Harga Pemotongan Babi di RPH Penggaron
Harga Pemotongan Babi di RPH Penggaron
Mengetahui,
Koordinator Umum Asisten Praktikum Asisten Pembimbing
Manajemen Pemotongan Ternak
Menyetujui,
a. Nama : Rumah Pemotongan Hewan a. RPH Penggaron Semarang merupakan a. Rumah Pemotongan Hewan merupakan
Penggaron perusahaan daerah yang berfungsi sebagai konstruksi bangunan yang didesain sebagai
pemasok daging untuk kepentingan tempat pemotongan hewan ternak selain
masyarakat kota Semarang. Selain sebagai unggas yang berfungsi sebagai penyedia
tempat pemotongan hewan, RPH ini juga pemenuhan kebutuhan daging masyarakat
digunakan sebagai tempat budidaya hewan (Lawu dkk., 2014).
potong.
b. Alamat : Jl. Brigdjen Sudiarto KM. 11 b. Lokasi RPH berada di daerah perkotaan b. Lokasi Rumah Pemotongan Hewan tidak
Penggaron Kidul, Kec. Pedurungan, Kota yang tidak terlalu padat penduduknya, boleh berada di daerah yang padat
Semarang. lokasi sudah sesuai sebagai tempat penduduknya dan diusahakan jauh dari
pemotongan hewan. lokasi pemukiman warga (Purbowati dkk.,
2015).
c. Luas : 5 ha c. Luas Rumah Pemotongan Hewan c. Tata bangunan Rumah Potong Hewan yang
- Lahan : 233,23 m2 Penggaron terdiri dari lahan sebesar sesuai standar minimal memiliki luas area
- Bangunan : 4766,77 m2 233,23 m2 dan bangunan sebesar 4766,77 sebesar 3 ha, terdiri dari banguan utama
m2, sesuai untuk dijadikan tempat dan pendukung (Burhanudin, 2005).
pemotongan hewan dengan kapasitas yang
cukup besar.
d. Bangunan : 5 bagian (bagian ruang d. Bangunan Rumah Pemotongan Hewan d. Syarat bangunan sebagai Rumah
pemotongan, ruang pengeletan, ruang Penggaron sudah baik dan sudah Pemotongan Hewan yaitu terdiri dari
pembersihan jeroan, laboratorium dan memenuhi standar persyaratan minimal bangunan utama, kandang penampung,
kantor) sebagai Rumah Pemotongan Hewan. kandang isolasi, area penurunan hewan,
tempat pelayuan, kantor administrasi,
tempat penampungan limbah, laboratorium
dan area pemusnahan bangkai (Peraturan
Menteri Pertanian Republik Indonesia
Nomor 13/ Ot. 140/ 1/ 2010).
f. Jarak dengan jalan raya : 1 km f. Jarak lokasi Rumah Pemotongan Hewan f. Rumah Pemotongan Hewan harus
dengan jalan raya tidak terlalu jauh, memiliki akses jalan yang baik dan mudah
sehingga memudahkan dalam hal dijangkau oleh kendaraan pengangkut
transportasi dan distribusi. ternak maupun daging (Peraturan Menteri
Pertanian Republik Indonesia Nomor 13/
Ot. 140/ 1/ 2010).
g. Jarak dengan pemukiman : 50 m g. Area Rumah Pemotongan Hewan terlalu g. Lokasi Rumah Pemotongan Hewan dengan
dekat dengan pemukiman penduduk, pemukiman penduduk memiliki jarak ideal
dikhawatirkan dapat memicu terjangkitnya kurang lebih 2-3 km (Setiajatnika, 2011).
penyakit zoonosis dan terjadinya
pencemaran lingkungan penduduk.
h. Jarak dengan pusat kota : 8 km h. Lokasi RPH Penggaron mudah diakses h. Lokasi Rumah Pemotongan Hewan harus
karena berada di daerah perkotaan dan memiliki akses yang mudah dijangkau,
tidak jauh dari pusat kota, sesuai dengan sehingga memudahkan transportasi dan
ketentuan RPH. distribusi (Standar Nasional Indonesia,
1999).
i. Jarak dengan kampus : 16 km
i. Jarak RPH Penggaron dengan kampus i. Rumah Pemotongan Hewan harus
Universitas Diponegoro cukup jauh, memiliki akses jalan yang baik dan mudah
sehingga membutuhkan waktu sekitar 30 dijangkau oleh kendaraan pengangkut
menit untuk menempuh lokasi. Akses ternak maupun daging (Peraturan Menteri
jalan sudah bagus, tidak berlubang dan Pertanian Republik Indonesia Nomor 13/
mudah dilalui kendaraan bermotor. Ot. 140/ 1/ 2010). Kriteria akses jalan yang
baik yaitu tidak berlubang, mudah
dijangkau dan mudah dilalui kendaraan
(Rahayu, 2006).
j. Fasilitas : Bangunan, timbangan sapi dan j. Fasilitas di RPH Penggaron sudah cukup
j. Syarat Rumah Pemotongan Hewan harus
Nomor Hasil Evaluasi Referensi
babi, timbangan karkas, electrical lengkap guna menunjang kegiatan dilengkapi sarana dan prasarana yang
stunning, rail, toilet, mushola, kantin, air pemotongan ternak. memadai meliputi sumber air bersih,
bersih, listrik, pengolahan limbah, sumber listrik, fasilitas penanganan dan
kantor. pengolahan limbah serta peralatan
pendukung pemotongan ternak (Lahamma
2006).
k. Jarak penampungan limbah : 50 m dari k. Jarak tempat penampungan limbah sudah k. RPH harus memiliki tempat pengelolaan
tempat pemotongan baik, berada cukup jauh dari lokasi limbah yang berjarak minimal 10 meter
pemotongan sehingga meminimalkan dari bangunan utama (Peraturan Menteri
kontaminasi limbah dengan daging. Pertanian Republik Indonesia Nomor 13/
Limbah di RPH Penggaron tidak Ot. 140/ 1/ 2010). Limbah sebagai hasil
dilakukan pengolahan lebih lanjut, hal samping produksi harus diolah dengan
tersebut dikhawatirkan dapat mencemari benar agar tidak menimbulkan pencemaran
lingkungan. lingkungan dan tidak mengganggu
penduduk sekitar (Burhanuddin, 2005).
l. Sumber air bersih di RPH sudah baik dan l. Sumber air di RPH harus memenuhi
l. Sumber air : 2 sumur artetis dengan
ketersediaannya dapat mencukupi persyaratan baku mutu air bersih dengan
kedalaman 30 m dan 1 sumur biasa
kebutuhan air di RPH. ketersediaan yang cukup secara kontinyu,
kurang lebih 1000 liter/ ekor/ hari untuk
sapi (Peraturan Menteri Pertanian Republik
Indonesia Nomor 13/ Ot. 140/ 1/ 2010).
m. Jumlah tenaga kerja sudah mencukupi,
m. Tenaga kerja : dimana dari sejumlah tenaga kerja yang m. Keahlian dan jumlah tenaga kerja
Sapi = 30 orang ada dilakukan pembagian tugas kerja yang berpengaruh penting terhadap kegiatan
Babi = 17 orang terdiri dari tenaga pemelihara ternak, operasi di RPH. Pembagian tugas tenaga
pemotongan dan penyembelihan, kerja di RPH meliputi tukang potong,
pengulitan, pembersihan organ dalam dan pengelola kandang, pengelola daging dan
penimbangan. penyedia makanan ternak (Rianto, 2010).
o. Kapasitas kandang penampungan : o. Kandang penampungan di RPH Penggaron o. Daya tampung kandang penampungan di
300 ekor sapi sudah baik dan cukup untuk menampung RPH yaitu 1,5 kali dari rata-rata jumlah
300 ekor babi jumlah total ternak yang ada. ternak yang dipotong setiap harinya.
(Peraturan Menteri Pertanian Republik
Indonesia Nomor 13/ Ot. 140/ 1/ 2010).
p. Jumlah pemotongan setiap hari : p. Berdasarkan kapasitas pemotongan ternak p. Rumah Pemotongan Hewan tergolong
22 ekor sapi setiap harinya, RPH Penggaron tergolong dalam kategori II jika jumlah pemotongan
25 ekor babi dalam kategori II. Jumlah ternak yang sapi/ kerbau sebanyak 20 ekor, domba/
dipotong disesuaikan dengan permintaan kambing 50 ekor dan babi 100 ekor
konsumen. (Standar Nasional Indonesia, 1999).
q. Biaya pemotongan per ekor : q. Biaya pemotongan ternak tergolong cukup q. Tarif di RPH untuk pemotongan sapi,
Rp 78.000,00/sapi mahal kerbau dan kuda yang memiliki bobot
Rp 73.000,00/babi badan lebih dari 400 kg yaitu Rp 18.000,00
per ekor (Peraturan Daerah Kabupaten
Semarang/Nomor 02/2012).
2. Pemerikasaan antemortem ternak sapi
a. Bangsa : Peranakan Simmental a. Ternak yang diamati di RPH Penggaron a. Karakteristik sapi Peranakan Simmental
tergolong dalam bangsa Simmental yaitu memiliki badan berwarna putih atau
Peranakan dengan ciri-ciri warna tubuh coklat kemerahan, kepala (datar panjang
coklat, tubuh besar dan pada bagian muka dan lebar), terdapat warna putih pada dahi,
berwarna putih tidak berkalasa, gelambir kecil, tubuh
panjang dan besar, pada bagian kipas ekor,
ujung hidung dan lingkar mata ada yang
berwarna hitam atau coklat (Desinawati
dan Isnaini, 2010).
b. Umur (Poel) : 2 – 2,5 tahun ( poel 2)
b. Berdasarkan poel pada gigi ternak, b. Umur 1,5 – 2,5 tahun merupakan umur
diketahui bahwa ternak berumur 2 tahun. ideal bagi ternak sapi jantan untuk
Nomor Hasil Evaluasi Referensi
Umur tersebut sudah sesuai untuk dipotong (Purbowati dkk., 2015).
dilakukan pemotongan, karena persentase
dagingnya lebih tinggi dan penimbunan
lemak belum terlalu banyak.
c. Jenis kelamin : Jantan
c. Penggunaan ternak jantan untuk dipotong c. Pemilihan sapi untuk untuk dipotong
sudah sesuai dengan peraturan pemerintah sebaiknya berkelamin jantan atau betina
mengenai pelarangan pemotongan ternak yang tidak produktif lagi, berkaitan dengan
betina produktif. Ternak jantan memiliki adanya pelarangan pemotongan betina
persentase karkas yang lebih tinggi produktif (Hafid dan Rugayah, 2009)
dibandingkan ternak betina.
d. Asal ternak : Kudus
d. Ternak berasal dari daerah Kudus, yang d. Perjalanan transportasi ternak dapat
berjarak cukup jauh dari lokasi berdampak pada kondisi ternak, dimana
peternakan, sehingga transportasi ternak ternak dapat mengalami stres maupun
membutuhkan waktu yang cukup lama. penyusutan bobot badan sehingga
Hal tersebut dapat mengakibatkan ternak membutuhkan penanganan khusus seperti
menjadi stress dan terjadi penyusutan pengistirahatan dan pemberian air gula
bobot potong. (Fikar dan Ruhyadi, 2010)
e. Bobot potong : 424,36 kg
e. Bobot potong yang dihasilkan oleh sapi
Peranakan Simmental yang diamati kurang e. Bobot sapi Peranakan Simmental pada
ideal, karena pada umur 2 tahun hanya sistem penggemukan dapat mencapai 500 –
mencapai 424,36 kg. 700 kg dan persentase karkas sebesar 48,6
– 54,2% (Ismail dkk., 2014)
f. Lingkar dada : 188 cm
f. Pengukuran lingkar dada dapat digunakan
sebagai pendugaan bobot badan ternak f. Pendugaan bobot badan ternak dapat
yang dihitung menggunakan rumus schrol. dilakukan melalui pengukuran lingkar
dada, tanpa harus menimbang ternak
(Purbowati dkk., 2015).
g. Body Condition Score (BCS) : 5
g. Sapi yang diamati memiliki BCS 5 atau
ideal, dapat diartikan bahwa sapi tidak g. Body Condition Score ideal pada ternak
terlalu gemuk dan tidak terlalu kurus. potong berkisar antara 5 – 7, dimana BCS
Penilaian BCS ini didasarkan pada 5 merupakan BCS minimal sapi siap
potong (Sodiq dan Budiono, 2012).
Nomor Hasil Evaluasi Referensi
konformasi tubuh sapi meliputi pins,
hooks dan tulang iga yang tidak terlalu
tampak, perlemakan pada brisket dan
h. Kondisi kesehatan ternak : sehat pangkal ekor sedang.
a. Alur pemotongan ternak : a. Alur pmotongan ternak sapi di RPH a. Prosedur pemotongan sapi secara berturut-
Pemeriksaan antemortem, penggiringan Penggaron sudah sesuai dengan standar turut meliputi penyembelihan, pada saat
sapi menuju tempat pemotongan, prosedur pemotongan ternak. Pengulitan bleeding darah ditampung, pemisahan
pengikatan dan perobohan, dilakukan dengan cara digantung, tempat komponen non karkas (kepala, kaki),
Nomor Hasil Evaluasi Referensi
penyembelihan, bleeding, pemotongan pemotongan, penempatan karkas, pengulitan, pengeluaran viscera,
kepala dan kaki, pengulitan, pengeluaran pembersihan organ dalam dan perebusan pembersihan viscera dan penimpangan
viscera, pembersihan viscera, terpisah. Namun pekerja belum komponen karkas maupun nonkarkas
penimbangan karkas. menggunakan pakaian sesuai standar. (Lestari dkk., 2010).
b. Tukang sembelih ternak : Sochibin b. Penyembelihan dilakukan sesuai syariat b. Penyembelih ternak pada RPH harus
islam dan juru sembelih sudah memiliki memiliki kriteria sebagai berikut: seorang
sertifikasi sebagai JULEHA (Juru muslim, laki-laki yang sudah balig, sehat
Sembelih Halal). Namun, pakaian yang jasmani dan rohanil. (Soeparno, 2005).
dikenakan juru sembelih belum sesuai Pada saat penyembelihan ternak, pekerja
SOP. sebaiknya menggunakan perlengkapan
yang sesuai standar meliputi pakaian kerja
khusus, apron plastik, tutup kepala dan
boots (Peraturan Menteri Pertanian
Republik Indonesia Nomor 13/ Ot. 140/ 1/
2010).
c. Peralatan pemotongan ternak : pisau, c. Peralatan pemotongan ternak yang c. Perlengkapan alat pemotongan ternak
golok, kapak, trail, troli, ember, tali digunakan cukup lengkap, sehingga dapat meliputi alat timbang, pisau, alat untuk
menunjang kelancaran dalam proses menempatkan hewan pasca
pemotongan ternak. penyembelihan, rail dan penggantung
karkas (Peraturan Menteri Pertanian
Republik Indonesia Nomor 13/ Ot. 140/ 1/
2010).
d. Bobot darah : 22,99 kg = 4,42%
d. Bobot darah sapi Peranakan Simmental d. Rata-rata bobot dan proporsi komponen
sebesar 4,42%, melebihi kisaran nilai nonkarkas, terutama pada bobot darah sapi
literatur. Banyak sedikitnya darah pada jantan kurang lebih 3,45% (Lestari dkk.,
ternak dipengaruhi oleh beberapa faktor 2010). Umur, lingkungan dan genatik
yaitu umur, genetik ternak dan lingkungan. ternak berpengaruh terhadap bobot karkas
dan nonkarkas ternak (Sakti dkk., 2013).
e. Lama pengeluaran darah : 3 menit 23
detik e. Pengeluaran darah tergolong cepat dan
keluar secara sempurna. Darah ternak di e. Proses pengeluaran darah terjadi secara
cepat, kemudian dilakukan penampungan
Nomor Hasil Evaluasi Referensi
RPH Penggaron tidak dilakukan yang bertujuan agar darah tidak mencemari
penampungan dan hanya disiram air. karkas. (Rachmawan, 2011).
f. Bobot tubuh kosong : 380,03 kg =
89,55% f. Bobot tubuh kosong ternak yang diamati f. Persentase bobot tubuh kosong ternak
sebesar 89,55%, nilai tersebut melebihi tergantung pada ras ternak, kisaran standar
nilai literatur. Bobot tubuh kosong bobot tubuh kosong sapi yaitu 70 – 80%
dipengaruhi oleh lama pemuasaan ternak (Purbowati dkk., 2014). Pemuasaan ternak
sebelum dilakukan pemotongan. berpengaruh terhadap proporsi bobot
potong, karena dapat meminimalisir bobot
isi viscera sehingga bobot potong semakin
tinggi (Soeparno, 2005).
g. Bobot saluran pencernaan : 50,04 kg =
11,80% g. Persentase bobot saluran pencernaan g. Bobot saluran pencernaan sapi potong
sebesar 11,80% belum sesuai dengan nilai berkisar antara 18% - 21% dari bobot
literatur dan berada dibawah standar. tubuh, tergantung bangsa atau jenis ternak.
Bobot saluran pencernaan dipengaruhi (Purbowati dkk., 2014). Pakan yang
oleh banyaknya pakan yang dikonsumsi dikonsumsi ternak sangat berpengaruh
dan dicerna. terhadap bobot karkas dan nonkarkas yang
dihasilkan (Sakti dkk., 2013).
h. Bobot karkas : 243 kg
h. Bobot karkas yang dihasilkan cukup baik h. Persentase karkas sapi Peranakan
dan berada diatas persentase karkas Simmental dengan sistem pemeliharaan
standar. Persentase bobot karkas intensif berkisar antara 48,6% – 54,2%
dipengaruhi oleh bobot potong, umur dan (Hudallah dkk., 2007). Faktor yang
genetik ternak. mempengaruhi bobot karkas antara lain
bobot potong, umur dan jenis pakan yang
dikonsumsi ternak (Purbowati dkk., 2015).
i. Lama pengulitan : 6 menit 40 detik
i. Waktu pengulitan tergolong cepat, i. Proses pengulitan diawali dengan membuat
sehingga dapat meminimalisir kontaminasi sayatan dari bagian leher hingga anus,
daging pada udara terbuka. melewati bagian perut dan dada, kemudian
bagian kaki belakang dan depan (Javanica,
2011). Semakin lama daging di udara
terbuka, maka kerusakan pada daging akan
terjadi lebih cepat, karena adanya
Nomor Hasil Evaluasi Referensi
kontaminasi bakteri aerobik (Rachmawan,
j. Bobot kulit : 36,80 kg = 8,67% 2011).
j. Bobot kulit yang diperoleh sebesar 36,80 j. Persentase bobot kulit sapi Peranakan
kg atau 8,67% bobot hidup. Nilai tersebut Simmental yaitu berkisar antara 8 – 12%
masih tergolong normal. Proporsi bobot dari bobot hidup ternak (Widiarto dkk.,
kulit dipengaruhi oleh umur, bobot ternak 2009). Faktor yang mempengaruhi
dan jenis ternak. produksi nonkarkas antara lain bobot
potong, bangsa, umur dan pakan yang
k. Bobot kaki : 11,84 kg = 2,79% diberikan (Lestari dkk., 2010).
k. Total bobot kaki ternak sebesar 11,84 kg k. Persentase proporsi bobot kaki sapi kurang
atau 2,79% dari bobot hidup. Persentase lebih sebesar 2,23% dari bobot potong
bobot kaki ternak masih berada pada ternak tersebut (Lestari dkk., 2010).
kisaran nilai standar. Bobot kaki Konsumsi nutrisi yang tinggi dan
dipengaruhi oleh umur, bangsa dan nutrisi pertambahan umur mempengaruhi
pakan yang dikonsumsi. pertambahan komponen nonkarkas,
sedangkan bangsa dan jenis kelamin
l. Bobot kepala : 24,75 kg = 5,83% berpengaruh kecil (Soeparno., 2005).
a. Bangsa : Duroc a. Jenis babi yang diamati di RPH Penggaron a. Babi Duroc memiliki ciri-ciri tubuh
merupakan jenis Duroc yang memiliki panjang dan besar, warna merah muda
karakteristik tubuh panjang, cukup besar, sampai merah tua, terdapat bagian tubuh
warna tubuh krem bercampur hitam. yang hitam, punggung berbentuk busur,
kepala sedang dan telinga jatuh kebawah
(Gultom, 2007).
a. Alur pemotongan ternak : a. Pemotongan babi di RPH Penggaron a. Prosedur proses pemotongan babi meliputi
Penampungan babi, penggiringan ke sudah baik dan sesuai dengan prosedur pemingsanan, penusukan, perebusan
tempat pemotongan, pemingsanan pemotongan babi, namun daging masih dengan air panas, pengerokan bulu,
(stunning), penusukan, bleeding, menyentuh lantai pasca penyembelihan. pemisahan kepala dan penggantungan
penimbangan darah, perebusan karkas (Pastora dkk., 2014)
(scalding), pengerokan bulu (dehairing),
pemotongan kepala, penggantungan pada
rail, pengeluaran viscera, carcassing dan
penimbangan karkas
b. Peralatan pemotongan : electrical b. Peralatan pemotongan yang digunakan b. Perlengkapan alat pemotongan ternak
stunning, pisau, kapak, katrol dorong dan sudah lengkap, sehingga dapat menunjang meliputi alat timbang, pisau, penyangga
ember. kelancaran dalam proses pemotongan. hewan pasca penyembelihan, rail dan
penggantung karkas, serta dilengkpi
electrical stunning untuk pemotongan babi
Nomor Hasil Evaluasi Referensi
(Peraturan Menteri Pertanian Republik
Indonesia Nomor 13/ Ot. 140/ 1/ 2010).
f. Bobot jantung dan hati : 2,28 kg = 1,80% f. Persentase bobot jantung dan hati babi
f. Bobot jantung dan hati babi sebesar 2,28
sekitar 1,70 – 2,80% (Siagian dkk., 2005).
kg atau 1,80% dari bobot potong. Nilai
Faktor yang mempengaruhi bobot
tersebut sesuai dengan kisaran nilai
nonkarkas abtara lain pakan dan genetik
standar. Bobot tersebut dipengaruhi oleh
ternak (Soeparno, 2005).
umur, bangsa dan pakan yang diberikan.
a. Sapi : organ dalam dan hati tidak a. Melalui postmortem diketahui bahwa warna a. Pemeriksaan postmortem dilakukan pada
terdapat cacing dan kelainan, tekstur daging sapi merah segar, tidak ditemukan komponen karkas dan nonkarkas (kapala,
Nomor Hasil Evaluasi Referensi
kenyal dan padat, warna daging merah cacing pada hati dan organ dalam lainnya, isi rongga dada, isi perut) dengan tujuan
segar. hati berwarna merah darah dengan tekstur mengetahui kualitas produk yang
kenyal. Hasil postmortem menunjukkan dihasilkan ternak tersebut (Goba, 2013).
bahwa daging sapi memiliki kualitas baik. Daging sapi yang baik memiliki ciri-ciri
berwarna merah, serabut halus dengan
sedikit lemak, bau dan rasa aromatis
(Suwiti, 2008).
b. Babi : organ dalam dan hati tidak b. Postmortem pada babi diketahui bahwa hati b. Manfaat pemeriksaan postmortem pasca
terdapat cacing, hati berwarna merah berwarna merah muda cerah, organ dalam pemotongan ternak yaitu untuk melindungi
cerah, daging berwarna merah muda. lain tampak normal, tidak ditemukan cacing. kesehatan konsumen baik secara langsung
Hasil tersebut menunjukkan kualitas daging maupun tidak langsung (Suradi, 2009).
yang baik. Daging babi berkualitas memiliki tekstur
halus, warna terang dan kandungan
marbling yang cukup (Susilo, 2007).
DAFTAR PUSTAKA
Badan Standarisasi Nasional. 1999. SNI tentang Rumah Potong Hewan No. 01-6159-1999. Pusat Standarisasi LIPI Jakarta.
Budiasih, Y. 2012. Struktur organisasi, desain kerja, budaya organisasi dan pengaruhnya terhadap produktivitas karyawan. J. Liquidity. 1(2) : 99 – 105.
Burhanuddin, R. 2005. Studi Kelayakan Pendirian Rumah Potong Hewan di Kabupaten Kutai [Link]. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan
[Link] Pada deputi Bidang Pengkajiyan Sumberdaya [Link].23-31.
Charvallo, M.C., Soeparno dan N. Ngadiyono. 2010. Pertumbuhan sapi Peranakan Ongole dan Simmental Peranakan Ongole jantan yang dipelihara secara
feedlot. Buletin Peternakan. 34 (1) : 38 – 46.
Desinawati, N. dan Isnaini. 2010. Penampilan reproduksi sapi Peranakan Simmental di Kabupaten Tulung Agung, Jawa Timur. J. Ternak Tropika 11 (2) :
41 – 47.
FAO. 2001. Guidelines for humane handling, transport dan slaughter of livestock. Regional Office for Asia and the Pacific.
Fikar, S. dan D. Ruhyadi. 2010. Beternak dan Bisnis Sapi Potong. AgroMedia Pustaka, Jakarta Selatan.
Gultom, Y. 2007. Strategi Pengembangan Usaha Peternakan Babi. Fakultas Peternakan Program Studi Sosial Ekonomi Institut Pertanian Bogor, Bogor.
(Skripsi).
Goba, M. A. 2013. Penanganan dan Distribusi Karkas dan Non Karkas dari Tempat Pemotongan Babi Jeketreng Gunung Sindur Bogor. Fakultas Peternakan.
Institut Pertanian Bogor, Bogor. (Skripsi).
Hafid, H. dan N. Rugayah. 2009. Persentase karkas sapi Bali pada berbagai berat badan dan lama pemuasaan sebelum pemotongan. Jurusan Peternakan
Fakultas Pertanian. J. Veteriner. 20 (9): 9 –13.
Hafid, H., [Link]. 2008. Pengaruh jarak transportasi sebelum pemotongan terhadap karakteristik karkas sapi Bali . J. Agriplus. 18 (3) : 1 – 7.
Hudallah., C.M.S. Lestari dan E. Purbowati. 2007. Persentase karkas dan non karkas domba local jantan dengan metode pemberian pakan yang berbeda.
Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Mendukung Industrialisasi Sistem Pertanian untuk Meningkatkan Kesehatan
Pangan dan Kesejahteraan Peternakan. Bogor, 21-22 Agustus 2007. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Hal. 381 – 386.
Ismail, M., H. Nuraini, dan R. Priyanto. 2014. Perlemakan pada sapi Bali dan sapi Madura meningkatkan bobot komponen karkas dan menurunkan
persentase komponen non karkas. J. Veteriner. 15(3) : 411 – 424.
Javanica, A. 2011. Manajemen Pemeliharaan dan Pemotongan Sapi di CV. Plesungan Raya (PR) Kabupaten Karanganyar. Fakultas Pertanian Universitas
Sebelas Maret, Surakarta. (Tugas Akhir Ilmu Peternakan).
Kartasudjana, R. 2011. Proses Pemotongan Ternak di RPH. Departemen Pendidikan Nasional Proyek Pengembangan Sistem dan Standar
Pengelolaan SMK Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan Jakarta. Modul Budidaya Ternak Program Keahlian Jakarta.
Lahamma, A. 2006. Persepsi peternak tentang limbah pertanian dalam pemanfaatannya sebagai pakan ternak sapi di Kecamatan Sukamaju Luwu Utara. J.
Ilmiah Peternakan. 1(2) : 72-81.
Lawu, M. R., S. Yuliawati, L.D. Saraswati. 2014. Gambaran pelaksanaan rumah pemotongan hewan babi (Studi Kasus di Rumah Pemotongan Hewan Kota
Semarang). J. Kesehatan Masyarakat. 2 (2) : 38 – 46.
Lestari, C.M. S., Hudoyo, Y dan Dartosukarno, S. 2010. Proporsi Karkas Dan Komponen-Komponen Nonkarkas Sapi di Rumah Potong Hewan Swasta
Kecamatan Ketanggungan Kabupaten Brebes. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor 13-14 Agustus 2010.
PPPP, BPPP, Kementrian Pertanian. Hal. 296-300.
Pastora, M., B. Bugallo, [Link], M.A. Torre, R.T. López . 2014. Analysis Of The Slaughterhouses In Galicia (NW Spain). Science Of The Total
Environment 481 : 656–661.
Peraturan Daerah Semarang. 2012. Peraturan Daerah Kota Semarang No. 3 tentang Retribusi Jasa Usaha di Kota Semarang. Lembaga Daerah Kota
Semarang, Semarang.
Peraturan Mentri Pertanian. 2010. Peraturan Menteri Pertanian No. 13/Permentan/ OT.140/1/2010 tentang Persyaratan Rumah Potong Hewan Ruminansia
dan Unit Penanganan Daging (meat cutting plant). Berita Negara RI No. 60/2010.
Purbowati, E., C. M. S. Lestari, N. A. Sarie, Y. Haryati, M.W. Saputra, W. S. Saputro, M. Istiadi, M. Arifin, E. Rianto, dan A. Purnomoadi. 2015.
Karakteristik sapi yang dipotong di rumah potong hewan Kota Semarang. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner,
Semarang. Hal. 42 – 47.
Rachmawan, O. 2011. Penanganan Daging. Proyek Pengembangan Sistem dan Standar Pengelolaan, Jakarta.
Rianto. 2010. Rumah Potong Hewan sesuai Standar SNI. Badan Standarisasi Nasional Indonesia, Jakarta.
Rohyati, E., B. Ndoen dan C. L. Penu. 2007. Kajian kelayakan operasional rumah pemotongan hewan (RPH) Oeba pemerintah Kota Kupang Nusa Tenggara
Timur dalam menghasilkan daging dengan kualitas ASUH. J. Partner. 17 (2) : 162 – 171.
Sakti, A. A., Panjono dan Rusman. 2013. Tingkat hubungan antara variable penduga bobot daging (carcass cutability) karkas segar sapi Sapi SimPo dan
LimPo Jantan. J. Berita Biologi. 12 (3): 277 – 283.
Satriavi, K., Y. Wulandari, Y. B. P. Subagyo, R. Indesrawi, Sunarto, S. Prastowo dan N Widyas. 2013. Estimasi parameter genetik induk babi Landrace
berdasarkan sifat litter size dan bobot lahir keturunannya. J. Tropical Animal Husbandry 2 (1): 28 – 33.
Siagian, P. H., S. Natasasmita, dan P. Silalahi. 2005. Pengaruh substitusi jagung dengan corn gluten feed (cgf) dalam ransum terhadap kualitas karkas babi
dan analisi ekonomi. Media Peternakan. 28 (3) : 100 – 108.
Setiajatnika, E. 2011. Feasibility study pendirian rumah potong hewan (RPH) di Kabupaten Bandung Barat. J. CO-VALUE. 2 (1) : 55 – 72.
Sodiq, A dan M. Budiono. 2012. Produktifitas Sapi Potong pada Kelompok Tani Ternak di Pedesaan. J. Agripet. 12 (1) : 28 –33.
Soeparno. 2005. Ilmu dan Teknologi Daging. Cetakan keempat. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Standar Nasional Indonesia. 1999. Standar Nasional Indonesia (SNI) No. 01 – 6159-1999 Tentang rumah pemotongan hewan. Badan Standar Nasional,
Jakarta.
Suradi, K. 2009. Pengendalian Zoonosis Melalui Management dan Penanganan Bahan Pangan Hasil Ternak. Pustaka UNPAND.
Susilo, A. 2007. Karakteristik fisik daging beberapa bangsa babi. J. Ilmu dan Teknologi Hasil Ternak. 2 (2) : 42 – 51.
Suwiti, K. N. 2008. Identifikasi Daging Sapi Bali dengan Metode Histologis. Majalah Ilmiah Peternakan. 11 (1) : 31 – 35.
Tobing, S. W. L. 2010. Perbandingan Bobot Hidup, Persentase Karkas dan Tebal lemak Punggung Babi Landrace dengan Babi Duroc di Rumah Potong
Hewan Mabar Medan. Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Padang. (Artikel).
Widiarto, W., R. Widiati, dan I G. S. Budisatria. 2009. Pengaruh berat potong dan harga terhadap gross margin jagal di rumah potong hewan Mentik, Kresen,
Bantul. Buletin Peternakan. 33 (2): 119-128.
Wea. R., B. K. Berna dan N. I. Theresia. 2013. Identifikasi komposisi tubuh babi Timor jantan yang dipelihara secara ekstensif. J. Veteiner. 14 (3): 358 –364
LAMPIRAN
Keterangan :
A = Kantor
Pintu Masuk
Aa = Laboratorium
Ab = Mushola
B = Pos Satpam
A B
Aa C = Penampungan Karkas
D = Ruang Jeroan Babi
Ab E = Pemotongan Babi
F = Pencelupan Air Panas
O G = Kandang Penampungan
H = Penampungan Limbah
C D I
I = Penimbangan & Penampungan
Karkas Sapi
P J = Ruang Jeroan
K = Pemotongan Sapi
E F K
J L = Kandang penimbangan Bobot
Potong
M = Gudang
L N = Kandsang Isolasi
O = Kantin
G
P = Tempat Parkir
H M N
Lampiran 2. Struktur Organisasi RPH Penggaron Kota Semarang
Walikota
Badan Pengawas
DirekturUtama
Direktur
Urusan Pengawasan
Urussan Umun dan
Produksi Keuangan dan Sub. Bagian Pemotongan
Sub. Bagian Budidaya Sapi Personalia
Material Sapi dan Kerbau
Potong
Urusan Keuangan
Urusan Pengawasan Sub. Bagian Pemotongan
Sub. Bagian Kambing dan
Umum, Penelitian dan Babi
Ayam Potong
Pengembangan Usaha
Urusan Pembekalan
Ternak dan Sanitasi
Urusan Keamanan dan Sub. Bagian Pemotongan Sub. Bagian Usaha dan
Ketertiban Kambing dan unggas Pemasaran
Lampiran 3. Alur pemotongan ternak sapi
Karkasing dan
penimbangan karkas
Lampiran 4. Alur pemotongan ternak babi
(LD+ 18 ) 2
Pendugaan Bobot Potong =
100
(188 + 18 )2
=
100
= 424,36 kg
Bobot karkas
Persentase Karkas sapi = x 100%
Bobot Potong
243
= x 100%
424,36
= 57,26%
Bobot Darah
Persentase Bobot Darah = x 100%
Bobot Potong
22,99
= x 100%
424,36
= 5,42%
Bobot Kepala
Persentase Bobot Kepala = x 100%
Bobot Potong
24,75
= x 100%
424,36
= 5,83%
Bobot Kaki
Persentase Bobot Kaki = x 100%
Bobot Potong
11,84
= x 100%
424,36
= 2,79%
Lampiran 5. (lanjutan)
Bobot Kulit
Persentase Bobot Kulit = x 100%
Bobot Potong
36,8
= x 100%
424,36
= 8,67%
Bobot Limfa
Persentase Bobot Limfa = x 100%
Bobot Potong
1,19
= x 100%
424,36
= 0,28%
Lampiran 5. (lanjutan)
Bobot karkas
Persentase Karkas Babi = x 100%
Bobot Potong
104,5
= x 100%
126,55
= 82,58 %
Bobot Darah
Persentase Bobot Darah = x 100%
Bobot Potong
4,3
= x 100%
126,55
= 3,40 %
Lampiran 5. (lanjutan)
Bobot Kepala
Persentase Bobot Kepala = x 100%
Bobot Potong
5,79
= x 100%
126,55
= 4,58 %
Bobot Limfa
Persentase Bobot Limfa = x 100%
Bobot Potong
0,19
= x 100%
126,55
= 0,15 %
Lampiran 5. (lanjutan)
Bobot paru-paru
Persentase Bobot Paru-paru = x 100%
Bobot Potong
1,83
= x 100%
126,55
= 1,44 %
Bobot Ginjal
Persentase Bobot Ginjal = x 100%
Bobot Potong
0,31
= x 100%
126,55
= 0,24 %
Lampiran 6. Dokumentasi