PBL Tingkatkan Hasil Belajar Akidah
PBL Tingkatkan Hasil Belajar Akidah
DENGAN JUDUL
PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA
PELAJARAN AKIDAH AKHLAK MATERI IMAN KEPADA ALLAH
MELALUI ASMAUL HUSNAMELALUI MODEL PROBLEM BASED
LEARNING (PBL) PADA KELAS X II SEMESTER GENAP DI
[Link] IRSYAD DARMAREJA NAGRAK SUKABUMI
TAHUN AJARAN 2022/2023
DENGAN JUDUL
PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN AKIDAH
AKHLAK MATERI IMAN KEPADA ALLAH MELALUI ASMAUL
HUSNAMELALUI MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PADA KELAS
X II SEMESTER GENAP DI [Link] IRSYAD DARMAREJA NAGRAK
SUKABUMI
TAHUN AJARAN 2022/2023
A. Latar Belakang
Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri
dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003, p. 2). Dalam perbuatan belajar,
perubahan-perubahan itu senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh sesuatu yang
lebih baik dari sebelumnya, dengan demikian makin banyak usaha belajar itu dilakukan,
Menurut Bruner, dalam proses belajar dapat dibedakan tiga fase atau episode,
yakni (1) Informasi, (2) transformasi, (3) evaluasi (Nasution, 1995, p. 9).
Informasi, dalam tiap pelajaran kita peroleh sejumlah informasi, ada yang menambah
pengetahuan yang telah kita miliki, ada yang memperhalus dan memperdalamnya, ada pula
informasi yang bertentangan dengan apa yang telah kita ketahui sebelumnya. Transformatif.
Informasi itu harus dianalisis, diubah atau ditransformasi ke dalam bentuk yang lebih
abstrak atau konseptual agar dapat digunakan untuk hal hal yang lebih luas, dalam hal ini
bantuan guru sangat diperlukan. Evaluasi. Kemudian kita nilai hingga manakah
pengetahuan yang kita peroleh dan transfoemasi itu di manfaatkan untuk memahami gejala
Pembelajaran dapat dipandang sebagai upaya memfasilitasi peserta didik untuk secara
pengetahuannya, guru hanya bisa memfasilitasi karena setiap individu mempunyai cara
Pembelajaran merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk membuat siswa
belajar, dan dilakukan kegiatan penilaian. Penilaian dilakukan untuk mengetahui tingkat
pembelajaran. penilaian merupakan salah satu hal yang harus di utamakan oleh seorang
guru. Agar penilaian tidak hanya berorientasi pada hasil, maka evaluasi hasil belajar
memiliki ranah- ranah yang terkandung dalam tujuan yang diklasifikasikan menjadi tiga
ranah, yaitu: Cognitive Domain, Affective Domain, Psycomotor Domain (Dimiyati &
pada guru, serta lebih menekankan pada interaksi peserta didik (Mulyasa, 2015, p. 107).
Dalam kegiatan belajar mengajar guru tidak harus terpaku dengan menggunakan satu
metode, tetapi guru sebaliknya menggunakan metode bervariasai agar jalannya pengajaran
tidak membosankan tetapi menarik perhatian peserta didik (Djamarah, 2008, p. 45). Ketika
guru mengajar dengan metode ceramah saja siswa akan bosan, mengantuk, pasif, dan hanya
mencatat saja (Slameto, 2003, p. 65). Dalam hal ini guru harus menggunakan metode yang
bervariasi sehingga peserta didik tidak bosan dalam menjalankan proses belajar mengajar
Pada mata pelajaran Aqidah Akhlak mayoritas guru banyak yang masih menggunakan
metode yang tidak bervariasi, seperti penugasan, mengerjakan soal yang ada di buku dan
ceramah, dan terkadang setelah guru penugasan guru keluar kelas karena dianggap sudah
selesai pelajarnnya dan tinggal nunggu bel untuk pergantian mata peljaran selanjutnya,
banyak guru yang masih mengajar namun penerapan metodenya kurang menarik sehingga
4
perhatian siswa pada mata pelajaran tersebut kurang dan pada akhirnya siswa bosan dengan
pelajaran tersebut, padahal kita tahu bahwa selain hasil belajar, salah satu faktor
keberhasilan pembelajaran adalah guru harus lebih kreatif dalam proses pembelajaran.
Begitu pula dengan [Link] Irsyad Darmareja Sukabumi yang saya teliti, pada
pembelajaran Akidah Akhlak materi Iman Kepada Allah Melalui Asmaul Husna.
Pemahaman siswa berkurang, siswa tidak bisa fokus dalam proses pembelajaran tersebut
karena mereka merasa seperti tidak tertarik dan tidak nyaman dengan proses pembelajaran
yang sedang berlangsung, ada yang bermain sendiri, menulis sendiri, menggambar di buku
tulisnya bahkan berbicara pada temannya sendiri tanpa meperhatikan guru di depan yang
sedang memberikan penjelasan, dalam proses pembelajaran guru tidak selalu menggunakan
model atau metode yang dapat memancing siswa untuk aktif dalam pembelajaran tersebut
sehingga pada proses pembalajaran tersebut siswa bersifat pasif terhadap proses
pembelajaran, nampaknya hal itu yang membuat siswa seperti itu, ditambah lagi siswa yang
mengantuk dan bosan, konsentrasi mereka terganggu karena proses pembelajaran yang
seperti itu saja, dalam proses pembelajaran tersebut banyak siswa yang tidak aktif tetapi ada
sebagian yang aktif. terkadang guru juga pernah menggunakan metode diskusi namun saat
di tanya siswa tidak bisa menjawab karena sebagian siswa masih minder dan takut akan
jawabnnya yang salah dan malu sama temannya yang lebih pintar.
Dalam proses pembelajaran aqidah akhlak materi hari akhir beberapa siswa saja
yang dapat menangkap pelajaran lainnya tidak bisa menangkap pelajaran, walaupun
anak anak seperti memperhatikan tetapi sepertinya mereka memperhatikan dengan pikiran
kosong sehingga saat saya tanya tentang materi tersebut siswa tidak bisa menjawab, hanya
sebagian saja yang bisa jawab Sebagian mereka tidak paham pelajaran yang habis dipelajari,
mungkin pada materi tersebut terlalu banyak sub materi yang harus mereka kuasai
alWakil, al-Matin, al-Jami’, al-‘Adl, dan al-Akhir melapalkan Dan mengingat Asmaul
hikmah Iman Kepada Allah Melalui Asmaul Husna al Karim, al-Mu’min, alWakil, al-Matin,
kreatifitas dari seorang guru agar peserta didik tidak bosan, identiknya peserta didik di kelas
X [Link] Irsyad Darmareja Sukabumi tidak Mudah dengan pembelajaran yang terlalu
serius karena itu akan membuat peserta didik merasa bosan akan pelajaran yang
dipelajarinya sehingga peserta didik kesulitan untuk memahami isi materi yang
dan merasa nyaman apabila ada pembelajaran yang bervariasi, seperti penggunaan model
pembelajaran yang berganti ganti sesuai kecocokan mata pelajaran yang dipelajari, dengan
pembelajaran yang bervariasi siswa tidak akan merasa bosan dan menikmati pembelajaran
yang sedang berlangsung, karena di dalam pembelajaran yang bervariasi itu siswa diajak
Dari uraian masalah di atas tentang kesulitan belajar memhami pelajaran Akidah
Akhlak materi Iman Kepada Allah Melalui Asmaul Husna, maka di perlukan solusi untuk
memcahkan masalah tersebut mengenai pemahaman siswa terhadap materi Iman Kepada
Allah Melalui Asmaul Husna sehingga dapat meningkatkan pemahaman siswa, Agar peserta
didik berperan aktif dalam pembelajaran maka di perlukan model atau metode pembelajaran
yang efektif sehingga peserta didik paham dengan materi yang sedang di pelajari.
Dalam upaya untuk meningkatkan pemahaman siswa pelajaran Akidah Akhlak materi
Iman Kepada Allah Melalui Asmaul Husna, peneliti menggunakan model pembelajaran
Problem Based Learning (PBL) mampu menguji kesiapan siswa, melatih keterampilan
mereka dalam membaca dan memahami materi pelajaran dengan cepat dan mengajak
mereka untuk terus siap dalam situasi apapun (Huda, 2013, p. 225). Problem Based
Learning (PBL) diterapkan pada peserta didik dari jengjang SMA, selain melatih berbicara,
pembelajaran ini akan menciptakan suasana yang menyenangkan dan membuat peserta didik
aktif (Shoimin, 201, p. 198). Dalam hal ini pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
pengajaran memerlukan usaha terciptanya interaksi yang baik antara guru dan yang mengajar
dan peserta didik yang belajar (Suryosubroto, 1996, p. 156). Pada model Problem Based
Learning (PBL) bisa di gunakan pada semua mata pelajaran terutama mata pelajaran Agama.
kelas yang berjudul: “Peningkatan Pemahaman Siswa Pada Mata Pelajaran Akidah Akhlak
Materi Iman Kepada Allah Melalui Asmaul Husna Melalui Model Problem Based Learning
Penelitian ini juga diperkuat dengan peneliti terdahulu yang menggunakan metode
Problem Based Learning (PBL) oleh Siti Nurjannah, bahwasannya Berdasarkan hasil
penelitian yang dlakukan oleh Siti Nurjanah dalam PTK yang berjudul “Pengaruh
Implementasi Metode Talking Stick Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata pelajaran
Fiqih di MTS Unggulan Ibnu Husain Surabaya.” Menunjukkan bahwa penerapan model
Problem Based Learning (PBL) melalui pembelajaran Fiqih yang dikembangan guru,
mampu meningkatkan proses hasil belajar siswanya. Hal ini dapat dilihat dari hasil
ketentuan siswa dimana dari hasil angket yang menunjukkan bahwa hasil prosentase angket
penerapan metode pembelajaran Talking Stick76,8%. Jika dilihat pada prosentase, maka
terdapat pada skala 76%-100% yaitu tergolong pada kategori “baik”. Kemudian, dari rata-
rata prosentase ketercapaian skor post test siswa sebesar 83,4%, rata-rata prosentase
ketercapaian skor post test siswa meningkat dari rata-rata prosentase ketercapaian skor pre
test yaitu sebesar 70,1%, hanya ada satu siswa yang tidak mencapai prosentase tuntas.
yang dilakukan menggunakan metode Problem Based Learning (PBL) akan meningkatkan
hasil belajar karena di dalam metode Problem Based Learning (PBL) sendiri terdapat proses
Berdasarkan latar belakang seperti yang telah diuraikan, maka rumusan masalah
1. apakah melalui penerapan model Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan
Hasil belajar materi Iman Kepada Allah Melalui Asmaul Husna pada mata pelajaran
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, tindakan yang dipilih
pemahaman mata pelajaran Akidah Akhlak Kelas X materi Iman Kepada Allah Melalui
Asmaul Husna di [Link] Irsyad Darmareja Sukabumi, tindakan ini dipilih karena;
1. Tujuan
belajar dan bermain terselip makna pelajaran yang mudah diserap sehingga siswa tidak
2. Karakteristik siswa
kelas terlalu pasif karena mereka bosan dengan pembelajaran yang biasa biasa saja,
mereka senang untuk diajak bermain sambil belajar, maka dari itu peneliti memilih
model Problem Based Learning (PBL) karena cocok untuk di terpakan pada Kelas X
karena melihat karakteristik siswa yang seperti itu, model coopertive learning tipe
talking stick ini siswa di ajak untuk bermain dan belajar sehingga siswa bisa aktif
9
dalam pembelajaran.
3. Karakteristik Materi
Materi Iman Kepada Allah Melalui Asmaul Husna terdapat pada pelajaran
Akidah Akhlak Kelas X dimana materi tersebut di pelajari pada pembembelajaran ke-4,
tanda-tanda umum hari akhir, menjelaskan tanda-tanda khusus hari akhir, Menjelaskan
hikmah beriman kepada hari akhir. Sehingga model Problem Based Learning (PBL)
janjikan, dimana dalam materi tersebut memiliki beberapa sub materi sehingga
terapkan pada materi tersebut kareana dalam Talking Stick diperlukan sub materi yang
D. Tujuan Penelitian
meningkatkan pemahaman materi Iman Kepada Allah Melalui Asmaul Husna pada
mata pelajaran Akidah Akhlak di [Link] Irsyad Darmareja Sukabumi pada kelas
mata pelajaran Akidah Akhlak di [Link] Irsyad Darmareja Sukabumi pada kelas
E. Lingkup Penelitian
Agar penelitian terfokus dengan baik, maka dibatasi pada hal-hal berikut:
bidang dan lingkup kajian padatingkat teknis, spesifik, detail dan kompleks
F. Metode Penelitian
Metode adalah suatu prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu yang
penelitian ialah suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan- peraturan yang terdapat
Penelitian tindakan kelas (PTK). Berdasarkan namanya, maka terdapat dua komponen
utama dalam penelitian tindakan kelas, yaitu: Penelitian tindakan, dan kelas, diamana
penelitian tindakan itu sendiri terdiri dari dua suku kata, yaitu Penelitian dan Tindakan.
sesuatu yang sudah diyakini suatu kebenarannya, Tindakan merupakan aktifitas yang
dilakukan untuk terlaksananya pembelajaran efektif dan efisien, Kelas dapat diartikan
sebagai sekelompok siswa dalam satu tingkatan yang sama yang melakukan aktifitas
masalah pembelajaran di dalam kelas melalui refleksi diri dalam upaya untuk
terencana dalam situasi nyata serta menganalisis setiap pengaruh dari perlakuan
tersebut. PTK sebagai penelitian tindakan memiliki faktor pendorong yaitu keinginan
untuk memperbaiki kinerja guru. Dengan demikian, guru berperan sebagai subjek
pp. 26-27).
Pada penelitian ini model penelitian tindakan kelas yang digunakan adalah
model Kurt Lewin. Dalam model kurt lewin ini ada 4 komponen pokok dalam peelitian
tindakan kelas, yaitu: (1) perencanaan (Planning), (2) tindakan (acting, (3) pengamatan
Gambar 3.1
Prosedur PTK Model Kurt Lewin
Secara garis besar terdapat empat langkah yang dilakukan dalam penelitian
tindakan kelas. Adapun langkah-langkah berikut sesuai dengan model Kurt Lewin yaitu
13
perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.
1. Menyusun perencanaan (Planning). Pada tahap ini, kegiatan yang harus dilakukan
adalah:
2. Melaksanakan tindakan (Acting). Pada tahap ini melaksanakan tindakan yang telah
dirumuskan pada RPP dalam situai yang aktual, meliputi kegiatan awal, kegiatan
adalah:
4. Melakukan refleksi (Reflecting). Pada tahap ini hal yang harus dilakukanadalah:
1. Setting Penelitian
a. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di [Link] Irsyad yang berlokasi di desa
b. Waktu Penelitian
2. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X semester II tahun ajaran 2022/2023
yang berjumlah 26 siswa. Mata pelajaran yaang dijadikan subjek adalah akidah
akhlak Kelas X dengan materi Iman Kepada Allah Melalui Asmaul Husna
Variabel adalah sesuatu yang tidak tetap atau berubah-ubah. Variabel dapat juga
diartikan sebagai konsep dalam bentuk kongkrit atau bentuk operasional. Guna
2008, p. 122).
2. Variabel Proses : Pembelajaran Akidah Akhlak Materi Iman Kepada Allah Melalui
I. Rencana Tindakan
1. Prasiklus
Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan oleh peneliti adalah mengidentifikasi
masalah dan mengumpulkan data sebelum penelitian dilakukan, yaitu dengan cara
15
wawancara dengan guru Kelas X [Link] Irsyad Darmareja Sukabumi.
2. Siklus Pertama
Tindakan yang dilakukan dalam suatu penelitian tindakan kelas biasanya jarang
yang berhasil mencapai batas ketuntasan belajar hanya dalam satu siklus saja.
Oleh karena itu, tindakan kelas dilakukan secara bersiklus, yakni lebih dari satu siklus
(Ali & Asrori, 2014, p. 202). Dalam penelitian ini peneliti memilih untuk
a. Perencanaan (Planning)
berbasis masalah.
b. Tindakan (Action)
Pada tahap ini peneliti melakukan tindakan sesuai dengan Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) yang telah dipersiapkan, yang mana dalam RPP tersebut
c. Pengamatan (Observing)
Dalam tahap ini peneliti melakukan pengamatan terhadap aktivitas siswa selama
d. Refleksi
3. Siklus kedua
a. Perencanaan (Planing)
Pada tahap perencanaan di siklus dua ini peneliti membuat rencana berdasarkan
b. Tindakan (Acting)
Problem Based Learning (PBL) dimana pada proses pembelajaran ini tidak jauh beda
c. Pengamatan (Observing)
Dalam tahap ini peneliti melakukan pengamatan terhadap aktivitas siswa selama
d. Refleksi
a. Siswa
Dalam hal ini siswa menjadi sumber data untuk mendapatkan data
b. Guru
Untuk melihat keberhasilan penerapan model cooperative learning tipe
talking stick pada mata pelajaran Akidah Akhlak materi Iman Kepada Allah
a. Observasi
untuk mengumpulkan data tentang aktivitas siswa dan aktivitas guru dalam
pembelajaran.
b. Wawancara
sehingga segala sesuatu yang ingin diungkap dapat digali dengan baik
peneliti sehingga dalam proses wawancara dapat fokus dan sesuai dengan
megumpulkan data tentang proses pembelajaran yang dialami guru sebelum dan
c. Tes
Tes merupakan alat pengukur data yang berharaga dalam penelitian. Tes
Analisis data yaitu suatu proses mengevaluasi data dengan menggunakan alasan
logis dan analitis untuk menguji setiap komponen data yang tersedia. Analisis data
mencakup proses mengevaluasi setiap komponen data, menggunakan alasan logis dan
2014, pp. 131-132). Dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas, ada dua jenis data yang
dikumpulkan oleh peneliti yang kemudian akan dianalisis untuk ditarik kesimpulan.
1. Data kuantitatif.
Data kuantitatif merupakan data yang diperoleh dari hasil belajar siswa,
2. Data kualitatif.
Data kualitatif merupakan data yang berupa informasi berbentuk kalimat yang
memberi gambaran tentang ekspresi siswa yang berkaitan dengan tingkat kognitif dan
afektif.
1. Penilaian Tes
....(Rumus 1)
Hasil yang telah diperoleh akan di klasifikasikan dalam bentuk pensekoran
nilai peserta.
20
Tabel 1
Kriteria Tingkat rata-rata Kelas
Tingkat Nilai Rata-rata
Kriteria
kelas
90-100 Sangat baik
80-89 Baik
65-79 Cukup
46-64 Kurang
0-45 Sangat kurang
.......(Rumus 2)
Tabel 2
Kriteria Tingkat Keberhasilan Kelas
Tingkat keberhasilan kelas Kriteria
90%-100% Sangat baik
80%-89% Baik
65-%79% Cukup
56%-64% Kurang
≤55% Sangat kurang
(Purwanto, 2012, p. 82)
3. Teknik Penskoran Observasi Guru
.......(Rumus 3)
4. Teknik Pesekoran Observasi Siswa
........(Rumus 4)
Tabel 3
Kriteria Ketetapan Hasil Observasi Guru dan Siswa.
Tingkat Penguasaan Kriteria
90-100 Sangat baik
76-89 Baik
65-75 Cukup
46-64 Kurang
0-45 Sangat kurang
(Purwanto, 2012, p. 82)
21
L. Indikator Kerja
Indikator kinerja adalah suatu kriteria yang digunakan untuk melihat tingkat
keberhasilan dari kegiatan PTK dalam meningkatkan atau memperbaiki mutu PBM di
kelas. Indikator kinerja harus realistik dan dapat diukur. Indikator kerja yang digunakan
Akhmadi, A., & Ismanto, H. (2015). Penelitian Tindakan Kelas . Sidoarjo: Nizamia
Learning Center.
Ali, M., & Asrori, M. (2014). Metodologi & Aplikasi Riset Pendidikan. Jakarta: Bumi
Aksara .
Dimiyati, & Mujiono. (1999). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Hamzah, B. U. (2012). Menjadi Peneliti PTK yang Profesional. Jakarta: Bumi Aksara.
Nasution. (1995). Berbagai Pendekatan Dalam Proses belajar dan Mengajar. Jakarta: Bumi
Aksara.
Tanujaya, B., & Mumu, J. (2016). Penelitian Tindakan kelas. Yogyakarta: Media Akademi.
Yaumi, M., & Damopolii, M. (2014). Action Research: Teori, Model & Aplikasi . Jakarta:
Kencana.