0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan28 halaman

Perpindahan Kalor dan Heat Exchanger

Diunggah oleh

Paulus Siahaan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan28 halaman

Perpindahan Kalor dan Heat Exchanger

Diunggah oleh

Paulus Siahaan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Fenomena perpindahan pada konveksi terdiri dari dua mekanisme yaitu
perpindahan energi sebagai akibat dan pergerakan molokuler acak (difusi) dan
energi yang dipindahkan secara makroskopik dari fluida. Perpindahan panas
didefinisikan sebagai berpindahnya energi dari satu daerah ke daerah lainnya
sebagai akibat dari beda suhu antara daerah - daerah tersebut dari temperatur
fluidanya yang lebih tinggi ke benda lain yang lebih rendahjjk Penyelesaian soal-
soal perpindahan kalor secara kuantitatif biasanya didasarkan pada neraca energi
dan perkiraan laju perpindahan kalo. Perpindahan panas akan terjadi apabila ada
perbedaan tempratur antara 2 bagian benda. Panas akan berpindah dari tempratur
tinggi ke tempratur rendah. Panas dapat perpindah di bagi menjadi tiga, yaitu
konduksi, konveksi, dan radiasi. Pasa peristiwa konduksi, panas akan perpindah
tanpa diikuti aliran medium perpindahan panas. Panas akan perpindah secara
estafet dari satu partikel ke partikel yang lainnya dalam medium tersebut. Pada
peristiwa konveksi, perpindahan panas terjaid karena aliran fluida. Secara
termodinamika, konveksi dinyatakan sebagai aliran entalpi, bukan aliran panas.
Pada peristiwa radiasi, energi perpindah melalui gelombang elektromagnetik.

Konveksi dapat terjadi secara alami atau paksa. Dalam konveksi alami
gaya apung suatu fluida yang dipanaskan mengarahkan gerakannya. Irama fluida
(gas atau cair) dipanaskan, bagian itu mengembang dan mempunyai massa jenis
lebih rendah dibandingkan sekelilingnya sehingga bergerak naik. Dalam
konveksi paksa pompa atau penutup mengarahkan fluida yang dipanaskan ke
tujuan. Konveksi adalah perpindahan panas melalui aliran yang zat perantaranta
ikut perpindah. Jika partikel perpindah dan mengakibatlan kalor merambat,
terjadilah konveksi. Konveksi terjadi pada zat cair dan gas. Fenomena
perpindahan pada konveksi dari dua mekanisma yaitu perpindahan energi sebagai
akibat dari pergerakan molecular acak (difusi) dan energi yang dipindahkan
secara makroskopik.

Heat Exchanger didesain untuk memindahkan panas dari satu fluida ke


fluida lain atau dari satu zat ke zat yang lain. Seperti pada proses kimia, Air
Conditioning dan Refrigerator. Heat Exchanger diklasifikasikan berdasarkan
desain dan tipe dari alirannya. Pada beberapa jenis Heat Exchanger, dua aliran
dipisahkan oleh dinding atau membran dan perpindahan panas terjadi pada dua
aliran tersebut dengan cara konveksi atau konduksi. Dari banyaknya kegunaan
Heat Exchanger dan digunakan dalam dunia industri, maka kendali dari sistem
Heat Exchanger sangat diperlukan. Dengan menggunakan model dinamik,
prediksi dapat dibuat untuk mengubah variabel bebas dari sistem yang dapat
mengubah keluaran. Pengendali akan bekerja dengan baik jika model yang
digunakan mewakili proses yang sebenarnya

B. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan pada percobaan modul 4 tentang Heat Transfer Coefficient
and Nusselt Number ini adalah :
1. Dapat merangkai dan mengoperasikan peralatan free and force convection.
2. Mengenal dan memahami komponen-komponen peralatan free and force
convection beserta fungsinya.
3. Mengetahui Temperatur di seluruh titik duct transfer probe.
4. Untuk mengetahui koefisien panas dan bilangan Nusselt pada permukaan
perpindahan panas dalam kondisi konveksi alami maupun paksa.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Heat transfer (Perpindahan Psnas)


Perpindahan panas (heat transfer) merupakan disiplin ilmu yang
mempelajari bagaimana panas dapat berpindah dari suatubenda ke benda lainnya
melalui berbagai macam medium perambatan. Panas dapat berpindah dari suatu
tempat ke tempat lain akibat adanya perbedaan suhu. Pada perpindahan panas
terdapat juga kalor yang merupakan salah satu bentuk energi, sehingga dapat
berpindah dari satu sistem ke sistem yang lain karena adanya perbedaan suhu.
Kalor mengalir dari sistem bersuhu tinggi ke sistem yang bersuhu lebih rendah.
Sebaliknya, setiap ada perbedaan suhu antara dua sistem maka akan terjadi
perpindahan kalor. Perpindahan kalor adalah salah satu ilmu yang mempelajari apa
itu perpindahan panas, bagaimana panas yang ditransfer, dan bagaimana relevansi
juga pentingnya proses tersebut [1].

Perpindahan panas dapat juga disebut perpindahan kalor. Perpindahan kalor


merupakan perpindahan energi yang terjadi pada benda atau material yang
memiliki temperatur tinggi ke benda atau material yang bertemperatur lebih
rendah. Dari termodinamika telah diketahui bahwa energi yang pindah itu
dinamakan kalor atau panas (heat) Ilmu perpindahan kalor tidak hanya mencoba
menjelaskan bagaimana energi kalor itu berpindah dari suatu benda ke benda lain,
tetapi juga dapat meramalkan laju perpindahan yang terjadi pada kondisi- kondisi
tertentu. Kenyataan bahwa di sini yang menjadi sasasran analisis ialah masalah
laju perpindahan, inilah yang membedakan ilmu perpindahan kalor dengan ilmu
termodinamika. Termodinamika membahas sistem dan kesetimbangaan; ilmu ini
dapat digunakan untuk meramalkan energi yang diperlukan untuk mengubah
sistem dari suatu keadaan seimbang ke keadaan seimbang Jainnya, tetapi tidak
dapat meramalkan kecepatan perpindahan itu. Hali ini disebabkan karena pada
waktu proses perpindahan itu berlangsung, sistem tidak berada dalam keadaan
seimbang. Ilmu perpinadahan kalor melengkapi hukum pertama dan kedua hukum
termodinamika, yaitu dengan memberikan beberapa kaidah percobaan yang dapat
dimanfaatkan untuk menentukan perpindahan energi. Sebagaimana juga dalam
ilmu termodinamika, kaidah-kaidah percobaan yang digunakan dalam
permasalahan perpindahan kalor cukup sederhana, dan dapat dengan mudah
dikembangkan sehingga mencakup berbagai ragam situasi praktis. Energi dapat
berpindah dalam bentuk kalor dari suatu zat ke lingkungannya atau zat lain apabila
diantara kedua zat tersebut berbeda temperaturnya. Jadi beda temperatur
merupakan potensial utama terjadinya perpindahan energi dalam bentuk kalor.
Dari hasil studi pustaka diperoleh bahwa ada tiga cara perpindahan kalor yaitu:
1. Perpindahan kalor secara konduksi
2. Perpindahan kalor secara konveksi
3. Perpindahan kalor secara radiasi

Secara umum perpindahan panas didukung oleh dua mekanisme perpindahan


energi, selain dengan pergerakan acak dari molekul, energi juga dipindahkan oleh
pergerakan makroskopik (olakan / bulk motion) dari fluida yang mengalir.
Gerakan makroskopik dapat diamati pada saat fluida bergerak secara bersamaan.

B. Heat Exchanger
Alat penukar panas (heat exchanger) adalah suatu alat yang
digunakan untuk memindahkan panas antara dua buah fluida atau lebih
yang memiliki perbedaan temperature yaitu fluida yang bertemperatur
tinggi kefluida yang bertemperatur rendah. Perpindahan panas teesebut
baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Pada kebanyakan
sistem kedua fluida ini tidak mengalami kontak langsung. Kontak langsung
alat penukar kalor terjadi sebagai contoh pada gas kalor yang terfluidisasi
dalam cairan dingin untuk meningkatkan temperatur cairan atau
mendinginkan gas.
Alat penukar kalor banyak digunakan pada berbagai instalasi industri,
antara lain pada : boiler, kondensor, cooler, cooling tower. Sedangkan pada
kendaraan adalah radiator yang pada dasarnya berfungsi sebagai alat penukar
kalor. Tujuan perpindahan kalor di dalam proses industri diantaranya adalah :
1. Memanaskan atau mendinginkan fluida hingga mencapai kalor tertentu yang
dapat memenuhi persyaratan untuk proses selanjutnya.
2. Mengubah keadaan (fase) fluida : destilasi, evaporasi, kondensasi, dan lain-
lain [2]

Alat Penukar Panas (Heat exchanger) adalah peralatan utama untuk


perpindahan panas menggunakan fluida panas dan fluida dingin. Penukar panas
dirancang supaya dapat melakukan perpindahan panas antar fluida yang
berlangsung secara efisien. Ada beberapa tipe aliran pada sebuah heat exchanger
yaitu:
1. Counter current flow (aliran berlawanan arah)
Fluida panas dan fluida dingin masuk pada ujung yang berlawanan, mengalir
pada arah yang berlawanaan dan berakhir pada ujung yang berlawanan pula.
2. Paralel flow/co current flow (aliran searah)
Fluida panas dan fluida dingin masuk pada ujung yang sama, mengalir
dengan arah yang sama dan berakhir pada ujung yang sama.
3. Cross flow (aliran silang)
Pada kondisi ini terdapat dua buah kondisi, kedua buah fluida tak bercampur
(unmixed) dan salah satu dari fluida bercampur akan tetapi yang lainnya
tidak bercampur
4. Cross counter flow (aliran silang berlawanan)

Cross Flow Heat Exchanger adalah dua fluida yang mengalir di heat
exchanger tipe ini memiliki arah yang saling tegak lurus atau bersilangan. Secara
termodinamik, tipe ini memiliki efisiensi perpindahan panas yang lebih rendah
daripada tipe counterflow tetapi lebih tinggi daripada tipe paralelflow.
Perpindahan panas yang paling efisien terjadi pada sudut-sudut aliran. Tidak ada
resiko arus pendek aliran udara dan pertukaran kelembaban.

Aliran dari alat penukar panas dipisahkan menjadi dua dan dioperasikan
secara terus-menerus menggunakan Recuperator. Recuperator digunakan pada
sebagai temperatur tinggi pada preheater udara. Heater yang biasa digunakan
adalah jenis heat exchanger dengan tipe shell and tube. Alat penukar panas (Heat
Exchanger) secara tipikal diklarifikasikan berdasarkan susunan alirannya (flow
arrangement) dan tipe konstruksi. Penukar panas yang paling sederhana adalah
satu penukar panas yang mana fluida panas dan fluida dingin bergerak pada arah
yang sama atau berlawanan dalam sebuah pipa [3]

Heat Exchanger (HE) adalah alat yang digunakan untuk memindahkan


panas dari sistem ke sistem lain tanpa perpindahan massa dan bisa berfungsi
sebagai pemanas maupun sebagai pendingin. Penukar panas dirancang sebisa
mungkin agar perpindahan panas antar fluida dapat berlangsung secara efisien.
Ada beberapa tipe aliran pada sebuah heat exchanger yaitu:

5. Counter current flow (aliran berlawanan arah)


6. Paralel flow/co current flow (aliran searah)
7. Cross flow (aliran silang)
8. Cross counter flow (aliran silang berlawanan)

C. Prinsip Kerja Heat Exchanger


Prinsip kerja heat exchanger yaitu memindahkan panas dari dua fluida pada
temperatur berbeda di mana transfer panas dapat dilakukan secara langsung
ataupun tidak langsung
1. Secara kontak langsung
Panas yang dipindahkan antara fluida panas dan dingin melalui
permukaan kontak langsung berarti tidak ada dinding antara kedua fluida.
Transfer panas yang terjadi yaitu melalui interfase / penghubung antara
kedua fluida, Contoh aliran steam pada kontak langsung yaitu dua zat cair
yang immiscible(tidak dapat bercampur), gas-liquid, dan partikel padat-
kombinasi fluida.
2. Secara kontak tak langsung
Perpindahan panas terjadi antara fluida panas dan dingin melalui
dinding pemisah. Dalam sistem ini, kedua fluida akan mengalir.

D. Konveksi
Konveksi adalah pengangkutan kalor oleh gerak dari zat yang dipanaskan,
Proses perpindahan panas kalor secara alami atau konveksi merupakan suatu
fenomena permukaan. Proses konveksi hanya terjadi di permukaan benda. Jadi di
dalam proses ini struktur bagian dalam bahan kurang penting, karena keadaan
permukaan dan keadaan sekelilingnya serta kedudukan pembukaan itu adalah
yang utama. Lazimnya keadaan seimbang termodinamik di dalam bahan akibat
proses produksi suhu permukaan dan akan berbeda dari suhu kelilingnya.
Konveksi adalah pengangkutan kalor oleh gerak dari zat yang dipanaskan,
Proses perpindahan panas kalor secara alami atau konveksi merupakan suatu
fenomena permukaan. Proses konveksi hanya terjadi di permukaan benda. Jadi di
dalam proses ini struktur bagian dalam bahan kurang penting, karena keadaan
permukaan dan keadaan sekelilingnya serta kedudukan pembukaan itu adalah
yang utama. Lazimnya keadaan seimbang termodinamik di dalam bahan akibat
proses produksi suhu permukaan dan akan berbeda dari suhu kelilingnya.
Konveksi untuk menunjukkan pada perpindahan panas yang akan terjadi
antara permukaan dan fluida yang bergerak ketika mereka berada pada perbedaan
temperatur. Perpindahan panas konveksi terdiri dari dua mekanisme yaitu
perpindahan energi sebagai akibat dari pergerakan molekular acak dan ada juga
energi yang dipindahkan oleh pergerakan secara microskopis dari fluida.
Perpindahan panas konveksi yang terjadi antara fluida yang bergerak dan batas
permukaan, ketika keduanya berada pada temperatur yang berbeda. [4]

Gambar 2.1. Pengembangan Lapisan Batas Dalam Perpindahan Panas


Konveksi

Konveksi terjadi ketika aliran atau fluida (gas atau cairan) membawa
panas bersama dengan aliran materi. Aliran fluida dapat terjadi karena proses
eksternal, seperti gravitasi atau gaya apung akibat energi panas
mengembangkan volume fluida. Konveksi paksa terjadi ketika fluida dipaksa
mengalir menggunakan pompa, kipas, atau cara mekanis lainnya. Panas atau
kalor adalah energi yang berpindah akibat perbedaan suhu, dimana panas
bergerak dari daerah bersuhu tinggi ke daerah bersuhu rendah. Setiap
benda memiliki energi dalam yang berhubungan dengan gerak acak dari
atom-atom atau molekul penyusunnya. Energi dalam ini berbanding
lurusterhadap suhu benda, ketika dua benda dengan suhu berbeda berdekatan,
maka akan bertukar energy internal sampai suhu kedua benda tersebut
seimbang. Material dengan nilai konduktivitas tinggi maka daya hantarnya
semakin bagus sedangkan material dengan konduktivitas yang rendah maka
daya hantarnya semakin berkurang sehingga lebih cocok sebagai isolator.
E. Konveksi Paksa

Konveksi paksa adalah perpindahan panas yang mana dialirannya tersebut


berasal dari luar, seperti dari blower atau kran dan pompa. Konveksi paksa dalam
pipa merupakan persolaan perpindahan konveksi untuk aliran dalam atau yang
disebut dengan internal flow. Adapun aliran yang terjadi dalam pipa adalah fluida
yang dibatasi oleh suatu permukaan. Sehingga lapisan batas tidak dapat
berkembang secara bebas seperti halnya pada aliran luar. [4]

Konnveksi Paksa Konveksi paksa adalah gerakan fluida disebabkan oleh


adanya gaya luar yang bekerja pada fluida melewati suatu permukaan pada
temperatur yang lebih tinggi atau lebih rendah dari fluida tersebut. Karena
kecepatan fluida pada konveksi paksa lebih besar dari konveksi bebas. [5].

Proses konveksi paksa pada pengeringan kopi ini yaitu udara panas di paksa
masuk dari ruang bakar menuju ruang pengering yang bertujuan untuk
mempercepat waktu pengeringan dan mengoptimalkan hasil pengeringan [5].

Konveksi paksa adalah perpindahan panas yang aliran gas atau cairan yang
disebabkan adanya tenaga dari luar, contohnya seperti pola panas dihembus udara
dengan blower. Konveksi adalah perpindahan panas yang terjadi antara permukaan
padat dengan fluida yang mengalir di [Link] panas yang terjadi antara
kulit dan lingkungan secara konveksi dapat
ditulis dengan persamaan :
Q=h A (∆ T )……………………….………………..(1)
Dimana :
Q = Laju perpindahan panas konveksi
h = Koefisien perpindahan panas konveksi (W/m2 oC)
A = Luas penampang (m2)
∆T = Perubahan atau perbedaan temperaur (oC)

F. Konveksi Bebas
Konveksi bebas yang mana aliran fluida disebabkan oleh adanya variasi masa
jenis yang selalu diikuti dengan adanya perbedaan temperatur dalam fluida. [4]

Konveksi alamai terjadi karena fluida mengalami proses pemanasan. Berubah


densitasnya dan bergerak naik. Gerakan fluida dalam konveksi alami, baik fluida
itu gas maupun zat cair terjadi kerana gaya apung yang dialami apabila densitas
fluida di dekat permukaan perpindahan kalor berkurang sebagai akibat proses
pemanasan dengan bahasa yang lebih sederhana, komveksi alami merupakan
proses perpindahan panas yang disebebabkan oleh beda tempratur dan beda rapat
saja dan tidak ada hanya dari luar yang mendorongnya.

Konveksi bebas atau alamiah adalah perpindahan panas yang disebabkan


oleh beda suhu danbeda raport saja dan tidak ada tenaga dari luar yang
mendorongnya, contohnya seperti aliran udara melintasi radiator panas panas
dibiarkan berada di luar udara sekitar tanpa adanya sumber gerakan dari luar.
Dalam konveksi bebas gerakan fluida disebabkan karena gaya apung (buoyancy)
diantara fluida, sedangkan di konveksi paksa gerakan fluida disebabkan oleh gaya
luar. Gaya apung dihasilkan oleh gabungan dari gradien densitas fluida dan gaya
berat (body force) yang proporsional dengan densitas fluida. Gaya berat
diakibatkan oleh gaya gravitasi bumi atau gaya centrifugal pada mesin-mesin
fluida atau gaya coriolis pada kasus gerak rotasi angin dan arus air laut.

G. Perpindahan Panas Konveksi


Perpindahan panas konveksi dapat diklasifikasikan berdasarkan aliran
fluida, yaitu konveksi alami dan konveksi paksa. Konveksi alami terjadi ketika
aliran fluida bergerak akibat bouyancy force atau efek gaya apung, sedangkan
konveksi paksa terjadi karena aliran fluida digerakkan oleh daya eksternal seperti
kipas, pompa, atau angin. Besar perpindahan panas konveksi dapat dihitung
dengan Newton’s law of cooling berikut ini,
q=h . A . ∆ T ……………………………………..(2)

Koefisien konveksi (ℎ) dapat dihitung dengan menggunakan korelasi


Nusselt number. Nusselt number merupakan bilangan tak berdimensi yang
menyatakan temperature gradient di sepanjang permukaan. Hubungan antara
Nusselt number dan koefisien perpindahan panas konveksi secara paksa pada
aliran eksternal.

Perpindahan panas konveksi paksa khususnya yang terjadi pada sirip


banyak diaplikasikan pada dunia industri seperti heat exchanger, sistem
pendinginan ruangan, dan pada dunia elektronik yaitu heat sink. Pada penelitian
ini digunakan bentuk sirip sirkular, yang disusun secara staggered. Peralatan yang
dirancang bangun ini tersusun atas circular pin fin, rectangular duct, sistem
pemanas, honeycomb dan difuser, centrifugal blower, hot wire anemometer,
digital thermocontrol, dan sistem akuisisi data

H. Konduktivitas Thermal
Konduksi thermal merupakan sifat dari sautu bahan yang menunjukkan
seberapa cepat bahan tersebut dapat menghantarkan panas. Konduksi thermal pada
umumnya dianggap tetap namum sebenarnya nilai k dipengaruhi oleh faktor suhu
(T). konduktor merupakan bahan yang memiliki konduktivitas yang baik contonya
seperti logam, sedangkan isolator merupakan bahan yang memiliki konduktivitas
yang buruk contohnya seperti asbes. Bahan yang memiliki konduktivitas termal
besar merupakan konduktor yang baik dan sebaliknya bahan yang memiliki
konduktivitas kecil merupakan konduktor yang jelek. Pada tabel dibawah ini
diberikan nilai untuk berbagai bahan.
Konduktivitas termal dapat didefinisikan sebagai ukuran kemampuan
bahan untuk menghantarkan panas. Konduktivitas termal adalah sifat bahan dan
menunjukkan jumlah panas yang mengalir melintasi satu satuan luas jika gradien
suhunya satu. Bahan yang mempunyai konduktivitas termal yang tinggi
dinamakan konduktor, sedangkan bahan yang konduktivitas termalnya rendah
disebut isolator. Konduktivitas termal berubah dengan suhu, tetapi dalam banyak
soal perekayasaan perubahannya cukup kecil untuk diabaikan. Nilai angka
konduktivitas termal menunjukkan seberapa cepat kalor mengalir dalam bahan
tertentu. Makin cepat molekul bergerak, makin cepat pula ia mengangkut energi.
Jadi konduktivitas termal bergantung pada suhu. Pada pengukuran konduktivitas
termal mekanisme perpindahannya dengan cara konduksi.

I. Aliran di Atas Plat Rata


Pengembangan lapisan batas pada plat datar diilustrasikan pada gambar di
atas. Dalam banyak kasus, kondisi suatu aliran laminar dan turbulen terjadi
melalui kondisi laminar terjadi terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan
terjadinya kondisi turbulen. Pengelompokan aliran yang mengalir di atas plat
diketahui berdasarkan nilai dari bilangan Reynolds. Transisi dari aliran laminar
menjadi aliran turbulen tergantung pada bentuk geometri, kekasaran permukaan,
kecepatan aliran, temperature permukaan dan tipe dari fluida dikarakteristikan
dengan bilangan Reynold. Bilangan Reynolds pada jarak x dari ujung plat
ditunjukan persamaan:
Rex=ρVx/ μ=Vx/ υ ………………………………(3)
Dimana:
V = kecepatan aliran bebas
x=Jarak dari tepi depan
υ=μ/ρ= viskositas kinematic

Angka Reynold kritis pada plat datar akan bernilai bervariasi dari nilai 105
sampai 3 ×106 , untuk aliran sepanjang plat rata, lapisan batas selalu turbulen
untuk Re ≥4 . 106 tergantung pada kekasaran permukaan dan level turbulensi dari
aliran. Pada kasus tertentu yang mana aliran yang terjadi pada plat pada awalnya
aliran laminar kemudian pada jarak tertentu terjadi aliran turbulent dengan tanpa
mengabaikan perpindahan panas yg terjadi pada daerah laminar maka koefisien
perpindahan panas rata-rata pada seluruh plat dapat ditentukan dengan persamaan:
hc L
N u= ………………..………………..(4)
k
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan


Adapun alat yang digunakan pada saat praktikum Cross Flow Heat Exchanger ini
adalah sebagai berikut:
1. Cross flow heat Excanger
a
d
b
f
e

g
Gambar 4.3.1 Cross Flow Heat Exchager
Sumber: Laboratorium Konversi Energi

Keterangan:
a. Control and instrument unit
b. Air value
c. Exhaust duct
d. Pitot assembly
e. Working section
f. Inlet cone
g. Fan motor
2. Batang aluminium

Gambar 4.3.2 Batang Aluminium


Sumber: Laboratorium Konversi Energi

3. Kepala Rod

Gambar 4.3.3 kepala rod


Sumber: Laboratorium Konversi Energi

B. Prosedur Praktikum
Adapun prosedur pada praktikum modul 4 tentang tentang Heat Transfer
Coefficient and Nusselt Number ini adalah :
1. Hubungkan daya listrik mesin
2. Pasang semua batang alumunium pada area kerja/lubang kerja
3. Hidupkan instrument unit
4. Buka penuh katub udara 100%. (Sesuai yang di tentukan)
5. Tekan dan tahan tombol pressure untuk set zero tekanan
6. Hidupkan kipas dengan tekan tombol ON (berwarna hijau).
7. Tunggu hingga P1 dan P2 stabil kemudian catat data.
8. Matikan kipas dengan tekan tombol OFF (berwarna merah).
9. Ulangi percobaan E-H dengan bukaan katub udara 90%, 80%,70% sampai
30%.
10. Untuk percobaan selanjutnya lepas batang alumunium dan tinggalkan satu
batang alumunium pada posisi tengah pada kolom 1.
11. Tutup lubang area kerja yang kosong dengan kepala rod.
12. Lakukan percobaan dengan mengulangi langkah E-H.
13. Setelah selesai melakukan percobaan, matikan kipas, mesin dan intrumentasi.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Perhitungan
Dari praktikum yang telah kami lakukan,kami mendapatkan data awal dan
juga hasil perhitungan, sebagai berikut:
Tabel 3.4.1. Data Hasil Pengukuran One Rods

One Rods
Bukaan Pt-Pu Pt-Pd
Katub P1 P2 (∆P1) (∆P2) V1 V2 V
(%) (Pa) (Pa) (Pa) (Pa) (m/s) (m/s) (m/s) T1
100 268 59 0 0 0 0 0 301
90 232 51 36 8 59761.75 13280.39 66335.54 301
80 183 46 85 13 141104.1 21580.63 156625.6 301
70 129 30 139 29 230976.7 48189.39 256384.2 301.3
60 87 21 181 38 300868.1 63165.67 333963.6 301.4
50 49 12 219 47 363913 78100.04 403943.4 301.3
40 27 6 241 53 400470.4 88070.26 444522.2 301.3
30 9 0 259 59 430381.1 98040.48 477723 301.3

Tabel 3.4.2. Data Hasil Pengukuran All Rods

All Rods
Bukaan Pt-Pu Pt-Pd
Katub P1 P2 (∆P1) (∆P2) V1 V2 V
(%) (Pa) (Pa) (Pa) (Pa) (m/s) (m/s) (m/s) T1
301.
100 114 478 0 0 0 0 0 5
301.
90 103 437 11 41 18278.73 68129.83 36557.47 3
301.
80 93 401 21 77 34895.76 127951.1 69791.53 3
301.
70 79 350 35 128 58159.61 212698 116319.2 3
301.
60 56 258 58 220 96346.79 365453.3 192693.6 2
301.
50 36 178 78 300 129569.8 498345.5 259139.6 2
301.
40 21 111 93 367 154487.1 609642.6 308974.2 2
301.
30 9 62 105 416 174478.8 691268.5 348957.6 3

B. Perhitungan
Adapun perhitungan yang kami lakukan untuk mencari data yang ingin
dicari adalah sebagai berikut:
1. One Rods
a) ∆ P 1=Pt −Pu
1) ∆ P=Pt−Pu=268−268=0
2) ∆ P=Pt−Pu=268−232=36
3) ∆ P=Pt−Pu=268−183=85
4) ∆ P=Pt−Pu=268−129=139
5) ∆ P=Pt−Pu=268−87=181
6) ∆ P=Pt−Pu=268−49=219
7) ∆ P=Pt−Pu=268−27=241
8) ∆ P=Pt−Pu=268−9=259

b) ∆ P 2=Pt −Pd
1) ∆ P=Pt−Pd=59−59=0
2) ∆ P=Pt−Pd=59−51=8
3) ∆ P=Pt−Pd=59−46=13
4) ∆ P=Pt−Pd=59−30=29
5) ∆ P=Pt−Pd=59−21=38
6) ∆ P=Pt−Pd=59−12=47
7) ∆ P=Pt−Pd=59−6=53
8) ∆ P=Pt−Pd=59−0=59
c) V 1=
√ 2 ( Pt −Pu ) RT 1
PA

1) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 268−268 ) 287 × 301
104.07768
=0

2) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 268−232 ) 287 ×301
104.07768
= 59761.75

3) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 268−183 ) 287 × 301 = 141104.1
104.07768

4) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 268−129 ) 287 × 301.3
104.07768
= 230976.7

5) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 268−87 ) 287 ×301.4
104.07768
= 300868.1

6) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 268−49 ) 287 ×301.3
104.07768
= 363913

7) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 268−27 ) 287× 301.3 = 400470.4
104.07768

8) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 268−9 ) 287 ×301.3
104.07768
= 430381.1

d) V 2=
√ 2 ( Pt −Pd ) RT 1
PA

1) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 59−59 ) 287 × 301
104.07768
=0

2) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 59−51 ) 287 ×301
104.07768
= 13280.39

3) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 59−46 ) 287 ×301
104.07768
= 21580.63

4) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 59−30 ) 287 × 301.3 = 48189.39
104.07768
5) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 59−21 ) 287 ×301.4
104.07768
= 63165.67

6) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 59−12 ) 287 ×301.3
104.07768
= 78100.04

7) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 59−6 ) 287× 301.3
104.07768
= 88070.26

8) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 59−0 ) 287 × 301.3 = 98040.48
104.07768

e) V =1.11×V 1
1) V =1.11×V 1=1.11 × 0=0
2) V =1.11×V 1=1.11 ×59761.75=66335.54
3) V =1.11×V 1=1.11 ×141104.1=156625.6
4) V =1.11×V 1=1.11 ×230976.7=256384.2
5) V =1.11×V 1=1.11 ×300868.1=333963.6
6) V =1.11×V 1=1.11 ×363913.0=203943.4
7) V =1.11×V 1=1.11 × 400470.4=444522.2
8) V =1.11×V 1=1.11 × 430381.1=477723.0

2. One Rods
a) ∆ P 1=Pt −Pu
1) ∆ P=Pt−Pu=114−114=0
2) ∆ P=Pt−Pu=114−103=11
3) ∆ P=Pt−Pu=114−93=21
4) ∆ P=Pt−Pu=114−79=35
5) ∆ P=Pt−Pu=114−56=58
6) ∆ P=Pt−Pu=114−36=78
7) ∆ P=Pt−Pu=114−21=93
8) ∆ P=Pt−Pu=114−9=105
b) ∆ P 2=Pt −Pd
1) ∆ P=Pt−Pd=478−478=0
2) ∆ P=Pt−Pd=478−437=41
3) ∆ P=Pt−Pd=478−401=77
4) ∆ P=Pt−Pd=478−350=128
5) ∆ P=Pt−Pd=478−258=220
6) ∆ P=Pt−Pd=478−78=300
7) ∆ P=Pt−Pd=478−93=367
8) ∆ P=Pt−Pd=478−62=416

c) V 1=
√ 2 ( Pt −Pu ) RT 1
PA

1) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 114−114 ) 287 ×301.5
104.07768
=0

2) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 114−103 ) 287 ×301.3
104.07768
= 18278.73

3) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 114−93 ) 287 ×301.3 = 34895.76
104.07768

4) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 114−79 ) 287 ×301.3
104.07768
= 58159.61

5) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 114−56 ) 287 ×301.2
104.07768
= 96346.79

6) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 114−36 ) 287 ×301.2
104.07768
= 129569.8

7) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 114−21 ) 287× 301.2 = 154487.1
104.07768

8) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 114−9 ) 287 ×301.3 = 174478.8
104.07768
d) V 2=
√ 2 ( Pt −Pd ) RT 1
PA

1) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 478−478 ) 287 × 301.5
104.07768
=0

2) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 478−437 ) 287 × 301.3 = 68129.83
104.07768

3) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 478−401 ) 287 ×301.3
104.07768
= 127951.1

4) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 478−350 ) 287 ×301.3 = 212698.0
104.07768

5) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 478−258 ) 287 ×301.2 = 365453.3
104.07768

6) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 478−178 ) 287 ×301.2
104.07768
= 498345.5

7) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 478−111 ) 287× 301.2
104.07768
= 609642.6

8) V =
√ 2 ( Pt−Pu ) RT 1
PA
=
√ 2 ( 478−62 ) 287 ×301.3
104.07768
= 691268.5

e) V =2× V 1
1) V =2× V 1=2× 0=0
2) V =2× V 1=2× 18278.73=36557.47
3) V =2× V 1=2× 34895.76=127951.1
4) V =2× V 1=2× 58159.61=116319.2
5) V =2× V 1=2× 96346.79=192693.6
6) V =2× V 1=2× 129569.8=259139.6
7) V =2× V 1=2× 154487.1=308974.2
8) V =2× V 1=2× 174478.5=348957.6

C. Pembahasan
Konveksi merupakan perpindahan panas yang terjadi karena adanya fluida
yang bergerak melewati permukaan suatu media. Perpindahan panas secara
konveksi dapat diklasifikasikan menjadi konveksi alami dan konveksi paksa.
Tetapi pada praktikum ini kita menggunakan konveksi jenis konveksi paksa.
Konveksi paksa merupakan perpindahan panas secara konveksi di mana aliran
fluida serta terdapat pengaruh oleh gaya dari [Link] melaksanakan
serangkaian percobaan didapatkan grafik perbandingan delta P,grafik
perbandingan V1,Perbandingan V2 dan grafik perbandingan V.

HUBUNGAN ∆P DENGAN BUKAAN KATUB


450 416
367
400
350 300
259
∆P(Pa)

300 128 220 241


219
250 77 139
85 181
200
35 78 93
150 36 41 53 105
21 58 47
100 0 29 38
11 59
0 0 13
50 8
0
0
100 90 80 70 60 50 40 30

All Rods P1
Bukaan katub(cm)
All rodsP2 Rods P1 Rods P2

Gambar 4.4.1 Grafik Hubungan ∆P dengan Bukaan katub

Dari grafik hubungan antara delta P dengan bukaan katub dapat kita lihat
jelas bahwa All Rods delta P2 memiliki nilai paling besar dibandingkan dengan
yang lainnya dengan nilai sebesar [Link] bisa kita lihat nilai paling kecil ada
pada Rods P2 dengan nilai sebsesar [Link] grafik juga dapat kita lihat keempat
specimen atau keempat data dimulai dari nilai 0 dan semakin lama maka nilainya
semakin besar.
P erb an d in gan V 1 an tara A ll R od s d an On e
R od s
All rods Rods
500,000 430,381
V1(m/s) 450,000 400,470
400,000 363,913
350,000 300,868
300,000 230,977
250,000
200,000 59,762 141,104 154,487 174,479
129,570
150,000 18,279 96,347
100,000 34,896 58,160
0
50,000 0
0
100 90 80 70 60 50 40 30

Bukaan Katub (cm)

Gambar 4.4.2 Grafik perbandingan V1 all Rods dan One rods


Dari grafik perbandingan grafik perbandingan V1 All rods dan one rods
dapat kita lihat bahwa kedua specimen memulai nilai V1 nya dengan nilai yang
sama yaitu 0m/[Link] juga dapat kita lihat nilai V1 ada pada One Rods dengan
bukaan katub 30cm adalah sebagai nilai V1 paling besar dengan nilai sebesar
430,381m/s dan nilai terkecil ada pada All Rods bukaan katub 30m/s dengan nilai
sebesar 174,479m/[Link] ini dapat disimpulkan nilai V1 One Rods akan selalu
lebih besar dibandingkan dengan nilai V1 All Rods.
P erb an d in gan V 2 an tasa A ll R od s d an On e
R od s
800000
691,268
700000 609,643
600000
498,345
500000
V2(m/s)

365,453
400000
300000 212,698
127,951
200000 68,130 78,100 88,070 98,040
63,166
0 13,280 48,189
100000 0 21,581
0
100 90 80 70 60 50 40 30

All Rods One Rods Bukaan Katub(cm)

Gambar 4.4.3 Grafik perbandingan V2 all Rods dan One rods

Dari grafik perbandingan V2 All rods dan One Rods diatas dapat kita
lihat bahwa nilai V2 All Rods sepenuhnya lebih besar dibandingkan dengan nilai
V2 One Rods,dimana dapat dilihat nilai V2 terbesar ada pada specimen atau data
All Rods dengan nilai V2 sebesar 691,268m/s dan nilai terkecil ada pada data One
Rods dengan nilai 98,[Link] nilai V2 terbesar dan terkecil tersebut berada
pada saat bukaan katub 30cm.

P erb a n d in g a n V a n tara A ll R od s d a n On e
R od s
600000
477,723
500000 444,522
403,943
400000 333,964
V(m/s)

300000 256,384 348,958


308,974
200000 156,626 259,140
66,336 192,694
100000 116,319
- 69,792
- 36,557
0
100 90 80 70 60 50 40 30

Bukaan Katub(cm)
Gambar 4.4.4 Grafik perbandingan V All Rods dan One rods

Dari grafik perbandingan V All Rods dan One Rods diatas,Dapat kita
lihat nilai V One Rods akan lebih besar dibandingankan dengan nilai V pada data
All [Link] V terbesar ada pada data specimen One rods dengan nilai V2
sebesar 477,728m/s dan nilai V2 terkecil ada pada data specimen All Rods dengan
nilai 348,958m/s.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pada praktikum kali ini mendapatkan beberapa hasil yang dapat
praktikan simpulkan, dan kesimpulannya adalah sebagai berikut:
1. Mahasiswa dapat merangkai dan mengoperasikan peralatan Cross Flow Heat
Exchanger dengan baik dan benar sesuai prosedur yang diberikan.
2. Mahasiswa dapat mengenal dan memahami komponen-komponen
peralatan Cross Flow Heat Exchanger beserta fungsinya.
3. Mahasiswa dapat memahami fenomena fenomena Heat Exchanger melalui
alat tadi.
4. Dari data yang kami dapatkan nilai V1 pada specimen All Rods akan selalu
lebih kecil dibandingkan dengan nilai V1 pada specimen One rods.
5. Berbanding terbalik dengan nilai V1,Nilai V2 pada specimen All Rods akan
selalu lebih besar dibandingkan nilai V2 pada specimen One rods.
6. Nilai V terbesar ada pada specimen One Rods dengan nilai sebesar
477,728m/s
7. Nilai V terkecil ada pada specimen All rods dengan nilai 348,958m/s.

B. Saran
Berdasarkan hasil dari kesimpulan diatas mendapatkan beberapa saran
yang diperlukan kedepannya, yaitu sebagai berikut:
1. Lebih memahami modul sebelum melakukan praktikum.
2. Lebih aktif dalam kegiatan praktikum.
3. Memahami lebih dalam tentang peralatan praktikum.
4. Membersihkan Laboratorium setelah dipakai.
5. Merapikan alat dan bahan yang telah digunakan pada saat sudah selesai
memakai atau menggunakannya.

DAFTAR PUSTAKA

[1] K. burhani, "Penge,bangan Media Pembelajaran Perpindahan {anas Radiasi


Dengan Variasi Beda Perlakuan Permukaan Spesimen Uji," Journal of
Mechanical Engineering Learning, 2014.
[2] R. Walikrom, "STUDI KINERJA PLATE HEAT EXCHANGER PADA
SISTEM PENDINGIN PLTGU," TURBULEN: JURNAL TEKNIK MESIN , 2018.
[3] Linsley, Teknik Sumber Daya Air, Jakarta: Erlangga, 1972.

[4] A. Walujodjati, "PERPINDAHAN PANAS KONVEKSI PAKSA," Jurusan


Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim Semarang, 2006.
[5] R. Sary, "KAJI EKSPERIMENTAL PENGERINGAN BIJI KOPI DENGAN
MENGGUNAKAN SISTEM KONVEKSI PAKSA," Jurnal Polimesin, 2016.
[6] G. Kusuma, "Aplikasi Kalman Filter Dan Ensemble Kalman Filter Pada
Pendeteksian Gangguan Konduksi Panas Pada Keping Logam Berbentuk Silinder.
Jurnal," Jurnal Logik, 2017.

Anda mungkin juga menyukai