Sistem Direct Drive pada Alat Berat
Sistem Direct Drive pada Alat Berat
MECHANIC DEVELOPMENT
PT PAMAPERSADA NUSANTARA
2003 1
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, Sehingga dapat tersusun buku “ SISTEM
PEMINDAH MEKANIS “ Buku ini disusun untuk melengkapi bahan pelatihan di lingkungan PT
Pamapersada Nusantara khususnya Plant Departement.
Buku ini disajikan dalam bentuk yang sederhana, dengan harapan dalam pemahamannya akan lebih
mudah, khususnya bagi Calon Mekanik atau Junior Mekanik dibidang Alat-alat Berat.
Dengan segala kerendahan hati penyusun menyadari bahwa buku ini masih jauh dari sempurna, maka
dengan keterbatasan yang ada penyusun sangat mengharap kritik dan saran dari para pembaca untuk
meningkatkan kesempurnaan buku ini sehingga tidak terjadi salah persepsi untuk pemahaman dari isi dan
makna terhadap buku ini.
Akhirnya penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga
terselesaikannya buku ini.
Penyusun
Mechanic Development
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I. CLUTCH
Mechanic Development. 3
PT Pamapersada Nusantara
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB III. T R A N S M I S I
Mechanic Development. 4
PT Pamapersada Nusantara
DAFTAR ISI
A. MAIN CLUTCH………………………………………………IV- 1 - 6
1. Cara Mengetes Clutch Slippage……………………………IV- 2 - 6
2. Cara Menyetel Clutch Over Center Type………………….IV- 2 - 6
3. Cara Menyetel Clutch Spring Type ………………………IV- 3 - 6
B. INERTIA BRAKE…………………………………………… IV- 4 - 6
1. Pengetesan ……………………………………………….. IV- 5 - 6
2. Penyetelan………………………………………………….IV- 5 - 6
[Link]…………………………………………………..IV- 6 - 6
Mechanic Development. 5
PT Pamapersada Nusantara
CLUTCH
Mechanic Development. 6
PT Pamapersada Nusantara
CLUTCH
PENDAHULUAN.
Clutch merupakan suatu komponen penghubung dalam rangkaian penerusan tenaga (power train) pada
suatu kendaraan. Clutch terletak diantara engine dan transmisi bertindak sebagai penghubung ataupun
pemutus daya/putaran dari engine ke transmisi.
Fungsi clutch :
Clutch sebagai bagian dari suatu sistem power train banyak digunakan dikendaraan, kecuali beberapa
jenis kendaraan yang sistem power trainnya menggunakan type hydraulic.
Berkaitan dengan fungsinya dalam suatu sistem power train, clutch harus dapat memenuhi persyaratan
tertentu agar kendaraan dapat bergerak / berjalan dengan baik dan pengoperasiannya juga tidak
menyusahkan operator.
Mechanic Development. 7
PT Pamapersada Nusantara
CLUTCH
Mechanic Development. 8
PT Pamapersada Nusantara
CLUTCH
~ Harus bisa menghubungkan dan memutuskan ( engaged / disengaged ) dengan baik, sehingga
memungkinkan untuk meneruskan ataupun memutuskan tenaga dari engine ke transmisi.
~ Harus memiliki torque transmitting capacity ( kemampuan meneruskan tenaga ) yang cukup dan
kemampuan tidak boleh menurun akibat naiknya temperatur kerja.
~ Harus bisa melepaskan / memindahkan panas yang timbul dengan baik dan tidak terpengaruh oleh
kenaikan temperatur.
~ Konstruksinya sederhana.
~ Harganya tidak terlalu mahal.
~ Effisiensi lebih tinggi ( lebih kurang 95 % ).
~ Maintenance / perawatan lebih mudah.
~ Kemungkinan timbulnya masalah karena adanya kebocoran oli lebih kecil.
Mechanic Development. 9
PT Pamapersada Nusantara
CLUTCH
Jika dilihat dari prinsip kerjanya, beragam jenis clutch tetapi yang paling umum / banyak digunakan adalah :
1. Friction Clucth.
Clutch jenis ini dalam penerusan tenaga/putaran adalah dengan cara menempelkan ( engaged ) dua bidang
permukaan, sehingga tenaga / putaran dari bidang permukaan yang satu dapat diterima oleh bidang permukaan
yang lainnya.
~ Macam - macam type friction clutch :
- Disc dan plate type.
- Cone type.
Mechanic Development. 10
PT Pamapersada Nusantara
CLUTCH
2. Fluid Coupling.
Clutch jenis ini dalam penerusan tenaganya melalui media cairan / fluida.
Secara umum clutch jenis ini dapat dibedakan atas :
~ Torque converter.
~ Fluid coupling.
Mechanic Development. 11
PT Pamapersada Nusantara
CLUTCH
Untuk selanjutnya yang akan kita bahas adalah yang jenis Friction Clutch, terutama Type Disc
dan Plate : karena Clutch Type ini yang paling banyak digunakan pada kendaraan ( Automobile ) maupun alat-
alat berat.
1. Dry Type : Panas yang timbul pada Disc Clutch akibat Friction / gesekan pada saat awal Engage
/ disengage, di lepas langsung ke udara. Strukturnya lebih sederhana dan tidak
mungkin terjadi problem kebocoran oli.
2. Wet Type : Panas yang timbul pada Disc di lepas ke Oli dan juga Oli tersebut berfungsi sebagai
untuk melumasi bagian - bagian yang bergerak lainnya.
3. Multi Disc Type : Menggunakan tiga atau lebih disc ( Driven Plate ).
Mechanic Development. 12
PT Pamapersada Nusantara
CLUTCH
1. Spring Type : Untuk Engaged Disc dan Plate menggunakan tekanan dari Spring (
Spring Loaded ) dan pengoperasiannya digerakkan dengan pedal ( untuk
mendisengaged-kan ).
~ Multi Spring.
~ Single Spring.
2. Over Center Type : Untuk Enggaged Disc dan Plate menggunakan tekanan dari dari
komponen Over Center ( Link, Roller dan Weight ) dan
pengoperasiannya digerakkan dengan Lever ( untuk Engaged maupun
Disengaged ).
Mechanic Development. 13
PT Pamapersada Nusantara
Jika torque transmitting capacity clan suatu clutch lebih kecil dari maximum torque yang dikeluarkan
engine, maka tidak akan tercapai maximum torque pada transmisi karena terjadinya slip pada clutch.
Sebaliknya jika torque transmitting capacity suatu clutch terlalu besar dibanding torque maximum
yang dikeluarkan engine, maka akan mengakibatkan engine stall ( mati ) pada saat transmisi
mendapat beban berlebihan (over load ).
T = n . Z . µ . p . do + di ( kgm )
4000
Dimana : T = Torque transmitting capacity.
η = Faktor koreksi.
z = Jumlah permukaan yang bersinggungan.
µ = Koeffisien gesek.
P = Tekanan total yang bekerja pada pressure plate ( kg ).
do = Diameter luar bidang kontak disc ( mm ).
di = Diameter dalam bidanq kontak disc ( mm ).
14
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
Setelah penggunaan biasanya nilai torque transmitting capacity suatu clutch mungkin akan
menurun.
Hal ini yang akan menyebabkan terjadinya slip ( di rasakan low of power )
Pada dry type clutch, slip yang terjadi umumnya diakibatkan oleh :
~ Pada permukaan clutch terdapat oli.
~ Tekanan terhadap clucth berkurang.
~ Keausan pada facing material disc / driven plate.
15
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
C. FRICTION CLUTCH.
1. Spring Type.
[Link]
[Link]
[Link] yoke
[Link] bearing
[Link] lever
[Link] plate
[Link] engaged
[Link] booster
16
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
Clutch Spring Type
pada Bulldozer.
1. Clutch shaft
2. Pilot bearing
3. Flywheel
4. Driven plate guide gear
5. Driven plate
6. Drive plate
7. Pressure plate
8. Release lever
9. Release lever yoke
10. Clutch spring
11. Clutch cover
12. Return spring
13. Adjustment nut
14. Bracket
15. Lock
16. Pump drive gear
17. Rod
18. Release Cooler
19. Release bearing
20. Bearing cage
21. Release yoke
22. Strainer
17
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
Prinsip kerjanya :
Plate ( Drive Plate, 6 ) bergigi di lingkaran luarnya dipasang pada Flywheel, sedangkan Disc ( Driven Plate, 5 )
dipasang pada Driven Plate Guide Gear ( 4 ). Guide Gear dihubungkan dengan Output Shaft ( 1 ) melalui Spine.
Posisi engage :
Clucth Spring ( 10 ) duduk antara Release Collar ( 18 ) dan Spring Seat. Spring Seat terpasang pada
Clutch Cover ( 11 ), akibatnya spring mempunyai gaya dorong ke arah Î, sehingga Release Collar ( 18 ) akan
terdorong ke arah Î. Rod ( 17 ) satu ujungnya diikatkan pada Release Collar ( 18 ), akibatnya ketika Release
Collar ( 18 ) bergerak maka Rod ( 17 ) juga akan ikut terbawa. Ujung lain dari Rod ( 17 ) dipasang pada Release
Lever ( 8 ), sedang bagian lainnya dari Release Lever ( 8 ) berfungsi untuk menekan Pressure Plate ( 7 ).
Release Lever ( 8 ) dipasangkan secara engsel pada Release Lever Yoke ( 9 ) dengan perantaraan pin A.
Apabila Rod ( 7 ) bergerak ke arah Î, maka Release Lever ( 8 ) yang dipasangkan pada Rod akan ikut
tertarik ke arah Î dan bagian lainnya dari Release Lever akan bergerak ke arah Î dan bagian lainnya dari
Release Lever akan bergerak ke arah Í menekan Pressure Plate ( 7 ). Pada keadaan ini, Plate ( Driving
Plate ) dan Disc ( Driven Plate ) menjadi Engage, sehingga putaran dari Flywheel dapat diteruskan ke
Output Shaft ( 1 ).
Posisi disengage :
Ketika Release Collar ( 18 ) didorong ke arah Í melawan kekuatan Clutch Spring ( 10 ), maka Rod ( 17 )
juga akan terdorong ke arah Í. Gerakan ini akan membuat Release Lever ( 8 ) yang dipasang pada Rod
bergerak ke arah Í, sehingga bagian lainnya akan bergerak ke arah Î maka tidak lagi menekan Pressure
Plate ( 7 ). Pada posisi ini Plate ( Driving Plate) dan Disc ( Driving Plate ) Disengage. Pada Clutch Type Spring
ini kondisi normalnya adalah selalu dalam keadaan Engage.
18
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
Contoh lain, Clutch Spring Type.
Keterangan :
Gbr. I - 6. Clutch Spring Type ( Double Disc, Dry Type, Foot Operated & Spring Booster ).
19
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
Komponen Utama main Clutch Spring Type :
20
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
2. OVER CENTER TYPE.
Collar ( 1 ) dapat bergeser pada Clutch Shaft ( 2 ) melalui pergerakan Yoke ( 3 ). Collar dihubungkan dengan
Link ( 4 ), Link Weight ( 5 ) dan Roller ( 6 ). Pada Connection point B antara Link dan Link Weight dipasang Roller ( 6 )
yang akan menekan Pressure Plate ( 7 ), Link Weight dipasang pada Clutch Cover Adjusment Ring Nut ( 8 ) di
Connection point C, karena Clutch Cover dibaut dengan Fly wheel, maka ( 1 ), ( 4 ), ( 5 ), ( 6 ), ( 7 ) dan ( 8 ) selalu
berputar bersama dengan Flywheel.
21
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
CARA KERJA :
Clutch Engage :
Ketika Yoke ( 3 ) digerakkan ke Í ( ke arah Flywheel ),Collar (
1 ) bersama Connection point A akan bergerak ke arah Í dan
Connection point B akan tertarik ke arah Î ( ke arah Clutch
Shaft ), sedangkan Link Weight ( 5 ) akan berputar pada titik C
dan bergerak ke arah Î ( menjauhi Clutch Shaft ). Jika ( 1 ),
( 2 ), ( 4 ), ( 5 ), ( 6 ), ( 7 ) dan ( 8 ) pada saat itu berputar,
Link Weight ( 5 ) akan tertarik keluar (Ð ) oleh gaya
Centrifugal W dan Connection point B akan makin cenderung
terdorong ke dalam ( Ï ). Sehingga Connection point A akan
makin mendekati Flywheel dan gaya dorong F akan menekan
Pressure Plate ( 7 ), akibatnya Plate dan Disc akan Engage.
Posisi ini akan tetap / terkunci selama Collar ( 1 ) tidak
digerakkan / ditarik.
22
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
CARA KERJA :
Clutch Disengage :
Ketika Yoke ( 3 ) digerakkan ke Î ( ke arah Transmisi ),
collar ( 1 ) bersama Connection point A akan bergerak ke arah
Î dan Connection point B akan tertarik ke arah Ï
( ke arah Clutch Shaft ) sedangkan Link Weight ( 5 ) akan
berputar pada titik C dan bergerak ke arah Ð ( luar ).
Jika ( 1 ), ( 2 ), ( 4 ), ( 5 ), ( 6 ), ( 7 ) dan ( 8 ) pada saat
itu berputar, Link Weight ( 5 ) akan tertarik ke luar (Ð ) oleh
gaya Centrifugal W dan Connetion point B akan makin cenderung
terdorong ke arah dalam (Ï , sehingga Connection point S akan
cenderung bergerak ke arah Î oleh gaya R dan Roller ( 6 )
tidak lagi menekan Pressure Plate (7). Dan dengan adanya
Return Spring pada Pressure Plate segera membuat Plate dan
Disc Disengage. Posisi ini akan tetap demikian selama Collar ( 1
) tidak digerakkkan / didorong.
23
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
Main Clutch
Over Center Type :
[Link] Disc
[Link] link
[Link]
[Link] plate
[Link]
[Link]
[Link] plate
[Link] clutch shaft
[Link]
[Link]
[Link] seal
[Link]
Gbr. I - 6. Main Clutch Over Center Type [Link]
Gambar menunjukkan pada posisi “ engage “. [Link]
24
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
Komponen Utama Clutch Over Center Type :
Gbr. I - 10. Komponen Utama Clutch Over Center Type ( Bulldozer D80 - 12 ).
25
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
3. Komponen-Komponen Utama Kopling ( Clutch ).
a. Disc.
Dalam bentuk dan jenis Disc tergantung pada tujuan penggunaan Clutch tersebut. Standard bentuk
Disc dan penamaan bagian-bagiannya ( nomenclature ) adalah sebagai berikut
Gbr. I - 11. Ukuran dan Nama - Nama Bagian Disc.
Pola alur Disc :
Bentuk pola alur ( Pattern ) sengaja dibuat pada permukaan bidang gesek (
Facing Material ) dari Disc dengan tujuan untuk pendinginan Clutch, mengurangi kerugian gesek / Slip dan untuk
memungkinkan oli terbebas / keluar pada saat Engage.
Gbr. I - 12. Macam - macam bentuk pola alur ( Pattern ) pada Disc.
26
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
* Facing material dan koefisien gesek ( µ ) pada disc :
27
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
c. Clutch Spring.
S Main Spring.
Spring ini digunakan hanya pada Main Clutch Type Spring dan berfungsi
sebagai sumber tenaga yang akan menekan Pressure Plate agar Disc
dan Plate dapat Engage
S Return Spring.
Spring ini bertugas untuk menarik kembali Pressure Plate pada saat
Clutch diposisikan Disengage.
28
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
d. Adjuster.
Pada saat Clutch Disc sudah aus, Clutch akan cenderung Slip ketika mendapat beban berat. Untuk mengatasinya (
sebelum Disc benar-benar aus / habis ) dapat dilakukan dengan mengencangkan Adjuster. Pada prinsipnya dengan
mengencangkan Adjuster tersebut menekan Pressure Plate lebih jauh agar celah / clearance antara disc dan plate kembali
menjadi kecil / rapat.
1. Pedal
Pada Unit yang memakai Clutch Spring type, proses disengage dengan jalan
menekan pedal.
Type pedal :
a. Mechanical
b. Booster : ~ Spring booster.
~ Hydraulic booster : S Single acting.
S Non servo type.
S Servo type.
31
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
a. Mechanical Type.
Type pergerakkan / pengontrolan Mechanical ini banyak / umum
digunakan di automobile, ciri-cirinya :
S Konstruksi sederhana.
S Pergerakan secara langsung dengan melalui linkage-linkage.
S Membutuhkan tenaga yang besar untuk mengoperasikannya, karena
langsung melawan kekuatan dari Clutch Spring.
32
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
b. Booster Type.
Untuk membantu meringankan injakan pedal supaya operator tidak cepat
lelah harus melawan gaya Spring pada Clutch, maka dibantu dengan
Booster.
1. Spring Booster.
Booster Type ini menggunakan kekuatan Spring yang akan membantu
operator ketika menekan Pedal untuk men-disengage-kan Clutch.
33
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
2. Hydraulic Booster.
Booster type ini menggunakan Oli bertekanan ( Pressure Oil ) yang akan membantu operator ketika akan
men-disengagge-kan Clutch / menekan Pedal Clutch.
Type Booster yang dipakai untuk ini adalah Single Acting Type, dipakai pada Unit Bulldozer.
Mechanic Development.
34
PT Pamapersada Nusantara
Gbr. I - 21. Hydraulic Booster ( Single Acting Type ) posisi “ OFF “ ( Clutch Posisi Engage ).
Mechanic Development.
35
PT Pamapersada Nusantara
Ketika Clutch Di-disengage-kan :
Ketika pedal Clutch ditekan / diinjak, Lever ( 33 ) bergerak ke arah Í menekan Valve ( 29 ) dimana Valve tersebut
akan menutup saluran B pada Piston ( 28 ). Pada saat demikian Oil Flow tidak dapat melalui saluran B,sehingga
tekanan di ruang A akan naik dan mendorong Piston ( 28 ). Pada saat Piston ( 28 ) bergerak ke arah Í, maka Piston
tersebut akan mendorong Lever ( 34 ), gerakan tersebut dipakai untuk menekan Spring Clutch sehingga Disc dan
Plate Disengage).
.Gbr. I - 22. Hydraulic Booster ( Single Acting Type ) posisi “ ON “ ( Clutch Posisi Disengage )
Mechanic Development.
36
PT Pamapersada Nusantara
1. Gear Pump
2. Clutch shaft
3. Plate
4. Disc
5. Flywheel
6. Ring gear
7. Ring gear
8. Clutch cover
9. .Adjusting Ring
10. Cylinder
11. Hydraulic booster
12. Pipe
13. Lever
14. Return spring
15. Valve
16. Lock nut
17. [Link] Yoke
18. .Inertia brake drum
19. Filter screen
20. Flange
21. Rod
22. Return spring
23. Main clutch spring
Gbr. I - 23. Sirkuit Hidrolik pada Main Clutch Spring Type dan Single Acting Booster.
Mechanic Development.
37
PT Pamapersada Nusantara
S Non Servo Type.
Type ini terdiri dari komponen Master Cylinder ( sebagai pembagkit tekanan pada Oli ) dan operating Cylinder
( sebagai Actuator, yang menggerakkan Clutch ).
Mechanic Development.
38
PT Pamapersada Nusantara
Gbr. I - 25. Rangkaian Pengontrolan Clutch pada Servo Type.
S Servo Type.
Pada type ini tidak hanya menggunakan tekanan Oli, tetapi juga memanfaatkan tekanan udara dari Compressor.
Komponen terdiri dari Master Cylinder dan Clutch Booster. Clutch Booster ini yag bertindak sebagai Actuator, yang
mana bekerjanya berdasarkan tekanan oli dan tekanan udara.
Mechanic Development.
39
PT Pamapersada Nusantara
B. Lever.
Pada Over Center Type Clutch untuk meng-engage maupun Disengage Clutch dikontrol dengan memakai Lever.
Supaya operator tidak cepat lelah, maka dilengkapi dengan Booster ( Hydraulic Booster ) Double Acting
Type yang akan membantu operator meng-engage maupun Disengage Clutch.
Mechanic Development.
40
PT Pamapersada Nusantara
B. Lever.
Mechanic Development.
41
PT Pamapersada Nusantara
1. Yoke
2. Spool
3. Sleeve
Prinsip kerja :
1. Men-disengage-kan Main Clutch.
Sewaktu Main Clutch Lever didorong / digerakkan ke depan untuk Disengaged Booster Spool ( 2 ) akan
bergerak Í melalui Linkage. Oil dari Main Clutch Pump masuk Port A dan B pada Booster Sleeve ( 3 ).
Sewaktu Booster Spool ( 2 ) bergerak Í, Oli pada Port A akan masuk ke Port C melalui celah “ a “ antara
Booster Sleeve ( 3 ). Oli yang terjebak pada Port E tekanannya akan naik dan akhirnya akan mendorong
Sleeve ( 3 ) ke arah Í dan Main Clutch Yoke ( 1 ) yang terpasang pada Booster Sleeve akan bergerak untuk
posisi [Link] saat Booster Sleeve bergerak ke arah Í, celah “ a “ antara Sleeve dan Spool akan
menyempit, sebaliknya celah “ c “ akan makin membuka hingga akhirnya tekanan Oli yang ada di Port E akan
didrain melalui Port C dan saluran Drain. Pada posisi ini tercapai keseimbangan ( posisi netral antara Sleeve
dan Spool ). Booster Sleeve akan kembali bergerak jika Spoolnya kita gerakan / dorong ke arah Í lagi.
Mechanic Development.
42
PT Pamapersada Nusantara
1. Yoke
2. Spool
3. Sleeve
Sewaktu Main Clutch Lever ditarik ke belakang untuk Engaged, Booster Spool ( 2 ) akan bergerak ke arah Î
melalui Lever dan Linkage. Oil dari Main Clutch Pump masuk Port B dan kemudian melalui celah “ b “ dan akhirnya ke
Port F. Oli yang terjebak pada Port F akan menekan Booster Sleeve ( 3 ) ke arah Î dan Main Clutch Yoke yang
terpasang pada Engaged.
Pada saat Booster Sleeve bergerak ke arah Î, celah “ b “ antara Sleeve dan Spool akan makin menyempit,
sebaliknya celah “ d “ akan terbuka . Ketika celah “ d “terbuka Oli yang terjebak di Port F akan dapat Drain melalui Port D
dan celah “ d “. Akibatnya Sleeve tidak akan bergerak Î lebih jauh lagi.
Booster Sleeve akan kembali bergerak jika Spoolnya kita gerakkan / tarik ke arah Î lagi ( untuk menutup celah “
d “ lagi ). Karena bekerjanya yang berurutan seperti di atas, maka pergerakkan Booster bisa lebih halus ( Smoothly ).
Sedangkan tenaga yang dibutuhkan operator untuk Disengaged/Engaged Main Clutch hanya sekedar untuk
menggerakkan Spool agar menutup celah “ c “ ( untuk Disengaged) ataupun celah “ d “ ( untuk Engage ).
Mechanic Development.
43
PT Pamapersada Nusantara
44
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
HYDRAULIC CIRCUIT PADA MAIN CLUTCH OVER CENTRE TYPE
Gbr. I - 29. Rangkaian Hidrolis dan Sirkuit Hidrolik pada Clutch Over Center Type dan Double Acting Booster.
45
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
1. Main clutch pump 5. P.T.O case
2. Main clutch booster 6. Main clutch case
3. Main relief valve
4. Main clutch A. Tap for main clutch booster pressure
Gbr. I - 29. Rangkaian Hidrolis dan Sirkuit Hidrolik pada Clutch Over Center Type dan Double Acting Booster.
46
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
I N E RT I A B R A K E BAB II
47
Jika Main Clutch di-disengage-kan, maka Output Shaft Main Clutch masih berputar karena gaya Inertia.
Apabila pada saat tersebut Lever Pemindah kecepatan dipindahkan kekecepatan yang lebih tinggi / rendah,
maka akan timbul suara yag berisik. Juga gigi kecepatan tidak bisa berhubungan ( Mesh ).
Agar pemindahan kecepatan tidak mengalami hal-hal yang tidak diinginkan seperti diatas, maka tidak boleh ada
ada putaran dari Input Shaft Transmisi, Untuk menghentikan putaran dari Main Clutch Output Shaft tersebut di
rem dengan Inertia Brake.
Inertia Brake ini dipasang pada Clutch yang berpasangan dengan tranmisi Tipe Sliding dengan Constant Mesh.
48
1. Main clutch shaft 5. Lock plate
2. Inertia brake drum 6. Adjustment bolt
3. Inertia brake band lining 7. Brake lever
4. Inertia brake band
Cara kerja :
Ketika main Cluth diposisikan ke Disengage, Brake Drum ( 2 ) yang dibaut dengan Main Clutch Shaft akan direm
dengan Brake Band ( 3 ), sehingga putaran Main Clutch Shaft terhenti.
49
TRANSMISI BAB III
50
Fungsi Transmisi :
Mengatur kecepatan gerak dan torque serta berbalik putaran, sehingga dapat bergerak maju dan mundur.
A. PRINSIP DASAR.
Pada dasarnya transmisi itu terdiri dari beberapa road gigi yang disusun pada beberapa poros roda gigi yang
ditumpu sejajar.
Output Torque
T = Rm x TA
T = Output torque.
Rm = Gear ratio
TA = Input torque.
Contoh : Dua buah roda gigi yang berdiameter tidak sama dipasangkan
sedemikian rupa sehingga roda gigi yang satu memutar roda gigi
yang lain.
Roda gigi I : Z1 = 25 teeth, sebagai input.
Roda gigi 11 : Z2 = 100 teeth, sebagai output.
51
~ Kesimpulan dari contoh diatas :
Apabila roda gigi II ( gigi out put ) semakin besat berarti gear ratio akan
semakin besar.
Semakin besar gear ratio, semakin besar pula out put torque.
1
N = x NA
Rm
Pada Transmisi Non Constant Mesh, roda gigi ( gear ) tidak saling
berhubungan pada saat netral.
53
Konstruksi Transmisi Non Constant Mesh.
54
[Link] teeth.
55
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
Gbr. III - 5. Gear Train Transmisi Non Constant Mesh.
TRANSMISI III - 6 - 29
56
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
TRANSMISI III - 7 - 29
57
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
TRANSMISI III - 8 - 29
58
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
TRANSMISI III - 9 - 29
Pada Constant Mesh Type roda gigi satu dengan roda gigi pasangannya
telah berhubungan, akan tetapi tidak terjadi perpindahan tenaga dari satu
Shaft ke Shaft yang lainnya.
Agar terjadi perpindahan tenaga dari satu Shaft ke Shaft yang lainnya, maka
Coupling yang berada pada Shaft harus dihubungkan dengan Gear pada
roda gigi B.
59
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
TRANSMISI III - 10 - 29
Keterangan gambar :
61
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
TRANSMISI III - 12 - 29
62
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
TRANSMISI III - 13 - 29
63
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
TRANSMISI III - 14 - 29
64
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
TRANSMISI III - 15 - 29
3. Synchromesh Transmission.
S Key Type.
S Pin Type.
a. Key Type.
65
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
TRANSMISI III - 16 - 29
~ Clutch Hub.
Dipasang pada Shaft dengan memakai Spline.
~ Synchronizer Ring.
Dipasang pada bagian Tirus ( Cone ) dari Gear.
~ Synchromesh.
Dipasang pada alur yang terletak pada bagian luar Clutch Hub, akan
menekan Clutch Hub Sleeve karena didorong oleh Key Spring.
Synchromesh Shifting Key dipasang pada Clutch Hub tersebut sebanyak
3 ( tiga ) buah.
1. Saat netral.
66
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
TRANSMISI III - 17 - 29
Jika Clutch Hub Sleeve digerakkan ke arah Î, maka Shifting Key akan
bergerak ke arah yang sama. Gerakan Shifting Key akan mendorong
Synchronizer ke arah Î. Sehingga putaran dari Gear akan [Link] ke
Synchronizer Ring.
Jika Clutch Hub Sleeve digerakkan ke arah Î lebih jauh, seperti terlihat
pada gambar di bawah.
67
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
TRANSMISI III - 18 - 29
b. Pin Type.
1. Disc 6. Clutch
2. Pin 7. Cone
3. Guide Pin 8. Hub
4. Ball 9. Main shaft
5. Spring 10. Sleeve
68
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
TRANSMISI III - 19 - 29
1. Disc
2. Pin
3. Guide pin
4. Ball
5. Spring
6. Clutch
7. Cone
8. Hub
69
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
TRANSMISI III – 20 - 29
R Clutch Hub.
Clutch hub atau Hub dipasang pada Shaft dengan memakai Spline.
R Clutch.
Clutch atau Clutch Hub Sleeve terpasang pada bagian luar Clutch Hub dan
dihubungkan dengan Spline. Bagian luar Clutch dibuat alur yang berfungsi
sebagai dukungan Shifter Fork.
R Cone.
Cone atau Ring berputar dengan Clutch karena ada Guide Pin.
R Disk.
Berhubungan dengan sisi High Gear atau Low Gear.
R Guide Pin.
Diletakan pada bagian dalam Clutch. Pada bagian tengah ditekan oleh Ball
yang ditempatkan di Hub Sleeve Hole. Guide Pin tidak diikatkan dengan
Cone kiri dan kanan.
R Pin.
Diikatkan dengan ring kiri dan kanan. Pada bagian tengah diberi celah. Pin
ini menembus Clutch.
70
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
TRANSMISI III - 21 - 29
Cara kerja :
71
1. pin
Mechanic Development.
2. Clutch
PT Pamapersada Nusantara
TRANSMISI III - 22 - 29
72
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
TRANSMISI III - 23 - 29
1. Shifter Fork.
Gear Shift Lever berfungsi untuk menggerakkan Shifter Fork Shaft sehingga
Shift Fork dapat berpindah posisi. Gear Shift Lever digerakkan oleh
operator.
73
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
TRANSMISI III - 24 - 29
a Gate Type.
b Pin Type.
a. Gate type.
Gate bergerak melintang terhadap Shifter Fork Shaft. Gate Shift Lever
bergerak memanjang, arah Shifter Fork Shaft untuk menggerakkan
Gate.
74
Mechanic Development.
Pada type
ini, Shifter Fork Shaft yang tidak dipakai akan dikunci oleh
PT Pamapersada Nusantara
Gate sedangkan Shifter Fork Shaft yang akan digeser tidak terkunci
TRANSMISI III - 25 - 29
b. Pin Type.
Untuk mencegah terjadinya, dua buah gigi kecepatan berhubungan
( Mesh ) Shifter Fork Shaft dikunci oleh pin.
75
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
TRANSMISI III - 26 - 29
Dalam keadaan seperti itu Shifter Fork Shaft A dan C tak dapat
digerakkan. Agar Shifter Fork Shaft yang lainnya dapat digerakkan
maka Shifter Fork Shaft B harus dinetralkan terlebih dahulu.
Selanjutnya Shifter Fork Shaft yang lainnya baru dapat digerkkan ( misal
Shifter Fork Shaft A ). Pada keadaan seperti ini maka Pin A akan bergerak ke
arah Î yang selanjutnya mengunci Shifter Fork Shaft B. Juga pada saat Pin
A bergerak kearah Î, akan mendorong Pin y ke arah yang sama. Pin y ini
akan mengunci Shifter Fork Shaft C.
4. Interlock Device.
1. Interlock shaft
2. Interlock plunger
3. Interlock spring
5. Shifter fork
77
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
TRANSMISI III - 28 - 29
1. Interlock shaft
2. Interlock plunger
3. Interlock spring
4. Shifter fork shaft
Pada kondisi seperti ini, Shifter Fork Shaft tidak dapat digerakkan karena
Interlock Plunger mengunci Shifter Fork Shaft. Interlock Plunger tidak dapat naik
( Ï ) karena dikunci oleh Interlock Shaft.
78
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
TRANSMISI III - 29 - 29
Apabila Lever Main Clutch Disengage maka Interlock Shaft akan berputar,
sehingga Interlock Plunger tidak terterkunci. Apabila Shifter Fork Shaft
digerakkan maka Interlock Plunger akan naik ke atas mengikuti alur pada
Shifter Fork Shaft melawan gaya Interlock Spring.
Selanjutnya apabila Shifter Fork Shaft gerakannya berhenti pada posisi yang
telah ditentukan, maka Interlock Plunger akan ditekan oleh Interlock Spring
sehingga duduk pada alur Shifter Fork Shaft,. Kemudian apabila Main Clutch
kembali diposisikan pada posisi Engage, maka Interlock Plunger. Apabila
roda gigi belum berhubungan dengan betul maka Main Clutch tidak dapat di-
engage-kan. Karena gerakan Interlock Plunger.
79
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
TROUBLE SHOOTING BAB IV
80
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
TROUBLE SHOOTING IV - 1 - 7
A. MAIN CLUTCH.
Sebelum melaksanakan trouble shooting terhadap main clutch, harus yakin bahwa kondisi can performance
engine baik (std). Untuk itu harus terlebih dahulu mengecek/mengetest engine-nya. Setelah yakin engine
dalam masih baik, baru lakukan langkah sebagai berikut ;
Test Clutch Slippage
Berhenti Berputar
* Stel/adjust kerapatan
pressure plate pada main clutch
Normal Abnormal
* Engage spring lemah
* Stelan/adjustment pressure
plate (adjust ring) kurang rapat U-joint U-joint
berhenti berputar
* Keausan plate &
disc sudah berlebihan
* Disc rusak
Check steering
clutch
81
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
TRANSMISI III - 2 - 7
D 60 - 6 40 - 45
- 7 42 - 45
- 8 42 - 45
D 80 - 12 45 - 50
- 18 40 - 50
1. Cara Mengetest Clutch Slippage.
D 150 - 1 60 - 70
a. Hidupkan engine dan panaskan hingga mencapai temperatur kerja ( jarum
penunjuk temperatur air pendingin engine berada di daerah normal / hijau ).
b. Usahakan agar out put shaft main clutch mendapat over load, yaitu dengan
memberikan beban berlebihan pada unit ( dapat dengan cara menanamkan
blade pada tanah atau kedua steering brake diinjak sampai full ).
c. Masukan handel transmisi pada posisi maju dengan kerapatan tertinggi.
d. Naikkan speed engine sampai maksimum. Gerakan lever main clutch
ke posisi engaged ( atau lepaskan pedal pada clutch spring type ) dengan
perlahan - lahan, perhatikan keadaan engine : stall atau tidak. Ukur waktu
sampai engine menjadi stall. ( * Standard waktu : 0,8 – 1,3 detik ).
Apabila engine tidak stall perhatikan apakah universal joint berputar atau
tidak.
e. Ketentuan :
~ Engine stall dalam waktu 0,8 - 1,3 detik, berarti main clutch tidak
mengalami slip.
~ Engine stall dalam waktu lebih dan 1,3 detik, berarti main clutch perlu
adjustment / penyetelan. 82
~Development.
Mechanic Engine tidak stall ( tetap berputar ) dan :
* U-joint
PT Pamapersada berhenti
Nusantara : Main clutch slip.
TRANSMISI III - 3 - 7
[Link] menyetel kerapatan pressure plate pada main clucth Over center.
[Link] BRAKE.
Kendorkan lock nut ( no-6 ) clan putar adjustment nut ( no.7 ) untuk menarik
brake band ( no.5 ) dan setel clearance "b".
* Setel clearance "b" sebagai berikut :
~ Putar nut searah jarum jam untuk memperkecil clearance.
~ Putar nut berlawanan arah untuk memperbesar clearance.
C. TRANSMISI.
85
1. Symptom : Susah memindahkan gigi (Gear Shifting).
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara
P b bd it bl i i bi d i l t h t i ti b k j bi d i
TRANSMISI III - 6 - 7
2. Transmisi :
a. Shifter aus atau mengalami Perbaiki / ganti
perubahan bentuk ( deformasi ).
b. Keausan pada interlock device. c. Spring Perbaiki / ganti
pada interlock device. Perbaiki / ganti
86
Mechanic Development. sudah lemah atau patah.
PT Pamapersada Nusantara
d Back lash diantara gear gear Adjust backlash atau
TRANSMISI III - 7 - 7
87
Mechanic Development.
PT Pamapersada Nusantara