0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
132 tayangan41 halaman

Investigasi Kecelakaan Tambang dan Prosedurnya

[Ringkasan] Modul ini membahas tentang penyelidikan kecelakaan tambang dan kejadian berbahaya. Terdapat penjelasan mengenai definisi, kriteria, dan prosedur penyelidikan mulai dari pelaporan awal, pengamanan lokasi dan barang bukti, pembentukan tim investigasi, hingga tahapan penyelidikan seperti persiapan, pelaksanaan, penyusunan laporan, dan evaluasi.

Diunggah oleh

Surya Mukti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
132 tayangan41 halaman

Investigasi Kecelakaan Tambang dan Prosedurnya

[Ringkasan] Modul ini membahas tentang penyelidikan kecelakaan tambang dan kejadian berbahaya. Terdapat penjelasan mengenai definisi, kriteria, dan prosedur penyelidikan mulai dari pelaporan awal, pengamanan lokasi dan barang bukti, pembentukan tim investigasi, hingga tahapan penyelidikan seperti persiapan, pelaksanaan, penyusunan laporan, dan evaluasi.

Diunggah oleh

Surya Mukti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Modul#4 :

PENYELIDIKAN /
INVESTIGASI KECELAKAAN
Elemen Kompetensi :
• Mempersiapkan investigasi kecelakaan & melakukan
pemeriksaan lokasi kecelakaan
• Mengumpulkan data, informasi dari saksi (wawancara),
peralatan dan/atau data pendukung lainnya
• Menganalisa data kecelakaan, menyimpulkan penyebab
kecelakaan, & menyimpulkan status kecelakaan
tambang
• Membuat rekomendasi tindakan perbaikan
• Membuat laporan investigasi kecelakaan tambang
KETENTUAN UMUM
• Recordable Incident : kejadian yg wajib dicatat di dalam buku
/ statistik kecelakaan perusahaan.
• Reportable Incident : kejadian yg wajib dilaporkan kepada
pemerintah.
• Recordable Incident terdiri dari : Non-Reportable Incident &
Reportable Incident,
• Ketentuan Pelaporan & Penyelidikan utk Non-Reportable
Incident diatur di dalam SOP perusahaan,
• Ketentuan Pelaporan & Penyelidikan utk Reportable Incident
diatur di dalam peraturan perundangan.

3
REPORTABLE INCIDENT
Kecelakaan Kerja
Adalah suatu kejadian yang tidak dikehendaki & tidak diduga
semua yang menimbulkan korban manusia &/ harta benda
(PerMenNaker No.3/1998).

Adalah kecelakaan yg terjadi berhubungan dg hubungan kerja,


termasuk penyakit yg timbul karena hubungan kerja, demikian
pula kecelakaan yg terjadi dalam perjalanan berangkat dari
rumah menuju tempat kerja, & pulamg ke rumah melalui jalan yg
biasa atau wajar dilalui (UU No. 3/1992 : Jaminan Sosial Tenaga Kerja).
REPORTABLE INCIDENT
Kecelakaan Tambang
Adalah kecelakaan yang memenuhi 5 kriteria sebagaimana
diatur dalam peraturan perundangan.
(Sumber : Kepmen ESDM No. 1827 K / 30 / MEM / 2018).

Kejadian Berbahaya
Adalah kejadian yang dapat membahayakan jiwa atau
terhalangnya produksi.
(Sumber : Kepmen ESDM No. 1827 K / 30 / MEM / 2018).
REPORTABLE DISEASES
Penyakit Akibat Kerja
Adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan &/ lingkungan kerja
sesuai dg peraturan perundangan (PerPres No. 7 / 2019).
Kejadian Akibat Penyakit Tenaga Kerja
Adalah kejadian meninggalnya pekerja yang disebabkan oleh penyakit
tenaga kerja ketika pekerja melakukan kegiatan pertambangan /
pengolahan / pemurnian, terjadi pada jam kerja, atau terjadi di dalam
wilayah pertambangan / pengolahan / pemurnian.
5 Kriteria Kecelakaan Tambang

1. Benar-benar Terjadi,
2. Mengakibatkan cidera pada pekerja tambang atau orang yang
diberi izin oleh KTT / PTL memasuki tambang,
3. Akibat kegiatan usaha pertambangan / pengolahan / pemurnian
/ kegiatan penunjang pertambangan,
4. Terjadi pada jam kerja pekerja tambang yg mendapat cidera
atau setiap saat untuk orang yang diberi izin oleh KTT / PTL
memasuki tambang,
5. Terjadi dalam wilayah kegiatan usaha pertambangan atau
wilayah proyek
(Sumber : Kepmen ESDM No. 1827 K / 30 / MEM / 2018, Lampiran III)
Kategori Cedera Akibat Kecelakaan Tambang

1. Cedera Ringan : korban tidak mampu melakukan tugas semula lebih dari
1 hari s/d kurang dari 3 minggu, termasuk hari minggu dan hari libur.
2. Cedera Berat : korban tidak mampu melakukan tugas semula lebih dari 3
minggu (termasuk hari minggu dan hari libur), atau
- cacat tetap yang tidak mampu menjalankan tugas seperti semula,
- Retak tulang (kepala, punggung, pinggul, lengan, paha atau kaki),
- Pendarahan di dalam,
- Pingsan / kurang oksigen,
- Luka berat atau luka terbuka / terkoyak yang dapat mengakibatkan
ketidak-mampuan tetap,
- Persendian lepas (untuk pertama kali).
3. Mati : kecelakaan tambang yang mengakibatkan pekerja tambang mati.
(Sumber : Kepmen ESDM No. 1827 K / 30 / MEM / 2018, Lampiran III)
Kriteria Kejadian Berbahaya
• Benar–benar terjadi,
• Berpotensi mengakibatkan kematian / terhentinya kegiatan lebih
dari 24jam,
• Akibat kegiatan usaha pertambangan, pengolahan dan /
permunian, kegiatan penunjang lainnya, kegagalan teknis sarana /
prasarana / instalasi / peralatan pertambangan atau kegagalan
dalam mengantisipasi factor alam yg berada di wilayah kegiatan
usaha pertambangan / pengolahan / wilayah proyek,
• Terjadi di wilayah kegiatan usaha pertambangan / pengolahan
atau wilayah proyek.
(Sumber : Kepdirjen ESDM No. 185.K/37.04/djb/2019, Lampiran 1)
Ketentuan Umum Penyelidikan Kecelakaan Tambang
& Kejadian Berbahaya

DEFINISI
Penyelidikan Kecelakaan Tambang / Kejadian Berbahaya
adalah kegiatan mengumpulkan data, melakukan analisis
terhadap data, membuat simpulan, serta memberikan tindakan
koreksi terhadap suatu kecelakaan tambang atau kejadian
berbahaya (SNI 7081:2016).
Ketentuan Umum Penyelidikan Kecelakaan
Tambang & Kejadian Berbahaya
• Tidak mengubah keadaan tempat / kondisi peralatan, sarana, prasarana,
instalasi akibat kecelakaan / kejadian berbahaya, kecuali utk
memberikan pertolongan pertama korban,
• Dalam hal dianggap perlu utk kepentingan keberlangsungan pekerjaan,
keadaan di tempat kecelakaan hanya dapat diubah dg persetujaun KaIT /
Kepala Dinas.
(Kepdirjen ESDM No. 185.K/37.04/djb/2019, Lampiran 1)

• Kecelakaan (tambang) & kejadian berbahaya dilakukan penyelidikan oleh KTT /


PTL/IT berdasarkan pertimbangan KaIT / Kepala Dinas atas nama KaIT dalam
waktu tidak lebih dari 2 x 24 jam.
• Pelaporan kecelakaan tambang & kejadian berbahaya HARUS DILAKUKAN
SEGERA oleh KTT/PTL ke KaIT.
(Kepmen ESDM No : 1827.K/30/MEM/2018, Lampiran III)
Prosedur Penyelidikan Kecelakaan &
Kejadian Berbahaya, dibagi :

• Pelaporan Awal,
• Pengamanan Lokasi & Barang Bukti di
Tempat Kejadian,
• Pembentukan Tim Investigasi,
• Tahapan Penyelidikan.
(Kepdirjen ESDM No. 185.K/37.04/djb/2019, Lampiran 1)
PELAPORAN AWAL KECELAKAAN
• Pelaporan awal kecelakaan tambang & kejadian berbahaya HARUS
DILAKUKAN SEGERA oleh KTT/PTL kepada KaIT.
• Setiap perusahaan harus mengatur tata cara pelaporan awal kecelakaan
tambang & kejadian berbahaya dari pengawas kepada KTT / PTL.
• Tata cara pelaporan awal non-reportable incident dijelaskan di dalam SOP.
• Pelaporan awal tertulis utk kecelakaan tambang & kejadian berbahaya
dikirimkan oleh KTT/PTL kepada KaIT dengan menggunakan formulir
standar yg telah ditentukan oleh pemerintah (formulir XVIA-
Pemberitahuan Awal Kecelakaan, formulir XVIB-Pemberitahuan Awal
Kejadian Berbahaya).
• Pelaporan awal tertulis utk non-reportable incident menggunakan formulir
yg telah ditentukan oleh perusahaan (Appendix B - Incident Notification).
PENANGANAN LOKASI KECELAKAAN :

1. Utk kecelakaan tambang berakibat cedera berat & mati,


KTT berupaya TIDAK mengubah lokasi kecelakaan, kecuali
utk pertolongan pertama &/ atas persetujuan KAIT.
2. Utk kecelakaan tambang berakibat cedera ringan, lokasi
dapat diubah setelah pengumpulan data / bukti
dilakukan.
3. Memasang batas pengamanan / barikade & tanda
peringatan dilarang masuk.
4. Menjaga & mengamankan lokasi sampai kebutuhan
penyelidikan dinyatakan selesai.
PENANGANAN LOKASI KECELAKAAN :

5. Mengambil dokumentasi data / bukti & lokasi kejadian


(dari semua sudut / arah),
6. Mengumpulkan & mengamankan / menyimpan barang
butki / data.
7. Mencatat keadaan cuaca, waktu, kondisi fisik lokasi,
barang bukti/data & kondisi fisiknya, serta saksi-saksi.
PENGAMANAN SAKSI :

1. Saksi kecelakaan dibagi menjadi 2 :


ü Saksi Langsung : orang yang menjadi korban & masih hidup, orang
yg melihat / mendengar / merasakan langsung kecelakaan.
ü Saksi Tidak Langsung : orang yang mengetahui korban, pekerjaan /
profesi korban, cedera korban, peralatan / material yg terlibat
kecelakaan.
2. Saksi langsung harus segera diidentifikasi & diamankan,
serta dilarang meninggalkan wilayah pertambangan / proyek
sampai proses penyelidikan selesai, kecuali utk keperluan
medis, perawatan, & kedaruratan atas pengetahuan KTT.
Langkah / Tahapan dalam Penyelidikan
Kecelakaan & Kejadian Berbahaya :

1. Persiapan Penyelidikan,
2. Pelaksanaan Penyelidikan,
3. Menyusun Laporan Penyelidikan,
4. Pemantauan Pelaksanaan Tindakan Koreksi,
5. Evaluasi Penyelidikan.
Langkah / Tahapan Penyelidikan
Kecelakaan & Kejadian Berbahaya :

1. Tahap Persiapan Penyelidikan :


• Pembentukan / penetapan tim investigasi,
• Persiapan peralatan ukur / uji (alat tulis, alat
dokumentasi, meteran, gas detector, dll),
• Pengumpulan data & fakta di lapangan.
TIM PENYELIDIK INTERNAL (INTERNAL
INVESTIGATOR TEAM) :

Adalah tim internal perusahaan yang memiliki


kompetensi & bertugas menyelidiki suatu
kecelakaan tambang, kejadian berbahaya,
atau kejadian hampir celaka di perusahaan
tempat tim tersebut bekerja.
WEWENANG INCIDENT INVESTIGATOR :

• Memasuki sarana / prasarana / lokasi


kecelakaan atau kegiatan investigasi,
• Mewawancarai saksi, orang yg terkait atau yg
dianggap memiliki informasi mengenai
kecelakaan,
• Menguasai, menggunakan, memindahkan,
memeriksa, atau menguji setiap bukti / fakta.
MEMBENTUK TIM INVESTIGASI
(INVESTIGATOR)

1. Tim dipimpin oleh Ketua / Koordinator Tim


Investigasi,
2. Tim terlatih untuk melakukan investigasi insiden,
3. Untuk Kecelakaan tambang berakibat cedera
berat & mati, KAIT menunjuk IT utk melakukan
penyelidikan & tim penyelidik internal
membantu IT dalam proses penyelidikan.
Langkah / Tahapan Penyelidikan
Kecelakaan & Kejadian Berbahaya :
2. Tahap Pelaksanaan :
• Melakukan rapat pra-penyelidikan antara tim penyelidik
& pihak terkait,
• Meminta semua data / bukti yg telah diamankan
• Menampung / mencatat informasi awal secara singkat ttg
kemungkinan penyebab kecelakaan,
• Memeriksa lokasi kejadian / kecelakaan utk
mengumpulkan data / bukti actual (olah tempat kejadian)
• Pembagian tugas tim penyelidik,
Langkah / Tahapan Penyelidikan
Kecelakaan & Kejadian Berbahaya :
2. Tahap Pelaksanaan :
• Mendokumentasikan semua fakta / bukti utk diolah /
analisis
• Mewawancarai semua saksi (saksi langsung / saksi tidak
langsung).
• Semua data / bukti / informasi dianalisis & disimpulkan
utk menetapkan penyebab kecelakaan menggunakan
suatu metode analisis penyebab kecelakaan.
• Merumuskan / menetapkan rekomendasi tindakan
perbaikan yang efektif agar kecelakaan dengan
penyebab yang sama tidak terjadi lagi.
MENGUMPULKAN DATA / BUKTI PENDUKUNG,
terdiri atas :
• Sketsa & photo lokasi dg dilengkapi data survey.
• Biodata korban & saksi langsung : riwayat kerja, kondisi
Kesehatan, & catatan kompetensi.
• Data Riwayat / kelayakan peralatan,
• Prosedur kerja, standar, persyaratan K3, data Pendidikan &
pelatihan K3, daftar hadir, dll.
• Catatan kondisi lingkungan kerja,
• Laporan awal dari pengawas langsung,
• Mengumpulkan data / bukti pendukung lainnya dapat juga
menggunakan metode 4P (People, Part, Position, & Paper).
MENGUMPULKAN DATA / BUKTI PENDUKUNG

Ø Mengidentifikasi bukti / data pendukung menggunakan


prinsip 4P :
 People (Saksi Langsung, Saksi Tidak Langsung)
 Part (Equipment, Tools, Material, Komponen)
 Position (Location, Movement)
 Paper (Records, Logs, Schedules, JSA /Procedures, HIRAC
Documents)
Ø Sumber data / bukti dapat diambil dari : pernyataan /
wawancara saksi, rekaman suara / video, atau
rekonstruksi.
WAWANCARA SAKSI
ü Menjelaskan maksud & tujuan dari wawancara, & tujuan
insvestigasi (bukan mencari siapa yang salah / mengadili / minta
pertanggung jawaban),
ü Wawancarai setiap saksi secara terpisah dengan cara santun
dan bersahabat,
ü Semua pernyataan harus dikonfirmasikan dengan fakta lainnya
untuk memastikan bahwa yang disampaikan saksi adalah fakta /
informasi yang benar,
ü Menyiapkan peralatan : kamera, alat rekam, alat tulis, kisi–kisi
pertanyaan,
ü Ice–breaking sampai saksi merasa nyaman,
WAWANCARA SAKSI

ü Mulailah dg pertanyaan ringan untuk menciptakan hubungan


personal yg akrab,
ü Hindari pertanyaan yg bersifat investigatif, mintalah saksi
bercerita apa saja yg diketahui / alami / lihat / kerjakan,
ü Jangan memotong saat saksi bercerita (meskipun ceritanya
melebar), biarkan saksi bercerita dg caranya sendiri,
ü Boleh menyela hanya utk meminta kejelasan / penguatan,
ü Dengarkan dg penuh antusias & sungguh–sungguh,
ü Ucapkan terima kasih, hargai semua info yg telah diberikan,
ü Hasil wawancara didokumentasikan.
ANALISIS PENYEBAB KECELAKAAN
q Semua data / bukti & informasi dianalisis & disimpulkan utk
menetapkan : penyebab lansung, penyebab dasar, &
kegagalan kendali manajemen (lack of control), serta factor
lain yg berkontribusi thd penyebab kecelakaan.
q Metode analisis yang digunakan harus menggambarkan
model teori penyebab kecelakaan :
ü Kerugian akibat kecelakaan,
ü Jenis kecelakaan / kontak,
ü Tindakan & kondisi tidak aman yg ditimbulkan oleh adanya
penyebab dasar (factor pribadi / factor pekerjaan),
ü Kurangnya control pada manajemen (lack of control).
ANALISA MENCARI PENYEBAB INSIDEN
TEORI DOMINO FRANK E. BIRD (LOSS CAUSATION MODEL)

PENYELIDIKAN / INVESTIGASI

LEMAH SEBAB DASAR KECELAKAAN KERUGIAN


SEBAB
KONTROL
FAKTOR LANGSUNG KONTAK
PROGRAM TAK CIDERA ATAU
PERSONAL TINDAKAN DENGAN
SESUAI KERUSAKAN
TAK AMAN ENERGI ATAU YANG TAK
STANDAR TAK FAKTOR BAHAN / ZAT
SESUAI DIHARAPKAN;
PEKERJAAN KONDISI TAK MELEBIHI BATAS
KEPATUHAN / STOP PRODUKSI
AMAN KEMAMPUAN
PELAKSANAAN
LAPORAN PENYELIDIKAN INSIDEN Nom or Register Insiden 01/20/2019
Nam a Perusahaan PT X

PETUNJUK : Pilihlah Penyebab Langsung yang teridentifikas i dari data pendukung dan fakta di lokasi kejadian. Lalu
LANGKAH 1 kembangkan dengan m enggunakan Teory Domino untuk mencari Akar Masalah / Root Causes .

PENYEBAB LANGSUNG PENYEBAB TIDAK LANGSUNG KURANGNYA PENGAWASAN


(SISTEM / SOP / STANDAR : TIDAK
FAKTA / BUKTI / INFORMASI (TINDAKAN / KONDISI TIDAK (FAKTOR PERSONAL /
ADA, TIDAK MEMADAI, TIDAK
AMAN) PEKERJAAN) DIIMPLEMENTASIKAN)

1. Form Absensi (Tidur 3 jam). Mengemudi dlm kondisi Sering lembur (masalah Belum ada program konseling
2. Hasil wawancara dari istri korban & fatigue. finasial keluarga). personal untuk karyawan.
atasan
3. Surat perintah lembur. Belum ada standar jam kerja
maksimal per hari.

Overload (3 driver resigned).Tingkat kesejateraan kurang.


Belum ada standar jam kerja
maksimal per hari.

1. Posisi gear kendaraan sarana. Mengemudi dg kecepatan Overload (3 driver resigned).Tingkat kesejateraan kurang.
2. Hasil wawancara dari saksi. tinggi.
3. Analisa kerusakan unit Belum ada standar jam kerja
maksimal per hari.

Perilaku ceroboh (Attitude). Sistem rekruitmen tidak


memadai.

Belum ada program konseling


personal.

Belum ada program observasi


tugas.

1. Gambar engineering dari jalan. Kondisi jalan tidak aman Pembuatan jalan tidak Belum ada prosedur MOC
2. Standar jalan tambang. (menurun & menikung : 10% 30m)
menggunakan design (Management of Change)
10%, 30meter). engineering.
Belum ada personal kompeten
di bidang konstruksi jalan.

Tidak ada analisa risiko Belum ada prosedur HIRA.


sebelum jalan digunakan.
TUGAS / PRAKTIK :

• Ambil & pelajari Laporan Penyelidikan


Kecelakaan yang Anda gunakan sbg Bukti
Kompetensi (yang telah dikirim ke LSP).
• Dari laporan tersebut, identifikasi :
– Data / Bukti / Fakta yg telah diidentifikasi ?
– Jenis Kerugian dari kecelakaan tsb.
– Kronologi singkat & type / jenis kecelakaan
yg terjadi.
– Penyebab Langsung Kecelakaan.
– Penyebab Dasar Kecelakaan.
31
REKOMENDASI TINDAKAN PERBAIKAN / PENCEGAHAN

Ø Disusun berdasarkan basic contributing factors


(penyebab kecelakaan) yg teridentifikasi,
Ø Mencakup jenis tindakan perbaikan / pencegahan :
pra-kontak, kontak, & pasca-kontak,
Ø Hierarki Pengendalian Risiko sbg pedoman di
dalam merumuskan tindakan pengendalian.
REKOMENDASI TINDAKAN PERBAIKAN /
PENCEGAHAN
• Pengendalian Pre-Kontak, bertujuan untuk mencegah kecelakaan yg
sama terjadi lagi,
Contoh : improve program kerja K3, improve SOP / standar kerja /
dokumen manajemen risiko, dll
• Pengendalian Kontak, bertujuan untuk mengurangi tingkat keparahan
jika terjadi kecelakaan.
Contoh : mengurangi jumlah paparan & energi, memasang pelindung,
memperkuat struktur.
• Pengendalian Pasca-Kontak, bertujuan untuk mengurangi kerugian
jika kecelakaan telah terjadi.
Contoh : sistem & peralatan tanggap darurat, isolasi peralatan / barang
yang rusak, program rehabilitasi kerja.
33
REKOMENDASI TINDAKAN PERBAIKAN /
PENCEGAHAN

HIERARKI PENGENDALIAN RISIKO :


ü REKAYASA, seperti : eliminasi, subtitusi, isolasi.
ü ADMINISTRASI, seperti : rambu peringatan, pemilihan
pekerja, rotasi / jadwal kerja, pembatasan jam kerja,
pemilihan kontraktor, dll.
ü PRAKTIK KERJA, seperti : implementasi JSA, SOP, instruksi
kerja, pelatihan, dll.
ü ALAT PELINDUNG DIRI.

34
REKOMENDASI TINDAKAN PERBAIKAN /
PENCEGAHAN
HIRARKI PENGENDALIAN RISIKO
1. Eliminasi / Elimination : upaya untuk menghilangkan sumber
potensi bahaya yang berasal dari bahan, proses, operasi, atau
peralatan.
2. Substitusi / Subtitution : upaya untuk mengganti bahan, proses,
operasi atau peralatan dari yg berbahaya menjadi tdk berbahaya
3. Isolasi / Isolation : upaya memisahkan sumber bahaya & pekerja
dengan memasang sistem pengaman pada alat, mesin, &/ area kerja.
4. Administrative & Praktik Kerja : upaya pengendalian dari sisi
pekerja / cara kerja agar dapat melakukan pekerjaan dg aman.
5. APD / PPE : upaya penggunaan alat yang berfungsi untuk
mengisolasi sebagian atau seluruh tubuh dari sumber bahaya.
LAPORAN PENYELIDIKAN INSIDEN Nomor Register Insiden 01/20/2019
Nama Perusahaan PT X

PETUNJUK : Salinlah semua Akar Masalah (dari langkah 1) ke dalam kolom di bawah ini dan gunakan Hierarki
LANGKAH 2 Pengendalian Resiko untuk menentukan Tindakan Pengendalian yang akan dilakukan.

Akar Masalah yang Menjadi Penyebab ALAT PELINDUNG


No
Timbulnya Insiden
REKAYASA ADMINISTRASI PRAKTIK KERJA
DIRI
1 Belum ada program konseling personal untuk Menyusun & implementasi Pelatihan teknik
program konseling personal konseling utk semua
karyawan. utk seluruh karyawan. pengawas.

2 Belum ada standar jam kerja maksimal per hari. Menyusun standar jam kerja
maksimal per hari.

3 Overload (3 driver resigned). Menugaskan 3 driver dump Segera rekrut driver sarana
truck untuk menggantikan 3 pengganti.
driver sarana yang resigned.

4 Tingkat kesejateraan kurang. Penyesuaian tingkat Review tingkat kesejahteraan


kesejahteraan karyawan karyawan dg melakukan
berdasarkan hasil bench bench marking ke
marking. perusahaan lain.
5 Sistem rekruitmen tidak memadai. - Re-assessment semua
karyawan.
- Review & revisi prosedur
rekruitment karyawan.
6 Belum ada program observasi tugas. Menyusun prosedur Pelatihan teknik
pbservasi tugas. observasi tugas utk
semua pengawas.
Langkah / Tahapan Penyelidikan
Kecelakaan & Kejadian Berbahaya :
3. Tahap Pelaporan :
• Memasukkan / input semua hasil penyelidikan kecelakaan
ke dalam formulir atau sistem on-line :
– Semua informasi terkait dg kecelakaan (Appendix E - Incident
Analysis Form)
– Type / jenis kecelakaan dan semua penyebab kecelakaan
(Appendix F - Incidents Contributing Factors List)
– Semua rekomendasi tindakan pencegahan / pengendalian.
• Meminta persetujuan (approval) dari manajemen,
Langkah / Tahapan Penyelidikan
Kecelakaan & Kejadian Berbahaya :
3. Tahap Pelaporan :
• Mendistribusikan laporan ke semua pihak terkait (internal
& eksternal) :
– Semua pengawas, tim leaders ke atas,
– Semua orang yg bertanggung jawab di dalam tindakan
perbaikan,
– Pengawas & pekerja teknis terkait,
– EHS Committee,
– Dinas ESDM / Dinas Tenaga Kerja (jika diminta),
– Tokoh masyarakat (jika diminta).
Langkah / Tahapan Penyelidikan
Kecelakaan & Kejadian Berbahaya :
4. Pemantauan Pelaksanaan Tindakan Koreksi :
• Semua orang yg bertanggung jawab wajib melakukan
tindakan perbaikan tepat waktu,
• Wajib mengkomunikasikan ke atasan / manajemen jika
menemukan kendala,
• Pemantauan pelaksanaan tindakan perbaikan dilakukan
oleh :
– EHS Committee.
– Departmental EHS Committee.
– Corporate or external 3rd party audit
Langkah / Tahapan Penyelidikan
Kecelakaan & Kejadian Berbahaya :
5. Evaluasi Penyelidikan
• Dilakukan secara menyeluruh terhadap :
– Tahapan penyelidikan kecelakan,
– Hasil dari pelaksanaan tindakan koreksi /
perbaikan
Thank You
Terima Kasih

PT Prosyd Traicon Utama

Balikpapan Office Berau Office


Ruko Perum Pelangi B-Point Blok Ruko Perumahan Berau Indah No. 9
C2 Jln. Durian 3, Kec. Tanjung Redeb
Jln. Syarifuddin Yoes
Kab. Berau
Kec. Balikpapan Selatan
Kalimantan Timur
Kota Balikpapan
T : (0554) 2021244
Kalimantan Timur
T : (0542) 8510529 E : [Link]@[Link]

E : [Link]@[Link] 41

Anda mungkin juga menyukai