0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan42 halaman

Media Pembelajaran: Teori dan Fungsi

Paragraf tersebut membahas tentang landasan teori media pembelajaran. Ia menjelaskan definisi media pembelajaran menurut para ahli, ciri-ciri umum media pembelajaran, kriteria pemilihan media pembelajaran, serta fungsi dan manfaat media pendidikan.

Diunggah oleh

Mutiara
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan42 halaman

Media Pembelajaran: Teori dan Fungsi

Paragraf tersebut membahas tentang landasan teori media pembelajaran. Ia menjelaskan definisi media pembelajaran menurut para ahli, ciri-ciri umum media pembelajaran, kriteria pemilihan media pembelajaran, serta fungsi dan manfaat media pendidikan.

Diunggah oleh

Mutiara
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Media Pembelajaran

a. Pengertian Media Pembelajaran

kata media merupakan bentuk jamak dari medium yang berarti

perantara, sedangkan menurut istilah adalah wahana pengantar pesan. Media

merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang

pikiran, perasaan, dan kemauan audien (siswa) sehingga dapat mendorong

terjadinya proses belajar pada dirinya. Penggunaan media secara kreatif akan

memungkinkan audien (siswa) untuk belajar lebih baik dan dapat

meningkatkan individu mereka sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.1

Sedangkan yang disebut media menurut pendapat dari para ahli yaitu:

1) Gagne menyatakan bahwa, media adalah berbagai jenis komponen

dalam lingkungan siswa, yang dapat merangsangnya untuk

belajar.2

2) Ahmad Rohani menyatakan bahwa media adalah segala sesuatu

yang dapat di indera yang berf0ungsi sebagai perantara, sarana,

alat untuk proses komunikasi.3

3) Media merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan

dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemampuan audien

sehingga dapat mendorong proses belajar pada dirinya.4

1
Aznawir, Basyaruddin Usman, Media Pembelajaran, (Jakarta: C0iputra Pers, 2002), hal.
2
Arif Sadirman, dkk, Media Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), hal. 3
3
Ahmad Rohani, Media Intruksional Eduktif, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), hal. 3
4
Azmawir, Basyaruddin Usman, Media Pembelajaran, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hal. 11
Beberapa definisi media diatas, maka dapat disimpulkan bahwa media

adalah segala sesuatu yang dapat dijadikan sebagai perantara untuk

menyampaikan pesan agar lebih bisa dipahami dan membangkitkan motivasi

dan minat belajar.

Setelah memahami apa yang disebut dengan madia, berikut

dikemukakan apa yang disebut dengan media pembelajaran menurut para ahli

yaitu:

1) Dalam Muhaimin, Martin dan Briggs memberikan batasan

mengenai media pembelajaran yaitu mencakup semua sumber

yang diperlukan untuk melakukan komunikasi sengan siswa.5

2) Sudarwan Danim menyatakan media pembelajaran merupakan

seperangkat alat bantu atau pelengkap yangdigunakan oleh guru

atau pendidik dalam rangka berkomunikasi dengan siswa atau

peserta didik.6

3) Ahmad Rohani menyatakan bahwa media pembelajaran adalah

sarana komunikasi dalam proses belajar mengajar yang berupa

perangkat keras maupun perangkat lunak untuk mencapai proses

dan hasil instruksional secara efektif dan efisien.7

4) Penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar

sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Alaq ayat 1-5 yang

berbunyi:

Artinya:

5
Muhaimin dkk, Strategi Belajar Mengajar, (Surabaya: Citra Media, 1996), hal. 91
6
Sudarwan Danim, Media Komunikasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), hal. 7
7
Ahmad Rohani, Media Instruksional…, hal. 4
“bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang

menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal

darah. Bacalah, dan Tuhan mullah yang Maha Pemurah, yang

mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajar

kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq 1-

5)8

Ayat tersebut membuktikan bahwa penggunaan media tidak hanya

diaplikasikan pada zaman sekarang melainkan sejak zaman Nabi Muhammad

SAW juga sudah diterapkan. Hal ini dapat kita lihat pada “bilqolam” dari ayat

diatas, yang artinya “dengan perantara kalam” maksud dari kata tersebut

adalah allah memerintahkan Nabi untuk mengajarkan manusia dengan

mnggunakan perantara kalam (baca-tulis), yang mana baca tulis adalah

termasuk salah satu media yang digunakan dalam pembelajaran.

Beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa media

pemeblajaran adalah segala sesuatu yang dapat dijadikan perantara yang dapat

membangkitkan minat siswa untuk belajar sehingga materi yang disampaikan

lebih mudah dipahami oleh siswa, dan sesuatu yang dapat digunakan untuk

merangsang pikiran dan membangkitkan semangat dalam diri siswa untuk

belajar.

Berdasarkan beberapa batasan tentang media pelajaran, maka dapat

dikemukakan ciri-ciri umum yang terkandung dalam media pengajaran, antara

lain:

1) Media pembelajaran memiliki pengertian non fisik yang dikenal

sebagai software (perangkat lunak), yaitu kandungan pesan yang

8
Tafsir Muyassar Jilid 4, (Jakarta: Qisthi Press, 2007), hal. 632
terdapat dalam perangkat keras yang ingin disampaikan kepada

siswa.

b. Pemilihan Media

Kriteria pemilihan media bersumber dari konsep bahwa media

merupakan bagian dari system instruksional secara keseluruhan. Untuk itu,

ada beberapa kriteria yang patut di perhatikan dalam memilih media.

1) Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Media dipilih

berdasarkan tujuan instruksional yang telah ditetpakan secar

umum mengacu kepada salah satu atau gabungan dari dua atau

tiga ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Tujuan ini dapat

digunakan dalam bentuk tugas yang harus dikerjakan/

dipertunjukkan oleh siswa, seperti menghafal, melakukan kegiatan

yang melibatkan kegiatan fisik tau pemakaina prinsip-prinsip

seperti sebab akibat, melakukan tugas yang melibatkan

pemahaman konsep-konsep atau hubungan-hubungan perubahan,

dan mengerjakan tugas-tugas yang melibatkan pikiran pada

tingkatan yang lebih tinggi.

2) Tepat untuk mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta, konsep,

prinsip, atau generalisasi. Media yang berbeda, misalnya film dan

grafik memerlukan symbol dan kode yang berbeda, dan oleh

karena itu memerlukan proses dan keterampilan yang berbeda

untuk memahaminya. Agar dapat membantu proses pembelajaran

secara efektif, media harus selaras dan sesuai dengan kebutuhan

tugas pembelajaran dan kemampuan mental siswa. Televise,


misalnya, tepat untuk mempertunjukkan proses dan transformasi

yang memerlukan manipulasi ruang dan waktu.

3) Praktis, luwes, dan bertahan. Jika tidak tersedia waktu, dana,

sumber daya lainnya untuk memproduksi, tidak pada dipaksakan.

Media yang mahal dan memakan waktu yang lama untuk

memproduksinya bukanlah jaminan sebagai media yang terbaik.

Kriteria ini menuntun para guru atau instruktur untuk memilih

media yang ada, mudah diperoleh, ataumudah dibuat sendiri oleh

guru. Media yang dipilih sebaiknya dapat digunakan dimanapun

dan kapanpun dengan peralatan yang tersedia di sekitarnya, serta

mudah dipindahkan dan dibawa kemana-mana.

4) Guru terampil menggunakannya. Ini merupakan salah satu kriteria

utama. Apa pun media itu, guru harus mampu menggunakanya

dalam proses pembelajaran. Nilai dan manfaat media amat

ditentukan oleh guru yang menggunakannya. Proyeksi

transparansi (OHP), proyektor slide dan film, computer, dan

peralatan canggih lainnya tidak akan mempunyai arti apa-apa jika

guru belum dapat menggunakannya dalam proses pembelajaran

sebagai upaya mempertinggi mutu dan hasil belajar.

5) Pengelompokkan sarana. Media yang efektif untuk kelompok

besar belum tentu sama efektifnya jika digunakan pada kelompok

kecil atau perorangan. Ada media yang tepat untuk jenis

kelompok besar, kelompok sedang, kelompok kecil, dan

perorangan.
6) Mutu teknis. Pengembangan visual baik gambar maupun fotograf

harus memenuhi persyaratan teknis tertentu. Mislanya, visual pada

slide harus jelas dan informasi yang ditonjolakan dan ingin

disampaikan tidak boleh terganggu oleh elemen lain yang berupa

latar belakang.9

c. Fungsi dan Manfaat Media Pendidikan

Menurut Hamalik (1986) yang dikutip oleh Arsyad Azhar dalam

bukunya media pemeblajaran mengeukakan bahwa pemakaian media

pemebelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan

dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan

belajar mengajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis

terhadap siswa penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi

pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu

keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan da nisi pelajaran

pada saat itu, selain membangkitkan motivasi dan minat siswa, media

pembelajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman,

menyajikan data dengan menarik dan terpeercaya, memudahkan pnafsiran

data, dan memadatkan informasi.10

Sedangkan menurut Levie & Lents yang dikutip oleh Arsyad Azhar

dalam bukunya media pembelajaran mengemukakan empat fungsi media

pembelajaran, khususnya media visual, yaitu:

1) Fungsi atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan

mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi

pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan

9
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997), hal. 75-77
10
Ibid, hal. 15-16
atau menyertai teks materi pelajaran. Dengan menggunakan media

pembelajaran kemungkinan untuk memperoleh dan mengingat isi

pelajaran semakin besar.

2) Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari kenikmatan siswa

ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar. Gambar atau

lambing visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa, misalnya

informasi yang menyangkut masalah sosial atau ras.

3) Fungsi kognitif media visual terlihat dari temuan-temuan

penelitian yang mengungkapkan bahwa lambing visual atau

gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan

mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.

4) Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil

penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk

memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca

untuk mengorganisasikan informasi dalam teks mengingatnya

kembali. Dengan kata lain, media pembelajaran berfungsi untuk

mengakomondasikan siswa yang lemah dan lambat menerima dan

memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau disajikan

secara verbal.11

d. Evaluasi Media Pembelajaran

Apabila media dirancang sebagai bagian integral dari proses

pembelajaran, ketika mengadakan evaluasi terhadap pembelajaran itu sudah

termasuk pula evaluasi terhadap media yang digunakan. Data empiris yang

11
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran …, hal.
berkaitan dengan media pembelajaran secara umum bersumber dari jawaban

terhadap pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

1) Apabila media pembelajaran yang digunakan efektif?

2) Dapatkah media pembelajaran itu diperbaiki dan ditingkatkan?

3) Apakah media pembelajaran itu efektif dari segi biaya dari sefi

biaya dan hasil belajar yang dicapai oleh siswa?

4) Kriteria apa yang digunakan untuk memilih media pembelajaran

itu?

5) Apakah isi pembelajaran sudah tepat disajikan dengan media itu?

6) Apakah prinsip-prinsip utama penggunaan media yang dipilih telah

diterapkan?

7) Apakah media pembelajaran yang dipilih dan digunakan benar-

benar menghasilkan hasil belajar yang direncanakan?

8) Bagaimana sikap siswa terhadap media pembelajaran yang

digunakan?

2. Media Audio-Visual

a. Pengertian media pembelajaran audio-visual

Kata media berasal dari bahasa Latin yang merupakan bentuk jamak

dari kata medium. Kata medium dapat diartikan sebagai perantara atau

pengantar terjadinya komunikasi dari pengirim menuju ke penerima.12 Dengan

kalimat yang lain dapat dijelaskan, bahwa media adalah sebuah alat yang

digunakan untuk menyimpan suatu informasi. Kaitannya dengan

pembelajaran, maka media diartikan sebagai suatu perantara atau alat yang

12
Daryanto, Media Pembelajaran, (Yogyakarta: Gava Media, 2010), hal. 4
digunakan dalam proses belajar mengajar agar materi yang disampaikan dapat

diterima oleh peserta didik dengan baik.

Media audio visual merupakan perangkat yang menggabungkan

tayangan atau animasi, teks, grafik, audio, video dan interaktif yang dapat

digunakan untuk membantu menggambarkan sesuatu yang abstrak menjadi

lebih nyata, juga dapat membantu mengatasi keterbatasan indera, ruang, waktu

dan dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi.

Audio-visual adalah alat-alat “audivle” artinya dapat didengar dan alat-

alat “visible” artinya data dilihat. Alat-alat audio-visual gunanya untuk

membuat cara berkomunikasi menjadi efektif. Media audio-visual merupakan

bentuk media pengajaran yang terjangkau.13

Sejalan dengan pendapat tersebut, Hamalik dalam Arsyad

mengemukakan bahwa hubungan komunikasi akan berjalan lancer dengan

hasil yang maksimal apabila menggunakan alat bantu yang disebut media

komunikasi.14 Sementara itu, Asnawir dan Basyiruddin Usman menyatakan

bahwa pengertian media merupakan suatu yang bersifat menyalurkan pesan

dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan audien (siswa)

sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya.15 Sedangkan

menurut Djamarah dan Zain media diartikan sebagai “sumber belajar”16 dan

dengan mengutip Udin Saripuddin dan Winataputra mengelompokkan sumber

belajar menjadi lima kategori, yaitu “manusia, buku/perpustakaan, media

massa, alam lingkungan dan media pendidikan”.17

13
Amir Hamzah, Media Audio-Visual, (Jakarta: PT Gramedia, 1985), hal. 11
14
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008), hal. 4
15
Asnawir dan Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hal. 11
16
Djamarah dan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hal. 138
17
Ibid, hal. 139
Dari uraian tersebut di atas, dapat disampaikan bahwa media

pembelajaran adalah suatu alat yang dijadikan sebagai sumber belajar dalam

proses pembelajaran sehingga pesan atau materi yang disampaikan dapat

diterima dengan baik oleh peserta didik. Dengan bahasa lain dapat dijelaskan

bahwa dalam proses belajar mengajar keberadaan media sangat penting dalam

membantu tujuan pembelajaran.

Sedangkan kata audio-visual merupakan kata majemuk berasal dari

bahasa Inggris yakni audio yang berarti penerimaan bunyi pendengaran,18 dan

visually, yang berarti yang dapat dilihat, dengan cara yang tampak atau yang

dapat disaksikan.19 Sehingga dapat disimpulkan bahwa audio-visual dapat

diartikan sebagai sesuatu yang dapat didengar sekaligus dapat dilihat.

Menurut HM. Musfiqon “Media audio adalah media yang

penggunaannya menekankan pada aspek pendengarannya. Indera pendengaran

merupakan alat utama dalam penggunaan media jenis ini. Menurut Angkowo

dikutip dari buku HM. Musfiqon dalam penggunaan media audio, pesan yang

akan disampaikan dituangkan kedalam lambing-lambang audiktif, baik verbal

(kedalam kata-kata/bahasa lisan) maupun non verbal sehingga antara

pengiriman pesan dengan penerima pesan bisa memahami makna dari lambing

audiktif tersebut.20

Menurut Achmad Lutfi, “Media audio visual, yaitu jenis media yang

selain mengandung unsur suara juga mengandung unsure gambar yang bisa

18
Yan Peterson, Kamus Lengkap Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris, (Surabaya: Karya Agung,
2005), hal. 32
19
Ibid, hal. 390
20
HM. Musfiqon, Pengembangan Media dan Sumber Pembelajaran, (Jakarta: PT. Prestasi Pustakarya,
2012), hal. 89
dilihat, misalnya rekaman video, berbagai ukuran film, slide, suara, vcd,

internet dan lain sebagainnya.21

Menurut Yudhi Munadi audiovisual dapat dibagi menjadi dua jenis,

jenis pertama dilengkapi fungsi peralatan suara dan gambar dalam satu unit

dinamakan media audiovisual murni, seperti film gerak (movie) bersuara,

televise, dan video. Jenis kedua adalah media audiovisual tidak murni yakni

apa yang kita kenal dengan slide, opaqe, OHP dan peralatan visual lainnya.22

Menurut Ahmad Rohani media audio-visual diartikan media

instruksional modern yang sesuai dengan perkembangan zaman (kemajuan

ilmu pengetahuan dan teknologi), meliputi media yang dapat dilihat, didengar

dan yang dapat dilihat dan didengar.23 Sementara itu, Wina Sanjaya

menyatakan bahwa pengertian media audio visual adalah jenis media yang

selain mengandung unsur suara juga mengandung unsur gambar yang bisa

dilihat. Misalnya rekaman video, berbagai rekaman film, slide suara, dan lain

sebagainya.24

Berdasarkan pengertian media audio-visual diatas, maka media

pembelajaran audio-visual dapat diartikan sebagai suatu alat bantu yang dapat

dilihat sekaligus didengarkan berupa rekaman video, berbagai rekaman film,

slide suara, dan lain sebagainnya yang digunakan dalam proses belajar

mengajar sehingga materi pembelajaran yang disampaikan dapat diterima

dengan baik oleh peserta didik (siswa). Sejalan dengan hal tersebut, Ngainun

Naim menjelaskan secara panjang lebar tentang media pembelajaran audio-

visual, sebagai berikut:

21
Achmad Lutfi, Pembelajaran Al-Qur’an dan Hadist, (Jakarta: Dirjen Pendidikan Islam, Depag RI,
2009), HAL. 74
22
Yudhi Munadi, Media Pembelajaran, (Jakrta: Gaung Persada Press, 2008), hal. 56
23
Ahmad Rohani, Media Pembelajaran Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), hal. 97
24
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran,(Jakarta: Kencana, 2007), hal. 172
Media audio-visual adalah sarana atau media yang utuh untuk

mengolaborasikan bentuk-bentuk visual dengan audio. Media ini

dipergunakan untuk membantu penjelasan guru sebagai peneguh, atau sebagai

sarana yang didalami. Media ini tidak hanya dikembangkan melalui bentuk

film saja, tetapi dapat dikembangkan melalui sarana computer dengan teknik

powerpoint dan flash player. Menjalankan media ini perlu keterampilan dan

sarana yang khusus. 25

Sehingga secara umum dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran

audio-visual dapat diartikan sebagai sarana atau media yang menggabungkan

bentuk suara dan gambar bergerak yang digunakan untuk membantu

penyampaian materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru sehingga siswa

dapat menerimanya dengan baik.

b. Jenis-jenis Media Audio-visual

Ada beberapa jenis media yang dapat dikelompokkan dalam media

audio-visual, anatara lain:

1) Televisi

Televisi system elektronik yang mengirimkan gambar diam dan

gambar hidup bersama suara melalui kabel atau ruang. System ini

menggunakan peralatan yang mengubah cahaya dan suara kedalam

gelombang elektronik dan mengkonversinya kembali kedalam

cahaya yang dapat dilihat dan suara yang dapat didengar. Dengan

demiian, ada dua jenis pengiriman (penyiaran) gambar dan suara

yaitu penyiaran langsung kejadian atau peristiwa yang kita

25
Ngainun Naim, Menjadi Guru Inspiratif, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hal. 224
saksikan sementara ia terjadi dan penyiaran program yang telah

direkam diatas pita film atau pita video. Televisi pendidikan dapat

menjadi alat yang baik bagi penyuluh.26 Televise instruksional

berbeda dari televise penyiaran, yaitu dalam hal materinya yang

tidak didesain untuk di distribusikan oleh stasiun penyiaran massa.

Menurut Gopper, menggunakan pelajaran melalui televise

untuk mengajarkan pelajaran disekolah lanjutan, dengan maksud

menunjukkan bahwa tujuan-tujuan tingkat rendah dapat dicapai

dengan cara televise yang konvensional. Sedangkan tujuan tingkat

lebih tinggi dapat dicapat apabila program televise mengandung

situasi yang memungkinkan siswa untuk secara aktif memberikan

respon terhadap program tersebut.27 Beberapa penelitian

menunjukkan bahwa siswa yang belajar melalui program televise

untuk berbagai mata pelajaran dapat menguasai mata pelajaran

tersebut sama seperti mereka yang mempelajarinya melalui tatap

muka dengan guru kelas.

2) Proyektor Transparasi (OHP)

Overhead projector adalah alat audio-visual yang sangat sering

digunakan dalam berbagai program pendidikan orang dewasa.28

Beberapa pendidik merencanakan seluruh program pengajaran

mereka dengan menggunakan transparan atau Overhead projector.

Transparansi yang diproyeksikan adalah visual baik berupa

huruf, lambing, gambar, grafik atau gabungannya pada lembaran

26
Suprijanto, Pendidikan Orang Dewasa dari Teori Hingga Aplikasi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007),
hal. 197
27
Ivor K Davies, Pengelolaan Belajar, (Jakarta: Rajawali, 1991), hal. 162
28
Suprijanto, Pendidikan Orang Dewasa dari Teori Hingga Aplikasi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007),
hal. 181
bahan tembus pandang atau plastic yang dipersiapkan untuk

diproyeksikan ke sebuah layar atau dinding melalui sebuah

proyektor. Kemampuan proyektor memperbesar gambar membuat

media ini berguna untuk menyajikan informasi pada kelompok

yang besar dan pada semua jenjang OHP dirancang untuk dapat

digunakan di depan kelas sehingga guru dapat selalu berhadapan

atau menatap langsung dengan siswanya.

Menurut Chance membandingkan pemakaian papan tulis OHP

dalam mengajarkan gambar-gambar terbaik. Hasilnya, lebih baik

dengan OHP. Waktu pelaksanaan dikurangi 20%, yang berarti

bahwa lebih banyak waktu dapat di gunakan untuk menjawab

pertanyaan, untuk diskusi dan praktek. Hal-hal yang sama juga

ditemukan oleh peneliti-peneliti lain.29

3) Video

Video adalah teknologi untuk menangkap, merekam,

memproses, mentransmisikan dan menata ulang gambar bergerak.

Biasanya menggunakan film seluloid, sinyal elektronik, atau media

digital. Video juga bisa dikatakan sebagai gabungan gambar-

gambar mati yang dibaca berurutan dalam suatu waktu dengan

kecepatan tertentu. Gambar-gambar yang digabung tersebut

dinamakan frame dan kecepatan pembacaan gambar disebut

dengan frame rate.

Penggunaan multimedia dalam pendidikan memiliki beberapa

kelebihan, yaitu:

29
Ivor K Davies, Pengelolaan Belajar, (Jakarta: Rajawali, 1991), hal. 169-160
a. System pembelajaran lebih inovatif dan interaktif,

b. Guru akan selalu dituntut untuk kreatif inovatif dalam mencari

terobosan pembelajaran,

c. Mampu menggabungkan antara teks, gambar, audio, music,

animasi gambar, atau video dalam satu kesatuan yang saling

mendukung guna tercapainya tujuan pembelajaran,

d. Mampu menimbulkan rasa senang selama proses PBM

berlangsung. Hal ini akan menambah motivasi siswa selama

proses PBM hingga didapatkan tujuan yang maksimal,

e. Mampu memvisualisasikan materi yang selama ini sulit untuk

diterangkan hanya dengan penjelasan atau alat perga yang

konvensional,

f. Media menyimpan yang relative gampang dan fleksibel.30

4) Komputer

Komputer adalah mesin yang dirancang khusus untuk

memanipulasi informasi yang diberi kode, mesin elektronik yang

otomatis melakukan pekerjaan yang diperhitungkan sederhana dan

rumit. Satu unit computer terdiri atas empat kelompok komponen

dasar, yaitu input (missal, keyoard dan writingpad), prosesor

(CPU:unit memproses data yang diinput), penyimpanan data

memori yang menyimpan data yang akan diproses oleh CPU baik

secara permanen (ROM) maupun untuk sementara (RAM), dan

output (missal layar monitor, printer atau plotter).31

30
Hamdani, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: Pustaka Setia, 2011), hal. 254
31
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), hal. 52
Computer memilki kemampuan untuk menggabungkan dan

mengendalikan berbagai peralatan lainnya, seperti CD player,

video tape, dan audio tape. Disamping itu, computer dapat

merekam, menganalisis dan memberi reaksi kepada respon yang di

input oleh pemakai atau siswa.32

5) LCD Proyektor

Proyektor adalah perangkat yang menginte gresikan sumber

cahaya, system optic, elektronik dan display dengan tujuan untuk

memproyeksikan gambar atau video ke dinding atau layar.

Mengapa proyektor? Dibandingkan dengan media yang lain

seperti Plasma atau LCD Display, projector memiliki beberapa

kelebihan seperti, dapat membuat tampilan yang sangat besar,

dapat di bawa dengan mudah serta fleksibilitas yang tinggi.33

c. Fungsi dan Manfaat Media Audio-Visual

Seorang ahli dalam bidang audio-visual mengatakan “perhatian yang

semakin luas dalam penggunaan alat-alat audio-visual telah mendorong bagi

diadakan banyak penyelidikan ilmiah mengenai tempat dan nilai alat-alat

audio-visual tersebut dalam pendidikan”. Penyelidikan itu telah membuktikan,

bahwa alat-alat audio-visual jelas mempunyai nilai yang berharga dalam

bidang pendidikan, antara lain:

1) Media audio-visual dapat mempermudah orang yang

menyampaikan dan memudahkan dalam menerima sesuatu

pelajaran atau informasi serta dapat menghindarkan salah

perngertian

32
Ibid hal 53
33
Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran.,hlm. 57.
2) Alat-alat media audio-visual mendorong keinginan untuk

mengetahui lebih banyak lagi tentang hal-hal yang berkaitan

dengan materi yang telah disampaikan oleh guru.

3) Alat-alat audio-visual tidak hanya menghasilkan cara belajar yang

efektif dalam waktu yang lebih singkat, tetapi apa yang diterima

melalui alat-alat audio-visual lebih lama dan lebih baik, yakni

tinggal dalam ingatan.

4) Siswa dapat belajar dan maju sesuai dengan kecepatan masing-

masing. Materi pelajaran dapat dirancang sedemikian rupa

sehingga mampu memenuhi kebutuhan siswa, baik yang cepat

maupun yang lambat membaca dan memahami.34

Sejumlah penelitian tentang manfaat alat audio-visual telah dilakukan.

Hasil penelitian akhirnya membuktikan bahwa lat bantu audio-visual tidak

diragukan lagi dapat membantu dalam pengajaran apabila dipilih secara

bijaksana dan digunakan dengan baik. Ada beberapa manfaat alat bantu audio-

visual dalam pengajaran, antara lain:

1) Membantu memberikan konsep pertama atau kesan yang benar,

2) Mendorong minat,

3) Meningkatkan pengertian yang lebih baik,

4) Melengkapi sumber belajar yan lain,

5) Menambah variasi metode mengajar,

6) Meningkatkan keingintahuan intelektual,

7) Cenderung mengurangi ucapan dan pengulangan kata yang tidak

perlu,

34
Amir Hamzah, Media Audio-Visual, (Jakarta: Gramedia, 1985), hal. 17-18
8) Membuat ingatan terhadap pelajaran lebih lama.35

Akibat dari apa yang diuraikan diatas, sekarang orang gandrung

menggunakan ala-alat audio-visual karena dianggap sebagai salah satu media

yang mampu memenuhi kebutuhan dalam pengajaran di era modern seperti

sekarang ini, terutama pada alat-alat audio-visual yang dapat memberi

dorongan dan motivasi serta membangkitkan keinginan untuk mengetahui dan

menyelidiki yang akhirnya menjerumuskan kepada pengertian yang lebih baik.

35
Suprijanto, Pendidikan Orang Dewasa dari Teori Hingga Aplikasi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007),
hal. 173
d. Faktor Kelebihan dan Kekurangan Media Audio-Visual

Menurut Nana Sudjana dan Sudirman N. Menyimpulkan tentang

beberapa kelebihan-kelebihan media audio-visual, termasuk tekas terprogram,

adalah:

1) Perpaduan teks dan gambar dalam halaman cetak sudah merupakan

hal lumrah, dan ini dapat menambah daya tarik, serta dapat

memperlancar pemahaman informasi yang disajikan dalam dua

format, verbal dan visual.

2) Khusus pada teks terprogram, siswa akan berpartisipasi atau

berinteraksi dengan aktif karena harus memberi respon terhadap

pertanyaan dan latihan yang disusun, siswa dapat segera

mengetahui apakah jawabannya benar atau salah.

3) Menampilkan obyek yang selalu besar yang tidak memungkinkan

untuk dibawa kedalam kelas, misalnya: gunung, sungai, masjid,

ka’bah. Obyek-obyek tersebut dapat ditampilkan melalui foto,

gambar dan film.

4) Memberikan pengalaman yang nyata dan dapat menumbuhkan

kegiatan berusaha pada setiap siswa.

5) Meletakkan dasar-dasar yang konkret dari konsep yang abstrak

sehingga dapat mengurangi kepahaman yang bersifat verbalisme.

Misalnya, untuk menjelaskan bagaimana system peredaran darah

pada manusia, maka digunakanlah film.36

Adapun kekurangan-kekurangan yang dapat ditampilkan pada media

audio-visual ini adalah:

36
Ibid, hal. 156
1) Kecepatan merekam dan pengaturan trek yang bermacam-macam

menimbulkan kesulitan untuk memainkan kembali rekaman yang

direkam pada suatu mesin perekam yang berbeda dengannya.

2) Film dan video yang tersedia selalu sesuai dengan kebutuhan

tujuan belajar yang diinginkan kecuali film dan video itu dirancang

dan diproduksi khusus untuk kebutuhan sendiri.

3) Pengadaan film dan video umumnya memerlukan biaya yang

mahal dan waktu yang banyak.

4) Kekhawatiran muncul bahwa siswa tidak memiliki hubungan

pribadi dengan guru, dan siswa bisa jadi bersikap pasif selama

penayangannya.

5) Program yang tersedia saat ini belum memperhitungkan kreativitas

siswa, sehingga hal tersebut tentu tidak dapat mengembangkan

kreativitas siswa.

6) Media ini hanya akan mampu melayani secara baik bagi mereka

yang sudah mempunyai kemampuan dalam berfikir abstrak.37

e. Film dan Video

Film atau gambar hidup merupakan gambar-gambar dalam Frame

dimana frame demi frame diproyeksikan melalui lensa proyektor secara

mekanis sehingga pada layar terlihat gambar itu hidup. Film bergerak dengan

cepat dan bergantian sehingga memberikan visual yang kontinu. Sama halnya

dengan film, video dapat menggambarkan suatu obyek yang bergerak

bersama-sama dengan suara alamiah atau suara yang sesuai. Kemampuan film

37
Nana Sudjana dan Ahmad Rival, Media Pengajaran (Penggunaan dan Pembuatan), (Bandung: Sinar
Baru, 1991), hal. 131
dan video melukiskan gambaran hidup dan suara memberikannya daya tarik

tersendiri. Kedua jenis media ini pada umumnya digunakan untuk tujuan-

tujuan hiburan, dokumentasi, dan pendidikan.

f. Kelebihan Film dan Video

1) Film dan video dapat melengkapi pengalaman-pengalaman dasar

dari siswa ketika mereka membaca, berdiskusi, berpraktik, dll.

Film merupakan pengganti alam sekitar dan bahkan dapat

menunjukkan objek yang secara normal tidak dapat dilihat, seperti

cara kerja jantung ketika berdenyut.

2) Film dan video dapat menggambarkan suatu proses secara tepat

menggambarkan suatu proses secara tepat yang dapat disaksikan

secara berulang-ulang jika dirasa perlu. Misalnya, langkah-langkah

cara berwudhu yang benar.

3) Disamping mendorong dan meningkatkan motivasi, film dan video

menanamkan sikap dan segi-segi afektif lainnya. Misalnya, film

kesehatan yang menyajikan proses berbangkitnya penyakit diare

yang dapat membuat siswa sadar terhadap pentingnya kebersihan

makanan dan lingkungan.

4) Film dan video yang mendukung nilai-nilai positif dapat

mengundang pikiran dan pembahasan dalam kelompok siswa.

Bahkan, film dan video, seperti slogan yang sering di dengar, dapat

membawa dunia didalam kelas.


5) Film dan video dapat menyajikan peristiwa yang berbahaya bila

dilihat secara langsung seperti lahar gunung berapai atau perilaku

binatang buas.

6) Film dan video dapat ditunjukkan kepada kelompok besat ataupun

kelompok kecil, kelompok yang heterogen maupun yang

perorangan.

7) Dengan kemampuan dan teknik pengambilan gambar frame dan

frame, film yang dalam waktu normal memakan waktu satu

minggu dapat ditampilkan dalam satu atau dua menit saja.

Misalnya, proses kejadian mekarnya kembang mulai dari kuncup

bunga hingga kuncup itu mekar.

g. Kelemahan Film dan Video

1) Pengadaan film dan video pada umumnya memerlukan biaya

mahal dan waktu yang banyak.

2) Pada saat film dipertunjukkan, gambar-gambar bergerak terus

sehingga tidak semua siswa mampu mengikuti informasi yang

ingin disampaikan melalui film tersebut.

3) Film dan video yang tersedia tidak selalu sesuai dengan kebutuhan

dan tujuan yang diinginkan kecuali film dan video itu dirancang

dan diproduksi khusus untuk kebutuhan sendiri.38

38
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008), hal. 49-50
3. Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam MI

SKI merupakan mata pelajaran yang mengembangkan ilmu pengetahuan

agama, pengetahuan umum, dan sosial-budaya dalam islam. Pelajaran SKI yang

diajarkan di Madrasah berfungsi sebagai ilmu pengetahuan umum, agama Islam

dan ilmu pengetahuan sosial-budaya, disamping sebagai tuntunan teladan

berkhlaqul karimah dari ajaran yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu,

pelajaran SKI di Madrasah Ibtidaiyah tidak terpisahkan dari bidang-bidang studi

(mata pelajaran) lain yang diajarkan pada Madrasah Ibtidaiyah.

Pembelajaran merupakan interaksi antara subjek belajar dengan sumber

belajar pada suatu lingkungan belajar yang secara sengaja direncanakan atau

dibuat untuk mencapai tujuan tertentu.

Pembelajaran menurut Trianto “Pembelajaran merupakan aspek kegiatan

manusia yang kompleks, yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan”. 39 Sedangkan

pembelajaran menurut Syaiful Sagala adalah “membelajarkan siswa menggunakan

asas pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu utama

keberhasilan pendidikan.40 Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah.

Mengajar dilakukan pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar oleh peserta

didik. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003

menyatakan pembelajaran adalah “proses interaksi peserta didik dengan pendidik

dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”. Pemeblajaran sebagai proses

belajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreatifitas berpikir yang

dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa, serta dapat meningkatkan

kemampuan mengkontruksikan pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan

penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran.

39
Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (Jakarta: Kecana, 2009), hal. 17
40
Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2010), hal. 61
4. Motivasi Belajar

a. Pengertian Motivasi

Istilah motivasi berasal dari bahasa latin movere yang bermakna bergerak,

istilah ini bermakna mendorong, mengarahkantingkah laku manusi. 41 Motif adalah

keadaan dalam pribadi orang yang mendorong individu untuk melakukan aktifitas-

aktifitas tertentu guna mencapai suatu tujuan.42 Maka akan timbul sebuah

kekuatan yang menjadi pendorong kegiatan individu yang menu jukan suatu

kondisi dalam diri individu yang mendorong atau menggerakan individu tersebut

melakukan kegiatan mencapai tujuan.43 Jadai, Motivasi belajar merupakan

kekuatan (power motivation), daya pendorong (driving force), atau alat

pembangun kesediaan dan keinginan yang kuat dalam diri peserta didik untuk

belajar secara aktif, kreatif, efektif, inovatif, dan menyenangkan dalam rangka

perubahan perilaku baik dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotor.

Menurut [Link], motivasi is an energy change within the person

characterized by affective arousal and anticipatory goal reaction. Tetapi menurut

Clayton Aldelfer “motivasi belajar adalah kecenderungan siswa dalam melakuka

kegiatan belajar yang didorong oleh hasrat untuk mencapai prestasi hasil belajar

sebaik mungkin”. Menurut Abraham Maslow “motivasi belajar merupakan

kebutuhan untuk mengembangkan kemampuan diri secara optimum, sehingga

mampu berbuat yang lebih baik, berprestasi dan kreatif”.44 Meskipun para ahli

mendefinisikannya dengan cara dan gaya yang berbeda, namun esensinya menuju

41
Iskandar, Psikologi Pendidikan, (Jakarta selatan, referensi,2012), hal. 180
42
Suryabrata, Psikologi Pendidikan, ( Jakarta : Rajagrafindo Persada, 2003), hal. 70
43
Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung : Remaja Rosda karya,
2009) hal. 60
44
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengaja, (Bandung: Bumi Aksara,2001), hal. 158
kepada maksud yang sama, ialah bahwa motivasi itu merupakan: (1) Suatu

kekuatan (power) atau tenaga (forces) atau daya (energy).

b. Komponen-Komponen Motivasi

Motivasi memiliki dua komponen yakni komponen dalam dan komponen luar.

Komponen dalam adalah perubahan dari dalam diri seseorang, keadaan tidak puas

dan ketegangan psikologis. Komponen luar adalah apa yang diinginkan seseorang.

Tujuan yang menjadi arah kelakuannya. Jadi komponen dalam adalah kebutuhan-

kebutuhan yang ingin dipuaskan. Sedangkan komponen luar ialah tujuan yang

hendak dicapai.45

c. Fungsi Motivasi

Beberapa fungsi motivasi sebagai berikut : (a) Motivasi merupakan alat

pendorong terjadinya perilaku belajar peserta didik. (b) Motivasi merupakan alat

untuk mempengaruhi prestasi belajar peserta didik. (c) Motivasi merupakan alat

untuk memberikan direksi terhadap pencapaian tujuan pembelajaran. (d) Motivasi

merupakan alat untuk membangun sitem pembelajaran lebih bermakna.

d. Macam-Macam Motivasi

Motivasi belajar dibedakan dalam dua jenis, yaitu motivasi yang timbul dari

dalam diri individu atau motivasi intrinsik, dan motivasi yang timbul dari luar diri

individu atau motivasi ekstrinsik.

1) Motivasi intrinsik

Motivasi intrinsik adalah motif yang timbul tanpa adanya rangsangan

dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada motif atau dorongan

untuk melakukan sesuatu.46

45
Ibid, hal. 159
46
Noer Rohmah, Psikologi Pendidikan.(Yogyakarta: Kalimedia, 2015), hal. 254
Peserta didik yang mempunyai motivasi intrinsik akan memiliki tujuan

untuk menjadi orang yang terdidik, berpengetahuan, dan lain-lain. Jalan atau

cara untuk mewujudkan tujuan yang telah ditentukan itu ialah belajar, tanpa

dengan belajar tidak mungkin akan tercapai semua tujuan yang diharapkan.

Kepribadian peserta didik juga merupakan salah sati motivasi intrinsik.

Sifat dan kepribadian yang dimiliki masing-masing peserta didik akan

mempengaruhi terhadap pencapaian hasil belajar peserta didik. Masing-

masing peserta didik mempunyai perbedaan kemampuan yang mana hal ini

merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar.

2) Motivasi ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik adalah motif yang berfungsi jika ada rangsangan

dari luar diri individu.47 Rangsangan yang dimaksud adalah dorongan yang

datang dari orangtua, guru, teman-teman. Dorongan dari luar ini bisa juga

karena berupa hadiah, pujian, penghargaan dan juga hukuman.

Sebagai contoh seseorang belajar, karena besok pagi akan ada ujian ia

belajar dengan harapan agar mendapatkan nilai yang bagus, sehingga

nantinya akan mendapatkan pujian ataupun hadiah, dan lain-lain.

Motivasi ekstrinsik ini sangat penting dalam kaitannya dengan

kegiatan belajar mengajar. Dalam belajar tidak hanya memperhatikan kondisi

internal peserta didik, namun harus diperhatikan juga aspek eksternar seperti

aspek sosial yang meliputi lingkungan keluarga, sekolah, teman, masyarakat,

budaya, dan adat istiadat.48

Ada beberapa macam motivasi yang berkaitan dengan belajar yang dikemukakan

oleh herman hodojo, antara lain:


47
Ibid, hal. 255
48
Muhammad fathurrohman dan Sulistyorini, Belajar dan Pembelajaran Membantu Meningkatkan Mutu
Pembelajaran Sesuai Standar Nasional. (Yogyakarta: Teras, 2012), hal. 149
1) Kehendak : kemauan untuk mencari suatu tujuan yang khusus. Misalnya

peserta didik ingin menyelesaikan soal yang terdapat didalam buku teks.

Tingkah lakunya diarahkan untuk mencapai tujuan tersebut, sehingga

kehendaknya menggerakkan pencapaian tujuan itu.

2) Minat : macam motivasi ini sering dikaitkan dengan tingkah laku berikut.

Seseorang ingin sesuatu yang lebih banyak, orang itu secara suka rela

mencarinya dan bahkan mengulanginya ia tetap seperti itu untuk suatu

periode waktu dan mungkin ia memberikan rekonmendasi kepada orang lain.

3) Sikap : macam motivasi ini biasanya digunakan untuk mengacu pada suatu

gagasan yang berkaitan dengan emosi.

4) Penghargaan diri : tingkah laku pribadi kebanyakan terbawa oleh perasaan

harga diri. Sesorang mempertahankan harga dirinya dan ia cenderung tidak

berbuat yang merendahkan hargadirinya.

Macam-macam motivasi yang dikemukakan diatas saling mempengaruhi.49

e. Ciri-Ciri Motivasi Belajar

Marx dan Tombuch dalam buku Riduwan mengumpamakan motivasi

sebagai bahan bakar dalam beroprasinya mesin gasoline.50 Tidaklah menjadi

berarti betapapun baiknya potensi anak meliputi kemampuan intelekstual atau

bakat mahasiswa dan materi yang akan diajarkan serta lengkapnya sarana belajar,

namun bila mahasiswa tidak termotivasi dalam belajarnya, maka kegiatan

belajarpun tidak akan berlangsung optimal.

Prayitno menyatakan tentang indikator-indikator dalam motivasi belajar

yaitu sebagai berikut:51

49
Herman Hujojo, Strategi Mengajar Belajar, (Malang : Penerbit IKIP Malang, 1990), hal. 98
50
Riduan, Belajar Mudah Penelitian untuk Guru, Karyawan dan Peneliti Pemula, (Bandung: Alfabeta,
2005), hlm. 31
51
Ibid, hal 35
a. Ketekunan dalam belajar

b. Ulet dalam menghadapi kesulitan

c. Minat dan ketajaman perhatian dalam belajar

d. Berprestasi dalam belajar

e. Mandiri dalam belajar

Apabila seseorang memilki ciri-ciri di atas, berarti seseorang memiliki

motivasi yang kuat. Ciri-ciri motivasi tersebut sangat penting dalam kegiatan

belajar. Kegiatan belajar akan berhasil baik, jika siswa tekun mengerjakan

tugasnya, ulet dalam memecahkan berbagai masalah - masalah dan hambatan

secara mandiri.

f. Cara Membangkitkan Motivasi

Motivasi merupakan salah satu aspek utama dalam keberhasilan belajar.

Oleh karena itu, motivasi belajar dapat dipelajari supaya dapat tumbuh dan

berkembang. Berikut ini cara untuk membangkitkan motivasi belajar : (a) Peserta

didik memperoleh pemahaman (comprehension) yang jelas mengenai proses

pembelajaran. (b) Peserta didik memperoleh kesadaran diri (self consciousness)

terhadap pembelajaran. (c) Menyesuaikan tujuan pembelajaran dengan kebutuhan

peserta didik secara link and mach. (d) Memberi sentuhan lembut. (e)

Memberikan hadiah. (f) Memberi pujian dan penghormatan. (g) Peserta didik

mengetahui prestasi belajarnya. (h) Adanya iklim belajar yang kompetitif secara

sehat . (i) Belajar menggunakan multimedia. (j) Belajar menggunakan

multimetode. (k) Guru yang kompeten dan humoris. (l) Suasana lingkungan

sekolah yang sehat

5. Hasil Belajar
a. Pengertian Belajar

Belajar merupakan suatu proses yang dilakukan seseorang untuk

memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai

hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.52

Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses

perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dari

lingkungannya dalam menentukan kebutuhan hidupnya. Perubahan-peruban

tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Menurut M. Sobry

Sutikno, dalam bukunya menuju pendidikan bermutu mengartikan:

Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk

memperoleh suatu perubahan yang baru sebagai haril pengalamannya sendiri dan

interaksi dengan lingkungannya.53 Definisi-definisi lain ada beberapa pengertian

lain yang cukup banyak, baik yang dilihat secara mikro maupun secara makro

dilihat dalam arti luar ataupun terbatas/kusus. Dalam apengertian luas, belajar

dapat diartikan sebagai psiko fisik menuju perkembangan pribadi seutuhnya.

Kemudian dalam arti sempit, belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan

materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju

terbentuknya kepribadian seutuhya.54

Belajar adalah kegiatan berproses yang merupakan unsur yang sangat

fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjeng pendidikan. Ini

berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat

bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada

52
Slameto, Belajar Dan Faktor-Faktor Mempengaruhinya (Jakarta : Rineka Cipta, 2010) hal. 2
53
Pupuh fathurrohman, [Link] Sutikno, Strategi Belajar Mengajar Melalui Penanaman Konsep Umum
Dan Konsep Islami, (Bandung : Refika Aditama,2010), hal. 5
54
Sardiman, Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar…., hal. 20
disekolah maupun dilingkungan rumah atau keluarganya sendiri. 55 Dengan

demikian belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang dengan

serangkaian kegiatan dalam mencapai perubahan tingkah laku, pengetahuan,

kepribadian, keterampilan yang diakibatkan oleh terjadinya interaksi antara

seseorang dengan seseorang, seseorang dengan kelompok dan seseorang dengan

lingkungannya sebagai hasil dari pengalaman.

b. Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan gambaran tentang apa yang harus digali,

dipahami dan dikerjakan peserta didik. Hasil belajar meliputi aspek pembentukan

watak peserta didik. Peran peserta didik adalah bertindak belajar, yaitu

mengalami proses belajar, dan menggunakan hasil belajar yang digolongkan

sebagai dampak penggiring.

Menurut Syaiful, hasil belajar adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah

dikerjakan, diciptakan, baik secara individual maupun kelompok, sebagai hasil

dari kegiatan belajar. Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar

adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan

dalam diri individu sebagai hasil aktifitas dari mengajar. 56

c. Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Kemampuan belajar peserta didik sangat menenentukan keberhasilan

dalam proses belajar. Didalam proses belajar tersebut banya faktor yang

mempengaruhinya antara lain motivasi, sikap, minat, kebiasaan belajar dan

konsep diri. Berhasil tidaknya seseorang dalam belajar disebabkan oleh beberapa

55
Zikri Neni Iska, Psikologi Pengantar Pemahaman Diri dan Lingkungan, (Jakarta: Kisi Brother’s,
2006), hal. 76
56
Indah Komsiyah, Belajar dan …., hal. 91
faktor yang mempengaruhi pencapaian hasil belajar yaitu berasal dari dalam dirib

orang yang belajar da nada pula yang dari luar dirinya.57

Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar terbagi

kedalam factor internal dan eksternal. Faktor Internal adalah faktor yang timbul

dari dalam diri anak itu sendiri seperti: kesehatan, rasa aman, kemampuan, minat

dan lain sebagainya. Faktor ini dapat dibagi menjadi dua yaitu: (1) Faktor

Jasmani (fisiologi), yaitu yang berhubungan dengan keadaan jasmani anak,

misalnya keshatan, cacat tubuh, (2) Faktor Psikologi (Rohani).

Sedangkan faktor eksternal dapat dipahami sebagai unsur-unsur yang

terdapat disekitar subyek yang seperti dikategorikan pada masalah ini. Dapat

dikelompokan menjadi tiga faktor yaitu: (1) faktor sosial yang terdiri dari:

lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat dan lingkungan

kelompok. (2) Faktor budaya seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi

dan kesenian. (3) Faktor lingkungan fisik seperti fasilitas rumah, fasilitas belajar

dan iklim.58

d. Pengukuran Hasil Belajar

i. Pengukuran ranah kognitif

Ranah kognitif ini merupakan ranah yang lebih banyak melibatkan kegiatan

mental. Pada ranah ini terdapat enam jenjang berpikir mulai dari yang tingkat

rendah sampai tinggi, yakni: (1) pengetahuan/ingatan (knowledge), (2)

pengetahuan (comprehension), (3) penerapan (application), (4) analisis

(analysis), (5) sintesis (synthesis), (6) evaluasi (evaluation)

ii. Pengukuran ranah afektif

57
M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), hal. 55
58
Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hal. 130
Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Beberapa ahli mengatakan

bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya, bila seseorang

memiliki penguasaan kognitif tingkat [Link] belajar hasil afektif tampak

pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap

pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas,

kebiasaan belajar dan hubungan sosial.

Pengukuran ranah afektif tidak semudah mengukur ranah

[Link] ranah afektif tidak dapat dilakukan setiap saat karena

perubahan tingkah laku siswa tidak dapat berubah sewaktu waktu. Pengubahan

sikap seseorang memerlukan waktu yang relatif lama, demikian juga

pengembangan minat dan penghargaan serta nilai-nilai. Ranah afektif yang

dirinci oleh Kathwohl dkk dalam Sofyan, menjadi lima jenjang yakni: (1)

perhatian atau penerimaan (receiving), (2) tanggapan (responding), (3)

penilaian atau penghargaan (valuing), (4) pengorganisasian (organization) dan

(5) karakterisasi terhadap suatu atau beberapa nilai (characterization by a

value or vale complex). 59

Sehubungan dengan tujuan penilaiannya ini maka yang menjadi

sasaran penilaian kawasan afektif adalah perilaku anak didik, bukan

pengetahuannya. Pertanyaan afektif tidak menuntut jawaban benar atau salah,

tetapi jawaban yang khusus tentang dirinya mengenai minat, sikap dan

internalisasi nilai.

iii. Pengukuran Ranah Psikomotorik

59
Ahmad Sofyan, Evaluasi Pembelajaran Berbasis Kompetensi, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), hal.
15
Pengukuran ranah psikomotor dilakukan terhadap hasil-hasil belajar

yang berupa penampilan. Namun demikian biasanya pengukuran ranah ini

disatukan atau dimulai dengan pengukuran ranah kognitif sekaligus. Hasil

belajar ini merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau

kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar

tertentu. Hasil belajar psikomotor merupakan kelanjutan dari hasil belajar

kognitif dan afektif, akan tampak setelah siswa menunjukkan perilaku atau

perbuatan tertentu sesuai dengan makna yang terkandung pada kedua ranah

tersebut dalam kehidupan siswa sehari-hari.60Proses belajar dan mengajar

yang ada di sekolah saat ini, tipe belajar yang memiliki hasil belajar kognitif

lebih dominan jika dibandingkan dengan tipe hasil belajar bidang afektif dan

psikomotor. Sekalipun demikian tidak berarti bidang afektif dan psikomotor

diabaikan sehingga tidak perlu lagi diberikan penilaian. Tipe hasil belajar

ranah psikomotor berkenaan dengan keterampilan atau kemampuan bertindak

setelah ia menerima pengalaman belajar tertentu. Hasil belajar ini sebenarnya

tahap lanjutan dari hasil belajar afektif yang baru tampak dalam

kecenderungan untuk berperilaku.

6. Pengaruh Penggunaan Media Audio Visual Terhadap Motivasi dan Hasil

Belajar Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam

Secara umum, semua mata pelajaran akan lebih efektif jika diajarkan dengan

media yang sesuai. Oleh karena itu, guru harus mengetahui terlebih dahulu materi

dan tujuan pemebelajaran. Audio-visual merupakan salah satu cara untuk

60
Ibid., hal. 23
membuat pembelajaran lebih dinamis dan menyenangkan. Adanya bahan ajar

yang cocok untuk dikembangkan dengan audio-visual.61

Materi sejarah kebudayaan islam yang bersifat pengetahuan, akan lebih

menarik jika dikembangkan dengan menggunakan media seperti sound slide, dan

menggunakan media film, sehingga memungkinkan siswa yang kurang dapat

menerima pembelajaran dengan hanya menggunakan indra pendengar, mampu

lebih memahami dengan adanya kombinasi gambar dan suara.

Berdasarkan perkembangan teknologi informasi yang semakin cepat, banyak

pemebelajaran yang sudah memanfaatkan media audio-visual, selain televise

adalah VCD, film yang digunakan dalam pemebelajaran. Sehingga diharapkan

siswa lebih menghayati dari apa yang disampaikan dan apa yang ia lihat dalam

film tersebut.

Untuk tujuan kognitif

Film dapat digunakan untuk:

a. Mengajarkan pengenalan kembali atau pembedaan stimulasi mulai gerak yang

relevan, seperti kecepatan objek yang bergerak, penyimpangan dalam gerakan,

dan sebagainnya. Dalam film dapat juga ditunjukkan serangkaian gambar

diam yang diiringi dengan audio.

b. Mengajarkan aturan dan prinsip. Film dapat juga menunjukkan deretan

ungkapan verbal, seperti pada gambar diam dan media cetak, tetapi tidak

ekonomis.

c. Memperlihatkan contoh model penampilan, terutama pada situasi yang

menunjukkan interaksi manusia.

Untuk tujuan psikomotor

61
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hal 61
Film digunakan untuk memperlihatkan contoh keterampilan gerak. Media ini

juga dapat memperjelas gerak dan memperlambat atau mempercepat,

mengajarkan cara menggunakan suatu alat, memanjat, berenang dan

sebagainnya. Selain itu, film juga dapat memberikan umpan balik “tertunda”

kepada siswa secara visual untuk menunjukkan tingkat kemampuan mereka

dalam mengerjakan keterampilan gerak, setelah beberapa waktu kemudian.

Untuk tujuan efektif

Film paling sesuai kalau digunakan untuk mempengaruhi sikap dan emosi,

yakni dengan menggunakan berbagai cara dan efek. Ia merupakan alat yang

cocok untuk memeragamkan efektif, baik melalui gambaran visual yang

berkaitan.62

7. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu atau penelitian pembanding yang akan peneliti paparkan adalah:

1. Penelitian Skripsi yang berjudul “Penggunaan Media Audio Visual Dalam

Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMKN 1

Bandung Kabupaten Tulungagung Tahun Ajaran 2014-2015”. Skripsi tersebut

disusun oleh Fuad Hermansyah (3211113075). Metode pengumpulan datanya

menggunakan metode observasi, wawancara dan metode dokumentasi. Jenis

penelitiannya adalah korelasi (correlation research). Adapun hasil dari penelitian

tersebut adalah:

62
Ronald H. Anderson, Pemilihan dan Pengembangan Media Untuk Pembelajaran, hal. 116-117
a. Adanya pengaruh yang signifikan dari penggunaan audio visual dalam

meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

b. Adanya hubungan antara penggunaan audio visual dalam meningkatkan

kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam, dengan rata-rata kelas

eksperimen adalah 68,25 dan rata-rata kelas kontrol adalah 60,75.63

2. Dari penelitian Setyowati. 2007. “Pengaruh Motivasi Belajar Terhadap Hasil

Belajar Siswa Kelas VII SMPN 13 Semarang”. Program Studi Pendidikan

Administrasi Perkantoran. Jurusan Manajemen. Fakultas Ekonomi. Universitas

Negeri Semarang.

a. Secara nyata motivasi belajar berpengaruh secara signifikan terhadap hasil

belajar siswa kelas VII SMPN 13 Semarang, terbukti dengan adanya

pengambilan data dengan cara observasi, dokumentasi, angket yang kemudian

diolah dengan cara silmultan.

b. Bersarnya pengaruh motivasi belajar terhadap hasil belajar siswa kelas VII

SMPN 13 Semarang sebesar 29,766 sedangkan sisanya sebesar 70,234

dipengaruhi oleh factor-faktor lain. Faktor-faktor tersebut tidak diteliti oleh

peneliti memberikan kesempatan kepada peneliti-peneliti lain untuk

menelitinya.64

3. Penelitian Skripsi yang berjudul “Hubungan Antara Pengetahuan Awal (nilai UN)

dan Motivasi Belajar Siswa Terhadap Prestasi Belajar Matematika Pada Siswa

Kelas VIII SMPN 1 Ngunut Tulungagung”. Skripsi tersebut disusun oleh Nurul

Hidayah (3214073055). Metode pengumpulan datanya menggunakan metode

63
Fuad Hermansyah, Penggunaan Media Audio Visual Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam di SMKN 1 Bandung Kabupaten Tulungagung Tahun Ajaran 2014-2015, (IAIN
Tulungagung, 2015).
64
Setyowati, Pengaruh Motivasi Belajar Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VII SMPN 13 Semarang,
(Universitas Negeri Semarang, 2007).
dokumentasi dan metode angket. Jenis penelitiannya adalah penelitian korelasi

(correlation research). Adapun hasil dari penelitian tersebut adalah:

a. Adanya pengaruh yang signifikan dari pengetahuan awal dan motivasi belajar

siswa terhadap prestasi belajar matematika dengan konstribusi sebesar 0,397.

b. Adanya hubungan antara pengetahuan awal dan motivasi belajar siswa

terhadap prestasi belajar matematika dengan konstribusi sebesar 0,227.

c. Dalam penelitian ini ada tiga instrument yang dignakan untuk memperoleh

data: Tes intelegensi yaitu CFIT skala 3, yang digunakan untuk menjaring

siswa yang memiliki intelegensi diatas.65

4. Penelitian ini ditulis oleh Puguh Prasetyo dengan judul “Pengaruh Persepsi Siswa

Tentang Kinerja Guru dan Kompetensi Guru Terhadap Prestasi Belajar

Akuntansi Keuangan Siswa Kelas XII Program Keahlian Akuntansi SMKN 1

Juwiring Klaten Tahun Ajaran 2010/2011”, pertanyaan penelitian dalan penelitian

ini adalah:

a. Bagaimana persepsi siswa tentang kinerja guru terhadap Prestasi Belajar

Akuntansi Keuangan Siswa?

b. Bagaimana Persepsi Siswa tentang kompetensi guru Terhadap Prestasi Belajar

Akuntansi Keuangan Siswa?

c. Bagaimana Persepsi Siswa tentang Kinerja Guru dan kompetensi guru

Terhadap Prestasi Belajar Akuntansi Keuangan Siswa?

Hasilnya menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara

Persepsi Siswa tentang Kinerja Guru terhadap Prestasi Belajar Akuntasi siswa

kelas XI Program Keahlian Akuntansi SMKN 1 Juwiring Klaten dengan r

hitung sebesar 0,411; koefisien determinan (r2) sebesar 0,169; hitung sebesar
65
Nuruh Hidayat, Hubungan Antara Pengetahuan Awal (nilai UN) dan Motivasi Belajar Siswa
Terhadap Prestasi Belajar Matematika Pada Siswa Kelas VIII SMPN 1 Ngunut Tulungagung, (IAIN
Tulungagung, 2014)
2,519, serta p-value sebesar 0,000. Posisi peneliti dalam penelitian yang ditulis

oleh Puguh Prasetyo ini adalah: persamaan, sama-sama mengukur variable

tentang Persepsi Siswa Tentang Kinerja Gurudan kompetensi, sedangkan

perbedaan dalam penelitian yang dilakukan oleh Puguh Prasetyo adalah subjek

dan tahun penelitian.66

5. Penelitian Skripsi yang berjudul “Hubungan Antara Motivasi Belajar dengan

Prestasi Belajar Siswa Kelas XI Bidang Studi Sejarah Kebudayaan Islam di MAN

Rejotangan Tahun 2013/2014”. Skripsi tersebut disusun oleh Lutfi Safitri

(05110160). Metode pengumpulan datanya menggunakan metode dokumentasi

dan metode angket. Jenis penelitiannya adalah penelitian korelasi (correlation

research). Adapun hasil dari penelitian tersebut adalah:

Hasilnya menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan

hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa kelas XI bidang

studi sejarah kebudayaan islam MAN Rejotangan tahun 2013/2014, diperoleh

koefisien korelasi product moment untuk motivasi intrinsic sebesar 0,998 dan

motivasi intrinsic sebesar 0,997 sedangkan untuk koefisien dari korelasi ganda

(variable motivasi belajar) sebesar 0,999 dan hasil ini lebih besar pada taraf 1%

maupun 5% sehingga dapat disimpulkan adanya hubungan yang positif dan

signifikan antara motivasi belajar dengan prestasi.67

Tabel 2.1
Kajian Penelitian Terdahulu
No Judul Penelitian Hasil Penelitian Persamaan Perbedaan
Penelitian Penelitian
1. Fuad Hermansyah Adanya Jenis Dalam

66
Puguh Prasetyo, Pengaruh Persepsi Siswa Tentang Kinerja Guru dan Kompetensi Guru Terhadap
Prestasi Belajar Akuntansi Keuangan Siswa Kelas XII Program Keahlian Akuntansi SMKN 1 Juwiring Klaten
Tahun Ajaran 2010/2011,(UNY 2011).
67
Lutfi Safitri, Hubungan Antara Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas XI Bidang Studi
Sejarah Kebudayaan Islam di MAN Rejotangan Tahun Ajaran 2014/2015, (IAIN Tulungagung, 2015).
(3211113075): pengaruh yang penelitiannya penelitian ini
Penggunaan media signifikan dari kuantitatif terdapat dua
audio-visual Dalam penggunaan variable.
Meningkatkan Kualitas media audio-
Pembelajaran Pendidikan visual dalam
Agama Islam di SMKN 1 meningkatkan
Bandung Kabupaten kualitas
Tulungagung Tahun pembelajaran
Ajaran 2014-2015, Jenis Pendidikan
penelitiannya adalah Agama Islam .
korelasi (correlation
research).
2. Setyowati. 2007: Secara nyata Jenis Dalam
Pengaruh Motivasi motivasi belajar penelitiannya penelitian ini
Belajar Terhadap Hasil berpengaruh kuantitatif terdapat dua
Belajar Siswa Kelas VII secara signifikan variable.
SMPN 13 Semarang”. terhadap hasil
Program Studi belajar siswa
Pendidikan Administrasi kelas VII SMPN
Perkantoran. Jurusan 13 Semarang,
Manajemen. Fakultas terbukti dengan
Ekonomi. Universitas adanya
Negeri Semarang. pengambilan
data dengan cara
observasi,
dokumentasi,
angket yang
kemudian diolah
dengan cara
silmultan.
3. Nurul Hidayah Dalam Jenis Dalam
(3214073055): penelitian ini penelitiannya penelitian ini
Hubungan Antara terdapat tiga kuantitatif terdapat tiga
Pengetahuan Awal (nilai instrument yang variable.
UN) dan Motivasi digunakan untuk
Belajar Siswa Terhadap memperoleh
Prestasi Belajar data: Tes
Matematika Pada Siswa intelegensi yaitu
Kelas VIII SMPN 1 CFIT skala 3,
Ngunut Tulungagung. yang digunakan
Metode pengumpulan untuk menjaring
datanya menggunakan siswa yang
metode dokumentasi dan memiliki
metode angket. Jenis intelegensi
penelitiannya adalah diatas.
penelitian korelasi
(correlation research).
4. Pengaruh Persepsi Siswa Hasilnya Jenis sama-sama
Tentang Kinerja Guru menyatakan penelitiannya mengukur
dan Kompetensi Guru bahwa terdapat kuantitatif, variable tentang
Terhadap Prestasi Belajar pengaruh positif sama-sama Persepsi Siswa
Akuntansi Keuangan dan signifikan mengukur Tentang Kinerja
Siswa Kelas XII Program antara Persepsi variable tentang Gurudan
Keahlian Akuntansi Siswa tentang Prestasi Belajar. kompetensi,
SMKN 1 Juwiring Klaten Kinerja Guru terdapat tiga
Tahun Ajaran 2010/2011. terhadap variable.
Prestasi Belajar
Akuntasi siswa
kelas XI
Program
Keahlian
Akuntansi
SMKN 1
Juwiring Klaten
dengan r hitung
sebesar 0,411;
koefisien
determinan (r2)
sebesar 0,169;
hitung sebesar
2,519, serta p-
value sebesar
0,000.
5. Pengaruh Persepsi Siswa Hasilnya Jenis Metode
Tentang Kinerja Guru menyatakan penelitiannya pengumpulan
dan Kompetensi Guru bahwa terdapat kuantitatif. datanya
Terhadap Prestasi Belajar pengaruh positif menggunakan
Akuntansi Keuangan dan signifikan metode
Siswa Kelas XII Program hubungan antara dokumentasi
Keahlian Akuntansi motivasi belajar dan metode
SMKN 1 Juwiring Klaten dengan prestasi angket
Tahun Ajaran 2010/2011. belajar siswa
kelas XI bidang
studi sejarah
kebudayaan
islam MAN
Rejotangan
tahun
2013/2014.

8. Kerangka Penelitian

Kerangka penelitian sama dengan dengan kerangka berfikir. Kerangka berfikir

merupakan kesimpulan untuk mengetahui adanya hubungan variabel-variabel yang ada

dalam penelitian. Menurut Sugiyono kerangka berpikir adalah sintesa tentang hubungan

antara variabel yang disusun dari berbagai teori yang telah dideskripsikan.68 Seperti

yang telah diungkapkan dalam landasan teori penelitian ini meyakinkan bahwa variabel

68
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D,,,. Hal. 60
bebas (media audio-visual) dan memiliki pengaruh positif terhadap variabel terikat

(motivasi dan hasil belajar siswa).

Disekolah siswa hanya mengenal metode ceramah, tanya jawab dan mediannya

hanya buku, papan tulis dan gambar disekitar dalam pembelajaran di kelasnya. Akan

tetapi, kadang-kadang ada variasi media belajar yang digunakan guru dalam

pembelajaran. Dengan pembelajaran seperti itu siswa sudah merasa terbiasa dan merasa

bosan dalam mengikuti pembelajaran. Hal seperti itu akan berdampak pada hasil belajar

yang kurang maksimal sehingga tujuan yang ingin dicapai siswa dalam pembelajaran

belum bisa terpenuhi.

Dengan semangat yang tinggi siswa cenderung ingin selalu belajar lebih giat

sehingga akan mendapatkan nilai yang memuaskan/ yang diinginkan. Disini motivasi

belajar dikaitkan dengan hasil belajar. Motivasi merupakan daya pendorong atau alat

pembangun kesediaan dan keinginan yang kuat dalam diri peserta didik untuk belajar

dalam rangka perubahan perilaku baik. Kerangka berfikir dari penelitian ini seperti

pada bagan berikut:

Media audio- Motivasi Motivas dan


visual Belajar Hasil
Belajar
Hasil
Belajar

Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran


9. Hipotesis Penelitian

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah, karena

sifatnya yang sementara, maka perlu dibuktikan kebenarannya melalui data empirik.69

Hipotesis menunjukkan hubungan yang terjadi antar variable dalam suatu penelitian.

Ada tiga jenis hipotesis yang digunakan dalam penelitian, yaitu:

a. Ada pengaruh yang signifikan media audio-visual terhadap motivasi peserta

didik MI MIFTAHUN NAJAH SELOPURO BLITAR

b. Ada pengaruh yang signifikan media audio-visual terhadap hasil peserta didik MI

MIFTAHUN NAJAH SELOPURO BLITAR.

c. Ada pengaruh yang signifikan media audio-visual belajar terhadap motivasi dan

hasil belajar peserta didik MI MIFTAHUN NAJAH SELOPURO BLITAR.

69
Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis, (Bandung: Alfabeta, 2010), hal. 306

Anda mungkin juga menyukai