BAB II
TELAAH PUSTAKA DAN HIPOTESIS
2.1. Konsep Insentif
2.1.1. Pengertian Insentif
Suatu instansi di dalam menjalankan kegiatannya selalu membutuhkan
tenaga kerja (pegawai), oleh karena itu faktor tenaga kerja perlu mendapat
perhatian serius. Dengan demikian dalam menggunakan tenaga kerja perlu adanya
insentif yang seimbang dengan hasil kerjanya, karena pemberian insentif
merupakan perangsang yang diberikan instansi kepada tenaga kerja dengan
tujuan sebagai pendorong agar para tenaga kerja bekerja lebih giat dan efisien.
Insentif dapat dirumuskan sebagai balas jasa yang memadai kepada pegawai
yang prestasinya melebihi standar yang telah ditetapkan. Insentif merupakan suatu
faktor pendorong bagi pegawai untuk bekerja lebih baik agar kinerja pegawai
dapat meningkat. Dari pengertian di atas untuk lebih jelas tentang insentif,
dibawah ini ada beberapa ahli manajemen mengemukakan pengertian mengenai
insentif.
Menurut Hasibuan (2007:117) mengemukakan bahwa insentif adalah
tambahan balas jasa yang diberikan kepada karyawan tertentu yang prestasinya di
atas prestasi standar. Insentif ini merupakan alat yang di pergunakan pendukung
prinsip adil dalam pemberian kompensasi.
Menurut Mangkunegara (2002:89) mengemukakan bahwa insentif adalah
suatu bentuk motivasi yang dinyatakan dalam bentuk uang atas dasar kinerja yang
9
10
tinggi dan juga merupakan rasa pengakuan dari pihak organisasi terhadap kinerja
karyawan dan kontribusi terhadap organisasi (perusahaan).
Begitu pula menurut Handoko (2002:176 ) mengemukakan bahwa insentif
adalah perangsang yang ditawarkan kepada para karyawan untuk melaksanakan
kerja sesuai atau lebih tinggi dari standar-standar yang telah ditetapkan. Insentif
pada hakikatnya adalah untuk meningkatkan motivasi pegawai dalam berupaya
mencapai tujuan-tujuan organisasi dengan menawarkan perangsang finansial di
atas dan melebihi upah dan gaji dasar.
Yuniarsih dan Suwatno (2008:131) menyatakan insentif adalah penghargaan
atau imbalan yang diberikan untuk memotivasi pekerja atau anggota organisasi
agar motivasi dan produktivitas kerjanya tinggi, sifatnya tidak tetap atau sewaktu-
waktu.
Menurut Suwatno dan Donni (2011:234) insentif merupakan sesuatu yang
merangsang minat untuk bekerja. Pemahaman ini merupakan pendapat yang baik
apabila diterapkan pada suatu organisasi, karena kinerja dan produktivitas
organisasi akan meningkat dikarenakan dari karyawan yang bekerja dengan
optimal. Sedangkan menurut Danim (2004:9) insentif adalah imbalan organisasi
atas prestasi individu atau kelompok kerja. Dengan kata lain, insentif organisasi
merupakan perolehan atau produk kerja yang mereka lakukan. Insentif itu dapat
berupa keuntungan atau hukuman yang diberikan secara bergantian sesuai dengan
kontribusi individu terhadap organisasi. Yuniarsih dan Suwatno (2008:131) juga
menyatakan insentif adalah penghargaan/imbalan yang diberikan untuk
11
memotivasi pekerja/ anggota organisasi agar motivasi dan produktivitas kerjanya
tinggi, sifatnya tidak tetap atau sewaktu-waktu.
Jadi menurut pendapat-pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan, bahwa
insentif adalah dorongan pada seseorang agar mau bekerja dengan baik dan agar
lebih dapat mencapai tingkat kinerja yang lebih tinggi sehingga dapat menambah
kemauan kerja dan motivasi seorang pegawai agar terciptanya suatu kinerja yang
berkualitas sesuai dengan tujuan perusahaan.
Yuniarsih dan Suwatno (2008:122) membagi jenis-jenis insentif menjadi
beberapa kelompok, yaitu:
1) Menurut pengaruh yang diberikan terhadap pemenuhan kepuasan
a) Insentif Positif, yaitu segala sesuatu yang diterima sebagai imbalan
yang dapat meningkatkan kepuasan dalam memenuhi kebutuhan
individual,
b) Insentif Negatif, yaitu segala sesuatu yang diterima sebagai imbalan
yang dapat menurunkan kepuasan dalam memenuhi kebutuhan
individual.
2) Menurut metode pemberiannya
a) Insentif Formal, yaitu insentif yang ditetapkan berdasarkan tujuan,
wewenang, tanggung jawab, standar, metode dan frekuensi pengukuran
kinerja tertentu secara formal,
b) Insentif Informal, yaitu insentif yang didasarkan atas pengakuan kinerja
dari kelompoknya.
12
c) Menurut bentuknya, insentif dibagi menjadi Insentif Finansial, yaitu
insentif yang diberikan dalam bentuk atau bermakna moneter.
2.1.2. Faktor yang Mempengaruhi Pemberian Insentif
Dalam pemberian insentif harus diperhatikan bahwa insentif dapat
mempunyai nilai yang berbeda bagi masing-masing individu yang menerimanya.
Hal ini disebabkan karena masing-masing individu memiliki kebutuhan,
keinginan dan pandangan yang berbeda satu sama lainnya. Oleh karena itu dalam
menetapkan suatu kebijakan pemberian imbalan atau insentif terdapat faktor-
faktor yang harus dipertimbangkan selain faktor jumlahnya. Menurut Hasibuan
(2007;127-129) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi insentif adalah sebagai
berikut :
1) Penawaran dan Permintaan Tenaga Kerja
Jika pencarian kerja (penawaran) lebih banyak dari pada lowongan
pekerjaan (permintaan) maka kompensasi relatif kecil. Sebaliknya jika
pencari kerja lebih sedikit dari pada lowongan pekerjaan maka kompensasi
relatif semakin besar.
2) Kemampuan dan Kesediaan Perusahaan
Bila kemampuan dan kesediaan perusahaan untuk membayar semakin baik,
maka tingkat kompensasi akan semakin besar, tetapi sebaliknya jika
kemampuan dan kesediaan perusahaan untuk membayar kurang maka
tingkat kompensasi relatif kecil.
13
3) Serikat Buruh / Organisasi karyawan
Apabila serikat buruhnya kuat dan berpengaruh, maka tingkat kompensasi
semakin besar, sebaliknya jika serikat buruh tidak kuat dan kurang
berpengaruh, maka tingkat kompensasi relatif kecil.
4) Produktivitas Kerja Karyawan
Jika produktivitas kerja karyawan baik dan tinggi, maka kompensasi akan
semakin besar, sebaliknya apabila produktivitas kerjanya buruk serta rendah
kompensasinya kecil.
5) Pemerintah dengan Undang-Undang dan Kepres
Pemerintah dengan Undang-undang Kepres besarnya batas upah/balas jasa
minimum. Penetapan pemerintah ini sangat penting supaya pengusaha
jangan sewenang-wenang menetapkan besarnya balas jasa bagi karyawan
karena pemerintah berkewajiban untuk melindungi masyarakat dari tindakan
sewenang-wenang.
6) Biaya Hidup/ cost of living
Bila biaya hidup di daerah itu tinggi maka tingkat kompensasi/upah semakin
tinggi. Tetapi sebaliknya karyawan yang biaya hidup di daerah itu rendah,
maka tingkat kompensasi/upah relatif kecil.
7) Posisi Jabatan Karyawan
Karyawan yang mempunyai jabatan tinggi maka akan menerima gaji/
kompensasi yang lebih besar. Sebaliknya karyawan yang jabatannya lebih
rendah akan memperoleh gaji/ kompensasi yang lebih kecil. Hal ini
sangatlah wajar karena seseorang yang mendapatkan kewenangan dan
14
tanggung jawab lebih besar harus mendapatkan gaji/kompensasi yang lebih
besar pula.
8) Pendidikan dan Pengalaman Kerja
Jika pendidikan lebih tinggi dan pengalaman kerja lebih lama maka gaji/
balas jasanya akan semakin besar, karena kecakapan dan keterampilannya
lebih baik. Sebaliknya karyawan yang berpendidikan rendah dan
pengalaman kerja yang kurang maka tingkat gaji/kompensasinya lebih kecil.
9) Kondisi Perekonomian Nasional
Bila kondisi perekonomian sedang maju maka tingkat upah/ kompensasi
akan semakin besar, karena akan mendekati full employment. Sebaliknya
jika kondisi perekonomian kurang maju (depresi) maka tingkat upah, karena
terdapat pengangguran (Disquieted unemployment).
10) Jenis dan Sifat Pekerjaan
Jika jenis dan sifat pekerjaan termasuk sulit/sukar dan mempunyai resiko
(finansial, keselamatannya) besar, maka tingkat upah/balas jasanya semakin
besar, karena meminta kecakapan serta keahlian untuk mengerjakannya.
Tetapi jika jenis dan sifat pekerjaan relatif mudah dan resikonya (finansial,
kecelakannya) kecil, maka tingkat upah/balas jasanya relatif rendah.
Kemudian Suwatno dan Donni (2011:236-237) mengemukakan bahwa
faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya insentif mencakup dua hal, yaitu:
1) Jabatan atau kedudukan
Seseorang yang menduduki jabatan atau kedudukan lebih tinggi di dalam
suatu perusahaan otomatis tanggung jawab dan ruang lingkup kerjanya lebih
15
besar atau sangat berpengaruh bagi roda kegiatan atau usaha suatu
perusahaan itu, maka perusahaan dalam memberikan insentif harus melihat
seberapa besar tugas dan tanggung jawab yang diemban oleh seorang
karyawan yaitu apabila jabatan atau kedudukan karyawan lebih besar atau
lebih tinggi maka perusahaan tersebut dalam memberikaan insentif lebih
besar dari karyawan yang lainnya;
2) Prestasi kerja
Karyawan yang mempunyai prestasi kerja yang baik atau menonjol akan
diberikan insentif yang lebih baik dan lebih besar daripada karyawan yang
memiliki prestasi kerja yang kurang atau tidak menonjol. Oleh sebab itu,
maka karyawan yang prestasi kerjanya kurang atau tidak menonjol akan
lebih giat dan bersemangat dalam melakukan suatu pekerjaan agar
organisasi dapat memberikan insentif yang lebih besar dan lebih baik.
2.1.3. Indikator Pemberian Insentif
Adapun beberapa indikator pemberian insentif menurut Siagian (2009:269)
antara lain sebagai berikut :
1) Kesesuaian kinerja
Sistem insentif dengan cara ini langsung mengaitkan besarnya insentif
dengan kinerja yang telah ditunjukan oleh pegawai yang bersangkutan.
Berarti besarnya insentif tergantung pada banyak sedikitnya hasil yang
dicapai dalam waktu kerja pegawai. Cara ini dapat diterapkan apabila hasil
kerja diukur secara kuantitatif.
16
2) Jumlah waktu kerja
Besarnya insentif ditentukan atas dasar lamanya karyawan melaksanakan
atau menyelesaika pekerjaan. Cara perhitungannya bisa menggunakan jam,
hari, minggu, ataupun bulan.
3) Senioritas
Sistem insentif ini berdasarkan pada masa kerja atau senioritas pegawai
yang bersangkutan dalam suatu perusahaan. Dasar pemikirannya adalah
karyawan senior, menunjukanya kesetiaan yang tinggi dari pegawai yag
bersangkutan kepada perusahaan dimana mereka bekerja. Semakin senior
seorang pekerja semakin tinggi loyalitas pada perusahaan, dan semakin
mantap tenangnya dalam berusaha.
4) Keadilan
Dalam sistem insentif bukanlah harus sama rata pandang bulu, tetap harus
terkait dengan adanya hubungan antara pengorbanan (input) dengan output.
Makin tinggi pengorbanan maka semakin tinggi insentif yang diharapkan,
oleh karena itu yang harus dinilai adalah pengorbanan yang diperlukan oleh
suatu jabatan.
5) Kelayakan
Setelah keadilan maka insentif juga harus dilihat berdasarka kelayakannya.
Layak pengertiiaanya jika dibandingkan dengan perusahaan lain yang
berrgerak pada bidang yang sama.
17
2.2. Konsep Motivasi Kerja
2.2.1. Pengertian Motivasi Kerja
Salah satu aspek memanfaatkan pegawai ialah pemberian motivasi (daya
perangsang) kepada pegawai. Dengan istilah populer sekarang pemberian
kegairahan bekerja kepada pegawai. Motivasi dimaksudkan untuk memberikan
daya perangsang kepada pegawai yang bersangkutan agar pegawai tersebut
bekerja dengan segala daya dan upayanya.
Menurut Hasibuan (2007:218) motivasi adalah suatu perangsang keinginan
dan daya penggerak kemauan bekerja seseorang. Setiap motif mempunyai tujuan
tertentu yang ingin dicapai. Di sisi lain Hasibuan juga menyatakan bahwa
motivasi merupakan pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan
kerja seseorang, agar mereka mau bekerja sama, bekerja efektif dan terintegrasi
dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan.
Menurut Thoha (2008:95) mengemukakan bahwa motivasi adalah
pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar
mereka mau bekerjasama, bekerja efektif, dan integrasi dengan segala daya
upayanya untuk mencapai kepuasan. Motivasi atau dorongan kepada karyawan
untuk bersedia bekerja bersama demi tercapainya tujuan bersama ini terdapat dua
macam, yaitu:
1) Motivasi finansial, yaitu dorongan yang dilakukan dengan memberikan
imbalan finansial kepada karyawan. Imbalan tersebut sering disebut insentif.
18
2) Motivasi nonfinansial, yaitu dorongan yang diwujudkan tidak dalam bentuk
finansial/uang, akan tetapi berupa hal-hal seperti pujian, penghargaan,
pendekatan manusia dan lain sebagainya.
Motivasi akan tumbuh sehubungan dengan usahanya untuk memenuhi
kebutuhanya. Mangkunegara (2008:93) mengatakan bahwa motivasi adalah
kondisi yang menggerakkan pegawai agar mampu mencapai tujuan dari motivasi.
Motivasi disini tidak tumbuh dengan sendirinya, perusahaan harus dapat
membangkitkan motivasi karyawan. Selain dengan memberikan insentif sebagai
balas jasa terhadap kinerja yang selama ini diberikan kepada karyawan,
perusahaan juga dapat memberikan insentif sebagai alat untuk lebih memacu
semangat kerja karyawan. Motivasi kerja dapat dilihat diantaranya dari kebutuhan
untuk berprestasi, kebutuhan untuk bekerja sama dengan orang lain, kebutuhan
untuk memperoleh wewenang.
Siagian (2009), mendefenisikan motivasi kerja sebagai daya dorong bagi
seseorang untuk memberikan kontribusi yang sebesar-besarnya demi keberhasilan
organisasi mencapai tujuannya, dengan pengertian bahwa tercapainya tujuan
organisasi berarti tercapai pula tujuan pribadi para anggota organisasi yang
bersangkutan.
Suwatno dan Donni (2011:171) menyatakan motivasi kerja sebagai
kesediaan untuk melaksanakan upaya tinggi untuk mencapai tujuan-tujuan
keorganisasian yang dikondisikan oleh kemampuan upaya untuk memenuhi
kebutuhan individual tertentu. Sedangkan Danim (2004:15) mengatakan bahwa
19
motivasi diartikan sebagai setiap kekuatan yang muncul dari dalam diri individu
untuk mencapai tujuan atau keuntungan tertentu di lingkungan dunia kerja atau di
pelataran kehidupan pada umumnya.
Berdasarkan definisi yang dikemukakan oleh para ahli tersebut, maka dapat
disimpulkan bahwa motivasi merupakan dorongan yang mengarahkan seseorang
atau perangsang keinginan dan daya penggerak kemauan agar seseorang mau
bekerja sama dengan orang lain dengan segala daya upayanya untuk berusaha
seoptimal mungkin dalam pencapaian tujuan organisasi/instansi.
Menurut Hasibuan (2007:222), mengatakan bahwa jenis-jenis motivasi
adalah sebagai berikut:
1) Motivasi Positif
Motivasi positif yaitu pimpinan memotivasi bawahan dengan memberikan
hadiah kepada mereka yang berprestasi baik. Dengan motivasi positif ini
semangat kerja bawahan akan meningkat, karena manusia pada umumnya
senang menerima yang baik-baik saja.
2) Motivasi Negatif
Motivasi negatif yaitu pimpinan memotivasi bawahannya dengan
memberikan hukuman kepada mereka yang pekerjaannya kurang baik
(prestasinya rendah). Dengan motivasi negatif ini semangat kerja bawahan
dalam jangka waktu pendek akan meningkat, karena mereka takut dihukum,
tetapi untuk jangka waktu panjang dapat berakibat kurang baik.
Motivasi dimaksudkan untuk memberikan daya perangsang kepada
pegawai yang bersangkutan agar pegawai tersebut bekerja dengan segala daya
20
dan upayanya. Motivasi juga berkaitan erat dengan kebutuhan seseorang. Oleh
karena itu seorang pemimpin dituntut harus mengetahui kebutuhan para
bawahannya. Menurut Hasibuan (2007:221) berikut adalah beberapa tujuan
motivasi yakni:
1) Mendorong gairah dan semangat kerja pegawai
2) Meningkatkan moral dan kepuasan kerja pegawai
3) Meningkatkan produktivitas kerja pegawai
4) Mempertahankan loyalitas dan kestabilan pegawai pada instansi
5) Meningkatkan kedisiplinan dan menurunkan tingkat absensi pegawai
6) Mengefektifkan pengadaan pegawai
7) Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik
8) Meningkatkan kreativitas dan partisipasi pegawai
9) Meningkatkan tingkat kesejahteraan pegawai
10) Mempertinggi rasa tanggung jawab pegawai terhadap tugas- tugasnya.
2.2.2. Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Kerja
Menurut Saydan (Gustisyah, 2009:46), menyebutkan motivasi kerja
seseorang di dalam melaksanakan pekerjaannya dipengaruhi oleh beberapa faktor,
yaitu faktor internal yang berasal dari proses psikologis dalam diri seseorang, dan
faktor eksternal yang berasal dari luar diri (environment factors).
1) Faktor Internal
Faktor internal terdiri dari :
21
a) Kematangan Pribadi
Orang yang bersifat egois biasanya akan kurang peka dalam menerima
motivasi yang diberikan, sehingga agak sulit untuk dapat bekerjasama
dalam membuat motivasi kerja. Oleh sebab itu kebiasaan yang dibawanya
sejak kecil, nilai yang dianut dan sikap seseorang sangat mempengaruhi
motivasinya.
b) Tingkat Pendidikan
Seorang pegawai yang mempunyai tingkat pendidikan yang lebih tinggi
biasanya akan lebih termotivasi, karena sudah mempunyai wawasan yang
lebih luas dibandingkan dengan pegawai yang lebih rendah tingkat
pendidikannya, demikian juga sebaliknya jika tingkat pendidikan yang
dimilikinya tidak digunakan secara maksimal ataupun tidak dihargai
sebagaimana layaknya oleh pimpinan, maka hal ini akan membuat pegawai
tersebut mempunyai motivasi yang rendah di dalam bekerja.
c) Keinginan dan Harapan
Pribadi Seseorang mau bekerja keras apabila ada harapan pribadi yang
hendak diwujudkan menjadi kenyataan.
d) Kebutuhan
Kebutuhan biasanya berbanding sejajar dengan motivasi, semakin besar
kebutuhan seseorang untuk dipenuhi, maka semakin besar pula motivasi
pegawai tersebut untuk bekerja keras.
e) Kelelahan dan Kebosanan
Faktor kelelahan dan kebosanan mempengaruhi gairah dan semangat kerja
22
yang pada gilirannya juga akan mempengaruhi motivasi kerjanya.
f) Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja mempunyai korelasi yang sangat kuat terhadap tinggi
rendahnya motivasi kerja seseorang. Pegawai yang puas terhadap
pekerjaannya akan mempunyai motivasi yang tinggi terhadap
pekerjaannya. Tinggi rendahnya kepuasan pegawai dapat tercermin dari
produktivitas kerjanya yang tinggi, jarang absen, sanggup bekerja ekstra dan
sejumlah indikator positif lainnya yang berhubungan pada peningkatan
kinerja organisasi.
2) Faktor Eksternal
Faktor eksternal terdiri dari :
a) Kondisi Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja adalah keseluruhan sarana dan prasarana kerjayang ada
disekitar pegawai yang sedang melakukan pekerjaan yang dapat
mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan itu sendiri. Lingkungan pekerjaan
meliputi tempat bekerja, fasilitas dan alat bantu pekerjaan, kebersihan,
pencahayaan, ketenangan, termasuk juga hubungan kerja antara orang-orang
yang ada ditempat tersebut.
b) Kompensasi yang memadai
Kompensasi yang memadai merupakan alat motivasi yang paling ampuh
bagi suatu organisasi untuk memberikan dorongan kepada para pegawai
agar bekerja secara baik. Adapun penghargaan nyata yang diterima pegawai
karena bekerja adalah dalam bentuk gaji, insentif dan tunjangan.
23
c) Jaminan Karir (penghargaan atas prestasi)
Karir adalah rangkaian posisi yang berkaitan dengan kerja yang ditempati
seseorang sepanjang hidupnya. Para pegawai mengejar karir untuk dapat
memenuhi kebutuhan individual secara mendalam. Setiap orang akan
bersedia untuk bekerja keras dengan mengorbankan apa yang ada pada
dirinya untuk suatu organisasi, apabila yang bersangkutan merasa ada
jaminan karir yang jelas dalam melakukan pekerjaan. Hal ini akan dapat
terwujud bila perusahaan dapat memberikan jaminan karir untuk masa
depan, baik berupa promosi jabatan, pangkat, maupun jaminan pemberian
kesempatan dan penempatan untuk dapat mengembangkan potensi yang
ada pada diri pegawai tersebut.
d) Status dan Tanggung Jawab
Status atau kedudukan dalam jabatan tertentu merupakan harapan setiap
pegawai dalam bekerja. Pegawai bukan hanya mengharapkan kompensasi
semata tetapi pada suatu saat mereka berharap akan dapat kesempatan
untuk menduduki jabata yang ada dalam instansi ditempatnya bekerja.
Seseorang dengan menduduki jabatan akan merasa dirinya dipercayai,
diberi tanggungjawab dan wewenang yang lebih besar untuk melakukan
kegiatan-kegiatannya.
Menurut Freeman (2004:485) motivasi kerja seseorang di dalam
melaksanakan pekerjaannya dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
a) Kebijakan perusahaan, seperti skala upah dan tunjangan pegawai (cuff,
pensiun dan tunjangan-tunjangan), umumnya mempunyai dampak kecil
24
terhadap prestasi individu. Namun kebijaksanaan ini benar-benar
mempengaruhi keinginan karyawan untuk tetap bergabung dengan atau
meninggalkan organisasi yang bersangkutan dan kemampuan organisasi untuk
menarik karyawan baru.
b) Sistem balas jasa atau sistem imbalan, kenaikan gaji, bonus, dan promosi dapat
menjadi motivator yang kuat bagi prestasi seseorang jika dikelola secara
efektif. Upah harus dikaitkan dengan peningkatan prestasi sehingga jelas
mengapa upah tersebut diberikan, dan upah harus dilihat sebagai sesuatu yang
adil oleh orang-orang lain dalam kelompok kerja, sehingga mereka tidak akan
merasa dengki dan membalas dendam dengan menurunkan prestasi kerja
mereka.
c) Kultur organisasi, meliputi norma, nilai, dan keyakinan bersama anggotanya
meningkatkan atau menurunkan prestasi individu. Kultur yang membantu
pengembangan rasa hormat kepada karyawan, yang melibatkan mereka dalam
proses pengambilan keputusan dan yang memberi mereka otonomi dalam
merencanakan dan melaksanakan tugas mendorong prestasi yang lebih baik
dari pada kultur yang dingin, acuh tak acuh, dan sangat ketat.
2.2.3. Indikator Pengukuran Motivasi Kerja
Indikator pengukuran motivasi kerja menurut Sedarmayanti (2007:67)
adalah sebagai berikut:
1) Supervisi
Supervisi yang efektif akan membantu peningkatan produktivitas pekerja
melalui penyelenggaraan kerja yang baik, juga pemberian petunjuk-
25
petunjuk yang nyata sesuai standar kerja, dan perlengkapan pembekalan
yang memadai serta dukungan-dukungan lainnya.
2) Kebijakan dan Adminitrasi
Keterpaduan antara pimpinan dan bawahan sebagai suatu keutuhan atau
totalitas sistem merupakan faktor yang sangat penting untuk menjamin
keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Melalui pendekatan manajemen partisipatif, bawahan tidak lagi dipandang
sebagai objek, melainkan sebagai subjek.
3) Hubungan kerja
Untuk dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik, haruslah didukung oleh
suasana kerja atau hubungan kerja yang harmonis yaitu terciptanya
hubungan yang akrab, penuh kekeluargaan dan saling mendukung baik
hubungan antara sesama pegawai atau antara pegawai dengan atasan.
4) Kondisi kerja
Kondisi kerja yang nyaman, aman dan tenang serta didukung oleh peralatan
yang memadai tentu akan membuat pegawai betah untuk bekerja. Dengan
kondisi kerja yang nyaman, pegawai akan merasa aman dan produktif dalam
bekerja sehari-hari.
5) Semangat kerja
Semangat kerja sendiri merupakan faktor motivasi bagi pegawai untuk
berforma tinggi. Pekerjaan atau tugas yang memberikan perasaan telah
mencapai sesuatu, tugas itu cukup menarik, tugas yang memberikan
26
tantangan bagi pegawai, merupakan faktor motivasi, karena keberadaannya
sangat menentukan bagi motivasi untuk hasil performace yang tinggi.
6) Peluang untuk maju
Peluang untuk maju (advance) merupakan pengembangan potensi diri
seorang pegawai dalam melakukan pekerjaan. Setiap pegawai tentunya
menghendaki adanya kemajuan atau perubahan dalam pekerjaannya yang 44
tidak hanya dalam hal jenis pekerjaan yang berbeda atau bervariasi, tetapi
juga posisi yang lebih baik.
7) Pengakuan atau penghargaan (recognition).
Setiap manusia mempunyai kebutuhan terhadap rasa ingin dihargai.
Pengakuan terhadap prestasi merupakan alat motivasi yang cukup ampuh,
bahkan bisa melebihi kepuasan yang bersumber dari pemberian kompensasi.
Pengakuan merupakan kepuasan yang diperoleh seseorang dari pekerjaan itu
sendiri atau dari lingkungan psikologis dan/atau fisik di mana orang tersebut
bekerja, yang masuk dalam kompensasi nonfinansial.
8) Keberhasilan (achievement)
Setiap Pegawai tentu menginginkan keberhasilan dalam setiap
kegiatan/tugas yang dilaksanakan. Pencapaian prestasi atau keberhasilan
(achievement) dalam melakukan suatu pekerjaan akan menggerakkan yang
bersangkutan untuk melakukan tugas-tugas berikutnya.
9) Tanggung jawab
Tanggung jawab merupakan kewajiban seseorang untuk melaksanakan
fungsi-fungsi yang ditugaskan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan
27
pengarahan yang diterima. Setiap orang yang bekerja pada suatu
perusahaan/organisasi ingin dipercaya memegang tanggung jawab yang
lebih besar dari sekedar apa yang telah diperolehnya
2.3. Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1. Penelitian terdahulu
No. Nama Peneliti Judul Hasil
1 M. Rahmaditya Pengaruh insentif Insentif materiil dan
Pratama, Moch. Al terhadap motivasi insentif non materiil
Musadieq dan kerja (Studi pada memiliki pengaruh secara
Maria Goretti Wi Karyawan Atria Hotel simultan terhadap motivasi
Endang N.P. and Conference kerja karyawan.
(2015) Malang)
2 Graffito Riyant Pengaruh insentif Insentif yang terdiri dari
Grahayudha, M. Al terhadap motivasi insentif material dan
Musadieq, dan M. kerja (Studi pada insentif non material
Djudi Mukzam Karyawan PT. AXA secara simultan
(2014) Financial Indonesia berpengaruh signifikan
Sales Office Cabang terhadap motivasi kerja
Malang) pada PT. AXA Financial
Indonesia Sales Office
Cabang Malang
3 Nurul Indrayuda Pengaruh pemberian Terdapat hubungan yang
(2012) insentif terhadap kuat dan signifikan antara
motivasi kerja variabel Insentif dengan
karyawan di Hotel motivasi kerja karyawan
Gurame Bandung
2.4. Hipotesis
Peneliti merumuskan hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Ha : Terdapat pengaruh signifikan antara pemberian insentif terhadap motivasi
kerja karyawan Century 21 Aurora Pro 3 Pekanbaru.
28
H0 : Tidak terdapat pengaruh signifikan antara pemberian insentif terhadap
motivasi kerja karyawan Century 21 Aurora Pro 3 Pekanbaru