0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
54 tayangan31 halaman

Hubungan Pengetahuan dan Keterampilan Triage

Dokumen tersebut membahas tentang pengetahuan dan faktor yang mempengaruhi pengetahuan perawat dalam pelaksanaan triase di instalasi gawat darurat rumah sakit. Pengetahuan dipengaruhi oleh pendidikan, paparan media, dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara pengetahuan dan keterampilan triase perawat.

Diunggah oleh

OK RSUD
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
54 tayangan31 halaman

Hubungan Pengetahuan dan Keterampilan Triage

Dokumen tersebut membahas tentang pengetahuan dan faktor yang mempengaruhi pengetahuan perawat dalam pelaksanaan triase di instalasi gawat darurat rumah sakit. Pengetahuan dipengaruhi oleh pendidikan, paparan media, dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara pengetahuan dan keterampilan triase perawat.

Diunggah oleh

OK RSUD
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Klasifikasi dan perizinan rumah sakit menurut Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 56 tahun 2014, dalam pasal 1
dijelaskan bahwa institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna dengan menyediakan
pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat disebut dengan rumah
sakit. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
47 tahun 2018 dijelaskan bahwa tindakan medis yang dibutuhkan oleh pasien
gawat darurat dalam waktu segera untuk menyelamatkan nyawa dan
mencegah kecacatan disebut dengan pelayanan kegawatdaruratan.
Keadaan klinis yang membutuhkan tindakan medis dengan segera untuk
penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan disebut dengan gawat
darurat (Dinkes RI, 2018). Dalam pasal 7 Peraturan Menteri Kesehatan
Rapublik Indonesia Nomor 47 Tahun 2018 dijelaskan bahwa penanganan
kegawatdaruratan intrafasilitas pelayanan kesehatan dilakukan di rumah sakit
sesuai dengan kategori pelayanan, kategori yang dimaksud terdiri dari level I,
level II, level III dan level IV. Rumah sakit harus melaksanakan pelayanan
triase, survey primer, survey sekunder, tatalaksana definitive dan rujukan.
Triase sendiri merupakan proses memilah pasien yang datang ke intalalsi
gawat darurat (IGD) dengan cepat untuk menentukan pasien yang perlu
diobati segera dan pasien yang dapat menunggu (Amelia Kurniati, dkk.,
2013). Tujuan dari triase merupakan untuk menentukan orang yang tepat di
tempat yang tepat dan pada waktu yang tepat serta alasan yang tepat (Amelia
Kurniati, dkk., 2013).
Penelitian yang dilakukan oleh Nur Ainiyah, dkk., pada tahun 2014
tentang analisis faktor pelaksanaan triage di instalasi gawat darurat
menunjukkan bahwa faktor yang paling berhubungan dengan pelaksanaan
triage instalasi gawat darurat salah satunya merupakan ketenagaan dengan
nilai p value = 0,[Link] demikian dapat disimpulkan bahwa ketenagaan
yang baik dalam proses triase dapat mengoptimalkan pelayanan kesehatan
maupun keperawatan yang diberikan di instalasi gawat darurat.
Asuhan keperawatan yang diberikan pada individu dari seluruh rentang
usia yang mengalami gangguan masalah kesehatan yang bersifat aktual atau
berpotensi mengalami gangguan, baik fisik atau emosional, yang
memerlukan intervensi lebih lanjut merupakan salah satu definisi
keperawatan gawat darurat. Sebagai pemberi pelayanan langsung kepada
pasien maupun keluarga, perawat gawat darurat dituntut untuk memiliki
kemampuan daalam melakukan triase.
Tingkat pengetahuan memiliki hubungan yang bermakna dengan
keterampilan petugas dalam proses pelaksanaan triase (p value 0,025 < 0,05)
menurut penelitian yang dilakukan oleh oleh Renny Martanti, dkk., mengenai
hubungan tingkat pengetahuan dengan keterampilan petugas dalam
pelaksanaan triage di insstalasi gawat darurat RSUD Wates pada tahun
2015. Hasil penelitian serupa yang dilakukan oleh Taufani Rizki pada tahun
2017 di rumah sakit dr. Zainoel Abidin Banda Aceh menunjukkan bahwa
seluruh responden memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi, sedangkan
sebanyak 79,42% responden memiliki kategori terampil dalam pelaksanaan
triase.
Dari hasil survey awal yang dilakukan oleh peneliti terhadap 10 orang
perawat yang bertugas di instalasi gawat darurat RSUD Kota Tangerang, 10
orang memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai triase. Hasil survey
awal yang dilakukan oleh peneliti juga menunjukkan bahwa sebanyak 7
orang perawat memiliki keterampilan dalam kategori baik, sedangkan 3
orang perawat memiliki keterampilan dalam kategori kurang baik.
Berdasarkan hasil survey tersebut, peneliti bermaksud melakukan penelitian
lebih lanjut terkait hubungan tingkat pengetahuan dengan keterampilan
perawat dalam pelaksanaan triage di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD
Kota Tangerang.
1.2. Rumusan Masalah
Hasil survey awal yang dilakukan oleh peneliti terhadap 10 orang
perawat yang bertugas di instalasi gawat darurat RSUD Kota Tangerang, 10
orang memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai triase. Hasil survey
awal yang dilakukan oleh peneliti juga menunjukkan bahwa sebanyak 7
orang perawat memiliki keterampilan dalam kategori baik, sedangkan 3
orang perawat memiliki keterampilan dalam kategori kurang baik. Dari
pernyataan tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini merupakan
“apakah terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan keterampilan
perawat dalam pelaksanaan triage di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD
Kota Tangerang”.

1.3. Pertanyaan Penelitian


Pertanyaan penelitian dalam penelitian ini adalaah sebagai berikut:
1.3.1. Bagaimana gambaran usia, jenis kelamin dan tingkat pendidikan
perawat yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Kota
Tangerang?
1.3.2. Bagaimana gambaran tingkat pengetahuan perawat yang bertugas di
Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Kota Tangerang?
1.3.3. Bagaimana gambaran keterampilan triase perawat yang bertugas di
Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Kota Tanerang?
1.3.4. Bagaimana hubungan tingkat pengetahuan dengan keterampilan
perawat dalam pelaksanaan triage di Instalasi Gawat Darurat (IGD)
RSUD Kota Tangerang

1.4. Tujuan Penelitian


1.4.1. Tujuan Umum Penelitian
Penelitian ini secara umum dilakukan untuk mengetahui hubungan
antara tingkat pengetahuan dengan keterampilan petugas dalam
pelaksanaan triage di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Kota
Tangerang
1.4.2. Tujuan Khusus Penelitian
[Link]. Mengetahui gambaran karakteristik perawat yang bertugas
di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Kota Tangerang
berdasarkan usia, jenis kelamin dan tingkat pendidikan
[Link]. Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan perawat yang
bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Kota
Tangerang
[Link]. Mengetahui gambaran keterampialn triase perawat yang
bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Kota
Tangerang
[Link]. Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan
keterampilan perawat dalam pelaksanaan triage di Instalasi
Gawat Darurat (IGD) RSUD Kota Tangerang

1.5. Manfaat Penelitian


1.5.1. Bagi Peneliti
Peneliti beerharap penelitian yang dilakukan dapat menambah
pengetahuan tersendiri mengenai aplikasi triase di rumah sakit serta
pengaruh faktor tingkat pengetahuan terhadap keterampilan perawat
dalam pelaksanaan triase di IGD.
1.5.2. Bagi Instansi Rumah sakit
Penelitian yang telah dilakukan diharapkan dapat menjadi bahan
pertimbangan tersendiri dalam meningkatkan mutu pelayanan
kesehatan umumnya dan keperawatan khususnya melalui pelatihan
yang lebih intensif mengenai triase terhadap perawat yang bertugas
di IGD.
1.5.3. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian yang telah dilakukan dapat menjadi bahan
pertimbangan maupun data tambahan yang dapat digunakan dalam
penelitian selanjutnya yang terkait dengan triase.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengetahuan
2.1.1. Pengertian Pengetahuan
Hasil dari rasa keingintahuan melalui proses sensoris,
terutama pada mata dan telinga terhadap objek tertentu merupakan
salah satu pengertian pengetahuan. Domain yang penting dalam
terbentuknya perilaku terbuka atau open behavior merupakan
pengetahuan (Donsu, 2017). Hasil penginderaan individuatau hasil
tahu seseorang terhadap suatu objek melalui panca indra yang
dimilikinya merupakan pengertian pengetahuan. Panca indra
individuguna penginderaan terhadap objek yakni perabaan,
penglihatan, rasa, penciuman, dan pendengaran. intensitas perhatian
dan persepsi terhadap objek merupakan faktor penentu dalam proses
penginderaan hingga menghasilkan sebuah pengetahuan.
Pengetahuan seseorang sebagian besar diperoleh melalui indra
pendengaran dan indra penglihatan (Notoatmodjo, 2014).
Aspek yang terkandung dalam pengetahuan yaitu aspek
positif dan aspek negatif. Kedua aspek ini akan menentukan sikap
seseorang. Semakin banyak aspek positif dan objek yang diketahui,
maka akan menimbulkan sikap semakin positif terhadap objek
tertentu (Notoatmojo, 2014).

2.1.2. Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan


Menurut Notoatmodjo (2014), pengetahuan yang dimiliki
seseorang dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
a. Pendidikan
Tingkat pendidikan dapat mempengaruhi persepsi penginderaan
individu yang datang dari luar, sehingga pengetahuan yang
didapatkan setiap individu berbeda satu sama lain.
b. Paparan Media Massa
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan
individu merupakan intensitas paparan media massa, baik media
cetak maupaun media elektronik. Individu yang sering terpapar
akan memperoleh informasi yang lebih dibandingkan dengan
yang tidak pernah terpapar informasi media masa.
c. Ekonomi
Status ekonomi seseorang merupakan salah satu faktor yang
dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan individu. Kemampuan
individu untuk memenuhi kebutuhan primer maupun sekunder
secara tidak langsung dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan.
d. Hubungan Sosial
Pada dasarnya individumerupakan makhluk sosial, dimana dalam
kehidupan saling berinteraksi antara satu dengan yang lain. Dari
proses interaksi tesebut terjadi proses pertukaraan informasi yang
dapat mempengaruhi tingkat pengetahuanu individu.
e. Pengalaman
Pengalaman yang diperoleh individu dalam proses
perkembangannya dapat mempengaruhi persepsi individu
terhadap respon yang berasal dari luar, sehingga dapat
mempengaruhi tingkat pengetahuan individu tersebut.

2.1.3. Tingkat Pengetahuan


Pengetahuan seorang individu terhadap suatu objek
mempunyai intensitas atau tingkatan yang berbeda satu sama lain,
tingkatan tersebut terdiri dari (Wawan dan Dewi, 2010):
a. Tahu (Know)
Tingkatan terendah dalam pengetahuan merupakan tahu. Tahu
dapat didefinisikan sebagai recall atau memanggil memori yang
telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu yang spesifik
dan seluruh bahan yang telah dipelajari atau rangsangan yang
telah diterima. Kata kerja yang digunakan untuk mengukur orang
yang tahu tentang apa yang dipelajari yaitu dapat menyebutkan,
menguraikan, mengidentifikasi, menyatakan dan sebagainya.
b. Memahami (Comprehention)
Setelah mengeetahui suatu obyek, individu mulai emahami
bahwa suatu objek tersebut, dan juga tidak sekedar menyebutkan,
tetapi orang tersebut dapat menginterpretasikan secara benar
tentang objek yang diketahuinya tersebut. Orang yang telah
memahami objek dan materi harus dapat menjelaskan,
menyebutkan contoh, menarik kesimpulan, meramalkan terhadap
suatu objek yang dipelajari.
c. Aplikasi (Application)
Individu yang telah memahami suatu obyek mulai
mengaplikasikan pengetahuaun teresebut. Orang yang telah
memahami objek yang dimaksud dapat menggunakan ataupun
mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi atau
kondisi yang lain dapat diartikan sebagai aplikasi. Selain itu,
aplikasi dapat diartikan pula dalam penggunaan hukum, rumus,
metode, prinsip, rencana program dalam situasi yang lain.
d. Analisis (Analysis)
Tingkatan selanjutnya dari pengetahuan merupakan analisis.
Kemampuan seseorang dalam menjabarkan atau memisahkan,
lalu kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen
dalam suatu objek atau masalah yang diketahui dapat diartikan
sebagai analisis. Jika seseorang dapat membedakan,
memisahkan, mengelompokkan, membuat bagan (diagram)
terhadap pengetahuan mengenai suatu objek tersebut dapat
diindikasikana bahwa individu tersebut telah mencapai
pengetahuan tahapan ini.

e. Sintesis (Synthesis)
emampuan seseorang dalam merangkum atau meletakkan dalam
suatu hubungan yang logis dari komponen pengetahuan yang
sudah dimilikinya dapat diartikan sebagai sintesis. Dengan kata
lain suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari
formulasi yang sudah ada sebelumnya.
f. Evaluasi (Evaluation)
Kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap
suatu objek tertentu meruupakan pengeretian dari evaluasi.
Penilaian berdasarkan kriteria yang telah ditentukan sendiri atau
dengan menggunakan kriteria–kriteria yang telah ada.

2.1.4. Cara Memperoleh Pengetahuan


Menurut Notoatmojo (2014), cara memperoleh pengetahuan
terdiri dari dua cara, antaralain sebagai berikut :
a. Cara Tradisional
Cara ini dipakai orang untuk memperoleh kebenaran
pengetahuan, sebelum ditemukannya metode ilmiah atau metode
penemuan secara sistemik dan logis. Cara-cara penemuan
pengetahuan pada periode ini antara lain, meliputi:
1) Cara Coba–Salah (Trial and error)
Cara ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam
memecahkan masalah, dan apabila kemungkinan tersebut
tidak berhasil, dicoba kemungkinan yang lain. Pengalaman
yang diperoleh melalui penggunaan metode ini banyak
membantu perkembangan berpikir dan kebudayaan
individukearah yang lebih sempurna.
2) Cara Kekuasaan atau Otoritas
Pengetahuan diperoleh berdasarkan pada otoritas atau
kekuasaan, baik tradisi, otoritas pemerintah, otoritas pemuka
agama, maupun ahli ilmu pengetahuan. Para pemegang
otoritas, baik pemimpin pemerintahan, tokoh agama maupun
ahli ilmu pengetahuan pada prinsipnya mempunyai
mekanisme yang sama didalam penemuan pengetahuan.
3) Berdasarkan pengalaman pribadi
Pengalaman pribadi dapat digunakan sebagai upaya
memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan
mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam
memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lalu.
4) Melalui jalan pikiran
Kebenaran pengetahuan dapat diperoleh individudengan
menggunakan jalan pikirannya, baik melalui induksi maupun
deduksi yang merupakan cara melahirkan pemikiran secara
tidak langsung melalui pernyataan–pernyataan yang
dikemukakan dan dicari hubungannya sehingga dapat diambil
kesimpulan.
b. Cara Modern
Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan dewasa
ini dapat dikatakan lebih sistematis, logis dan murah. Cara ini
disebut metode penelitian ilmiah atau lebih popular (research
methodology). Setelah diadakan penggabungan antara proses
berpikir deduktif–induktif maka lahirlah suatu penelitian yang
dikenal dengan metode penelitian ilmiah.

2.1.5. Pengukuran Tingkat Pengetahuan


Menurut Arikunto (2006), pengetahuan dibagi dalam tiga kategori,
yaitu:
a. Bila subyek mampu menjawab dengan benar 76% - 100% dari
seluruh pernyataan maka dikatakan baik
b. Bila subyek mampu menjawab dengan benar 56% - 75% dari
seluruh pernyataan dapat dikatakan sedang
c. Bila subyek mampu menjawab dengan benar 40% - 55% dari
seluruh pernyataan, dapat dikatakan kurang baik
2.2. Perilaku
2.2.1. Pengertian Perilaku
Segenap manifestasi hayati individu dalam berinteraksi
dengan lingkungan, mulai dari perilaku yang paling nampak sampai
yang tidak tampak, dari yang dirasakan sampai paling yang tidak
dirasakan merupakan peengertiana perilaku menurt Okviana (2015).
Selain itu, perilaku merupakan hasil dari berbagai macam
pengalaman serta interaksi individu dengan lingkunganya yang
terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Perilaku
merupakan respon/reaksi seorang individu terhadap stimulus yang
berasal dari luar maupun dari dalam dirinya (Notoatmojo, 2010).
Suatu tindakan yang dapat diamati dan mempunyai frekuensi
spesifik, durasi dan tujuan baik disadari maupun tidak merupakan
definisi perilakuk menurut Wawan (2011). Perilaku merupakan
kumpulan berbagai faktor yang saling berinteraksi. Skiner (1938)
dalam Notoatmodjo (2011) merumuskan bahwa perilaku merupakan
respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari
luar). Pengertian ini dikenal dengan teori “S-O-R” atau “Stimulus-
Organisme-Respon”. Respon dibedakan menjadi dua yaitu:
a. Respon respondent atau reflektif
Merupakan respon yang dihasilkan oleh rangsangan-rangsangan
tertentu. Biasanya respon yang dihasilkan bersifat relatif tetap
disebut juga eliciting stimuli. Perilaku emosional yang menetap
misalnya orang akan tertawa apabila mendengar kabar gembira
atau lucu, sedih jika mendengar musibah, kehilangan dan gagal
serta minum jika terasa haus.
b. Operant Respon
Respon operant atau instrumental respon yang timbul dan
berkembang diikuti oleh stimulus atau rangsangan lain berupa
penguatan. Perangsang perilakunya disebut reinforcing stimuli
yang berfungsi memperkuat respon. Misalnya, petugas kesehatan
melakukan tugasnya dengan baik dikarenakan gaji yang diterima
cukup, kerjaan yang baik menjadi stimulus untuk memperoleh
promosi jabatan.

2.2.2. Jenis-Jenis Perilaku


Jenis-jenis perilaku individu menurut Okviana (2015) antara
lain berupa:
a. Perilaku sadar, perilaku yang melalui kerja otak dan pusat
susunan saraf.
b. Perilaku tak sadar, perilaku yang spontan atau instingtif.
c. Perilaku tampak dan tidak tampak.
d. Perilaku sederhana dan kompleks.
e. Perilaku kognitif, afektif, konatif, dan psikomotor

2.2.3. Bentuk-Bentuk Perilaku


Berdasarkan bentuk respons terhadap stimulus, maka perilaku
dapat dibedakan menjadi dua (Notoatmojo, 2011), antara lian berupa:
a. Bentuk pasif /Perilaku tertutup (covert behavior)
Respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung
atau tertutup merupakan bentuk perilaku tertutup. Respons atau
reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian,
persepsi, pengetahuan atau kesadaran dan sikap yang terjadi pada
seseorang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat
diamati secara jelas oleh orang lain.
b. Perilaku terbuka (overt behavior)
Respons terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk
tindakan atau praktik, yang dengan mudah dapat diamati atau
dilihat orang lain.
2.2.4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku
Menurut Green (dalam Notoatmodjo, 2014) perilaku individu
dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu:
a. Faktor predisposisi (predisposing), yaitu faktor yang
mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku
seseorang. Faktor ini terwujud dalam pengetahuan, sikap,
kepercayaan, nilai-nilai dan sebagainya.
b. Faktor pemungkin (enabling), yaitu faktor-faktor yang
memungkinkan atau yang memfasilitasi individu untuk
berperilaku. Faktor ini terwujud dalam ketersediaan sarana dan
prasarana atau fasilitas untuk terjadinya perilaku sehat. Ketiadaan
fasilitas dapat menurunkan niat individu untuk berperilaku sehat.
c. Faktor penguat (reinforcing), yaitu faktor-faktor yang mendorong
atau mendukung dan memperkuat terjadinya perilaku. Faktor ini
terwujud dalam adanya dukungan sosial, sikap dan perilaku
petugas kesehatan serta adanya referensi dari pribadi yang
dipercaya.
Sementara itu, menurut Karr (dalam Notoatmodjo, 2014)
menyebutkan bahwa adanya beberapa faktor yang mempengaruhi
perilaku sehat. Faktor-faktor tersebut yaitu:
a. Niat (behaviour intention)
Adanya niat individu untuk bertindak sehubungan objek atau
stimulus diluar dirinya. Seseorang untuk bertindak sehubungan
dengan objek atau stimulus di luar dirinya. Misalnya, pria mau
menggunakan alat kontrasepsi apabila dia memiliki niat untuk
menggunakan alat kontrasepsi tersebut (Notoatmodjo, 2014).
b. Dukungan sosial (social support)
Dukungan dari masyarakat sekitar mempengaruhi perilaku
individu. Di dalam kehidupan masyarakat, perilaku individu
cenderung memerlukan penghargaan dari masyarakat.
Seminimalnya dalam berperilaku sehat tidak menjadi gunjingan
di masyarakat. Selain itu, dukungan sosial dinilai sukses dalam
mempengaruhi perilaku sehat individu (Benih, 2014). Menurut
banyak penelitian, keberadaan dukungan sosial amatlah penting
dalam mempengaruhi perilaku sehat. Seringkali ditemui
kegagalan atau keberhasilan yang bersifat sementara di dalam
penyelenggaraan promosi kesehatan, karena dukungan sosial
kurang bahkan tidak ada. Seringkali upaya menerapkan perilaku
sehat sia-sia karena kurangnya dukungan sosial (Notoatmodjo,
2014; Benih, 2014; Marmi, 2013; Prawitasari, 2012; Taylor,
2003; Sheridan, 1992).
c. Akses Informasi (accessebility of information)
Akses informasi merupakan tersedianya informasi-informasi
terkait dengan tindakan yang akan diambil seseorang. Informasi
yang cukup dapat menghasilkan pengetahuan terkait bagaimana
mencegah suatu penyakit, sehingga individu dapat mengenali
permasalahan yang ada. Hal ini mendorong untuk berperilaku
sehat.
d. Otonomi Pribadi (personal autonomy)
Otonomi pribadi merupakan kewenangan berperilaku yang
ditentukan berdasarkan keinginan diri sendiri. Dalam
pengambilan keputusan yang bebas oleh individu saat ini dinilai
masih sukar. Misalnya di Indonesia, istri harus tunduk terhadap
suami. Sehingga ruang pengambilan keputusan tergantung suami.
e. Situasi yang memungkinkan (action situation)
Adanya kondisi dan situasi yang memungkinkan meliputi
pengertian yang luas, baik itu berkaitan dengan fasilitas yang
tersedia maupun kemampuan yang tersesdia. Tersediannya
fasilitas dan kemampuan membuat individu mampu mewujudkan
sikap. Tindakan tidak akan terlaksana tanpa adanya sarana dan
prasarana (Notoatmodjo, 2014).
2.3. Triase
2.3.1. Definisi Triase
Triase merupakan proses memilah pasien yang datang ke
Instalasi Gawat Darurat (IGD) dengan cepat untuk menentukan
pasien yang perlu diobati segera dan pasien yang dapat menunggu
(Kurniati, 2018). Kata triase berasal dari bahasa perancis trier, yang
berarti memilah atau memilih. Tujuan dari tiase merupakan untuk
menentukan orang yang tepat di tempat yang tepat pada waktu yang
tepat serta untuk alasan yang tepat. Pada akhirnya, tujuan triase
merupakan untuk memaksimalkan peluang hidup pasien yang
berkunjung di Instalasi Gawat darurat (IGD).
Untuk membantu mengambil keputusan, dikembangkan suatu
sistim penilaian kondisi medis dan klasifikasi keparahan dan kesegeraan
pelayanan berdasarkan keputusan yang diambil dalam proses triase.
Penilaian kondisi medis triase tidak hanya melibatkan komponen topangan
hidup dasar yaitu jalan nafas (airway), pernafasan (breathing) dan sirkulasi
(circulation) atau disebut juga ABC approach, tapi juga melibatkan
berbagai keluhan pasien dan tanda-tanda fisik. Penilaian kondisi ini disebut
dengan penilaian berdasarkan kumpulan tanda dan gejala (syndromic
approach). Contoh sindrom yang lazim dijumpai di unit gawat darurat
merupakan nyeri perut, nyeri dada, sesak nafas, dan penurunan kesadaran.

2.3.2. Sistem Triase


Saat ini, sebagian besar IGD menggunakan bermacam-
macam jenis jenis sistem triase. Sistem tersebut memiliki beberapa
perbedaan mendasar dalam hal siapa yang melaklukan triase,
kedalaman pengkajian, dan jumlah informasi yang diperlukan pasien.
Adapun sistem triase yang digunakan saat ini merupakan sebagai
berikut (Kurniati, 2018):
a. Sistem triase komprehensif
Triase komprehensif merupakan jenis sistem triase yang
terbaru dan merupakan sistem yang saat ini direkomendasikan
oleh Emergency Nurse Association (ENA). Sistem triase
komprehensif memiliki kebijakan, prosedur, dan protokol (atau
standar) yang digunakan sebagai pedoman. Proses pengkajian
meliputi pengumpulan data keluhan utama dan data subjektif atau
objektif lainnya yang relevan. Tujuan dari pengkajian triase
komprehensif merupakan untuk mengumpulkan informasi yang
adekuat untuk mendukung keputusan ketika mengkategorikan
tingkat keparahan. ENA merekomendasikan bahwa proses triase
dilakukan tidak lebih dari 5 menit dan paling cepat 2 menit
(Kurniati, 2018).
b. Triase 2 level
Secara ideal, setiap pasien yang berkunjung ke IGD akan
dilakukan penilaian triase segera. Karena jumlah pasien yang
tinggi, banyak rumah sakit telah mengevaluasi bahwa tujjuan ini
tidak dapat dicapai sehingga mengadopsi sistem triase 2 level.
Perawat triase mengkaji pasien beberapa menit setelah
kedatangan dan menentukan keluhan utama sekaligus melakukan
penilaian singkat jalan napas, pernapasan, dan peredaran darah
(airway, breathing and circulation). Perawat ini kemudian
memutuskan apakah pasien perlu dilihat segera atau dapat
menunggu untuk penilaian lebih lanjut. Pasien stabil akan akan
dikaji data keluhan utama oleh perawat triase pertama dan
kemudian dirujuk kepada perawat triase kedua.
c. Triase 5 level
Saat ini, ada empat sistem triase 5 level yang berbasis
penelitian yang digunakan di seluruh dunia. Dalam setiap jenis
sistem triase tersebut, level 1 mewakili tingkat kegawatan
tertinggi (paling gawat), sedangkan level 5 digunakan untuk
mengkategorikan pasien dengan kondisi kegawatan paling rendah
(tidak gawat tidak darurat). Sistem triase 5 level tersebut antara
lain merupakan:
1) Australian Triage Scale (ATS)
Komunitas medis gawat darurat Australia mengadopsi
Australaian Triage Scale (ATS) pada tahun 1993 dan tetap
digunakan hingga saat ini (Kurniati, 2018). Berdasarkan
penelitian dan konsesus para ahli, masing-masing kategori
berisi daftar deskripsi klinis atau kondisi yang spesifik
dengan dengan tingkat kegawatan tertentu. Target waktu
untuk dilakukan evaluasi objektif oleh dokter diberikan
pada masing-masing kategori.
Tabel 2.1
Autralian Triage Scale (ATS)
Level Waktu Presentase Contoh
Tunggu Kinerja
Tindakan
1 Immediately Segera 100 Henti
life napas atau
threatening henti
(langsung jantung
mengancam
nyawa)
2 Imminantly 10 Menit 80 Nyeri
life dada,
threatening stridor
(tidak
langsung
mengancam
nyawa)
3 Potentially 30 Menit 75 Hipertensi
life berat,
threatening penurunua
(berpotensi n imun
mengancam dengan
nyawa) demam
4 Potentially 60 Menit 70 Nyeri
serious abdomen
(berpotensi
menjadi lebih
parah)
5 Less urgent 120 Menit 70 Luka
(tidak parah) minor
2) Canadian Triage and Acuity Scale (CTAS)
Dalam Canadian Triage and Acuity Scale (CTAS), keluhan
utama pasien ditentukan oleh perawat triase. Keluhan
utama ini secara otomatis menentukan level CTAS minimal
sesuai keluhan spesifik, tetapi level ini bisa berubah karena
adanya variabel pengubah pertama dan kedua.
Berdasarkan keluhan utama, perawat triase kemudian
mengevaluasi variabel pengubah pertama, yang
didefinisikan sebagai variabel pengubah umum yang
berlaku pada berbagai macam keluhan utama. Variabel
pengubah pertama terdiri dari tanda-tanda vital, tingkat
kesadaran, level nyeri dan mekanisme cedera. Gambaran
level CTAS tersebut merupakan sebagai beriut:
Tabel 2.2
Canadian Triage and Acuity Scale (CTAS)

Waktu untuk
Level Warna Nama Pengkajian Ulang

1 Biru Resuscitation Perawatan terus


menerus
2 Merah Emergent 15 Menit
3 Kuning Urgent 30 Menit
4 Hijau Less Urgent 60 Menit
5 Putih Non Urgent 120 Menit

3) Manchester Triage Sclae (MTS)


Manchester Triage Sclae (MTS) dikembangkan di Inggris
oleh sekelompok perawat dan dokter gawat darurat yang
menciptakan sistem rinci berbasis diagram alur (Kurniati,
2018). Setiap level triase diberi nama, nomer dan kode
warna untuk menandai target waktu setiap pasien untuk
diperiksa.
Tabel 2.3
Manchester Triage Sclae (MTS)

Target
Nomor Nama Warna Waktu

1 Immediate Merah 0
2 Very Urgent Oranye 10 Menit
3 Urgent Kuning 60 Menit
4 Standard Hijau 120 Menit
5 Non Urgent Biru 240 Menit

4) Emergency Severity Index (ESI)


Sistem triase 5 level berbasis penlitian ini mengkategorikan
pasien bedasarkan level kegawatan dan kebutuhan sumber
daya yang diperlukan. Kegawatan didefinisikan sebagai
kettidakstabilan fungsi-fungsi vital dan potensi yang
mengancam nyawa, anggota tubuh atau organ.

2.3.3. Prosedur Triase


Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 47 Tahun
2018 tentang pelayanan kegawatdaruratan, proses triase yang
dilaksanakan di rumah sakit merupakan sebagai berikut:
a. Pasien datang diterima tenaga kesehatan di IGD Rumah Sakit
b. Di ruang triase dilakukan pemeriksaan singkat dan cepat
(selintas) untuk menentukan derajat kegawatdaruratannya oleh
tenaga kesehatan dengan cara:
1) Menilai tanda vital dan kondisi umum pasien
2) Menilai kebutuhan medis
3) Menilai kemungkinan bertahan hidup
4) Menilai bantuan yang memungkinkan
5) Memprioritaskan penanganan definitif
c. Namun bila jumlah Pasien lebih dari 50 orang, maka triase dapat
dilakukan di luar ruang triase (di depan gedung IGD Rumah
Sakit).
d. Pasien dibedakan menurut kegawatdaruratannya dengan memberi
kode warna:
1) Kategori merah: prioritas pertama (area resusitasi) Pasien
cedera berat mengancam jiwa yang kemungkinan besar dapat
hidup bila ditolong segera.
2) Kategori kuning: prioritas kedua (area tindakan) Pasien
memerlukan tindakan defenitif tidak ada ancaman jiwa
segera.
3) Kategori hijau: prioritas ketiga (area observasi) Pasien degan
cedera minimal, dapat berjalan dan menolong diri sendiri atau
mencari pertolongan.
4) Kategori hitam: prioritas nol Pasien meninggal atau cedera
fatal yang jelas dan tidak mungkin diresusitasi.
e. Pasien kategori merah dapat langsung diberikan tindakan di
ruang resusitasi, tetapi bila memerlukan tindakan medis lebih
lanjut, Pasien dapat dipindahkan ke ruang operasi atau di rujuk
ke Rumah Sakit lain.
f. Pasien dengan kategori kuning yang memerlukan tindakan medis
lebih lanjut dapat dipindahkan ke ruang observasi dan menunggu
giliran setelah Pasien dengan kategori merah selesai ditangani.
g. Pasien dengan kategori hijau dapat dipindahkan ke rawat jalan,
atau bila sudah memungkinkan untuk dipulangkan, maka Pasien
diperbolehkan untuk dipulangkan.
h. Pasien kategori hitam dapat langsung dipindahkan ke kamar
jenazah.
2.3.4. Kerangka Teori Penelitian

Konsep Perilaku

Pengertian Perilaku

Jenis-Jenis Perilaku

Bentuk-Bentuk Perilaku

Faktor-Faktor yang
Konsep Triase Mempengaruhi Perilaku
Definisi Triase

Sistem Triase

Prosedur Triase
Konsep Pengetahuan
Pengertian Pengetahuan
Faktor Yang Mempengaruhi
Pengetahuan
Tingkat Pengetahuan
Cara Memperoleh
Pengetahuan
Pengukuran Tingkat
Pengetahuan
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

1.1 Kerangka Konsep


Kerangka konsep penelitian merupakan suatu uraian dan visualisasi
hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep lainnya, atau antara
variabel yang satu dengan variabel yang lain dari masalah yang ingin diteliti
(Notoatmojo, 2010). Konsep merupakan abstraksi dari suatu realitas agar
dapat dikomunikasikan dan membentuk suatu teori yang menjelaskan
keterkaitan antar variabel (baik variabel yang diteliti maupun yang tidak
diteliti) (Nursalam, 2011). Jenis variabel yang digunakan dalam penelitian ini
terdiri atas 2 jenis variabel, yaitu variabel bebas (independent) dan variabel
terikat (dependent). Adapun kerangka konsep dalam penelitian ini merupakan
sebagai beriktu:

Variabel Bebas Variabel Terikat


(Independent) (Dependent)

Tingkat pengetahuan Perilaku perawat


mengenai triase
Baik
Baik Kurang Baik
Kurang Baik

Skema 3.1 Kerangka Konsep Penelitian

1.2 Definisi Operasional


Berdasarkan kerangka konsep tersebut, definisi operasional dari
penelitian ini merupakan sebagai berikut:
Variabel Definisi Indikator Alat Ukur Skala Skor
Operasional

Variabel Bebas

Tingkat Pengetahuan Tingkat Lembar Ordinal Baik,


pengetahuan perawat pengetahuan kuesioner bila
perawat mengenai perawat dengan total
mengenai konsep dasar mengenai menggunakan nilai <
triase triase yang triase hasil jawaban nilai
dilakukan di ukur berupa pilihan ganda median
rumah sakit tingkat Kurang
yang pengetahuan Baik,
meliputi baik dan bila
definisi, kurang baik total
jenis, dan nilai >
prosedur nilai
triase median

Variabel Terikat

Keterampilan Kemampuan Kemampuan Lembar Ordinal Baik,


perawat perawat perawat observasi bila
dalam dalam dengan total
melakukan melakukan menggunakan nilai <
triase sesuai triase pada piplihan nilai
dengan saat pasien jawaban “Ya median
standar pertama kali “ dan “Tidak” Kurang
operasional masuk ke Baik,
prosedur ruang IGD, bila
(SOP) respon yang total
ditunjukkan nilai >
berupa baik nilai
dan kurang median
baik

1.3 Hipotesis
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan, hipotesis yang digunakan
penelitian ini merupakan sebagai berikut:
H0 : Hubungan tingkat pengetahuan dengan keterampilan perawat
dalam pelaksanaan triage di Instalasi Gawat Darurat (IGD)
RSUD Kota Tangerang
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian


Desain penelitian yang dipilih dalam penelitian ini merupakan
deskriptif korelatif. Penelitian deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan
(memaparkan) fenomena maupun kejadian, sedangkan korelatif bertujuan
untuk mengembangkan hubungan antar variabel (Nursalam, 2011). Penelitian
ini menggunakan pendekatan cross sectional. Penelitian cross sectional
merupakan jenis penelitian yang menekankan pada waktu
pengukuran/observasi data variabel independen dan dependen dalam waktu
yang sama. Metode penelitian ini disebut metode kuantitatif karena data
penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik yang
digunakan untuk meneliti populasi atau sampel tertentu (Jiwantoro, 2017).

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian


Proses penelitian akan dilaksanakan dalam kurun waktu 1 bulan di
Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Kota Tangerang pada bulan April tahun
2020.

3.3 Populasi dan Sampel


3.3.1 Populasi
Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas
objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulan (Jiwantoro, 2017). Populasi yang digunakan dalam
penelitian ini merupakan seluruh perawat yang bertugas di Innstalasi
Gawat darurat (IGD) RSUD Kota Tangerang, yaitu sebanyak 24 orang.
3.3.2 Sampel
Sampel menurut Notoatmojo (2010) merupakan objek yang
diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi dalam penelitian.
Teknik pengambilan sampel yang dilakukan dalam penelitian ini
merupakan dengan menggunakan teknik total sampling. Menurut
Sugiyono dalam Donsu (2016) total sampling merupakan teknik
pengambilan sampel dimana jumlah sampel sama dengan jumlah
populasi.
Menurut Sugiyono dalam Donsu (2016), alasan pengambilan total
sampling merupakan karena jumlah populasi yang kurang dari 100,
sehingga seluruh populasi dijadikan sampel dalam penelitian. Dalam
penelitian ini, jumlah sampel yang digunakan merupakan sebanyak 24
orang perawat yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD
Kota Tangerang.

3.4 Instrumen dan Cara Pengumpulan Data


3.4.1 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan alat-alat yang akan digunakan
untuk pengumpulan data. Dalam penelitian ini, instrumen yang
digunakan berupa kuesioner mengenai tingkat kepatuhan pasien
hemodialisa dan kualitas hidup pasie yang menjalani hemodialisa.
Kuesioner yang akan digunakan dalam penelitian merupakan sebagai
berikut :

a. Instrumen A : Digunakan untuk melihat gambaran karakteristik


responden. Karakteristik tersebut berupa jenis kelamin, usia, tingkat
pendidikan, dan lama waktu bekerja.
b. Instrumen B : Digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan
perawat mengenai triase. Kuesioner yang digunakan berupa
pertanyaan yang memiliki jawaban berupa pilihan ganda.
c. Instrumen C : Digunakan untuk mengukur keterampilan perawat
dalam melakukan triase. Kuesioner yang digunakan berupa
pernyataan yang berisi pilihan jawaban “Ya” dan “Tidak”.

3.4.2 Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen


a. Uji Validitas Instrumen
Validitas merupakan tingkat kehandalan dan kesahihan alat
ukur yang digunakan. Instrumen dikatakan valid berarti menunjukan
alat ukur yang dipergunakan untuk mendapatkan data itu valid atau
dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur
(Sugiono, 2004). Dengan demikian, instrument yang valid
merupakan instrument yang benar–benar tepat untuk mengukur apa
yang hendak di ukur. Uji validitas instrument untuk mengetahui
nilai koefesien setiap butir pertanyaan dengan menggunakan rumus
Pearson Product Moment.
Untuk mengetahui masing–masing item pertanyaan baik
instrument dukungan keluarga maupun instrument kualitas hidup
lansia dengan membandingkan antara r hitung dengan r table. Bila
hasil r hitung lebih besar dari r tabel maka pertanyaan tersebut valid
dan bila r hitung kurang dari r tabel maka pertanyaan tersebut tidak
valid.
Kuesioner yang digunakan untuk mengukur tingkat
pengetahuan perawat telah dilakukan uji validitas oleh Akhmad
(2016) melalui penelitian yang berjudul gambaran pengetahun dan
penerapan triage oleh perawat di Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr.
Soedirman Kebumen. Hasil uji validitas menunjukkan nilai r hitung
berkisar antara 0,581 – 0,919 (> r tabel). Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa setiap item pertanyaan yang terdapat dalam
kuesioner tersebut dapat dikatakan valid.
Untuk mengetahui keterampilan perawat, lembar observasi
yang digunakan berdasarkan satndar operasional prosedur (SOP)
triase yang dimilki oleh RSUD Kota Tangerang.
b. Uji Reliabilitas Instrumen
Uji reliabilitas merupakan alat untuk mengukur suatu
kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk.
Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban
seseorang terhadap pernyataan merupakan konsisten dari waktu ke
waktu. Pengukuran dilakukan dengan cara one shoot measure, yaitu
pengukuran dilakukan sekali, kemudian hasilnya dibandingkan
dengan pernyataan lain atau mengukur korelasi antar jawaban
pertanyaan. Program pengolahan data yang ada di komputer
memberikan fasilitas untuk mengukur reliabilitas dengan uji
statistik cronbach alpha. Suatu variabel di katakan relialibel jika
memberikan nilai cronbach alpha ≥ r tabel.
Hasil uji validitas terhadap kuesioner tingkat pengetahuan
perawat yang dilakukan oleh Akhmad (2016) didapatkan nilai
cronbach alpha sebesar 0,948 (> r tabel). Maka dapat disimpulkan
bahwa setiap item pertanyaan yang digunakan dalam penelitian ini
reliabel.

3.4.3 Cara Pengumpulan Data


Proses pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti merupakan
sebagai berikut :
a. Tahap persiapan
Tahap persiapan yang dilakukan dalam proses penelitian ini
merupakan pengajuan izin penelitian terhadap instansi yang terkait
dalam proses penelitian
b. Tahap pelaksanaan
1) Peneliti mendatangi calon responden di lokasi penelitian
2) Peneliti menjelaskan tujuan dan maksud dari penelitian yang
akan di lakukan, serta menjamin hak – hak responden
3) Apabila calon responden bersedia menjadi responden dalam
penelitian ini, maka peneliti meminta calon responden untuk
menandatangani lembar persetujuan pengisian kuesioner.
4) Peneliti membagikan lembar kuesioner kepada responden yang
telah menandatangani lembar persetujuan
5) Setelah lembaran kuesioner di isi oleh responden, peneliti
langsung mengumpulkan dan memeriksa kelengkapannya. Jika
pengisian kuesioner belum lengkap, responden di minta kembali
untuk melengkapinya
6) Setelah lembar kuesioner terkumpul, kemudian peneliti
melakukan pengolahan dan analisa data menggunakan statistik.

3.5 Pengolahan dan Analisa Data


3.5.1 Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan untuk menghasilkan informasi yang
benar sesuai dengan tujuan penelitian dengan menggunakan perangkat
komputer Kegiatan ini dilakukan dengan tahapan:
a. Editing
Tahap ini yaitu proses memerika kuesioner berkaitan dengan
kelengkapan dalam pengisian, kemudian menyesuaikan jumlah
kuesioner dan responden.
b. Coding
Tahap ini yaitu proses memberikan kode di pertanyaan dan jawaban
yang terdapat pada kuesioner untuk memudahkan pengolahan data.
c. Entry
Tahap ini yaitu proses memasukan data ke dalam sistem
komputerisasi dengan menggunakan perangkat lunak statistik,
kemudian dilakukan pengolahan data setelahnya.
d. Cleaning
Tahap ini yaitu proses mengelompokan data sesuai dengan
karakteristik yang ditentukan, kemudian memeriksa ulang apabila
ada kesalahan pada tahap pengolahan data sebelumnya.
e. Tabulating Data
Tahap ini yaitu proses memindahkan hasil pengolahan data ke
dalam bentuk tabel-tabel, sehingga data lebih mudah
diinterpretasikan.

3.5.2 Analisa Data


Pada tahap ini dilakukan analisis terhadap data yang sudah di-
entry sehingga dihasilkan informasi yang dapat digunakan untuk
menjawab pertanyaan penelitian dan menguji hipotesis. Analisis data
pada penelitian ini meliputi :
a. Analisis Univariat
Analisa univariat bertujuan untuk menjelaskan atau
mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian. Bentuk
analisis univariat tergantung jenis datanya. Untuk data numerik
digunakan nilai mean, median dan standar deviasi (Notoatmojo,
2012). Analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi yang
diolah menggunakan SPSS 22.0.
Analisa univariat yang dilakukan dalam penelitian ini antara
lain berupa jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, lama waktu
menjalani hemodialisa, tingkat kepatuhan pasien dan kualitas hidup
papsien.
b. Analisis Bivariat
Analisis Bivariat merupakan analisis yang dilakukan untuk
mengetahui hubungan antara dua variabel yang diteliti. Pengujian
hipotesis ini menggunakan uji statistik Pearson Chie-Square dengan
bantuan pengolahan SPSS 22.0. Analisis bivariat yang dilakukan
dalam penelitian merupakan untuk mencari hubungan antara tingkat
kepatuhan dan kualitas hidup pasien yang menjalani hemodialisa di
Klinik AVIO.

3.6 Etika Penelitian


Sebelum melakukan pengumpulan data, peneliti menjelaskan kepada
responden tentang tujuan penelitian, manfaat, prosedur, hak – hak responden,
kerahasian dan identitas dalam pengisian kuosioner. Semua responden yang
memenuhi kriteria dan berpastisipasi dalam penelitian ini dengan
membubuhkan tanda tangan pada surat pernyataan. Penelitian ini dilakukan
dengan memperhatikan prinsip – prinsip etika sebagai berikut:
3.6.1. Informed concent
Sebelum melakukan penelitian, peneliti memberikan penjelasan
kepada responden tentang tujuan penelitian yang akan dilakukan.
Jika responden bersedia maka ia mengisi lembar persetujuan dan
menandatanganinya.
3.6.2. Anonimity
Identitas responden tidak perlu mengisi identitas diri (tidak
mencantumkan nama responden) dengan tujuan menjaga kerahasian
responden. Lembaran kuesioner penelitian ini mengunakan kode
responden, sehingga prinsip anonimity responden terjaga, sehingga
responden bisa memberikan jawaban yang sesuai.
3.6.3. Privacy
Identitas responden tidak akan diketahui oleh orang lain sehingga
responden dapat bebas untuk menentukan pilihan, jawaban dari
kuesioner tanpa takut di intimidasi dari pihak yang lain.
3.6.4. Confidentiality
Informasi yang telah di kumpulkan dari responden dijamin
kerahasiannya oleh peneliti. Responden diberikan jaminan bahwa
data yang diberikan tidak akan berdampak pada kegiatan
[Link] penjelasan kepada responden tentang tujuan penelitian
yang akan dilakukan. Jika responden bersedia maka ia mengisi
lembar persetujuan dan menandatanganinya.
3.6.5. Anonimity
Identitas responden tidak perlu mengisi identitas diri (tidak
mencantumkan nama responden) dengan tujuan menjaga kerahasian
responden. Lembaran kuesioner penelitian ini mengunakan kode
responden, sehingga prinsip anonimity responden terjaga, sehingga
responden bisa memberikan jawaban yang sesuai.
3.6.6. Privacy
Identitas responden tidak akan diketahui oleh orang lain sehingga
responden dapat bebas untuk menentukan pilihan, jawaban dari
kuesioner tanpa takut di intimidasi dari pihak yang lain.
3.6.7. Confidentiality
Informasi yang telah di kumpulkan dari responden dijamin
kerahasiannya oleh peneliti. Responden diberikan jaminan bahwa
data yang diberikan tidak akan berdampak pada kegiatan belajar

Anda mungkin juga menyukai