The RAD Model (Rapid Application Development)
Menurut Whitten & Bentley (2007:98) Rapid Application Development ( RAD adalah sebuah
strategi pengembangan sistem yang menekankan kecepatan dalam pengembangan melalui
keterlibatan pengguna dalam pembangunan secara cepat, interaktif, dan incremental dari
suatu serangkaian prototype dari suatu sistem yang dapat berkembang menjadi suatu sistem
akhir.
Model RAD ini menekankan pada proses pembuatan aplikasi berdasarkan pada pembuatan
prototype, literasi, dan feedback yang berulang, sehingga aplikasi yang dibuat bisa
dikembangkan dan diperbaiki dengan lebih cepat.
Adapun tahapan dari perancangan sistem dengan RAD model ini ada 4 yaitu :
1. Menentukan Kebutuhan
Tahapan pertama dari RAD adalah menentukan kebutuhan apa saja yang ingin dipenuhi
dari sebuah proyek yang dikerjakan. Dimana kebutuhan tersebut tidak harus secara
spesifik, tetapi yang sifatnya benar – benar umum dan dalam jumlah yang banyak.
Dari situ akan ditentukan kebutuhan mana yang menjadi prioritas. Dan dapat ditentukan
hal yang lebih mendetail seperti tujuan, timeline, dan budget yang diperlukan dalam
menjalakan proyek.
Dalam tahapan ini semua anggota proyek harus memikirkan apa saja kemungkinan
permasalahan yang akan terjadi, serta bagaimana cara untuk mengatasi kemungkinan
masalah tersebut.
2. Pembuatan Prototype
Dalam tahap ini developer harus secepat mungkin membuat prototype dari aplikasi yang
diinginkan, lengkap dengan fitur dan fungsi yang berbeda-beda. Tujuannya, untuk
mengecek apakah prototype yang dibuat sudah sesuai dengan kebutuhan klien atau
belum.
Tahap ini bisa saja dilakukan berulang-ulang. Kadang juga melibatkan user untuk testing
dan memberikan feedback. Dengan proses ini akan memungkinkan tim untuk dapat
mempelajari error yang mungkin muncul ke depannya (error dan debugging). Jadi
melalui tahapan ini, tim developer memiliki modal untuk membuat aplikasi yang mudah
dipakai, stabil, tidak sering error, dan desain yang bagus.
3. Pengembangan dan Pengumpulan Feedback
Setelah tahu aplikasi seperti apa yang ingin dibuat, developer mengubah prototype ke
bentuk aplikasi versi beta sampai dengan final. Developer terus-menerus melakukan
coding aplikasi, melakukan testing sistem, dan integrasi dengan bagian-bagian lainnya.
Proses ini terus diulang sambil mempertimbangkan feedback dari klien, baik itu
mengenai fitur, fungsi, interface, sampai keseluruhan aspek dari produk yang dibuat.
Jika prosesnya lancar dan aplikasi sudah sesuai dengan feedback dari klien maka
developer bisa melakukan finalisasi produk dan implementasi. Tetapi apabila tidak
berjalan lancar, maka proses ini akan terus menerus diulang. Dan jika aspek – aspek
aplikasi tidak menjawab kebutuhan klien maka bisa jadi developer harus kembali ke
tahap prototyping.
4. Implementasi dan Finalisasi Produk
Dalam tahap ini, tugas utama developer adalah membenarkan dan memperbaiki
kekurangan yang mungkin terjadi ketika proses pengembangan aplikasi, dan termasuk
melakukan optimasi untuk stabilitas aplikasinya, memperbaiki interface, hingga
melakukan maintenance dan menyusun dokumentasi.
Kelebihan dari model RAD ini yaitu :
1. Sangat berguna untuk proyek dimana kebutuhan sistem yang akan dikembangkan
belum sepenuhnya tepat atau tidak menentu.
2. Mendorong antusias end-user untuk berpartisipasi dalam proyek tersebut.
3. Proyek memiliki visibilitas dan dukungan yang tinggi yang dikarenakan keterlibatan
pengguna.
4. Solusi berbasis software lebih cepat dibandingkan solusi berbasis bisnis model.
5. Kesalahan dan kelalaian dapat diketahui lebih cepat pada prototype ini dibandingkan
pada system model.
6. Uji coba adalah suatu keharusan dari suatu produk yang mendasari dari pendekatan
prototype.
7. Pendekatan secara iterative lebih wajar karena perubahan adalah factor yang
diharapkan dalam proses pengembangan.
8. Aplikasi dikembangkan berdasarkan keinginan dan kebutuhan user.
Adapun kekurangan menggunakan model RAD ini yaitu :
1. Isu RAD lebih membutuhkan banyak tenaga, dukungan, dan pengembangan yang
menyebabkan meningkatnya biaya yang diperlukan.
2. RAD dapat menyelesaikan masalah yang keliru jika masalah tersebut diabaikan dan
disingkat.
3. Prototype berbasis RAD dapat memungkinkan berkurangnya semangat dari analysts
dibandingkan dengan model yang lainnya.
4. Terkadang para stakeholder melihat prototype sebagai pembuangan tenaga dan waktu.
5. Menekankan pada kecepatan penyelesaian proyek dapat berdampak buruk bagi
kualitas produk.
6. Sulit digunakan untuk aplikasi besar.
7. Hanya cocok digunakan untuk aplikasi model modular dan dalam proyek dengan
jangka waktu singkat.
8. Membutuhkan tim dengan skill teknis yang mumpuni dan kerjasama tim yang kuat.
Sumber :
[Link]
[Link]