STOIK
Marcus Aurelius (Kaisar Romawi) dan Epictetus (Budak)
Kata “stoik” saat ini sedang hangat dibicarakan (sedang/ akan popular) di masyarakat Indonesia, khususnya
kaum urban. Topik ini sedang ramai dibicarakan di dunia maya maupun realita, misal kata “stoik” “stoicism”
“stoikisme” bisa akita temukan di kaos, jaket, outwear.
Sehingga muncul pertanyaan seperti:
“apakah mereka paham dengan kata stoik?” atau
“apakah kata stoik ini terdengar keren?”
“Kata atau Makna?”
Isu Diskusi
Filsafat banyak berbicara dengan hal/ sesuatu yang abstrak. Lalu bagaiman pandangan filsafat ketika berbicara dengan
sesuatu yang konkret? Misal “apa yang harus dilakukan manusia ketika dihadapkan dengan pendeitaan (rasa sakit).
Marcus Aurelius (meditation Book) How to stoicism
Epictetus (nama seorang budak)
Etika Stoa
“Menganggap semua keluh kesah, penderitaan, tidak enak hati yang ada dalam diri bukan hal yang penting untuk
diteruskan. Sikap yang lebih baik dilakukakan yaitu hal ini bukan urusanku yang utama, urusanku adalah
menjalankan apa yang harus aku lakukan atau jalani saat ini untuk kedepan.”
Sikap stoik ini sebagai sikap para Aristokrat (bangsawan, negarawan), menggambarkan sebagai sikap elit
Pandangan bagaimana menyikapi hidup secara rasional. Memandang diri kita dari kejauhan, memandang diri kita
sebagai objek yang diamati terlepas dari persoalan rasa sakit/ penderitaan.
Saling mengandaikan antara bangsawan dan budak
Sikap stoik
Kenapa narasi Stoik popular di indonesia? sedangkan tidak ada keterkaitannya dengan bangsawan dan elit kerajaan
pada era Kekaisaran Marcus Aurelius.