Modul Prevdent
Modul Prevdent
PENCEGAHAN
PENYAKIT GIGI
DAN MULUT
DALAM ASUHAN
KESEHATAN
GIGI DAN
MULUT
MU
Hak Cipta © dan Hak Penerbitan dilindungi Undang-undang
Halaman
Evidence Based 15
Kompetensi 15
Evidence based dentistry (EBD) 15
Mengapa EBD harus berdasarkan bukti empiric 15
Apa yang harus dilakukan jika tidak ada bukti 15
Evidence based medicine (EBM) 18
Evidence based case report (EBCR) 20
Evidence based decision making (EBDM) 22
Prinsip pengambilan keputusan berbasis bukti 22
Sumber bukti dan tingkat bukti 23
Level of Prevention 27
Kompetensi 27
Lima tahap pencegahan menurut Leavel dan Clark 27
Hal-hal yang berhubungan dengan pencegahan penyakit 29
Kunci Konsep 31
Latihan Soal 31
Kunci Jawaban 32
Referensi 33
Materia Alba 39
Kompetensi 39
Pengertian materia alba 39
Akibat dari materia alba 39
Kunci Konsep 40
Latihan Soal 40
Kunci Jawaban 41
Food Debris 42
Kompetensi 42
Apa itu food debris 42
Bagaimana pembersihan food debris dari rongga mulut 42
Biofilm 45
Kompetensi 45
Definisi biofilm 46
Struktur dan kompisisi biofilm 46
Siklus kehidupan biofilm 47
Faktor perlekatan mikroba 48
Pengaruh biofilm terhadap kehidupan manusia 49
Strategi mengontrol biofilm untuk kesehatan masyarakat 51
Kunci Konsep 52
Latihan Soal 52
Kunci Jawaban 53
Plak 54
Kompetensi 54
Pengertian plak 54
Mekanisme pembentukan plak 55
Faktor-faktor yang memengaruhi pembentukan plak 56
Struktur dan komposisi plak 57
Penyakit yang ditimbulkan oleh pak 60
Latihan Soal 60
Kunci Jawaban 62
Aplikasi Fluor bagi Klien Beresiko Karies (kumur-kumur, gel dan pasta) 165
Aplikasi fluor harian dengan cara berkumur 165
Aplikasi flior mingguan dengan cara berkumur 165
Kumur larutan fluor di sekolah dasar 166
Gel dan pasta fluor harian tanpa resep dan resep 167
Aplikasi fluor oleh professional (gel, foam, kumur dan dioleskan) 169
Aplikasi fluor secara professional professional, produk, evolusi dan Jenis 172
Tehnik menggunakan cetakan secara professional
(penentuan klien dan produk) 175
Aplikasi fluor oleh tenaga kesehatan gigi, Fitur dan Keuntungan 176
Pericoronitis 254
Tand dan gejala 255
Tanda dan gejala akut pericoronitis 255
Pengobatan 256
BAB 7 Kondisi Periodontal pada Gingivitis, Lesi Asal Endodontik dan Gigi Avulsi
Gambar 1-7 Abses Gingiva antara Gigi Seri Lateral 232
Gambar 2-7 Abses Periodontal yang Berhubungan dengan Rahang
Bawah Kanan Molar Pertama 233
Gambar 3-7 Abses Periodontal Akut antara Gigi 233
Gambar 4-7 Abses Periodontal Kronis 234
Gambar 5-7 Tekanan Digital Lembut 236
Gambar 6-7 Pengobatan Abses Periodontal Akut 238
Gambar 7-7 Abses Periodontal Kronis 239
Gambar 8-7 Bedah Pengobatan Abses Periodontal Kronis 240
Gambar 9-7 Abses Gingiva 242
Gambar 10-7 Lesi Asal Endodontik 244
Gambar 11-7 Dikombinasikan Abses Periapikal dan Abses Periodontal 247
Gambar 12-7 Gingivostomatitis Herpetik Primer 249
Gambar 13-7 Infeksi Herpes Primer 250
Gambar 14-7 Herpes Whittlow 251
Gambar 15-7 Infeksi Herpes Berulang pada Bibir 252
Gambar 16-7 Infeksi Herpes Berulang Kornea 253
Gambar 17-7 Infeksi Herpes Berulang Langit-langit Mulut 254
Gambar 18-7 Pericoronitis 255
Gambar 19-7 Necrotizing Periodontitis Ulseratif 258
Pendahuluan
Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu menjelaskan pengertian Ilmu pencegahan kedokteran gigi.
2. Mampu menjelaskan pengertian pencegahan penyakit dalam kesehatan gigi dan mulut.
3. Mampu menjelaskan cara untuk mengurangi dan mencegah penyakit gigi dan mulut
dengan berbagai pendekatan.
4. Mampu menjelaskan tujuan ilmu pencegahan kedokteran gigi.
5. Mampu menjelaskan efek adanya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan gigi dan
mulut.
Houwink, dkk (1993) mengatakan bahwa dengan masuknya pengertian ilmu kesehatan,
aksen lebih kuat lagi ditekankan pada menjaga manusia tetap sehat. Secara singkat orang
mengatakan bahwa tujuannya adalah supaya manusia sampai akhir hayatnya tetap
mempunyai semua elemen gigi yang utuh dan alami. Ilmu kedokteran gigi pencegahan bukan
sesuatu yang baru. Sejak dalam suatu tulisan Cina 2800 tahun sebelum Masehi ditemukan
suatu catatan yang bahkan menggambarkan ilmu kedokteran gigi pencegahan dewasa ini. Ini
([Link])
Gambar 1.1
Gigi Sehat
Gigi merupakan salah satu organ tubuh manusia yang berfungsi sebagai alat
pencernaan, pembantu dalam pengucapan kata, pembentukan wajah yang salah satu
penunjang dalam kecantikan.
Manusia dapat kehilangan giginya akibat dari kerusakan dari pada gigi itu sendiri atau
kerusakan pada jaringan penyangganya sehingga gigi terlepas dari jaringan yang
menyangganya. Sedangkan kerusakan pada gigi dapat berupa keropos/karies atau (karena
trauma, misalnya benturan keras, jatuh).
Pada zaman dahulu orang beranggapan bahwa keropos itu disebabkan oleh adanya ulat
yang memakan gigi. Dengan perkembangan zaman kita mengetahui penyebab dari kerusakan,
jaringan penyangga sehingga diperlukan usaha-usaha/tindakan khusus untuk mencegahnya.
Untuk menunjang hal ini tentunya kita harus menguasai ilmu-ilmu yang lain seperti
Anatomi dan DHE. Dengan mengetahui macam-macam kerusakan gigi melaksanakan cara-
cara pencegahannya dalam kehidupan sehari-hari.
Secara umum, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan gigi dan mulut
akan menurunkan angka penyakit gigi dan mulut.
E. KUNCI KONSEP
1. Dengan masuknya pengertian ilmu kesehatan, aksen lebih kuat lagi ditekankan pada
menjaga manusia tetap sehat.
2. Ilmu pencegahan kedokteran bertujuan untuk mencegah terjadinya penyakit atau
mencegah keparahannya dan membatasi akibatnya dalam rangka melindungi kesehatan
mulut, yang dititikberatkan untuk menjaga manusia tetap sehat.
3. Mencegah kelainan-kelainan atau mencegah keparahannya melindungi kesehatan
mulut dan dengan demikian kesehatan manusia dan kalau perlu meningkatkan
kesehatannya.
Latihan Soal
Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!
Sisa makanan yang berada di dalam mulut dapat menyebabkan berbagai macam
penyakit gigi dan mulut. Oleh sebab itu seseorang dianjurkan menggosok gigi minimal 2 kali
sehari, setelah sarapan dan sebelum tidur. (Untuk soal nomor 1)
1) Pernyataan di atas merupakan salah satu contoh dari pengertian ....
A. Ilmu kesehatan bidang kedokteran gigi
B. ilmu penyakit gigi dan mulut
C. Ilmu pencegahan kedokteran gigi
D. Ilmu kebutuhan dasar manusia
E. ilmu pengawetan gigi
5) Secara umum, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan gigi dan mulut
akan ....
A. menurunkan angka peduli karies gigi
B. menaikkan angka peduli karies gigi
C. menurunkan angka kunjungan poli umum
D. menaikkan angka kunjungan poli gigi
E. menurunkan angka penyakit gigi dan mulut
1) C
2) A
3) C
4) B
5) E
Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu menjelaskan pembagian Ilmu pencegahan penyakit gigi dan mulut.
2. Mampu mendefinisikan pencegahan yang dilakukan pada pasien yang sehat.
3. Mampu menyebutkan contoh intervensi yang dilakukan pada pasien yang telah
mengalami suatu penyakit gigi dan mulut.
4. Mampu menyebutkan contoh intervensi yang dilakukan untuk membatasi suatu
kerusakan yang disebabkan oleh penyakit gigi dan mulut adalah.
5. Mampu menyebutkan beberapa hal yang harus dihindari untuk mencegah kelainan
ortodontik yaitu.
Pencegahan penyakit gigi dan mulut pada tahap awal dapat dilakukan oleh diri sendiri,
tetapi apabila penyakit tersebut terjadi lebih serius maka pertolongan tenaga profesional
dalam hal ini tenaga kesehatan gigi sangat diperlukan untuk mencegah keparahan yang lebih
buruk lagi.
Ilmu pencegahan penyakit gigi dan mulut dibagi atas 3 macam pencegahan, yaitu:
1. Pencegahan Primer
Pencegahan primer adalah mencegah seseorang terkena penyakit, misalnya seperti
imunisasi, dan mencegah timbulnya penyakit misalnya di bidang kedokteran gigi yang dapat
berupa anjuran diet dan kontrol plak. Pencegahan primer bertujuan memelihara kesehatan
individu dan populasi di masyarakat dan meminimalisasi risiko terjadinya suatu penyakit atau
kecelakaan.
Pada tahap ini diimplementasikan program-program, prosedur, maupun pengukuran-
pengukuran untuk mencegah penyakit, sebelum penyakit tersebut belum benar-benar terjadi.
Misalnya program yang didesain untuk mencegah seseorang mulai merokok (pencegahan
primer) atau untuk membantu menghentikan kebiasaan merokok jika mereka sudah
melakukannya (pencegahan sekunder) dapat membantu mencegah kanker rongga mulut dan
penyakit periodontal dan juga dapat merupakan strategi promosi kesehatan umum yang
efektif. Selain hal itu, kontrol plak dan pengaturan diet adalah metode pencegahan primer
yang efektif untuk mencegah karies maupun penyakit periodontal. Metode pencegahan
primer lainnya adalah tindakan penutupan ceruk dan fisura (fissure sealant), fluoridasi air
minum dan pemeriksaan gigi rutin, serta diagnostik radiografi.
Gambar 1.2
Fissure Sealant
Menurut Putri, dkk (2008) pencegahan primer adalah pencegahan penyakit dan dengan
demikian terjadi apabila kliennya sehat. Ini dapat diarahkan pada masyarakat, kelompok dan
individu. Pencegahan primer diarahkan kepada:
a. Pencegahan primer untuk kelompok kecil atau besar kebanyakan merupakan
penyuluhan, meskipun dapat juga diambil pengaturan lain yaitu contohnya flouridasi air
minum dan aplikasi fluoride secara individual.
Penyuluhan ada 2:
1) Penyuluhan umum mempunyai judul-judul umum contohnya: makanan,
kesehatan.
2) Penyuluhan terarah mempunyai judul khusus.
contohnya:
• Perlunya menghilangkan karang gigi.
• Pembatasan makan makanan kecil.
(Sumber: [Link]
Gambar 1.3
Tambalan Komposit
(Sumber: [Link])
Gambar 1.4
Protesa/Gigi Palsu
Pada proses karies, pencegahan tersier bertujuan bukan hanya untuk merestorasi gigi
yang karies tapi harus juga meliputi pencegahan primer dan sekunder selanjutnya agar dapat
mencegah serangan karies berikutnya. Hal ini berarti bahwa selain menambal gigi, penyebab
karies harus juga digarisbawahi sebagai bagian dari program pengelolaan karies secara klinis
yang efektif. Jika menyangkut penyakit periodontal, periodontitis dapat ditangani dengan
bermacam-macam intervensi dan prosedur bedah atau dengan pemberian bahan
antimikroba, baik secara lokal maupun sistemik, tapi sekali lagi etiologinya harus diidentifikasi.
Kadang-kadang masih dibicarakan tentang pencegahan tersier yang diartikan
pembatasan kerusakan kesehatan dan rehabilitasinya.
a. Contoh pembatasan kerusakan kesehatan adalah:
1) pemakaian semen dasar pada restorasi elemen yang terserang karies;
2) extraksi gigi patah.
Dalam kedokteran gigi jelas ada hubungan yang sangat erat antara pencegahan
sekunder terutama tersier dan meliputi dengan kedokteran gigi kuratif atau restorative. Peran
prevensi di dalam kedokteran gigi kuratif dan restorative adalah memasukkan cara berpikir,
perilaku dan filosofi dasar.
Dengan kata lain pencegahan primer sebagai “pengaturan yang dilakukan sendiri oleh
pasien/klien”. Sedangkan pencegahan sekunder “pengaturan yang ditangani oleh pemberi
pertolongan profesional atau pemerintah”
Tabel 1-1
Pencegahan Primer, Sekunder dan Tersier yang Diaplikasikan untuk Intervensi Kesehatan
Gigi dan Mulut Maupun Kesehatan Umum
D. KUNCI KONSEP
1. Ruang lingkup ilmu kedokteran gigi pencegahan terdiri dari pencegahan primer yaitu
dilakukan pada pasien yang belum terkena penyakit.
2. Pencegahan sekunder yaitu dilakukan pada saat penyakit sudah terjadi yang bertujuan
untuk mengurangi keparahannya, dan pencegahan tersier yaitu membatasi
berkembangnya penyakit setelah suatu penyakit menyebabkan terjadinya keterbatasan
fungsi.
Latihan Soal
Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!
Pencegahan penyakit gigi dan mulut pada tahap awal dapat dilakukan oleh diri sendiri,
tetapi apabila penyakit tersebut terjadi lebih serius maka pertolongan tenaga profesional
dalam hal ini tenaga kesehatan gigi sangat diperlukan untuk mencegah keparahan yang lebih
buruk lagi. (Untuk soal nomor 1 dan 2)
2) Apa tindakan yang dapat dilakukan tenaga kesehatan gigi sesuai dengan pernyataan di
atas?
A. menyebut gigi susu yang sudah berlubang
B. membiasakan mengunyah menggunakan kedua sisi
C. membersihkan karang gigi setiap 6 bulan sekali
D. melakukan penambalan pada gigi yang terasa ngilu saat minum dan makan yang
dingin
E. memasang protesa pada gigi yang sudah terlanjur dicabut
Seorang ibu berusia 54 tahun bersama anak perempuannya yang berusia 22 tahun
memeriksakan kesehatan giginya di Puskesmas Mawar Indah. Setelah dilakukan
pemeriksaan dokter gigi mengatakan jika ibu tersebut mengalami radang gusi yang
cukup berat yang mengakibatkan gigi depan kanan bawahnya mengalami kegoyangan,
sedangkan untuk gigi anaknya tidak ada masalah serius hanya saja permukaan gigi
dipenuhi oleh plak. (Untuk soal nomor 3 sampai 5)
3) Jika dokter gigi akan melakukan scalling pada ibu tersebut, maka tindakan yang
dilakukan masuk dalam tahap?
A. Pencegahan primer
B. Pencegahan sekunder
C. Pencegahan tersier
D. Pencegahan rehabilitatif
E. Pencegahan promotif
4) Jika pada gigi yang goyang dilakukan pencabutan, maka tindakan yang dapat dilakukan
untuk mengatasi kerusakan yang telah terjadi disebut tahap?
A. Pencegahan primer
B. Pencegahan sekunder
C. Pencegahan tersier
5) Tindakan yang paling sesuai untuk anak perempuan tersebut adalah ....
A. Scalling
B. Anjuran diet
C. Sikat gigi masal
D. Skrinning kanker mulut
E. Konseling kontrol plak
1) A
2) D
3) B
4) C
5) E
Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu menjelaskan cara Evidence based dentistry (EBD) merupakan suatu pendekatan
terhadap pelayanan kesehatan gigi dan mulut.
2. Mampu menjelaskan integrasi evidence based dentistry (EBD).
3. Mampu menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan evidence based dentistry (EBD).
4. Mampu menjelaskan Evidence-based Medicine (EBM).
5. Mampu menjelaskan bentuk aplikasi metode atau desain pelaporan kasus evidence
based case report (EBCR).
Samoraj, dkk (2015) dalam jurnalnya mengatakan bahwa evidence based dentistry (EBD)
merupakan suatu pendekatan terhadap pelayanan kesehatan gigi dan mulut dengan cara
melakukan asesmen sistemik terhadap bukti yang berhubungan dengan kondisi oral dan
medik pasien serta riwayat penyakitnya untuk memperbaiki perawatan pasien. Bukti yang
dimaksud di sini adalah bukti empirik, yaitu suatu sumber pengetahuan yang diperoleh dari
observasi atau penelitian.
Mengapa EBD harus berdasarkan bukti empirik?
1. Dentistry butuh hasil penelitian, baik penelitian kuantitatif maupun penelitian kualitatif
untuk menginformasikan hasil tersebut secara praktis.
2. Seorang dentistry lebih baik “memperluas” daripada ”mempersempit” hasil penelitian
untuk berargumen tentang program pencegahannya.
Gambar 1.5
Evidence Based Dentistry
a. Bukti penelitian
Bukti penelitian merupakan penelitian klinis yang mempunyai validasi tinggi,
akurat, persisi sempit (tak punya batas bias yang besar/standar deviasi), aman,
baik aspek diagnostik, terapi dan prognosis.
b. Keahlian klinik
Keahlian klinik meliputi kemampuan menggunakan keterampilan dan pengalaman
secara cepat dan tepat untuk mengidentifikasi, mendiagnosis keadaan dan risiko
pasien serta harapan pasien.
c. Nilai pasien
Nilai pasien merupakan kesatuan dari kecenderungan perhatian dan pengharapan
setiap pasien pada suatu keadaan klinik tertentu.
Pendapat lain adalah menurut Geddes (2000) yang menyatakan bahwa EBM adalah
strategi yang dibuat berdasarkan pengembangan teknologi informasi dan epidemiologi klinik
dan ditujukan untuk dapat menjaga dan mempertahankan ketrampilan pelayanan medik
dokter dengan basis bukti medis yang terbaik.
Dengan demikian, EBM dapat diartikan sebagai pemanfaatan bukti ilmiah secara
seksama, ekplisit dan bijaksana dalam pengambilan keputusan untuk tatalaksana pasien.
Artinya mengintegrasikan kemampuan klinis individu dengan bukti ilmiah yang terbaik yang
diperoleh dengan penelusuran informasi secara sistematis.
Bukti ilmiah itu tidak dapat menetapkan kesimpulan sendiri, melainkan membantu
menunjang penatalaksanaan pasien. Integrasi penuh dari ketiga komponen ini dalam proses
pengambilan keputusan akan meningkatkan probabilitas untuk mendapatkan hasil pelayanan
yang optimal dan kualitas hidup yang lebih baik.
Praktik EBM itu sendiri banyak juga dicetuskan oleh adanya pertanyaan pasien tentang
efek pengobatan, kegunaan pemeriksaan penunjang, prognosis penyakitnya, atau penyebab
kelainan yang dideritanya.
EBM membutuhkan ketrampilan khusus, termasuk di dalamnya kemampuan untuk
melakukan penelusuran literatur secara efisien dan melakukan telaah kritis terhadap literatur
tersebut menurut aturan-aturan yang telah ditentukan.
Langkah dalam proses EBM adalah sebagai berikut:
1. Diawali dengan identifikasi masalah dari pasien atau yang timbul selama proses
tatalaksana penyakit pasien.
2. Dilanjutkan dengan membuat formulasi pertanyaan dari masalah klinis tersebut.
3. Pilihlah sumber yang tepat untuk mencari jawaban yang benar bagi pertanyaan tersebut
dari literatur ilmiah.
4. Lakukan telaah kritis terhadap literatur yang didapatkan untuk menilai validitas
(mendekati kebenaran), pentingnya hasil penelitian itu serta kemungkinan
penerapannya pada pasien.
Kemampuan menelaah secara kritis terhadap suatu artikel dengan tata cara tertentu
sudah dikenal sejak lama, namun EBM memperkenalkan tata cara telaah kritis menggunakan
lembar kerja yang spesifik untuk tiap jenis penelitian (diagnostik, terapi, prognosis, meta
analisis, pedoman pelayanan medik dll). Tiga hal penting merupakan patokan telaah kritis,
yaitu:
1. Validitas penelitian, yang dapat dinilai dari metodologi/bahan dan cara.
2. Pentingnya hasil penelitian yang dapat dilihat dari bagian hasil penelitian, serta
3. Aplikabilitas hasil penelitian tersebut pada lingkungan kita, yang dapat dinilai dari bagian
diskusi artikel tersebut.
Praktik EBM adalah suatu proses yang panjang dan berkelanjutan, melakukan
pembelajaran/analisis berdasarkan masalah yang timbul dari pasien dan karenanya bisa
menemukan informasi yang penting dalam aspek diagnosis, terapi, prognosis atau aspek
lainnya dari pelayanan kesehatan, antara lain pedoman pengobatan dan sebagainya. Melalui
proses ini diharapkan juga dokter akan memfokuskan topik bacaannya pada masalah yang
terkait dengan masalah pasien. Latihan membuat pertanyaan klinis yang baik, dan membuat
strategi untuk mencari jawabannya dalam arsip data dimanapun didunia ini akan lebih
produktif dan tetap terkait dengan masalah klinis dari pada sekedar membaca artikel2 dalam
suatu jurnal yang dipilih.
Sebagian ahli beranggapan bahwa EBM merubah kebiasaan para dokter untuk menilai
sebuah artikel dari membaca abstraknya saja, menjadi suatu kebiasaan menelaah secara kritis
suatu artikel untuk kepentingan pasien dan dengan sendirinya memperluas basis
pengetahuan dokter tersebut.
Banyak pro dan kontra yang timbul dalam penerapan EBM ini, namun tampaknya
pengenalan dan pendalaman EBM merupakan keharusan bagi dokter-dokter khususnya bagi
mereka yang ingin meningkatkan “probabilitas” keberhasilan pelayanan kedokteran secara
profesional.
Penelitian tentang kebiasaan mencari informasi dari para dokter menunjukkan bahwa
bila diminta dokter akan mengatakan setiap 3 pasien akan menimbulkan 2
pertanyaan/masalah, padahal fakta penelitian menunjukkan setidaknya 5 pertanyaan timbul
dari setiap pasien, 52% dari pertanyaan ini dapat dijawab oleh dokter tersebut dari catatan
Berbagai aspek manajemen pasien, seperti diagnosis, tata laksana, dan prognosis dapat
menjadi masalah klinis yang dirumuskan menjadi sebuah pertanyaan (clinical answerable
question) yang akan dicarikan jawabannya dalam bentuk buktibukti.
Pada bagian metodologi dijelaskan dengan detil dan transparan langkah-langkah
pencarian bukti sehingga dapat ditelusuri kembali. Hasil pencarian bukti tersebut
dipresentasikan dalam bentuk tabel atau flowchart yang menunjukkan nama sumber tempat
pencarian (misalnya Pubmed, Cohrane, Embase), strategi pencarian (misalnya kata kunci yang
digunakan), kriteria inklusi dan eksklusi artikel yang dipilih, jumlah artikel yang diperoleh
melalui seleksi judul, dan jumlah naskah lengkap artikel yang diperoleh. Kepada artikel yang
naskah lengkapnya terpilih kemudian dilakukan telaah kritis, yang terdiri atas 3 aspek yaitu
validitas penelitian, kepentingan klinis (importancy) hasil, dan aplikabilitasnya atau
relevansinya terhadap masalah klinis yang ada. Terhadap masing-masing artikel yang terpilih
juga dilakukan penentuan derajat kekuatan bukti atau level of evidence, yang digambarkan
dalam sebuah tabel, sehingga pada tabel tersebut akan tampak presisi, konsistensi,
kesesuaian, dan kontroversi hasil, serta bukti mana yang merupakan the best evidence.
Dalam bagian diskusi dibahas interpretasi dan relevansi bukti yang ada dengan masalah
klinis yang dihadapi. Juga diberikan pembahasan mengenai keterbatasan bukti yang ada atau
yang ditemukan. Bila telah terdapat bukti yang kuat, dalam bagian diskusi juga dapat
dituliskan rekomendasi tata laksana untuk kasus sejenis. Pada akhirnya EBCR ditutup dengan
kesimpulan dan tentu saja seperti layaknya sebuah karya ilmiah dilengkapi dengan daftar
pustaka.
Keuntungan EBCR selain sebagai cara untuk melatih keterampilan praktik EBM, juga
untuk mengisi knowledge gap yang ada, dan untuk menyusun pedoman tata laksana suatu
penyakit atau keadaan tertentu. Agar EBCR ini dapat terlaksana dengan baik tentu saja
diperlukan sarana electronic library yang adekuat.
Laporan kasus dengan metode tradisional umumnya tidak menyebutkan masalah klinis
yang ada pada pasien secara eksplisit. Selain tidak dilakukan telaah kritis pada bukti yang ada,
juga sering kali pembahasan mengenai permasalahan klinis yang terdapat pada pasien tidak
terfokus, dan kesimpulan yang diperoleh menjadi sangat umum sifatnya. Sebaliknya, pada
EBCR masalah klinis pada pasien diformulasikan secara eksplisit (dengan format PICO),
dilakukan telaah kritis pada bukti-bukti yang menyokong, sehingga dapat dipetik suatu
Evidencen Based Decision Making (EBDM) atau pengambilan keputusan berbasis bukti
didefinisikan sebagai "integrasi bukti penelitian terbaik dengan keahlian klinis kami dan nilai-
nilai dan keadaan unik pasien kami."2 Dengan demikian, keputusan optimal dibuat ketika
semua komponen dipertimbangkan. Untuk mempraktikkan EBDM, keterampilan pencarian
dan evaluasi online baru diperlukan bersama dengan pemahaman tentang desain penelitian.
Keterampilan dan pengetahuan ini memungkinkan dokter untuk mengakses secara efisien dan
menilai artikel ilmiah kritis untuk melihat apakah mereka relevan untuk memandu
pengambilan keputusan mereka atau menjawab pertanyaan klien tertentu. EBDM tidak
dikhususkan untuk kedokteran atau disiplin kesehatan tertentu, oleh karena itu EBDM disebut
di sini sebagai EBDM alih- alih kedokteran berbasis bukti atau kebersihan gigi berbasis bukti.
EBDM adalah tentang menyelesaikan masalah klinis, apakah masalah perawatan pasien,
kondisi klinis klien, atau pertanyaan berdasarkan minat pribadi. Dalam memecahkan masalah
ini, ada dua prinsip dasar EBDM:
1. Bukti saja tidak pernah cukup untuk membuat keputusan klinis: yaitu, penelitian klinis
hanya satu komponen kunci dari proses pengambilan keputusan dan tidak memberi
tahu praktisi apa yang harus dilakukan.
2. Tingkat bukti ada: hierarki bukti tersedia untuk memandu pengambilan keputusan klinis.
Seperti istilah hierarki menyiratkan, tidak semua bukti sama.
a. Ketika Anda naik hierarki, desain penelitian memungkinkan lebih banyak kontrol
sehingga intervensi atau perbedaan hasil pengobatan bukan karena kebetulan.
b. Saat Anda naik hierarki, jumlah studi yang diterbitkan menurun, namun ini adalah
studi yang lebih relevan secara klinis.
Ada dua kategori sumber bukti: penelitian primer dan sekunder. Memahami perbedaan
antara kedua hal ini dengan pencarian bukti dan analisis kritisnya.
Penelitian utama meliputi studi penelitian asli. Studi-studi ini dapat dibagi menjadi dua
kategori: studi eksperimental dan studi non-eksperimental, atau observasional.
1. Dalam penelitian erimental, peneliti sedang menguji hipotesis, kemungkinan besar
untuk membangun sebab dan akibat. Untuk mencapai tujuan ini:
a. Peneliti mengendalikan atau memanipulasi variabel yang sedang diselidiki, seperti
dalam menguji efektivitas pengobatan.
b. Peneliti menggunakan desain studi yang kompleks yang mencakup uji coba
terkontrol acak dan uji klinis terkontrol.
Uji coba terkontrol secara acak (RCT) memberikan bukti terkuat untuk menunjukkan
sebab dan akibat: yaitu, pengobatan telah menyebabkan efek, daripada terjadi secara
kebetulan.
2. Penelitian noneksperimental, atau observasional, termasuk penelitian di mana peneliti
tidak memberikan pengobatan, intervensi, atau memberikan paparan; yaitu, data
dikumpulkan tanpa campur tangan untuk mengontrol variabel.
a. Jenis penelitian ini termasuk studi kohort dan studi kasus kontrol.
b. Studi kohort dan studi kasus kontrol digunakan untuk menggambarkan dan
menginterpretasikan kondisi atau hubungan yang sudah ada.
c. Studi-studi ini digunakan ketika ada kemungkinan bahwa pengujian suatu
pengobatan atau intervensi berpotensi menyebabkan kerusakan. Sebagai contoh,
dalam sebuah penelitian kohort, peneliti tidak dapat memberikan tembakau
kepada subyek untuk diuji apakah tembakau menyebabkan kanker tetapi akan
merekrut subyek yang sudah terpapar pada risiko (tembakau) dan kemudian
mengikuti mereka untuk melihat siapa yang mengembangkan kanker.
d. Sumber-sumber penelitian sekunder termasuk penelitian yang dinilai sebelumnya,
atau disaring, yaitu penelitian tentang studi individu yang sudah dilakukan.
Kategori ini termasuk yang berikut:
1) Pedoman praktik klinis berbasis bukti.
2) Meta-analysis (MAs).
3) Ulasan sistematis (SR).
4) Ulasan artikel berbasis bukti.
H. KUNCI KONSEP
Latihan Soal
Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!
2) Jika tidak tersedia bukti maka hal yang dapat dilakukan tenaga kesehatan gigi kecuali ....
A. Mempertimbangkan budget yang tersedia
B. Mengajak anggota karang taruna untuk membantu pelaksanaan
C. Mengidentifikasi kebutuhan kelompok
D. Mencari bukti jurnal yang tersedia
E. Menyesuaikan dengan sumber yang ada
5) Evidence-based case report (EBCR) merupakan suatu metode penulisan atau pelaporan
sebuah kasus atau masalah klinis dengan pendekatan berbasis bukti. Metode atau
desain pelaporan kasus EBCR merupakan bentuk aplikasi?
A. Evidence-based medicine (EBM)
B. Evidence-based mediatory (EBM)
C. Evidence-based medical (EBM)
1) A
2) D
3) C
4) C
5) A
Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu menjelaskan langkah-langkah tindakan pencegahan menurut Leavel dan Clark.
2. Mampu menjelaskan Early Diagnosis and Prompt Treatment.
3. Mampu menjelaskan pengaplikasian tahap rehabilitasi dalam kesehatan gigi.
4. Mampu menjelaskan 3 aspek yang telah berusaha dipenuhi oleh pemerintah saat ini
yang sangat terkait dengan upaya pelayanan kesehatan.
5. Mampu menjelaskan upaya kesehatan yang dilaksanakan harus bersifat komperhens.
Menurut Putri, dkk (2015) dalam kenyataannya tidak ada satu orang pun yang selama
hidupnya bebas dari penyakit rongga mulut, baik itu dalam bentuk karies gigi, inflamasi gusi,
penyakit periodontal, kehilangan atau maloklusi gigi, dan lain-lain. Pada umumnya sebagian
besar pengeluaran untuk kesehatan gigi adalah pada tahap pencegahan sekunder daripada
tahap pencegahan primer.
Langkah-langkah tindakan pencegahan dalam bidang kedokteran gigi menurut Leavel
dan Clark terdiri atas lima tingkatan pencegahan (five level of preventive), tahapan
pencegahan melalui periode prepatogenesis penyakit sampai ke periode rehabilitasi yaitu
setelah penyakit menghilang. Dalam melakukan pencegahan primer Leavel dan Clark
menyatakan bahwa di periode prepatogenesis dengan melibatkan promosi kesehatan dan
proteksi spesifiklah tahapan pencegahan sesungguhnya terjadi, sementara pencegahan
sekunder bisa terjadi pada periode awal patogenesis. Periode selanjutnya disebut periode
kontrol penyakit. Pendidikan kesehatan, sebagai berikut:
Gambar 1.6
Level of Prevention
1. Health Promotion
Beberapa faktor pada tahap ini dapat diterapkan pada pencegahan karies gigi, di
antaranya pendidikan kesehatan tentang perawatan gigi yang baik, pendidikan mengenai gizi,
yaitu tuntunan pemberian kualitas makanan yang baik selama pembentukan dan
perkembangan gigi.
Health Promotion akan memberikan hasil kesehatan gigi yang baik jika ada penerangan
mengenai informasi tentang kebersihan mulut, dan kebiasaan makan yang ditekankan pada
kehidupan sehari-hari.
2. Specific Protection
Langkah-langkah yang dapat diterapkan pada tahap ini adalah aplikasi topikal fluor di
daerah yang tidak terjangkau fluoridasi air minum, penutupan fisura serta kemungkinan
dilakukannya imunisasi aktif.
5. Rehabilitation
Pada tahap terakhir ini dapat dilakukan penggantian gigi serta penempatan gigi pada
posisi yang tepat, sesuai dengan bentuk dan anatomi gigi yang hilang.
1. Perilaku
Perilaku yang sehat akan menunjang meningkatnya derajat kesehatan, hal ini dapat
dilihat dari banyaknya penyakit berbasis perilaku dan gaya hidup. Kebiasaan pola makan yang
sehat dapat menghindarkan diri kita dari banyak penyakit, di antaranya penyakit jantung,
darah tinggi, stroke, kegemukan, diabetes mellitus dan lain-lain. Perilaku atau kebiasaan
mencuci tangan sebelum makan juga dapat menghindarkan kita dari penyakit saluran cerna.
2. Lingkungan
Lingkungan yang mendukung gaya hidup bersih juga berperan dalam meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat. Dalam kehidupan di sekitar kita dapat kita rasakan, daerah
yang kumuh dan tidak dirawat biasanya banyak penduduknya yang mengidap penyakit seperti
gatal-gatal, infeksi saluran-saluran pernafasan, dan infeksi saluran pencernaan. Penyakit
Demam Berdarah juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Lingkungan tidak bersih,
banyaknya tempat penampungan air yang tidak pernah dibersihkan menyebabkan
perkembangkan nyamuk aedes aegypti penyebab demam berdarah meningkat. Hal ini
menyebabkan penduduk di sekitar memiliki risiko tergigit nyamuk dan tertular demam
berdarah.
4. Fasilitas Kesehatan
Akhir-akhir ini teknologi kesehatan dan kedokteran semakin maju. Teknologi dan
kemampuan tenaga ahli harus diarahkan untuk meningkatkan upaya mewujudkan derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya. Ketersediaan fasilitas dengan mutu pelayanan yang baik
akan mempercepat perwujudan derajat kesehatan masyarakat. Dengan menyediakan fasilitas
pelayanan kesehatan yang bermutu secara merata dan terjangkau akan meningkatkan akses
masyarakat ke fasilitas pelayanan kesehatan.
D. KUNCI KONSEP
1. Lima tahap pencegahan menurut Leavel dan Clark adalah Health Promotion, Specific
Protection, Early Diagnosis and Prompt Treatment, Disability Limitation dan
Rehabilitation.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat, yaitu: faktor perilaku,
lingkungan, keturunan dan pelayanan kesehatan.
Latihan Soal
Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!
1) Jika dilakukan penyuluhan pada warga di desa X, maka dapat disebut sebagai ....
A. Health Promotion
B. Specific Protection
C. Early Diagnosis and Prompt Treatment
D. Disability Limitation
E. Rehabilitation
2) Jika pada anak-anak di desa X dilakukan kumur-kumur larutan fluor maka dapat disebut
sebagai .…
A. Health Promotion
B. Specific Protection
C. Early Diagnosis and Prompt Treatment
D. Disability Limitation
E. Rehabilitation
4) Jika pada anak-anak maupun orang dewasa di desa X dilakukan pencabutan pada gigi
yang sudah tidak bisa ditambal maka disebut sebagai .…
A. Health Promotion
B. Specific Protection
C. Early Diagnosis and Prompt Treatment
D. Disability Limitation
E. Rehabilitation
5) Jika pada orang dewasa di desa X yang telah dilakukan pencabutan gigi disarankan untuk
memakai protesa maka dapat disebut sebagai .…
A. Health Promotion
B. Specific Protection
C. Early Diagnosis and Prompt Treatment
D. Disability Limitation
E. Rehabilitation
1) A
2) B
3) D
4) D
5) E
Putri, Megananda Hiranya, dkk. (2008). Buku Ajar Preventive Dentistry. Forum Komunikasi
Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan: Depkes Ri.
Putri, Megananda Hiranya, dkk. (2015). Ilmu Pencegahan Penyakit Jaringan Keras dan
Jaringan Pendukung Gigi. Jakarta: EGC.
Samoraj, Vinej, dkk. (2015). Evidence Based Dental Practice. Review. Vol 1
Suprianto. (2013). Kedokteran Gigi Berbasis Bukti. (Diakses pada 28 Maret 2019).
[Link] [Link]
Trihono, Partini Pudjiastuti. (2010). Pengantar Evidence based Case Report. Vol 11.
Pendahuluan
A. AQUIRED PELICLE
Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu mendefinisikan pengertian Aquired pelicle.
2. Mampu menjelaskan terbentuknya Aquired pelicle.
3. Mampu menyebutkan lapisan-lapisan dari Aquired pelicle.
Menurut Putri, dkk (2015) aquired pelicle merupakan lapisan tipis, licin, tidak berwarna,
translusen, aseluler dan bebas bakteri. Lokasinya tersebar merata pada permukaan gigi dan
lebih banyak terdapat pada daerah yang berdekatan dengan gingiva. Jika diwarnai dengan
larutan pewarna (disclosing solution) akan terlihat sebagai suatu permukaan yang tipis dan
pucat dibandingkan dengan plak yang lebih kontras warnanya.
Aquired pelicle ini dapat terbentuk setelah gigi erupsi dan setelah kutikula email primer
dan reduced email epithelium (membran Nasmyth) hilang karena abrasi atau pada permukaan
Ada beberapa pendapat tentang cara pengendapan glikoprotein saliva pada permukaan
gigi antara lain absorbsi protein saliva di permukaan email terjadi karena adanya daya tarik-
menarik antara kalsium hidroksiapatit pada permukaan gigi dengan glikoprotein saliva.
Menurut pendapat ini, bakteri tidak ikut berperan dalam pembentukan aquired pelicle.
Pendapat yang kedua mengatakan bahwa pengendapan protein saliva karena adanya bakteri
yang menghasilkan enzim. Pendapat yang ketiga mengatakan bahwa pengendapan protein
saliva terjadi karena adanya daya-tarik menarik antara email dan protein dan karena adanya
bakteri yang menghasilkan produk metabolismenya, jadi merupakan gabungan dari pendapat
satu dan dua. Dengan adanya pengendapan protein saliva pada permukaan email maka
terbentuklah lapisan dengan ketebalan 0,05 – 0,8 mikron, meski ada pula yang mengatakan
bahwa ketebalan aquired pelicle ini sekitar 1 – 10 mikron, yang melekat erat pada permukaan
gigi dan berhubungan dengan enamel rod di bawahnya.
Aquired pelicle ini terjadi atas mukoprotein dan glikoprotein saliva dengan sedikit lipid.
Aquired pelicle dapat dihilangkan sementara dengan cara menyikat gigi, tetapi tidak lama
kemudian akan terbentuk kembali.
Penelitian yang pernah dilakukan terhadap lapisan yang melekat pada permukaan gigi
dengan menggunakan mikroskop elektron, membagi lapisan ini dalam tiga bagian yaitu :
subsurface cuticule, surface cuticule dan stained pellicle.
E. SUBSURFACE CUTICULE
Subsurface cuticule terbentuk setelah gigi erupsi dan membran Nasmyth yang
melindungi gigi menghilang karena abrasi sehingga pada permukaan gigi terbentuk suatu
struktur dendritik yang terdiri atas saluran-saluran ultramikroskopik yang menembus
permukaan gigi sedalam 1 – 3 mikron yang terbentuk karena demineralisasi erosif pada
permukaan gigi. Saluran-saluran ini kemudian akan diisi oleh bahan protein yang berasal dari
saliva. Di atas subsurface cuticule terdapat lapisan lain yang dinamakan surface cuticule
(kutikula permukaan) dengan ketebalan 0,2 mikron yang juga berasal dari protein saliva dan
yang paling luar adalah stain pellicle dengan ketebalan 1 – 10 mikron, berasal dari protein
saliva yang mengendap karena adanya enzim ekstraseluler yang dihasilkan bakteri pada
permukaan gigi. Selain itu, lapisan ini mengandung bakteri yang sudah mati dan mengalami
lisis.
F. KUNCI KONSEP
1. Aquired pelicle adalah lapisan yang tipi, licin tidak berwarna dan bebas bakteri yang
terletak pada seluruh permukaan gigi.
2. Lapisan ini akan mudah dilihat menggunakan pewarna (disklosing).
3. Lapisan ini terbentuk pada gigi yang baru erupsi dan pada gigi yang baru selesai
dibersihkan.
4. Lapisan ini terdiri dalam tiga bagian yaitu: subsurface cuticule, surface cuticule dan
stained pellicle.
5. Peranan aquired pelicle ini belum diketahui dengan pasti, tetapi disepakati bahwa
lapisan ini merupakan tahap permulaan dari pembentukan plak gigi.
Latihan Soal
Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!
Setelah gigi erupsi atau bahkan setelah menyikat gigi akan muncul suatu lapisan yang
bebas bakteri dan tersebar di seluruh permukaan gigi. Biasa digunakan disclosing solution
untuk melihat ada tidaknya lapisan ini pada permukaan gigi. (Untuk soal nomor 1 sampai 5)
1) B
2) A
3) D
4) E
5) A
Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu mendefinisikan pengertian Materia alba.
2. Mampu menjelaskan akibat yang ditimbulkan oleh materia alba.
3. Mampu menyebutkan komposisi materia alba.
Materia Alba adalah suatu deposit lunak, berwarna kuning atau putih keabu-abuan yang
melekat pada permukaan gigi, restorasi, kalkulus dan gingiva. Tidak mempunyai struktur yang
spesifik serta mudah disingkirkan dengan semprotan air, akan tetapi untuk penyingkiran yang
sempurna diperlukan pembersihan secara mekanis.
Sumber: [Link]
Gambar 2.1
Gambar Materia Alba
Materia alba dapat menyebabkan iritasi lokal pada gingiva sehingga dapat merupakan
penyebab umum terjadinya gingivitis, efek iritasi oleh materia alba ini kemungkinan
disebabkan oleh bakteri serta produk-produknya.
Deposit ini pelekatannya kurang erat jika dibandingkan dengan plak gigi. Deposit dapat
terlihat jelas tanpa menggunakan larutan disklosing dan sering kali cenderung menumpuk
pada sepertiga gingival mahkota gigi dan pada gigi yang malposisi. Deposit ini dapat terbentuk
pada permukaan gigi yang baru dibersihkan dalam beberapa jam dan pada waktu tidak
digunakan untuk pengunyahan. Dahulu materia alba ini diduga terdiri atas debris makanan,
akan tetapi sekarang diketahui kalau materia alba ini terdiri atas massa organisme, sel-sel
epitel yang mengalami degenerasi, leukosit, gabungan dari protein saliva dan sisa makanan.
E. KUNCI KONSEP
1. Materia alba merupakan endapan berwarna kuning atau putih keabu-abuan yang
melekat pada permukaan gigi dan restorasi.
2. Endapan ini mudah dibersihkan dengan semprotan air, namun untuk membersihkannya
secara sempurna maka diperlukan pembersihan secara mekanis.
3. Endapan dapat mengakibatkan iritasi lokal sehingga dapat menjadi penyebab gingivitis.
Latihan Soal
Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!
Deposit ini melekat pada permukaan gigi dan tempat lainnya, berwarna kuning atau
putih keabu-abuan dan tidak keras, strukturnya tidak spesifik dan mudah disingkirkan. (Untuk
soal nomor 1 sampai 5)
4) Apa yang dapat disebabkan oleh deposit ini bila terdapat pada permukaan gigi?
A. karies gigi
B. halitosis
C. iritasi gingiva
D. periodontitia
E. odontolus
1) C
2) A
3) D
4) C
5) C
Food debris adalah sisa makanan yang tertinggal di dalam rongga mulut dan biasanya
terletak di antara gigi atau bahkan menempel pada permukaan gigi. Kebanyakan debris
makanan akan segera mengalami liquifikasi oleh enzim bakteri dan bersih 5–30 menit setelah
makan, tetapi ada kemungkinan sebagian masih tertinggal pada permukaan gigi dan membran
mukosa.
Aliran saliva, aksi mekanis dari lidah, pipi dan bibir serta bentuk dan susunan gigi dan
rahang akan memengaruhi kecepatan pembersih sisa makanan. Pembersihan ini dipercepat
oleh proses pengunyahan dan viskositas ludah yang rendah. Walaupun debris makanan
mengandung bakteri, tetapi berbeda dari plak dan materia alba, debris ini lebih mudah
dibersihkan. Debris harus dibedakan dengan makanan yang tertekan ke ruang interproksimal
(food impaction).
Kecepatan pembersihan debris makanan dari rongga mulut bervariasi menurut jenis
makanan dan individunya. Bahan makanan yang cair lebih mudah dibersihkan dibanding
bahan makanan yang padat. Gula yang dimakan dalam keadaan cair tertinggal dalam saliva
selama 15 menit, sedangkan gula yang dimakan dalam keadaan padat tertinggal dalam saliva
sampai 30 menit setelah pengunyahan. Makanan-makanan yang lengket seperti roti, bonbon,
dan karame dapat melekat pada permukaan gigi sampai lebih dari 1 jam, sedangkan makanan
yang kasar seperti wortel mentah, apel akan dibersihkan dengan segera. Makanan yang dingin
akan lebih cepat dibersihkan dengan makanan yang panas.
D. KUNCI KONSEP
1. Food debris adalah sisa makanan yang tertinggal dalam rongga mulut.
2. Gerakan pipi, lidah dan ludah pada saat mengunyah dapat mempengaruhi pembersihan
food debris.
Latihan Soal
Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!
1) Apa saja faktor internal yang tidak mempengaruhi kecepatan membersihkan debris
makanan pada rongga mulut?
A. aliran saliva
B. aksi mekanis dari lidah, pipi dan bibir
C. bentuk gigi dan rahang
D. susunan gigi dan rahang
E. umur erupsi gigi
3) Berapa lama waktu yang diperlukan debris makanan untuk mengalami liquifiasi dan
menjadi bersih?
A. 5-30 menit
B. 5-25 menit
C. 5-20 menit
D. 5-15 menit
E. 5-10 menit
1) E
2) B
3) A
Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu mendefinisikan biofilm.
2. Mampu menyebutkan struktur dan komposisi biofilm.
3. Mampu menjelaskan siklus kehidupan biofilm.
4. Mampu menjelaskan pengaruh kehidupan biofilm terhadap kehidupan manusia.
5. Mampu menjelaskan strategi untuk mengontrol biofilm.
B. DEFINISI BIOFILM
Biofilm terdiri dari mikroorganisme dan zat polimer ekstraseluler yang diproduksi oleh
mereka sendiri yang disebut sebagai eksopolisakarida (EPS). Perkembangan biofilm yang utuh
1. Perlekatan Sel
Perlekatan mikroorganisme pada permukaan tertentu dapat terjadi secara aktif atau
pasif, tergantung pada motilitas bakteri atau transportasi dari sel planktonik oleh gravitasi,
difusi atau kekuatan dinamis cairan dari fase cairan di sekitarnya. Perlekatan juga tergantung
pada ketersediaan hara dalam media sekitarnya, dan tahap pertumbuhan sel bakteri itu
sendiri. Dua tahapan yang dapat diidentifikasi dalam proses ini yaitu perlekatan reversibel
diikuti oleh perlekatan irreversibel. Awalnya, interaksi jangka panjang terbentuk antara sel
bakteri dan substrat disebut perlekatan reversibel, dan melibatkan interaksi van der Waals,
gaya elektrostatik dan interaksi hidrofobik. Selama tahap ini, bakteri masih menunjukkan
gerak Brown dan dapat dengan mudah dihilangkan dengan gaya geser fluida (misalnya hanya
dengan membilasnya). Kemudian dilanjutkan perlekatan irreversibel, interaksi jangka pendek
yang melibatkan interaksi dipol-dipol, ion hidrogen, dan ikatan kovalen, dan interaksi
hidrofobik.
Interaksi antara bakteri dan permukaan terjadi terutama melalui alat pelengkap bakteri
seperti flagela, fimbriae, pili dan fibril, dan pengangkatan sel membutuhkan energi yang lebih
kuat seperti scrubbing atau menggores. Suhu dan pH permukaan kontak memiliki pengaruh
pada tingkat perlekatan mikroorganisme.
2. Pembentukan Mikrokoloni
Proliferasi sel-sel bakteri yang melekat secara irreversibel dapat terjadi dengan
menggunakan nutrisi yang ada di lingkungan cairan sekitarnya. Ini mengarah pada
pembentukan mikrokoloni yang membesar dan menyatu untuk membentuk lapisan sel yang
menutupi permukaan. Sel-sel yang melekat menghasilkan polimer tambahan
(eksopolisakarida), yang membantu dalam perlekatan sel-sel ke permukaan dan dalam
menstabilkan koloni dari fluktuasi lingkungan.
Pertama kali pembentukan biofilm dimulai ketika bakteri menemukan dan dapat
melekat pada kondisi permukaan melalui molekul organik kecil. Tingkat perlekatan sel
mikroba diatur oleh faktor-faktor seperti sifat permukaan, kondisi lapisan permukaan,
karakteristik dan hidrodinamika dari media cair, berbagai karakteristik permukaan sel
mikroba, regulasi gen dan kuorum sensing.
Pembentukan biofilm dapat terjadi di berbagai jenis permukaan dan berbagai kondisi
lingkungan dimana bakteri berada. Bakteri, molekul organik dan anorganik yang berada di
permukaan kemudian membentuk kondisi film. Substrat organik dan anorganik ini bersama-
sama dengan mikroorganisme berpindah ke permukaan melalui difusi atau mengikuti aliran
cairan. Transfer nutrisi lebih tinggi dalam biofilm daripada fase cair.
Kondisi film penting dalam proses perlekatan. Polimer organik dari media yang
permukaannya terendam sehingga mempengaruhi tingkat dan kekuatan perlekatan mikroba.
Kondisi film terbentuk dalam beberapa menit pemaparan, dan terus berkembang selama
beberapa jam. Sejumlah host memproduksi film seperti darah, air mata, urin, saliva, cairan
intravaskular dan sekresi pernapasan mempengaruhi perlekatan bakteri terhadap
biomaterial. Karakteristik media cair, seperti pH, tingkat nutrisi, kekuatan ion, dan
temperatur, juga mungkin memainkan peran dalam tingkat perlekatan mikroba pada
permukaan. Sebagai contoh, peningkatan jumlah sel bakteri yang melekat diyakini sebagai
akibat dari peningkatan konsentrasi nutrisi dalam media dan juga peningkatan konsentrasi
beberapa kation. Selain itu, sifat hidrodinamik dari media cair seperti karakteristik kecepatan
cairan mempengaruhi tingkat dan luasnya perlekatan.
Biofilm telah diketahui terlibat dalam berbagai macam infeksi mikroba pada tubuh.
Pembentukan biofilm juga telah tercatat sebagai strategi pertahanan diri patogen. Beberapa
mikroorganisme dalam biofilm bahkan dapat memodulasi potensi bakteri patogen lain seperti
terlihat dari bakteri kariogenik pada plak biofilm. Lebih dari 65% dari semua infeksi mikroba
disebabkan oleh biofilm. Jumlah ini mungkin tampak tinggi, tetapi jika kita ingat bahwa infeksi
umum seperti saluran kemih infeksi (disebabkan oleh E. coli dan patogen lainnya), infeksi
kateter (yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan patogen gram positif lainnya),
infeksi telinga tengah anak (yang disebabkan oleh Haemophilus influenzae), pembentukan
plak pada gigi, dan radang gusi, yang semuanya disebabkan oleh biofilm, sulit untuk diobati
atau juga sering kambuh, maka angka ini cukup realistis. Sehingga proses infeksi yang
melibatkan biofilm telah terlibat pada penyakit-penyakit umum seperti infeksi saluran kemih,
infeksi kateter, infeksi telinga tengah, pembentukan gigi plak, gingivitis, legionellosis, infeksi
pada pemakaian lensa kontak, dan infeksi yang kurang umum namun lebih mematikan seperti
endokarditis, infeksi pada cystic fibrosis, dan infeksi implan permanen seperti prostesis
persendian dan katu.
Munculnya fenomena biofilm mikroba dikaitkan dengan adanya sifat resistensi
mikroba terhadap antimikroba dan sistem imun host. Sifat biologis sel bakteri pembentuk
biofilm matur berbeda dari sifat biologis sel planktoniknya walaupun pada strain bakteri yang
sama. Penting diketahui bahwa sifat-sifat yang diperoleh tersebut memungkinkan bakteri
1. Biofilm merupakan suatu komunitas sel bakteri yang terstruktur dan saling menempel,
bakteri-bakteri tersebut mampu memproduksi matriks polimer dan mampu melekat
pada permukaan biologis maupun benda mati.
2. Biofilm terdiri dari mikroorganisme dan zat polimer ekstraseluler yang diproduksi oleh
mereka sendiri yang disebut sebagai eksopolisakarida (EPS).
3. Siklus kehidupan biofilm di awali dengan perlekatan sel, pembentukan mikrokoloni,
pembentukan biofilm dan pemantapan dan perluasan biofilm.
Latihan Soal
Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!
2) Siklus kehidupan biofilm diawali dengan perlekatan sel yang dapat terjadi secara .…
A. aktif dan pasif
B. langsung dan tidak langsung
C. seluler dan multi seluler
D. biospesies dan unispesies
E. regenerasi dan degenerasi
3) Pertama kali pembentukan biofilm dimulai ketika bakteri menemukan dan dapat
melekat pada kondisi permukaan melalui .…
A. molekul anorganik kecil
B. molekul anorganik besar
C. molekul organik kecil
D. molekul organik besar
E. molekul organik berimbang
5) Saat ini mekanisme pembentukan biofilm yang telah dipahami secara baik adalah pada
kelompok .…
A. Bacillus
B. Actinomyces
C. Veillonella
D. Staphylococci
E. Salivarius
1) B
2) A
3) C
4) E
5) D
Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu mendefinisikan pengertian plak.
2. Mampu menjelaskan terbentuknya plak.
3. Mampu menyebutkan komposisi dari plak.
4. Mampu menjelaskan pengaruh plak terhadap gigi.
5. Mampu menjelaskan cara mencegah plak.
B. PENGERTIAN PLAK
Plak gigi merupakan deposit lunak yang melekat erat pada permukaan gigi, terdiri atas
mikroorganisme yang berkembang biak dalam suatu matrik interseluler jika seseorang
melalaikan kebersihan gigi dan mulutnya.
Sumber: [Link]
Gambar 2.2
Plak Gigi
Berbeda halnya dengan lapisan terdahulu, plak gigi tidak dapat dibersihkan hanya
dengan cara kumur ataupun semprotan air dan hanya dapat dibersihkan secara sempurna
dengan cara mekanis. Jika jumlahnya sedikit plak tidak dapat terlihat, kecuali diwarnai dengan
larutan diskosing. Jika menumpuk, plak akan terlihat berwarna abu-abu, abu-abu kekuningan
dan kuning. Plak biasanya mulai terbentuk pada sepertiga permukaan gingival dan pada
permukaan gigi yang cacat dan kasar.
Proses pembentukan plak gigi terdiri atas dua tahap. Tahap pertama merupakan
pembentukan lapisan aquired pelicle sementara tahap kedua merupakan tahap proliferasi
bakteri.
Pada tahap pertama, setelah aquired pelicle terbentuk, bakteri mulai berpoliferasi
disertai dengan pembentukan matriks interbakterial yang terdiri atas polisakarida
ekstraseluler yaitu levan dan dextran dan juga mengandung protein saliva. Hanya bakteri yang
dapat membentuk polisakarida ekstraseluler yang dapat tumbuh pada tahap pertama, yaitu
Streptococcus mutans, Streptococcus bovis, Streptococcus sanguis, Streptococcus salivarius
sehingga pada 24 jam pertama terbentuklah lapisan tipis yang terdiri dari atas jenis kokus pada
tahap awal poliferasi bakteri. Bakteri tidak dapat membentuk lapisan kontinu di atas
permukaan aquired pelicle melainkan sebagai suatu kelompok-kelompok kecil yang terpisah.
Suasana lingkungan pada lapisan plak masih bersifat aerob sehingga hanya mikroorganisme
aerob dan fakulatif yang dapat tumbuh dan berkembang biak. Jadi, pada tahap awal ini bakteri
yang dapat tumbuh adalah jenis kokus dan basilus yang fakulatif (Neisseria, Nocardia dan
Streptpcoccud). Streptococcus meliputi 50% dari seluruh populasi dan yang terbanyak adalah
jenis Streptococcus sanguis. Perkembangbiakan bakteri membuat lapisan plak bertambang
tebal dan karena adanya hasil metabolisme dan adhesi dari bakteri-bakteri pada permukaan
luar plak, lingkungan di bagian dalam plak berubah menjadi anaerob.
Setelah kolonisasi pertama oleh Streptococcus, berbagai jenis mikroorganisme lain
memasuki plak, hal ini dinamakan “Phenomena of succesion”. Pada keadaan ini dengan
bertambahnya umur plak, terjadi pergeseran bakteri di dalam plak. Menurut Kresse, keadaan
ini dapat terjadi kompetisi di antara bakteri sehingga dapat membatasi pertumbuhan bakteri.
Terhambatnya pertumbuhan bakteri, selain disebabkan oleh kurangnya bahan makanan juga
disebabkan oleh adanya gas-gas sebagai hasil metabolisme bakteri yang bersifat toksik bagi
bakteri, yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu. Sementara hasil
metabolisme yang lain menyebabkan rangsangan terhadap pertumbuhan bakteri Veilonella
dan hal ini menyebabkan meningkatnya polisakarida ekstraseluler berberat molekul tinggi
sehingga memengaruhi tegangan permukaan dan tekanan osmotik di dalam plak. Susunan
bakteri dalam plak dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Pada tahap kedua jika kebersihan mulut diabaikan, dua sampai empat hari, kokus gram
negatif dan basilus akan bertambah jumlahnya (dari 7% menjadi 30%), dengan 15% di
antaranya terdiri atas bacillus yang bersifat anaerob. Pada hari kelima, Fusobacterium,
Aactinomyces, dan Veillonella yang aerob akan bertambah jumlahnya.
Pada tahap ketiga, pematangan plak pada hari ketujuh ditandai dengan munculnya
bakteri jenis Spirochaeta dan Vibrio sementara jenis filamen terus bertambah, dengan
peningkatan paling menonjol pada Actinomyces naeslundi. Pada hari kedua puluh delapan dan
kedua puluh sembilan, Streptococcus akan terus berkurang jumlahnya.
1. Lingkungan Fisik
Lingkungan fisik meliputi anatomi dan posisi gigi, anatomi jaringan sekitarnya, struktur
permukaan gigi yang jelas terlihat setelah dilakukan pewarnaan. Pada daerah terlindung
karena kecembungan permukaan gigi, pada gigi yang letaknya salah, pada permukaan gigi
dengan kontur gusi yang buruk, pada permukaan email yang banyak cacat, dan pada daerah
pertautan sementoemail yang kasar, terlihat jumlah plak yang lebih banyak.
3. Pengaruh Diet
Pengaruh diet terhadap pembentukan plak telat diteliti dalam dua aspek yaitu
pengaruhnya secara fisik dan pengaruhnya secara sebagai sumber makanan bagi bakteri di
dalam plak. Jenis makanan, yaitu keras dan lunak, mempengaruhi pembentukan plak pada
permukaan gigi. Ternyata plak banyak terbentuk jika kita mengkonsumsi makanan lunak,
terutama makanan yang mengandung karbihidrat jenis sukrosa, karena akan menghasilkan
dekstran dan levan yang memegang peranan penting dalam pembentukan matriks plak.
2. Komposisi Bakteri
Bakteri yang terdapat pada permukaan luar, terdiri atas bakteri jenis aerob, sedang
bakteri yang terdapat pada permukaan dalam terdiri atas bakteri anaerob. Bakteri anaerob
cenderung lebih banyak karena oksigen yang masuk kebagian dalam hanya sedikit sehingga
memungkinkan bakteri anaerob tumbuh dengan subur.
Bakteri di dalam plak tidak sama dengan yang terdapat dalam rongga mulut, laktobasilus
yang dulu dikira merupakan penyebab utama dari karies ternyata hanya hadir dalam jumlah
kecil di dalam plak, sedangkan dalam saliva jumlah laktobasilus sangat besar, sementara
streptokokus yang banyak terdapat di dalam plak hanya terdapat sedikit di dalam saliva.
Bakteri-bakteri yang berada di dalam plak selain dapat menghasilkan asam (asidogenik) dari
makanan yang mengandung karbohidrat juga dapat bertahan berkembang-biak dalam
suasana asam (acidurik). Berdasarkan hasil penelitian, komposisi bakteri dalam plak itu
bervariasi. Komposisi bakteri dalam plak bergantung pada daerah dan regio dari gigi dan juga
umur plak.
Dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa plak dapat mengikat
kalsium dalam jumlah besar dan hal ini mungkin berhubungan dengan perpindahan kalsium
ke dalam dan ke luar email.
Selain kalsium dan fosfat, plak gigi juga mengandung fluor dalam konsentrasi kurang
lebih 80 ppm pada pasien yang meminum air yang telah difluoridasi (dalam konsentrasi 1
ppm). Diperkirakan sebagian besar fluor ini terikat pada protein plak serta bakteri di dalam
plak.
Fluor dalam konsentrasi 80 ppm ini sebenarnya dapat menekan atau menghalangi reaksi
enzimatik bakteri, termasuk sintesa polisakarida intra dan ekstraseluler yang penting dalam
pembentukan plak. Akan tetapi untuk dapat berefek demikian, dibutuhkan fluor dalam bentuk
bebas sedangkan jumlah fluor dalam bentuk ion bebas di dalam plak ini belum diketahui
1. Karies
Hasil interaksi dari bakteri di permukaan gigi, plak atau biofilm, dan hasil diet (khususnya
komponen karbohidrat yang dapat difermentasikan oleh bakteri plak menjadi asam, terutama
asam laktat dan asetat) sehingga terjadi demineralisasi jaringan keras gigi dan memerlukan
cukup waktu untuk kejadiannya disebut dengan karies gigi.
2. Gingivitis
Peradangan yang terjadi pada gingival/gusi disebut dengan gingivitis. Penyakit ini
disebabkan kurangnya menjaga kebersihan gigi dan mulut yang ditandai dengan gusi tampak
merah, agak membengkak, sering berdarah saat menggosok gigi.
3. Periodontitis
Gingivitis yang tidak dirawat akan menyebabkan kerusakan tulang pendukung gigi atau
yang disebut periodontitis. Hal ini disebabkan oleh bakteri dalam plak gigi akan menyabar dan
berkembang kemudian toksin yang dihasilkan bakteri akan mengiritasi gingiva sehingga
merusak jaringan pendukungnya. (Pintauli dan Hamada, 2010)
Latihan Soal
Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!
Deposit ini melekat pada permukaan gigi, tetapi tidak keras dan pembersihannya tidak
cukup hanya dengan berkumur ataupun dengan semprotan air. (Untuk soal nomor 1 dan 2)
Jika jumlahnya sedikit deposit tidak dapat terlihat, dan jika menumpuk barulah warna
dari deposit ini akan terlihat. (Untuk soal nomor 3 sampai 5)
1) B
2) D
3) A
4) A
5) B
Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu menjelaskan cara pengukuran debris indeks (DI).
2. Mampu menjelaskan cara pengukuran OHI-S.
3. Mampu menjelaskan ketentuan penggantian gigi indeks pada pemeriksaan OHI-S.
4. Mampu menjelaskan cara pengukuran indeks PHP.
5. Mampu menjelaskan cara pengukuran PHPM.
Menurut Putri, dkk (2015) mengukur kebersihan gigi dan mulut merupakan upaya untuk
menentukan keadaan kebersihan gigi dan mulut seseorang. Pada umumnya untuk mengukur
kebersihan gigi dan mulut digunakan suatu indeks. Indeks adalah suatu angka yang
menunjukkan keadaan klinis yang didapat pada waktu dilakukan pemeriksaan, dengan cara
mengukur luas dari permukaan gigi yang ditutupi oleh plak maupun kalkulus, dengan demikian
angka diperoleh berdasarkan penilaian yang objektif. Jika kita sudah mengetahui nilai atau
angka kebersihan gigi dan mulut dari seorang pasien kita dapat memberikan pendidikan dan
penyuluhan, motivasi dan evaluasi yaitu dengan melihat kemajuan ataupun kemunduran
kebersihan gigi dan mulut seseorang maupun sekelompok orang, ataupun kita dapat melihat
perbedaan keadaan klinis seseorang atau sekelompok orang.
Kita dapat membedakan penilaian jika penilaian yang dilakukan oleh pemeriksa
seragam. Oleh karena itu pada saat pengukuran, diperlukan sekali ketelitian dan keseragaman
penilaian di antara pemeriksa sehingga diperoleh nilai yang akurat dan seragam dari setiap
pemeriksa. Untuk mendapatkan nilai yang akurat tentunya di antara pemeriksa harus
mempunyai pandangan yang sama dalam penilaian, karena itu perlu sekali dilakukan kalibrasi
terlebih dahulu.
Pada dasarnya tata cara pengukuran Debris Indeks (DI) sama dengan pengukuran OHI-
S. Gigi yang digunakan untuk dilakukan penilaian adalah:
1. Gigi 16 adalah permukaan bukal
2. Gigi 11 adalah permukaan labial
3. Gigi 26 adalah permukaan bukal
4. Gigi 36 adalah permukaan lingual
5. Gigi 31 adalah permukaan labial
6. Gigi 46 adalah permukaan lingual
Tabel 2.1
Kriteria Skor Debris
Skor Kondisi
0 Tidak ada debris atau stain
Plak menutup tidak lebih dari 1/3 permukaan servikal, atau terdapat
1
stain ekstrinsik di permukaan yang diperiksa
Plak menutup lebih dari 1/3 tapi kurang dari 2/3 permukaan yang
2
diperiksa
Skor debris indeks ditentukan dengan cara menjumlahkan seluruh skor kemudian
membaginya dengan jumlah segmen yang diperiksa.
Kriteria penilaian debris indeks
Baik : Jika nilainya 0 – 0,6
Sedang : Jika nilainya 0,7 – 1,8
Buruk : Jika nilainya 1,9 – 3,0
Menurut Putri, dkk (2015) untuk mengukur kebersihan gigi dan mulut seseorang Green
and Vermillion memilih enam permukaan gigi indeks tertentu yang cukup dapat mewakili
segmen depan maupun belakang dari seluruh pemeriksaan gigi yang ada dalam rongga mulut.
Gigi-gigi yang dipilih sebagai gigi indeks beserta permukaan indeks yang dianggap mewakili
tiap segmen adalah:
1. Gigi 16 adalah permukaan bukal
2. Gigi 11 adalah permukaan labial
3. Gigi 26 adalah permukaan bukal
4. Gigi 36 adalah permukaan lingual
5. Gigi 31 adalah permukaan labial
6. Gigi 46 adalah permukaan lingual
Tabel 2.2
Kriteria Skor Kalkulus
Skor Kondisi
0 Tidak ada kalkulus
Kalkulus supragingival menutup tidak lebih dari 1/3 permukaan servikal yang
1
diperiksa
Kalkulus supragingival menutup lebih dari 1/3 tapi kurang dari 2/3 permukaan yang
2 diperiksa, atau ada bercak-bercak kalkulus subgingival disekeliling servikal
Kalkulus supragingival menutup lebih dari 2/3 permukaan atau ada kalkulus
3
subgingival yang kontinu di sekeliling servikal gigi
Skor indeks kalkulus ditentukan dengan cara menjumlahkan seluruh skor kemudian
membaginya dengan jumlah segmen yang diperiksa.
Sedangkan skor OHI-S adalah jumlah skor debris dan skor kalkulus.
Kriteria penilaian indeks kalkulus
Baik : Jika nilainya 0 – 0,6
Sedang : Jika nilainya 0,7 – 1,8
Buruk : Jika nilainya 1,9 – 3,0
Indeks ini pertama kali dikembangkan dengan maksud untuk menilai individu atau
perorangan dalam pembersihan debris setelah diberi instruksi menyikat gigi.
Cara pemeriksaan klinis berdasarkan indeks plak PHP adalah sebagai berikut:
1. Digunakan bahan pewarna gigi yang berwarna merah (larutan disklosing) untuk
memeriksa plak yang terbentuk pada permukaan gigi.
2. Pemeriksaan dilakukan pada mahkota gigi bagian fasial/lingual dengan membagi tiap
permukaan mahkota gigi menjadi 5 sub divisi (gambar di bawah ini), yaitu: D, distal; G,
sepertiga tengah gingival; M, mesial; C, sepertiga tengah; I/O, sepertiga tengah
incisal/oklusal.
Gambar 2.4
Lima Subdivisi Permukaan Gigi dalam PHP
3. Cara pengukuran untuk menentukan indeks plak PHP, yaitu dengan rumus di bawah ini
dan nilai yang dihasilkan berupa angka.
IP PHP = Jumlah total skor plak seluruh permukaan gigi yang diperiksa
Jumlah gigi yang diperiksa
4. Kriteria penilaian tingkat kebersihan mulut berdasarkan indeks plak PHP (Personal
Hygiene Performance) yaitu:
• Sangat baik =0
• Baik = 0,1 – 1,7
• Sedang = 1,8 – 3,4
• Buruk = 3,5 - 5
Pengukuran kebersihan gigi dan mulut PHPM dibuat oleh Marten dan Meskin. Metode
pengukuran ini sering digunakan untuk pemeriksaan kebersihan gigi dan mulut pada masa gigi
geligi campuran.
Prinsip pemeriksaannya hampir sama dengan PHP, akan tetapi permukaan yang
diperiksa adalah bagian bukal dan lingual. Geligi yang diperiksa adalah:
1. Gigi paling posterior yang tumbuh di kwadran kanan atas.
2. Gigi kaninus atas kanan sulung atau permanen.
3. Gigi molar satu atas kiri sulung atau premolar satu atas kiri.
4. Gigi paling posterior yang tumbuh di kwadran kiri bawah.
Tetapi apabila dari gigi indeks tersebut ada yang tidak tersedia maka dapat diganti
dengan gigi lainnya. Ketentuan Penggantian Gigi Indeks:
1. Jika gigi kaninus tidak ada maka dapat digantikan dengan gigi anterior lainnya.
2. Gigi indeks dianggap tidak ada pada keadaan seperti: gigi hilang karena dicabut, gigi yang
merupakan sisa akar, mahkota gigi sudah hilang atau rusak lebih dari ½ bagiannya pada
permukaan indeks akibat karies maupun fraktur, gigi yang erupsinya belum mencapai ½
tinggi mahkota klinis.
3. Penilaian dapat dilakukan jika minimal ada dua gigi indeks yang dapat diperiksa.
Jumlah skor per orang maksimal 60 yang diperoleh dengan menjumlahkan seluruh skor
(grand total).
G. KUNCI KONSEP
1. Untuk mengukur kebersihan gigi dan mulut perlu digunakan suatu indeks.
2. Debris indeks (DI) digunakan untuk mengukur skor debris seseorang.
3. OHI-S digunakan untuk mengukur kebersihan gigi dan mulut, dengan cara
menjumlahkan skor debris indeks dan kalkulus indeks.
4. PHP digunakan untuk menilai debris setelah dilakukan pembersihan instruksi sikat gigi.
5. Sedangkan PHPM digunakan menilai kebersihan gigi dan mulut pada masa gigi-geligi
campuran.
Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!
Puskesmas Mawar Merah akan melakukan kegiatan survei kesehatan gigi dan mulut di
SD, SMP dan SMA di wilayah kerjanya. Survei yang akan dilakukan bertujuan untuk
mengetahui tingkat kebersihan gigi dan mulut rata-rata siswa sekolah, untuk selanjutnya
diberikan penyuluhan mengenai kebersihan gigi serta dilakukan tindakan kuratif sederhana di
sekolah. (Untuk soal nomor 1 sampai 3)
1) Indeks pengukuran kebersihan gigi dan mulut apa yang paling sesuai dilakukan pada
siswa SMP ....
A. DI
B. CI
C. OHI-S
D. PHP
E. PHPM
2) Indeks pengukuran kebersihan gigi dan mulut apa yang paling sesuai dilakukan pada
siswa SMA ....
A. DI
B. CPITN
C. OHI-S
D. GI
E. PHPM
3) Berapa skor indeks pengukuran kebersihan gigi dan mulut pada anak SMA untuk
dikatakan kriteria baik?
A. 0 – 0,6
B. 0 – 0,8
C. 0 – 1,2
D. 0 – 1,8
E. 0 – 3,0
4) Apa indeks pengukuran kebersihan gigi dan mulut yang paling sesuai dilakukan pada
pasien tersebut?
A. DI
B. CPITN
C. OHI-S
D. PHP
E. PHPM
5) Apa gigi yang tidak digunakan sebagai gigi wakil untuk pengukuran kebersihan gigi dan
mulut tersebut?
A. Gigi paling posterior yang tumbuh di kwadran kiri atas
B. Gigi kaninus atas kanan sulung atau permanen
C. Gigi molar satu atas kiri sulung atau premolar satu atas kiri
D. Gigi paling posterior yang tumbuh di kwadran kiri bawah
E. Gigi kaninus kiri bawah kanan sulung atau permanen
1) E
2) C
3) C
4) E
5) A
Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu mendefinisikan pengertian kalkulus.
2. Mampu menjelaskan perbedaan supra gingival dan sub gingival kalkulus.
3. Mampu menjelaskan terbentuknya kalkulus.
4. Mampu menjelaskan cara mencegah terjadinya kalkulus.
5. Mampu menjelaskan cara menghilangkan kalkulus?
Putri, dkk (2015) mengatakan bahwa kalkulus merupakan suatu masa yang mengalami
kalsifikasi yang terbentuk dan melekat pada permukaan gigi dan objek solid lainnya di dalam
mulut, misalnya restorasi dan gigi geligi tiruan. Kalkulus adalah plak terkalsifikasi. Kalkulus
jarang ditemukan pada gigi susu dan tidak sering ditemukan pada gigi permanen anak muda
usia. Meskipun demikian pada anak usia sembilan tahun kalkulus sudah dapat ditemukan pada
sebagian besar rongga mulut , dan pada hampir seluruh rongga mulut individu dewasa.
C. JENIS KALKULUS
1. Kalkulus Supragingival
Kalkulus supragingival adalah kalkulus yang melekat pada permukaan mahkota gigi
mulai dari puncak gingival margin dan dapat dilihat. Kalkulus ini berwarna putih kekuning-
kuningan, konsistensinya keras seperti batu tanah liat dan mudah dilepaskan dari permukaan
gigi dengan skeler. Warna kalkulus dapat dipengaruhi oleh pigmen sisa makanan atau dari
merokok. Kalkulus supragingival dapat terjadi pada satu gigi, sekelompok gigi atau pada
seluruh gigi. Banyak terdapat pada bagian bukal molar rahang atas yang berhadapan dengan
Stensen’s, pada bagian lingual gigi depan rahang bawah yang berhadapan dengan duktus
Wharton’s, selain itu kalkulus juga banyak terdapat pada gigi yang sering tidak digunakan.
Gambar 2.5
Kalkulus Supragingival
2. Kalkulus Subgingival
Kalkulus subgingival adalah kalkulus yang berada di bawah batas gingival margin,
biasanya pada daerah saku gusi dan tidak dapat terlihat pada waktu pemeriksaan. Untuk
menentukan lokasi dan pemeriksaan harus dilakukan probing dengan eksplorer, biasanya
padat dan keras, warnanya cokelat tua atau hijau kehitam-hitaman, konsistensinya seperti
kepala korek api dan melekat erat pada permukaan gigi.
(Sumber: [Link])
Gambar 2.6
Kalkulus Subgingival
Pengenalan cara sehari-hari yang efektif untuk menjaga oral hygiene seperti:
1. Sikat Gigi
Semua orang tahu tentunya cara yang satu ini, mungkin juga sudah dilakukan setiap hari.
Jadi yang penting di sini adalah pengenalan teknik sikat gigi yang tepat, memotivasi untuk sikat
gigi secara teratur dan pemilihan pasta gigi yang tepat. Teknik sikat gigi yang secara horizontal
adalah lazim dikenal umum, dan itu merupakan suatu kesalahan karena adanya cara demikian
lambat laun dapat menimbulkan resesi gingival dan abrasi gigi. Lebih lanjut lagi, penyakit-
penyakit periodontal akan lebih mudah terjadi. Pemilihan bulu sikat yang halus juga penting
supaya tidak melukai gusi. Hendaknya sikat gigi diganti sekurang-kurangnya tiap 3 bulan sekali
atau sampai bulu sikat terlihat mekar.
3. Dental Floss
Akhir-akhir ini mulai banyak diperkenalkan dan cukup ampuh membersihkan sela-sela
gigi. Tetapi harus menggunakan teknik yang tepat, karena jika tidak akan melukai gusi dan
terjadi peradangan.
4. Pembersih Lidah
Pembersih lidah juga mulai banyak digunakan, baik untuk membersihkan dorsum lingual
yang sering kali luput kita bersihkan saat sikat gigi. Tumpukan debris di dorsum lidah penuh
dengan kuman-kuman oportunis serta candida yang bermukim sebagai flora normal maupun
transient.
(Sumber: [Link])
Gambar 2.7
Operator yang Sedang Melakukan Tindakan Scaling
Sumber: [Link]
Gambar 2.8
Ultrasonic Scaler
Sumber: [Link]
Gambar 2.9
Pemolesan Gigi Menggunakan Bur Brush
Biasanya sesudah dibersihkan, gigi terasa lebih sensitif. Hal ini adalah wajar, terutama
bila sebelumnya sudah mempunyai masalah gigi sensitif. Karena permukaan dentin yang
terbuka, sebelumnya tertutup oleh calculus yang menghalangi gigi dari iritasi eksternal tapi
setelah dibersihkan permukaan dentin terbuka kembali dan menimbulkan rasa lebih sensitif.
Hal ini bisa diatasi dengan melakukan topical fluoridasi, perawatan desensitisasi oleh dokter
gigi dan perawatan di rumah, menggunakan pasta gigi khusus untuk gigi sensitif. Penggunaan
obat kumur yang mengandung chlorhexidine sebagai antimicrobial dan antibiotik oral juga
terkadang dibutuhkan untuk beberapa kasus terutama untuk pasien berpenyakit sistemik dan
pasien pasca-operasi jantung yang berisiko tinggi terinfeksi endocarditis bacterialis.
G. KUNCI KONSEP
1. Kalkulus adalah endapan yang melekat erat pada permukaan gigi dan objek solid
lainnya di dalam mulut.
2. Karang gigi terdiri dari 2 macam, yaitu supragingival kalkulus dan subgingival kalkulus.
Latihan Soal
Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!
Seorang pasien laki-laki berusia 35 tahun datang ke Puskesmas X, mengeluh pada gigi-
geliginya terdapat kotoran yang berwarna coklat dan pada saat menyikat gigi gusinya sering
berdarah, meskipun sudah menyikat gigi kotoran tersebut tidak hilang. Pasien ingin giginya
dibersihkan. (Untuk soal nomor 1 sampai 3)
1) Apa nama kotoran yang terdapat pada gigi geligi pasien tersebut?
A. Kalkulus
B. Supragingival kalkulus
C. Subgingival kalkulus
D. Stain
E. Materia alba
4) Zat yang akan berikatan dengan plak sehingga terkalsifikasi adalah ....
A. kalsium
B. karbohidrat
C. fosfor
D. protein
E. zink
5) Apa alat yang disarankan untuk digunakan oleh pasien tersebut agar gigi geliginya
bersih?
A. sikat gigi
B. sikat interdental
C. pembersih lidah
D. dental floss
E. proxabrush
1) C
2) C
3) B
4) A
5) D
Pintauli, Sondang dan [Link]. (2010). Menuju Gigi dan Mulut Sehat Pencegahan dan
Pemeliharaan. Medan : USU Press.
Purbowati, Rini. (2016). Hubungan Biofilm dengan Infeksi: Implikasi pada Kesehatan
Masyarakat dan Strategi Menggontrolnya. Jurnal Ilmiah Kedokteran Vol 5.
Putri, Megananda Hiranya, dkk. (2015). Ilmu Pencegahan Penyakit Jaringan Keras dan
Jaringan Pendukung Gigi. EGC: Jakarta
Riemann, H.P. and Cliver, D.O. (2006). Foodborne Infections and Intoxications, Third Edition.
Elsevier: USA.
Darby, M, Walsh, M. (2015). Dental Hygiene: Theory and Practice, 4th Edition. Elsevier
Saunders, US, St. Louis, Missouri..
Wilkins, E. (2017). Clinical Practice of Dental Hygiene, 12th Edition. Wolters Kluwer, US,
Philadelphia.
Darby, M. (2012). Mosby’s Comprehensive Review of Dental Hygiene, 7th Edition. Elsevier
Mosby, US, St. Louis, Missouri.
Noble, S. (2012). Clinical Textbook of Dental Hygiene and Therapy, 2nd Edition. Wiley-
Blackwell, UK, West Sussex.
Thomson, Evelyn M. (2013). Case Study in Dental Hygiene, 3rd Edition. Pearson Education,
US, New Jersy.
Logothetis, Demetra D. (2012). Local Anesthesia for The Dental Hygienist. Elsevier Mosby, US,
St. Louis, Missouri.
Prajer, R, Grosos, G. (2011). Dental Hygienist's Chairside Pocket Guide. F.A. Davis Company,
US, Philadelphia.
Pendahuluan
Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Gingiva
Gingiva merupakan bagian jaringan periodontal gigi yang paling luar. Gingiva merupakan
bagian dari membran mukosa mulut tipe mastikasi yang melekat pada tulang alveolar serta
menutupi dan mengelilingi leher gigi. Pada permukaan rongga mulut, gingiva meluas dari
puncak marginal gingiva sampai ke pertautan mukogingival. Pertautan mukogingival
merupakan batas antara gingiva dengan bagian 7 mukosa lainnya. Mukosa dan gingiva dapat
dibedakan dengan mudah, karena pada gingiva warnanya merah gelap dan permukaan gingiva
mengkilat atau licin. Gingiva di antara permukaan oral dan vestibular, berhubungan satu sama
lain melalui gingiva yang berada di ruang interdental.
Gingiva secara anatomis dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu gingiva cekat (attached
gingiva) dan gingiva tidak bergerak (unattached gingiva) yang terdiri atas gingiva bebas (free
gingiva) dan marginal gingiva (Putri,dkk. 2015).
Gambar 3.2
Bagian-bagian Gingva
b. Sulkus Gingiva
Sulkus gingiva adalah suatu celah antara gigi dan marginal gingiva. Sulkus gingiva ke arah
medial dibatasi oleh permukaan gigi dan ke arah lateral dibatasi oleh epitelium marginal
gingiva bagian dalam. Bagian dalam sulkus gingiva berbentuk seperti huruf V dan
kedalamannya berkisar antara 0-6 mm, dengan rata-rata 1,8 mm.
Sulkus gingiva berisi cairan yang berasal dari jaringan pengikat gingival. Cairan tersebut
merembes keluar melalui epitelium sulkus. Cairan tersebut berfungsi sebagai pembersih
c. Papila Interdental
Papila interdental atau gingiva interdental adalah bagian gingiva yang mengisi ruangan
interdental, yaitu ruangan di antara dua gigi yang letaknya berdekatan dari daerah akar
sampai titik kontak. Gingiva interdental berfungsi mencegah terjadinya penumpukan
makanan di antara dua gigi selama pengunyahan.
Sumber: [Link]
Gambar 3.3
Stiplling
Sumber: [Link]
Gambar 3.4
Tulang Alveolar
Tulang alveolar merupakan bagian maksila dan mandibula yang membentuk dan
mendukung soket gigi. Secara anatomis tidak ada batas yang jelas antara tulang alveolar
dengan maksila maupun mandibula. Bagian tulang alveolar yang membentuk dinding soket
gigi disebut alveolar proprium. Alveolar proprium ini didukung oleh bagian tulang alveolar
lainnya yang dikenal dengan nama tulang alveolar pendukung. Tulang alveolar membentuk
soktet yang mendukung dan melindungi akar gigi.
3. Ligamen Periodontal
Ligamen periodontal adalah suatu jaringan konektif, padat dan berserabut yang
menempati ruang di antara sementum dan tulang alveolar. Mengelilingi leher dan akar gigi
serta berkesinambungan dengan pulpa dan gingiva. Akar gigi melekat pada alveolus (soket
tulang) oleh ligamen periodontal, yang merupakan jaringan ikat kompleks, lembut, dan
mengandung banyak sel, pembuluh darah, saraf, limfa serta substansi ekstraseluler terdiri dari
bundel serat dan substansi dasar. Sebagian besar seratnya adalah kolagen, dan substansi
dasar terdiri dari berbagai protein dan polisakarida.
Sumber: [Link]
Gambar 3.5
Ligamen Periodontal
Bundel serat kolagen yang dikenal sebagai serat utama ligamen, berfungsi untuk
melekatkan sementum ke tulang alveolar dan bertindak sebagai bantalan untuk menguatkan
dan mendukung gigi. Bagian pokok serat tertanam dalam sementum dan tulang alveolar
disebut serat Sharpey. Fungsi sensorik disediakan oleh pasokan saraf melalui mekanisme
efisien proprioseptif. Pembuluh darah memberi suplai attachment apparatus dengan subtansi
zat gizi. Sel-sel khusus dari ligamen berfungsi untuk meresorbsi dan mengganti sementum,
ligamen periodontal, dan tulang alveolar.
Jaringan penyanggah (periodontal membrane) merupakan bagian yang menyelubungi
bagian akar gigi, yang berfungsi sebagai bantalan terhadap rangsangan tekanan. Jaringan
penyanggah ini terdiri atas jaringan konektif yang menghubungkan akar gigi dengan tulang
pada sisi yang bersebrangan.
Sumber: [Link]
Gambar 3.6
Serat-serat Utama Ligamen Periodontal
c. Kelompok horizontal
Merentang dalam arah tegak lurus terhadap as gigi dari sementum ke tulang alveolar.
Fungsinya sasma dengan alveolar crest yaitu mengimbangi dorongan dari arah yang lebih
apikal.
d. Kelompok oblique
Serat ini paling besar. Merentang miring dari sementum kearah koronal tulang alveolar.
Grup ini memiliki bagian terbesar dari tekanan vertikal pengunyahan dan mengubahnya
menjadi tarikan pada tulang alveolar.
e. Kelompok apikal
Merentang dari sementum ke arah tulang fundus dari soket. Kelompok ini tidak dijumpai
pada akar gigi yang belum sempurna terbentuk.
Serat lain adalah serat kolagen yang susunannya kurang teratur. Dijumpai pada jaringan
ikat intertisial diantara serat-serat utama. Serat – serat tersebut mengandung pembuluh
darah, limfatik dan saraf. Serat- serat lain dalam ligamentum periodontal:
a. Serat elastik jumlahnya sedikit
b. Serat oksitalan, terutama yang berada di sekeliling daerah pembuluh darah, tertanam
dalam sementum pada 1/3 servical akar gigi. Serat oksitalan disebut juga serta resisten
fibers.
4. Sementum
Sementum adalah jaringan mengapur menyerupai tulang yang menutupi akar gigi.
Sementum memiliki banyak ciri yang sama dengan jaringan tulang. Sementum tidak
Sumber: [Link]
Gambar 3.7
Letak Sementum pada Gigi
Sementum berasal dari sel mesenkimal folikel gigi yang berkembang menjadi
sementoblas. Sementoblas menimbun suatu matriks, disebut sementoid, yang mengalami
pertambahan pengapuran dan menghasilkan 2 jenis sementum, aselular dan selular.
Perbedaan bentuk dari sementum adalah sebagai berikut:
a. Acellular, extrinsic fiber cementum (AEFC) ditemukan di bagian koronal dan bagian
tengah dari akar dan kandungan utamanya adalah bundel dari serat Sharpey. Tipe
sementum ini berperan penting dalam melekatkan dan menghubungkan gigi dengan
tulang alveolar.
Sementum yang pertama kali ada disebut sementum primer, sedangkan sementum
yang baru terbentuk mengacu kepada sementum sekunder. Sementum sekunder biasanya
terbentuk sebagai hasil dari perlukaan yang bersifat fisika, kimiawi, maupun akibat bakteri,
namun penyebab yang paling sering ditemukan adalah akibat perlukaan secara fisikal atau
tekanan.
Fungsi utama dari sementum adalah sebagai perlekatan serabut ligament periodontal
yang menahan gigi untuk tetap pada posisinya dan berhubungan dengan jaringan sekitarnya.
Sementum, seperti dentin, dapat tumbuh secara terus menerus selama kehidupan gigi
tersebut. Beberapa fungsi sementum adalah sebagai berikut:
a. Menahan gigi pada soket tulang dengan perantaraan serabut prinsipal ligamen
periodonsium.
b. Mengompensasi keausan struktur gigi karena pemakaian dengan pembentukan terus
menerus.
c. Memudahkan terjadinya pergeseran mesial fisiologis.
d. Memungkinkan penyusunan kembali serabut ligamen periodonsium secara terus
menerus (Manson, JD. 1993)
D. KUNCI KONSEP
1. Jaringan periodontal merupakan jaringan pendukung gigi yang terdapat di sekeliling gigi.
Jaringan periodontal terdiri atas gingiva, tulang alveolar, ligamen periodontal dan
sementum. Fungsi secara umum dari jaringan periodontal adalah sebagai kesatuan yang
menjaga gigi tetap pada posisinya, dalam berbagai macam respons selama proses
pengunyahan.
2. Gingiva merupakan bagian jaringan periodontal gigi yang paling luar. Gingiva merupakan
bagian dari membran mukosa mulut tipe mastikasi yang melekat pada tulang alveolar
serta menutupi dan mengelilingi leher gigi.
3. Tulang alveolar merupakan bagian maksila dan mandibula yang membentuk dan
mendukung soket gigi.
Latihan Soal
Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!
Jaringan ini merupakan sistem fungsional jaringan yang mengelilingi gigi dan melekatkan
pada tulang rahang, dengan demikian dapat mendukung gigi sehingga tidak terlepas dari
soketnya. (Untuk soal nomor 1 dan 2)
2) Soket yang mendukung dan melindungi akar gigi dibentuk oleh ....
A. tulang kompak
B. tulang spongi
C. tulang alveolar
D. tulang periodontal
E. tulang gingiva
3) Jaringan adalah suatu jaringan konektif, padat dan berserabut, mengelilingi leher dan
akar gigi serta berkesinambungan dengan pulpa dan gingiva. Salah satu fungsi dari
jaringan ini adalah sebagai perlekatan gigi dengan tulang. (Untuk soal nomor 3 sampai
5) Jaringan yang dimaksud adalah ....
A. gingiva
B. sementum
1) B
2) C
3) D
4) C
5) D
Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu menjelaskan penyakit jaringan periodontal.
2. Mampu menyebutkan macam-macam penyakit jaringan periodontal dan penyebabnya.
3. Mampu menyebutkan macam-macam penyakit jaringan periodontal yang menyerang
gusi?
4. Mampu menyebutkan macam-macam penyakit periodontitis.
5. Mampu menjelaskan ciri seseorang terkena penyakit periodontitis.
Menurut Saputri (2018) penyakit periodontal merupakan suatu inflamasi yang terjadi
pada jaringan pendukung gigi. Penyakit periodontal yang paling sering dijumpai adalah
gingivitis dan periodontitis. Pada gingivitis, inflamasi hanya terbatas pada gingiva saja,
sedangkan pada periodontitis terjadi destruksi jaringan ikat dan tulang alveolar. Dalam upaya
melihat perkembangan penyakit periodontal diperlukan pemeriksaan yang sesuai sehingga
diagnosis yang tepat dapat ditegakkan. Pemeriksaan penyakit periodontal mencakup
pemeriksaan klinis dan penunjang (misalnya pemeriksaan radiograf).
Penyakit periodontal mengacu pada proses inflamasi maupun perubahan resesi pada
gingiva dan periodonsium. Gingivitis adalah proses inflamasi yang terjadi pada gingiva (tidak
terjadi kehilangan perlekatan). Jika tulang alveolar pendukung juga terkena proses inflamasi
pada periodonsium, maka hal ini disebut periodontitis. Istilah resesi atau gingival recession
mengacu pada kemunduran gingiva dan tulang alveolar ke arah apikal, yang seringkali terjadi
pada aspek labial tanpa adanya inflamasi klinis.
1. Gingivitis
Gingivitis adalah inflamasi gingiva. Pada pemeriksaan klinis terdapat gambaran
kemerahan di margin gingiva, pembengkakan dengan tingkat yang bervariasi, perdarahan saat
probing dengan tekanan ringan dan perubahan bentuk gingival (fisiologik). Terdapat
penambahan kedalaman poket (pseudopockets/poketsemu). Biasanya pada gingivitis tidak
terdapat rasa sakit (Fedi, dkk. 2004).
Gambar 3.8
Penyakit Jaringan Periodontal
Sebagian besar tipe gingivitis adalah yang disebabkan oleh plak, meskipun faktor
sekunder dapat juga berpengaruh terhadap manifestasi klinis dan menghasilkan subklasifikasi
sebagai berikut:
a. Gingivitis ulseratif nekrosis akut (ANUG)
ANUG adalah keadaan inflamasi gingiva yang akut, sangat nyeri, dan berkembang secara
progresif, yang dapat masuk pada tahap subakut dan kronis. Etiologi ANUG dapat
berasal dari:
1) Faktor Lokal
Misalnya oral hygiene yang jelek; plak didominansi bakteri Spirochetes,
Bacteroides, dan fusiform; arearetentif plak seperti gigi berjejal, dan restorasi
yang overhang; perokok (iritasilokal dari substansi tar.
2) Faktor Sistemik
Misalnya kesehatan umum yang jelek; fatigue atau stres psikis; merokok (nikotin
sebagai sympatheticomimetic dankemotaksin); umur; musim tahunan
(Rateitschak dkk, 1985).
Gingivitis ulseratif nekrosis dapat didiagnosis berdasarkan temuan klinis saja. Penyakit
timbul dengan tiba-tiba dan pasien mengeluhkan rasa sakit yang hebat pada gigi atau
gingivanya. Biasanya, pasien tidak dapat menentukan secara pasti tempat-tempat yang
terasa sakit. Rasa sakit lebih kuat di tempat terjadinya ulserasi. Tanda kedua yang paling
menonjol adalah perdarahan gingiva. Perdarahan sering terjadi secara spontan, pasien
sering menemukan tetesan darah pada bantalnya atau merasakan bau amis darah di
Tabel 3.1
Gambaran Klinis dan Histologis Gingivitis
Konsistensi keras, kaku Fibrosis karena terjadinya inflamasi kronis dalam waktu
yang lama
Poket gingival Inflamasi disertai ulserasi epitel sulkus dan pembesaran
gingiva
Sumber: [Link]
Gambar 3.9
Gingivitis Ringan
Sumber: [Link]
Gambar 3.10
Gingivitis Sedang
Sumber: [Link]
Gambar 3.11
Gingivitis Parah
Resesi gingiva (atrofi) adalah suatu kelainan mukogingiva. Resesi dapat terjadi karena
kelainan frenulum atau gingiva cekat.
Menurut Suproyo (2007), resesi gingiva mengakibatkan Hipersensitifitas Mudah terjadi
karies, dan Estetika yang jelek. Penyebab resesi gingiva antara lain:
a. Anatomis, yaitu tulang alveolar tidak memadai, contohnya gigi labioversi.
b. Kesalahan menyikat gigi.
c. Kesalahan alat gigi dalam mulut.
d. Akibat samping bedah peridontal.
Tanda klinis resesi gingiva juga dapat terjadi akibat cacat plat kortikal alveolar, yaitu
dehindensi dan fenestrasi. Dehidensi merupakan kehilangan tulang berbentuk celah pada plat
kortikal tulang alveolar, menyebabkan terbukanya permukaan akar. Sedangkan fenestrasi
alveolar adalah cacat berupa lubang di platkortikal, sehingga permukaan akar fasial atau
lingual terlihat.
2. Periodontitis
Menurut Fedi, dkk (2004), periodontitis adalah inflamasi jaringan periodontal yang
ditandai dengan migrasi epitel jungsional ke apikal, kehilangan perlekatan dan puncak tulang
Sumber: [Link]
Gambar 3.12
Periodontitis
Poket adalah pendalaman sulkus gingiva secara patologis karena penyakit periodontal.
Pendalaman sulkus dapat terjadi karena tiga hal:
a. Pergerakan tepi gusi bebas ke arah koronal, seperti pada gingivitis;
b. Perpindahan epitel jungsional ke arah apikal, bagian koronal epitel terlepas dari
permukaan gigi;
c. Kombinasi keduanya.
Baik poket supraboni maupun infraboni disebabkan oleh infeksi plak; akan tetapi
terdapat perbedaan pendapat dalam menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi
terbentuknya poket infraboni. Mekanisme etiologi yang telah dikemukakan adalah:
a. Adanya pembuluh darah yang besar pada satu sisi alveolus mungkin mempengaruhi
pembentukan poket infraboni.
b. Desakan makanan yang kuat ke daerah interproksimal dapat menyebabkan kerusakan
unilateral pada perangkat pendukung gigi dan rusaknya perlekatan epitel
c. Trauma pada jaringan periodontal dapat menyebabkan kerusakan puncak ligamen
periodonsium (trauma oklusi), yang jika sudah ada inflamasi, dapat mengakibatkan
migrasi epitel jungsional ke arah daerah terjadinya kerusakan.
d. Plak yang terdapat di daerah apikal gigi-gigi berdekatan yang maju dengan kecepatan
berbeda-beda ke arah apikal dapat menyebabkan kerusakan tulang alveolar yang lebih
cepat pada salah satu sisi dari dua gigi yang bersebelahan, sehingga menyebabkan
resorpsi tulang yang berbentuk vertikal.
D. MACAM-MACAM PERIODONTITIS
1. Periodontitis Prepubertas
Tipe ini adalah tipe yang terjadi setelah erupsi gigi sulung. Terjadi dalam bentuk yang
terlokalisir dan menyeluruh. Tipe ini jarang terjadi dan penyebarannya tidak begitu luas.
E. KUNCI KONSEP
1. Penyakit periodontal merupakan suatu inflamasi yang terjadi pada jaringan pendukung
gigi.
2. Macam-macam penyakit periodontal adalah gingivitis dan periodontitis.
3. Gingivitis adalah inflamasi gingiva sedangkan periodontitis adalah inflamasi jaringan
periodontal yang ditandai dengan migrasi epitel jungsional ke apikal, kehilangan
perlekatan dan puncak tulang alveolar.
4. Gingivitis dibagi menjadi gingivitis ringan, gingivitis sedang dan gingivitis berat.
5. Macam-macam periodontitis adalah periodontitis prepubertas, periodontitis juvenil,
periodontitis yang berkembang cepat dan Gingivo-periodontitis ulseratif nekrosis (NUG-
P).
Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!
Seorang pasien datang ke Poli Gigi Puskesmas X mengeluhkan saat menyikat gigi sering
kali berdarah. Setelah dilakukan pemeriksaan terlihat gigi geliginya kotor, gusi terlihat
berwarna merah, terdapat sedikit pembengkakan, terlihat sedikit berdarah saat gusi disentuh
namun masih terlihat stippling. (Untuk soal nomor 1 dan 2)
2) Penyakit gusi yang dialami pasien tersebut masuk dalam kategori ....
A. mild gingivitis
B. moderate gingivitis
C. severe gingivitis
D. pragnancy gingivitis
E. gingivitis marginalis
Seorang pasien berusia 13 tahun mengeluhkan gusinya bengkak dan mudah berdarah.
Saat dilakukan pemeriksaan gigi geliginya terlihat bersih, namun terlihat juga bahwa
mahkota gigi depan kanan atas patah . Setelah diwawancara pasien mengaku terjatuh
dari sepeda saat akan pergi sekolah. (Untuk soal nomor 3 sampai 5)
3) Apa yang menyebabkan gusi pasien tersebut bengkak dan mudah berdarah?
A. pengaruh hormon
B. terjatuh dari sepeda
C. malas menyikat gigi
D. sering makan manis dan lengket
E. belum diketahui penyebabnya
1) E
2) A
3) A
4) B
5) C
Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu mendefinisikan pengertian alat ukur.
2. Mampu mendefinisikan pengertian indeks.
3. Mampu menjelaskan fungsi pengukuran jaringan periodontal.
B. ALAT UKUR
Alat ukur adalah benda atau alat yang digunakan untuk mengetahui nilai kuantitatif dari
suatu benda atau objek. Pengukuran merupakan pemberian angka terhadap suatu objek
tertentu yang dimiliki oleh seseorang atau suatu objek tertentu yang mengacu pada aturan
dan formulasi yang jelas. Aturan atau formulasi tersebut harus disepakati oleh para ahli.
Tujuan pengukuran adalah untuk menghasilkan gambaran berupa angka-angka berdasarkan
hasil pengamatan mengenai beberapa ciri tentang suatu objek. Pengukuran memiliki dua
karakteristik utama, yaitu:
1. Penggunaan angka atau skala tertentu.
2. Menurut suatu aturan atau formula tertentu.
Alat ukur jaringan periodontal berarti alat yang digunakan untuk mengetahui status
jaringan periodontal.
C. INDEKS
Menurut Putri, dkk (2015) indeks adalah suatu angka yang menunjukkan keadaan klinis
yang didapat pada waktu dilakukan pemeriksaan, dengan cara mengamati objek yang akan
diukur sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk pengukuran tersebut. Misalnya untuk
mengukur kesehatan jaringan periodontal maka kita harus mengamati perubahan-perubahan
yang terjadi pada gingiva, ada atau tidaknya plak maupun kalkulus serta perdarahan pada
gingiva. Apabila kita sudah mengetahui nilai atau angka kesehatan jaringan periodontal kita
dapat memberikan pendidikan dan penyuluhan, motivasi dan evaluasi yaitu dengan melihat
kemajuan ataupun kemunduran status kesehatan jaringan periodontal seseorang atau
sekelompok orang.
Kita dapat membedakan penilaian apabila penilaian yang dilakukan oleh pemeriksaan
seragam. oleh karena itu pada saat pengukuran diperlukan sekali ketelitian dan keseragaman
penilaian di antara pemeriksaan sehingga diperoleh nilai yang akurat dan seragam dari setiap
D. KUNCI KONSEP
1. Alat ukur adalah benda atau alat yang digunakan untuk mengetahui nilai kuantitatif dari
suatu benda atau objek.
2. Alat ukur jaringan periodontal berarti alat yang digunakan untuk mengetahui status
jaringan periodontal.
3. Indeks adalah suatu angka yang menunjukkan keadaan klinis yang didapat pada waktu
dilakukan pemeriksaan, dengan cara mengamati objek yang akan diukur sesuai dengan
ketentuan yang berlaku untuk pengukuran tersebut.
4. Pengelompokan Indeks periodontal berdasarkan tujuan penggunaannya adalah:
Mengukur derajat inflamasi gingiva, Mengukur derajat destruksi periodontal, Mengukur
jumlah penumpukan plak, Mengukur jumlah penumpukan kalkulus dan Menilai
kebutuhan perawatan.
Latihan Soal
Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!
2) Angka yang menunjukkan keadaan klinis yang didapat pada waktu dilakukan
pemeriksaan kesehatan jaringan periodontal adalah ....
A. Indeks
B. Pengukuran
C. Alat ukur
D. Alat ukur jaringan periodontal
E. Periodontal probe
1) D
2) A
3) B
Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu mendefinisikan pengertian CPITN.
2. Mampu menjelaskan alat ukur yang digunakan untuk melakukan pemeriksaan CPITN.
3. Mampu mendefinisikan pengertian GI.
4. Mampu mendefinisikan pengertian MGI.
5. Mampu menjelaskan perbedaan GI dan MGI.
Menurut Putri, dkk (2015) CPITN adalah indeks resmi yang digunakan oleh WHO untuk
mengukur kondisi jaringan periodontal serta perkiraan akan kebutuhan perawatannya
dengan menggunakan sonde khusus yaitu Periodontal Examining Probe.
Sumber: [Link]
Gambar 3.13
Periodontal Examining Probe
Sumber: [Link]
Gambar 3.14
Cara Melalukan Probing
Gigi Index CPITN terbagi dan tergantung atas tiga kelompok umur yaitu:
1. Umur 20 tahun atau lebih.
2. Umur 16 tahun sampai 19 tahun.
3. Umur kurang dari 15 tahun.
Lebih gampangnya, tentang kelompok umur, gigi indax dan skornya adalah sebagai
berikut:
1. Umur 20 tahun atau lebih, gigi index yang diperiksa adalah 1.7, 1.6, 1.1, 2.1, 2.6, 2.7, 3.7,
3.6, 3.1, 4.1, 4.6, 4.7, dengan skor 0, 1, 2, 3, 4.
2. Umur 16 tahun sampai 19 tahun, gigi index yang diperiksa adalah 1.6, 1.1, 2.6, 3.6, 3.1,
4.6, dengan skor 0, 1, 2, 3, 4.
3. Umur kurang dari 15 tahun, gigi index yang diperiksa adalah sama dengan 16-19 tahun,
dengan skor 0,1, 2.
Dari data status periodontal yang diperoleh dengan menggunakan kode tersebut,
perawatan dikategorikan sebagai berikut:
Menurut Putri, dkk (2015) gingival indeks pertama kali diusulkan pada tahun 1963 untuk
menilai tingkat keparahan dan banyaknya peradangan gusi pada seseorang atau pada subjek
di kelompok populasi besar. GI hanya menilai keradangan gusi. Menurut metode ini, keempat
area gusi pada masing-masing gigi (fasial, mesial distal dan lingual) dinilai tingkat
peradangannya dan diberi skor 0-3.
Pada modifikasi gingival indeks (MGI), terdapat dua perbedaan dengan GI yaitu:
1. tidak ada tindakan probing untuk menilai ada atau tidaknya perdarahan;
2. adanya definisi baru mengenai gingivitis ringan dan gingivitis sedang.
G. KUNCI KONSEP
1. CPITN atau Community Periodontal Index for Treatment Needs adalah indeks resmi yang
digunakan oleh WHO untuk mengukur kondisi jaringan periodontal serta perkiraan akan
kebutuhan perawatannya dengan menggunakan sonde khusus yaitu Periodontal
Examining Probe. Caranya, tanpa menyebabkan rasa sakit atau tidak enak probe
dimasukkan ke dalam saku gigi, dengan ujungnya yang berupa bola digeserkan
mengikuti konfigurasi anatomi dari permukaan akar gigi.
2. GI hanya menilai keradangan gusi. Menurut metode ini, keempat area gusi pada masing-
masing gigi (fasial, mesial distal dan lingual) dinilai tingkat peradangannya dan diberi
skor 0-3. Pertimbangan dikembangkannya MGI yang menghilangkan tindakan probing
adalah karena probing dianggap dapat mengganggu plak dan mengiritasi gingival skor
penilaian MGI 0-4.
Latihan Soal
Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!
Petugas kesehatan sedang melakukan pemeriksaan kesehatan gusi pada seorang pasien
berusia 43 tahun. Pada saat dilakukan pemeriksaan terdapat peradangan sedang,
terlihat warna kemerahan, terdapat edema, terdapat pula perdarahan. (Untuk soal
nomor 3 sampai 5)
4) Setelah pemeriksaan telah dilakukan skor akhir yang didapat adalah 1,5, maka kriteria
gingivanya adalah ....
A. sehat
B. perdarahan
C. peradangan ringan
D. peradangan sedang
E. peradangan berat
1) A
2) C
3) C
4) C
5) B
Manson, J.D. dan Eley, B.M. (1993). Buku Ajar Periodontiti. Jakarta: Hipokrates.
Putri, Megananda Hiranya, dkk. (2015). Ilmu Pencegahan Penyakit Jaringan Keras dan
Jaringan Pendukung Gigi. Jakarta: EGC.
Rateitschak, K.H, dkk. (1985). Colv Atlasuf Periodontity. Georg ThiemeVerlog Sturagat. New
York.
Saputri, Dewi. (2018). Gambaran Radiografi pada Penyakit Jaringan Periodontal. Jurnal of
Syiah Kuala Dentistry Society. Vol 3.
Darby, M, Walsh, M. (2015). Dental Hygiene: Theory and Practice, 4th Edition. Elsevier
Saunders, US, St. Louis, Missouri.
Wilkins, E. (2017). Clinical Practice of Dental Hygiene, 12th Edition. Wolters Kluwer, US,
Philadelphia.
Darby, M. (2012). Mosby’s Comprehensive Review of Dental Hygiene, 7th Edition. Elsevier
Mosby, US, St. Louis, Missouri.
Noble, S. (2012). Clinical Textbook of Dental Hygiene and Therapy, 2nd Edition. Wiley-
Blackwell, UK, West Sussex.
Thomson, Evelyn M. (2013). Case Study in Dental Hygiene, 3rd Edition. Pearson Education, US,
New Jersy.
Prajer, R, Grosos, G. (2011). Dental Hygienist's Chairside Pocket Guide. F.A. Davis Company,
US, Philadelphia.
Pendahuluan
Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu mendefinisikan pewarnaan pada gigi.
2. Mampu menjelaskan pengertian stain ekstrinsik dan intrinsik.
3. Mampu menjelaskan contoh stain ekstrinsik.
4. Mampu menjelaskan pengertian stain eksogen dan stain endogen.
5. Mampu menjelaskan contoh stain endogen.
Menurut Putri, dkk (2015) stain (pewarnaan pada gigi) adalah deposit berpigmen pada
permukaan gigi. Stain merupakan masalah estetik dan tidak menyebabkan peradangan pada
gingiva. Penggunaan produk tembakau, teh, kopi, obat kumur tertentu dan pigmen di dalam
makanan menyebabkan terbentuknya stain. Stain akibat pemakaian produk-produk tersebut
menghasilkan permukaan yang kasar sehingga mudah ditempeli oleh sisa makanan dan
kuman yang akhirnya membentuk plak. Apabila tidak dibersihkan, plak akan mengeras dan
membentuk karang gigi (calculus) yang dapat merambat ke akar gigi, akibatnya gusi mudah
berdarah, gigi gampang goyah, dan mudah tanggal.
Gangguan yang diakibatkan oleh stain terutama adalah masalah estetik. Endapan stain
yang menebal dapat membuat kasar permukaan gigi yang selanjutnya akan menyebabkan
penumpukan plak sehingga mengiritasi gusi didekatnya. Stain tertentu, mengindikasikan
dilakukannya evaluasi kebersihan mulut dan perawatan yang berkaitan dengan kebersihan
mulut.
Sumber: [Link]
Gambar 4.1
Stain
Pewarnaan yang diakibatkan oleh noda yang terdapat di dalam email dan dentin.
Menurut Mangoen Prasodjo (2004) pewarnaan yang mengalami diskolorasi atau perubahan
warna yang terjadi semasa pembentukan struktur gigi. Perubahan warna dapat
diklasifikasikan sebagai ekstrinsik dan intrinsik, perubahan warna ekstrinsik ditemukan pada
permukaan luar gigi dan biasanya berasal dari lokal, misalnya noda tembakau yang
menyebabkan warna gigi menjadi coklat ke kuning-kuningan sampai hitam, pewarnaan karena
makanan dan minuman menyebabkan gigi menjadi gelap, pewarnaan karena nitrat perak,
bercak kehijauan yang dihubungkan dengan membran Nasmyth pada anak-anak. Perubahan
C. KLASIFIKASI STAIN
Gambar 4.2
Yellow Stain
2) Brown Stain
Brown stain merupakan suatu pelikel tipis, translusen, biasanya bebas kuman yang
mengalami pigmentasi. Stain terjadi pada orang yang kurang baik menyikat giginya
atau menggunakan pasta gigi yang aksi pembersihannya kurang baik. Sering
dijumpai pada permukaan bukal gigi molar rahang atas dan permukaan lingual
insisif rahang bawah.
Gambar 4.3
Brown Stain
a. Tobacco Stain
Tembakau menyebabkan deposit yang berwarna cokelat tua atau hitam dan melekat
erat serta menyebabkan perubahan warna pada gigi. Staining dari tembakau ini disebabkan
oleh karena pembakaran dan adanya penetrasi air tembakau ke dalam ceruk dan fisura email
dan dentin. Terjadinya stain ini tidak selamanya bergantung pada kehebatan merokok
seseorang tetapi juga bergantung pada kutikula yang telah terlebih dahulu terbentuk yang
akan melekatkan produk bakteri ke permukaan gigi.
Sumber: [Link]
Gambar 4.4
Tobacco Stain
Sumber: [Link]
Gambar 4.5
Black Stain
c. Green Stain
Stain yang berwarna hijau atau kuning kehijau-hijauan yang biasa dijumpai pada anak-
anak. Green stain dianggap sebagai kutikula email yang, mengalami pewarnaan, tetapi
anggapan ini belum dapat dibuktikan dengan jelas. Green stain biasanya terjadi pada
permukaan labial gigi anterior rahang atas pada pertengahan gingival. Green stain dapat
terjadi pada semua umur, tetapi lebih sering terjadi pada anak-anak. Anak laki-laki lebih sering
daripada anak perempuan.
Gambar 4.6
Green Stain
Stain ini dapat dikumpulkan dari gigi permanen. Komposisinya terdiri atas:
1) Bakteri kromogenik dan fungi.
2) Hemoglobin yang mengalami dekomposisi, dan
3) Elemen-elemen anorganik termaksud kalsium, kalium, natrium, silikon, magnesium,
fosfor dan elemen lainnya dalam jumlah kecil.
Green stain adalah akibat dari kebersihan mulut yang terabaikan. Bakteri kromogenik,
dan pendarahan gingival. Faktor predisposisinya adalah terdapatnya tempat retensi dan
proliferasi bakteri kromogenik seperti plak dan debris makanan. Adapun bahan-bahan lain
yang dapat menyebabkan pewarnaan berwarna hijau adalah:
1) Bahan-bahan yang mengandung klorofi.
2) Debu industri yang merupakan logam, dan
3) Beberapa jenis obat-obatan, termasuk merokok akan menimbulkan pewarnaan hijau
keabu-abuan.
d. Orange Stain
Orange stain lebih jarang dijumpai dibandingkan dengan green stain atau brown stain.
Terbentuknya oleh mikroorganisme kromogenik, seperti serratia marcescense dan
flavorbacterium lutesconts.
Gambar 4.7
Metalic Stain
2. Stain Intrinsik
Stain instrinsik terjadi di dalam subtansi gigi dan tidak dapat dihilangkan dengan teknik
skaling maupun poles. Contoh sumber luar yang dapat menyebabkan stain instrinsik adalah
bahan tambal amalgam, obat-obatan perawatan pulpa dan obat-obatan. Perak amalgam
dapat memberi warna abu-abu kehitaman pada struktur gigi di sekitar restorasi, ion-ion logam
berpindah dari tambalan amalgam ke dalam email dan dentin. Ion-ion perak, timah, dan
merkuri akan berkontak dengan debris pada batas gigi dan tambalan dan membentuk sulfide,
yang dapat menyebabkan korosi (karat).
Begitu pula copper amalgam yang digunakan untuk menambal gigi sulung dapat
memberi warna kehijau-hijauan. Beberapa bahan yang digunakan untuk perawatan
endodontik juga dapat mewarnai gigi. Perak nitrat memberi warna kehitaman, minyak volatile
memberi warna cokelat kekuningan, lodine pekat, kecokelatan, Aureomycin, kuning, dan
bahan pengisi saluran akar yang mengandung perak memberi warna hitam.
Obat-obatan lain seperti aplikasi topikal dengan stannous fluoride dapat memberikan
pewarnaan cokelat muda hingga cokelat tua oleh karena pembentukan timah sulfide.
Pewarnaan ini sering berlokasi di ceruk dan fisura oklusal gigi-gigi posterior dan
sepertiga servikal dilabial gigi-gigi anterior, di lesi karies dan pre karies, dan ditambalan
1. Stain eksogen
Stain eksogen berkembang atau berasal dari sumber-sumber di luar gigi, stain eksogen
dapat berupa ekstrinsik dan berada pada permukaan luar gigi atau intrinsik dan menyatu
dengan stuktur gigi.
a. Merokok
Merokok merupakan masalah kesehatan masyarakat yang dapat mengakibatkan
beberapa penyakit diantaranya penyakit periodontal (Alfi, Satiti. 2009). Dalam asap rokok
yang dihisap mengandung zat kimia beracun yang terdiri dari komponen gas (85%) dan
partikel. Komponen gas asap rokok adalah karbonmonoksida, amoniak, asam hidrosianat,
nitrogen oksida dab formaldehid. Partikelnya berikut tar, indol, nikotin, timah hitam, karbarzol
dan kresol. Zat-zat ini beracun, mengiritasi dan karsinogen. Penelitian yang dilakukan oleh
Macgregor, Edgar dan Greenwood, menemukan bahwa kecenderungan tumbuhnya plak tidak
berbeda antara perokok dan bukan perokok, terdapat berbagai macam zat beracun antara
lain Tar yang dapat diendapkan pada permukaan gigi dan akar gigi sehingga permukaan gigi
menjadi kasar dan mempermudah perlekatan plak.
b. Minuman Berwarna
Minuman merupakan bahan yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup, yang berguna
bagi kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu, kualitas minuman harus terjamin agar
konsumen sebagai pemakaian produk minuman dapat terhindar dari penyakit akibat minum
terlebih minuman yang mengandung bahan tambahan seperti bahan pengawet. Definisi
minuman adalah segala sesuatu yang dapat dikonsumsi dan dapat menghilangkan rasa haus.
Minuman pada umumnya berbentuk cair, namun ada pula berbentuk padat seperti es krim
atau es lilin. Minuman kesehatan adalah segala sesuatu yang dikonsumsi yang dapat
menghilangkan rasa haus dan dahaga uga mempunyai efek menguntungkan terhadap
kesehatan (Winarti, 2006). Beberapa minuman berwarna antara lain:
c. Teh
Teh adalah minuman yang mendunia, hampir semua orang mengenal dan
mengkonsumsinya secara rutin. Salah satu jenisnya adalah teh hitam yang kaya akan tannin,
d. Kopi
Kopi (coffea spa) adalah spesies tanaman berbentuk pohon dan termaksud dalam family
rubiaceae dan genus coffea. Tanaman ini tumbuh tegak, bercabang dan dapat mencapai tinggi
12 m. Tanaman kopi terdiri dari jenis coffea Arabica, coffea robusta dan coffea liberica.
Tanaman kopi merupakan komoditas ekspor yang mempunyai nilai ekonomis yang relative
tinggi di pasaran dunia, di samping merupakan salah satu komoditas unggulan yang
dikembangkan di Indonesia. Sudah hampir tiga abad kopi di usahakan penanamannya di
Indonesia untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di dalam negeri dan luar negeri. Kopi
merupakan salah satu minuman yang paling digemari banyak orang. Dari setiap orang di
dunia, salah satunya adalah peminum kopi. Kopi memang sungguh nikmat jika diminum baik
pagi hari, atau saat malam hari ketika pekerjaan menumpuk. Minum kopi ternyata dapat
meningkatkan risiko terkena stroke. Kafein dalam kopi dapat menyebabkan insomnia, mudah
gugup, sakit kepala, merasa tegang dan cepat marah. Kafein dan produk terkait, menyebabkan
noda gigi. Kafein juga memiliki lapisan plak yang ada pada permukaan gigi akan ternoda sambil
minum kopi, yang mengarah ke noda kopi ekstrinsik, yang dapat diobati dengan mudah.
Namun terkadang, orang yang kecanduan produk kafein, seperti kopi, mungkin mendapatkan
noda kopi pada gigi selama jangka waktu yang panjang, yang lebih sulit untuk mengobatinya.
Orang-orang yang telah memiliki gigi berwarna restorasi dilakukan, terutama pada gigi depan
mereka, berada pada risiko lebih besar bagi noda untuk berkembang.
e. Minuman Ringan
Minuman ringan (Soft Drink) Coca-Cola diciptakan oleh Dr. John S. Pemberton, seorang
ahli farmasi dan ahli minuman dari Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, pada bulan Mei 1886. Ia
mencampurkan suatu ramuan khusus dengan gula murni menjadi sirup yang beraroma segar
dan berwarna karamel, kemudian diaduk bersama air murni. Minuman ini kemudian dikenal
dengan nama Coca-Cola. Pada awalnya penjualan minuman ini dilakukan dengan
menempatkan minuman ringan (Soft Drink) tersebut di dalam guci besar yang diletakkan
ditempat-tempat strategis. Namun adanya peningkatan jumlah pembelian menyebabkan
penggunaan guci tersebut digantikan dengan kemasan botol yang lebih praktis.
The Coca-Cola Company didirikan tahun 1892 oleh Asa G. Chandler di Atlanta yang juga
mempatenkan merek dagang Coca-Cola. Perusahaan ini merupakan induk dari semua
2. Stain endogen
Stain endogen berkembang atau berasal dari gigi. Stain endogen selalu bersifat intrinsik
dan biasanya mewarnai dentin yang terefleksi pada email. Stain yang dapat menyatu dengan
struktur gigi dari arah dalam dan dihubungkan dengan periode perkembangan gigi. Dapat
berupa:
(Sumber: [Link])
Gambar 4.8
Gigi dengan Pulpa Non Vital
3. Pewarnaan Tetrasiklin
Antibiotik tetrasiklin digunakan secara luas untuk melawan bermacam-macam infeksi.
Antibiotik ini mempunyai afinitas dengan jaringan tubuh yang termineralisasi dan diresorbsi
oleh tulang dan gigi. Antibiotik ini dapat menembus plasenta dan masuk ke dalam sirkulasi
darah janin. Pewarnaan pada gigi anak terjadi jika obat ini diberikan kepada ibu yang hamil
trisemester ketiga atau bayi atau anak usia dini. Pewarnaan yang terjadi pada gigi dapat
berwarna hijau muda hingga kuning tua, atau abu-abu kecokelatan. Pewarnaan yang terjadi
bergantung pada dosis obat, lamanya waktu mengonsumsi antibiotik, dan jenis tetrasiklin.
Pewarnaan dapat bersifat generalist ( menyeluruh) atau terbatas.
Gambar 4.9
Stain Akibat Tetrasiklin
Pada hipoplasia email, gangguan, pada ameloblas terjadi dalam jangka waktu pendek.
Sifatnya dapat sistemik hipoplasia. Gambaran klinis kondisi ini adalah adanya white spot atau
lubang-lubang yang menyertai gigi yang bererupsi. Dengan berjalannya waktu. White spot
tersebut dapat terwarnai oleh pigmen makanan atau subtansi lain yang masuk ke dalam
mulut. Fluorisasi gigi awalnya disebut brown stain. Proses terjadinya fluorosis gigi adalah
sebagai berikut:
a. Terjadi hipomineralisasi email akibat terlalu banyak menelan ion fluoride dari air minum
(lebih dari 2 ppm) selama periode mineralisasi. Perubahan bentuk email adalah akibat
dari keracunan pada saat ameloblas.
b. Ketika gigi erupsi, terlihat white spot atau daerah-daerah yang kemudian akan terwarnai
oleh pigmen oral dan tampak cokelat muda atau cokelat tua.
c. Pengaruh yang lebih parah dari kelebihan fluoride selama perkembangan gigi adalah
terbentuknya retakan atau lubang-lubang pewarnaan berpusat di sini.
E. KUNCI KONSEP
1. Stain (pewarnaan pada gigi) adalah deposit berpigmen pada permukaan gigi. Stain
merupakan masalah estetik dan tidak menyebabkan peradangan pada gingiva.
Gangguan yang diakibatkan oleh stain terutama adalah masalah estetik.
2. Endapan stain yang menebal dapat membuat kasar permukaan gigi yang selanjutnya
akan menyebabkan penumpukan plak sehingga mengiritasi gusi di dekatnya.
3. Stain berdasarkan lokasi dibagi atas; stain ekstrinsik yaitu terjadi pada permukaan luar
gigi dan dapat dihilangkan dengan prosedur menyikat gigi, skaling dan/atau poles; dan
stain intrinsik yaitu terjadi di dalam subtansi gigi dan tidak dapat dihilangkan dengan
teknik skaling maupun poles.
4. Sedangkan stain berdasarkan sumbernya dibagi atas; stain eksogen berkembang atau
berasal dari sumber-sumber di luar gigi, stain eksogen dapat berupa ekstrinsik dan
berada pada permukaan luar gigi atau intrinsik dan menyatu dengan struktur gigi; dan
stain endogen yaitu berkembang atau berasal dari gigi dan selalu bersifat intrinsik dan
biasanya mewarnai dentin yang terefleksi pada email.
Latihan Soal
Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!
Seorang petani berusia 45 tahun mempunyai kebiasaan merokok. Setelah diperiksa gigi
geliginya terdapat kotoran berwarna kehitaman yang disebabkan oleh bakteri kromogenik.
Hal yang sama juga terjadi pada anak sulungnya berusia 23 tahun yang juga mempunyai
kebiasaan merokok, terdapat kotoran berwarna kehitaman pada giginya, tetapi setelah
dilakukan pemeriksaan tidak terdapat bakteri kromogenik pada rongga mulutnya. (Untuk soal
nomor 1 sampai 3)
2) Sedangkan pewarnaan yang terjadi pada anak sulung petani tersebut adalah ....
A. Yellow stain
B. Brown stain
C. Black stain
D. Tobacco stain
E. Metalic stain
4) Berdasarkan kasus di atas, pewarnaan pada gigi pasien yang ditambal adalah
berwarna ....
A. Abu-abu
B. Hitam
C. Coklat
D. Abu-abu kehitaman
E. Coklat kehitaman
1) C
2) D
3) A
4) D
5) B
Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu menyebutkan bahan yang terkandung dalam asap rokok tembakau.
2. Mampu mendefinisikan pengertian secondhand-smoke.
3. Mampu mendefinisikan pengertian Tar.
4. Mampu menjelaskan masalah kesehatan gigi yang ditimbulkan oleh tembakau yang ada
pada rokok.
Menurut Darby dan Walsh tembakau adalah penyebab utama penyakit dan kematian
yang bisa dicegah di Amerika Serikat. Setiap tahun, lebih dari 450.000 orang meninggal akibat
penyakit terkait tembakau. Sangat penting bahwa semua penyedia layanan kesehatan menilai
dan mengobati penggunaan tembakau untuk meningkatkan kemungkinan penghentian
tembakau. Penghentian tembakau terjadi ketika seseorang menghentikan penggunaan
tembakau dengan tujuan mencapai pantangan permanen. Meskipun beberapa pengguna
tembakau mencapai pantangan permanen selama upaya berhenti awal, mayoritas tetap
menggunakan tembakau dan biasanya siklus melalui beberapa periode pantang dan kambuh
(yaitu, kembali ke penggunaan tembakau biasa). Semua tembakau mengandung nikotin, obat
yang sangat adiktif yang menciptakan ketergantungan fisik dan psikologis pada tembakau .
Ketergantungan terhadap tembakau menyulitkan individu untuk menghentikan penggunaan
tembakau walaupun mereka memiliki masalah kesehatan. Ketergantungan terhadap
tembakau adalah gangguan kronis yang ditandai dengan kerentanan kambuh yang
berlangsung selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Relaps kemungkinan disebabkan
oleh sifat kronis ketergantungan tembakau; itu bukan akibat dari kegagalan pribadi seorang
dokter, dan itu bukan kegagalan dari pihak klien. Relapsnya ketergantungan akan tembakau
membutuhkan kebutuhan akan mobil yang berkelanjutan dan bukan hanya yang akut. E. 2
Seperti gangguan kronis lainnya (mis., Penyakit periodontal, hipertensi, diabetes), ahli
kesehatan gigi yang menemui klien yang tergantung pada tembakau didorong untuk
memberikan nasihat, konseling, dan rujukan yang berkelanjutan. Meskipun berpotensi
kambuh, namun, banyak perawatan efektif tersedia untuk mempromosikan penghentian
tembakau.
Tembakau oral dan tembakau kunyah, yang juga dikenal sebagai tembakau ludah (tanpa
asap), berhubungan dengan kanker dan penyakit kardiovaskular. Tembakau oral (dikenal
sebagai snus di Swedia dan beberapa negara lain) adalah daun tembakau yang ditumbuk
halus, dikemas longgar atau dalam kantong teh mirip kantong teh. Pengguna tembakau
menempatkan sedikit tembakau oral di antara pipi dan gusi. Mengunyah tembakau adalah
daun tembakau yang diparut lebih kasar. Pembuat tembakau menempatkan "chaw"
tembakau daun longgar atau "sumbat" tembakau yang dipadatkan di pipi.
Pengguna tembakau dan mengunyah oral biasanya memuntahkan jus tembakau dan air
liur yang dihasilkan, tetapi kadang-kadang pengguna tersebut menelannya. Sebagian besar
produk tembakau meludah mengandung nitrosamin dalam jumlah yang jauh lebih besar
Sumber: [Link]
Gambar 4.10
Daun Tembakau
Bahan utama dari pembuatan rokok adalah tembakau. Asap rokok tembakau
mengandung gas dan bahan-bahan kimia yang bersifat racun atau karsinogenik. Banyaknya
komponen bahan kimia tergantung pada jenis tembakau, temperatur pembakaran, panjang
Sumber: [Link]
Gambar 4.11
Tembakau Kering
Menurut Sitepoe (1997), rokok berdasarkan bahan baku atau isi dibagi tiga jenis :
1. Rokok Putih
2. Rokok putih merupakan rokok yang bahan baku atau isinya hanya daun tembakau yang
diberi saus untuk mendapatkan efek rasa atau aroma tertentu.
3. Rokok Kretek
4. Rokok kretek merupakan rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun tembakau
dan cengkeh yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa atau aroma tertentu.
5. Rokok Campur
Rokok campur merupakan rokok yang dihisap oleh seseorang dalam waktu tidak tentu
dengan jenis rokok kretek dan rokok putih.
Gambar 4.12
Kandungan Rokok
1. Bau Mulut
Merokok dapat menyebabkan timbulnya bau mulut (halitosis). Bau mulut ini tidak
dapat diatasi dengan menyikat gigi atau menggunakan obat kumur.
Gambar 4.13
Keratosis
Ketika seseorang membantu klien dengan upaya mereka untuk berhenti menggunakan
tembakau, semua aspek kecanduan nikotin harus dihadapi dan strategi koping alternatif
diidentifikasi. Mendukung dan membantu klien dengan pemecahan masalah sangat penting
untuk promosi penghentian tembakau.
Tabel 4.1
Pendekatan Lima M terhadap Penghentian Tembakau:
Meminta, Menasihati, Menilai, Membantu dan Mengatur
Menilai (kesiapan untuk “Apakah Anda ingin mencoba berhenti merokok di bulan
berhenti) berikutnya? Jika demikian, kami dapat membantu. "
Mengatur Untuk klien yang tidak siap untuk berhenti, sebutkan: "Jika
Anda setuju, saya ingin menghubungi Anda di janji temu
perawatan kesehatan gigi berikutnya untuk melihat di
mana Anda berada dalam pengambilan keputusan."
(Dokumentasikan dalam bagan).
G. MEMINTA
H. MENASIHATI
I. MENILAI
Untuk semua klien yang melaporkan penggunaan tembakau, ahli kebersihan gigi
menentukan pengguna tembakau mana yang mau melakukan upaya berhenti dengan menilai
kesiapan mereka untuk berhenti. 8 Untuk menilai kesiapan untuk berhenti, ahli kebersihan gigi
hanya bertanya kepada klien apakah mereka ingin menghentikan penggunaan tembakau
mereka di bulan berikutnya. Apakah klien merespons "ya" atau "tidak" akan menentukan
strategi yang tepat untuk membantu mereka dengan proses berhenti.
Ketika individu berusaha untuk menghentikan penggunaan tembakau, ke kambuhan
(yaitu, kembali ke penggunaan tembakau biasa) sering terjadi. Ahli higiene gigi mendorong
klien untuk melihat relaps sebagai kesempatan belajar, karena apa yang dipelajari dari relaps
dapat diterapkan pada upaya berhenti berikutnya.
1. Saya tidak akan memiliki bau tembakau pada napas saya atau noda pada gigi saya.
2. Saya akan menghemat uang.
3. Ini akan mengurangi peluang saya terkena kanker mulut.
4. Teman dan keluarga saya ingin saya berhenti.
5. Saya akan memberikan contoh yang baik untuk anakanak saya.
6. Saya akan merasa lebih mengendalikan hidup saya.
7. Saya akan merasa lebih terbebaskan dan percaya diri bahwa saya dapat menetapkan
tujuan.
8. Ini akan mengurangi peluang saya mengalami gangguan jantung.
9. Ini akan mengurangi peluang saya terkena penyakit gusi.
Tabel 4.2
Status Penggunaan Tembakau Klien dan Intervensi yang Disarankan Terkait Kesiapan
untuk Berhenti, Pemeliharaan, dan Relaps
Siap berhenti? berpikir untuk berhenti dalam 6 dikeluarkan materi pendidikan, dan
Tidak * bulan ke depan diskusikan pro dan kontra dari
berhenti. Ambivalensi mungkin ada,
tetapi klien akan lebih mungkin
menerima informasi karena mereka
semakin percaya akan nilai
perubahan.
Siap berhenti? terlibat aktif dalam strategi memuji. Identifikasi hambatan dan
Ya * untuk mengubah fasilitator perubahan. Diskusikan
perilaku. Tahap ini bisa pencegahan ke kambuhan.
bertahan hingga 6 bulan.
Mungkin sudah berhenti
menggunakan tembakau,
tetapi kurang dari 6 bulan lalu.
K. MEMBANTU
Cara dimana ahli kebersihan gigi membantu klien dengan berhenti menggunakan
tembakau tergantung pada kesiapan klien untuk. Apakah klien siap untuk berhenti atau tidak,
penting bagi ahli kebersihan gigi untuk melibatkan mereka dengan menerapkan komunikasi
yang berpusat pada pasien.
L. MENGATUR
Mengatur kontak tindak lanjut adalah A kelima, dan itu sebanding dengan fase evaluasi
proses perawatan kesehatan gigi. Selama kontak tindak lanjut, ahli kesehatan gigi memeriksa
di mana klien dalam proses berpikir mereka tentang berhenti atau pada kemajuan mereka
sehubungan dengan mengatasi proses berhenti. Untuk klien yang telah melakukan upaya
berhenti yang tidak berhasil, modifikasi (misalnya, tanggal berhenti baru, tambahan
M. KUNCI KONSEP
1. Merokok adalah kebiasaan yang sudah tidak asing lagi di lingkungan kita, bahaya
merokok pun sudah banyak diketahui tetapi masih banyak orang yang merokok.
2. Penelitian terbaru juga menunjukkan adanya bahaya dari secondhand-smoke, yaitu
asap rokok yang terhirup oleh orang-orang bukan perokok karena berada di sekitar
perokok, atau biasa disebut juga dengan perokok pasif.
3. Bahan utama dari pembuatan rokok adalah tembakau. Jenis-jenis rokok adalah rokok
putih, kretek dan campur.
4. Rongga mulut sangat mudah terpapar efek yang merugikan akibat merokok.
5. Mulut merupakan awal terjadinya penyerapan zat-zat hasil pembakaran rokok.
6. Nikotin dalam rokok dan zat-zat lainnya memiliki efek vasokonstriksi, tidak hanya pada
sirkulasi di tepi, tetapi juga pada jantung, plasenta, dan pembuluh darah gingiva.
7. Tembakau yang ada di dalam rokok dapat mengakibatkan berbagai macam masalah
kesehatan gig contohnya bau mulut, stain, gingivitis, periodontitis, bahkan hingga
kanker.
Wilkins, E. (2017). Clinical Practice of Dental Hygiene, 12th Edition. Wolters Kluwer, US,
Philadelphia.
Darby, M. (2012). Mosby’s Comprehensive Review of Dental Hygiene, 7th Edition. Elsevier
Mosby, US, St. Louis, Missouri.
Noble, S. (2012). Clinical Textbook of Dental Hygiene and Therapy, 2nd Edition. Wiley-
Blackwell, UK, West Sussex.
Thomson, Evelyn M. (2013). Case Study in Dental Hygiene, 3rd Edition. Pearson Education, US,
New Jersy.
Logothetis, Demetra D. (2012). Local Anesthesia for The Dental Hygienist. Elsevier Mosby, US,
St. Louis, Missouri.
Prajer, R, Grosos, G. (2011). Dental Hygienist's Chairside Pocket Guide. F.A. Davis Company,
US, Philadelphia.
Pendahuluan
Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu mendiskusikan faktor-faktor yang terlibat dalam manajemen karies.
2. Mampu mendiskusikan terapi fluor, termasuk:
a. Membedakan antara berbagai jenis fluor yang digunakan untuk manajemen karies
gigi dan bagaimana masing-masing jenis berhubungan dengan risiko karies.
b. Membedakan antara toksisitas fluor akut dan kronis termasuk penyebab, tanda-
tanda, gejala, dan penanganannya.
c. Mengidentifikasi metode aplikasi topikal fluor yang digunakan dalam manajemen
karies gigi.
3. Mampu menjelaskan jenis dan produk fluor yang dapat diberikan kepada klien yang
berisiko karies.
4. Mampu menjelaskan bahwa fluor diterapkan untuk manajemen karies, termasuk
pemilihan metode dan jenis pemberian fluor.
5. Mampu mendiskusikan toksisitas fluor akut termasuk penyebab, tanda-tanda, gejala,
manajemen darurat, dan pencegahan.
6. Mampu mendiskusikan hasil penelitian ADA untuk rekomendasi pencegahan karies
nonfluor.
B. MANAJEMEN KARIES
Untuk menentukan risiko karies bagi seorang individu, jumlah dan tingkat keparahan
faktor patologis (faktor yang berkontribusi terhadap kemungkinan klien akan rentan terhadap
karies) dan faktor pelindung yang ada (faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan bahwa
klien dapat terhindar karies) adalah hal yang harus dapat dievaluasi oleh seorang Terapis gigi
dan mulut (lihat Bab 18. Gambar 18-5). Setelah itu rekomendasi terhadap klien baru diberikan
dengan pertimbangan-pertimbangan dari hasil penelitian, penilaian risiko karies, pengamatan
klinis, evaluasi radiografi, penilaian profesional, dan preferensi klien.
Manajemen karies ditujukan untuk memulihkan dan menjaga keseimbangan karies,
keseimbangan antara faktor patologis dan faktor pelindung. Remineralisasi lesi karies awal
dan/atau pencegahan karies di masa yang akan datang dapat dicapai dengan mengurangi
faktor patologis dan meningkatkan faktor protektif: klien dengan risiko patologis yang lebih
tinggi memerlukan lebih banyak faktor protektif.
Bidang Ilmiah pada American Dental Association (ADA) secara berkala merilis
rekomendasi klinis berbasis hasil penelitian. Rekomendasi ini didasarkan pada review studi
D. TERAPI FLUOR
Fluor adalah nutrisi alami yang dalam konsentrasi yang tepat dapat mengurangi risiko
karies dan memiliki efek reparatif (remineralisasi). Ketika fluor diserap oleh enamel, bersama
dengan kalsium dan fosfat, selama proses remineralisasi, itu menjadikan struktur kristal
meningkat lebih tahan asam. Fluor juga menawarkan aksi antimikroba secara topikal dan
mempengaruhi metabolisme karbohidrat, produksi asam, dan sifat perekat bakteri
Fluor masuk ke dalam gigi dalam dosis yang berbeda dan dalam berbagai cara. Fluor
dapat masuk melalui air minum, makanan, minuman, dan suplemen atau diserap secara
topikal dengan suatu teknik yang dilakukan oleh profesional dalam bidang kesehatan gigi:
1. fluoridasi masyarakat pada air, makanan, dan minuman yang mengandung fluor dan
resep suplemen masuk melalui aliran darah secara sistemik.
2. Produk fluor topikal (dalam bentuk nonprescription atau resep dan dari suatu produk
dari tenaga profesional) yang dimasukkan ke dalam mahkota terbuka dan permukaan
akar dalam jumlah yang ditentukan kemudian ekspektorasi.
Fluoridasi air di masyarakat memiliki sejarah lebih dari 65 tahun telah berhasil dalam
mengurangi kejadian prevalensi karies. Namun, masyarakat saat terkena bahan fluor pada
makanan, minuman, dan bahan aditif lain telah menjadi bagian dari keseluruhan eksposur
setiap orang untuk fluor topikal dan sistemik. Akibatnya, ada variasi masuknya jumlah fluor
dalam produk secara rutin. pertanyaan menyeluruh diperlukan untuk mendokumentasikan
informasi ini selama prosedur penilaian klien, terutama dalam kasus anak-anak pada masa
pertumbuhan gigi. Penggunaan fluor sesuai usia sangat ideal; paparan fluor harian harus
ditentukan untuk klien muda, dipantau, dan dilakukan evaluasi secara berkala.
Bayi yang menerima ASI kadar fluor umumnya rendah dalam ASI (<0,01 ppm) dan susu
sapi, (0,05 ppm) atau formula susu- dan soybased. Ketika formula industri makanan bayi
menyampaikan bahwa susu formula dapat dilarutkan dengan air fluor, banyak sukarela
mengurangi kandungan fluor dalam formula bubuk. Formula kemasan harus berkonsultasi
untuk menentukan kadar fluor dalam susu bubuk siap konsumsi; misalnya, formula berbasis
kedelai mengandung lebih fluor daripada produk milkbased.
Minuman yang dibuat dari bahan-bahan alami dapat menjadi sumber sistemik dan
topikal fluor. Daun teh mentah dan minyak pohon teh yang tinggi kandungan fluor dan berisi
sebanyak 400 ppm fluor. Teh diseduh mengandung rata-rata 3 ppm fluor. Anak-anak mungkin
berisiko untuk fluorosis gigi (fluor yang berlebihan kronis) di beberapa daerah (misalnya,
Inggris, Australia, India, sebagian Asia) di mana itu kebiasaan minum teh secara teratur, di usia
muda, selama perkembangan gigi.
Tingkat konsentrasi fluor dalam minuman olahan dan air kemasan bervariasi. Misalnya,
konten fluor dalam jus buah dan minuman berkarbonasi berkisar dari kurang dari 0,1-6,7 ppm.
Perbedaan konten fluor dalam minuman olahan dikaitkan dengan variasi dalam kadar fluor
dari air yang digunakan untuk menyiapkan produk ini.2Meskipun ada variasi dalam kandungan
fluor dari botol air (suling, minum, mineral, mata air alami), minuman ini umumnya memiliki
Suplemen fluor dalam bentuk tetes, sirup, permen pelega tenggorokan, dan tablet dapat
berfek secara sistemik dan topikal (jika permen atau tablet hisap dikunyah selama 2 menit)
fluor untuk anak-anak yang berada di masyarakat tanpa fluoridasi air atau di mana air sumur
memiliki tingkat fluor rendah atau tidak terdeteksi (Gambar 33-1).8Tujuan dari suplemen ini
adalah untuk menawarkan anak-anak di komunitas nonfluoridated keuntungan pengurangan
karies pada anak-anak yang tinggal di masyarakat yang menerima asupan fluor. Klien harus
disarankan untuk menghindari produk susu setelah semua suplemen fluor karena kalsium
mengganggu bioavailabilitas (dosis tersedia di situs) fluor.
Gambar 5.1
Contoh Suplemen Fluor Tersedia dengan Resep
Tabel 5.1
Fluorida Suplemen Dosis Jadwal (miligram dari fluor per Day)
Data dari American Dental Association, Chicago, Illinois; American Academy of Pediatric
Dentistry, Chicago, Illinois; dan American Academy of Pediatrics, Elk Grove Village, Illinois.
Pada Desember 2011 bidang ilmiah pada ADA mengeluarkan pernyataan bahwa hanya
anak-anak berisiko tinggi beresiko terkena karies karena kekurangan pasokan air minum
dengan demikian mereka harus menerima suplemen sebagai berikut: usia 6 bulan sampai 3
tahun, 0,25-1,00 mg per hari; usia 3 sampai 16 0,5-1,0 mg per hari (lihat ADA Fluorida
Suplemen Dosis Jadwal, tabel 33-1).
Terlepas dari pedoman ADA, kontroversi masih mengenai dosis karena faktor-faktor
berikut:
1. suplemen fluor meningkatkan risiko toksisitas fluor kronis; risiko telah meningkat
selama bertahun-tahun karena berbagai sumber fluor.
2. suplemen fluor dapat mengganggu beberapa obat.2
Fluorosis adalah hypomineralization dari enamel yang dihasilkan dari konsumsi fluor
yang melebihi tingkat optimal. Fluorosis gigi terdeteksi dari hasil evaluasi secara klinis dan
diklasifikasikan dalam beberapa tingkat. Mild fluorosis gigi sering kali sulit untuk
mengidentifikasi dan membutuhkan penilaian yang cermat dan pencahayaan yang baik.
Meskipun beberapa orang menganggap fluorosis menjadi perhatian estetika saja, dalam
keadaan paling parah enamel rapuh dan benar-benar dapat memecah. perubahan dalam
enamel ini terjadi selama pembentukan gigi dan karena itu risiko hanya selama tahap pra-
letusan perkembangan gigi (Gambar 33-2).
Tabel 5.2
Klasifikasi Derajat Gigi Fluorosis
sangat ringan Buram, daerah kertas putih kecil yang melibatkan kurang dari 25% dari
permukaan
Ringan kekeruhan putih lebih luas tetapi tidak melibatkan sebanyak 50% dari
permukaan
Parah Diskrit atau konfluen pitting; noda cokelat tersebar luas; semua
permukaan enamel terpengaruh
Diadaptasi dari Newburn E: Fluorida dan karies gigi, Springfield, IL, 1986, Charles C Thomas.
Sumber: Dari Ibsen OAC, Phelan JA: Oral patologi untuk kebersihan gigi, ed 6, St Louis,
2013, Saunders
Gambar 5.2
Moderat Fluorosis Gigi
Fluorosis gigi dikaitkan dengan toksisitas fluor hanya dapat terjadi sebagai akibat
masuknya fluor secara sistemik selama perkembangan gigi pada anak-anak usia 8 tahun atau
di bawahnya. Peningkatan prevalensi enamel fluorosis dua dekade terakhir mungkin berasal
dari peningkatan jumlah sumber paparan fluor. Penelitian menunjukkan korelasi antara
fluorosis dan individu yang mengembangkan hipotiroidisme dan tulang rapuh. 2
Masyarakat tidak dapat mengembangkan fluorosis sebagai akibat dari paparan fluor
topikal, bahkan jika paparan topikal berlebihan (konsentrasi tinggi fluor pada interval yang
sering). Satu-satunya cara seorang individu dapat mengembangkan fluorosis gigi dari fluor
topikal adalah dengan menelan fluor selama periode perkembangan gigi, yang akan
mengubah mekanisme kerja fluor dari topikal ke sistemik.
Risiko meningkat fluorosis dengan menelan produk fluor-konsentrasi rendah seperti
pasta gigi yang mengandung fluor atau larutan kumur. Produk-produk ini terkadang cukup
mengkhawatirkan karena kadang-kadang digunakan oleh anak-anak tanpa pengawasan,
karena memiliki rasa dan penampilan yang menarik, dan kadang-kadang disimpan dalam
Topikal fluor masuk ke dalam rongga mulut dalam tiga bentuk utama:
1. Dikonsumsi oleh klien dalam bentuk nonprescription atau (potensi) konsentrasi fluor
rendah (Catatan: Produk yang membawa ADA Seal of Acceptance atau Dental
Association Kanada [CDA] Seal of Recognition harus direkomendasikan bagi klien).
2. Dikonsumsi oleh klien dalam bentuk produk resep; konsentrasi yang lebih tinggi dari
fluor dari produk OTC untuk risiko karies tinggi.
3. Para profesional menerapkan produk resep dosis tinggi (potensi) konsentrasi fluor,
jarang digunakan, setiap 3 sampai 6 bulan (Catatan: ADA menunjukkan bahwa klien yang
berisiko karies rendah tidak dapat menerima manfaat tambahan dari aplikasi fluor
profesional.7).
Jenis produk konsentrasi yang ditawarkan OTC dengan resep dokter dapat
membingungkan. Hal ini penting karena pada konsentrasi fluor / bagian per juta dan tingkat
risiko klien ketika memilih dan merekomendasikan produk untuk klien. Biasanya, OTC
menerapkan bahan konsentrasi fluor secara topikal untuk digunakan di rumah lebih rendah
dalam (lebih sedikit bagian per juta) dibandingkan mereka yang diterapkan di kantor.
Tindakan fluorida potensi tinggi mirip dengan fluorida-potensi rendah; paparan
berulang diperlukan untuk kedua untuk mempertahankan konsentrasi tinggi pada permukaan
gigi. Perbedaannya adalah bahwa paparan yang diperlukan lebih sedikit dengan fluorida-
konsentrasi tinggi. Tingkat fluor rendah dipertahankan dalam air liur, biofilm, dan enamel
dapat mencegah atau membantu karies kontrol sepanjang hidup. Karena eksposur
karbohidrat difermentasi menciptakan peluang setiap hari untuk demineralisasi enamel,
sering menggunakan topikal, produk fluor-potensi rendah dianjurkan untuk dalam kehidupan
sehari-hari di daerah demineralisasi untuk upaya pencegahan karies gigi (Tabel 3.5).
Ketersediaan
Konsentrasi Frekuensi
fluor Bahan Metode pengiriman dan Contoh
fluorida Aplikasi dari Produk
0,1% sodium fluor 1000-1500 ppm Dua kali Sikat-on OTC: Crest,
(NaF) atau 0,1% Beberapa sehari Colgate,
sodium negara Lengan &
monofluorophosphate memproduksi Palu
(MFP) pasta gigi pasta gigi anak-
anak di 50.550
ppm
0,05% NaF bilas 230 ppm Sekali sehari Bilasan OTC contoh:
Act,
Fluorigard
0,2% netral NaF bilas 910 ppm Semingguan Bilasan biasanya contoh resep:
dalam program Fluorinse,
schoolbased PreviDent
0,4% stabil stannous 1000 ppm Sekali sehari Sikat-on setelah OTC contoh:
fluor (SnF2) gel menyikat Gel-Kam
dengan pasta gigi
konvensional
1,1% netral NaF gel 5000 ppm Sekali sehari Kustom sendok contoh resep:
cetak atau sikat-on PreviDent,
setelah NeutraCare
menggunakan pasta
gigi konvensional
1,1% NaF dan fluor 5000 ppm Sekali sehari Kustom sendok contoh resep:
fosfat yang ditambah cetak atau sikat-on PreviDent,
asam setelah Clinpro5000
menggunakan pasta
gigi konvensional
OTC, Perhitungan berlebihan; ppm, bagian per juta.
Selain fluor yang dikonsumsi dalam air minum, pasta gigi yang mengandung fluor paling
banyak digunakan. Pasta gigi yang direkomendasikan ADA Seal of Acceptance dan CDA Seal of
Recognition memberikan konsentrasi yang cukup fluor untuk memfasilitasi terjadinya
remineralisasi pada email bila diterapkan setidaknya dua kali sehari (Gambar 33-3). Literatur
ilmiah memberikan bukti klinis untuk mendukung penggunaan pasta gigi fluor dengan
frekuensi ini. Studi yang membandingkan pengurangan karies menunjukkan bahwa menyikat
sekali sehari dengan pasta gigi berfluor menghasilkan adanya pengurangan karies gigi sebesar
21%, menyikat tiga kali sehari menghasilkan pengurangan karies 45% .
Mayoritas pasta gigi komersial yang tersedia di Amerika Serikat mengandung 0,1%
netral sodium fluor, atau 1000 ppm. Beberapa produsen memproduksi pasta gigi yang
mengandung 1500 ppm natrium monophosphate fluor; Namun, dosis dari berbagai jenis fluor
tidak sebanding dengan persentase karena bahan ini memiliki bobot yang berbeda. Sebanyak
5000-ppm natrium netral fluor dapat diresepkan untuk klien yang berisiko tinggi atau ekstrem.
Pasta gigi lainnya yang dipasarkan sebagai pasta gigi untuk anak dengan tingkat yang lebih
rendah dari fluor mulai 250-550 ppm. Hal ini penting untuk kesehatan gigi untuk
merekomendasikan produk yang telah mengalami evaluasi klinis dan didukung oleh bukti dan
telah tercatat memiliki kemampuan mencegah karies.
Sebuah resep 0,63% SnF2 (stannous fluor) bilas (PerioMed oleh 3M ESPE, Fluorx oleh
Philips, Oral Bilas dengan Ilmu Oral menawarkan 5% xylitol ditambahkan) diencerkan per arah
pabrik dan dapat digunakan dua kali sehari sampai 4 minggu setelah terapi periodontal non-
bedah sebagai antimikroba (fluor stannous telah menunjukkan aktivitas antimikroba terhadap
periodontal patogen dan S. mutans), untuk mengelola hipersensitivitas dentin, dan untuk
melindungi terhadap karies akar. Bukti tidak sekuat, bagaimanapun, mendukung pilihan ini
dibandingkan dengan pasta gigi fluor stannous.
Larutan NaF (0,2%), 910-1000 ppm, digunakan secara mingguan pada anak-anak sekolah
dasar yang tidak tinggal di komunitas dengan fluoridasi air (misalnya, Fluorinse oleh ORALB,
PreviDent oleh Colgate, Nupro oleh Dentsply, PCavi-Bilas dengan 3M). Program ini efektif
karena dikelola oleh pihak sekolah, pengawasannya lebih baik, terjadwal, dan menghasilkan
kebiasaan yang baik pada anak-anak dengan berkumur larutan fluor dengan takaran 1 sendok
Produk-produk ini (tersedia dalam kekuatan resep konsentrasi yang lebih tinggi dari
yang ditambah asam fosfor fluor (APF) dan sodium fluor netral) juga dapat mengurangi karies
30% sampai 35% dan dirancang untuk penggunaan sehari-hari oleh klien dengan risiko karies
tinggi atau ekstrem, misalnya, karies berat, xerostomia, paparan radiasi di kepala dan leher,
hipersensitivitas dentin, atau kebutuhan khusus. Produk ini dianjurkan untuk digunakan di
rumah bagi klien, orang tua, pengasuh. Produk digunakan dengan cara diaplikasin ke dalam
sendok atau pada sikat pada gigi selama 1 menit dan kemudian dibuang. Klien dapat memilih
kenyamanan menyikat jika memungkinkan. Kebanyakan instruksi pabrik tray adalah sebagai
berikut:
1. Hapus biofilm lisan dengan sikat gigi, benang, bantuan interdental, dan lidah bersih.
2. Beban sendok cetak dengan gel fluor atau pasta, per arah produk gigi kering dengan kain
atau kasa.
3. Menempatkan sendok cetak dimuat atas lengkungan yang diinginkan; memegang
kepala tegak dan menghindari menelan produk dan air liur; sarankan klien sering
meludah selama penempatan tray.
4. Tinggalkan sendok cetak di lengkungan selama 4 menit; menghapus sendok cetak dan
meludah beberapa kali.
5. Ulangi langkah untuk lengkungan lainnya.
6. Jangan makan atau minum selama 30 menit untuk menjaga tingkat ambient fluor.
7. Bilas, bersih, dan sendok cetak udara kering.
OTC gel fluor dipasarkan sebagai SnF2 1000 produk 0,4%/ppm OTC (Gel-Kam) dan 1,1%
netral NaF resep gel (PreviDent oleh Colgate, NeutraCare oleh Oral-B) (lihat Gambar 33-5).
Pasta gigi resep yang tersedia sebagai 1,1% NaF dengan 5% kalium nitrat (misalnya,
PreviDent5000 Sensitif) dan 1,1% NaF / 5000 ppm (misalnya, PreviDent, Clinpro 5000 dengan
trikalsium fosfat, oleh 3M ESPE, Gambar 33-5). Beberapa gel dan pasta memiliki derajat yang
bervariasi dari abrasive dan yang lainnya tidak. Pasta dan gel dengan kandungan fluor yang
tinggi tidak boleh digunakan dalam sendok cetak kustom semalam.9
Produk ini telah digunakan secara luas untuk klien dengan kebutuhan khusus. Dokter
harus rajin mendidik klien dan perawat bahwa beberapa produk tersebut tidak mengandung
bahan-bahan pembersih atau abrasive. Ketika hal ini terjadi, klien harus diinstruksikan untuk
menggunakan gel dan pasta tersebut setelah menyikat gigi dengan pasta gigi fluor OTC
konvensional. Selain itu, klien harus diingatkan bahwa produk ini tersedia dengan resep
“Perawatan” Fluor adalah salah satu prosedur terakhir yang dilakukan dalam urutan
pengangkatan dan dikelola sendiri oleh para dokter gigi berlisensi atau bersertifikat. (Fluor
yang mengandung profilaksis pasta tidak harus digunakan di tempat layanan ini). Profesional
di bidang kesehatan gigi diterapkan produk topikal fluor, gel, dan pengolesan telah digunakan
dengan sukses (Angka 33-6 dan 33-19). Meskipun busa fluor (tidak direkomendasikan ADA)
dan kumur di tempat kerja (tidak disetujui FDA), beberapa data yang mendukung keberhasilan
mereka. Penelitian lebih lanjut diperlukan sebelum busa dan kumur-kumur dapat digunakan
dengan keyakinan yang sama seperti gel dan pengolesan.7
Gambar 5.5
Gel Fluor Topikal untuk Aplikasi Profesional
Aplikasi fluor dengan gel thixotropic (gel yang mengalir di bawah tekanan, tetap kental
ketika tidak di bawah tekanan) ke busa awalnya dikembangkan untuk kemudahan aplikasi dan
digunakan dengan sendok cetak fluor. Namun, selulosa ditambahkan ke gel untuk
meningkatkan viskositas menghambat fluor mengalir ke daerah-daerah kritis. Untuk
mengatasi masalah ini, gel thixotropic yang dirancang.
Fluor berbasis busa dikembangkan untuk mengatasi risiko tertelan terkait dengan
penggunaan produk fluor-potensi tinggi. Dengan produk-produk busa, 75% lebih sedikit fluor
digunakan, dapat mengurangi risiko toksisitas fluor akut dan biaya. produk busa APF
melepaskan konsentrasi fluor yang sama seperti gel APF, tetapi penelitian telah menunjukkan
kurang retensi dengan busa dan beberapa uji klinis telah dievaluasi pencegahan karies dengan
produk busa.7 Apapun, profesional diterapkan APF dan netral NaF tersedia sebagai produk
foambased dan gel thixotropic.
Empat potensi tinggi, frekuensi rendah, profesional diterapkan sistem fluor topikal telah
disetujui oleh FDA untuk digunakan dalam kantor. Produk-produk ini diproduksi sebagai gel
dan busa (yang ditambah asam dan netral) atau pengolesan dan memiliki tingkat pengurangan
karies sekitar 30%:
1. 1,23%, 12.300 ppm APF (digunakan untuk sebagian besar pasien; bebas gluten sekarang
tersedia).
2. 2,0%, 9050 ppm netral NaF (digunakan untuk komposit, porselen, titanium, sealant,
sensitivitas).
3. 8,0% SnF2 (jarang digunakan, lihat nanti).
4. 5% NaF / 2,26% atau 22.600 ppm pengolesan (lacquer dalam basis rosin).
(Disetujui FDA untuk kontrol sensitivitas akar dan rongga liners hanya7).
Gel APF 1,23% digunakan secara luas dan merupakan pilihan untuk klien tanpa restorasi
berwarna gigi-atau sealant. APF adalah produk pH rendah sebagai akibat dari asam fosfat
ditambahkan dan dapat menyebabkan etsa dari beberapa bahan gigi. produk APF
dikembangkan karena penemuan bahwa semakin rendah pH senyawa fluor, semakin
meningkatkan laju reaksi antara fluor dan hidroksiapatit.
Gel NaF 2.0% netral adalah produk fluor profesional diterapkan lain yang umum. fluor
netral dipilih oleh dokter bila tidak pantas untuk menggunakan produk yg ditambah asam
(APF), ketika klien hadir dengan komposit, porselen, titanium, sealant, atau sensitivitas. Jika
produk fluor netral tidak tersedia, berisiko bahan gigi harus dilindungi dengan gel
nonpetroleum.
Tabel 5.4
Rekomendasi klinis untuk Penggunaan Profesional Terapan topikal Fluor
Rendah
Tidak ada lesi karies primer atau sekunder Semua Mungkin tidak menerima
baru jadi atau berlubang selama 3 tahun kelompok manfaat tambahan air fluor dan
terakhir dan tidak ada faktor yang dapat umur pasta gigi fluor dapat
meningkatkan risiko karies* memberikan pencegahan karies
yang memadai
Moderat
Tidak ada yang baru mulai atau berlubang <6 tahun aplikasi pengolesan fluor pada
lesi karies primer atau sekunder selama 3 interval 6 bulan
tahun terakhir, tapi setidaknya salah satu
faktor yang dapat meningkatkan risiko
karies*
Salah satu dari berikut: Lebih dari 6 pada interval 6 bulan
Satu atau dua baru jadi atau berlubang lesi tahun
karies primer atau sekunder selama 3
tahun terakhir
Tidak ada yang baru mulai atau berlubang
lesi karies primer atau sekunder selama 3
tahun terakhir, tapi setidaknya salah satu
faktor yang dapat meningkatkan risiko
karies*
Setiap baru jadi atau berlubang lesi karies <6 tahun aplikasi pengolesan fluor
primer atau sekunder selama 3 tahun pada interval 3 hingga 6 bulan
terakhir
Kehadiran beberapa faktor yang dapat
meningkatkan risiko karies*
status sosial ekonomi rendah†
paparan fluor suboptimal
xerostomia‡
Tiga atau lebih baru jadi atau berlubang lesi 6tahun atau aplikasi pengolesan fluor pada 3
karies primer atau sekunder selama 3 lebih tua hingga 6 bulan interval
tahun terakhir Pengolesan fluor atau gel fluor
Kehadiran beberapa faktor yang dapat aplikasi pada 3 hingga interval 6
meningkatkan risiko karies* bulan dapat memberikan
paparan fluor suboptimal tambahan manfaat pencegahan
xerostomia‡ karies bagi mereka 6-18 tahun
Faktor peningkatan risiko mengembangkan karies juga mungkin termasuk, namun tidak
terbatas pada, titer tinggi bakteri kariogenik, kebersihan yang buruk lisan, keperawatan
berkepanjangan (botol atau payudara), keluarga kesehatan gigi yang buruk, cacat
perkembangan atau diperoleh, kelainan genetik gigi, banyak restorasi multisurface,
kemoterapi atau terapi radiasi, penyalahgunaan obat atau alkohol, perawatan gigi yang tidak
teratur, diet kariogenik, perawatan ortodontik aktif, kehadiran permukaan akar terkena,
overhang restorasi atau margin terbuka, dan cacat fisik atau mental dengan ketidakmampuan
untuk melakukan perawatan kesehatan mulut yang tepat.
Berdasarkan temuan dari studi populasi, kelompok dengan status sosial ekonomi rendah
telah ditemukan memiliki peningkatan risiko karies. Pada anak-anak terlalu muda untuk risiko
mereka harus didasarkan pada sejarah karies, status sosial ekonomi rendah harus dianggap
sebagai faktor risiko karies. Medication-, radiation-, atau penyakit yang disebabkan
xerostomia.
Diadaptasi dari American Dental Association Dewan Urusan Ilmiah:
Professionallyapplied fluor topikal: rekomendasi klinis berbasis bukti, J Dent Educ 71: 393
2007.
Banyak cara yang dapat menjadi pertimbangan dalam memilih cara yang tepat bagi klien
sehingga dapat memberikan manfaat terapi fluor sekaligus dapat memilih produk yang sesuai
untuk klien):
Terapan Fluor Faktor Perawatan-Risiko
1. Karies faktor risiko yang mungkin menunjukkan kebutuhan untuk profesional diterapkan
fluor topikal meliputi: lesi karies baru pada permukaan yang sebelumnya suara, karies
gigi pengalaman dalam sebelumnya 2 sampai 3 tahun.
2. Lesi sekunder yang terkait dengan margin restorasi.
3. Tingginya kadar bakteri kariogenik.
4. Status kesehatan mulut keluarga miskin.
5. Perawatan gigi profesional yang tidak teratur.
6. Kerusakan enamel, bintik-bintik putih, akar terekspos.
7. Diet kariogenik.
8. Mengenakan peralatan ortodontik aliran saliva dikompromikan (misalnya, dari kondisi
medis, stres, obat-obatan).
9. Terapi radiasi.
10. Kondisi terkait usia (misalnya, hipersensitivitas).
11. Kondisi medis (misalnya, sindrom Sjögren, gangguan makan); cacat fisik atau kognitif.
Berikut ini adalah fitur dan keuntungan dari profesional menerapkan teknik tray fluor
(lihat prosedur 33-1):
1. Seluruh gigi dapat diobati secara bersamaan dengan paparan fluor yang optimal.
2. Minimal kontak jaringan lunak; desain tray dan cocok meningkatkan kenyamanan klien.
3. Kurang pengenceran dan kontaminasi fluor dengan air liur; waktu dan biaya yang efektif
potensial dikurangi untuk konsumsi fluor (dimaksimalkan dengan penggunaan produk
busa).
4. Keragaman desain tray dan ukuran, SML-XL*.
V. PENGOLESAN FLUOR
Di Amerikas Serikat fluor yang diberikan dengan cara dioleskan mengandung sodium
fluor dengan konsentrasi 5% (22.600 ppm), tersedia dengan kombinasi dengan bahan lainnya
bioavailable antikaries (xylitol, timol). Fluor ini mengeras pada gigi pada kontak dengan air liur.
Sumber: A, Courtesy Colgate Farmasi Oral, New York, New York B, Courtesy 3M ESPE, St
Paul, Minnesota
Gambar 5.6
A dan B, Contoh Unit-dosis 5% Sodium Fluor Pengolesan. C, Fluor Pengolesan yang
Diterapkan untuk Gigi
1. Kemudahan aplikasi dengan tidak membutuhkan waktu lama, metode ini cocok bagi
anak-anak.
2. Tertelan dan ketidaknyamanan sangat kecil.
3. Rasa ofensif.
4. Biaya efektif/sejumlah kecil bahan yang dibutuhkan (7 mg vs 30 mg untuk gel di sendok
cetak).
5. Dapat makan makanan lunak dan minum setelah pengolesan.
Di Amerika Serikat, sejauh ini, FDA telah menyetujui bahwa pengolesan fluor digunakan
hanya sebagai liners rongga dan pengobatan gigi hipersensitif, bukan sebagai obat untuk
bahan karies-preventif, karena FDA menganggap ini untuk pencegahan karies. Karena FDA
menyetujui fluor oles sebagai bahan karies-preventif, maka produsen perlu melakukan uji
klinis tambahan dengan hasil meyakinkan meskipun bukti yang ada telah mendukung
efektivitas pengolesan fluor untuk pencegahan karies, terutama pada anak-anak, remaja, dan
orang tua.
Pendapat ahli mengenai aplikasi pengolesan fluor bervariasi. Beberapa
merekomendasikan penerapan produk setiap 3 sampai 6 bulan berdasarkan risiko karies. ADA
mendukung aplikasi ini dalam beberapa kasus dan mengeluarkan komentar berikut dalam
laporan mereka 2006: “pengolesan fluor diterapkan setiap 6 bulan efektif dalam mencegah
karies pada dentisi anak-anak dan remaja dan dua atau lebih aplikasi pengolesan per tahun
Berikut ini adalah beberapa dari fluor yang dioleskan yang tersedia di Amerika Serikat:
1. 5% NaF/2,26% fluor atau 22.600 ppm (Duraphat, Duraflor, Vanish, Fluorx, X-Pur Putih)
(lihat Gambar 33-19).
2. 1% difluorosilane/0,1% fluor atau 1000 ppm (Fluor Protector).
3. Cervitec Plus/1: 1chlorhexidine/timol-Kombinasi mengurangi tingkat patogen dan
merupakan satu-satunya pengolesan ADA disahkan untuk karies akar (lihat Gambar
5.20).
4. Merangkul/5% fluor dengan kalsium xylitol berlapis dan fosfat.
5. MI pengolesan/NaF ditambah RECALDENT (CPP-ACP) (lihat Gambar 5.20).
6. Enamel Pro pengolesan dengan fluor dan ACP.
Tidak ada insiden toksisitas fluor akut atau kronis sebagai akibat dari menggunakan
pengolesan fluor. Metode pemberian fluor dengan cara dioleskan meminimalkan terjadinya
keracunan akibat dosis fluor yang diberikan. Atas hal itu metode ini sangat penting bagi anak-
anak, orang tua, dan orang cacat. Pelepasan fluorida setelah puncak penempatan awal dan
kemudian turun secara dramatis. kadar plasma dari fluor setelah aplikasi pengolesan mirip
dengan yang dialami setelah penggunaan pasta gigi berfluor OTC. Proses pengolesan fluor,
menyebabkan terjadi penyerapan fluor secara perlahan-lahan selama periode waktu, hal ini
mengurangi kemungkinan toksisitas fluor akut. Karena bahan ini mengandung damar, maka
jangan diberikan/digunakan pada orang dengan sensitif bahan ini atau bagi klien yang
menderita gingivitis ulseratif, stomatitis.
Jumlah fluor yang menyebabkan reaksi toksik atau menghasilkan dosis mematikan
didasarkan pada berbagai faktor. Istilah yang digunakan untuk menggambarkan berapa fluor
dapat ditoleransi oleh klien adalah dosis aman ditoleransi (STD) dan dosis tentu mematikan
(CLD):
1. STD adalah jumlah fluor yang dapat tertelan tanpa menyebabkan toksisitas akut yang
serius; itu adalah sekitar seperempat dari CLD tersebut.
2. CLD adalah jumlah fluor yang menyebabkan kematian klien; 5 sampai 10 g natrium fluor
dianggap sebagai CLD untuk 70-kg atau 154-lb dewasa.
Toksisitas akut (keracunan fluor) adalah tertelannya bahan fluor topikal dalam waktu
singkat sehingga menghasilkan reaksi sistemik ringan (sakit perut atau muntah) bahkan terjadi
kematian. Banyak faktor yang mempengaruhi toksisitas senyawa fluor: rute pemberian, usia
klien dan berat badan, dan tingkat penyerapan. Ketika fluor ditelan, ia bereaksi dengan asam
lambung; produk reaksi adalah hidrogen fluorida (HF). HF sangat menjengkelkan pada lapisan
lambung. distress abdominal dapat terjadi setelah jumlah yang relatif kecil dari produk yang
lebih tinggi-konsentrasi ditelan.
Gejala awal dari keracunan fluor akut adalah mual, nyeri gastrointestinal, dan muntah.
Jika jumlah yang cukup fluor yang tertelan, gejala pertama dapat diikuti oleh kelemahan otot
dan kejang yang terjadi sebagai akibat dari fluor menggabungkan dengan ion kalsium darah.
dosis toksik dari fluor mempengaruhi sistem tubuh utama sebagai berikut:
1. Gastrointestinal: sakit perut dan kram, mual, muntah, diare.
2. Neurologis: paresthesia, tetani, sistem saraf pusat depresi, koma.
3. Kardiovaskular: nadi lemah, pucat, hipotensi, syok, penyimpangan jantung, gagal
jantung.
4. Kasus dosis toksik akut fluor pada anak-anak telah didokumentasikan.
Tujuan pengobatan awal untuk toksisitas fluor akut adalah untuk mengurangi jumlah
fluor yang masuk ke dalam saluran pencernaan. Tindakan tanggap darurat harus yang
dilakukan tergantung pada jumlah fluor tertelan. Berikut langkah-langkah tindakan darurat
pada kasus penanganan terjadinya keracunan fluor:
1. Menginduksi muntah dengan pemberian emetik, seperti sirup ipecac (ini harus terjadi
hanya jika klien memiliki refleks muntah, sadar, dan tidak kejang-kejang).
Gambar 5.8
Contoh Chlorhexidine Glukonat Kumur 0,12%
Bahan antibakteri berspektrum luas bekerja dengan cara disintegrasi membran sel
bakteri dan memiliki kemampuan bakterisida dan tindakan bakteriostatik berkepanjangan
(substantivitas, atau periode tindakan, adalah 8 sampai 12 jam) yang dihasilkan dari adsorpsi
ke permukaan enamel pelikel berlapis. Ketika digunakan sebagai obat kumur (Gambar 5.21),
Chlorhexidine glukonat memang memiliki tahan lama efek antimikroba dari bahan lain tapi
masih jatuh pendek dengan bioavailabilitas yang terbatas di beberapa daerah rongga
mulut.19
Penggunaan chlorhexidine dalam jangka panjang glukonat dapat mengubah rasa,
penyebab pewarnaan jaringan mulut, dan meningkatkan pembentukan kalkulus sehingga
kebutuhan untuk re-perawatan lebih sering. Meskipun ada kontroversi bahwa chlorhexidine
Selanjutnya, review panel ADA menyoroti fakta biologis yang masuk akal bahwa belum
tentu tindakan menggunakan produk yang mengandung xylitol dapat meningkatkan produksi
air liur dan menetralisir asam, sehingga berpotensi menurunkan kejadian dan perkembangan
karies,.3 (Catatan: FDA baru-baru ini menyetujui penggunaan klaim terbatas “Apakah tidak
mempromosikan kerusakan gigi”; pernyataan posisi ADA berbunyi “makanan bebas gula tidak
mempromosikan kerusakan” mengenai produk yang mengandung poliol).
Xylitol adalah pemanis noncariogenic yang terlihat dan terasa seperti sukrosa, bahan
utamanya berasal dari pohon birch, dan merupakan salah satu dari banyak poliol, atau “gula
alkohol.” Poliol lain, seperti sorbitol, mannitol, maltitol, dan sucralose, juga digunakan secara
luas untuk mempermanis makanan dan minuman tetapi dianggap rendah kariogenik, tidak
noncariogenic, seperti xylitol. Karena S. mutans tidak dapat memfermentasi xylitol, replikasi,
dan karena itu produksi asam, berkurang. Selanjutnya, setiap sisa bakteri Acidogenic di biofilm
lisan memiliki kemampuan adhesi kurang, sehingga mengurangi jumlah biofilm yang
melekat.9
Kandungan Xylitol dapat dikemas seperti dalam permen karet, permen, semprotan
nafas agar segar, pasta gigi, lozenges, atau sirup sebagai cara yang efektif untuk mengontrol
produksi asam, bersama dengan penggunaan fluor dan membatasi karbohidrat (Angka 33-22
dan 33-23). Idealnya, dokter harus merekomendasikan produk dengan xylitol terdaftar
sebagai bahan pertama dan hanya pemanis. Produsen sering menggunakan kombinasi poliol
karena lebih murah. Beberapa Trident (Cadbury Adams USA) dan pembuka percakapan
(Hershey, Inc.) OTC permen karet mengandung xylitol sebagai bahan pertama mereka dan
hanya poliol; X-Pur karet dan permen oleh Science Oral mengandung 100% xylitol
(lihatGambar 33-23).
Gambar 5.10
Contoh Pasta Gigi Mengandung Xylitol dan Permen
Meskipun banyak penelitian telah dilakukan dan perusahaan yang memproduksi obat
bebas dan resep produk yang mengandung kalsium, fosfat, dan protein kasein telah membuat
klaim yang cukup besar, panel ADA menemukan bahwa bahan ini tidak dapat
direkomendasikan pada situasi seperti itu. Setelah review sistematis dari penelitian berbasis
bukti yang tersedia, ADA menyatakan bahwa ada bukti yang cukup untuk menunjukkan bahwa
penggunaan ACP- dan CPP-ACP- produk yang dapat menurunkan kejadian karies koronal atau
akar.3Namun demikian, teknologi kalsium dan fosfor berbasis dan produk yang dipilih sebagai
tambahan untuk produk fluor yang berperan dalam kontrol karies. Penelitian mengenai
Amorf kalsium fosfat (ACP) mengandung mineral yang sama seperti kristal hidroksiapatit
dari enamel gigi dan merupakan senyawa komersial pertama dari jenisnya. Para ilmuwan
menemukan bahwa kalsium dan fosfat ion dalam ACP memiliki afinitas untuk demineralisasi
pada kontak dengan ion liur dan enzim protease. Klaim produk dengan kalsium fosfat amorf
meliputi berikut ini:
1. Dapat membantu mencegah demineralisasi dan karies lambat kemajuan.
2. Dapat merangsang remineralisasi melalui bioavailabilitas kalsium dan fosfat.
3. Dapat meningkatkan fluor penyerapan kalsium dan fosfat ion memiliki afinitas untuk
fluor.
4. Menutup jalan tubulus dentin untuk mengurangi hipersensitivitas dentin.
5. Membentuk lapisan hidroksiapatit baru dengan yang lebih besar kristal-ini tindakan
menjadikan gigi lebih tahan terhadap penetrasi asam dan demineralisasi daripada kristal
enamel asli.
OTC client-diterapkan produk ACP termasuk Enamel Perawatan dengan Kalsium cair,
Umur Defying dan pasta gigi Mentadent Ulang Putih (Arm dan Hammer). produk profesional
diterapkan dengan ACP termasuk zat pemutih gigi-Zoom! Hari Putih (Philips) dan Nite Putih
dengan ACP (Smilox), profilaksis tempelkan Enamel Pro, 5% NaF dengan pengolesan ACP, dan
Enamel Pro Varnish (Premier Gigi).
ACP-produk yang mengandung bukan pengganti untuk terapi fluor, tetapi dokter dapat
menggunakan produk ACP selama pengobatan dan merekomendasikan kepada klien berisiko
karies.
Tak lama setelah penemuan ACP, peneliti menyadari bahwa jika mereka
phosphopeptides kasein (CPP) digabungkan dengan ACP (CPP-ACP), senyawa tersebut
memiliki afinitas yang lebih besar untuk biofilm bakteri karena kehadiran CPP stabil ACP
memungkinkan ion lebih cepat mencapai enamel .9 Situasi ini dapat menyediakan reservoir
kalsium yang lebih besar dalam biofilm dan memperlambat difusi kalsium bebas dari struktur
gigi.10CPP merupakan bahan yang berasal dari kasein, bagian dari protein yang ditemukan
Gambar 5.11
A, Contoh Kasein Produk Kalsium Fosfat Profesional Diberikan Phosphopeptide-Amorf.
B, Produk dapat Disampaikan sebagai Pasta Profilaksis atau Melalui Sendok Cetak
1. Dapat meningkatkan aliran saliva, gejala xerostomia, penyerapan fluor, dan enamel
kilau.
2. Menyediakan lingkungan jenuh kalsium “bebas” dan fosfat untuk remineralisasi dan
mikroskopis enamel perbaikan cacat.
3. Dapat mengurangi hipersensitivitas dentin.
4. asam penyangga, mengurangi kadar asam, dan meningkatkan pH mulut.
Senyawa ini juga ditemukan dalam Trident Xtra Perawatan Gum (Cadbury Adams USA)
dan resep-satunya MI Paste, MI Tempel Ditambah dengan fluor (GC America, Inc.), dan MI
Varnish (lihat Gambar 33-20). MI Tempel (lihat Gambar 33-24) Harus diterapkan secara
langsung pada gigi tanpa kuas, dan penggunaan semalam di sendok cetak kustom ditoleransi
NovaMin adalah nama merek bioaktif kaca, kalsium natrium phosphosilicate (CSD).
kimia anorganik ini mengikat permukaan gigi dan memberikan kalsium, fosfor, natrium, dan
silika untuk menggantikan mineral yang hilang. Ketika partikel kaca datang dalam kontak
dengan air liur, kalsium dan fosfat ion yang dilepaskan. Sebuah kalsium-fosfat bentuk lapisan
dan mengkristal sebagai hidroksiapatit baru. tubulus dentin yang tersumbat dalam proses.
NovaMin tersedia dalam produk OTC dan di Internet: misalnya, Sensodyne Repair dan
Melindungi (GlaxoSmithKline) dan X-Pur (Ilmu Oral) pasta gigi (dapat digunakan dalam sendok
cetak semalam karena kurangnya konten fluor), permen, dan permen karet ( LihatGambar 33-
23), Nupro Profilaksis Paste (Dentsply), dan dengan resep, Sensodyne Nupro Pasta gigi dengan
NovaMin ditambah 5000 ppm fluor atau SootheRx (3M ESPE). ketersediaan terbatas adalah
karena kurangnya validasi lengkap oleh FDA dari nonfluor karies-preventif bahan.
Teknologi fosfat kalsium lain di pasar adalah trikalsium fosfat (TCP). TCP melindungi ion
kalsium dan membebaskan ion fosfat; bahan ini melarang kalsium dari bereaksi sebelum
waktunya dengan fluor sebelum mencapai permukaan gigi. Setelah TCP terkena air liur pada
struktur gigi, kalsium, fosfat, dan ion fluorida dilepaskan. TCP adalah bahan dalam Clinpro
5000 pasta gigi dan Lenyap pengolesan.
Natrium bikarbonat (NaHCO3, atau sendok cetakng soda) menetralkan asam yang
dihasilkan oleh bakteri Acidogenic dan bakterisida. Bahan ini agak kasar, dapat dicampur
dengan air untuk menyikat atau berkumur (pilihan yang baik untuk klien dengan hiposalivasi),
dan tersedia dalam kombinasi dengan bahan lain dalam banyak produk gigi di pasar, seperti
Orbit Putih (Wrigley) gusi dan Arm & Hammer dan Tom dari pasta gigi Maine.
MM. PROBIOTIK
Gambar 5.12
Contoh Probiotik
Meningkatnya jumlah klien yang hadir dengan kasus xerostomia lebih lama, pengobatan
radiasi, dan berbagai obat-obatan yang menyebabkan mulut kering. Pasien dengan
xerostomia berada pada risiko tinggi untuk menderita karies karena kurang air liur. Kehilangan
air liur menyebabkan menurunnya pH, bakteri acidophilic berkembang, asam tidak buffered
secara efektif, dan ketersediaan mineral berkurang. 9 Mengingat semua ini efek merusak,
dokter harus membuat komitmen untuk mendidik pasien dan merekomendasikan antikaries
dan produk paliatif.
Penyebab utama hipofungsi ludah karena lebih dari 700 obat-obatan, autoimun dan
sistemik penyakit, radiasi ke kepala/leher, stres, dan depresi. Kurangnya fungsi saliva
menyebabkan salah satu atau semua gejala berikut: kental, air liur lengket; kesulitan berbicara
dan menelan; mulut berbau; rasa yang berubah bau dan rasa; membakar mulut dan bibir;
retak, fissuring, dan meningkatkan pembentukan biofilm di lidah. Beberapa pasien menjadi
sangat tidak nyaman mereka resor untuk stimulasi listrik dari kelenjar dan akupunktur.
Selain konseling diet, perawatan di rumah secara teratur, profilaksis rutin, dan
penerapan chlorhexidine-timol pada permukaan akar pasien yang mengalami xerostomia,
Gambar 5.13
Contoh Produk Biotene untuk Xerostomia Pengobatan
Gambar 5.14
Contoh Tablet Palatal untuk Meringankan Gejala Xerostomia
Penelitian tentang pencegahan karies telah meningkat selama dekade terakhir karena
bertambahnya populasi masyarakat lanjut usia, banyaknya obat yang menyebabkan
xerostomia, dan temuan-temuan baru pada kelompok yang telah mendapatkan treatment.
Tingginya biaya penelitian, retensi para responden penelitian, dan sebagian besar
penelitian berfokus pada berbagai kombinasi bahan-bahan. Investigasi lainnya telah
menghasilkan wawasan menjanjikan berikut ke dalam memerangi karies gigi:
polyvinylpyrrolidone yodium dengan pengolesan fluor, arginin, fluor perak diamina, dan
pelega tenggorokan xylitol. senyawa alami termasuk ekstrak teh, ekstrak biji anggur, minyak
kelapa, ramuan Cina, dan flavonoid bioaktif (atau pigmen tanaman) juga telah diperiksa untuk
Hal pertama dan terpenting, Terapis gigi dan mulut harus menunjukkan bahwa semua
klien memiliki “dental home” pada usia 12 bulan. Setelah itu pertimbangan cermat harus
diberikan untuk mengumpulkan banyak informasi selama penilaian risiko. Pada setiap
kunjungan. Informasi ini diharapkan menghasilkan data risiko klien memiliki karies gigi dari sisi
pelindung maupun faktor patologis. Strategi pencegahan yang dibutuhkan klien dapat
direkomendasikan berdasarkan informasi/data yang telah diperoleh.
Manajemen karies harus menjadi suatu proses yang berkelanjutan melalui proses
pengumpulan data dan pemeriksaan berkala secara dinamis. Hal ini harus dijalankan oleh
Terapis gigi dan mulut dengan klien secara berkelanjutan.
Tips Pendidikan Klien
1. Menjelaskan proses karies, termasuk frekuensi karbohidrat dan peran bakteri
acidophilic.
2. Jika klien menggunakan air minum berfluor, maka penting sekali untuk melakukan uji
kadar fluor pada air minum.
3. Menginformasikan jenis-jenis/produk yang ada dewasa ini di pasaran yang dapat
mencegah dan mengendalikan karies.
1. Tanggung jawab dan etika bagi Terapis gigi dan mulut untuk selalu mencatat semua
bahan-bahan kemoterapi yang digunakan selama tindakan perawatan serta pada semua
produk yang direkomendasikan.
2. Salah satu kewajiban etis yang harus dilakukan seorang Terapis gigi dan mulut adalah
banyak membaca literatur ilmiah. Hal ini akan memperkuat keputusan yang dibuat
untuk tindakan pengobatan dan pemberian suatu rekomendasi.
3. Tidak boleh memaksakan klien untuk menerima terapi fluor jika klien menyatakan tidak
bersedia.
4. Aplikasi fluor hanya dapat diberikan kepada klien yang bersedia/mau menerima.
5. Untuk dapat menganalisis sejauh mana paparan fluor dapat terjadi pelajari sejarah fluor
secara komprehensif.
6. Membuat suatu rekomendasi berdasarkan hasil evaluasi pemeriksaan klien, termasuk di
dalamnya adalah tentang risiko karies.
7. Menekankan tentang pentingnya penggunaan, penyimpanan yang aman, dan
pengawasan produk fluor bagi anak-anak.
8. Menjelaskan risiko, manfaat, dan instruksi pasca pemberian fluor maupun nonfluor
untuk semua klien.
9. Simpan, pantau tanggal kadaluwarsa, dan kelola semua bahan-bahan yang mengandung
fluor secara tepat.
Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!
1) Individual penelitian definisi penelitian berbasis bukti. Cari contoh penelitian berbasis
bukti dan berbagi dengan rekan-rekan.
2) Bagilah kelompok menjadi subkelompok berikut: glukonat chlorhexidine, produk xylitol,
amorf kalsium fosfat (ACP) dan CPP-ACP produk, probiotik, produk xerostomia, dan
pasta gigi fluor dan larutan kumur. Kelompok harus mengunjungi toko obat untuk
mengumpulkan informasi tentang jenis produk bahan yang tersedia, aktif dan tidak aktif
dalam produk, instruksi pabrik, dan yang produk telah dianugerahi ADA Seal of
Acceptance atau CDA Seal of Recognition. Melaporkan kembali ke subkelompok lainnya.
3) Anggota kelompok melakukan pencarian di internet tentang fluor dan nonfluor pada
pencegahan karies yang dilakukan oleh bidang ilmiah ADA. Lampirkan dasar bukti yang
mendukung atau tidak mendukung bahan-bahan tersebut.
4) Carilah laporan penelitian-penelitian di situs CDC tentang fluor yang dilakukan di kota di
daerah Anda.
Wilkins, E. (2017). Clinical Practice of Dental Hygiene, 12th Edition. Wolters Kluwer, US,
Philadelphia.
Darby, M. (2012). Mosby’s Comprehensive Review of Dental Hygiene, 7th Edition. Elsevier
Mosby, US, St. Louis, Missouri.
Noble, S. (2012). Clinical Textbook of Dental Hygiene and Therapy, 2nd Edition. Wiley-
Blackwell, UK, West Sussex.
Thomson, Evelyn M. (2013). Case Study in Dental Hygiene, 3rd Edition. Pearson Education, US,
New Jersy.
Logothetis, Demetra D. (2012). Local Anesthesia for The Dental Hygienist. Elsevier Mosby, US,
St. Louis, Missouri.
Prajer, R, Grosos, G. (2011). Dental Hygienist's Chairside Pocket Guide. F.A. Davis Company,
US, Philadelphia.
Pendahuluan
Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu mendiskusikan tentang indikasi intervensi kemoterapi dalam pencegahan dan
pengobatan inflamasi penyakit periodontal.
2. Mampu mendiskusikan alasan-alasan dilakukannya terapi secara kimia.
3. Mampu Membahas metode terapi secara lokal, termasuk:
a. Membedakan berbagai metode terapi yang ada dalam menerapkan kemoterapi
pada klien.
b. Membedakan berbagai metode terapi yang ada dalam menerapkan kemoterapi
oleh tenaga klinik sesuai dengan peraturan dam ketentuan.
c. Membuat rekomendasi untuk klien dalam memilih produk kemoterapi
periodontitis yang dapat digunakan di rumah.
4. Mampu mendiskusikan metode terapi secara sistemik.
5. Mampu menjelaskan berbagai bahan aktif yang digunakan dalam produk kemoterapi
untuk penyakit periodontal.
Cikal bakal dan berkembangnya penyakit periodontal terkait dengan interaksi host yang
rentan, agen patogen, dan faktor lingkungan. Oleh karena itu pencegahan dan pengendalian
Karena kemoterapi menimbulkan risiko dan potensi misbranding, dua organisasi besar
di Amerika, yaitu Amerika Serikat Food and Drug Administration (FDA) dan American Dental
Association (ADA) serta organisasi besar bidang kesehatan di Kanada, yaitu: Canada dan
Dental Association (CDA) - berkontribusi untuk memastikan keamanan dan kemanjuran dari
kemoterapi oral. Badan-badan ini membantu kedua penyedia layanan kesehatan mulut dan
klien dengan pembuatan keputusan yang tepat tentang produk kesehatan mulut.
FDA menyetujui proses menjamin keamanan dan kemanjuran obat resep dan over-the-
counter (OTC) produk yang dibuat untuk fungsi terapeuti. Untuk obat bebas, FDA memberikan
penjelasan pada label tentang bahan aktif termasuk dosis dan petunjuk penggunaan yang
tepat dalam kelas terapi masing-masing. Produk OTC biasanya dipasarkan menggunakan
monograf obat OTC yang menginstruksikan bahan aktif dapat digunakan untuk mengobati
penyakit tanpa resep. Jika produk OTC tidak memenuhi ketentuan dari monografi yang ada,
Bidang ilmiah ADA membantu penyedia layanan kesehatan mulut dan masyarakat
dengan cara melakukan pemilihan dan penggunaan agen kemoterapi dengan mengevaluasi
produk nonprescription terbaru untuk keamanan dan keampuhan. Produk yang disetujui oleh
FDA berlaku untuk menerima ADA Seal of Acceptance (Gambar 6.1, A), selanjutkan produk-
produk digunakan menunjukkan keberhasilan terapi sesuai dengan kriteria yang diterbitkan.
Pedoman khusus untuk mengevaluasi efektivitas kemoterapi oral dalam mengurangi plak dan
gingivitis telah dikembangkan dan diperbarui secara teratur (kotak 31-1). Persetujuan
diberikan khusus untuk salah satu atau kedua ukuran hasil ini, tergantung pada bukti-bukti
penelitian yang tersedia.
American Dental Association Dewan Urusan Ilmiah Pedoman Penelitian
1. Karakteristik populasi penelitian merupakan pengguna produk khas.
2. produk aktif harus digunakan dalam treatmen normal dan dibandingkan dengan
penggunaan placebo sebagai kontrol atau, mana yang berlaku, kontrol aktif.
3. Crossover atau desain studi paralel dapat diterima dan berlaku untuk minimal 6 bulan.
4. Dua penelitian harus dilakukan oleh peneliti independen.
5. Pedoman tambahan tentang sampling, mikroba, periode penelitian, evaluasi.
Gambar 6.1
A. American Dental Association Seal of Acceptance.
B, Kanada Dental Association Seal of Recognition.
Di Kanada, CDA menyediakan CDA Seal of Recognition (lihat Gambar 6.2, B) Program ini
bertujuan untuk membantu para profesional kesehatan masyarakat dan mulut dalam
mengidentifikasi produk yang bermanfaat bagi kesehatan mulut bagi konsumen dan selain itu
ikut membantu dalam membuat pilihan informasi tentang produk tersebut. CDA Seal harus
memverifikasi bahwa produk sesuai dengan Kesehatan Kanada Terapi Produk Direktorat, yang
merupakan otoritas federal Kanada yang mengatur obat farmasi dan alat kesehatan untuk
digunakan manusia. Untuk menerima otorisasi pasar, produsen harus menyajikan bukti ilmiah
keamanan suatu produk, khasiat, dan mutu, termasuk laboratorium dan data studi klinis.
Gambar 6.2
Dimensi Kemoterapi Oral
Dimensi kedua dari kemoterapi adalah bahan aktif. Bahan aktif mengacu ke bahan kimia,
atau komponen obat dalam sistem pengiriman tertentu yang berperan untuk perbaikan
terapi. Bahan aktif dapat diterapkan ditemukan dalam berbagai cara dan berbagai sistem
pengiriman. Misalnya, bahan fluoride aktif digunakan dalam kedua sistem pengiriman lokal,
seperti mellalui kumur-kumjur, dan secara sistemik, seperti suplemen fluoride. Berbagai
formulasi fluoride mungkin juga tersedia untuk digunakan di rumah dan digunakan secara
tepat. Terapis gigi dan mulut tidak boleh berasumsi bahwa khasiat terbukti dari bahan aktif
tertentu dalam sistem pengiriman tertentu memastikan bahwa bahan aktif yang sama ini juga
sama berkhasiat dengan sistem pengiriman lainnya atau dalam sistem yang sama tetapi dalam
konsentrasi yang berbeda.
Bahan aktif yang efektif menonaktifkan mikroorganisme atau mengubah mikroflora
dalam beberapa cara (lihat Tabel 6.1) yang disebut dengan antiseptik oral. Antiseptik adalah
zat yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme. Bahan ini
umumnya digunakan dalam kemoterapi rongga mulut karena bahan ini menunjukkan sedikit
Toksisitas oral atau sistemik atau resistensi mikroba, dan sebagian besar memiliki spektrum
antimikroba yang luas. Bahan ini menunjukkan aktivitas bakterisida, yang berarti bahwa bahan
ini membunuh mikroba secara langsung, dan bersifat bakteriostatik, yang berarti juga bahwa
metabolisme atau reproduksi mikroba terpengaruh oleh bahan jenis ini. Substantivitas
merujuk kemampuan agen untuk tahan lama mengikat dengan jaringan mulut dan kemudian
Tabel 6.1
Kategorisasi Bahan Aktif Pada Proses Kemoterapi Rongga Mulut
Kategori Deskripsi
Antibiotik Luas atau spektrum sempit; menghambat atau membunuh tertentu atau
kelompok bakteri, atau memodulasi tuan rumah respons inflamasi
Selain bahan-bahan aktif yang ditemukan dalam bahan kumur, formulasi ini mungkin
termasuk air, alkohol, agen pembersih, bahan penyedap, dan pewarna. Alkohol (10% sampai
30% volume) termasuk dalam banyak formulasi untuk mengemulsi bahan antimikroba di
Gambar 6.3
Tips Jet Standar untuk Sistem Irigasi Rumah
Ketika menggunakan irigasi, penetrasi irigasi tergantung pada desain ujung, kedalaman
saku, dan akses klien individu terhadap bagian-bagian yang terkena. Tips jarum-yang disebut
Kanula yang tersedia dan dirancang khusus untuk ditempatkan di bawah margin gingiva
(Gambar 6.4). Meskipun penggunaan ujung memungkinkan untuk penetrasi ke dalam saku,
umumnya dicadangkan untuk penggunaan profesional, karena tips ini memerlukan
keterampilan tingkat tinggi untuk dapat menuju kepada penyakit tertentu. Oleh karena itu
merekomendasikan kepada klien terhadap penggunaan kanula dengan irigasi yang digunakan
di rumah harus dipertimbangkan dengan cermat.
Gambar 6.4
Kanula untuk Irigasi Profesional
1. Penempatan Controlled-Release
Minocycline Hidroklorida Mikro
Alat yang diperlukan:
a. Alat pelindung diri.
b. Kaca mulut.
c. Probe periodontal.
d. Scaler dalam berbagai jenis.
Langkah-langkah:
a. Tentukan kebutuhan mikrosfer minocycline (diindikasikan untuk pengurangan
kedalaman poket ≥5 mm periodontitis kronis).
b. Evaluasi kontraindikasi dan tindakan pencegahan untuk pengobatan.
c. Informed consent berisi tentang penjelasan risiko, manfaat dan alternatif pengobatan.
d. Hapus jumlah kartrid unit dosis yang diperlukan untuk pengobatan.
e. Masukkan kartrid ke dalam pegangan kartrid steril untuk mengelola produk, dan ikuti
instruksi pabrik.
f. Tip cartridge Bend digunakan untuk dapat menjangkau lokasi yang sakit. Masukkan
ujung subgingiva cartridge ke dasar saku; Tip harus sejajar dengan sumbu panjang gigi.
Secara bertahap tekan dengan ibu jari untuk mengekspresikan bubuk sambil menarik tip
dari dasar saku. Jangan memaksa ujung ke dasar saku. Menarik ujung jika klien
merasakan sakit.
g. Bahan perekat tidak diperlukan. Mikrosfer dapat mengaktifkan kelembaban saku
periodontal. Buang cartridge dan bagian pegangan disterilkan.
h. Instruksikan klien untuk menunda menyikat untuk 12 jam pertama setelah pengobatan.
Selama 10 hari, klien harus menjauhkan diri dari pembersih interdental dan hindari
makan makanan keras, renyah, atau lengket.
i. Jadwalkan kunjungan berikutnya untuk reapplication. Evaluasi ulang kedalaman saku
periodontal dan tingkat perlekatan klinis.
Salah satu perangkat yang pertama kali disetujui digunakan untuk periodontitis adalah
serat tetrasiklin, sebuah monofilamen dari kopolimer etilena/vinil asetat yang 0,5 mm dan
yang mengandung 12,7 mg merata tetrasiklin hidroklorida; menyediakan rilis terus menerus
tetracycline selama kurang lebih 10 sampai 14 hari.
Antiseptik jenis Chlorhexidine, ditemukan di beberapa alat yang diginakan, termasuk
chip, gel, dan irrigants (0,2% sampai 2%). Chlorhexidine Chip (PerioChip) adalah 4 sampai 5-
mm dihidrolisis Chip gelatin biodegradable yang menggabungkan 2,5 mg klorheksidin
dgluconate untuk dimasukkan ke dalam kantong (Gambar 6.6). Chip biodegradable
mempertahankan konsentrasi GCF rata-rata 125 ug /mL klorheksidin selama 7 sampai 10 hari,
sehingga melebihi MIC dan menghambat hampir semua bakteri subgingiva. Penindasan flora
bakteri subgingiva jelas selama beberapa minggu setelah rilis obat. Beberapa penelitian telah
menunjukkan perbaikan dalam kedalaman saku dan CAL ketika dikendalikan-release
klorheksidin digunakan sebagai tambahan untuk scaling dan root planing.6
Chip klorheksidin ditempatkan setelah scaling dan root planing, dan itu adalah diri dpt
menyimpan setelah terkena uap air (yaitu, GCF) (prosedur 31-2 dan sesuai Form kompetensi).
Satu chip per situs saku digunakan dan tidak boleh terganggu oleh rejimen homecare selama
1 minggu. The arah disertakan dengan memasukkan produk harus tepat diikuti. Karena chip
diri resorbs, kebutuhan untuk penghapusan profesional dihilangkan. Penempatan chip CHG
merupakan kontraindikasi untuk klien dengan alergi langka untuk chlorhexidine.
2. Penempatan Controlled-Release
Alat Yang Diperlukan:
a. Alat pelindung diri
b. cermin mulut
c. probe periodontal
d. tang kapas, kapas gulungan, sudut kering
e. Scaler (s)
f. Chip chlorhexidine
Penelitian mengenai doxycycline antibiotik gel belum terlalu banyak. Doxycycline gel
(Atridox) terdiri dari 10% doksisiklin hyclate dalam polimer gel yang mengalir ke dasar saku
dan yang mengeras pada kontak dengan kelembaban GCF untuk memberikan pelepasan
doxycycline antibiotik selama 7 hari. Obat dapat mencapai konsentrasi GCF lebih dari 1500 mg
/mL dalam beberapa jam, pada keadaan ini tetap jauh di atas MIC untuk patogen yang paling
periodontal selama 7 hari. Produk ini akan terurai, sehingga tidak perlu dibersihkan oleh
tenaga kesehatan gigi. Meskipun penelitian tentang treatmen ini belum banyak, namun
demikian hal ini telah menunjukkan bahwa gel doxycycline dapat mengurangi dalamnya saku
dan untuk meningkatkan CALs, sehingga memberikan tambahan untuk scaling dan root
planing.6
Doxycycline gel tersedia dalam dua jenis jarum suntik; produk dikombinasikan secara
manual dan kemudian dimasukkan ke dalam saku melalui kanula (prosedur 31-3 dan sesuai
Form kompetensi). Penggantian dapat dilakukan terutama di saku yang masih dangkal untuk
memastikan adanya retensi. Individual atau keluarga yang menggunakan tetrasiklin
merupakan kontraindikasi penggunaan Doxycycline gel.
Langkah-langkah:
a. Tentukan kebutuhan untuk terapi doksisiklin (diindikasikan untuk pengurangan
kedalaman poket dan keuntungan dalam perlekatan klinis ≥5 mm dengan periodontitis
kronis).
b. Evaluasi kontraindikasi dan tindakan pencegahan untuk pengobatan.
c. Jelaskan risiko dan manfaat dan alternatif untuk pengobatan. memperoleh informed
consent.
d. Lepaskan jarum suntik untuk kopling (satu mengandung 10% doxycycline hyclate dan
satu mengandung polimer cair) dari paket. Jarum suntik berisi materi yang cukup untuk
mengobati 03:57 gigi.
e. Pegang jarum suntik untuk membuka tutup dengan nozel tegak untuk menghindari
tumpah sebelum kopling.
f. Campur dengan memegang jarum suntik digabungkan bersama-sama secara horizontal
di kedua tangan. Menyuntikkan cairan isi jarum suntik dengan garis ungu ke dalam alat
suntik dengan bubuk kuning, kemudian dorong isi kembali ke dalam alat suntik dengan
garis ungu lagi. Ini merupakan salah satu siklus pencampuran dan harus diulang untuk2
menit untuk 100 siklus. Selesai mengisi jarum suntik dengan stripe ungu dengan
memegang jarum suntik ditambah secara vertikal, dengan jarum suntik dengan stripe
ungu di bagian bawah. Menarik kembali plunger jarum suntik dengan garis ungu dan
memungkinkan gel mengalir ke bawah laras. Memutar dan kunci jarum suntik bersama-
sama sesuai instruksi pabrik. Mengunci ujung terbuka dari kedua jarum suntik bersama-
sama dengan memutar bersama sampai mereka mengunci.
g. Uncouple jarum suntik dan tutup kanula jarum suntik dengan cara diputar. Kanula bisa
ditekuk pada sudut yang diinginkan menyerupai probe periodontal. Produk sekarang
siap untuk digunakan. Jika produk dicampur terlebih dahulu, menyegarkan campuran
dengan 10 pencampuran siklus sebelum uncoupling jarum suntik.
Metronidazol adalah antibiotik yang tersedia dalam bentuk gel controlledrelease (25%).
Metronidazol gel (Elyzol) adalah sistem drugdelivery bioresorbable yang terdiri dari 25%
metronidazol benzoat dalam campuran mudah mengalir. Hal ini dipalikasin pada subgingiva
melalui jarum suntik cannulafitted. Proses ini dapat mencapai konsentrasi puncak dalam GCF
4 jam setelah pemberian, dan mempertahankan tingkat lebih dari 100 mg / mL untuk pertama
8 jam. Produk dapat mempertahankan untuk patogen anaerob rentan terhadap
metronidazole (1,0g/mL) dengan konsentrasi melebihi MIC selama kurang lebih 36 jam.
Meskipun beberapa studi yang dilakukan pada produk ini telah menunjukkan perbaikan dalam
kedalaman saku dan CALs, khasiatnya kurang dari minocycline dan tetrasiklin.6
Sebuah tinjauan sistematis produk dikendalikan-release menemukan bahwa, secara
keseluruhan, antibiotik lokal dalam sistem drugdelivery memiliki dampak positif pada
Gambar 6.7
Periowave
Metode pemberian secara sistemik adalah bahan-bahan yang tertelan dan kemudian
masuk melalui aliran darah. Sebagaimana yang dialami oleh fluor. Pemberian antibiotik secara
sistemik untuk pengobatan periodontitis dari aliran darah ke jaringan periodontal dan
akhirnya mencapai GCF, antibiotic ini masuk ke dalam mikroflora subgingiva (meskipun dalam
konsentrasi rendah). Beberapa antibiotik telah digunakan secara sistemik baik tunggal
maupun kombinasi untuk pengobatan periodontitis, termasuk doxycycline, penisilin,
metronidazole, dan klindamisin. Ulasan baru secara sistematis telah dilakukan untuk
mengevaluasi manfaat antibiotik secara sistemik; Kesimpulannya dalah untuk jenis amoksisilin
atau kombinasi amoksisilin dan metronidazole, metronidazol saja, atau dosis subantimicrobial
dari doxycycline mempunyai khasiat yang lebih baik dibandingkan scalling dan root planing
saja.7
Meskipun pemberian secara sistemik memungkinkan masuknya antibiotik untuk saku
periodontal yang dalam, hal ini juga terkait dengan berbagai kontraindikasi, tindakan
pencegahan, dan efek samping. Keberhasilan pemberian antibiotik secara sistemik
membutuhkan kepatuhan yang berkelanjutan klien dalam mengkonsumsi; hal ini perlu
diperhatiaan, karena banyak klien gagal untuk mengikuti anjuran ini. Selain itu, penggunaan
rutin antibiotik untuk mengobati penyakit periodontal tidak dianjurkan karena organisme
resisten terhadap antibiotik. Oleh karena itu resep antibiotik sistemik untuk penyakit
periodontal harus dipertimbangkan dengan cermat.
I. BAHAN AKTIF
1. Bisbiguanides
Bisbiguanides adalah kationik, spektrum luas antimikroba yang efektif untuk bakteri
gram positif dan gram negatif. Dari jumlah tertentu, chlorhexidine glukonat (CHG atau CHX)
adalah salah satu yang paling banyak diteliti dan digunakan. Untuk digunakan di ronga mulut
terutama digunakan dalam obat kumur, untuk irigasi, dan produk lainnya. CHG mengikat
2. Fenolik Senyawa
Fenol adalah kelas senyawa kimia dengan sifat yang unik; beberapa fenol dapat
pembunuh kuman dan digunakan dalam formulasi desinfektan. Minyak esensial (EO) adalah
komponen dari tanaman yang mengandung senyawa fenolik yang menghancurkan
mikroorganisme dengan cara menghambat aktivitas membran sel dan enzim. Listerine
tersedia secara komersial pada produk EO kumur dan pasta gigi. Obat kumur yang paling
dipakai adalah kombinasi dari dua EO phenolicderived, timol (0,064%) dan ekaliptol (0,092%),
yang dicampur dengan mentol (0,042%) dan bahan-bahan lainnya. Ini telah menunjukkan
kemanjurannya dalam uji klinis jangka panjang. bilas EO ini memiliki efek terapi multidimensi
dalam mencegah bakteri menggabungkan, memperlambat perkalian bakteri, mengurangi
beban bakteri secara keseluruhan dalam rongga mulut, mencegah massa plak dari
pematangan, dan mengurangi patogenisitas massa plak. Produk ini juga memiliki sifat anti-
inflamasi.
Meskipun EO memiliki substantivitas relatif rendah, Listerine Antiseptik telah terbukti
sangat berkhasiat mengurangi plak dan radang gusi . Uji klinis jangka panjang sebagaimana
pedoman ADA menunjukkan adanya pengurangan plak dari 56% dan pengurangan gingivitis
3. Kuarter Ammonium
Senyawa surfaktan menghancurkan mikroorganisme dengan berinteraksi dengan
membran sel bakteri dan menyebabkan ia menjadi permeabel dan kehilangan isinya. Senyawa
ini mempengaruhi bakteri grampositive dan gram negatif, tetapi mereka lebih bakterisida
dengan mantan. Seperti kelompok fenol, senyawa surfaktan mengikat baik dengan jaringan
mulut, tetapi mereka memiliki substantivitas rendah dibandingkan dengan CHG.
Beberapa senyawa surfaktan telah tersedia secara komersial selama bertahun-tahun,
seperti cetylpyridinium chloride (BPK) (Cepacol 0,05%), dan mereka juga tersedia dengan
bromida domiphen (Lingkup 0,045%) atau benzethonium klorida (Colgate 100 0,05%).
formulasi ini terutama kosmetik di bahwa mereka memiliki sejarah keselamatan, tetapi
keberhasilan mereka untuk plak dan pengurangan radang gusi belum dibuktikan dalam uji
6. Halogen/Fluoride
Meskipun penggunaan fluoride sebagai agen karies-preventif telah diteliti dengan baik,
perannya dalam pencegahan dan pengendalian penyakit periodontal plaqueinduced kurang
didokumentasikan dengan baik. Fluoride stannous diyakini masuk ke dalam sel bakteri dan
merusak metabolisme, sehingga menangkal pertumbuhan dan sifat-sifatnya. Hal ini telah ada
dalam pasta gigi (0,454%), dengan beberapa efek antiplak dan gingivitis. Ini dapat digunakan
dalam kombinasi dengan bahan aktif lainnya (misalnya, triclosan); Namun, sebagai akibat dari
nilainya pasti klinis, kurangnya stabilitas dalam penyimpanan, dan peningkatan sifat
pewarnaan, telah memiliki penerimaan yang terbatas untuk pencegahan penyakit gingival.
Produk fluoride lainnya telah dipasarkan di luar Amerika Utara untuk kontrol plak dan radang
gusi, termasuk amina stabil / solusi fluoride stannous (Meridol). Komponen amina stabil, yang
hanya aktif terhadap karies, menstabilkan komponen fluoride stannous dan tidak
menunjukkan efek samping. Hal ini diserap oleh permukaan sel bakteri, sehingga
menghambat metabolisme permukaan dan mengurangi plak secara keseluruhan. Beberapa
uji klinis jangka pendek telah menunjukkan temuan positif mengenai penghambatan plak
dengan adanya bukti-bukti yang meyakinkan.
7. Lainnya
Banyak bahan-bahan lain yang menunjukkan adanya aktivitas antimikroba, tapi ini
belum terbukti dalam studi jangka panjang dengan kontrol negatif. Bahan aktif seperti
echinacea, goldenseal, povidone-iodine, xylitol, protein host (lisozim, laktoferin, dan
laktoperoksidase) dan probiotik telah digunakan dalam produk-produk kesehatan mulut yang
didukung oleh hasil penelitian. Xylitol digunakan sebagai agen antikaries. Povidone-iodine
digunakan sebagai irigasi profesional diterapkan (10%), untuk irigasi rumah (0,1%), atau
sebagai obat kumur (1,0%), dan memiliki spektrum yang luas. Probiotik adalah
1. Jelaskan bahwa kontrol plak bakteri, radang gusi, dan periodontitis terutama ditujukan
dengan cara mekanis melalui homecare dan didukung oleh intervensi profesional;
intervensi kemoterapi diperkenalkan sebagai tambahan.
2. Diskusikan bahwa pengukuran dan evaluasi adanya plak, perdarahan, dan penilaian
keadaan gingiva diperlukan setelah intervensi kemoterapi. Jika hasil klinis ditingkatkan,
terapi kemoterapi mungkin tidak lagi dilanjutkan.
3. Perhatikan bahwa produk agen kemoterapi yang efektif memiliki biaya tambahan baik
dari segi uang dan waktu. Oleh karena itu, jika kontrol plak secara mekanik dapat
menghilangkan deposit lembut dan mengontrol biofilm plak, maka hal-hal tersebut
harus diperhatikan.
4. Jelaskan manfaat dan efek samping yang mungkin muncul akibat penggunaan agen
antimikroba.
1. Terapis gigi dan mulut memiliki kewajiban hukum dan etika untuk mempelajari literatur
terbaru sekitar intervensi kemoterapi pribadi dan profesional. Memanfaatkan ulasan
sistematis dan pedoman profesional untuk membantu menjelaskan peran dan tanggung
jawab.
2. Pengkajian klien harus mencakup evaluasi dari faktor keberadaan dan distribusi plak
bakteri secara akurat. Rencana perawatan harus mencakup pendidikan, preventif, dan
terapi intervensi untuk klien untuk menjaga kebersihan mulut pribadi dan kondisi
periodontal, termasuk pertimbangan agen kemoterapi sehari-hari.
L. KONSEP KUNCI
1. Meskipun bakteri plak biofilm diyakini sebagai etiologi utama terjadinya penyakit dan
inflamasi periodontal, tetapi respons imun host adalah hal yang dapat menjaga
perkembangan penyakit.
2. Meskipun upaya menghilangkan bakteri plak biofilm secara mekanik sebagai langkah
yang paling utama dalam pengendalian penyakit, metode kemoterapi oral dapat
memberikan manfaat yang siginifkan.
3. Mengevaluasi produk kemoterapi oral yang membutuhkan bukti pendukung dari
beberapa uji klinis jangka panjang yang dilakukan pada kelompok populasi yang
homogen dengan hasil intervensi sebanding adalah merupakan upaya pengendalian
yang tepat.
4. Keberhasilan sistem masuknya obat lokal untuk mengobati infeksi periodontal
tergantung pada kemampuan bagaimana agen antimikroba mengobati penyakit dengan
pertimbangan konsentrasi hambat minimum dan durasi waktu yang cukup.
5. Substantivitas adalah kemampuan suatu bahan aktif untuk obligasi dengan jaringan
mulut, sehingga memungkinkan bahan yang akan dipertahankan dalam rongga mulut
dan akan terus dirilis sambil mempertahankan potensinya.
6. Sebagai tambahan homecare untuk kebersihan mulut secara konvensional, irigasi
supragingiva berperan untuk mencegah dan mengendalikan plak bakteri pada kasus
Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!
1) Mengembangkan kasus yang akan mendukung rekomendasi dari hasil intervensi yang
berkaitan dengan kemoterapi oral:
a. Penempatan mikrosfer minocycline (Arestin).
b. penggunaan kumur-kumur Listerine dua kali.
c. irigasi rongga mulut dengan chlorhexidine glukonat.
d. Resep dosis sistemik subantimicrobial dari doxycycline hyclate (Periostat).
e. Administrasi praprosedur over-the-counter atau resep kumur-kumu sebelum
perawatan kesehatan gigi.
2) Bermain peran : skenario : libatkan siswa lainnya: Anda dan teman sekelas Anda akan
memainkan peran sebagai Terapis gigi dan mulut yang bekerja di praktek umum
bersama-sama; teman sekelas Anda merekomendasikan menggunakan chlorhexidine
glukonat (0,12%) sebagai irigasi subgingiva dengan semua klien yang memiliki kantong-
kantong 4 mm atau lebih besar sebagai intervensi rutin. Apa diskusi yang akan Anda dan
rekan Anda miliki tentang intervensi ini?
Wilkins, E. (2017). Clinical Practice of Dental Hygiene, 12th Edition. Wolters Kluwer, US,
Philadelphia.
Darby, M. (2012). Mosby’s Comprehensive Review of Dental Hygiene, 7th Edition. Elsevier
Mosby, US, St. Louis, Missouri.
Noble, S. (2012). Clinical Textbook of Dental Hygiene and Therapy, 2nd Edition. Wiley-
Blackwell, UK, West Sussex.
Thomson, Evelyn M. (2013). Case Study in Dental Hygiene, 3rd Edition. Pearson Education, US,
New Jersy.
Logothetis, Demetra D. (2012). Local Anesthesia for The Dental Hygienist. Elsevier Mosby, US,
St. Louis, Missouri.
Prajer, R, Grosos, G. (2011). Dental Hygienist's Chairside Pocket Guide. F.A. Davis Company,
US, Philadelphia.
Pendahuluan
Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa
1. Mampu menjelaskan tentang abses periodontal, termasuk penyebab, tanda dan gejala,
dan pengobatan.
2. Mampu mendiskusikan tentang lesi endodontik, termasuk penyebab, tanda dan gejala,
dan pengobatan.
3. Mampu menjelaskan infeksi herpes, termasuk penyebab, tanda dan gejala, dan
pengobatan.
4. Mampu mendiskusikan tentang perikoronitis, termasuk tanda-tanda dan gejala dan
pengobatan
5. Mampu menjelaskan penyakit periodontal necrotizing, termasuk penyebab, tanda dan
gejala, dan pengobatan.
6. Mampu mendiskusikan bagaimana memberikan perawatan avulsi gigi, termasuk:
a. Berkolaborasi dalam merawat klien dengan periodontal umum dan keadaan
darurat gigi.
b. Mendidik klien tentang perlunya perawatan segera dari periodontal umum dan
keadaan darurat gigi dan hasil yang diharapkan dari perawatan darurat.
c. Ikuti protokol darurat standar untuk gigi avulsi.
A. ABSES PERIODONTAL
Abses periodontal adalah akumulasi nanah secara lokal dalam jaringan periodontal.
Abses periodontal dibedakan oleh lokasi (yaitu, baik gingiva atau periodontal) dan oleh
perjalanan penyakit (yaitu, akut atau kronis).
1. Abses gingiva adalah abses periodontal yang terbatas pada gingiva marginal dan yang
sering terjadi di daerah-daerah gingiva yang sebelumnya sehat (Gambar 7.1).
Gambar 7.1
Abses Gingiva Antara Gigi Seri Lateral
2. Abses periodontal adalah infeksi lebih dalam yang terjadi di kantong periodontal,
furkasi, dan dapat mengakibatkan kehilangan tulang (Gambar 7.2).
3. Abses periodontal akut adalah lesi dengan adanya kerusakan periodontal yang terjadi
selama jangka waktu tertentu dengan gejala klinis yang mudah dideteksi. Hal ini ditandai
dengan rasa adanya rasa sakit, bengkak, dan gejala lain yang membutuhkan tindakan
segera (Gambar 7.3).
Gambar 7.3
Abses Periodontal Akut antara Gigi # 24 dan # 25 Menunjukkan Tanda-tanda Jelas
Kemerahan dan Pembengkakan
Gambar 7.4
Abses Periodontal Kronis. Catatan Fistula yang Berhubungan dengan Gigi # 6 di Gingiva
Terlampir
Sebuah studi retrospektif kehilangan gigi yang disebabkan oleh abses periodontal
menunjukkan bahwa 55% dari gigi dengan abses periodontal dapat dipertahankan selama
rata-rata 12,5 tahun (kisaran, 5 sampai 29 tahun). Memahami proses perjalanan penyakit
periodontal akan berpengaruh terhadap pemberian tindakan pengobatan, dengan demikian
tujuan menjaga kesehatan gigi adalah berada pada hal yang sangat penting.
Pembentukan abses juga dapat terjadi jika ada benda asing di dalam saku. Reaksi
inflamasi dapat terjadi lebih parah. Tindakan yang kurang hygienis dan dari treatmen root
planing yang meninggalkan residu kalkulus di dalam saku sebagai salah satu penyebab
terjadinya periodontal abses. Hal ini berarti menyatakan bahwa lubang saku yang kencang
berarti sebagai tanda gingiva sehat dan baik, dan dengan keadaan demikian dapat
menghindari kalkulus dan plak menginfeksi jaringan saku lebih dalam. Pandangan ini telah
diyakini oleh banyak orang dengan adanya dukungan data. Dalam sebuah analisis dari 29
orang yang mencari pengobatan di sebuah klinik periodontik pascasarjana yang telah
didiagnosis abses periodontal 18 orang (62%) memiliki penyakit periodontal yang tidak
diobati, 7 orang (24%) berada di perawatan periodontal, dan hanya 4 orang (14%) melaporkan
riwayat skala baru dan root planing. Dari 29 orang tersebut, 27 didiagnosis dengan moderat
untuk penyakit periodontal yang parah; dua lainnya memiliki periodontitis awal. Probing rata-
rata kedalaman abses ini cukup mendalam (yaitu, 7,3 mm, kisaran, 3 sampai 13 mm), dan
abses yang sebagian besar berhubungan dengan gigi molar.3
Penyebab utama eksaserbasi akut adalah pengobatan yang tidak lengkap, proporsi
terbesar adalah karena klien tak kembali lagi lama setelah scaling dan root planning. Dalam
studi lain tercatat, empat jenis tindakan perawatan periodontal dibandingkan dengan dan
tingkat abses. Skaling pada kuadran yang ada kalkulus supragingiva tidaklah cukup tapi skaling
subgingiva harus dilakukan pada batas abses yang lebih jauh pada daerah root planing dalam
4. Pengobatan
Tindakan pengobatan yang paling utama adalah drainase agen antimikroba. Pada kasus
akut tindakan utamanya adalah mengurangi rasa sakit dan mencegah penyebaran infeksi.
Abses harus dikeringkan dengan cara pembukaan saku atau melalui sayatan. Drainase dengan
cara pembukaan saku kurang invasif; ini umumnya dilakukan oleh Terapis gigi dan mulut.
Daerah gigi yang terkena yang dibius lalu dibersihkan. Instruksi pasca operasi istirahat yang
cukup, asupan cairan, dan kumur air garam untuk membantu mengurangi pembengkakan.
Klien dijadwalkan untuk kembali dalam 24 sampai 48 jam untuk reevaluasi daerah dan untuk
Gambar 7.6
Pengobatan Abses Periodontal Akut. Abses Akut sering Dapat Berhasil Diobati Tanpa
Intervensi Bedah. A, Abses terkait dengan gigi # 9 menunjukkan pembengkakan dan fistula
nondraining. Secara klinis jaringan muncul sangat merah. B, Probe di tempat untuk
menunjukkan kedalaman 9-mm saku sebelum scaling, root planing, dan kuretase.
C, Penyembuhan setelah 1 bulan menunjukkan arsitektur jaringan normal dan sedikit
resesi. Sebuah saku periodontal 7-mm masih ada, tetapi pengurangan bedah akan
menghasilkan resesi nonaesthetic. Situasi ini dapat dilanjutkan tanpa batas dengan
homecare yang baik dan pemeliharaan periodontal sering.
Potensi adanya perbaikan abses periodontal akut setelah pengobatan yang baik ditandai
dengan normalnya gingiva dalam waktu 6 sampai 8 minggu. Kehilangan tulang dengan cepat
dapat terjadi selama fase akut, perbaikan kerusakan tulang membutuhkan sekitar 9 bulan.;
Namun, dengan penanganan perawatan yang tepat, jaringan tulang yang hilang sebagian
besar dapat kembali.1 Sifat positif dari hasil klinis dari penyembuhan lebih lanjut menekankan
pentingnya penanganan dan pengobatan abses akut oleh Terapis gigi dan mulut.
Abses periodontal kronis menyerupai abses periodontal akut bahwa ada penambahan
jumlah organisme patogen di dalam saku periodontal yang menghasilkan inflamasi dan
adanya eksudat. Abses kronis berhubungan dengan keadaan rongga mulut, baik melalui
pembukaan saku atau melalui saluran sinus yang memungkinkan drainase biasa. Abses
periodontal kronis biasanya tidak menimbulkan rasa sakit, atau mungkin menyebabkan
perubahan warna, nyeri intermiten; Namun, klien dapat menceritakan keluhan yang dirasa
sebelumnya infeksi akut yang menyakitkan.1 Gambar 7.7 memberikan contoh menguras
abses periodontal kronis.
Gambar 7.7
Abses Periodontal Kronis.
A, Pengeringan Melalui Saluran Sinus.
B, Probe Dimasukkan untuk Menunjukkan Komunikasi untuk Saku Periodontal.
C, Pengeringan Melalui Saku Periodontal
3. Pengobatan
Pengobatan abses periodontal kronis mirip dengan pengobatan abses periodontal akut.
Scaling (biasanya membutuhkan anestesi lokal di daerah abses) harus dilakukan. Klien kembali
dalam waktu 24 hingga 48 jam untuk diagnosis lebih lanjut. Dokter gigi harus menentukan
kebutuhan perawatan lebih periodontal untuk mengurangi kedalaman poket dan untuk
mengatasi cacat periodontal lainnya. Pengobatan tambahan biasanya meliputi operasi
pengurangan saku periodontal, mungkin juga pencabutan gigi dan kunjungan perawatan
periodontal lebih intensif. Penanganan awal beberapa kasus abses periodontal kronis dengan
cara bedah.
Gambar 7.8
Bedah pengobatan abses periodontal kronis yang berhubungan dengan furkasi
A. SEBUAH, Abses berhubungan dengan gigi # 3 pameran pembengkakan dan
fistula yang tidak menguras. jaringan sangat memerah, dan pasien memiliki
sakit parah berselang.
Terapis gigi dan mulut berperan dalam memberikan pemahaman kepada klien tentang
kondisi kasus ini. Klien diberitahu tentang kemungkinan adanya kehilangan tulang dan bias
kambuh di kemudian hari jika tidak ada perawatan lebih lanjut mencakup scaling, root planing,
dan kontrol plak biofilm harian. Adanya diskusi tersebut dapat membantu klien untuk mencari
perawatan lebih lanjut sebagai upaya mempertahankan kesehatan gigi.
E. ABSES GINGIVA
Abses gingiva biasanya terjadi di daerah yang sebelumnya bebas penyakit, dan sering
terkait dengan invasi beberapa benda asing ke daerah tersebut. Abses gingiva yang paling
sering ditemukan pada gingiva marginal dan tidak berhubungan dengan patologi jaringan yang
lebih dalam.
Gambar 7.9
Abses Gingiva. Abses Gingiva Dikaitkan dengan Gingiva Marginal dan Sering Hasil dari
Masuknya Benda Asing. Perhatikan Pembengkakan dan Berubah Warna dari Gingiva
Marginal
3. Pengobatan
Abses gingiva harus terbebas dari benda asing dan ini dilakukan oleh dokter gigi atau
periodontist. Jahitan biasanya tidak diperlukan. Kumur air garam hangat direkomendasikan
untuk terapi pasca operasi di rumah. Klien harus kembali untuk observasi pasca operasi di
sekitar 24 jam.
Jenis Lesi
Lesi asal endodontik (LEO),merupakan gigi darurat yang paling umum,1 juga disebut
sebagai dentoalveolar, apikal, periapikal, atau abses endodontik.1proses inflamasi dalam
periodonsium terkait dengan pulp gigi nekrotik memiliki penyebab infeksi yang jelas. Dalam
LEO, maka proses inflamasi diarahkan komponen menular dilepaskan dari pertumbuhan
bakteri dan disintegrasi bakteri dalam sistem saluran akar.4Kadang-kadang sulit untuk
membedakan LEO dari abses periodontal akut, karena nyeri wajah terkait dan nyeri pada gigi
yang sama. Abses endodontik umumnya dihasilkan dari infeksi jaringan pulpa akibat karies,
fraktur gigi traumatis, atau trauma prosedur gigi. Infeksi pulpa dapat menyebar lateral ke gigi
dari gigi yang terinfeksi yang berdekatan, dari periodonsium yang terinfeksi, atau melalui
kanal lateral.
Paling umum, LEO disebabkan oleh mikroorganisme pada lesi karies yang menyebar ke
pulpa melalui tubulus dentin. Proses inflamasi dalam periodonsium terjadi sebagai akibat dari
infeksi saluran akar mungkin tidak hanya dilokalisasi di puncak; tapi juga dapat muncul di
sepanjang aspek lateral akar dan di daerah furkasi gigi berakar banyak. Jenis lesi ini jarang
muncul pada tingkat yang sesuai dengan frekuensi kanal lateral yang terjadi pada gigi.
Penyebaran produk racun mikroorganisme melalui email ke tubulus dentin bisa sangat
cepat. Meskipun mikroorganisme adalah yang paling umum penyebab penyakit pulpa, racun
bakteri juga dapat memulai penyakit pulpa dengan menembus melalui tubulus dengan pori-
pori cukup kecil untuk memblokir bakteri. Racun mempengaruhi sel-sel odontoblastic dan
kemudian menembus ke pulpa, sehingga memulai respons inflamasi. Sel-sel bakteri juga
bergerak ke arah pulpa oleh demineralisasi struktur gigi keras dengan asam yang dihasilkan.
Mikroorganisme masuk ke dalam pulp dan menghasilkan berbagai racun yang mengakibatkan
kematian sel pulpa. Bakteri dan produk metabolisme keluar melalui foramen apikal dan dapat
menyebabkan pembentukan jaringan granulasi lokal; jaringan ini mengandung limfosit, sel
plasma, sel mast, dan elemen respons imun lainnya. Jika iritasi berlanjut, jaringan granulasi
secara bertahap menggantikan tulang normal dan periosteum pada puncak gigi dan
menimbulkan penampilan radiografi umum LEO: a radiolusen didefinisikan di puncak gigi yang
terkena disebut pathosis periapikal.
Gambar 7.10
Lesi Asal Endodontik. Tampilan Radiografi Abses Endodontik Terkait dengan Gigi # 9
Menunjukkan Penampilan Klasik Radiolusen di Apeks Akar. Perhatikan bahwa Ligamen
Periodontal tidak Tampak Utuh Sekitar Gigi Puncak.
Abses periapikal akut terjadi ketika bakteri atau racun cepat masuk ke jaringan
periradikular, biasanya dari ruang pulpa gigi. abses terbatas dapat menyebabkan sakit parah.
Rasa sakit dapat mereda sebagai infeksi menyebar ke arah permukaan atau ruang untuk
memberikan bantuan kepada jaringan. Klien biasanya mengalami rasa sakit dan
pembengkakan dan mungkin memiliki gejala infeksi sistemik, termasuk osteitis (yaitu, radang
tulang) atau cellulitis (yaitu, radang jaringan selular, biasanya terjadi pada jaringan longgar di
bawah kulit, di selaput lendir, sekitar bundel otot, atau sekitar organ, yang dapat mengancam
jiwa). Abses periapikal kronis dikaitkan dengan adanya tahapan proses iritasi dari saluran akar
ke dalam jaringan periradikuler. Kejadian ini biasanya mengalir ke mulut melalui fistula di
tulang atau melalui ligamen periodontal, selain itu dapat menguras melalui kulit wajah. Jika
saluran sinus melalui ligamen periodontal tidak diobati, akan menjadi True Pocket periodontal
Asal-usul adanya abses 85% dari sakit gigi (pulpa) dan bahwa 15% adalah periodontal.
Selain itu, banyak gigi dengan lesi endodontik yang nonvital. Pada beberapa orang yang
menerima tindakan perawatan oleh Terapis gigi dan mulut, sumber abses lebih banyak
ditemukan dari periodontal dibandingkan abses pulpa. Adanya perbedaan rasa nyeri yang
ditimbulkan dapat membedakan abses periapikal dan periodontal. Nyeri pada periapikal
ditandai sebagai tajam, berat, intermiten, dan sulit untuk melokalisasi. Sebaliknya, rasa sakit
periodontal cenderung konstan, kurang parah, dan lokal.
3. Pengobatan
Pengobatan abses apikal dengan cara perawatan endodontik untuk membuang isi pulpa
gigi dan menggantinya dengan bahan inert atau dengan cara pencabutan gigi. Abses
endodontik yang tidak diobati dapat menyebabkan kasus yang parah misalnya abses otak atau
fasciitis leher atau dada dinding yang dapat lifethreatening. Terapis gigi dan mulut memiliki
tanggung jawab untuk menginformasikan klien dengan LEOs tentang risiko menunda
pengobatan atau abses yang tidak diobati. Klien tanpa gejala akut yang disebabkan oleh abses
pengeringan cenderung memiliki kebutuhan untuk mengkonsep proses penyakit sehingga
mereka mengejar perawatan dan menghindari kerusakan jaringan lebih lanjut efek buruk dari
infeksi.
I. ABSES KOMBINASI
Patologi di puncak gigi dari infeksi sistem saluran akar dapat meluas ke jaringan
marginal, dan infeksi yang berasal dari jaringan periodontal dapat berkembang masuk ke
pulpa melalui lubang di puncak atau melalui kanal lateral. Kombinasi abses periodontal
periapikal terjadi ketika kedua-duanya mengalami infeksi. Sumber dan perjalanan infeksi,
kedua penyakit periodontal dan jaringan pulpa yang terlibat dan memiliki pembentukan
abses, abses dianggap sebagai kombinasi periapikal dan periodontal abses.1
Gambar 7.11
Dikombinasikan Periapikal dan Abses Periodontal. Abses Dikombinasikan Dikaitkan
dengan Gigi # 5. Itu Bisa terjadi dari Penyebaran Mikroorganisme Patologis dari Kantong
dalam ke Pulpa Gigi, Proses Karies atau Trauma dari Penempatan Restorasi Sangat Dalam
A, The saluran sinus (fistula) muncul ke dalam rongga mulut.
B, Radiolusen di tulang puncak dan signifikan muncul pada radiograf.
2. Pengobatan
Bentuk yang paling umum pengobatan abses periapikal dan periodontal adalah
pembedahan di lokasi abses, termasuk menghilangkan jaringan granulasi. Abses kombinasi
membutuhkan perawatan dari kedua sumber infeksi. Kedua terapi periodontal dan
endodontik diindikasikan untuk mempertahankan gigi. Dalam beberapa kasus, kerusakan
jaringan periodontal begitu parah sehingga gigi harus dicabut meskipun terapi endodontik
dapat dilakukan dengan sukses.
J. INFEKSI HERPES
Lebih dari 80 virus herpes telah diidentifikasi, delapan di antaranya bersifat patogen bagi
manusia.
Herpes virus simpleks (HSVs) milik keluarga di mana-mana Herpesviridae virus, yang
berisi HSV-1, HSV-2, varicella-zoster virus, cytomegalovirus, dan virus Epstein-Barr serta virus
herpes manusia dan sarkoma Kaposi terkait virus herpes (tipe 8).6
Infeksi virus herpes terjadi di seluruh dunia, tidak memiliki variasi musiman, dan hanya
mempengaruhi manusia secara alami. Prevalensi HSV-1 infeksi meningkat secara bertahap
dari masa kanak-kanak, mencapai 60% sampai 95% prevalensi di antara orang dewasa.
Gambar 7.12
Gingivostomatitis Herpetik Primer. Infeksi Oral ini dari Mulut Ditandai dengan Gingiva
Merah Cerah, Vesikel, dan Nyeri. A, Gingiva Facial Menunjukkan Pembengkakan dan
Berubah Warna. B, Lingual Pandangan Premolar dan Gigi Anterior Menunjukkan Bersatu
Vesikel
Pengakuan adanya PHGS didasarkan pada pengetahuan tentang bentuk bisul dan
penilaian manifestasi sistemik. Tes diagnostik, seperti pembiakan untuk virus herpes oleh
dokter, dapat dilakukan untuk mengetahui adanya virus, tetapi ini tidak rutin. Selain itu,
penyakit ini sangat menular; oleh karena itu kebersihan gigi, klien, dan orang tua klien (dalam
Gambar 7.13
Infeksi Herpes Primer pada Kulit Wajah Dekat Mata. Anak ini 8 Tahun Harus Tetap Keluar
dari Sekolah Selama 3 Minggu sampai Infeksi Berlari Tentu Saja untuk Mencegah
Menyebar ke Orang lain
4. Pengobatan
Pengobatan peradangan gingiva dan setiap tindakan perawatan gigi secara elektif harus
ditunda sampai PHGS telah dilakukan. Klien dinilai oleh dokter gigi untuk mendapatkan
diagnosis gigi secara pasti. Pengelolaan gingivostomatitis herpetik akut sepenuhnya
mendukung karena sifat menular dari penyakit dan fakta bahwa ia berjalan saja di 7 sampai
10 hari. Klien harus diinstruksikan untuk beristirahat, mengambil cairan, dan selalu makan
makanan bergizi. Klien juga harus selalu membersihkan gigi di rumah dengan sikat gigi ekstra-
lembut jika.
Perawatan oleh tenaga kesehatan gigi tidak boleh dilakukan karena risiko penularan
virus ke kepala, leher dan area lain atau dari klien kepada tenaga kesehatan gigi atau pekerja
lainnya. Bahkan jika tena kesehatan gigi sebelumnya terkena herpes atau telah memiliki
riwayat infeksi awal dengan atau tanpa lesi berulang, ia masih bisa diinokulasi dengan virus
oleh tusukan jari yang tidak disengaja dengan instrumen HSV yang terkontaminasi. Infeksi ini
dapat mengakibatkan pengembangan whitlow herpes. Herpetic whitlow adalah lesi jari
herpes berulang yang sangat menyakitkan dan melemahkan. whitlow dapat bertahan
beberapa minggu lebih lama 2 minggu biasanya infeksi virus herpes pada jaringan oral.
Terapis gigi dan mulut memberikan pemahaman kepada klien tentang konsumsi cairan
yang memadai dan lembut, makanan padat gizi; melakukan kebersihan mulut sebanyak
mungkin di rumah; dan menggunakan over-the-counter anestesi topikal dan nonsteroid agen
anti-inflamasi sistemik untuk meminimalkan keluhan. Klien dapat diberikan anestesi topikal
dengan cara oles ke lesi pengendalian secara lokal. Anestesi topikal harus digunakan dengan
hati-hati pada anak-anak agar tidak membius tenggorokan.
Setelah infeksi primer, laten HSV kembali aktif secara berkala, bermigrasi dari ganglia
sensoris menyebabkan herpes oral atau genital berulang.
Meskipun tingginya prevalensi HSV-1 dalam populasi, hanya 15% sampai 40% dari
pasien seropositif pernah mengalami gejala mukokutan. Kerentanan genetik individu, status
kekebalan, usia, lokasi infeksi, dosis awal inokulum, dan subtipe virus muncul mempengaruhi
frekuensi kekambuhan. Dibandingkan dengan infeksi primer, episode berulang lebih ringan
dan lebih pendek dalam durasi, dengan keterlibatan sistemik minimal.7
Klien lesi herpes muncul lagi klien segera datang ke tenaga kesehatan gigi. Lesi ini sangat
umum, seperti yang disebutkan sebelumnya, dan mereka tidak mengganggu aktivitas sehari-
hari, sehingga klien sering tidak menyadari. Lesi berulang yang khas terjadi pada bibir yang
disebut sebagai herpes simpleks labialis. Nama-nama umum seperti demam melepuh dan
sakit mencerminkan pemahaman masyarakat tentang apa endapan kambuh ini dan
berpotensi memberikan dampak serius bagi kesehatan gigi.
Sumber: Dari Ibsen OAC, Phelan JA: patologi oral untuk kesehatan gigi, ed 6, St Louis,2013,
Saunders
Gambar 7.15
Infeksi herpes berulang pada bibir, yang juga dikenal sebagai sakit dingin. Klien sering
tidak mengenali lesi ini sebagai infeksi herpes berulang yang sangat menular.
A, Herpes labialis 12 jam setelah onset.
B, Herpes labialis 48 jam setelah onset.
3. Pengobatan
Lesi berulang akan menghasilkan sejumlah besar virus herpes. Untuk alasan ini, Terapis
gigi dan mulut tidak harus memperlakukan klien lesi yang ada. Kadang-kadang ini bisa sangat
membingungkan, karena memerlukan pengangkatan kembali klien yang telah menunggu
berbulan-bulan untuk membuat janji. Namun, Terapis gigi dan mulut ditempatkan pada risiko
Gambar 7.16
Infeksi Herpes Berulang Kornea. Tanpa Kacamata Pelindung dan Tindakan Pencegahan
Standar, Kalkulus dan Kontaminan lainnya bisa Masuk ke Mata dari Kebersihan Gigi atau
Klien dan Menginfeksi Kornea dengan Virus Herpes. Kekambuhan sangat Menyakitkan dan
Terakhir Beberapa Bulan. Hilangnya sebagian Penglihatan dan Cacat dapat Terjadi
Pengobatan lesi herpes sepenuhnya mendukung. Ada beberapa agen antivirus tersedia
dengan resep (misalnya, asiklovir) klien dapat mengambil manfaat jikz menggunakan. Agen-
agen ini dapat mengurangi tingkat dan durasi kekambuhan. Terapis gigi dan mulut harus
memberitahu klien dari kemungkinan ini dan merujuk klien ke dokter atau dokter gigi untuk
informasi lebih lanjut.
Hal ini sangat penting bagi klien untuk diberikan pemahaman tentang lesi-lesi ini dan
sekitar nya untuk mencegah penyebaran infeksi. Klien yang kambuh pada umum sering
menyadari gejala prodromal segera mendatangi Terapis gigi dan mulut.
Lesi herpes berulang dapat terjadi intraoral, dan mereka biasanya muncul di langit-langit
lunak. Lesi ini kadang-kadang pecah ketika suntikan anatesi pada palatal, skaling dan root
planning. Klien yang baik akan menelepon atau kembali untuk janji berikutnya, dan ulkus oral
khas akan terlihat jelas di daerah di mana suntikan suntikan diberikan.
Gambar 7.17
Infeksi Herpes Berulang Langit-langit Mulut
Lesi herpes intraoral berulang hampir selalu dapat dengan mudah dibedakan dari ulkus
aphthous lebih umum terjadi. Meninjau sejarah klien untuk trauma baru atau penyakit
mungkin membantu, tapi entah lesi dapat hasil. Karakteristik lebih membedakan adalah
bahwa lesi herpes berulang hampir selalu terjadi pada gingiva atau langit-langit keras, dan
borok aphthous hampir selalu muncul pada mukosa bergerak.
L. PERICORONITIS
Pericoronitis adalah peradangan jaringan lunak ketika gigi erupsi sebagian. Dapat terjadi
secara akut, subakut, atau kronis. Gigi yang paling sering terkena adalah molar ketiga rahang
bawah, tetapi rahang atas gigi geraham ketiga dan gigi lain yang paling distal biasanya tempat
munculnya penyakit ini. Flap jaringan sepenuhnya atau sebagian meliputi gigi terkait disebut
operkulum. Ruang antara flap jaringan dan gigi adalah lokasi yang ideal untuk sisa makanan
dan terkumpulnya bakteri untuk tumbuh. Bakteri semakin menginfeksi ke bagian dalam,
jaringan merespons dan timbul peradangan dan rasa sakit. Ada peradangan konstan di daerah,
sehingga selalu dianggap subakut atau kronis terinfeksi, bahkan jika gejala akut yang tidak
hadir.8
Perikoronitis akut menimbulkan peradangan hebat di daerah setempat. Selain adanya
peradangan, membengkak jaringan, ini dapat mengganggu penutupan lengkap dari rahang.
Gangguan ini dapat menyebabkan trauma, peningkatan peradangan, dan sakit parah. Jaringan
Gambar 7.18
Perikoronitis. Kondisi ini Paling Sering Ditemukandi Wilayah Molar Ketiga, dan itu bisa
sangat Menyakitkan. Perhatikan Pembengkakan Distal Jaringan Lunak pada Molar Kedua.
Klinis Jaringan adalah Intens Merah
3. Pengobatan
Sejumlah pertimbangan yang harus diperhatikan dalam perawatan kasus perikoronitis,
termasuk tingkat keparahan kasus, apakah merupakan kekambuhan dan komplikasi sistemik
mungkin. Dokter gigi dapat meminta dokter gigi lain untuk berpartisipasi dalam perawatan
klien dengan perikoronitis, yang membutuhkan beberapa kunjungan.
Penanganan awal ditujukan untuk mengobati gejala dengan tujuan membuat klien
merasa nyaman. Daerah yang terinfeksi di- debridement, biasanya dengan kumur air hangat
atau encer dan hidrogen peroksida dimasukan ke dalam jarum suntik sekali pakai dengan
jarum tumpul. Pemberian anestesi lokal. Jaringan harus diangkat jauh dari gigi untuk
memberikan banyak debridement Setelah debridement awal ini, klien diinstruksikan untuk
beristirahat di rumah, menggunakan kumur air garam hangat, dan minum cairan untuk
menghindari dehidrasi. Dokter gigi dapat meresepkan antibiotik jika klien demam atau jika
ada limfadenopati servikal. Klien diminta untuk kembali keesokan harinya. Pada kunjungan
kedua, daerah tersebut irigasi lagi dan diinstrumentasi jika mungkin, dan homecare lebih
menyeluruh dimulai. Sebuah peningkatan yang ditandai biasanya diamati pada pengangkatan
kedua.
Setelah kondisi akut telah teratasi, klien dinilai oleh dokter gigi untuk menentukan
perawatan lebih lanjut. Perawatan gigi mungkin termasuk ekstraksi molar ketiga atau
pengangkatan operkulum untuk menghasilkan kontur gingiva yang normal jika gigi akan
dipertahankan
Operkulum hampir selalu ada disertai peradangan, dan potensi eksaserbasi akut
mungkin terjadi. Terapis gigi dan mulut menginformasikan kepada klien tentang isu-isu
potensial yang terkait dengan kondisi agar memahami situasi dan dapat selalu menjaga
kesehatan mulut.
Gingivitis ulseratif nekrosis akut dilaporkan secara luas, dan tidak jarang terjadi di negara
berkembang. Diagnostik umum pada kasus ini adanya ulserasi dan nekrosis papila interdental,
nyeri, dan pendarahan gingiva spontan. Penyakit periodontal ulseratif nekrosis secara klinis
berbeda dengan periodontitis kronis. Sampai tahun 1999, kondisi itu paling sering disebut akut
gingivitis ulseratif nekrosis atau hanya necrotizing gingivitis ulseratif. Namun, penyakit ini
Tiga kriteria yang paling dapat diandalkan untuk mengenali penyakit ini adalah sebagai
berikut:
a. Nekrosis akut dan ulserasi dari papila interproksimal.
b. Rasa sakit.
c. Berdarah.
Stres sering berhubungan dengan kejadian pertama kali penyakit ini dan kambuhnya
penyakit ini. Peran faktor-faktor psikologis stres sampai saat ini belum dipahami dengan baik,
tetapi telah terbukti bahwa perubahan dalam sistem kekebalan tubuh yang terjadi pada waktu
stres mempengaruhi individu tertentu dalam merespon bakteri yang menghasilkan
necrotizing penyakit ulseratif.
3. Pengobatan
Keluhan dari periodontitis ulseratif necrotizing biasanya tidak lama tapi menyakitkan.
Klien datang ke klinik gigi dengan keluhan adanya rasa sakit pada daerah tersebut. Karena sifat
siklik dan berulang dari penyakit, pengobatan berfokus pada pengendalian mikroba melalui
debridement mekanis dengan kedua klien dan klinisi. Ini juga membutuhkan konsultasi
Tabel 7.2
Pengobatan Necrotizing Ulcerative Periodontitis
Mengingat tanda dan gejala, dalam konsep kebutuhan manusai klien dengan penyakit
periodontal necrotizing mengalami tidak terpenuhi kebebasan dari kepala dan nyeri leher,
kulit dan integritas membran mukosa dari kepala dan leher, dan konseptualisasi dan
pemecahan masalah. Kesehatan klien dan kesehatan mulut dan kesejahteraan adalah kunci
keberhasilan perawatan penyakit ini. Klien harus memiliki pengetahuan tentang peran stres,
bakteri, dan nutrisi dalam proses penyakit dan didorong untuk mempertahankan perilaku
kesehatan dan gaya hidup mulut mereka. Saran untuk mengidentifikasi teknik manajemen
stres dan meningkatkan gizi adalah komponen penting dari perawatan kesehatan gigi.
N. AVULSI GIGI
Avulsi gigi permanen adalah yang paling serius dari semua cedera gigi. Gigi avulsi adalah
salah satu yang dipisahkan dari tulang alveolar oleh trauma. Meskipun avulsi tidak sepenuhnya
darurat periodontal, gigi yang dapat ditanami kembali dan dapat berhasil jika dikelola dengan
baik. Prognosis tergantung pada penanganan yang diambil di tempat trauma atau segera
setelah terjadinya avulsi.
Trauma ke daerah mulut sering terjadi dan 5% dari semua yang mengalami cedera
mencari pengobatan. Di antara anak-anak prasekolah, angka setinggi 18% dari semua cedera.
Avulsion adalah cedera gigi yang paling umum untuk anak-anak yang berusia kurang dari 15
tahun. Situasi terjadi pada sebanyak 1 dalam setiap 200 anak-anak Amerika, yang
menghasilkan sekitar 2 juta kejadian per tahun. Di antara semua luka di wajah, luka gigi adalah
yang paling umum; avulsions terjadi dengan 1% sampai 16% dari semua cedera gigi.
Penanaman kembali gigi adalah pilihan pengobatan, tapi ini tidak selalu dapat dilakukan
segera. Untuk memenuhi kebutuhan klien dari sisi biologis suara dan fungsi gigi, adalah
1. Pengobatan
Terapis gigi dan mulut mungkin hadir di sebuah acara olahraga atau tempat lain saat
terjadinya trauma avulsi, atau mungkin memiliki anak yang mengalami gigi trauma avulsi. Gigi
avulsi cepat dipisahkan dari alveolus setelah jatuh. Biasanya lapisan sel ligamen periodontal
tetap pada permukaan cemental gigi avulsi dan pada tulang di soket karena terjadinya sangat
cepat dari trauma. Keberhasilan perawatan gigi avulsi oleh replantation tergantung pada
bergabung kembali sel-sel ligamen periodontal utuh menutupi sementum gigi agar tetap
dalam soket.
Tujuan dari perawatan darurat ini adalah untuk mempromosikan penyembuhan
periodontal ligamen setelah gigi tersebut ditanam kembali dalam soket. Untuk
memaksimalkan peluang penyembuhan, gigi harus dilindungi mahkota untuk mencegah
kerusakan pada sel-sel ligamen periodontal yang tersisa. Sangat penting bahwa gigi avulsi
belum mengering Sedikitnya 1 jam penyimpanan kering sebelum replantation mempengaruhi
tingkat keberhasilan prosedur.
Tempat yang ideal untuk menyimpan dan menyimpan gigi avulsi adalah dalam soket,
upayakan tetap ditahan di tempatnya selagi klien dibawa gawat darurat rumah sakit. Soket
menyediakan lingkungan yang paling bergizi bagi sel-sel ligamen periodontal, sehingga
Periapikal paparan sudut membagi dua dari setiap gigi trauma Akhir diagnosis dan
pengobatan perencanaan
Tabel 7.3
Penyimpanan Gigi Avulsi Selama Transportasi untuk Pengobatan
PERALATAN
Langkah-langkah ALASAN
1. Berikan pemahaman kepada klien tentang penularan penyakit dan pengaruh gaya
hidup, terutama yang terkait dengan virus herpes dan penyakit periodontal necrotizing.
2. Berikan pemahaman pada klien tentang bahaya infeksi oral, konsumsi cairan yang cukup
dan makanan padat nutrisi, untuk melakukan kebersihan mulut, dan untuk
menggunakan over-the-counter anestesi topikal untuk mengontrol ketidaknyamanan
mereka.
3. Metode pengolesan untuk mencegah penularan infeksi herpes aktif.
4. Ajarkan klien dengan riwayat infeksi herpes berulang untuk membatalkan janji gigi
ketika lesi oral yang aktif hadir.
5. Metode Review dan pengobatan untuk mencegah terulangnya perikoronitis dan
penyakit periodontal necrotizing.
6. Ajarkan orang tua, guru, dan pelatih tentang gigi avulsi dan pihak sekolah untuk
meningkatkan keberhasilan replantation gigi.
7. Ajarkan klien yang beresiko untuk avulsi gigi tentang perlunya pelindung mulut.
1. Terapis gigi dan mulut memiliki tanggung jawab hukum untuk mengenali kondisi
darurat, untuk membuat arahan yang tepat, dan untuk mengobati kondisi klien dalam
lingkup praktik kesehatan gigi.
2. Terapis gigi dan mulut memiliki tanggung jawab etis untuk mendidik klien tentang
pentingnya mencegah penyakit dan potensi kekambuhan dan terjadinya infeksi lain.
3. Terapis gigi dan mulut memiliki tanggung jawab untuk mendidik dan merujuk klien
dalam kasus-kasus trauma gigi dan untuk mencegah cedera mulut.
Q. KONSEP KUNCI
1. Abses periodontal adalah proses penyakit yang dapat diobati dan dapat dicegah.
2. Sebuah lesi asal endodontik adalah infeksi serius yang memerlukan konsultasi dan
rujukan untuk mendapatkan tindakan perawatan segera.
3. Lesi asal endodontik jika tidak diobati, bisa berkembang menjadi abses otak atau fasciitis
leher atau dada dinding, yang dapat mengancam jiwa.
4. Abses periodontal memiliki mikroflora patogen yang sama dengan yang terkait dengan
penyakit periodontal.
5. Skaling subgingival dan root planing yang tidak tuntas dapat menyebabkan abses
periodontal
6. Cairan abses bisa diarahkan dan dialirkan melalui jaringan atau hanya menguras melalui
pembukaan saku periodontal.
7. Infeksi berjalan pada jaringan yang berada di sepanjang jalur yang paling perlawanan;
Oleh karena itu fitur klinis infeksi mungkin muncul pada gigi yang terkena.
8. Perbedaan rasa nyeri dapat membedakan abses periapikal dan periodontal. Nyeri
periapikal tajam, berat, intermiten, dan sulit untuk melokalisasi; nyeri periodontal
adalah konstan, kurang parah, dan lokal.
9. infeksi primer dan berulang herpes serius tapi selflimiting kondisi yang memerlukan
penundaan kebersihan gigi elektif dan perawatan gigi. Perawatan kesehatan gigi tidak
boleh dilakukan pada klien dengan infeksi herpes karena risiko penularan virus ke tenaga
kesehatan gigi dan yang lainnya.
10. Perikoronitis adalah infeksi serius yang memerlukan rujukan dan pengobatan definitif.
11. Penyakit nekrosis periodontal adalah proses kompleks yang mendapatkan keuntungan
dari proses perawatan kebersihan gigi.
12. Pelindung mulut dan fabrikasi yang signifikan dapat menghasilkan perawatan kesehatan
gigi yang komprehensif.
13. Avulsion adalah cedera gigi yang paling umum di antara anak-anak yang berusia kurang
dari 15 tahun. Terapis gigi dan mulut memiliki peran dalam menangani gigi avulsi karena
merupakan orang yang paling tahu di tempat cedera traumatis.
14. Tempat yang ideal untuk menyimpan dan mengangkut gigi avulsi dalam soket gigi
korban; jika hal ini tidak mungkin, garam fisiologis merupakan salah satu alternatif.
Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!
1) Seorang klien 30 tahun datang ke klinik. Klien giginya dibersihkan. Klien merasakan rasa
sakit dan sensitivitas di kuadran kanan bawah dan gigi yang terasa “tinggi” di wilayah
yang sama. Rasa sakit intermiten tapi “sangat mengganggu.” Setelah mempelajari
riwayat medis dan farmakologis klien, Anda menentukan bahwa ia berada dalam
kesehatan umum yang baik tanpa penyakit sistemik, dan dia sedang mengkonsusmsi
obat. Hasil pemeriksaan ditemukan bahwa di intraoral menunjukkan kemerahan dan
pembengkakan pada permukaan bukal gigi # 30. Bentuk gingiva tampak normal, dan
tidak ada saluran sinus, tetapi nanah keluar jika ditekan jari.
A. Kondisi apa yang paling mungkin menyebabkan gejala klien?
B. Apa pengobatan yang paling mungkin untuk kondisi tersebut?
C. C Apa diagnosis kesehatan gigi harus ditangani pertama untuk klien ini?
2) Seorang klien 20 tahun datang ke klinik gigi mengeluh giginya sakit parah. Anda
menentukan bahwa klien tidak memiliki penyakit sistemik, dan Anda memeriksa
jaringan mulut. Temuan oral kemerahan ekstrem dan gingiva bengkak di seluruh mulut
dan, bisul kelabu kecil di gingiva dan mukosa di beberapa daerah.
A. Kondisi apa yang paling mungkin menyebabkan gejala klien?
B. Apa pengobatan yang paling mungkin untuk kondisi tersebut?
C. Apa diagnosis kesehatan gigi harus ditangani pertama untuk klien ini?
3) Seorang klien datang ke klinik gigi, mengeluh sakit di rahangnya. Bahkan, klien tidak bisa
membuka mulutnya. Dari riwayat medis dan farmakologis klien menunjukkan bahwa
klien dalam kesehatan umum yang baik dan sedang mengkonsumsi obat. Temuan
intraoral mengungkapkan gingiva sangat memerah dan bengkak pada daerah posterior
kanan mandibular. Klien mengeluh rasa tidak enak di mulut dan mengatakan bahwa
kondisi “datang dan pergi” tapi rasa sakit terburuk telah dia alami. Klien memiliki banyak
restorasi amalgam besar dan tampaknya memiliki kalkulus di gigi molar.
A. Bagaimana kondisi darurat yang paling mungkin?
B. Bagaimana seharusnya komponen kesehatan gigi dari perawatan gigi secara
keseluruhan mulai?
C. Apa diagnosis kesehatan gigi harus ditangani pertama untuk klien ini?
5) Seorang klien harusnya datang 4 bulan lagi, tetapi dia datang lebih awal karena dia akan
berangkat besok ke Eropa selama 6 bulan, dia mendapatkan perawatan pemeliharaan
kesehatan gigi sebelum ia pergi. Anda melihat ada lingkaran pada bibir klien, berkulit
lesi bibir bawahnya yaitu 6 mm, dengan beberapa vesikel di tepi. Dia menceritakan
kepada Anda bahwa dia tidak pernah sakit sebelumnya tapi beberapa waktu yang lalu
memberikan keluhan tapi baik-baik saja sekarang. Dia meminta Anda menutupi lesi
dengan petroleum jelly
A. Apa yang terjadi pada bibir klien?
B. Apa protokol perawatan kesehatan gigi untuk klien?
C. Apa diagnosis kesehatan gigi harus ditangani pertama bagiklien ini?
Wilkins, E. (2017). Clinical Practice of Dental Hygiene, 12th Edition. Wolters Kluwer, US,
Philadelphia.
Darby, M. (2012). Mosby’s Comprehensive Review of Dental Hygiene, 7th Edition. Elsevier
Mosby, US, St. Louis, Missouri.
Noble, S. (2012). Clinical Textbook of Dental Hygiene and Therapy, 2nd Edition. Wiley-
Blackwell, UK, West Sussex.
Thomson, Evelyn M. (2013). Case Study in Dental Hygiene, 3rd Edition. Pearson Education, US,
New Jersy.
Logothetis, Demetra D. (2012). Local Anesthesia for The Dental Hygienist. Elsevier Mosby, US,
St. Louis, Missouri.
Prajer, R, Grosos, G. (2011). Dental Hygienist's Chairside Pocket Guide. F.A. Davis Company,
US, Philadelphia.
Pendahuluan
Kompetensi:
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa:
1. Mampu menjelaskan ciri-ciri sikat gigi yang memenuhi sarat kesehatan.
2. Mampu menjelaskan cara menggunakan sikat gigi elektrik.
3. Memahami cara memberikan instruksi cara menyikat gigi yang baik kepada klien
termasuk menjelaskan indikasi dari berbagai metode menyikat gigi dan akibat yang
dapat ditimbulkan jika menggunakan metode yang salah.
4. Mampu menjelaskan adanya luka/trauma yang dapat ditimbulkan dari metode
menyikat gigi yang tidak tepat, termasuk faktor-faktor yang dapat menyebabkan luka
pada jaringan, dan menekankan pentingnya membersihkan lidah pada saat menyikat
gigi.
5. Mampu menjelaskan manfaat menyikat gigi bagi kesehatan gigi dan mulut, termasuk
dalam menentukan dan memilih jenis sikat gigi yang sesuai berdasarkan kebutuhan
klien.
Sikat gigi manual merupakan alat yang paling umum digunakan untuk menghapus
biofilm dalam rongga mulut. Sikat gigi dirancang sedemikian rupa untuk menghilangkan plak
dari permukaan gigi baik itu di bagian labial, lingual, bukal dan permukaan oklusal gigi (kotak
23-1). Meskipun banyak jenis dari sikat gigi dan metode menyikat gigi telah dipelajari, hingga
saat ini belum ada bukti yang menunjukkan bahwa setiap desain sikat gigi yang digunakan
secara konsisten oleh individu unggul dalam menghilangkan plak atau mencegah dan
mengendalikan penyakit periodontal.1.2
Gambar 8.1
Bagian dari Sikat Gigi Manual
a. Kepala sikat-berisikan bulu sikat dengan ukuran 1 sampai 1/4 inci (25,4-31,8mm) dan
untuk ukuran 5/16 sampai 3/8 inci (7,9-9,5 mm). Ukuran kepala dipilih berdasarkan
ukuran mulut klien bukan usia. Kepala sikat harus dapat menjangkau letak plak yang ada
di seluruh permukaan gigi. Desain kepala sikat gigi persegi panjang dan lebih runcing dan
oval.
b. Tangkai-selaras dan lurus dengan kepala sikat gigi, miring seperti cermin gigi,
melengkung. Klien dapat memilih menangani bentuknya disukai untuk digunakan agar
memperoleh rasa nyaman.
c. Leher sikat gigi menghubungkan kepala sikat gigi dan pegangan.
Desain bulu sikat mempengaruhi efek menyikat gigi, terutama di daerah approximal
yang sulit untuk dijangkau. Posisi sikat miring, bukan vertikal, posisi dan kondisi bulu sikat
terbukti memberikan kontribusi yang signifikan untuk menghilangkan plak lebih efektif karena
Gambar 8.2
Sikat Gigi yang Tidak Layak Digunakan
Tabel 8.1
Kekuatan Sikat Gigi
Sikat gigi elektrik telah terbukti aman dan efektif; Oleh karena itu sikat gigi elektrik ini
cocok bagi semua klien (kotak 233). sikat gigi elektrik memiliki tingkat penerimaan yang tinggi
klien, dan klien dapat yakin bahwa sikat elektrik setidaknya sama efektifnya dan aman untuk
digunakan.1.4-5
Sikat gigi elektrik diperuntukan bagi setiap individu, tetapi terutama bagi individu
dengan kondisi:
a. Memakai ortodontik cekat.
b. Mengalami dekalsifikasi.
c. Individu dengan keadaan biofilm rongga mulut yang tidak terkendali dan penyakit
periodontal.
d. Memakai prostodontik luas atau implan gigi.
e. Memerlukan motivasi dalam rangka meningkatkan keterampilan dalam menjaga
kebetrsihan mulut.
f. Mengalami resesi gingiva atau luka jaringan keras serviks non-karies (abrasi).
Stillman, dan
Piagam metode
Ilustrasi dari Newman MG, Takei HH, Klokkevold PR, et al: Periodontology klinis Carranza
ini, ed 11, St Louis, 2012, Saunders. Foto-foto dari Daniel SJ, Harfst SA, Wilder RS: kebersihan
gigi Mosby ini, ed 2, St Louis, 2008, Mosby.
Gambar 8.3
Bass Metode Menyikat Gigi
A, Posisi intrasulcular tepat sikat di mulut bertujuan bulu sikat menuju dan ke
dalam sulkus gingiva.
B, Diagram menunjukkan penempatan ideal dengan penetrasi subgingiva
sedikit tips bulu sikat.
C, Tempat sikat gigi sehingga bulu sikat yang miring sekitar 45 derajat dari
sumbu panjang gigi.
D, Mulai di gigi yang paling distal di lengkungan dan menggunakan bergetar,
gerakan back-dan-sebagainya untuk menyikat.
Pemilihan metode menyikat gigi harus tergantung pada kebutuhan klien, keterampilan,
dan pilihan. Terapis gigi dan mulut harus dapat mengevaluasi tingkat kebersihan mulut klien,
tingkat kesehatan atau penyakit, dan praktik menyikat gigi saat ini untuk memberikan anjuran
yang tepat. Tidak ada satu metode menyikat gigi yang dapat membersihkan antar-permukaan,
dan klien harus memahami bahwa beberapa sarana pembersihan interdental, dan
penggunaan obat kumur antimikroba, sesuai kebutuhan, secara signifikan dapat
meningkatkan kebersihan rongga mulut dan pengendalian penyakit.
Teknik menyikat gigi dengan cara penempatan bulu sikat pada sudut yang tepat dengan
gigi terkadang sulit dilakukan. Menyikat gigi yang efektif tidak mudah bagi kebanyakan klien,
dan tantangan tambahan ini dapat membatasi efektivitas menyikat gigi dan motivasi klien.
Ketika memodifikasi teknik menyikat gigi klien, seorang Terapis gigi dan mulut harus
menunjukkan teknik baru misalkan dengan mencontohkan pada model rahang dan kemudian
mencontohkannya pada mulut klien. Demonstrasi awal ini tidak menggantikan kebutuhan
untuk memantau klien benar-benar melakukan teknik baru dan memberikan umpan balik
untuk memastikan bahwa keterampilan yang diperoleh, masalah diidentifikasi, dan kesalahan
yang diperbaiki dari waktu ke waktu.
Klien yang menggunakan sikat gigi elektrik tetap harus diberikan instruksi cara menyikat
gigi. Meskipun petunjuk atau cara menyikat gigi telah ada dalam kemasan sikat gigi ini. Pada
umumnya produsen memberikan panduan cara menyikat gigi yang tertera dalam kemasan
dengan mengarahkan agar klien memegang kepala sikat dengan pemahaman jari di tempat
selama beberapa detik pada setiap gigi atau sekelompok kecil gigi sebelum membimbing
kepala sikat perlahan ke gigi berikutnya atau kelompok gigi dan memungkinkan kuas untuk
melakukan pekerjaan . Bulu sikat suar sedikit sementara sikat diaktifkan untuk membersihkan
sulkus (Gambar 8.5). Klien harus menerapkan tekanan yang berlebihan yang cukup tapi tidak,
fokus pada margin gingiva, dan menjaga sikat gigi terlibat untuk jangka waktu yang cukup lama
sebelum pindah ke daerah berikutnya.
Gambar 8.5
A, Resesi gingiva.
B, Gingiva celah.
C, Gingiva festooning.
Meskipun lecet gingiva terlihat bukan temuan klinis secara umum, 80% sampai 100%
resesi gingiva dipengaruhi oleh usia menengah dan lanjut usia. Prevalensi dan keparahan
resesi berhubungan dengan bertambahnya usia, tetapi individu yang lebih muda juga dapat
memiliki tingkat agresif resesi. Resesi dapat terjadi karena beberapa alasan, termasuk
hubungannya dengan peningkatan risiko hipersensitivitas dentin, kehilangan dukungan gigi,
karies akar, dan rasa ketidakpuasan klien dari sisi estetika. Manfaat gabungan dari sikat gigi
C. PEMBERSIHAN LIDAH
Dorsum lidah adalah habitat bakteri. Upaya membersihkan lidah dapat mengurangi
jumlah organisme, sehingga mengendalikan malodor rongga mulut, penurunan kesempatan
bagi mikroorganisme untuk mentranslokasi, meningkatkan persepsi rasa klien, dan
memberikan kontribusi untuk kebersihan mulut secara keseluruhan.
Meskipun jenis pembersih lidah telah banyak dipasaran, pembersihan lidah dapat
dilakukan dengan menggunakan sikat gigi manual atau sikat gigi elektrik khusus. Klien dapat
Sumber: Courtesy Procter & Gamble, profesional dan Hubungan Ilmiah, Cincinnati, Ohio
Gambar 8.6
Oral-B CrossAction Pro-Kesehatan dengan Pembersih Lidah pada Kepala Sikat
Jika sikat gigi akan digunakan untuk membersihan lidah, klien melakukan hal berikut:
1. Julurkan lidah kemudian kepala sikat gigi ditempatkan di lidah dengan posisi bulu sikat
sikat miring sedikit ke arah posterior, gerakan bulu sikat maju mundur dengan tekanan
ringan.
2. Lakukan secara berualng-ulang sampai lapisan permukaan lidah bebas dari kotoran.
Pada klien dengan kondisi yang tidak memungkinkan maka disarankan untuk tidak
menggosok lidah dengan sikat gigi atau pembersih lidah karena trauma jaringan dapat terjadi.
Alternative penggunaan obat kumur antibakteri dapat membersihkan lidah lebih lanjut.
Sikat gigi dapat menularan mikroorganisme pathogen secara tidak langsung. Sikat gigi
dapat bertindak sebagai fomite, benda mati yang dapat mengirimkan agen berpotensi
menular. Sebuah tinjauan studi sistematis menjelaskan bahwa kontaminasi bakteri yang
berpotensi patogen dari plak gigi dapat terjadi akibat dari sikat gigi dan mulut orang dewasa
yang sakit, model sikat gigi, lingkungan, atau kombinasi dari beberapa faktor. 7 Titik penting
Pada kasus dimana klien kurang memperhatikan kebersihan mulut misalkan dengan
cara menghindari menyikat gigi karena adanya ketidaknyamanan akibat adanya masalah
kesehatan gigi yang dialami, misalkan klien yang menderita gingivitis ulseratif nekrosis, cedera
jaringan lunak akut, penyembuhan situs bedah, atau peralatan gigi baru, maka menyikat gigi
secara khusus dengan menggunakan larutan obat kumur yang mengandung chlorhexidine
glukonat bebas alkohol 0,12% dapat dilakukan.
Klien perlu mendapatkan penguatan positif agar perilaku pemeliharaan kesehatan gigi
dan mulut tetap dijaga selama proses perawatan. Terlepas dari situasi klien, instruksi, praktik,
dan penguatan ditunjukkan pada semua tahapan perencanaan. Terapis gigi dan mulut
senantiasa memberikan pemahaman kepada klien untuk tetap dapat berupaya mengontrol
plak agat tidak terbentuk.
1. Dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang dimiliki, maka tanggung jawab dan
etika seorang Terapis gigi dan mulut secara profesional harus mampu meningkatkan
kesadaran masyarakat dan meningkatkan pemahaman praktek pemeliharaan kesehatan
mulut klien.
2. Seorang Terapis Gigi dan Mulut memiliki kewajiban etis untuk meninjau literatur ilmiah
yang berkaitan dengan intervensi pencegahan dan menerapkan pengetahuan untuk
perawatan klien.
3. Tindakan perawatan kesehatan gigi membutuhkan alokasi waktu untuk instruksi
perawatan diri, pengulangan, penguatan, dan penilaian terus-menerus praktik
kesehatan mulut pada setiap klien.
4. Prinsip etika otonomi harus dimiliki oleh seorang Terapis Gigi dan Mulut dengan cara
mendengarkan dan menyimak pendapat klien dalam upaya pengambilan keputusan
klien dan untuk menghormati hak klien untuk membuat keputusan.
5. Standar hukum perawatan mengharuskan Seorang Terapis Gigi dan Mulut dapat
mendidik klien tentang pelihara diri berdasarkan usia, bahasa, budaya, dan gaya belajar
klien.
6. Rencana perawatan harus disusun berdasarkan hasil pemeriksaan ronnga muliut klien
secara keseluruhan.
7. Pada saat penyelesaian perawatan seluruh dokumen yang mencakup data kesehatan
gigi klien harus tersusun dan terjaga dengan baik untuk menyusun rencana tindakan
selanjutnya.
8. Konfirmasi pemahaman klien juga didokumentasikan klien kebersihan gigi harus secara
legal dan etis informasi tentang hubungan antara status kesehatan mulut mereka dan
risiko penyakit.
1. Sikat gigi manual merupakan alat paling umum yang digunakan untuk menghilangkan
plak di permukaan gigi.
2. Sikat gigi harus memiliki ukuran kepala cukup kecil untuk beradaptasi dengan semua
permukaan gigi dan rongga mulut, memiliki pegangan yang nyaman yang dapat
digunakan oleh klien.
3. Kerusakan jaringan lunak dan keras dalam rongga mulut memiliki etiologi multifaktorial;
meskipun pemilihan sikat gigi dan menyikat gigi dapat berkontribusi sebagai efek
negatif, penggunaan pasta gigi dan faktor-faktor lain yang mungkin lebih berpengaruh.
4. Penggunaan sikat gigi manual dan sikat gigi elektrik memiliki manfaat yang lebih besar
dalam membersihkan permukaan gigi dari plak.
5. Pengganti sikat gigi harus didasarkan pada kondisi klien.
6. Sikat gigi elektrik didesain untuk memiliki kekuatan menyikat gigi berosilasi-rotating
telah terbukti lebih efektif daripada sikat gigi manual dalam mengurangi plak dan radang
gusi.
7. Instruksi menyikat gigi yang komprehensif meliputi pemilihan sikat gigi dan penggantian,
metode menyikat gigi, evaluasi efektivitas menyikat gigi, dan lidah menyikat.
8. Evaluasi efektivitas menyikat gigi meliputi pengamatan menyikat gigi klien,
mengungkapkan agen digunakan untuk memvisualisasikan dan mengukur plak, dan
evaluasi gingiva untuk tanda-tanda peradangan; langkah-langkah perbaikan yang
dilakukan sesuai kebutuhan.
9. Membersihkan bagian Interdental, lidah ketika menyikat gigi, dan, jika diperlukan,
penggunaan agen antimikroba harus direncanakan bersama dengan instruksi menyikat
gigi.
10. Seorang Terapis Gigi dan Mulut harus menyadari penelitian tentang menyikat gigi
muncul dan dapat menginterpretasikan hasil studi kritis.
Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!
Studi kasus: Ibu Truman, seorang pensiunan guru 65 tahun, sedang dirawat oleh terapis gigi
dan mulut. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kebersihan mulut klien pada kriteria
buruk, mengalami inflamasi gingiva, dan perdarahan saat probing. Pada awal pemeriksaan Ibu
Role play : Bekerja berpasangan, satu siswa mengasumsikan peran Terapis gigi dan mulut dan
tindakan mahasiswa lain sebagai klien. Wawancara kebersihan gigi klien tentang perangkat
saat homecare, perilaku, dan teknik dan menyediakan pendidikan klien-spesifik dan umpan
balik berdasarkan bukti. Mahasiswa dapat menggunakan model gigi mereka untuk tujuan
demonstrasi; atau jika dalam pengaturan klinis, menunjukkan teknik intraoral. Lakukan secara
bergantian.
Studi kasus: Tommy Dee, seorang pegolf profesional 35 tahun, adalah klien baru di kantor
Anda. Data riwayat kesehatannya tidak ada temuan yang signifikan. Temuan pemeriksaan
mulut ditemukan adanya resesi gingiva luas, terutama pada permukaan labial, minimal
inflamasi gingiva pada lingual dari anteriors mandibula dan bukal dari molar rahang atas yang
berdekatan dengan adanya kalkulus, dan biofilm rongga mulut minimal. Tidak ada lesi karies
yang hadir pada gigi taringnya, premolar dan molar. oklusinya normal, tapi ia melaporkan
bruxism saat tidur. Pola pemeliharaan kesehatan gigi sehari-hari termasuk menyikat gigi
dengan sikat manual dan fluoride tiga kali, flossing satu sampai dua kali, dan penggunaan obat
kumur fluoride. Anda mengamati teknik menyikat gigi Tommy dan melihat ia menggunakan
tenaga dengan tekanan cukup kuat
1) Apa yang harus Anda jelaskan kepada Tommy, dan bagaimana Anda menghubungkan
hasil pemeriksaan rongga mulutnya dengan kebiasaan Tommy ketika menyikat giginya?
2) Apa yang akan Anda tunjukan dan rekomendasikan kepada Tommy untuk meningkatkan
kebersihan mulut sehari-hari?
Wilkins, E. (2017). Clinical Practice of Dental Hygiene, 12th Edition. Wolters Kluwer, US,
Philadelphia.
Darby, M. (2012). Mosby’s Comprehensive Review of Dental Hygiene, 7th Edition. Elsevier
Mosby, US, St. Louis, Missouri.
Noble, S. (2012). Clinical Textbook of Dental Hygiene and Therapy, 2nd Edition. Wiley-
Blackwell, UK, West Sussex.
Thomson, Evelyn M. (2013). Case Study in Dental Hygiene, 3rd Edition. Pearson Education, US,
New Jersy.
Logothetis, Demetra D. (2012). Local Anesthesia for The Dental Hygienist. Elsevier Mosby, US,
St. Louis, Missouri.
Prajer, R, Grosos, G. (2011). Dental Hygienist's Chairside Pocket Guide. F.A. Davis Company,
US, Philadelphia.