0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
557 tayangan314 halaman

Modul Prevdent

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
557 tayangan314 halaman

Modul Prevdent

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PUSAT PENDIDIKAN SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN

BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN


SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN
EDISI TAHUN 2019

PENCEGAHAN
PENYAKIT GIGI
DAN MULUT
DALAM ASUHAN
KESEHATAN
GIGI DAN
MULUT
MU
Hak Cipta © dan Hak Penerbitan dilindungi Undang-undang

Cetakan pertama, September 2019

Penulis : Yonan Heriyanto, [Link].T., [Link].


Marlindayanti, [Link], [Link].

Pengembang Desain Intruksional :

Desain oleh Tim P2M2 :


Kover & Ilustrasi : Aris Suryana
Tata Letak : Sapriyadi, [Link]

Jumlah Halaman : 311


DAFTAR ISI

Halaman

Daftar Isi iii


Daftar Gambar xii
Daftar Tabel xvi

BAB 1 Konsep Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 1


Sejarah ilmu pencegahan kedokteran gigi 1
Kompetensi 1
Pengertian ilmu pencegahan kedokteran gigi 2
Tujuan ilmu pencegahan kedokteran gigi 3
Dasar-dasar ilmu perlindungan khusus 3
Kunci Konsep 3
Latihan Soal 4
Kunci Jawaban 4
Kunci Jawaban 5

Ruang Lingkup Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 6


Kompetensi 6
Ruang lingkup pencegahan penyakit gigi dan mulut 6
Pencegahan dalam berbagai cabang ilmu 11
Kunci Konsep 12
Latihan Soal 12
Kunci Jawaban 14

Evidence Based 15
Kompetensi 15
Evidence based dentistry (EBD) 15
Mengapa EBD harus berdasarkan bukti empiric 15
Apa yang harus dilakukan jika tidak ada bukti 15
Evidence based medicine (EBM) 18
Evidence based case report (EBCR) 20
Evidence based decision making (EBDM) 22
Prinsip pengambilan keputusan berbasis bukti 22
Sumber bukti dan tingkat bukti 23

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut iii


Kunci Konsep 24
Latihan Soal 24
Kunci Jawaban 26

Level of Prevention 27
Kompetensi 27
Lima tahap pencegahan menurut Leavel dan Clark 27
Hal-hal yang berhubungan dengan pencegahan penyakit 29
Kunci Konsep 31
Latihan Soal 31
Kunci Jawaban 32
Referensi 33

BAB 2 Lapisan-lapisan yang Melekat pada Permukaan Gigi 35


Aquired Pelicle 35
Kompetensi 35
Apa itu aquired pelicle 35
Kapan waktu terbentuknya aquired pelicle 35
Bagaimana cara terbentuknya aquired pelicle 36
Subsurface cuticule (kutikula subpermukaan) 36
Kunci Konsep 37
Latihan Soal 37
Kunci Jawaban 38

Materia Alba 39
Kompetensi 39
Pengertian materia alba 39
Akibat dari materia alba 39
Kunci Konsep 40
Latihan Soal 40
Kunci Jawaban 41

Food Debris 42
Kompetensi 42
Apa itu food debris 42
Bagaimana pembersihan food debris dari rongga mulut 42

iv Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Kunci Konsep 42
Latihan Soal 43
Kunci Jawaban 44

Biofilm 45
Kompetensi 45
Definisi biofilm 46
Struktur dan kompisisi biofilm 46
Siklus kehidupan biofilm 47
Faktor perlekatan mikroba 48
Pengaruh biofilm terhadap kehidupan manusia 49
Strategi mengontrol biofilm untuk kesehatan masyarakat 51
Kunci Konsep 52
Latihan Soal 52
Kunci Jawaban 53

Plak 54
Kompetensi 54
Pengertian plak 54
Mekanisme pembentukan plak 55
Faktor-faktor yang memengaruhi pembentukan plak 56
Struktur dan komposisi plak 57
Penyakit yang ditimbulkan oleh pak 60
Latihan Soal 60
Kunci Jawaban 62

Pemeriksaan Kebersihan Mulut 63


Kompetensi 63
Debris indeks (DI) 63
Oral hygiene index simplified (OHI-S) 64
Menghitung skor Indeks Kalkulus dan Skor OHI-S 66
Patient hygiene performance index (Indeks PHP) 66
P2ersonal hygiene performance modified (PHPM) 67
Kunci Konsep 68
Latihan Soal 69
Kunci Jawaban 70

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut v


Kalkulus 71
Kompetensi 71
Apa itu kalkulus 71
Jenis kalkulus 71
Proses pembentukan kalkulus 73
Cara pencegahan kalkulus 74
Treatment dan prosedur scalling 75
Kunci Konsep 77
Latihan Soal 78
Kunci Jawaban 79
Referensi 80

BAB 3 Jaringan Periodontal 81


Jaringan Peridontal 81
Kompetensi 81
Pengertian dan fungsi jaringan periodontal 81
Bagian-bagian jaringan periodontal 82
Kunci Konsep 91
Latihan Soal 92
Kunci Jawaban 93

Penyakit Jaringan Periodontal 94


Kompetensi 94
Pengertian penyakit jaringan periodontal 94
Macam-macam penyakit periodontal 94
Macam-macam periodontitis 100
Kunci Konsep 101
Latihan Soal 102
Kunci Jawaban 103

Alat Ukur / Indeks Kesehatan Jaringan Periodontal 104


Kompetensi 104
Alat ukur 104
Indeks 104
Kunci Konsep 105
Latihan Soal 105
Kunci Jawaban 106

vi Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


CPITN, GI, dan MGI 107
Kompetensi 107
CPITN (Comunity periodontal index for treatment needs) 107
Penilaian (skor) untuk tingkat kondisi jaringan periodontal 110
Kelemahan CPITN 110
GI (Gingival Index) 112
MGI (Modifikasi Gingival Index) 113
Kunci Konsep 114
Latihan Soal 114
Kunci Jawaban 116
Referensi 117

BAB 4 Pewarnaan Pada Gigi 119


Pembagian Pewarnaan pada Gigi 119
Kompetensi 119
Pengertian pewarnaan pada gigi 119
Klasifikasi stain 121
Klasifikasi berdasarkan lokasi 121
Klasifikasi berdasarkan sumbernya 127
Kunci Konsep 132
Latihan Soal 132
Kunci Jawaban 134

Efek Tembakau 135


Kompetensi 135
Efek Kesehatan Sistemik 135
Efek Sistemik Penggunaan Tembakau 136
Jenis-jenis rokok 138
Efek tembakau yang ada pada rokok 141
Manfaat menghentikan penggunaan tembakau 145
Kunci Konsep 148
Referensi 149

BAB 5 Manajemen Karies 151


Pencegahan Karies Menggunakan Fluor dan Non Fluor 151
Kompetensi 151
Manajemen Karies 152

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut vii


Manajemen Karies (Rekomendasi dari American Dental Association) 153
Terapi Fluor 154
Komunitas air fluoridasi dan antifluoridasi 155

Fluor dalam Makaan dan Minuman 156


Resep suplemen fluor 157
Resiko toksisitas fluor 159
Pertimbangan kebutuhan masukan fluor 161
Topikal fluor 162
Fluor dalam pasta gigi 164
Fluor dan anak-anak 164

Aplikasi Fluor bagi Klien Beresiko Karies (kumur-kumur, gel dan pasta) 165
Aplikasi fluor harian dengan cara berkumur 165
Aplikasi flior mingguan dengan cara berkumur 165
Kumur larutan fluor di sekolah dasar 166
Gel dan pasta fluor harian tanpa resep dan resep 167
Aplikasi fluor oleh professional (gel, foam, kumur dan dioleskan) 169
Aplikasi fluor secara professional professional, produk, evolusi dan Jenis 172
Tehnik menggunakan cetakan secara professional
(penentuan klien dan produk) 175
Aplikasi fluor oleh tenaga kesehatan gigi, Fitur dan Keuntungan 176

Prosedur Aplikasi Fluor oleh Tenaga Kesehatan Gigi 176


Pengolesan fluor 176
Keamanan pengolesan fluor 179
Keracunan fluor 180
Tindakan yang harus dilakukan pada kejadian keracunan fluor 180
Pencegahan terjadinya keracunan fluor (kronis dan akut) 181

Pencegahan Karies Secara Non Fluor-Rekomendasi American


Association (ADA) 182
Klhorheksidin sebagai obat pengontrol karies 183
Xylitol sebagai bahan nonflour untuk mengontrol karies 185
Produk nonflour lainnya 190
Pencegahan karies masa depan 194

viii Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Tips Pendidikan Klien 195
Hukum, Etika dan Keamanan 196
Kunci Konsep 197
Latihan Berpikir Kritis 197
Referensi 199

BAB 6 Kemoterapi Pengendalian Penyakit Periodontal 201


Kompetensi 201
Penyakit Mulut dan Bakteri Plaque Biofilm 201
Pemilihan produk dan evaluasi 202
AS Food and Drug Adminsitration 202
Bidang ilmiah American Dental Assocation 203
Terapi produk direktorat kesehatan Kanada 204

Kontrol Plak Kimiawi 204


Metode Pemberian Secara Lokal 206
Aplikasi fluor oleh diri sendiri 206
Aplikasi fluor oleh tenaga kesehatan gigi 210

Metode Pemberian Secara Sistemik 220


Bahan aktif 221
Tips Pendidikan Klien 226
Hukum, EtiKA dan Isu Keamanan 226
Konsep Kunci 227
Latihan Berpikir Kritis 228
Referensi 230

BAB 7 Kondisi Periodontal Pada Gingivitis, Lesi Asal Endodontik


dan Gigi Avulsi 231
Kompetensi 231
Abses Periodontal 232
Mikrobiologi dari Periodontal Abses 235
Karakterisitik dan pengobatan periodontal Abses 235
Periodontal abses akut 236
Tanda dan gejala periodontal abses akut 237
Pengobatan 237

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ix


Periodontal abses kronis 239
Tanda dan gejala periodontal abses kronis 239
Pengobatan 240

Abses Gingiva 241


Tanda dan gejala gingiva abses 241
Pengobatan 242

Lesi Asal Endodontik 242


Jenis lesi 242

Karakteristik dan Pengobatan Periapikal Abses 244


Tanda dan gejala 245
Pengobatan 245

Abses Kombinasi 246


Tanda dan gejala 246
Pengobatan 247

Infeksi Herpes 247


Primer Herpes Gingivostomatitis 247
Tanda dan Gejala 248
Tanda dan gejala akut herpes gingivostomatistis 249
Pengobatan 250
Infeksi oral herpes simplex berulang 251
Tanda dan gejala 252
Pengobatan 252

Pericoronitis 254
Tand dan gejala 255
Tanda dan gejala akut pericoronitis 255
Pengobatan 256

Penyakit Periodontal Necrotizing 256


Tanda dan gejala necrotizing ulseratif periodontitis 257
Pengobatan 258

x Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Avulsi Gigi 260
Pengobatan 261
Rekomendasi Umum Untuk Dokumentasi Gigi Avulsi Pemeriksaan Klinis 262
Tips Pendidikan Klien 266
Hukum, Etika dan ISu Keamanan 266
Kunci Konsep 267
Latihan Berpikir Kritis 268
Referensi 270

BAB 8 Menyikat Gigi 271


Kompetensi 271
Sikat Gigi Manual 272
Ciri sikat gigi 272
Bagian dari sikat gigi 272
Bulu sikat gigi 273

Sikat Gigi Elektrik 275


Insrruksi Setelah Menyikat Gigi 276
Durasi dan frekwensi menyikat gigi 277
Kekuatan tekanan menyikat gigi pada penggunaan sikat gigi elektrik 278

Metode Menyikat Gigi 278


Lesi pada jaringan lunak 283
Lesi pada jaringan keras 285
Pembersihan Lidah 285
Kontaminasi yang dapat Timbul dari Sikat Gigi 286
Proses Perawatan dan Menyikat Gigi oleh Terapis Gigi dan Mulut 287
Tips Memberikan pemahaman Kepada Klien 288
Hukum, etika dan Isu-isu Penting 289
Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan 290
Latihan Berpikir Kritis 290
Referensi 292

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut xi


DAFTAR GAMBAR

BAB 1 Konsep Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut


Gambar 1-1 Gigi Sehat 2
Gambar 2-1 Fissure Sealant 7
Gambar 3-1 Tambalan Komposit 8
Gambar 4-1 Protesa / Gigi Palsu 9
Gambar 5-1 Evidence Based Dentistry 16
Gambar 6-1 Level of Prevention 28

BAB 2 Lapisan-lapisan yang Melekat pada Permukaan Gigi


Gambar 1-2 Materia Alba 39
Gambar 2-2 Plak Gigi 54
Gambar 3-2 Susunan bakteri di dalam plak dan perlekatannya terhadap
Aquired pelicle 56
Gambar 4-2 Lima Subdivisi Permukaan Gigi dalam PHP 66
Gambar 5-2 Kalkulus Supragingival 72
Gambar 6-2 Kalkulus Subgingival 72
Gambar 7-2 Operator yang sedang melakukan tindakan scalling 75
Gambar 8-2 Ultrasonic Scaller 76
Gambar 9-2 Pemolesan Gigi Menggunakan Bur 77

BAB 3 Jaringan Periodontal


Gambar 1-3 Jaringan Periodontal 82
Gambar 2-3 Bagian-bagian Gingiva 83
Gambar 3-3 Stiplling 84
Gambar 4-3 Tulang Alveolar 85
Gambar 5-3 Ligamen Periodontal 87
Gambar 6-3 Serat-serat Utama Ligamen Periodontal 88
Gambar 7-3 Letak Sementum pada Gigi 90
Gambar 8-3 Penyakit Jaringan Periodontal 95
Gambar 9-3 Gingivitis Ringan 97
Gambar 10-3 Gingivitis Sedang 97
Gambar 11-3 Gingivitis Parah 98
Gambar 12-3 Periodontitis 99
Gambar 13-3 Periodontal Examining Probe 107
Gambar 14-3 Cara Melakukan Probing 108

xii Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


BAB 4 Pewarnaan pada Gigi
Gambar 1-4 Stain 120
Gambar 2-4 Yellow Stain 122
Gambar 3-4 Brown Stain 123
Gambar 4-4 Tobacco Stain 124
Gambar 5-4 Black Stain 125
Gambar 6-4 Green Stain 126
Gambar 7-4 Metalic Stain 130
Gambar 8-4 Gigi dengan Pulpa Non Vital 131
Gambar 9-4 Stain akibat Tetrasiklin 137
Gambar 10-4 Daun Tembakau 138
Gambar 11-4 Tembakau Kering 140
Gambar 12-4 Kandungan Rokok 142
Gambar 13-4 Keratosis 142

BAB 5 Manajemen Karies


Gambar 1-5 Contoh Suplemen Fluor tersedia dengan Resep 157
Gambar 2-5 Moderat Fluorosis Gigi 160
Gambar 3-5 Contoh Obat Kumur Larutan Fluor 166
Gambar 4-5 Contoh 0,4% stabil gel stannous fluor dan pasta, dan 1,1% sodium
fluor resep pasta gigi 168
Gambar 5-5 Gel Fluor Topikal untuk Aplikasi Profesional 169
Gambar 6-5 A dan B, Contoh unit-dosis 5% sodium fluor pengolesan. C, Fluor
pengolesan yang diterapkan untuk gigi 170
Gambar 7-5 Pengolesan Fluor 177
Gambar 8-5 Contoh Chlorhexidine Glukonat Kumur 178
Gambar 9-5 Contoh Permen Mengandung Xylitol dan Gusi 183
Gambar 10-5 Contoh Pasta Gigi Mengandung Xylitol dan Permen 186
Gambar 11-5 Contoh Kasein Produk Kalsium Fosfat Profesional Diberikan
Phosphopeptide-amorf 186
Gambar 12-5 Contoh Probiotik 189
Gambar 13-5 Contoh Produk Biotene untuk Xerostomia Pengobatan 192
Gambar 14-5 Contoh Tablet Palatal untuk Meringankan Gejala Xerostomia 193

BAB 6 Kemoterapi Pengendalian Penyakit Periodontal


Gambar 1-6 A American Dental Association Seal of Acceptance B,
Kanada Dental Association Seal of Recognition 203

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut xiii


Gambar 2-6 Dimensi Kemoterapi Oral 205
Gambar 3-6 Tips Jet Standar untuk Sistem Irigasi Rumah 209
Gambar 4-6 Kanula untuk Irigasi Profesional 210
Gambar 5-6 Mikrosfer Minocycline 214
Gambar 6-6 Chlorhexidine Chip 215
Gambar 7-6 Periowave 219
Gambar 8-6 Nonthermal Sinar Laser Diode 220

BAB 7 Kondisi Periodontal pada Gingivitis, Lesi Asal Endodontik dan Gigi Avulsi
Gambar 1-7 Abses Gingiva antara Gigi Seri Lateral 232
Gambar 2-7 Abses Periodontal yang Berhubungan dengan Rahang
Bawah Kanan Molar Pertama 233
Gambar 3-7 Abses Periodontal Akut antara Gigi 233
Gambar 4-7 Abses Periodontal Kronis 234
Gambar 5-7 Tekanan Digital Lembut 236
Gambar 6-7 Pengobatan Abses Periodontal Akut 238
Gambar 7-7 Abses Periodontal Kronis 239
Gambar 8-7 Bedah Pengobatan Abses Periodontal Kronis 240
Gambar 9-7 Abses Gingiva 242
Gambar 10-7 Lesi Asal Endodontik 244
Gambar 11-7 Dikombinasikan Abses Periapikal dan Abses Periodontal 247
Gambar 12-7 Gingivostomatitis Herpetik Primer 249
Gambar 13-7 Infeksi Herpes Primer 250
Gambar 14-7 Herpes Whittlow 251
Gambar 15-7 Infeksi Herpes Berulang pada Bibir 252
Gambar 16-7 Infeksi Herpes Berulang Kornea 253
Gambar 17-7 Infeksi Herpes Berulang Langit-langit Mulut 254
Gambar 18-7 Pericoronitis 255
Gambar 19-7 Necrotizing Periodontitis Ulseratif 258

BAB 8 Menyikat Gigi


Gambar 1-8 Bagian Sikat Gigi Manual 273
Gambar 2-8 Sikat Gigi yang Tidak Layak Digunakan 274
Gambar 3-8 Metode Menyikat Gigi 281
Gambar 4-8 Trauma dari Menyikat Gigi Kuat dengan Pasta Gigi Abrasif 283

xiv Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Gambar 5-8 Resesi Gingiva, Gingiva Celah dan Gingiva Festooning 284
Gambar 6-8 Oral-B CrossAction Pro-Kesehatan dengan pembersih lidah
pada kepala sikat 286

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut xv


DAFTAR TABEL

BAB 1 Konsep Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut


Tabel 1-1 Pencegahan Primer, Sekunder, dan Tersier yang
Diaplikasikan untuk Intervensi Kesehatan Gigi dan Mulut maupun
Kesehatan Umum 10

BAB 2 Lapisan-lapisan yang Melekat pada Permukaan Gigi


Tabel 1-2 Kriteria Skor Debris 64
Tabel 2-2 Kriteria Skor Kalkulus 65

BAB 3 Jaringan Periodontal


Tabel 1-3 Gambaran Klinis dan Histologis Gingivitis 96
Tabel 2-3 Tabel Induk CPITN 111
Tabel 3-3 Contoh Cara Menghitung Gingival Indeks 113

BAB 4 Pewarnaan pada Gigi


Tabel 1-4 Pendekatan Lima M terhadap Penghentian Tembakau 143
Tabel 2-4 Status Penggunaan Tembakau Klien dan Intervensi yang
Disaranakan terkait Kesiapan untuk Berhenti, Pemeliharaan dan Relaps 146

BAB 5 Manajemen Karies


Tabel 1-5 Fluoridasi Suplemen Dosis Jadwal 158
Tabel 2-5 Klasifikasi Derajat Gigi Fluorosis 159
Tabel 3-5 Topikal Fluorida 163
Tabel 4-5 Rekomendasi Klinis untuk Penggunaan Profesional Terapan
Topikal Fluor 173

BAB 6 Kemoterapi Pengendalian Penyakit Periodontal


Tabel 1-6 Kategorisasi Bahan Aktif pada Proses Kemoterapi Rongga Mulut 206

BAB 7 Kondisi Periodontal pada Gingivitis, Lesi Asal Endodontik


dan Gigi Avulsi
Tabel 1-7 Strategi Pengobatan untuk Aplikasi Abses 246
Tabel 2-7 Pengobatan Necrotizing Ulcerative Periodontitis 259
Tabel 3-7 Penyimpanan Gigi Avulsi 262

xvi Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Tabel 4-7 Ringkasan Perbandingan akut gingiva dan Ketentuan
periodontal, Lesi endodontik Asal, dan Gigi avulse 264

BAB 8 Menyikat Gigi


Tabel 1-8 Kekuatan Sikat Gigi 275
Tabel 2-8 Metode Menyikat Gigi dan Indikasi Penggunaan 279
Tabel 3-8 Model Pengambilan Keputusan Bersama 288

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut xvii


Bab 1
KONSEP PENCEGAHAN PENYAKIT GIGI
DAN MULUT
Yonan Heriyanto, [Link].T., [Link].
Marlindayanti, [Link], [Link].

Pendahuluan

A. SEJARAH ILMU PENCEGAHAN KEDOKTERAN GIGI

Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu menjelaskan pengertian Ilmu pencegahan kedokteran gigi.
2. Mampu menjelaskan pengertian pencegahan penyakit dalam kesehatan gigi dan mulut.
3. Mampu menjelaskan cara untuk mengurangi dan mencegah penyakit gigi dan mulut
dengan berbagai pendekatan.
4. Mampu menjelaskan tujuan ilmu pencegahan kedokteran gigi.
5. Mampu menjelaskan efek adanya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan gigi dan
mulut.

B. PENGERTIAN ILMU PENCEGAHAN KEDOKTERAN GIGI

Houwink, dkk (1993) mengatakan bahwa dengan masuknya pengertian ilmu kesehatan,
aksen lebih kuat lagi ditekankan pada menjaga manusia tetap sehat. Secara singkat orang
mengatakan bahwa tujuannya adalah supaya manusia sampai akhir hayatnya tetap
mempunyai semua elemen gigi yang utuh dan alami. Ilmu kedokteran gigi pencegahan bukan
sesuatu yang baru. Sejak dalam suatu tulisan Cina 2800 tahun sebelum Masehi ditemukan
suatu catatan yang bahkan menggambarkan ilmu kedokteran gigi pencegahan dewasa ini. Ini

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 1


berkaitan dengan suatu tindakan mengenai makanan calon ibu dan membicarakan dengan
makanan apa seseorang dapat menentukan bahwa anak yang akan dilahirkan mempunyai gigi
geligi yang baik.
Ilmu pencegahan kedokteran gigi merupakan terjemahan dari bahasa Inggris
“Preventive Dentistry”, yaitu bagian dari kedokteran gigi yang secara umum bertujuan untuk
mencegah terjadinya penyakit atau mencegah keparahannya dan membatasi akibatnya dalam
rangka melindungi kesehatan mulut, yang dititikberatkan untuk menjaga manusia tetap sehat.

([Link])

Gambar 1.1
Gigi Sehat

Pencegahan dapat didefinisikan sebagai mencegah timbulnya maupun berkembangnya


suatu penyakit atau memulihkan fungsi tubuh yang menjadi hilang atau berkurang akibat
penyakit.
Kesehatan mulut penting bagi kesehatan dan kesejahteraan tubuh secara umum dan
sangat memengaruhi kualitas kehidupan, termasuk fungsi bicara, pengunyahan, dan rasa
percaya diri. Gangguan kesehatan mulut akan berdampak pada kinerja seseorang.
Di Indonesia penyakit gigi dan mulut terutama karies dan penyakit periodontal, masih
banyak diderita baik oleh anak-anak maupun usia dewasa. Sebagian besar masalah kesehatan
gigi dan mulut sebenarnya dapat dicegah. Kesehatan mulut tidak sepenuhnya bergantung
pada perilaku seseorang. Banyak cara untuk dapat mengurangi dan mencegah penyakit gigi
dan mulut dengan berbagai pendekatan yang meliputi pencegahan yang dimulai pada
masyarakat, perawatan oleh diri sendiri dan perawatan oleh tenaga profesional. (Putri, dkk.
2015).

2 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


C. TUJUAN ILMU PENCEGAHAN KEDOKTERAN GIGI

Ilmu pencegahan kedokteran gigi bertujuan dengan mencegah kelainan-kelainan atau


mencegah keparahannya melindungi kesehatan mulut dan dengan demikian kesehatan
manusia dan kalau perlu meningkatkan kesehatannya.
Secara singkat tujuannya adalah supaya manusia sampai akhir hayatnya tetap
mempunyai semua elemen gigi-geligi yang utuh dan alami.

D. DASAR-DASAR ILMU PERLINDUNGAN KHUSUS

Gigi merupakan salah satu organ tubuh manusia yang berfungsi sebagai alat
pencernaan, pembantu dalam pengucapan kata, pembentukan wajah yang salah satu
penunjang dalam kecantikan.
Manusia dapat kehilangan giginya akibat dari kerusakan dari pada gigi itu sendiri atau
kerusakan pada jaringan penyangganya sehingga gigi terlepas dari jaringan yang
menyangganya. Sedangkan kerusakan pada gigi dapat berupa keropos/karies atau (karena
trauma, misalnya benturan keras, jatuh).
Pada zaman dahulu orang beranggapan bahwa keropos itu disebabkan oleh adanya ulat
yang memakan gigi. Dengan perkembangan zaman kita mengetahui penyebab dari kerusakan,
jaringan penyangga sehingga diperlukan usaha-usaha/tindakan khusus untuk mencegahnya.
Untuk menunjang hal ini tentunya kita harus menguasai ilmu-ilmu yang lain seperti
Anatomi dan DHE. Dengan mengetahui macam-macam kerusakan gigi melaksanakan cara-
cara pencegahannya dalam kehidupan sehari-hari.
Secara umum, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan gigi dan mulut
akan menurunkan angka penyakit gigi dan mulut.

E. KUNCI KONSEP

1. Dengan masuknya pengertian ilmu kesehatan, aksen lebih kuat lagi ditekankan pada
menjaga manusia tetap sehat.
2. Ilmu pencegahan kedokteran bertujuan untuk mencegah terjadinya penyakit atau
mencegah keparahannya dan membatasi akibatnya dalam rangka melindungi kesehatan
mulut, yang dititikberatkan untuk menjaga manusia tetap sehat.
3. Mencegah kelainan-kelainan atau mencegah keparahannya melindungi kesehatan
mulut dan dengan demikian kesehatan manusia dan kalau perlu meningkatkan
kesehatannya.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 3


4. Secara singkat tujuannya adalah supaya manusia sampai akhir hayatnya tetap
mempunyai semua elemen gigi-geligi yang utuh dan alami.

Latihan Soal

Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!

Sisa makanan yang berada di dalam mulut dapat menyebabkan berbagai macam
penyakit gigi dan mulut. Oleh sebab itu seseorang dianjurkan menggosok gigi minimal 2 kali
sehari, setelah sarapan dan sebelum tidur. (Untuk soal nomor 1)
1) Pernyataan di atas merupakan salah satu contoh dari pengertian ....
A. Ilmu kesehatan bidang kedokteran gigi
B. ilmu penyakit gigi dan mulut
C. Ilmu pencegahan kedokteran gigi
D. Ilmu kebutuhan dasar manusia
E. ilmu pengawetan gigi

2) Apakah tindakan yang sesuai dengan pernyataan “mencegah kelainan-kelainan” ....


A. Melakukan aplikasi fit dan fissure sealant pada gigi yang memiliki ceruk yang dalam
B. Melakukan aplikasi fit dan fissure sealant pada gigi yang sehat
C. Melakukan tindakan scalling pada penderita gingivitis marginalis
D. Melakukan tindakan scalling pada anak-anak yang menderita rampan karies
E. Memasang protesa gigi pada gigi geligi yang telah dicabut

3) Apakah tindakan yang sesuai dengan pernyataan ”mencegah keparahannya”?


A. Melakukan aplikasi fit dan fissure sealant pada gigi yang memiliki ceruk yang dalam
B. Melakukan aplikasi fit dan fissure sealant pada gigi yang sehat
C. Melakukan tindakan scalling pada penderita gingivitis marginalis
D. Melakukan tindakan scalling pada anak-anak yang menderita rampan karies
E. Memasang protesa gigi pada gigi geligi yang telah dicabut

4) Tujuan Preventif Dentistry pada dasarnya adalah agar ....


A. Manusia terbebas dari penyakit seumur hidupnya
B. Manusia sampai akhir hayatnya tetap mempunyai semua elemen gigi yang utuh
dan alami

4 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


C. Manusia selalu sehat dan bahagia
D. Manusia memiliki gigi geligi yang rapih dan bersih
E. Gigi geligi manusia bebas dari karies dan penyakit periodontal

5) Secara umum, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan gigi dan mulut
akan ....
A. menurunkan angka peduli karies gigi
B. menaikkan angka peduli karies gigi
C. menurunkan angka kunjungan poli umum
D. menaikkan angka kunjungan poli gigi
E. menurunkan angka penyakit gigi dan mulut

Kunci Jawaban Latihan

Untuk mengetahui keberhasilan Saudara dalam mengerjakan latihan, bacalah petunjuk


jawaban berikut!

1) C
2) A
3) C
4) B
5) E

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 5


A. RUANG LINGKUP PENCEHAGAN PENYAKIT GIGI DAN MULUT

Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu menjelaskan pembagian Ilmu pencegahan penyakit gigi dan mulut.
2. Mampu mendefinisikan pencegahan yang dilakukan pada pasien yang sehat.
3. Mampu menyebutkan contoh intervensi yang dilakukan pada pasien yang telah
mengalami suatu penyakit gigi dan mulut.
4. Mampu menyebutkan contoh intervensi yang dilakukan untuk membatasi suatu
kerusakan yang disebabkan oleh penyakit gigi dan mulut adalah.
5. Mampu menyebutkan beberapa hal yang harus dihindari untuk mencegah kelainan
ortodontik yaitu.

B. RUANG LINGKUP PENCEGAHAN PENYAKIT GIGI DAN MULUT

Pencegahan penyakit gigi dan mulut pada tahap awal dapat dilakukan oleh diri sendiri,
tetapi apabila penyakit tersebut terjadi lebih serius maka pertolongan tenaga profesional
dalam hal ini tenaga kesehatan gigi sangat diperlukan untuk mencegah keparahan yang lebih
buruk lagi.
Ilmu pencegahan penyakit gigi dan mulut dibagi atas 3 macam pencegahan, yaitu:
1. Pencegahan Primer
Pencegahan primer adalah mencegah seseorang terkena penyakit, misalnya seperti
imunisasi, dan mencegah timbulnya penyakit misalnya di bidang kedokteran gigi yang dapat
berupa anjuran diet dan kontrol plak. Pencegahan primer bertujuan memelihara kesehatan
individu dan populasi di masyarakat dan meminimalisasi risiko terjadinya suatu penyakit atau
kecelakaan.
Pada tahap ini diimplementasikan program-program, prosedur, maupun pengukuran-
pengukuran untuk mencegah penyakit, sebelum penyakit tersebut belum benar-benar terjadi.
Misalnya program yang didesain untuk mencegah seseorang mulai merokok (pencegahan
primer) atau untuk membantu menghentikan kebiasaan merokok jika mereka sudah
melakukannya (pencegahan sekunder) dapat membantu mencegah kanker rongga mulut dan
penyakit periodontal dan juga dapat merupakan strategi promosi kesehatan umum yang
efektif. Selain hal itu, kontrol plak dan pengaturan diet adalah metode pencegahan primer
yang efektif untuk mencegah karies maupun penyakit periodontal. Metode pencegahan
primer lainnya adalah tindakan penutupan ceruk dan fisura (fissure sealant), fluoridasi air
minum dan pemeriksaan gigi rutin, serta diagnostik radiografi.

6 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


(Sumber: [Link])

Gambar 1.2
Fissure Sealant

Menurut Putri, dkk (2008) pencegahan primer adalah pencegahan penyakit dan dengan
demikian terjadi apabila kliennya sehat. Ini dapat diarahkan pada masyarakat, kelompok dan
individu. Pencegahan primer diarahkan kepada:
a. Pencegahan primer untuk kelompok kecil atau besar kebanyakan merupakan
penyuluhan, meskipun dapat juga diambil pengaturan lain yaitu contohnya flouridasi air
minum dan aplikasi fluoride secara individual.
Penyuluhan ada 2:
1) Penyuluhan umum mempunyai judul-judul umum contohnya: makanan,
kesehatan.
2) Penyuluhan terarah mempunyai judul khusus.
contohnya:
• Perlunya menghilangkan karang gigi.
• Pembatasan makan makanan kecil.

b. Pencegahan primer untuk individu banyak macamnya, contohnya:


1) Pengaturan diet (pola makan).
2) Pemeriksaan periodik.
3) Pemberian instruksi tentang kesehatan mulut.
4) Penghilangan karang gigi dan memoles.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 7


2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder bertujuan untuk membatasi perkembangan dan dampak penyakit
sedini mungkin setelah penyakit tersebut muncul. Hal ini merujuk pada penghentian proses
penyakit dan mencegah progresnya menjadi tahap yang lebih lanjut, seperti halnya mencegah
berulangnya penyakit, dengan selanjutnya melakukan intervensi dan anjuran untuk
pencegahan primer. Dengan demikian, untuk menghentikan perkembangan penyakit dan
frekuensinya, begitu kondisi tersebut telah dideteksi, perlu tindakan untuk mengontrol dan
menghilangkan penyebaran penyakit lebih lanjut.
Menghilangkan jaringan karies dan memperbaiki struktur dan fungsi pada tahap awal
proses karies dapat mencegah kehilangan gigi atau perawatan yang lebih luas. Bentuk
intervensi di sini, meliputi penambalan komposit untuk pencegahan atau melakukan
penambalan yang lebih ekstensif.

(Sumber: [Link]

Gambar 1.3
Tambalan Komposit

Pencegahan sekunder untuk mendiagnosis dan merawat penyakit periodontal meliputi


probing periodontal dan diagnostik radiografi, menghilangkan deposit lunak dan keras oleh
tenaga profesional dan aplikasi lokal bahan-bahan antimikroba. Pemeriksaan jaringan lunak
rongga mulut, sebagai tambahan untuk mendapatkan riwayat sosial yang lebih lengkap untuk
mengetahui kebiasaan merokok dan penggunaan alkohol yang dilakukan pada masa lalu dan
masa sekarang, juga merupakan ukuran-ukuran yang efektif untuk mendeteksi kanker rongga
mulut secara dini yang sebagian besar masih dapat diobati.

8 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


3. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier merupakan upaya membatasi berkembangnya kerusakan jaringan
atau ketidakmampuan setelah suatu penyakit menyebabkan terjadinya keterbatasan fungsi.
Pada tahap ini, proses penyakit telah meluas pada suatu titik ketika status kesehatan pasien
telah berubah dan tidak dapat kembali ke kondisi sebelum terkena penyakit tersebut.
Pencegahan tersier merujuk pada rehabilitasi seseorang dan berkaitan dengan penyakit
rongga mulut, yaitu upaya mencapai kembali dan memelihara integritas rongga mulut.

(Sumber: [Link])

Gambar 1.4
Protesa/Gigi Palsu

Pada proses karies, pencegahan tersier bertujuan bukan hanya untuk merestorasi gigi
yang karies tapi harus juga meliputi pencegahan primer dan sekunder selanjutnya agar dapat
mencegah serangan karies berikutnya. Hal ini berarti bahwa selain menambal gigi, penyebab
karies harus juga digarisbawahi sebagai bagian dari program pengelolaan karies secara klinis
yang efektif. Jika menyangkut penyakit periodontal, periodontitis dapat ditangani dengan
bermacam-macam intervensi dan prosedur bedah atau dengan pemberian bahan
antimikroba, baik secara lokal maupun sistemik, tapi sekali lagi etiologinya harus diidentifikasi.
Kadang-kadang masih dibicarakan tentang pencegahan tersier yang diartikan
pembatasan kerusakan kesehatan dan rehabilitasinya.
a. Contoh pembatasan kerusakan kesehatan adalah:
1) pemakaian semen dasar pada restorasi elemen yang terserang karies;
2) extraksi gigi patah.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 9


b. Contoh rehabilitasi adalah:
1) pembuatan prothesa penuh;
2) pemasangan suatu jembatan.

Dalam kedokteran gigi jelas ada hubungan yang sangat erat antara pencegahan
sekunder terutama tersier dan meliputi dengan kedokteran gigi kuratif atau restorative. Peran
prevensi di dalam kedokteran gigi kuratif dan restorative adalah memasukkan cara berpikir,
perilaku dan filosofi dasar.

Pembagian lain tindakan pencegahan:


a. Pencegahan primer diuraikan sebagai “pengaturan dan cara yang menghapus faktor
penyebab” Contoh pembatasan gula.
b. Pencegahan sekunder sebagai “pengaturan dan cara yang memperbesar ketahanan
jaringan keras” Contoh profiklaksis Fluorida.
c. Pencegahan tersier sebagai “mencegah kelainan menjadi kronis” Contoh : kedokteran
gigi restorative.

Dengan kata lain pencegahan primer sebagai “pengaturan yang dilakukan sendiri oleh
pasien/klien”. Sedangkan pencegahan sekunder “pengaturan yang ditangani oleh pemberi
pertolongan profesional atau pemerintah”

Tabel 1-1
Pencegahan Primer, Sekunder dan Tersier yang Diaplikasikan untuk Intervensi Kesehatan
Gigi dan Mulut Maupun Kesehatan Umum

Pencegahan Primer Pencegahan Sekunder Pencegahan Tersier


Intervensi
oleh Team
Kesehatan
Gigi
Pendekatan • Anjuran diet • Pemeriksaan, misalnya • Penambalan gigi yang
Individual • Konseling kontrol tes vitalitas pulpa lebih kompleks
plak • Restorasi sealant • Protesa lepas atau
• Konseling risiko • Restorasi minimal cekat
merokok • Diagnostik radiografi • Ekstraksi gigi
• Anjuran menghentikan untuk memantau • Pulpotomi gigi
minum alkohol perkembangan sulung
• Pemeriksaan gigi penyakit • Bedah periodontal

10 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Pencegahan Primer Pencegahan Sekunder Pencegahan Tersier
• Skrining kanker mulut • Pulp capping • Pemberian bahan
• Diagnostik radiografi • Mengisi katu probing antimikroba
• Penutupan ceruk dan poket periodontal
fissura • Skaling sub dan supra
• Fluoridasi topikal (swa- gingival
aplikasi dan perawatan • Anjuran enghentikan
di rumah) kebiasaan merokok
• Probing periodontal
• Menghilangkan faktor
sekunder loka, misalnya:
tambalan yang
menggaung (overhang)
• Profilaksis
Pedekatan • Fluoridasi air minum Anjuran berhenti
berbasis • Program menghentikan merokok melalui TV dan
masyarakat merokok radio
• Skrining kesehatan gigi
di sekolah
• Program penutupan
fisura
• Pencegahan kecelakaan
wajah dan mulut
menggunakan
mouthguard
Intervensi Program “menyikat gigi Skrining untuk kanker Penyediaan perawatan
kesehatan dan dukungan yang
untuk kehidupan yang
umum Berkelanjutan untuk
lebih sehat” penyakit terminal
Pendekatan • Imunisai
individual • Pendidikan tentang gizi

Sumber: Putri, dkk (2015)

C. PENCEGAHAN DALAM BERBAGAI CABANG ILMU

1. Pencegahan Kelainan Ortodontik


Sasaran pencegahan ortodontik diarahkan untuk menjamin berfungsinya alat
pengunyahan yang baik dan suatu keadaan estetik yang dapat diterima untuk dipertahankan
atau dicapai oleh pasien. Di samping itu hubungan rahang harus optimal dan selaras, gigi harus
saling berdiri dalam suatu posisi yang baik dan dalam kontak proksimal. Gigi yang berjejal atau

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 11


berantakan akan mudah terserang karies atau penyakit periodontal dari pada gigi yang lain,
karena kekurangan ruang meningkatkan kesempatan retensi plak dan juga lebih susah dicapai
ketika menyikat gigi yang dapat mengakibatkan suatu predisposisi karies dan radang
periodontal yang meningkat.
Untuk mencegah terjadinya kelainan ortodontik maka ada beberapa hal yang harus
dihindari:
a. Kebiasaan menghisap.
b. Bruksisme, gigitan paksa.
c. Susu botol.
d. Bernapas melalui mulut.
e. Kehilangan prematur bagian-bagian gigi.

2. Pencegahan Kelainan Prostetik


Tindakan pencegahan dalam kedokteran gigi sudah sewajarnya pertama-tama
diarahkan untuk mempertahankan gigi-gigi asli. Tindakan ini tujuanlah adalah untuk
menghindari ekstraksi karena karies dan penyakit jaringan periodontal. Sebenarnya hal inilah
penyebab terbesar hilangnya gigi-gigi sebagian atau seluruhnya.

D. KUNCI KONSEP

1. Ruang lingkup ilmu kedokteran gigi pencegahan terdiri dari pencegahan primer yaitu
dilakukan pada pasien yang belum terkena penyakit.
2. Pencegahan sekunder yaitu dilakukan pada saat penyakit sudah terjadi yang bertujuan
untuk mengurangi keparahannya, dan pencegahan tersier yaitu membatasi
berkembangnya penyakit setelah suatu penyakit menyebabkan terjadinya keterbatasan
fungsi.

Latihan Soal

Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!

Pencegahan penyakit gigi dan mulut pada tahap awal dapat dilakukan oleh diri sendiri,
tetapi apabila penyakit tersebut terjadi lebih serius maka pertolongan tenaga profesional
dalam hal ini tenaga kesehatan gigi sangat diperlukan untuk mencegah keparahan yang lebih
buruk lagi. (Untuk soal nomor 1 dan 2)

12 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


1) Apa tindakan yang dapat dilakukan oleh diri sendiri sesuai dengan pernyataan di atas?
A. menyikat gigi sebelum tidur
B. berkumur sebelum makan makanan yang manis
C. menghentikan kebiasaan merokok bagi perokok aktif
D. mengajak masyarakat agar memeriksakan gigi minimal 6 bulan sekali
E. mengunyah daun-daunan, seperti sirih

2) Apa tindakan yang dapat dilakukan tenaga kesehatan gigi sesuai dengan pernyataan di
atas?
A. menyebut gigi susu yang sudah berlubang
B. membiasakan mengunyah menggunakan kedua sisi
C. membersihkan karang gigi setiap 6 bulan sekali
D. melakukan penambalan pada gigi yang terasa ngilu saat minum dan makan yang
dingin
E. memasang protesa pada gigi yang sudah terlanjur dicabut

Seorang ibu berusia 54 tahun bersama anak perempuannya yang berusia 22 tahun
memeriksakan kesehatan giginya di Puskesmas Mawar Indah. Setelah dilakukan
pemeriksaan dokter gigi mengatakan jika ibu tersebut mengalami radang gusi yang
cukup berat yang mengakibatkan gigi depan kanan bawahnya mengalami kegoyangan,
sedangkan untuk gigi anaknya tidak ada masalah serius hanya saja permukaan gigi
dipenuhi oleh plak. (Untuk soal nomor 3 sampai 5)

3) Jika dokter gigi akan melakukan scalling pada ibu tersebut, maka tindakan yang
dilakukan masuk dalam tahap?
A. Pencegahan primer
B. Pencegahan sekunder
C. Pencegahan tersier
D. Pencegahan rehabilitatif
E. Pencegahan promotif

4) Jika pada gigi yang goyang dilakukan pencabutan, maka tindakan yang dapat dilakukan
untuk mengatasi kerusakan yang telah terjadi disebut tahap?
A. Pencegahan primer
B. Pencegahan sekunder
C. Pencegahan tersier

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 13


D. Pencegahan rehabilitatif
E. Pencegahan promotif

5) Tindakan yang paling sesuai untuk anak perempuan tersebut adalah ....
A. Scalling
B. Anjuran diet
C. Sikat gigi masal
D. Skrinning kanker mulut
E. Konseling kontrol plak

Kunci Jawaban Latihan

Untuk mengetahui keberhasilan Saudara dalam mengerjakan latihan, bacalah petunjuk


jawaban berikut!

1) A
2) D
3) B
4) C
5) E

14 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


A. EVIDENCE BASED

Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu menjelaskan cara Evidence based dentistry (EBD) merupakan suatu pendekatan
terhadap pelayanan kesehatan gigi dan mulut.
2. Mampu menjelaskan integrasi evidence based dentistry (EBD).
3. Mampu menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan evidence based dentistry (EBD).
4. Mampu menjelaskan Evidence-based Medicine (EBM).
5. Mampu menjelaskan bentuk aplikasi metode atau desain pelaporan kasus evidence
based case report (EBCR).

B. EVIDENCE BASED DENTISTRY

Samoraj, dkk (2015) dalam jurnalnya mengatakan bahwa evidence based dentistry (EBD)
merupakan suatu pendekatan terhadap pelayanan kesehatan gigi dan mulut dengan cara
melakukan asesmen sistemik terhadap bukti yang berhubungan dengan kondisi oral dan
medik pasien serta riwayat penyakitnya untuk memperbaiki perawatan pasien. Bukti yang
dimaksud di sini adalah bukti empirik, yaitu suatu sumber pengetahuan yang diperoleh dari
observasi atau penelitian.
Mengapa EBD harus berdasarkan bukti empirik?
1. Dentistry butuh hasil penelitian, baik penelitian kuantitatif maupun penelitian kualitatif
untuk menginformasikan hasil tersebut secara praktis.
2. Seorang dentistry lebih baik “memperluas” daripada ”mempersempit” hasil penelitian
untuk berargumen tentang program pencegahannya.

Apa yang harus dilakukan jika tidak ada bukti?


1. Perlu dilakukan need assessment.
2. Pertimbangkan tentang anggaran.
3. Pertimbangkan tentang penggunaan metode lokal (karang taruna, ibu-ibu PKK, dll).
4. Realistik terhadap sumber, baik material maupun nonmaterial.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 15


1. Integrasi Evidence Based Dentistry (EBD)
Bukti penelitian (research evidence)
Keahlian klinik (clinical expertisedence)
Nilai pasien (patient values) Jenis penyakit dan Keluhan

Keterangan: = Evidence Based Dentistry EBD

Sumber: Samoraj, dkk. 2015

Gambar 1.5
Evidence Based Dentistry

a. Bukti penelitian
Bukti penelitian merupakan penelitian klinis yang mempunyai validasi tinggi,
akurat, persisi sempit (tak punya batas bias yang besar/standar deviasi), aman,
baik aspek diagnostik, terapi dan prognosis.
b. Keahlian klinik
Keahlian klinik meliputi kemampuan menggunakan keterampilan dan pengalaman
secara cepat dan tepat untuk mengidentifikasi, mendiagnosis keadaan dan risiko
pasien serta harapan pasien.
c. Nilai pasien
Nilai pasien merupakan kesatuan dari kecenderungan perhatian dan pengharapan
setiap pasien pada suatu keadaan klinik tertentu.

16 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


2. Pentingnya Evidence Based Dentistry (EBD) hal-hal yang menjadikan Evidance based
dentistry penting adalah:
a. Makin berkembangnya penelitian di bidang kesehatan gigi.
b. Tenaga kesehatan gigi kurang memperoleh informasi mutakhir dan sahih tentang
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
c. Adanya tuntutan dari pasien.
d. Memudahkan dalam penatalaksanaan pasien.
e. Dapat memecahkan masalah pasien.

3. Langkah-langkah Penerapan Evidence Based Dentistry (EBD)


a. Identifikasi dan Formulasi Masalah
Identifikasi masalah dapat menggunakan:
• Pertanyaan terarah.
• Pertanyaan sesuai dengan masalah pasien seperti aspek etiologi, diagnosis,
terapi dan prognosis.
• Pertanyaan yang dapat ditelusuri.
b. Mencari atau Menelusuri Bukti
Mencari atau menelusuri bukti dapat dilakukan dengan cara mencari:
• Bibliografi data base/website bidang.
• kesehatan : MEDLINE, Pudmed dan EMBASE.
• EMBASE mencakup literatur bidang kedokteran yang terbit dari 10 negara.
• MEDLINE mencakup lebih dari 3.900 jurnal kedokteran yang terbit di USA
dan 70 negara.
• PUBMED: salah satu website bidang kesehatan yang sebagian besar
artikelnya dapat diakses gratis.
c. Kajian Kritis terhadap Bukti. Dapat dilakukan dengan cara:
• Desain metodologi : cara melakukan randomisasi untuk menentukan tingkat
validasi artikel.
• Menentukan besar sampel.
• Menilai hasil untuk menentukan artikel ini penting atau tidak.
d. Menerapkan Hasil Kajian Kritis kepada Pasien dan Evaluasi
• Membandingkan secara komprehensif keadaan pasien dalam makalah
dengan pasien kita.
• Evaluasi, apakah artikel tersebut dapat diterapkan pada pasien kita.
(Suprianto, 2013).

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 17


C. EVIDENCE BASED MEDICINE (EBM)

Evidence-based Medicine (EBM) adalah pengintegrasian antara:


1. bukti ilmiah berupa hasil penelitian yang terbaik, dengan
2. kemampuan klinis dokter, serta
3. preferensi pasien dalam proses pengambilan keputusan pelayanan kedokteran.
(Tumbeleka, 2002).

Pendapat lain adalah menurut Geddes (2000) yang menyatakan bahwa EBM adalah
strategi yang dibuat berdasarkan pengembangan teknologi informasi dan epidemiologi klinik
dan ditujukan untuk dapat menjaga dan mempertahankan ketrampilan pelayanan medik
dokter dengan basis bukti medis yang terbaik.
Dengan demikian, EBM dapat diartikan sebagai pemanfaatan bukti ilmiah secara
seksama, ekplisit dan bijaksana dalam pengambilan keputusan untuk tatalaksana pasien.
Artinya mengintegrasikan kemampuan klinis individu dengan bukti ilmiah yang terbaik yang
diperoleh dengan penelusuran informasi secara sistematis.
Bukti ilmiah itu tidak dapat menetapkan kesimpulan sendiri, melainkan membantu
menunjang penatalaksanaan pasien. Integrasi penuh dari ketiga komponen ini dalam proses
pengambilan keputusan akan meningkatkan probabilitas untuk mendapatkan hasil pelayanan
yang optimal dan kualitas hidup yang lebih baik.
Praktik EBM itu sendiri banyak juga dicetuskan oleh adanya pertanyaan pasien tentang
efek pengobatan, kegunaan pemeriksaan penunjang, prognosis penyakitnya, atau penyebab
kelainan yang dideritanya.
EBM membutuhkan ketrampilan khusus, termasuk di dalamnya kemampuan untuk
melakukan penelusuran literatur secara efisien dan melakukan telaah kritis terhadap literatur
tersebut menurut aturan-aturan yang telah ditentukan.
Langkah dalam proses EBM adalah sebagai berikut:
1. Diawali dengan identifikasi masalah dari pasien atau yang timbul selama proses
tatalaksana penyakit pasien.
2. Dilanjutkan dengan membuat formulasi pertanyaan dari masalah klinis tersebut.
3. Pilihlah sumber yang tepat untuk mencari jawaban yang benar bagi pertanyaan tersebut
dari literatur ilmiah.
4. Lakukan telaah kritis terhadap literatur yang didapatkan untuk menilai validitas
(mendekati kebenaran), pentingnya hasil penelitian itu serta kemungkinan
penerapannya pada pasien.

18 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


5. Setelah mendapatkan hasil telaah kritis, integrasikan bukti tersebut dengan kemampuan
klinis Anda dan preferensi pasien yang seharusnya mendapatkan probabilitas
pemecahan masalah pelayanan pasien yang lebih baik.
6. Evaluasi proses penatalaksanaan penyakit/masalah pasien Anda. Apakah berhasil atau
masih memerlukan tindakan lain?

Kemampuan menelaah secara kritis terhadap suatu artikel dengan tata cara tertentu
sudah dikenal sejak lama, namun EBM memperkenalkan tata cara telaah kritis menggunakan
lembar kerja yang spesifik untuk tiap jenis penelitian (diagnostik, terapi, prognosis, meta
analisis, pedoman pelayanan medik dll). Tiga hal penting merupakan patokan telaah kritis,
yaitu:
1. Validitas penelitian, yang dapat dinilai dari metodologi/bahan dan cara.
2. Pentingnya hasil penelitian yang dapat dilihat dari bagian hasil penelitian, serta
3. Aplikabilitas hasil penelitian tersebut pada lingkungan kita, yang dapat dinilai dari bagian
diskusi artikel tersebut.

Praktik EBM adalah suatu proses yang panjang dan berkelanjutan, melakukan
pembelajaran/analisis berdasarkan masalah yang timbul dari pasien dan karenanya bisa
menemukan informasi yang penting dalam aspek diagnosis, terapi, prognosis atau aspek
lainnya dari pelayanan kesehatan, antara lain pedoman pengobatan dan sebagainya. Melalui
proses ini diharapkan juga dokter akan memfokuskan topik bacaannya pada masalah yang
terkait dengan masalah pasien. Latihan membuat pertanyaan klinis yang baik, dan membuat
strategi untuk mencari jawabannya dalam arsip data dimanapun didunia ini akan lebih
produktif dan tetap terkait dengan masalah klinis dari pada sekedar membaca artikel2 dalam
suatu jurnal yang dipilih.
Sebagian ahli beranggapan bahwa EBM merubah kebiasaan para dokter untuk menilai
sebuah artikel dari membaca abstraknya saja, menjadi suatu kebiasaan menelaah secara kritis
suatu artikel untuk kepentingan pasien dan dengan sendirinya memperluas basis
pengetahuan dokter tersebut.
Banyak pro dan kontra yang timbul dalam penerapan EBM ini, namun tampaknya
pengenalan dan pendalaman EBM merupakan keharusan bagi dokter-dokter khususnya bagi
mereka yang ingin meningkatkan “probabilitas” keberhasilan pelayanan kedokteran secara
profesional.
Penelitian tentang kebiasaan mencari informasi dari para dokter menunjukkan bahwa
bila diminta dokter akan mengatakan setiap 3 pasien akan menimbulkan 2
pertanyaan/masalah, padahal fakta penelitian menunjukkan setidaknya 5 pertanyaan timbul
dari setiap pasien, 52% dari pertanyaan ini dapat dijawab oleh dokter tersebut dari catatan

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 19


medik atau sistim informasi rumah sakit dan 25% jawaban dapat ditemukan di buku ajar atau
basis data di Internet.
Diharapkan dalam penerbitan selanjutnya, secara berkala dapat dibahas tinjauan khusus
dan telaah kritis untuk topik/desain penelitian tertentu, dengan contoh-contoh yang konkret
dalam penatalaksanaan pasien sehari-hari.

D. EVIDENCE BASED CASE REPORT (EBCR)

Trihono (2010) menyatakan evidence-based case report (EBCR) merupakan suatu


metode penulisan atau pelaporan sebuah kasus atau masalah klinis dengan pendekatan
berbasis bukti. Metode atau desain pelaporan kasus EBCR merupakan bentuk aplikasi
evidence-based medicine (EBM) yang telah banyak dipublikasikan di jurnal internasional,
seperti Journal of Evidence Based Medicine, Evidence-Based Mental Health, British Medical
Journal and British Journal of Psychiatry.
Naskah EBCR umumnya ditulis secara ringkas dengan jumlah kata maksimum 2500,
mengandung 4 ilustrasi (grafik, tabel, foto pasien) dan 24 rujukan atau referensi. Sebagai
layaknya sebuah laporan kasus, maka EBCR terdiri atas beberapa bagian:
1. Pendahuluan.
2. Kasus atau skenario klinis.
3. Rumusan masalah.
4. Metode/strategi penelusuran bukti.
5. Hasil penelusuran bukti.
6. Diskusi.
7. Kesimpulan.
8. Daftar pustaka.

Pada bagian pendahuluan dituliskan permasalahan yang dihadapi beserta besaran


masalahnya, dan knowledge gap bila ada. Bila terdapat hal yang masih kontroversial dalam
praktik sehari hari, baik dalam aspek diagnosis, tata laksana, maupun prognosis, maka
dicantumkan di dalam bagian pendahuluan ini sehingga merupakan dasar untuk mencari bukti
lebih lanjut. Dalam bagian pendahuluan juga dituliskan tujuan atau kepentingan penulisan
laporan kasus ini.
Kasus atau skenario klinis dituliskan dengan detil, terutama data yang relevan dengan
permasalahan klinis yang ingin dicarikan buktinya. Data yang kurang relevan tidak perlu
dicantumkan. Pada akhir bagian skenario klinis disusun sebuah rumusan masalah yang ditulis
dengan format PICO, terdiri atas 4 komponen yaitu:

20 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


P = atau problem/permasalahan pada pasien
I = yang merefleksikan suatu intervensi/indeks/atau indikator
C = merupakan kependekan dari comparison
O = atau outcome.

Berbagai aspek manajemen pasien, seperti diagnosis, tata laksana, dan prognosis dapat
menjadi masalah klinis yang dirumuskan menjadi sebuah pertanyaan (clinical answerable
question) yang akan dicarikan jawabannya dalam bentuk buktibukti.
Pada bagian metodologi dijelaskan dengan detil dan transparan langkah-langkah
pencarian bukti sehingga dapat ditelusuri kembali. Hasil pencarian bukti tersebut
dipresentasikan dalam bentuk tabel atau flowchart yang menunjukkan nama sumber tempat
pencarian (misalnya Pubmed, Cohrane, Embase), strategi pencarian (misalnya kata kunci yang
digunakan), kriteria inklusi dan eksklusi artikel yang dipilih, jumlah artikel yang diperoleh
melalui seleksi judul, dan jumlah naskah lengkap artikel yang diperoleh. Kepada artikel yang
naskah lengkapnya terpilih kemudian dilakukan telaah kritis, yang terdiri atas 3 aspek yaitu
validitas penelitian, kepentingan klinis (importancy) hasil, dan aplikabilitasnya atau
relevansinya terhadap masalah klinis yang ada. Terhadap masing-masing artikel yang terpilih
juga dilakukan penentuan derajat kekuatan bukti atau level of evidence, yang digambarkan
dalam sebuah tabel, sehingga pada tabel tersebut akan tampak presisi, konsistensi,
kesesuaian, dan kontroversi hasil, serta bukti mana yang merupakan the best evidence.
Dalam bagian diskusi dibahas interpretasi dan relevansi bukti yang ada dengan masalah
klinis yang dihadapi. Juga diberikan pembahasan mengenai keterbatasan bukti yang ada atau
yang ditemukan. Bila telah terdapat bukti yang kuat, dalam bagian diskusi juga dapat
dituliskan rekomendasi tata laksana untuk kasus sejenis. Pada akhirnya EBCR ditutup dengan
kesimpulan dan tentu saja seperti layaknya sebuah karya ilmiah dilengkapi dengan daftar
pustaka.
Keuntungan EBCR selain sebagai cara untuk melatih keterampilan praktik EBM, juga
untuk mengisi knowledge gap yang ada, dan untuk menyusun pedoman tata laksana suatu
penyakit atau keadaan tertentu. Agar EBCR ini dapat terlaksana dengan baik tentu saja
diperlukan sarana electronic library yang adekuat.
Laporan kasus dengan metode tradisional umumnya tidak menyebutkan masalah klinis
yang ada pada pasien secara eksplisit. Selain tidak dilakukan telaah kritis pada bukti yang ada,
juga sering kali pembahasan mengenai permasalahan klinis yang terdapat pada pasien tidak
terfokus, dan kesimpulan yang diperoleh menjadi sangat umum sifatnya. Sebaliknya, pada
EBCR masalah klinis pada pasien diformulasikan secara eksplisit (dengan format PICO),
dilakukan telaah kritis pada bukti-bukti yang menyokong, sehingga dapat dipetik suatu

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 21


kesimpulan yang didasarkan atas bukti (evidence-based) yang cukup kuat untuk dapat
diterapkan pada masalah klinis yang sejenis.
Telaah EBCR memiliki beberapa keterbatasan, antara lain kurang atau bahkan tidak
mencantumkan perjalanan penyakit pasien secara detil dan kurang membahas pengetahuan
dasar mengenai patogenesis dan patofisiologi penyakit.

E. EVIDENCE BASED DECISION MAKING (EBDM)

Evidencen Based Decision Making (EBDM) atau pengambilan keputusan berbasis bukti
didefinisikan sebagai "integrasi bukti penelitian terbaik dengan keahlian klinis kami dan nilai-
nilai dan keadaan unik pasien kami."2 Dengan demikian, keputusan optimal dibuat ketika
semua komponen dipertimbangkan. Untuk mempraktikkan EBDM, keterampilan pencarian
dan evaluasi online baru diperlukan bersama dengan pemahaman tentang desain penelitian.
Keterampilan dan pengetahuan ini memungkinkan dokter untuk mengakses secara efisien dan
menilai artikel ilmiah kritis untuk melihat apakah mereka relevan untuk memandu
pengambilan keputusan mereka atau menjawab pertanyaan klien tertentu. EBDM tidak
dikhususkan untuk kedokteran atau disiplin kesehatan tertentu, oleh karena itu EBDM disebut
di sini sebagai EBDM alih- alih kedokteran berbasis bukti atau kebersihan gigi berbasis bukti.

F. PRINSIP PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS BUKTI

EBDM adalah tentang menyelesaikan masalah klinis, apakah masalah perawatan pasien,
kondisi klinis klien, atau pertanyaan berdasarkan minat pribadi. Dalam memecahkan masalah
ini, ada dua prinsip dasar EBDM:
1. Bukti saja tidak pernah cukup untuk membuat keputusan klinis: yaitu, penelitian klinis
hanya satu komponen kunci dari proses pengambilan keputusan dan tidak memberi
tahu praktisi apa yang harus dilakukan.
2. Tingkat bukti ada: hierarki bukti tersedia untuk memandu pengambilan keputusan klinis.
Seperti istilah hierarki menyiratkan, tidak semua bukti sama.
a. Ketika Anda naik hierarki, desain penelitian memungkinkan lebih banyak kontrol
sehingga intervensi atau perbedaan hasil pengobatan bukan karena kebetulan.
b. Saat Anda naik hierarki, jumlah studi yang diterbitkan menurun, namun ini adalah
studi yang lebih relevan secara klinis.

22 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


G. SUMBER BUKTI DAN TINGKAT BUKTI

Ada dua kategori sumber bukti: penelitian primer dan sekunder. Memahami perbedaan
antara kedua hal ini dengan pencarian bukti dan analisis kritisnya.
Penelitian utama meliputi studi penelitian asli. Studi-studi ini dapat dibagi menjadi dua
kategori: studi eksperimental dan studi non-eksperimental, atau observasional.
1. Dalam penelitian erimental, peneliti sedang menguji hipotesis, kemungkinan besar
untuk membangun sebab dan akibat. Untuk mencapai tujuan ini:
a. Peneliti mengendalikan atau memanipulasi variabel yang sedang diselidiki, seperti
dalam menguji efektivitas pengobatan.
b. Peneliti menggunakan desain studi yang kompleks yang mencakup uji coba
terkontrol acak dan uji klinis terkontrol.
Uji coba terkontrol secara acak (RCT) memberikan bukti terkuat untuk menunjukkan
sebab dan akibat: yaitu, pengobatan telah menyebabkan efek, daripada terjadi secara
kebetulan.
2. Penelitian noneksperimental, atau observasional, termasuk penelitian di mana peneliti
tidak memberikan pengobatan, intervensi, atau memberikan paparan; yaitu, data
dikumpulkan tanpa campur tangan untuk mengontrol variabel.
a. Jenis penelitian ini termasuk studi kohort dan studi kasus kontrol.
b. Studi kohort dan studi kasus kontrol digunakan untuk menggambarkan dan
menginterpretasikan kondisi atau hubungan yang sudah ada.
c. Studi-studi ini digunakan ketika ada kemungkinan bahwa pengujian suatu
pengobatan atau intervensi berpotensi menyebabkan kerusakan. Sebagai contoh,
dalam sebuah penelitian kohort, peneliti tidak dapat memberikan tembakau
kepada subyek untuk diuji apakah tembakau menyebabkan kanker tetapi akan
merekrut subyek yang sudah terpapar pada risiko (tembakau) dan kemudian
mengikuti mereka untuk melihat siapa yang mengembangkan kanker.
d. Sumber-sumber penelitian sekunder termasuk penelitian yang dinilai sebelumnya,
atau disaring, yaitu penelitian tentang studi individu yang sudah dilakukan.
Kategori ini termasuk yang berikut:
1) Pedoman praktik klinis berbasis bukti.
2) Meta-analysis (MAs).
3) Ulasan sistematis (SR).
4) Ulasan artikel berbasis bukti.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 23


Sumber dianggap sebagai menyediakan bukti level 1, level bukti tertinggi, berada dalam
kategori penelitian sekunder. Bukti level 1 yang juga dipertimbangkan adalah RCT individual.
Level bukti tertinggi ini diikuti oleh studi kohort (level 2), dan studi kasus kontrol (level 3).
Laporan kasus, ulasan naratif, dan editorial (level 4 dan 5 bukti) tidak melibatkan desain
penelitian. Meskipun studi penelitian hewan dan laboratorium sangat penting, mereka berada
di bawah hierarki karena mereka tidak melibatkan subyek manusia, dan praktik berbasis bukti
adalah semua tentang cara kerjanya pada manusia. Tinjauan singkat dan grafis yang sangat
baik dari masing-masing metode dan desain penelitian ini dapat ditemukan di Pusat Medis
Downstate SUNY, Kursus Kedokteran Berbasis Bukti, “Panduan untuk Metode Penelitian —
Piramida Bukti,”.

H. KUNCI KONSEP

1. Evidence based dentistry (EBD) merupakan suatu pendekatan terhadap pelayanan


kesehatan gigi dan mulut dengan cara melakukan asesmen sistemik terdapat bukti yang
berhubungan dengan kondisi oral dan medik pasien serta riwayat penyakitnya untuk
memperbaiki perawatan pasien.
2. Eviddence based medicine (EBM) dapat diartikan sebagai pemanfaatan bukti ilmiah
secara seksama, ekplisit dan bijaksana dalam pengambilan keputusan untuk tatalaksana
pasien.
3. Sedangkan evidence-based case report (EBCR) merupakan suatu metode penulisan atau
pelaporan sebuah kasus atau masalah klinis dengan pendekatan berbasis bukti.
4. Evidencen Based Decision Making (EBDM) atau pengambilan keputusan berbasis bukti
didefinisikan sebagai "integrasi bukti penelitian terbaik dengan keahlian klinis kami dan
nilai-nilai dan keadaan unik pasien kami”.

Latihan Soal

Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!

Eevidence based dentistry (EBD) merupakan suatu pendekatan terhadap pelayanan


kesehatan gigi dan mulut dengan cara melakukan asesmen sistemik terdapat bukti yang
berhubungan dengan kondisi oral dan medik pasien serta riwayat penyakitnya untuk
memperbaiki perawatan pasien. (Untuk soal nomor 1 sampai 3)

24 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


1) Bukti yang dimaksud adalah yang diperoleh dari ....
A. Observasi
B. Inspeksi
C. Wawancara
D. Jurnal
E. Media

2) Jika tidak tersedia bukti maka hal yang dapat dilakukan tenaga kesehatan gigi kecuali ....
A. Mempertimbangkan budget yang tersedia
B. Mengajak anggota karang taruna untuk membantu pelaksanaan
C. Mengidentifikasi kebutuhan kelompok
D. Mencari bukti jurnal yang tersedia
E. Menyesuaikan dengan sumber yang ada

3) Mengapa Evidence Based Dentistry (EBD) dinilai penting?


A. Makin berkembangnya penyakit di bidang kesehatan gigi
B. Tenaga kesehatan gigi terlalu banyak memperoleh informasi mutakhir tentang
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
C. Adanya tuntutan dari pasien
D. Penatalaksanaan pasien sangat rumit
E. Membantu menyembuhkan pasien dengan cepat

4) Langkah-langkah penerapan EBD salah satunya adalah identifikasi masalah,


dalam identifikasi masalah perlu menyampaikan pertanyaan sesuai dengan masalah
pasien. (Untuk soal nomor 4). Pertanyaan yang dimaksud adalah seperti .…
A. Aspek ekonomi
B. Aspek sosial budaya
C. Diagnosis
D. Obat-obatan yang dikonsumsi
E. Premedikasi

5) Evidence-based case report (EBCR) merupakan suatu metode penulisan atau pelaporan
sebuah kasus atau masalah klinis dengan pendekatan berbasis bukti. Metode atau
desain pelaporan kasus EBCR merupakan bentuk aplikasi?
A. Evidence-based medicine (EBM)
B. Evidence-based mediatory (EBM)
C. Evidence-based medical (EBM)

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 25


D. Evidence-based dentistry (EBD)
E. Evidence-based case (EBC)

Kunci Jawaban Latihan

Untuk mengetahui keberhasilan Saudara dalam mengerjakan latihan, bacalah petunjuk


jawaban berikut!

1) A
2) D
3) C
4) C
5) A

26 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


A. LEVEL OF PREVENTION

Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu menjelaskan langkah-langkah tindakan pencegahan menurut Leavel dan Clark.
2. Mampu menjelaskan Early Diagnosis and Prompt Treatment.
3. Mampu menjelaskan pengaplikasian tahap rehabilitasi dalam kesehatan gigi.
4. Mampu menjelaskan 3 aspek yang telah berusaha dipenuhi oleh pemerintah saat ini
yang sangat terkait dengan upaya pelayanan kesehatan.
5. Mampu menjelaskan upaya kesehatan yang dilaksanakan harus bersifat komperhens.

B. LIMA TAHAP PENCEGAHAN MENURUT LEAVEL DAN CLARK

Menurut Putri, dkk (2015) dalam kenyataannya tidak ada satu orang pun yang selama
hidupnya bebas dari penyakit rongga mulut, baik itu dalam bentuk karies gigi, inflamasi gusi,
penyakit periodontal, kehilangan atau maloklusi gigi, dan lain-lain. Pada umumnya sebagian
besar pengeluaran untuk kesehatan gigi adalah pada tahap pencegahan sekunder daripada
tahap pencegahan primer.
Langkah-langkah tindakan pencegahan dalam bidang kedokteran gigi menurut Leavel
dan Clark terdiri atas lima tingkatan pencegahan (five level of preventive), tahapan
pencegahan melalui periode prepatogenesis penyakit sampai ke periode rehabilitasi yaitu
setelah penyakit menghilang. Dalam melakukan pencegahan primer Leavel dan Clark
menyatakan bahwa di periode prepatogenesis dengan melibatkan promosi kesehatan dan
proteksi spesifiklah tahapan pencegahan sesungguhnya terjadi, sementara pencegahan
sekunder bisa terjadi pada periode awal patogenesis. Periode selanjutnya disebut periode
kontrol penyakit. Pendidikan kesehatan, sebagai berikut:

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 27


Sumber: www..[Link]

Gambar 1.6
Level of Prevention

1. Health Promotion
Beberapa faktor pada tahap ini dapat diterapkan pada pencegahan karies gigi, di
antaranya pendidikan kesehatan tentang perawatan gigi yang baik, pendidikan mengenai gizi,
yaitu tuntunan pemberian kualitas makanan yang baik selama pembentukan dan
perkembangan gigi.
Health Promotion akan memberikan hasil kesehatan gigi yang baik jika ada penerangan
mengenai informasi tentang kebersihan mulut, dan kebiasaan makan yang ditekankan pada
kehidupan sehari-hari.

2. Specific Protection
Langkah-langkah yang dapat diterapkan pada tahap ini adalah aplikasi topikal fluor di
daerah yang tidak terjangkau fluoridasi air minum, penutupan fisura serta kemungkinan
dilakukannya imunisasi aktif.

3. Early Diagnosis and Prompt Treatment


Dilakukan untuk mendeteksi karies gigi dan penyakit mulut lainnya yang bersamaan
dengan program kesehatan gigi. Program ini sebaiknya dilakukan secara berkaa dan
berkesinambungan.

28 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


4. Disability Limitation
Pada tahap ini contoh kasus yang dapat diambil misalnya kegagalan dalam mendeteksi
dini suatu penyakit atau perawatan yang tidak adekuat dapat menyebabkan kehilangan gigi
atau proses karies dalam tahap lanjut yang telah mengenai pulpa sehingga harus dilakukan
perawatan saluran akar atau pencabutan gigi.

5. Rehabilitation
Pada tahap terakhir ini dapat dilakukan penggantian gigi serta penempatan gigi pada
posisi yang tepat, sesuai dengan bentuk dan anatomi gigi yang hilang.

C. HAL-HAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENCEGAHAN PENYAKIT

Setelah mengetahui tentang pencegahan penyakit dan tahapan pencegahan (level of


prevention), kita juga perlu mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan
masyarakat, yaitu: faktor perilaku, lingkungan, keturunan dan pelayanan kesehatan.
Dari ke-4 faktor di atas ternyata pengaruh perilaku cukup besar diikuti oleh pengaruh
faktor lingkungan, pelayanan kesehatan dan keturunan. Ke empat faktor di atas sangat
berkaitan dan saling mempengaruhi.

1. Perilaku
Perilaku yang sehat akan menunjang meningkatnya derajat kesehatan, hal ini dapat
dilihat dari banyaknya penyakit berbasis perilaku dan gaya hidup. Kebiasaan pola makan yang
sehat dapat menghindarkan diri kita dari banyak penyakit, di antaranya penyakit jantung,
darah tinggi, stroke, kegemukan, diabetes mellitus dan lain-lain. Perilaku atau kebiasaan
mencuci tangan sebelum makan juga dapat menghindarkan kita dari penyakit saluran cerna.

2. Lingkungan
Lingkungan yang mendukung gaya hidup bersih juga berperan dalam meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat. Dalam kehidupan di sekitar kita dapat kita rasakan, daerah
yang kumuh dan tidak dirawat biasanya banyak penduduknya yang mengidap penyakit seperti
gatal-gatal, infeksi saluran-saluran pernafasan, dan infeksi saluran pencernaan. Penyakit
Demam Berdarah juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Lingkungan tidak bersih,
banyaknya tempat penampungan air yang tidak pernah dibersihkan menyebabkan
perkembangkan nyamuk aedes aegypti penyebab demam berdarah meningkat. Hal ini
menyebabkan penduduk di sekitar memiliki risiko tergigit nyamuk dan tertular demam
berdarah.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 29


3. Keturunan
Banyak penyakit-penyakit yang dapat dicegah, namun sebagian penyakit tidak dapat
dihindari, seperti penyakit akibat dari bawaan atau keturunan. Semakin besar penduduk yang
memiliki risiko penyakit bawaan akan semakin sulit upaya meningkatkan derajat kesehatan.
Oleh karena itu perlu adanya konseling perkawinan yang baik untuk menghindari penyakit
bawaan yang sebenarnya dapat dicegah munculnya.

4. Fasilitas Kesehatan
Akhir-akhir ini teknologi kesehatan dan kedokteran semakin maju. Teknologi dan
kemampuan tenaga ahli harus diarahkan untuk meningkatkan upaya mewujudkan derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya. Ketersediaan fasilitas dengan mutu pelayanan yang baik
akan mempercepat perwujudan derajat kesehatan masyarakat. Dengan menyediakan fasilitas
pelayanan kesehatan yang bermutu secara merata dan terjangkau akan meningkatkan akses
masyarakat ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Ketersediaan fasilitas tentunya harus ditopang dengan tersedianya tenaga kesehatan


yang merata dan cukup jumlahnya serta memiliki kompetensi di bidangnya. Saat ini
pemerintah telah berusaha memenuhi 3 aspek yang sangat terkait dengan upaya pelayanan
kesehatan, yaitu upaya memenuhi ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan dengan
membangun Puskesmas, Polindes, Pustu dan jejaring lainnya. Pelayanan rujukan juga
ditingkatkan dengan munculnya rumah sakit- rumah sakit baru di setiap kabupaten/kota.
Upaya meningkatkan akses masyarakat ke fasilitas pelayanan kesehatan secara langsung juga
dipermudah dengan adanya program jaminan kesehatan (Jamkesmas) bagi masyarakat
kurang mampu.
Program ini berjalan secara sinergi dengan program pemerintah lainya seperti Program
bantuan langsung tunai (BLT), Wajib belajar dan lain-lain. Untuk menjamin agar fasilitas
pelayanan kesehatan dapat memberi pelayanan yang efektif bagi masyarakat, maka
pemerintah melaksanakan program jaga mutu. Untuk pelayanan di rumah sakit program jaga
mutu dilakukan dengan melaksanakan akreditasi rumah sakit.
Ke empat faktor yang mempengaruhi kesehatan di atas tidak dapat berdiri sendiri,
namun saling berpengaruh. Oleh karena itu upaya pembangunan harus dilaksanakan secara
simultan dan saling mendukung. Upaya kesehatan yang dilaksanakan harus bersifat
komprehensif, hal ini berarti bahwa upaya kesehatan harus mencakup upaya
preventif/promotif, kuratif dan rehabilitatif. Dengan berbagi upaya di atas, diharapkan peran
pemerintah sebagai pembuat regulasi, dan pelaksana pembangunan dapat dilaksanakan.
Dengan menerapkan pelayanan kesehatan 24 Jam untuk masyarakat dengan penuh ikhlas dan

30 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


tanggung jawab, diusahakan jangan sampai menghilangkan kultur atau budaya bangsa
Indonesia dimana makhluk hidup saling membutuhkan satu sama lain.

D. KUNCI KONSEP

1. Lima tahap pencegahan menurut Leavel dan Clark adalah Health Promotion, Specific
Protection, Early Diagnosis and Prompt Treatment, Disability Limitation dan
Rehabilitation.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat, yaitu: faktor perilaku,
lingkungan, keturunan dan pelayanan kesehatan.

Latihan Soal

Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!

Di desa X diketahui anak-anak maupun orang dewasa hampir semuanya mengalami


karies gigi. Diketahui kandungan fluor pada air minum warga setempat sedikit sekali bahkan
hampir tidak ada. Puskesmas atau fasilitas kesehatan juga cukup jauh untuk didatangi,
sedangkan petugas kesehatan hanya berkunjung setahun sekali sehingga pengetahuan warga
tentang kesehatan sangat sedikit terutama tentang kesehatan gigi dan mulut. (Untuk soal
nomor 1 sampai 5)

1) Jika dilakukan penyuluhan pada warga di desa X, maka dapat disebut sebagai ....
A. Health Promotion
B. Specific Protection
C. Early Diagnosis and Prompt Treatment
D. Disability Limitation
E. Rehabilitation

2) Jika pada anak-anak di desa X dilakukan kumur-kumur larutan fluor maka dapat disebut
sebagai .…
A. Health Promotion
B. Specific Protection
C. Early Diagnosis and Prompt Treatment
D. Disability Limitation
E. Rehabilitation

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 31


3) Jika pada anak-anak maupun orang dewasa di desa X dilakukan penambalan pada gigi
yang berlubang maka dapat disebut sebagai .…
A. Health Promotion
B. Specific Protection
C. Early Diagnosis and Prompt Treatment
D. Disability Limitation
E. Rehabilitation

4) Jika pada anak-anak maupun orang dewasa di desa X dilakukan pencabutan pada gigi
yang sudah tidak bisa ditambal maka disebut sebagai .…
A. Health Promotion
B. Specific Protection
C. Early Diagnosis and Prompt Treatment
D. Disability Limitation
E. Rehabilitation

5) Jika pada orang dewasa di desa X yang telah dilakukan pencabutan gigi disarankan untuk
memakai protesa maka dapat disebut sebagai .…
A. Health Promotion
B. Specific Protection
C. Early Diagnosis and Prompt Treatment
D. Disability Limitation
E. Rehabilitation

Kunci Jawaban Latihan

Untuk mengetahui keberhasilan Saudara dalam mengerjakan latihan, bacalah petunjuk


jawaban berikut!

1) A
2) B
3) D
4) D
5) E

32 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Daftar Pustaka
Houwink, dkk. (1993). Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.

Putri, Megananda Hiranya, dkk. (2008). Buku Ajar Preventive Dentistry. Forum Komunikasi
Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan: Depkes Ri.

Putri, Megananda Hiranya, dkk. (2015). Ilmu Pencegahan Penyakit Jaringan Keras dan
Jaringan Pendukung Gigi. Jakarta: EGC.

Samoraj, Vinej, dkk. (2015). Evidence Based Dental Practice. Review. Vol 1

Suprianto. (2013). Kedokteran Gigi Berbasis Bukti. (Diakses pada 28 Maret 2019).
[Link] [Link]

Trihono, Partini Pudjiastuti. (2010). Pengantar Evidence based Case Report. Vol 11.

Tumbeleka, Alan R. (2002). Evidence Based Medicine. Vol 3.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 33


34 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼
Bab 2
LAPISAN-LAPISAN YANG MELEKAT
PADA PERMUKAAN GIGI
Yonan Heriyanto, [Link].T., [Link].
Marlindayanti, [Link], [Link].

Pendahuluan

A. AQUIRED PELICLE

Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu mendefinisikan pengertian Aquired pelicle.
2. Mampu menjelaskan terbentuknya Aquired pelicle.
3. Mampu menyebutkan lapisan-lapisan dari Aquired pelicle.

B. APA ITU AQUIRED PELICLE?

Menurut Putri, dkk (2015) aquired pelicle merupakan lapisan tipis, licin, tidak berwarna,
translusen, aseluler dan bebas bakteri. Lokasinya tersebar merata pada permukaan gigi dan
lebih banyak terdapat pada daerah yang berdekatan dengan gingiva. Jika diwarnai dengan
larutan pewarna (disclosing solution) akan terlihat sebagai suatu permukaan yang tipis dan
pucat dibandingkan dengan plak yang lebih kontras warnanya.

C. KAPAN WAKTU TERBENTUKNYA AQUIRED PELICLE?

Aquired pelicle ini dapat terbentuk setelah gigi erupsi dan setelah kutikula email primer
dan reduced email epithelium (membran Nasmyth) hilang karena abrasi atau pada permukaan

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 35


gigi yang baru saja selesai disikat atau dibersihkan sehingga gigi langsung berkontak dengan
saliva dan flora mikroorganisme.

D. BAGAIMANA CARA TERBENTUKNYA AQUIRED PELICLE?

Ada beberapa pendapat tentang cara pengendapan glikoprotein saliva pada permukaan
gigi antara lain absorbsi protein saliva di permukaan email terjadi karena adanya daya tarik-
menarik antara kalsium hidroksiapatit pada permukaan gigi dengan glikoprotein saliva.
Menurut pendapat ini, bakteri tidak ikut berperan dalam pembentukan aquired pelicle.
Pendapat yang kedua mengatakan bahwa pengendapan protein saliva karena adanya bakteri
yang menghasilkan enzim. Pendapat yang ketiga mengatakan bahwa pengendapan protein
saliva terjadi karena adanya daya-tarik menarik antara email dan protein dan karena adanya
bakteri yang menghasilkan produk metabolismenya, jadi merupakan gabungan dari pendapat
satu dan dua. Dengan adanya pengendapan protein saliva pada permukaan email maka
terbentuklah lapisan dengan ketebalan 0,05 – 0,8 mikron, meski ada pula yang mengatakan
bahwa ketebalan aquired pelicle ini sekitar 1 – 10 mikron, yang melekat erat pada permukaan
gigi dan berhubungan dengan enamel rod di bawahnya.
Aquired pelicle ini terjadi atas mukoprotein dan glikoprotein saliva dengan sedikit lipid.
Aquired pelicle dapat dihilangkan sementara dengan cara menyikat gigi, tetapi tidak lama
kemudian akan terbentuk kembali.
Penelitian yang pernah dilakukan terhadap lapisan yang melekat pada permukaan gigi
dengan menggunakan mikroskop elektron, membagi lapisan ini dalam tiga bagian yaitu :
subsurface cuticule, surface cuticule dan stained pellicle.

E. SUBSURFACE CUTICULE

Subsurface cuticule terbentuk setelah gigi erupsi dan membran Nasmyth yang
melindungi gigi menghilang karena abrasi sehingga pada permukaan gigi terbentuk suatu
struktur dendritik yang terdiri atas saluran-saluran ultramikroskopik yang menembus
permukaan gigi sedalam 1 – 3 mikron yang terbentuk karena demineralisasi erosif pada
permukaan gigi. Saluran-saluran ini kemudian akan diisi oleh bahan protein yang berasal dari
saliva. Di atas subsurface cuticule terdapat lapisan lain yang dinamakan surface cuticule
(kutikula permukaan) dengan ketebalan 0,2 mikron yang juga berasal dari protein saliva dan
yang paling luar adalah stain pellicle dengan ketebalan 1 – 10 mikron, berasal dari protein
saliva yang mengendap karena adanya enzim ekstraseluler yang dihasilkan bakteri pada
permukaan gigi. Selain itu, lapisan ini mengandung bakteri yang sudah mati dan mengalami
lisis.

36 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Peranan aquired pelicle ini belum diketahui dengan pasti, tetapi disepakati bahwa
lapisan ini merupakan tahap permulaan dari pembentukan plak gigi.

F. KUNCI KONSEP

1. Aquired pelicle adalah lapisan yang tipi, licin tidak berwarna dan bebas bakteri yang
terletak pada seluruh permukaan gigi.
2. Lapisan ini akan mudah dilihat menggunakan pewarna (disklosing).
3. Lapisan ini terbentuk pada gigi yang baru erupsi dan pada gigi yang baru selesai
dibersihkan.
4. Lapisan ini terdiri dalam tiga bagian yaitu: subsurface cuticule, surface cuticule dan
stained pellicle.
5. Peranan aquired pelicle ini belum diketahui dengan pasti, tetapi disepakati bahwa
lapisan ini merupakan tahap permulaan dari pembentukan plak gigi.

Latihan Soal

Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!

Setelah gigi erupsi atau bahkan setelah menyikat gigi akan muncul suatu lapisan yang
bebas bakteri dan tersebar di seluruh permukaan gigi. Biasa digunakan disclosing solution
untuk melihat ada tidaknya lapisan ini pada permukaan gigi. (Untuk soal nomor 1 sampai 5)

1) Apa nama lapisan yang dimaksud?


A. Dental pelicle
B. Aquired pelicle
C. Materia alba
D. Aquired alba
E. Materia pelicle

2) Bagaimana ciri-ciri dari lapisan tersebut?


A. translusen, aseluler, dan bebas bakteri
B. transparan, tipis dan bebas bakteri
C. tipis, licin, dan berwarna
D. aseluler, bebas bakteri dan tebal
E. tipis, kasar dan tidak berwarna

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 37


3) Mengapa diperlukan disclosing solution untuk melihat ada tidaknya lapisan tersebut?
A. karena penyebaran aquired pelicle tidak merata pada seluruh permukaan gigi
B. karena tidak diketahui dengan pasti ketebalan aquired pelicle
C. karena diperlukan untuk mengetahui jenis bakteri yang ada pada aquired pelicle
D. karena aquired pelicle tidak berwarna sehingga perlu alat bantu untuk melihatnya
E. karena disclosing solution dapat berikatan baik dengan aquired pelicle

4) Berapa ketebalan dari lapisan tersebut?


A. 0,05 – 0,08 mikron
B. 0,5 – 0,8 mikron
C. 0,05 – 3 mikron
D. 3 mikron
E. 10 mikron

5) Apa sebenarnya kegunaan dari lapisan ini?


A. belum diketahui dengan pasti
B. tempat tumbuhnya bakteri
C. untuk pewarnaan disclosing solution
D. tempat melekatnya plak gigi
E. sebagai media berkembang biak bakteri

Kunci Jawaban Latihan

Untuk mengetahui keberhasilan Saudara dalam mengerjakan latihan, bacalah petunjuk


jawaban berikut!

1) B
2) A
3) D
4) E
5) A

38 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


A. MATERIA ALBA

Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu mendefinisikan pengertian Materia alba.
2. Mampu menjelaskan akibat yang ditimbulkan oleh materia alba.
3. Mampu menyebutkan komposisi materia alba.

B. PENGERTIAN MATERIA ALBA

Materia Alba adalah suatu deposit lunak, berwarna kuning atau putih keabu-abuan yang
melekat pada permukaan gigi, restorasi, kalkulus dan gingiva. Tidak mempunyai struktur yang
spesifik serta mudah disingkirkan dengan semprotan air, akan tetapi untuk penyingkiran yang
sempurna diperlukan pembersihan secara mekanis.

Sumber: [Link]

Gambar 2.1
Gambar Materia Alba

C. AKIBAT DARI MATERIA ALBA

Materia alba dapat menyebabkan iritasi lokal pada gingiva sehingga dapat merupakan
penyebab umum terjadinya gingivitis, efek iritasi oleh materia alba ini kemungkinan
disebabkan oleh bakteri serta produk-produknya.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 39


D. LETAK, CARA TERBENTUK DAN KOMPOSISI MATERIA ALBA

Deposit ini pelekatannya kurang erat jika dibandingkan dengan plak gigi. Deposit dapat
terlihat jelas tanpa menggunakan larutan disklosing dan sering kali cenderung menumpuk
pada sepertiga gingival mahkota gigi dan pada gigi yang malposisi. Deposit ini dapat terbentuk
pada permukaan gigi yang baru dibersihkan dalam beberapa jam dan pada waktu tidak
digunakan untuk pengunyahan. Dahulu materia alba ini diduga terdiri atas debris makanan,
akan tetapi sekarang diketahui kalau materia alba ini terdiri atas massa organisme, sel-sel
epitel yang mengalami degenerasi, leukosit, gabungan dari protein saliva dan sisa makanan.

E. KUNCI KONSEP

1. Materia alba merupakan endapan berwarna kuning atau putih keabu-abuan yang
melekat pada permukaan gigi dan restorasi.
2. Endapan ini mudah dibersihkan dengan semprotan air, namun untuk membersihkannya
secara sempurna maka diperlukan pembersihan secara mekanis.
3. Endapan dapat mengakibatkan iritasi lokal sehingga dapat menjadi penyebab gingivitis.

Latihan Soal

Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!

Deposit ini melekat pada permukaan gigi dan tempat lainnya, berwarna kuning atau
putih keabu-abuan dan tidak keras, strukturnya tidak spesifik dan mudah disingkirkan. (Untuk
soal nomor 1 sampai 5)

1) Dari pernyataan di atas, deposit yang dimaksud adalah?


A. Dental pelicle
B. Aquired pelicle
C. Materia alba
D. Aquired alba
E. Materia pelicle

2) Selain pada permukaan gigi, dimana deposit ini dapat melekat?


A. Tambalan gigi, kalkulus dan gingiva
B. Restorasi, plak dan gingiva

40 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


C. Tambalan gigi, plak dan gingiva
D. Restorasi, kalkukus dan ruang interdental
E. Tambalan gigi, kalkulus dan aquired pelicle

3) Bagaimana cara menyingkirkan deposit ini secara sempurna?


A. menggunakan semprotan air
B. menggunakan semprotan udara
C. berkumur dengan larutan antiseptik
D. menyikat gigi
E. menggunakan semprotan air dan udara

4) Apa yang dapat disebabkan oleh deposit ini bila terdapat pada permukaan gigi?
A. karies gigi
B. halitosis
C. iritasi gingiva
D. periodontitia
E. odontolus

5) Apa saja komposisi dari deposit ini?


A. debris makanan, leukosit, dan protein saliva
B. massa organisme, leukosit dan debris makanan
C. massa organisme, gabungan protein saliva dan sisa makanan
D. leukosit, massa bakteri dan protein saliva
E. leukosit, sel epitel yang mengalami regenerasi, dan massa organisme

Kunci Jawaban Latihan

Untuk mengetahui keberhasilan Saudara dalam mengerjakan latihan, bacalah petunjuk


jawaban berikut!

1) C
2) A
3) D
4) C
5) C

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 41


A. FOOD DEBRIS
Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu mendefinisikan pengertian food debris.
2. Mampu menjelaskan cara membersihkan food debris.
3. Mampu menjelaskan kecepatan pembersihan food debris.

B. APA ITU FOOD DEBRIS?

Food debris adalah sisa makanan yang tertinggal di dalam rongga mulut dan biasanya
terletak di antara gigi atau bahkan menempel pada permukaan gigi. Kebanyakan debris
makanan akan segera mengalami liquifikasi oleh enzim bakteri dan bersih 5–30 menit setelah
makan, tetapi ada kemungkinan sebagian masih tertinggal pada permukaan gigi dan membran
mukosa.

C. PEMBERSIHAN FOOD DEBRIS DARI RONGGA MULUT?

Aliran saliva, aksi mekanis dari lidah, pipi dan bibir serta bentuk dan susunan gigi dan
rahang akan memengaruhi kecepatan pembersih sisa makanan. Pembersihan ini dipercepat
oleh proses pengunyahan dan viskositas ludah yang rendah. Walaupun debris makanan
mengandung bakteri, tetapi berbeda dari plak dan materia alba, debris ini lebih mudah
dibersihkan. Debris harus dibedakan dengan makanan yang tertekan ke ruang interproksimal
(food impaction).
Kecepatan pembersihan debris makanan dari rongga mulut bervariasi menurut jenis
makanan dan individunya. Bahan makanan yang cair lebih mudah dibersihkan dibanding
bahan makanan yang padat. Gula yang dimakan dalam keadaan cair tertinggal dalam saliva
selama 15 menit, sedangkan gula yang dimakan dalam keadaan padat tertinggal dalam saliva
sampai 30 menit setelah pengunyahan. Makanan-makanan yang lengket seperti roti, bonbon,
dan karame dapat melekat pada permukaan gigi sampai lebih dari 1 jam, sedangkan makanan
yang kasar seperti wortel mentah, apel akan dibersihkan dengan segera. Makanan yang dingin
akan lebih cepat dibersihkan dengan makanan yang panas.

D. KUNCI KONSEP

1. Food debris adalah sisa makanan yang tertinggal dalam rongga mulut.
2. Gerakan pipi, lidah dan ludah pada saat mengunyah dapat mempengaruhi pembersihan
food debris.

42 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


3. Kecepatan pembersihan food debris juga bervariasi tergantung dari jenis makanan yang
kita konsumsi.

Latihan Soal

Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!

1) Apa saja faktor internal yang tidak mempengaruhi kecepatan membersihkan debris
makanan pada rongga mulut?
A. aliran saliva
B. aksi mekanis dari lidah, pipi dan bibir
C. bentuk gigi dan rahang
D. susunan gigi dan rahang
E. umur erupsi gigi

2) Apa faktor eksternal yang mempengaruhi kecepatan membersihkan debris makanan


pada rongga mulut?
A. kandungan karbohidrat
B. jenis makanan
C. jenis glukosa
D. frekuensi menyikat gigi
E. frekuensi ngemil di antara waktu makan

3) Berapa lama waktu yang diperlukan debris makanan untuk mengalami liquifiasi dan
menjadi bersih?
A. 5-30 menit
B. 5-25 menit
C. 5-20 menit
D. 5-15 menit
E. 5-10 menit

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 43


Kunci Jawaban Latihan

Untuk mengetahui keberhasilan Saudara dalam mengerjakan latihan, bacalah petunjuk


jawaban berikut!

1) E
2) B
3) A

44 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


A. BIOFILM

Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu mendefinisikan biofilm.
2. Mampu menyebutkan struktur dan komposisi biofilm.
3. Mampu menjelaskan siklus kehidupan biofilm.
4. Mampu menjelaskan pengaruh kehidupan biofilm terhadap kehidupan manusia.
5. Mampu menjelaskan strategi untuk mengontrol biofilm.

Menurut Purbowati (2016) pada kebanyakan habitat alami, mikroorganisme tidak


berada dalam bentuk individu, atau sel yang hidup bebas tetapi mereka berasosiasi dengan
mikroorganisme lain atau melekat di permukaan yang sering disebut sebagai biofilm. Bukti
menunjukkan bahwa dalam lingkungan alaminya, lebih dari 99% mikroba hidup pada
mikroekosistem sebagai biofilm.
Riemann and Cliver (2006), biofilm didefinisikan sebagai sekumpulan dari
mikroorganisme dan produk ekstraselular yang berasosiasi pada permukaannya dan
umumnya menempel pada substrat biologi dan non biologi. Dalam beberapa kasus, biofilm
tersebut dihuni oleh spesies tunggal sedangkan kasus lainnya, di diami oleh mikroba yang
beragam. Banyak permukaan yang jika dilihat dari gabungan antara kelembaban dan nutrisi
yang ada di dalamnya rentan terhadap pembentukan biofilm jika ada mikroorganisme yang
hadir. Beberapa permukaan tersebut meliputi jaringan hidup, perangkat medis, perpipaan
sistem pengolahan air minum dan industri dan sistem akuatik alami yang mendukung
pembentukan biofilm.
Biofilm tersusun atas eksopolisakarida bakteri dan material capsular yeast dan
menyediakan lapisan pelindung bagi mikroba sehingga terlindung terhadap proses desikasi,
paparan antimikroba dan agen pembersih. Bila biofilm terbentuk di permukaan mukosa yang
melindungi rongga tubuh maka dapat menjadi sumber utama infeksi. Mikroba pembentuk
biofilm terlibat dalam sejumlah infeksi manusia yang sulit untuk diobati yang memiliki
konsekuensi terhadap kesehatan masyarakat meskipun ada beberapa aplikasi biofilm yang
bermanfaat. Mikroba pembentuk biofilm memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap agen
antimikroba dibandingkan sel-sel individunya. Agen antimikroba umumnya jauh lebih efektif
melawan sel yang aktif, hal ini berarti bahwa disinfektan yang efektif untuk sel planktonik
belum tentu efektif untuk sel biofilm.
Dilihat dari resistensinya terhadap metode kontrol mikroba secara tradisional, mikroba
pembentuk biofilm menyebabkan manusia menjadi lebih virulen terhadap penyakit dalam

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 45


jangka waktu yang lama dengan pilihan pengobatan yang terbatas sehingga menyebabkan
peningkatan angka kematian dan peningkatan biaya pengobatan.

B. DEFINISI BIOFILM

Beberapa peneliti telah memberikan definisi mengenai biofilm di antaranya adalah


menurut Maghfirah, dkk (2017) menyebutkan bahwa biofilm suatu komunitas sel bakteri yang
terstruktur dan saling menempel, bakteri-bakteri tersebut mampu memproduksi matriks
polimer dan mampu melekat pada permukaan biologis maupun benda mati. Biofilm
merupakan kelompok kompleks dari sel mikroba yang menempel dalam matriks
eksopolisakarida pada permukaan perangkat medis dimana infeksi yang terkait biofilm dalam
peralatan medis menimbulkan masalah serius bagi kesehatan masyarakat dan mempengaruhi
fungsi perangkat medis tersebut.
Sedangkan menurut Bogino, biofilm merupakan komunitas bakteri di mana sel-sel yang
tertanam dalam matriks senyawa polimer ekstraselular yang melekat di permukaan. Hidup
dalam biofilm membantu melindungi bakteri dari kondisi yang tidak menguntungkan dan
pembentukan biofilm tampaknya menjadi faktor penting dalam siklus penyakit dari patogen
bakteri baik pada manusia dan hewan. Biofilm biasanya terdiri dari beragam mikroorganisme,
yang melekat pada permukaan.
Mikroorganisme ini biasanya tertanam dalam matriks polimer. Biofilm digambarkan
sebagai koloni mikroorganisme yang melekat satu sama lain pada permukaan, dalam bentuk
yang irreversibel.
Sebuah biofilm didefinisikan sebagai ekosistem mikrobiologi kompleks yang terbentuk
oleh spesies tunggal atau banyak spesies (multispesies) terkait dengan matriks polimer
organik. Mayoritas bakteri hidup tidak berada dalam bentuk planktonik, tetapi sebagai
anggota dari komunitas biofilm yang melekat. Bentuk populasi tersebut didefinisikan sebagai
'mikroba tertutup matriks, yang melekat baik pada permukaan biologis maupun non-biologis'.
Secara alami mikroorganisme melekat pada permukaan yang lembab, berkembang biak
dan membenamkan selnya dalam matriks berlendir yang terdiri dari zat polimer ekstraseluler
(EPS) yang mereka hasilkan dan membentuk biofilm. Biofilm dapat menjadi bermasalah pada
sektor industri makanan tertentu seperti pembuatan bir, pengolahan susu, pengolahan
produk segar, pengolahan unggas dan pengolahan daging merah.

C. STRUKTUR DAN KOMPOSISI BIOFILM

Biofilm terdiri dari mikroorganisme dan zat polimer ekstraseluler yang diproduksi oleh
mereka sendiri yang disebut sebagai eksopolisakarida (EPS). Perkembangan biofilm yang utuh

46 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


mengandung banyak lapisan termasuk matriks EPS dengan struktur vertikal, dan
pembentukan film. Struktur vertikal mikroorganisme kadang-kadang berbentuk seperti
menara atau jamur yang dipisahkan oleh ruang interstitial. Ruang interstitial memungkinkan
sebagian besar biofilm dengan mudah dan cepat mengambil nutrisi dari cairan sekitarnya dan
memindahkan produk sampingannya dari biofilm. Pembentukan biofilm memang kompleks,
tapi secara umum dapat dikelompokkan dalam empat langkah dasar yaitu: diposisi dan
pembentukan film mikroba (planktonik) melekat pada lembaran film pertumbuhan dan
kolonisasi bakteri terbentuklah biofilm

D. SIKLUS KEHIDUPAN PADA BIOFILM

1. Perlekatan Sel
Perlekatan mikroorganisme pada permukaan tertentu dapat terjadi secara aktif atau
pasif, tergantung pada motilitas bakteri atau transportasi dari sel planktonik oleh gravitasi,
difusi atau kekuatan dinamis cairan dari fase cairan di sekitarnya. Perlekatan juga tergantung
pada ketersediaan hara dalam media sekitarnya, dan tahap pertumbuhan sel bakteri itu
sendiri. Dua tahapan yang dapat diidentifikasi dalam proses ini yaitu perlekatan reversibel
diikuti oleh perlekatan irreversibel. Awalnya, interaksi jangka panjang terbentuk antara sel
bakteri dan substrat disebut perlekatan reversibel, dan melibatkan interaksi van der Waals,
gaya elektrostatik dan interaksi hidrofobik. Selama tahap ini, bakteri masih menunjukkan
gerak Brown dan dapat dengan mudah dihilangkan dengan gaya geser fluida (misalnya hanya
dengan membilasnya). Kemudian dilanjutkan perlekatan irreversibel, interaksi jangka pendek
yang melibatkan interaksi dipol-dipol, ion hidrogen, dan ikatan kovalen, dan interaksi
hidrofobik.
Interaksi antara bakteri dan permukaan terjadi terutama melalui alat pelengkap bakteri
seperti flagela, fimbriae, pili dan fibril, dan pengangkatan sel membutuhkan energi yang lebih
kuat seperti scrubbing atau menggores. Suhu dan pH permukaan kontak memiliki pengaruh
pada tingkat perlekatan mikroorganisme.

2. Pembentukan Mikrokoloni
Proliferasi sel-sel bakteri yang melekat secara irreversibel dapat terjadi dengan
menggunakan nutrisi yang ada di lingkungan cairan sekitarnya. Ini mengarah pada
pembentukan mikrokoloni yang membesar dan menyatu untuk membentuk lapisan sel yang
menutupi permukaan. Sel-sel yang melekat menghasilkan polimer tambahan
(eksopolisakarida), yang membantu dalam perlekatan sel-sel ke permukaan dan dalam
menstabilkan koloni dari fluktuasi lingkungan.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 47


3. Pembentukan Biofilm
Pembentukan biofilm adalah konsekuensi dari perlekatan terus menerus sel bakteri
terhadap substrat dan pertumbuhan selanjutnya, bersama dengan produksi EPS. Komposisi
biofilm dapat heterogen karena kolonisasi oleh mikroorganisme yang berbeda dengan
kebutuhan gizi yang berbeda. Peningkatan ukuran biofilm yang lebih besar dapat terjadi
melalui deposisi atau perlekatan dari bahan-bahan organik dan anorganik yang terlarut
lainnya dan partikel dari fase cair di sekitarnya.

4. Pemantapan dan Perluasan Biofilm


Setelah terbentuk biofilm matang, bakteri yang menempel tersebut untuk bertahan
hidup dan membuat relung baru harus mampu melepaskan diri dan menyebar dari biofilm.
Sel anak dapat menjadi individu baru atau terkelupas. Bakteri yang terlepas kemudian dapat
berpindah ke lokasi baru dan memulai kembali proses biofilm.

E. FAKTOR PERLEKATAN MIKROBA

Pertama kali pembentukan biofilm dimulai ketika bakteri menemukan dan dapat
melekat pada kondisi permukaan melalui molekul organik kecil. Tingkat perlekatan sel
mikroba diatur oleh faktor-faktor seperti sifat permukaan, kondisi lapisan permukaan,
karakteristik dan hidrodinamika dari media cair, berbagai karakteristik permukaan sel
mikroba, regulasi gen dan kuorum sensing.
Pembentukan biofilm dapat terjadi di berbagai jenis permukaan dan berbagai kondisi
lingkungan dimana bakteri berada. Bakteri, molekul organik dan anorganik yang berada di
permukaan kemudian membentuk kondisi film. Substrat organik dan anorganik ini bersama-
sama dengan mikroorganisme berpindah ke permukaan melalui difusi atau mengikuti aliran
cairan. Transfer nutrisi lebih tinggi dalam biofilm daripada fase cair.
Kondisi film penting dalam proses perlekatan. Polimer organik dari media yang
permukaannya terendam sehingga mempengaruhi tingkat dan kekuatan perlekatan mikroba.
Kondisi film terbentuk dalam beberapa menit pemaparan, dan terus berkembang selama
beberapa jam. Sejumlah host memproduksi film seperti darah, air mata, urin, saliva, cairan
intravaskular dan sekresi pernapasan mempengaruhi perlekatan bakteri terhadap
biomaterial. Karakteristik media cair, seperti pH, tingkat nutrisi, kekuatan ion, dan
temperatur, juga mungkin memainkan peran dalam tingkat perlekatan mikroba pada
permukaan. Sebagai contoh, peningkatan jumlah sel bakteri yang melekat diyakini sebagai
akibat dari peningkatan konsentrasi nutrisi dalam media dan juga peningkatan konsentrasi
beberapa kation. Selain itu, sifat hidrodinamik dari media cair seperti karakteristik kecepatan
cairan mempengaruhi tingkat dan luasnya perlekatan.

48 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Tingkat dan kekuatan perlekatan sel mikroba dipengaruhi oleh sifat permukaan sel
seperti produksi zat polimer ekstraseluler (EPS), hidrofobisitas permukaan sel, kehadiran
fimbriae dan flagela. Hidrofobik dari permukaan sel yang merupakan peran dari keberadaan
fimbriae merupakan hal yang penting dalam adhesi karena interaksi hidrofobik cenderung
meningkat dengan meningkatnya sifat non–polar dari permukaan yang terlibat. Bukti
menunjukkan bahwa flagella memainkan peran penting dalam tahap awal perlekatan bakteri
dengan mengatasi kekuatan terkait dengan substratum dan protein permukaan juga
memainkan peran dalam perlekatan. EPS dan lipopolisakarida lebih penting dalam perlekatan
untuk bahan hidrofilik. Oleh karena itu sel yang motil melekatan lebih banyak dan sel yang
melawan arus lebih cepat daripada strain non – motil.
Beberapa faktor bakteri dan faktor eksternal berpengaruh terhadap perlekatan bakteri
dan pembentukan biofilm. Saat ini mekanisme pembentukan biofilm yang telah dipahami
secara baik adalah pada kelompok Staphylococci. Kemampuan untuk melekat dan
membentuk biofilm pada permukaan host dianggap menjadi faktor virulensi penting pada S.
epidermidis dan S. aureus.

F. PENGARUH BIOFILM TERHADAP KEHIDUPAN MANUSIA

Biofilm telah diketahui terlibat dalam berbagai macam infeksi mikroba pada tubuh.
Pembentukan biofilm juga telah tercatat sebagai strategi pertahanan diri patogen. Beberapa
mikroorganisme dalam biofilm bahkan dapat memodulasi potensi bakteri patogen lain seperti
terlihat dari bakteri kariogenik pada plak biofilm. Lebih dari 65% dari semua infeksi mikroba
disebabkan oleh biofilm. Jumlah ini mungkin tampak tinggi, tetapi jika kita ingat bahwa infeksi
umum seperti saluran kemih infeksi (disebabkan oleh E. coli dan patogen lainnya), infeksi
kateter (yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan patogen gram positif lainnya),
infeksi telinga tengah anak (yang disebabkan oleh Haemophilus influenzae), pembentukan
plak pada gigi, dan radang gusi, yang semuanya disebabkan oleh biofilm, sulit untuk diobati
atau juga sering kambuh, maka angka ini cukup realistis. Sehingga proses infeksi yang
melibatkan biofilm telah terlibat pada penyakit-penyakit umum seperti infeksi saluran kemih,
infeksi kateter, infeksi telinga tengah, pembentukan gigi plak, gingivitis, legionellosis, infeksi
pada pemakaian lensa kontak, dan infeksi yang kurang umum namun lebih mematikan seperti
endokarditis, infeksi pada cystic fibrosis, dan infeksi implan permanen seperti prostesis
persendian dan katu.
Munculnya fenomena biofilm mikroba dikaitkan dengan adanya sifat resistensi
mikroba terhadap antimikroba dan sistem imun host. Sifat biologis sel bakteri pembentuk
biofilm matur berbeda dari sifat biologis sel planktoniknya walaupun pada strain bakteri yang
sama. Penting diketahui bahwa sifat-sifat yang diperoleh tersebut memungkinkan bakteri

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 49


yang tersembunyi dalam biofilm mampu bertahan hidup di alam, terutama pada lingkungan
mikro yang tidak bersahabat. Adaptasi ini memiliki konsekuensi yang cukup signifikan
terhadap diagnostik dan terapi sehingga bakteri pembentuk biofilm menunjukkan
peningkatan resistensi terhadap antibiotik dan desinfektan. Konsentrasi terapeutik efektif
pada beberapa antibiotik terhadap bakteri dalam biofilm mungkin 100 bahkan 1000 kali lipat
lebih tinggi dibandingkan bakteri bentuk planktoniknya. Selain itu, bakteri biofilm resisten
terhadap proses fagositosis dan mekanisme lain dari sistem imun bawaan dan adaptif.
Sehingga bakteri patogen pembentuk biofilm yang tumbuh menyebabkan infeksi yang
persisten dan inflamasi serta kerusakan jaringan kronis.
Resistensi terhadap agen antimikroba merupakan penyebab yang paling penting dari
ketidakefektifan terapi dari infeksi yang terkait biofilm. Hasil penelitian terbaru telah
mengetahui ada mekanisme yang bertanggung jawab terhadap resistensi antibiotik tersebut.
Pertama, biofilm yang tumbuh dikaitkan dengan peningkatan jumlah mutasi yang mengarah
ke generasi bakteri yang secara fenotif resisten, dan gen yang terlibat resistensi antibiotik
berkorelasi dengan fenotif biofilm. Kedua, produksi matriks eksopolisakarida berkontribusi
terhadap peningkatan kelangsungan hidup sel dengan memperlambat kecepatan difusi zat
antimikroba. Ketiga, perbedaan kerapatan bakteri yang mendiami biofilm menentukan
gradien nutrisi dan ketersediaan oksigen, sehingga terdapat perbedaan aktivitas metabolik
antara bakteri. Telah diketahui bahwa bakteri yang tidak tumbuh dan bakteri yang tumbuh
lambat berkontribusi terhadap peningkatan resistensi biofilm terhadap antibiotik
Mikroba pembentuk biofilm ditemukan pula pada kasus keracunan makanan dan
berhubungan dengan keamanan pangan. Saat ini makanan telah diketahui menjadi suatu
“kendaraan” yang mampu membawa sejumlah besar orang ke dalam potensi bahaya. Dengan
demikian, dari perspektif populasi, keracunan pangan menjadi jalur yang penting untuk
transfer infeksi terkait biofilm pada manusia. Buah-buahan dan sayur-sayuran merupakan
bahan pangan yang sebagai risiko tinggi sebagai sumber keracunan pangan karena
kebanyakan dari mereka dimakan mentah atau diproses secara minimal. Biofilms multispesies
yaitu biofilm yang terbentuk dari beberapa macam bakteri termasuk bakteri patogen manusia
menempel pada permukaan tanaman sebelum dipanen yang berasal dari tanah dan
lingkungan. Biofilm ini terbentuk pada jaringan tanaman sehingga dengan jelas bahwa
mikroba pembentuk biofilm tidak mudah dihilangkan dengan teknik pencucian sederhana.
Penyakit keracunan makanan dari konsumsi buah-buahan segar dan sayuran terjadi sebagai
konsekuensi ketika buah-buahan dan sayuran yang dimakan mentah atau diproses secara
minimal. Bukti menunjukkan bahwa keracunan pangan yang berhubungan dengan konsumsi
buah-buahan segar dan sayuran telah meningkat secara dramatis selama 30 tahun terakhir
karena 80% bakteri di permukaan tanaman merupakan biofilm.

50 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Bakteri menganggap bahwa fenotipe biofilm sebagai sarana untuk pertahanan diri dari
stres lingkungan yang tak terduga pada permukaan tanaman. Kegiatan komersial biasanya
menggunakan treatment 3 kali pencucian dan disinfektan untuk membersihkan sayur-sayuran
dan buah-buahan. Proses sanitasi konvensional untuk membersihkan produk berdaun ini
hanya mampu mengurangi tingkat patogen dengan jumlah yang tidak cukup memadai untuk
memastikan keamanan pangan secara mikrobiologi. Ketidakmampuan ini disebabkan oleh
lapisan mikroba yang kuat melalui biofilm. Untuk mengurangi keberadaan biofilm pada
produk berdaun adalah dengan strategi mencucinya menyeluruh lebih dari 3 kali dan strategi
sanitasi yang baik diperlukan untuk mengatasi biofilm.

G. STRATEGI MENGONTROL BIOFILM UNTUK KESEHATAN MASYARAKAT

Konsumsi sayuran yang berupa daun-daunan dan buah-buahan, penggunaan peralatan


medis secara bergantian, talenan dapur, dan wastafel dapat meningkatkan kejadian infeksi
yang terkait dengan biofilm. Penting untuk dicatat bahwa infeksi ini tidak hanya sulit untuk
diobati, tetapi juga dapat meningkatkan penyebaran gen resistensi antibiotik antar mikroba
sehingga ketika mikroba tersebut menginfeksi manusia maka infeksinya menjadi sulit untuk
diobati dengan antibiotik konvensional. Selain itu, strain mikroba yang avirulen dalam biofilm
dapat menjadi virulen karena menerima gen resisten. Penyebaran mikroba pembentuk
biofilm memiliki beberapa dampak penting bagi kesehatan masyarakat karena mereka dapat
menjadikan manusia menjadi lebih sakit untuk waktu yang lebih lama. Sayangnya, sistem
kekebalan tubuh inang tidak mudah menangkal penyakit yang terkait dengan biofilm begitu
halnya biosida termasuk antimikroba. Sebagai konsekuensinya, infeksi terkait biofilm dapat
berlangsung dalam jangka waktu yang lama (berlangsung dari infeksi akut hingga infeksi
kronis), sehingga menjadi masalah kesehatan masyarakat yang menakutkan.
Untuk mengurangi infeksi terkait biofilm ada yang perlu diperhatikan oleh instansi
pemerintah dengan menginstruksikan kepada seluruh pemerhati kesehatan masyarakat dan
lingkungan untuk mengembangkan dan mengembangkan penilaian risiko kesehatan yang
tepat dan pedoman khusus infeksi terkait biofilm yang melindungi kesehatan masyarakat
sekaligus lingkungan. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk evaluasi berbagai strategi untuk
mengontrol biofim baik untuk mencegah atau penanggulangan kolonisasi biofilm pada
permukaan, dan pengembangan metode baru untuk efisiensi pengobatannya. Penelitian juga
harus fokus pada peran biofilm dalam perkembangan resistensi terhadap antimikroba, biofilm
sebagai sumber organisme patogen, dan peran biofilm dalam penyakit kronis. Beberapa
penelitian telah mencoba strategi lain untuk mengendalikan dan mencegah pembentukan
biofilm.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 51


H. KUNCI KONSEP

1. Biofilm merupakan suatu komunitas sel bakteri yang terstruktur dan saling menempel,
bakteri-bakteri tersebut mampu memproduksi matriks polimer dan mampu melekat
pada permukaan biologis maupun benda mati.
2. Biofilm terdiri dari mikroorganisme dan zat polimer ekstraseluler yang diproduksi oleh
mereka sendiri yang disebut sebagai eksopolisakarida (EPS).
3. Siklus kehidupan biofilm di awali dengan perlekatan sel, pembentukan mikrokoloni,
pembentukan biofilm dan pemantapan dan perluasan biofilm.

Latihan Soal

Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!

1) Sebuah biofilm didefinisikan sebagai ekosistem mikrobiologi kompleks yang terbentuk


oleh .…
A. spesies tunggal
B. multispesies
C. unispesies
D. biospesies
E. anspesies

2) Siklus kehidupan biofilm diawali dengan perlekatan sel yang dapat terjadi secara .…
A. aktif dan pasif
B. langsung dan tidak langsung
C. seluler dan multi seluler
D. biospesies dan unispesies
E. regenerasi dan degenerasi

3) Pertama kali pembentukan biofilm dimulai ketika bakteri menemukan dan dapat
melekat pada kondisi permukaan melalui .…
A. molekul anorganik kecil
B. molekul anorganik besar
C. molekul organik kecil
D. molekul organik besar
E. molekul organik berimbang

52 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


4) Beberapa mikroorganisme dalam biofilmv dapat memodulasi potensi bakteri patogen
lain seperti terlihat dari bakteri kariogenik pada .…
A. dental plak
B. mikroba biofilm
C. matriks biofilm
D. pelicle biofilm
E. plak biofilm

5) Saat ini mekanisme pembentukan biofilm yang telah dipahami secara baik adalah pada
kelompok .…
A. Bacillus
B. Actinomyces
C. Veillonella
D. Staphylococci
E. Salivarius

Kunci Jawaban Latihan

Untuk mengetahui keberhasilan Saudara dalam mengerjakan latihan, bacalah petunjuk


jawaban berikut!

1) B
2) A
3) C
4) E
5) D

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 53


A. PLAK

Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu mendefinisikan pengertian plak.
2. Mampu menjelaskan terbentuknya plak.
3. Mampu menyebutkan komposisi dari plak.
4. Mampu menjelaskan pengaruh plak terhadap gigi.
5. Mampu menjelaskan cara mencegah plak.

B. PENGERTIAN PLAK

Plak gigi merupakan deposit lunak yang melekat erat pada permukaan gigi, terdiri atas
mikroorganisme yang berkembang biak dalam suatu matrik interseluler jika seseorang
melalaikan kebersihan gigi dan mulutnya.

Sumber: [Link]
Gambar 2.2
Plak Gigi

Berbeda halnya dengan lapisan terdahulu, plak gigi tidak dapat dibersihkan hanya
dengan cara kumur ataupun semprotan air dan hanya dapat dibersihkan secara sempurna
dengan cara mekanis. Jika jumlahnya sedikit plak tidak dapat terlihat, kecuali diwarnai dengan
larutan diskosing. Jika menumpuk, plak akan terlihat berwarna abu-abu, abu-abu kekuningan
dan kuning. Plak biasanya mulai terbentuk pada sepertiga permukaan gingival dan pada
permukaan gigi yang cacat dan kasar.

54 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


C. MEKANISME PEMBENTUKAN PLAK GIGI

Proses pembentukan plak gigi terdiri atas dua tahap. Tahap pertama merupakan
pembentukan lapisan aquired pelicle sementara tahap kedua merupakan tahap proliferasi
bakteri.
Pada tahap pertama, setelah aquired pelicle terbentuk, bakteri mulai berpoliferasi
disertai dengan pembentukan matriks interbakterial yang terdiri atas polisakarida
ekstraseluler yaitu levan dan dextran dan juga mengandung protein saliva. Hanya bakteri yang
dapat membentuk polisakarida ekstraseluler yang dapat tumbuh pada tahap pertama, yaitu
Streptococcus mutans, Streptococcus bovis, Streptococcus sanguis, Streptococcus salivarius
sehingga pada 24 jam pertama terbentuklah lapisan tipis yang terdiri dari atas jenis kokus pada
tahap awal poliferasi bakteri. Bakteri tidak dapat membentuk lapisan kontinu di atas
permukaan aquired pelicle melainkan sebagai suatu kelompok-kelompok kecil yang terpisah.
Suasana lingkungan pada lapisan plak masih bersifat aerob sehingga hanya mikroorganisme
aerob dan fakulatif yang dapat tumbuh dan berkembang biak. Jadi, pada tahap awal ini bakteri
yang dapat tumbuh adalah jenis kokus dan basilus yang fakulatif (Neisseria, Nocardia dan
Streptpcoccud). Streptococcus meliputi 50% dari seluruh populasi dan yang terbanyak adalah
jenis Streptococcus sanguis. Perkembangbiakan bakteri membuat lapisan plak bertambang
tebal dan karena adanya hasil metabolisme dan adhesi dari bakteri-bakteri pada permukaan
luar plak, lingkungan di bagian dalam plak berubah menjadi anaerob.
Setelah kolonisasi pertama oleh Streptococcus, berbagai jenis mikroorganisme lain
memasuki plak, hal ini dinamakan “Phenomena of succesion”. Pada keadaan ini dengan
bertambahnya umur plak, terjadi pergeseran bakteri di dalam plak. Menurut Kresse, keadaan
ini dapat terjadi kompetisi di antara bakteri sehingga dapat membatasi pertumbuhan bakteri.
Terhambatnya pertumbuhan bakteri, selain disebabkan oleh kurangnya bahan makanan juga
disebabkan oleh adanya gas-gas sebagai hasil metabolisme bakteri yang bersifat toksik bagi
bakteri, yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu. Sementara hasil
metabolisme yang lain menyebabkan rangsangan terhadap pertumbuhan bakteri Veilonella
dan hal ini menyebabkan meningkatnya polisakarida ekstraseluler berberat molekul tinggi
sehingga memengaruhi tegangan permukaan dan tekanan osmotik di dalam plak. Susunan
bakteri dalam plak dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 55


Gambar 2.3
Susunan Bakteri Di dalam Plak dan Perlekatannya terhadap Aquired Pelicle

Pada tahap kedua jika kebersihan mulut diabaikan, dua sampai empat hari, kokus gram
negatif dan basilus akan bertambah jumlahnya (dari 7% menjadi 30%), dengan 15% di
antaranya terdiri atas bacillus yang bersifat anaerob. Pada hari kelima, Fusobacterium,
Aactinomyces, dan Veillonella yang aerob akan bertambah jumlahnya.
Pada tahap ketiga, pematangan plak pada hari ketujuh ditandai dengan munculnya
bakteri jenis Spirochaeta dan Vibrio sementara jenis filamen terus bertambah, dengan
peningkatan paling menonjol pada Actinomyces naeslundi. Pada hari kedua puluh delapan dan
kedua puluh sembilan, Streptococcus akan terus berkurang jumlahnya.

D. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PEMBENTUKAN PLAK

1. Lingkungan Fisik
Lingkungan fisik meliputi anatomi dan posisi gigi, anatomi jaringan sekitarnya, struktur
permukaan gigi yang jelas terlihat setelah dilakukan pewarnaan. Pada daerah terlindung
karena kecembungan permukaan gigi, pada gigi yang letaknya salah, pada permukaan gigi
dengan kontur gusi yang buruk, pada permukaan email yang banyak cacat, dan pada daerah
pertautan sementoemail yang kasar, terlihat jumlah plak yang lebih banyak.

56 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


2. Friksi atau Gesekan oleh Makanan yang Dikunyah
Friksi atau gesekan oleh makanan yang dikunyah hanya terjadi pada permukaan gigi
yang tidak terlindung. Pemeliharaan kebersihan mulut dapat mencegah atau mengurangi
penumpukan plak pada permukaan gigi.

3. Pengaruh Diet
Pengaruh diet terhadap pembentukan plak telat diteliti dalam dua aspek yaitu
pengaruhnya secara fisik dan pengaruhnya secara sebagai sumber makanan bagi bakteri di
dalam plak. Jenis makanan, yaitu keras dan lunak, mempengaruhi pembentukan plak pada
permukaan gigi. Ternyata plak banyak terbentuk jika kita mengkonsumsi makanan lunak,
terutama makanan yang mengandung karbihidrat jenis sukrosa, karena akan menghasilkan
dekstran dan levan yang memegang peranan penting dalam pembentukan matriks plak.

E. STRUKTUR DAN KOMPOSISI PLAK

1. Komposisi Secara Keseluruhan


Plak sebagian besar terdiri atas air dan berbagai macam mikroorganisme yang
berkembang biak dalam suatu matriks interseluler yang terdiri atas polisakarida ekstraseluler
dan protein saliva. Sekitar 80% dari berat plak adalah air, sementara jumlah mikroorganisme
kurang lebih 250 juta per mg berat basah. Selain terdiri atas mikroorganisme, juga terdapat
sel-sel epitel lepas, leukosit, partikel-partikel sisa makanan, garam anorganik yang terutama
terdiri atas kalsium, fosfat dan fluor.

2. Komposisi Bakteri
Bakteri yang terdapat pada permukaan luar, terdiri atas bakteri jenis aerob, sedang
bakteri yang terdapat pada permukaan dalam terdiri atas bakteri anaerob. Bakteri anaerob
cenderung lebih banyak karena oksigen yang masuk kebagian dalam hanya sedikit sehingga
memungkinkan bakteri anaerob tumbuh dengan subur.
Bakteri di dalam plak tidak sama dengan yang terdapat dalam rongga mulut, laktobasilus
yang dulu dikira merupakan penyebab utama dari karies ternyata hanya hadir dalam jumlah
kecil di dalam plak, sedangkan dalam saliva jumlah laktobasilus sangat besar, sementara
streptokokus yang banyak terdapat di dalam plak hanya terdapat sedikit di dalam saliva.
Bakteri-bakteri yang berada di dalam plak selain dapat menghasilkan asam (asidogenik) dari
makanan yang mengandung karbohidrat juga dapat bertahan berkembang-biak dalam
suasana asam (acidurik). Berdasarkan hasil penelitian, komposisi bakteri dalam plak itu
bervariasi. Komposisi bakteri dalam plak bergantung pada daerah dan regio dari gigi dan juga
umur plak.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 57


Distribusi bakteri dalam plak sangat variabel, namun pada umumnya bakteri di lapisan
bagian dalam berkumpul membentuk koloni yang lebih padat serta mempunyai dinding yang
lebih tebal dan terutama terdiri atas jenis koku, sedangkan jenis filamen umumnya tumbuh
dengan sumbu panjang sel-selnya tegak lurus pada permukaan gigi, pada gambaran
mikroskopis tampak gambaran palisade atau seperti pagar.

1. Komposisi Matriks Plak Gigi


Telah diketahui bahwa bakteri di dalam plak terpendam di dalam matriks interseluler.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa matriks ini terutama terdiri atas:
a. Polisakarida Ekstraseluler, jenis utama bakteri yang mempunyai kemampuan untuk
membentuk polisakarida ekstraseluler adalah beberapa galur (strain) streptokokus,
yaitu Streptococcus mutans, Streptococcus bovis, Streptococcus sanguis dan galur
streptokokus lainnya. Bakteri-bakteri ini membentuk polisakarida ekstraseluler dari
karbohidrat terutama sukrosa. Telah ditemukan berbagai macam polisakarida
ekstraselulerdi dalam plak, tetapi yang terutama adalah dekstran yang merupakan
polimer glukosa dan levan yang merupakan polimer fruktosa.
Secara biokomia jalannya sintesa adalah sebagai berikut:
1) Sukrosa + enzim bakteri (dekstransukrase)
2) Dekstran + fruktosa
3) Sukrosa + enzim bakteri (levansukrosa)
4) Levan + glukosa

Dekstran merupakan polimer glukosa yang mempunyai berat molekul berbeda-beda


(namun semuanya di atas satu juta) dan mempunyai sifat tidak larut dalam air, sangat
adhesif dan resisten terhadap hidrolisis oleh bakteri di dalam plak, dan merupakan
senyawa yang stabil.
Sifat-sifat tersebut memungkinkan dekstran berfungsi sebagai matriks daripada plak
gigi. Dekstran mempunyai panjang rantai yang berbeda-beda sehingga diusulkan nama
umum, yaitu “glukan” sebagai golongan polisakarida yang merupakan polimer glukosa.
Sukrosa merupakan subtrat utama bagi pembentukan dekstran, namun penelitian
terakhir menunjukkan bahwa bakteri dapat membentuk polisakarida lain selain
dekstran, dari glukosa dan gula-gula lainnya.
Bakteri-bakteri di dalam plak juga membentuk polimer fruktosa, yaitu levan. Levan ini
lebih mudah larut dalam air dan dapat dihidrolisis lebih banyak oleh bakteri dibanding
dengan dekstran. Karena tidak begitu stabil, diperkirakan peranan Levan sebagai
komponen matriks plak agak terbatas. Namun, para ahli mengakui bahwa Levan dan
polisakarida lain yang serupa juga penting sebagai perantara bagi kolonisasi dan

58 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


perlekatan bakteri di atas permukaan gigi. Perbedaan antara dekstran dan levan ini
penting dalam hubungannya dengan retensi plak. Pada permukaan licin gigi, kolonisasi
bakteri terutama dilakukan oleh jenis-jenis yang mempunyai kemampuan besar untuk
membentuk dekstran, misalnya streptococcus mutans, sedangkan pada permukaan akar
lebih terlindung terhadap tekanan-tekanan mekanis yang melepaskan plak, organisme
pembentuk levan, seperti Odontomyces viscosus dapat berkoloni dan membentuk plak.
b. Protein Saliva
Selain polisakarida ekstraseluler yang telah disebutkan di atas, beberapa ahli
mengatakan bahwa matriks dari plak juga mengandung protein dari saliva, sisa-sisa sel
bakteri yang telah mengalami lisis, dan beberapa mineral.
Leach dan kawan-kawan menunjukkan dengan suatu percobaan bahwa diet tidak
mengandung karbohidrat, matriks dari plak yang terbentuk di atas permukaan gigi
hampir sama sekali tidak mengandung karbohidrat polisakarida ekstraseluler. Dalam hal
ini ternyata bahwa matriks dari plak tersebut terdiri atas asam-asam amino yang
merupakan karakteristik glikoprotein saliva.

2. Komposisi Komponen Anorganik


Plak gigi mengandung konsentrasi kalsium dan fosfat yang jauh lebih tinggi daripada di
dalam saliva. Konsentrasi unsur-unsur ini berbeda pada satu daerah plak dengan yang lainnya,
pada satu pasien dengan pasien lain. Sebagai contoh, plak di daerah insisif rahang bawah
mengandung kalsium dan fosfat yang jauh lebih tinggi dari pada plak di regio lain. Jika diet
mengandung banyak sukrosa atau gula-gula lain, konsentrasi kalsium dan fosfat turun dengan
cepat. Ini mungkin disebabkan karena kebutuhan bakteri akan unsur-unsur tersebut
meningkat sewaktu terjadi metabolisme gula-gula tersebut.

Dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa plak dapat mengikat
kalsium dalam jumlah besar dan hal ini mungkin berhubungan dengan perpindahan kalsium
ke dalam dan ke luar email.
Selain kalsium dan fosfat, plak gigi juga mengandung fluor dalam konsentrasi kurang
lebih 80 ppm pada pasien yang meminum air yang telah difluoridasi (dalam konsentrasi 1
ppm). Diperkirakan sebagian besar fluor ini terikat pada protein plak serta bakteri di dalam
plak.
Fluor dalam konsentrasi 80 ppm ini sebenarnya dapat menekan atau menghalangi reaksi
enzimatik bakteri, termasuk sintesa polisakarida intra dan ekstraseluler yang penting dalam
pembentukan plak. Akan tetapi untuk dapat berefek demikian, dibutuhkan fluor dalam bentuk
bebas sedangkan jumlah fluor dalam bentuk ion bebas di dalam plak ini belum diketahui

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 59


dengan pasti. Oleh karena itu belum dapat dipastikan apakah fluor di dalam plak tersebut
mempunyai efek kariostatik atau tidak.

F. PENYAKIT YANG DITIMBULKAN OLEH PLAK

1. Karies
Hasil interaksi dari bakteri di permukaan gigi, plak atau biofilm, dan hasil diet (khususnya
komponen karbohidrat yang dapat difermentasikan oleh bakteri plak menjadi asam, terutama
asam laktat dan asetat) sehingga terjadi demineralisasi jaringan keras gigi dan memerlukan
cukup waktu untuk kejadiannya disebut dengan karies gigi.

2. Gingivitis
Peradangan yang terjadi pada gingival/gusi disebut dengan gingivitis. Penyakit ini
disebabkan kurangnya menjaga kebersihan gigi dan mulut yang ditandai dengan gusi tampak
merah, agak membengkak, sering berdarah saat menggosok gigi.

3. Periodontitis
Gingivitis yang tidak dirawat akan menyebabkan kerusakan tulang pendukung gigi atau
yang disebut periodontitis. Hal ini disebabkan oleh bakteri dalam plak gigi akan menyabar dan
berkembang kemudian toksin yang dihasilkan bakteri akan mengiritasi gingiva sehingga
merusak jaringan pendukungnya. (Pintauli dan Hamada, 2010)

Latihan Soal

Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!

Deposit ini melekat pada permukaan gigi, tetapi tidak keras dan pembersihannya tidak
cukup hanya dengan berkumur ataupun dengan semprotan air. (Untuk soal nomor 1 dan 2)

1) Apa nama deposit yang dimaksud?


A. Dental pelicle
B. Dental plak
C. Food debris
D. Aquired alba
E. Materia pelicle

60 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


2) Bagaimana cara pembersihan deposit ini?
A. menggunakan semprotan air
B. menggunakan semprotan udara
C. berkumur dengan larutan antiseptik
D. menyikat gigi
E. menggunakan semprotan air dan udara

Jika jumlahnya sedikit deposit tidak dapat terlihat, dan jika menumpuk barulah warna
dari deposit ini akan terlihat. (Untuk soal nomor 3 sampai 5)

3) Bagaimana cara melihat deposit tersebut jika jumlahnya hanya sedikit?


A. menggunakan disklosing
B. menggunakan sonde
C. menggunakan kaca pembesar
D. menggunakan dental lamp
E. menggunakan pumcie

4) Apa warna dari deposit ini?


A. abu-abu, abu-abu kekuningan dan kuning.
B. abu-abu kehitaman dan kuning
C. abu-abu kekuningan, kuning dan coklat
D. putih kekuningan, kuning dan coklat
E. putih kekuningan, kuning dan coklat kehitaman

5) Apa faktor yang tidak mempengaruhi pembentukan deposit ini?


A. Anatomi gigi
B. posisi gigi
C. friksi
D. jenis karbohidrat
E. pengaruh diet

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 61


Kunci Jawaban Latihan

Untuk mengetahui keberhasilan Saudara dalam mengerjakan latihan, bacalah petunjuk


jawaban berikut!

1) B
2) D
3) A
4) A
5) B

62 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


A. PEMERIKSAAN KEBERSIHAN MULUT

Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu menjelaskan cara pengukuran debris indeks (DI).
2. Mampu menjelaskan cara pengukuran OHI-S.
3. Mampu menjelaskan ketentuan penggantian gigi indeks pada pemeriksaan OHI-S.
4. Mampu menjelaskan cara pengukuran indeks PHP.
5. Mampu menjelaskan cara pengukuran PHPM.

Menurut Putri, dkk (2015) mengukur kebersihan gigi dan mulut merupakan upaya untuk
menentukan keadaan kebersihan gigi dan mulut seseorang. Pada umumnya untuk mengukur
kebersihan gigi dan mulut digunakan suatu indeks. Indeks adalah suatu angka yang
menunjukkan keadaan klinis yang didapat pada waktu dilakukan pemeriksaan, dengan cara
mengukur luas dari permukaan gigi yang ditutupi oleh plak maupun kalkulus, dengan demikian
angka diperoleh berdasarkan penilaian yang objektif. Jika kita sudah mengetahui nilai atau
angka kebersihan gigi dan mulut dari seorang pasien kita dapat memberikan pendidikan dan
penyuluhan, motivasi dan evaluasi yaitu dengan melihat kemajuan ataupun kemunduran
kebersihan gigi dan mulut seseorang maupun sekelompok orang, ataupun kita dapat melihat
perbedaan keadaan klinis seseorang atau sekelompok orang.
Kita dapat membedakan penilaian jika penilaian yang dilakukan oleh pemeriksa
seragam. Oleh karena itu pada saat pengukuran, diperlukan sekali ketelitian dan keseragaman
penilaian di antara pemeriksa sehingga diperoleh nilai yang akurat dan seragam dari setiap
pemeriksa. Untuk mendapatkan nilai yang akurat tentunya di antara pemeriksa harus
mempunyai pandangan yang sama dalam penilaian, karena itu perlu sekali dilakukan kalibrasi
terlebih dahulu.

B. DEBRIS INDEX (DI)

Pada dasarnya tata cara pengukuran Debris Indeks (DI) sama dengan pengukuran OHI-
S. Gigi yang digunakan untuk dilakukan penilaian adalah:
1. Gigi 16 adalah permukaan bukal
2. Gigi 11 adalah permukaan labial
3. Gigi 26 adalah permukaan bukal
4. Gigi 36 adalah permukaan lingual
5. Gigi 31 adalah permukaan labial
6. Gigi 46 adalah permukaan lingual

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 63


Permukaan yang diperiksa adalah permukaan gigi yang jelas terlihat dalam mulut, yaitu
permukaan klinis bukan permukaan anatomis. Jika gigi wakil tidak ada maka penggantian gigi
sama saja dengan ketentuan OHI-S.

Tabel 2.1
Kriteria Skor Debris

Skor Kondisi
0 Tidak ada debris atau stain

Plak menutup tidak lebih dari 1/3 permukaan servikal, atau terdapat
1
stain ekstrinsik di permukaan yang diperiksa

Plak menutup lebih dari 1/3 tapi kurang dari 2/3 permukaan yang
2
diperiksa

3 Plak menutup lebih dari 2/3 permukaan yang diperiksa

Skor debris indeks ditentukan dengan cara menjumlahkan seluruh skor kemudian
membaginya dengan jumlah segmen yang diperiksa.
Kriteria penilaian debris indeks
Baik : Jika nilainya 0 – 0,6
Sedang : Jika nilainya 0,7 – 1,8
Buruk : Jika nilainya 1,9 – 3,0

C. ORAL HYGIENE INDEX SIMPLIFIED (OHI-S)

Menurut Putri, dkk (2015) untuk mengukur kebersihan gigi dan mulut seseorang Green
and Vermillion memilih enam permukaan gigi indeks tertentu yang cukup dapat mewakili
segmen depan maupun belakang dari seluruh pemeriksaan gigi yang ada dalam rongga mulut.
Gigi-gigi yang dipilih sebagai gigi indeks beserta permukaan indeks yang dianggap mewakili
tiap segmen adalah:
1. Gigi 16 adalah permukaan bukal
2. Gigi 11 adalah permukaan labial
3. Gigi 26 adalah permukaan bukal
4. Gigi 36 adalah permukaan lingual
5. Gigi 31 adalah permukaan labial
6. Gigi 46 adalah permukaan lingual

64 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Permukaan yang diperiksa adalah permukaan gigi yang jelas terlihat dalam mulut, yaitu
permukaan klinis bukan permukaan anatomis.
Jika gigi indeks pada suatu segmen tidak ada, lakukan penggantian gigi tersebut dengan
ketentuan sebagai berikut:
1. Jika gigi molar pertama tidak ada, penilaian dilakukan pada gigi molar kedua, jika gigi
molar pertama dan kedua tidak ada penilaian dilakukan pada gigi molar ketiga akan
tetapi jika gigi molar pertama, kedua dan ketiga tidak ada maka tidak ada penilaian pada
segmen tersebut.
2. Jika gigi insisif pertama kanan atas tidak ada, dapat diganti oleh gigi insisif kiri atas dan
jika gigi insisif kiri bawah tidak ada, dapat diganti dengan gigi insisif kanan bawah, akan
tetapi jika gigi insisif pertama kiri atau kanan tidak ada makan tidak ada penilaian untuk
segmen tersebut.
3. Gigi indeks dianggap tidak ada pada keadaan-keadaan seperti : gigi hilang karena
dicabut, gigi yang merupakan sisa akar, gigi yang merupakan mahkota jaket, baik yang
terbuat dari akrilik maupun logam, mahkota gigi sudah hilang atau rusak lebih dari ½
bagiannya pada permukaan indeks akibat karies maupun fraktur, gigi yang erupsinya
belum mencapai ½ tinggi mahkota klinis.
4. Penilaian dapat dilakukan jika minimal ada dua gigi indeks yang dapat diperiksa.

Untuk mempermudah penilaian, sebelum melakukan penilaian debris kita dapat


membagi menjadi permukaan gigi yang akan dinilai dengan garis khayal menjadi 3 bagian
sama besar/luasnya secara horizontal.

Tabel 2.2
Kriteria Skor Kalkulus

Skor Kondisi
0 Tidak ada kalkulus
Kalkulus supragingival menutup tidak lebih dari 1/3 permukaan servikal yang
1
diperiksa
Kalkulus supragingival menutup lebih dari 1/3 tapi kurang dari 2/3 permukaan yang
2 diperiksa, atau ada bercak-bercak kalkulus subgingival disekeliling servikal

Kalkulus supragingival menutup lebih dari 2/3 permukaan atau ada kalkulus
3
subgingival yang kontinu di sekeliling servikal gigi

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 65


D. MENGHITUNG SKOR INDEKS KALKULUS DAN SKOR OHI-S

Skor indeks kalkulus ditentukan dengan cara menjumlahkan seluruh skor kemudian
membaginya dengan jumlah segmen yang diperiksa.
Sedangkan skor OHI-S adalah jumlah skor debris dan skor kalkulus.
Kriteria penilaian indeks kalkulus
Baik : Jika nilainya 0 – 0,6
Sedang : Jika nilainya 0,7 – 1,8
Buruk : Jika nilainya 1,9 – 3,0

Kriteria penilaian indeks OHI-S


Baik : Jika nilainya 0 – 1,2
Sedang : Jika nilainya 1,3 – 3,0
Buruk : Jika nilainya 3,1 – 6,0

E. PATIENT HYGIENE PERFORMANCE INDEX (INDEKS PHP)

Indeks ini pertama kali dikembangkan dengan maksud untuk menilai individu atau
perorangan dalam pembersihan debris setelah diberi instruksi menyikat gigi.
Cara pemeriksaan klinis berdasarkan indeks plak PHP adalah sebagai berikut:
1. Digunakan bahan pewarna gigi yang berwarna merah (larutan disklosing) untuk
memeriksa plak yang terbentuk pada permukaan gigi.
2. Pemeriksaan dilakukan pada mahkota gigi bagian fasial/lingual dengan membagi tiap
permukaan mahkota gigi menjadi 5 sub divisi (gambar di bawah ini), yaitu: D, distal; G,
sepertiga tengah gingival; M, mesial; C, sepertiga tengah; I/O, sepertiga tengah
incisal/oklusal.

(Sumber: Putri, dkk. 2012)

Gambar 2.4
Lima Subdivisi Permukaan Gigi dalam PHP

66 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


1. Pemeriksaan dilakukan secara sistemasis pada:
• Permukaan labial gigi insisiv pertama kanan atas.
• Permukaan labial gigi insisiv pertama kiri bawah.
• Permukaan bukal gigi molar pertama kanan atas.
• Pemukaan bukal gigi molar pertama kiri atas.
• Permukaan lingual gigi molar pertama kiri bawah.
• Permukaan molar pertama kanan bawah.
• Gigi pengganti, seperti ketentuan pada pemeriksaan OHI-S Green dan Vermilion.

2. Cara penilaian plak adalah sebagai berikut:


• Nilai 0 = tidak ada plak
• Nilai 1 = ada plak

3. Cara pengukuran untuk menentukan indeks plak PHP, yaitu dengan rumus di bawah ini
dan nilai yang dihasilkan berupa angka.

IP PHP = Jumlah total skor plak seluruh permukaan gigi yang diperiksa
Jumlah gigi yang diperiksa

4. Kriteria penilaian tingkat kebersihan mulut berdasarkan indeks plak PHP (Personal
Hygiene Performance) yaitu:
• Sangat baik =0
• Baik = 0,1 – 1,7
• Sedang = 1,8 – 3,4
• Buruk = 3,5 - 5

F. PERSONAL HYGIENE PERFORMANCE MODIFIED (PHPM)

Pengukuran kebersihan gigi dan mulut PHPM dibuat oleh Marten dan Meskin. Metode
pengukuran ini sering digunakan untuk pemeriksaan kebersihan gigi dan mulut pada masa gigi
geligi campuran.
Prinsip pemeriksaannya hampir sama dengan PHP, akan tetapi permukaan yang
diperiksa adalah bagian bukal dan lingual. Geligi yang diperiksa adalah:
1. Gigi paling posterior yang tumbuh di kwadran kanan atas.
2. Gigi kaninus atas kanan sulung atau permanen.
3. Gigi molar satu atas kiri sulung atau premolar satu atas kiri.
4. Gigi paling posterior yang tumbuh di kwadran kiri bawah.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 67


5. Gigi kaninus kiri bawah kanan sulung atau permanen.
6. Gigi molar satu kanan bawah sulung atau premolar satu kanan bawah.

Tetapi apabila dari gigi indeks tersebut ada yang tidak tersedia maka dapat diganti
dengan gigi lainnya. Ketentuan Penggantian Gigi Indeks:
1. Jika gigi kaninus tidak ada maka dapat digantikan dengan gigi anterior lainnya.
2. Gigi indeks dianggap tidak ada pada keadaan seperti: gigi hilang karena dicabut, gigi yang
merupakan sisa akar, mahkota gigi sudah hilang atau rusak lebih dari ½ bagiannya pada
permukaan indeks akibat karies maupun fraktur, gigi yang erupsinya belum mencapai ½
tinggi mahkota klinis.
3. Penilaian dapat dilakukan jika minimal ada dua gigi indeks yang dapat diperiksa.

Cara penilaian plak adalah sebagai berikut :


1. Jika ditemui plak pada permukaan gigi yang diperiksa maka diberi tanda = +
2. Jika tidak ada penumpukan plak maka diberi tanda = -
3. Nilai 1 = ada plak

Jumlah skor per orang maksimal 60 yang diperoleh dengan menjumlahkan seluruh skor
(grand total).

G. KUNCI KONSEP

1. Untuk mengukur kebersihan gigi dan mulut perlu digunakan suatu indeks.
2. Debris indeks (DI) digunakan untuk mengukur skor debris seseorang.
3. OHI-S digunakan untuk mengukur kebersihan gigi dan mulut, dengan cara
menjumlahkan skor debris indeks dan kalkulus indeks.
4. PHP digunakan untuk menilai debris setelah dilakukan pembersihan instruksi sikat gigi.
5. Sedangkan PHPM digunakan menilai kebersihan gigi dan mulut pada masa gigi-geligi
campuran.

68 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Latihan Soal

Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!

Puskesmas Mawar Merah akan melakukan kegiatan survei kesehatan gigi dan mulut di
SD, SMP dan SMA di wilayah kerjanya. Survei yang akan dilakukan bertujuan untuk
mengetahui tingkat kebersihan gigi dan mulut rata-rata siswa sekolah, untuk selanjutnya
diberikan penyuluhan mengenai kebersihan gigi serta dilakukan tindakan kuratif sederhana di
sekolah. (Untuk soal nomor 1 sampai 3)

1) Indeks pengukuran kebersihan gigi dan mulut apa yang paling sesuai dilakukan pada
siswa SMP ....
A. DI
B. CI
C. OHI-S
D. PHP
E. PHPM

2) Indeks pengukuran kebersihan gigi dan mulut apa yang paling sesuai dilakukan pada
siswa SMA ....
A. DI
B. CPITN
C. OHI-S
D. GI
E. PHPM

3) Berapa skor indeks pengukuran kebersihan gigi dan mulut pada anak SMA untuk
dikatakan kriteria baik?
A. 0 – 0,6
B. 0 – 0,8
C. 0 – 1,2
D. 0 – 1,8
E. 0 – 3,0

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 69


Seorang tenaga kesehatan gigi sedang melakukan pemeriksaan kebersihan gigi dan
mulut pada seorang pasien berusia 10 tahun. Diketahui pasien baru pertama kali
melakukan pemeriksaan gigi. (Untuk soal nomor 4 sampai 5)

4) Apa indeks pengukuran kebersihan gigi dan mulut yang paling sesuai dilakukan pada
pasien tersebut?
A. DI
B. CPITN
C. OHI-S
D. PHP
E. PHPM

5) Apa gigi yang tidak digunakan sebagai gigi wakil untuk pengukuran kebersihan gigi dan
mulut tersebut?
A. Gigi paling posterior yang tumbuh di kwadran kiri atas
B. Gigi kaninus atas kanan sulung atau permanen
C. Gigi molar satu atas kiri sulung atau premolar satu atas kiri
D. Gigi paling posterior yang tumbuh di kwadran kiri bawah
E. Gigi kaninus kiri bawah kanan sulung atau permanen

Kunci Jawaban Latihan

Untuk mengetahui keberhasilan Saudara dalam mengerjakan latihan, bacalah petunjuk


jawaban berikut!

1) E
2) C
3) C
4) E
5) A

70 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


A. KALKULUS

Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu mendefinisikan pengertian kalkulus.
2. Mampu menjelaskan perbedaan supra gingival dan sub gingival kalkulus.
3. Mampu menjelaskan terbentuknya kalkulus.
4. Mampu menjelaskan cara mencegah terjadinya kalkulus.
5. Mampu menjelaskan cara menghilangkan kalkulus?

B. APA ITU KALKULUS?

Putri, dkk (2015) mengatakan bahwa kalkulus merupakan suatu masa yang mengalami
kalsifikasi yang terbentuk dan melekat pada permukaan gigi dan objek solid lainnya di dalam
mulut, misalnya restorasi dan gigi geligi tiruan. Kalkulus adalah plak terkalsifikasi. Kalkulus
jarang ditemukan pada gigi susu dan tidak sering ditemukan pada gigi permanen anak muda
usia. Meskipun demikian pada anak usia sembilan tahun kalkulus sudah dapat ditemukan pada
sebagian besar rongga mulut , dan pada hampir seluruh rongga mulut individu dewasa.

C. JENIS KALKULUS

Berdasarkan hubungannya terhadap gingival margin kalkulus dikelompokkan menjadi


supragingival dan subgingival.

1. Kalkulus Supragingival
Kalkulus supragingival adalah kalkulus yang melekat pada permukaan mahkota gigi
mulai dari puncak gingival margin dan dapat dilihat. Kalkulus ini berwarna putih kekuning-
kuningan, konsistensinya keras seperti batu tanah liat dan mudah dilepaskan dari permukaan
gigi dengan skeler. Warna kalkulus dapat dipengaruhi oleh pigmen sisa makanan atau dari
merokok. Kalkulus supragingival dapat terjadi pada satu gigi, sekelompok gigi atau pada
seluruh gigi. Banyak terdapat pada bagian bukal molar rahang atas yang berhadapan dengan
Stensen’s, pada bagian lingual gigi depan rahang bawah yang berhadapan dengan duktus
Wharton’s, selain itu kalkulus juga banyak terdapat pada gigi yang sering tidak digunakan.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 71


Sumber: [Link]

Gambar 2.5
Kalkulus Supragingival

2. Kalkulus Subgingival
Kalkulus subgingival adalah kalkulus yang berada di bawah batas gingival margin,
biasanya pada daerah saku gusi dan tidak dapat terlihat pada waktu pemeriksaan. Untuk
menentukan lokasi dan pemeriksaan harus dilakukan probing dengan eksplorer, biasanya
padat dan keras, warnanya cokelat tua atau hijau kehitam-hitaman, konsistensinya seperti
kepala korek api dan melekat erat pada permukaan gigi.

(Sumber: [Link])

Gambar 2.6
Kalkulus Subgingival

72 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Bentuk kalkulus subgingival dibagi menjadi deposit noduler dan spining yang keras,
berbentuk cincin atau ledge yang mengelilingi gigi, yang terlokalisasi, bentuk gabungan dari
bentuk-bentuk di atas .Jika gingiva mengalami resesi, subgingival kalkulus akan dapat dilihat
seperti supragingival kalkulus dan mungkin akan ditutup oleh supragingival yang asli.

D. PROSES PEMBENTUKAN KALKULUS

Sejumlah penelitian menunjukkan, penyebab dari beberapa masalah rongga mulut


adalah dental plaque atau plak gigi. Plak selalu berada dalam mulut karena pembentukannya
selalu terjadi setiap saat, dan akan hilang bila menggosok gigi atau menggunakan benang
khusus. Plak yang dibiarkan, lama-kelamaan akan terkalsifikasi (berikatan dengan kalsium) dan
mengeras sehingga menjadi karang gigi. Mineralisasi plak mulai di dalam 24-72 jam dan rata-
rata butuh 12 hari untuk matang.
Karang gigi menyebabkan permukaan gigi menjadi kasar dan menjadi tempat
menempelnya plak kembali sehingga kelamaan karang gigi akan semakin mengendap, tebal
dan menjadi sarang kuman. Karang gigi dapat terlihat kekuningan atau kehitaman, warna
kehitaman biasanya akibat bercampur dengan rokok, teh, dan zat lain yang dapat
meninggalkan warna pada gigi. Jika dibiarkan menumpuk, karang gigi dapat meresorbsi tulang
alveolar penyangga gigi dan akibatnya gigi mudah goyang dan tanggal. Kalau kita berbicara
mengenai gigi, tentu tidak terlepas dari membicarakan jaringan penyangga gigi (jaringan
periodontal). Jaringan periodontal ini yang menjadi tempat tertanamnya gigi. Jaringan ini
terdiri dari gusi, sementum, jaringan pengikat tulang penyangga gigi (alveolar). Jaringan
penyangga gigi inilah yang mengikat gigi, pembuluh darah dan persarafan menjadi satu
kesatuan.
Karang gigi mengandung banyak kuman-kuman yang dapat menyebabkan penyakit lain
di daerah sekitar gigi. Bila tidak dibersihkan, maka kuman-kuman dapat memicu terjadinya
infeksi pada daerah penyangga gigi tersebut. Bila sudah infeksi maka masalah lebih lanjut bisa
timbul. Penderita biasanya mengeluh gusinya terasa gatal, mulut berbau tak sedap, sikat gigi
sering berdarah, bahkan adakalanya gigi dapat lepas sendiri dari jaringan penyangga gigi.
Infeksi yang mencapai lapisan dalam gigi (tulang alveolar) akan menyebabkan tulang
penyangga gigi menipis sehingga pada perbandingan panjang gigi yang tertanam pada tulang
dan tidak tertanam, gigi akan goyang dan mudah tanggal. Selain mengakibatkan gigi tanggal,
kuman infeksi jaringan penyangga gigi juga dapat menyebar ke seluruh tubuh. Melalui aliran
darah, kuman dapat menyebar ke organ lain seperti jantung. Karena itu ada beberapa kasus
penyakit yang sebenarnya dipicu oleh infeksi dari gigi, ini disebut infeksi fokal. Penyakit infeksi
otot jantung (miokarditis) termasuk penyakit yang dapat disebabkan oleh infeksi fokal

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 73


Oleh karena itu, masalah karang gigi tidak dapat disepelekan. Bila plak sudah
mengendap menjadi karang gigi maka penyikatan sekeras apa pun dengan sikat gigi biasa tidak
akan menghilangkannya. Satu-satunya cara untuk mengatasi karang gigi adalah dengan pergi
ke dokter gigi untuk dibersihkan agar terhindar dari penyakit yang lebih berat dan tentunya
butuh biaya yang lebih besar. Karang gigi harus dibersihkan dengan alat yang disebut scaler.
Ada yang manual ataupun dengan ultrasonic scaler. Setelah dibersihkan dengan scaler, karang
gigi akan hilang dan gigi menjadi bersih kembali. Namun, karang gigi dapat timbul kembali
apabila kebersihan gigi tidak dijaga dengan baik. Dianjurkan melakukan tindakan pencegahan
sebelum karang gigi timbul yaitu dengan menyikat gigi secara teratur dan sempurna. Dental
floss juga perlu digunakan untuk membersihkan permukaan antar dua gigi yang sering menjadi
tempat terselipnya makanan dan menjadi tempat penimbunan plak. Obat kumur yang
mengandung clorhexidine dapat digunakan untuk mencegah timbulnya plak, obat ini dapat
digunakan setelah penyikatan gigi.

E. CARA PENCEGAHAN KALKULUS

Pengenalan cara sehari-hari yang efektif untuk menjaga oral hygiene seperti:

1. Sikat Gigi
Semua orang tahu tentunya cara yang satu ini, mungkin juga sudah dilakukan setiap hari.
Jadi yang penting di sini adalah pengenalan teknik sikat gigi yang tepat, memotivasi untuk sikat
gigi secara teratur dan pemilihan pasta gigi yang tepat. Teknik sikat gigi yang secara horizontal
adalah lazim dikenal umum, dan itu merupakan suatu kesalahan karena adanya cara demikian
lambat laun dapat menimbulkan resesi gingival dan abrasi gigi. Lebih lanjut lagi, penyakit-
penyakit periodontal akan lebih mudah terjadi. Pemilihan bulu sikat yang halus juga penting
supaya tidak melukai gusi. Hendaknya sikat gigi diganti sekurang-kurangnya tiap 3 bulan sekali
atau sampai bulu sikat terlihat mekar.

2. Kumur-kumur Larutan Antiseptik (oral rinse)


Terdapat berbagai bahan aktif yang sering digunakan dalam obat kumur. Yang dijual
bebas umumnya berasal dari minyak tumbuh-tumbuhan seperti metil salisilat (seperti bahan
produk Listerine), sedangkan yang perlu diresepkan dokter adalah chlorhexidine 0,2% (seperti
pada produk Minosep) dan H2O2 1,5% atau 3%. Kumur-kumur yang lebih murah dan cukup
efektif adalah dengan air garam hangat. Sebenarnya kumur-kumur lebih diperlukan pada
penyakit gusi dan periodontal sedangkan dalam penggunaan sehari-hari tidak terbukti dalam
mencegah karies, apalagi jika penggunaannya tidak di awali dengan sikat gigi. Bahkan jika
kumur-kumur dengan larutan antiseptik terlalu sering digunakan akan menyebabkan flora

74 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


normal mulut akan mati dan merangsang pertumbuhan candida serta membuat mulut akan
kering dan seperti terbakar.

3. Dental Floss
Akhir-akhir ini mulai banyak diperkenalkan dan cukup ampuh membersihkan sela-sela
gigi. Tetapi harus menggunakan teknik yang tepat, karena jika tidak akan melukai gusi dan
terjadi peradangan.

4. Pembersih Lidah
Pembersih lidah juga mulai banyak digunakan, baik untuk membersihkan dorsum lingual
yang sering kali luput kita bersihkan saat sikat gigi. Tumpukan debris di dorsum lidah penuh
dengan kuman-kuman oportunis serta candida yang bermukim sebagai flora normal maupun
transient.

F. TREATMENT DAN PROSEDUR SCALING

Sebelum dilakukan scaling, biasanya akan dilakukan pemeriksaan gigi secara


menyeluruh. Dokter gigi akan memeriksa keadaan pasien ekstra dan intra-oral. Secara
ekstraoral akan dilihat apakah ada pembengkakan kelenjar limfe di kepala dan leher sebagai
tanda adanya penyebaran infeksi dan anamnesis. Kemudian pemeriksaan intra-oral untuk
melihat keadaan dalam mulut pasien. Selain melihat keadaan giginya, dilihat juga keadaan
jaringan lunak lainnya, seperti gingival, palatum dan lidah, karena beberapa penyakit sistemik
memberikan gambaran yang khas dalam mulut, contohnya diabetes, herpes dan leukemia.

(Sumber: [Link])
Gambar 2.7
Operator yang Sedang Melakukan Tindakan Scaling

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 75


Setelah semua pemeriksaan dilakukan baru akan di lakukan scaling mengkombinasikan
antara manual dan ultrasonic scaler untuk membuang kalkulus yang keras dan melekat erat
pada permukaan gigi. Kalkulus yang berada di dalam subgingiva juga dapat dibersihkan
dengan menggunakan tip yang kecil dan tipis agar bisa masuk ke dalam poket dan sulcus
gingival. Manual scaler dipakai untuk membuang sisa-sisa karang gigi pada permukaan gigi
yang lebih sensitif dan tidak bisa menggunakan ultrasonic scaler. Pada pasien dengan kalkulus
yang dalam dan gingivitis, kontak minimal dengan gusi akan menimbulkan pendarahan dan
menimbulkan rasa sakit, biasanya akan dilakukan anestesi lokal oleh dokter gigi.
Peralatan ultrasonic scaler merupakan satu perangkat scaler yang terdiri dari handpiece
scaler dan tip scaler. Tip scaler dapat diganti sesuai dengan kebutuhan. Ujung dari tip scaler
pada saat dioperasikan akan bergetar dengan frekuensi yang cepat dan halus yang akan
menghancurkan karang gigi tanpa merusak permukaan gigi, karena permukaan tip scaler yang
halus. Kemudian dikombinasikan dengan keluarnya air dari ujung tip yang berfungsi untuk
mengirigasi, membersihkan debris dan mendinginkan area yang dibersihkan.

Sumber: [Link]

Gambar 2.8
Ultrasonic Scaler

Setelah scaling, dilakukan root planning dengan pemolesan atau polishing.


Prosedurnya sederhana, gigi akan diolesi dengan pumice, yang berbentuk pasta tapi kasar
seperti berpasir. Kemudian gigi akan di sikat dengan bur brush pada permukaan yang di-
scaling untuk membuang sisa karang gigi, menghaluskan permukaan gigi dan menimbulkan
sensasi segar dalam mulut pasien, sehingga mulut terasa bersih dan segar. Diharapkan dengan

76 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


permukaan gigi yang halus, mempersulit terakumulasinya kembali plak dan bakteri, terbentuk
perlekatan gingival baru yang lebih baik dan berkurangnya kedalaman poket gingival yang
menjadi media bakteri.

Sumber: [Link]

Gambar 2.9
Pemolesan Gigi Menggunakan Bur Brush

Biasanya sesudah dibersihkan, gigi terasa lebih sensitif. Hal ini adalah wajar, terutama
bila sebelumnya sudah mempunyai masalah gigi sensitif. Karena permukaan dentin yang
terbuka, sebelumnya tertutup oleh calculus yang menghalangi gigi dari iritasi eksternal tapi
setelah dibersihkan permukaan dentin terbuka kembali dan menimbulkan rasa lebih sensitif.
Hal ini bisa diatasi dengan melakukan topical fluoridasi, perawatan desensitisasi oleh dokter
gigi dan perawatan di rumah, menggunakan pasta gigi khusus untuk gigi sensitif. Penggunaan
obat kumur yang mengandung chlorhexidine sebagai antimicrobial dan antibiotik oral juga
terkadang dibutuhkan untuk beberapa kasus terutama untuk pasien berpenyakit sistemik dan
pasien pasca-operasi jantung yang berisiko tinggi terinfeksi endocarditis bacterialis.

G. KUNCI KONSEP

1. Kalkulus adalah endapan yang melekat erat pada permukaan gigi dan objek solid
lainnya di dalam mulut.
2. Karang gigi terdiri dari 2 macam, yaitu supragingival kalkulus dan subgingival kalkulus.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 77


3. Proses pembentukan kalkulus di awali oleh plak gigi yang terdapat pada permukaan gigi
yang mengalami kalsifikasi dan mengeras.
4. Kalkulus dapat dihindari dengan cara menyikat gigi, menggunakan benang gigi, kumur-
kumur larutan antiseptik dan menggunakan pembersih lidah.
5. Namun jika kalkulus terlanjur terjadi, maka dapat dilakukan scaling untuk
membersihkannya.

Latihan Soal

Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!

Seorang pasien laki-laki berusia 35 tahun datang ke Puskesmas X, mengeluh pada gigi-
geliginya terdapat kotoran yang berwarna coklat dan pada saat menyikat gigi gusinya sering
berdarah, meskipun sudah menyikat gigi kotoran tersebut tidak hilang. Pasien ingin giginya
dibersihkan. (Untuk soal nomor 1 sampai 3)

1) Apa nama kotoran yang terdapat pada gigi geligi pasien tersebut?
A. Kalkulus
B. Supragingival kalkulus
C. Subgingival kalkulus
D. Stain
E. Materia alba

2) Apa diagnose yang sesuai dengan kasus tersebut?


A. Blood
B. Kalkulus
C. Gingivitis marginalis
D. Gingival margin
E. Periodontitis

3) Bagaimana cara membersihkan kotoran yang terdapat pada pasien tersebut?


A. menggunakan probe
B. menggunakan ultrasonik scaler
C. menggunskan ekskavator
D. menggunakan eksplorer
E. menggunakan sonde lurus

78 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Seorang pasien wanita berusia 23 tahun mengeluhkan gigigeliginya kotor. Dari hasil
pemeriksaan tenaga kesehatan gigi ditemukan banyak plak terutama pada celah-celah
gigi. Jika dibiarkan plak pada permukaan gigi pasien tersebut akan mengalami kalsifikasi.
(Untuk soal nomor 4 dan 5)

4) Zat yang akan berikatan dengan plak sehingga terkalsifikasi adalah ....
A. kalsium
B. karbohidrat
C. fosfor
D. protein
E. zink

5) Apa alat yang disarankan untuk digunakan oleh pasien tersebut agar gigi geliginya
bersih?
A. sikat gigi
B. sikat interdental
C. pembersih lidah
D. dental floss
E. proxabrush

Kunci Jawaban Latihan

Untuk mengetahui keberhasilan Saudara dalam mengerjakan latihan, bacalah petunjuk


jawaban berikut!

1) C
2) C
3) B
4) A
5) D

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 79


Daftar Pustaka
Maghfirah, Fina, dkk. (2017). Aktifitas Pembentukan Biofilm Streptococcus Mutans dan
Candida Albicans setelah Dipapar dengan Cigarette Smoke Condensate dan Minuma
Probiotik. Jurnal Caninus Dentistry Vol 2.

Pintauli, Sondang dan [Link]. (2010). Menuju Gigi dan Mulut Sehat Pencegahan dan
Pemeliharaan. Medan : USU Press.

Purbowati, Rini. (2016). Hubungan Biofilm dengan Infeksi: Implikasi pada Kesehatan
Masyarakat dan Strategi Menggontrolnya. Jurnal Ilmiah Kedokteran Vol 5.

Putri, Megananda Hiranya, dkk. (2015). Ilmu Pencegahan Penyakit Jaringan Keras dan
Jaringan Pendukung Gigi. EGC: Jakarta

Riemann, H.P. and Cliver, D.O. (2006). Foodborne Infections and Intoxications, Third Edition.
Elsevier: USA.

Darby, M, Walsh, M. (2015). Dental Hygiene: Theory and Practice, 4th Edition. Elsevier
Saunders, US, St. Louis, Missouri..

Wilkins, E. (2017). Clinical Practice of Dental Hygiene, 12th Edition. Wolters Kluwer, US,
Philadelphia.

Darby, M. (2012). Mosby’s Comprehensive Review of Dental Hygiene, 7th Edition. Elsevier
Mosby, US, St. Louis, Missouri.

Noble, S. (2012). Clinical Textbook of Dental Hygiene and Therapy, 2nd Edition. Wiley-
Blackwell, UK, West Sussex.

Thomson, Evelyn M. (2013). Case Study in Dental Hygiene, 3rd Edition. Pearson Education,
US, New Jersy.

Logothetis, Demetra D. (2012). Local Anesthesia for The Dental Hygienist. Elsevier Mosby, US,
St. Louis, Missouri.

Prajer, R, Grosos, G. (2011). Dental Hygienist's Chairside Pocket Guide. F.A. Davis Company,
US, Philadelphia.

80 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Bab 3
JARINGAN PERIODONTAL
Yonan Heriyanto, [Link].T., [Link].
Marlindayanti, [Link], [Link].

Pendahuluan

Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:

1. Mampu menjelaskan definisikan pengertian jaringan periodontal


2. Mampu menjelaskan bagian dari jaringan periodontal
3. Mampu menjelaskan fungsi jaringan periodontal
4. Mampu menjelaskan bagian dari gingiva
5. Mampu menyebutkan serat-serat utama jaringan ligamen periodontal

A. PENGERTIAN DAN FUNGSI JARINGAN PERIODONTAL

Saputri (2018) mengatakan bahwa jaringan periodontal merupakan jaringan pendukung


gigi yang terdapat di sekeliling gigi. Sedangkan menurut Putri, dkk (2015) jaringan periodontal
merupakan sistem fungsional jaringan yang mengelilingi gigi dan melekatkan pada tulang
rahang, dengan demikian dapat mendukung gigi sehingga tidak terlepas dari soketnya.
Jaringan periodontal terdiri atas gingiva, tulang alveolar, ligamen periodontal dan sementum.
Sementum termasuk dalam jaringan periodontal, karena sementum bersama-sama
dengan tulang alveolar merupakan tempat tertanamnya serat-serat utama ligamen
periodontal. Setiap jaringan memainkan peranan penting dalam memelihara kesehatan dan
fungsi dari periodontal. Keadaan jaringan periodontal ini bervariasi tergantung atau
dipengaruhi oleh morfologi gigi, fungsi maupun usia.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 81


Gambar 3.1
Jaringan Periodontal

B. BAGIAN-BAGIAN JARINGAN PERIODONTAL

1. Gingiva
Gingiva merupakan bagian jaringan periodontal gigi yang paling luar. Gingiva merupakan
bagian dari membran mukosa mulut tipe mastikasi yang melekat pada tulang alveolar serta
menutupi dan mengelilingi leher gigi. Pada permukaan rongga mulut, gingiva meluas dari
puncak marginal gingiva sampai ke pertautan mukogingival. Pertautan mukogingival
merupakan batas antara gingiva dengan bagian 7 mukosa lainnya. Mukosa dan gingiva dapat
dibedakan dengan mudah, karena pada gingiva warnanya merah gelap dan permukaan gingiva
mengkilat atau licin. Gingiva di antara permukaan oral dan vestibular, berhubungan satu sama
lain melalui gingiva yang berada di ruang interdental.
Gingiva secara anatomis dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu gingiva cekat (attached
gingiva) dan gingiva tidak bergerak (unattached gingiva) yang terdiri atas gingiva bebas (free
gingiva) dan marginal gingiva (Putri,dkk. 2015).

82 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Sumber: [Link]

Gambar 3.2
Bagian-bagian Gingva

Bagian-bagian dari gingiva sebagai berikut:

a. Margin gingiva (Unattached Gingiva)


Unattached gingiva (free gingiva atau marginal gingiva) merupakan bagian dari gingiva
yang tidak melekat erat pada gigi, mengelilingi daerah leher gigi, membuat lekukan seperti
kulit kerang. Free gingiva meruapakan batas antara margin gingiva dengan gingiva cekat
berupa lekukan yang dangkal. Gingiva margin menunjukan suatu bentuk lengkungan dan
melengkung ke arah apikal (scalloped) dilihat dari arah mesiodistal.

b. Sulkus Gingiva
Sulkus gingiva adalah suatu celah antara gigi dan marginal gingiva. Sulkus gingiva ke arah
medial dibatasi oleh permukaan gigi dan ke arah lateral dibatasi oleh epitelium marginal
gingiva bagian dalam. Bagian dalam sulkus gingiva berbentuk seperti huruf V dan
kedalamannya berkisar antara 0-6 mm, dengan rata-rata 1,8 mm.
Sulkus gingiva berisi cairan yang berasal dari jaringan pengikat gingival. Cairan tersebut
merembes keluar melalui epitelium sulkus. Cairan tersebut berfungsi sebagai pembersih

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 83


sulkus, membuat perlekatan epitel attachment ke gigi karena cairan tersebut mengandung
plasma protein antimikroorganisme, antibodi untuk pertahanan gingiva dan medium
organisme.

c. Papila Interdental
Papila interdental atau gingiva interdental adalah bagian gingiva yang mengisi ruangan
interdental, yaitu ruangan di antara dua gigi yang letaknya berdekatan dari daerah akar
sampai titik kontak. Gingiva interdental berfungsi mencegah terjadinya penumpukan
makanan di antara dua gigi selama pengunyahan.

d. Gingiva Cekat ( Attaced gingiva )


Gingiva cekat meluas dari free gingiva groove sampai kepertautan mukogingival. Gingiva
cekat melekat erat pada sementum mulai dari sepertiga bagian akar ke periosteum tulang
alveolar. Permukaan gingiva cekat terdapat bintik-bintik atau lekukan kecil seperti lesung pipi
yang disebut stipling. Stipling yang membuat gingiva cekat seperti kulit jeruk, ini disebabkan
karena tarikan serat-serat kolagen pada jaringan gingiva cekat ke sementum atau tulang.

Sumber: [Link]

Gambar 3.3
Stiplling

84 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


2. Tulang Alveolar

Sumber: [Link]

Gambar 3.4
Tulang Alveolar

Tulang alveolar merupakan bagian maksila dan mandibula yang membentuk dan
mendukung soket gigi. Secara anatomis tidak ada batas yang jelas antara tulang alveolar
dengan maksila maupun mandibula. Bagian tulang alveolar yang membentuk dinding soket
gigi disebut alveolar proprium. Alveolar proprium ini didukung oleh bagian tulang alveolar
lainnya yang dikenal dengan nama tulang alveolar pendukung. Tulang alveolar membentuk
soktet yang mendukung dan melindungi akar gigi.

a. Pembagian Tulang Alveolar


Tulang alveolar terdiri atas dua bagian, yaitu Alveolar proprium dan tulang alveolar
pendukung. Tulang alveolar pendukung terdiri atas yang kompak membentuk keping oral dan
vestibular dan tulang spongi, terletak di antara lempeng kortikal dan alveolar proprium.
Periosteum adalah lapisan yang menghubungkan jaringan lunak yang menutupi permukaan
luar tulang yang terdiri atas lapisan luar dari jaringan kolagen dan bagian dalam dari serabut
elastik lempeng kortikal oral maupun vestibular, langsung bersatu dengan maksila maupun
mandibula.
Walaupun tulang alveolar dibagi lagi secara anatomis, bagian-bagian ini berfungsi
secara satu kesatuan. Bahkan menurut beberapa ahli, pembagian tulang alveolar seperti telah
dikemukakan di atas, didasarkan pada adaptasinya terhadap fungsi. Hal tersebut dapat dilihat

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 85


pada contoh berikut ini. Tekanan oklusal akan disalurkan memalui ligamentum periodontal ke
alveolar proprium dan didukung oleh tulang spongi. Untuk mengimbangi tekanan, tersebut
lempeng kortikal juga akan memberikan dukungannya. Oleh karena itu, pemakaian istilah
tulang alveolar untuk menunjukkan prosesus alveolaris lebih konsisten dengan kesatuan
fungsinya.
Keberadaan tulang alveolar bergantung dari adanya gigi, jika gigi dicabut tulang alveolar
akan mengalami resorpsi. Jika gigi tidak erupsi, tulang alveolar tidak berkembang.

b. Morfologi Tulang Alveolar


Permukaan luar lempeng kortikal (cortical plate) merupakan permukaan luar tulang
alveolar pada daerah vestibular maupun oral. Pada daerah leher gigi tempat tulang alveolar
akan berakhir, bagian ini akan dibentuk oleh persatuan alveolar proprium dan tulang
kompakta yang dikenal dengan nama puncak tulang alveolar. Baik permukaan luar tulang
alveolar maupun puncak tulang alveolar konturnya sangat bervariasi.
Bagian tulang alveolar yang berada di antara dua gigi dikenal dengan nama septum
interdental. Septum interdental ini dibentuk oleh alveolar proprium, permukaan proksimal
gigi-geligi, tulang spongi dan tulang kompakta yang berada di antara gigi serta puncaknya
dibentuk oleh penyatuan alveolar proprium maupun tulang kompakta.

c. Kontur Tulang Alveolar


Kontur tulang alveolar dipengaruhi oleh susunan gigi geligi. Ini dikarenakan kontur
tulang kompakta mengikuti bentuk tonjolan akar gigi. Jadi pada bagian tonjolan akar gigi,
tulang alveolar akan menonjol, sementara itu di antara dua gigi, tulang alveolar melekuk.
Lekukan ini makin menyempit ke arah margin tulang alveolar. Baik penonjolan maupun
lekukan ini jelas terlihat jika tulang alveolar tipis; sebaliknya, jika tulang alveolar tebal kedua-
duanya tidak kelihatan jelas.
Pada maksila, banyak lubang-lubang halus pada permukaan tulang alveolarnya,
sedangkan pada mandibula lebih padat walaupun kadang-kadang dijumpai lubanglubang
kecil. Lubang-lubang ini merupakan tempat lalunya pembuluh darah, saraf, dan pembuluh
limf.
Batas oklusal tulang alveolar di dekat leher gigi tempat alveolar proprium dan lempeng
kortikal bersatu disebut puncak tulang alveolar. Margin tulang alveolar pada daerah puncak
sebelah oral maupun vestibular bentuknya membulat dan condong ke arah gigi. Pada arah
mesio-distal, margin tulang alveolar melengkung ke arah apikal.
Fungsi tulang alveolar secara umum antara lain :
1) Pembentuk dan penyokong gigi (“tooth socket”).
2) Tempat menempelnya otot.

86 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


3) Membentuk kerangka sumsum tulang.
4) Bertindak sebagai penyimpanan ion (khususnya kalsium).
5) Komponen biologi yang terpenting adalah plastisi, memungkinkan penyesuaian bentuk
sesuai tuntutan fungsional. Komponen ini sangat penting untuk pergerakan gigi
orthodontik.

3. Ligamen Periodontal
Ligamen periodontal adalah suatu jaringan konektif, padat dan berserabut yang
menempati ruang di antara sementum dan tulang alveolar. Mengelilingi leher dan akar gigi
serta berkesinambungan dengan pulpa dan gingiva. Akar gigi melekat pada alveolus (soket
tulang) oleh ligamen periodontal, yang merupakan jaringan ikat kompleks, lembut, dan
mengandung banyak sel, pembuluh darah, saraf, limfa serta substansi ekstraseluler terdiri dari
bundel serat dan substansi dasar. Sebagian besar seratnya adalah kolagen, dan substansi
dasar terdiri dari berbagai protein dan polisakarida.

Sumber: [Link]

Gambar 3.5
Ligamen Periodontal

Ligamen periodontal mempunyai beberapa fungsi yaitu:


a. Memberikan nutrisi kepada sementum, tulang alveolar dan gingival.
b. Menghantarkan stimulus rangsang tekan, sentuh dan nyeri dengan serabut sraaf
sensori.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 87


c. Melindungi pembuluh darah dan serabut saraf dari cedera mekanik.
d. Sebagai perlekatan gigi dengan tulang.
e. Mempertahankan jaringan gingival.
f. Penyerap tekanan.

Bundel serat kolagen yang dikenal sebagai serat utama ligamen, berfungsi untuk
melekatkan sementum ke tulang alveolar dan bertindak sebagai bantalan untuk menguatkan
dan mendukung gigi. Bagian pokok serat tertanam dalam sementum dan tulang alveolar
disebut serat Sharpey. Fungsi sensorik disediakan oleh pasokan saraf melalui mekanisme
efisien proprioseptif. Pembuluh darah memberi suplai attachment apparatus dengan subtansi
zat gizi. Sel-sel khusus dari ligamen berfungsi untuk meresorbsi dan mengganti sementum,
ligamen periodontal, dan tulang alveolar.
Jaringan penyanggah (periodontal membrane) merupakan bagian yang menyelubungi
bagian akar gigi, yang berfungsi sebagai bantalan terhadap rangsangan tekanan. Jaringan
penyanggah ini terdiri atas jaringan konektif yang menghubungkan akar gigi dengan tulang
pada sisi yang bersebrangan.

Sumber: [Link]

Gambar 3.6
Serat-serat Utama Ligamen Periodontal

88 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Serat-serat utama dari jaringan ligamen periodontal adalah:
a. Kelompok transversal atau transeptal
Merentang di daerah interproximal di atas crest alveolar, tertanam pada cementum dan
gigi yang bertetangga. Serat-serta tersebut senantiasa sering dijumpai sebab selalu
direkonstruksi meskipun terjadi destruksi tulang alveolar.

b. Kelompok alveolar crest


Merentang miring (oblique) dari cementum persis di bawah junctional epitel ke crest
alveolar. Fungsi serat ini mengimbangi dorongan dari yang lebih apikal sehingga membantu,
meski bila serta diincisi pada waktu pembedahan tidak secara nyata meningkatkan mobilitas
normal gigi setelah pembentukan kelompok horizontal.

c. Kelompok horizontal
Merentang dalam arah tegak lurus terhadap as gigi dari sementum ke tulang alveolar.
Fungsinya sasma dengan alveolar crest yaitu mengimbangi dorongan dari arah yang lebih
apikal.

d. Kelompok oblique
Serat ini paling besar. Merentang miring dari sementum kearah koronal tulang alveolar.
Grup ini memiliki bagian terbesar dari tekanan vertikal pengunyahan dan mengubahnya
menjadi tarikan pada tulang alveolar.

e. Kelompok apikal
Merentang dari sementum ke arah tulang fundus dari soket. Kelompok ini tidak dijumpai
pada akar gigi yang belum sempurna terbentuk.

Serat lain adalah serat kolagen yang susunannya kurang teratur. Dijumpai pada jaringan
ikat intertisial diantara serat-serat utama. Serat – serat tersebut mengandung pembuluh
darah, limfatik dan saraf. Serat- serat lain dalam ligamentum periodontal:
a. Serat elastik jumlahnya sedikit
b. Serat oksitalan, terutama yang berada di sekeliling daerah pembuluh darah, tertanam
dalam sementum pada 1/3 servical akar gigi. Serat oksitalan disebut juga serta resisten
fibers.

4. Sementum
Sementum adalah jaringan mengapur menyerupai tulang yang menutupi akar gigi.
Sementum memiliki banyak ciri yang sama dengan jaringan tulang. Sementum tidak

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 89


mengandung darah atau pembuluh getah bening, tidak memiliki persarafan, tidak mengalami
resorpsi atau remodeling fisiologis, tapi karakteristiknya adalah terus berdeposisi sepanjang
hidup. Seperti jaringan termineralisasi lainnya, sementum mengandung serat kolagen yang
tertanam dalam matriks organic. Kandungan mineral sementum terutama hidroksiapatit
sekitar 96% dari beratnya, sedikit lebih dari tulang yang hanya mengandung 60%
hidroksiapatit.

Sumber: [Link]

Gambar 3.7
Letak Sementum pada Gigi

Sementum berasal dari sel mesenkimal folikel gigi yang berkembang menjadi
sementoblas. Sementoblas menimbun suatu matriks, disebut sementoid, yang mengalami
pertambahan pengapuran dan menghasilkan 2 jenis sementum, aselular dan selular.
Perbedaan bentuk dari sementum adalah sebagai berikut:
a. Acellular, extrinsic fiber cementum (AEFC) ditemukan di bagian koronal dan bagian
tengah dari akar dan kandungan utamanya adalah bundel dari serat Sharpey. Tipe
sementum ini berperan penting dalam melekatkan dan menghubungkan gigi dengan
tulang alveolar.

90 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


b. Cellular, mixed stratified cementum (CMSC) yang terdapat pada sepertiga apikal akar
dan pada furkasi. Sementum ini terdiri dari serat ekstrinsik dan intrinsik, serta
sementosit.
c. Cellular, intrinsic fiber cementum (CIFC) yang ditemukan terutama pada resorpsi lakuna
dan mengandung serat intrinsik dan sementosit.

Sementum yang pertama kali ada disebut sementum primer, sedangkan sementum
yang baru terbentuk mengacu kepada sementum sekunder. Sementum sekunder biasanya
terbentuk sebagai hasil dari perlukaan yang bersifat fisika, kimiawi, maupun akibat bakteri,
namun penyebab yang paling sering ditemukan adalah akibat perlukaan secara fisikal atau
tekanan.
Fungsi utama dari sementum adalah sebagai perlekatan serabut ligament periodontal
yang menahan gigi untuk tetap pada posisinya dan berhubungan dengan jaringan sekitarnya.
Sementum, seperti dentin, dapat tumbuh secara terus menerus selama kehidupan gigi
tersebut. Beberapa fungsi sementum adalah sebagai berikut:
a. Menahan gigi pada soket tulang dengan perantaraan serabut prinsipal ligamen
periodonsium.
b. Mengompensasi keausan struktur gigi karena pemakaian dengan pembentukan terus
menerus.
c. Memudahkan terjadinya pergeseran mesial fisiologis.
d. Memungkinkan penyusunan kembali serabut ligamen periodonsium secara terus
menerus (Manson, JD. 1993)

D. KUNCI KONSEP

1. Jaringan periodontal merupakan jaringan pendukung gigi yang terdapat di sekeliling gigi.
Jaringan periodontal terdiri atas gingiva, tulang alveolar, ligamen periodontal dan
sementum. Fungsi secara umum dari jaringan periodontal adalah sebagai kesatuan yang
menjaga gigi tetap pada posisinya, dalam berbagai macam respons selama proses
pengunyahan.
2. Gingiva merupakan bagian jaringan periodontal gigi yang paling luar. Gingiva merupakan
bagian dari membran mukosa mulut tipe mastikasi yang melekat pada tulang alveolar
serta menutupi dan mengelilingi leher gigi.
3. Tulang alveolar merupakan bagian maksila dan mandibula yang membentuk dan
mendukung soket gigi.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 91


4. Ligamen periodontal adalah suatu jaringan konektif, padat dan berserabut yang
menempati ruang di antara sementum dan tulang alveolar. Mengelilingi leher dan akar
gigi serta berkesinambungan dengan pulpa dan gingiva.
5. Sementum adalah jaringan mengapur menyerupai tulang yang menutupi akar gigi.
Sementum tidak mengandung darah atau pembuluh getah bening, tidak memiliki
persarafan, tidak mengalami resorpsi atau remodeling fisiologis, tapi karakteristiknya
adalah terus berdeposisi sepanjang hidup.

Latihan Soal

Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!

Jaringan ini merupakan sistem fungsional jaringan yang mengelilingi gigi dan melekatkan
pada tulang rahang, dengan demikian dapat mendukung gigi sehingga tidak terlepas dari
soketnya. (Untuk soal nomor 1 dan 2)

1) Jaringan yang dimaksud di atas terdiri atas ....


A. gingiva, tulang alveolar, ligamen periodontal dan dentin
B. gingiva, tulang alveolar, ligamen periodontal dan sementum
C. gingiva, tulang periodontal, ligamen alveolar dan dentin
D. gingiva, tulang periodontal, ligamen alveolar dan sementum
E. attached gingiva, tulang periodontal, tulang alveolar dan sementum

2) Soket yang mendukung dan melindungi akar gigi dibentuk oleh ....
A. tulang kompak
B. tulang spongi
C. tulang alveolar
D. tulang periodontal
E. tulang gingiva

3) Jaringan adalah suatu jaringan konektif, padat dan berserabut, mengelilingi leher dan
akar gigi serta berkesinambungan dengan pulpa dan gingiva. Salah satu fungsi dari
jaringan ini adalah sebagai perlekatan gigi dengan tulang. (Untuk soal nomor 3 sampai
5) Jaringan yang dimaksud adalah ....
A. gingiva
B. sementum

92 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


C. dentin
D. ligamen periodontal
E. ligamen alveolar

4) Jaringan ini menempati ruang di antara ....


A. dentin dan sementum
B. sementum dan gingiva
C. sementum dan tulang alveolar
D. sementum dan ligamen periodontal
E. tulang alveolar dan ligamen periodontal

5) Serat-serat utama dari jaringan ini kecuali ....


A. kelompok transversal
B. kelompok alveolar crest
C. kelompok horizontal
D. kelompok vertikal
E. kelompok oblique

Kunci Jawaban Latihan

Untuk mengetahui keberhasilan Saudara dalam mengerjakan latihan, bacalah petunjuk


jawaban berikut!

1) B
2) C
3) D
4) C
5) D

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 93


A. PENYAKIT JARINGAN PERIODONTAL

Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu menjelaskan penyakit jaringan periodontal.
2. Mampu menyebutkan macam-macam penyakit jaringan periodontal dan penyebabnya.
3. Mampu menyebutkan macam-macam penyakit jaringan periodontal yang menyerang
gusi?
4. Mampu menyebutkan macam-macam penyakit periodontitis.
5. Mampu menjelaskan ciri seseorang terkena penyakit periodontitis.

B. PENGERTIAN PENYAKIT JARINGAN PERIODONTAL

Menurut Saputri (2018) penyakit periodontal merupakan suatu inflamasi yang terjadi
pada jaringan pendukung gigi. Penyakit periodontal yang paling sering dijumpai adalah
gingivitis dan periodontitis. Pada gingivitis, inflamasi hanya terbatas pada gingiva saja,
sedangkan pada periodontitis terjadi destruksi jaringan ikat dan tulang alveolar. Dalam upaya
melihat perkembangan penyakit periodontal diperlukan pemeriksaan yang sesuai sehingga
diagnosis yang tepat dapat ditegakkan. Pemeriksaan penyakit periodontal mencakup
pemeriksaan klinis dan penunjang (misalnya pemeriksaan radiograf).
Penyakit periodontal mengacu pada proses inflamasi maupun perubahan resesi pada
gingiva dan periodonsium. Gingivitis adalah proses inflamasi yang terjadi pada gingiva (tidak
terjadi kehilangan perlekatan). Jika tulang alveolar pendukung juga terkena proses inflamasi
pada periodonsium, maka hal ini disebut periodontitis. Istilah resesi atau gingival recession
mengacu pada kemunduran gingiva dan tulang alveolar ke arah apikal, yang seringkali terjadi
pada aspek labial tanpa adanya inflamasi klinis.

C. MACAM-MACAM PENYAKIT PERIODONTAL

1. Gingivitis
Gingivitis adalah inflamasi gingiva. Pada pemeriksaan klinis terdapat gambaran
kemerahan di margin gingiva, pembengkakan dengan tingkat yang bervariasi, perdarahan saat
probing dengan tekanan ringan dan perubahan bentuk gingival (fisiologik). Terdapat
penambahan kedalaman poket (pseudopockets/poketsemu). Biasanya pada gingivitis tidak
terdapat rasa sakit (Fedi, dkk. 2004).

94 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Sumber: [Link]

Gambar 3.8
Penyakit Jaringan Periodontal

Sebagian besar tipe gingivitis adalah yang disebabkan oleh plak, meskipun faktor
sekunder dapat juga berpengaruh terhadap manifestasi klinis dan menghasilkan subklasifikasi
sebagai berikut:
a. Gingivitis ulseratif nekrosis akut (ANUG)
ANUG adalah keadaan inflamasi gingiva yang akut, sangat nyeri, dan berkembang secara
progresif, yang dapat masuk pada tahap subakut dan kronis. Etiologi ANUG dapat
berasal dari:
1) Faktor Lokal
Misalnya oral hygiene yang jelek; plak didominansi bakteri Spirochetes,
Bacteroides, dan fusiform; arearetentif plak seperti gigi berjejal, dan restorasi
yang overhang; perokok (iritasilokal dari substansi tar.
2) Faktor Sistemik
Misalnya kesehatan umum yang jelek; fatigue atau stres psikis; merokok (nikotin
sebagai sympatheticomimetic dankemotaksin); umur; musim tahunan
(Rateitschak dkk, 1985).

Gingivitis ulseratif nekrosis dapat didiagnosis berdasarkan temuan klinis saja. Penyakit
timbul dengan tiba-tiba dan pasien mengeluhkan rasa sakit yang hebat pada gigi atau
gingivanya. Biasanya, pasien tidak dapat menentukan secara pasti tempat-tempat yang
terasa sakit. Rasa sakit lebih kuat di tempat terjadinya ulserasi. Tanda kedua yang paling
menonjol adalah perdarahan gingiva. Perdarahan sering terjadi secara spontan, pasien
sering menemukan tetesan darah pada bantalnya atau merasakan bau amis darah di

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 95


dalam mulutnya pada waktu bangun tidur. Pasien merasakan sakit yang sangat hebat
dan mengalami perdarahan gingiva pada waktu menyikat gigi atau pada waktu makan.
Pasien tidak dapat mentoleransi minuman beralkohol, minuman dingin atau panas, dan
makanan pedas.
Tanda klinis yang paling khas adalah ulserasi dan pembentukan kawah pada papilla
interdental. Sering kali, papilla gingiva rusak karena adanya jaringan nekrosis yang
tercabik, dilapisi oleh pseudomembran berwarna putih keabu-abuan. Komplikasi
sistemik seperti demam, sakit kepala, malaise, hilangnya nafsu makan, dan
limfadenopati regional dapat ada atau tidak (Fedi, dkk. 2004).
b. Gingivitis karena pengaruh hormone
Beberapa contoh gingivitis yang dimodulasi oleh hormon, antara lain:
1) Puberty gingivitis.
2) Pregnancy gingivitis.
3) Gingivitis menstrualis dan intermenstrualis.
c. Gingivitis karena pengaruh obat-obatan.
d. Gingivitis deskuamatif.

Tabel 3.1
Gambaran Klinis dan Histologis Gingivitis

Perubahan Klinis Perubahan Histologis Dasar

Perdarahan gingival Ulserasi epitel sulkus, dengan pelebaran kapiler yang


meluas di bawah permukaan
Warna kemerahan Hiperemia, disertai dilatasi dan pelebaran kapiler
Pembengkakan Infiltrasi cairan dan eksudat sel radang ke jaringan ikat

Hilangnya tonus gingival Inflamasi disertai rusaknya serabut gingival

Hilangnya stippling Edema pada jaringan ikat di bawahnya

Konsistensi keras, kaku Fibrosis karena terjadinya inflamasi kronis dalam waktu
yang lama
Poket gingival Inflamasi disertai ulserasi epitel sulkus dan pembesaran
gingiva

96 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Menurut Rateitschak (1985), secara klinis gingivitis dibagi menjadi tiga yaitu:
a. Gingivitis ringan (mild gingivitis)
Pada gingivitis ringan terdapat eritema ringan yang terlokalisasi dan sedikit edema.
Beberapa bentuk stipling hilang dan perdarahan setelah probing minimal.

Sumber: [Link]

Gambar 3.9
Gingivitis Ringan

b. Gingivitis sedang (moderate gingivitis)


Pada tipe ini terlihat eritema dan edema yang nyata, tidak terdapat stippling,
perdarahan pada sulkus setelah probing.

Sumber: [Link]
Gambar 3.10
Gingivitis Sedang

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 97


c. Gingivitis parah (severe gingivitis)
Pada tipe ini gingiva terlihat sangat merah, edematous, pembengkakan hiperplastik,
tidak ada stippling, ulserasi pada interdental, dan perdarahan spontan.

Sumber: [Link]

Gambar 3.11
Gingivitis Parah

Resesi gingiva (atrofi) adalah suatu kelainan mukogingiva. Resesi dapat terjadi karena
kelainan frenulum atau gingiva cekat.
Menurut Suproyo (2007), resesi gingiva mengakibatkan Hipersensitifitas Mudah terjadi
karies, dan Estetika yang jelek. Penyebab resesi gingiva antara lain:
a. Anatomis, yaitu tulang alveolar tidak memadai, contohnya gigi labioversi.
b. Kesalahan menyikat gigi.
c. Kesalahan alat gigi dalam mulut.
d. Akibat samping bedah peridontal.

Tanda klinis resesi gingiva juga dapat terjadi akibat cacat plat kortikal alveolar, yaitu
dehindensi dan fenestrasi. Dehidensi merupakan kehilangan tulang berbentuk celah pada plat
kortikal tulang alveolar, menyebabkan terbukanya permukaan akar. Sedangkan fenestrasi
alveolar adalah cacat berupa lubang di platkortikal, sehingga permukaan akar fasial atau
lingual terlihat.

2. Periodontitis
Menurut Fedi, dkk (2004), periodontitis adalah inflamasi jaringan periodontal yang
ditandai dengan migrasi epitel jungsional ke apikal, kehilangan perlekatan dan puncak tulang

98 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


alveolar. Pada pemeriksaan klinis terdapat peningkatan kedalaman probing, perdarahan saat
probing (di tempat aktifnya penyakit) yang dilakukan dengan perlahan dan perubahan kontur
fisiologis. Dapat juga ditemukan kemerahan dan pembengkakan gingiva. Biasanya tidak ada
rasa sakit.

Sumber: [Link]

Gambar 3.12
Periodontitis

Poket adalah pendalaman sulkus gingiva secara patologis karena penyakit periodontal.
Pendalaman sulkus dapat terjadi karena tiga hal:
a. Pergerakan tepi gusi bebas ke arah koronal, seperti pada gingivitis;
b. Perpindahan epitel jungsional ke arah apikal, bagian koronal epitel terlepas dari
permukaan gigi;
c. Kombinasi keduanya.

Poket dapat diklasifikasikan sebagai berikut:


a. Poket gingiva (pseudopocket/poket semu)
Poket gingiva adalah pendalaman sulkus gingiva sebagai akibat dari pembesaran gingiva.
Tidak terjadi migrasi epitel jungsional ke apikal atau resorpsi puncak tulang alveolar.
b. Poket supraboni
Poket supraboni adalah pendalaman sulkus gingiva disertai dengan kerusakan serabut
gingiva di dekatnya, ligamen periodonsium, dan puncak tulang alveolar, yang dikaitkan
dengan migrasi epitel jungsional ke apikal. Dasar poket dan epitel jungsional lebih
koronal dibandingkan puncak tulang alveolar. Poket supraboni dihubungkan dengan
resorpsi tulang horizontal, yaitu penurunan ketinggian puncak alveolar keseluruhan,
umumnya puncak tulang dan permukaan akar membentuk sudut siku-siku.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 99


c. Poket infraboni
Poket infraboni adalah pendalaman sulkus gingiva dengan posisi dasar poket dan epitel
jungsional terletak lebih ke apikal dibandingkan puncak tulang alveolar. Poket infraboni
dihubungkan dengan resorpsi tulang vertikal (resorpsi tulang angular), yaitu kehilangan
tulang yang membentuk sudut tajam terhadap permukaan akar.

Baik poket supraboni maupun infraboni disebabkan oleh infeksi plak; akan tetapi
terdapat perbedaan pendapat dalam menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi
terbentuknya poket infraboni. Mekanisme etiologi yang telah dikemukakan adalah:
a. Adanya pembuluh darah yang besar pada satu sisi alveolus mungkin mempengaruhi
pembentukan poket infraboni.
b. Desakan makanan yang kuat ke daerah interproksimal dapat menyebabkan kerusakan
unilateral pada perangkat pendukung gigi dan rusaknya perlekatan epitel
c. Trauma pada jaringan periodontal dapat menyebabkan kerusakan puncak ligamen
periodonsium (trauma oklusi), yang jika sudah ada inflamasi, dapat mengakibatkan
migrasi epitel jungsional ke arah daerah terjadinya kerusakan.
d. Plak yang terdapat di daerah apikal gigi-gigi berdekatan yang maju dengan kecepatan
berbeda-beda ke arah apikal dapat menyebabkan kerusakan tulang alveolar yang lebih
cepat pada salah satu sisi dari dua gigi yang bersebelahan, sehingga menyebabkan
resorpsi tulang yang berbentuk vertikal.

D. MACAM-MACAM PERIODONTITIS

1. Periodontitis Prepubertas
Tipe ini adalah tipe yang terjadi setelah erupsi gigi sulung. Terjadi dalam bentuk yang
terlokalisir dan menyeluruh. Tipe ini jarang terjadi dan penyebarannya tidak begitu luas.

2. Periodontitis Juvenil (periodontosis)


Periodontitis juvenil terlokalisir (LJP) adalah penyakit peridontal yang muncul pada masa
pubertas. Gambaran klasik ditandai dengan kehilangan tulang vertikal yang hebat pada molar
pertama tetap, dan mungkin pada insisif tetap. Biasanya, akumulasi plak sedikit dan mungkin
tidak terlihat atau hanya sedikit inflamasi yang terjadi. Predileksi penyakit lebih banyak pada
wanita dengan perbandingan wanita: pria 3:1. Bakteri yang terlibat padatipe ini adalah
Actinobacillus actinomycetemcomittans . Bakteri ini menghasilkan l eukotoksin yang bersifat
toksis terhadap leukosit, kolagenase, endotoksin, dan faktor penghambat fibroblas. Selain
bentuk terlokalisir, juga terdapat bentuk menyeluruh yang mengenai seluruh gigi-geligi.

100 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


3. Periodontitis yang Berkembang Cepat
Periodontitis yang berkembang cepat adalah penyakit yang biasanya dimulai sekitar
masa puebrtas hingga 35 tahun. Ditandai dengan resorbsi tulang alveolar yang hebat,
mengenai hampir seluruh gigi. Bentuk kehilangan yang terjadi vertikal atau horizontal, atau
kedua-duanya. Banyaknya kerusakan tulang nampaknya tidak berkaitan dengan banyaknya
iritan lokal yang ada. Penyakit ini dikaitkan dengan penyakit sistemik (seperti diabettes
melitus, sindrom Down, dan penyakit-penyakit lain), tetapi dapat juga mengenai individu yang
tidak memiliki penyakit sistemik. Keadaan ini dibagi dalam dua subklas:
a. Tipe A terjadi antara umur 14-26 tahun.
Ditandai dengan kehilangan tulang dan perlekatan epitel yang cepat dan menyeluruh.
b. Tipe B ditandai dengan kehilangan tulang dan perlekatan epitel yang cepat dan
menyeluruh pada usia antara 26-35 tahun 36.

4. Gingivo-periodontitis Ulseratif Nekrosis (NUG-P)


Gingivo-periodontitis ulseratif nekrosis adalah bentuk periodontitis yang biasanya
terjadi setelah episode berulang dari gingivitis ulseratif nekrosis akutdalam jangka waktu
lama, yang tidak dirawat atau dirawat tetapi tidak tuntas. Pada tipe ini terjadi kerusakan
jaringan di interproksimal, membentuk lesi seperti kawah, baik pada jaringan lunak mapun
tulang alveolar.

E. KUNCI KONSEP

1. Penyakit periodontal merupakan suatu inflamasi yang terjadi pada jaringan pendukung
gigi.
2. Macam-macam penyakit periodontal adalah gingivitis dan periodontitis.
3. Gingivitis adalah inflamasi gingiva sedangkan periodontitis adalah inflamasi jaringan
periodontal yang ditandai dengan migrasi epitel jungsional ke apikal, kehilangan
perlekatan dan puncak tulang alveolar.
4. Gingivitis dibagi menjadi gingivitis ringan, gingivitis sedang dan gingivitis berat.
5. Macam-macam periodontitis adalah periodontitis prepubertas, periodontitis juvenil,
periodontitis yang berkembang cepat dan Gingivo-periodontitis ulseratif nekrosis (NUG-
P).

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 101


Latihan Soal

Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!

Seorang pasien datang ke Poli Gigi Puskesmas X mengeluhkan saat menyikat gigi sering
kali berdarah. Setelah dilakukan pemeriksaan terlihat gigi geliginya kotor, gusi terlihat
berwarna merah, terdapat sedikit pembengkakan, terlihat sedikit berdarah saat gusi disentuh
namun masih terlihat stippling. (Untuk soal nomor 1 dan 2)

1) Diagnosa yang tepat pada kasus tersebut adalah ....


A. mild gingivitis
B. moderate gingivitis
C. severe gingivitis
D. pragnancy gingivitis
E. gingivitis marginalis

2) Penyakit gusi yang dialami pasien tersebut masuk dalam kategori ....
A. mild gingivitis
B. moderate gingivitis
C. severe gingivitis
D. pragnancy gingivitis
E. gingivitis marginalis

Seorang pasien berusia 13 tahun mengeluhkan gusinya bengkak dan mudah berdarah.
Saat dilakukan pemeriksaan gigi geliginya terlihat bersih, namun terlihat juga bahwa
mahkota gigi depan kanan atas patah . Setelah diwawancara pasien mengaku terjatuh
dari sepeda saat akan pergi sekolah. (Untuk soal nomor 3 sampai 5)

3) Apa yang menyebabkan gusi pasien tersebut bengkak dan mudah berdarah?
A. pengaruh hormon
B. terjatuh dari sepeda
C. malas menyikat gigi
D. sering makan manis dan lengket
E. belum diketahui penyebabnya

102 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


4) Apa diagnosa penyakit pada pasien tersebut?
A. pragnancy gingivitis
B. puberti gingivitis
C. menstrualis gingivitis
D. resorbsi akar secara patologis
E. resorbsi akar secara fisiologis

5) Apa yang mendasari diagnosa pada pasien tersebut?


A. mahkota gigi pasien tersebut tidak sempurna
B. pasien mengalami jatuh dari sepeda
C. usia pasien tersebut adalah masa pubertas
D. gigi geligi pasien tersebut bersih
E. gusi pasien tersebut bengkak dan mudah berdarah

Kunci Jawaban Latihan

Untuk mengetahui keberhasilan Saudara dalam mengerjakan latihan, bacalah petunjuk


jawaban berikut!

1) E
2) A
3) A
4) B
5) C

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 103


A. ALAT UKUR/INDEKS KESEHATAN JARINGAN PERIODONTAL

Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu mendefinisikan pengertian alat ukur.
2. Mampu mendefinisikan pengertian indeks.
3. Mampu menjelaskan fungsi pengukuran jaringan periodontal.

B. ALAT UKUR

Alat ukur adalah benda atau alat yang digunakan untuk mengetahui nilai kuantitatif dari
suatu benda atau objek. Pengukuran merupakan pemberian angka terhadap suatu objek
tertentu yang dimiliki oleh seseorang atau suatu objek tertentu yang mengacu pada aturan
dan formulasi yang jelas. Aturan atau formulasi tersebut harus disepakati oleh para ahli.
Tujuan pengukuran adalah untuk menghasilkan gambaran berupa angka-angka berdasarkan
hasil pengamatan mengenai beberapa ciri tentang suatu objek. Pengukuran memiliki dua
karakteristik utama, yaitu:
1. Penggunaan angka atau skala tertentu.
2. Menurut suatu aturan atau formula tertentu.

Alat ukur jaringan periodontal berarti alat yang digunakan untuk mengetahui status
jaringan periodontal.

C. INDEKS

Menurut Putri, dkk (2015) indeks adalah suatu angka yang menunjukkan keadaan klinis
yang didapat pada waktu dilakukan pemeriksaan, dengan cara mengamati objek yang akan
diukur sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk pengukuran tersebut. Misalnya untuk
mengukur kesehatan jaringan periodontal maka kita harus mengamati perubahan-perubahan
yang terjadi pada gingiva, ada atau tidaknya plak maupun kalkulus serta perdarahan pada
gingiva. Apabila kita sudah mengetahui nilai atau angka kesehatan jaringan periodontal kita
dapat memberikan pendidikan dan penyuluhan, motivasi dan evaluasi yaitu dengan melihat
kemajuan ataupun kemunduran status kesehatan jaringan periodontal seseorang atau
sekelompok orang.
Kita dapat membedakan penilaian apabila penilaian yang dilakukan oleh pemeriksaan
seragam. oleh karena itu pada saat pengukuran diperlukan sekali ketelitian dan keseragaman
penilaian di antara pemeriksaan sehingga diperoleh nilai yang akurat dan seragam dari setiap

104 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


pemeriksaan. Untuk mendapatkan nilai yang akurat tentunya di antara pemeriksaan harus
mempunyai pandangan yang mendalam terhadap penilaian, oleh karena itu perlu sekali
dilakukan kalibrasi terlebih dahulu.
Pengelompokan Indeks periodontal berdasarkan tujuan penggunaannya adalah sebagai
berikut:
1. Mengukur derajat inflamasi gingiva.
2. Mengukur derajat destruksi periodontal.
3. Mengukur jumlah penumpukan plak.
4. Mengukur jumlah penumpukan kalkulus.
5. Menilai kebutuhan perawatan.

Alat ukur/Indeks untuk mengukur kesehatan jaringan periodontal di antaranya adalah


CPITN, Gingival Index (GI) dan Modification Gingival Index (MGI).

D. KUNCI KONSEP

1. Alat ukur adalah benda atau alat yang digunakan untuk mengetahui nilai kuantitatif dari
suatu benda atau objek.
2. Alat ukur jaringan periodontal berarti alat yang digunakan untuk mengetahui status
jaringan periodontal.
3. Indeks adalah suatu angka yang menunjukkan keadaan klinis yang didapat pada waktu
dilakukan pemeriksaan, dengan cara mengamati objek yang akan diukur sesuai dengan
ketentuan yang berlaku untuk pengukuran tersebut.
4. Pengelompokan Indeks periodontal berdasarkan tujuan penggunaannya adalah:
Mengukur derajat inflamasi gingiva, Mengukur derajat destruksi periodontal, Mengukur
jumlah penumpukan plak, Mengukur jumlah penumpukan kalkulus dan Menilai
kebutuhan perawatan.

Latihan Soal

Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!

1) Untuk mengetahui nilai kuantitatif pemeriksaan kesehatan jaringan periodontal maka


diperlukan ....
A. Indeks
B. Pengukuran

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 105


C. Alat ukur
D. Alat ukur jaringan periodontal
E. Periodontal probe

2) Angka yang menunjukkan keadaan klinis yang didapat pada waktu dilakukan
pemeriksaan kesehatan jaringan periodontal adalah ....
A. Indeks
B. Pengukuran
C. Alat ukur
D. Alat ukur jaringan periodontal
E. Periodontal probe

3) Sebelum melakukan pemeriksaan hendaknya petugas kesehatan melakukan kegiatan


awal agar pemeriksa mempunyai pandangan yang mendalam terhadap penilaian.
Kegiatan yang dimaksud adalah ....
A. Brain storming
B. Kalibrasi
C. Simulasi
D. Role playing
E. Stimulasi

Kunci Jawaban Latihan

Untuk mengetahui keberhasilan Saudara dalam mengerjakan latihan, bacalah petunjuk


jawaban berikut!

1) D
2) A
3) B

106 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


A. CPITN (COMMUNITY PERIODONTAL INDEX FOR TREATMENT NEEDS), GI
(GINGIVAL INDEX), DAN MGI (MODIFICATION GINGIVAL INDEX)

Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu mendefinisikan pengertian CPITN.
2. Mampu menjelaskan alat ukur yang digunakan untuk melakukan pemeriksaan CPITN.
3. Mampu mendefinisikan pengertian GI.
4. Mampu mendefinisikan pengertian MGI.
5. Mampu menjelaskan perbedaan GI dan MGI.

B. CPITN (COMMUNITY PERIODONTAL INDEX FOR TREATMENT NEEDS)

Menurut Putri, dkk (2015) CPITN adalah indeks resmi yang digunakan oleh WHO untuk
mengukur kondisi jaringan periodontal serta perkiraan akan kebutuhan perawatannya
dengan menggunakan sonde khusus yaitu Periodontal Examining Probe.

Sumber: [Link]

Gambar 3.13
Periodontal Examining Probe

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 107


Sonde khusus yang dipergunakan untuk pemeriksaan CPITN ini memiliki bentuk ujung
bulat dengan diameter 0,5 mm, dengan kode warna 3,5 sampai 5,5 mm.
1. Sonde ini dimasukkan ke dalam saku gusi untuk melihat adanya perdarahan atau
kedalaman poket.
2. Alat ini dipakai juga sebagai alat peraba adanya karang gigi.
3. Bilamana dalamnya poket antara 4-5 mm, sebagian warna hitam masih terlihat.
4. Adapun kedalaman poket 6 mm atau lebih, maka seluruh bagian sonde yang berwarna
hitam sudah tidak terlihat.

WHO periodontal probe digunakan untuk menentukan dalamnya poket, merasakan


adanya karang gigi serta melihat ada tidaknya perdarahan. Caranya, tanpa menyebabkan rasa
sakit atau tidak enak probe dimasukkan ke dalam saku gigi, dengan ujungnya yang berupa bola
digeserkan mengikuti konfigurasi anatomi dari permukaan akar gigi.

Sumber: [Link]

Gambar 3.14
Cara Melalukan Probing

Tujuan Pengukuran atau Pemeriksaan CPITN adalah:


1. Mendapatkan data tentang status periodontal masyarakat.
2. Merencanakan program penyuluhan.

108 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


3. Menentukan kebutuhan perawatan (jenis tindakan, beban kerja, kebutuhan tenaga).
4. Memantau kemajuan kondisi periodontal individu.

Pemeriksaan CPITN ini menggunakan 6 sektan yaitu:


1. Sektan kanan atas : elemen gigi 1.7, 1.6, 1.5, 1.4 (sektan 1).
2. Sektan anterior (depan) atas : elemen gigi 1.3, 1.2, 1.1, 2.1, 2.2, 2.3 (sektan 2).
3. Sektan kiri atas : elemen gigi 2.4, 2.5, 2.6, 2.7 (sektan 3).
4. Sektan kiri bawah : elemen gigi 3.7, 3.6. 3.5, 3.4 (sektan 4).
5. Sektan anterior bawah : elemen gigi 3.3, 3.2, 3.1, 4.1, 4.2, 4 (sektan 5).
6. Sektan kanan bawah : elemen gigi 4.4, 4.5, 4.6, 4.7 (sektan 6).

Gigi Index CPITN terbagi dan tergantung atas tiga kelompok umur yaitu:
1. Umur 20 tahun atau lebih.
2. Umur 16 tahun sampai 19 tahun.
3. Umur kurang dari 15 tahun.

Dalam pemeriksaan CPITN perlu diperhatikan:


1. Apabila salah satu gigi geraham atau molar dan juga gigi seri atau incisivus tidak ada,
tidak diperlukan penggantian gigi.
2. Apabila dalam satu sektan tidak terdapat gigi index maka gigi dalam sektan tersebut
diperiksa semuanya dan yang diambil adalah gigi dengan skor tertinggi.
3. Umur 19 tahun ke bawah tidak dilakukan pemeriksaan Molar Kedua (M2) untuk
menghindari false pocket.
4. Umur 15 tahun ke bawah, pencatatan hanya dilakukan bila ada perdarahan daerah gusi
dan karang gigi saja.
5. Jika gigi index dan penggantinya tidak ada maka sektan diberi tanda X.

Lebih gampangnya, tentang kelompok umur, gigi indax dan skornya adalah sebagai
berikut:
1. Umur 20 tahun atau lebih, gigi index yang diperiksa adalah 1.7, 1.6, 1.1, 2.1, 2.6, 2.7, 3.7,
3.6, 3.1, 4.1, 4.6, 4.7, dengan skor 0, 1, 2, 3, 4.
2. Umur 16 tahun sampai 19 tahun, gigi index yang diperiksa adalah 1.6, 1.1, 2.6, 3.6, 3.1,
4.6, dengan skor 0, 1, 2, 3, 4.
3. Umur kurang dari 15 tahun, gigi index yang diperiksa adalah sama dengan 16-19 tahun,
dengan skor 0,1, 2.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 109


C. PENILAIAN (SKOR) UNTUK TINGKAT KONDISI JARINGAN PERIODONTAL

Nilai/Skor Kondisi Jaringan Periodontal dan Keterangan


0. Sehat Periodontal sehat, tidak ada perdarahan, karang gigi, dan poket.
1. Perdarahan-Perdarahan tampak secara langsung atau dengan kaca mulut setelah selesai
perabaan dengan sonde.
2. Adanya kalkulus Perubahan dengan sonde terasa kasar, adanya karang gigi
3. Poket 4-5 mm Sebagian warna hitam pada sonde masih terlihat dari tepi gusi pada
daerah hitam.
4. Poket 6 mm atau lebih Seluruh warna hitam pada sonde tidak terlihat, masuk ke dalam
jaringan periodontal.

Dari data status periodontal yang diperoleh dengan menggunakan kode tersebut,
perawatan dikategorikan sebagai berikut:

0. : tidak memerlukan perawatan


1. : peningkatan kebersihan mulut/penyuluhan
2. : peningkatan kebersihan mulut/penyuluhan dan skeling
3. : peningkatan kebersihan mulut/penyuluhan, skeling, kuretase, bedah periodontal

D. KELEMAHAN CPITN UNTUK MENETAPKAN KEBUTUHAN PERAWATAN

Indeks CPITN mempunyai keterbatasan-keterbatasan, dan data yang diperoleh dari


penggunaan indeks ini masih dapat disalah tafsirkan. CPITN disusun berdasarkan konsep
progres penyakit secara linear dan kontinyu. Tetapi karena adanya perubahan konsep
penyakit periodontal akhir-akhir ini, tampaknya kebutuhan untuk menghilangkan semua
poket dan anjuran untuk menghilangkan plak masih merupakan suatu pertanyaan. Apakah
gingivitis itu merupakan suatu penyakit atau sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap
plak. Hal ini ditinjau dari tingginya prevalensi gingivitis yang dilaporkan. Demikian juga banyak
dilaporkan bahwa kebanyakan gingivitis bersifat statis dan tidak berkembang menjadi
periodontitis seperti yang diperkirakan semula.
Kriteria (skoring) CPITN untuk mengkategorikan status periodontal valid, tetapi
penggunaan gigi-gigi indeks dapat menghasilkan estimasi yang rendah pada status
periodontal. Di samping itu, kalkulasi tiap sextan dan tiap individu dapat menimbulkan
estimasi yang berlebihan untuk kebutuhan perawatan, khususnya untuk kode 3 dan kode 4
(poket 4-5 mm, poket sama/lebih besar dari 6 mm).

110 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Tabel 3.2
Tabel Induk CPITN

Sumber : Putri, dkk. 2015

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 111


E. (GI) GINGIVAL INDEX

Menurut Putri, dkk (2015) gingival indeks pertama kali diusulkan pada tahun 1963 untuk
menilai tingkat keparahan dan banyaknya peradangan gusi pada seseorang atau pada subjek
di kelompok populasi besar. GI hanya menilai keradangan gusi. Menurut metode ini, keempat
area gusi pada masing-masing gigi (fasial, mesial distal dan lingual) dinilai tingkat
peradangannya dan diberi skor 0-3.

Kegunaan Gingival Indeks adalah untuk mengukur:


1. Warna gusi.
2. Kontur gusi.
3. Perdarahan gusi.
4. Luasnya keterlibatan gusi & laju alir cairan gusi.

Skor penilaian Gingival Indeks adalah sebagai berikut:


Skor 0 jika Gingival normal tidak terdapat peradangan, tidak ada perubahan warna dan
tidak ditemukan perdarahan.
Skor 1 jika terdapat peradangan ringan, ada sedikit perubahan warna, terdapat sedikit
edema, namun tidak terdapat perdarahan.
Skor 2 jika Terdapat peradangan sedang, terlihat warna kemerahan, terdapat edema,
terdapat pula perdarahan.
Skor 3 jika Terlihat warna merah terang, terdapat edema, ada ulserasi, cenderung terjadi
perdarahan spontan.

Skor penilaian dan kriteria gingival indeks


Adalah sebagai berikut:
Skor 0 : Sehat
Skor 0,1 - 1,0 : Peradangan ringan
Skor 1,2 - 2,0 : Peradangan sedang
Skor 2,1 - 3,0 : Peradangan berat

112 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Tabel 3.3
Contoh Cara Menghitung Gingival Indeks

Area Gingival yang Diukur


Gigi Indeks Mesial Fasial/Labial Distal Lingual/Palatal
16 3 1 3 1
21 1 0 1 1
24 2 1 2 0
36 3 1 3 3
41 1 1 1 1
44 2 1 2 0
Total 12 5 12 6
Sumber: Putri, dkk. 2015

F. MODIFIKASI GINGIVAL INDEX (MGI)

Pada modifikasi gingival indeks (MGI), terdapat dua perbedaan dengan GI yaitu:
1. tidak ada tindakan probing untuk menilai ada atau tidaknya perdarahan;
2. adanya definisi baru mengenai gingivitis ringan dan gingivitis sedang.

Pertimbangan dikembangkannya MGI yang menghilangkan tindakan probing adalah


karena probing dianggap dapat mengganggu plak dan mengiritasi gingival. Indeks yang
bersifat non invasif ini akan memungkinkan pengulangan penilaian gusi sehingga dapat
dilakukan intra dan interkalibrasi di antara para penilai. Juga, pengusul indeks mengharapkan
agar indeks ini lebih sensitif sehingga dapat ditentukan perubahan kecil pada tingkat
peradangan gusi.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 113


Skor penilaian untuk Modifikasi Gingival Index
Skor 0: Tidak terdapat peradangan gingiva.
Skor 1: Terdapat peradangan ringan yaitu ada sedikit perubahan warna, ada sedikit
perubahan tekstur sebagian margin atau papila.
Skor 2: Terdapat peradangan ringan yaitu ada sedikit perubahan warna, terdapat
perubahan tekstur pada keseluruhan unit margin dan papilla gingiva.
Skor 3: Terdapat peradangan sedang yaitu terlihat gingiva mengkilat, warna
kemerahan, ada edema, hipertrofi unit margin atau papilla gingiva.
Skor 4: Terdapat peradangan berat yaitu terlihat warna merah terang, edema,
hipertrofi, perdarahan spontan, dan ulserasi atau kongesti.

G. KUNCI KONSEP

1. CPITN atau Community Periodontal Index for Treatment Needs adalah indeks resmi yang
digunakan oleh WHO untuk mengukur kondisi jaringan periodontal serta perkiraan akan
kebutuhan perawatannya dengan menggunakan sonde khusus yaitu Periodontal
Examining Probe. Caranya, tanpa menyebabkan rasa sakit atau tidak enak probe
dimasukkan ke dalam saku gigi, dengan ujungnya yang berupa bola digeserkan
mengikuti konfigurasi anatomi dari permukaan akar gigi.
2. GI hanya menilai keradangan gusi. Menurut metode ini, keempat area gusi pada masing-
masing gigi (fasial, mesial distal dan lingual) dinilai tingkat peradangannya dan diberi
skor 0-3. Pertimbangan dikembangkannya MGI yang menghilangkan tindakan probing
adalah karena probing dianggap dapat mengganggu plak dan mengiritasi gingival skor
penilaian MGI 0-4.

Latihan Soal

Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!

Petugas kesehatan puskesmas X mengadakan pemeriksaan kondisi jaringan peridontal.


Pemeriksaan dilakukan di pos lansia di wilayah kerja puskesmas, total warga yang akan
dilakukan pemeriksaan kurang-lebih 560 warga. (Untuk soal nomor 1 dan 2)

114 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


1) Apa alat yang digunakan untuk melakukan pemeriksaan tersebut?
A. periodontal probe
B. examining probe
C. WHO examining
D. sonde khusus
E. eksplorer

2) Bagaimana cara melakukan pemeriksaan menggunakan alat tersebut?


A. alat dimasukkan ke dalam ruang interdental dengan tekanan sedang
B. alat ditekan pada gusi dan dilihat apakah ada pendarahan atau tidak
C. alat dimasukkan ke dalam saku gusi dengan tekanan yang tidak menyebabkan rasa
sakit
D. alat diraba pada permukaan dengan tekanan yang tidak menyebabkan rasa sakit
E. alat dimasukkan pada gingival margin dengan kekuatan ringan

Petugas kesehatan sedang melakukan pemeriksaan kesehatan gusi pada seorang pasien
berusia 43 tahun. Pada saat dilakukan pemeriksaan terdapat peradangan sedang,
terlihat warna kemerahan, terdapat edema, terdapat pula perdarahan. (Untuk soal
nomor 3 sampai 5)

3) Dari hasil pemeriksaan tersebut skor yang tepat adalah ....


A. 0
B. 1
C. 2
D. 3
E. 4

4) Setelah pemeriksaan telah dilakukan skor akhir yang didapat adalah 1,5, maka kriteria
gingivanya adalah ....
A. sehat
B. perdarahan
C. peradangan ringan
D. peradangan sedang
E. peradangan berat

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 115


5) Pemeriksaan kesehatan gusi tersebut tidak dilakukan tindakan probing, maka
pemeriksaan tersebut adalah ....
A. GI
B. MGI
C. OHI-S
D. CPITN
E. DI

Kunci Jawaban Latihan

Untuk mengetahui keberhasilan Saudara dalam mengerjakan latihan, bacalah petunjuk


jawaban berikut!

1) A
2) C
3) C
4) C
5) B

116 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Daftar Pustaka
Fedi, P.F., Vernino, A.R., Gray, John L. (2000). Silabus Periodonti. Jakarta: EGC.

Manson, J.D. dan Eley, B.M. (1993). Buku Ajar Periodontiti. Jakarta: Hipokrates.

Putri, Megananda Hiranya, dkk. (2015). Ilmu Pencegahan Penyakit Jaringan Keras dan
Jaringan Pendukung Gigi. Jakarta: EGC.

Rateitschak, K.H, dkk. (1985). Colv Atlasuf Periodontity. Georg ThiemeVerlog Sturagat. New
York.

Saputri, Dewi. (2018). Gambaran Radiografi pada Penyakit Jaringan Periodontal. Jurnal of
Syiah Kuala Dentistry Society. Vol 3.

Suproyo, H. (2007). Bahan Ajar Penatalaksanaan Penyakit Periodontal. Fakultas Kedokteran


Gigi Universitas Gajah Mada: Yogyakarta.

Darby, M, Walsh, M. (2015). Dental Hygiene: Theory and Practice, 4th Edition. Elsevier
Saunders, US, St. Louis, Missouri.

Wilkins, E. (2017). Clinical Practice of Dental Hygiene, 12th Edition. Wolters Kluwer, US,
Philadelphia.

Darby, M. (2012). Mosby’s Comprehensive Review of Dental Hygiene, 7th Edition. Elsevier
Mosby, US, St. Louis, Missouri.

Noble, S. (2012). Clinical Textbook of Dental Hygiene and Therapy, 2nd Edition. Wiley-
Blackwell, UK, West Sussex.

Thomson, Evelyn M. (2013). Case Study in Dental Hygiene, 3rd Edition. Pearson Education, US,
New Jersy.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 117


Logothetis, Demetra D. (2012). Local Anesthesia for The Dental Hygienist. Elsevier Mosby, US,
St. Louis, Missouri.

Prajer, R, Grosos, G. (2011). Dental Hygienist's Chairside Pocket Guide. F.A. Davis Company,
US, Philadelphia.

118 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Bab 4
PEWARNAAN PADA GIGI
Yonan Heriyanto, [Link].T., [Link].
Marlindayanti, [Link], [Link].

Pendahuluan

A. PEMBAGIAN PEWARNAAN PADA GIGI

Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu mendefinisikan pewarnaan pada gigi.
2. Mampu menjelaskan pengertian stain ekstrinsik dan intrinsik.
3. Mampu menjelaskan contoh stain ekstrinsik.
4. Mampu menjelaskan pengertian stain eksogen dan stain endogen.
5. Mampu menjelaskan contoh stain endogen.

B. PENGERTIAN PEWARNAAN PADA GIGI

Menurut Putri, dkk (2015) stain (pewarnaan pada gigi) adalah deposit berpigmen pada
permukaan gigi. Stain merupakan masalah estetik dan tidak menyebabkan peradangan pada
gingiva. Penggunaan produk tembakau, teh, kopi, obat kumur tertentu dan pigmen di dalam
makanan menyebabkan terbentuknya stain. Stain akibat pemakaian produk-produk tersebut
menghasilkan permukaan yang kasar sehingga mudah ditempeli oleh sisa makanan dan
kuman yang akhirnya membentuk plak. Apabila tidak dibersihkan, plak akan mengeras dan
membentuk karang gigi (calculus) yang dapat merambat ke akar gigi, akibatnya gusi mudah
berdarah, gigi gampang goyah, dan mudah tanggal.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 119


Stain adalah perubahan warna yang ditemukan pada permukaan luar gigi dan biasanya
berasal lokal, misalnya noda tembakau yang menyebabkan gigi berwarna gelap. Stain pada
gigi dapat terjadi dengan 3 cara:
1. Stain melekat langsung pada permukaan.
2. Stain mengendap di dalam kalkulus dan deposit lunak, dan
3. Stain bergabung dengan struktur gigi atau material restoratif.

Gangguan yang diakibatkan oleh stain terutama adalah masalah estetik. Endapan stain
yang menebal dapat membuat kasar permukaan gigi yang selanjutnya akan menyebabkan
penumpukan plak sehingga mengiritasi gusi didekatnya. Stain tertentu, mengindikasikan
dilakukannya evaluasi kebersihan mulut dan perawatan yang berkaitan dengan kebersihan
mulut.

Sumber: [Link]

Gambar 4.1
Stain

Pewarnaan yang diakibatkan oleh noda yang terdapat di dalam email dan dentin.
Menurut Mangoen Prasodjo (2004) pewarnaan yang mengalami diskolorasi atau perubahan
warna yang terjadi semasa pembentukan struktur gigi. Perubahan warna dapat
diklasifikasikan sebagai ekstrinsik dan intrinsik, perubahan warna ekstrinsik ditemukan pada
permukaan luar gigi dan biasanya berasal dari lokal, misalnya noda tembakau yang
menyebabkan warna gigi menjadi coklat ke kuning-kuningan sampai hitam, pewarnaan karena
makanan dan minuman menyebabkan gigi menjadi gelap, pewarnaan karena nitrat perak,
bercak kehijauan yang dihubungkan dengan membran Nasmyth pada anak-anak. Perubahan

120 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


warna intrinsik adalah pewarnaan gigi yang diakibatkan oleh noda yang terdapat di dalam
email dan dentin, penyebabnya adalah penumpukan atau penggabungan bahan-bahan di
dalam struktur gigi misalnya stain tetrasiklin, yang bila masuk ke dalam dentin akan terlihat
dari luar karena transluensi email. Perubahan warna gigi dapat dihubungkan dengan periode
perkembangan gigi misalnya pada dentiogenesis imperfekta atau setelah selesai
perkembangan gigi yang disebabkan oleh pulpanekrosis. Penyebab perubahan warna gigi
dapat terjadi pada saat atau setelah terbentuknya email dan dentin. Penyebab noda alamiah
perubahan warna gigi disebabkan oleh sejumlah noda pada permukaan gigi setelah gigi erupsi.
Noda alamiah mungkin berada pada permukaan atau berikatan di dalam struktur gigi, kadang-
kadang diakibatkan pada efek email atau karena cidera trauma.

C. KLASIFIKASI STAIN

Klasifikasi berdasarkan lokasi


1. Stain Ekstrinsik
Stain ekstrinsik terjadi pada permukaan luar gigi dan dapat dihilangkan dengan prosedur
menyikat gigi, skaling dan/atau poles.
a. Penyebab Stain Ekstrinsik
1) Stain langsung disebabkan oleh kromogen organik yang melekat pada partikel.
Warna stain yang dihasilkan berasal dari warna asli kromogen tersebut. Merokok
dan mengunyah tembakau diketahui menyebabkan stain jenis ini, demikian juga
dengan beberapa jenis minuman seperti teh dan kopi.
2) Stain tidak langsung, dihasilkan dari inteaksi kimia antara komponen penyebab
stain dengan permukaan gigi. Stain ini berhubungan dengan antiseptik kationik
dan garam metal.
b. Macam-macam Stain Ekstrinsik
Macam-macam stain ekstrinsik yang sering ditemukan secara klinis dijelaskan sebagai
berikut:
1) Yellow stain
Secara klinis terlihat sebagai plak yang mengalami pewarnaan kuning-kuningan.
Stain ini dihubungkan dengan keberadaan plak. Dapat terjadi di semua usia, dan
lebih banyak dijumpai pada individu yang mengabaikan kebersihan mulutnya.
Penyebabnya biasanya berasal dari pigmen makanan.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 121


Sumber: [Link]

Gambar 4.2
Yellow Stain

2) Brown Stain
Brown stain merupakan suatu pelikel tipis, translusen, biasanya bebas kuman yang
mengalami pigmentasi. Stain terjadi pada orang yang kurang baik menyikat giginya
atau menggunakan pasta gigi yang aksi pembersihannya kurang baik. Sering
dijumpai pada permukaan bukal gigi molar rahang atas dan permukaan lingual
insisif rahang bawah.

Sumber: [Link] [Link]

Gambar 4.3
Brown Stain

122 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Pelikel dapat menyerap bermacam-macam warna beberapa bahan kimiawi, seperti :
a. Stannous Fluoride, yang memberi pewarnaan cokelat muda, kadang kala kekuningan,
yang terbentuk pada pelikel setelah penggunaan gel stannous fluoride yang berulang,
atau setelah aplikasi topical. Brown stain berasal dari pembentukan oksida stannous
sulfide atau oksida timah cokelat dari reaksi ion timah di senyawa fluoride.
b. Bahan makanan seperti teh, kopi, dan saus kedele sering berdampak pada pembentukan
stain pelikel cokelat, namun jika pemeliharaan kebersihan mulut baik, stain yang timbul
tidak terlalu banyak
c. Obat kumur anti-plak, seperti penggunaan chlorhexidin dan alexidine, juga member
pewarnaan cokelat. Pewarnaan lebih nyata terjadi pada bagian proksimal dan
permukaan lain yang sulit dijangkau sikat gigi. Stain cenderung lebih muda terbentuk
dengan akar yang terbuka dibandingkan di email. Pewarnaan gigi disini adalah efek
samping penggunaan obat kumur tersebut.

a. Tobacco Stain
Tembakau menyebabkan deposit yang berwarna cokelat tua atau hitam dan melekat
erat serta menyebabkan perubahan warna pada gigi. Staining dari tembakau ini disebabkan
oleh karena pembakaran dan adanya penetrasi air tembakau ke dalam ceruk dan fisura email
dan dentin. Terjadinya stain ini tidak selamanya bergantung pada kehebatan merokok
seseorang tetapi juga bergantung pada kutikula yang telah terlebih dahulu terbentuk yang
akan melekatkan produk bakteri ke permukaan gigi.

Sumber: [Link]

Gambar 4.4
Tobacco Stain

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 123


b. Black Stain
Stain ini biasanya terjadi berupa suatu garis hitam yang tipis pada permukaan oral dan
vestibular gigi dekat gingival margin dan berupa bercakan yang difus pada permukaan
proksimal.
Black stain melekat erat, ada kecenderungan terbentuk kembali setelah dibersihkan.
Lebih sering terjadi pada wanita dan dapat terjadi pada orang dengan oral hygiene yang baik.
Penyebabnya adalah bakteri kromogenik.

Sumber: [Link]

Gambar 4.5
Black Stain

c. Green Stain
Stain yang berwarna hijau atau kuning kehijau-hijauan yang biasa dijumpai pada anak-
anak. Green stain dianggap sebagai kutikula email yang, mengalami pewarnaan, tetapi
anggapan ini belum dapat dibuktikan dengan jelas. Green stain biasanya terjadi pada
permukaan labial gigi anterior rahang atas pada pertengahan gingival. Green stain dapat
terjadi pada semua umur, tetapi lebih sering terjadi pada anak-anak. Anak laki-laki lebih sering
daripada anak perempuan.

124 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Sumber: [Link]

Gambar 4.6
Green Stain

Stain ini dapat dikumpulkan dari gigi permanen. Komposisinya terdiri atas:
1) Bakteri kromogenik dan fungi.
2) Hemoglobin yang mengalami dekomposisi, dan
3) Elemen-elemen anorganik termaksud kalsium, kalium, natrium, silikon, magnesium,
fosfor dan elemen lainnya dalam jumlah kecil.

Green stain adalah akibat dari kebersihan mulut yang terabaikan. Bakteri kromogenik,
dan pendarahan gingival. Faktor predisposisinya adalah terdapatnya tempat retensi dan
proliferasi bakteri kromogenik seperti plak dan debris makanan. Adapun bahan-bahan lain
yang dapat menyebabkan pewarnaan berwarna hijau adalah:
1) Bahan-bahan yang mengandung klorofi.
2) Debu industri yang merupakan logam, dan
3) Beberapa jenis obat-obatan, termasuk merokok akan menimbulkan pewarnaan hijau
keabu-abuan.

d. Orange Stain
Orange stain lebih jarang dijumpai dibandingkan dengan green stain atau brown stain.
Terbentuknya oleh mikroorganisme kromogenik, seperti serratia marcescense dan
flavorbacterium lutesconts.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 125


e. Metalic Stain
Metal dapat masuk ke dalam rongga mulut dalam bentuk debu yang terisap oleh buruh
industri atau secara sistemik pada pemberian obat yang mengandung metal.

Sumber: [Link] [Link]

Gambar 4.7
Metalic Stain

2. Stain Intrinsik
Stain instrinsik terjadi di dalam subtansi gigi dan tidak dapat dihilangkan dengan teknik
skaling maupun poles. Contoh sumber luar yang dapat menyebabkan stain instrinsik adalah
bahan tambal amalgam, obat-obatan perawatan pulpa dan obat-obatan. Perak amalgam
dapat memberi warna abu-abu kehitaman pada struktur gigi di sekitar restorasi, ion-ion logam
berpindah dari tambalan amalgam ke dalam email dan dentin. Ion-ion perak, timah, dan
merkuri akan berkontak dengan debris pada batas gigi dan tambalan dan membentuk sulfide,
yang dapat menyebabkan korosi (karat).
Begitu pula copper amalgam yang digunakan untuk menambal gigi sulung dapat
memberi warna kehijau-hijauan. Beberapa bahan yang digunakan untuk perawatan
endodontik juga dapat mewarnai gigi. Perak nitrat memberi warna kehitaman, minyak volatile
memberi warna cokelat kekuningan, lodine pekat, kecokelatan, Aureomycin, kuning, dan
bahan pengisi saluran akar yang mengandung perak memberi warna hitam.
Obat-obatan lain seperti aplikasi topikal dengan stannous fluoride dapat memberikan
pewarnaan cokelat muda hingga cokelat tua oleh karena pembentukan timah sulfide.
Pewarnaan ini sering berlokasi di ceruk dan fisura oklusal gigi-gigi posterior dan
sepertiga servikal dilabial gigi-gigi anterior, di lesi karies dan pre karies, dan ditambalan

126 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


amalgam Amoniak perak nitrat digunakan untuk menanggulangi gigi yang sensitif, seperti
sementum yang terbuka atau untuk menghambat demineralisasi pada pencegahan karies gigi.
Obat ini dapat menyebabkan pewarnaan cokelat tua hingga hitam.

D. KLASIFIKASI STAIN BERDASARKAN SUMBERNYA

1. Stain eksogen
Stain eksogen berkembang atau berasal dari sumber-sumber di luar gigi, stain eksogen
dapat berupa ekstrinsik dan berada pada permukaan luar gigi atau intrinsik dan menyatu
dengan stuktur gigi.

a. Merokok
Merokok merupakan masalah kesehatan masyarakat yang dapat mengakibatkan
beberapa penyakit diantaranya penyakit periodontal (Alfi, Satiti. 2009). Dalam asap rokok
yang dihisap mengandung zat kimia beracun yang terdiri dari komponen gas (85%) dan
partikel. Komponen gas asap rokok adalah karbonmonoksida, amoniak, asam hidrosianat,
nitrogen oksida dab formaldehid. Partikelnya berikut tar, indol, nikotin, timah hitam, karbarzol
dan kresol. Zat-zat ini beracun, mengiritasi dan karsinogen. Penelitian yang dilakukan oleh
Macgregor, Edgar dan Greenwood, menemukan bahwa kecenderungan tumbuhnya plak tidak
berbeda antara perokok dan bukan perokok, terdapat berbagai macam zat beracun antara
lain Tar yang dapat diendapkan pada permukaan gigi dan akar gigi sehingga permukaan gigi
menjadi kasar dan mempermudah perlekatan plak.

b. Minuman Berwarna
Minuman merupakan bahan yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup, yang berguna
bagi kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu, kualitas minuman harus terjamin agar
konsumen sebagai pemakaian produk minuman dapat terhindar dari penyakit akibat minum
terlebih minuman yang mengandung bahan tambahan seperti bahan pengawet. Definisi
minuman adalah segala sesuatu yang dapat dikonsumsi dan dapat menghilangkan rasa haus.
Minuman pada umumnya berbentuk cair, namun ada pula berbentuk padat seperti es krim
atau es lilin. Minuman kesehatan adalah segala sesuatu yang dikonsumsi yang dapat
menghilangkan rasa haus dan dahaga uga mempunyai efek menguntungkan terhadap
kesehatan (Winarti, 2006). Beberapa minuman berwarna antara lain:

c. Teh
Teh adalah minuman yang mendunia, hampir semua orang mengenal dan
mengkonsumsinya secara rutin. Salah satu jenisnya adalah teh hitam yang kaya akan tannin,

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 127


oleh sebab itu minuman ini cukup agresif dapat menimbulkan stain, melebihi kopi yang kaya
akan kromogen tapi rendah akan tannin. Dikatakan bahwa teh hijau, teh herbal, dan teh putih
(white tea) tidak seagresif teh hitam dalam menodai gigi. Meski belum terlalu terkenal, teh
putih juga banyak khasiatnya, dan didapat dari pucuk-pucuk daun teh muda (Camelia sinensis)
yang belum terbuka, tidak mengalami proses oksidasi dan dipetik sebelum waktunya

d. Kopi
Kopi (coffea spa) adalah spesies tanaman berbentuk pohon dan termaksud dalam family
rubiaceae dan genus coffea. Tanaman ini tumbuh tegak, bercabang dan dapat mencapai tinggi
12 m. Tanaman kopi terdiri dari jenis coffea Arabica, coffea robusta dan coffea liberica.
Tanaman kopi merupakan komoditas ekspor yang mempunyai nilai ekonomis yang relative
tinggi di pasaran dunia, di samping merupakan salah satu komoditas unggulan yang
dikembangkan di Indonesia. Sudah hampir tiga abad kopi di usahakan penanamannya di
Indonesia untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di dalam negeri dan luar negeri. Kopi
merupakan salah satu minuman yang paling digemari banyak orang. Dari setiap orang di
dunia, salah satunya adalah peminum kopi. Kopi memang sungguh nikmat jika diminum baik
pagi hari, atau saat malam hari ketika pekerjaan menumpuk. Minum kopi ternyata dapat
meningkatkan risiko terkena stroke. Kafein dalam kopi dapat menyebabkan insomnia, mudah
gugup, sakit kepala, merasa tegang dan cepat marah. Kafein dan produk terkait, menyebabkan
noda gigi. Kafein juga memiliki lapisan plak yang ada pada permukaan gigi akan ternoda sambil
minum kopi, yang mengarah ke noda kopi ekstrinsik, yang dapat diobati dengan mudah.
Namun terkadang, orang yang kecanduan produk kafein, seperti kopi, mungkin mendapatkan
noda kopi pada gigi selama jangka waktu yang panjang, yang lebih sulit untuk mengobatinya.
Orang-orang yang telah memiliki gigi berwarna restorasi dilakukan, terutama pada gigi depan
mereka, berada pada risiko lebih besar bagi noda untuk berkembang.

e. Minuman Ringan
Minuman ringan (Soft Drink) Coca-Cola diciptakan oleh Dr. John S. Pemberton, seorang
ahli farmasi dan ahli minuman dari Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, pada bulan Mei 1886. Ia
mencampurkan suatu ramuan khusus dengan gula murni menjadi sirup yang beraroma segar
dan berwarna karamel, kemudian diaduk bersama air murni. Minuman ini kemudian dikenal
dengan nama Coca-Cola. Pada awalnya penjualan minuman ini dilakukan dengan
menempatkan minuman ringan (Soft Drink) tersebut di dalam guci besar yang diletakkan
ditempat-tempat strategis. Namun adanya peningkatan jumlah pembelian menyebabkan
penggunaan guci tersebut digantikan dengan kemasan botol yang lebih praktis.
The Coca-Cola Company didirikan tahun 1892 oleh Asa G. Chandler di Atlanta yang juga
mempatenkan merek dagang Coca-Cola. Perusahaan ini merupakan induk dari semua

128 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


perusahaan pembotolan yang memiliki merek dagang Coca-Cola di seluruh Negara didunia
dengan menyediakan bahan baku konsentratnya. Mulai tahun 1893, The Coca-Cola Company
membangun pabrik sirupnya diluar Atlanta.
Presiden The Coca-Cola Company (1919-1955), Robert W. Woudruff, merupakan orang
yang pertama kali mencetuskan gagasan agar minuman Coca-Cola tersebut dapat dinikmati
tidak hanya oleh orang Amerika saja, tetapi juga untuk dikonsumsi oleh seluruh bangsa di
dunia. Untuk merealisasikan gagasan tersebut, maka pada tahun 1929 didirikan The Coca-Cola
Export Cooperation, yaitu perusahaan yang menangani proses penjualan minuman ke seluruh
pelosok negeri di dunia dengan ciri mutu, rasa, dan kesegaran yang sama. Di Indonesia, Coca-
Cola mulai dikenal pada tahun 1927 melalui De Nederland Indische Mineral Water Fabrieck
yang membotolkannya untuk pertama kali di Batavia.
Selanjutnya perusahaan tersebut diambil alih oleh pedagang Indonesia dan berubah
nama menjadi The Indonesian Bottles Ltd. N. V. (IBL) yang berstatus perusahaan nasional.
Fanta lahir di Jerman tahun 1941. Tahun 1955, Fanta dijual di Italia, lalu di Australia. Di tahun
1960 sudah ada 36 negara di dunia yang menjual Fanta, dan di tahun 1969, Fanta Orange
sudah jadi minuman rasa buah yang paling laku di dunia seiring dengan makin banyaknya
negara di dunia yang ngejual Fanta. Rasa buahnya juga makin variatif. Penjualan Fanta makin
hebat, di tahun 1994, Fanta sudah jadi brand The Coca-Cola Company paling laku di dunia. Di
Indonesia, Fanta lahir tahun 1972 dengan rasa Strawberry. Sekarang Fanta sudah punya
banyak tambahan rasa buah seperti Orange, Oranggo, Elektrik Melon, Pineapple dan Fruit
Punch. Kemasannya pun beragam, ada dalam kemasan botol kaca, ada juga dalam kemasan
kaleng dan botol plastik. Coca-cola memiliki tingkat pH asam tinggi 2,52.
Tingkat pH dalam Coca-Cola mungkin rendah tetapi tingkat fosfat dalam Coca-Cola
adalah pada tingkat yang sangat tinggi. Tingkat fosfat menyebabkan penurunan kalsium dan
keluar melalui seluruh tubuh. Coca-Cola memiliki zat di dalamnya yang menyebabkan alergi
reaksi. Banyak zat ini digunakan dalam penisilin dan obatobatan lainnya. Beberapa masalah
kesehatan seperti kerusakan gigi (korosi), kekurangan gizi, dan banyak gangguan saraf
disebabkan karena terlalu sering mengkonsumsi minuman ringan.

2. Stain endogen
Stain endogen berkembang atau berasal dari gigi. Stain endogen selalu bersifat intrinsik
dan biasanya mewarnai dentin yang terefleksi pada email. Stain yang dapat menyatu dengan
struktur gigi dari arah dalam dan dihubungkan dengan periode perkembangan gigi. Dapat
berupa:

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 129


a. Gigi yang Pulpanya Non-Vital
Tidak semua gigi yang pulpanya non-vital memberi pewarnaan. Prosedur endodontik
yang tepat dapat mencegah terjadinya pewarnaan pada gigi. Gambaran klinis jenis pewarnaan
bervariasi, stain dapat berwarna kuning mudakecoklatan, abu-abu muda, merah kecokelatan,
cokelat gelap, abu-abu kehitaman atau hitam.
Pewarnaan disini terjadi karena darah dan elemen jaringan pulpa dipecah akibat adanya
hemoragi di dalam kamar pulpa. Perawatan saluran akar, atau nekrosis dan dekomposisi
jaringan pulpa. Selanjutnya pigmen hasil dari dekomposisi hemoglobin dan jaringan pulpa
berpenetrasi ke dalam tubuli dentin.

(Sumber: [Link])

Gambar 4.8
Gigi dengan Pulpa Non Vital

3. Pewarnaan Tetrasiklin
Antibiotik tetrasiklin digunakan secara luas untuk melawan bermacam-macam infeksi.
Antibiotik ini mempunyai afinitas dengan jaringan tubuh yang termineralisasi dan diresorbsi
oleh tulang dan gigi. Antibiotik ini dapat menembus plasenta dan masuk ke dalam sirkulasi
darah janin. Pewarnaan pada gigi anak terjadi jika obat ini diberikan kepada ibu yang hamil
trisemester ketiga atau bayi atau anak usia dini. Pewarnaan yang terjadi pada gigi dapat
berwarna hijau muda hingga kuning tua, atau abu-abu kecokelatan. Pewarnaan yang terjadi
bergantung pada dosis obat, lamanya waktu mengonsumsi antibiotik, dan jenis tetrasiklin.
Pewarnaan dapat bersifat generalist ( menyeluruh) atau terbatas.

130 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Sumber: [Link]

Gambar 4.9
Stain Akibat Tetrasiklin

4. Perkembangan Gigi yang tidak Sempurna


Gangguan perkembangan gigi dapat disebabkan oleh faktor-faktor genetika yang
abnormal atau pengaruh lingkungan selama perkembangan gigi, gangguan yang bersifat
herediter karena faktor genetik dapat berupa:
a. Amelogenesis imperfekta, dimana sebagian atau seluruh email hilang karena gangguan
terhadap ameloblas.
b. Dentinogenesis Imperfekta (dentin opalescent), dentin tidak normal akibat gangguan
pada lapisan odontoblas selama perkembangan gigi. Gigi terlihat translusen atau
opalesen dengan warna yang bervariasi dari abu-abu hingga kecokelatan.

Pada hipoplasia email, gangguan, pada ameloblas terjadi dalam jangka waktu pendek.
Sifatnya dapat sistemik hipoplasia. Gambaran klinis kondisi ini adalah adanya white spot atau
lubang-lubang yang menyertai gigi yang bererupsi. Dengan berjalannya waktu. White spot
tersebut dapat terwarnai oleh pigmen makanan atau subtansi lain yang masuk ke dalam
mulut. Fluorisasi gigi awalnya disebut brown stain. Proses terjadinya fluorosis gigi adalah
sebagai berikut:
a. Terjadi hipomineralisasi email akibat terlalu banyak menelan ion fluoride dari air minum
(lebih dari 2 ppm) selama periode mineralisasi. Perubahan bentuk email adalah akibat
dari keracunan pada saat ameloblas.
b. Ketika gigi erupsi, terlihat white spot atau daerah-daerah yang kemudian akan terwarnai
oleh pigmen oral dan tampak cokelat muda atau cokelat tua.
c. Pengaruh yang lebih parah dari kelebihan fluoride selama perkembangan gigi adalah
terbentuknya retakan atau lubang-lubang pewarnaan berpusat di sini.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 131


5. Gangguan Sistemik Lain
Beberapa jenis pewarnaan gigi dapat juga disebabkan oleh pigmen yang beredar melalui
pembuluh darah. Pigmen yang bersirkulasi melalui pembuluh darah ditransmisikan ke dalam
dentin dari kapiler pembuluh darah di dalam pulpa. Contohnya, ikterus yang berlangsung lama
pada periode bayi dapat menyebabkan giginya nanti berwarna kekuningan atau kehijauan.
Eritroblastosis fetalis (inkompatibilitas Rhesus) dapat memberi pewarnaan hijau, cokelat atau
kebiru-biruan.

E. KUNCI KONSEP

1. Stain (pewarnaan pada gigi) adalah deposit berpigmen pada permukaan gigi. Stain
merupakan masalah estetik dan tidak menyebabkan peradangan pada gingiva.
Gangguan yang diakibatkan oleh stain terutama adalah masalah estetik.
2. Endapan stain yang menebal dapat membuat kasar permukaan gigi yang selanjutnya
akan menyebabkan penumpukan plak sehingga mengiritasi gusi di dekatnya.
3. Stain berdasarkan lokasi dibagi atas; stain ekstrinsik yaitu terjadi pada permukaan luar
gigi dan dapat dihilangkan dengan prosedur menyikat gigi, skaling dan/atau poles; dan
stain intrinsik yaitu terjadi di dalam subtansi gigi dan tidak dapat dihilangkan dengan
teknik skaling maupun poles.
4. Sedangkan stain berdasarkan sumbernya dibagi atas; stain eksogen berkembang atau
berasal dari sumber-sumber di luar gigi, stain eksogen dapat berupa ekstrinsik dan
berada pada permukaan luar gigi atau intrinsik dan menyatu dengan struktur gigi; dan
stain endogen yaitu berkembang atau berasal dari gigi dan selalu bersifat intrinsik dan
biasanya mewarnai dentin yang terefleksi pada email.

Latihan Soal

Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!

Seorang petani berusia 45 tahun mempunyai kebiasaan merokok. Setelah diperiksa gigi
geliginya terdapat kotoran berwarna kehitaman yang disebabkan oleh bakteri kromogenik.
Hal yang sama juga terjadi pada anak sulungnya berusia 23 tahun yang juga mempunyai
kebiasaan merokok, terdapat kotoran berwarna kehitaman pada giginya, tetapi setelah
dilakukan pemeriksaan tidak terdapat bakteri kromogenik pada rongga mulutnya. (Untuk soal
nomor 1 sampai 3)

132 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


1) Pewarnaan yang terjadi pada petani tersebut adalah ....
A. Yellow stain
B. Brown stain
C. Black stain
D. Tobacco stain
E. Metalic stain

2) Sedangkan pewarnaan yang terjadi pada anak sulung petani tersebut adalah ....
A. Yellow stain
B. Brown stain
C. Black stain
D. Tobacco stain
E. Metalic stain

3) Berdasarkan lokasinya stain pada kedua kasus di atas termasuk ....


A. Stain ekstrinsik
B. Stain intrinsik
C. Stain eksogen
D. Stain endogen
E. Stain internal

Seorang pasien berusia 39 tahun telah melakukan perawatan penambalan gigi


menggunakan amalgam saat usianya 30 tahun. Saat dilakukan pemeriksaan, tambalan
terlihat baik namun pasien mengeluhkan terjadi perubahan warna pada gigi yang
ditambal tersebut. (Untuk soal nomor 4 dan 5)

4) Berdasarkan kasus di atas, pewarnaan pada gigi pasien yang ditambal adalah
berwarna ....
A. Abu-abu
B. Hitam
C. Coklat
D. Abu-abu kehitaman
E. Coklat kehitaman

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 133


5) Berdasarkan lokasinya stain pada kedua kasus di atas termasuk dalam ....
A. Stain ekstrinsik
B. Stain intrinsik
C. Stain eksogen
D. Stain endogen
E. Stain eksternal

Kunci Jawaban Latihan

1) C
2) D
3) A
4) D
5) B

134 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


A. EFEK TEMBAKAU

Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu menyebutkan bahan yang terkandung dalam asap rokok tembakau.
2. Mampu mendefinisikan pengertian secondhand-smoke.
3. Mampu mendefinisikan pengertian Tar.
4. Mampu menjelaskan masalah kesehatan gigi yang ditimbulkan oleh tembakau yang ada
pada rokok.

Menurut Darby dan Walsh tembakau adalah penyebab utama penyakit dan kematian
yang bisa dicegah di Amerika Serikat. Setiap tahun, lebih dari 450.000 orang meninggal akibat
penyakit terkait tembakau. Sangat penting bahwa semua penyedia layanan kesehatan menilai
dan mengobati penggunaan tembakau untuk meningkatkan kemungkinan penghentian
tembakau. Penghentian tembakau terjadi ketika seseorang menghentikan penggunaan
tembakau dengan tujuan mencapai pantangan permanen. Meskipun beberapa pengguna
tembakau mencapai pantangan permanen selama upaya berhenti awal, mayoritas tetap
menggunakan tembakau dan biasanya siklus melalui beberapa periode pantang dan kambuh
(yaitu, kembali ke penggunaan tembakau biasa). Semua tembakau mengandung nikotin, obat
yang sangat adiktif yang menciptakan ketergantungan fisik dan psikologis pada tembakau .
Ketergantungan terhadap tembakau menyulitkan individu untuk menghentikan penggunaan
tembakau walaupun mereka memiliki masalah kesehatan. Ketergantungan terhadap
tembakau adalah gangguan kronis yang ditandai dengan kerentanan kambuh yang
berlangsung selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Relaps kemungkinan disebabkan
oleh sifat kronis ketergantungan tembakau; itu bukan akibat dari kegagalan pribadi seorang
dokter, dan itu bukan kegagalan dari pihak klien. Relapsnya ketergantungan akan tembakau
membutuhkan kebutuhan akan mobil yang berkelanjutan dan bukan hanya yang akut. E. 2
Seperti gangguan kronis lainnya (mis., Penyakit periodontal, hipertensi, diabetes), ahli
kesehatan gigi yang menemui klien yang tergantung pada tembakau didorong untuk
memberikan nasihat, konseling, dan rujukan yang berkelanjutan. Meskipun berpotensi
kambuh, namun, banyak perawatan efektif tersedia untuk mempromosikan penghentian
tembakau.

B. EFEK KESEHATAN SISTEMIK

Semua produk tembakau mengandung bahan kimia penyebab kanker seperti


nitrosamin, hidrokarbon aromatik, dan polonium 210. Selain itu, merokok menghasilkan tar,

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 135


karbon monoksida, dan produk samping yang merusak secara kimiawi lainnya yang terdapat
dalam asap tembakau. Selama proses inhalasi, perokok menyerap nikotin, bahan kimia
penyebab kanker yang terkandung dalam tembakau, dan produk sampingan beracun dari
pembakaran tembakau melalui paru-paru. Racun ini masuk ke aliran darah dan didistribusikan
ke jaringan di seluruh tubuh. Paparan bahan kimia beracun ini mengancam kesehatan
perokok. Asap dan tembakau bertanggung jawab atas 87% kanker paru-paru, dan, rata-rata,
setengah dari perokok kehilangan 20 hingga 25 tahun dari harapan hidup mereka.
Mencantumkan banyak efek sistemik buruk yang terkait dengan penggunaan tembakau.

C. EFEK SISTEMIK PENGGUNAAN TEMBAKAU

Kanker (mulut, faring, kerongkongan, perut, kandung kemih, paru-paru, payudara,


rahim):
1. Penyakit kardiovaskular (aneurisma aorta, aterosklerosis, penyakit jantung obstruktif
kronik, penyakit arteri koroner).
2. Hipertensi, stroke.
3. Penyakit pernapasan (emphysema, bronchiti s, penyakit paru obstruktif kronis, infeksi
saluran pernapasan atas).
4. Masalah reproduksi (keguguran, kelahiran prematur, bayi dengan berat badan rendah,
bayi dengan bibir dan langit-langit sumbing, keterbelakangan pertumbuhan, malformasi
gigi, menopause dini, sindrom kematian bayi mendadak bayi).
5. Ketidakmampuan.
6. Bisul.
7. Osteoporosis.
8. Kerutan wajah.
9. Kecanduan nikotin.

Tembakau oral dan tembakau kunyah, yang juga dikenal sebagai tembakau ludah (tanpa
asap), berhubungan dengan kanker dan penyakit kardiovaskular. Tembakau oral (dikenal
sebagai snus di Swedia dan beberapa negara lain) adalah daun tembakau yang ditumbuk
halus, dikemas longgar atau dalam kantong teh mirip kantong teh. Pengguna tembakau
menempatkan sedikit tembakau oral di antara pipi dan gusi. Mengunyah tembakau adalah
daun tembakau yang diparut lebih kasar. Pembuat tembakau menempatkan "chaw"
tembakau daun longgar atau "sumbat" tembakau yang dipadatkan di pipi.
Pengguna tembakau dan mengunyah oral biasanya memuntahkan jus tembakau dan air
liur yang dihasilkan, tetapi kadang-kadang pengguna tersebut menelannya. Sebagian besar
produk tembakau meludah mengandung nitrosamin dalam jumlah yang jauh lebih besar

136 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


(bahan kimia penyebab kanker) daripada yang diizinkan secara hukum dalam produk
konsumsi lainnya. Selain itu, produsen mengontrol jumlah nikotin gratis yang tersedia untuk
diambil ke dalam tubuh dengan mengendalikan pH produk mereka. Nikotin bebas adalah
nikotin terionisasi yang dengan cepat melewati mukosa mulut ke dalam aliran darah dan ke
otak. Karena nikotin bebas terbentuk dalam lingkungan yang bersifat basa, semakin tinggi pH
produk tembakau , semakin banyak nikotin gratis yang tersedia. Misalnya, pada pH netral 7,0,
tidak ada nikotin gratis yang tersedia; Namun, pada pH 8,0, sekitar 60% nikotin terionisasi dan
tersedia untuk digunakan oleh tubuh untuk menciptakan ketergantungan. Jumlah nikotin
gratis yang tersedia dalam produk tembakau meludah dikontrol oleh produsen melalui
penambahan zat penyangga basa. Biasanya pengguna baru mulai dengan produk dengan
jumlah rendah nikotin gratis untuk menghindari efek samping yang tidak menyenangkan dari
toksisitas nikotin (mis., N ausea, muntah). Namun, akhirnya, sebagai akibat dari
ketergantungan nikotin, banyak orang perlu menggunakan produk dengan jumlah nikotin
bebas yang lebih tinggi.

Sumber: [Link]

Gambar 4.10
Daun Tembakau

Bahan utama dari pembuatan rokok adalah tembakau. Asap rokok tembakau
mengandung gas dan bahan-bahan kimia yang bersifat racun atau karsinogenik. Banyaknya
komponen bahan kimia tergantung pada jenis tembakau, temperatur pembakaran, panjang

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 137


rokok, porositas kertas pembungkus, bumbu rokok serta ada tidaknya filter. Sedangkan zat-
zat yang berbahaya berupa gas-gas dan partikel-partikel. Asap rokok yang kita hisap 90%
mengandung berbagai gas seperti N2, O2, CO2, 10% sisanya mengandung partikel tertentu
seperti Tar, Nikotin dan lain-lain.

Sumber: [Link]

Gambar 4.11
Tembakau Kering

D. JENIS – JENIS ROKOK

Menurut Sitepoe (1997), rokok berdasarkan bahan baku atau isi dibagi tiga jenis :
1. Rokok Putih
2. Rokok putih merupakan rokok yang bahan baku atau isinya hanya daun tembakau yang
diberi saus untuk mendapatkan efek rasa atau aroma tertentu.
3. Rokok Kretek
4. Rokok kretek merupakan rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun tembakau
dan cengkeh yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa atau aroma tertentu.
5. Rokok Campur
Rokok campur merupakan rokok yang dihisap oleh seseorang dalam waktu tidak tentu
dengan jenis rokok kretek dan rokok putih.

138 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Tar adalah kumpulan dari beribu-ribu bahan kimia dalam komponen padat rokok yang
bersifat karsinogen. Pada rokok dihisap, tar masuk ke dalam rongga mulut sebagai uap padat.
Setelah dingin akan menjadi padat dan membentuk endapan berwarna coklat pada
permukaan gigi, saluran pernafasan dan paru-paru. Pengendapan ini bervariasi antara 3-40
mg/batang rokok, sementara kadar tar dalam rokok berkisar 24-25 mg (Sitepoe, 2000)
Di Indonesia, rokok kretek menjadi favorit. Sebanyak 84,31 % perokok di Indonesia
memilih rokok kretek dibandingkan rokok putih. Rokok kretek adalah rokok dengan citra-rasa
cengkeh. Rokok ini mengandung sekitar 60 % - 70% tembakau dan 30 % - 40 % cengkeh. Tar,
nikotin, dan karbon monoksida yang dikeluarkan dari rokok kretek dua kali lebih tinggi
dibandingkan rokok putih.
Rongga mulut sangat mudah terpapar efek yang merugikan akibat merokok. Mulut
merupakan awal terjadinya penyerapan zat-zat hasil pembakaran rokok. Nikotin dalam rokok
dan zat-zat lainnya memiliki efek vasokonstriksi, tidak hanya pada sirkulasi di tepi, tetapi juga
pada jantung, plasenta, dan pembuluh darah gingiva. Merokok dapat mengurangi aktivitas
fungsional dari leukosit dan makrofag pada saliva dan cairan krevikular, serta mengurangi
aktivitas kemotaksis dan fagositosis darah dan leukosit polymorphonuclear (PMN). Asap panas
yang terhisap mengakibatkan rongga mulut menjadi lebih kering dan lebih anaerob sehingga
memberikan lingkungan yang sesuai untuk tumbuhnya bakteri anaerob dalam plak. Dengan
sendirinya perokok berisiko lebih besar terinfeksi bakteri penyebab penyakit periodontal
dibandingkan dengan yang bukan perokok.
Tar dalam asap rokok juga memperbesar peluang terjadinya gingivitis. Karena tar dapat
diendapkan pada permukaan gigi dan akar gigi sehingga permukaan ini menjadi kasar karena
mempermudah perlekatan plak. Nikotin berperan dalam memulai terjadinya penyakit
periodontal karena nikotin dapat diserap oleh mukosa mulut melalui aliran darah dan
perlekatan gusi pada gigi dan akar.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 139


Sumber: [Link]/kemenkes RI

Gambar 4.12
Kandungan Rokok

140 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


E. EFEK TEMBAKAU YANG ADA PADA ROKOK

1. Bau Mulut
Merokok dapat menyebabkan timbulnya bau mulut (halitosis). Bau mulut ini tidak
dapat diatasi dengan menyikat gigi atau menggunakan obat kumur.

2. Merubah Warna Gigi (stain)


Stain adalah perubahan warna yang terjadi pada gigi. Gigi yang tadinya berwarna putih,
maka akan menjadi lebih kuning. Jika merokok dalam waktu yang lebih lama lagi, mungkin
selama beberapa tahun, maka warna gigi akan berubah menjadi cokelat.
Hal ini akan sangat mengganggu estetik atau penampilan.

3. Pengaruh Tembakau terhadap Gusi


Jumlah karang gigi pada perokok cenderung lebih banyak dari pada yang bukan perokok.
Karang gigi yang tidak dibersihkan dapat menimbulkan berbagai keluhan seperti gingivitis atau
gusi berdarah. Di samping itu hasil pembakaran rokok dapat menyebabkan gangguan sirkulasi
peredaran darah ke gusi sehingga mudah terjangkit penyakit.

4. Pengaruh Tembakau terhadap Lidah


Pada perokok berat, merokok menyebabkan rangsangan pada papilla filiformis (tonjolan
pada lidah bagian atas) sehingga menjadi lebih panjang (hiper-tropi). Di sini hasil pembakaran
rokok yang berwarna hitam kecoklatan mudah dideposit, sehingga perokok sukar merasakan
rasa pahit, asin, dan manis, karena rusaknya ujung sensoris dari alat perasa (tastebuds).

5. Efek Tembakau terhadap Mukosa Mulut


Rangsangan asap rokok yang lama dapat menyebabkan perubahan-perubahan yang
bersifat merusak bagian mukosa mulut yang terkena, yang bervariasi dan penebalan
menyeluruh bagian epitel mulut (smoker’s keratosis) sampai bercak putih keratotik yang
menandai leukoplakia dan kanker mulut. Leukoplakia bervariasi dan lesi putih yang rata/halus
sampai lesi yang tebal dan keras. Kira-kira 3-5% kasus yang didiagnosis leukoplakia akan
berkembang menjadi kanker. Oral leukoplakia merupakan lesi prekanker. Merokok
mempunyai efek karsinogenik pada mukosa mulut.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 141


Sumber: [Link]

Gambar 4.13
Keratosis

6. Menyebabkan Penyakit Periodontal (Periodontitis)


Periodontitis adalah penyakit radang kronis yang terjadi akibat aktivitas plak bakteri,
yang diawali oleh timbulnya radang pada gusi dan berlanjut hingga terbentuknya poket/saku
gigi, kehilangan perlekatan tulang dan berakhir pada tanggalnya gigi. Perokok mempunyai
risiko yang besar untuk perkembangan penyakit periodontal menjadi lebih parah
dibandingkan dengan bukan perokok. Ini dikaitkan dengan lemahnya mekanisme pertahanan
tubuh para perokok sehingga lebih rawan terkena penyakit periodontal.

7. Menunda Proses Penyembuhan


Merokok dapat menunda penyembuhan jaringan lunak rongga mulut karena rokok
mengurangi pengiriman oksigen dan nutrisi ke jaringan gusi. Termasuk disini adalah
penyembuhan luka akibat pencabutan gigi.

8. Risiko Tinggi terhadap Kanker Rongga Mulut


Ini adalah risiko yang paling menakutkan dari efek merokok pada gigi dan mulut. Dimana
diketahui bahwa para perokok mempunyai risiko 6 kali lebih banyak menderita kanker rongga
mulut. Ini dikaitkan dengan bahan kimia yang berjumlah sekitar 4.000 dalam sebatang rokok.
Kanker rongga mulut yang biasa dialami oleh para perokok adalah kanker mulut, lidah, bibir,
dan tenggorokan. Kebanyakan pasien dengan kanker rongga mulut meninggal dalam waktu 5
tahun. Hal ini karena kanker rongga mulut ditemukan setelah dalam tahap lanjut dan telah
berkembang.

142 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


F. MEMBANTU KLIEN MENJADI BEBAS TEMBAKAU

Ketika seseorang membantu klien dengan upaya mereka untuk berhenti menggunakan
tembakau, semua aspek kecanduan nikotin harus dihadapi dan strategi koping alternatif
diidentifikasi. Mendukung dan membantu klien dengan pemecahan masalah sangat penting
untuk promosi penghentian tembakau.

Tabel 4.1
Pendekatan Lima M terhadap Penghentian Tembakau:
Meminta, Menasihati, Menilai, Membantu dan Mengatur

Pendekatan Tindakan dan/atau Bahasa yang Disarankan

Meminta "Apakah Anda pernah merokok atau menggunakan


tembakau jenis apa pun?"

"Saya meluangkan waktu untuk bertanya kepada semua


klien kami tentang penggunaan tembakau karena itu
penting."

Menasihati rasionalisasi (terhubung dengan temuan oral): “Ada


beberapa perubahan
jaringan di mulut Anda, dan penyakit periodontal Anda
semakin memburuk sejak kunjungan terakhir Anda.
Merokok mempengaruhi kesehatan Anda. "

as tetapi tidak menghakimi: "Hal terbaik yang dapat saya


lakukan untuk Anda hari ini untuk melindungi kesehatan
Anda saat ini dan di masa depan adalah menyarankan Anda
untuk berhenti merokok."

Menilai (kesiapan untuk “Apakah Anda ingin mencoba berhenti merokok di bulan
berhenti) berikutnya? Jika demikian, kami dapat membantu. "

Membantu Untuk klien yang tidak siap untuk berhenti: Berikan


intervensi singkat atau wawancara motivasi

Untuk klien yang siap untuk berhenti: Lakukan strategi


Elicit-Provid-Elicit

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 143


Pendekatan Tindakan dan/atau Bahasa yang Disarankan

Mengatur Untuk klien yang tidak siap untuk berhenti, sebutkan: "Jika
Anda setuju, saya ingin menghubungi Anda di janji temu
perawatan kesehatan gigi berikutnya untuk melihat di
mana Anda berada dalam pengambilan keputusan."
(Dokumentasikan dalam bagan).

Untuk klien yang siap untuk berhenti: Rujuk ke 1-800-QUIT-


NOW dan berikan informasi tentang program penghentian
tembakau berbasis masyarakat di daerah tersebut.

Buat catatan dalam bagan untuk memeriksa kemajuan


berhenti klien pada janji perawatan kesehatan gigi
berikutnya.

Untuk klien yang siap berhenti yang telah memilih untuk


berpartisipasi dalam program penghentian di kantor gigi:
Jadwalkan satu hingga empat janji terpisah , masing-
masing panjangnya 45 hingga 60 menit, untuk memulai
konseling penghentian tembakau.

G. MEMINTA

Penting untuk mengidentifikasi semua pengguna tembakau secara sistematis pada


setiap kunjungan. Identifikasi ini terjadi dengan menggunakan sistem di kantor, seperti
termasuk item pada formulir riwayat kesehatan yang menanyakan tentang penggunaan
tembakau dan meminta semua pengguna tembakau mengisi Formulir Penilaian Penggunaan
Tembakau yang terpisah, untuk dimasukkan dalam catatan perawatan klien. Sebagai
tambahan, ahli kebersihan gigi secara lisan bertanya kepada setiap klien tentang penggunaan
tembakau. Isyarat atau petunjuk, seperti bagan stiker atau kode pada jadwal klien, disarankan
untuk mengingatkan ahli kebersihan untuk bertanya kepada setiap klien.

H. MENASIHATI

Ahli kebersihan gigi menyarankan semua pengguna tembakau untuk menghentikan


penggunaan tembakau mereka untuk melindungi kesehatan mereka saat ini dan di masa
depan. Nasihat seperti itu harus jelas, unik, tidak menghakimi, dan terkait dengan sesuatu

144 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


yang langsung relevan bagi klien. Misalnya, jika klien mengalami perubahan jaringan mukosa
oral akibat penggunaan tembakau, ahli kebersihan gigi menunjukkan perubahan jaringan pada
klien di mulut mereka sendiri dan memasukkan informasi ini untuk melanjutkan saran untuk
berhenti menggunakan tembakau. Menyesuaikan saran penghentian dengan temuan yang
terlihat oleh klien memberikan "momen yang dapat diajar" yang dapat memotivasi klien untuk
memutuskan untuk melakukan upaya berhenti. Selama komponen saran dari pendekatan
Lima M, sangat tepat untuk membahas dampak kesehatan buruk yang aktual dan potensial
yang terkait dengan penggunaan tembakau. Namun, setelah komponen saran, ahli kebersihan
gigi menggantikan diskusi tentang dampak kesehatan negatif dengan diskusi tentang manfaat
berhenti merokok untuk meningkatkan motivasi klien untuk menghentikan penggunaan
tembakau.

I. MENILAI

Untuk semua klien yang melaporkan penggunaan tembakau, ahli kebersihan gigi
menentukan pengguna tembakau mana yang mau melakukan upaya berhenti dengan menilai
kesiapan mereka untuk berhenti. 8 Untuk menilai kesiapan untuk berhenti, ahli kebersihan gigi
hanya bertanya kepada klien apakah mereka ingin menghentikan penggunaan tembakau
mereka di bulan berikutnya. Apakah klien merespons "ya" atau "tidak" akan menentukan
strategi yang tepat untuk membantu mereka dengan proses berhenti.
Ketika individu berusaha untuk menghentikan penggunaan tembakau, ke kambuhan
(yaitu, kembali ke penggunaan tembakau biasa) sering terjadi. Ahli higiene gigi mendorong
klien untuk melihat relaps sebagai kesempatan belajar, karena apa yang dipelajari dari relaps
dapat diterapkan pada upaya berhenti berikutnya.

J. MANFAAT MENGHENTIKAN PENGGUNAAN TEMBAKAU

1. Saya tidak akan memiliki bau tembakau pada napas saya atau noda pada gigi saya.
2. Saya akan menghemat uang.
3. Ini akan mengurangi peluang saya terkena kanker mulut.
4. Teman dan keluarga saya ingin saya berhenti.
5. Saya akan memberikan contoh yang baik untuk anakanak saya.
6. Saya akan merasa lebih mengendalikan hidup saya.
7. Saya akan merasa lebih terbebaskan dan percaya diri bahwa saya dapat menetapkan
tujuan.
8. Ini akan mengurangi peluang saya mengalami gangguan jantung.
9. Ini akan mengurangi peluang saya terkena penyakit gusi.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 145


10. Ini akan mengurangi kemungkinan saya mengalami hipertensi dan masalah sirkulasi.
11. Itu akan meningkatkan peluang saya untuk mendukung keluarga saya dan melihat anak-
anak saya tumbuh dewasa.
12. Dua minggu hingga 3 bulan setelah berhenti merokok, sirkulasi membaik, berjalan
menjadi lebih mudah, dan fungsi paru-paru meningkat hingga 30%.
13. Satu tahun setelah berhenti merokok , risiko penyakit jantung koroner menurun hingga
setengah dari perokok.
14. Lima tahun setelah berhenti merokok, risiko stroke berkurang pada orang yang tidak
pernah merokok.
15. Lima belas tahun setelah berhenti merokok, risiko penyakit jantung koroner mirip
dengan orang yang tidak pernah merokok.

Tabel 4.2
Status Penggunaan Tembakau Klien dan Intervensi yang Disarankan Terkait Kesiapan
untuk Berhenti, Pemeliharaan, dan Relaps

Status Klien Karakteristik dan Perilaku Klien Intervensi Kebersihan Gigi

Siap berhenti? uang materi pendidikan tentang


tidak ada pemikiran untuk
Tidak * alasan untuk berhenti. Klien mungkin
berhenti dalam 6 bulan ke
bersikap defensif ketika dihadapkan
depan
dengan informasi.

Siap berhenti? berpikir untuk berhenti dalam 6 dikeluarkan materi pendidikan, dan
Tidak * bulan ke depan diskusikan pro dan kontra dari
berhenti. Ambivalensi mungkin ada,
tetapi klien akan lebih mungkin
menerima informasi karena mereka
semakin percaya akan nilai
perubahan.

Siap berhenti? tersedia untuk menetapkan percaya keuntungan lebih besar


Ya * tanggal berhenti di bulan daripada kerugian dari perubahan
berikutnya dan untuk membuat perilaku. Mungkin perlu bantuan
perubahan kecil dalam dengan perencanaan untuk
persiapan untuk perubahan.

berhenti di bulan berikutnya Terapkan konseling penghentian.

146 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Status Klien Karakteristik dan Perilaku Klien Intervensi Kebersihan Gigi

Siap berhenti? terlibat aktif dalam strategi memuji. Identifikasi hambatan dan
Ya * untuk mengubah fasilitator perubahan. Diskusikan
perilaku. Tahap ini bisa pencegahan ke kambuhan.
bertahan hingga 6 bulan.
Mungkin sudah berhenti
menggunakan tembakau,
tetapi kurang dari 6 bulan lalu.

Sudah berhenti: telah berhenti menggunakan memuji. Diskusikan pencegahan ke


Pemeliharaan tembakau selama lebih dari 6 kambuhan. Perubahan perlu
bulan. Perubahan diintegrasikan ke dalam gaya hidup
berkelanjutan dari waktu ke klien.
waktu. Tahap ini dimulai 6
bulan setelah tindakan dimulai
dan berlanjut tanpa batas.

Kambuh menggunakan tembakau lagi Tetapkan tanggal berhenti baru dan


dan dapat mencapai tingkat mulai siklus lagi.
yang lebih tinggi dari
sebelumnya.

K. MEMBANTU

Cara dimana ahli kebersihan gigi membantu klien dengan berhenti menggunakan
tembakau tergantung pada kesiapan klien untuk. Apakah klien siap untuk berhenti atau tidak,
penting bagi ahli kebersihan gigi untuk melibatkan mereka dengan menerapkan komunikasi
yang berpusat pada pasien.

L. MENGATUR

Mengatur kontak tindak lanjut adalah A kelima, dan itu sebanding dengan fase evaluasi
proses perawatan kesehatan gigi. Selama kontak tindak lanjut, ahli kesehatan gigi memeriksa
di mana klien dalam proses berpikir mereka tentang berhenti atau pada kemajuan mereka
sehubungan dengan mengatasi proses berhenti. Untuk klien yang telah melakukan upaya
berhenti yang tidak berhasil, modifikasi (misalnya, tanggal berhenti baru, tambahan

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 147


farmakologis lainnya, dan mekanisme koping yang berbeda, seperti dijelaskan pada bagian
selanjutnya) dapat diperkenalkan. Mungkin diperlukan tujuan baru.

M. KUNCI KONSEP

1. Merokok adalah kebiasaan yang sudah tidak asing lagi di lingkungan kita, bahaya
merokok pun sudah banyak diketahui tetapi masih banyak orang yang merokok.
2. Penelitian terbaru juga menunjukkan adanya bahaya dari secondhand-smoke, yaitu
asap rokok yang terhirup oleh orang-orang bukan perokok karena berada di sekitar
perokok, atau biasa disebut juga dengan perokok pasif.
3. Bahan utama dari pembuatan rokok adalah tembakau. Jenis-jenis rokok adalah rokok
putih, kretek dan campur.
4. Rongga mulut sangat mudah terpapar efek yang merugikan akibat merokok.
5. Mulut merupakan awal terjadinya penyerapan zat-zat hasil pembakaran rokok.
6. Nikotin dalam rokok dan zat-zat lainnya memiliki efek vasokonstriksi, tidak hanya pada
sirkulasi di tepi, tetapi juga pada jantung, plasenta, dan pembuluh darah gingiva.
7. Tembakau yang ada di dalam rokok dapat mengakibatkan berbagai macam masalah
kesehatan gig contohnya bau mulut, stain, gingivitis, periodontitis, bahkan hingga
kanker.

148 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Daftar Pustaka
Darby, M, Walsh, M. (2015). Dental Hygiene: Theory and Practice, 4th Edition. Elsevier
Saunders, US, St. Louis, Missouri.

Wilkins, E. (2017). Clinical Practice of Dental Hygiene, 12th Edition. Wolters Kluwer, US,
Philadelphia.

Darby, M. (2012). Mosby’s Comprehensive Review of Dental Hygiene, 7th Edition. Elsevier
Mosby, US, St. Louis, Missouri.

Noble, S. (2012). Clinical Textbook of Dental Hygiene and Therapy, 2nd Edition. Wiley-
Blackwell, UK, West Sussex.

Thomson, Evelyn M. (2013). Case Study in Dental Hygiene, 3rd Edition. Pearson Education, US,
New Jersy.

Logothetis, Demetra D. (2012). Local Anesthesia for The Dental Hygienist. Elsevier Mosby, US,
St. Louis, Missouri.

Prajer, R, Grosos, G. (2011). Dental Hygienist's Chairside Pocket Guide. F.A. Davis Company,
US, Philadelphia.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 149


150 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼
Bab 5
MANAJEMEN KARIES
Yonan Heriyanto, [Link].T., [Link].
Marlindayanti, [Link], [Link].

Pendahuluan

A. PENCEGAHAN KARIES MENGGUNAKAN FLUOR DAN NON-FLUOR

Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu mendiskusikan faktor-faktor yang terlibat dalam manajemen karies.
2. Mampu mendiskusikan terapi fluor, termasuk:
a. Membedakan antara berbagai jenis fluor yang digunakan untuk manajemen karies
gigi dan bagaimana masing-masing jenis berhubungan dengan risiko karies.
b. Membedakan antara toksisitas fluor akut dan kronis termasuk penyebab, tanda-
tanda, gejala, dan penanganannya.
c. Mengidentifikasi metode aplikasi topikal fluor yang digunakan dalam manajemen
karies gigi.
3. Mampu menjelaskan jenis dan produk fluor yang dapat diberikan kepada klien yang
berisiko karies.
4. Mampu menjelaskan bahwa fluor diterapkan untuk manajemen karies, termasuk
pemilihan metode dan jenis pemberian fluor.
5. Mampu mendiskusikan toksisitas fluor akut termasuk penyebab, tanda-tanda, gejala,
manajemen darurat, dan pencegahan.
6. Mampu mendiskusikan hasil penelitian ADA untuk rekomendasi pencegahan karies
nonfluor.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 151


7. Mampu menjelaskan klien yang menderita xerostomia memiliki risiko tinggi mengalami
karies dan rekomendasi untuk mengelola gejala dan risiko karies terkait.
8. Mampu menggambarkan metode pencegahan karies di masa mendatang.
9. Mampu menyusun rencana manajemen karies berdasarkan hasil pemeriksaan klinis
risiko klien, kebutuhan dan preferensi.

B. MANAJEMEN KARIES

Untuk menentukan risiko karies bagi seorang individu, jumlah dan tingkat keparahan
faktor patologis (faktor yang berkontribusi terhadap kemungkinan klien akan rentan terhadap
karies) dan faktor pelindung yang ada (faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan bahwa
klien dapat terhindar karies) adalah hal yang harus dapat dievaluasi oleh seorang Terapis gigi
dan mulut (lihat Bab 18. Gambar 18-5). Setelah itu rekomendasi terhadap klien baru diberikan
dengan pertimbangan-pertimbangan dari hasil penelitian, penilaian risiko karies, pengamatan
klinis, evaluasi radiografi, penilaian profesional, dan preferensi klien.
Manajemen karies ditujukan untuk memulihkan dan menjaga keseimbangan karies,
keseimbangan antara faktor patologis dan faktor pelindung. Remineralisasi lesi karies awal
dan/atau pencegahan karies di masa yang akan datang dapat dicapai dengan mengurangi
faktor patologis dan meningkatkan faktor protektif: klien dengan risiko patologis yang lebih
tinggi memerlukan lebih banyak faktor protektif.

Penurunan faktor patologis termasuk strategi berikut:


1. Memberikan pemahaman kepada klien tentang bagaimana karies terjadi, kebersihan
mulut yang baik, dan frekuensi fermentasi karbohidrat; Potensi produksi asam (PAP),
atau jumlah total menit per gigi hari terkena frekuensi yang diberikan asam dari
karbohidrat dalam makanan.
2. Penurunan transmisi mikroorganisme acidophilic di rongga mulut individu atau antara
anggota keluarga dengan praktik pemberian makan yang aman dan produk yang
mengandung xylitol atau 0,12% klorheksidin glukonat (Catatan: Bukti dan pendapat ahli
bervariasi mengenai protokol ini).
3. Mengubah pH dan mikrobiota dari rongga mulut melalui pengurangan mikroorganisme
acidophilic (misalnya, Streptococcus mutans [S. mutans] dan Lactobacillus acidophilus,
dengan produk yang mengandung xylitol, 0,12% klorheksidin glukonat, atau berpotensi
dengan penggunaan adjunctive probiotik).

152 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Meningkatkan faktor pelindung melibatkan strategi berikut:
1. Memperkuat struktur gigi dengan remineralisasi dengan bahan fluor dan nonfluor untuk
mencegah karies.
2. Meningkatkan ketersediaan ion kalsium dan fosfat yang tersedia untuk remineralisasi
menggunakan bahan nonfluor karies-preventif, meskipun tambahan in vivo jangka
panjang diperlukan untuk mendokumentasikan kegunaan dan manfaat yang optimal
3. Melindungi anatomi gigi dengan sealant.
4. Peningkatan aliran saliva dengan pasta gigi, gusi, permen, dan obat-obatan pada klien
dengan aliran saliva yang tidak memadai.
5. Meningkatkan pH rongga mulut dengan karies-preventif bahan dan perubahan pola
makan.

Karies manajemen mencakup pendekatan berikut:


1. Penurunan frekuensi gula dan asupan karbohidrat difermentasi, menaikkan pH lisan.
2. Mendidik ibu hamil/awal (prenatal) penilaian risiko/pengujian S. mutans tingkat dan
memastikan kesehatan rongga mulut ibu hamil yang baik.
3. Menilai bayi di usia 6 bulan, serta keluarga bayi; mendidik klien tentang perlunya
mengurangi transmisi mikroorganisme acidophilic; sebagai langkah kontrol karies di
keluarga.
4. Menekan bahan infeksi dengan menggunakan mekanik, kimia, dan/atau intervensi
biologis (misalnya, menyikat gigi, membersihkan interdental, chlorhexidine glukonat,
xylitol, dan mungkin probiotik, meskipun bukti tambahan yang diperlukan).
5. Remineralisasi awal noncavitated karies lesi dengan meningkatkan aliran saliva
menggunakan profesional diterapkan dan topical fluor diterapkan dan/atau bahan
nonfluor.
6. Menghindari penggunaan tips explorer pada permukaan gigi demineralisasi;
menggunakan karies lain sistem deteksi seperti teknik fluoresensi berbasis cahaya, dan
/atau transillumination.
7. Melindungi permukaan gigi dengan merekomendasikan intervensi seperti sealant gigi,
terapi fluor, dan bahan nonfluor lainnya tergantung pada risiko dan preferensi klien.
8. Pengangkatan lesi karies; memulihkan gigi dengan teknik invasif minimal.

C. MANAJEMEN KARIES (REKOMENDASI DARI AMERICAN DENTAL


ASSOCIATION)

Bidang Ilmiah pada American Dental Association (ADA) secara berkala merilis
rekomendasi klinis berbasis hasil penelitian. Rekomendasi ini didasarkan pada review studi

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 153


penelitian Uji Klinis Acak Terkontrol (RCT) yang dianggap sebagai salah satu standar penting
untuk intervensi terapeutik. Sebuah RCT merupakan eksperimen ilmiah yang dirancang untuk
menguji efektivitas berbagai intervensi dalam populasi tertentu; secara acak memberikan
perlakuan kepada responden penelitian pada dua atau lebih kelompok, dimana satu kelompok
diberikan intervensi sebagai kelompok kontrol. Dalam ulasan ini, panel ADA menganggap
bahwa RCT merupakan uji coba nonrandomized untuk merumuskan suatu rekomendasi.3
Ulasan dari ADA ini menghasilkan suatu produk dan protokol.
Terlepas dari produk dan protokol yang direkomendasikan, ADA juga merilis pedoman
untuk tenaga kesehatan gigi : Tenaga kesehatan gigi (TGM) harus menerapkan penggunaan
fluorida dan sealant bersama dengan konseling diet sebelum mencoba terapi nonfluor;
rekomendasi selalu harus didasarkan pada keseimbangan pertimbangan profesional dan
keinginan pasien; dan itu adalah standar perawatan klien sesuai dengan rekomendasi
profesional dinilai 3 sampai 6 bulan setelah presentasi awal.3 Rekomendasi diubah atau
diperkuat berdasarkan hasil penilaian uji bakteri dan aliran saliva, yang diperlukan untuk
mendapatkan hasil yang komprehensif dari risiko karies dan kepatuhan klien.

D. TERAPI FLUOR

Fluor adalah nutrisi alami yang dalam konsentrasi yang tepat dapat mengurangi risiko
karies dan memiliki efek reparatif (remineralisasi). Ketika fluor diserap oleh enamel, bersama
dengan kalsium dan fosfat, selama proses remineralisasi, itu menjadikan struktur kristal
meningkat lebih tahan asam. Fluor juga menawarkan aksi antimikroba secara topikal dan
mempengaruhi metabolisme karbohidrat, produksi asam, dan sifat perekat bakteri
Fluor masuk ke dalam gigi dalam dosis yang berbeda dan dalam berbagai cara. Fluor
dapat masuk melalui air minum, makanan, minuman, dan suplemen atau diserap secara
topikal dengan suatu teknik yang dilakukan oleh profesional dalam bidang kesehatan gigi:
1. fluoridasi masyarakat pada air, makanan, dan minuman yang mengandung fluor dan
resep suplemen masuk melalui aliran darah secara sistemik.
2. Produk fluor topikal (dalam bentuk nonprescription atau resep dan dari suatu produk
dari tenaga profesional) yang dimasukkan ke dalam mahkota terbuka dan permukaan
akar dalam jumlah yang ditentukan kemudian ekspektorasi.

E. MASUKAN (INTAKE) FLUOR

Komunitas Air Fluoridasi


Pada tahun 2010 secara statistik Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC)
menetapkan 73,9% dari penduduk Amerika Serikat berada dalam masyarakat dengan pasokan

154 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


air yang mengandung fluor. Gagasan pasokan fluor dalam air yang dikonsumsi masyarakat
timbul dari kebutuhan untuk mengatasi prevalensi karies gigi di Amerika Serikat pada tahun
1940-an dan merupakan sistem pengiriman fluor yang paling umum. Pada waktu itu orang
tidak terkena berbagai produk yang mengandung fluor pada masyarakat. Salah satu peraih 10
medali kesehatan masyarakat yang besar dari abad kedua puluh, fluoridasi air di masyarakat,
adalah intervensi kesehatan masyarakat dinyatakan hampir ideal.
Sistem fluoridasi air di masyarakat memiliki karakteristik dan keuntungan sebagai
berikut:
1. Murah dan biaya yang efektif.
2. Efek sistemik ditunjukkan oleh prevalensi karies dan keparahan memiliki penurunan
sekitar 50%, secara statistik.
3. Tingkat keamanan di tingkat yang direkomendasikan (studi lengkap yang dilakukan sejak
tahun 1951).
4. Equitable (menguntungkan semua orang dengan akses ke sistem air masyarakat).
5. Tidak tergantung pada kepatuhan klien; upaya koperasi.
6. Efek jangka panjang topikal menguntungkan dan meningkatkan remineralisasi dalam
menghambat demineralisasi.
7. Berperan dalam mengurangi biaya untuk perawatan gigi.
8. Tidak tergantung pada jasa profesional penyedia layanan kesehatan berlisensi.

Sebagai ukuran kesehatan masyarakat, fluoridasi air di masyarakat membutuhkan


pengujian secara berkala terhadap pasokan air untuk menentukan tingkat alami dari fluor.
Tingkat fluor kemudian disesuaikan melalui fluoridasi atau defluoridation ke tingkat diterima
dari 0,7 bagian per juta (ppm) yang direkomendasikan oleh Centers for Disease Control (CDC).
Atas permintaan sistem air kota diminta untuk menyediakan pelanggan per tahun “laporan
kualitas air.”12Defluoridation merupakan hal yang haraus dilakukan ketika tingkat alami dari
fluor dalam air melebihi tingkat yang direkomendasikan untuk daerah tertentu. Terlalu banyak
fluor dalam air di masyarakat memiliki potensi menyebabkan keracunan fluor kronis pada
anak-anak.

F. KOMUNITAS AIR FLUORIDASI DAN ANTIFLUORIDATIONISTS

Meskipun manfaat dari fluoridasi air di masyarakat didokumentasikan dengan baik,


beberapa individu terus menentang tindakan kesehatan masyarakat ini dan secara aktif
mencari, dan telah berhasil, untuk mencegah atau membalikkan program fluoridasi air. Dalam
18 bulan berikutnya bulan Januari 2011, 43 negara telah melakukan kegiatan untuk memulai,
mempertahankan, program fluoridasi, kecuali kota Milwaukee.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 155


Pihak oposisi mengakui bahwa fluor yang bermanfaat dalam kehidupan, tetapi muncul
pertanyaan apakah aman untuk dikonsumsi. 12 Tertelannya fluor ke dalam tubuh
berhubungan dengan peningkatan risiko untuk penyakit sistemik pada kondisi tertentu (yaitu,
anomali kongenital, patah tulang, penyakit Alzheimer, kanker, fluorosis tulang, IQ yang lebih
rendah) dan lain-lain. sebagaimana yang diamanatkan pemerintah atau industri kesehatan
bahwa konsumsi fluor sebagai konspirasi seperti entitas. Antifluoridationists juga mengutip
tentang biaya, kebebasan memilih, dan pelanggaran hak-hak individu dan agama sebagai
alasan untuk sikap mereka terhadap menambahkan fluor yang dipasok ke dalam air di
masyarakat.

G. FLUOR DALAM MAKANAN DAN MINUMAN

Fluoridasi air di masyarakat memiliki sejarah lebih dari 65 tahun telah berhasil dalam
mengurangi kejadian prevalensi karies. Namun, masyarakat saat terkena bahan fluor pada
makanan, minuman, dan bahan aditif lain telah menjadi bagian dari keseluruhan eksposur
setiap orang untuk fluor topikal dan sistemik. Akibatnya, ada variasi masuknya jumlah fluor
dalam produk secara rutin. pertanyaan menyeluruh diperlukan untuk mendokumentasikan
informasi ini selama prosedur penilaian klien, terutama dalam kasus anak-anak pada masa
pertumbuhan gigi. Penggunaan fluor sesuai usia sangat ideal; paparan fluor harian harus
ditentukan untuk klien muda, dipantau, dan dilakukan evaluasi secara berkala.
Bayi yang menerima ASI kadar fluor umumnya rendah dalam ASI (<0,01 ppm) dan susu
sapi, (0,05 ppm) atau formula susu- dan soybased. Ketika formula industri makanan bayi
menyampaikan bahwa susu formula dapat dilarutkan dengan air fluor, banyak sukarela
mengurangi kandungan fluor dalam formula bubuk. Formula kemasan harus berkonsultasi
untuk menentukan kadar fluor dalam susu bubuk siap konsumsi; misalnya, formula berbasis
kedelai mengandung lebih fluor daripada produk milkbased.
Minuman yang dibuat dari bahan-bahan alami dapat menjadi sumber sistemik dan
topikal fluor. Daun teh mentah dan minyak pohon teh yang tinggi kandungan fluor dan berisi
sebanyak 400 ppm fluor. Teh diseduh mengandung rata-rata 3 ppm fluor. Anak-anak mungkin
berisiko untuk fluorosis gigi (fluor yang berlebihan kronis) di beberapa daerah (misalnya,
Inggris, Australia, India, sebagian Asia) di mana itu kebiasaan minum teh secara teratur, di usia
muda, selama perkembangan gigi.
Tingkat konsentrasi fluor dalam minuman olahan dan air kemasan bervariasi. Misalnya,
konten fluor dalam jus buah dan minuman berkarbonasi berkisar dari kurang dari 0,1-6,7 ppm.
Perbedaan konten fluor dalam minuman olahan dikaitkan dengan variasi dalam kadar fluor
dari air yang digunakan untuk menyiapkan produk ini.2Meskipun ada variasi dalam kandungan
fluor dari botol air (suling, minum, mineral, mata air alami), minuman ini umumnya memiliki

156 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


konsentrasi fluor yang rendah. Mengingat bahwa konsumsi air keran di kalangan anak-anak di
Amerika telah menurun dan masyarakat lebih banyak mengkonsumsi minuman lain, terutama
air kemasan, telah berkembang, hal ini menjadi semakin sulit untuk menilai paparan fluor klien
dengan asupan cairan.
Bahan makanan lain seperti kerang, sarden, jus buah, minuman ringan berkarbonasi,
beberapa anggur, kismis, sereal, dan ayam juga mengandung kadar besar fluor. Makanan siap
saji umumnya diproses di daerah perkotaan dengan air fluor dan menjadi sumber tambahan
fluor bagi individu yang tinggal di komunitas fluor dan nonfluoridated. Di dunia internasional
bahan makanan lainnya digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan fluor (misalnya, di
Swiss, Jamaika, dan Perancis) dan memasukkan fluor ke dalam garam meja.

H. RESEP SUPLEMEN FLUOR

Suplemen fluor dalam bentuk tetes, sirup, permen pelega tenggorokan, dan tablet dapat
berfek secara sistemik dan topikal (jika permen atau tablet hisap dikunyah selama 2 menit)
fluor untuk anak-anak yang berada di masyarakat tanpa fluoridasi air atau di mana air sumur
memiliki tingkat fluor rendah atau tidak terdeteksi (Gambar 33-1).8Tujuan dari suplemen ini
adalah untuk menawarkan anak-anak di komunitas nonfluoridated keuntungan pengurangan
karies pada anak-anak yang tinggal di masyarakat yang menerima asupan fluor. Klien harus
disarankan untuk menghindari produk susu setelah semua suplemen fluor karena kalsium
mengganggu bioavailabilitas (dosis tersedia di situs) fluor.

Gambar 5.1
Contoh Suplemen Fluor Tersedia dengan Resep

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 157


Rekomendasi suplemen fluor didasarkan pada usia klien, tingkat fluor dalam sumber air
utama, dan semua sumber fluor berasal dari diet. Suplemen fluor tetap merupakan sebuah
dilema, karena banyak sumber-sumber lain memberikan anak-anak dengan fluor. Terapis gigi
dan mulut dapat memainkan peran penting dalam menganalisis asupan klien dan konsultasi
dengan dokter anak, penyedia perawatan medis primer, dan dokter gigi anak. Konsultasi ini
mencegah duplikat resep untuk suplemen dan risiko toksisitas fluor kronis.

Tabel 5.1
Fluorida Suplemen Dosis Jadwal (miligram dari fluor per Day)

TINGKAT FLUOR DI DASAR AIR SUPPLY

klien Umur <0,3 ppm Fl 0,3-0,6 ppm Fl > 0,6 ppm Fl†

Lahir untuk 6 bulan tak satupun tak satupun tak satupun

6 bulan sampai 3 tahun 0,25 mg tak satupun† tak satupun†

3 tahun sampai 6 tahun 0,50 mg 0,25 mg tak satupun

6 tahun untuk setidaknya 16 tahun 1,0 mg 0,50 mg tak satupun

Fl, Fluor; ppm, bagian per juta.


*2.2mg sodium fluor menyediakan 1 mg ion fluor.
†Bayi yang menerima jumlah diet mereka dari menyusui memerlukan suplemen 0,25 mg.

Data dari American Dental Association, Chicago, Illinois; American Academy of Pediatric
Dentistry, Chicago, Illinois; dan American Academy of Pediatrics, Elk Grove Village, Illinois.

Pada Desember 2011 bidang ilmiah pada ADA mengeluarkan pernyataan bahwa hanya
anak-anak berisiko tinggi beresiko terkena karies karena kekurangan pasokan air minum
dengan demikian mereka harus menerima suplemen sebagai berikut: usia 6 bulan sampai 3
tahun, 0,25-1,00 mg per hari; usia 3 sampai 16 0,5-1,0 mg per hari (lihat ADA Fluorida
Suplemen Dosis Jadwal, tabel 33-1).
Terlepas dari pedoman ADA, kontroversi masih mengenai dosis karena faktor-faktor
berikut:
1. suplemen fluor meningkatkan risiko toksisitas fluor kronis; risiko telah meningkat
selama bertahun-tahun karena berbagai sumber fluor.
2. suplemen fluor dapat mengganggu beberapa obat.2

158 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


3. suplemen fluor resep mungkin tidak akurat, dan suplemen dapat diresepkan secara
tidak sengaja oleh penyedia layanan kesehatan beberapa.2
4. suplemen fluor tidak perlu bagi masyarakat yang terkena program fluoridasi air minum.
5. suplemen fluor tidak tepat dan tidak direkomendasikan untuk individu dengan kadar
fluor yang belum teruji dalam air secara baik.
6. Kepatuhan klien mungkin kurang.
7. Risiko toksisitas akut jika suplemen tidak terus disegel dan keluar dari jangkauan anak-
anak. (Lihat diskusi kemudian dalam bab ini dankotak 33-2 untuk protokol manajemen.)
8. Penggunaan suplemen fluor prenatal tidak dianjurkan untuk wanita hamil; gigi
permanen tidak berkembang dalam rahim.

I. RISIKO TOKSISITAS FLUOR

Fluorosis adalah hypomineralization dari enamel yang dihasilkan dari konsumsi fluor
yang melebihi tingkat optimal. Fluorosis gigi terdeteksi dari hasil evaluasi secara klinis dan
diklasifikasikan dalam beberapa tingkat. Mild fluorosis gigi sering kali sulit untuk
mengidentifikasi dan membutuhkan penilaian yang cermat dan pencahayaan yang baik.
Meskipun beberapa orang menganggap fluorosis menjadi perhatian estetika saja, dalam
keadaan paling parah enamel rapuh dan benar-benar dapat memecah. perubahan dalam
enamel ini terjadi selama pembentukan gigi dan karena itu risiko hanya selama tahap pra-
letusan perkembangan gigi (Gambar 33-2).

Tabel 5.2
Klasifikasi Derajat Gigi Fluorosis

Kelas Fluorosis Deskripsi

Normal tak satupun

dipertanyakan Sebuah bintik-bintik putih atau bintik-bintik putih beberapa

sangat ringan Buram, daerah kertas putih kecil yang melibatkan kurang dari 25% dari
permukaan

Ringan kekeruhan putih lebih luas tetapi tidak melibatkan sebanyak 50% dari
permukaan

Moderat Semua permukaan enamel terpengaruh; sering pewarnaan coklat

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 159


Kelas Fluorosis Deskripsi

Parah Diskrit atau konfluen pitting; noda cokelat tersebar luas; semua
permukaan enamel terpengaruh

Diadaptasi dari Newburn E: Fluorida dan karies gigi, Springfield, IL, 1986, Charles C Thomas.

Sumber: Dari Ibsen OAC, Phelan JA: Oral patologi untuk kebersihan gigi, ed 6, St Louis,
2013, Saunders

Gambar 5.2
Moderat Fluorosis Gigi

Fluorosis gigi dikaitkan dengan toksisitas fluor hanya dapat terjadi sebagai akibat
masuknya fluor secara sistemik selama perkembangan gigi pada anak-anak usia 8 tahun atau
di bawahnya. Peningkatan prevalensi enamel fluorosis dua dekade terakhir mungkin berasal
dari peningkatan jumlah sumber paparan fluor. Penelitian menunjukkan korelasi antara
fluorosis dan individu yang mengembangkan hipotiroidisme dan tulang rapuh. 2
Masyarakat tidak dapat mengembangkan fluorosis sebagai akibat dari paparan fluor
topikal, bahkan jika paparan topikal berlebihan (konsentrasi tinggi fluor pada interval yang
sering). Satu-satunya cara seorang individu dapat mengembangkan fluorosis gigi dari fluor
topikal adalah dengan menelan fluor selama periode perkembangan gigi, yang akan
mengubah mekanisme kerja fluor dari topikal ke sistemik.
Risiko meningkat fluorosis dengan menelan produk fluor-konsentrasi rendah seperti
pasta gigi yang mengandung fluor atau larutan kumur. Produk-produk ini terkadang cukup
mengkhawatirkan karena kadang-kadang digunakan oleh anak-anak tanpa pengawasan,
karena memiliki rasa dan penampilan yang menarik, dan kadang-kadang disimpan dalam

160 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


jangkauan anak-anak. pengamatan yang cermat dari anak-anak selama perawatan mulut
mencegah risiko ini.

J. PERTIMBANGAN KEBUTUHAN MASUKAN FLUOR

1. Intake fluor terutama fluoridasi air di masyarakat, memiliki sejarah yang


menggambarkan keberhasilan dalam mengurangi kejadian prevalensi karies.
2. Fluoridasi air di masyarakat tetap menjadi pendekatan kesehatan masyarakat yang
sukses dan merupakan landasan dari program manajemen protokol fluor dan karies.
System fluor secara sistemik ini tersedia untuk semua individu yang berada di
masyarakat, terlepas dari latar belakang sosial ekonomi atau kemampuan untuk
mengakses terapi fluor lainnya. (Dokter dapat langsung klien untuk Departemen
Kesehatan dan Layanan Manusia, Pusat Pengendalian Penyakit dan Pencegahan situs,
“My Water ini Fluor,” untuk statistik komunitas mereka).
3. Perbincangan tentang fluoridasi terus menjadi hal penting mengenai kebutuhan untuk
suplementasi sistemik tambahan. Kebutuhan fluor utuh harus didasarkan pada berbagai
sumber fluor terima dari bahan makanan jadi, minuman siap, dan alami fluor.
4. konsentrasi fluor air dalam botol memiliki dosis rendah dan kadang-kadang tidak
mengungkapkan konten fluor. Banyak rumah tangga menggunakan air kemasan sebagai
sumber air utama mereka. Peningkatan jumlah produsen yang mengidentifikasi konten
fluor pada label produk. perusahaan lainnya menambahkan fluor sebagai alat
pemasaran (misalnya, “pembibitan air dengan fluor”).
5. sistem penyaringan air sering menghapus sejumlah besar fluor dari air.
6. Individu umumnya memasang perangkat penyaringan air (reverse osmosis,
menggelegak ozon, arang aktif, dan sebagainya) ke keran air rumah tangga.
7. Orang yang menggunakan air sumur sebagai sumber air utama mereka melalaui tahapan
pengujian untuk menentukan tingkat fluor. Tanpa informasi ini, tidak mungkin untuk
intake suplemen fluor akurat. Terapis gigi dan mulut dapat memfasilitasi klien dengan
informasi kontak, pengujian kit, dan panduan pengajuan spesimen.
8. Air sumur mungkin mengandung air dari berbagai sumber dengan konsentrasi fluor yang
berbeda-beda.
9. Beberapa persediaan air diawasi untuk mendapatkan tingkat fluor yang optimal.
10. Mungkin ada efek sistemik dari persiapan fluor topikal. Beberapa persiapan topikal,
terutama pasta gigi yang mengandung fluor dan obat kumur, dapat tertelan,
menyebabkan klien terpaparan fluor secara topikal maupun sistemik untuk. Anak-anak
menggunakan produk fluor harus dipantau untuk mengurangi risiko toksisitas fluor akut
dan kronis. (Lihat kotak 33-2 untuk protokol manajemen).

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 161


K. TOPIKAL FLUOR

Topikal fluor masuk ke dalam rongga mulut dalam tiga bentuk utama:
1. Dikonsumsi oleh klien dalam bentuk nonprescription atau (potensi) konsentrasi fluor
rendah (Catatan: Produk yang membawa ADA Seal of Acceptance atau Dental
Association Kanada [CDA] Seal of Recognition harus direkomendasikan bagi klien).
2. Dikonsumsi oleh klien dalam bentuk produk resep; konsentrasi yang lebih tinggi dari
fluor dari produk OTC untuk risiko karies tinggi.
3. Para profesional menerapkan produk resep dosis tinggi (potensi) konsentrasi fluor,
jarang digunakan, setiap 3 sampai 6 bulan (Catatan: ADA menunjukkan bahwa klien yang
berisiko karies rendah tidak dapat menerima manfaat tambahan dari aplikasi fluor
profesional.7).

Jenis produk konsentrasi yang ditawarkan OTC dengan resep dokter dapat
membingungkan. Hal ini penting karena pada konsentrasi fluor / bagian per juta dan tingkat
risiko klien ketika memilih dan merekomendasikan produk untuk klien. Biasanya, OTC
menerapkan bahan konsentrasi fluor secara topikal untuk digunakan di rumah lebih rendah
dalam (lebih sedikit bagian per juta) dibandingkan mereka yang diterapkan di kantor.
Tindakan fluorida potensi tinggi mirip dengan fluorida-potensi rendah; paparan
berulang diperlukan untuk kedua untuk mempertahankan konsentrasi tinggi pada permukaan
gigi. Perbedaannya adalah bahwa paparan yang diperlukan lebih sedikit dengan fluorida-
konsentrasi tinggi. Tingkat fluor rendah dipertahankan dalam air liur, biofilm, dan enamel
dapat mencegah atau membantu karies kontrol sepanjang hidup. Karena eksposur
karbohidrat difermentasi menciptakan peluang setiap hari untuk demineralisasi enamel,
sering menggunakan topikal, produk fluor-potensi rendah dianjurkan untuk dalam kehidupan
sehari-hari di daerah demineralisasi untuk upaya pencegahan karies gigi (Tabel 3.5).

162 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Tabel 5.3
Topikal Fluorida: Diintegrasikan, Kumur, dan Gel

Ketersediaan
Konsentrasi Frekuensi
fluor Bahan Metode pengiriman dan Contoh
fluorida Aplikasi dari Produk

0,1% sodium fluor 1000-1500 ppm Dua kali Sikat-on OTC: Crest,
(NaF) atau 0,1% Beberapa sehari Colgate,
sodium negara Lengan &
monofluorophosphate memproduksi Palu
(MFP) pasta gigi pasta gigi anak-
anak di 50.550
ppm
0,05% NaF bilas 230 ppm Sekali sehari Bilasan OTC contoh:
Act,
Fluorigard
0,2% netral NaF bilas 910 ppm Semingguan Bilasan biasanya contoh resep:
dalam program Fluorinse,
schoolbased PreviDent
0,4% stabil stannous 1000 ppm Sekali sehari Sikat-on setelah OTC contoh:
fluor (SnF2) gel menyikat Gel-Kam
dengan pasta gigi
konvensional
1,1% netral NaF gel 5000 ppm Sekali sehari Kustom sendok contoh resep:
cetak atau sikat-on PreviDent,
setelah NeutraCare
menggunakan pasta
gigi konvensional
1,1% NaF dan fluor 5000 ppm Sekali sehari Kustom sendok contoh resep:
fosfat yang ditambah cetak atau sikat-on PreviDent,
asam setelah Clinpro5000
menggunakan pasta
gigi konvensional
OTC, Perhitungan berlebihan; ppm, bagian per juta.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 163


Diadaptasi dari Warren DP, Chan JT: fluorida topikal: khasiat, administrasi, dan keamanan, Gen
Dent 45: 134, 1997.

L. FLUOR DALAM PASTA GIGI

Selain fluor yang dikonsumsi dalam air minum, pasta gigi yang mengandung fluor paling
banyak digunakan. Pasta gigi yang direkomendasikan ADA Seal of Acceptance dan CDA Seal of
Recognition memberikan konsentrasi yang cukup fluor untuk memfasilitasi terjadinya
remineralisasi pada email bila diterapkan setidaknya dua kali sehari (Gambar 33-3). Literatur
ilmiah memberikan bukti klinis untuk mendukung penggunaan pasta gigi fluor dengan
frekuensi ini. Studi yang membandingkan pengurangan karies menunjukkan bahwa menyikat
sekali sehari dengan pasta gigi berfluor menghasilkan adanya pengurangan karies gigi sebesar
21%, menyikat tiga kali sehari menghasilkan pengurangan karies 45% .
Mayoritas pasta gigi komersial yang tersedia di Amerika Serikat mengandung 0,1%
netral sodium fluor, atau 1000 ppm. Beberapa produsen memproduksi pasta gigi yang
mengandung 1500 ppm natrium monophosphate fluor; Namun, dosis dari berbagai jenis fluor
tidak sebanding dengan persentase karena bahan ini memiliki bobot yang berbeda. Sebanyak
5000-ppm natrium netral fluor dapat diresepkan untuk klien yang berisiko tinggi atau ekstrem.
Pasta gigi lainnya yang dipasarkan sebagai pasta gigi untuk anak dengan tingkat yang lebih
rendah dari fluor mulai 250-550 ppm. Hal ini penting untuk kesehatan gigi untuk
merekomendasikan produk yang telah mengalami evaluasi klinis dan didukung oleh bukti dan
telah tercatat memiliki kemampuan mencegah karies.

M. FLUOR DAN ANAK-ANAK

Pertimbangan khusus harus diberikan ketika merekomendasikan pasta gigi berfluor


untuk anak di bawah usia 6 tahun. Perhatian utama adalah bahwa anak-anak menelan pasta
gigi karena mereka menikmati rasa dan/atau tidak mampu (atau efisien) expectorating pasta
gigi dari mulut mereka. Hanya 5% dari anak-anak usia 2.5 tahun dapat meludah setelah
menyikat dan hanya 32% usia 4- dapat meludah setelah menyikat gigi. Ketidakmampuan untuk
meludah untuk penggunaan topikal akan meningkatkan risiko fluorosis. Ketika
merekomendasikan pasta gigi untuk anak-anak, para dokter gigi harus melibatkan orang tua
klien dan menekankan berikut:
1. Pentingnya mengawasi anak-anak ketika menyikat gigi mereka sampai lebih dari 6 tahun
2. Melibatkan orang tua dan pengasuh dalam penggunaan fluor.
3. Menunda pengenalan pasta gigi berfluor sampai anak usia 2 tahun jika kemampuan
untuk menahan diri dari menelan tidak diantisipasi.

164 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


4. Membatasi pasta gigi dari 6 bulan sampai usia 2; jumlah seukuran kacang setelah usia 2
(jumlah ini direkomendasikan ADA dalam memberikan dosis yang memadai dan sedikit
risiko ketika diawasi).
5. Menekankan pentingnya sepenuhnya expectorating dan tidak berkumur setelah gosok
dengan pasta gigi fluor.
6. Menghindari fluor yang lebih tinggi konsentrasinya dalam pasta gigi dan menahan diri
dari penggunaan produk fluor lainnya (bobat kumur) pada anak-anak di bawah usia 6
tahun.
7. Menyimpan produk fluor dari jangkauan anak-anak.

N. APLIKASI FLUOR BAGI KLIEN BERESIKO KARIES (KUMUR-KUMUR, GEL DAN


PASTA)

1. Aplikasi fluor harian dengan cara berkumur


Biasanya menggunakan larutan NaF 0,02% atau 0,05% (sodium fluor) senyawa dengan
setidaknya 230 ppm (misalnya, UU oleh Chattem Inc, Listerine Total Care oleh Johnson &
Johnson, Crest Pro Health oleh Oral B), dapat digunakan setiap hari sebagai tambahan untuk
menyikat gigi dengan pasta gigi fluor untuk mencegah karies gigi (lihat Tabel 33-3). Penelitian
menunjukkan bahwa kumur fluor setiap hari mengurangi karies 30% sampai 35%. Klien harus
diinstruksikan khusus untuk menggunakan 1 sampai 2 sendok teh, kumur-kumur selama 60
detik, dan kemudian ke meludah secara menyeluruh. Karena ada risiko bagi anak-anak untuk
menelan fluor saat kumur maka produk ini tidak dianjurkan untuk anak di bawah usia 6 tahun
dan harus disimpan di luar jangkauan. anak yang lebih tua dengan risiko karies sedang hingga
tinggi harus menggunakan fluor bebas alkohol bilasan. Orang tua dan pengasuh harus
memeriksa label dengan hati-hati.

2. Aplikasi Fluor Mingguan Dengan Cara Berkumur


Menggunakan larutan NaF 0,044% yang ditambah asam/APF (misalnya, OrthoWash
Pembersih Harian oleh 3M ESPE) (asam fosfat ditambahkan ke fluor menurunkan pH dan
meningkatkan laju reaksi antara fluor dan hidroksiapatit) yang digunakan sehari-hari dan 0,2
% netral NaF kumur-kumur (Prevident oleh Colgate, Nupro oleh Dentsply, Fluorinse oleh Oral-
B, Cavi-Bilas dengan 3M) yang sama dengan 1000 ppm digunakan mingguan tersedia dengan
resep saja (lihat Gambar 33-4). Klien harus bilas untuk penuh 60 detik untuk mencapai hasil
yang maksimal dengan kumur-kumur fluor. Resep kumur umumnya ditunjukkan sebagai
berikut:

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 165


Gambar 5.3
A dan B, Contoh Obat Kumur Larutan Fluor

a. Karies, lesi white spot/daerah demineral, karies pencegahan.


b. Hipersensitivitas dentin.
c. Klien ortodontik.
d. Klien dengan xerostomia.
e. Risiko karies moderat.
f. Akar terkena.

Sebuah resep 0,63% SnF2 (stannous fluor) bilas (PerioMed oleh 3M ESPE, Fluorx oleh
Philips, Oral Bilas dengan Ilmu Oral menawarkan 5% xylitol ditambahkan) diencerkan per arah
pabrik dan dapat digunakan dua kali sehari sampai 4 minggu setelah terapi periodontal non-
bedah sebagai antimikroba (fluor stannous telah menunjukkan aktivitas antimikroba terhadap
periodontal patogen dan S. mutans), untuk mengelola hipersensitivitas dentin, dan untuk
melindungi terhadap karies akar. Bukti tidak sekuat, bagaimanapun, mendukung pilihan ini
dibandingkan dengan pasta gigi fluor stannous.

O. KUMUR LARUTAN FLUOR DI SEKOLAH DASAR

Larutan NaF (0,2%), 910-1000 ppm, digunakan secara mingguan pada anak-anak sekolah
dasar yang tidak tinggal di komunitas dengan fluoridasi air (misalnya, Fluorinse oleh ORALB,
PreviDent oleh Colgate, Nupro oleh Dentsply, PCavi-Bilas dengan 3M). Program ini efektif
karena dikelola oleh pihak sekolah, pengawasannya lebih baik, terjadwal, dan menghasilkan
kebiasaan yang baik pada anak-anak dengan berkumur larutan fluor dengan takaran 1 sendok

166 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


teh; anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa berkumur dengan takaran 2 sendok teh.
Setelah 60 detik selesai berkumur, produk ini ekspektorasi. Hingga 55% pengurangan karies
telah dilaporkan dengan penggunaan rutin mingguan. Kumur fluor konsentrasi tertinggi secara
mingguan diperbolehkan untuk penggunaan individu dan dapat diberikan di rumah dengan
pengawasan ketat.

P. GEL DAN PASTA FLUOR HARIAN TANPA RESEP DAN RESEP

Produk-produk ini (tersedia dalam kekuatan resep konsentrasi yang lebih tinggi dari
yang ditambah asam fosfor fluor (APF) dan sodium fluor netral) juga dapat mengurangi karies
30% sampai 35% dan dirancang untuk penggunaan sehari-hari oleh klien dengan risiko karies
tinggi atau ekstrem, misalnya, karies berat, xerostomia, paparan radiasi di kepala dan leher,
hipersensitivitas dentin, atau kebutuhan khusus. Produk ini dianjurkan untuk digunakan di
rumah bagi klien, orang tua, pengasuh. Produk digunakan dengan cara diaplikasin ke dalam
sendok atau pada sikat pada gigi selama 1 menit dan kemudian dibuang. Klien dapat memilih
kenyamanan menyikat jika memungkinkan. Kebanyakan instruksi pabrik tray adalah sebagai
berikut:
1. Hapus biofilm lisan dengan sikat gigi, benang, bantuan interdental, dan lidah bersih.
2. Beban sendok cetak dengan gel fluor atau pasta, per arah produk gigi kering dengan kain
atau kasa.
3. Menempatkan sendok cetak dimuat atas lengkungan yang diinginkan; memegang
kepala tegak dan menghindari menelan produk dan air liur; sarankan klien sering
meludah selama penempatan tray.
4. Tinggalkan sendok cetak di lengkungan selama 4 menit; menghapus sendok cetak dan
meludah beberapa kali.
5. Ulangi langkah untuk lengkungan lainnya.
6. Jangan makan atau minum selama 30 menit untuk menjaga tingkat ambient fluor.
7. Bilas, bersih, dan sendok cetak udara kering.

OTC gel fluor dipasarkan sebagai SnF2 1000 produk 0,4%/ppm OTC (Gel-Kam) dan 1,1%
netral NaF resep gel (PreviDent oleh Colgate, NeutraCare oleh Oral-B) (lihat Gambar 33-5).

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 167


Gambar 5.4
Contoh 0,4% stabil gel stannous fluor dan pasta, dan 1,1% sodium fluor resep pasta gigi.
(Colgate produk courtesy Colgate Farmasi Oral, New York, New York; produk Oral-B
courtesy Procter & Gamble, Cincinnati, Ohio.)

Pasta gigi resep yang tersedia sebagai 1,1% NaF dengan 5% kalium nitrat (misalnya,
PreviDent5000 Sensitif) dan 1,1% NaF / 5000 ppm (misalnya, PreviDent, Clinpro 5000 dengan
trikalsium fosfat, oleh 3M ESPE, Gambar 33-5). Beberapa gel dan pasta memiliki derajat yang
bervariasi dari abrasive dan yang lainnya tidak. Pasta dan gel dengan kandungan fluor yang
tinggi tidak boleh digunakan dalam sendok cetak kustom semalam.9
Produk ini telah digunakan secara luas untuk klien dengan kebutuhan khusus. Dokter
harus rajin mendidik klien dan perawat bahwa beberapa produk tersebut tidak mengandung
bahan-bahan pembersih atau abrasive. Ketika hal ini terjadi, klien harus diinstruksikan untuk
menggunakan gel dan pasta tersebut setelah menyikat gigi dengan pasta gigi fluor OTC
konvensional. Selain itu, klien harus diingatkan bahwa produk ini tersedia dengan resep

168 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


karena tingkat moderat mereka fluor dan karena itu harus disimpan dengan hati-hati keluar
dari jangkauan anak-anak.
Karena anak-anak sangat mungkin menelan gel fluor dan pasta, produk tersebut tidak
dianjurkan untuk anak di bawah usia 6 tahun atau mereka yang memiliki kesulitan
mengendalikan menelan. Meskipun jumlah yang sangat terbatas studi mendokumentasikan
keberhasilan mereka, Dewan ADA Urusan Ilmiah telah menyetujui OTC SnF2 gel (Gel-Kam oleh
Colgate). Selain itu, Food and Drug Administration (FDA) menyetujui gel SnF2 Dijual OTC
karena mengandung konsentrasi fluor yang sama seperti pasta gigi konvensional.

Q. APLIKASI FLUOR OLEH PROFESIONAL (GEL, FOAM, KUMUR, DAN


DIOLESKAN)

“Perawatan” Fluor adalah salah satu prosedur terakhir yang dilakukan dalam urutan
pengangkatan dan dikelola sendiri oleh para dokter gigi berlisensi atau bersertifikat. (Fluor
yang mengandung profilaksis pasta tidak harus digunakan di tempat layanan ini). Profesional
di bidang kesehatan gigi diterapkan produk topikal fluor, gel, dan pengolesan telah digunakan
dengan sukses (Angka 33-6 dan 33-19). Meskipun busa fluor (tidak direkomendasikan ADA)
dan kumur di tempat kerja (tidak disetujui FDA), beberapa data yang mendukung keberhasilan
mereka. Penelitian lebih lanjut diperlukan sebelum busa dan kumur-kumur dapat digunakan
dengan keyakinan yang sama seperti gel dan pengolesan.7

Gambar 5.5
Gel Fluor Topikal untuk Aplikasi Profesional

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 169


Produk gel (dan busa) fluor biasanya digunakan 4 menit sekali menggunakan sendok
cetak pengolesan diterapkan menggunakan teknik cat-on. Data yang cukup besar pada
pengurangan karies dan pencegahan dengan penempatan tray 4 menit yang berlimpah. (Data
mengenai pencegahan karies dengan aplikasi pengolesan biasa yang tertunda.) Gel Satu menit
dan busa di sendok cetak dan 2 menit kumur-kumur digunakan secara luas, tetapi penelitian
diperlukan untuk mendokumentasikan efektivitas metoda ini dibandingkan dengan
mekanisme lainnya; ADA tidak mendukung metode ini. Dokter dan klien sering lebih memilih
sistem pengiriman fluor karena mereka lebih cepat dan lebih mudah. Namun, standar
kontemporer praktik mengharuskan keputusan Terapis gigi dan mulut untuk tindakan
perawatan klien berdasarkan bukti ilmiah.

1. Siapkan perlatan 2. Posisi pasien dalam keadaan tegak

3. Ukurkan sendok cetak 4. masukan gel dalam sendok cetak

170 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


5. isolasi mulut dengan cotton rol 6. Masukan sendok cetak ke dalam
lengkung rahang

7. tekan/masukan sendo cetak dg pas 8. tekan agar pas

9. tempatkan saliva ejector/suction 10. lepaskan sendok catak

11. membuang/meludahkan sisa fluor

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 171


R. APLIKASI FLUOR SECARA PROFESIONAL, PRODUK EVOLUSI DAN JENIS

Aplikasi fluor dengan gel thixotropic (gel yang mengalir di bawah tekanan, tetap kental
ketika tidak di bawah tekanan) ke busa awalnya dikembangkan untuk kemudahan aplikasi dan
digunakan dengan sendok cetak fluor. Namun, selulosa ditambahkan ke gel untuk
meningkatkan viskositas menghambat fluor mengalir ke daerah-daerah kritis. Untuk
mengatasi masalah ini, gel thixotropic yang dirancang.
Fluor berbasis busa dikembangkan untuk mengatasi risiko tertelan terkait dengan
penggunaan produk fluor-potensi tinggi. Dengan produk-produk busa, 75% lebih sedikit fluor
digunakan, dapat mengurangi risiko toksisitas fluor akut dan biaya. produk busa APF
melepaskan konsentrasi fluor yang sama seperti gel APF, tetapi penelitian telah menunjukkan
kurang retensi dengan busa dan beberapa uji klinis telah dievaluasi pencegahan karies dengan
produk busa.7 Apapun, profesional diterapkan APF dan netral NaF tersedia sebagai produk
foambased dan gel thixotropic.
Empat potensi tinggi, frekuensi rendah, profesional diterapkan sistem fluor topikal telah
disetujui oleh FDA untuk digunakan dalam kantor. Produk-produk ini diproduksi sebagai gel
dan busa (yang ditambah asam dan netral) atau pengolesan dan memiliki tingkat pengurangan
karies sekitar 30%:
1. 1,23%, 12.300 ppm APF (digunakan untuk sebagian besar pasien; bebas gluten sekarang
tersedia).
2. 2,0%, 9050 ppm netral NaF (digunakan untuk komposit, porselen, titanium, sealant,
sensitivitas).
3. 8,0% SnF2 (jarang digunakan, lihat nanti).
4. 5% NaF / 2,26% atau 22.600 ppm pengolesan (lacquer dalam basis rosin).
(Disetujui FDA untuk kontrol sensitivitas akar dan rongga liners hanya7).

Gel APF 1,23% digunakan secara luas dan merupakan pilihan untuk klien tanpa restorasi
berwarna gigi-atau sealant. APF adalah produk pH rendah sebagai akibat dari asam fosfat
ditambahkan dan dapat menyebabkan etsa dari beberapa bahan gigi. produk APF
dikembangkan karena penemuan bahwa semakin rendah pH senyawa fluor, semakin
meningkatkan laju reaksi antara fluor dan hidroksiapatit.
Gel NaF 2.0% netral adalah produk fluor profesional diterapkan lain yang umum. fluor
netral dipilih oleh dokter bila tidak pantas untuk menggunakan produk yg ditambah asam
(APF), ketika klien hadir dengan komposit, porselen, titanium, sealant, atau sensitivitas. Jika
produk fluor netral tidak tersedia, berisiko bahan gigi harus dilindungi dengan gel
nonpetroleum.

172 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


SnF2 8,0% jarang digunakan karena ketersediaan dan kurangnya stabilitas dalam larutan
air yang terbatas. Selain itu, produk ini memiliki penerimaan klien miskin karena rasa pahit,
iritasi jaringan, pengelupasan gingiva, dan pewarnaan gigi ekstrinsik. Namun demikian, bahan
pembusukan-pencegahan yang efektif.
Pengolesan fluor telah digunakan di Eropa selama bertahun-tahun dan baru-baru telah
digunakan secara luas di Amerika Serikat. Jenis pengiriman fluor cepat telah menjadi standar
perawatan untuk populasi tertentu. Lihat pembahasan pengolesan pada bagian berikutnya,
Etable 5.4, dan prosedur 5.2.

Tabel 5.4
Rekomendasi klinis untuk Penggunaan Profesional Terapan topikal Fluor

Tingkat Risiko karies Usia Rekomendasi

Rendah

Tidak ada lesi karies primer atau sekunder Semua Mungkin tidak menerima
baru jadi atau berlubang selama 3 tahun kelompok manfaat tambahan air fluor dan
terakhir dan tidak ada faktor yang dapat umur pasta gigi fluor dapat
meningkatkan risiko karies* memberikan pencegahan karies
yang memadai
Moderat

Tidak ada yang baru mulai atau berlubang <6 tahun aplikasi pengolesan fluor pada
lesi karies primer atau sekunder selama 3 interval 6 bulan
tahun terakhir, tapi setidaknya salah satu
faktor yang dapat meningkatkan risiko
karies*
Salah satu dari berikut: Lebih dari 6 pada interval 6 bulan
Satu atau dua baru jadi atau berlubang lesi tahun
karies primer atau sekunder selama 3
tahun terakhir
Tidak ada yang baru mulai atau berlubang
lesi karies primer atau sekunder selama 3
tahun terakhir, tapi setidaknya salah satu
faktor yang dapat meningkatkan risiko
karies*

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 173


Tinggi

Setiap baru jadi atau berlubang lesi karies <6 tahun aplikasi pengolesan fluor
primer atau sekunder selama 3 tahun pada interval 3 hingga 6 bulan
terakhir
Kehadiran beberapa faktor yang dapat
meningkatkan risiko karies*
status sosial ekonomi rendah†
paparan fluor suboptimal
xerostomia‡
Tiga atau lebih baru jadi atau berlubang lesi 6tahun atau aplikasi pengolesan fluor pada 3
karies primer atau sekunder selama 3 lebih tua hingga 6 bulan interval
tahun terakhir Pengolesan fluor atau gel fluor
Kehadiran beberapa faktor yang dapat aplikasi pada 3 hingga interval 6
meningkatkan risiko karies* bulan dapat memberikan
paparan fluor suboptimal tambahan manfaat pencegahan
xerostomia‡ karies bagi mereka 6-18 tahun

Faktor peningkatan risiko mengembangkan karies juga mungkin termasuk, namun tidak
terbatas pada, titer tinggi bakteri kariogenik, kebersihan yang buruk lisan, keperawatan
berkepanjangan (botol atau payudara), keluarga kesehatan gigi yang buruk, cacat
perkembangan atau diperoleh, kelainan genetik gigi, banyak restorasi multisurface,
kemoterapi atau terapi radiasi, penyalahgunaan obat atau alkohol, perawatan gigi yang tidak
teratur, diet kariogenik, perawatan ortodontik aktif, kehadiran permukaan akar terkena,
overhang restorasi atau margin terbuka, dan cacat fisik atau mental dengan ketidakmampuan
untuk melakukan perawatan kesehatan mulut yang tepat.
Berdasarkan temuan dari studi populasi, kelompok dengan status sosial ekonomi rendah
telah ditemukan memiliki peningkatan risiko karies. Pada anak-anak terlalu muda untuk risiko
mereka harus didasarkan pada sejarah karies, status sosial ekonomi rendah harus dianggap
sebagai faktor risiko karies. Medication-, radiation-, atau penyakit yang disebabkan
xerostomia.
Diadaptasi dari American Dental Association Dewan Urusan Ilmiah:
Professionallyapplied fluor topikal: rekomendasi klinis berbasis bukti, J Dent Educ 71: 393
2007.

174 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


S. TEKNIK MENGGUNAKAN CETAKAN SECARA PROFESIONAL: (PENENTUAN
KLIEN DAN PRODUK)

Banyak cara yang dapat menjadi pertimbangan dalam memilih cara yang tepat bagi klien
sehingga dapat memberikan manfaat terapi fluor sekaligus dapat memilih produk yang sesuai
untuk klien):
Terapan Fluor Faktor Perawatan-Risiko
1. Karies faktor risiko yang mungkin menunjukkan kebutuhan untuk profesional diterapkan
fluor topikal meliputi: lesi karies baru pada permukaan yang sebelumnya suara, karies
gigi pengalaman dalam sebelumnya 2 sampai 3 tahun.
2. Lesi sekunder yang terkait dengan margin restorasi.
3. Tingginya kadar bakteri kariogenik.
4. Status kesehatan mulut keluarga miskin.
5. Perawatan gigi profesional yang tidak teratur.
6. Kerusakan enamel, bintik-bintik putih, akar terekspos.
7. Diet kariogenik.
8. Mengenakan peralatan ortodontik aliran saliva dikompromikan (misalnya, dari kondisi
medis, stres, obat-obatan).
9. Terapi radiasi.
10. Kondisi terkait usia (misalnya, hipersensitivitas).
11. Kondisi medis (misalnya, sindrom Sjögren, gangguan makan); cacat fisik atau kognitif.

Untuk bayi, anak-anak, status karies gigi, sosial ekonomi rendah:


1. Riwayat pemberian fluor klien harus mencakup tingkat fluor dalam air minum ditambah
makanan dan asupan minuman. Faktor risiko harus dinilai ulang dan diperbarui secara
berkala.
2. Faktor risiko karies yang membuat anak-anak dan orang dewasa calon profesional
diterapkan perawatan fluor topikal dirangkum dalam kotak 33-1. Sebagai aturan umum,
pasien dengan kriteria sedang berisiko harus menerima aplikasi gel 4 menit atau
pengolesan fluor pada interval 6 bulan; pasien berisiko tinggi pada interval 3 sampai 6
bulan. (Kurangi interval re-hati ketika klien hadir dengan daerah baru mineralisasi atau
berisiko tinggi).
3. Jenis klien restorasi panduan jenis fluor (misalnya, memilih produk fluor netral untuk
klien dengan restorasi berwarna gigi-, implan, dan sensitivitas).
4. Tenaga kesehatan gigi harus selalu meninjau penelitian berbasis bukti pada produk.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 175


5. Kehadiran gigi baru meletus harus diperhatikan, karena penelitian menunjukkan bahwa
gigi yang paling rentan terhadap pembentukan karies selama 2 tahun pertama setelah
letusan.
6. Kemampuan klien untuk mentolerir 4 menit aplikasi fluor topikal:
7. Hati-hati jika akan digunakan ketika di-kantor perawatan fluor yang diberikan untuk
anak di bawah usia 6 tahun atau klien lansia. Empat menit adalah waktu yang lama untuk
duduk dengan sendok cetak fluor. menelan sengaja fluor dan ketidakmampuan untuk
secara efektif meludah atau menggunakan ejector air liur menempatkan klien berisiko
untuk menelan potensi tinggi fluor. Hal ini bisa mengakibatkan muntah atau toksisitas
fluor akut (lihat kotak 33-2). (Terapi pengolesan Fluor sering merupakan pilihan yang
lebih baik untuk anak-anak dan klien yang lebih tua).
8. Fisik atau kognitif cacat: Klien dengan ketidakmampuan untuk meludah atau memahami
pentingnya menahan diri dari menelan, dengan refleks muntah yang parah, atau mereka
yang tidak bisa duduk selama 4 menit tidak kandidat untuk sendok cetak fluor.

T. APLIKASI FLUOR OLEH TENAGA KESEHATAN GIGI: FITUR DAN


KEUNTUNGAN

Berikut ini adalah fitur dan keuntungan dari profesional menerapkan teknik tray fluor
(lihat prosedur 33-1):
1. Seluruh gigi dapat diobati secara bersamaan dengan paparan fluor yang optimal.
2. Minimal kontak jaringan lunak; desain tray dan cocok meningkatkan kenyamanan klien.
3. Kurang pengenceran dan kontaminasi fluor dengan air liur; waktu dan biaya yang efektif
potensial dikurangi untuk konsumsi fluor (dimaksimalkan dengan penggunaan produk
busa).
4. Keragaman desain tray dan ukuran, SML-XL*.

U. PROSEDUR APLIKASI FLUOR OLEH TENAGA KESEHATAN GIGI

Langkah-langkah prosedural bagi para tenaga kesehatan gigi dalam mengaplikasikan


fluor terhadap klien dimulai dari pemilihan jenis fluor seperti diuraikan sebelumnya.

V. PENGOLESAN FLUOR

Di Amerikas Serikat fluor yang diberikan dengan cara dioleskan mengandung sodium
fluor dengan konsentrasi 5% (22.600 ppm), tersedia dengan kombinasi dengan bahan lainnya
bioavailable antikaries (xylitol, timol). Fluor ini mengeras pada gigi pada kontak dengan air liur.

176 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Fluor konsentrasi tinggi yang dioleskan memberikan paparan sementara pada klien (1-7 hari),
(Angka 33-19 dan 33-20). Fluor yang dioleskan bekerja dengan cara memegang fluor di dekat
permukaan gigi untuk waktu yang lebih lama dibandingkan produk fluor lainnya. Produk-
produk ini dapat memperlambat, menangkap, dan/atau membalikkan perkembangan karies.
Gigi dikeringkan dengan kasa kuadran pada satu waktu, dan lapisan tipis pengolesan yang
diaplikasikan dengan kuas kecil (lihat prosedur 33-2). Klien harus diinstruksikan untuk
menghindari panas, makanan keras, atau renyah dan menyikat dan flossing selama 4 sampai
6 jam setelah diolesi fluor. Untuk dapat mengetahui manfaat lebih lanjut klien dapat melihat
petunjuk yang dikeluarkan produsen. Fluor yang dioleskan lebih praktis dari gel (dan busa):

Sumber: A, Courtesy Colgate Farmasi Oral, New York, New York B, Courtesy 3M ESPE, St
Paul, Minnesota

Gambar 5.6
A dan B, Contoh Unit-dosis 5% Sodium Fluor Pengolesan. C, Fluor Pengolesan yang
Diterapkan untuk Gigi

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 177


Sumber: A, Courtesy Ivoclar Vivadent, Inc, Amherst, New York. B, Courtesy GC America,
GAMBAR 7-5 pengolesan
Inc, Alsip,fluor. (A, Courtesy Ivoclar
Illinois
Vivadent, Inc, Amherst, New York. B, Courtesy GC
America, Inc, Alsip, Illinois.
Gambar 5.7
Pengolesan Fluor

1. Kemudahan aplikasi dengan tidak membutuhkan waktu lama, metode ini cocok bagi
anak-anak.
2. Tertelan dan ketidaknyamanan sangat kecil.
3. Rasa ofensif.
4. Biaya efektif/sejumlah kecil bahan yang dibutuhkan (7 mg vs 30 mg untuk gel di sendok
cetak).
5. Dapat makan makanan lunak dan minum setelah pengolesan.

Di Amerika Serikat, sejauh ini, FDA telah menyetujui bahwa pengolesan fluor digunakan
hanya sebagai liners rongga dan pengobatan gigi hipersensitif, bukan sebagai obat untuk
bahan karies-preventif, karena FDA menganggap ini untuk pencegahan karies. Karena FDA
menyetujui fluor oles sebagai bahan karies-preventif, maka produsen perlu melakukan uji
klinis tambahan dengan hasil meyakinkan meskipun bukti yang ada telah mendukung
efektivitas pengolesan fluor untuk pencegahan karies, terutama pada anak-anak, remaja, dan
orang tua.
Pendapat ahli mengenai aplikasi pengolesan fluor bervariasi. Beberapa
merekomendasikan penerapan produk setiap 3 sampai 6 bulan berdasarkan risiko karies. ADA
mendukung aplikasi ini dalam beberapa kasus dan mengeluarkan komentar berikut dalam
laporan mereka 2006: “pengolesan fluor diterapkan setiap 6 bulan efektif dalam mencegah
karies pada dentisi anak-anak dan remaja dan dua atau lebih aplikasi pengolesan per tahun

178 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


efektif dalam mencegah karies pada klien berisiko tinggi”7 (Lihat tabel 33-9). prosedur 33-2
menguraikan langkah-langkah untuk terapi pengolesan fluor, teknik cat-on.
Karena studi klinis banyak dan keberhasilan penggunaan fluor dengan cara dioleskan di
negara lain, metode ini tidak diperbolehkan oleh ADA dalam situasi seperti berikut:
1. Untuk bayi, balita, anak-anak, lansia, dan orang dewasa di risiko sedang-tinggi terserang
aries gigi.
2. Untuk membalikkan demineralisasi dan daerah bercak putih.
3. Ketika kontak fluor lagi yang diinginkan.
4. Untuk kontrol dari hipersensitivitas dentin.
5. Untuk klien dengan cacat fisik atau kognitif atau refleks muntah parah atau orang-orang
yang tidak dapat mentoleransi teknik tray 4 menit.

Berikut ini adalah beberapa dari fluor yang dioleskan yang tersedia di Amerika Serikat:
1. 5% NaF/2,26% fluor atau 22.600 ppm (Duraphat, Duraflor, Vanish, Fluorx, X-Pur Putih)
(lihat Gambar 33-19).
2. 1% difluorosilane/0,1% fluor atau 1000 ppm (Fluor Protector).
3. Cervitec Plus/1: 1chlorhexidine/timol-Kombinasi mengurangi tingkat patogen dan
merupakan satu-satunya pengolesan ADA disahkan untuk karies akar (lihat Gambar
5.20).
4. Merangkul/5% fluor dengan kalsium xylitol berlapis dan fosfat.
5. MI pengolesan/NaF ditambah RECALDENT (CPP-ACP) (lihat Gambar 5.20).
6. Enamel Pro pengolesan dengan fluor dan ACP.

W. KEAMANAN PENGOLESAN FLUOR

Tidak ada insiden toksisitas fluor akut atau kronis sebagai akibat dari menggunakan
pengolesan fluor. Metode pemberian fluor dengan cara dioleskan meminimalkan terjadinya
keracunan akibat dosis fluor yang diberikan. Atas hal itu metode ini sangat penting bagi anak-
anak, orang tua, dan orang cacat. Pelepasan fluorida setelah puncak penempatan awal dan
kemudian turun secara dramatis. kadar plasma dari fluor setelah aplikasi pengolesan mirip
dengan yang dialami setelah penggunaan pasta gigi berfluor OTC. Proses pengolesan fluor,
menyebabkan terjadi penyerapan fluor secara perlahan-lahan selama periode waktu, hal ini
mengurangi kemungkinan toksisitas fluor akut. Karena bahan ini mengandung damar, maka
jangan diberikan/digunakan pada orang dengan sensitif bahan ini atau bagi klien yang
menderita gingivitis ulseratif, stomatitis.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 179


X. KERACUNAN FLUOR

Jumlah fluor yang menyebabkan reaksi toksik atau menghasilkan dosis mematikan
didasarkan pada berbagai faktor. Istilah yang digunakan untuk menggambarkan berapa fluor
dapat ditoleransi oleh klien adalah dosis aman ditoleransi (STD) dan dosis tentu mematikan
(CLD):
1. STD adalah jumlah fluor yang dapat tertelan tanpa menyebabkan toksisitas akut yang
serius; itu adalah sekitar seperempat dari CLD tersebut.
2. CLD adalah jumlah fluor yang menyebabkan kematian klien; 5 sampai 10 g natrium fluor
dianggap sebagai CLD untuk 70-kg atau 154-lb dewasa.

Toksisitas akut (keracunan fluor) adalah tertelannya bahan fluor topikal dalam waktu
singkat sehingga menghasilkan reaksi sistemik ringan (sakit perut atau muntah) bahkan terjadi
kematian. Banyak faktor yang mempengaruhi toksisitas senyawa fluor: rute pemberian, usia
klien dan berat badan, dan tingkat penyerapan. Ketika fluor ditelan, ia bereaksi dengan asam
lambung; produk reaksi adalah hidrogen fluorida (HF). HF sangat menjengkelkan pada lapisan
lambung. distress abdominal dapat terjadi setelah jumlah yang relatif kecil dari produk yang
lebih tinggi-konsentrasi ditelan.
Gejala awal dari keracunan fluor akut adalah mual, nyeri gastrointestinal, dan muntah.
Jika jumlah yang cukup fluor yang tertelan, gejala pertama dapat diikuti oleh kelemahan otot
dan kejang yang terjadi sebagai akibat dari fluor menggabungkan dengan ion kalsium darah.
dosis toksik dari fluor mempengaruhi sistem tubuh utama sebagai berikut:
1. Gastrointestinal: sakit perut dan kram, mual, muntah, diare.
2. Neurologis: paresthesia, tetani, sistem saraf pusat depresi, koma.
3. Kardiovaskular: nadi lemah, pucat, hipotensi, syok, penyimpangan jantung, gagal
jantung.
4. Kasus dosis toksik akut fluor pada anak-anak telah didokumentasikan.

Y. TINDAKAN YANG HARUS DILAKUKAN PADA KEJADIAN KERACUNAN


FLUOR

Tujuan pengobatan awal untuk toksisitas fluor akut adalah untuk mengurangi jumlah
fluor yang masuk ke dalam saluran pencernaan. Tindakan tanggap darurat harus yang
dilakukan tergantung pada jumlah fluor tertelan. Berikut langkah-langkah tindakan darurat
pada kasus penanganan terjadinya keracunan fluor:
1. Menginduksi muntah dengan pemberian emetik, seperti sirup ipecac (ini harus terjadi
hanya jika klien memiliki refleks muntah, sadar, dan tidak kejang-kejang).

180 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


2. Mengelola cairan fluorida mengikat secara lisan: 1% kalsium klorida atau kalsium
glukonat, susu magnesium, atau susu.
3. Tenaga medis harus mengaktifkan layanan medis darurat (EMS); klien harus diangkut
ke rumah sakit sesegera mungkin.
4. Dukungan pernapasan dan sirkulasi jika perlu. Respons oleh personel darurat
tergantung pada keparahan gejala.
5. Terapi suportif meliputi:
a. Kalsium glukonat untuk tremor otot atau tetani.
b. Intubasi endotrakeal, diikuti oleh lavage lambung dengan larutan yang
mengandung kalsium atau arang aktif.
c. Lancarkan saluran napas.
d. Infus untuk mengembalikan volume darah dan elektrolit dan membalikkan efek
muntah dan diare dan untuk mempertahankan aliran urin.
e. Mempertahankan sirkulasi kardiovaskular dan pemantauan.
f. Pemantauan darah untuk kadar fluor plasma, hiperkalemia, hipokalsemia, pH.
g. Pengganti intravena kalsium, pemberian glukosa, oksigen, pernapasan buatan,
atau terapi suportif lainnya.
6. Jika klien merespons positif, terapi suportif yang dilanjutkan sampai kewaspadaan yang
normal mental, tanda-tanda vital, dan profil serum kimia yang dicapai.

Z. PENCEGAHAN TERJADINYA KERACUNAN FLUOR (AKUT DAN KRONIS)

Meskipun produk fluor memiliki manfaat terapeutik jelas, penggunaan dan


penyimpanan fluor harus dipantau. Seorang dokter gigi atau Terapis gigi dan mulut harus
mendidik klien, orang tua, dan pengasuh mengenai penggunaan yang aman dan penyimpanan
fluorida bahkan dosis rendah. Selain itu, para dokter gigi atau Terapis gigi dan mulut harus
selalu ekstra hati-hati ketika menggunakan bahan resep-potensi tinggi. Untuk menggunakan
secara aman produk fluor ini, Terapis gigi dan mulut harus memilih jenis produk secara hati-
hati dan klien harus memahami hal-hal berikut:
1. Konsentrasi fluor dan jumlah produk tetulis dalam setiap kemasan.
2. Klien harus dapat mentolerir aplikasi fluor (terutama sendok cetak 4 menit).
3. Jumlah dosis yang tepat untuk digunakan dalam pengobatan (terutama dosis bagi bayi,
anak, atau dosis dewasa).
4. Jumlah yang disediakan berkaitan dengan CLD.
5. Jangan pernah meninggalkan klien sendiri selama pengobatan.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 181


AA. PENCEGAHAN KARIES SECARA NON-FLUOR-REKOMENDASI AMERICAN
DENTAL ASSOCIATION (ADA)

Prevalensi karies gigi telah menyebabkan penelitian terfokus dan pengembangan


produk yang ditujukan untuk pencegahan dan pengendalian. 3 Studi telah menantang karena
kebutuhan untuk percobaan jangka panjang klinis, yang mahal, dan banyak variabel yang
berkontribusi terhadap pembentukan karies (misalnya, menempatkan sesuatu di mulut
merangsang aliran saliva dan mengubah pH). Namun, penelitian telah menghasilkan beberapa
produk nonfluor menjanjikan. ADA melakukan peninjauan secara sistematis penelitian
berbasis bukti saat ini mengenai produk ini pada tahun 2010, dilaporkan pada tahun 2011.
Setelah studi menyeluruh oleh Dewan ADA Urusan Ilmiah dilakukan maka dalam sebuah
pertemuan ilmiah memberikan rekomendasi bagi para profesiona; di bidang kesehatan gigi.
Temuan para ahli mengenai nonfluor karies-preventif bahan dibahas pada bagian berikut dari
bab ini: penggunaan fluor untuk pencegahan karies didokumentasikan dengan baik,
sedangkan bahan nonfluor memiliki sejarah kurang, bukti kurang.
Terlepas dari hasil penelitian dan array OTC dan resep nonfluor bahan yang tersedia,
penting bagi dokter gigi atau terapis gigi dan mulut untuk mengingat bahwa penggunaan
bahan fluor, profesional diterapkan fluorida, air kota fluor, sealant, dan kontrol asupan
karbohidrat tetap modalitas pilihan untuk karies manajemen. American Dental Association
saat ini merekomendasikan menggunakan bahan nonfluor sebagai tambahan saja; baris
pertama pertahanan untuk kontrol karies tetap fluor.7 (Catatan: Laporan produk ADA tidak
cukup bukti tidak berarti bahwa intervensi tidak efektif, bukan bahwa panel tidak menemukan
cukup bukti untuk mendukung rekomendasi.3.7 Pertimbangan ini penting ketika menganalisis
penelitian atau menggunakan penilaian profesional untuk merumuskan rencana pengelolaan
karies untuk klien).

BB. KLORHEKSIDIN PRODUK DAN KLAIM

Chlorhexidine telah terbukti mengurangi S. mutans tingkat, tetapi penggunaan


klorheksidin sebagai bahan karies-preventif masih kontroversial.
ADA menemukan bukti yang cukup untuk merekomendasikan klorheksidin/thymol
(spektrum luas biosida) kombinasi pengolesan untuk kontrol karies akar (CervitecPlus Varnish
oleh Ivoclar Vivadent, lihat Gambar 5.20). produk chlorhexidine yang mengandung lain perlu
penelitian lebih lanjut dengan bukti yang diakui bahan sepenuhnya sebagai cariespreventive
oleh ADA dan FDA.

182 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


CC. KLORHEKSIDIN SEBAGAI OBAT PENGONTROL KARIES

Chlorhexidine glukonat telah digunakan sebagai antibakteri untuk pengelolaan karies


gigi dan penyakit periodontal.

Gambar 5.8
Contoh Chlorhexidine Glukonat Kumur 0,12%

Bahan antibakteri berspektrum luas bekerja dengan cara disintegrasi membran sel
bakteri dan memiliki kemampuan bakterisida dan tindakan bakteriostatik berkepanjangan
(substantivitas, atau periode tindakan, adalah 8 sampai 12 jam) yang dihasilkan dari adsorpsi
ke permukaan enamel pelikel berlapis. Ketika digunakan sebagai obat kumur (Gambar 5.21),
Chlorhexidine glukonat memang memiliki tahan lama efek antimikroba dari bahan lain tapi
masih jatuh pendek dengan bioavailabilitas yang terbatas di beberapa daerah rongga
mulut.19
Penggunaan chlorhexidine dalam jangka panjang glukonat dapat mengubah rasa,
penyebab pewarnaan jaringan mulut, dan meningkatkan pembentukan kalkulus sehingga
kebutuhan untuk re-perawatan lebih sering. Meskipun ada kontroversi bahwa chlorhexidine

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 183


glukonat dalam hubungannya dengan fluor direkomendasikan untuk penggunaan jangka
pendek dalam kasus tinggi atau ekstrim berisiko untuk meningkatkan manajemen karies.3
Chlorhexidine glukonat paling efektif dalam mengurangi S. mutans tingkat dalam bentuk
pengolesan, diikuti oleh gel dan larutan kumur. AS Food and Drug Administration belum
menyetujui kendaraan pengolesan untuk pencegahan karies. Telah terbukti bahwa
chlorhexidine menekan jumlah S. mutans, tetapi hanya sementara, dan temuan mengenai
pengurangan karies kejadian dicampur. S. mutans tingkat akan kembali ke status pra-
perawatan dalam bulan penggunaan dihentikan.9
Untuk individu yang berisiko ekstrim, kumur-kumur klorheksidin glukonat 0,12% selama
1 menit setiap hari selama 1 minggu setiap bulan dianjurkan untuk mengurangi Streptococcus
mutans dan tingkat lactobacilli dalam biofilm plak (lihat tabel 18-1). Treatment ini ditunjukkan
dalam percobaan klinis 3 tahun untuk mengurangi kejadian karies sebesar 24% dibandingkan
dengan kelompok kontrol pengobatan konvensional. Traetment ini penting untuk dicatat,
karena ini dikembangkan selama persidangan dan terbukti efektif dibandingkan dengan dosis
yang kurang sering lain yang telah diusulkan oleh penulis sebelumnya. Terapi klorheksidin
yang dapat mengurangi agresi bakteri harus digunakan bersama dengan fluor untuk
remineralisasi seperti yang dijelaskan sebelumnya. Kumur-kumur laritan ini sekali dalam
sehari selama 1 minggu nyata mengurangi tingkat Streptococcus mutans, tapi Streptococcus
mutans akan kembali dengan cepat. Oleh karena itu treatment ini harus diulang setiap bulan,
sehingga akan mendorong tingkat bakteri ke daerah yang aman selama 6 bulan. Dari
treatment ini kadang dapat menyebabkan pewarnaan ringan.
Dokter gigi atau Terapis gigi dan mulut harus memberitahu klien bahwa chlorhexidine
dinetralkan oleh dua aditif pasta gigi: sodium lauryl sulfate (SLS) dan natrium
monofluorophosphate (MFP). Oleh karena itu kumur-kumurchlorhexidine harus digunakan 2
jam setelah menyikat gigi dengan pasta gigi yang mengandung bahan-bahan tersebut.

DD. PRODUK XYLITOL

(Systematic Review American Dental Association 2011) berkaiotan dengan bahan


Nonfluor untuk Pencegahan Karies. Bahwa rekomendasi produk yang mengandung xylitol:
1. penggunaan xylitol pada anak-anak atau poliol (alkohol gula) -kombinasi permen karet
selama 10 sampai 20 menit setelah makan dapat mengurangi kejadian karies koronal.
2. Penggunaan xylitol pada orang dewasa atau poliol-kombinasi permen karet selama 10
sampai 20 menit setelah makan dapat mengurangi kejadian karies koronal.
3. penggunaan permen lozenges pada anak-anak/permen yang mengandung xylitol
setelah makan dapat mengurangi kejadian karies koronal.
4. xylitol dalam pasta gigi bukti terbukti dapat mencegah karies.

184 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


5. xylitol mengurangi penularan karies secara vertikal dari ibu ke anak selain itu
penggunaan xylitol membantu mengurangi penularan secara horizontal antar saudara
kandung.

Selanjutnya, review panel ADA menyoroti fakta biologis yang masuk akal bahwa belum
tentu tindakan menggunakan produk yang mengandung xylitol dapat meningkatkan produksi
air liur dan menetralisir asam, sehingga berpotensi menurunkan kejadian dan perkembangan
karies,.3 (Catatan: FDA baru-baru ini menyetujui penggunaan klaim terbatas “Apakah tidak
mempromosikan kerusakan gigi”; pernyataan posisi ADA berbunyi “makanan bebas gula tidak
mempromosikan kerusakan” mengenai produk yang mengandung poliol).

EE. XYLITOL SEBAGAI BAHAN NONFLUOR UNTUK MENGONTROL KARIES

Xylitol adalah pemanis noncariogenic yang terlihat dan terasa seperti sukrosa, bahan
utamanya berasal dari pohon birch, dan merupakan salah satu dari banyak poliol, atau “gula
alkohol.” Poliol lain, seperti sorbitol, mannitol, maltitol, dan sucralose, juga digunakan secara
luas untuk mempermanis makanan dan minuman tetapi dianggap rendah kariogenik, tidak
noncariogenic, seperti xylitol. Karena S. mutans tidak dapat memfermentasi xylitol, replikasi,
dan karena itu produksi asam, berkurang. Selanjutnya, setiap sisa bakteri Acidogenic di biofilm
lisan memiliki kemampuan adhesi kurang, sehingga mengurangi jumlah biofilm yang
melekat.9
Kandungan Xylitol dapat dikemas seperti dalam permen karet, permen, semprotan
nafas agar segar, pasta gigi, lozenges, atau sirup sebagai cara yang efektif untuk mengontrol
produksi asam, bersama dengan penggunaan fluor dan membatasi karbohidrat (Angka 33-22
dan 33-23). Idealnya, dokter harus merekomendasikan produk dengan xylitol terdaftar
sebagai bahan pertama dan hanya pemanis. Produsen sering menggunakan kombinasi poliol
karena lebih murah. Beberapa Trident (Cadbury Adams USA) dan pembuka percakapan
(Hershey, Inc.) OTC permen karet mengandung xylitol sebagai bahan pertama mereka dan
hanya poliol; X-Pur karet dan permen oleh Science Oral mengandung 100% xylitol
(lihatGambar 33-23).

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 185


Gambar 5.9
Contoh Permen Mengandung Xylitol dan Gusi

Sumber: Ilmu Oral Courtesy, Inc, Brossard, Kota Quebec, Kanada

Gambar 5.10
Contoh Pasta Gigi Mengandung Xylitol dan Permen

186 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Untuk dosis terapi (dosis yang diperlukan untuk memproduksi hasil yang diinginkan),
permen karet, permen pelega tenggorokan, atau permen harus berisi 1,55 g (dua potong Orbit
mengandung 3 g) xylitol dan digunakan setidaknya empat sampai lima kali sehari: 6 sampai 10
g/hari, 3-8 potong, tergantung pada pilihan produk.
Lozenges dengan xylitol dapat ditemukan di Internet atau di toko makanan kesehatan;
permen dengan xylitol dapat dipesan di Internet atau mana permen bebas gula dijual; permen
karet dengan xylitol dan fluor tersedia di Eropa. Ketersediaan terbatas karena kurangnya
otorisasi oleh lembaga. Semua klien harus diperingatkan bahwa kelebihan xylitol (lebih dari
20 g/hari) dapat menyebabkan diare. Orang dengan diabetes harus memperingatkan bahwa
xylitol dapat mengganggu kontrol glukosa.
Ulasan sistematis Bahan Nonfluor Karies-Preventive ADA pada tahun 2011 memutuskan
bahwa terdapat bukti yang cukup untuk mendukung bahwa protokol-xylitol (atau
klorheksidin) digunakan sebagai sarana yang tepat untuk mengurangi penularan secara
vertikal dari S. mutans dari ibu-tochild.3Banyak penelitian telah dilakukan untuk menyelidiki
praktik ini. Kesimpulan paling optimis telah menyatakan bahwa “ibu dengan S. mutans yang
tinggi counts menggunakan chlorhexidine atau xylitol lebih baik daripada pencegahan dasar
saja dan dapat menghalangi transmisi S. mutans. Waktu, dosis, frekuensi, dan durasi akan
memberikan manfaat maksimal tetap sulit dipahami.”17 Mengingat bahwa karies adalah
proses multifaktorial, treatmen belum dapat membuktikan secara akurat.
Wanita hamil yang terinfeksi dengan S. mutans didorong untuk menggunakan xylitol
secara agresif selama bulan-bulan pada akhir kehamilan dan selama postpartum 3 bulan
pertama untuk mengurangi risiko penularan karies secara vertikal pada bayi mereka. Praktik
terapi tersebut tidak lagi dianggap sebagai praktik standar. Seperti dengan bahan nonfluor
lainnya, uji klinis acak secara terkontrol lebih lanjut diperlukan untuk membuktikan kebenaran
ini.

FF. PRODUK KALSIUM DAN FOSFOR DAN BEBERAPA PERNYATAAN

Meskipun banyak penelitian telah dilakukan dan perusahaan yang memproduksi obat
bebas dan resep produk yang mengandung kalsium, fosfat, dan protein kasein telah membuat
klaim yang cukup besar, panel ADA menemukan bahwa bahan ini tidak dapat
direkomendasikan pada situasi seperti itu. Setelah review sistematis dari penelitian berbasis
bukti yang tersedia, ADA menyatakan bahwa ada bukti yang cukup untuk menunjukkan bahwa
penggunaan ACP- dan CPP-ACP- produk yang dapat menurunkan kejadian karies koronal atau
akar.3Namun demikian, teknologi kalsium dan fosfor berbasis dan produk yang dipilih sebagai
tambahan untuk produk fluor yang berperan dalam kontrol karies. Penelitian mengenai

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 187


efektivitas lanjutan dan temuan-temuan tambahan diperlukan untuk mendokumentasikan
efektivitas bahan ini.

GG. AMORF KALSIUM FOSFAT

Amorf kalsium fosfat (ACP) mengandung mineral yang sama seperti kristal hidroksiapatit
dari enamel gigi dan merupakan senyawa komersial pertama dari jenisnya. Para ilmuwan
menemukan bahwa kalsium dan fosfat ion dalam ACP memiliki afinitas untuk demineralisasi
pada kontak dengan ion liur dan enzim protease. Klaim produk dengan kalsium fosfat amorf
meliputi berikut ini:
1. Dapat membantu mencegah demineralisasi dan karies lambat kemajuan.
2. Dapat merangsang remineralisasi melalui bioavailabilitas kalsium dan fosfat.
3. Dapat meningkatkan fluor penyerapan kalsium dan fosfat ion memiliki afinitas untuk
fluor.
4. Menutup jalan tubulus dentin untuk mengurangi hipersensitivitas dentin.
5. Membentuk lapisan hidroksiapatit baru dengan yang lebih besar kristal-ini tindakan
menjadikan gigi lebih tahan terhadap penetrasi asam dan demineralisasi daripada kristal
enamel asli.

OTC client-diterapkan produk ACP termasuk Enamel Perawatan dengan Kalsium cair,
Umur Defying dan pasta gigi Mentadent Ulang Putih (Arm dan Hammer). produk profesional
diterapkan dengan ACP termasuk zat pemutih gigi-Zoom! Hari Putih (Philips) dan Nite Putih
dengan ACP (Smilox), profilaksis tempelkan Enamel Pro, 5% NaF dengan pengolesan ACP, dan
Enamel Pro Varnish (Premier Gigi).
ACP-produk yang mengandung bukan pengganti untuk terapi fluor, tetapi dokter dapat
menggunakan produk ACP selama pengobatan dan merekomendasikan kepada klien berisiko
karies.

HH. CASEIN PHOSPHOPEPTIDES-AMORF KALSIUM FOSFAT

Tak lama setelah penemuan ACP, peneliti menyadari bahwa jika mereka
phosphopeptides kasein (CPP) digabungkan dengan ACP (CPP-ACP), senyawa tersebut
memiliki afinitas yang lebih besar untuk biofilm bakteri karena kehadiran CPP stabil ACP
memungkinkan ion lebih cepat mencapai enamel .9 Situasi ini dapat menyediakan reservoir
kalsium yang lebih besar dalam biofilm dan memperlambat difusi kalsium bebas dari struktur
gigi.10CPP merupakan bahan yang berasal dari kasein, bagian dari protein yang ditemukan

188 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


dalam susu sapi; oleh karena itu merupakan kontraindikasi pada orang dengan alergi protein
susu.
Produk CPP-ACP (misalnya, RECALDENT, GC America, Inc., [Gambar 33-24]) Membantu
mempertahankan mineral penting (kalsium dan fosfat) dalam bentuk larut yang mengikat dan
menembus struktur gigi. Produk dengan CPP-ACP membuat klaim berikut:

Sumber: B, GC Courtesy Amerika, Inc, Alsip, Illinois

Gambar 5.11
A, Contoh Kasein Produk Kalsium Fosfat Profesional Diberikan Phosphopeptide-Amorf.
B, Produk dapat Disampaikan sebagai Pasta Profilaksis atau Melalui Sendok Cetak

1. Dapat meningkatkan aliran saliva, gejala xerostomia, penyerapan fluor, dan enamel
kilau.
2. Menyediakan lingkungan jenuh kalsium “bebas” dan fosfat untuk remineralisasi dan
mikroskopis enamel perbaikan cacat.
3. Dapat mengurangi hipersensitivitas dentin.
4. asam penyangga, mengurangi kadar asam, dan meningkatkan pH mulut.

Senyawa ini juga ditemukan dalam Trident Xtra Perawatan Gum (Cadbury Adams USA)
dan resep-satunya MI Paste, MI Tempel Ditambah dengan fluor (GC America, Inc.), dan MI
Varnish (lihat Gambar 33-20). MI Tempel (lihat Gambar 33-24) Harus diterapkan secara
langsung pada gigi tanpa kuas, dan penggunaan semalam di sendok cetak kustom ditoleransi

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 189


dengan baik karena kurangnya konten fluor (tidak begitu dengan MI Paste Plus). Serupa
dengan produk dengan produk hanya ACP, CPP-ACP mengandung bukan pengganti untuk
terapi fluor baik tetapi dapat digunakan bersama-sama dengan fluor untuk klien berisiko
untuk karies. uji klinis jangka panjang tambahan diperlukan untuk mendokumentasikan
efektivitas dalam pengurangan karies.

II. PRODUK NON-FLUOR LAINNYA

ADA belum melakukan peninjauan secara sistematis tentang penelitian evidencebased


kalsium natrium phosphosilicate, natrium bikarbonat, atau probiotik. Bidang Ilmiah ADA
mengeluarkan pernyataan tentang triclosan dan povidone-iodine dalam produk gigi dan
menemukan bukti yang cukup bahwa bahan ini menurunkan kejadian karies

JJ. KALSIUM NATRIUM PHOSPHOSILICATE

NovaMin adalah nama merek bioaktif kaca, kalsium natrium phosphosilicate (CSD).
kimia anorganik ini mengikat permukaan gigi dan memberikan kalsium, fosfor, natrium, dan
silika untuk menggantikan mineral yang hilang. Ketika partikel kaca datang dalam kontak
dengan air liur, kalsium dan fosfat ion yang dilepaskan. Sebuah kalsium-fosfat bentuk lapisan
dan mengkristal sebagai hidroksiapatit baru. tubulus dentin yang tersumbat dalam proses.
NovaMin tersedia dalam produk OTC dan di Internet: misalnya, Sensodyne Repair dan
Melindungi (GlaxoSmithKline) dan X-Pur (Ilmu Oral) pasta gigi (dapat digunakan dalam sendok
cetak semalam karena kurangnya konten fluor), permen, dan permen karet ( LihatGambar 33-
23), Nupro Profilaksis Paste (Dentsply), dan dengan resep, Sensodyne Nupro Pasta gigi dengan
NovaMin ditambah 5000 ppm fluor atau SootheRx (3M ESPE). ketersediaan terbatas adalah
karena kurangnya validasi lengkap oleh FDA dari nonfluor karies-preventif bahan.

KK. TRIKALSIUM FOSFAT

Teknologi fosfat kalsium lain di pasar adalah trikalsium fosfat (TCP). TCP melindungi ion
kalsium dan membebaskan ion fosfat; bahan ini melarang kalsium dari bereaksi sebelum
waktunya dengan fluor sebelum mencapai permukaan gigi. Setelah TCP terkena air liur pada
struktur gigi, kalsium, fosfat, dan ion fluorida dilepaskan. TCP adalah bahan dalam Clinpro
5000 pasta gigi dan Lenyap pengolesan.

190 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


LL. SODIUM BIKARBONAT

Natrium bikarbonat (NaHCO3, atau sendok cetakng soda) menetralkan asam yang
dihasilkan oleh bakteri Acidogenic dan bakterisida. Bahan ini agak kasar, dapat dicampur
dengan air untuk menyikat atau berkumur (pilihan yang baik untuk klien dengan hiposalivasi),
dan tersedia dalam kombinasi dengan bahan lain dalam banyak produk gigi di pasar, seperti
Orbit Putih (Wrigley) gusi dan Arm & Hammer dan Tom dari pasta gigi Maine.

MM. PROBIOTIK

Penggunaan probiotik untuk menggantikan dan menghilangkan bakteri kariogenik


dengan bakteri noncariogenic telah menunjukkan hasil awal yang menjanjikan; Namun, bukti
tentang efektivitas pengurangan kejadian karies kurang. Dengan pendekatan ini kontrol karies
menciptakan keseimbangan antara bakteri menguntungkan dan patogen dalam rongga mulut.
Probiotik adalah mikroorganisme hidup, yang bila diberikan dalam jumlah yang cukup,
memberikan manfaat kesehatan pada individu.4 Penelitian telah difokuskan pada identifikasi
bakteri patogen yang dapat mencegah perkembangan biofilm rongga mulut: rendah
mikroorganisme penghasil asam seperti Streptococcus rattus, Streptococcus oralis, dan
Streptococcus uberis cepat untuk menghambat pertumbuhan varietas patogen.5 Yang paling
ekstensif dipelajari probiotik, Lactobacillus rhamnosus, ditemukan menghambat S. mutans
agresif.4
Tujuan pengobatan jangka panjang terapi probiotik adalah memilih probiotik yang
tepat, melengkapi lingkungan mulut dengan bakteri menguntungkan, dan mempromosikan
ekologi plak sehat.3Harapannya adalah bahwa di masa depan dokter akan dapat menargetkan
bakteri tertentu berdasarkan kebutuhan tunggal, mengubah biofilm secara individual untuk
mencegah penyakit gigi, apakah karies atau penyakit periodontal. Probiotik (GUM
PerioBalance oleh Butler, EvoraPro dan ProBiora3 oleh Orbahanics, Gambar 33-25) Yang
tersedia di toko makanan kesehatan, toko obat, dan di Internet, namun efektivitasnya belum
diuji ketat.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 191


Sumber: Courtesy Orbahanics, Inc, Tampa, Florida

Gambar 5.12
Contoh Probiotik

NN. MENGONTROL KARIES PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN XEROSTOMIA

Meningkatnya jumlah klien yang hadir dengan kasus xerostomia lebih lama, pengobatan
radiasi, dan berbagai obat-obatan yang menyebabkan mulut kering. Pasien dengan
xerostomia berada pada risiko tinggi untuk menderita karies karena kurang air liur. Kehilangan
air liur menyebabkan menurunnya pH, bakteri acidophilic berkembang, asam tidak buffered
secara efektif, dan ketersediaan mineral berkurang. 9 Mengingat semua ini efek merusak,
dokter harus membuat komitmen untuk mendidik pasien dan merekomendasikan antikaries
dan produk paliatif.
Penyebab utama hipofungsi ludah karena lebih dari 700 obat-obatan, autoimun dan
sistemik penyakit, radiasi ke kepala/leher, stres, dan depresi. Kurangnya fungsi saliva
menyebabkan salah satu atau semua gejala berikut: kental, air liur lengket; kesulitan berbicara
dan menelan; mulut berbau; rasa yang berubah bau dan rasa; membakar mulut dan bibir;
retak, fissuring, dan meningkatkan pembentukan biofilm di lidah. Beberapa pasien menjadi
sangat tidak nyaman mereka resor untuk stimulasi listrik dari kelenjar dan akupunktur.
Selain konseling diet, perawatan di rumah secara teratur, profilaksis rutin, dan
penerapan chlorhexidine-timol pada permukaan akar pasien yang mengalami xerostomia,

192 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


berbagai produk yang tersedia yang dapat menggantikan fungsi air liur, menetralkan
kerusakan, dan kompensasi untuk yang mengalami kekurangan saliva di rongga mulut:
1. Resep fluor pasta gigi seperti PreviDent atau Clinpro 5000.
2. OTC pasta gigi/Internet yang mengandung jumlah yang lebih tinggi dari xylitol, 10% ke
36% (misalnya, Tom dari Maine, sigap oleh Xlear dan Epic Gigi).
3. OTC fluor dan/atau xylitol larutan kumur (selalu menawarkan bilas xylitol di Internet).
4. Biasa menggunakan xylitol 100% yang mengandung produk mekanis yang dapat
merangsang aliran saliva9 (Misalnya, TheraGum oleh 3M ESPE dan X-Pur permen,
permen karet).
5. Gel yang menetralisir pH oral (misalnya, GC America), belah ketupat dengan asam sitrat
yang secara kimia menstimulasi aliran saliva (tersedia di Internet, beberapa produsen).
6. produk OTC yang merangsang, melembabkan, dan melumasi (misalnya produk Biotene
oleh GlaxoSmithKline; Gambar 5.13).

Sumber: Courtesy GlaxoSmithKline, Moon Township, Pennsylvania

Gambar 5.13
Contoh Produk Biotene untuk Xerostomia Pengobatan

7. Disesuaikan dengan bahan remineralisasi


8. Tablet perekat yang dipakai di langit-langit (misalnya, OraMoist oleh Quantum
Kesehatan, Gambar 5.14 dan Xylimelts oleh OralHealth). Produk tersebut mengandung
xylitol, pelumas, enzim lisan, senyawa buffering, dan inducers sekresi air liur.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 193


Sumber: Courtesy Quantum, Inc, Eugene, Oregon

Gambar 5.14
Contoh Tablet Palatal untuk Meringankan Gejala Xerostomia

9. OTC dan resep saliva buatan (misalnya, Salivart, NeutraSal).


10. Resep obat ludah-merangsang seperti pilocarpine (Salbahan), cevimeline HCl (Evoxac),
trithione anethole (Sialor), bethanechol (Urecholine)*.
11. Klien dengan xerostomia sebaiknya tidak menggunakan pasta gigi yang mengandung SLS
karena meningkatkan kekeringan.

OO. PENCEGAHAN KARIES MASA DEPAN

Penelitian tentang pencegahan karies telah meningkat selama dekade terakhir karena
bertambahnya populasi masyarakat lanjut usia, banyaknya obat yang menyebabkan
xerostomia, dan temuan-temuan baru pada kelompok yang telah mendapatkan treatment.
Tingginya biaya penelitian, retensi para responden penelitian, dan sebagian besar
penelitian berfokus pada berbagai kombinasi bahan-bahan. Investigasi lainnya telah
menghasilkan wawasan menjanjikan berikut ke dalam memerangi karies gigi:
polyvinylpyrrolidone yodium dengan pengolesan fluor, arginin, fluor perak diamina, dan
pelega tenggorokan xylitol. senyawa alami termasuk ekstrak teh, ekstrak biji anggur, minyak
kelapa, ramuan Cina, dan flavonoid bioaktif (atau pigmen tanaman) juga telah diperiksa untuk

194 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


efek mereka pada penghambatan aktivitas bakteri oral.3 Penelitian telah berharap tapi tidak
meyakinkan untuk semua hal di atas.
Kemajuan baru juga telah dibuat baru-baru ini oleh tim Amerika/Chili ilmuwan dengan
perkembangan biomolekul. Biomolekul adalah “molekul pintar” yang istimewa membasmi
bakteri tertentu. Salah satunya, “Jauhkan 32,” membunuh S. mutans cepat, dan dampaknya
terakhir selama berjam-jam. percobaan manusia sedang berlangsung, dan hasil yang tertunda
pengujian, para ilmuwan optimis bahwa produk yang mengandung biomolekul ini akan berada
di pasar 18 bulan setelah selesai sidang. Berbagai kelompok ilmuwan juga sedang menyelidiki
kemungkinan vaksin untuk karies. DMG Amerika merilis perbaikan demineralisasi resin
infiltran, ICON, pada bulan Februari 2013 yang menunjukkan harapan untuk belum
pendekatan lain untuk pencegahan karies. Terakhir, bahan infeksi baru, Scardovia wiggsiae,
diidentifikasi pada tahun 2011 yang mungkin memainkan peran yang lebih penting daripada
S. mutans atau L.
Pada tahun 2011 ADA mengidentifikasi prioritas berikut untuk masa depan berbasis
bukti penelitian: pengolesan dan gel untuk pencegahan karies akar, interval ideal untuk fluor
dan pengolesan aplikasi pada populasi berisiko tinggi, remineralisasi lesi karies awal, 1 menit
dibandingkan 4- aplikasi tray menit, busa fluor, karies penilaian risiko, dan suplemen fluor
kunyah.

PP. PERENCANAAN MANAJEMEN KARIES

Hal pertama dan terpenting, Terapis gigi dan mulut harus menunjukkan bahwa semua
klien memiliki “dental home” pada usia 12 bulan. Setelah itu pertimbangan cermat harus
diberikan untuk mengumpulkan banyak informasi selama penilaian risiko. Pada setiap
kunjungan. Informasi ini diharapkan menghasilkan data risiko klien memiliki karies gigi dari sisi
pelindung maupun faktor patologis. Strategi pencegahan yang dibutuhkan klien dapat
direkomendasikan berdasarkan informasi/data yang telah diperoleh.
Manajemen karies harus menjadi suatu proses yang berkelanjutan melalui proses
pengumpulan data dan pemeriksaan berkala secara dinamis. Hal ini harus dijalankan oleh
Terapis gigi dan mulut dengan klien secara berkelanjutan.
Tips Pendidikan Klien
1. Menjelaskan proses karies, termasuk frekuensi karbohidrat dan peran bakteri
acidophilic.
2. Jika klien menggunakan air minum berfluor, maka penting sekali untuk melakukan uji
kadar fluor pada air minum.
3. Menginformasikan jenis-jenis/produk yang ada dewasa ini di pasaran yang dapat
mencegah dan mengendalikan karies.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 195


4. Menganjurkan klien untuk mengkonsumisi xylitol dalam kehidupan sehari-hari, karena
produk ini dapat mengontrol populasi bakteri penyebab karies.
5. Menjelaskan bahwa Streptococcus mutans dapat menularkan penyakit
6. Menekankan bagaimana fluor dan bahan nonfluor karies-preventif dapat memperbaiki
struktur gigi, demineralisasi atau menekan penularan bakteri patogen dan bagaimana
menggunakan dan menyimpan produk agar aman.
7. Jelaskan bagaimana kurangnya aliran saliva dapat meningkatkan risiko karies gigi.
Merekomendasikan suatu produk tertentu untuk membantu menetralkan gejala
xerostomia.
8. Jelaskan bagaimana manajemen karies gigi dapat dianggap sebagai masalah seumur
hidup yang memerlukan penilaian dan pengkajian secara periodik yang dihubungkan
dengan usia klien dan status kesehatan dan perubahan pola makan klien.
9. Memberikan penjelasan kepada para orang tua bahwa mereka adalah mitra penting
dalam pengelolaan karies gigi, terutama untuk anak di bawah usia 6 tahun.

QQ. HUKUM, ETIKA, DAN KEAMANAN

1. Tanggung jawab dan etika bagi Terapis gigi dan mulut untuk selalu mencatat semua
bahan-bahan kemoterapi yang digunakan selama tindakan perawatan serta pada semua
produk yang direkomendasikan.
2. Salah satu kewajiban etis yang harus dilakukan seorang Terapis gigi dan mulut adalah
banyak membaca literatur ilmiah. Hal ini akan memperkuat keputusan yang dibuat
untuk tindakan pengobatan dan pemberian suatu rekomendasi.
3. Tidak boleh memaksakan klien untuk menerima terapi fluor jika klien menyatakan tidak
bersedia.
4. Aplikasi fluor hanya dapat diberikan kepada klien yang bersedia/mau menerima.
5. Untuk dapat menganalisis sejauh mana paparan fluor dapat terjadi pelajari sejarah fluor
secara komprehensif.
6. Membuat suatu rekomendasi berdasarkan hasil evaluasi pemeriksaan klien, termasuk di
dalamnya adalah tentang risiko karies.
7. Menekankan tentang pentingnya penggunaan, penyimpanan yang aman, dan
pengawasan produk fluor bagi anak-anak.
8. Menjelaskan risiko, manfaat, dan instruksi pasca pemberian fluor maupun nonfluor
untuk semua klien.
9. Simpan, pantau tanggal kadaluwarsa, dan kelola semua bahan-bahan yang mengandung
fluor secara tepat.

196 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


10. Bekerja sama dengan tenaga kesehatan lain jika terjadi overdosis fluor pada klien dan
jangan pernah meninggalkan anak-anak tanpa pengawasan.
11. Perlu memiliki pengetahuan yang jelas dan lengkap tentang dosis mematikan (CLD) dan
dosis aman ditoleransi (STD).

RR. KONSEP KUNCI

1. Manajemen karies ditujukan untuk memulihkan dan menjaga keseimbangan antara


faktor patologis dan pelindung. Terapis gigi dan mulut membantu klien menjaga
keseimbangan tersebut melalui penilaian risiko karies (jumlah dan tingkat keparahan
faktor risiko), diet konseling (pengurangan frekuensi karbohidrat), memberikan
pemahaman pada klien tentang proses karies, perawatan kebersihan mulut, dan fluor
individual dan rekomendasi produk nonfluor.
2. Chlorhexidine tidak mengurangi jumlah S. mutans tapi bukti penelitian, pendapat
profesional bervariasi mengenai penggunaan bahan tersebut untuk mengontrol karies.
3. Tantangan yang berkelanjutan untuk klien dan dokter adalah adanya proses
demineralisasi dan remineralisasi yang terjadi terus menerus di rongga mulut. Air liur,
fluor, dan bahan-bahan nonfluor untuk mencegah karies berperan dalam proses
remineralisasi. Terapis gigi dan mulut harus membimbing klien agar dapat memilih
produk yang tepat berdasarkan waktu, tingkat risiko karies saat ini dan preferensi.
4. Masuknya fluor dalam mulut terbukti dapat mencegah karies.
5. Fluoridasi air minum di masyarakat merupakan upaya pemberian fluor secara topikal.
6. Meningkatnya insiden fluorosis menjadi tanggung jawab tenaga terapis gigi dan mulut
dan para profesi kesehatan gigi dalam mengevaluasi adanya paparan fluor secara
sistemik pada kelompok usia muda.
7. Penggunaan aplikasi fluor dalam bentuk gel telah banyak dilaporkan dalam beberapa
literatur; jenis ini diberikan pada klien dengan risiko karies pada gigi yang mengalami
demineralisasi.
8. Toksisitas fluor akut adalah salah satu risiko yang dapat muncul dari adanya suatu
kebijakan dalam penerapan program fluorisasi. Terapis gigi dan mulut memiliki peran
utama dalam mencegah terjadinya toksisitas akut.
9. Terapis gigi dan mulut harus memberikan perhatian khusus kepada klien tentang
instruksi pemeliharaan kebersihan mulut bagi mereka yang mempunyai xerostomia,
karena risiko karies pada klien dengan kondisi tersebut biasanya lebih tinggi.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 197


Latihan Berpikir Kritis

Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!

1) Individual penelitian definisi penelitian berbasis bukti. Cari contoh penelitian berbasis
bukti dan berbagi dengan rekan-rekan.
2) Bagilah kelompok menjadi subkelompok berikut: glukonat chlorhexidine, produk xylitol,
amorf kalsium fosfat (ACP) dan CPP-ACP produk, probiotik, produk xerostomia, dan
pasta gigi fluor dan larutan kumur. Kelompok harus mengunjungi toko obat untuk
mengumpulkan informasi tentang jenis produk bahan yang tersedia, aktif dan tidak aktif
dalam produk, instruksi pabrik, dan yang produk telah dianugerahi ADA Seal of
Acceptance atau CDA Seal of Recognition. Melaporkan kembali ke subkelompok lainnya.
3) Anggota kelompok melakukan pencarian di internet tentang fluor dan nonfluor pada
pencegahan karies yang dilakukan oleh bidang ilmiah ADA. Lampirkan dasar bukti yang
mendukung atau tidak mendukung bahan-bahan tersebut.
4) Carilah laporan penelitian-penelitian di situs CDC tentang fluor yang dilakukan di kota di
daerah Anda.

198 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Daftar Pustaka
Darby, M, Walsh, M. (2015). Dental Hygiene: Theory and Practice, 4th Edition. Elsevier
Saunders, US, St. Louis, Missouri.

Wilkins, E. (2017). Clinical Practice of Dental Hygiene, 12th Edition. Wolters Kluwer, US,
Philadelphia.

Darby, M. (2012). Mosby’s Comprehensive Review of Dental Hygiene, 7th Edition. Elsevier
Mosby, US, St. Louis, Missouri.

Noble, S. (2012). Clinical Textbook of Dental Hygiene and Therapy, 2nd Edition. Wiley-
Blackwell, UK, West Sussex.

Thomson, Evelyn M. (2013). Case Study in Dental Hygiene, 3rd Edition. Pearson Education, US,
New Jersy.

Logothetis, Demetra D. (2012). Local Anesthesia for The Dental Hygienist. Elsevier Mosby, US,
St. Louis, Missouri.

Prajer, R, Grosos, G. (2011). Dental Hygienist's Chairside Pocket Guide. F.A. Davis Company,
US, Philadelphia.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 199


200 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼
Bab 6
KEMOTERAPI UNTUK PENGENDALIAN
PENYAKIT PERIODONTAL
Yonan Heriyanto, [Link].T., [Link].
Marlindayanti, [Link], [Link].

Pendahuluan

Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu mendiskusikan tentang indikasi intervensi kemoterapi dalam pencegahan dan
pengobatan inflamasi penyakit periodontal.
2. Mampu mendiskusikan alasan-alasan dilakukannya terapi secara kimia.
3. Mampu Membahas metode terapi secara lokal, termasuk:
a. Membedakan berbagai metode terapi yang ada dalam menerapkan kemoterapi
pada klien.
b. Membedakan berbagai metode terapi yang ada dalam menerapkan kemoterapi
oleh tenaga klinik sesuai dengan peraturan dam ketentuan.
c. Membuat rekomendasi untuk klien dalam memilih produk kemoterapi
periodontitis yang dapat digunakan di rumah.
4. Mampu mendiskusikan metode terapi secara sistemik.
5. Mampu menjelaskan berbagai bahan aktif yang digunakan dalam produk kemoterapi
untuk penyakit periodontal.

A. PENYAKIT MULUT DAN BAKTERI PLAQUE BIOFILM

Cikal bakal dan berkembangnya penyakit periodontal terkait dengan interaksi host yang
rentan, agen patogen, dan faktor lingkungan. Oleh karena itu pencegahan dan pengendalian

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 201


penyakit periodontal tergantung pada pengendalian bakteri plak biofilm, baik dari sisi faktor
agen patogen yang berkontribusi utama menimbulkan penyakit. Biofilm plak muncul melalui
kurangnya perawatan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut (misalnya, dalam hal menyikat
gigi), dan didukung oleh tindakan perawatan tenaga kesehatan gigi. Terapis gigi dan mulut
memainkan peran kunci dalam memberi saran kepada klien tentang bagaimana menjaga
kesehatan gigi dan bagaimana mendapatkan perawatan secara tepat untuk tindakan
pencegahan maupun pengobatan. Meskipun upaya ini, diakui bahwa sebagian besar
penduduk Amerika Utara menunjukkan beberapa tingkat penyakit mulut; dengan demikian
intervensi konvensional tidak selalu cukup. Bahan kemoterapi oral, yang merujuk pada
penggabungan bahan aktif dalam sistem pengiriman untuk mencegah atau mengontrol
penyakit mulut, dewasa ini semakin digunakan sebagai cara tambahan dari tindakan mekanis.
Meskipun upaya menghilangkan secara total bakteri plak biofilm itu adalah hal yang
sangat sulit, pendekatan yang masuk akal untuk mencegah penyakit adalah dengan cara
mengurangi plak bakteri ke tingkat bawah ambang batas sehingga tidak menimbulkan
penyakit. Kemoterapi oral dapat membantu tujuan tersebut dan dilakukan dalam berbagai
cara, termasuk mengurangi jumlah organisme patogen dan mengubah mikroorganisme untuk
mengurangi potensi patogen. Terapis gigi dan mulut berada dalam posisi kunci untuk
merekomendasikan dan menerapkan berbagai terapi dengan kemoterapi dalam hubungan
pengambilan keputusan bersama dengan klien.

B. PEMILIHAN PRODUK DAN EVALUASI

Karena kemoterapi menimbulkan risiko dan potensi misbranding, dua organisasi besar
di Amerika, yaitu Amerika Serikat Food and Drug Administration (FDA) dan American Dental
Association (ADA) serta organisasi besar bidang kesehatan di Kanada, yaitu: Canada dan
Dental Association (CDA) - berkontribusi untuk memastikan keamanan dan kemanjuran dari
kemoterapi oral. Badan-badan ini membantu kedua penyedia layanan kesehatan mulut dan
klien dengan pembuatan keputusan yang tepat tentang produk kesehatan mulut.

C. AS FOOD AND DRUG ADMINISTRATION

FDA menyetujui proses menjamin keamanan dan kemanjuran obat resep dan over-the-
counter (OTC) produk yang dibuat untuk fungsi terapeuti. Untuk obat bebas, FDA memberikan
penjelasan pada label tentang bahan aktif termasuk dosis dan petunjuk penggunaan yang
tepat dalam kelas terapi masing-masing. Produk OTC biasanya dipasarkan menggunakan
monograf obat OTC yang menginstruksikan bahan aktif dapat digunakan untuk mengobati
penyakit tanpa resep. Jika produk OTC tidak memenuhi ketentuan dari monografi yang ada,

202 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


itu harus disetujui dalam suatu proses yang mirip dengan obat resep. Untuk obat resep, New
Drug Application diajukan FDA untuk meninjau proposal farmasi baru; Proses ini
membutuhkan uji klinis manusia secara tepat melalui penelitian hewan.

D. BAGIAN ILMIAH AMERICAN DENTAL ASSOCIATION

Bidang ilmiah ADA membantu penyedia layanan kesehatan mulut dan masyarakat
dengan cara melakukan pemilihan dan penggunaan agen kemoterapi dengan mengevaluasi
produk nonprescription terbaru untuk keamanan dan keampuhan. Produk yang disetujui oleh
FDA berlaku untuk menerima ADA Seal of Acceptance (Gambar 6.1, A), selanjutkan produk-
produk digunakan menunjukkan keberhasilan terapi sesuai dengan kriteria yang diterbitkan.
Pedoman khusus untuk mengevaluasi efektivitas kemoterapi oral dalam mengurangi plak dan
gingivitis telah dikembangkan dan diperbarui secara teratur (kotak 31-1). Persetujuan
diberikan khusus untuk salah satu atau kedua ukuran hasil ini, tergantung pada bukti-bukti
penelitian yang tersedia.
American Dental Association Dewan Urusan Ilmiah Pedoman Penelitian
1. Karakteristik populasi penelitian merupakan pengguna produk khas.
2. produk aktif harus digunakan dalam treatmen normal dan dibandingkan dengan
penggunaan placebo sebagai kontrol atau, mana yang berlaku, kontrol aktif.
3. Crossover atau desain studi paralel dapat diterima dan berlaku untuk minimal 6 bulan.
4. Dua penelitian harus dilakukan oleh peneliti independen.
5. Pedoman tambahan tentang sampling, mikroba, periode penelitian, evaluasi.

Gambar 6.1
A. American Dental Association Seal of Acceptance.
B, Kanada Dental Association Seal of Recognition.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 203


E. TERAPI PRODUK DIREKTORAT KESEHATAN KANADA

Di Kanada, CDA menyediakan CDA Seal of Recognition (lihat Gambar 6.2, B) Program ini
bertujuan untuk membantu para profesional kesehatan masyarakat dan mulut dalam
mengidentifikasi produk yang bermanfaat bagi kesehatan mulut bagi konsumen dan selain itu
ikut membantu dalam membuat pilihan informasi tentang produk tersebut. CDA Seal harus
memverifikasi bahwa produk sesuai dengan Kesehatan Kanada Terapi Produk Direktorat, yang
merupakan otoritas federal Kanada yang mengatur obat farmasi dan alat kesehatan untuk
digunakan manusia. Untuk menerima otorisasi pasar, produsen harus menyajikan bukti ilmiah
keamanan suatu produk, khasiat, dan mutu, termasuk laboratorium dan data studi klinis.

F. KONTROL PLAK KIMIAWI

Meskipun meluasnya penggunaan penghapusan plak mekanik dan kemajuan teknologi


sikat gigi dan alat-alat interdental, kesulitan untuk klien dan dokter pendekatan tradisional
untuk merawat, terutama di daerah mulut yang menimbulkan masalah akses. Dalam
beberapa tahun terakhir, penelitian (termasuk jumlah tinjauan sistematik) telah
menyimpulkan bahwa beberapa agen kemoterapi oral yang memiliki manfaat tambahan
untuk mengurangi plak biofilm dan meningkatkan hasil baiknya gingiva dicapai dengan cara
mekanis saja.
Hal penting dalam kesehatan gigi adalah akses secara kritis dalam memberikan penilaian
literatur menangani produk kemoterapi oral secara teratur, karena penelitian yang terus
menerus dipublikasikan. Banyak produk yang tersedia belum menunjukkan keberhasilan
dalam merekomendasikan penggunaannya untuk diterima secara baik melalui uji coba jangka
panjang. Oleh karena itu peran Terapis gigi dan mulut untuk membantu klien agar mampu
membedakan produk yang bukan hanya memberikan efek terapeutik saja. Hal ini juga penting
untuk memberikan kesadaran bahwa ada perbedaan antara formulasi produk yang diproduksi
di berbagai negara. Misalnya, ada produk yang tersedia di Kanada dan Amerika Serikat yang
memiliki nama yang sama tetapi yang mengandung bahan aktif dan konsentrasi yang berbeda.
Untuk membantu memperjelas literatur, Terapis gigi dan mulut dapat melihat bahwa
kemoterapi oral memiliki dua dimensi: (1) sistem pengiriman dan (2) bahan aktif. Untuk
dimensi pertama, sistem pengiriman secara subcategorized baik sebagai menjadi modus lokal
atau sistemik pengiriman. Metode pengiriman lokal adalah dimana agen antimikroba
diterapkan langsung ke rongga mulut atau ke lokasi tertentu di dalamnya melalui aplikasi
topikal. Metode penyampaian sistemik yang tertelan dan disampaikan melalui aliran darah.
Produk yang termasuk dalam salah satu dari dua subkategori ini biasanya secara profesional
disampaikan oleh tenaga kesehatan gigi, atau mungkin merupakan bagian dari treatmen

204 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


perawatan diri klien di rumah (Gambar 6.2). Mode pengiriman dapat dianggap sebagai
monoterapi, yang berarti bahwa intervensi digunakan sendiri. Atau, terapi ini dapat digunakan
dalam hubungannya dengan intervensi lain. Hasil penelitian sering kali didasarkan pada
modus aplikasi tertentu; oleh karena itu Terapis gigi dan mulut harus mempertimbangkan
perbedaan ini ketika membuat rekomendasi bagi klien dengan kondisi tertentu.

Gambar 6.2
Dimensi Kemoterapi Oral

Dimensi kedua dari kemoterapi adalah bahan aktif. Bahan aktif mengacu ke bahan kimia,
atau komponen obat dalam sistem pengiriman tertentu yang berperan untuk perbaikan
terapi. Bahan aktif dapat diterapkan ditemukan dalam berbagai cara dan berbagai sistem
pengiriman. Misalnya, bahan fluoride aktif digunakan dalam kedua sistem pengiriman lokal,
seperti mellalui kumur-kumjur, dan secara sistemik, seperti suplemen fluoride. Berbagai
formulasi fluoride mungkin juga tersedia untuk digunakan di rumah dan digunakan secara
tepat. Terapis gigi dan mulut tidak boleh berasumsi bahwa khasiat terbukti dari bahan aktif
tertentu dalam sistem pengiriman tertentu memastikan bahwa bahan aktif yang sama ini juga
sama berkhasiat dengan sistem pengiriman lainnya atau dalam sistem yang sama tetapi dalam
konsentrasi yang berbeda.
Bahan aktif yang efektif menonaktifkan mikroorganisme atau mengubah mikroflora
dalam beberapa cara (lihat Tabel 6.1) yang disebut dengan antiseptik oral. Antiseptik adalah
zat yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme. Bahan ini
umumnya digunakan dalam kemoterapi rongga mulut karena bahan ini menunjukkan sedikit
Toksisitas oral atau sistemik atau resistensi mikroba, dan sebagian besar memiliki spektrum
antimikroba yang luas. Bahan ini menunjukkan aktivitas bakterisida, yang berarti bahwa bahan
ini membunuh mikroba secara langsung, dan bersifat bakteriostatik, yang berarti juga bahwa
metabolisme atau reproduksi mikroba terpengaruh oleh bahan jenis ini. Substantivitas
merujuk kemampuan agen untuk tahan lama mengikat dengan jaringan mulut dan kemudian

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 205


dirilis selama periode waktu, sehingga membantu memberikan efek tepat. Bahan aktif lainnya
seperti antibiotik, agen plaquemodifying, agen anti-kepatuhan, dan modulator respon host
membuat berbagai kontribusi untuk mengurangi akumulasi plak dan mengendalikan penyakit
periodontal. Penelitian produk ini terus berlanjut, dan beberapa menunjukkan hasil yang
menjanjikan.

Tabel 6.1
Kategorisasi Bahan Aktif Pada Proses Kemoterapi Rongga Mulut

Kategori Deskripsi

Agen antiseptik Spektrum biasanya luas; membunuh atau mencegah penyebaran


mikroorganisme plak

Antibiotik Luas atau spektrum sempit; menghambat atau membunuh tertentu atau
kelompok bakteri, atau memodulasi tuan rumah respons inflamasi

Agen Agen yang mengubah struktur dan/atau aktivitas metabolisme bakteri


memodifikasi

Antiadhesives Produk yang mengganggu kemampuan bakteri untuk menempel pada


pelikel mengakuisisi

G. METODE PENGIRIMAN LOKAL

1. Aplikasi Fluor oleh Diri Sendiri


Kemoterapi oral yang telah dirancang secara tersendiri diterapkan dalam sistem
pengiriman bahan tersebut, biasanya memiliki konsentrasi yang lebih rendah dari bahan aktif
dan digunakan lebih sering dibandingkan dengan sistem memasukkan fluor oleh tenaga
kesehatan gigi. Salah satu mode pengiriman paling umum adalah pasta gigi (lihat Bab 25).
Pasta gigi tersedia sebagian besar sebagai pasta atau gel, itu merupakan cara pengiriman
secara lokal dari bahan aktif. Pasta gigi dapat memiliki efek terapi dan kosmetik. Dari sudut
pandang terapi, agen antikariogenik fluoride. Bahan aktif yang paling wellestablished
ditemukan dalam bahan pasta gigi.
Bahan aktif lainnya dalam pasta gigi yang tersedia untuk mengatasi berbagai kondisi
mulut, termasuk karies gigi, akumulasi plak, gingivitis, hipersensitivitas, deposito kalkulus, dan
remineralisasi, namun beberapa produk ini mungkin memerlukan penelitian lanjutan untuk
mendukung hasil terapi. Penggabungan antimikroba ke dalam pasta gigi kadang-kadang
terdapat kompatibilitas dengan komponen pasta gigi lainnya. Motivasi utama untuk

206 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


penggunaan pasta gigi secara luas bagi klien nyata adalah adanya rasa nafas yang segar dan
dapat memutihkan gigi.
Obat kumur yang tersedia memiliki dua fungsi yakni untuk kosmetik dan sebagai terapi,
obat kumur yang tersedia dalam resep dan alam formulasi dari OTC. Penggunaan sebagai
terapi termasuk pengurangan plak, kontrol dan pengurangan penyakit periodontal, dan
pencegahan karies. Penggunaan sebagai kosmetik termasuk napas menyegarkan dan
whitening. Manfaat obat kumur bervariasi tergantung pada bahan aktif dan formulasi secara
keseluruhan. Sampai saat ini, salah satu formulasi OTC yaitu fungsi antiseptik (Listerine) dan
satu produk klorheksidin resep (Peridex, Periogard) telah diakui oleh ADA Seal sebagai terapi
untuk mengurangi plak dan bagi kesehatan gingiva.
Obat kumur biasanya direkomendasikan sebagai terapi tambahan untuk metode
mekanis untuk pengurangan plak dan radang gusi. Meskipun bahan ini dilaporkan diterima
dengan baik oleh masyarakat, tapi hal ini belum signifikan. Diperkirakan sekitar setengah dari
populasi menggunakan beberapa jenis obat kumur, tetapi banyak orang tidak menggunakan
obat kumur sesuai dengan yang ditentukan oleh produsen. Berkaitan dengan banyaknya
produk di pasaran, klien harus tetap dianjurkan untuk berkumur dua kali sehari selama 30
detik dengan 1 oz (20 ml) setelah pembersihan mekanis, tetapi instruksi dari pabrik harus
dikonsultasikan untuk hal-hal tertentu. Dengan cara kumur diyakini dapat mencapai daerah
yang lebih dalam yang tidak dapat diakses dan suka terlewat dengan cara mekanis. Meskipun
matriks gel melindungi biofilm plak dari penetrasi oleh bahan kumur, bahan-bahan tertentu
dapat menyebar itu. kotak 31-2 menggambarkan sifat ideal sebuah bahan kumur. Seperti
pasta gigi yang memiliki efek terbatas pada mikroorganisme patogen subgingiva karena
kesulitan dengan penetrasi margin gingiva.
Sarat obat kumur yang baik:
1. Aman digunakan periode lebih lama.
2. Enak untuk pengguna.
3. Murah.
4. Sangat larut dan stabil dalam penyimpanan.
5. Efektif.
6. Spektrum yang luas dari efektivitas.
7. Bioavailabilitas cukup untuk bakteri.
8. Efek samping yang minimal.
9. Retensi yang memadai.

Selain bahan-bahan aktif yang ditemukan dalam bahan kumur, formulasi ini mungkin
termasuk air, alkohol, agen pembersih, bahan penyedap, dan pewarna. Alkohol (10% sampai
30% volume) termasuk dalam banyak formulasi untuk mengemulsi bahan antimikroba di

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 207


dalamnya. Bahan ini memiliki beberapa sifat antiseptik, meskipun pengaruh ini tidak dianggap
memberikan kontribusi penting untuk keberhasilan secara keseluruhan, produk serupa
mungkin juga tersedia dalam formulasi bebas alkohol.
Kekhawatiran tentang efek alkohol terhadap jaringan mulut dan kanker oropharyngeal
belum dapat dibuktikan.1 Menurut FDA, ADA, dan National Cancer Institute, tidak ada bukti
hubungan sebab akibat antara bilasan alcoholcontaining dan kanker orofaringeal. Risiko
kanker oropharyngeal yang terkait dengan minuman beralkohol tampaknya terkait dengan
bahan lain (misalnya, urethane), dan risiko ini terutama menonjol di antara individu-individu
yang juga perokok. Etanol, yang ditemukan dalam obat kumur, belum terbukti bersifat
karsinogenik.1
Alkohol dalam obat kumur juga berhubungan dengan kejadian xerostomia, tapi
hubungan ini tetap tidak berdasar. Dari beberapa studi meneliti hubungan ini, alkohol tidak
berhubungan secara langsung dengan kejadian mulut kering atau aliran saliva yang
sebenarnya.2 Klien dengan xerostomia tampaknya tidak memiliki sensitivitas yang jika
menggunakan obat kumur yang mengandung alkohol.2
Alkohol mengandung bahan-bahan yang berkontraindikasi bagi beberapa individu
dengan kondisi tertentu (misalnya, memulihkan pecandu alkohol) dan untuk orang yang
memakai antibiotik tertentu, di antaranya gangguan pencernaan dapat terjadi. Alkohol
mengandung bahan yang berbahaya jika tertelan, terutama oleh anak-anak kecil; tertelannya
bahan tersebut dapat mengakibatkan keracunan, penyakit, atau kematian. Secara umum klien
yang sedang menerima perawatan di bagian kepala dan radiasi leher dan yang memiliki
mucositis harus menggunakan bahan seperti air steril, baking soda dalam air, atau bilas saline
normal karena adanya sensitivitas oral.
Beberapa larutan kumur juga mengandung sejumlah besar natrium, yang dapat
mengakibatkan penyerapan natrium melalui mukosa mulut. Orang-orang yang diet sodium
harus menyadari bahwa beberapa merek obat kumur bisa menjadi sumber natrium; klien ini
harus berkonsultasi dengan dokter tentang dampak potensial dari obat kumur tersebut.
Karena praktik sehari-hari pemeliharaan kesehatan mulut kebanyakan dilakukan di
rumah sebagian besar tidak efektif untuk pemberantasan mikrobiota di subgingiva. Irigasi per-
oral direkomendasikan sebagai salah satu cara untuk melawan organisme ini. Irigasi per-oral
merujuk pada kedua jenis mekanisme yaitu dengan menggunakan tenaga mesin atau listrik
dan secara manual. Mekanisme ini salah satu solusi untuk dapat memasukkan bahan aktif
melalui ujung irigasi ke dalam sulkus gingiva atau saku periodontal. Penggunaan ini tepat
diterapkan di rumah.
Irigasi yang dilakukan di rumah biasanya menggunakan tips jet standar (Gambar 313)
alat ini memberikan aliran berdenyut cairan (biasanya air) dengan tekanan yang terkontrol;
ini telah terbukti efektif sebagai tambahan upaya menyikat gigi dalam mengurangi beberapa

208 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


penyakit gingiva. Sistem irigasi jet yang digunakan di rumah telah terbukti efektif menembus
subgingiva, dan sebuah tinjauan terbaru telah menunjukkan penurunan konsisten dalam
gingivitis di kalangan para pengguna teknologi. Meskipun sebagian besar penelitian yang
dilakukan telah melibatkan air irigasi, perangkat irigasi rumah telah terbukti memiliki manfaat
yang baik dimana agen kemoterapi dapat dimasukkan. Selain mengganggu system
mikroorganisme, penelitian juga telah menunjukkan modulasi selektif mediator inflamasi,
termasuk penurunan mediator proinflamasi dan peningkatan agen anti-inflamasi dalam cairan
sulkus gingiva (GCF) setelah penggunaan irrigator rumah secara rutin dalam jangka waktu yang
pendek.

Gambar 6.3
Tips Jet Standar untuk Sistem Irigasi Rumah

Ketika menggunakan irigasi, penetrasi irigasi tergantung pada desain ujung, kedalaman
saku, dan akses klien individu terhadap bagian-bagian yang terkena. Tips jarum-yang disebut
Kanula yang tersedia dan dirancang khusus untuk ditempatkan di bawah margin gingiva
(Gambar 6.4). Meskipun penggunaan ujung memungkinkan untuk penetrasi ke dalam saku,
umumnya dicadangkan untuk penggunaan profesional, karena tips ini memerlukan
keterampilan tingkat tinggi untuk dapat menuju kepada penyakit tertentu. Oleh karena itu
merekomendasikan kepada klien terhadap penggunaan kanula dengan irigasi yang digunakan
di rumah harus dipertimbangkan dengan cermat.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 209


Sumber: Dari Newman MG, Takei HH, Klokkevold PR, et al, eds: Periodontology Klinis
Carranza ini, ed 11, St Louis, 2012, Saunders

Gambar 6.4
Kanula untuk Irigasi Profesional

2. Aplikasi Fluor oleh Tenaga Kesehatan Gigi


Penerapan prosedur sebelum berkumur adalah merupakan terapi penggunaan bahan
kumur sebelum perawatan kesehatan gigi dan prosedur perawatan gigi lainnya. Tindakan
berkumur tersebut dilakukan dengan tujuan mengurangi jumlah mikroorganisme yang ada di
lingkungan klinis selama prosedur intraoral (misalnya, pemberian aerosol, spatter) Semprotan
yang diberikan dengan alat gigi dengan konsentrasi besar dengan jarak kira-kira feetl antara
dokter dengan klien. Hal ini dilakukan karena beberapa jenis organisme patogen dapat
ditangguhkan dalam aerosol untuk waktu yang cukup lama. Tindakan praprosedur ini memiliki
potensi k secara signifikan dapat mengurangi jumlah mikroorganisme lebih dari 90%; sehingga
praktik ini direkomendasikan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika
Serikat.
Namun demikian aplikasi tambahan untuk tindakan kumur-kumur praprosedur baru-
baru ini dilakukan dalam upaya mengurangi bacteremias sementara yang dihasilkan dari
perawatan kesehatan gigi profesional. Sebagian populasi tampaknya rentan terhadap
bacteremias, dan kumur-kumur pada praprosedur ini berpotensi mengurangi bakteri mulut

210 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


yang dapat sampai ke aliran darah dan menyebabkan penyakit berikutnya (misalnya,
endokarditis bakteri).4 Demikian pula, dengan kumur-kumur setiap hari di rumah bisa
berdampak pada self-induced bacteremias pada praktik homecare. Penelitian lanjutan
dampak dari intervensi ini diperlukan untuk mendukung klaim tersebut. Resep atau produk
OTC yang telah terbukti efektif memberikan efek terapi dapat digunakan untuk kumur
praprosedur.
Penerapan irigasi subgingiva oleh para profesional dengan berbagai antimikroba telah
diteliti, hasilnya masih samar-samar.5Meskipun irrigants profesional dengan kanula
diterapkan dan mampu mencapai dasar saku periodontal, hal ini masih dibatasi oleh beberapa
faktor, termasuk ketidakmampuan untuk penggunaan dalam konsentrasi yang memadai
untuk durasi yang cukup dan fakta bahwa beberapa bahan aktif dapat dinonaktifkan dengan
darah produk. Terapis gigi dan mulut bersama-sama dengan klien, harus mempertimbangkan
biaya (keuangan dan sebaliknya) secara tepat untuk menerapkan irigasi subgingiva dalam
kaitannya dengan hasil klinis yang diharapkan.
Ketika irigasi subgingiva profesional diindikasikan, tidak dianjurkan sebagai monoterapi;
karena harus digunakan dalam hubungannya dengan debridement periodontal. Hal ini juga
diperlukan untuk memberikan cairan pada gigi secara circumferentially, karena dispersi lateral
kemoterapi melalui kanula adalah diperoleh secara minimal. Namun, hanya tekanan
minimalah yang diperlukan, karena kekuatan rendah cukup telah terbukti dapat menembus
saku.
Tipe lain dari cara ini adalah diterapkan bahan aktif sejenis bahan yang dioleskan.
Metode ini telah menerima perhatian yang besar untuk digunakan dengan aplikasi fluoride,
terutama sebagai bagian dari program kesehatan masyarakat. Aplikasi lain pengolesantelah
dipelajari, termasuk penerapan antimikroba (misalnya, chlorhexidine) diarahkan pada
perbaikan jaringan periodontal. aplikasi profesional lainnya dari bahan aktif yang tersedia,
termasuk metode kumur-kumur, gel, dan mikrosfer. Ketika produk tersebut tersedia dan
dapat dipakai di rumah secara profesional, versi profesional akan memiliki konsentrasi yang
lebih tinggi. Produk-produk ini dapat diindikasikan sebagai alat untuk mengurangi plak,
mengobati penyakit periodontal, mencegah karies, remineralisasi jaringan keras gigi,
mengurangi sensitivitas, dan memutihkan gigi.
Perilaku perawatan diri (misalnya, menyikat gigi, flossing, mulut bilasan, irigasi di rumah)
serta intervensi profesional (misalnya, debridement mekanik) menjadi kurang efektif sehingga
memperdalam kedalaman saku gusi sehingga memperburuk tingkat perlekatan klinis (CAL).
Untuk mengatasi keterbatasan terapi konvensional ini, telah dikembangkan metode
mengendalian dalam pemberian obat. Penelitian tingkat tinggi (termasuk tinjauan sistematis)
telah dilakukan untuk mengetahui manfaat pengobatan ini. Dikendalikannya pengiriman obat

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 211


mengacu pada penggunaan perangkat intracrevicular yang profesional yang menyediakan
pengiriman obat untuk periode waktu yang berkelanjutan.
Biasanya perangkat intracrevicular terdiri dari bahan aktif antimikroba ditempatkan
dalam reservoir yang mengontrol laju pelepasan obat dan yang menyediakan sarana
administrasi berkelanjutan dari bahan langsung ke saku periodontal. Berbeda dengan
pemberian sistemik, hasil pengiriman obat controlledrelease dengan konsentrasi 1000 kali
obat dalam GCF di lokasi yang sakit, tetapi hanya seperseratus dari dosis sistemik mencapai
seluruh tubuh. Konsentrasi hambat minimum (MIC) adalah alat ukur penelitian yang
digunakan untuk produk ini dalam menggambarkan konsentrasi terendah dari antimikroba
tertentu yang mampu menghambat pertumbuhan mikroba selama inkubasi. Beberapa produk
yang dapat dikendalikan telah ada. Pemilihan harus didasarkan pada penelitian yang telah
dilakukan, kesehatan klien, tindakan pencegahan yang bersangkutan, jumlah dan tingkat
keparahan situs yang memerlukan pengobatan, kemudahan penggunaan, dan tingkat
kepatuhan klien.
Penelitian tentang bahan Minocycline dalam bentuk salep dan mikrosfer cukup
mendukung dan memberikan efek pada kedalaman saku dan CALs bila digunakan sebagai
tambahan pada tindakan scaling dan root planing. Dalam satu review sistematis, minocycline
disimpulkan menjadi yang paling direkomendasiskan. Mikrosfer minocycline (Arestin)
termasuk minocycline hidroklorida (1 mg), yang tersedia di Amerika Utara tersedia dalam
bentuk bubuk kering (Gambar 6.5). Produk ini dibuat dan dipasangkan melalui pegangan
jarum suntik-seperti dengan ujung sempit yang dimasukkan ke dasar saku subgingiva dan
segera mematuhi saku periodontal (prosedur 31-1 dan sesuai Form kompetensi). Produk ini
tidak diatur melainkan menjadi pasta lengket yang ditahan dalam saku tanpa berpakaian
periodontal. Ini juga melebihi tingkat MIC dalam beberapa jam, dan tetap efektif melawan
patogen periodontal dominan selama lebih dari 20 hari ketika sedang perlahan diserap
kembali. salep minocycline telah hanya tersedia di Eropa; terdiri dari 2% minocycline
hidroklorida dalam matriks hidroksietil selulosa. Minocyclines kontraindikasi untuk klien
dengan sensitivitas diketahui untuk minocycline atau tetrasiklin.

1. Penempatan Controlled-Release
Minocycline Hidroklorida Mikro
Alat yang diperlukan:
a. Alat pelindung diri.
b. Kaca mulut.
c. Probe periodontal.
d. Scaler dalam berbagai jenis.

212 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


e. Dosis Kartrid Unit dari produk minocycline hidroklorida.
f. Dispensing pegangan.

Langkah-langkah:
a. Tentukan kebutuhan mikrosfer minocycline (diindikasikan untuk pengurangan
kedalaman poket ≥5 mm periodontitis kronis).
b. Evaluasi kontraindikasi dan tindakan pencegahan untuk pengobatan.
c. Informed consent berisi tentang penjelasan risiko, manfaat dan alternatif pengobatan.
d. Hapus jumlah kartrid unit dosis yang diperlukan untuk pengobatan.
e. Masukkan kartrid ke dalam pegangan kartrid steril untuk mengelola produk, dan ikuti
instruksi pabrik.
f. Tip cartridge Bend digunakan untuk dapat menjangkau lokasi yang sakit. Masukkan
ujung subgingiva cartridge ke dasar saku; Tip harus sejajar dengan sumbu panjang gigi.
Secara bertahap tekan dengan ibu jari untuk mengekspresikan bubuk sambil menarik tip
dari dasar saku. Jangan memaksa ujung ke dasar saku. Menarik ujung jika klien
merasakan sakit.
g. Bahan perekat tidak diperlukan. Mikrosfer dapat mengaktifkan kelembaban saku
periodontal. Buang cartridge dan bagian pegangan disterilkan.
h. Instruksikan klien untuk menunda menyikat untuk 12 jam pertama setelah pengobatan.
Selama 10 hari, klien harus menjauhkan diri dari pembersih interdental dan hindari
makan makanan keras, renyah, atau lengket.
i. Jadwalkan kunjungan berikutnya untuk reapplication. Evaluasi ulang kedalaman saku
periodontal dan tingkat perlekatan klinis.

Catat dan dokumentasikan semua tahapan pekerjaan. Misalnya, “Minocycline mikrosfer


ditempatkan di situs tidak menanggapi debridemen mekanik sendiri untuk pengurangan
kedalaman saku: No. 2M, No. 3D, No. 30M, D, No. 31D. Klien diinstruksikan untuk menunda
menyikat untuk 12 jam pertama setelah pengobatan dan untuk menjauhkan diri dari
pembersih interdental di daerah dan dari makan keras, renyah, atau makanan lengket selama
10 hari.”

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 213


Gambar 6.5
Mikrosfer Minocycline

Salah satu perangkat yang pertama kali disetujui digunakan untuk periodontitis adalah
serat tetrasiklin, sebuah monofilamen dari kopolimer etilena/vinil asetat yang 0,5 mm dan
yang mengandung 12,7 mg merata tetrasiklin hidroklorida; menyediakan rilis terus menerus
tetracycline selama kurang lebih 10 sampai 14 hari.
Antiseptik jenis Chlorhexidine, ditemukan di beberapa alat yang diginakan, termasuk
chip, gel, dan irrigants (0,2% sampai 2%). Chlorhexidine Chip (PerioChip) adalah 4 sampai 5-
mm dihidrolisis Chip gelatin biodegradable yang menggabungkan 2,5 mg klorheksidin
dgluconate untuk dimasukkan ke dalam kantong (Gambar 6.6). Chip biodegradable
mempertahankan konsentrasi GCF rata-rata 125 ug /mL klorheksidin selama 7 sampai 10 hari,
sehingga melebihi MIC dan menghambat hampir semua bakteri subgingiva. Penindasan flora
bakteri subgingiva jelas selama beberapa minggu setelah rilis obat. Beberapa penelitian telah
menunjukkan perbaikan dalam kedalaman saku dan CAL ketika dikendalikan-release
klorheksidin digunakan sebagai tambahan untuk scaling dan root planing.6

214 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Gambar 6.6
Chlorhexidine Chip

Chip klorheksidin ditempatkan setelah scaling dan root planing, dan itu adalah diri dpt
menyimpan setelah terkena uap air (yaitu, GCF) (prosedur 31-2 dan sesuai Form kompetensi).
Satu chip per situs saku digunakan dan tidak boleh terganggu oleh rejimen homecare selama
1 minggu. The arah disertakan dengan memasukkan produk harus tepat diikuti. Karena chip
diri resorbs, kebutuhan untuk penghapusan profesional dihilangkan. Penempatan chip CHG
merupakan kontraindikasi untuk klien dengan alergi langka untuk chlorhexidine.

2. Penempatan Controlled-Release
Alat Yang Diperlukan:
a. Alat pelindung diri
b. cermin mulut
c. probe periodontal
d. tang kapas, kapas gulungan, sudut kering
e. Scaler (s)
f. Chip chlorhexidine

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 215


Langkah-Langkah:
1. Tentukan kebutuhan klorheksidin Chip untuk terapi (diindikasikan untuk pengurangan
kedalaman poket ≥5 mm dengan periodontitis kronis).
2. Evaluasi kontraindikasi dan tindakan pencegahan untuk pengobatan.
3. Jelaskan risiko, manfaat dan alternatif untuk pengobatan. Untuk memperoleh informed
consent.
4. Hapus nomor diperlukan chip dari paket. Perhatikan produk yang disimpan pada suhu
kamar dikendalikan dari 59° sampai 77° F (15° sampai 25°C).
5. Mengisolasi dan daerah kering untuk agar chip tidak basah selama penempatan. Pegang
ujung persegi chip dengan tang kapas, dan masukkan ke subgingiva.
6. Gunakan tang kapas atau alat lain untuk memasukan chip ke dalam saku.
7. Instruksikan klien untuk tidak flossing daerah selama 10 hari dan menginformasikan
kepadanya bahwa kemungkinan terjadi efek sensitivitas selama sekitar 1 minggu pada
daerah tersebut. Klien harus membersihkan daerah lain mulut seperti biasa dan segera
menghubungi jika timbul rasa sakit, pembengkakan, atau masalah lainnya.
8. Jadwalkan evaluasi ulang dan/atau reapplication. Evaluasi ulang kedalaman probe dan
tingkat perlekatan klinis dapat bertepatan dengan kunjungan perawatan periodontal.

Penelitian mengenai doxycycline antibiotik gel belum terlalu banyak. Doxycycline gel
(Atridox) terdiri dari 10% doksisiklin hyclate dalam polimer gel yang mengalir ke dasar saku
dan yang mengeras pada kontak dengan kelembaban GCF untuk memberikan pelepasan
doxycycline antibiotik selama 7 hari. Obat dapat mencapai konsentrasi GCF lebih dari 1500 mg
/mL dalam beberapa jam, pada keadaan ini tetap jauh di atas MIC untuk patogen yang paling
periodontal selama 7 hari. Produk ini akan terurai, sehingga tidak perlu dibersihkan oleh
tenaga kesehatan gigi. Meskipun penelitian tentang treatmen ini belum banyak, namun
demikian hal ini telah menunjukkan bahwa gel doxycycline dapat mengurangi dalamnya saku
dan untuk meningkatkan CALs, sehingga memberikan tambahan untuk scaling dan root
planing.6
Doxycycline gel tersedia dalam dua jenis jarum suntik; produk dikombinasikan secara
manual dan kemudian dimasukkan ke dalam saku melalui kanula (prosedur 31-3 dan sesuai
Form kompetensi). Penggantian dapat dilakukan terutama di saku yang masih dangkal untuk
memastikan adanya retensi. Individual atau keluarga yang menggunakan tetrasiklin
merupakan kontraindikasi penggunaan Doxycycline gel.

216 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


3. Penempatan Controlled-Release
Peralatan Yang Diperlukan:
a. Alat pelindung diri
b. cermin mulut
c. probe periodontal
d. Scaler (s) atau kabel packer instrumen
e. minyak pelumas
f. Dua jarum suntik unit dosis untuk kopling
g. Tumpul kanula
h. Produk Doxycycline gel

Langkah-langkah:
a. Tentukan kebutuhan untuk terapi doksisiklin (diindikasikan untuk pengurangan
kedalaman poket dan keuntungan dalam perlekatan klinis ≥5 mm dengan periodontitis
kronis).
b. Evaluasi kontraindikasi dan tindakan pencegahan untuk pengobatan.
c. Jelaskan risiko dan manfaat dan alternatif untuk pengobatan. memperoleh informed
consent.
d. Lepaskan jarum suntik untuk kopling (satu mengandung 10% doxycycline hyclate dan
satu mengandung polimer cair) dari paket. Jarum suntik berisi materi yang cukup untuk
mengobati 03:57 gigi.
e. Pegang jarum suntik untuk membuka tutup dengan nozel tegak untuk menghindari
tumpah sebelum kopling.
f. Campur dengan memegang jarum suntik digabungkan bersama-sama secara horizontal
di kedua tangan. Menyuntikkan cairan isi jarum suntik dengan garis ungu ke dalam alat
suntik dengan bubuk kuning, kemudian dorong isi kembali ke dalam alat suntik dengan
garis ungu lagi. Ini merupakan salah satu siklus pencampuran dan harus diulang untuk2
menit untuk 100 siklus. Selesai mengisi jarum suntik dengan stripe ungu dengan
memegang jarum suntik ditambah secara vertikal, dengan jarum suntik dengan stripe
ungu di bagian bawah. Menarik kembali plunger jarum suntik dengan garis ungu dan
memungkinkan gel mengalir ke bawah laras. Memutar dan kunci jarum suntik bersama-
sama sesuai instruksi pabrik. Mengunci ujung terbuka dari kedua jarum suntik bersama-
sama dengan memutar bersama sampai mereka mengunci.
g. Uncouple jarum suntik dan tutup kanula jarum suntik dengan cara diputar. Kanula bisa
ditekuk pada sudut yang diinginkan menyerupai probe periodontal. Produk sekarang
siap untuk digunakan. Jika produk dicampur terlebih dahulu, menyegarkan campuran
dengan 10 pencampuran siklus sebelum uncoupling jarum suntik.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 217


h. Masukkan ujung kanula dekat pangkal saku; masukan gel ke dalam saku sambil perlahan
menarik ujung koronal sampai material dapat dilihat pada margin gingiva. Gel akan
mulai menetapkan reaksi segera di kontak dengan saku. Tip terpisah dari bahan yang
baru ditempatkan dengan menggunakan gerakan memutar, atau dipotong materi
dengan mendorong ujung kanula terhadap permukaan gigi atau dengan menggunakan
instrumen tumpul basah.
i. Menghapus kelebihan materi yang menonjol dari saku dengan kapas basah, atau
masukkan ke dalam saku dan interproksimal embrasures dengan permukaan belakang
kuret atau kabel instrumen packer basah.
j. Gunakan air atau pelumas agar tidak lengket. Menetes beberapa tetes air ke permukaan
gel dalam saku untuk membantu dengan koagulasi. gel aman di saku dengan
menerapkan cyanoacrylate perekat jaringan atau noneugenol-jenis periodontal ganti.
k. Hapus retensi setelah 10 hari terapi dengan tang kapas.
l. Instruksikan klien untuk menghindari mengunyah, menyikat gigi, dan membersihkan
interdental sekitar daerah selama 7 hari; merekomendasikan bilasan mulut dengan agen
antimikroba yang efektif. Klien harus khawatir jika sejumlah kecil gel mengeras menjadi
terlihat di garis gusi atau copot, karena gel ini tidak berbahaya jika tertelan.
m. Jadwal evaluasi ulang dan/atau reapplication. Evaluasi ulang kedalaman poket dan
tingkat perlekatan klinis dapat bertepatan dengan kunjungan perawatan periodontal.
n. Dokumen catatan klien di bawah layanan yang diberikan, dan tanggal entri. Misalnya,
“Doxycycline gel ditempatkan di situs tidak menanggapi debridemen mekanik sendiri
untuk pengurangan kedalaman saku: No. 2M, No. 3D, No. 30M, D, No. 31D.
Cyanoacrylate perekat ditempatkan untuk retensi di setiap situs. Klien diinstruksikan
untuk tidak menyikat atau floss daerah selama 7 hari dan melaporkan hilangnya gel ke
kantor.

Metronidazol adalah antibiotik yang tersedia dalam bentuk gel controlledrelease (25%).
Metronidazol gel (Elyzol) adalah sistem drugdelivery bioresorbable yang terdiri dari 25%
metronidazol benzoat dalam campuran mudah mengalir. Hal ini dipalikasin pada subgingiva
melalui jarum suntik cannulafitted. Proses ini dapat mencapai konsentrasi puncak dalam GCF
4 jam setelah pemberian, dan mempertahankan tingkat lebih dari 100 mg / mL untuk pertama
8 jam. Produk dapat mempertahankan untuk patogen anaerob rentan terhadap
metronidazole (1,0g/mL) dengan konsentrasi melebihi MIC selama kurang lebih 36 jam.
Meskipun beberapa studi yang dilakukan pada produk ini telah menunjukkan perbaikan dalam
kedalaman saku dan CALs, khasiatnya kurang dari minocycline dan tetrasiklin.6
Sebuah tinjauan sistematis produk dikendalikan-release menemukan bahwa, secara
keseluruhan, antibiotik lokal dalam sistem drugdelivery memiliki dampak positif pada

218 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


kedalaman saku dan CALs.6 Meskipun scaling dan root planing saja memberikan efek saku
dalam dan perbaikan CAL di kisaran 1,5 mm, obat ini menambahkan perbaikan di kisaran 0,25-
0,5 mm.6 Meskipun ini memberikan dampak signifikan secara statistik, Terapis gigi dan mulut
harus mempertimbangkan relevansi klinis dari temuan ini dalam situasi praktik.
Terapi desinfeksi photodynamic (Periowave) adalah metode baru menonaktifkan
spektrum yang luas dari bakteri subgingiva dan berpotensi merusak enzim. Sistem dua-tahap
ini mensyaratkan bahwa, pertama, solusi photosensitizing atau pewarna (yaitu, toluidin biru)
ditempatkan oleh operator pada saku. Hal ini kemudian diikuti oleh aplikasi dioda sinar laser
nonthermal yang menerangi tempat tersebut selama 60 detik, sehingga membunuh bakteri
dan menonaktifkan enzim (Angka 31-7 dan 31-8). Terapi ini bertindak sebagai disinfektan
topikal jangka pendek dan dapat menghambat mikroorganisme berbahaya setelah
debridement. Penelitian telah menunjukkan bahwa sistem ini mengurangi sebagian besar
mikrobiota subgingiva dan menghasilkan bukti bakteri yang rusak menjadi lebih tipis dan
kurang padat pada biofilm disbanding pada biofilm kontrol. Teknologi ini dapat diindikasikan
untuk kantung periodeontal akibat terapi konvensional. Terapis gigi dan mulut harus mencatat
bahwa penelitian di bidang ini terbatas, terutama yang berkaitan dengan studi longerterm.
Selain itu, tidak semua Terapis gigi dan mulut atau praktisi lainnya menyetujui penggunaan
teknologi ini.

Sumber: Courtesy Periowave Gigi Technologies Inc

Gambar 6.7
Periowave

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 219


Gambar 6.8
Nonthermal Sinar Laser Diode Menerangi Daerah

H. METODE PEMBERIAN SECARA SISTEMIK

Metode pemberian secara sistemik adalah bahan-bahan yang tertelan dan kemudian
masuk melalui aliran darah. Sebagaimana yang dialami oleh fluor. Pemberian antibiotik secara
sistemik untuk pengobatan periodontitis dari aliran darah ke jaringan periodontal dan
akhirnya mencapai GCF, antibiotic ini masuk ke dalam mikroflora subgingiva (meskipun dalam
konsentrasi rendah). Beberapa antibiotik telah digunakan secara sistemik baik tunggal
maupun kombinasi untuk pengobatan periodontitis, termasuk doxycycline, penisilin,
metronidazole, dan klindamisin. Ulasan baru secara sistematis telah dilakukan untuk
mengevaluasi manfaat antibiotik secara sistemik; Kesimpulannya dalah untuk jenis amoksisilin
atau kombinasi amoksisilin dan metronidazole, metronidazol saja, atau dosis subantimicrobial
dari doxycycline mempunyai khasiat yang lebih baik dibandingkan scalling dan root planing
saja.7
Meskipun pemberian secara sistemik memungkinkan masuknya antibiotik untuk saku
periodontal yang dalam, hal ini juga terkait dengan berbagai kontraindikasi, tindakan
pencegahan, dan efek samping. Keberhasilan pemberian antibiotik secara sistemik
membutuhkan kepatuhan yang berkelanjutan klien dalam mengkonsumsi; hal ini perlu
diperhatiaan, karena banyak klien gagal untuk mengikuti anjuran ini. Selain itu, penggunaan
rutin antibiotik untuk mengobati penyakit periodontal tidak dianjurkan karena organisme
resisten terhadap antibiotik. Oleh karena itu resep antibiotik sistemik untuk penyakit
periodontal harus dipertimbangkan dengan cermat.

220 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Efek Negatif Antibiotik
1. Gangguan pencernaan
2. Kepekaan terhadap sinar matahari
3. Pewarnaan intrinsik pada proses pertumbuhan gigi
4. Dapat menimbulkan keracunan pada ibu hamil dan janin
5. Peningkatan kandidiasis vagina
6. Gangguan adsorpsi beberapa nutrisi
7. Aktivitas protrombin tertekan
8. Potensi untuk pencegahan kebersihan mulut kurang efektif

Istilah dosis subantimicrobial sistemik mengacu kurangnya kuantitas obat untuk


menghilangkan mikroorganisme pathogen. Misalnya, antibiotik doxycycline hyclate
(Periostat) dapat diberikan dalam dosis rendah (20 mg dua kali sehari) selama jangka waktu
yang lama (misalnya, 6 sampai 9 bulan) untuk menghambat kolagenase dan untuk mencegah
kerusakan kolagen sebagai bagian dari proses penyakit periodontal. Meskipun penelitian
terbatas.
Dalam dosis rendah subantimicrobial, tidak berperan sebagai antibakteri, dan tidak ada
perubahan yang merugikan pada flora periodontal atau resistensi antibiotik normal. Meskipun
dosis dikurangi, doxycycline subantimicrobial merupakan kontraindikasi untuk klien yang
sensitif terhadap tetrasiklin. Selain itu, efek samping lain dan reaksi negatif yang dapat timbul
harus dikaji sebelum digunakan.
Pendekatan lain untuk modulasi respons host adalah penggunaan obat anti-
inflammatory drugs (NSAID). NSAID adalah obat yang memblokir enzim respons inflamasi,
sehingga mengurangi peradangan. Obat ini telah diteliti untuk menentukan efek dalam
memodifikasi respons host, dan beberapa NSAIDs telah menunjukkan hasil positif, terutama
yang berkaitan dengan penguatan tulang alveolar. Efek samping pertimbangan dengan
penggunaan jangka panjang NSAID. pendekatan baru lain yang lebih untuk modulasi respons
host termasuk probiotik dan vaksin, tetapi penelitian yang melibatkan aplikasi oral dalam
masa pertumbuhan.

I. BAHAN AKTIF

1. Bisbiguanides
Bisbiguanides adalah kationik, spektrum luas antimikroba yang efektif untuk bakteri
gram positif dan gram negatif. Dari jumlah tertentu, chlorhexidine glukonat (CHG atau CHX)
adalah salah satu yang paling banyak diteliti dan digunakan. Untuk digunakan di ronga mulut
terutama digunakan dalam obat kumur, untuk irigasi, dan produk lainnya. CHG mengikat

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 221


membran sel bakteri; itu menyebabkan sel bocor dan mengganggu komponen intraseluler
nya. Selain itu, CHG dapat mengganggu kolonisasi bakteri dan lampiran sel. CHG memiliki
substantivitas yang cukup mengikat jaringan mulut, dan tetap aktif selama 8 sampai 12 jam.
Di Amerika Serikat dan Kanada CHG dipergunakan untuk kumur (Peridex, Periogard), tersedia
harus dengan resep, biasanya memiliki konsentrasi 0,12%, tetapi di Eropa jenis ini memiliki
konsentrasi lebih tinggi. Obat kumur dengan CHG diterima oleh ADA dan CDA dan dapat
mengurangi plak (16% sampai 45%) dan gingivitis (27% sampai 80%). CHG dianggap sebagai
“standar emas” yang menyediakan patokan untuk pengukuran dalam studi meneliti
kemanjuran formulasi obat kumur lainnya mengurangi plak dan radang gusi.
Kerugian utama dari penggunaan CHG sebagai obat kumur adalah menyebabkan
pewarnaan pada gigi dan lidah. Pewarnaan coklat ini terbentuk pada gigi, dan memerlukan
tenaga kesehatan gigi untuk mengatasinya, akibat dari hal ini penggunaan CHG tidak untuk
jangka waktu yang lama. CHG mengandung alkohol, dan karena itu tindakan pencegahan yang
diperlukan harus diperhatikan.
Formulasi obat kumur CHG biasanya diberikan dalam 18 to dosis 20 mg selama 60 detik
dua kali sehari. Klien disarankan untuk tidak berkumur atau menyikat gigi 30 menit setelah
pemberian obat kumur CHG hal ini untuk menghindari interaksi deterjen sodium lauryl sulfate
dalam pasta gigi, yang menyebabkan deaktivasi CHG. Selain itu, klien tidak perlu segera
berkumur dengan air biasa setelah diberikan CHG, karena ini akan menghapus agen rasa-
masking dari rongga mulut dan meningkatkan rasa obat obat.

2. Fenolik Senyawa
Fenol adalah kelas senyawa kimia dengan sifat yang unik; beberapa fenol dapat
pembunuh kuman dan digunakan dalam formulasi desinfektan. Minyak esensial (EO) adalah
komponen dari tanaman yang mengandung senyawa fenolik yang menghancurkan
mikroorganisme dengan cara menghambat aktivitas membran sel dan enzim. Listerine
tersedia secara komersial pada produk EO kumur dan pasta gigi. Obat kumur yang paling
dipakai adalah kombinasi dari dua EO phenolicderived, timol (0,064%) dan ekaliptol (0,092%),
yang dicampur dengan mentol (0,042%) dan bahan-bahan lainnya. Ini telah menunjukkan
kemanjurannya dalam uji klinis jangka panjang. bilas EO ini memiliki efek terapi multidimensi
dalam mencegah bakteri menggabungkan, memperlambat perkalian bakteri, mengurangi
beban bakteri secara keseluruhan dalam rongga mulut, mencegah massa plak dari
pematangan, dan mengurangi patogenisitas massa plak. Produk ini juga memiliki sifat anti-
inflamasi.
Meskipun EO memiliki substantivitas relatif rendah, Listerine Antiseptik telah terbukti
sangat berkhasiat mengurangi plak dan radang gusi . Uji klinis jangka panjang sebagaimana
pedoman ADA menunjukkan adanya pengurangan plak dari 56% dan pengurangan gingivitis

222 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


dari 35% dibandingkan dengan penggunaan (plasebo) pada kelompok kontrol. Listerine adalah
satu-satunya formulasi oral-bilas OTC yang telah menerima ADA Seal of Acceptance untuk
kontrol kemoterapi dan pengurangan plak bakteri dan radang gusi; Namun, beberapa merek
lain yang telah dipasarkan dengan bahan yang sama dan formulasi telah menerima
persetujuan atas dasar itu. Persetujuan ini untuk efektivitas antiplak, antigingivitis terbatas
pada formulasi antiseptik yang mengandung alkohol.
Karena uji coba terbaru menunjukkan bahwa obat kumur Listerine Antiseptik
menjadikan adanya pengurangan plak dan radang gusi maka dianggap aman bila digunakan.
Bahwa itu tidak menghasilkan perubahan dalam komposisi bakteri, sehingga menunjukkan
tidak ada bukti patogen rongg mulut oportunistik atau resistensi antimikroba, itu dianggap
oleh beberapa orang untuk menjadi OTC yang ideal dijadikan untuk kumur di rumah. Banyak
laporan bahwa bahan ini memberikan efek rasa yang “tajam” namun formulasi baru-baru ini
dilaporkan menjadi kurang intens dengan tetap menjaga efektivitas. Prosedur untuk
berkumur dengan Listerine mirip dengan yang untuk CHG: klien harus bilas dengan satu ons
(20 mL) selama 30 detik setelah menyikat dan membersihkan interproximally dua kali sehari.
Triclosan, Sebuah bisphenol, aman, spektrum luas antibakteri, dan tidak ada efek
samping. Triclosan mengganggu metabolisme membran sitoplasma sel. Triclosan sering
ditemukan di pasta gigi, namun, dalam uji jangka pendek, tersedia dalam obat kumur di
pasaran (0,3% triclosan / 2.0% kopolimer Colgate Jumlah plax) telah menunjukkan penurunan
yang signifikan plak dan radang gusi dibandingkan dengan penggunaan placebo pada
kelompok kontrol. Namun, penelitian telah menunjukkan bahwa obta kumur triclosan tidak
seefektif yang mengandung CHG. Baru-baru ini triclosan telah dikombinasikan dengan bahan
aktif lainnya agar memberikan efektivitas yang lebih besar (misalnya, CHG), yang telah
meningkatkan antiplak dan antigingivitis properti. Menggabungkan sumber triclosan, seperti
pasta gigi dan obat kumur telah terbukti meningkatkan efektivitas keseluruhan obat.

3. Kuarter Ammonium
Senyawa surfaktan menghancurkan mikroorganisme dengan berinteraksi dengan
membran sel bakteri dan menyebabkan ia menjadi permeabel dan kehilangan isinya. Senyawa
ini mempengaruhi bakteri grampositive dan gram negatif, tetapi mereka lebih bakterisida
dengan mantan. Seperti kelompok fenol, senyawa surfaktan mengikat baik dengan jaringan
mulut, tetapi mereka memiliki substantivitas rendah dibandingkan dengan CHG.
Beberapa senyawa surfaktan telah tersedia secara komersial selama bertahun-tahun,
seperti cetylpyridinium chloride (BPK) (Cepacol 0,05%), dan mereka juga tersedia dengan
bromida domiphen (Lingkup 0,045%) atau benzethonium klorida (Colgate 100 0,05%).
formulasi ini terutama kosmetik di bahwa mereka memiliki sejarah keselamatan, tetapi
keberhasilan mereka untuk plak dan pengurangan radang gusi belum dibuktikan dalam uji

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 223


klinis jangka panjang. Sebuah bilas BPK baru-baru ini diperkenalkan (Crest Pro-Kesehatan Bilas
0,07%) telah menunjukkan manfaat kecil sebagai tambahan untuk homecare mekanik untuk
plak dan pengurangan radang gusi. Sebuah tinjauan sistematis terbaru yang termasuk BPK dan
kontrol positif menyimpulkan bahwa data BPK tidak konsisten dan bahwa lebih uji klinis jangka
panjang membandingkan BPK dengan kontrol positif dan plasebo yang diperlukan untuk
mendukung penggunaan terapeutik; Namun, ulasan ini tidak difokuskan pada formulasi
higherconcentration yang telah menunjukkan keberhasilan yang lebih baik daripada formulasi
sebelumnya.9BPK telah terbukti mengurangi halitosis. BPK dapat menyebabkan pewarnaan
gigi tetapi tidak untuk tingkat CHG. Selain itu, formulasi BPK dapat dinonaktifkan oleh produk
pasta gigi seperti sodium lauryl sulfate.
Sanguinarine adalah ekstrak alkohol dari akar tanaman Sanguinaria canadensis, dan
digunakan dalam konsentrasi 0,03% di untuk obat kumur dan pasta gigi (Viadent). Beberapa
penelitian tentang obat kumur telah menunjukkan formulasi sanguinarine lebih efektif
daripada plasebo untuk pengurangan plak, tapi khasiat sanguinarine sehubungan dengan hasil
gingiva kurang positif, sehingga tidak direkomendasikan.

4. Oxygenating Dan Oksidator Agen


Bahan oxygenating (hidrogen peroksida) adalah bahan yang mengandung oksigen dan
ditambahkan kepada Amosan,. Bahan ini adalah antimikroba sebagai akibat dari pelepasan
oksigen, yang dapat mempengaruhi mikroorganisme gram positif dan gram negatif. Formulasi
tersebut telah tersedia di pasar selama bertahun-tahun, tanpa efek samping yang serius.
Meskipun beberapa penelitian telah menunjukkan adanya efek menguntungkan dari
oxygenating agen pada plak dan radang gusi dibandingkan dengan plasebo, tinjauan
sistematis baru-baru ini menyimpulkan bahwa temuan tidak meyakinkan. Studi jangka
panjang yang lebih dengan kontrol positif yang diperlukan selain penentuan kekuatan ideal
bahan aktif dalam formulasi. agen oxygenating kadang-kadang dikombinasikan dengan CHG
untuk meningkatkan efektivitas bekas tanpa noda terkait dengan yang terakhir.
Oksidator (klor dioksida) adalah produk yang telah memiliki peningkatan bilangan
oksidasi, sehingga membentuk turunan oksigen (Oksigen). Oksidator juga telah tersedia di
dalam formulasi bahan kumur dan pasta gigi selama bertahun-tahun. klaim produk terutama
kosmetik, khususnya yang berkaitan dengan relief halitosis melalui netralisasi senyawa sulfur
yang mudah menguap di rongga mulut. Sampai saat ini, tidak ada bukti untuk mendukung
penggunaan produk ini untuk dipakai sebagai bahan terapi untuk mengurangi plak patogen
dan gingivitis.

224 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


5. Antibiotik
Antibiotik membuat kelompok obat antimikroba menghambat atau menghancurkan
mikroorganisme patogen yang memiliki spektrum yang luas atau lebih sempit. Beberapa
antibiotik telah digunakan untuk mengurangi penyakit periodontal, termasuk metronidazole
dan amoksisilin baik secara tersendiri maupun dalam bentuk kombinasi. Pemberian antibiotik
menjadi meningkat jika digunakan untuk pengobatan periodontitis dengan dua cara
pemberian yaitu secara sistemik dan lokal. Seperti dibahas sebelumnya, pemberian dengan
mmetode lokal disampaikan memiliki keuntungan diman obat ini akan terkonsentrasi-
langsung di lokasi penyakit, tanpa efek samping negatif. Namun, harus diingat tentang adanya
sensitivitas terhadap antibiotik yang perlu dihindari dari akibat penerapan masing-masing
metode tersebut.

6. Halogen/Fluoride
Meskipun penggunaan fluoride sebagai agen karies-preventif telah diteliti dengan baik,
perannya dalam pencegahan dan pengendalian penyakit periodontal plaqueinduced kurang
didokumentasikan dengan baik. Fluoride stannous diyakini masuk ke dalam sel bakteri dan
merusak metabolisme, sehingga menangkal pertumbuhan dan sifat-sifatnya. Hal ini telah ada
dalam pasta gigi (0,454%), dengan beberapa efek antiplak dan gingivitis. Ini dapat digunakan
dalam kombinasi dengan bahan aktif lainnya (misalnya, triclosan); Namun, sebagai akibat dari
nilainya pasti klinis, kurangnya stabilitas dalam penyimpanan, dan peningkatan sifat
pewarnaan, telah memiliki penerimaan yang terbatas untuk pencegahan penyakit gingival.
Produk fluoride lainnya telah dipasarkan di luar Amerika Utara untuk kontrol plak dan radang
gusi, termasuk amina stabil / solusi fluoride stannous (Meridol). Komponen amina stabil, yang
hanya aktif terhadap karies, menstabilkan komponen fluoride stannous dan tidak
menunjukkan efek samping. Hal ini diserap oleh permukaan sel bakteri, sehingga
menghambat metabolisme permukaan dan mengurangi plak secara keseluruhan. Beberapa
uji klinis jangka pendek telah menunjukkan temuan positif mengenai penghambatan plak
dengan adanya bukti-bukti yang meyakinkan.

7. Lainnya
Banyak bahan-bahan lain yang menunjukkan adanya aktivitas antimikroba, tapi ini
belum terbukti dalam studi jangka panjang dengan kontrol negatif. Bahan aktif seperti
echinacea, goldenseal, povidone-iodine, xylitol, protein host (lisozim, laktoferin, dan
laktoperoksidase) dan probiotik telah digunakan dalam produk-produk kesehatan mulut yang
didukung oleh hasil penelitian. Xylitol digunakan sebagai agen antikaries. Povidone-iodine
digunakan sebagai irigasi profesional diterapkan (10%), untuk irigasi rumah (0,1%), atau
sebagai obat kumur (1,0%), dan memiliki spektrum yang luas. Probiotik adalah

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 225


mikroorganisme hidup yang memiliki manfaat kesehatan bagi individu; bahan ini dapat
memberi efek menjadi antimikroba terhadapbakteri patogen, modulasi respon host, atau
mengerahkan mekanisme eksklusi kompetitif.
Kemoterapi oral diberikan untuk penyakit periodontal. Oleh karena itu Terapis gigi dan
mulut harus rajin memberikan pemahaman kepada klien tentang intervensi metode ini. Klien
bergantung pada Terapis gigi dan mulut yang akan membantu mereka menyaring informasi
melalui pemasaran dan produk dan memberikan rekomendasi yang berkaitan dengan
evidencebased. Peran ini akan membutuhkan pemahaman yang baik tentang sistem
pengiriman kemoterapi rongga mulut dan bahan aktif serta metodologi penelitian yang
digunakan untuk menguji bahan tersebut.

J. TIPS PENDIDIKAN KLIEN

1. Jelaskan bahwa kontrol plak bakteri, radang gusi, dan periodontitis terutama ditujukan
dengan cara mekanis melalui homecare dan didukung oleh intervensi profesional;
intervensi kemoterapi diperkenalkan sebagai tambahan.
2. Diskusikan bahwa pengukuran dan evaluasi adanya plak, perdarahan, dan penilaian
keadaan gingiva diperlukan setelah intervensi kemoterapi. Jika hasil klinis ditingkatkan,
terapi kemoterapi mungkin tidak lagi dilanjutkan.
3. Perhatikan bahwa produk agen kemoterapi yang efektif memiliki biaya tambahan baik
dari segi uang dan waktu. Oleh karena itu, jika kontrol plak secara mekanik dapat
menghilangkan deposit lembut dan mengontrol biofilm plak, maka hal-hal tersebut
harus diperhatikan.
4. Jelaskan manfaat dan efek samping yang mungkin muncul akibat penggunaan agen
antimikroba.

K. HUKUM, ETIKA, DAN ISU KEAMANAN

1. Terapis gigi dan mulut memiliki kewajiban hukum dan etika untuk mempelajari literatur
terbaru sekitar intervensi kemoterapi pribadi dan profesional. Memanfaatkan ulasan
sistematis dan pedoman profesional untuk membantu menjelaskan peran dan tanggung
jawab.
2. Pengkajian klien harus mencakup evaluasi dari faktor keberadaan dan distribusi plak
bakteri secara akurat. Rencana perawatan harus mencakup pendidikan, preventif, dan
terapi intervensi untuk klien untuk menjaga kebersihan mulut pribadi dan kondisi
periodontal, termasuk pertimbangan agen kemoterapi sehari-hari.

226 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


3. Hati-hati alam melakukan tinjauan riwayat kesehatan gigi klien, hal ini untuk
memastikan bahwa setiap klien yang dipilih untuk terapi kemoterapi oral tidak memiliki
alergi akibat dari interaksi obat dengan agen yang diberikan. Menginstruksikan semua
klien untuk menjaga agen antimikroba dari jangkauan anak-anak.
4. Ketika Terapis gigi dan mulut meresepkan dosis subantimicrobial sistemik atau antibiotik
secara lokal, penting untuk diingat bahwa semua ini memiliki pertimbangan khusus,
akan adanya potensi efek samping, dan kontraindikasi.
5. Terapis gigi dan mulut memiliki tanggung jawab hukum dan etika untuk memastikan
bahwa klien benar-benar diberitahu. Informasi yang diberikan harus berbasis bukti dan
teknik motivasi diarahkan untuk mengubah perilaku klien.
6. Setelah menyelesaikan proses perawatan, secara hukum klien harus jelas menunjukkan
bahwa klien telah mengetahui status penyakit nya saat ini dan konseling mengenai
rekomendasi yang dirancang untuk meningkatkan status kesehatan mulut dalam
mencegah kerusakan lebih lanjut. Catatan juga harus mencakup bagaimana respon klien
terhadap rencana perawatan kesehatan gigi, deskripsi pelaksanaan intervensi, dan
catatan mengenai pemantauan kemajuan klien.

L. KONSEP KUNCI

1. Meskipun bakteri plak biofilm diyakini sebagai etiologi utama terjadinya penyakit dan
inflamasi periodontal, tetapi respons imun host adalah hal yang dapat menjaga
perkembangan penyakit.
2. Meskipun upaya menghilangkan bakteri plak biofilm secara mekanik sebagai langkah
yang paling utama dalam pengendalian penyakit, metode kemoterapi oral dapat
memberikan manfaat yang siginifkan.
3. Mengevaluasi produk kemoterapi oral yang membutuhkan bukti pendukung dari
beberapa uji klinis jangka panjang yang dilakukan pada kelompok populasi yang
homogen dengan hasil intervensi sebanding adalah merupakan upaya pengendalian
yang tepat.
4. Keberhasilan sistem masuknya obat lokal untuk mengobati infeksi periodontal
tergantung pada kemampuan bagaimana agen antimikroba mengobati penyakit dengan
pertimbangan konsentrasi hambat minimum dan durasi waktu yang cukup.
5. Substantivitas adalah kemampuan suatu bahan aktif untuk obligasi dengan jaringan
mulut, sehingga memungkinkan bahan yang akan dipertahankan dalam rongga mulut
dan akan terus dirilis sambil mempertahankan potensinya.
6. Sebagai tambahan homecare untuk kebersihan mulut secara konvensional, irigasi
supragingiva berperan untuk mencegah dan mengendalikan plak bakteri pada kasus

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 227


radang gusi. Manfaat irigasi subgingiva dilakukan bersamaan dengan skala dan root
planing belum meyakinkan.
7. Perangkat pengiriman obat dikontrol melalui reservoir obat yang perlahan-lahan
melepaskan agen secara langsung ke lokasi penyakit di sekitar saku periodontal pada
konsentrasi tinggi tanpa efek samping terkait dengan administrasi sistemik. Ini adalah
tambahan yang efektif untuk scaling dan root planing di saku gusi tidak hanya terapi
mekanis saja.
8. Alkohol dalam larutan kumur belum terbukti bersifat karsinogenik jika dihubungkan
dengan adanya pengurangan aliran saliva.
9. Pendekatan dengan cara pemberian obat kumur sangat penting . Klorheksidin glukonat
sebagai tambahan metode mekanik dalam mengontrol plak dan perbaikan gingiva tanpa
adanya efek samping.
10. Aplikasi baru untuk kemoterapi rongga mulut, termasuk pembilasan praprosedur dan
berkumur di rumah, memiliki potensi untuk mengurangi kontaminan aerosol di
lingkungan rongga mulut secara klinis dan mempunyai kapasitas untuk menghambat
perkembangan bakteri.

Latihan Berpikir Kritis

Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!

1) Mengembangkan kasus yang akan mendukung rekomendasi dari hasil intervensi yang
berkaitan dengan kemoterapi oral:
a. Penempatan mikrosfer minocycline (Arestin).
b. penggunaan kumur-kumur Listerine dua kali.
c. irigasi rongga mulut dengan chlorhexidine glukonat.
d. Resep dosis sistemik subantimicrobial dari doxycycline hyclate (Periostat).
e. Administrasi praprosedur over-the-counter atau resep kumur-kumu sebelum
perawatan kesehatan gigi.
2) Bermain peran : skenario : libatkan siswa lainnya: Anda dan teman sekelas Anda akan
memainkan peran sebagai Terapis gigi dan mulut yang bekerja di praktek umum
bersama-sama; teman sekelas Anda merekomendasikan menggunakan chlorhexidine
glukonat (0,12%) sebagai irigasi subgingiva dengan semua klien yang memiliki kantong-
kantong 4 mm atau lebih besar sebagai intervensi rutin. Apa diskusi yang akan Anda dan
rekan Anda miliki tentang intervensi ini?

228 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


3) Pilih topik intervensi yang berkaitan dengan kemoterapi oral untuk penyakit
periodontal. Cari database ilmiah seperti PubMed, untuk mendapatkan bukti yang ada
dengan topik atau intervensi tertentu. Bedakan antara bukti yang dieproleh dari hasil
percobaan tunggal dan bandingkan dengan tinjauan secara sistematis.
4) Kunjungi situs Asosiasi American Dental di [Link]. Temukan informasi di situs
tentang peran dan publikasi dari Dewan Urusan Ilmiah. Jelaskan bagaimana sumber
daya ini dapat berkontribusi untuk pengambilan keputusan berbasis bukti dalam praktik.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 229


Daftar Pustaka
Darby, M, Walsh, M. (2015). Dental Hygiene: Theory and Practice, 4th Edition. Elsevier
Saunders, US, St. Louis, Missouri.

Wilkins, E. (2017). Clinical Practice of Dental Hygiene, 12th Edition. Wolters Kluwer, US,
Philadelphia.

Darby, M. (2012). Mosby’s Comprehensive Review of Dental Hygiene, 7th Edition. Elsevier
Mosby, US, St. Louis, Missouri.

Noble, S. (2012). Clinical Textbook of Dental Hygiene and Therapy, 2nd Edition. Wiley-
Blackwell, UK, West Sussex.

Thomson, Evelyn M. (2013). Case Study in Dental Hygiene, 3rd Edition. Pearson Education, US,
New Jersy.

Logothetis, Demetra D. (2012). Local Anesthesia for The Dental Hygienist. Elsevier Mosby, US,
St. Louis, Missouri.

Prajer, R, Grosos, G. (2011). Dental Hygienist's Chairside Pocket Guide. F.A. Davis Company,
US, Philadelphia.

230 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Bab 7
KONDISI PERIODONTAL PADA
GINGIVITIS, LESI ASAL ENDODONTIK,
DAN GIGI AVULSI
Yonan Heriyanto, [Link].T., [Link].
Marlindayanti, [Link], [Link].

Pendahuluan

Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa
1. Mampu menjelaskan tentang abses periodontal, termasuk penyebab, tanda dan gejala,
dan pengobatan.
2. Mampu mendiskusikan tentang lesi endodontik, termasuk penyebab, tanda dan gejala,
dan pengobatan.
3. Mampu menjelaskan infeksi herpes, termasuk penyebab, tanda dan gejala, dan
pengobatan.
4. Mampu mendiskusikan tentang perikoronitis, termasuk tanda-tanda dan gejala dan
pengobatan
5. Mampu menjelaskan penyakit periodontal necrotizing, termasuk penyebab, tanda dan
gejala, dan pengobatan.
6. Mampu mendiskusikan bagaimana memberikan perawatan avulsi gigi, termasuk:
a. Berkolaborasi dalam merawat klien dengan periodontal umum dan keadaan
darurat gigi.
b. Mendidik klien tentang perlunya perawatan segera dari periodontal umum dan
keadaan darurat gigi dan hasil yang diharapkan dari perawatan darurat.
c. Ikuti protokol darurat standar untuk gigi avulsi.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 231


Terapis gigi dan mulut harus mampu mengidentifikasi kondisi periodontal yang
membutuhkan pengobatan. Sebagian besar proses penyakit dalam situasi ini membutuhkan
perawatan. Dalam beberapa situasi, Terapis gigi dan mulut melakukan terapi perawatan atau
paliatif; dalam kasus yang bukan merupakan kompetensi, maka Terapis gigi harus
merujukkan. Perawatan yang tepat dapat mengurangi rasa sakit yang berkepanjangan,
kerusakan jaringan periodontal lebih lanjut, dan kehilangan gigi.

A. ABSES PERIODONTAL

Abses periodontal adalah akumulasi nanah secara lokal dalam jaringan periodontal.
Abses periodontal dibedakan oleh lokasi (yaitu, baik gingiva atau periodontal) dan oleh
perjalanan penyakit (yaitu, akut atau kronis).
1. Abses gingiva adalah abses periodontal yang terbatas pada gingiva marginal dan yang
sering terjadi di daerah-daerah gingiva yang sebelumnya sehat (Gambar 7.1).

Gambar 7.1
Abses Gingiva Antara Gigi Seri Lateral

2. Abses periodontal adalah infeksi lebih dalam yang terjadi di kantong periodontal,
furkasi, dan dapat mengakibatkan kehilangan tulang (Gambar 7.2).

232 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Gambar 7.2
Abses Periodontal yang Berhubungan dengan Rahang Bawah Kanan Molar Pertama

3. Abses periodontal akut adalah lesi dengan adanya kerusakan periodontal yang terjadi
selama jangka waktu tertentu dengan gejala klinis yang mudah dideteksi. Hal ini ditandai
dengan rasa adanya rasa sakit, bengkak, dan gejala lain yang membutuhkan tindakan
segera (Gambar 7.3).

Gambar 7.3
Abses Periodontal Akut antara Gigi # 24 dan # 25 Menunjukkan Tanda-tanda Jelas
Kemerahan dan Pembengkakan

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 233


4. Abses periodontal kronis adalah infeksi lama yang dapat menjadikan terbentuknya
saluran sinus. Adanya saluran ini memungkinkan drainase infeksi dan berkurangnya
gejala akut seperti nyeri dan pembengkakan, sehingga membuat kronis abses secara
alami. Saluran sinus merupakan saluran abnormal yang menghubungkan abses ke ruang
lain atau ke permukaan yang disebut fistula (Gambar 7.4).

Gambar 7.4
Abses Periodontal Kronis. Catatan Fistula yang Berhubungan dengan Gigi # 6 di Gingiva
Terlampir

Abses periodontal juga telah diklasifikasikan berdasarkan adanya beberapa abses


periodontal.
1. Abses tunggal disebabkan oleh faktor-faktor lokal yang menyebabkan gejala akut atau
kronis.
2. Beberapa abses dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kesehatan medis yang
dikaitkan dengan penyakit sistemik, diabetes mellitus yang tidak terkontrol, dan terapi
antibiotik sistemik untuk situasi yang tidak berhubungan dengan kesehatan mulut.

Sebuah studi retrospektif kehilangan gigi yang disebabkan oleh abses periodontal
menunjukkan bahwa 55% dari gigi dengan abses periodontal dapat dipertahankan selama
rata-rata 12,5 tahun (kisaran, 5 sampai 29 tahun). Memahami proses perjalanan penyakit
periodontal akan berpengaruh terhadap pemberian tindakan pengobatan, dengan demikian
tujuan menjaga kesehatan gigi adalah berada pada hal yang sangat penting.

234 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


B. MIKROBIOLOGI DARI PERIODONTAL ABSES

Semua abses periodontal diakibatkan oleh adanya mikroflora patogen sebagaimana


penyebab adanya penyakit periodontal. Dalam mikroflora patogen, terdapat bakteri jenis
batang sekitar 75% gram positif fakultatif dan cocci dan sekitar 74% gram negatif. Ini adalah
infeksi campuran kompleks yang berbeda dari orang ke orang dan dari satu tempat infeksi di
mulut lain di dalam orang yang sama.
Spesies-spesies mikroba penyebab abses:
1. Porphyromonas gingivalis.
2. Prevotella intermedia.
3. Tannerella forsythia (Sebelumnya Bacteroides forsythus).
4. Fusobacterium nucleatum.
5. Aggregatibacter (Actinobacillus) actinomycetemcomitans.
6. Capnocytophaga ochracea.
7. corrodens Eikenella.
8. Campylobacter recta.
9. Selenomonas jenis.
10. Treponema denticola.

C. KARAKTERISTIK DAN PENGOBATAN PERIODONTAL ABSES

1. Akut Periodontal Abses


Abses periodontal akut adalah akumulasi lokal nanah di dinding gingiva dari saku
periodontal. Biasanya terjadi pada aspek lateral gigi, ditandai adanya edema, merah, dan
mengkilap. Gambar 7.3 menyajikan contoh abses periodontal akut dengan karakteristik ini.
Abses akut sering dikaitkan dengan penyakit periodontal yang sudah ada sebelumnya. Fitur
anatomi kedalaman saku periodontal minimal 5 mm, keterlibatan furkasi, dan anatomi saku
yang berliku-liku dapat mempengaruhi oklusi lubang saku pada klien. Oklusi ini
memungkinkan infeksi eksaserbasi pada dinding saku serta terbentuknya nanah. Nanah dapat
keluar dari saku dengan ditekan jari secara perlahan (Gambar 7.5).

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 235


Gambar 7.5
Tekanan Digital Lembut Mungkin Cukup untuk Mengekspresikan Discharge Purulen

Pembentukan abses juga dapat terjadi jika ada benda asing di dalam saku. Reaksi
inflamasi dapat terjadi lebih parah. Tindakan yang kurang hygienis dan dari treatmen root
planing yang meninggalkan residu kalkulus di dalam saku sebagai salah satu penyebab
terjadinya periodontal abses. Hal ini berarti menyatakan bahwa lubang saku yang kencang
berarti sebagai tanda gingiva sehat dan baik, dan dengan keadaan demikian dapat
menghindari kalkulus dan plak menginfeksi jaringan saku lebih dalam. Pandangan ini telah
diyakini oleh banyak orang dengan adanya dukungan data. Dalam sebuah analisis dari 29
orang yang mencari pengobatan di sebuah klinik periodontik pascasarjana yang telah
didiagnosis abses periodontal 18 orang (62%) memiliki penyakit periodontal yang tidak
diobati, 7 orang (24%) berada di perawatan periodontal, dan hanya 4 orang (14%) melaporkan
riwayat skala baru dan root planing. Dari 29 orang tersebut, 27 didiagnosis dengan moderat
untuk penyakit periodontal yang parah; dua lainnya memiliki periodontitis awal. Probing rata-
rata kedalaman abses ini cukup mendalam (yaitu, 7,3 mm, kisaran, 3 sampai 13 mm), dan
abses yang sebagian besar berhubungan dengan gigi molar.3
Penyebab utama eksaserbasi akut adalah pengobatan yang tidak lengkap, proporsi
terbesar adalah karena klien tak kembali lagi lama setelah scaling dan root planning. Dalam
studi lain tercatat, empat jenis tindakan perawatan periodontal dibandingkan dengan dan
tingkat abses. Skaling pada kuadran yang ada kalkulus supragingiva tidaklah cukup tapi skaling
subgingiva harus dilakukan pada batas abses yang lebih jauh pada daerah root planing dalam

236 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


pembedahan periodontal. Data ini menunjukkan bahwa pembentukan abses terjadi akibat
adanya saku yang dalam, dan penyakit, yang tidak diobati dibandingkan dengan skala baru-
baru ini dan pengobatan root planing. Hal ini juga diketahui bahwa residu kalkulus dan plak
biofilm sering tersisa di saku setelah skaling dan root planing dilakukan menyeluruh, terutama
di saku. Informasi ini menyoroti tiga hal berikut:
1. Hal ini sangat sulit untuk menghilangkan semua kalkulus dari saku periodontal.
2. Klinisi harus melakukan skaling dengan peralatan yang tepat agar semua deposit
subgingival dapat dihilangkan.
3. Skaling supragingiva saja sama sekali tidak cukup dalam tindakan perawatan
periodontal, pembentukan abses periodontal akut dapat terjadi juga kepada klien.

2. Tanda Dan Gejala


Abses periodontal akut dapat terjadi akibat gigi di mulut. Abses muncul dengan tanda
massa mengkilap, merah dan bulat pada gingiva atau mukosa. Cairan abses dapat dikeluarkan
dengan cara membuka abses. Eksudat purulen dapat keluar dan biasanya jelas terlihat jika
abses terbuka atau dengan tekanan jari. Tanda-tanda abses periodontal akut.

3. Tanda dan Gejala Akut Periodontal Abses


a. Rasa sakit yang berdenyut dan menyebar
b. Localized pembengkakan gingiva
c. Deep-merah untuk warna kebiruan dari jaringan yang terkena
d. Sensitivitas gigi dan gingiva untuk palpasi
e. Mobilitas gigi
f. Limfadenopati servikal
g. Gejala sistemik demam dan malaise
h. Klien juga kadang mengeluhkan bahwa gigi terasa lebih panjang karena adanya sedikit
diekstrusi sebagai akibat dari pembengkakan.

4. Pengobatan
Tindakan pengobatan yang paling utama adalah drainase agen antimikroba. Pada kasus
akut tindakan utamanya adalah mengurangi rasa sakit dan mencegah penyebaran infeksi.
Abses harus dikeringkan dengan cara pembukaan saku atau melalui sayatan. Drainase dengan
cara pembukaan saku kurang invasif; ini umumnya dilakukan oleh Terapis gigi dan mulut.
Daerah gigi yang terkena yang dibius lalu dibersihkan. Instruksi pasca operasi istirahat yang
cukup, asupan cairan, dan kumur air garam untuk membantu mengurangi pembengkakan.
Klien dijadwalkan untuk kembali dalam 24 sampai 48 jam untuk reevaluasi daerah dan untuk

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 237


merencanakan tindak lanjut pengobatan yang diperlukan (misalnya, bedah periodontal untuk
menghilangkan masalah daerah).
Dokter gigi mendelegasikan pengobatan awal abses akut yang tidak memerlukan
intervensi bedah kepada Terapis gigi dan mulut. Terkadang pengobatan memerlukan sayatan
dan refleksi dari jaringan (yaitu, prosedur penutup bedah) untuk menyediakan jalan untuk
melakukan debridement. Jika klien mengalami demam atau jika timbul limfadenopati, dokter
gigi memberikan antibiotik. Gambar 7.6 menunjukkan contoh terapi debridement untuk abses
periodontal akut.

Sumber: Courtesy Philip R. Melnick

Gambar 7.6
Pengobatan Abses Periodontal Akut. Abses Akut sering Dapat Berhasil Diobati Tanpa
Intervensi Bedah. A, Abses terkait dengan gigi # 9 menunjukkan pembengkakan dan fistula
nondraining. Secara klinis jaringan muncul sangat merah. B, Probe di tempat untuk
menunjukkan kedalaman 9-mm saku sebelum scaling, root planing, dan kuretase.
C, Penyembuhan setelah 1 bulan menunjukkan arsitektur jaringan normal dan sedikit
resesi. Sebuah saku periodontal 7-mm masih ada, tetapi pengurangan bedah akan
menghasilkan resesi nonaesthetic. Situasi ini dapat dilanjutkan tanpa batas dengan
homecare yang baik dan pemeliharaan periodontal sering.

Potensi adanya perbaikan abses periodontal akut setelah pengobatan yang baik ditandai
dengan normalnya gingiva dalam waktu 6 sampai 8 minggu. Kehilangan tulang dengan cepat
dapat terjadi selama fase akut, perbaikan kerusakan tulang membutuhkan sekitar 9 bulan.;
Namun, dengan penanganan perawatan yang tepat, jaringan tulang yang hilang sebagian
besar dapat kembali.1 Sifat positif dari hasil klinis dari penyembuhan lebih lanjut menekankan
pentingnya penanganan dan pengobatan abses akut oleh Terapis gigi dan mulut.

238 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


D. PERIODONTAL ABSES KRONIS

Abses periodontal kronis menyerupai abses periodontal akut bahwa ada penambahan
jumlah organisme patogen di dalam saku periodontal yang menghasilkan inflamasi dan
adanya eksudat. Abses kronis berhubungan dengan keadaan rongga mulut, baik melalui
pembukaan saku atau melalui saluran sinus yang memungkinkan drainase biasa. Abses
periodontal kronis biasanya tidak menimbulkan rasa sakit, atau mungkin menyebabkan
perubahan warna, nyeri intermiten; Namun, klien dapat menceritakan keluhan yang dirasa
sebelumnya infeksi akut yang menyakitkan.1 Gambar 7.7 memberikan contoh menguras
abses periodontal kronis.

Sumber: Courtesy Philip R. Melnick

Gambar 7.7
Abses Periodontal Kronis.
A, Pengeringan Melalui Saluran Sinus.
B, Probe Dimasukkan untuk Menunjukkan Komunikasi untuk Saku Periodontal.
C, Pengeringan Melalui Saku Periodontal

1. Tanda dan Gejala


Tanda-tanda dan gejala abses periodontal kronis yang mirip dengan abses periodontal
akut; Namun, rasa sakit dapat menjadi ciri pembeda. Terapis gigi dan mulut harus dapat
menilai dari eksudat periodonsium yang keluar bisa jadi merupakan abses kronis sehingga
dapat memastikan tindakan rujukan untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.

2. Tanda dan Gejala Kronis Abses Periodontal


a. Eksudat inflamasi merembes ke dalam rongga mulut tanpa ada rangsangan atau ketika
ditekan dengan jari pada saku atau sinus saluran.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 239


b. Jaringan gingiva di daerah Memerah dan bengkak.
c. Berbagai tingkat nyeri (abses pengeringan kronis jarang menyakitkan).

3. Pengobatan
Pengobatan abses periodontal kronis mirip dengan pengobatan abses periodontal akut.
Scaling (biasanya membutuhkan anestesi lokal di daerah abses) harus dilakukan. Klien kembali
dalam waktu 24 hingga 48 jam untuk diagnosis lebih lanjut. Dokter gigi harus menentukan
kebutuhan perawatan lebih periodontal untuk mengurangi kedalaman poket dan untuk
mengatasi cacat periodontal lainnya. Pengobatan tambahan biasanya meliputi operasi
pengurangan saku periodontal, mungkin juga pencabutan gigi dan kunjungan perawatan
periodontal lebih intensif. Penanganan awal beberapa kasus abses periodontal kronis dengan
cara bedah.

Sumber: Courtesy Philip R. Melnick

Gambar 7.8
Bedah pengobatan abses periodontal kronis yang berhubungan dengan furkasi
A. SEBUAH, Abses berhubungan dengan gigi # 3 pameran pembengkakan dan
fistula yang tidak menguras. jaringan sangat memerah, dan pasien memiliki
sakit parah berselang.

240 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


B, Periodontal penyelidikan dimasukkan untuk menunjukkan kedalaman saku dan
menentukan hubungannya dengan pencabangan bukal.
C, Flap tercermin untuk mengizinkan akses bagi debridement. Perhatikan sejauh
mana kehilangan tulang dan kedalaman keterlibatan furkasi.
D, Setelah debridement, flap dijahit di tempat.
E, Penyembuhan setelah 1 bulan menunjukkan jaringan kembali ke warna normal
dan konsistensi dan tidak ada bukti fistula. Perhatikan resesi yang terjadi
setelah perawatan bedah. Klien ini harus menjaga gigi bersih dan kembali untuk
pemeliharaan periodontal sering mengunjungi untuk melestarikan gigi.

Terapis gigi dan mulut berperan dalam memberikan pemahaman kepada klien tentang
kondisi kasus ini. Klien diberitahu tentang kemungkinan adanya kehilangan tulang dan bias
kambuh di kemudian hari jika tidak ada perawatan lebih lanjut mencakup scaling, root planing,
dan kontrol plak biofilm harian. Adanya diskusi tersebut dapat membantu klien untuk mencari
perawatan lebih lanjut sebagai upaya mempertahankan kesehatan gigi.

E. ABSES GINGIVA

Abses gingiva biasanya terjadi di daerah yang sebelumnya bebas penyakit, dan sering
terkait dengan invasi beberapa benda asing ke daerah tersebut. Abses gingiva yang paling
sering ditemukan pada gingiva marginal dan tidak berhubungan dengan patologi jaringan yang
lebih dalam.

1. Tanda dan Gejala


Abses gingiva dapat terjadi pada gingiva marginal; termasuk daftar tanda dan gejala
kondisinya. Sebuah lesi berisi nanah yang tidak terkait dengan epitel sulcular sering jelas
terlihat.

2. Tanda dan Gejala Gingiva Abses


a. Memerah jaringan (marginal gingiva).
b. Pembengkakan (nanah lesi).
c. Rasa.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 241


Sumber: Courtesy Philip R. Melnick

Gambar 7.9
Abses Gingiva. Abses Gingiva Dikaitkan dengan Gingiva Marginal dan Sering Hasil dari
Masuknya Benda Asing. Perhatikan Pembengkakan dan Berubah Warna dari Gingiva
Marginal

3. Pengobatan
Abses gingiva harus terbebas dari benda asing dan ini dilakukan oleh dokter gigi atau
periodontist. Jahitan biasanya tidak diperlukan. Kumur air garam hangat direkomendasikan
untuk terapi pasca operasi di rumah. Klien harus kembali untuk observasi pasca operasi di
sekitar 24 jam.

F. LESI ASAL ENDODONTIK

Jenis Lesi
Lesi asal endodontik (LEO),merupakan gigi darurat yang paling umum,1 juga disebut
sebagai dentoalveolar, apikal, periapikal, atau abses endodontik.1proses inflamasi dalam
periodonsium terkait dengan pulp gigi nekrotik memiliki penyebab infeksi yang jelas. Dalam
LEO, maka proses inflamasi diarahkan komponen menular dilepaskan dari pertumbuhan
bakteri dan disintegrasi bakteri dalam sistem saluran akar.4Kadang-kadang sulit untuk
membedakan LEO dari abses periodontal akut, karena nyeri wajah terkait dan nyeri pada gigi
yang sama. Abses endodontik umumnya dihasilkan dari infeksi jaringan pulpa akibat karies,
fraktur gigi traumatis, atau trauma prosedur gigi. Infeksi pulpa dapat menyebar lateral ke gigi
dari gigi yang terinfeksi yang berdekatan, dari periodonsium yang terinfeksi, atau melalui
kanal lateral.

242 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


G. MIKROBIOLOGI

Paling umum, LEO disebabkan oleh mikroorganisme pada lesi karies yang menyebar ke
pulpa melalui tubulus dentin. Proses inflamasi dalam periodonsium terjadi sebagai akibat dari
infeksi saluran akar mungkin tidak hanya dilokalisasi di puncak; tapi juga dapat muncul di
sepanjang aspek lateral akar dan di daerah furkasi gigi berakar banyak. Jenis lesi ini jarang
muncul pada tingkat yang sesuai dengan frekuensi kanal lateral yang terjadi pada gigi.
Penyebaran produk racun mikroorganisme melalui email ke tubulus dentin bisa sangat
cepat. Meskipun mikroorganisme adalah yang paling umum penyebab penyakit pulpa, racun
bakteri juga dapat memulai penyakit pulpa dengan menembus melalui tubulus dengan pori-
pori cukup kecil untuk memblokir bakteri. Racun mempengaruhi sel-sel odontoblastic dan
kemudian menembus ke pulpa, sehingga memulai respons inflamasi. Sel-sel bakteri juga
bergerak ke arah pulpa oleh demineralisasi struktur gigi keras dengan asam yang dihasilkan.
Mikroorganisme masuk ke dalam pulp dan menghasilkan berbagai racun yang mengakibatkan
kematian sel pulpa. Bakteri dan produk metabolisme keluar melalui foramen apikal dan dapat
menyebabkan pembentukan jaringan granulasi lokal; jaringan ini mengandung limfosit, sel
plasma, sel mast, dan elemen respons imun lainnya. Jika iritasi berlanjut, jaringan granulasi
secara bertahap menggantikan tulang normal dan periosteum pada puncak gigi dan
menimbulkan penampilan radiografi umum LEO: a radiolusen didefinisikan di puncak gigi yang
terkena disebut pathosis periapikal.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 243


Sumber: Courtesy Edward J. Taggert

Gambar 7.10
Lesi Asal Endodontik. Tampilan Radiografi Abses Endodontik Terkait dengan Gigi # 9
Menunjukkan Penampilan Klasik Radiolusen di Apeks Akar. Perhatikan bahwa Ligamen
Periodontal tidak Tampak Utuh Sekitar Gigi Puncak.

H. KARAKTERISTIK DAN PENGOBATAN PERIAPIKAL ABSES

Abses periapikal akut terjadi ketika bakteri atau racun cepat masuk ke jaringan
periradikular, biasanya dari ruang pulpa gigi. abses terbatas dapat menyebabkan sakit parah.
Rasa sakit dapat mereda sebagai infeksi menyebar ke arah permukaan atau ruang untuk
memberikan bantuan kepada jaringan. Klien biasanya mengalami rasa sakit dan
pembengkakan dan mungkin memiliki gejala infeksi sistemik, termasuk osteitis (yaitu, radang
tulang) atau cellulitis (yaitu, radang jaringan selular, biasanya terjadi pada jaringan longgar di
bawah kulit, di selaput lendir, sekitar bundel otot, atau sekitar organ, yang dapat mengancam
jiwa). Abses periapikal kronis dikaitkan dengan adanya tahapan proses iritasi dari saluran akar
ke dalam jaringan periradikuler. Kejadian ini biasanya mengalir ke mulut melalui fistula di
tulang atau melalui ligamen periodontal, selain itu dapat menguras melalui kulit wajah. Jika
saluran sinus melalui ligamen periodontal tidak diobati, akan menjadi True Pocket periodontal

244 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


1. Tanda dan Gejala
LEO pada hasil radiografi terlihat radiolusensi bulat di bagian puncak gigi. Selama
pembentukan abses, perubahan radiografi sering tidak jelas. Jika LEO mengalir melalui saluran
sinus di tulang kortikal atau melalui ligamen periodontal, kemungkinan untuk menjadi jauh
lebih sedikit diidentifikasi pada radiografi. LEOs yang mengalir melalui ligamen periodontal
dapat menyerupai abses periodontal akut, karena gejalanya sangat mirip: merah, jaringan,
bengkak, dan terbukanya saluran sinus. Hal ini kadang sulit dipasatikan apakah fistula
membuka ke dalam saku periodontal atau pergi ke apeks gigi.

2. Tanda dan Gejala Lesi dari Asal Endodontik


a. Rasa sakit yang tajam yang mungkin intermiten.
b. Sinus saluran terbentuk.
c. Pembengkakan jaringan di daerah lokal.
d. Kemerahan jaringan di daerah lokal.
e. Sejarah restorasi, trauma, atau sumber lain dari infeksi gigi.
f. Radiolusen bulat di puncak gigi yang muncul kemudian dalam proses penyakit.

Asal-usul adanya abses 85% dari sakit gigi (pulpa) dan bahwa 15% adalah periodontal.
Selain itu, banyak gigi dengan lesi endodontik yang nonvital. Pada beberapa orang yang
menerima tindakan perawatan oleh Terapis gigi dan mulut, sumber abses lebih banyak
ditemukan dari periodontal dibandingkan abses pulpa. Adanya perbedaan rasa nyeri yang
ditimbulkan dapat membedakan abses periapikal dan periodontal. Nyeri pada periapikal
ditandai sebagai tajam, berat, intermiten, dan sulit untuk melokalisasi. Sebaliknya, rasa sakit
periodontal cenderung konstan, kurang parah, dan lokal.

3. Pengobatan
Pengobatan abses apikal dengan cara perawatan endodontik untuk membuang isi pulpa
gigi dan menggantinya dengan bahan inert atau dengan cara pencabutan gigi. Abses
endodontik yang tidak diobati dapat menyebabkan kasus yang parah misalnya abses otak atau
fasciitis leher atau dada dinding yang dapat lifethreatening. Terapis gigi dan mulut memiliki
tanggung jawab untuk menginformasikan klien dengan LEOs tentang risiko menunda
pengobatan atau abses yang tidak diobati. Klien tanpa gejala akut yang disebabkan oleh abses
pengeringan cenderung memiliki kebutuhan untuk mengkonsep proses penyakit sehingga
mereka mengejar perawatan dan menghindari kerusakan jaringan lebih lanjut efek buruk dari
infeksi.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 245


Tabel 7.1
Strategi Pengobatan untuk Apikal Abses

Kondisi Sebab Pengobatan

Endodontik Nonvital Endodontik

Periodontal Vital Periodontal

Endodontik Nonvital Pndodontik; pertama mengamati dan kemudian lembaga


terapi periodontal, jika perlu

I. ABSES KOMBINASI

Patologi di puncak gigi dari infeksi sistem saluran akar dapat meluas ke jaringan
marginal, dan infeksi yang berasal dari jaringan periodontal dapat berkembang masuk ke
pulpa melalui lubang di puncak atau melalui kanal lateral. Kombinasi abses periodontal
periapikal terjadi ketika kedua-duanya mengalami infeksi. Sumber dan perjalanan infeksi,
kedua penyakit periodontal dan jaringan pulpa yang terlibat dan memiliki pembentukan
abses, abses dianggap sebagai kombinasi periapikal dan periodontal abses.1

1. Tanda dan Gejala


Abses kombinasi memberikan beberapa kombinasi tanda dan gejala akan dijelaskan
secara terpisah untuk abses periapikal dan periodontal. Kasus ini kadang sulit didiagnosa dan
dapat mengakibatkan kerusakan yang luas untuk periodonsium sekitarnya, karena sifatnya
gejala yang intermiten menyebabkan klien menunda mencari pengobatan. Dokter gigi
mendiagnosa kombinasi abses bila gejala dari kedua pulpa dan infeksi periodontal dapat
teridentifikasi.

246 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Sumber: Courtesy Philip R. Melnick

Gambar 7.11
Dikombinasikan Periapikal dan Abses Periodontal. Abses Dikombinasikan Dikaitkan
dengan Gigi # 5. Itu Bisa terjadi dari Penyebaran Mikroorganisme Patologis dari Kantong
dalam ke Pulpa Gigi, Proses Karies atau Trauma dari Penempatan Restorasi Sangat Dalam
A, The saluran sinus (fistula) muncul ke dalam rongga mulut.
B, Radiolusen di tulang puncak dan signifikan muncul pada radiograf.

2. Pengobatan
Bentuk yang paling umum pengobatan abses periapikal dan periodontal adalah
pembedahan di lokasi abses, termasuk menghilangkan jaringan granulasi. Abses kombinasi
membutuhkan perawatan dari kedua sumber infeksi. Kedua terapi periodontal dan
endodontik diindikasikan untuk mempertahankan gigi. Dalam beberapa kasus, kerusakan
jaringan periodontal begitu parah sehingga gigi harus dicabut meskipun terapi endodontik
dapat dilakukan dengan sukses.

J. INFEKSI HERPES

Lebih dari 80 virus herpes telah diidentifikasi, delapan di antaranya bersifat patogen bagi
manusia.
Herpes virus simpleks (HSVs) milik keluarga di mana-mana Herpesviridae virus, yang
berisi HSV-1, HSV-2, varicella-zoster virus, cytomegalovirus, dan virus Epstein-Barr serta virus
herpes manusia dan sarkoma Kaposi terkait virus herpes (tipe 8).6
Infeksi virus herpes terjadi di seluruh dunia, tidak memiliki variasi musiman, dan hanya
mempengaruhi manusia secara alami. Prevalensi HSV-1 infeksi meningkat secara bertahap
dari masa kanak-kanak, mencapai 60% sampai 95% prevalensi di antara orang dewasa.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 247


Infeksi HSV-1 primer di rongga mulut dan perioral biasanya bermanifestasi sebagai
gingivostomatitis, sedangkan virus reaktivasi di ganglion sensoris trigeminal menimbulkan
kulit ringan dan mukokutan penyakit; ini sering disebut herpes labialis berulang.

1. Primer Herpes Gingivostomatitis


Terlepas dari jenis virus, HSV mempengaruhi kulit dan selaput lendir. Primer
gingivostomatitis herpetik (PHGS) adalah manifestasi orofasial yang paling umum dari infeksi
HSV-1, dan hal ini ditandai dengan adanya lesi vesiculoulcerative oral dan perioral. Meskipun
gingivostomatitis herpetik adalah penyakit self-limiting, individu yang terkena mungkin
mengalami sakit parah dan tidak dapat makan atau minum.
Virus ini menyebar melalui kontak fisik, tidak ada yang melaporkan bahwa virus ini dapat
menyebar melalui udara, air yang terkontaminasi, atau kontak dengan benda mati.
Kebanyakan orang menemukan virus dan tidak pernah menunjukkan tanda-tanda atau gejala
infeksi primer.7Hal ini diketahui bahwa sampai 90% dari populasi memiliki antibodi terhadap
HSV-1.
PHGS biasanya berkembang setelah paparan pertama kali individu seronegatif atau di
antara mereka yang belum menghasilkan respon antibodi yang cukup selama infeksi
sebelumnya dengan salah satu dari dua HSVs.6
Mayoritas infeksi subklinis. Meskipun PHGS biasanya mempengaruhi anak-anak antara
usia 1 dan 5 tahun, sesekali juga terjadi infeksi primer mempengaruhi orang dewasa. Bayi
secara pasif dilindungi melalui imunitas ibu selama 6 bulan pertama kehidupan. Manifestasi
klinis dari infeksi, baik dari HSV-1 atau HSV-2, dapat menyebabkan infeksi oral primer; hampir
semua disebabkan oleh HSV-1.6.7 Sebagian besar infeksi orofasial primer HSV-1-induced yang
subklinis dan karena itu tidak diakui.6PHGS gejala biasanya didahului atau disertai dengan
sensasi terbakar atau paresthesia di lokasi inokulasi, limfadenopati servikal dan
submandibular, demam, malaise, mialgia, kehilangan nafsu makan, disfagia, dan sakit kepala.
Tanda-tanda yang paling khas pada presentasi yang akut, umum, gingivitis marginal, dengan
gingiva meradang muncul eritematosa dan edema. Kebanyakan klien dengan infeksi herpes
primer tidak pernah mengalami bentuk sekunder atau berulang. Pada individu yang sehat,
infeksi primer memiliki prognosis yang sangat baik, dengan pemulihan diharapkan dalam
waktu 10 sampai 14 hari.6Namun demikian, borok herpetic menyakitkan di mulut terkait
dengan infeksi primer sering menyebabkan berkurangnya makanan dan asupan cairan,
sehingga menciptakan kebutuhan manusia untuk pencegahan risiko kesehatan yang
menyertai penyakit ini. Kekurangan gizi dapat pada anak-anak dan bayi, dehidrasi berat dapat
menyebabkan bayi dirawat inap.

248 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


2. Tanda dan Gejala
Tanda-tanda sistemik dan intraoral gingivostomatitis herpetik akut ditandai oleh
beberapa karakteristik dan gejala. Pecahnya vesikular dapat terjadi pada kulit, perbatasan
vermilion, atau membran mukosa mulut. Di Intraoral, penyakit ini dapat muncul pada mukosa
atau permukaan gingiva, palatum keras, dan mukosa alveolar atau area jaringan lunak mulut
lainnya. Vesikel keabu-abuan diskrit pecah dan menyatu dalam waktu 24 jam membentuk
bisul. Borok memiliki merah, tinggi, “halolike” margin dengan daerah pusat tertekan kuning
atau abu-abu, penuh dengan shedding virus.

3. Tanda dan Gejala Akut Herpes Gingivostomatitis


a. Ulkus dengan penampilan karakteristik lingkaran cahaya merah dari jaringan yang
mengelilingi mereka (ekstraoral pada kulit dan perbatasan vermilion bibir; intraoral
pada setiap permukaan mukosa) jaringan Umumnya memerah.
b. Rasa sakit.
c. Demam.
d. Rasa tidak enak.
e. Sakit kepala.
f. limfadenopati servikal.

Gambar 7.12
Gingivostomatitis Herpetik Primer. Infeksi Oral ini dari Mulut Ditandai dengan Gingiva
Merah Cerah, Vesikel, dan Nyeri. A, Gingiva Facial Menunjukkan Pembengkakan dan
Berubah Warna. B, Lingual Pandangan Premolar dan Gigi Anterior Menunjukkan Bersatu
Vesikel

Pengakuan adanya PHGS didasarkan pada pengetahuan tentang bentuk bisul dan
penilaian manifestasi sistemik. Tes diagnostik, seperti pembiakan untuk virus herpes oleh
dokter, dapat dilakukan untuk mengetahui adanya virus, tetapi ini tidak rutin. Selain itu,
penyakit ini sangat menular; oleh karena itu kebersihan gigi, klien, dan orang tua klien (dalam

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 249


kasus anak-anak), harus bekerja sama untuk mencegah penularan virus kepada anggota
keluarga lainnya.

Gambar 7.13
Infeksi Herpes Primer pada Kulit Wajah Dekat Mata. Anak ini 8 Tahun Harus Tetap Keluar
dari Sekolah Selama 3 Minggu sampai Infeksi Berlari Tentu Saja untuk Mencegah
Menyebar ke Orang lain

4. Pengobatan
Pengobatan peradangan gingiva dan setiap tindakan perawatan gigi secara elektif harus
ditunda sampai PHGS telah dilakukan. Klien dinilai oleh dokter gigi untuk mendapatkan
diagnosis gigi secara pasti. Pengelolaan gingivostomatitis herpetik akut sepenuhnya
mendukung karena sifat menular dari penyakit dan fakta bahwa ia berjalan saja di 7 sampai
10 hari. Klien harus diinstruksikan untuk beristirahat, mengambil cairan, dan selalu makan
makanan bergizi. Klien juga harus selalu membersihkan gigi di rumah dengan sikat gigi ekstra-
lembut jika.
Perawatan oleh tenaga kesehatan gigi tidak boleh dilakukan karena risiko penularan
virus ke kepala, leher dan area lain atau dari klien kepada tenaga kesehatan gigi atau pekerja
lainnya. Bahkan jika tena kesehatan gigi sebelumnya terkena herpes atau telah memiliki
riwayat infeksi awal dengan atau tanpa lesi berulang, ia masih bisa diinokulasi dengan virus
oleh tusukan jari yang tidak disengaja dengan instrumen HSV yang terkontaminasi. Infeksi ini
dapat mengakibatkan pengembangan whitlow herpes. Herpetic whitlow adalah lesi jari
herpes berulang yang sangat menyakitkan dan melemahkan. whitlow dapat bertahan
beberapa minggu lebih lama 2 minggu biasanya infeksi virus herpes pada jaringan oral.

250 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Gambar 7.14
Herpes Whitlow

Terapis gigi dan mulut memberikan pemahaman kepada klien tentang konsumsi cairan
yang memadai dan lembut, makanan padat gizi; melakukan kebersihan mulut sebanyak
mungkin di rumah; dan menggunakan over-the-counter anestesi topikal dan nonsteroid agen
anti-inflamasi sistemik untuk meminimalkan keluhan. Klien dapat diberikan anestesi topikal
dengan cara oles ke lesi pengendalian secara lokal. Anestesi topikal harus digunakan dengan
hati-hati pada anak-anak agar tidak membius tenggorokan.

K. INFEKSI ORAL HERPES SIMPLEX BERULANG

Setelah infeksi primer, laten HSV kembali aktif secara berkala, bermigrasi dari ganglia
sensoris menyebabkan herpes oral atau genital berulang.
Meskipun tingginya prevalensi HSV-1 dalam populasi, hanya 15% sampai 40% dari
pasien seropositif pernah mengalami gejala mukokutan. Kerentanan genetik individu, status
kekebalan, usia, lokasi infeksi, dosis awal inokulum, dan subtipe virus muncul mempengaruhi
frekuensi kekambuhan. Dibandingkan dengan infeksi primer, episode berulang lebih ringan
dan lebih pendek dalam durasi, dengan keterlibatan sistemik minimal.7
Klien lesi herpes muncul lagi klien segera datang ke tenaga kesehatan gigi. Lesi ini sangat
umum, seperti yang disebutkan sebelumnya, dan mereka tidak mengganggu aktivitas sehari-
hari, sehingga klien sering tidak menyadari. Lesi berulang yang khas terjadi pada bibir yang
disebut sebagai herpes simpleks labialis. Nama-nama umum seperti demam melepuh dan
sakit mencerminkan pemahaman masyarakat tentang apa endapan kambuh ini dan
berpotensi memberikan dampak serius bagi kesehatan gigi.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 251


1. Tanda dan Gejala
Klien sering memiliki gejala prodromal terbakar, kesemutan, atau nyeri di situs mana lesi
berulang. Dalam beberapa jam gejala prodromal, vesikel muncul, dan ini menjadi ulserasi dan
menyatu menjadi ulkus besar atau bisul. Lesi sembuh tanpa jaringan parut di sekitar 14 hari,
dan mereka dapat kambuh sesering sekali per bulan. Biasanya lesi akan terulang di tempat
yang sama di perbatasan vermilion dan pada kulit di sekitar wajah.

2. Tanda dan Gejala berulang Infeksi Herpes


a. Gejala prodromal terbakar atau kesemutan di situs.
b. Bisul di bibir atau kulit perioral.
c. Rasa sakit.
d. Vesikel di awal perjalanan infeksi.
e. Pengerasan kulit dari permukaan ulkus seperti menyembuhkan.

Sumber: Dari Ibsen OAC, Phelan JA: patologi oral untuk kesehatan gigi, ed 6, St Louis,2013,
Saunders

Gambar 7.15
Infeksi herpes berulang pada bibir, yang juga dikenal sebagai sakit dingin. Klien sering
tidak mengenali lesi ini sebagai infeksi herpes berulang yang sangat menular.
A, Herpes labialis 12 jam setelah onset.
B, Herpes labialis 48 jam setelah onset.

3. Pengobatan
Lesi berulang akan menghasilkan sejumlah besar virus herpes. Untuk alasan ini, Terapis
gigi dan mulut tidak harus memperlakukan klien lesi yang ada. Kadang-kadang ini bisa sangat
membingungkan, karena memerlukan pengangkatan kembali klien yang telah menunggu
berbulan-bulan untuk membuat janji. Namun, Terapis gigi dan mulut ditempatkan pada risiko

252 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


besar inokulasi, seperti halnya dengan infeksi herpes primer. Tidak hanya herpes whitlow lesi
virus ini juga ada pada air liur, yang berarti terpaparnya melalu percikan saliva selama
pengobatan dapat berbahaya.

Sumber: Courtesy Dr Sidney Eisig

Gambar 7.16
Infeksi Herpes Berulang Kornea. Tanpa Kacamata Pelindung dan Tindakan Pencegahan
Standar, Kalkulus dan Kontaminan lainnya bisa Masuk ke Mata dari Kebersihan Gigi atau
Klien dan Menginfeksi Kornea dengan Virus Herpes. Kekambuhan sangat Menyakitkan dan
Terakhir Beberapa Bulan. Hilangnya sebagian Penglihatan dan Cacat dapat Terjadi

Pengobatan lesi herpes sepenuhnya mendukung. Ada beberapa agen antivirus tersedia
dengan resep (misalnya, asiklovir) klien dapat mengambil manfaat jikz menggunakan. Agen-
agen ini dapat mengurangi tingkat dan durasi kekambuhan. Terapis gigi dan mulut harus
memberitahu klien dari kemungkinan ini dan merujuk klien ke dokter atau dokter gigi untuk
informasi lebih lanjut.
Hal ini sangat penting bagi klien untuk diberikan pemahaman tentang lesi-lesi ini dan
sekitar nya untuk mencegah penyebaran infeksi. Klien yang kambuh pada umum sering
menyadari gejala prodromal segera mendatangi Terapis gigi dan mulut.
Lesi herpes berulang dapat terjadi intraoral, dan mereka biasanya muncul di langit-langit
lunak. Lesi ini kadang-kadang pecah ketika suntikan anatesi pada palatal, skaling dan root
planning. Klien yang baik akan menelepon atau kembali untuk janji berikutnya, dan ulkus oral
khas akan terlihat jelas di daerah di mana suntikan suntikan diberikan.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 253


Sumber: Dari Ibsen OAC, Phelan JA: Patologi Oral untuk Kesehatan Gigi, ed 6, St Louis,
2013, Saunders

Gambar 7.17
Infeksi Herpes Berulang Langit-langit Mulut

Lesi herpes intraoral berulang hampir selalu dapat dengan mudah dibedakan dari ulkus
aphthous lebih umum terjadi. Meninjau sejarah klien untuk trauma baru atau penyakit
mungkin membantu, tapi entah lesi dapat hasil. Karakteristik lebih membedakan adalah
bahwa lesi herpes berulang hampir selalu terjadi pada gingiva atau langit-langit keras, dan
borok aphthous hampir selalu muncul pada mukosa bergerak.

L. PERICORONITIS

Pericoronitis adalah peradangan jaringan lunak ketika gigi erupsi sebagian. Dapat terjadi
secara akut, subakut, atau kronis. Gigi yang paling sering terkena adalah molar ketiga rahang
bawah, tetapi rahang atas gigi geraham ketiga dan gigi lain yang paling distal biasanya tempat
munculnya penyakit ini. Flap jaringan sepenuhnya atau sebagian meliputi gigi terkait disebut
operkulum. Ruang antara flap jaringan dan gigi adalah lokasi yang ideal untuk sisa makanan
dan terkumpulnya bakteri untuk tumbuh. Bakteri semakin menginfeksi ke bagian dalam,
jaringan merespons dan timbul peradangan dan rasa sakit. Ada peradangan konstan di daerah,
sehingga selalu dianggap subakut atau kronis terinfeksi, bahkan jika gejala akut yang tidak
hadir.8
Perikoronitis akut menimbulkan peradangan hebat di daerah setempat. Selain adanya
peradangan, membengkak jaringan, ini dapat mengganggu penutupan lengkap dari rahang.
Gangguan ini dapat menyebabkan trauma, peningkatan peradangan, dan sakit parah. Jaringan

254 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


menjadi sangat merah, adanya nanah, dan rasa sakit dapat menyebar ke tenggorokan dan
telinga.
Penyakit ini adalah masalah umum yang sering terjadi pada orang dewasa muda, dan
telah dianggap sebagai masalah serius bagi personel militer, yang kebanyakan adalah pada
kelompok usia 17-26 tahun. Bahkan, 20% dari keadaan darurat gigi dilaporkan oleh militer
selama Perang Dunia II dan 16% dari mereka dari konflik Vietnam yang perikoronitis akut.

Gambar 7.18
Perikoronitis. Kondisi ini Paling Sering Ditemukandi Wilayah Molar Ketiga, dan itu bisa
sangat Menyakitkan. Perhatikan Pembengkakan Distal Jaringan Lunak pada Molar Kedua.
Klinis Jaringan adalah Intens Merah

1. Tanda dan Gejala


Daerah oral yang memiliki operkulum cenderung untuk perikoronitis dan biasanya
menunjukkan tanda-tanda kronis penyakit, peningkatan kemerahan, dan beberapa eksudat.

2. Tanda dan Gejala Akut Pericoronitis


a. Rasa sakit yang hebat.
b. Pembengkakan pada operkulum dan gingiva pada gigi bagian distal.
c. Kemerahan.
d. Eksudat purulen.
e. Bau.
f. Pembengkakan pipi.
g. Limfadenopati servikal.
h. Riwayat kekambuhan.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 255


Jaringan mengalami pembengkakan sehingga mengganggu pengunyahan, mudah
trauma selama makan. Infeksi dapat menyerang ke dalam ke jaringan dan menyebabkan
pembentukan peritonsillar abses, selulitis, dan angina Ludwig. Tanda-tanda ini jarang terjadi
gejala sisa, tetapi pada kasus ini menekankan pentingnya dilakukan pengobatan.

3. Pengobatan
Sejumlah pertimbangan yang harus diperhatikan dalam perawatan kasus perikoronitis,
termasuk tingkat keparahan kasus, apakah merupakan kekambuhan dan komplikasi sistemik
mungkin. Dokter gigi dapat meminta dokter gigi lain untuk berpartisipasi dalam perawatan
klien dengan perikoronitis, yang membutuhkan beberapa kunjungan.
Penanganan awal ditujukan untuk mengobati gejala dengan tujuan membuat klien
merasa nyaman. Daerah yang terinfeksi di- debridement, biasanya dengan kumur air hangat
atau encer dan hidrogen peroksida dimasukan ke dalam jarum suntik sekali pakai dengan
jarum tumpul. Pemberian anestesi lokal. Jaringan harus diangkat jauh dari gigi untuk
memberikan banyak debridement Setelah debridement awal ini, klien diinstruksikan untuk
beristirahat di rumah, menggunakan kumur air garam hangat, dan minum cairan untuk
menghindari dehidrasi. Dokter gigi dapat meresepkan antibiotik jika klien demam atau jika
ada limfadenopati servikal. Klien diminta untuk kembali keesokan harinya. Pada kunjungan
kedua, daerah tersebut irigasi lagi dan diinstrumentasi jika mungkin, dan homecare lebih
menyeluruh dimulai. Sebuah peningkatan yang ditandai biasanya diamati pada pengangkatan
kedua.
Setelah kondisi akut telah teratasi, klien dinilai oleh dokter gigi untuk menentukan
perawatan lebih lanjut. Perawatan gigi mungkin termasuk ekstraksi molar ketiga atau
pengangkatan operkulum untuk menghasilkan kontur gingiva yang normal jika gigi akan
dipertahankan
Operkulum hampir selalu ada disertai peradangan, dan potensi eksaserbasi akut
mungkin terjadi. Terapis gigi dan mulut menginformasikan kepada klien tentang isu-isu
potensial yang terkait dengan kondisi agar memahami situasi dan dapat selalu menjaga
kesehatan mulut.

M. PENYAKIT PERIODONTAL NECROTIZING

Gingivitis ulseratif nekrosis akut dilaporkan secara luas, dan tidak jarang terjadi di negara
berkembang. Diagnostik umum pada kasus ini adanya ulserasi dan nekrosis papila interdental,
nyeri, dan pendarahan gingiva spontan. Penyakit periodontal ulseratif nekrosis secara klinis
berbeda dengan periodontitis kronis. Sampai tahun 1999, kondisi itu paling sering disebut akut
gingivitis ulseratif nekrosis atau hanya necrotizing gingivitis ulseratif. Namun, penyakit ini

256 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


sering dikaitkan dengan kehilangan perlekatan, yang membuat gingivitis jangka akurat,
sehingga penyakit ini sekarang disebut sebagai nekrosis periodontitis ulseratif. Kondisi
hilangnya perlekatan merupakan jenis penyakit yang berbeda. Dan untuk jenis penyakit di atas
sepakat dinamakan necrotizing penyakit periodontal.
Nekrosis penyakit periodontal ulseratif adalah infeksi gingiva oportunistik yang
berhubungan dengan faktor risiko gaya hidup (misalnya, stres, penggunaan tembakau) serta
dengan kondisi sistemik (misalnya, diskrasia darah, acquired immunodeficiency syndrome,
sindrom Down).
Penyakit ini pertama kali dijelaskan oleh Vincent pada akhir abad kesembilan belas, dan
itu banyak terjadi pada tentara yang berperang di parit di Eropa selama Perang Dunia I Istilah
paritpun diadopsi karena peristiwa itu. Penyakit ini terutama terlihat pada individu dewasa
muda, dan itu dianggap menular. Namun, penyakit ini tidak menular, infeksi, atau menyebar
melalui kontak langsung. Nekrosis penyakit periodontal ulseratif diakui menjadi penyakit
berulang dengan bakteriologi kompleks yang terdiri dari sebagian besar spirochetes dan
organisme gram negatif. Kehadiran bakteri tertentu secara konsisten, seperti fusobacteria,
dan spirochetes telah memberikan informasi bahwa penyebabnya dapat dijelaskan dalam
istilah mikrobiologis. Organisme ini menyerang jaringan, yang menyebabkan munculnya
karakteristik penyakit. Faktor penyebab lainnya adalah kebersihan mulut yang buruk, bernafas
melalui mulut, merokok, stres, sepsis, kekurangan gizi, dan penyakit sistemik, termasuk
ketidakseimbangan hormon dan perubahan dalam limfosit dan fungsi neutrofil.

1. Tanda dan Gejala


Penyakit periodontal ulseratif nekrosis memiliki karakteristik klinis tertentu yang
membedakan mereka dari bentuk-bentuk lain dari infeksi oral akut. Penampilan klinis
penyakit ini merupakan salah satu kawah pada papila, gingival sangat memerah, dan rasa
sakit. Sering ditemukan kumpulan puing-puing, sel-sel mati, dan bakteri pada permukaan
gingiva yang muncul abu-abu dan yang disebut sebagai pseudomembran. Lesi gingiva dapat
dilokalisasi ke daerah-daerah tertentu atau umum di seluruh mulut, dan mereka semakin
menghancurkan gingiva dan struktur periodontal yang mendasari. Klien sering menunjukkan
bau napas yang sangat ofensif dan berbau busuk yang dapat berbau di mana saja di sebuah
ruangan yang ditempati oleh klien. Mereka juga mungkin mengeluhkan tekstur tebal atau
pucat untuk air liur.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 257


Gambar 7.19
Necrotizing Periodontitis Ulseratif. Tanda-tanda Intraoral Klasik ini Penyakit-Kemerahan,
Kawah Papila, Pseudomembran, dan Spontan Perdarahan-Muncul di Daerah Anterior

Tiga kriteria yang paling dapat diandalkan untuk mengenali penyakit ini adalah sebagai
berikut:
a. Nekrosis akut dan ulserasi dari papila interproksimal.
b. Rasa sakit.
c. Berdarah.

2. Tanda dan Gejala Necrotizing Ulseratif Periodontitis


a. Nekrosis papila interproksimal dari gingiva.
b. Berdarah.
c. Rasa sakit.
d. bau busuk.
e. Pseudomembran atas gingiva limfadenopati.

Stres sering berhubungan dengan kejadian pertama kali penyakit ini dan kambuhnya
penyakit ini. Peran faktor-faktor psikologis stres sampai saat ini belum dipahami dengan baik,
tetapi telah terbukti bahwa perubahan dalam sistem kekebalan tubuh yang terjadi pada waktu
stres mempengaruhi individu tertentu dalam merespon bakteri yang menghasilkan
necrotizing penyakit ulseratif.

3. Pengobatan
Keluhan dari periodontitis ulseratif necrotizing biasanya tidak lama tapi menyakitkan.
Klien datang ke klinik gigi dengan keluhan adanya rasa sakit pada daerah tersebut. Karena sifat
siklik dan berulang dari penyakit, pengobatan berfokus pada pengendalian mikroba melalui
debridement mekanis dengan kedua klien dan klinisi. Ini juga membutuhkan konsultasi

258 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


dengan dokter karena kemungkinan adanya pengaruh dari faktor predisposisi sistemik, seperti
infeksi human immunodeficiency virus. Perawatan termasuk debridement periodontal dengan
scaler ultrasonik, kontrol biofilm plak, dan kumur-kumur dengan larutan 0,12% chlorhexidine
dua kali sehari. Dokter gigi dapat meresepkan antibiotik sistemik jika terjadi demam dan
limfadenopati.

Tabel 7.2
Pengobatan Necrotizing Ulcerative Periodontitis

Hari 1 Kunjungan Skala dan debride sebanyak mungkin.


pertama: Mekanik (ultrasonik) instrumen dapat lebih mudah ditoleransi
terapi oral daripada scaler tangan diaktifkan.
Gunakan anestesi topikal yang diperluan.
Memberikan instruksi plak-control.
Merekomendasikan sering bilasan di rumah dengan campuran
air hangat dan 3% hidrogen peroksida untuk menenangkan dan
mengoksidasi plak pseudomembran.
Hari 1 terapi sistemik Tinjau riwayat kesehatan klien untuk kondisi yang mendasari,
dan berkonsultasi dengan nya dokter yang diperlukan.
penggunaan antibiotik (misalnya, penisilin, eritromisin,
metronidazol) diindikasikan jika klien mengalami demam dan
limfadenopati servikal.
Hari ke-2 kunjungan Nyeri harus dikurangi jauh.
kedua Lanjutkan untuk menghapus kalkulus untuk batas toleransi
klien.
instruksi kebersihan oral harus diperkuat.
Regimen rumah pembilasan harus dilanjutkan.
Hari 4 kunjungan skala terapi dan root planing harus diselesaikan, mengambil
sampai 7 ketiga sebagai banyak janji yang diperlukan.
kebersihan mulut harus diperkuat.
bilasan hidrogen peroksida dapat dihentikan.
Lanjutkan klien pada 0,12% bilas chlorhexidine mulut dua kali
sehari selama 2 sampai 3 minggu.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 259


bulan 1 Reevaluasi Memperkuat kebersihan mulut.
untuk Skala dan akar pesawat jika perlu.
perawatan Teliti dan teratur debridement oleh klien dan kebersihan gigi
lanjutan harus terjadi untuk mengontrol patogenisitas bakteri.
Kawah sering terjadi dan dapat mengakibatkan cacat gingiva
yang signifikan yang harus dievaluasi oleh dokter gigi untuk
kemungkinan koreksi bedah.

bulan 3 terapi perawatan kebersihan yang teratur profesional mekanik gigi


pemeliharaan harus didorong untuk meminimalkan risiko kekambuhan.
periodontal Interval Lanjutan perawatan harus 2 sampai 4 bulan.

Mengingat tanda dan gejala, dalam konsep kebutuhan manusai klien dengan penyakit
periodontal necrotizing mengalami tidak terpenuhi kebebasan dari kepala dan nyeri leher,
kulit dan integritas membran mukosa dari kepala dan leher, dan konseptualisasi dan
pemecahan masalah. Kesehatan klien dan kesehatan mulut dan kesejahteraan adalah kunci
keberhasilan perawatan penyakit ini. Klien harus memiliki pengetahuan tentang peran stres,
bakteri, dan nutrisi dalam proses penyakit dan didorong untuk mempertahankan perilaku
kesehatan dan gaya hidup mulut mereka. Saran untuk mengidentifikasi teknik manajemen
stres dan meningkatkan gizi adalah komponen penting dari perawatan kesehatan gigi.

N. AVULSI GIGI

Avulsi gigi permanen adalah yang paling serius dari semua cedera gigi. Gigi avulsi adalah
salah satu yang dipisahkan dari tulang alveolar oleh trauma. Meskipun avulsi tidak sepenuhnya
darurat periodontal, gigi yang dapat ditanami kembali dan dapat berhasil jika dikelola dengan
baik. Prognosis tergantung pada penanganan yang diambil di tempat trauma atau segera
setelah terjadinya avulsi.
Trauma ke daerah mulut sering terjadi dan 5% dari semua yang mengalami cedera
mencari pengobatan. Di antara anak-anak prasekolah, angka setinggi 18% dari semua cedera.
Avulsion adalah cedera gigi yang paling umum untuk anak-anak yang berusia kurang dari 15
tahun. Situasi terjadi pada sebanyak 1 dalam setiap 200 anak-anak Amerika, yang
menghasilkan sekitar 2 juta kejadian per tahun. Di antara semua luka di wajah, luka gigi adalah
yang paling umum; avulsions terjadi dengan 1% sampai 16% dari semua cedera gigi.
Penanaman kembali gigi adalah pilihan pengobatan, tapi ini tidak selalu dapat dilakukan
segera. Untuk memenuhi kebutuhan klien dari sisi biologis suara dan fungsi gigi, adalah

260 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


kewajiban pada Terapis gigi dan mulut untuk tanggap keadaan darurat ini. Namun, Terapis gigi
dan mulut harus dapat menginformasikanpara orang tua, anak-anak, siswa, dan orang dewasa
yang berpartisipasi dalam kegiatan atletik untuk menggunakan pelindung mulut untuk
mencegah cedera mulut. Selain itu, informasi harus diberikan kepada guru dan pelatih tentang
risiko cedera mulut selama kegiatan olahraga tertentu. Selanjutnya, replantation tidak boleh
dilakukan saat gigi sulung telah avulsi karena risiko cedera gigi permanen bias terjadi.
Rencana pengobatan yang tepat setelah cedera penting untuk memperoleh prognosis
yang baik. Pedoman berguna untuk Hiegenis gigi, dokter gigi, dan profesional kesehatan
lainnya untuk memberikan perawatan terbaik dengan cara yang efisien. Asosiasi Internasional
Gigi Traumatologi telah mengembangkan pernyataan konsensus dalam menanggapi literatur
dan diskusi kelompok gigi. waktu yang hilang dan penanganan yang tidak tepat dari gigi avulsi
secara substansial dapat mengurangi keberhasilan replantation jangka panjang. Selain itu,
Terapis gigi dan mulut harus memberitahukan orang tua, guru, dan pelatih tentang prosedur;
peningkatan kesadaran yang dapat meningkatkan keberhasilan replantation gigi ketika cedera
pada kejadian gigi avulsi.
Penyembuhan setelah cedera pada gigi dan jaringan mulut penting dilakukan. Pasien
harus dianjurkan tentang cara terbaik untuk merawat gigi yang telah menerima perawatan
setelah cedera. Menyikat gigi dengan sikat lembut dan berkumur dengan klorheksidin 0,12%
yang bermanfaat untuk mencegah akumulasi plak dan puing-puing.

1. Pengobatan
Terapis gigi dan mulut mungkin hadir di sebuah acara olahraga atau tempat lain saat
terjadinya trauma avulsi, atau mungkin memiliki anak yang mengalami gigi trauma avulsi. Gigi
avulsi cepat dipisahkan dari alveolus setelah jatuh. Biasanya lapisan sel ligamen periodontal
tetap pada permukaan cemental gigi avulsi dan pada tulang di soket karena terjadinya sangat
cepat dari trauma. Keberhasilan perawatan gigi avulsi oleh replantation tergantung pada
bergabung kembali sel-sel ligamen periodontal utuh menutupi sementum gigi agar tetap
dalam soket.
Tujuan dari perawatan darurat ini adalah untuk mempromosikan penyembuhan
periodontal ligamen setelah gigi tersebut ditanam kembali dalam soket. Untuk
memaksimalkan peluang penyembuhan, gigi harus dilindungi mahkota untuk mencegah
kerusakan pada sel-sel ligamen periodontal yang tersisa. Sangat penting bahwa gigi avulsi
belum mengering Sedikitnya 1 jam penyimpanan kering sebelum replantation mempengaruhi
tingkat keberhasilan prosedur.
Tempat yang ideal untuk menyimpan dan menyimpan gigi avulsi adalah dalam soket,
upayakan tetap ditahan di tempatnya selagi klien dibawa gawat darurat rumah sakit. Soket
menyediakan lingkungan yang paling bergizi bagi sel-sel ligamen periodontal, sehingga

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 261


meningkatkan tingkat kelangsungan hidup gigi. Jika tidak mungkin untuk mengganti gigi
sementara di socket saat cedera akibat trauma atau gangguan emosional, maka disimpan di
garam fisiologis adalah alternatif yang aman. Susu juga merupakan media yang baik, karena
memiliki osmolalitas fisiologis dan relatif sedikit bakteri. Air liur memiliki lebih banyak bakteri
dari susu, tetapi penggunaan susu adalah cara yang baik untuk menjaga gigi lembab. Jika klien
tidak mau memegang gigi, air asin hangat dapat mencegah dehidrasi, tetapi tidak dapat
menjaga sel-sel hidup lama. Pengeringan udara atau membungkus gigi di kasa atau bahan
lainnya, dalam waktu yang singkat, merupakan kontraindikasi, karena prosedur tersebut akan
membunuh sel-sel ligamen periodontal. Alternatif mungkin harus dipikirkan dengan cepat dan
keputusan yang dibuat selama situasi stres untuk menghindari dehidrasi dan kematian sel.

2. Rekomendasi Umum Untuk Dokumentasi Gigi Avulsi Pemeriksaan Klinis


a. Jaringan lunak.
Jaringan keras (fraktur enamel, dentin atau pulpa eksposur).
b. Mobilitas yang abnormal, perpindahan gigi.
c. Perkusi, perkusi (ankilosis) tone.
d. Electrometric pulpa kepekaan pemeriksaan radiografi.
e. Pemeriksaan jaringan lunak.
f. Paparan radiografi oklusal dari daerah trauma.

Periapikal paparan sudut membagi dua dari setiap gigi trauma Akhir diagnosis dan
pengobatan perencanaan

Tabel 7.3
Penyimpanan Gigi Avulsi Selama Transportasi untuk Pengobatan

Pilihan Transportasi Medium

Pertama Ganti di soket.

Kedua Simpan dalam garam fisiologis.

Ketiga Simpan dalam dingin, susu segar.

Keempat Tempatkan di mulut individu, baik di bawah lidah atau di pipi.

Kelima Simpan dalam air asin hangat.

Keenam Simpan dalam air keran.

262 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Di fasilitas perawatan darurat, gigi dikeluarkan dari media tpembungkus yang lembut,
dicuci, ditanam kembali di soket setelah gumpalan darah hilang, dan splint ke tempatnya.
Antibiotik sistemik diberikan untuk 5 sampai 7 untuk mencegah infeksi gigi. Prosedur
endodontik perlu dilakukan di lain waktu (yaitu, sekitar 2 minggu setelah replantation) untuk
menghindari inflamasi resorpsi akar.

Manajemen Darurat prosedur dari Avulsi Gigi

PERALATAN

cangkir bersih atau wadah lainnya


media transportasi

Langkah-langkah ALASAN

Tenang individu atau orang tua. Untuk mendapatkan ion cooperat


klien dan menghilangkan stres

Cari gigi avulsi. Untuk mempersiapkan reinserti

Menangani gigi hanya dengan mahkota dan tidak


kering gigi; tidak debride gigi.

Tempatkan gigi pada soket atau di media


transportasi

Hubungi dokter gigi atau fasilitas darurat lain


(misalnya, klinik gigi, gawat darurat rumah sakit).

Mengatur transportasi dari individu yang terkena


ke fasilitas pengobatan.

Dokumen perawatan diberikan dalam catatan


elektronik. Misalnya, “Selama permainan hoki,
kecelakaan terjadi, dan gigi seri pertama kanan di
rahang atas adalah avulsi. Setelah 1 jam, klien
dengan gigi avulsi diganti dalam soket dikirim
untuk perawatan darurat.”

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 263


Tabel 7.4
Ringkasan Perbandingan Akut Gingiva dan Ketentuan Periodontal, Lesi Endodontik Asal,
dan Gigi Avulsi

Sebab Faktor risiko Tanda dan gejala Pencegahan dan Manajemen

Akut periodontal Abses

Pathogen dalam kantong Pembengkakan Pendidikan tentang penyakit ini


periodontal penyakit kemerahan Nyeri Scaling dan root planing
periodontal yang eksudat Rujukan untuk perawatan lebih
tidak diobati Sinus saluran lanjut
mungkin terjadi
Kronis periodontal Abses
patogen dalam kantong sinus saluran Pendidikan tentang penyakit ini
periodontal penyakit eksudat Scaling dan root planing
periodontal yang Rasa sakit Rujukan untuk perawatan lebih
tidak diobati Pembengkakan lanjut
kemerahan
episode akut
gingiva Abses

Objek asing tidak diketahui Pembengkakan Pendidikan untuk mencegah


kemerahan Nyeri kekambuhan
eksudat Rujukan untuk insisi dan drainase
abses
Lesi Asal endodontik

karies Karies gigi Rasa sakit Pendidikan untuk mengurangi


Penyakit Penyakit Pembengkakan kemungkinan kekambuhan
periodontal periodontal sinus saluran Rujukan untuk perawatan
Gigi patah luka trauma endodontik definitif
tulang prosedur
gigi Trauma
Gabungan periodontal Abses

264 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Sebab Faktor risiko Tanda dan gejala Pencegahan dan Manajemen

karies Karies gigi Rasa sakit Pendidikan untuk mengurangi


Penyakit Penyakit Pembengkakan kemungkinan kekambuhan
periodontal periodontal keropos tulang Rujukan untuk perawatan
Gigi patah endodontik dan periodontal
tulang prosedur definitif
gigi Trauma
Akut herpes Gingivostomatitis
virus herpes Usia Ulkus dengan Pengangkatan kembali untuk
simpleks lingkaran cahaya prosedur gigi
Rasa sakit Pendidikan untuk mencegah
gejala sistemik penularan kepada orang lain
perawatan suportif sampai virus
telah menjalankan saja
Berulang herpes Lesi

virus herpes Sejarah Ulkus pada bibir Pengangkatan kembali untuk


simpleks kekambuhan atau perioral prosedur gigi
Perubahan jaringan terapi suportif
kekebalan tubuh Pendidikan tentang obat antivirus
status Rujukan ke dokter
akut Pericoronitis

plak bakteri Erupsi sebagian Rasa sakit Pendidikan untuk mengejar


geraham Pembengkakan pengobatan dan mencegah
operkulum kemerahan kekambuhan
bau busuk Debridement dan irigasi daerah
Necrotizing ulseratif Periodontitis

Bakteri patogen penyakit Rasa sakit Pendidikan untuk mencegah


sistemik Berdarah kekambuhan
Menekankan bau busuk Debridement selama beberapa
Merokok kemerahan janji
pseudomembran skala definitif sesegera mungkin
papila kawah Konsultasi dengan dokter
Gigi avulsi

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 265


Sebab Faktor risiko Tanda dan gejala Pencegahan dan Manajemen

Trauma olahraga kontak pemisahan Pelestarian gigi di media


kecelakaan traumatis dari transportasi yang sesuai
alveolus transportasi langsung ke fasilitas
pengobatan untuk replantation gigi
Rujukan untuk perawatan
endodontik

O. TIPS PENDIDIKAN KLIEN

1. Berikan pemahaman kepada klien tentang penularan penyakit dan pengaruh gaya
hidup, terutama yang terkait dengan virus herpes dan penyakit periodontal necrotizing.
2. Berikan pemahaman pada klien tentang bahaya infeksi oral, konsumsi cairan yang cukup
dan makanan padat nutrisi, untuk melakukan kebersihan mulut, dan untuk
menggunakan over-the-counter anestesi topikal untuk mengontrol ketidaknyamanan
mereka.
3. Metode pengolesan untuk mencegah penularan infeksi herpes aktif.
4. Ajarkan klien dengan riwayat infeksi herpes berulang untuk membatalkan janji gigi
ketika lesi oral yang aktif hadir.
5. Metode Review dan pengobatan untuk mencegah terulangnya perikoronitis dan
penyakit periodontal necrotizing.
6. Ajarkan orang tua, guru, dan pelatih tentang gigi avulsi dan pihak sekolah untuk
meningkatkan keberhasilan replantation gigi.
7. Ajarkan klien yang beresiko untuk avulsi gigi tentang perlunya pelindung mulut.

P. HUKUM, ETIKA, DAN ISU KEAMANAN

1. Terapis gigi dan mulut memiliki tanggung jawab hukum untuk mengenali kondisi
darurat, untuk membuat arahan yang tepat, dan untuk mengobati kondisi klien dalam
lingkup praktik kesehatan gigi.
2. Terapis gigi dan mulut memiliki tanggung jawab etis untuk mendidik klien tentang
pentingnya mencegah penyakit dan potensi kekambuhan dan terjadinya infeksi lain.
3. Terapis gigi dan mulut memiliki tanggung jawab untuk mendidik dan merujuk klien
dalam kasus-kasus trauma gigi dan untuk mencegah cedera mulut.

266 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


4. Terapis gigi dan mulut harus mempertimbangkan keselamatan diri sendiri dari penyakit
menular ketika merawat klien dengan kondisi infeksi akut, seperti primary herpetic
gingivostomatitis atau herpes labialis.

Q. KONSEP KUNCI

1. Abses periodontal adalah proses penyakit yang dapat diobati dan dapat dicegah.
2. Sebuah lesi asal endodontik adalah infeksi serius yang memerlukan konsultasi dan
rujukan untuk mendapatkan tindakan perawatan segera.
3. Lesi asal endodontik jika tidak diobati, bisa berkembang menjadi abses otak atau fasciitis
leher atau dada dinding, yang dapat mengancam jiwa.
4. Abses periodontal memiliki mikroflora patogen yang sama dengan yang terkait dengan
penyakit periodontal.
5. Skaling subgingival dan root planing yang tidak tuntas dapat menyebabkan abses
periodontal
6. Cairan abses bisa diarahkan dan dialirkan melalui jaringan atau hanya menguras melalui
pembukaan saku periodontal.
7. Infeksi berjalan pada jaringan yang berada di sepanjang jalur yang paling perlawanan;
Oleh karena itu fitur klinis infeksi mungkin muncul pada gigi yang terkena.
8. Perbedaan rasa nyeri dapat membedakan abses periapikal dan periodontal. Nyeri
periapikal tajam, berat, intermiten, dan sulit untuk melokalisasi; nyeri periodontal
adalah konstan, kurang parah, dan lokal.
9. infeksi primer dan berulang herpes serius tapi selflimiting kondisi yang memerlukan
penundaan kebersihan gigi elektif dan perawatan gigi. Perawatan kesehatan gigi tidak
boleh dilakukan pada klien dengan infeksi herpes karena risiko penularan virus ke tenaga
kesehatan gigi dan yang lainnya.
10. Perikoronitis adalah infeksi serius yang memerlukan rujukan dan pengobatan definitif.
11. Penyakit nekrosis periodontal adalah proses kompleks yang mendapatkan keuntungan
dari proses perawatan kebersihan gigi.
12. Pelindung mulut dan fabrikasi yang signifikan dapat menghasilkan perawatan kesehatan
gigi yang komprehensif.
13. Avulsion adalah cedera gigi yang paling umum di antara anak-anak yang berusia kurang
dari 15 tahun. Terapis gigi dan mulut memiliki peran dalam menangani gigi avulsi karena
merupakan orang yang paling tahu di tempat cedera traumatis.
14. Tempat yang ideal untuk menyimpan dan mengangkut gigi avulsi dalam soket gigi
korban; jika hal ini tidak mungkin, garam fisiologis merupakan salah satu alternatif.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 267


Latihan Berpikir Kritis

Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!

1) Seorang klien 30 tahun datang ke klinik. Klien giginya dibersihkan. Klien merasakan rasa
sakit dan sensitivitas di kuadran kanan bawah dan gigi yang terasa “tinggi” di wilayah
yang sama. Rasa sakit intermiten tapi “sangat mengganggu.” Setelah mempelajari
riwayat medis dan farmakologis klien, Anda menentukan bahwa ia berada dalam
kesehatan umum yang baik tanpa penyakit sistemik, dan dia sedang mengkonsusmsi
obat. Hasil pemeriksaan ditemukan bahwa di intraoral menunjukkan kemerahan dan
pembengkakan pada permukaan bukal gigi # 30. Bentuk gingiva tampak normal, dan
tidak ada saluran sinus, tetapi nanah keluar jika ditekan jari.
A. Kondisi apa yang paling mungkin menyebabkan gejala klien?
B. Apa pengobatan yang paling mungkin untuk kondisi tersebut?
C. C Apa diagnosis kesehatan gigi harus ditangani pertama untuk klien ini?

2) Seorang klien 20 tahun datang ke klinik gigi mengeluh giginya sakit parah. Anda
menentukan bahwa klien tidak memiliki penyakit sistemik, dan Anda memeriksa
jaringan mulut. Temuan oral kemerahan ekstrem dan gingiva bengkak di seluruh mulut
dan, bisul kelabu kecil di gingiva dan mukosa di beberapa daerah.
A. Kondisi apa yang paling mungkin menyebabkan gejala klien?
B. Apa pengobatan yang paling mungkin untuk kondisi tersebut?
C. Apa diagnosis kesehatan gigi harus ditangani pertama untuk klien ini?

3) Seorang klien datang ke klinik gigi, mengeluh sakit di rahangnya. Bahkan, klien tidak bisa
membuka mulutnya. Dari riwayat medis dan farmakologis klien menunjukkan bahwa
klien dalam kesehatan umum yang baik dan sedang mengkonsumsi obat. Temuan
intraoral mengungkapkan gingiva sangat memerah dan bengkak pada daerah posterior
kanan mandibular. Klien mengeluh rasa tidak enak di mulut dan mengatakan bahwa
kondisi “datang dan pergi” tapi rasa sakit terburuk telah dia alami. Klien memiliki banyak
restorasi amalgam besar dan tampaknya memiliki kalkulus di gigi molar.
A. Bagaimana kondisi darurat yang paling mungkin?
B. Bagaimana seharusnya komponen kesehatan gigi dari perawatan gigi secara
keseluruhan mulai?
C. Apa diagnosis kesehatan gigi harus ditangani pertama untuk klien ini?

268 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


4) Seorang klien 45 tahun datang ke klinik gigi mengeluh sakit parah. Klien dalam kesehatan
umum yang baik, tidak memiliki penyakit sistemik, dan tidak mengkonsusmsi obat.
Pemeriksaan intraoral: fistula pada permukaan bukal gigi # 3, sekitar sepertiga dari jalan
menuju apeks gigi. Klien telah dirawat karena penyakit periodontal di masa lalu,
termasuk di beberapa daerah yang memerlukan operasi periodontal, dan dia memiliki
banyak gigi yang telah ditambal dengan amalgam dan restorasi komposit. Ada amalgam
mesial-oklusal-distal besar dengan ekstensi lingual pada gigi # 3. Radiografi
menunjukkan ada patologi apikal jelas.
A. Kondisi apa yang paling mungkin menyebabkan gejala klien?
B. Apa yang harus komponen kesehatan gigi perawatan gigi secara keseluruhan hari
itu termasuk?
C. Apa diagnosis kesehatan gigi harus ditangani pertama untuk klien ini?

5) Seorang klien harusnya datang 4 bulan lagi, tetapi dia datang lebih awal karena dia akan
berangkat besok ke Eropa selama 6 bulan, dia mendapatkan perawatan pemeliharaan
kesehatan gigi sebelum ia pergi. Anda melihat ada lingkaran pada bibir klien, berkulit
lesi bibir bawahnya yaitu 6 mm, dengan beberapa vesikel di tepi. Dia menceritakan
kepada Anda bahwa dia tidak pernah sakit sebelumnya tapi beberapa waktu yang lalu
memberikan keluhan tapi baik-baik saja sekarang. Dia meminta Anda menutupi lesi
dengan petroleum jelly
A. Apa yang terjadi pada bibir klien?
B. Apa protokol perawatan kesehatan gigi untuk klien?
C. Apa diagnosis kesehatan gigi harus ditangani pertama bagiklien ini?

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 269


Daftar Pustaka
Darby, M, Walsh, M. (2015). Dental Hygiene: Theory and Practice, 4th Edition. Elsevier
Saunders, US, St. Louis, Missouri.

Wilkins, E. (2017). Clinical Practice of Dental Hygiene, 12th Edition. Wolters Kluwer, US,
Philadelphia.

Darby, M. (2012). Mosby’s Comprehensive Review of Dental Hygiene, 7th Edition. Elsevier
Mosby, US, St. Louis, Missouri.

Noble, S. (2012). Clinical Textbook of Dental Hygiene and Therapy, 2nd Edition. Wiley-
Blackwell, UK, West Sussex.

Thomson, Evelyn M. (2013). Case Study in Dental Hygiene, 3rd Edition. Pearson Education, US,
New Jersy.

Logothetis, Demetra D. (2012). Local Anesthesia for The Dental Hygienist. Elsevier Mosby, US,
St. Louis, Missouri.

Prajer, R, Grosos, G. (2011). Dental Hygienist's Chairside Pocket Guide. F.A. Davis Company,
US, Philadelphia.

270 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Bab 8
MENYIKAT GIGI
Yonan Heriyanto, [Link].T., [Link].
Marlindayanti, [Link], [Link].

Pendahuluan

Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu menjelaskan ciri-ciri sikat gigi yang memenuhi sarat kesehatan.
2. Mampu menjelaskan cara menggunakan sikat gigi elektrik.
3. Memahami cara memberikan instruksi cara menyikat gigi yang baik kepada klien
termasuk menjelaskan indikasi dari berbagai metode menyikat gigi dan akibat yang
dapat ditimbulkan jika menggunakan metode yang salah.
4. Mampu menjelaskan adanya luka/trauma yang dapat ditimbulkan dari metode
menyikat gigi yang tidak tepat, termasuk faktor-faktor yang dapat menyebabkan luka
pada jaringan, dan menekankan pentingnya membersihkan lidah pada saat menyikat
gigi.
5. Mampu menjelaskan manfaat menyikat gigi bagi kesehatan gigi dan mulut, termasuk
dalam menentukan dan memilih jenis sikat gigi yang sesuai berdasarkan kebutuhan
klien.

Tindakan pemeliharaan kesehatan gigi secara mandiri (homecare) merupakan


serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh seorang individu untuk mencapai,
mempertahankan dan meningkatkan kesehatan gigi dan mulut. Tindakan ini pada dasarnya
adalah upaya mengontrol dengan cara menghilangkan sisa makanan, bakteri, kotoran yang
ada pada gigi, lidah dan rongga mulut pada umumnya sebagai upaya pencegahan penyakit gigi

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 271


dan mulut. Meskipun upaya tersebut tidak dapat mencapai tingkat keberhasilan 100%, namun
paling tidak individu dapat mengontrol keberadaan plak di rongga mulut.
Menghilangkan biofilm dalam rongga mulut (plak dan kotoran lainnya) secara mekanis
melalui menyikat gigi adalah cara yang paling umum untuk kontrol plak. Alat pembersihan
mekanis seperti sikat gigi sangat diperlukan karena, sampai saat ini, tidak ada alat lain yang
benar-benar dapat mencegah pembentukan biofilm rongga mulut yang berada di dalam
mulut.
Menyikat gigi disarankan mempergunakan pasta berfluoride dan melakukannya
minimal dua kali dalam sehari. Kebiasaan ini dapat mencegah timbulnya penyakit gigi dan
mulut.

A. SIKAT GIGI MANUAL

Sikat gigi manual merupakan alat yang paling umum digunakan untuk menghapus
biofilm dalam rongga mulut. Sikat gigi dirancang sedemikian rupa untuk menghilangkan plak
dari permukaan gigi baik itu di bagian labial, lingual, bukal dan permukaan oklusal gigi (kotak
23-1). Meskipun banyak jenis dari sikat gigi dan metode menyikat gigi telah dipelajari, hingga
saat ini belum ada bukti yang menunjukkan bahwa setiap desain sikat gigi yang digunakan
secara konsisten oleh individu unggul dalam menghilangkan plak atau mencegah dan
mengendalikan penyakit periodontal.1.2

1. Ciri Sikat Gigi


Ukuran, bentuk, berat, dan tekstur disesuaikan dengan kebutuhan individu:
a. Mudah dipegang, digunakan, dan bersih.
b. Murah dan tahan lama.
c. Fungsional (fleksibel, nyaman, efektif).
d. Kekuatan yang tepat, kekakuan, dan berat.

2. Bagian dari Sikat Gigi


sikat gigi manual memiliki beberapa bagian, sebagai berikut (Gambar 8.1):

272 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Sumber: Courtesy Procter & Gamble, Profesional dan Ilmiah Hubungan, Cincinnati, Ohio

Gambar 8.1
Bagian dari Sikat Gigi Manual

a. Kepala sikat-berisikan bulu sikat dengan ukuran 1 sampai 1/4 inci (25,4-31,8mm) dan
untuk ukuran 5/16 sampai 3/8 inci (7,9-9,5 mm). Ukuran kepala dipilih berdasarkan
ukuran mulut klien bukan usia. Kepala sikat harus dapat menjangkau letak plak yang ada
di seluruh permukaan gigi. Desain kepala sikat gigi persegi panjang dan lebih runcing dan
oval.
b. Tangkai-selaras dan lurus dengan kepala sikat gigi, miring seperti cermin gigi,
melengkung. Klien dapat memilih menangani bentuknya disukai untuk digunakan agar
memperoleh rasa nyaman.
c. Leher sikat gigi menghubungkan kepala sikat gigi dan pegangan.

3. Bulu Sikat Gigi


Bulu sikat-sikat gigi terbuat dari bahan nilon. Kumpulan bulu sikat-sikat tertanam di
setiap lubang yang ada di kepala sikat gigi. Jumlah dan panjang bulu sikat-sikat bervariasi dan
disesuaikan dengan desain sikat gigi. Permukaan kepala sikat gigi yang digunakan untuk
membersihkan gigi dan jaringan lain seperti lidah mungkin datar dengan panjang bulu sikat-
sikat yang sama, bilevel, multilevel, bergelombang, atau saling silang dengan posisi miring ke
arah yang berbeda.

Desain bulu sikat mempengaruhi efek menyikat gigi, terutama di daerah approximal
yang sulit untuk dijangkau. Posisi sikat miring, bukan vertikal, posisi dan kondisi bulu sikat
terbukti memberikan kontribusi yang signifikan untuk menghilangkan plak lebih efektif karena

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 273


bulu sikat mencapai lebih jauh ke interproximal.3 Menyikat gigi saja tidak membersihkan
seluruh permukaan gigi di bagian interproksimal, perlu alat lain untuk membersihkan bagian
interdental yang terpapar biofilm atau plak.
Ujung bulu sikat memiliki manfaat yang signifikan untuk kesehatan klien. Beberapa sikat
gigi yang mengklaim memiliki endrounding tidak memiliki bulu sikat yang bulat. Para
profesional di bidang kesehatan gigi sering merekomendasikan bahwa klien menggunakan
sikat gigi dengan bulu sikat nilon yang lembut, hal ini dapat mengurangi kejadian trauma yang
dapat menimpa rongga mulut dan dapat menghilangkan lebih banyak plak dibandingkan
dengan sikat gigi yang memiliki bulu yang keras. Namun, pengaruh bulu sikat kekakuan untuk
menghilangkan plak dan trauma masih belum jelas. Bulu sikat dengan bahan nylon memiliki
berbagai diameter dari 0,15 mm menjadi 0,4 mm. Kekakuan, diameter dan ukuran bulu sikat
yang lebih pendek dan lebih luas akan memaksa gerakan sikat gigi lebih keras. Secara
tradisional, sebagian besar bulu sikat memiliki Panjang 10 sampai 12 mm. Banyak produsen
bervariasi jenis, panjang, dan diameter bulu sikat dalam kepala sikat gigi tunggal. Peningkatan
efektivitas dapat dicapai dengan bentuk bulu sikat.
Sikat gigi yang dikenakan memiliki bulu sikat yang splaying, membungkuk, keriting,
menyebarkan, atau anyaman (Gambar 23-3). Meskipun masuk akal bahwa sikat gigi aus akan
mengurangi khasiat sikat gigi, bukti yang mendukung klaim ini tidak meyakinkan. Bulu sikat
memakai bervariasi dengan individu yang berbeda dari waktu ke waktu; Oleh karena itu,
daripada menggunakan biasa 2 sampai 3 bulan sebagai indikator untuk penggantian sikat gigi,
klien harus belajar untuk mengidentifikasi tanda-tanda bulu sikat yang telah rusak.

Gambar 8.2
Sikat Gigi yang Tidak Layak Digunakan

274 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


4. Sikat Gigi Elektrik
Sikat gigi elektrik isi ulang, biasanya diaktifkan oleh listrik atau baterai (tabel 23-1).
Ketika digunakan dengan benar, sikat gigi elektrik dan manual sikat gigi efektif dalam
menghilangkan plak dan mencegah dan mengendalikan penyakit gingival. Dalam Cochrane
review sistematis dan meta-analisis (kotak 23-2), Sikat gigi elektrik menggunakan beberapa
cara yang berbeda dibandingkan dengan sikat gigi manual (kepala persegi panjang dengan
menyikat bidang datar). Hanya desain sikat gigi elektrik lebih memiliki gerakan dan putaran
lebih signifikan dibandingkan sikat gigi manual dalam rangka membuang plak dapat mencapai
angka 7% dan pengurangan gingivitis sebesar 17% dalam kedua studi jangka pendek dan
jangka panjang.4 Sikat gigi elektrik bertenaga baterai dan model isi ulang lebih murah dan
mampu meningkatkan aksesibilitas ketika menyikat gigi.

Tabel 8.1
Kekuatan Sikat Gigi

Tindakan Deskripsi contoh Diagram

Sisi ke sisi kepala sikat yang bergerak secara lateral model


kekuatan
awal dan
sonic

Seluruh kepala sikat berputar di satu


Oral-B
Oscillatingrotating arah dan kemudian yang lain; beberapa
Profesional
model juga berdenyut di

dan keluar Perawatan


dan Vitalitas
Conair
Opticlean

Bundar Seluruh kepala sikat berputar di satu Zila Rotadent


arah Plus*

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 275


Tindakan Deskripsi contoh Diagram

Sonik Bulu sikat bergetar sisi ke sisi atau naik Philips


dan turun dengan amplitudo tinggi dan Sonicare†
frekuensi tinggi; gelombang suara Oral-B
menyebabkan gerakan fluida Sonik
waterpik
Sensonic
Colgate
360 °
SonicPower

ultrasonic Bulu sikat bergetar pada frekuensi Emmi-penyok


ultrasonic (> 20 kHz) Smilex

Sikat gigi elektrik telah terbukti aman dan efektif; Oleh karena itu sikat gigi elektrik ini
cocok bagi semua klien (kotak 233). sikat gigi elektrik memiliki tingkat penerimaan yang tinggi
klien, dan klien dapat yakin bahwa sikat elektrik setidaknya sama efektifnya dan aman untuk
digunakan.1.4-5
Sikat gigi elektrik diperuntukan bagi setiap individu, tetapi terutama bagi individu
dengan kondisi:
a. Memakai ortodontik cekat.
b. Mengalami dekalsifikasi.
c. Individu dengan keadaan biofilm rongga mulut yang tidak terkendali dan penyakit
periodontal.
d. Memakai prostodontik luas atau implan gigi.
e. Memerlukan motivasi dalam rangka meningkatkan keterampilan dalam menjaga
kebetrsihan mulut.
f. Mengalami resesi gingiva atau luka jaringan keras serviks non-karies (abrasi).

5. Instruksi Setelah Menyikat Gigi


Menyikat gigi membutuhkan perhatian khusus terutama dalam hal ketelitian, durasi,
frekuensi, metode, dan kekuatan untuk mencapai teknik yang efektif dan efisien. Perhatian
lainnya adalah ketika memberikan instruksi kebersihan gigi terhadap klien, maka karakteristik
klien seperti risiko dan kerentanan terhadap penyakit, nilai-nilai pribadi, dan preferensi perlu
diperhatikan. Selain itu, komunikasi yang efektif dengan klien (pengasuh) usia, bahasa, tingkat

276 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


pendidikan, budaya, gaya belajar, dan kesiapan untuk mengadopsi perilaku baru sangat
penting.
Terlepas dari metode menyikat gigi, Terapis gigi dan mulut senantiasa menyarankan
klien untuk membersihkan mulut dan lidah secara menyeluruh dengan menggunakan
pendekatan sistematis. Klien juga perlu memahami hubungan antara biofilm rongga mulut,
penyakit mulut dan penyakit sistemik, dan pentingnya mengendalikan plak dan radang. Hasil
pemeriksaan gingiva, periodontal, dan keadaan gigi dapat memberikan informasi tentang
keadaan klien jika dihubungkan dengan kehadiran biofilm dalam rongga mulutnya. Saran
untuk meningkatkan teknik menyikat gigi akan membantu klien meningkatkan efektivitas
menghilangkan biofilm. Jumlah plak, gingivitis, dan indeks perdarahan digunakan untuk
meningkatkan pemahaman klien, memantau perawatan diri, memotivasi perilaku positif, dan
mengukur hasil perawatan.

6. Durasi dan Frekuensi Menyikat Gigi


Terapis gigi dan mulut mengajarkan klien untuk menyikat gigi secara menyeluruh untuk
jangka waktu yang cukup dalam upaya menghilangkan biofilm secara efisien dan efektif. Ada
banyak langkah-langkahnya, tetapi klien harus didorong untuk memilih urutan logis dan
menggunakannya secara konsisten untuk menghindari bagian-bagian yang terlewatkan.
Konsep ini sangat penting untuk menanamkan kebiasaan menyikat gigi sejak awal pada anak-
anak.
Temuan penelitian menunjukkan pentingnya menyikat waktu. Durasi yang disarankan
adalah 2 menit, dan beberapa model sikat gigi elektrik memiliki 2 menit waktu yang
diperlukan. Rata-rata waktu menyikat adalah 1 menit atau kurang, tetapi bukti menunjukkan
bahwa, lebih lama waktu menyikat gigi dengan cara yang tepat hasilnya pun lebih meningkat.3
Strategi pengajaran yang berbeda dapat digunakan untuk memberikan motivasi menyikat gigi
sehari-hari, seperti dengan cara menghitung untuk melanjutkan menyikat gigi ke bagian gigi
berikutnya.
Tidak ada rekomendasi standar untuk berapa kali per hari orang harus menyikat gigi.
Seberapa sering dan seberapa banyak biofilm plak harus dihilangkan untuk mencegah
perkembangan penyakit gigi tidak diketahui. Pada umumnya kebanyakan orang tidak dapat
menghilangkan 100% biofilm plak. Dari sudut pandang praktis, klien diberitahu untuk
menyikat gigi setidaknya dua kali sehari untuk menghilangkan plak dan menggunakan pasta
gigi fluoride untuk mencegah karies. Saran ini juga ditujukan untuk memberikan rasa segar
pada rongga mulut.3 Menyikat gigi dua kali sehari biasanya dianjurkan untuk mengontrol
biofilm plak penyebab penyakit mulut dan bau mulut (halitosis), kondisi memiliki napas yang
tidak menyenangkan. Menyikat sebelum tidur dan setelah periode tidur dianjurkan (yaitu, di
pagi hari dan di malam hari). Namun, keputusan tentang kapan dan seberapa sering untuk

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 277


menyikat gigi harus dilakukan melalui suatu proses pengambilan keputusan bersama
berdasarkan temuan klinis dan preferensi klien.

7. Kekuatan Tekanan Menyikat Gigi Pada Penggunaan Sikat Gigi Elektrik


Banyak literatur yang menyuguhkan tentang metode atau cara menyikat gigi yang
dikaitkan dengan terjadinya kerusakan jaringan lunak (gingiva abrasi dan resesi) dan jaringan
keras (gigi abrasi). Permasalahan yang dapat menyebabkan adanya kerusakan yang berlebihan
yang mengarah kepada kerusakan jaringan akibat sikat gigi elektrik belum dibuktikan.
Beberapa desain sikat gigi elektrik dilengkapi dengan indikator atau otomatis menutup-off jika
gerakan sikat gigi tersebut berlebihan terhadap permukaan gigi, dan beberapa desain sikat
gigi pengguna menggabungkan poros fleksibel untuk berkontribusi meningkatkan
keselamatan. Peningkatan Technologic Hal ini penting karena klien tidak dapat melihat secara
akurat tekanan yang digunakan. Terapis gigi dan mulut membuat rekomendasi cara
penggunaan sikat gigi berdasarkan hasil penilaian kondisi klien itu sendiri.

8. Metode Menyikat Gigi


Secara umum, Bass dan Stillman metode menyikat gigi berkonsentrasi pada bagian
serviks gigi dan jaringan gingiva yang berdekatan. Kedua metode dapat dimodifikasi untuk
menambahkan roll stroke (yaitu, dimodifikasi Bass dan dimodifikasi Stillman) dengan rolling
sikat gigi bulu sikat oklusal untuk membersihkan seluruh permukaan wajah dan lingual setelah
membersihkan area serviks. Metode Bass menekankan pembersihan sulcular, sehingga
metode menyikat gigi yang paling sering direkomendasikan (Gambar 8.4). Lebih dari 90%
orang menggunakan “metode personal menyikat gigi,” mereka sendiri biasanya teknik scrub.
Meskipun metode ini menghilangkan biofilm lisan dari permukaan gigi halus, dianggap kurang
efektif di daerah lain dan dapat menyebabkan lebih banyak luka pada jaringan lunak dan keras.
Penelitian belum menunjukkan salah satu metode untuk secara konsisten unggul. 6 klaim
spesifik tentang metode tertentu menghasilkan hasil yang lebih baik sekitarnya stimulasi
gingiva, mencegah resesi, atau pembersihan sulcular belum dibuktikan dalam literatur.

278 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Tabel 8.2
Metode Menyikat Gigi dan Indikasi Penggunaan

Metode Teknik indikasi

Bas Bulu sikat diarahkan apikal pada Sulcular


(Sulcular) sudut 45 derajat terhadap sumbu pembersihan
panjang gigi; kekuatan lembut pemeliharaan
diterapkan untuk memasukkan bulu periodontal
sikat dalam sulkus; menggunakan kesehatan
lembut tapi tegas stroke getaran periodontal
tanpa menghapus bulu sikat ujung Penyakit
dari sulkus. periodontal

Stillman Bulu sikat diarahkan apikal dan miring Resesi gingiva


mirip dengan metode Bass; bulu sikat progresif;
ditempatkan sebagian pada bagian stimulasi gingiva
serviks gigi dan sebagian di gingiva
yang berdekatan; pendek back-dan-
sebagainya stroke getaran bekerja,
dan kepala sikat dipindahkan oklusal
dengan tekanan ringan.

Charters Bulu sikat diarahkan mahkota gigi; Ortodontik


bulu sikat ditempatkan di margin membersihkan
gingiva dan miring 45 derajat Temporary situs
terhadap sumbu panjang gigi; pendek bedah Tetap
back-dan-sebagainya stroke getaran peralatan
digunakan untuk aktivasi. prostetik
(Distinguished dari Bass dan Stillman
metode dalam bahwa bulu sikat
diarahkan jauh dari gingiva ke arah
oklusal atau tepi insisal.)

gulungan Bulu sikat diarahkan apikal dan Digunakan


stroke yang berguling oklusal dalam gerakan bersama dengan
vertikal. Bass,

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 279


Metode Teknik indikasi

Stillman, dan
Piagam metode

Diubah Menambahkan roll stroke, jumbai Membersihkan


Bass, gulungan oklusal dalam gerakan seluruh
Stillman, vertikal setelah daerah leher rahim permukaan
dan dibersihkan dengan metode yang wajah dan
metode ditentukan. lingual
Charter

Fones Bulu sikat diaktifkan dalam gerakan Anak-anak


melingkar. dengan gigi
primer;
sebaliknya tidak
dianjurkan

Ilustrasi dari Newman MG, Takei HH, Klokkevold PR, et al: Periodontology klinis Carranza
ini, ed 11, St Louis, 2012, Saunders. Foto-foto dari Daniel SJ, Harfst SA, Wilder RS: kebersihan
gigi Mosby ini, ed 2, St Louis, 2008, Mosby.

280 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Sumber: B dan D, Dari Newman MG, Takei HH, Klokkevold PR, Carranza FA: Periodontology
Klinis Carranza ini, ed 11, St Louis, 2012, Saunders

Gambar 8.3
Bass Metode Menyikat Gigi
A, Posisi intrasulcular tepat sikat di mulut bertujuan bulu sikat menuju dan ke
dalam sulkus gingiva.
B, Diagram menunjukkan penempatan ideal dengan penetrasi subgingiva
sedikit tips bulu sikat.
C, Tempat sikat gigi sehingga bulu sikat yang miring sekitar 45 derajat dari
sumbu panjang gigi.
D, Mulai di gigi yang paling distal di lengkungan dan menggunakan bergetar,
gerakan back-dan-sebagainya untuk menyikat.

Pemilihan metode menyikat gigi harus tergantung pada kebutuhan klien, keterampilan,
dan pilihan. Terapis gigi dan mulut harus dapat mengevaluasi tingkat kebersihan mulut klien,
tingkat kesehatan atau penyakit, dan praktik menyikat gigi saat ini untuk memberikan anjuran
yang tepat. Tidak ada satu metode menyikat gigi yang dapat membersihkan antar-permukaan,
dan klien harus memahami bahwa beberapa sarana pembersihan interdental, dan
penggunaan obat kumur antimikroba, sesuai kebutuhan, secara signifikan dapat
meningkatkan kebersihan rongga mulut dan pengendalian penyakit.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 281


Sebagian besar sikat gigi manual dapat dipegang dengan jari atau telapak pegang dan
ditempatkan sebagai berikut:
a. Kepala sikat dipindahkan dari satu kelompok gigi (2-3 gigi) ke yang berikutnya dengan
tumpang tindih dengan kelompok sebelumnya selesai.
b. Pada permukaan wajah dan lingual gigi posterior kepala sikat gigi diposisikan sejajar
dengan lengkungan.
c. Pada gigi anterior kepala sikat gigi ditempatkan sejajar dengan lengkungan ketika
permukaan labial yang disikat; pada lingual permukaan sikat mungkin harus
ditempatkan sejajar dengan sumbu panjang gigi (atau vertikal).
d. Pada oklusal permukaan kepala sikat gigi ditekan kuat ke permukaan sehingga ujung-
ujung bulu sikat dapat mencapai ke dalam pit dan fisura sebanyak mungkin, dan back-
dan-sebagainya menyikat stroke digunakan. sikat ini bagian dikemukakan oleh bagian
sampai semua permukaan oklusal telah dibersihkan.

Teknik menyikat gigi dengan cara penempatan bulu sikat pada sudut yang tepat dengan
gigi terkadang sulit dilakukan. Menyikat gigi yang efektif tidak mudah bagi kebanyakan klien,
dan tantangan tambahan ini dapat membatasi efektivitas menyikat gigi dan motivasi klien.
Ketika memodifikasi teknik menyikat gigi klien, seorang Terapis gigi dan mulut harus
menunjukkan teknik baru misalkan dengan mencontohkan pada model rahang dan kemudian
mencontohkannya pada mulut klien. Demonstrasi awal ini tidak menggantikan kebutuhan
untuk memantau klien benar-benar melakukan teknik baru dan memberikan umpan balik
untuk memastikan bahwa keterampilan yang diperoleh, masalah diidentifikasi, dan kesalahan
yang diperbaiki dari waktu ke waktu.
Klien yang menggunakan sikat gigi elektrik tetap harus diberikan instruksi cara menyikat
gigi. Meskipun petunjuk atau cara menyikat gigi telah ada dalam kemasan sikat gigi ini. Pada
umumnya produsen memberikan panduan cara menyikat gigi yang tertera dalam kemasan
dengan mengarahkan agar klien memegang kepala sikat dengan pemahaman jari di tempat
selama beberapa detik pada setiap gigi atau sekelompok kecil gigi sebelum membimbing
kepala sikat perlahan ke gigi berikutnya atau kelompok gigi dan memungkinkan kuas untuk
melakukan pekerjaan . Bulu sikat suar sedikit sementara sikat diaktifkan untuk membersihkan
sulkus (Gambar 8.5). Klien harus menerapkan tekanan yang berlebihan yang cukup tapi tidak,
fokus pada margin gingiva, dan menjaga sikat gigi terlibat untuk jangka waktu yang cukup lama
sebelum pindah ke daerah berikutnya.

282 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Gambar 8.4
A, Trauma dari menyikat gigi kuat dengan pasta gigi abrasif. Catatan trauma
untuk gingiva dan permukaan akar abrasi dan resesi gingiva.
B, Gigi abrasi dikaitkan dengan menyikat gigi agresif jangka Panjang

Keterampilan cara individu menyikat gigi memerlukan penilaian berkelanjutan dan


modifikasi metode yang disarankan dan cara memilih sikat gigi dengan tepat. Seiring waktu
maka pemeliharaan, penguatan instruksi, pengamatan teknik klien, dan pemberian motivasi
adalah cara yang efektif untuk mencapai penghapusan biofilm rongga mulut.

B. LESI PADA JARINGAN LUNAK DAN KERAS

Sebagai bagian rekomendasi menyikat gigi ditujukan untuk menghasilkan kebersihan


gigi dengan menghindari terjadinya kerusakan jaringan lunak dan keras akibat dari menyikat
gigi. Meskipun klien mungkin dapat menghilangkan biofilm rongga mulut secara memadai,
namun klien mungkin juga dapat mengalami trauma dari teknik menyikat gigi atau memilih
sikat gigi yang kurang tepat. Adanya kerusakan dalam jaringan dapat dideteksi di mana saja,
di antaranya adalah sering terlihat pada permukaan gigi yang berdekatan dengan margin
gingiva.

1. Lesi Pada Jaringan Lunak


Cara menyikat gigi yang kuat dengan kombinasi dengan sikat gigi keras atau kaku sering
berkaitan dengan kejadian lecet gingiva dan resesi gusi. Namun, penyebab trauma gingiva
adalah multifaktorial, dengan teknik menyikat gigi memiliki pengaruh yang kurang tertentu.
Faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi abrasi termasuk sikat gigi kekakuan bulu sikat,

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 283


penyimpangan, atau fleksibilitas; menyikat gigi kekuatan atau durasi; dan abrasivitas pasta gigi
yang digunakan. Jika diamati, trauma dari sikat gigi trauma dapat berupa bentuk lecet gingiva
ditandai dengan adanya kemerahan, scuffing, atau lesi belang-belang. Seiring waktu, jika
pengaruh multifaktorial terus, adanya lecet ini dapat menyebabkan lesi jaringan lunak yang
lebih permanen termasuk resesi gingiva, celah, atau festooning (Gambar 23-6).

Gambar 8.5
A, Resesi gingiva.
B, Gingiva celah.
C, Gingiva festooning.

Meskipun lecet gingiva terlihat bukan temuan klinis secara umum, 80% sampai 100%
resesi gingiva dipengaruhi oleh usia menengah dan lanjut usia. Prevalensi dan keparahan
resesi berhubungan dengan bertambahnya usia, tetapi individu yang lebih muda juga dapat
memiliki tingkat agresif resesi. Resesi dapat terjadi karena beberapa alasan, termasuk
hubungannya dengan peningkatan risiko hipersensitivitas dentin, kehilangan dukungan gigi,
karies akar, dan rasa ketidakpuasan klien dari sisi estetika. Manfaat gabungan dari sikat gigi

284 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


lembut, pasta gigi kurang-abrasif, dan teknik menyikat gigi yang baik memiliki potensi untuk
memberikan dampak positif pencegahan lesi gingiva (lihat Bab 25 pada pasta gigi).
Penyebab resesi adalah multifaktorial. Faktor-faktor yang mempengaruhi meliputi:
a. faktor cara menyikat gigi yang berpotensi menyebabkan abrasi;
b. faktor anatomi (misalnya, malposisi gigi);
c. faktor patologis (misalnya, kehilangan perlekatan klinis dari penyakit periodontal).

2. Lesi Pada Jaringan Keras


Terjadinya lesi pada keras jaringan sering terjadi akibat cara menyikat gigi yang kurang
tepat. Gigi abrasi biasanya terjadi jauh dari permukaan gigi biasanya terletak di sekitar
persimpangan cementoenamel (CEJ) (lihat Gambar 8.5). Secara klinis, lecet gigi muncul pada
serviks sekitarn CEJ, meningkatkan hipersensitivitas dentin dan estetika mungkin
membutuhkan restorasi. Adanya cacat serviks terkait dengan cara menyikat gigi termasuk V-
terjepit (paling umum), U-bulat, dan kombinasi; cacat ini berubah bentuk dari waktu ke waktu.
Lecet gigi berbeda dari abfractions gigi, berbentuk mirip lesi serviks non-karies yang
disebabkan oleh adanya tekanan berlebihan yang mengakibatkan rusaknya struktur gigi
sekitar CEJ. Kesulitan dalam menentukan penyebab sebenarnya adanya lecet gigi dan
abfractions telah menyebabkan penggunaan lesi serviks jangka non-karies, yang
mencerminkan etiologi multifaktorial kondisi. Meskipun penelitian yang menunjukkan
hubungan antara memakai keras jaringan dan frekuensi menyikat lebih besar dan durasi, dan
penggunaan teknik scrubbing, menyikat gigi hanya memiliki pengaruh kecil pada pakaian
serviks. Bahkan, pasta gigi diperlukan untuk membuat abrasi yang signifikan. Menyikat gigi
dengan kekuatan dan kekerasan bulu sikat fleksibilitas adalah kontribusi faktor lain yang
mungkin berpengaruh.
Beberapa klien memiliki lesi serviks non-karies dari demineralisasi sebagai akibat dari
erosi kimia. Mungkin ada efek sinergis antara menyikat gigi dan jaringan keras yang
sebelumnya telah terkikis, sehingga lesi secara klinis terlihat akibat adanya erosi gigi.

C. PEMBERSIHAN LIDAH

Dorsum lidah adalah habitat bakteri. Upaya membersihkan lidah dapat mengurangi
jumlah organisme, sehingga mengendalikan malodor rongga mulut, penurunan kesempatan
bagi mikroorganisme untuk mentranslokasi, meningkatkan persepsi rasa klien, dan
memberikan kontribusi untuk kebersihan mulut secara keseluruhan.
Meskipun jenis pembersih lidah telah banyak dipasaran, pembersihan lidah dapat
dilakukan dengan menggunakan sikat gigi manual atau sikat gigi elektrik khusus. Klien dapat

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 285


memilih sebuah perangkat pembersih lidah yang lebih aman sehingga dapat mengurangi risiko
merangsang refleks muntah (lihat Gambar 8.6).

Sumber: Courtesy Procter & Gamble, profesional dan Hubungan Ilmiah, Cincinnati, Ohio

Gambar 8.6
Oral-B CrossAction Pro-Kesehatan dengan Pembersih Lidah pada Kepala Sikat

Jika sikat gigi akan digunakan untuk membersihan lidah, klien melakukan hal berikut:
1. Julurkan lidah kemudian kepala sikat gigi ditempatkan di lidah dengan posisi bulu sikat
sikat miring sedikit ke arah posterior, gerakan bulu sikat maju mundur dengan tekanan
ringan.
2. Lakukan secara berualng-ulang sampai lapisan permukaan lidah bebas dari kotoran.

Pada klien dengan kondisi yang tidak memungkinkan maka disarankan untuk tidak
menggosok lidah dengan sikat gigi atau pembersih lidah karena trauma jaringan dapat terjadi.
Alternative penggunaan obat kumur antibakteri dapat membersihkan lidah lebih lanjut.

D. KONTAMINASI YANG DAPAT TIMBUL DARI SIKAT GIGI

Sikat gigi dapat menularan mikroorganisme pathogen secara tidak langsung. Sikat gigi
dapat bertindak sebagai fomite, benda mati yang dapat mengirimkan agen berpotensi
menular. Sebuah tinjauan studi sistematis menjelaskan bahwa kontaminasi bakteri yang
berpotensi patogen dari plak gigi dapat terjadi akibat dari sikat gigi dan mulut orang dewasa
yang sakit, model sikat gigi, lingkungan, atau kombinasi dari beberapa faktor. 7 Titik penting

286 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


untuk dipertimbangkan dalam kaitannya dengan perawatan klien adalah bagaimana
mengurangi kontaminasi sikat gigi.
Desain sikat gigi yang padat telah terbukti kurang kondusif untuk mempertahankan
kolonisasi mikroorganisme dari desain berongga. Adanya topi atau wadah sikat gigi dan
pemegang atau penutup plastik lebih mendorong pengeringan udara menjadi sulit dan lama
diperoleh sehingga mendorong pertumbuhan mikroba.
Beberapa intervensi, seperti chlorhexidine glukonat 0,12% atau antiseptik, pasta gigi,
dan pembersih ultrasonik, telah terbukti mengurangi kontaminasi sikat gigi. Studi yang
diperlukan untuk memeriksa secara khusus kontaminasi dalam kaitannya dengan penularan
penyakit pada populasi rentan (misalnya, orang dewasa yang sakit kritis, individu
immunocompromised).

E. PROSES PERAWATAN DAN MENYIKAT GIGI OLEH TERAPIS GIGI DAN


MULUT

Karena instruksi kebersihan mulut merupakan bagian dari tahap pelaksanaan


perawatan, seorang terapis gigi dan mulut melengkapi informasi klien termasuk perilaku
perawatan diri saat ini, jenis sikat gigi yang digunakan, frekuensi dan durasi menyikat gigi,
praktik penggantian sikat gigi, tingkat kepuasan dengan alat dan teknik, dan nilai-nilai dan
preferensi pribadi. Sebagai bagian dari instruksi kebersihan mulut, klien harus diminta untuk
menunjukkan metode menyikat gigi digunakan sehingga seorang Terapis gigi dan mulut dapat
mengamati cara yang biasa klien pakai serta keterampilannya dalam menyikat gigi.
Terapis gigi dan mulut dapat menghubungkan informasi tentang perawatan diri dari
klien dengan pengamatan klinis dan hasil radiografi untuk dapat mengidentifikasi apa saja
kebutuhan dasar manusia yang belum terpenuhi berkaitan dengan kesehatan mulut (diagnosa
kesehatan gigi). Informasi yang dikumpulkan mencakup tanda-tanda, dan gejala. Melalui
proses ini kebersihan gigi dan klien dalam pengambilan keputusan bersama, dapat
dirumuskan untuk tegaknya rencana perawatan yang mencakup rekomendasi perawatan diri
(Tabel 8.3; Lihat Bab 22). Biofilm rongga mulut dapat hadir karena klien belum mampu
menyikat selama beberapa jam; sebaliknya, tidak adanya biofilm mungkin terjadi karena hasil
dari menyikat gigi secara menyeluruh yang dilakukan segera sebelum pemeriksaan.
Pemeriksaan kondisi jaringan lunak dan keras untuk mengumpulkan tanda-tanda penyakit
mulut merupakan hal yang penting dilakukan agar diperoleh informasi yang lebih valid tentang
perawatan diri pada klien.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 287


Tabel 8.3
Model Pengambilan Keputusan Bersama

Transfer pengetahuan Arah: dua-arah

kebersihan gigi ke klien: Pengetahuan teknis

Klien untuk kebersihan gigi: preferensi klien, keyakinan, nilai-


nilai, dan praktek saat ini

Musyawarah dan Arah: Bilateral


pengambilan keputusan
Antara kebersihan gigi dan klien

Mungkin mungkin termasuk penyedia lain kesehatan,


pengasuh, dan anggota keluarga

Pada kasus dimana klien kurang memperhatikan kebersihan mulut misalkan dengan
cara menghindari menyikat gigi karena adanya ketidaknyamanan akibat adanya masalah
kesehatan gigi yang dialami, misalkan klien yang menderita gingivitis ulseratif nekrosis, cedera
jaringan lunak akut, penyembuhan situs bedah, atau peralatan gigi baru, maka menyikat gigi
secara khusus dengan menggunakan larutan obat kumur yang mengandung chlorhexidine
glukonat bebas alkohol 0,12% dapat dilakukan.
Klien perlu mendapatkan penguatan positif agar perilaku pemeliharaan kesehatan gigi
dan mulut tetap dijaga selama proses perawatan. Terlepas dari situasi klien, instruksi, praktik,
dan penguatan ditunjukkan pada semua tahapan perencanaan. Terapis gigi dan mulut
senantiasa memberikan pemahaman kepada klien untuk tetap dapat berupaya mengontrol
plak agat tidak terbentuk.

F. TIPS MEMBERIKAN PEMAHAMAN KEPADA KLIEN

1. Berkomunikasi dengan cara menyesuikan keadaan klien berdasarkan usia, bahasa,


budaya, kesiapan, dan gaya belajar klien (pengasuh).
2. Dari hasil pemeriksaan kesehatan rongga mulut pada klien, diskusikanlah pemilihan sikat
gigi dan metode menyikat gigi yang disesuaikan dengan kebutuhan klien.
3. Informasikan tentang cara melakukan pembersihan interdental dan, jika diperlukan,
penggunaan pasta gigi antimikroba atau obat kumur Bersama-sama dengan menyikat
gigi.

288 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


4. Jelaskan manfaat membersihkan lidah, hubungan antara menyikat gigi dengan
kehadiran biofilm rongga mulut, karang gigi dan juga tentang penyakit gingival.
5. Diskusikan tentang resesi gusi, lesi serviks dan jelaskan bagaimana hal tersebut dapat
dialami oleh klien.
6. Gunakan pengambilan keputusan bersama ketika memberikan pemahaman kepada
klien tentang menyikat gigi; menggabungkan kemampuan klien, nilai-nilai, dan
preferensi.

G. HUKUM, ETIKA, DAN ISU-ISU PENTING

1. Dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang dimiliki, maka tanggung jawab dan
etika seorang Terapis gigi dan mulut secara profesional harus mampu meningkatkan
kesadaran masyarakat dan meningkatkan pemahaman praktek pemeliharaan kesehatan
mulut klien.
2. Seorang Terapis Gigi dan Mulut memiliki kewajiban etis untuk meninjau literatur ilmiah
yang berkaitan dengan intervensi pencegahan dan menerapkan pengetahuan untuk
perawatan klien.
3. Tindakan perawatan kesehatan gigi membutuhkan alokasi waktu untuk instruksi
perawatan diri, pengulangan, penguatan, dan penilaian terus-menerus praktik
kesehatan mulut pada setiap klien.
4. Prinsip etika otonomi harus dimiliki oleh seorang Terapis Gigi dan Mulut dengan cara
mendengarkan dan menyimak pendapat klien dalam upaya pengambilan keputusan
klien dan untuk menghormati hak klien untuk membuat keputusan.
5. Standar hukum perawatan mengharuskan Seorang Terapis Gigi dan Mulut dapat
mendidik klien tentang pelihara diri berdasarkan usia, bahasa, budaya, dan gaya belajar
klien.
6. Rencana perawatan harus disusun berdasarkan hasil pemeriksaan ronnga muliut klien
secara keseluruhan.
7. Pada saat penyelesaian perawatan seluruh dokumen yang mencakup data kesehatan
gigi klien harus tersusun dan terjaga dengan baik untuk menyusun rencana tindakan
selanjutnya.
8. Konfirmasi pemahaman klien juga didokumentasikan klien kebersihan gigi harus secara
legal dan etis informasi tentang hubungan antara status kesehatan mulut mereka dan
risiko penyakit.

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 289


H. BEBERAPA HAL YANG PERLU DIPERHATIAN

1. Sikat gigi manual merupakan alat paling umum yang digunakan untuk menghilangkan
plak di permukaan gigi.
2. Sikat gigi harus memiliki ukuran kepala cukup kecil untuk beradaptasi dengan semua
permukaan gigi dan rongga mulut, memiliki pegangan yang nyaman yang dapat
digunakan oleh klien.
3. Kerusakan jaringan lunak dan keras dalam rongga mulut memiliki etiologi multifaktorial;
meskipun pemilihan sikat gigi dan menyikat gigi dapat berkontribusi sebagai efek
negatif, penggunaan pasta gigi dan faktor-faktor lain yang mungkin lebih berpengaruh.
4. Penggunaan sikat gigi manual dan sikat gigi elektrik memiliki manfaat yang lebih besar
dalam membersihkan permukaan gigi dari plak.
5. Pengganti sikat gigi harus didasarkan pada kondisi klien.
6. Sikat gigi elektrik didesain untuk memiliki kekuatan menyikat gigi berosilasi-rotating
telah terbukti lebih efektif daripada sikat gigi manual dalam mengurangi plak dan radang
gusi.
7. Instruksi menyikat gigi yang komprehensif meliputi pemilihan sikat gigi dan penggantian,
metode menyikat gigi, evaluasi efektivitas menyikat gigi, dan lidah menyikat.
8. Evaluasi efektivitas menyikat gigi meliputi pengamatan menyikat gigi klien,
mengungkapkan agen digunakan untuk memvisualisasikan dan mengukur plak, dan
evaluasi gingiva untuk tanda-tanda peradangan; langkah-langkah perbaikan yang
dilakukan sesuai kebutuhan.
9. Membersihkan bagian Interdental, lidah ketika menyikat gigi, dan, jika diperlukan,
penggunaan agen antimikroba harus direncanakan bersama dengan instruksi menyikat
gigi.
10. Seorang Terapis Gigi dan Mulut harus menyadari penelitian tentang menyikat gigi
muncul dan dapat menginterpretasikan hasil studi kritis.

Latihan Berpikir Kritis

Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!

Studi kasus: Ibu Truman, seorang pensiunan guru 65 tahun, sedang dirawat oleh terapis gigi
dan mulut. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kebersihan mulut klien pada kriteria
buruk, mengalami inflamasi gingiva, dan perdarahan saat probing. Pada awal pemeriksaan Ibu

290 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


Truman mengatakan, “Akhir-akhir ini arthritis saya kambuh dan sangat mengganggu tangan
saya, saya merasa sulit untuk menyikat gigi.”
Konseling bagi Ibu Truman mengenai perawatan gigi di rumahnya dengan pertimbangan usia,
bahasa, tingkat pendidikan, budaya, gaya belajar, dan kesiapan untuk mengadopsi perilaku
baru.
Apa jenis sikat gigi dan metode menyikat gigi harus direkomendasikan untuk Ibu Truman dan
mengapa?

Role play : Bekerja berpasangan, satu siswa mengasumsikan peran Terapis gigi dan mulut dan
tindakan mahasiswa lain sebagai klien. Wawancara kebersihan gigi klien tentang perangkat
saat homecare, perilaku, dan teknik dan menyediakan pendidikan klien-spesifik dan umpan
balik berdasarkan bukti. Mahasiswa dapat menggunakan model gigi mereka untuk tujuan
demonstrasi; atau jika dalam pengaturan klinis, menunjukkan teknik intraoral. Lakukan secara
bergantian.

Studi kasus: Tommy Dee, seorang pegolf profesional 35 tahun, adalah klien baru di kantor
Anda. Data riwayat kesehatannya tidak ada temuan yang signifikan. Temuan pemeriksaan
mulut ditemukan adanya resesi gingiva luas, terutama pada permukaan labial, minimal
inflamasi gingiva pada lingual dari anteriors mandibula dan bukal dari molar rahang atas yang
berdekatan dengan adanya kalkulus, dan biofilm rongga mulut minimal. Tidak ada lesi karies
yang hadir pada gigi taringnya, premolar dan molar. oklusinya normal, tapi ia melaporkan
bruxism saat tidur. Pola pemeliharaan kesehatan gigi sehari-hari termasuk menyikat gigi
dengan sikat manual dan fluoride tiga kali, flossing satu sampai dua kali, dan penggunaan obat
kumur fluoride. Anda mengamati teknik menyikat gigi Tommy dan melihat ia menggunakan
tenaga dengan tekanan cukup kuat
1) Apa yang harus Anda jelaskan kepada Tommy, dan bagaimana Anda menghubungkan
hasil pemeriksaan rongga mulutnya dengan kebiasaan Tommy ketika menyikat giginya?
2) Apa yang akan Anda tunjukan dan rekomendasikan kepada Tommy untuk meningkatkan
kebersihan mulut sehari-hari?

◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 291


Daftar Pustaka
Darby, M, Walsh, M. (2015). Dental Hygiene: Theory and Practice, 4th Edition. Elsevier
Saunders, US, St. Louis, Missouri.

Wilkins, E. (2017). Clinical Practice of Dental Hygiene, 12th Edition. Wolters Kluwer, US,
Philadelphia.

Darby, M. (2012). Mosby’s Comprehensive Review of Dental Hygiene, 7th Edition. Elsevier
Mosby, US, St. Louis, Missouri.

Noble, S. (2012). Clinical Textbook of Dental Hygiene and Therapy, 2nd Edition. Wiley-
Blackwell, UK, West Sussex.

Thomson, Evelyn M. (2013). Case Study in Dental Hygiene, 3rd Edition. Pearson Education, US,
New Jersy.

Logothetis, Demetra D. (2012). Local Anesthesia for The Dental Hygienist. Elsevier Mosby, US,
St. Louis, Missouri.

Prajer, R, Grosos, G. (2011). Dental Hygienist's Chairside Pocket Guide. F.A. Davis Company,
US, Philadelphia.

292 Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut ◼


◼ Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut 293

Anda mungkin juga menyukai