0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
65 tayangan7 halaman

Perbedaan Peta RBI dan Peta Tematik

Dokumen tersebut membahas perbedaan antara peta RBI (Rupa Bumi Indonesia) dan peta tematik. Peta RBI menggambarkan fitur-fitur alam dan buatan manusia seperti sungai, bukit, dan jalan. Peta RBI digunakan sebagai dasar untuk membuat peta tematik. Sedangkan peta tematik menyajikan informasi kualitatif dan kuantitatif tentang topik khusus seperti pendapatan, potensi sumber daya, dan kependudukan. P

Diunggah oleh

Faizal Febriansyah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
65 tayangan7 halaman

Perbedaan Peta RBI dan Peta Tematik

Dokumen tersebut membahas perbedaan antara peta RBI (Rupa Bumi Indonesia) dan peta tematik. Peta RBI menggambarkan fitur-fitur alam dan buatan manusia seperti sungai, bukit, dan jalan. Peta RBI digunakan sebagai dasar untuk membuat peta tematik. Sedangkan peta tematik menyajikan informasi kualitatif dan kuantitatif tentang topik khusus seperti pendapatan, potensi sumber daya, dan kependudukan. P

Diunggah oleh

Faizal Febriansyah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama : Faizal Febriansyah

NIM : 4122320130004

Kartografi

PERBEDAAN PETA RBI DENGAN PETA TEMATIK

 Peta RBI

Peta Rupa Bumi secara umum adalah peta yang menggambarkan kenampakan alamiah (natural freatures)
dan kenampakan buatan manusia (man made freatures). Kenampakan ilmiah yang dimaksud misalnya
sungai, bukit, lembah, danau dan lain-lain. sedangkan kenampakan buatan manusia misalnya jalan,
kampung, permukiman, kantor, pasar dan lain-lain. Peta Rupa Bumi antara lain berfungsi sebagai peta
referensi atau acuan dan peta dasar yaitu peta yang dipakai sebagai peta referensi atau acuan dan dasar
bagi pembuatan peta tematik.

Peta RBI biasa disebut juga dengan peta Topografi atau peta dasar. Peta dasar adalah peta yang digunakan
sebagai dasar pembuatan peta lainnya. untuk pembuatan peta tematik, peta dasar adalah peta yang berisi
semua data-data tematis yang akan digambarkan. Pada hakekatnya peta dasar yang digunakan adalah peta
topografi yang resmi dari suatu negara. Umumnya peta dasar tersebut dibuat berdasarkan survey lapangan
atau cara lain yang biasa disebut fotogrametris. Peta yang dijadikan peta dasar akan ada perbedaan dalam
proyeksi, skala, ketelitian ataupun waktu penerbitannya. sehingga mutu peta dasar ini jelas merupakan hal
yang cukup penting juga.

Peta RBI biasanya digunakan sebagai dasar pembuatan peta tematik, diperlukan data-data topografi dan
dari peta itulah semua data-data tematis akan digambarkan. Biasanya jenis peta ini digunakan untuk
keperluan peta tematik dalam memperhatikan batas-batas wilayah dengan sangat terperinci. Meskipun
demikian, karena tergantung dari penggunaan selanjutnya, kadang-kadang peta ini digeneralisasi dahulu
sebelum digunakan sebagai peta dasar.

Gambar 1 Contoh Peta RBI


Jadi Peta Rupabumi memiliki karakteristik :

(1) Memuat gambaran tentang penyebaran, luas dan karakteristik dari unsur-unsur fisiografi, topografi,
morfologi, geologi, demografi dan sebagainya.

(2) Dapat sebagai wadah inventarisasi sumberdaya alam. dan

(3) Ada kerangka titik kontrol horizontal (koordinat lintang/bujur) dan kerangka titik kontrol vertikal
(koordinat tinggi terhadap muka air laut rata-rata).

Peta Rupabumi dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok berdasarkan atas skalanya, yakni : skala 1 :
1.000.000; skala 1 : 500.000; skala 1 : 250.000; skala 1 : 100.000; skala 1 : 50.000; skala 1 : 25.000; dan
skala 1 : 10.000 (Bakosurtanal, 2004). Variasi skala peta tersebut membawa konsekuensi pada variasi
cakupan area yang terpetakan. Semakin kecil skala peta, maka lingkup area yang terpetakan semakin luas,
demikian sebaliknya semakin besar skala peta, lingkup area yang terpetakan sema-kin kecil. Di samping
itu, skala peta juga dapat memberikan informasi tentang tingkat kedetilan isi peta, semakin besar skala
tingkat kedetilan semakin tinggi, demikian sebaliknya

Penggunaan Peta Rupabumi

Peta Rupabumi merupakan cermi-nan berbagai tipe informasi muka bumi, sehingga dapat digunakan
sebagai sumber data dan informasi spasial yang cukup baik. Namun demikian untuk dapat menggunakan
peta dengan baik diperlukan tuntunan dalam pemakaiannya. Ada tiga tahapan dalam menggunakan Peta
Rupabumi, yaitu: 1) tahap pembacaan; 2) tahap analisis; dan 3) tahap inter-prettasi.

1. Membaca Peta Rupabumi

Membaca peta dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk mempelajari atau mengetahui medan
(kenampakan muka bumi) dengan melalui peta atau simbol-simbol yang ada dalam peta. Membaca peta
merupakan tahapan pertama dalam penggunaan peta, yakni mencoba mengidentifikasi simbol, membaca
apa arti simbol. Untuk dapat melakukan pekerjaan ini, seseorang harus mengetahui tentang bahasa peta.
Bahasa peta adalah informasi tepi peta yang meliputi: judul, nomor lembar peta, skala, orientasi, sumber
pembuat peta, proyeksi peta, legenda, administrasi indeks.

Dengan demikian begitu melihat simbol di dalam peta, pengguna akan menjadi jelas mengenai makna
ataupun bentuk unsur lingkungan apa yang tergambar dalam peta. Kesalahan yang sering terjadi adalah
pengguna langsung berusaha menterjemahkan arti simbolsimbol tanpa mempelajari keterangan- /legenda
dan informasi tepi yang lain terlebih dahulu. Faktor-faktor yang dapat dibaca dalam Peta Rupabumi
antara lain: jarak, arah, lokasi, luas, tinggi, lereng dan bentuk.

2. Analisis Peta Rupabumi

Analisis peta merupakan tahap selanjutnya setelah dilakukan pembacaan peta. Setelah kita tahu apa yang
telah digambar dalam peta, selanjutnya dilakukan suatu pengukuran, penilaian, klasifikasi, mencari pola
dari suatu fenomena geografis yang ada. Dalam tahap analisis peta dapat pula menggunakan peralatan
untuk membantu dalam pengukuran, penilaian dari fenomena geografis tersebut.

Unsur-unsur geografis yang tergambar dalam Peta Rupabumi dapat dikelompokkan menjadi: (1) unsur
posisional, yakni unsur-unsur yang tidak mempunyai dimensi atau perluasan, seperti titik ketinggian,
pusat pelayanan. Nilai dari unsur-unsur ini dapat dilihat dari angka yang ada atau dihitung dengan
menjumlahkan titiknya; (2) unsur linear, yakni unsur yang mempunyai perluasan pada satu sisi atau unsur
dimensi satu, misalnya: jalan, jalan kereta api, garis pantai, sungai, dan sebagainya. Untuk data lenear ini
nilai tergantung panjang pendek unsur yang digambarkan; (3) unsur luasan, merupakan unsur yang
memiliki bentuk perluasan atau berdimensi dua nilai ditentukan berdasar luasnya. Bahkan unsur yang
berdimensi tiga dapat ditentukan volumenya misalnya volume bendungan, jumlah curah hujan, volume
cadangan bahan galian.

Dari tahapan analsis peta akan didapatkan suatu nilai, bentuk pola, struktur keruangan yang digambar.
Dalam analisis peta perlu memperhatikan tiga hal, yaitu: (1) Analisis harus dikerjakan secara bertahap.
(2) Mulailah dari hal yang bersifat umum ke hal-hal yang bersifat khusus/detil. (3) Lakukan analisis dari
bentuk-bentuk yang paling diketahui (mudah) hingga bentuk-bentuk yang sulit atau belum diketahui.

3. Interpretasi Peta Rupabumi

Interpretasi peta merupakan perbuatan mengkaji peta dengan maksud untuk mengidentifikasi objek sesuai
tujuan dan latar belakang pengetahuan si interpreter. Dengan kata lain, interpretasi adalah mengungkap
sesuatu dibalik fakta. Jadi interpretasi itu ilmiah. Sehingga dapat dijelaskan bahwa interpretasi peta
adalah: (1) Berupaya melalui proses penalaran atau mendeteksi, mengidentifikasi dan menilai arti penting
objek yang tergambar pada peta. (2) Berupaya mengenali objek yang tergambar pada peta dan
menterjemahkan kedalam disiplin ilmu tertentu seperti geologi, geografi, pertanian, kehutanan, ekologi,
hidrologi dan lain-lain.

 Peta Tematik

Peta Tematik (E.S Bos, 1977) adalah suatu peta yang menggambarkan informasi kualitatif dan kuantitatif
tentang kenampakan-kenampakan atau konsep yang spesifikyang ada hubungannya dengan detil topografi
tertentu. Menurut International Cartographig Association (1973), peta tematik adalah peta yang dibuat
dan didesain untuk menggambarkan kenampakan-kenampakan atau konsep-konsep khusus. Dari batasan
tersebut dapat dikatakan secara garis besar bahwa peta tematik merupakan peta yang menggambarkan
suatu data yang mempunyai tema khusus dan ada kaitannya dengan detail topografi tertentu.

Peta tematik (juga disebut sebagai peta statistik atau peta tujuan khusus) menyajikan patron penggunaan
ruangan pada tempat tertentu sesuai dengan tema tertentu. Berbeda dengan peta rujukan yang
memperlihatkan pengkhususan geografi (hutan, jalan, perbatasan administratif), peta-peta tematik lebih
menekankan variasi penggunaan ruangan dari pada sebuah jumlah atau lebih dari distribusi geografis.
Distribusi ini bisa saja merupakan fenomena fisikal seperti iklim atau ciri-ciri khas manusia seperti
kepadatan penduduk atau permasalahan kesehatan.

Yang dimaksud data kualitatif adalah data yang menyajikan unsur-unsur topografi berupa gambar atau
keterangan, seperti jalan, sungai, perumahan, nama daerah dan lain sebagainya. Sedangkan data
kuantitatif adalah data yang menyajikan unsur-unsur topografi yang menyatakan besaran tertentu, seperti
ketinggian titik, nilai kontur, jumlah penduduk, persentase pemeluk agama tertentu dan lain sebagainya.
Contoh peta tematik yaitu, peta anomali gaya berat, peta anomali magnet, peta tata guna lahan, peta
pendaftaran tanah, peta iklim, peta geomorfologi, peta tanah, peta industri, peta penduduk, peta pariwisata
dan lain-lain.

Peta tematik merupakan salah satu peta yang multifungsi. Masing-masing peta tematik memiliki
kegunaannya tersendiri. Namun, secara umum peta tematik sering digunakan untuk memberikan
informasi yang spesifik pada suatu daerah 

Misalnya saja peta pendapatan penduduk Surabaya. Pada peta tematik tersebut, pembaca peta bisa
mendapatkan persebaran dan jumlah pendapatan dari penduduk di daerah Surabaya. 

Selain itu, dari peta tematik masyarakat juga bisa mengetahui potensi yang tersimpan di daerah tersebut.
Contohnya peta potensi minyak gas. Dari peta tersebut, pembaca bisa menarik kesimpulan potensi apa
yang tersimpan di suatu daerah. 
Gambar 2 Contoh Peta Tematik

Cara Melakukan Pemetaan Tematik

Pemetaan secara tematik tidak bisa dilakukan begitu saja. Terdapat beberapa tahapan yang harus
dilakukan untuk membuat peta tematik yang akurat dan sesuai dengan keadaan sebenarnya. 

 Pengumpulan Data. Sebelum peta dibuat, yang pertama harus dilakukan adalah mengumpulkan
data seputar tema peta tematik. Pengumpulan data bisa dilakukan melalui survey atau penelitian
atau wawancara. 

 Pengolahan Data. Langkah selanjutnya yakni pengolahan data. Data yang telah terkumpul
sebelumnya diolah dan dikelompokan menjadi data kuantitatif dan data kualitatif.
Pengelompokan data ini dilakukan supaya pembuatan simbol peta tematik mudah dipahami
pembaca.

 Pembuatan Peta. Tahap akhir dari pemetaan secara tematik yakni pembuatan peta. Untuk dapat
membuat peta tematik, peta dasar harus dibuat terlebih dahulu. Setelah itu barulah pembuat peta
bisa menambahkan simbol-simbol data pada bagian yang ditentukan. Apabila peta telah selesai
dibuat dilakukan editing untuk menghindari kekeliruan. 

Sebelumnya pemetaan tematik dibuat secara manual. Namun, kini ada teknologi terbaru yakni
penggunaan peta digital dengan software ArcGIS. Melalui perangkat lunak ini, pembuatan peta tematik
semakin mudah dan praktis. 
Perbedaan Peta RBI dengan Peta Tematik

a. Layout Peta RBI

b. Layout Peta Tematik


Layout peta adalah menyusun penempatan-penempatan dari pada judul, legenda, skala, sumber data,
penerbit, no sheet, macam-macam proyeksi dan lain sebagainya. Semua informasi yang diletakkan
pada peta harus diatur secara tepat diatas lembar peta sehingga dapat menjamin optimal dalam hal
mudahnya dibaca secara geografis dan kelihatan ekonomis.

1)             Peta RBI

Dari hasil pengamatan yang dilakukan dapat dilihat pada peta RBI sistematiknya sangat lengkap dan
terdapat penjelasan juga tepat di bawah muka peta. Dalam peta RBI sistematikanya meliputi judul di
kanan atas kemudian di bawahnya disusul skala grafis, lembar peta, petunjuk letak peta dan diagram
lokasi, sumber data dan referensi, legenda, keterangan riwayat, petunjuk pembacaan koordinat
geografi, dan petunjuk pembacaan koordinat UTM, pembagian daerah administrasi, skala grafis,
singkatan dan kesamaan arti, diagram arah utara, dan nomor lembar peta kiri bawah terdapat di
sebelah kiri petunjuk pembacaan koordinat atau tepatnya berada di bawah muka peta.

2)             Peta tematik

Dari hasil pengamatan yang kami lakukan pada peta petamatik, layout peta tematik sistematikanya
hanya sedikit dan tidak terdapat penjelasan di bagian bawah peta. Pada peta tematik sistematikanya
meliputi judul, skala, diagram arah utara, skala grafis, legenda, sumber data, dan inset.

c. Perbedaan Peta RBI dan Peta Tematik


Dari hasil pengamatan bahwa peta RBI dan peta Tematik memiliki perbedaan yaitu pada peta RBI
komponen-komponen peta atau informasinya lengkap mulai dari judul sampai nomor lembar peta kiri
bawah, tapi pada peta RBI tidak terdapat inset.

Sedangkan pada peta tematik informasi yang disajikan tidak selengkap peta RBI. Pada peta tematik
hanya terdapat judul, skala peta, lembar peta, sumber referensi peta, legenda, skala grafis, singkatan
dan kesamaan arti, diagram arah urata, nomor lembar, dan inset. Dan informasi yang lain seperti
petunjuk peta dan diagram lokasi, petunjuk pembacaan koordinat geografi, petunjuk pembacaan
koordinat UTM, pembagian daerah administrasi, keterangan batas administrasi, dan nomor lembar
peta kiri bawah pada peta tematik tidak terdapat.

Dari beberapa hal yang berbeda tersebut disebabkan karena pada pembuatan peta Tematik hanya
mengambil acuan atau mengambil dasar dari peta RBI atau peta dasar. Hal tersebut yang membuat
peta tematik tidak selengkap peta RBI.

Common questions

Didukung oleh AI

Layout Peta Rupabumi Indonesia (RBI) mencakup informasi yang sangat lengkap mulai dari judul, skala grafis, legenda, hingga petunjuk pembacaan koordinat dan diagram lokasi . Sebaliknya, layout peta tematik mencakup informasi yang lebih sedikit dan terkadang tidak memiliki beberapa petunjuk interpretatif yang dimiliki oleh Peta RBI . Keberadaan unsur-unsur detail dalam layout Peta RBI memungkinkan analisis yang lebih mendalam digunakan sebagai dasar peta lainnya, sementara peta tematik memberikan kekhususan dalam informasi tematik yang lebih fokus tetapi tidak selengkap untuk kegiatan navigasi dasar .

Peta Rupabumi Indonesia (RBI) berfungsi sebagai peta referensi atau acuan dan peta dasar dalam pembuatan peta lainnya, khususnya untuk menggambarkan kenampakan alamiah dan buatan manusia secara umum. Peta RBI menyajikan penyebaran, luas, karakteristik dari fisiografi hingga demografi, dan sebagai wadah inventarisasi sumber daya alam . Sebaliknya, peta tematik berfokus pada informasi kualitatif dan kuantitatif tentang kenampakan atau konsep spesifik terkait detail topografi yang diberikan, sering digunakan untuk visualisasi distribusi fenomena fisik atau manusia, seperti iklim atau kepadatan penduduk .

Peta tematik membutuhkan peta dasar untuk menyediakan konteks spasial yang valid agar tematifikasi dapat akurat dan sesuai keadaan sebenarnya . ArcGIS mempermudah proses ini dengan memungkinkan pengolahan data spasial secara digital, membuat editing dan visualisasi menjadi lebih efisien dan praktis, yang sebelumnya dilakukan secara manual .

Skala peta mempengaruhi lingkup area dan tingkat kedetailan Peta Rupabumi. Skala yang lebih besar, seperti 1:10,000, memperlihatkan area yang lebih kecil dengan detail yang lebih tinggi, sedangkan skala yang lebih kecil, seperti 1:1,000,000, mencakup area lebih luas dengan detail yang lebih sedikit .

Tahap pembacaan Peta Rupabumi melibatkan usaha untuk mengidentifikasi simbol dan membaca artinya melalui informasi tepi seperti judul, skala, proyeksi, dan legenda . Kekeliruan umum yang terjadi adalah pengguna sering langsung menafsirkan arti simbol tanpa mempelajari legenda dan informasi tepi, yang dapat menyebabkan kebingungan dalam memahami unsur lingkungan yang tergambar .

Peta tematik dianggap multifungsi karena mereka memvisualisasikan informasi kualitatif dan kuantitatif dari tema tertentu yang memanfaatkan detail topografi . Contohnya adalah peta pendapatan penduduk yang menunjukkan distribusi pendapatan di suatu area, dan peta potensi minyak gas yang mengungkap potensi sumber daya di lokasi tertentu .

"Bahasa peta" mengacu pada informasi tepi peta yang meliputi judul, nomor lembar peta, skala, orientasi, sumber pembuat, proyeksi, legenda, dan indeks administrasi . Bahasa peta dipercaya memandu pengguna dalam memahami simbol yang tergambar dan arti lingkungan yang diwakilinya, mencegah kesalahan interpretasi simbol peta .

Unsur posisi pada Peta Rupabumi merujuk pada elemen tanpa dimensi atau perluasan, seperti titik ketinggian atau pusat layanan . Berbeda dengan unsur linear yang memiliki perluasan pada satu sisi seperti jalan dan sungai, serta unsur luasan yang memiliki dimensi dua seperti wilayah administratif .

Analisis Peta Rupabumi melibatkan pengukuran, penilaian, klasifikasi, dan pencarian pola dari fenomena geografis yang tergambar. Unsur yang dianalisis meliputi unsur posisional, linear, dan luasan. Perlu memperhatikan proses bertahap, dimulai dari aspek umum ke detil, dan dimulai dari bentuk-bentuk yang paling diketahui ke yang sulit . Tiga hal penting yang perlu diperhatikan adalah penguraian tahap analisis, kemajuan dari umum ke detil, dan memulai dengan bentuk yang familiar .

Pengumpulan data untuk peta tematik dimulai dengan survei atau penelitian sesuai tema yang diangkat. Data kemudian diolah dan dikelompokkan menjadi data kuantitatif dan kualitatif agar simbol-simbol pada peta mudah dipahami . Proses pengolahan bertujuan memperjelas informasi spesifik yang akan divisualisasikan pada peta .

Anda mungkin juga menyukai