0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
258 tayangan22 halaman

PBL Tingkatkan Hasil Belajar Akidah

Dokumen tersebut membahas proposal penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang materi Iman Kepada Allah Melalui Asmaul Husna dengan menggunakan model Problem Based Learning. Beberapa masalah yang diidentifikasi adalah kurangnya kreativitas guru dan pemahaman siswa akibat metode konvensional, sehingga diperlukan solusi berupa penerapan model PBL untuk meningkatkan partisipasi siswa.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
258 tayangan22 halaman

PBL Tingkatkan Hasil Belajar Akidah

Dokumen tersebut membahas proposal penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang materi Iman Kepada Allah Melalui Asmaul Husna dengan menggunakan model Problem Based Learning. Beberapa masalah yang diidentifikasi adalah kurangnya kreativitas guru dan pemahaman siswa akibat metode konvensional, sehingga diperlukan solusi berupa penerapan model PBL untuk meningkatkan partisipasi siswa.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN


KELAS

DENGAN JUDUL
PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA
PELAJARAN AKIDAH AKHLAK MATERI IMAN KEPADA ALLAH
MELALUI ASMAUL HUSNAMELALUI MODEL PROBLEM BASED
LEARNING (PBL) PADA KELAS X II SEMESTER GENAP DI
[Link] IRSYAD DARMAREJA NAGRAK SUKABUMI
TAHUN AJARAN 2022/2023

Oleh : ASEP SAEPULOH, [Link].I


2

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS


Oleh : ASEP SAEPULOH, [Link].I

DENGAN JUDUL
PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN AKIDAH
AKHLAK MATERI IMAN KEPADA ALLAH MELALUI ASMAUL
HUSNAMELALUI MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PADA KELAS
X II SEMESTER GENAP DI [Link] IRSYAD DARMAREJA NAGRAK
SUKABUMI
TAHUN AJARAN 2022/2023
A. Latar Belakang

Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu

perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri

dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003, p. 2). Dalam perbuatan belajar,

perubahan-perubahan itu senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh sesuatu yang

lebih baik dari sebelumnya, dengan demikian makin banyak usaha belajar itu dilakukan,

makin baik perubahan uyang diperoleh (Slameto, 2003, p. 4).

Menurut Bruner, dalam proses belajar dapat dibedakan tiga fase atau episode,

yakni (1) Informasi, (2) transformasi, (3) evaluasi (Nasution, 1995, p. 9).

Informasi, dalam tiap pelajaran kita peroleh sejumlah informasi, ada yang menambah

pengetahuan yang telah kita miliki, ada yang memperhalus dan memperdalamnya, ada pula

informasi yang bertentangan dengan apa yang telah kita ketahui sebelumnya. Transformatif.

Informasi itu harus dianalisis, diubah atau ditransformasi ke dalam bentuk yang lebih

abstrak atau konseptual agar dapat digunakan untuk hal hal yang lebih luas, dalam hal ini

bantuan guru sangat diperlukan. Evaluasi. Kemudian kita nilai hingga manakah

pengetahuan yang kita peroleh dan transfoemasi itu di manfaatkan untuk memahami gejala

lain (Nasution, 1995, p. 10).

Pembelajaran dapat dipandang sebagai upaya memfasilitasi peserta didik untuk secara

aktif membangun pemahamannya tentang pengetahuan tertentu (Ratumanan, 2015, p. 10).


3
Dalam hal ini peserta didik dipaksa menemukan cara sendiri untuk mendapatkan

pengetahuannya, guru hanya bisa memfasilitasi karena setiap individu mempunyai cara

tersendiri untuk menemukan pengetahuannya.

Pembelajaran merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk membuat siswa

belajar, dan dilakukan kegiatan penilaian. Penilaian dilakukan untuk mengetahui tingkat

keberhasilan (pemahaman) siswa dalam mencapai tujuan yang ditetapkan dalam

pembelajaran. penilaian merupakan salah satu hal yang harus di utamakan oleh seorang

guru. Agar penilaian tidak hanya berorientasi pada hasil, maka evaluasi hasil belajar

memiliki ranah- ranah yang terkandung dalam tujuan yang diklasifikasikan menjadi tiga

ranah, yaitu: Cognitive Domain, Affective Domain, Psycomotor Domain (Dimiyati &

Mujiono, 1999, p. 201).

Penggunaann metode yang tepat akan menentukan efektifitas dan efisiensi

pembelajaran, pembelajaran perlu dilakukan sedikit ceramah dan metode-metode berpusat

pada guru, serta lebih menekankan pada interaksi peserta didik (Mulyasa, 2015, p. 107).

Dalam kegiatan belajar mengajar guru tidak harus terpaku dengan menggunakan satu

metode, tetapi guru sebaliknya menggunakan metode bervariasai agar jalannya pengajaran

tidak membosankan tetapi menarik perhatian peserta didik (Djamarah, 2008, p. 45). Ketika

guru mengajar dengan metode ceramah saja siswa akan bosan, mengantuk, pasif, dan hanya

mencatat saja (Slameto, 2003, p. 65). Dalam hal ini guru harus menggunakan metode yang

bervariasi sehingga peserta didik tidak bosan dalam menjalankan proses belajar mengajar

dan pembelajaran yang disampaikan guru bisa masuk dalam ingatannya.

Pada mata pelajaran Aqidah Akhlak mayoritas guru banyak yang masih menggunakan

metode yang tidak bervariasi, seperti penugasan, mengerjakan soal yang ada di buku dan

ceramah, dan terkadang setelah guru penugasan guru keluar kelas karena dianggap sudah

selesai pelajarnnya dan tinggal nunggu bel untuk pergantian mata peljaran selanjutnya,

banyak guru yang masih mengajar namun penerapan metodenya kurang menarik sehingga
4
perhatian siswa pada mata pelajaran tersebut kurang dan pada akhirnya siswa bosan dengan

pelajaran tersebut, padahal kita tahu bahwa selain hasil belajar, salah satu faktor

keberhasilan pembelajaran adalah guru harus lebih kreatif dalam proses pembelajaran.

Begitu pula dengan [Link] Irsyad Darmareja Sukabumi yang saya teliti, pada

pembelajaran Akidah Akhlak materi Iman Kepada Allah Melalui Asmaul Husna.

Pemahaman siswa berkurang, siswa tidak bisa fokus dalam proses pembelajaran tersebut

karena mereka merasa seperti tidak tertarik dan tidak nyaman dengan proses pembelajaran

yang sedang berlangsung, ada yang bermain sendiri, menulis sendiri, menggambar di buku

tulisnya bahkan berbicara pada temannya sendiri tanpa meperhatikan guru di depan yang

sedang memberikan penjelasan, dalam proses pembelajaran guru tidak selalu menggunakan

model atau metode yang dapat memancing siswa untuk aktif dalam pembelajaran tersebut

sehingga pada proses pembalajaran tersebut siswa bersifat pasif terhadap proses

pembelajaran, nampaknya hal itu yang membuat siswa seperti itu, ditambah lagi siswa yang

mengantuk dan bosan, konsentrasi mereka terganggu karena proses pembelajaran yang

seperti itu saja, dalam proses pembelajaran tersebut banyak siswa yang tidak aktif tetapi ada

sebagian yang aktif. terkadang guru juga pernah menggunakan metode diskusi namun saat

di tanya siswa tidak bisa menjawab karena sebagian siswa masih minder dan takut akan

jawabnnya yang salah dan malu sama temannya yang lebih pintar.

Dalam proses pembelajaran aqidah akhlak materi hari akhir beberapa siswa saja

yang dapat menangkap pelajaran lainnya tidak bisa menangkap pelajaran, walaupun

anak anak seperti memperhatikan tetapi sepertinya mereka memperhatikan dengan pikiran

kosong sehingga saat saya tanya tentang materi tersebut siswa tidak bisa menjawab, hanya

sebagian saja yang bisa jawab Sebagian mereka tidak paham pelajaran yang habis dipelajari,

mungkin pada materi tersebut terlalu banyak sub materi yang harus mereka kuasai

diantaranya, menjelaskan pengertian Asmaul Husna,, menyebutkan Asmaul Husna al

Karim, al-Mu’min, alWakil, al-Matin, al-Jami’,al-‘Adl, dan al-Akhir, menjelaskan contoh


5
perilaku Rosulllloh dan para sahabat yang sesuai dengan Asmaul Husna Karim, al-Mu’min,

alWakil, al-Matin, al-Jami’, al-‘Adl, dan al-Akhir melapalkan Dan mengingat Asmaul

Husna al Karim, al-Mu’min, alWakil, al-Matin, al-Jami’,al-‘Adl, dan al-Akhir,menjelaskan

hikmah Iman Kepada Allah Melalui Asmaul Husna al Karim, al-Mu’min, alWakil, al-Matin,

al-Jami’,al-‘Adl, dan al-Akhir


6

Pembelajaran di kelas X [Link] Irsyad Darmareja Sukabumi harus menggunakan

kreatifitas dari seorang guru agar peserta didik tidak bosan, identiknya peserta didik di kelas

X [Link] Irsyad Darmareja Sukabumi tidak Mudah dengan pembelajaran yang terlalu

serius karena itu akan membuat peserta didik merasa bosan akan pelajaran yang

dipelajarinya sehingga peserta didik kesulitan untuk memahami isi materi yang

dipelajarinya, peserta didik di Kelas X [Link] Irsyad Darmareja Sukabumi menyukai

dan merasa nyaman apabila ada pembelajaran yang bervariasi, seperti penggunaan model

pembelajaran yang berganti ganti sesuai kecocokan mata pelajaran yang dipelajari, dengan

pembelajaran yang bervariasi siswa tidak akan merasa bosan dan menikmati pembelajaran

yang sedang berlangsung, karena di dalam pembelajaran yang bervariasi itu siswa diajak

untuk bermain dan belajar sihingga pelajaran tidak monoton.

Dari uraian masalah di atas tentang kesulitan belajar memhami pelajaran Akidah

Akhlak materi Iman Kepada Allah Melalui Asmaul Husna, maka di perlukan solusi untuk

memcahkan masalah tersebut mengenai pemahaman siswa terhadap materi Iman Kepada

Allah Melalui Asmaul Husna sehingga dapat meningkatkan pemahaman siswa, Agar peserta

didik berperan aktif dalam pembelajaran maka di perlukan model atau metode pembelajaran

yang efektif sehingga peserta didik paham dengan materi yang sedang di pelajari.

Dalam upaya untuk meningkatkan pemahaman siswa pelajaran Akidah Akhlak materi

Iman Kepada Allah Melalui Asmaul Husna, peneliti menggunakan model pembelajaran

Problem Based Learning (PBL) mampu menguji kesiapan siswa, melatih keterampilan

mereka dalam membaca dan memahami materi pelajaran dengan cepat dan mengajak

mereka untuk terus siap dalam situasi apapun (Huda, 2013, p. 225). Problem Based

Learning (PBL) diterapkan pada peserta didik dari jengjang SMA, selain melatih berbicara,

pembelajaran ini akan menciptakan suasana yang menyenangkan dan membuat peserta didik

aktif (Shoimin, 201, p. 198). Dalam hal ini pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

sangat tepat karena sesuai dengan karakteristik siswa MA.


7
Tercapainya tujuan proses mengajar dan belajar yang baik dalam kegiatan pendidikan dan

pengajaran memerlukan usaha terciptanya interaksi yang baik antara guru dan yang mengajar

dan peserta didik yang belajar (Suryosubroto, 1996, p. 156). Pada model Problem Based

Learning (PBL) bisa di gunakan pada semua mata pelajaran terutama mata pelajaran Agama.

Berdasarkan masalah yang dijabarkan di atas, peneliti mengadakan penelitian tindakan

kelas yang berjudul: “Peningkatan Pemahaman Siswa Pada Mata Pelajaran Akidah Akhlak

Materi Iman Kepada Allah Melalui Asmaul Husna Melalui Model Problem Based Learning

(PBL) Pada Kelas X di [Link] Irsyad Darmareja Sukabumi.

Penelitian ini juga diperkuat dengan peneliti terdahulu yang menggunakan metode

Problem Based Learning (PBL) oleh Siti Nurjannah, bahwasannya Berdasarkan hasil

penelitian yang dlakukan oleh Siti Nurjanah dalam PTK yang berjudul “Pengaruh

Implementasi Metode Talking Stick Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata pelajaran

Fiqih di MTS Unggulan Ibnu Husain Surabaya.” Menunjukkan bahwa penerapan model

Problem Based Learning (PBL) melalui pembelajaran Fiqih yang dikembangan guru,

mampu meningkatkan proses hasil belajar siswanya. Hal ini dapat dilihat dari hasil

ketentuan siswa dimana dari hasil angket yang menunjukkan bahwa hasil prosentase angket

penerapan metode pembelajaran Talking Stick76,8%. Jika dilihat pada prosentase, maka

terdapat pada skala 76%-100% yaitu tergolong pada kategori “baik”. Kemudian, dari rata-

rata prosentase ketercapaian skor post test siswa sebesar 83,4%, rata-rata prosentase

ketercapaian skor post test siswa meningkat dari rata-rata prosentase ketercapaian skor pre

test yaitu sebesar 70,1%, hanya ada satu siswa yang tidak mencapai prosentase tuntas.

Dari penelitian di atas yang dilakukan Siti Nurjannah bahwa pembelajaran

yang dilakukan menggunakan metode Problem Based Learning (PBL) akan meningkatkan

hasil belajar karena di dalam metode Problem Based Learning (PBL) sendiri terdapat proses

pembelajaran yang menyenangkan.


8
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang seperti yang telah diuraikan, maka rumusan masalah

dijabarkan sebagai berikut:

1. apakah melalui penerapan model Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan

Hasil belajar materi Iman Kepada Allah Melalui Asmaul Husna pada mata pelajaran

Akidah Akhlak di [Link] Irsyad Darmareja Sukabumi pada siswa Kelas X ?

C. Tindakan Yang Dipilih

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, tindakan yang dipilih

peneliti adalah penerapan model Problem Based Learning (PBL)untuk meningkatkan

pemahaman mata pelajaran Akidah Akhlak Kelas X materi Iman Kepada Allah Melalui

Asmaul Husna di [Link] Irsyad Darmareja Sukabumi, tindakan ini dipilih karena;

1. Tujuan

Model Problem Based Learning (PBL) ini menyenangkan. Dikarenakan selain

belajar dan bermain terselip makna pelajaran yang mudah diserap sehingga siswa tidak

bosan dengan pelajaran dikarenakan adanya permainan di dalamnya sehingga siswa

lebih mudah untuk memahami pelajaran tersebut.

2. Karakteristik siswa

Karakter siswa Kelas X pada [Link] Irsyad Darmareja Sukabumi dalam

kelas terlalu pasif karena mereka bosan dengan pembelajaran yang biasa biasa saja,

mereka senang untuk diajak bermain sambil belajar, maka dari itu peneliti memilih

model Problem Based Learning (PBL) karena cocok untuk di terpakan pada Kelas X

karena melihat karakteristik siswa yang seperti itu, model coopertive learning tipe

talking stick ini siswa di ajak untuk bermain dan belajar sehingga siswa bisa aktif
9
dalam pembelajaran.

3. Karakteristik Materi

Materi Iman Kepada Allah Melalui Asmaul Husna terdapat pada pelajaran

Akidah Akhlak Kelas X dimana materi tersebut di pelajari pada pembembelajaran ke-4,

karakteristik dalam materi tersebut terdapat beberapa sub materi diantaranya;

Menjelaskan pengertian hari akhir, menyebutkan nama-nama hari akhir, Menjelaskan

tanda-tanda umum hari akhir, menjelaskan tanda-tanda khusus hari akhir, Menjelaskan

hikmah beriman kepada hari akhir. Sehingga model Problem Based Learning (PBL)

cocok untuk di terapkan.

Dari keterangan diatas mengenai karakteristik materi mengenal hari yang di

janjikan, dimana dalam materi tersebut memiliki beberapa sub materi sehingga

penerapan pembelajaran model Problem Based Learning (PBL)sangat cocok untuk di

terapkan pada materi tersebut kareana dalam Talking Stick diperlukan sub materi yang

banyak untuk dijadikan sebagai bahan pertanyaan

D. Tujuan Penelitian

1. Untuk Mengetahui penerapan model Problem Based Learning (PBL untuk

meningkatkan pemahaman materi Iman Kepada Allah Melalui Asmaul Husna pada

mata pelajaran Akidah Akhlak di [Link] Irsyad Darmareja Sukabumi pada kelas

2. Untuk Mengetahui peningkatan pemahaman materi Iman Kepada Allah Melalui

Asmaul Husna dengan menggunakan model Problem Based Learning (PBL)pada

mata pelajaran Akidah Akhlak di [Link] Irsyad Darmareja Sukabumi pada kelas

E. Lingkup Penelitian

Agar penelitian terfokus dengan baik, maka dibatasi pada hal-hal berikut:

1. Subyek penelitian adalah Siswa Kelas X [Link] Irsyad Darmareja Sukabumi


10
2. Permasalahan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah kurangya pemahaman siswa
pada mata pelajaran Akidah Akhlak Materi Iman Kepada Allah Melalui Asmaul
Husna.

3. Implementasi penelitian yang digunakan adalam model Problem Based Learning


(PBL)
4. Kompetensi Inti (KI) yang diteliti:

KI 3. Memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi tentang

pengetahuan faktual,konseptual, prosedural, dan metakognitif sesuai dengan

bidang dan lingkup kajian padatingkat teknis, spesifik, detail dan kompleks

berkenaan dengan ilmu pengetahuan,teknologi, seni, budaya, dan humaniora

dalam konteks pengembangan potensi diri sebagai bagian dari keluarga,

sekolah, dunia kerja, warga masyarakat nasional, regional dan Internasiona

5. Kompetensi Dasar (KD) yang Diteliti:

KD 3.3. Menganalisis makna alAsma’u al-Husna: alKarim, al-Mu’min, alWakil, al-


Matin, al-Jami’,al-‘Adl, dan al-Akhi

Indikator yang diteliti:


3.3.1 Menghubungkan makna alAsma’u al-Husna: al-Karim, alMu’min, al-Wakil, al
Matin, alJami’, al-‘Adl, dan al-Akhir dengan kehidupan sehari hari
3.3.2 Menganalisa makna al-Asma’ual-Husna: al-Karim, al-Mu’min,al-Wakil, al

Matin, al-Jami’, al-‘Adl, dan al-Akhir


11

F. Metode Penelitian

Metode adalah suatu prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu yang

mempunyai langkah-langkah sistematis. Sedangkan metodologi adalah suatu

pengkajian dalam memperoleh peraturan-peraturan suatu metode. Jadi, metodologi

penelitian ialah suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan- peraturan yang terdapat

dalam penelitian (Masyhuri & Zainuddin, 2008, p. 151).

Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah

Penelitian tindakan kelas (PTK). Berdasarkan namanya, maka terdapat dua komponen

utama dalam penelitian tindakan kelas, yaitu: Penelitian tindakan, dan kelas, diamana

penelitian tindakan itu sendiri terdiri dari dua suku kata, yaitu Penelitian dan Tindakan.

Penelitian merupakan proses penyelidikan ilmiah yang dilakukan secara terencana


12
untuk memperoleh fakta guna memperkuat, mengembangkan dan atau membantah

sesuatu yang sudah diyakini suatu kebenarannya, Tindakan merupakan aktifitas yang

dilakukan untuk terlaksananya pembelajaran efektif dan efisien, Kelas dapat diartikan

sebagai sekelompok siswa dalam satu tingkatan yang sama yang melakukan aktifitas

pembelajaran (Tanujaya & Mumu, 2016, p. 4).

Penelitian tindakan kelas (PTK) dapat diartikan sebagai proses pengkajian

masalah pembelajaran di dalam kelas melalui refleksi diri dalam upaya untuk

memecahkan masalah tersebut dengan cara melakukan berbagai tindakan yang

terencana dalam situasi nyata serta menganalisis setiap pengaruh dari perlakuan

tersebut. PTK sebagai penelitian tindakan memiliki faktor pendorong yaitu keinginan

untuk memperbaiki kinerja guru. Dengan demikian, guru berperan sebagai subjek

penelitian yang merancang penelitian serta mengimplementasikannya (Sanjaya, 2009,

pp. 26-27).

Pada penelitian ini model penelitian tindakan kelas yang digunakan adalah

model Kurt Lewin. Dalam model kurt lewin ini ada 4 komponen pokok dalam peelitian

tindakan kelas, yaitu: (1) perencanaan (Planning), (2) tindakan (acting, (3) pengamatan

(observing), dan (4) refleksi (reflecting)45

Gambar 3.1
Prosedur PTK Model Kurt Lewin

Secara garis besar terdapat empat langkah yang dilakukan dalam penelitian

tindakan kelas. Adapun langkah-langkah berikut sesuai dengan model Kurt Lewin yaitu
13
perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.

1. Menyusun perencanaan (Planning). Pada tahap ini, kegiatan yang harus dilakukan

adalah:

a. membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

b. mempersiapkan fasilitas dari sarana pendukung yang dibutuhkan

c. mempersiapkaninstrumen untuk merekam dan menganalisis data mengenai

proses dan hasil tindakan.

2. Melaksanakan tindakan (Acting). Pada tahap ini melaksanakan tindakan yang telah

dirumuskan pada RPP dalam situai yang aktual, meliputi kegiatan awal, kegiatan

inti, dan kegiatan akhir.

3. Melaksanakan pengamatan (Observing). Pada tahap ini yang harus dilakukan

adalah:

a. Mengamati perilaku peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran,

b. Memantau kegiatanpeserta didik,

c. Mengamati pemahaman setiap peserta didik terhadap materi yang telah

dirancang sesuai tujuan PTK.

4. Melakukan refleksi (Reflecting). Pada tahap ini hal yang harus dilakukanadalah:

a. Mencatat hasil observasi,

b. Mengevaluasi hasil observasi,

c. Menganalisis hasil pembelajaran,

d. Mencatat kelemahan-kelemahan unuk dijadikan bahan penyusunan rencana

siklus berikutnya, sampai tujuan PTK tercapai (Salamah, 2009).


14
G. Setting Penelitian dan Karakter Subjek Penelitian

1. Setting Penelitian

a. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di [Link] Irsyad yang berlokasi di desa

Darmareja kecamatan Nagrak kabupaten Sukabumi.

b. Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada tahun 2023.

2. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X semester II tahun ajaran 2022/2023

yang berjumlah 26 siswa. Mata pelajaran yaang dijadikan subjek adalah akidah

akhlak Kelas X dengan materi Iman Kepada Allah Melalui Asmaul Husna

H. Variabel yang Diselidiki

Variabel adalah sesuatu yang tidak tetap atau berubah-ubah. Variabel dapat juga

diartikan sebagai konsep dalam bentuk kongkrit atau bentuk operasional. Guna

mengoperasionalkannya, maka variabel harus dijelaskan (Masyhuri & Zainuddin,

2008, p. 122).

Variabel yang diselidiki peneliti yaitu:

1. Variabel Input : siswa kelas X [Link] Irsyad Darmareja Sukabumi

2. Variabel Proses : Pembelajaran Akidah Akhlak Materi Iman Kepada Allah Melalui

Asmaul Husna menggunakan model Problem Based Learning (PBL)

3. Variabel Output : peningkatan kemampuan memahami materi Iman Kepada Allah

Melalui Asmaul Husna

I. Rencana Tindakan

Langkah-langkah rencana tindakan meliputi kegiatan sebagai berikut:

1. Prasiklus

Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan oleh peneliti adalah mengidentifikasi

masalah dan mengumpulkan data sebelum penelitian dilakukan, yaitu dengan cara
15
wawancara dengan guru Kelas X [Link] Irsyad Darmareja Sukabumi.

2. Siklus Pertama

Tindakan yang dilakukan dalam suatu penelitian tindakan kelas biasanya jarang

yang berhasil mencapai batas ketuntasan belajar hanya dalam satu siklus saja.

Oleh karena itu, tindakan kelas dilakukan secara bersiklus, yakni lebih dari satu siklus

(Ali & Asrori, 2014, p. 202). Dalam penelitian ini peneliti memilih untuk

menggunakan dua siklus, dimana pada stiap siklusnya meliputu perencanaan,

tindakan, pengamatan, dan refleksi.

a. Perencanaan (Planning)

Pada tahap ini peneliti melakukan kegiatan perencanaan diantaranya yaitu:

1) Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

2) Menyiapkan media dan sumber belajar untuk menerapkan modelpembelajaran

berbasis masalah.

3) Mempersiapkan lembar observasi dan berbagai instrumentpengumpulan data

yang akan digunakan dalam penelitian.

4) Menyiapkan alat evaluasi yang akan digunakan dalam prosespembelajaran

b. Tindakan (Action)

Pada tahap ini peneliti melakukan tindakan sesuai dengan Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP) yang telah dipersiapkan, yang mana dalam RPP tersebut

menggunakan model Problem Based Learning (PBL).

c. Pengamatan (Observing)

Dalam tahap ini peneliti melakukan pengamatan terhadap aktivitas siswa selama

proses pembelajaran menggunakan model Problem Based Learning (PBL)pada materi

Iman Kepada Allah Melalui Asmaul Husna.

d. Refleksi

Dalam tahap ini peneliti melakukan kegiatan yaitu:


16
1) Mencatat hasil observasi,

2) Mengevaluasi hasil observasi,

3) Menganalisis hasil [Link] tahap ini peneliti menganalisis hasi

belajar siswa untuk mengetahui apakah sudah sesuai dengan indikator

pembelajaran yang telah ditetapkan dalam RPP,

4) Mencatat kelemahan-kelemahan yang ditemukan pada siklus I untuk dijadikan

bahan penyusunan rencana siklus berikutnya, sampai tujuan PTK tercapai.

3. Siklus kedua

a. Perencanaan (Planing)

Pada tahap perencanaan di siklus dua ini peneliti membuat rencana berdasarkan

hasil dari siklus 1.

b. Tindakan (Acting)

Pada siklus II ini peneliti melaksanakan proses pembelajaran menggunakan model

Problem Based Learning (PBL) dimana pada proses pembelajaran ini tidak jauh beda

dengan siklus pertama.

c. Pengamatan (Observing)

Dalam tahap ini peneliti melakukan pengamatan terhadap aktivitas siswa selama

proses pembelajaran menggunakan model Problem Based Learning (PBL)pada materi

Iman Kepada Allah Melalui Asmaul Husna.

d. Refleksi

Peneliti melakukan refleksi terhadap pelaksanaan siklus I dan siklus II serta

menganalisis untuk membuat kesimpulan atas penerapan model pembelajaran Problem

Based Learning (PBL) di [Link] Irsyad Darmareja Sukabumi.


17
J. Data dan Pengumpulannya

1. Data dan Sumber Data

Sumber data yang diambil dalam penelitian ini adalah:

a. Siswa
Dalam hal ini siswa menjadi sumber data untuk mendapatkan data

tentang hasil pemahaman siswa Kelas X [Link] Irsyad Darmareja Sukabumi

pada materi Iman Kepada Allah Melalui Asmaul Husna.

b. Guru
Untuk melihat keberhasilan penerapan model cooperative learning tipe

talking stick pada mata pelajaran Akidah Akhlak materi Iman Kepada Allah

Melalui Asmaul Husna.

2. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah observasi, tes,

wawancara, Teknik pengumpulan data tersebut dilakukan peneliti agar mendapatkan

data yang valid, adapun rinciannya sebagai berikut:

a. Observasi

Observasi atau pengamatan adalah proses pengambilan data dalam

penelitian ketika peneliti atau pengamat melihat situasi penelitian. Observasi

sangat sesuai digunakan dalam penelitian yang berhubungan dengan

kondisi/interaksi belajar mengajar, tingkah laku, dan interaksi kelompok

(Hamzah, 2012, p. 90).

Peneliti menggunakan teknik mengumpulkan data berupa observasi

untuk mengumpulkan data tentang aktivitas siswa dan aktivitas guru dalam

penerapan model Problem Based Learning (PBL)yang dilaksanakan pada proses

pembelajaran.

b. Wawancara

Wawancara adalah metode pengumpulan data dengan mengajukan


18
pertanyaan secara lisan kepada subjek yang diteliti. Wawancara memiliki sifat

yang luwes, pertanyaan yang diberikan dapat disesuaikan dengan subjek,

sehingga segala sesuatu yang ingin diungkap dapat digali dengan baik

Ada dua jenis wawancara berstruktur dan tidak berstruktur. Dalam

wawancara berstruktur, pertanyaan dan alternatif jawaban yang diberikan kepada

subjek telah ditetapkan terlebih dahulu oleh pewawancara. Sedangkan

wawancara tidak berstruktur adalah wawancara yang bersifat informal.

Pertanyaan tentang pandangan, sikap, keyakinan subjek atau keterangan lainnya

yang diajukan secarabebas kepada subjek.

Penelitian ini peneliti menggunakan wawancara terstruktur karena

penggunaan wawancara terstruktur dapat memudahkan peneliti dalam

pengumpulan data dengan adanya instrument wawancara yang telah disusun

peneliti sehingga dalam proses wawancara dapat fokus dan sesuai dengan

masalah yang diteliti.

Wawancara dilakukan dengan guru kelas sebagai narasumber untuk

megumpulkan data tentang proses pembelajaran yang dialami guru sebelum dan

sesudah menggunakan model Problem Based Learning (PBL).

c. Tes
Tes merupakan alat pengukur data yang berharaga dalam penelitian. Tes

ialah seperangkat rangsangan (stimuli) yang diberikan kepada seseorang dengan

maksud untuk mendapatkan jawaban- jawaban (Hamzah, 2012, p. 104).

Tes yang digunakan peneliti yaitu jenis tes tulis untuk

mengumpulkan data tentang peningkatan pemahaman materi Iman Kepada Allah

Melalui Asmaul Husna menggunakan model Problem Based Learning

(PBL)pada siswa Kelas X [Link] Irsyad Darmareja Sukabumi


19
K. Analisis Data

Analisis data yaitu suatu proses mengevaluasi data dengan menggunakan alasan

logis dan analitis untuk menguji setiap komponen data yang tersedia. Analisis data

mencakup proses mengevaluasi setiap komponen data, menggunakan alasan logis dan

analitis, mendeskripsikan fakta, mendeteksi pola, mengembangkan penjelasan,

menggambarkan kesimpulan informasi dan menguji hipotesis (Yaumi & Damopolii,

2014, pp. 131-132). Dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas, ada dua jenis data yang

dikumpulkan oleh peneliti yang kemudian akan dianalisis untuk ditarik kesimpulan.

Adapun dua jenis data tersebut, yaitu:

1. Data kuantitatif.

Data kuantitatif merupakan data yang diperoleh dari hasil belajar siswa,

misalnya mencari nilai rata-rata, persentase keberhasilan belajar, dansebagainya.

2. Data kualitatif.

Data kualitatif merupakan data yang berupa informasi berbentuk kalimat yang

memberi gambaran tentang ekspresi siswa yang berkaitan dengan tingkat kognitif dan

afektif.

Yang di perlukan untuk analisis data yaitu:

1. Penilaian Tes

a. Rata-rata nilai pemahaman

Dalam menghitung nilai rata rata diperlukan rumus sebagai berikut:

....(Rumus 1)
Hasil yang telah diperoleh akan di klasifikasikan dalam bentuk pensekoran
nilai peserta.
20
Tabel 1
Kriteria Tingkat rata-rata Kelas
Tingkat Nilai Rata-rata
Kriteria
kelas
90-100 Sangat baik
80-89 Baik
65-79 Cukup
46-64 Kurang
0-45 Sangat kurang

(Akhmadi & Ismanto, 2015, p. 115)


2. Penilaian ketuntasan Pemahaman

Penilaian ketuntasan belajar dapat dirumuskan sebagai berikut:

.......(Rumus 2)

Tabel 2
Kriteria Tingkat Keberhasilan Kelas
Tingkat keberhasilan kelas Kriteria
90%-100% Sangat baik
80%-89% Baik
65-%79% Cukup
56%-64% Kurang
≤55% Sangat kurang
(Purwanto, 2012, p. 82)
3. Teknik Penskoran Observasi Guru

.......(Rumus 3)
4. Teknik Pesekoran Observasi Siswa

........(Rumus 4)

Tabel 3
Kriteria Ketetapan Hasil Observasi Guru dan Siswa.
Tingkat Penguasaan Kriteria
90-100 Sangat baik
76-89 Baik
65-75 Cukup
46-64 Kurang
0-45 Sangat kurang
(Purwanto, 2012, p. 82)
21
L. Indikator Kerja

Indikator kinerja adalah suatu kriteria yang digunakan untuk melihat tingkat

keberhasilan dari kegiatan PTK dalam meningkatkan atau memperbaiki mutu PBM di

kelas. Indikator kinerja harus realistik dan dapat diukur. Indikator kerja yang digunakan

peneliti adalah sebagai berikut:

1. Nilai rata-rata nilai pemahaman siswa ≥75

2. Keberhasilan siswa yang mencapai ketuntasan pemahaman 75 sebesar ≥80%

3. Skor aktivitas guru mencapai ≥80

4. Skor aktivitas siswa mencapai ≥80


22
DAFTAR PUSTAKA

Akhmadi, A., & Ismanto, H. (2015). Penelitian Tindakan Kelas . Sidoarjo: Nizamia
Learning Center.

Ali, M., & Asrori, M. (2014). Metodologi & Aplikasi Riset Pendidikan. Jakarta: Bumi
Aksara .

Dimiyati, & Mujiono. (1999). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Djamarah, S. B. (2008). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Hamzah, B. U. (2012). Menjadi Peneliti PTK yang Profesional. Jakarta: Bumi Aksara.

Huda, M. (2013). Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka


Pelajar.

Masyhuri, & Zainuddin, M. (2008). Metodologi PenelitianPendekatan Praktis dan Aplikatif.


Bandung: PT Refika Aditama.

Mulyasa. (2015). Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Nasution. (1995). Berbagai Pendekatan Dalam Proses belajar dan Mengajar. Jakarta: Bumi
Aksara.

Purwanto, N. (2012). Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT


Remaja Rosda Karya.

Ratumanan. (2015). Inovasi Pembelajaran. Yogyakarta : Penerbit ombak.

Salamah, H. (2009). Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya: LAPIS PGMI.

Sanjaya, W. (2009). Penelitian Tindakan Kelas . Jakarta: Kencana.

Shoimin, A. (201). 68 Model Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta: AR-Ruzz Media.

Slameto. (2003). Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: PT Rineka


Cipta.

Suryosubroto. (1996). Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Yogyakarta: PT Rineka Cipta.

Tanujaya, B., & Mumu, J. (2016). Penelitian Tindakan kelas. Yogyakarta: Media Akademi.

Yaumi, M., & Damopolii, M. (2014). Action Research: Teori, Model & Aplikasi . Jakarta:
Kencana.

Anda mungkin juga menyukai