ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN DIABETES MELLITUS
A. DEFINISI
Diabetes Mellitus (DM) adalah suatu penyakit dimana kadar glukosa
(gula sederhana) di dalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan
atau menggunakan insulin secara adekuat. Kadar gula darah sepanjang hari
bervariasi, meningkatkan setelah makan dan kembali normal dalam waktu 2
jam. Insulin adalah hormone yang mengatur keseimbangan kadar gula darah.
Akibatnya, terjadi peningkatan konsentrasi glukosa di dalam darah
(hiperglikemia).
Diabetes melitus merupakan kondisi kronis yang ditandai dengan
peningkatan konsentrasi glukosa darah disertai munculnya gejala utama yang
khas yakni yang berasa manis dalam jumlah yang besar.
Diabetes Mellitus merupakan kondisi kadar glukosa di dalam darah
melebihi batas normal. Hal ini disebabkan karena tubuh tidak dapat
melepaskan atau menggunakan insulin secara adekuat. Insulin adalah hormon
yang dilepaskan oleh pankreas dan merupakan zat utama yang bertanggung
jawab untuk mempertahankan kadar gula darah dalam tubuh agar tetap dalam
kondisi seimbang. Insulin berfungsi sebagai alat yang membantu gula
berpindah ke dalam sel sehingga bisa menghasilkan energi atau disimpan
sebagai cadangan energi.
Jadi, diabetes melitus merupakan kondisi kronis yang ditandai dengan
peningkatan konsentrasi glukosa darah diserati munculnya gejala utama yang
khas, yakni urine yang berasa manis dalam jumlah banyak.
SAK Penyakit Dalam/Metro Hospital [Link]
B. ETIOLOGI
1. Faktor Genetik
Penyebab diabetes yang bisa terjadi salah satunya yaitu
dikarenakan oleh ada nya faktor genetik. Karena memiliki keluarga yang
juga menderita penyakit diabetes maka dari memiliki kemungkinan besar
untuk menderita penyakit diabetes. Oleh sebab itu jika memiliki riwayat
penyakit diabetes maka ada kemungkinan juga untuk menderita penyakit
diabetes jika tidak menjaga kesehatan dan juga kadar gula darah.
2. Faktor Berat badan (Obesitas)
Berat badan memang bisa mempengaruhi kesehatan, karena berat
badan pun bisa menjadi suatu penyakit, dan penyakit diabetes pun bisa
terjadi dikarenakan oleh berat badan. Memiliki berat badan yang besar
atau pun berlebihan memiliki kemungkinan untuk menderita penyakit
diabetes salah [Link] sebab itu penyebab diabetes bisa di sebabkan
oleh berat badan.
3. Faktor Makanan
Penyebab diabetes pun bisa terjadi dari makanan yang di konsumsi,
jika sering mengkonsumsi makan makanan yang tidak sehat seperti hal
nya makanan yang mengandung lemak tinggi atau pun memiliki kadar
manis dari gula yang banyak maka bisa menjadi penyebab diabetes. Oleh
sebab itu jaga asupan makanan yang baik agar tidak mengalami naik nya
kadar gula darah.
4. Faktor Merokok
Rokok merupakan sumber penyakit, dan rokok pun bisa menjadi
penyebab diabetes juga oleh sebab itu mengapa penggunaan rokok itu di
larang dan tidak baik untuk di gunakan.
Diabetes dalam kehamilan menimbulkan banyak kesulitan, penyakit ini
akan menyebabkan perubahan-perubahan metabolik dan hormonal pada
SAK Penyakit Dalam/Metro Hospital [Link]
penderita yang juga dipengaruhi oleh kehamilan. Sebaliknya diabetes akan
mempengaruhi kehamilan dan persalinan (Sugianto, 2016)
a. Umur sudah mulai tua
b. Multiparitas
c. Penderita gemuk
d. Kelainan anak lebih besar dari 4000 g
e. Bersifat keturunan
f. Pada pemeriksaan terdapat gula dalam urine
g. Riwayat kehamilan: Sering meninggal dalam rahim, Sering
mengalami lahir mati, Sering mengalami keguguran
h. Glokusuria
C. TANDA DAN GEJALA
1. Keluhan klasik
a. Poliuria (banyak kencing)
Karena sifatnya, kadar glukosa darah yang tinggi akan
menyebabkan banyak kencing. Kencing yang sering dan dalam jumlah
banyak akan sangat mengganggu penderita, terutama pada waktu
malam hari
b. Polidipsia (haus dan banyak minum)
Rasa haus amat sering dialami penderita karena banyaknya
cairan yang keluar melalui kencing. Keadaan ini justru sering disalah
tafsirkan. Dikiranya sebab rasa haus ialah udara yang panas atau beban
kerja yang berat. Untuk menghilangkan rasa haus itu penderita banyak
minum.
c. Polifagia (banyak makan)
Rasa lapar yang semakin besar sering timbul pada penderita
Diabetes Melitus karena pasien mengalami keseimbangan
SAK Penyakit Dalam/Metro Hospital [Link]
kalorinegatif, sehingga timbul rasa lapar yang sangat besar. Untuk
menghilangkan rasa lapar itu penderita banyak makan.
d. Penurunan Berat Badan dan Rasa Lemah
Penurunan berat badan yang berlangsung dalam relatif singkat
harus menimbulkan kecurigaan. Rasa lemah yang hebat yang
menyebabkan penurunan prestasi dan lapangan olahraga juga
mencolok. Hal ini disebabkan glukosa dalam darah tidak dapat masuk
ke dalam sel, sehingga sel kekurangan bahan bakar untuk
menghasilkan tenaga. Untuk kelangsungan hidup, sumber tenaga
terpaksa diambil dari cadangan lain yaitu sel lemak dan otot
e. Glikosuria(ekskresi glikosa ke dalam urin)
f. Gula darah 2 jam > 200mg/dl
g. gula darah sewaktu > 200 mg/dl
h. Gula darah puasa > 126 mg/dl
2. Keluhan lain
a. Gangguan Saraf Tepi/Kesemutan
Penderita mengeluh rasa sakit atau kesemutan terutama pada
kaki di waktu malam hari, sehingga menggangu tidur.
b. Gangguan Penglihatan
Pada fase awal diabetes sering dijumpai gangguan
penglihatan yang mendorong penderita untuk mengganti kacamatanya
berulang kali agar tetap dapat melihat dengan baik.
c. Gatal/Bisul
Kelainan kulit berupa gatal, biasanya terjadi di daerah
kemaluan dan daerah lipatan kulit seperti ketiak dan di bawah
payudara. Sering pula dikeluhkan timbulnya bisul dan luka yang lama
sembuhnya. Luka ini dapat timbul karena akibat hal yang sepele
seperti luka lecet karena sepatu atau tertusuk peniti.
SAK Penyakit Dalam/Metro Hospital [Link]
d. Gangguan Ereksi
Gangguan ereksi ini menjadi masalah, tersembunyi karena
sering tidak secara terus terang dikemukakan penderitanya. Hal ini
terkait dengan budaya masyarakat yang masih merasa tabu
membicarakan masalah seks, apalagi menyangkut kemampuan atau
kejantanan seseorang.
e. Keputihan
Pada wanita, keputihan dan gatal merupakan keluhan yang
sering,ditemukan dan kadang-kadang merupakan satu-satunya gejala
yang dirasakan.
D. PATOFISIOLOGI
Patofsiologi menurut Soegondo, et al (2011) Seperti suatu mesin, badan
memerlukan bahan untuk membentuk sel baru dan mengganti sel yang rusak.
Di samping itu badan juga memerlukan energi supaya sel badan dapat
berfungsi dengan baik. Energi pada mesin berasal dari bahan bakar yaitu
bensin. Pada manusia bahan bakar itu berasal dari bahan makanan yang kita
makan sehari-hari, yang terdiri dari karbohidrat (gula dan tepung-tepungan),
protein (asam amino) dan lemak (asam lemak). Pengolahan bahan makanan
dimulai di mulut kemudian ke lambung dan selanjutnya ke usus. Di dalam
saluran pencernaan itu makanan dipecah menjadi bahan dari makanan itu.
Karbohidrat menjadi glukosa,protein menjadi asam amino dan lemak menjadi
asam lemak. Ketiga zat makanan itu akan diserap oleh usus kemudian masuk
kedalam pembuluh darah dan diedarkan ke seluruh tubuh untuk dipergunakan
oleh organ-organ di dalam tubuh sebagai bahan bakar. Supaya dapat
berfungsi sebagai bahan bakar, zat makanan itu harus masuk dulu kedalam sel
supaya dapat diolah. Didalam sel, zat makanan terutama glukosa dibakar
melalui proses kimiawi yang rumit, yang hasil akhirnya adalah timbulnya
SAK Penyakit Dalam/Metro Hospital [Link]
energi. Proses ini disebut metabolisme. Dalam proses metabolisme itu
insulin memegang peran yang sangat penting yaitu bertugas memasukkan
glukosa ke dalam sel.
Untuk selanjutnya dapat dipergunakan sebagai bahan bakar. Insulin ini
adalah hormon yang dikeluarkan oleh sel beta pankreas. Jika dalam keadaan
normal artinya kadar insulin cukup dan sensitif, insulin akan ditangkap oleh
resptor insulin yang ada pada permukaan sel otot, kemudian membuka pintu
masuk sel hingga glukosa dapat masuk sel untuk kemudian dibakar
menjadi energi/tenaga. Akibatnya kadar glukosa dalam darah normal. Pada
diabetes dimana didapatkan jumlah insulin yang kurang atau pada keadaan
kualitas insulinnya tidak baik (resitensi insulin), meskipun insulin ada dan
reseptor juga ada, tapi karena ada kelainan di dalam sel itu sendiri pintu
masuk sel tetap tidak dapat terbuka tetap tertutup hingga glukosa tidak dapat
masuk sel untuk dibakar (dimetabolisme). Akibatnya glukosa tetap berada di
luar sel, hingga kadar glukosa dalam darah meningkat.
E. KLASIFIKASI
1. Diabetes Melitus Tipe 1 atau Insuli Dependent Diabetes Melitus (IDDM)
Yaitu Diabetes Melitus yang bergantung insulin. Diabetes tipe ini
terjadi 5% s.d 10% penderita diabetes melitus. Pasien sangat tergantung
insulin melalui penyuntikan untuk mengendalikan gula darah. Diabetes tipe
1 disebabkan karena kerusakan sel beta pankreas yang menghasilkan
insulin. Hal ini berhubungan dengan kombinasi antara faktor genetik,
imunologi, dan kemungkinan lingkungan seperti virus.
2. Diabetes Melitus Tipe 2 atau Non Insulin Dependent Diabetes Melitus
(NIDDM)
Yaitu Diabetes Melitus yang tidak tergantung pada insulin. Kurang
lebih 90%- 95% penderita diabetes melitus adalah tipe ini. Diabetes melitus
SAK Penyakit Dalam/Metro Hospital [Link]
tipe 2 terjadi akibat penurunan sensitivitas terhadap insulin (resistensi
insulin) atau akibat penurunan produksi insulin. Normalnya insulin terikat
oleh reseptor khusus pada permukaan sel dan mulai terjadi rangkaian reaksi
termasuk metabolisme glukosa. Diabetes melitus tipe 2 banyak terjadi pada
usia dewasa lebih dari 45 tahun, karena berkembang lambat dan terkadang
tidak terdektesi, tetapi jika gula darah tinggi baru dapat dirasakan seperti
kelemahan iritabilitas, poliuria, polidipsi, proses penyembuhan luka yang
lama, infeksi vagina, kelainan penghliatan.
3. Diabetes karena malnutrisi
Golongan diabetes ini terjadi akibat malnutri, biasanya pada penduduk
yang miskin. Diabetes tipe ini dapat ditegakkan jika ada 3 gejala dari gejala
yang mungkin yaitu:
a. Adanya gejala malnutrisi seperti badan kurus, berat badan kurang dari
80% berat badan idea
b. Adanya tanda- tanda malabsorpsi makanan
c. Usia antara 15 – 40 tahun
d. Memerlukan insulin untuk regulasi diabetes melitus dan menaikkan
berat badan
e. Nyeri perut berulang
4. Diabetes sekunder yaitu diabetes melitus yang berhubungan dengan
keadaan atau penyakit tertentu, misalnya penyakit pankreas (pankreatitis,
neoplasma, trauma/ panreatectomy).
5. Diabetes melitus gestational yaitu diabetes melitus yang terjadi pada masa
kehamilan, dapat didiagnosa dengan menggunakan test toleran glukosa,
terjadi pada kira – kira 24 minggu kehamilan.
F. KOMPLIKASI
1. Komplikasi Akut
SAK Penyakit Dalam/Metro Hospital [Link]
a. Koma hiperglikemia disebabkan kadar gula sangat tinggi biasanya
terjadi pada NIDDM (Non-Insulin Dependent Diabetes Melitus).
b. Ketoasidosis atau keracunan zat keton sebagai hasil metabolisme lemak
dan protein terutama terjadi pada IDDM (Insulin Dependent Diabetes
Melitus).
c. Koma hipoglikemia akibat terapi insulin yang berlebihan atau tidak
terkontrol.
2. Komplikasi Kronis
a. Mikroangiopati (kerusakan pada saraf-saraf perifer) pada organ- organ
yang mempunyai pembuluh darah kecil seperti pada :
1) Retinopati diabetika (kerusakan saraf retina dimata) sehingga
mengakibatkan kebutaan
2) Neuropati diabetika (kerusakan saraf-saraf perifer)
mengakibatkan baal/gangguan sensoris pada organ tubuh
3) Nefropati diabetika (kelainan/kerusakan pada ginjal) dapat
mengakibatkan gagal ginjal
b. Makroangiopati
1) Kelainan pada jantung dan pembuluh darah seperti miokard infark
maupun gangguan fungsi jantung karena arteriskelosis
2) Penyakit vaskuler perifer
3) Gangguan sistem pembuluh darah otak atau stroke
4) Gangren diabetika karena adanya neuropati dan terjadi luka yang
tidak sembuh-sembuh. Angka kematian dan kesakitan dari diabetes
terjadi akibat komplikasi seperti karena :
1) Hiperglikemia atau hipoglikemia
2) Meningkatnya resiko infeksi
3) Komplikasi mikrovaskuler seperti retinopati, nefropati
4) Komplikasi neurofatik
SAK Penyakit Dalam/Metro Hospital [Link]
5) Komplikasi makro vaskuler seperti penyakit jantung koroner
G. PENATALAKSANAAN MEDIK
1. Menormalkan fungsi dari insulin dan menurunkan kadar glukosa darah
2. Mencegah komplikasi vaskuler dan neuropati
3. Mencegah terjadinya hipoglikemia dan ketoasidosis
Prinsip penatalaksanaan diabetes melitus adalah mengontrol gula darah
dalam rentang normal. Perencanaan penatalaksanaan diabetes melitus
bersifat individual artinya perlu dipertimbangkan kebutuhan terhadap umur
pasien, gaya hidup, kebutuhan nutrisi, kematangan, tingkat aktivitas,
pekerjaan dan kemampuan pasien dalam mengontrol gula darah secara
mandiri.
a. Manajemen diet diabetes melitus
Kontrol nutrisi, diet dan berat badan merupakan dasar penanganan
pasien diabetes melitus. Tujuan yang paling penting dalam manajemen
nutrisi dan diet adalah mengontrol total kebutuhan kalori tubuh, intake
yang dibutuhkan, mencapai kadar serum lipid normal.
b. Latihan fisik
Latihan fisik bertujuan :
1) Menurunkan gula darah dengan meningkatkan metabolisme
karbohidrat.
2) Menurunkan berat badan dan mempertahankan berat badan.
3) Meningkatkan sensitifitas insulin.
4) Menurunkan tekanan darah.
c. Obat-batan
1) Obat antidiabetik oral atau Oral Hypoglikemik Agent (OH) Efektif
pada diabetes melitus tipe II, jika manajemen nutrisi dan latihan
gagal
SAK Penyakit Dalam/Metro Hospital [Link]
Jenis obat-obatan antidiabetik oral diantaranya
a) Sulfonilurea : bekerja dengan merangsang beta sel pankreas
untuk melepaskan cadangan insulinnya.
b) Biguanida : bekerja dengan menghambat penyerapan glukosa di
usus, misalnya mitformin, glukophage.
2) Pemberian hormon insulin
Pasien diabetes melitus tipe I tidak mampu memproduksi insulin
dalam tubuhnya, sehingga sangat tergantung pada pemberian
[Link] pemberian insulin adalah meningkatkan transport
glukosa ke dalam sel dan menghambat konversi glikogen dan asam
amino menjadi glukosa.
H. ASESMEN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Riwayat kesehatan sekarang biasanya klien masuk RS dengan keluhan
utama gatal-gatal pada kulit yang disertai bisul/lalu tidak sembuh-
sembuh, kesemutan/rasa [Link] kabur, gangguan tidur/istrahat,
haus, pusing/sakit kepala.
b. Riwayat kesehatan dahulu
1) Riwayat hipertensi/infark miocard
2) Riwayat infeksi saluran kemih
3) Penggunaan obat-obat seperti steroid, dimetik(tiazid)
4) Riwayat mengkonsumsi glukosa/karbohidrat berlebihan
c. Riwayat kesehatan keluarga
d. Adanya anggota keluarga yang menderita DM
e. Pemeriksaan fisik
SAK Penyakit Dalam/Metro Hospital [Link]
1) Neuro sensori
Disorientasi, mengantuk, stupor/ koma, gangguan
memori, kecacatan mental, reflek tendon menurun, aktifitas kejang.
2) Kardiovaskuler
Takikardi/ nadi menurun atau tidak ada, perubahan TD postural.
3) Pernafasan
Takipnoe pada keadaan istirahat/dengan aktifitas, sesak nafas,
batuk dengan tanpa seputum purulent dan tergantung ada/tidaknya
infeksipanastesial/paraliase otot pernafasan (jika kadar kalium
menurun tajam). RR > 24x/menit, nafas berbau aseton.
4) Eliminasi
Bising usus hiperaktif
5) Muskoloskeletas
Tonus otot menurun, penurunan kekuatan otot, ulkus pada kaki,
reflektendon menurun kesemutan/rasa berat pada tungkai
6) Integumen
Kulit panas, kering dan kemerahan, bola mata cekung,turgor jelek,
pembesaran tiroid, demam, keringat banyak
f. Pemeriksaan diagnostik
1) Gula darah meningkat >200mg/dl
2) Aseton plasma (aseton) : positif secara mencolok
3) Osmolaritas serum : meningkat tapi <330 m osm/it
4) Trombosit darah : mungkin meningkat (dehidrasi) leukositosis.
5) Amilase darah : mungkin meningkat > pankacatitis akut.
SAK Penyakit Dalam/Metro Hospital [Link]
I. DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1. Hipovolemi
2. Defisit nutrisi
3. Resiko infeksi
SAK Penyakit Dalam/Metro Hospital [Link]
D.0023
Tgl& Jam
HIPOVOLEMIA
DIAGNOSA KEPERAWATAN penegakan
Definisi: Penurunan vlume cairan intravaskuler, intertistial, dan/atau intraseluler
(SDKI) Diagnosa
LUARAN KEPERAWATAN INTERVENSI KEPERAWATAN
DATA PENUNJANG Keperawatan
(SLKI) (SIKI)
Berhubungan dengan: Gejala dan tanda mayor: Setelah dilakukan intervensi keperawatan Manajemen Hipovolemia Tgl:
□ Kehilangan cairan aktif Subjektif : tidak ada selama______hari/ jam, maka Observasi:
□ Kegagalan mekanisme Objektif : hypovolemia dapat teratasi, dengan □ Periksa tanda dan gejala hipovelemia (mis: frekuensi nadi meningkat,
regulasi □ Frekuensi nadi meningkat kriteria hasil: nadi terab lemah, tekanan darah menurun, tekanan nadi menyempit,
□ Peningkatan □ Nadi teraba lemah □ Kekuatan nadi turgor kulit menurun, membrane mukosa kering, volume urine
permeabilitas kapiler □ Tekanan darah menurun □ Turgor kulit membaik menurun, hematocrit meningkat, haus, lemah)
□ Kekurangan intake □ Tekanan nadi menyempit □ Intake dan output urine membaik □ Monitor intake dan output Pukul:
cairan □ Turhor kulit menurun □ Keluhan haus menhilang
□ Evaporasi □ Membrane mukosa kering □ Konsentrasi urine Terapeutik :
□ Volume urine menurun □ Tanda-tanda vital normal □ Hitung kebutuhan cairan
□ Hematocrit meningkat □ Kadar hematocrit rentang normal □ Berikan posisi modified trendelenbrug
□ Oliguria tidak terjadi □ Berikan asupan cairan oral
Gejala dan tanda minor :
Subjektif : Edukasi :
□ Merasa lemah □ Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral
□ Mengeluh haus □ Anjurkan menghindari oerubahan posisi mendadak
Objektif : Kolaborasi :
□ Pengisian vena menurun □ Kolaborasi pemberian cairan IV isotons (mis, NaCL, RL)
□ Status mental berubah □ Kolaborasi pemberian cairan IV (mis, glukosa, 2,5%, NaCL 0,4%)
□ Suhu tubuh meningkat □ Kolaborasi pemberian cairan koloid (mis< albumin, plasmaneate)
□ Konsentrasi urine meningkat □ Kolaborasi pemberian produk darah
□ Merat badan turun tiba-tiba
Pemantauan Cairan
Kondisi klinik terkait : Obserfasi:
□ Penyakit Addison □ Monitor TTV
□ Trauma/perdarahan □ Monitor berat badan
□ Lika bakar □ Monitor CRT
□ AIDS □ Monotor elasitisitas atau turgor kulit
□ Penyakit crohn □ Monitor jumlah, warna dan berat urine
SAK Penyakit Dalam/Metro Hospital [Link]
□ Muntah □ Monitor kadar albumin dan protein total
□ Diare □ Monitor hasil pemeriksaan serum (mis, osmolaritas serum,
□ Colitis ulseratif hematocrit, kalium, natrium, BUN)
□ hipoalbuminemia □ Monitor intake dan output cairan
Terapeutik:
□ Atur intervensi waktu pemantauan sesuai kondisi pasien
□ Cokumentasi dan hasil pemantauan
Edukasi:
□ Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
□ Informasikan pemantauan jika perlu
SAK Penyakit Dalam/Metro Hospital [Link]
D.0019
DIAGNOSA DEFESIT NUTRISI
KEPERAWATAN Definisi: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme dalam tubuh Waktu
(SDKI) LUARAN KEPERAWATAN INTERVENSI KEPERAWATAN
DATA PENUNJANG
(SLKI) (SIKI)
Berhubungan dengan: Ditandai dengan : Setelah dilakukan intervensi Ketidakseimbangan Nutrisi kurang dari kebutuhan Tgl:
□ Ketidakmampuan Gejala dan Tanda Mayor: keperawatan selama______hari/ tubuh
menelan Subjektif: jam, maka kebutuhan nutrisi Observasi:
□ Ketidakmampuan □ Menolak untuk makan terpenuhi, dengan kriteria hasil: □ Identifikasi status nutrisi
mencerna dan minum □ Kaji pemenuhan kebutuhan nutrisi dan status
makanan □ Pola makan minum terpenuhi alergi
□ Ketidakmampuan Objektif: □ Mengekspresikan untuk □ Kaji penurunan nafsu makan pasien Pukul:
mengabsorsi □ Berat badan menurun keinginan meningkatkan □ Jelaskan pentingnya makanan bagi proses
nutrisi minimal 10% dibawah nutrisi penyembuhan
□ Peningkatan rentangan edial □ Monitor asupan makanan dan ukur tinggi dan
□ Mau makan dan minum
kebutuhan berat badan pasien
metabolisme Gejala dan Tanda Minor: dengan porsi makan
□ Dokumentasikan masukkan oral selama 24jam,
□ Faktor ekonomi Sujektif : dihabiskan riwayat makanan,dan jumlah kalori dengan tepat
( kebutuhan □ Cepat kenyang setelah □ Bising usus normal (intake)
pokok sehari makan □ Tidak ada ganguan otot □ Ciptakan suasana makanan yang menyenangkan
belum tercukupi ) □ Kram atau nyeri menelan dan mengunyah □ Berikan atau sajikan makanan selagi hangat
□ Faktor psikologis ( abdomen □ Kulit tidak kering
stres, keengganan □ Nafsu makan menurun Teraupetik:
□ Tidak ada tanda tanda infeksi
untuk makan dan □ Lakukan oral hygiene sebelum makan
minum ) Objektif: □ Mukosa dan membran
dan hygeine pada tangan sebelum makan
□ Bising usus hiperaktif mukosa pada mulut terlihat □ Fasilitasi untuk menentukan pedoman diet
□ Otot penguyah lemah bersih □ Sajikan makanan yang menarik dan suhu yang
□ Otot menelan lemah sesuai
□ Membran mukosa pucat □ Berikan makanan tinggi serat untuk mencegah
□ Sariawan konstipasi
□ Serum albumin menurun □ Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein
□ Rambot rontok □ Berikan suplemen makanan jika perlu
berlebihan □ Hentikan pemberian makan melalui selang
□ Diare nasogastrik jika asupan oral dapat ditoleransi
SAK Penyakit Dalam/Metro Hospital [Link]
Kondisi klinik terkait: Edukasi:
□ Stroke □ Jelaskan pentingnya kebutuhan nutrisi pada
□ Parkinson metabolisme
□ Mobius syndrome □ Jelaskan pentingnya makan dengan posisi duduk
□ Cerebral palsi □ mengajarkan diet yang telah diprogramkan
□ Cleft lip □ menjelaskan makanan yang bergizi tinggi dan
□ Cleft palate tetap terjangkau.
□ Amyotropic lateral
sclerarosis Kolaborasi:
□ Kerusakan □ Kolaborasi dengan tim ahli gizi
neuromuscular □ Berikan nutrisi sesuai kebutuhan
□ Luka bakar □ Pantau perubahan nutrisi pada pasien
□ Infeksi □ Diskusi dengan pasien dan keluarga tentang
□ Aids kebiasaan makan,berat badan yang optimal
□ Penyakit cronh’s
□ Entrocolitis
□ Fibrosis kistik
SAK Penyakit Dalam/Metro Hospital [Link]
D.0142
DIAGNOSA RESIKO INFEKSI
KEPERAWATAN Definisi: Berisiko mengalami peningkatan terserang organisme patogenik Waktu
(SDKI) LUARAN KEPERAWATAN INTERVENSI KEPERAWATAN
DATA PENUNJANG
(SLKI) (SIKI)
Berhubungan dengan: Ditandai dengan : Setelah dilakukan intervensi Ketidakseimbangan Nutrisi kurang dari kebutuhan Tgl:
□ Penyakit kronis Gejala dan Tanda Mayor: keperawatan selama______hari/ tubuh
(missal diabetes jam, maka kebutuhan resiko Observasi:
mellitus) Gejala dan Tanda Minor: infeksi, dengan kriteria hasil: □ Monitor tanda dan gejala infeksi local dan
□ Efek presedur Sujektif : sistematik
invasive □ Kebersihan tangan meningkat Teraupetik:
□ Malnutrisi Kondisi klinik terkait: □ Kebersihan badan meningkat □ Batasi jumlah pengunjung Pukul:
□ Peningkatan □ AIDS □ Nafsu makan meningkat □ Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan
paparan □ Luka bakar □ Demam menurun pasien dan lingkungan pasien
oerganisme □ Penyakit paru obstruktif □ Berikan perawatan kulit pada area edema
□ Nyeri menurun
pathogen kronis □ Pertahankan teknik aseptic pada pasien berisiko
lingkungan □ Diabetes mellitus □ Bengkak menurun tinggi
□ Tindakan invansif □ Kadar sel darah putih Edukasi:
□ Kondisi penggunaan membaik □ Jelaskan tanda dan gejala infeksi
terapi steroid □ Kultur darah membaik □ Ajarkan mencuci tangan 6 langkah
□ Penyalahgunaan obat □ Kultur urine membaik □ Ajarkan cara memeriksa kondisi luka
□ Kanker □ Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi
□ Gagal ginjal □ Anjurkan meninkatkan asupan cairan
□ Imunosupresi
□ Lymphedema
□ Leukosittopenia Kolaborasi:
□ Ganguan fungsi hati □ Kolaborasi pemberian imunisasi jika perlu
SAK Penyakit Dalam/Metro Hospital [Link]