) Isolasi/menarik diri: regresi, represi, isolasi (Prabowo,2014:113)

7. Penatalaksanaan

Menurut dalami, dkk (2009) isolasi sosial termasuk dalam


kelompok penyakit skizofrenia tak tergolongkan maka jenis
penatalaksanaan medis yang bisa dilakukan adalah:

a. Electro Convulsive Therapy(ECT)


Adalah suatu jenis pengobatan dimana arus listrik
digunakan pada otak dengan menggunakan 2 elektrode yang
ditempatkan dibagian temporal kepala (pelipis kiri dan kanan).
Arus tersebut menimbulkan kejang grand mall yang
berlangsung 25-30 detik dengan tujuan terapeutik. Respon
bangkitan listriknya di otak menyebabkan terjadinya
perubahan faal dan biokimia dalam otak.

b. Psikoterapi
Membutuhkan waktu yang cukup lama dan merupakan
bagian penting dalam proses terapeutik , upaya dalam
psikoterapi ini meliputi: memberikan rasa aman dan tenang,
menciptakan lingkungan yang terapeutik, bersifat empati,
menerima pasien apa adanya, memotivasi pasien untuk dapat
mengungkapkan perasaannya secara verbal, bersikap ramah,
sopan, dan jujur kepada pasien.

c. Terapi Okupasi
Adalah suatu ilmu dan seni untuk mengarahkan
partisipasi seseorang dalam melaksanakan aktivitas atau tugas
yang sengaja dipilih dengan maksud untuk memperbaiki,
memperkuat, dan meningkatkan harga diri seseorang
(Prabowo, 2014: 113).

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Jiwa Pasien Dengan Isolasi Sosial


Pemberian asuhan keperawatan merupakan proses terapeutik yang
melibatkan hubungan kerjasama antara perawat dengan klien, keluarga atau
masyarakat untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal.
1. Pengkajian
a. Identitas klien
1) Perawat yang merawat melakukan kontak dengan klien tentang :
nama klien, nama panggilan klien, nama perawat, panggilan
perawat, tujuan, waktu, tempat pertemuan, topik pembicaraan.
2) Usia
3) Nomor rekam medik
4) Perawat menuliskan sumber data yang didapat
b. Keluhan utama/alasan masuk
Menanyakan pada klien atau keluarga penyebab klien datang ke rumah
sakit saat ini dan bagaimana koping keluarga yang sudah dilakukan
untuk mengatasi masalah ini dan bagaimana hasilnya.
c. Faktor predisposisi
Tanyakan pada klien / keluarga, apakah klien pernah mengalami
gangguan jiwa di masa lalu, pernah melakukan, mengalami,
menyaksikan penganiayaan fisik, seksual, penolakan dari lingkungan,
kekerasan dalam keluarga dan tindakan kriminal, baik itu yang
dilakukan, dialami , disaksikan oleh orang lain, apakah ada anggota
keluarga yang mengalami gangguan jiwa, pengalaman yang tidak
menyenangkan.
d. Aspek fisik
Meliputi pengukuran tanda vital, tinggi badan, berat badan dan adanya
keluhan fisik, misalnya tampak lemah, letih dan sebagainya.
e. Aspek psikososial
1). Membuat genogram yang memuat minimal 3 generasi yang
menggambarkan hubungan klien dengan keluarganya yang terkait
dengan komunikasi, pengambilan keputusan, pola asuh,
pertumbuhan individu dan keluarga.
2). Konsep diri, meliputi :
Kaji lebih dalam secara bertahap dengan komunikasi yang sering
dan singkat, meliputi :
a). Citra tubuh
Tanyakan dan observasi persepsi pasien terhadap tubuhnya,
bagian tubuh yang disukai dan tidak disukai.
b). Identitas diri
Tanyakan dan observasi tentang status dan posisi klien
sebelum dirawat, kepuasan klien terhadap status dan
posisinya (sekolah, tempat kerja, kelompok), kepuasan klien
sebagai perempuan atau laki-laki.
c). Peran
Tanyakan tentang tugas / peran yang diemban dalam
keluarga/kelompok, kemampuan klien dalam melaksanakan
tugas / peran.
d). Ideal diri
Tanyakan tentang harapan terhadap tubuh; posisi, status,
tugas/peran dan harapan klien terhadap lingkungan (keluarga,
sekolah, tempat kerja, masyarakat).
e). Harga diri.
Tanyakan dan nilai melalui observasi lingkungan hubungan
klien dengan orang lain sesuai dengan kondisi no. 2). (a), (b),
(c) dan penilaian/penghargaan orang lain terhadap diri dan
kehidupannya.
3). Hubungan sosial (di rumah dan di rumah sakit)
a). Tanyakan pada klien / keluarga siapa orang yang paling
berarti dalam kehidupannya, tempat mengadu, tempat bicara,
minta bantuan atau sokongan.
b). Tanyakan pada klien / keluarga, kelompok apa saja yang
diikuti dalam masyarakat.
c). Tanyakan pada klien / keluarga pada klien sejauh mana klien
terlibat dalam kelompok di masyarakat.
4). Spiritual, meliputi pandangan, nilai dan keyakinan klien terhadap
gangguan jiwa sesuai dengan agama yang dianut, kegiatan ibadah
yang biasa dilakukan di rumah.

f. Status mental
Nilai aspek-aspek meliputi :
2). Penampilan (rapi / tidak) , penggunaan dan cara berpakaian.
3). Pembicaraan; cepat, keras, gagap, membisu, apatis, lambat,
inkoheren, atau tidak dapat memulai pembicaraan.
4). Aktifitas motorik; tampak adanya kelesuan, ketegangan,
kegelisahan, agitasi, tik (gerakan involunter pada otot), grimasen
(gerakan otot muka yang berubah-ubah yang tidak dapat dikontrol
klien), tremor atau kompulsif.
5). Alam perasaan; sedih, gembira, putus asa, ketakutan, atau
khawatir.
6). Afek; datar, tumpul, labil, tidak sesuai.
7). Interaksi selama wawancara; bermusuhan, tidak kooperatif,
kontak mata kurang, defensif, curiga atau mudah tersinggung.
8). Persepsi; menentukan adanya halusinasi dan jenisnya.
9). Proses pikir; sirkumstansial (pembicaraan berbelit-belit, tapi
sampai pada tujuan pembicaraan), tangensial (pembicaraan
berbelit-belit tidak sampai pada tujuan pembicaraan), kehilangan
asosiasi (pembicaraan yang tidak ada hubungan satu dengan yang
lainnya), flight of ideas (pembicaraan yang meloncat-loncat),
blocking (pembicaraan terhenti sejenak tanpa gangguan eksternal,
kemudian dilanjutkan kembali), perseverasi (pembicaraan yang
diulang berkali-kali).
10). Isi pikir; obsesi (pikiran yang selalu muncul walaupun klien
berusaha menghilangkannya), phobia (ketakutan patologis pada
objek / situasi tertentu), hipokondria (keyakinan terhadap adanya
gangguan organ di dalam tubuh yang sebenarnya tidak ada),
depersonalisasi (merasa asing terhadap diri sendiri, orang lain atau
lingkungan), ide yang terkait (keyakinan klien terhadap kejadian
yang banyak di lingkungan yang bermakna dan terkait pada
dirinya), pikiran magis dan waham.
11).Tingkat kesadaran; bingung, sedasi, stupor, orientasi waktu,
tempat dan orang.
12).Memori; adanya gangguan daya ingat jangka panjang, gangguan
daya ingat jangka pendek, gangguan daya ingat saat ini,
konfabulasi.
13).Tingkat konsentrasi dan berhitung; perhatian klien yang mudah
dialihkan, tidak mampu memperbaiki, tidak mampu berhitung.
14).Kemampuan penilaian; gangguan penilaian ringan dan gangguan
kemampuan penilaian bermakna.
15).Daya tilik diri; pengingkaran terhadap penyakit yang diderita,
menyalahkan hal-hal di luar dirinya.
g. Kebutuhan persiapan pulang
Observasi kemampuan klien akan; makan, BAB/BAK, mandi,
berpakaian, istirahat dan tidur, penggunaan obat, pemeliharaan
kesehatan, aktifitas di dalam dan di luar rumah
h. Mekanisme koping
Kaji koping adaptif ataupun maladaptif yang biasa digunakan
klien dengan menarik diri, seperti regresi (kemunduran ke tingkat
perkembangan yang lebih rendah dengan respon yang kurang matang),
represi (koping yang menekan keadaan yang tidak menyenangkan ke
alam bawah sadar), isolasi (respon memisahkan diri dari lingkungan
sosial).
i. Aspek medik
Jenis obat-obatan klien saat ini, baik obat fisik, psikofarmaka dan
terapi lainnya.
Data yang didapat dapat dikelompokkan menjadi 2 macam, yaitu
data objektif dan subjektif. Data objektif ditemukan secara nyata dan
didapatkan melalui observasi atau pemeriksaan langsung, sedangkan
data subjektif merupakan data yang disampaikan oleh klien secara lisan
dan keluarga yang didapat melalui wawancara perawat kepada klien
dan keluarga.

2. Diagnosa keperawatan

a. Perubahan sensori persepsi halusinasi b/d menarik diri

b. Isolasi sosial menarik diri b/d harga diri rendah (Prabowo,


2014:114)
3. Rencana Keperawatan
N Diagnosa Tujuan/Kriteria Intervensi Rasional
o Hasil

1 Isolasi Setelah dilakukan Intervensi Utama


Sosial asuhan
Promosi Sosialisasi
keperawatan
selama …x… (I.093313)

diharapkan Observasi
keterlibatan sosial
1. Identifikasi 1. Untuk
meningkat dengan
respon mengetshui
kriteria hasil :
psikologis respon
1. Minat terhadap situasi psikologis
interaksi dan ketersediaan pasien terhadap
meningkat sistem situasi dan

2. Verbalisasi pendukung ketersedian

tujuan sistem
2. Identifikasi
yang jelas pendukung
sumber daya
meningkat untuk 2. Untuk

3. Minat ketersediaan mengetahui ada

terhadap pengasuh atau tidaknya

aktivitas ketersedian
3. Monitor situasi
meningkat sumber daya
keluarga saat ini
pengasuh
4. Verbalisasi dan sistem

isolasi pendukung 3. Untuk

menurun mengetahui
Terapeutik
terkait situasi
5. Verbalisasi 4. Berikan keluarga saat ini
ketidaknyama dukungan dan dan sistem
nan di caring dalam pendukungnya
tempat pelayanan
umum 4. Agar pelayanan
menurun 5. Motivasi yang dilakukan
berpatisipasi berjalan
6. Perilaku
dalam kegiatan kondusif
menarik
sosial dan
diri 5. Agar pasien
masyarakat
menurun mampu untuk
6. Motivasi berpatisipasi
7. Verbalisasi
membina dalam kegiatan
perasaan
hubungan sosial dan
berbeda
dengan pihak masyarakat
dengan
yang memiliki
orang lain 6. Agar dalam
kebutuhan yang
menurun hubungan
sama
tersebut dapat
8. Verbalisasi
7. Libatkan memahami
preokupasi
keluarga, orang keadaan
dengan
penting, dan masing-masing
pikiran
teman dalam
sendiri 7. Agar pelayanan
perawatan
menurun yang dilakukan
Edukasi dapat berjalan
9. Afek
baik dengan
murung/sedih 8. Jelaskan
adanya
menurun hambatan pada
dukungan
sistem
10. Perilaku keluarga, orang
pendukung
bermusuhan enting dan
menurun 9. Informasikan teman
jaringan sosial
11. Perilaku 8. Agar
yang tersedia
sesuai mengetahui
dengan 10. Informasikan dimana letak
harapan tingkat sistem hambatan pada
orang lain pendukung (mis. sistem
membaik keluarga, teman, pendukung
dan masyarakat)
12. Perilaku 11. Anjurkan 9. Untuk
bertujuan keluarga terlibat menambah
membaik dalam perawatan jaringan sosial
dalam sistem
13. Kontak Kolaborasi
pendukung
mata
12. Rujuk ke
membaik 10. Agar pasien
kelompok
dapat
14. Tugas swadaya
mengetahui
perkembangan
13. Kolaborasi tingkat sistem
sesuai usia
dengan program pendukung
membaik
pencegahan atau
11. Agar perawatan
pengobatan
dapat dukungan
berbasis
dari keluarga
masyarakat, jika
perlu 12. Untuk
membangun
kemampuan
yang dimiliki
pasien

13. Untuk
mendukung
program
pemberian
dukungan pada
pasien
DAFTAR PUSTAKA

Damaiyanti, Mukhripah & Iskandar. 2012. Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung: PT


Refika Aditama.

Handayani, Yanie. 2018. Laporan Pendahuluan Isolasi Sosial. Diakses pada link :
[Link]
Sosial. Diakses pada tanggal 9 Oktober 2021.

Retnasari, Yuni. 2018. LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN JIWA


MASALAH ISOLASI SOSIAL (MENARIK DIRI). Diakses pada link :
[Link] Diakses pada
tanggal 9 Oktober 2021

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016. .Standar Diagnosis Keperawatan


Indonesia:Definisi dan Indikator Diagnostik. Jakarta Selatan:DPP PPNI

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. [Link] Intervensi Keperawatan Indonesia:Definisi


dan Tindakan Keperawatan. Jakarta Selatan:DPP PPNI

Tim Pokja SLKI DPP PPNI. [Link] Luaran Keperawatan Indonesia:Definisi


dan Kriteria Hasil Keperawatan. Jakarta Selatan:DPP

Anda mungkin juga menyukai