0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
38 tayangan103 halaman

Dasar Hukum Pengelolaan Sampah

Dokumen tersebut membahas tentang dasar hukum dan konsep program penanganan sampah rumah tangga dan sampah sejenisnya berdasarkan UU No. 18/2008 dan Permen PU No. 3/2013 serta menjelaskan klasifikasi sumber dan karakteristik sampah."

Diunggah oleh

Sauqi Abdillah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
38 tayangan103 halaman

Dasar Hukum Pengelolaan Sampah

Dokumen tersebut membahas tentang dasar hukum dan konsep program penanganan sampah rumah tangga dan sampah sejenisnya berdasarkan UU No. 18/2008 dan Permen PU No. 3/2013 serta menjelaskan klasifikasi sumber dan karakteristik sampah."

Diunggah oleh

Sauqi Abdillah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Persampahan

Dasar Hukum
UU No. 18/2008 ttg Pengelolaan Sampah
PP No.16/2005 ttg Pengembangan SPAM
PP No. 23/2005 ttg Pengelolaan Keuangan BLU
PP No. 38/2007 ttg Pembagian Urusan Pemerintahan
PP No. 15/2010 ttg Penyelenggaraan Penataan Ruang
PP No. 81/2012 ttg Pengelolaan Sampah Rumah Tangga &
Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 03/PRT/M/2013
Ttg: Penyelenggaraan Prasarana & Sarana Persampahan
Dalam Penanganan Sampah Rumah Tangga
Dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga
KONSEP PROGRAM PENANGANAN SAMPAH
UU 18/2008 PERUBAHAN IKLIM
PENGURANGAN
PP 81/2012 SAMPAH
• Extended Producen Responsibility (EPR)
•Teknologi Packaging
• UU 32/2009: LH
SKALA RUMAH TANGGA
• UU 7/2004: SDA
• PP 16/2005:SPAM SKALA KAWASAN TPS 3R
• JAKSTRA
Pemilahan
• Permen PU No. SKALA KOTA TPST, TPA
3/2013
SKALA KAWASAN
PENANGANA Pengumpulan
SKALA KOTA
N SAMPAH
SKALA KAB/KOTA SPA
Pengangkuta SKALA PROV : LINTAS SPA
n KAB/KOTA

Pengolahan PEMADATAN SKALA KAWASAN, KOTA SPA

PENGOMPOSAN SKALA RT, KAW, KOTA TPS 3R, TPST, TPA

DAUR ULANG SKALA KAWASAN, KOTA TPS 3R, TPST, TPA


MATERI

DAUR ULANG SKALA KAWASAN, KOTA TPS 3R, TPST, TPA


ENERGI

METODE LAHAN URUG TERKENDALI


Pemoresan SKALA KAB/KOTA
Akhir
METODE LAHAN URUG SANITER
SKALA PROV : LINTAS
METODE RAMAH LINGKUNGAN KAB/KOTA
Timbulan sampah
terus meningkat (2 –
4) %/tahun) dan
keterbatasan lahan
TPA, bila dibuang
ke TPA setiap saat
maka diperlukan
lahan TPA yang
baru

Perlu adanya
pengurangan
sampah dari
sumber 3R
(Reduce,
Reuse
Recycle)
PERLU MERUBAH CARA PANDANG
TERHADAP SAMPAH !

SAMPAH ADALAH SUMBER DAYA

▪ Tanpa upaya pengurangan dan pemanfaatan


sampah, volume sampah yang dibuang ke
tempat pembuangan akhir (TPA) terus
meningkat....

▪ Lahan untuk TPA sampah makin sulit


diperoleh.
TRANSFORMASI KEBIJAKAN & STRATEGI
UU 18 TAHUN 2008

AWALI ... MEMILAH SAMPAH …


SEJAK DISUMBERNYA … !
Latar belakang

Permen PU No. 21/PRT/M/2006:


Kebijakan dan Strategi Nas.
Pengemb. Pengelolaan Persampahan
UU N0.18/2008: Pengelolaan Sampah
Permen PU 3/2013: Penyelenggaraan
Prasarana & Sarana Persampahan
dalam Penanganan Sampah Rumah
Tangga dan Sampah Sejenis Sampah
Rumah Tangga
Target pengurangan 20%

Penyelenggaraan pengelolaan
sampah menganut prinsip
pengurangan sampah dan
penanganan sampah
PENANGANAN SAMPAH
Pengangkutan
(PERMEN PU NO 3 TAHUN sampah
2013)
Pemilahan
dengan
Pewadahan

Pengumpulan
sampah

Pengolahan
TPA sampah
Konsepsi Integrasi 3R

1969 – 1978 1979 – 1983 1984


SKALA – 1988
KOTA/
1943 - 1945
SKALA SUMBER SKALA KAWASAN
KRONOLOGIS KINERJA
REPELITA I-II REPELITA III REGIONAL
REPELITA IV

PENANGANAN
SUMBER
SAMPAH
PERSAMPAHAN
Pemilahan

Pengurangan Pengurangan/ Pengurangan/


/ Penggunaan Pengolahan (3R) Pengolahan (3R)
Kembali /
Pendaur-
• Sistem RT/RWulangan
(3R)

Pengumpulan Pengangkutan Pengolahan


Akhir
KLASIFIKASI SAMPAH

SUMBER KOMPOSISI JENIS

Bagan Klasifikasi Sampah

Jurusan Teknik Lingkungan FTSP-ITS


SUMBER SAMPAH

Jurusan Teknik Lingkungan FTSP-ITS


UU no 18 Tahun 2008

■Sumber sampah adalah asal timbulan sampah.


Sampah yang dikelola berdasarkan Undang-Undang
ini terdiri atas:
a. sampah rumah tangga;
b. sampah sejenis sampah rumah tangga; dan
c. sampah spesifik.

Jurusan Teknik Lingkungan FTSP-ITS


Cont’d
Penjelasan :
■ Sampah rumah tangga sebagaimana dimaksud
berasal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah
tangga, tidak termasuk tinja dan sampah spesifik.

■ Sampah sejenis sampah rumah tangga


sebagaimana dimaksud berasal dari kawasan
komersial, kawasan industri, kawasan khusus,
fasilitas sosial, fasilitas umum, dan/atau fasilitas
lainnya.

Jurusan Teknik Lingkungan FTSP-ITS


Cont’d
■ Sampah spesifik sebagaimana dimaksud meliputi:
a. sampah yang mengandung bahan berbahaya dan
beracun;
b. sampah yang mengandung limbah bahan
berbahaya dan beracun;
c. sampah yang timbul akibat bencana;
d. bongkaran bangunan
e. sampah yang secara teknologi belum dapat diolah;
dan/atau
f. sampah yang timbul secara tidak periodik.

Jurusan Teknik Lingkungan FTSP-ITS


Daerah Pemukiman (Rumah
Tangga)
■ Bersumber dari aktifitas rumah/dapur
serta aktifitas rumah tangga lainnya.
Jenis sampah yang dihasilkan berupa
sampah basah dan sampah kering
/debu.

Jurusan Teknik Lingkungan FTSP-ITS


Daerah Komersial
■ Bersumber dari pasar, pertokoan,
restoran, perusahaan dan sebagainya.
Sebagian besar kategori sampah ini
berasal dari pasar dan kebanyakan
berupa sampah organik

Jurusan Teknik Lingkungan FTSP-ITS


Daerah Institusi
■ Sumber sampah institusional adalah
perkantoran, sekolah, tempat ibadah
dan lembaga-lembaga non komersial
lainnya. Jenis sampah yang dihasilkan
sebagian besar sampah kering

Jurusan Teknik Lingkungan FTSP-ITS


Sampah jalan dan tempat-tempat
terbuka
■ Sampah kategori ini berasal dari
kegiatan penyapuan jalan dan trotoar,
taman dan lain-lain. Jenis sampahnya
didominasi sampah organik (daun)
serta debu.

Jurusan Teknik Lingkungan FTSP-ITS


Industri
■ Sumber sampah industri berasal dari
perusahaan yang bergerak di bidang
industri berat, industri ringan,
pabrik-pabrik dan lain-lain. Jenis
sampah yang dihasilkan tergantung
dari bahan baku yang digunakan oleh
industri tersebut

Jurusan Teknik Lingkungan FTSP-ITS


Rumah sakit dan balai pengobatan
■ Kemungkinan mengandung kuman
penyakit menular. Sampah yang
dihasilkan berupa bekas-bekas
operasi, pembalut luka, potongan
anatomi, disamping sampah dapur
dan kantor. Sampah ini wajib dibakar
(pengolahan untuk menghilangkan
mikroorganisme patogenik)

Jurusan Teknik Lingkungan FTSP-ITS


Tempat pembangunan, pemugaran
dan pembongkaran
■ Sampah yang dijumpai adalah
sampah material atau bahan-bahan
bangunan. Jenisnya tergantung dari
bahan bangunan yang dipakai (bata,
pecahan beton, kayu, besi beton
dsb).

Jurusan Teknik Lingkungan FTSP-ITS


Lain-lain
■ Dari klasifikasi sumber-sumber
sampah tersebut, dapat
dikembangkan lagi jenis
sumber-sumber sampah yang lainnya
sesuai dengan peruntukan tata guna
lahannya. Sebagai contoh misalnya,
dari sampah pertanian, kandang
hewan/pemotongan hewan, instalasi
pengolahan air bersih, instalasi
pengolahan air limbah dan lain-lain.
Jurusan Teknik Lingkungan FTSP-ITS
Klasifikasi Tipe Sampah
■ Berdasarkan tipenya sampah dapat
diklafikasikan sebagai berikut (Dep. PU,
1994) :
1. Sampah organik mudah busuk (garbage)
2. Sampah Organik tak membusuk (rubbish).
3. Sampah abu (ashes).
4. Sampah bangkai binatang (dead animal).
5. Sampah sapuan jalan (street sweeping).
6. Sampah industri (industrial waste).

Jurusan Teknik Lingkungan FTSP-ITS


Karakteristik Sampah
■ Karakteristik sampah dapat
diklasifikasikan sebagai berikut
(Tchobanoglous, 1993):
1. Karakterisktik Fisik.
2. Karakterisktik Kimia.
3. Karakterisktik Biologis.

Jurusan Teknik Lingkungan FTSP-ITS


KARAKTERISTIK FISIK

1. Bulk density: weight/volume ratio; unit: kg/m3, or lb/ft3


- loose SW 90 - 150 kg/m3
- in compactor truck 350 - 550
- baled SW 700 - 850
- in compacted landfill 450 - 750

2. Moisture, water content as dried at 77oC for 24 hours,


presented in % weight:
M = {(w-d)/w} x 100 %
where: M = Moisture (% weight)
w= sample weight (kg)
d = dried sample weight after heated at
77o C, kg

25

Jurusan Teknik Lingkungan FTSP-ITS


3. Ukuran Partikel dan Distribusinya
beberapa teknologi pengolahan sampah (e.g.
composting, pyrolysis, incineration) tergantung dari
keakuratan data ukuran partikel dan distribusinya.
For non spherical particles:
-D=l D = particle diameter
- D = (h+w+l)/3 l = length
- D = (hwl)1/3 w = width
- D = (lw) ½ h = height
- D = (w+l)/2

26

Jurusan Teknik Lingkungan FTSP-ITS


Karakteristik kimiawi
1. Proximate analysis:
1. Moisture: loss of moisture after heated for 1 hr
2. Volatile solids (VS) or volatile combustible: additional loss of
weight on ignition at 950oC.
3. Fixed carbon: combustible residue left after VS is removed in
closed crucible
4. Ash: weight of residue after combustion in an open crucible.
2. Fusing point of ash, temperature, where ash solidifies,
producing clinkers (1100-1200oC)
3. Ultimate analysis (elemental compositions), results of carbon,
hydrogen, oxygen, nitrogen, sulphur, halogens, and ash
contents
4. Energy content (Btu/lb, kJ/kg, kcal/kg) or heat / calorific value,
energy content / weight unit, measured by bomb-calorimeter or
based on element (C,H,O,N,S) and ash composition

27

Jurusan Teknik Lingkungan FTSP-ITS


Karakteristik biologikal
Composition of biodegradable SW:
■ Soluble organics: sugar, starches, amino acids,
various organic acids
■ Hemicellulose: polymer of 5-6 carbon sugars
■ Cellulose: polymer of 6 carbon sugars
■ Fat and oil: esters of alcohols and long chain fatty
acids
■ Lignin: polymer containing aromatic rings with
methoxyl groups (-OCH3). Present in woods, and
some paper products)
■ Lignocelulose: a combination of lignin & celulose
■ Protein: composed of chains of amino acids

28

Jurusan Teknik Lingkungan FTSP-ITS


Biological characteristics (continued)
Biodegradable organic components :
■ Content can be estimated by determining
volatile matters, measured at 550oC
■ Biodegradability can be determined using
the following empirical equation:
BF = 0.83 – 0.028 LC
BF = biodegradable fraction as VS
LC = lignin content, in % dry weight

29

Jurusan Teknik Lingkungan FTSP-ITS


MODUL
PENGUMPULAN, PEMINDAHAN DAN
PENGANGKUTAN SAMPAH
1. Pengumpulan Sampah
2. Pemindahan Sampah
3. Tempat Penampungan Sementara
Perencanaan Tempat Penampungan Sementara
4. Stasiun Peralihan Antara (SPA)
5. Pengangkutan Sampah Secara Umum
▪ Pola Pengangkutan Sampah
▪ Perencanaan Sistem Pengangkutan Sampah
▪ Waktu pengangkutan
▪ Pemilihan peralatan
▪ Frekuensi Pengangkutan
▪ Perencanaan Rute Pengangkutan
▪ Penentuan Rute Angkutan Sistem HCS
▪ Penentuan Rute Angkutan Sistem SCS
TAHAPAN OPERASIONAL PENANGANAN SAMPAH
PENGUMPULAN SAMPAH
Sistem pengumpulan sampah merupakan kegiatan awal dari urutan
pengelolaan sampah disamping kegiatan pewadahan yang merupakan
tanggung jawab penghasil/sumber sampah. Sistem pengumpulan
sampah adalah cara atau proses pengambilan sampah mulai dari
tempat pewadahan sampah (sumber timbulan sampah) sampai ke
tempat pengumpulan sementara (TPS) atau stasiun pemindahan atau
langsung ke tempat pembuangan akhir (TPA). Selain itu, kegiatan
membongkar muatan sampah di tempat pembuangan akhir juga
termasuk proses pengumpulan sampah.
Pola Pengumpulan
Pola pengumpulan sampah terdiri
atas :
Pola individual langsung
Pola individual tidak langsung
Pola komunal langsung
Pola komunal tidak langsung
Pola
Individual
Langsung
Yaitu pola pengumpulan
sampah dengan cara
mendatangi sumber dan
mengosongkan
sampah dari wadah ke dalam
truck, kemudian langsung
mengangkutnya ke TPA atau
TPST. Pola pengumpulan ini
sangat mahal biayanya,
sehingga hanya efisien untuk
melayani sumber dengan
volume sampah yang besar
(>300L),
Pola Individual
Tidak Langsung
Yaitu pola pengumpulan sampah
dengan menggunakan alat
pengumpul kecil. Alat pengumpul
dalam hal ini mengumpulkan
sampah dari setiap sumber dan
memindahkannya ke truck di
tempat pemindahan/depo

Pola pengumpulan ini cocok diterapkan di


daerah pelayanan yang teratur dan lebar
jalan tidak cukup untuk dilewati kendaraan
truck tetapi masih dapat dilewati oleh
gerobak/becak. Alat pengumpul yang
biasa digunakan adalah gerobak,/becak
sampah, atau becak motor. Becak motor
digunakan bila kondisi topografi terlalu
berat untuk digunakan becak/gerobak
biasa.
Pola Komunal Langsung

Pola ini dilakukan oleh masyarakat dengan cara membawa sampahnya dan
eletakkan lasngsung ke dalam truck yang melewati area sekitar rumahnya
dengan memperdengarkan lagu-lagu atau musik tertentu yang sudah dikenal
oleh masyarakat. Truck selanjutnya akan menuju ke TPA dan membongkar
sampahnya.
Pola Komunal Tidak
Langsung

Yaitu pola pengumpulan sampah


yang dilakukan langsung oleh
Masyarakat/sumber
dengan membawa sampah dan
meletakkannya ke dalam tempat
penampungan sementara (TPS).
Cara ini biasa digunakan untuk
melayani kawasan yang sangat
padat dengan tingkat ekonomi
yang relatif rendah sehingga
masyarakat lebih memilih
membawa sampahnya sendiri
daripada membayar petugas
pengumpul
PEMINDAHAN SAMPAH
Pemindahan sampah merupakan kegiatan yang dilakukan untuk
membantu proses pengumpulan dan pengangkutan sampah. Sistem
pemindahan merupakan fase antara yang dapat mengurangi
ketergantungan antara fase pengumpulan dengan fase pengangkutan
dengan tujuan meningkatkan efisiensi masing-masing fase, fase
pemindahan ini tidak diperlukan untuk pola pengumpulan langsung.
Pemindahan sampah dari alat pengumpul (gerobak) ke alat angkut
(truk) dilakukan di TPS, atau transfer depo untuk meningkatkan
efisiensi pengangkutan

Lokasi pemindahan harus dekat dengan daerah pelayanan atau


radius ± 500m. Klasifikasi TPS sebagai sarana pemindahan
berdasarkan SNI 3242:2008
TEMPAT PENAMPUNGAN SEMENTARA
Tempat Penampungan Sementara (TPS) adalah tempat sebelum sampah
diangkut ke tempat pendauran ulang, pengolahan, dan/atau tempat
pengolahan sampah [Link] merupakan bagian dari proses
penanganan sampah. Lokasi TPS dapat difungsikan sebagai pusat
pengolahan sampah tingkat kawasan guna mengurangi jumlah
sampah yang harus diangkut ke pemrosesan akhir., atau sebaliknya,
dapat berfungsi sebagai lokasi pemindahan, daur ulang, atau
penanganan sampah lainnya dari daerah yang bersangkutan.
Kriteria tempat penampungan sementara (TPS) antara lain:
a) Dikosongkan setiap hari dengan frekuensi minimal 1 kali
b) Untuk memaksimalkan kebersihan lokasi transfer perlu adanya
penjadwalan pengisian dan pengosongan
c) Mudah dijangkau, tidak menggangu arus lalu lintas atau kenyamanan
pejalan kaki,
d) Terisolasi, tetap bersih
e) Pembongkaran titik pemindahan sebaiknya diatur jadwalnya yang tidak
menggangu kenyamanan dan kesehatan masyarakat pemakai jalan.
a) Transfer station I / transfer depo, biasanya terdiri dari:
- Bangunan untuk ruangan kantor.
- Bangunan tempat penampungan/pemuatan sampah.
- Pelataran parkir.
- Tempat penyimpanan peralatan.
Untuk suatu lokasi transfer depo, atau di Indonesia dikenal sebagai Tempat Penampungan
Sementara (TPS) seperti di atas diperlukan areal tanah minimal seluas 200 m2. Bila lokasi
ini berfungsi juga sebagai tempat pemrosesan sampah skala kawasan, maka dibutuhkan
tambahan luas lahan sesuai aktivitas yang akan dijalankan.

b) Kontainer besar (steel container) volume 6 – 10 m3:


Diletakkan di pinggir jalan dan tidak mengganggu lalu lintas. Dibutuhkan landasan
permanen sekitar 25-50 m2 untuk meletakkan kontainer. Di banyak tempat di kota-kota
Indonesia, landasan ini tidak disediakan dan kontainer diletakkan begitu saja di lahan
tersedia. Penempatan sarana ini juga bermasalah karena sulit untuk memperoleh lahan,
dan tidak semua masyarakat yang tinggal di sekitar sarana ini bersedia menerima.

c) Bak komunal yang dibangun permanen dan terletak di pinggir


jalan
Hal yang harus diperhatikan adalah waktu dan frekuensi pengumpulan. Sebaiknya waktu
pengumpulan sampah adalah saat dimana aktivitas masyarakat tidak begitu padat,
misalnya pagi hingga siang hari. Frekuensi pengumpulan sampah menentukan banyaknya
sampah yang dapat dikumpulkan dan diangkut perhari. Semakin besar
TPS tipe I, Luas lahan ± 10 - 50 m2
yaitu tempat pemindahan sampah dari alat pengumpul ke alat angkut sampah
yang dilengkapi dengan:
Ruang pemilahan,
Gudang ,
Tempat pemindahan sampah yang dilengkapi dengan landasan kontainer

TPS tipe II Luas lahan ± 60 – 200 m2


yaitu tempat pemindahan sampah dari alat pengumpul ke
alat angkut
sampah yang dilengkapi dengan:
▪ Ruang pemilahan (10m2)
▪ Pengomposan sampah organik (200m2)
▪ Gudang (50m2)
▪ Tempat pemindahan sampah yang dilengkapi dengan
landasan kontainer (60m2)
TPS tipe III, Luas lahan > 200 m2
yaitu tempat pemindahan sampah dari alat pengumpul ke alat angkut
sampah yang dilengkapi dengan:
▪ Ruang pemilahan (30m2)
▪ Pengomposan sampah organik (800m2)
▪ Gudang (100m2)
▪ Tempat pemindahan sampah yang
dilengkapi dengan landasan kontainer (60m2)
PENGANGKUTAN
SAMPAH
Pengangkutan sampah adalah sub-sistem yang bertujuan membawa
sampah dari lokasi pemindahan atau dari sumber sampah secara
langsung menuju Tempat Pemrosesan Akhir atau TPA.

Pengangkutan sampah membutuhkan perhitungan yang teliti dengan


sasaran mengoptimalkan waktu angkut yang diperlukan, khususnya
bila (Damanhuri, 2010):
▪ Terdapat sarana pemindahan sampah dalam skala cukup besar
▪ Lokasi titik tujuan sampah relatif jauh
▪ Sarana pemindahan merupakan titik pertemuan masuknya sampah
dari berbagai area
▪ Ritasi perlu diperhitungkan secara teliti
▪ Masalah lalu-lintas jalur menuju titik sasaran tujuan sampah
Persyaratan alat pengangkut sampah antara lain (Damanhuri, 2010):
▪ Alat pengangkut sampah harus dilengkapi dengan penutup, minimal
dengan jaring.
▪ Tinggi bak maksimum 1,6 m.
▪ Sebaiknya ada alat ungkit.
▪ Kapasitas disesuaikan dengan kondisi/kelas jalan yang akan dilalui.
▪ Bak truk/dasar kontainer sebaiknya dilengkapi pengaman air
sampah/leachate
Dump truck
▪ Merupakan kendaraan angkut yang dilengkapi dengan sistem
hidrolis untuk mengangkat bak dan membongkar muatannya. Truk ini
memiliki kapasitas yang bervariasi, yaitu 6 m3, 8 m3, 10 m3, dan 14 m3.
Pemilihan kapasitas terutama dipengaruhi oleh lebar dan kelas jalan yang
akan dilalui
▪ Pengisian muatan secara manual oleh pekerja. Dalam pengangkutan
sampah, efisiensi penggunaan dump truck dapat dicapai apabila
memenuhi kriteria jumlah trip atau ritasi per hari minimum 3 dan jumlah
kru maksimum 3.
▪ Agar tidak mengganggu lingkungan selama perjalanan ke TPA,
dump truck sebaiknya dilengkapi dengan tutup terpal.
Armroll truck
▪ Merupakan kendaraan angkut yang dilengkapi sistem hidrolis untuk
mengangkat kontainer dan membongkar muatannya. Truk ini memilik
kapasitas yang bervariasi yaitu 6 m3, 8 m3, dan 10 m3. Pemilihan
kapasitas terutama dipengaruhi oleh lebardan kelas jalan yang akan dilalui
▪ Pengisian muatan secara manual oleh pekerja, efisiensi penggunaan
arm roll truck dapat dicapai apabila memenuhi beberapa kriteria, yaitu
jumlah trip dan ritasi per hari minimum 5 dan jumlah kru maksimum 1.
▪ Agar tidak mengganggu lingkungan selama perjalanan ke TPA,
kontainer sebaiknya ditutup dan tidak rembes agar leachate tidak
tercecer. Kontainer yang tidak memiliki tutup sebaiknya dilengkapi dengan
tutup terpal selama pengangkutan
Compactor truck
▪ Merupakan kendaraan angkut yang dilengkapi sistem hidrolis
untuk memadatkan dan membongkar muatan. Kapasitas truk
bervariasi, yaitu 6 m3, 8 m3, dan 10 m3.
▪ Pengisian muatan masih secara manual oleh pekerja atau dibuat
mekanis dengan sistem hidraulis.
▪ Dalam pengangkutan sampah, efisiensi penggunaan compactor
truck dapat dicapai bila memenuhi kriteria jumlah trip atau ritasi per
hari minimum 3 dan jumlah kru maksimum 2.
Trailer truck
▪ Merupakan kendaraan angkut berdaya besar sehingga mampu
mengangkut sampah hingga 30 ton. Kontainer dilengkapi sistem
hidrolis untuk membongkar muatan. Trailer memiliki kapasitas
antara 20-30 ton.
▪ Pengisian muatan dilakukan secara hidrolis dengan kepadatan
tinggi.
▪ Dalam pengangkutan sampah, efisiensi penggunaan trailer
truck dapat dicapai apabila memenuhi kriteria yaitu jumlah trip
atau ritasi per hari minimum 5 dan jumlah kru maksimum 2.
Permasalahan yang sering dihadapi dalam
pengangkutan sampah adalah sebagai
berikut:
a) Penggunaan waktu kerja yang tidak
efisien.
b) Penggunaan kapasitas muat kendaraan
yang tidak tepat.
c) Rute pengangkutan yang tidak efisien.
d) Tingkah laku petugas.
e) Aksesbilitas yang kurang baik.
Pola Pengangkutan Sampah
Pola pengangkutan sampah dapat dibagi dalam 2 (dua) kegiatan, yaitu:
A. Pola pelayanan individual langsung
Merupakan gabungan kegiatan pengumpulan dan pengangkutan.
Pada pola pelayanan ini peralatan/kendaraan pengumpulan juga
merupakan kendaraan pengangkutan.

B. Pola pelayanan individual tidak langsung.


Merupakan kegiatan tersendiri setelah proses pengumpulan, yaitu :
▪ Pengangkutan sampah dari tempat pemindahan (transfer depo,
transfer station), sampai ke tempat pengolahan/pembuangan akhir
(TPA/TPST).
▪ Pengangkutan sampah dari penampungan sementara (TPS, LPS,
TPS 3R) atau tempat penampungan komunal (TPST) sampai ke
tempat pengolahan/pembuangan akhir (TPA/TPST).
Hauled Container System (HCS)
HCS atau sistem kontainer angkat adalah sistem pengumpulan sampah yang
wadah pengumpulannya dapat dipindah dan ikut dibawa ke tempat
pembuangan akhir. HCS ini merupakan sistem wadah angkut untuk daerah
komersial. Pola pengumpulan sampah dengan HCS terdiri atas tiga cara,
antara lain:
a) Sistem pengosongan kontainer cara 1
Sistem pengosongan kontainer cara 2

Pada pengosongan kontainer cara 2, proses pengangkutan menggunakan sistem berikut:


1) Kendaraan dari pool menuju kontainer isi pertama untuk mengangkut sampah ke TPA.
2) Dengan kontainer kosong, kendaraan menuju lokasi kedua untuk menurunkan kontainer kosong dan
membawa kontainer isi untuk diangkut ke TPA.
3) Demikian seterusnya sampai rit terakhir.
4) Pada rit terakhir dengan kontainer kosong dari TPA menuju lokasi kontainer pertama, kemudian
kendaraan tanpa kontainer menuju pool.
Sistem pengosongan kontainer cara 3

Pada pengosongan kontainer cara 3, proses pengangkutan menggunakan sistem


berikut:
1) Kendaraan dari pool dengan membawa kontainer kosong menuju lokasi kontainer isi untuk mengganti
atau mengambil dan langsung membawanya ke TPA
2) Kendaraan dengan membawa kontainer kosong dari TPA menuju kontainer isi berikutnya.
3) Demikian seterusnya sampai rit terakhir
Stationary Container System
(SCS)
Sistem ini biasanya digunakan untuk kontainer kecil serta alat angkut
berupa compactor truck. Sistem ini dapat dilakukan secara mekanis seperti
pada Gambar 16 atau secara manual Proses pengangkutan secara mekanis
antara lain:
a) Kendaraan dari pool menuju kontainer pertama, sampah dituangkan ke
dalam truk kompaktor dan meletakkan kembali kontainer yang kosong.
b) Kendaraan menuju kontainer berikutnya sampai truk penuh, kemudian
menuju TPA.
c) Demikian seterusnya sampai rit terakhir.

Proses pengangkutan dengan manual antara lain:


a) Kendaraan dari pool menuju TPS pertama, sampah dimuat ke dalam
truk kompaktor atau truk biasa.
b) Kendaraan menuju TPS berikutnya sampai truk penuh untuk kemudian
menuju TPA.
c) Demikian seterusnya sampai rit terakhir
Pola pengangkutan
SCS dengan
sistem mekanis

Pola
pengangkutan
SCS dengan
sistem manual
MODEL PENGELOLAAN SAMPAH 3R SKALA KAWASAN
PENGOLAHAN SAMPAH
PENGOLAHAN SAMPAH

menurut UU Nomor 81 Tahun 2008 didefinisikan


sebagai proses perubahan bentuk sampah dengan mengubah karakteristik, komposisi, dan
jumlah sampah. Pengolahan sampah merupakan
kegiatan yang dimaksudkan untuk mengurangi jumlah sampah, disamping memanfaatkan nilai
yang masih terkandung dalam sampah itu sendiri, baik berupa bahan daur ulang,produk lain,
maupun energi. Pengolahan sampah yang pada umumnya dilakukan dapat berupa
pengomposan, recycling/daur ulang, pembakaran (insinersi), dan lain-lain.

Menurut PP Nomor 81 Tahun 2012 Pasal 16, pengolahan sampah meliputi beberapa hal sebagai
berikut:
a. Pemadatan
b. Pengomposan
c. Daur ulang material dan/atau
d. Daur ulang energi
Saat ini Teknologi pengolahan sampah berkembang dan sangat dianjurkan bertujuan
bukan hanya untuk memusnahkan sampah tetapi juga untuk me-recovery bahan dan/atau
enersi yang terkandung didalamnya. Pemanfaatan enersi merupakan salah satu teknologi
yang paling banyak dikembangkan dan diterapkan, khususnya dalam bentuk
teknologi waste-to-energy, yang menghasilkan enersi panas atau gas-bio yang berhasil
dikeluarkan untuk kebutuhan enersi terbarukan (Damanhuri & Tri Padmi, 2010).
Pengolahan secara umum merupakan proses transformasi sampah baik secara
fisik, kimia, maupun biologi
a. Transformasi Fisik Pemisahan komponen sampah, Mengurangi volume
sampah dengan pemadatan atau kompaksi, Mereduksi ukuran dari sampah
dengan proses pencacahan
b. Transformasi Kimia proses pembakaran atau insenerasi
Pembakaran stoikhiometrik,
Pembakaran dengan udara berlebih,
Gasifikasi,
Pirolisis,
c. Transformasi Biologi
Perubahan bentuk sampah dengan memanfaatkan aktivitas
mikroorganisme untuk mendekomposisi / biotransformasi sampah menjadi
bahan stabil yaitu kompos.
Yang umum dikenal
• Komposting secara aerobik (produk berupa kompos).
• Penguraian secara anaerobik
Adapun tujuan akhir pengolahan sampah secara mekanikal-biologis adalah
Penurunan volume sampah yang akan ditimbun di landfill. Untuk mengurangi
kebutuhan kapasitas landfill dan untuk memperpanjang usia pakai landfill.
Penurunan aktivitas biologis. Pengurangan fraksi limbah biologis dapat
meminimalkanproduksi gas yang tidak terkontrol.
Pengurangan substansi yang berbahaya. Mengantisipasi adanya substansi berbahaya
yang dapat mencemari air tanah bila lindi tidak terkumpul atau terkelola dengan baik.
Mengurangi kandungan air yang masuk ke dalam landfill.
Mengurangi pengendapan yang dapat terjadi di landfill.
Recovery material dan energi. Pengolahan sampah sebisa mungkin menghasilkan
energi seperti biogas.
Pengurangan biaya operasional dan post-operation landfill
Meningkatkan kestabilan landfill. Tidak diperlukan sistem pengumpul gas dan
mengurangi potensi pencemaran lingkungan akibat lindi
SKALA PENGOLAHAN SAMPAH
Skala Individu

Skala kawasan

Skala kota
DAUR ULANG SAMPAH (Konsep 3R)
1. Pencegahan (prevention)
mengurangi pola konsumsi berlebihan menggunakan produk sistem sewa

2. Minimisasi
menggunakan produk dengan kemasan yang dapat digunakan ulang
menggunakan produk dengan sistem isi ulang memilah sampah daur ulang

3. Pemanfaatan kembali (reuse)


memanfaatkan barang bekas untuk fungsi sama atau berbeda
menyumbangkan barang bekas ke pihak yang dapat memanfaatkan

4. Daur ulang (recycling)


Mengubah bentuk & sifat sampah melalui proses bio-fisik-kimiawi menjadi
produk baru (sampah basah diolah menjadi kompos, sampah plastik diolah
menjadi pelet)

5. Perolehan energi (energy recovery)


Mengubah sampah melalui proses bio-fisik-kimiawi menjadi energi (briket
sampah, proses thermal (insinerasi, pirolisis, gasifikasi)), serta biogas

6. Pembuangan akhir
Membuang seluruh komponen sampah ke TPA, atau membakarnya dengan
proses insenerasi
Keuntungan yang diperoleh dengan menerapkan daur ulang dalam
pengelolaan sampah antara lain:

▪ Menghemat penggunaan sumber daya alam, karena dengan adanya daur


ulang secara langsung akan menghemat bahan baku dalam proses
produksi.
▪ Menghemat lahan TPA, karena akan mengurangi volume sampah yang
masuk ke TPA sehingga dapat memperpanjang masa pakai TPA.
▪ Menghemat energi, karena dapat mempersingkat alur dalam proses
produksi.
▪ Menciptakan lapangan kerja, baik dalam proses pemilahan, pembuatan
produk, maupun penjualan.
▪ Mengurangi biaya pengelolaan sampah, merupakan dampak langsung dari
berkurangnya sampah yang diangkut ke TPA.
▪ Meningkatkan kualitas lingkungan, karena dengan adanya daur ulang,
volume sampah semakin sedikit.
Jenis sampah yang dapat di daur ulang sangat banyak dan dengan
berbagai proses akan menjadi bahan baku untuk proses produksi, antara
lain:
▪ Penggunaan langsung: kayu, drum, meubel, dsb
▪ Bahan baku untuk remanufakturing: logam aluminium, besi, kertas,
karton, gelas, plastik karet, dsb. Setiap bahan memerlukan spesifikasi
yang ditentukan pembeli, seperti: tingkat kemurnian, densitas, model
pengemasan
▪ Bahan baku untuk konversi biologis dan kimiawi: sampah organik
untuk produksi komposdan gas
▪ Bahan bakar: recovery energi panas menjadi listrik melalui proses
pembakaran, melalui konversi sampah menjadi minyak, gas, pelet
dsb.
▪ Reklamasi lahan: sampah konstruksi bangunan, kompos
TEKNOLOGI PENGOMPOSAN (COMPOSTING)

Kompos didefinisikan sejenis pupuk organik, dimana kandungan unsur N, P


dan K yang tidak terlalu tinggi, hal ini membedakan kompos dengan pupuk
buatan. Kompos
sangat banyak mengandung unsur hara mikro yang berfungsi membantu
memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan porositas tanah sehingga
tanah menjadi gembur dan
lebih mampu menyimpan air (Tchobanoglous et al.,1993).
Adapun manfaat dari kompos
adalah:
Memperbaiki struktur tanah;
Sebagai bahan baku pupuk organik;
Sebagai media remediasi tanah yang tercemar (pemulih tanah akibat
pencemaran bahan kimia yang toxic terhadap mikroba tanah);
Meningkatkan oksigen dalam tanah;
Menjaga kesuburan tanah;
Mengurangi kebutuhan pupuk anorganik.
Berdasarkan teknologi proses, pengolahan kompos dapat dibedakan menjadi
komposting aerobik dan anaerobik.

Komposting aerobik

Komposting aerobic adalah komposting yang menggunakan oksigen dan memanfaatkan


respiratory metabolism, dimana mikroorganisme yang menghasilkan energi karena
adanya aktivitas enzim yang membantu transport elektron dari elektron donor menuju
external electron acceptor.
Reaksi yang terjadi :
Bahan Organik + O2 + Nutrien = Kompos + Sel Baru + CO2 + H2O + NH3 + SO4 + Energi

Ada beberapa metoda atau teknologi proses komposting secara aerobik, yaitu:
1. Windrow composting
didefinisikan sebagai sistem terbuka, pemberian oksigen
secara alamiah dengan pengadukan/pembalikan dan dibutuhkan penyiraman air
untuk menjaga kelembabannya.

2. Aerated static pile composting


memiliki pengertian sistem composting dengan
menggunakan pipa berlubang yang berfungsi untuk mengalirkan udara. Proses
komposting diatur melalui pengaliran oksigen. Bila temperatur terlalu tinggi, aliran
oksigen dihentikan, sementara bila temperatur turun aliran oksigen ditambah
Keuntungan :
• Biaya relatif murah untuk windrow composting
• Proses lebih sederhana dan cepat (khususnya yang menggunakan aerasi mekanis)
• Dapat dibuat dalam skala kecil dan mobile (in-vessel composting) sehingga dapat dibuat dalam
bentuk modul-modul
Kerugiannya
• Masih menimbulkan dampak negatif berupa bau, lalat, cacing dan rodent, serta air leachate
• Operasional kontrol temperatur dan kelembaban sulit, karena kontak langsung dengan udara bebas,
sering tidak mencapai kondisi optimal
• Membutuhkan lahan yang luas untuk sistem windrow composting, karena proses pengomposan
sampai pematangan membutuhkan waktu minimal 60 hari.
Komposting anaerobik
Proses komposting tanpa menggunakan oksigen. Bakteri yang berperan adalah
bakteri obligate anaerobik. Proses berlangsung dengan reaksi sebagai berikut :

Bahan Organik + H2O + Nutrien = Kompos + Sel Baru + CO2 + CH4 + H2O + H2S + Energi

Dalam proses ini terdapat potensi hasil sampingan yang cukup mempunyai arti
secara ekonomis yaitu gas bio, yang merupakan sumber energi alternatif yang sangat potensial.
Berdasarkan pendekatan waste to energy (WTE) diketahui bahwa 1 ton sampah organik dapat
menghasilkan 403 Kwh listrik.

Keuntungan :
• Tidak membutuhkan energi, tetapi justru menghasilkan energi
• Dalam tangki tertutup sehingga tidak menimbulkan dampak negatif terhadap Lingkungan

Kerugian :
• Untuk pemanfaatan biogas dibutuhkan kapasitas yang besar karena faktor skala ekonomis
sehingga kurang cocok diterapkan pada suatu kawasan kecil.
• Biaya lebih mahal, karena harus dalam reaktor yang tertutup.
Operasional Proses Komposting
a. Pemilahan
b. Pencacahan
c. Proses Komposting
d. Proses Pematangan
e. Pengayakan
f. Analisa Lab
g. Pengemasan
h. Penjualan
Untuk menunjang keberhasilan dalam proses komposting ada beberapa faktor yang
perlu diperhatikan dan sangat mempengaruhi berjalannya proses ini yaitu:
1. Kadar air, untuk menjaga aktivitas mikroorganisme. Kadar air berkisar antara 50-60%, optimum 55%.
2. Rasio C/N, dimana karbon (C) merupakan sumber energi bagi mikrooganisme, sedangkan nitrogen
(N) berfungsi untuk membangun sel-sel tubuh mikroorganisme. Perbandingan C dan N awal yang
baik dalam bahan yang dikomposkan adalah 25-30 (satuan berat kering), sedang C/N di akhir proses
adalah 12 – 15. Pada rasio yang lebihrendah, ammonia akan dihasilkan dan aktivitas biologi akan
terhambat, sedang pada ratio yang lebih tinggi, nitrogen akan menjadi variabel pembatas
(Damanhuri & Tri Padmi, 2010).
3. Temperatur, merupakan faktor penting dalam kehidupan mikroorganisme agar dapat hidup dengan
baik. Suhu pada hari-hari pertama pengomposan harus dipertahankan berkisar antara 50-55oC,
sedangkan pada hari-hari berikutnya 55-60oC.
4. pH, juga sebagai indikator kehidupan mikroorganisme. Rentang pH dipertahankan berkisar antara 7
sampai 7,5.
5. Ukuran partikel, berhubungan dengan peningkatan rata-rata reaksi dalam [Link] partikel
berkisar antara 25-75 mm. Bila ukuran sampah makin kecil, akan makin luas permukaan, sehingga
makin baik kontak antara bakteri dan materi organik, akibatnya akan makin cepat proses
pembusukan. Namun bila diameter terlalu kecil, kondisi bisa menjadi anaerob karena ruang untuk
udara mengecil (Damanhuri & Tri Padmi, 2010).
6. Blending dan Seeding, pencampuran ini dipengaruhi oleh rasio C/N dan kadar [Link] tinja sering
ditambahkan pada kompsting sampah untuk meningkatkan rasio C/N.
7. Suplai oksigen, sangat penting dalam proses pengomposan secara aerobic. Suplai oksigen secara
teoritis biasanya ditentukan berdasarkan komposisi sampah yang dikomposkan.. Secara praktis, pembalikan
biasanya dilakukan setiap 5 hari sekali. Pada pengomposan tradisional, tersedianya oksigen akan dipengaruhi
tinggi tumpukan. Tinggi tumpukan sebaiknya 1,25 - 2 m.
8. Pengadukan, berfungsi untuk menjaga kadar air, menyeragamkan nutrien dan mikroorganisme.
9. Kontrol patogen, dilakukan dengan pengontrolan suhu, dimana patogen biasanya akan mati pada suhu 60-70°
C selama 24 jam.
Standar Kompos
TEKNOLOGI PENGOLAHAN PLASTIK
Teknologi pengolahan sampah plastik yang saat
ini banyak digunakan adalah
teknologi perajangan plastik, pelelehan plastic,
dan pencetakkan plastik
Sampah plastik sebelum dimasukkan kedalam mesin perajang telah
dipisah sesuai dengan jenisnya sepertiLow density Poly Ethylene (LDPE),
High Density Poly Ethylene(HDPE), Poly Eihylene Terephthalote (PET), Poly
vinyl Chloride (PVC), Polypropylene (PP),
Polystyrene (PS)

PENGOLAHAN SAMPAH KERTAS


kertas HVS (kertas komputer
dan kertas tulis), kertas kraft, karton, kertas
berlapis plastik.
Dari seluruh kertas yang dikonsumsi oleh masyarakat kita hanya
sekitar 25 - 30%
yang kembali ke pabrik untuk diolah menjadi kertas baru, tetapi
diperkirakan angka tersebut
akan meningkat
Konsep TEMPAT
PENGOLAHAN SAMPAH
TERPADU (TPST/IPST) pd
skala Kawasan

TPST atau Material Recovery Facility (MRF) didefinisikan sebagai


tempat berlangsungnya kegiatan pemisahan dan pengolahan sampah
secara terpusat. Kegiatan pokok di TPST adalah:
1. pengolahan lebih lanjut sampah yang telah dipilah di sumbernya
2. pemisahan & pengolahan langsung komponen sampah kota
3. peningkatan mutu produk recovery/recycling
Sehingga fungsi TPST adalah sebagai tempat berlangsungnya pemisahan,
pencucian/pembersihan, pengemasan, dan pengiriman produk daur ulang sampah.
Pertimbangan teknis adanya TPST adalah:
1. Penetapan definisi dan fungsi TPST.
2. Penentuan komponen sampah yang akan diolah untuk saat sekarang dan masa
mendatang.
3. Identifikasi spesifikasi produk.
4. Pengembangan diagram alir proses pengolahan.
5. Penentuan laju beban pengolahan.
6. Penentuan lay-out dan desain.
7. Penentuan peralatan yang digunakan.
8. Penentuan upaya pengendalian kualitas lingkungan.
9. Penentuan pertimbangan-pertimbangan estetika.
10. Penentuan adaptabilitas peralatan terhadap perubahan-perubahan yang mungkin
terjadi.
Rancangan TPST
memerlukan fasilitas atas:
1. Fasilitas pre-processing,
2. Fasilitas pemilahan,
3. Fasilitas pengolahan sampah secara
fisik,
4. Fasilitas pengolahan yang lain
seperti komposting, ataupun RDF
5. Fasilitas Residu
6. Fasilitas Gudang
7. Fasilitas Usaha
ada beberapa masalah yang harus diperhatikan dalam penerapan
TPST yaitu
•Lokasi TPST
•Emisi Ke lingkungan
•Kesehatan dan kemanan masyarakat
•Kesehatan dan keselamatan pekerja
Langkah langkah Perancangan TPST

Analisis Keseimbangan Material (material balance analysis)


1. Mengetahui jumlah sampah yang masuk kelokasi pengolahan termasuk
komposisi dan karakteristik sampah.
Langkah ini bertujuan untuk membuat material balance guna mengetahui proses pengolahan yang
akan dilakukan serta berapa produk yang di hasilkan dan residu yang dihasilkan. Langkah ini juga
merupakan langkah awal untuk menentukan prakiraan luas lahan serta kebutuhan peralatan bagi sitem
di TPST.
2. Identifiksi seluruh kemungkinan pemanfaatan material
Mengetahui karakteristik sampah dan pemanfaatannya untuk bisa mengembangkan diagram alir
proses pemanfaatan material balance.
3. Perhitungan akumulasi sampah
Menentukan dan menghitung jumlah akumulasi dari sampah, berapa sampah yang akan di tangani
TPST dan laju akumulasi dengan penetapan waktu pengoperasian dari TPST.
4. Perhitungan material loading rate
Perhitungan jumlah pekerja dan alat yang akan dibutuhkan serta jam kerja dan waktupengoperasian
dari peralatan yang digunakan di dalam TPST
5. Layout dan desain
Tata letak di dalam lokasi TPST agar mempermudah pelaksanaan pekerjaan
PERKEMBANGAN TPST-MB
TAHU TAHU TAHU
N1 N2 N3

3974 5050
Layanan rmh rmh
5351

Vol Sampah 30 m3 45 m3 50 m3

2000 2000 4000


Luas Lahan m2 m2 m2
576 720 1152
Luas Hanggar m2 m2 m2
29 52 68
Pegawai Orang Org Org
(248.7 456.0 790.2
Laba/ Rugi 00) 00 78
PERKEMBANGAN TPST-MB Th. Ke-4
TAHU
N4
Iuran Warga : Rp. 5.000 – Rp.
5651 rmh (
Layanan 7.500 KK) 12.000
Dari Desa (Rp. 37.000.000/bln)
Mulyoagung,
Desa Landungsari, Desa
60 Sumber Sekar,Desa
Vol Sampah m3 Dadaprejo-Batu Dan UIN
Malang
Tanah Kas Desa/Tanah
8676
Luas Lahan m2 Bengkok

APBN 2010 & 2012 Serta


1152
Luas Hanggar m2 Dana Hiba AIG
71
Dari Warga Sekitar
Pegawai Ora (Warga MBR)
ng
1.079.
Laba/ Rugi 000
59.4 Oprasional
00.0 Semuanya Rp.
Gaji Pegawai 00 86.000.000
SEKTOR KEUANGAN
PENGELUARAN

* Rata-rata pengeluaran per bulan Rp. 78.000.000


Intermediate Treatment Facility
(ITF)
Intermediate Treatment Facility merupakan suatu sistem pengolahan sampah
terpadu
yang ditujukan untuk melakukan pengolahan berbagai jenis material limbah.
Sebuah ITF
dapat terdiri dari beberapa komponen yaitu fasilitas manajemen, fasilitas sorting,
fasilitas
daur ulang material kayu, fasilitas konversi plastik menjadi bahan bakar, fasilitas
daur ulang
papan gypsum, dan tempat penampungan limbah
Data Teknis
Persampahan Capaian Proyeksi
No SARANA YANG TERSEDIA
2010 2011 2012 2013 2014 2015
TPS/LANDASAN
1 78 lok 87 lok 96 lok 100 lok 110 lok 115 lok
CONTEINER/TRANSFER DEPO
2 TPA :
- Aktif 4 lok 4 lok 4 lok 4 lok 4 lok 6 lok
- Cadangan 3 lok 3 lok 3 lok 3 lok 3 lok 7 lok
154.20 210.20
- Luas 149.508 m² m² 154.208 m² 174.208 m² 209.208 m² m²
8 0
3 TPST 3R 6 lok 9 lok 10 lok 11 lok 12 lok 13 lok
3.318 KK 10.803 KK 12.824 KK 18.023 KK 27.535 KK 27.635 KK
4 Bank Sampah - lok 1 lok 5 lok 5 lok 5 lok 5 lok
5 Dump Truck 10 unit 12 unit 12 unit 13 unit 14 unit 15 unit
6 Arm Roll Truck 13 unit 13 unit 13 unit 14 unit 15 unit 16 unit
7 Excavator 2 unit 2 unit 3 unit *) 3 unit 3 unit 4 unit
8 Whell Loader 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 2 unit
9 Sepeda Motor Gerobak Roda 3 3 unit 7 unit 11 unit 15 unit 20 unit 22 unit
10 Pasukan Kuning 171 org 171 org 186 org 192 org 197 org 200 org

TPA Talangagung Operasional TPA Talangagung Operasional di TPST Dau Instalasi GAS METHANE TPA
LOKASI TPA DENGAN 7 DAERAH PELAYANAN DI KABUPATEN MALANG
TPA Sampah Randuagung Singosari
PTD PUJON (5.53Ha 30%) ± 156 m³/hr UPTD SINGOSA

KOTA
PA Sampah Madiredo BATU UPTD TUMPAN
ujon
0,71 Ha cadangan)

TPA Sampah Para


KOTA Poncokusumo (1,2 H
50%) ± 66 m³/h
PTD KEPANJEN MALANG

UPTD BULULAWAN

PA Sampah
alangagung Kepanjen
2,5 Ha 80%)
140 m³/hr

TPA Sampah Kas


PTD PAGAK Bululawang (0,8 H
100%) (cadanga

PA Sampah Pagak 1,9


a 100%) cadangan

UPTD TURE
TPA Sampah Rejosari Bantur (2,0 Ha
50%) ± 24 m³/hr
Contoh TPA OPEN DUMPING : Gas Landfill Tidak Ditangani
Gas metana langsung lepas ke udara

Nina file data1


Contoh Operasional TPA dan Pemanfaatan gas TPA
Di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara dan Kab. Banjar, Kalimantan Selatan

Gas methane untuk


penerangan TPA

Gas TPA dimanfaatkan untuk


penerangan workshop

Pipa Gas Methana Pemurnian gas methane


[Link] chang data/tayangan
CH
TPA KOTA BITUNG, SULAWESI UTARA

Situasi Permukiman
Pemulung di Sekitar TPA
BERSIH DI SUMBER,,, DI JALAN ,,, S/D DI TPA

terima kasih

Bab2-
Bab2- 102

Anda mungkin juga menyukai