LAPORAN PRAKTIKUM
KOSMETIK BAHAN ALAM
“PEWARNA RAMBUT”
Tanggal praktikum : 15 April 2021
Tanggal penyerahan : 15 April 2021
Dosen Pengampu : 1. Dra. Dwi Indriati, M. Farm., Apt
2. Mindiya Fatmi, M. Farm., Apt
3. Asri Wulandari, [Link]
4. Wilda Nurhikmah, [Link]., Apt
5. Nina Herlina, [Link]
Asisten Dosen : 1. Alya Savira 3. Dhea Septia K
2. Asry Wahyuni 4. Widya f
Disusun Oleh
Nama : Filna Aradea
NPM : 066118033
Kelas : A
LABORATORIUM FARMASI
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kosmetika adalah bahan atau sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan pada
bagian luar tubuh manusia seperti kulit, rambut, kuku,bibir, dan organ 2 genital
bagian luar, atau gigi dan membrane mukosa mulut, terutama untuk membersihkan,
mewangikan, mengubah penampilan dan atau memperbaiki bau badan atau
melindungi dan memelihara tubuh pada kondisi baik. Salah satu jenis sediaan yang
digemari adalah pewarna rambut, sediaan pewarna rambut adalah sediaan kosmetika
yang digunakan dalam tata rias rambut untuk mewarnai rambut asalnya atau dengan
warna lain. Faktor zat warna dalam sediaan kosmetika sangat penting, efek
pewarnaan yang menarik dan serasi menjadi tujuan utama dari pengguna kosmetika.
Pewarnaan rambut merupakan tindakan mengubah warna rambut yang dikenal
sejak zaman Mesir, Purba, Yunani, Cina Purba dan Hindu. Pada zaman itu
pewarnaan yang dipakai berasal dari tumbuh-tumbuhan yang disebut dengan
pewarna nabati atau pewarna tradisional dimana pewarnaan dilakukan untuk
merubah warna rambut asli atau untuk menutupi uban dan mengikuti tren yang ada.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka produsen kosmetik memproduksi
berbagai macam sediaan pewarna rambut, namun kebanyakan pewarna pewarna
rambut yang beredar dimasyarakat sebagian besar menggunakan pewarna sintetik.
Zat pewarna alami tidak hanya digunakan untuk obat-obatan tetapi juga dapat
digunakan sebagai pewarna kosmetik, salah satu bahan alam yang dapat
dimanfaatkan dalam pembuatan sediaan pewarna rambut ialah kulit buah naga
merah (Hylocereus Polyrhizus. Pada umumnya kulit buah naga jarang dimanfaatkan
dengan baik, bahkan dibuang begitu saja karena banyak masyarakat yang tidak tahu
cara pemanfaatannya sehingga terjadinya peningkatan limbah kulit buah naga.
Selain itu dari penelitian sebelumnya menunjukan adanya kandungan senyawa
antosianin yang dimanfaatkan sebagai pewarna alami.
1.2 Tujuan
1. Dapat mengetahui cara pembuatan pewarna rambut
2. Dapat mengetahui formulasi sediaan pewarna rambut
3. Dapat melakukan uji evaluasi sediaan pewarna rambut
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar Teori
Kosmetika adalah bahan atau sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan pada
bagian luar tubuh manusia (kulit, rambut, kuku, bibir, dan organ genital bagian
luar), atau gigi dan membran mukosa mulut, terutama untuk membersihkan,
mewangikan, mengubah atau melindungi atau memelihara tubuh pada kondisi baik
(Permenkes RI No. 1175/MENKES/VIII/2010).
Hasrat dan gairah ingin mewarnai rambut memang sudah dikembangkan sejak
zaman dahulu dalam peradaban kuno. Bahan ramuan yang dijadikan zat warna
waktu itu diperoleh dari sumber alam, umumnya berasal dari tumbuhan; biasanya
digunakan dalam bentuk ekstrak. Bahkan telah diusahakan pula untuk menyari
komponen utama bahan warna alam yang kemudiaan disintesis.
Sediaan pewarna rambut adalah sediaan kosmetika yang digunakan dalam
tatarias rambut untuk mewarnai rambut, baik untuk mengembalikan warna rambut
asalnya atau warna lain. Pewarnaan rambut dapat dilakukan dengan berbagai cara,
menggunakan berbagai jenis zat warna alam maupun sintetik (Depkes RI, 1985).
Penggunaan pewarna sintesis pada pewarna rambut dapat berbahaya bagi kesehatan
manusia, salah satu contoh zat warna sintetis yang digunakan dalam kosmetik
adalah rhodamin B. Pewarna rhodamin B secara topikal/luar tubuh, bisa
menyebabkan iritasi kulit, risiko kanker dan dalam konsentrasi tinggi bisa
menyebabkan kerusakan hati. Oleh karena itu, penggunaan pewarna sintesis dapat
digantikan dengan pewarna alami (Yusfinah, dkk. 2008).
2.2 Data Preformulasi
1. HPMC (Rowe, 2009)
Pemerian : Tidak berbau dan berasa, berserat atau butiran bubuk putih atau
krem-putih.
Kelarutan : Larut dalam air dingin, membentuk koloid kental larutan; prakti
tidak larut dalam air panas, kloroform, etanol (95%), dan eter,
tapi larut dalam campuran etanol dan diklorometana, campuran
metanol dan diklorometana, dan campuran air dan alkohol.
Nilai tertentu hypromellose yang larut dalam larutan aseton
berair, campuran diklorometana dan propan-2-ol, dan pelarut
organik lainnya. Beberapa nilai yang swellable dalam etanol.
Inkompatibilitas : Hypromellose tidak kompatibel dengan beberapa agen
pengoksidasi. Karena nonionik, hypromellose tidak akan
kompleks dengan garam logam atau ion organik untuk
membentuk endapan tidak larut
2. Propylene Glycol (FI III hal 534)
Pemerian : Cairan kental, jernih, tidak berwarna; tidak berbau; rasa
agak manis; higroskopik.
Kelarutan : Dapat dicampur dengan air, dengan etanol (95%) P dan
dengan kloroform P; larut dalam 6 bagian eter P; tidak
dapat campur dengan eter minyak tanah P dan dengan
minyak lemak
Jarak didih : Pada suhu 189 tersuling tidak kurang 95,0% v/v.
Sisa pemijaran : Tidak lebih dari 0,01%
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Khasiat : Zat tambahan; pelarut.
3. Gliserin ( FI IV Hal. 413)
Gliserin mengandung tidak kurang dari 95,0% dan tidak lebih dari 101,0%
C3H8O3.
Pemerian : Cairan jernih seperti sirup, tidak berwarna, rasa manis, hanya
boleh berbau khas lemah(tajam atau tidak enak). Hidroskopis,
netral terhadap lakmus.
Kelarutan : Dapat bercampur dengan air dan dengan etanol, tidak larut
dalam kloroform, eter, minyak lemah dan dalam minyk
menguap.
Bobot jenis : Tidak kurang dari 1,249
Khasiat : Zat Tambahan
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
4. Aquadest (HOPE hal 802)
Pemerian : Cairan jernih, tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa
Kelarutan : Dapat bercampur dengan pelarut polar lainnya
Titik didih
Densitas : 1,00 g/cm3
Stabilitas : Stabil disemua keadaan fisik (padat, cair, gas) Konstanta
dielektrik : 78,54
Inkompatibilitas : air dapat bereaksi dengan obat dan berbagai eksipien yang
rentan akan hidrolisis (terjadi dekomposisi jika terdapat air
atau kelembapan) pada peningkatan temperatur. Air bereaksi
secara kuat dengan logam alkali dan bereaksi cepat dengan
logam alkali tanah dan oksidanya seperti kalsium oksida dan
magnesium oksida. Air juga bisa bereaksi dengan garam
anhidrat menjadi bentuk hidrat.
Penyimpanan :Wadah yang dapat membatasi pertumbuhan mikroorganisme
dan mencegah kontaminasi.
Kegunaan : Pelarut
BAB III
METODE KERJA
3. 1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
a. Batang pengaduk
b. Bejana
c. Beaker Glass
d. Rotary evaporator.
e. Tabung reaksi
f. Viskometer brookfield
3.1.2 Bahan
a. Aqua DM
b. DMDM hindantion
c. Ekstrak biji pepaya
d. Gliserin
e. HPMC
f. Piragolol
g. Propilenglikol
3.2 Cara Pembuatan
1. Dibuat ekstrak biji pepaya dengan metode maserasi, menggunakan pelarut
etanol 95%.
2. Dipekatkan ekstrak yang dihasilkan menggunakan rotary evaporator.
3. Dilakukan uji skrining fitokimia pada ekstrak biji pepaya, meliputi uji
alkaloid, tanin, saponin, triterpenoid/steroid dan fenol.
4. Dilakukan optimasi sediaan gel dengan variasi konsnetrasi basis HPMC
yaitu 1,5%, 2%, 2,5%, 3%, 3,5% dan 4%. Didapatkan basis gel yang baik
yaitu konsentrasi 2,5%.
5. Ditambahkan ekstrak biji pepaya dengan variasi konsentrasi 3%, 5% dan
8%, hingga terbentuk sediaan gel pewarna rambut.
6. Dilakukan evaluasi pada sediaan gel pewarna rambut.
3.2 Formula
No. Komposisi % (b/b) bahan
F- F1 F2 F3
1 HPMC 2,5 2,5 2,5 2,5
2 Gliserin 6,25 6,25 6,25 6,25
3 Propilenglikol 15 15 15 15
4 Piragolol 1 1 1 1
5 DMDM hindation 0,6 0,6 0,6 0,6
6 Ekstrak biji pepaya 0 3 5 8
7 Aqua DM Ad 750ml Ad 750ml Ad 750ml Ad 750ml
Ket :
F1 = Formula dengan konsentrasi ekstrak biji pepaya 3%.
F2 = Formula dengan konsentrasi ekstrak biji pepaya 5%.
F3 = Formula dengan konsentrasi ekstrak biji pepaya 8%.
DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI., 1985, Formularium Kosmetika Indonesia, Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, 208 – 223.
Permenkes, RI.,2010, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor
1175/Menkes/Per/VIII/2010 Tentang Izin Produksi Kosmetia Dengan Rahmat
Tuhan Yang Maha Esa, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 3
Yusfinah, S., Pardede, M.H., Nababan, K.A., Irma, D., Mahadi, R., 2008, Dermatiti
Kontak Alergi Karena Cat Rambut, Majalah Kedokteran Nusantara, 41(3): 180 –
3.