Analisis Kurva Karakteristik CR Sinar-X
Analisis Kurva Karakteristik CR Sinar-X
Analysis of the Characteristic Curve of the Image Plate Computed Radiography (CR) as an
Indicator of X-Ray Sensitivity
Nurul Jannah1, Bidayatul Armynah, and Bualkar Abdullah
1
Physics Department, Faculty of Mathematics and Natural Science
Hasanuddin University
[Link] plate sebagai detektor memiliki nilai sensitifitas yang berbeda dalam menangkap energi radiasi yang
menembus bahan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan faktor eksposi terhadap sensitifitas
image plate terhadap sinar-X. Analisis dilakukan berdasarkan kurva karakteristik yang dibentuk oleh densitas
terhadap log eksposure. Penelitian ini dilakukan dengan mengukur nilai densitas yang tercatat pada image plate
untuk tiap tingkatan step dengan menggunakan variasi arus tabung (6,3mAs, 8 mAs, 10mAs, dan 12,5 mAs) dengan
tegangan tetap. Selanjutnya pengukuran nilai densitas pada variasi tegangan tabung (60 kV, 70 kV, 81 kV, dan 90
kV) dengan arus tabung tetap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tegangan tabung paling berpengaruh terhadap
sensitifitas image plate. Nilai sensitifitas paling baik pada respon Image Plate Computed Radiography dengan
merek iCRco diperoleh dengan menggunakan faktor eksposi tegangan 90 kV dengan arus 6,3 mAs dan 8 mAs. Hal
ini didasarkan pada kurva yang dibentuk linier dengan nilai korelasi mencapai 0,990.
Kata kunci : Sinar-X, Image Plate, Computed Radiography, Kurva Karakteristik, Stepwedge, Densitas.
[Link] plate as detector has a different sensitivity values in capturing the energy of radiation that
penetrates the material. The study aimed to determine the effect of the use of the sensitivity factor expose image
plate to X-rays. The analysis was performed based on the characteristic curve formed by the density versus log
exposure. The research was conducted by measuring the density values recorded on the image plate for each level
step by using a variation of the flow tube (6.3 mAs, 8 mAs, 10mAs, and 12.5 mAs) with a fixed voltage. Next
measurements of density values on the tube voltage variation (60 kV, 70 kV, 81 kV, and 90 kV) with a fixed tube
current. The results showed that most affect the tube voltage sensitivity of the image plate. The best value on the
response sensitivity of the Image Plate Computed Radiography with brand iCRco obtained using 90 kV voltage
expose factor with the current 6.3 mAs and 8 mAs. It is based on the curve formed by the linear correlation value
reaches 0.990.
Key words: X-rays, Image Plate, Computed Radiography, Characteristic Curve Karakteristik, Stepwedge,
Density.
Pendahuluan Teori
Berawal dari penemuan Sinar-X oleh Sinar-X ditemukan oleh Wilhelm
William Conrad Roentgen (1895) yang Conrad Rontgen seorang berkebangsaan
kemudian dimanfaatkan untuk melihat Jerman pada tahun 1895. Penemuanya
tulang-tulang tanpa harus membedahnya diilhami dari hasil percobaan-percobaan
terlebih dahulu. Saat ini ilmu radiologi sebelumnya antara lain dari J.J Thomson
semakin berkembang sistem radiodiagnostik mengenai tabung katoda dan Heinrich Hertz
konvensional perlahan ditinggalkan beralih tentang foto listrik. Kedua percobaan
kesistem radiodiagnostik digital salah tersebut mengamati gerak elektron yang
satunya computed radiografi (CR). keluar dari katoda menuju ke anoda yang
Sistem Computed Radiografi (CR) berada dalam tabung kaca yang hampa
memanfaatkan kemajuan teknologi dengan udara.(3)
adanya imaging plate (IP) sebagai detektor Saat itu Roentgen bekerja
digital photostimulable phosphor (PSP) atau menggunakan tabung. Dia mengamati nyala
storage phosphor screen (SPS) dalam hijau pada tabung yang sebelumnya menarik
menggantikan kombinasi sistem film- perhatian Crookes. Roentgen selanjutnya
intensifying screen konvensional radiografi mencoba menutup tabung itu dengan kertas
untuk menghasilkan citra. Didukung aspek hitam dengan harapan agar tidak ada cahaya
pengolahan citra dan image reader dalam tampak yang dapat lewat. Namun setelah
membaca IP sehingga data dapat ditutup ternyata masih ada sesuatu yang
ditampilkan dalam liquid crystal display dapat lewat. Roentgen menyimpulkan
(LCD) atau chatoda ray tube (CRT), juga bahwa ada sinar tidak tampak yang mampu
memiliki sistem pengolahan citra menerobos kertas hitam tersebut. Pada saat
menggunakan metode dry processing yang Roentgen menyalakan sumber listrik tabung
mengubah data digital menjadi data analog untuk penelitian sinar katoda, beliau
dengan hasil akhir berupa film laser mendapatkan bahwa ada sejenis cahaya
imaging. Penggunaan bahan PSP berpendar pada layar yang terbuat dari
memungkinkan IP dapat dipakai berulang barium platino cyanida yang kebetulan
kali. (1) berada didekatnya. Jika sumber listrik
Image plate sebagai detektor dipadamkan, maka cahaya pendar pun
memiliki nilai sensitifitas yang tinggi. IP hilang. Roentgen segera menyadari bahwa
memiliki sensitifitas yang berbeda dalam ada sejenis sinar yang tidak kelihatan telah
menangkap energi radiasi yang menembus muncul dari dalam tabung sinar katoda.
bahan, prinsip dalam menghasilkan citra Sinar ini kemudian disebut sebagai sinar-
radiografi, energi yang sedikit mengenai X.(4)
bariumflourohalide akan menampilkan citra Pembangkit sinar-X berupa tabung
berwarna putih (radio opaque) demikian hampa udara yang didalamnya terdapat
sebaliknya. (2) filament yang juga sebagai katoda dan
Pada penelitian ini dilakukan terdapat komponen anoda. Jika filamen
pengukuran nilai densitas dengan dipanaskan maka akan keluar elektron dan
menggunakan stepwedge yang ditempatkan apabila antara katoda dan anoda diberi beda
diatas Image Plate (IP) kemudian diekspose potensial yang tinggi, elektron akan
dengan sinar-X. Hasil penyinaran tersebut dipercepat menuju ke anoda. Dengan
kemudian diolah menjadi kurva karakteristik percepatan elektron tersebut maka akan
Image Plate yang kemudian dikaji untuk terjadi tumbukan tak kenyal sempurna
menentukan nilai sensitifitas Image Plate.
antara elektron dengan anoda, akibatnya lanjutan efek fotolistrik. Sinar-X yang
terjadi pancaran radiasi sinar-X. (5) terbentuk dengan cara seperti ini
mempunyai energi yang sama dengan
selisih energi antara kedua tingkat energi
yang bersangkutan. Karena energi ini
berbeda untuk setiap jenis atom, maka
sinar yang terbentuk dalam proses ini
disebut sinar-X karakteristik dengan
panjang gelombang 0,1 – 1 Ǻ.
Gambar. 1 : Tabung Pesawat Sinar-X(4)
2. Hamburan Compton
Pada hamburan Compton, foton dengan
energi hλi berinteraksi dengan elektron
terluar dari atom, selanjutnya foton
dengan energi hλo dihamburkan dan
Gambar. 4 : Efek fotolistrik(6)
sebuah fotoelektron lepas dari ikatannya.
Pada Gambar di atas, cahaya yang Energi kinetik elektron (Ee) sebesar
monokhromatis menyinari permukaan selisih energi foton masuk dan foton
logam katoda K sehingga menyebabkan keluar.
elektron terlepas dan terpental keluar
dari permukaan katoda. Ketika elektron Ee = hλi– hλo ……………… (I.4)
bergerak menuju anoda A, pada
rangkaian luar terjadi arus listrik yang Hamburan Compton sangat dominan
sangat kecil yang diukur dengan terjadi bila foton mempunyai energi
Galvanometer G. Secara eksperimen, sedang (di atas 0,5 MeV) dan lebih
tegangan perlambat terus diperbesar banyak terjadi pada material dengan
hingga pembacaan arus pada nomor massa (Z) yang rendah.(5)
Galvanometer menurun ke nol. Faktor- Faktor yang Berpengaruh Pada
Tegangan yang bersangkutan ini disebut Citra
potensial henti (stopping potential) Vs. 1. Arus Tabung (mA)
Karena elektron yang berenergi tertinggi Arus akan berpengaruh pada intensitas
tidak dapat melewati potensial henti ini, sinar-X atau derajat terang/ brightnees.
maka pengukuran Vs merupakan suatu Dengan peningkatan mA akan
cara untuk menentukan energi kinetik menambah intensitas sinar-X dan
maksimum elektron Kmaks: sebaliknya. Oleh sebab itu derajat terang
Kmaks = e Vs ……….(I.2) dapat diatur dengan mengubah mA.
Dalam hal ini, e adalah muatan elektron 2. Tegangan Tabung (kV)
dan Vs adalah potensial pemberhenti Tegangan tinggi merupakan daya dorong
dalam orde beberapa volt. Disebut elektron di dalam tabung dari katoda ke
potensial pemberhenti karena pada harga anoda. Supaya dapat menghasilkan
tersebut arus foto listrik menjadi nol. (6) sinar-X daya dorong ini harus kuat
Pada penyinaran, energi radiasi akan sehingga mampu menembus objek.
diserap seluruhnya. Energi yang diserap Dengan demikian perubahan kV sangat
berpengaruh terhadap daya tembus sinar- melalui beberapa proses, diantaranya proses
X.(16) transport data yaitu memindahkan data dari
Pesawat Computed Radiography IP ke komputer. Transport data dapat terjadi
Sistem Computed Radiography (CR) dengan adanya perubahan data. Elektron
adalah teknik pencitraan radiografi yang yang ditangkap dan disimpan pada fosfor
mengubah sistem analog menjadi digital akan dilepaskan setelah dilakukan
menggunakan photo-stimulable- pembacaan atau scanner pada imaging(10).
phospor (PSP) untuk akuisisi data dan Struktur lapisan IP diuraikan sebagai
pemrosesan citra(3) dalam format dicom berikut ; lapisan pelindung (protective layer)
(digital imaging and communication merupakan lapisan tipis, dan transparan
inmedicine), sehingga bila dilakukan berfungsi untuk melindungi IP. Lapisan
pembesaran ukurannya tidak akan phosphor merupakan lapisan yang
mengalami perubahan dan resolusi tetap(9) . mengandung bariumfluorohalide dalam
CR tidak dapat menampilkan citra bahan pengikatnya. Lapisan Pemantul
organ dengan warna seperti organ (reflective layer) merupakan lapisan yang
aslinya karena data yang diolah dalam IP terdiri dari partikel yang dapat memantulkan
berupa energi sinar-X, yang setelah cahaya. Lapisan konduktif (conductive layer)
menembus bahan mengalami atenuasi, absor merupakan lapisan yang terdiri dari kristal
psi dan hamburan tergantung dari nilai konduktif yang berfungsi untuk mengurangi
koefisien atenuasi dan ketebalan organ. IP masalah yang disebabkan oleh gesekan
memiliki sensitifitas yang berbeda dalam elektrostatik, selain itu kristal ini juga
menangkap energi radiasi yang menembus mempunyai kemampuan untuk menyerap
bahan, prinsip dalam menghasilkan citra cahaya sehingga dapat meningkatkan
radiografi, energi yang sedikit mengenai ketajaman citra. Lapisan penyangga (support
barium flouro- halide akan menampilkan layer) merupakan lapisan yang berfungsi
citra berwarna putih (radio opaque) menyangga lapisan diatasnya. Lapisan
demikian sebaliknya(2). Pada tahap merubah pelindung bagian belakang (backing layer)
energi dari analog ke digital sistem merupakan lapisan untuk melindungi IP
komputerisasi sistem CR hanya dapat selama proses pembacaan (readout) didalam
mengolah data berupa bilangan logika yaitu Image Reader. Pemberi kode dan identitas
1 atau 0 yang nantinya akan ditampilkan (barcode lable) digunakan untuk
berupa citra skala abu-abu (grayscale) atau memberikan nomor seri dan untuk
pixel value (PV) pada layar monitor dalam mengidentifikasi partikel pada IP tertentu
matrik-matrik data(9) . yang kemudian dapat dihubungkan dengan
Image Plate identifikasi pasien.(11)
Pada Computed Radiography (CR) Laser imaging film adalah film
Imaging Plate terdiri dari lapisan single emulsi yang dilapisi oleh Kristal
photostimulable phosphor. Lapisan ini silver halide yang sensitif terhadap
terdiri dari Cristal Ba Fx: Eu2+ (Europium- cahaya merah yang dipancarkan oleh
Barium Flourohalide). Fosfor yang terdapat laser. Struktur lapisan laser imanging
didalam IP apabila terkena energi foton film antara lain : lapisan pelindung
sinar-X maka IP akan menangkap dan (supercoat) yang merupakan lapisan
menyimpan energi (elektron) tersebut. Pada pelindung film dari kerusakan fisik dan
IP tidak terdapat perubahan konstruksi dari goresan, biasa disebut lapisan anti
kimiawi sebagai proses terbentuknya citra gores. Lapisan emulsi berupa lapisan
karena pada IP untuk menghasilkan citra lembut yang mudah rusak oleh proses
kimia , fisik dan temperatur merupakan Dry Processing
lapisan sensitif terhadap radiasi yang Metode dry processing mengacu
terdiri dari silver halide yang terikat pada pembangkitan gambaran tanpa
dengan gelatin murni. Lapisan perekat menggunakan cairan kimia.
(substratum) merupakan lapisan perekat, Film Laser Imaging
disebut juga adhesive layer yang terletak Merupakan alat pengolah gambar
antara emulsi dan base film, berguna dan memprosesnya diatas film. Laser
untuk merekatkan dasar film dengan printer dilengkapi dengan multi
emulsi. Lapisan base film merupakan formatter main features yang
lapisan yang terbuat dari polyester atau memungkinkan untuk memformat
celulose acetate setebal 0,2 mm, gambar dan mengolah gambar lebih
berfungsi sebagai pengaman karena tajam dan fungsi-fungsi yang terus
sifatnya tidak mudah terbakar bila berkembang. Film yang digunakan
dibandingkan dengan bahan kertas, dan adalah photo thermographic yang tidak
sebagai lembar penyangga emulsi film menggunakan butiran perak halida, tapi
dengan lapisan-lapisan lainnya. Lapisan butiran perak behenate (Ag22H43O2).
anti bengkok (anticurl backing)
berfungsi menjaga film agar tetap lurus Pembuatan Kurva Karakteristik.
setelah prosesing, dan lapisan pewarna Berikut langka-langkah membuat
(anti-halation layer) adalah bahan kurva karakteristik:
pewarna yang terdapat dalam gelatin 1. Siapkan kertas bergaris (cross line)
pada anti-curl backing (11) yang halus.
2. Buat garis lurus untuk sumbu Y
(vertikal) dan X (horizontal)
3. Sumbu Y menunjukkan densitas.
Gunakan skala 0,5 dengan nilai
maksimal 4,0. Sumbu Y adalah nilai
densitas dari tiap step.
4. Sumbu X adalah nilai relative
exposure atau nomor step. Angka
yang digunakan pada sumbu X dapat
dilihat pada tabel berikut.
Tabel II.1. Nilai Relative eksposure
Gambar. 5. Sistem Kerja Image Plate(13) 5. Plot kurva sesuai data yang
diperoleh.(17)
Kaset Pada Computed Radiography, Kurva
Kaset pada Computed Radiografi karakteristik yang dihasilkan
(2)
(CR) terdiri dari karbon fiber pada membentuk garis linier
bagian depan (tube side) dan aluminium Metode penelitian
(Al) pada bagian belakangnya. Penelitian ini dilakukan di unit
Image Reader Radiologi RSUP. Universitas
Imaging Plate Reader adalah salah Hasanuddin Makassar pada bulan April
satu komponen lain dari control akuisisi Mei 2014.
CR. Pembacaan gambar laten yang
tersimpan dalam Image Plate dilakukan Adapun prosedur penelitian sebagai berikut :
oleh laser yang terdapat dalam plate a. Persiapan alat dan bahan
imaging reader (14). b. Meletakkan stepwedge diatas kaset.
c. Mengatur jarak antara titik fokus tabung metode sensitometri menghasilkan Gambar
sinar-X dengan film/IP (FFD) sejauh sebagai berikut:
107 cm.
d. Mengatur luas lapangan penyinaran 25 Kurva Densitas dengan variasi Tegangan
cm x 13 cm. pada Arus Tetap sebesar 10 mAs
e. Melakukan eksposi setelah terlebih
dahulu mengatur : 60 kV dan 10 mAs
1) Arus Tabung tetap : 10 mAs dengan
2
Variasi Tegangan Tabung 70 kV, 81
1,5
DENSITAS
kV, dan 90 kV.
1
2) Tegangan Tabung tetap : 70 kV
0,5
dengan Variasi Arus Tabung 6,3
0
mAs, 8 mAs, 10 mAs, dan 12,5
0 2 4
mAs.
LOG EKSPOSURE
3) Tegangan Tabung 81 kV dengan
Variai Arus Tabung 6,3 mAs, 8 Gambar 6. Kurva Densitas pada penggunaan
mAs, 12,5 mAs Tegangan 60 kV dan Arus 10 mAs
4) Tegangan Tabung 90 kV dengan
Variai Arus Tabung 6,3 mAs, 8 Gambar 6 memperlihatkan sebaran
mAs, 12,5 mAs nilai densitas pada 21 titik dengan kisaran
f. Proses gambar secara digital. log eksposure 0,0 hingga 3,0 dimana titik
g. Lakukan pengukuran densitas dengan puncak yang menunjukkan nilai densitas
densitometer tertinggi yaitu 1,67 berada pada titik ke 21
h. Analisis data log eksposure 3,0 sedangkan nilai densitas
i. Plotting kurva terendah yaitu 0,43 berada pada titik ke 1
j. Kesimpulan log eksposure 0,0. Hubungan antara Log
Eksposure terhadap nilai densitas
Pembahasan menunjukkan bahwa kombinasi tegangan 60
Sensitifitas erat kaitannya dengan kV dan arus 10 mAs membentuk kurva
speed film yaitu kecepatan film dalam eksponensial dengan nilai korelasi 0,989.
merespon cahaya tampak atau sinar-X dan
mengubahnya menjadi bayangan. Menurut 70 kV dan 10 mAs
defenisi dari ANSI (American National
Standards Institute), kecepatan film sinar-X 2
1,5
DENSITAS
1,5
DENSITAS
1 1
0,5 0,5
0
0
y = 0,4295e00,4285x 1 2 3 4
0 1 2 3 4 R² = 0,9897
y = 0,5639e0,3459x LOG EKSPOSURE LOG EKSPOSURE
R² = 0,9831
Gambar 9. Kurva Densitas pada penggunaan Gambar 10. Kurva Densitas pada penggunaan
Tegangan 90 kV dan Arus 10 mAs Tegangan 70 kV dan Arus 6,3 mAs
Gambar 10 memperlihatkan sebaran
nilai densitas pada 21 titik dengan kisaran 70 kV dan 10 mAs
log eksposure 0,0 hingga 3,0 dimana titik 2
puncak yang menunjukkan nilai densitas
1,5
DENSITAS
tertinggi yaitu 1,71 berada pada titik ke 21
log eksposure 3,0 sedangkan nilai densitas 1
terendah yaitu 0,42 berada pada titik ke 1 0,5
log eksposure 0,0. Hubungan antara Log 0
Eksposure terhadap nilai densitas 0
y = 0,4773e0,3946x
1 2 3 4
menunjukkan bahwa kombinasi tegangan 70 R² = 0,9877 LOG EKSPOSURE
kV dan arus 6,3 mAs membentuk kurva
eksponensial dengan nilai korelasi 0,994. Gambar 12. Kurva Densitas pada penggunaan
Hal ini terjadi karena dalam penggunaan CR Tegangan 70 kV dan Arus 10 mAs
Gambar 12 memperlihatkan sebaran
nilai densitas pada 21 titik dengan kisaran
70 kV dan 8 mAs log eksposure 0,0 hingga 3,0 dimana titik
puncak yang menunjukkan nilai densitas
1,8
tertinggi yaitu 1,5 berada pada titik ke 21
DENSITAS 8 mAs
DENSITAS
Data pengukuran densitas stepwedge 0,8
dengan metode sensitometry pada bagian
0,3
IV.3 diatas menunjukkan penggunaan
tegangan tetap 70 kV dengan berbagai -0,2
0 1 2 3 4
variasi arus. Berdasarkan kurva terlihat y = 0,2758x + 0,4659
LOG EKSPOSURE
bahwa seluruh kurva yang diperoleh, R² = 0,9672
berbentuk [Link] ini berarti tidak
Gambar 15. Kurva Densitas pada penggunaan
ada pengaruh perubahan arus tabung ketika Tegangan 81 kV dan Arus 8 mAs
menggunakan tegangan sebesar 70 kV. Gambar 15 memperlihatkan sebaran
Korelasi tertinggi yang diperoleh pada nilai densitas pada 21 titik dengan kisaran
penggunaan tegangan 70 kV dan arus 6,3 log eksposure 0,0 hingga 3,0 dimana titik
mAs yaitu sebesar 0,994. puncak yang menunjukkan nilai densitas
Kurva Densitas dengan variasi Arus pada tertinggi yaitu 1,46 berada pada titik ke 21
Tegangan 81 kV, log eksposure 3,0 sedangkan nilai densitas
terendah yaitu 0,44 berada pada titik ke 1
log eksposure 0,0. Hubungan antara Log
81 kV dan 6.3 mAs Eksposure terhadap nilai densitas
membentuk kurva linier dengan nilai
1,8
korelasi 0,983. Nilai densitas berubah pada
1,3 setiap titik ini dikarenakan ketebalan
DENSITAS
DENSITAS
terendah yaitu 0,49 berada pada titik ke 1
log eksposure 0,0. Hubungan antara Log 0,8
Eksposure terhadap nilai densitas
membentuk kurva linier dengan nilai -0,2
0 1 2 3 4
korelasi 0,980. Nilai densitas berubah pada y = 0,308x + 0,3595 LOGEKSPOSURE
setiap titik ini dikarenakan ketebalan R² = 0,9817
stepwedge yang juga bervariasi pada setiap Gambar 17. Kurva Densitas pada penggunaan
tingkatannya. Variasi ketebalan ini Tegangan 90 kV dan Arus 6,3 mAs
membentuk pola gelap terang pada image Gambar 17 memperlihatkan sebaran
plate / film dimana pada step 1 nilai densitas pada 21 titik dengan kisaran
gambarannya lebih terang dan berangsur log eksposure 0,0 hingga 3,0 dimana titik
menghitam pada step berikutnya hingga puncak yang menunjukkan nilai densitas
hitam maksimal pada step ke 21. Hal ini tertinggi yaitu 1,39 berada pada titik ke 21
terjadi karena pada step 1 transmisi radiasi log eksposure 3,0 sedangkan nilai densitas
yang sampai ke image plate dianggap 0 terendah yaitu 0,33 berada pada titik ke 1
persen karena nilai ketebalan pada step 1 log eksposure 0,0. Hubungan antara Log
mampu menyerap 100 persen radiasi yang di Eksposure terhadap nilai densitas
transmisikan oleh tabung sinar-X. membentuk kurva linier dengan nilai
Data pengukuran densitas stepwedge korelasi 0,990.
dengan metode sensitometry pada bagian
IV.4 diatas menunjukkan penggunaan
tegangan 81 kV dengan berbagai variasi arus
90 kV dan 8 mAs
terjadi peningkatan nilai densitas untuk 1,8
setiap variasi arus dimana ketika arus 1,3
DENSITAS