Akuntansi Zakat dan Sedekah di Medan
Akuntansi Zakat dan Sedekah di Medan
DT PEDULI MEDAN
PROPOSAL SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas Dan Syarat-Syarat
Untuk memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (S.E)
Oleh :
RIFQA MEUTHIA DERMAWAN
NIM : 0502172372
Jurusan :
AKUNTANSI SYARIAH
Oleh :
RIFQA MEUTHIA DERMAWAN
NIM : 0502172372
Pembimbing I Pembimbing II
Mengetahui
Ketua Jurusan Akuntansi Syariah
i
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT Karena dengan berkah dan rahmat-Nya,
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Diantara kesempurnaan-Nya adalah
menghadiahkan akal dan pikiran manusia. Shalawat dan salam kepada Nabi
Muhammad Saw yang telah membawah manusia dari alam kejahiliyaaan menuju
jalan yang terang. Atas izin Allah SWT penulis dapat menyelesaikan skripsi ini
yang berjudul “Analisis Penerapan Akuntansi Zakat dan Sedekah Pada DT
Peduli Medan”
Penulis juga mengakui bahwa penulis ini masih banyak terdapat
kelemahan dan juga kejurangan, untuk itu penulis mengharapkan saran dan
kesempurnaan karya-karya penulis di masa yang akan datang. Akhir kata, Semoga
skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya dan penulis pada
khususnya dan semoga mendapatkan ridho dari Allah SWT.
Penulis mengucapkan, yang baiknya datang dari Allah SWT dan yang
buruknya datang dari penulis sendiri, terima kasih.
ii
DAFTAR ISI
iii
b. Tujuan Akuntansi Zakat dan Sedekah...................................................... 20
c. Perlakuan Akuntansi (PSAK 109) ........................................................... 21
d. Akuntansi untuk Zakat dan Infak/ Sedekah.............................................. 21
B. Kajian Terdahulu ...................................................................................... 25
C. Kerangka Teoritis ..................................................................................... 27
iv
DAFTAR TABEL
` Hal
Tabel 1.1 Program Ekonomi DT Peduli Medan Pada Februari Tahun 2021 ............ 4
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ............................................................................... 25
v
DAFTAR GAMBAR
` Hal
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran ........................................................................... 28
vi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam mengatur semua lini kehidupan manusia, termasuk kewajiban yang
berpotensi membangun kemaslahatan sosial ekonomi umat, seperti halnya zakat.
Secara demografik, mayoritas penduduk Indonesia adalah beragama Islam, dan
secara kultural kewajiban zakat berinfaq, dan shadaqah di jalan Allah SWT telah
mengakar kuat dalam tradisi kehidupan masyarakat muslim.
Zakat merupakan salah satu dari rukun Islam, yaitu rukun Islam ketiga.
Zakat merupakan ibadah yang wajib dan penting. Banyak ayat dalam Alquran
menerangkan zakat beriringan dengan ibadah wajib yang lain yaitu syahadat,
shalat, puasa, dan haji bagi yang mampu. Terdapat 82 ayat yang menyebutkan
zakat beriringan dengan shalat. Hal ini menunjukkan bahwa zakat mempunyai
keterkaitan hubungan yang erat dengan urusan shalat.1
Zakat sendiri diatur dengan jelas dan rinci didalam Alquran yang
membawa pada kemashlahatan dan kemanusiaan sesuai dengan perkembangan
umat manusia, sebagaimana firman Allah SWT., dalam surah Al-Baqarah ayat
432:
Secara umum, zakat dibagi menjadi dua yaitu zakat mal dan zakat fitrah.
Zakat mal adalah zakat mal (harta benda), yakni emas, perak, binatang, tumbuh
tumbuhan (buah-buahan dan biji-bijian) dan barang perniagaan. Perhitungan zakat
ini berbeda-beda tergantung dari jenis harta benda yang diwajibkan zakatnya.
Sedangkan zakat nafs atau zakat jiwa yang disebut juga “zakatul fitrah” adalah
zakat yang diberikan berkenaan dengan selesainya mengerjakan shiyam (puasa)
1
Ahmad Hudaifah, dkk, Sinergi Pengelolaan Zakat di Indonesia, Surabaya: Scofindo
Media Pustaka, 2020, h. 2
2
Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya Edisi Penyempurnaan 2019,
Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, 2019, h. 9
1
2
yang difardhukan. Zakat ini setara dengan 3,5 liter (3,7 kilogram) makanan pokok
yang ada di daerah muzzaki bersangkutan seperti halnya beras, sagu, dan
sejenisnya. 3
Menurut Undang-Undang No.38 Tahun 1998 tentang pengelolaan zakat,
pengertian zakat adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang Muslim atau
badan yang dimiliki oleh seorang Muslim sesuai ketentuan agama untuk diberikan
kepada yang berhak menerimanya. 4
Saat ini zakat mal sangat beragam jenisnya sesuai dengan perkembangan
profesi yang berkembang. Perkembangan ini juga diikuti dengan pola manajemen
yang lebih efektif seperti zakat produktif, juga saluran pendistribusian zakat yang
beragam. Untuk dapat mengaplikasikan zakat sesuai tujuan zakat, maka
dibutuhkan pola manajemen zakat yang baik, dan sesuai dengan mustahik zakat
yang ada, terutama lingkungan sekitar lembaga amil zakat.
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23 tahun 2011 tentang pengelolaan
zakat di Indonesia, bahwa dalam rangka meningkatkan daya guna dan hasil guna,
zakat harus dikelola secara melembaga sesuai dengan syariat Islam. Pengelolaan
zakat adalah kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan pengkoordinasian dalam
pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat 5. Lembaga pengelola
zakat yang ada di Indonesia adalah badan amil zakat yang dikelola oleh negara
serta lembaga amil zakat yang dikelola oleh swasta. Manajemen zakat yang
ditawarkan oleh Islam memberikan kepastian keberhasilan dana zakat sebagai
dana umat6. Dalam operasional zakat, Rasulullah S.A.W telah mendelegasikan
tugas tersebut dengan menunjuk amil zakat. Penunjukan amil memberikan
pemahaman bahwa zakat bukan diurus oleh orang perorangan, tetapi dikelola oleh
sekelompok orang dan terorganisir.
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sebagai organisasi profesi akuntan di
Indonesia berupaya memberikan kontribusi dalam rangka mewujudkan sistem
akuntansi yang baik dari suatu OPZ. Pada tahun 2010, IAI menerbitkan
3
Ibid, h.3
4
Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah, Jakarta: Kencana, 2012, h.343
5
Undang Undang Nomor 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat Pasal 1 Ayat 1.
6
Jasafat, “Manajemen Pengelolaan Zakat, Infaq, Dan Sedekah Pada Baitul Maal Aceh
Besar” Dalam Al-Ijtimayyah, (Aceh: Fakultas Dakwah dan Komunikasi dan Penerbit Universitas
Ar-Raniry Aceh), Vol. 1, No. 1/Januari-Juni 2015, h. 9.
3
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 109. PSAK ini bertujuan
untuk mengatur tentang akuntansi zakat, infaq dan shadaqah yakni mengatur
pengakuan, pengukuran, penyajian dan pengungkapan transaksi zakat dan
infak/sedekah yang berlaku bagi Organisasi Pengelola Zakat yang berkewajiban
menghimpun dan menyalurkan zakat dan infak/sedekah.
PSAK tersebut diterbitkan sebagai pedoman standarisasi dalam pencatatan
transaksi dan penyusunan laporan keuangan yang dibuat oleh Organisasi
Pengelola Zakat. Dengan adanya standarisasi tersebut maka akan terjadi
keseragaman (uniformity) dan keterbandingan (comparability) dalam pencatatan
dan pelaporan keuangan yang dibuat oleh Organisasi Pengelola Zakat yang ada di
Indonesia, hal ini juga dapat membantu memudahkan akuntan publik dalam
melakukan audit atas laporan keuangan OPZ.
Kemudian, pasca disahkannya UU No.23 tahun 2011 tentang Pengelolaan
Zakat, maka ada 2 (dua) bentuk lembaga pengelola zakat di Indonesia, yaitu
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ).
BAZNAS dapat membentuk Unit Pengumpul Zakat (UPZ).
Lembaga Amil Zakat yang selanjutnya disingkat LAZ adalah lembaga
yang dibentuk masyarakat yang memiliki tugas membantu pengumpulan,
pendistribusian, dan organisasi yang dibentuk oleh BAZNAS untuk membantu
pengumpulan zakat pendayagunaan zakat. Sedangkan UPZ adalah satuan
organisasi yang dibentuk oleh BAZNAS untuk membantu pengumpulan zakat 7.
Lembaga amil zakat dapat membantu untuk menyelenggarakan
pengelolaan zakat yang optimal. Lembaga amil zakat Dompet Peduli Ummat
Daarut Tauhiid merupakan lembaga amil zakat berskala nasional yang didirikan
oleh KH Abdullah Gymnastiar pada tanggal 16 Juni 1999 sebagai bagian dari
Yayasan Daarut Tauhid dan bertekad untuk menjadi lembaga yang amanah,
profesional dan jujur.
Daarut Tauhid Peduli cabang Sumatera Utara terletak di kota Medan dan
didirikan pada tanggal 13 Februari 2018. Pertama kali anggota Daarut Tauhid
Peduli Medan hanya beranggotakan 3 orang dan dipimpin oleh Sutrisno sebagai
Kepala Cabang pertama. Setelah dua tahun, posisi kepala cabang mengalami
7
Ahmad Furqon, Manajemen Zakat, RPM UIN Walisongo, 2015, h.63
4
perubahan dan saat ini Daarut Tauhid Peduli cabang Sumatera Utara dipimpin
oleh Indra Firdaus. Saat ini Daarut Tauhid Peduli Medan memiliki 13 orang
karyawan, 10 orang berada di Kota Medan dan 3 orang menjadi wakil untuk unit
Program Daarut Tauhid Peduli di kota Pematang Siantar yaitu RPY (Rumah
Yatim Peduli). Secara garis besar, program-program penyaluran dan
pemberdayaan dana zakat, infaq, shadaqah, pilar sosial (kemanusiaan), pilar
kesehatan, pilar ekonomi dan pilar dakwah.8
Pilar Ekonomi adalah program pemberdayaan SDA dan SDM dalam
rangka menciptakan edukasi, pelatihan, pembinaan, pendampingan, pemberian
modal dan pemasarannya. Beberapa programnya yaitu, program UKM Tangguh
Misykat, program UKM Tangguh (Gerobak Tangguh), program UKM Tangguh
(KUBE), program Peternak Tangguh, program Petani Tangguh, dan program
DTCC.
Berikut ini adalah data penerima manfaat pada pilar ekonomi berdasarkan
sumber dari DT Peduli Medan Tahun 2021 :
Tabel 1.1
Program Ekonomi DT Peduli Medan Pada Februari Tahun 2021
Jumlah data
No Nama program
yang disalurkan
1 Program UKM Tangguh Misykat 0
2 Program UKM Tangguh (Gerobak Tangguh) 13
3 Program UKM Tangguh (KUBE) 7
4 Program Peternak Tangguh 0
5 Program Petani Tangguh 0
6 Program DTCC 0
8
Hasil Prasurvei dengan Bapak Kustriawan, Kabag Program DT Peduli Medan,
Wawancara Pribadi, 10 Juni 2021
5
Hal ini menjadi perhatian bagi peneliti untuk meneliti kasus ini
dikarenakan beberapa penelitian terdahulu yang menyimpulkan bahwa masih
terdapat beberapa LAZ yang belum menerapkan penyusunan laporan keuangan
sesuai dengan format laporan akuntansi keuangan zakat, infak/sedekah yang
terdapat dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.109, karena untuk
penyusunannya hanya mengacu sesuai arahan dan kebutuhan dari badan amil
tersebut yang bentuknya masih berupa laporan penerimaan dan penyaluran zakat.
Dan untuk semua dana kas yang masuk pada sudah dipisahkan berdasarkan
golongan dana zakat, dana infaq/sedekah, namun untuk akun amil, dan dana non
halal masih belum dipisahkan.10
Kemudian, Pengakuan dan Pengukuran Baznas juga tidak sepenuhnya
menerapkan akuntansi zakat sesuai PSAK No. 109 karena belum adanya
pemisahan penyaluran dana zakat dan dan Infaq/sedekah. Penyajian dan pelaporan
keuangan belum menerapkan berdasarkan laporan Keuangan akuntansi zakat,
infaq/sedekah sesuai dengan PSAK No. 109. Karena dalam pelaporan keuangan
hanya berupa laporan perubahan dana perbulan, laporan penerimaan dan
pendistribusian dana zakat di ahkir tahun. Pengungkapan pada Badan Amil Zakat
baru mengungkapkan bagian amil 12,5 % untuk operasional sedangkan untuk
kebijakan penyaluran dana zakat dan dana infaq/sedekah tidak dijelaskan berapa
persentase pembagiannya. 11
Dan dalam proses pelaporannya hanya membuat laporan sumber dan
penggunaan dana dan laporan penerimaan dan penggunaan dana, sehingga LAZ
DPU DT belum melakukan lima laporan keuangan menurut PSAK No. 109
diantaranya adalah neraca, laporan sumber dan penggunaan dana, laporan
perubahan dana asset kelolaan, laporan arus kas, dan catatan atas laporan
keuangan. Oleh karena itu LAZ DPU DT belum diaudit oleh akuntan publik dan
belum sesuai dengan PSAK No. 109.12.
Sehingga, dari penuturan diatas peneliti ingin mengetahui dan meneliti
10
Shofyani Isna Wardaty, Penerapan Akuntansi Zakat, Infaq, dan Shadaqah Pada
Lembaga Amil Zakat Muhammadiyah Kabupaten Jember, Universitas Muhammadiyah Jember,
Jurnal Akuntansi,2018, h.15
11
Fitri Rahmadani, dkk, Analisis Penerapan Akuntansi Zakat, Infaq/Sedekah Pada Badan
Amil Zakat Nasional Kota Kotamobagu, Univ. Sam Ratulangi, Jurnal Riset Akuntansi,2018, h.8
12
Ari Kristin P, Umi Khoirul Ummah, Penerapan Akuntansi Zakat Pada Lembaga Amil
Zakat (Studi Pada LAZ DPU DT Cabang Semarang), IAIN Walisongo, Jurnal Unimus 2011
7
B. Batasan Istilah
1. DT Peduli
Lembaga Amil Zakat Nasional Daarut Tauhiid Peduli merupakan
lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pengelolaan dana zakat, infaq,
sedekah dan wakaf. Hasil penghimpunan dana ZISWAF tersebut
digulirkan kepada penerima manfaat dalam bentuk program pelayanan
dam pemberdaayaan dalam bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan,
dakwah dan sosial kemanusian.
2. Pengelolaan Zakat
Pengelolaan zakat sebagaimana tertuang dalam pasal 1 ayat (1)
Undang-Undang No. 38 Tahun 1999, didefinisikan sebagai kegiatan
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan terhadap
pengumpulan zakat dan pendistribusian serta pendayagunaan zakat.
3. PSAK 109 Tentang Akuntansi Zakat dan Sedekah
Pernyataan Standar Akuntansi 109 (PSAK 109) tentang Akuntansi
Zakat dan Infak/Sedekah menyatakan bahwa Infak/sedekah menurut
PSAK 109 adalah harta yang diberikan secara sukarela oleh pemiliknya,
baik yang peruntukannya dibatasi (ditentukan) maupun tidak dibatasi.
C. Rumusan Masalah
Melihat permasalahan yang ada dalam latar belakang masalah, maka timbul
pertanyaan yaitu :
1. Bagaimana penerapan akuntansi zakat dan sedekah pada kantor DT Peduli
Medan ?
2. Adakah kendala pelaksanaan Akuntansi Zakat dan Sedekah berdasarkan
PSAK 109 di Kantor DT Peduli Medan ?
8
D. Tujuan Penelitian
Sejalan dengan rumusan masalah yang telah diutarakan di atas, maka
tujuan penelitian adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahuti bagaimana penerapan akuntansi zakat dan sedekah
pada kantor DT Peduli Medan
2. Untuk mengetahui adakah kendala pelaksanaan Akuntansi Zakat dan
Sedekah berdasarkan PSAK 109 di Kantor DT Peduli Medan
E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:
1. Manfaat Teoretis
Secara teoretis hasil penelitian ini dapat bermanfaat sebagai salah
satu rujukan dalam upaya memahami secara lebih jauh tentang penerapan
akuntansi zakat dan sedekah pada DT Peduli Medan yang sesuai dengan
PSAK 109 dan ketentuan lainnya.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis, hasil penelitian ini dapat bermanfaat sebagai:
a. Dapat dipergunakan sebagai bahan referensi dan pertimbangan bagi
yang memerlukan untuk penulisan atau penelitian lebih lanjut di
Akademi maupun Non-akademik
b. Sebagai pengetahuan penulis dalam membandingkan teori-teori yang
selama ini diterima di perkuliahan dengan kenyataan yang di hadapi di
lapangan.
c. Sebagai alat atau pengendalian kinerja dengan menggunakan Sistem
Akuntansi Zakat dan Infaq/Sedekah.
F. Sistematika Penulisan
BAB I Pendahuluan yang membahas tentang latar belakang masalah, batasan
istilah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan
sistematika penulisan.
BAB II Kajian teoretis yang membahas tentang zakat, pengelolaan zakat,
PSAK 109 tentang akuntansi zakat dan sedekah, faktor yang
9
A. Landasan Teori
1. Zakat
a. Pengertian Zakat
Secara bahasa akar kata zakat berasal dari kata zakka- yazukku
yang bermakna pujian. Adapun pengertian zakat secara bahasa zakat
memilki akar kata zakat yang ditafsirkan dengan tafsiran yang berbeda-
beda. Pertama, zakat berarti at – thaharu (membersihkan atau
menyucikan) yang artinya orang yang selalu menunaikan zakat karena
Allah bukan untuk dipuji manusia, Allah akan membersihkan dan
menyucikan hatinya, baik hartanya maupun jiwanya. Kedua, zakat berarti
al- Barakatu (berkah) yang artinya orang yang selalu membayar zakat,
hartanya kan selalu dilimpahkan keberkahan oleh Allah SWT. Ketiga
zakat bermakna an- Numuw yang berarti tumbuh kembang makna ini
menunjukkan bahwa orang yang selalu menunaikan zakat, hartanya akan
selalu terus tumbuh dan berkembang. Keempat, zakat bermakna as-
Shalalhu (beres atau bagus). Artinya orang yang selalu menunaikan
zakat, hartanya akan selalu bagus.13
Pengertian Zakat menurut istilah adalah mengeluarkan sebagian
harta (tertentu) yang telah diwajibkan Allah SWT, untuk diberikan
kepada orang – orang yang berhak menerimanya, dengan kadar haul
tertentu dan memenuhi syarat rukunnya. Orang yang selalu menunaikan
zakat akan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Dan menumbuhkan rasa kepedulian sosial. 14
Berdasarkan pengertian tersebut, maka makna zakat berbeda
dengan donasi/sumbangan/shodaqoh yang bersifat sukarela. Zakat
memiliki makna yang berbeda karena sebagai kewajiban sifatnya bisa
13
Ahmad Sarwat, Ensiklopedia fikih indinesia (Zakat), Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,
2019, h.3
14
Qadariah Barkah dkk, Fikih Zakat, Sedekah, dan Wakaf, Prenamedia Group, Jakarta,
2020, h. 60
10
11
َ َص ٰلوتَك
س َك ٌن َ ص ِل َعلَ ْي ِه ْۗ ْم ا َِّن َ ُ صدَقَةً ت
َ ط ِه ُرهُ ْم َوتُزَ ِك ْي ِه ْم بِ َها َو َ ُخذْ ِم ْن اَ ْم َوا ِل ِه ْم
س ِم ْي ٌع َع ِل ْي ٌم لَّ ُه ْۗ ْم َو ه.
َ ُّٰللا
“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan
mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu
(menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha
Mendengar, Maha Mengetahui.”
2) As - Sunnah
َو إِقَ ِام ال ا، ِش َها َدةِ أ َ إن ََل إِلهَ ِإ اَل هللاُ َو أ َ ان ُم َح امدًا َرسُ إو ُل هللا
ِص ََلة َ : ع َلى خ إَم ٍس ِ بُن َِي إ
َ اْلس َإَل ُم
رواه البخاري و مسلم. َضان َ ص إو ِم َر َم َ َو، ت إ
ِ ج البَ إي َو ِإ إيتَاءِ ا، .
ِ َو َح، ِالزكَاة
“Islam didirikan atas lima sendi, bersaksi bahwa tidak ada Tuhan
kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat,
menunaikan zakat, haji ke baitullah dan berpuasa dibulan Ramadhan
(HR. Muslim).”
3) Ijma' Ulama
Ulama khalaf (kontemporer) maupun ulama salaf (klasik) telah
15
Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya Edisi Penyempurnaan 2019,
Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, 2019, h. 279
12
sepakat bahwa zakat adalah wajib dan merupakan rukun Islam serta
menghukumi kafir bagi yang mengingkari kewajibannya. 16
Berdasarkan dalil – dalil diatas, terutama yang menempatkan kata
zakat yang mengiringi kata shalat, maka dapat ditentukan bahwa status
zakat sebagai ibadah wajib yang sama pentingnya seperti sholat. Ini
bermakna bahwa zakat itu salah satu sendi tiang utama dari bangunan
Islam. Demikian zakat sebagai rukun Islam, meninggalkan zakat bagi
yang mampu, batallah status orang sebagai penganut ajaran Islam yang
baik.
16
Nur Insani, Hukum zakat, (CV Budi Utama, Yogyakarta, 2021), h.6
17
Santoso Sony dan Rinto Agustino, Zakat Sebagai Ketahanan Nasional, CV Budi
Utama, Yogyakarta, 2018, h. 18
13
d. Jenis Zakat
Zakat dibagi menjadi dua yaitu zakat Nafs (jiwa), dan zakat mal
(harta) adapun pengertiannya sebagai berikut:18
1) Zakat Nafs (jiwa) atau zakat fitrah adalah zakat untuk mensucikan diri.
Zakat ini dikeluarkan dan disalurkan pada saat bulan Ramadhan sebelum
tanggal 1 Syawal, zakat ini berbentuk bahan pangan atau makanan
pokok.
2) Zakat harta adalah zakat yang boleh dibayarkan pada waktu yang tidak
tertentu, mencakup hasil perniagaan, pertanian, pertambangan, hasil
18
Khairuddin, Zakat dalam Islam, Zahir Publishing, Yogyakarta, 2020, h. 37
14
laut, hasil ternak, harta temuan, emas dan perak serta hasil kerja (
profesi) yang masing-masing memiliki perhitungan sendiri-sendiri.
Pada masa rasulullah keompok harta yang ditetapkan menjadi
objek zakat terbatas pada :
a) Emas dan perak –di zaman Rasulullah berbuat dari emas atau
perak;
b) Tumbuh-tumbuhan tertentu seperti gandum, jeli, kurma dan
anggur;
c) Hewan ternak tertentu seperti domba atau biri-biri, sapi dan unta;
d) Harta perdagangan (tijarah); Harta kekayaan yang ditemukan
didalam perut bumi (rikaz). Sementara Allah merumuskan apa
yang wajib dizakati dengan rumusan yang sangat umum yaitu
“kekayaan”, seperti firman-Nya “Pungutlah olehmu zakat dari
kekayaan mereka...” “ didalam kekayaan mereka terdapat hak
peminta-minta dan orang yang melarat”. Hal ini dapat disebabkan
karena pada zaman rasul harta jenis itulah yang dianggap sebagai
kekayaan. Seiring dengan kemajuan transaksi yang dapat
meningkatkan kekayaan, maka penting untuk mengetahui apa
yang dimaksud kekayaan. Kekayaan atau amwal (kata jamak dari
maal) menurut bahasa Arab adalah segala sesuatu yang
diinginkan sekali oleh manusia untk menyimpan dan
memilikinya.
19
Murniati, “Analisis Penerapan PSAK 109 Mengenai Akuntansi Zakat dan
Infaq/Sedekah pada Baitul Mal Aceh”, dalam Jurnal Ilmiah Mahasiswa Ekonomi Akuntansi, Vol.
5, 2020, h. 224
15
f. Penerima Zakat
Ada 8 kelompok yang layak merima zakat, antara lain : 20
1) Fakir, yaitu orang yang tidak memunyai pekerjaan dan penghasilan yang
layak untuk memenuhi kehidupannya sehari- hari.
2) Miskin, merupakan orang yang sanggup memenuhi kebutuhan hidupnya
namun masih kekurangan.
3) Pengurus zakat, merupakan orang yang bertugas mengurus administrasi
dan keuangan zakat. Mendata orang – orang yang wajib zakat dan segala
yang diwajibkan baginya, juga besar harta yang wajib dizakatkan.
20
M Fuad Nasar, Capita Selecta Zakat, Gre Publishing , Yogyakarta, 2018, h.3
16
2. Sedekah
a. Pengertian sedekah
Al Ashfahani dalam Mufradat Alfazh Alqur’an, sedekah adalah
apa yang dikeluarkan seseorang dari hartanya untuk mendekatkan diri
kepada Allah SWT, sama halnya dengan zakat, yang membedakan zakat
hukumnya wajib sedangkan sedekah hukumnya sunnah. Adakalnya
dalam Al-Qur’an, zakat juga dinamakan dengan sedekah tapi sedekah
17
yang wajib. 21
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa sedekah
mengarah kepada pembiasaan diri untuk selalu benar antara teori dengan
praktik. Atau bisa dikatakan dengan bersedekah seseorang akan semakin
dekat dengan Allah dan kedekatan itu akan terus menyalakan kebenaran
yang ada dalam dirinya. Sehingga kebenaran itu akan membersihkan
hatinya dari hal-hal yang dapat menjauhkan diri dari Allah SWT. Hal ini
sejalan dengan makna zakat yang bertujuan untuk membersihkan
(tazkiah) diri dan harta dengan mengeluarkan hak orang lain. Hanya saja
zakat hukumnya wajib sedangkan sedekah hukumnya sunnah.
b. Hukum Sedekah
Hukum sedekah adalah sunnah dengan dalil Al-Qur’an dan
hadits, Adapun dalil-dalil hukum sedekah adalah sebagai berikut :
1) Al – Qur’an
ْ َ ض ِعفَهٗ لَهٗ ٓٗ ا
ض َعافًا ٰ ُسنًا فَي َ ضا َح ً ّٰللا قَ ْر
َض ه ُ ي يُ ْق ِرْ َم ْن ذَا الَّ ِذ
ُۖ
َْصطُ َو ِالَ ْي ِه ت ُ ْر َجعُ ْونُ ض َويَبُ ِّٰللاُ يَ ْقب
َكثِي َْرةً َْۗو ه.
“Barangsiapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik maka
Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak. Allah
menahan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu
dikembalikan.” (Q.S Al- Baqarah (2) : 24522
2) As- Sunnah
21
Reza Pahlevi Dalimunthe, 100 Kesalahan dalam Sedekah, Qultum Media, Jakarta,
2010, h. 6
22
Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya Edisi Penyempurnaan 2019,
Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, 2019, h. 53
23
Usin S Artyasa, Ternyata Balasan Memberikan Pinjaman Lebih Besar dari pada
Sedekah, Ruang Kata Imprint Kawan Pustaka, Bandung, 2013, h. 3
18
e. Adab Bersedekah
Ada beberapa adab dalam bersedekah yang perlu diperhatikan
jika ingin bersedekah antara lain sebagai berikut :
1) Niatnya harus tulus
24
Rahmat Syafe’i, Fiqih Muamalah Untuk IAIN, STAIN, PTAIS, dan Umum,
(Bandung:CV Pustaka Setia, 2004), h. 253-254
25
Hendra Sutisna, Frundaising Data Base (Jakarta : Piramedi, 2006), h.1
19
26
Ibid h. 12
Fitri Rahmadani dkk, “ Analisis Penerapan Akuntansi Zakat, Infaq/Sedekah pada
27
Badan Amil Zakat Nasional Kota Kotamobagu”, dalam jurnal Riset Akuntansi, 2018, Vol. 5, h. 86
20
28
Sri Nurhayati, Akuntansi Syariah di Indonesia:Edisi 2, Jakarta: Penerbit Salemba,
2009. h. 99
21
amil yang tidak mendapatkan izin tetap dapat menerapkan PSAK ini. 29
Penyajian
Amil menyajikan dana zakat dan dana infak/sedekah, dana amil, dan
dana nonhalal secara terpisah dalam neraca (laporan posisi keuangan).
Pengungkapan
Amil harus mengungkapkan hal-hal berikut terkait denagn transaksi
zakat, tetapi tidak terbatas pada :
a. Kebijakan penyaluran zakat, seperti penentuan skala prioritas
penyaluran, dan penerima,
b. Kebijakan pembagian antara dana amil dan dana non amil atas
penerimaan zakat, seperti persentase pembagian alasan, dan konsistensi
kebijakan,
c. Metode penentuan nilai wajar yang digunakan untuk penerimaan zakat
berupa zakat berupa aset nonkas,
d. Rincian jumlah penyaluran dana zakat yang mencakup jumlah beban
pengelolaan dan jumlah dana yang diterima langsung mustahiq, dan
e. Hubungan istimewa antara amil dan mustahiq yaitu :
1) Sifat hubungan istimewa,
2) Jumlah dan jenis aset yang disalurkan,
23
2) Infak/sedekah
a) Pengakuan awal
i. Infak/sedekah yang diterima diakui seagau dana infak/sedekah
terikat atau tidak terikatsesuai dengan tujuan pemberian
infak/sedekah sebesar :
- Jumlah yang diterima, jika dalam bentuk kas,
- Nilai wajar, jika dalam bentuk nonkas.
ii. Penentuan nilai wajar aset nonkas yang diterima menggunakan
harga pasar untuk aset nonkas tersebut. Jika harga pasar tidak
tersedia, maka dapat menggunakan metode penentuan nilai wajar
lainnya sesuia yang diatur dalam PSAK yang relevan.
iii. Infak/sedekah yang diterima diaki sebagai dana amil untuk
bagian amil dan dana infak/sedekah untuk bagian penerima
infak/sedekah.
iv. Penetuan jumlah atau persentase bagian untuk para penerima
infak/sedekah ditentukan oleh amil sesuai dengan prinsip syariah
dan kebiakan amil.
iv. Aset nonkas lancar dinilai sebesar nilai perolehan sedangkan aset
nonkas tidak lancar dinilai sebesra nila wajar sesuai dengan
PSAK yang relevan.
v. Penurunan nilai aset infak/sedekah tidak lancar diakui sebagai :
- Pengurang dana infak/sedekah jika terjadi tidak disebabkan
oleh kelalaian amil.
- Kerugian atau pengurang dan amil, jika disebkan karena
kelalaian amil.
Penyajian :
Amil menyajikan dana zakat dan dana infak/sedekah, dana amil, dan dana
nonhalal secara terpisah dalam neraca (laporan posisi keuangan).
Pengungkapan :
Amil harus mengungkapkan hal- hal berikut terkait dengan transaksi
infak/sedekah, tetapi tidak terbatas pada :
a. Metode penentuan nilai wajar yang digunakan untuk penerimaan infak/
sedekah berupaaset nonkas,
b. Kebijakan pembagian antara dana amil dan dana nonamil atas penerimaan
infak/sedekah, seperti persentase pembagian alasan, dan konsitensi
kebijakan,
c. Kebijakan penyaluran infak/sedekah, seperti penentuan skala prioritas
penyaluran penerima,
d. Keberadaaan dana infak/sedekah yang tidak langsung disalurkan tetapi
dikeloa terlebih dahulu, jika ada, maka harus diungkapkan jumlah dan
persentasenya dari seluruh penerimaan infak/sedekah selama periode
pelaporan serta alasanny,
e. Hasil yang diperoleh dari pengelolaan diungkapkan secara terpisah,
f. Penggunaan dana infak/sedekah menjadi aset yang diperuntukan bagi yang
berhak, jika ada jumlah dan persentasenya terhadap seluruh penggunaan
dana infak/sedekah serta alasannya,
25
B. Kajian Terdahulu
Tabel 2.1. Penelitian Terdahulu
No Nama Judul Metode Hasil Persamaan Perbedaan
Peneliti Penelitian Penelitian Penelitian
1 Anindia Analisis Kualitatif Laporan menggunakan objek
Rizka Penerapan Deskriptif keuangan PSAK 109 penelitian
Permatasari31 Akuntansi yang dibuat sebagai acuan
Zakat dan oleh dalam
Infak BAZNAS penelitian
/Sedekah pada Kota
BAZNAS Mojokerto
Kota hanya
Mojokerto mencatatkan
laporan
penerimaan
dan
penyaluran
dana zakat
saja.
2 Anggi Aulia Analisis Kualitatif Dalam hal menggunakan objek
Hafnizar32 Penerapan Deskriptif pengakuan PSAK 109 penelitian
Akuntansi dan sebagai acuan
Zakat pada pengukuran dalam
Lembaga pihak LAZ penelitian
Amil Zakat Nurul Hayat
(Studi Kasus Medan telah
Nurul Hayat sesuai dengan
Medan) PSAK No.
30
Agus Arwani, Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah Non Bank, Pustaka Rumah
Cinta, Pekalongan, 2020, h. 25
31
Anindia Rizka Permatasari, Analisis Penerapan Akuntansi Zakat dan Infak /Sedekah
pada BAZNAS Kota Mojokerto, Mojokerto , Skripsi UNIM, 2019
32
Anggi Aulia Hafnizar, Analisis Penerapan Akuntansi Zakat pada Lembaga Amil Zakat
(Studi Kasus Nurul Hayat Medan), Medan: Skripsi UINSU, 2018
26
109.
Sedangkan
dalam hal
penyajian dan
pengungkapan
pihak LAZ
Nurul Hayat
Medan belum
menerapkan
PSAK No.
109
3 Astika Sari33 Analisis Kualitatif untuk menggunakan objek
Sistem Deskriptif pencatatan PSAK 109 penelitian
Akuntansi laporan sebagai acuan
Zakat pada keuangan dalam
BAZNAS kota BAZNAS penelitian
Makassar kota Makassar
belum
menyusun
laporan
keuangannya
sesuai dengan
sistem
akuntansi
zakat yaitu
PSAK No.
109.
4 Nafisyah34 Analisis Kualitatif BAZNAS menggunakan objek
Penerapan Deskriptif Kabupaten PSAK 109 penelitian
Akuntansi Tanah Laut sebagai acuan
Zakat, Infak menggunakan dalam
dan Sedekah sistem penelitian
di BAZNAS pencatatan
Kabupatan cash basic
Tanah Laut (berbasis kas)
yang memang
telah sesuai
dengan
konsep
pengakuan.
Kesesuaian
konsep
pengakuan
dan
33
Artika Sari, Analisis Sistem Akuntansi Zakat pada BAZNAS kota Makassar, Makassar:
Skripsi UNISMUH, 2020
34
Nasfiyah, Analisis Penerapan Akuntansi Zakat, Infak dan Sedekah di BAZNAS
Kabupatan Tanah Laut, Banjarmasin: UIN Antasari, 2020
27
pengukuran,
penyajian
serta
pengungkapan
zakat, infak
dan sedekah di
BAZNAS
Kabupaten
Tanah Laut
sudah sesuai
dengan PSAK
No. 109
5 Regah Manajemen Kualitatif Penelitian ini jenis permasalahan
Jeneiri Penghimpunan Deskriptif dipusatkan penelitian yang dikaji
Haryati35 Dana Zakat di pada pada
Baitul Maal permasalahan penelitian
Hidayatullah penghimpunan terdahulu
(BMH) Kota dana zakat yaitu
Bengkulu yang kurang pengumpulan
efektif dana zakat
sehingga tidak tidak efektif
mencapai sehingga
target yang tidak
diinginkan mencapai
dengan yang target yang
dihasilkan diinginkan,
C. Kerangka Pemikiran
Lembaga pengelolaan dana zakat,infak dan sedekah seperti
Lembaga Amil Zakat Nasional DT. Peduli Medan memerlukan adanya sistem
akunatnsi yang baik dalam mengumpulkan, mengelola dan menyalurkan dana
zakat, infak dan sedekah. Salah satunya dengan adanya perlakuan akuntansi
zakat yang baik dan transparan.
Untuk itu penelitian ini mengacu pada PSAK No. 109 yaitu tentang
Akuntansi zakat, infak dan sedekah yang bertujuanuntuk mengetahui apakah
Lembaga Amil Zakat Nasional DT. Peduli Medan telah sesuai dengan PSAK
No. 109 sehingga laporan keuangan dapat lebih relevan.
35
Regah Jeneiri Haryani, Manajemen Penghimpunan Dana Zakat di Baitul Maal
Hidayatullah (BMH), Kota Bengkulu: Skripsi IAIN Bengkulu, 2017
28
Praktik Akuntansi
Laporan Keuangan
36
Sukiati, Metodologi Penelitian Sebuah Pengantar, Medan: Perdana Publishing, 2016, h.
48.
37
Cholid Narbuko dan Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, Jakarta: Pt Bumi Aksara,
2007, h. 46.
29
30
C. Sumber Data
Dalam melakukan penelitian, sumber data diperoleh dari dua sumber
yaitu:
1. Data Primer
Data Primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti
secara langsung dari sumber datanya 38. Untuk mendapatkan data primer,
peneliti harus mengumpulkannya secara langsung atau dalam penelitian ini
diperoleh dari kantor DT Peduli Medan.
2. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti dari
berbagai sumber yang telah ada (peneliti sebagai tangan kedua). Data
sekunder dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti buku, laporan,
jurnal, dan lain-lain. 39
38
Sandu Siyoto, Dasar Metodologi Penelitian, Yogyakarta: Literasi Media Publishing,
2015, h.67-68
39
Ibid.,
31
40
Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfabeta, 2005, h. 64
41
Ibid, h.77
42
Ibid, h.77-78
32
F. Keabsahan Data
Untuk menghindari kesalahan data yang akan dianalisis, maka peneliti
mengacu pada empat standar validasi oleh Lincoln dan Guba dalam Salim dan
43
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, Dan
R&D), Bandung: Alfabeta, 2005, h. 378
44
Ibid, h. 345
33
45
Ibid, h. 376-377
46
Salim, Metodologi Penelitian Kualitatif , (Bandung: Citapustaka, 2018), h. 113.
DAFTAR PUSTAKA
Ari Kristin P. dkk. Penerapan Akuntansi Zakat Pada Lembaga Amil Zakat
(Studi Pada LAZ DPU DT Cabang Semarang). IAIN Walisongo. Jurnal
Unimus. 2011
Artyasa. dkk. Ternyata Balasan Memberikan Pinjaman Lebih Besar dari pada
Sedekah. Bandung: Ruang Kata Imprint Kawan Pustaka. 2013
Barkah. dkk. Fikih Zakat, Sedekah, dan Wakaf. Jakarta: Prenamedia Group. 2020
Dalimunthe. dkk. 100 Kesalahan dalam Sedekah. Jakarta: Qultum Media. 2010
Jasafat. Manajemen Pengelolaan Zakat, Infaq, Dan Sedekah Pada Baitul Maal
Aceh Besar Dalam Al-Ijtimayyah. Aceh: Fakultas Dakwah dan
Komunikasi dan Penerbit Universitas Ar-Raniry Aceh. Vol. 1, No.
1/Januari-Juni 2015
34
35
Undang Undang Nomor 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat Pasal 1 Ayat
1.
Wardaty. Penerapan Akuntansi Zakat, Infaq, dan Shadaqah Pada Lembaga Amil
Zakat Muhammadiyah Kabupaten Jember. Universitas Muhammadiyah
Jember. Jurnal Akuntansi. 2018