BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Media Pembelajaran
a. Pengertian Media Pembelajaran
kata media merupakan bentuk jamak dari medium yang berarti
perantara, sedangkan menurut istilah adalah wahana pengantar pesan. Media
merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang
pikiran, perasaan, dan kemauan audien (siswa) sehingga dapat mendorong
terjadinya proses belajar pada dirinya. Penggunaan media secara kreatif akan
memungkinkan audien (siswa) untuk belajar lebih baik dan dapat
meningkatkan individu mereka sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.1
Sedangkan yang disebut media menurut pendapat dari para ahli yaitu:
1) Gagne menyatakan bahwa, media adalah berbagai jenis komponen
dalam lingkungan siswa, yang dapat merangsangnya untuk
belajar.2
2) Ahmad Rohani menyatakan bahwa media adalah segala sesuatu
yang dapat di indera yang berf0ungsi sebagai perantara, sarana,
alat untuk proses komunikasi.3
3) Media merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan
dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemampuan audien
sehingga dapat mendorong proses belajar pada dirinya.4
1
Aznawir, Basyaruddin Usman, Media Pembelajaran, (Jakarta: C0iputra Pers, 2002), hal.
2
Arif Sadirman, dkk, Media Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), hal. 3
3
Ahmad Rohani, Media Intruksional Eduktif, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), hal. 3
4
Azmawir, Basyaruddin Usman, Media Pembelajaran, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hal. 11
Beberapa definisi media diatas, maka dapat disimpulkan bahwa media
adalah segala sesuatu yang dapat dijadikan sebagai perantara untuk
menyampaikan pesan agar lebih bisa dipahami dan membangkitkan motivasi
dan minat belajar.
Setelah memahami apa yang disebut dengan madia, berikut
dikemukakan apa yang disebut dengan media pembelajaran menurut para ahli
yaitu:
1) Dalam Muhaimin, Martin dan Briggs memberikan batasan
mengenai media pembelajaran yaitu mencakup semua sumber
yang diperlukan untuk melakukan komunikasi sengan siswa.5
2) Sudarwan Danim menyatakan media pembelajaran merupakan
seperangkat alat bantu atau pelengkap yangdigunakan oleh guru
atau pendidik dalam rangka berkomunikasi dengan siswa atau
peserta didik.6
3) Ahmad Rohani menyatakan bahwa media pembelajaran adalah
sarana komunikasi dalam proses belajar mengajar yang berupa
perangkat keras maupun perangkat lunak untuk mencapai proses
dan hasil instruksional secara efektif dan efisien.7
4) Penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar
sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Alaq ayat 1-5 yang
berbunyi:
Artinya:
5
Muhaimin dkk, Strategi Belajar Mengajar, (Surabaya: Citra Media, 1996), hal. 91
6
Sudarwan Danim, Media Komunikasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), hal. 7
7
Ahmad Rohani, Media Instruksional…, hal. 4
“bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang
menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal
darah. Bacalah, dan Tuhan mullah yang Maha Pemurah, yang
mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajar
kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq 1-
5)8
Ayat tersebut membuktikan bahwa penggunaan media tidak hanya
diaplikasikan pada zaman sekarang melainkan sejak zaman Nabi Muhammad
SAW juga sudah diterapkan. Hal ini dapat kita lihat pada “bilqolam” dari ayat
diatas, yang artinya “dengan perantara kalam” maksud dari kata tersebut
adalah allah memerintahkan Nabi untuk mengajarkan manusia dengan
mnggunakan perantara kalam (baca-tulis), yang mana baca tulis adalah
termasuk salah satu media yang digunakan dalam pembelajaran.
Beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa media
pemeblajaran adalah segala sesuatu yang dapat dijadikan perantara yang dapat
membangkitkan minat siswa untuk belajar sehingga materi yang disampaikan
lebih mudah dipahami oleh siswa, dan sesuatu yang dapat digunakan untuk
merangsang pikiran dan membangkitkan semangat dalam diri siswa untuk
belajar.
Berdasarkan beberapa batasan tentang media pelajaran, maka dapat
dikemukakan ciri-ciri umum yang terkandung dalam media pengajaran, antara
lain:
1) Media pembelajaran memiliki pengertian non fisik yang dikenal
sebagai software (perangkat lunak), yaitu kandungan pesan yang
8
Tafsir Muyassar Jilid 4, (Jakarta: Qisthi Press, 2007), hal. 632
terdapat dalam perangkat keras yang ingin disampaikan kepada
siswa.
b. Pemilihan Media
Kriteria pemilihan media bersumber dari konsep bahwa media
merupakan bagian dari system instruksional secara keseluruhan. Untuk itu,
ada beberapa kriteria yang patut di perhatikan dalam memilih media.
1) Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Media dipilih
berdasarkan tujuan instruksional yang telah ditetpakan secar
umum mengacu kepada salah satu atau gabungan dari dua atau
tiga ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Tujuan ini dapat
digunakan dalam bentuk tugas yang harus dikerjakan/
dipertunjukkan oleh siswa, seperti menghafal, melakukan kegiatan
yang melibatkan kegiatan fisik tau pemakaina prinsip-prinsip
seperti sebab akibat, melakukan tugas yang melibatkan
pemahaman konsep-konsep atau hubungan-hubungan perubahan,
dan mengerjakan tugas-tugas yang melibatkan pikiran pada
tingkatan yang lebih tinggi.
2) Tepat untuk mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta, konsep,
prinsip, atau generalisasi. Media yang berbeda, misalnya film dan
grafik memerlukan symbol dan kode yang berbeda, dan oleh
karena itu memerlukan proses dan keterampilan yang berbeda
untuk memahaminya. Agar dapat membantu proses pembelajaran
secara efektif, media harus selaras dan sesuai dengan kebutuhan
tugas pembelajaran dan kemampuan mental siswa. Televise,
misalnya, tepat untuk mempertunjukkan proses dan transformasi
yang memerlukan manipulasi ruang dan waktu.
3) Praktis, luwes, dan bertahan. Jika tidak tersedia waktu, dana,
sumber daya lainnya untuk memproduksi, tidak pada dipaksakan.
Media yang mahal dan memakan waktu yang lama untuk
memproduksinya bukanlah jaminan sebagai media yang terbaik.
Kriteria ini menuntun para guru atau instruktur untuk memilih
media yang ada, mudah diperoleh, ataumudah dibuat sendiri oleh
guru. Media yang dipilih sebaiknya dapat digunakan dimanapun
dan kapanpun dengan peralatan yang tersedia di sekitarnya, serta
mudah dipindahkan dan dibawa kemana-mana.
4) Guru terampil menggunakannya. Ini merupakan salah satu kriteria
utama. Apa pun media itu, guru harus mampu menggunakanya
dalam proses pembelajaran. Nilai dan manfaat media amat
ditentukan oleh guru yang menggunakannya. Proyeksi
transparansi (OHP), proyektor slide dan film, computer, dan
peralatan canggih lainnya tidak akan mempunyai arti apa-apa jika
guru belum dapat menggunakannya dalam proses pembelajaran
sebagai upaya mempertinggi mutu dan hasil belajar.
5) Pengelompokkan sarana. Media yang efektif untuk kelompok
besar belum tentu sama efektifnya jika digunakan pada kelompok
kecil atau perorangan. Ada media yang tepat untuk jenis
kelompok besar, kelompok sedang, kelompok kecil, dan
perorangan.
6) Mutu teknis. Pengembangan visual baik gambar maupun fotograf
harus memenuhi persyaratan teknis tertentu. Mislanya, visual pada
slide harus jelas dan informasi yang ditonjolakan dan ingin
disampaikan tidak boleh terganggu oleh elemen lain yang berupa
latar belakang.9
c. Fungsi dan Manfaat Media Pendidikan
Menurut Hamalik (1986) yang dikutip oleh Arsyad Azhar dalam
bukunya media pemeblajaran mengeukakan bahwa pemakaian media
pemebelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan
dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan
belajar mengajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis
terhadap siswa penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi
pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu
keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan da nisi pelajaran
pada saat itu, selain membangkitkan motivasi dan minat siswa, media
pembelajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman,
menyajikan data dengan menarik dan terpeercaya, memudahkan pnafsiran
data, dan memadatkan informasi.10
Sedangkan menurut Levie & Lents yang dikutip oleh Arsyad Azhar
dalam bukunya media pembelajaran mengemukakan empat fungsi media
pembelajaran, khususnya media visual, yaitu:
1) Fungsi atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan
mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi
pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan
9
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997), hal. 75-77
10
Ibid, hal. 15-16
atau menyertai teks materi pelajaran. Dengan menggunakan media
pembelajaran kemungkinan untuk memperoleh dan mengingat isi
pelajaran semakin besar.
2) Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari kenikmatan siswa
ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar. Gambar atau
lambing visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa, misalnya
informasi yang menyangkut masalah sosial atau ras.
3) Fungsi kognitif media visual terlihat dari temuan-temuan
penelitian yang mengungkapkan bahwa lambing visual atau
gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan
mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.
4) Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil
penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk
memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca
untuk mengorganisasikan informasi dalam teks mengingatnya
kembali. Dengan kata lain, media pembelajaran berfungsi untuk
mengakomondasikan siswa yang lemah dan lambat menerima dan
memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau disajikan
secara verbal.11
d. Evaluasi Media Pembelajaran
Apabila media dirancang sebagai bagian integral dari proses
pembelajaran, ketika mengadakan evaluasi terhadap pembelajaran itu sudah
termasuk pula evaluasi terhadap media yang digunakan. Data empiris yang
11
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran …, hal.
berkaitan dengan media pembelajaran secara umum bersumber dari jawaban
terhadap pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
1) Apabila media pembelajaran yang digunakan efektif?
2) Dapatkah media pembelajaran itu diperbaiki dan ditingkatkan?
3) Apakah media pembelajaran itu efektif dari segi biaya dari sefi
biaya dan hasil belajar yang dicapai oleh siswa?
4) Kriteria apa yang digunakan untuk memilih media pembelajaran
itu?
5) Apakah isi pembelajaran sudah tepat disajikan dengan media itu?
6) Apakah prinsip-prinsip utama penggunaan media yang dipilih telah
diterapkan?
7) Apakah media pembelajaran yang dipilih dan digunakan benar-
benar menghasilkan hasil belajar yang direncanakan?
8) Bagaimana sikap siswa terhadap media pembelajaran yang
digunakan?
2. Media Audio-Visual
a. Pengertian media pembelajaran audio-visual
Kata media berasal dari bahasa Latin yang merupakan bentuk jamak
dari kata medium. Kata medium dapat diartikan sebagai perantara atau
pengantar terjadinya komunikasi dari pengirim menuju ke penerima.12 Dengan
kalimat yang lain dapat dijelaskan, bahwa media adalah sebuah alat yang
digunakan untuk menyimpan suatu informasi. Kaitannya dengan
pembelajaran, maka media diartikan sebagai suatu perantara atau alat yang
12
Daryanto, Media Pembelajaran, (Yogyakarta: Gava Media, 2010), hal. 4
digunakan dalam proses belajar mengajar agar materi yang disampaikan dapat
diterima oleh peserta didik dengan baik.
Media audio visual merupakan perangkat yang menggabungkan
tayangan atau animasi, teks, grafik, audio, video dan interaktif yang dapat
digunakan untuk membantu menggambarkan sesuatu yang abstrak menjadi
lebih nyata, juga dapat membantu mengatasi keterbatasan indera, ruang, waktu
dan dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi.
Audio-visual adalah alat-alat “audivle” artinya dapat didengar dan alat-
alat “visible” artinya data dilihat. Alat-alat audio-visual gunanya untuk
membuat cara berkomunikasi menjadi efektif. Media audio-visual merupakan
bentuk media pengajaran yang terjangkau.13
Sejalan dengan pendapat tersebut, Hamalik dalam Arsyad
mengemukakan bahwa hubungan komunikasi akan berjalan lancer dengan
hasil yang maksimal apabila menggunakan alat bantu yang disebut media
komunikasi.14 Sementara itu, Asnawir dan Basyiruddin Usman menyatakan
bahwa pengertian media merupakan suatu yang bersifat menyalurkan pesan
dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan audien (siswa)
sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya.15 Sedangkan
menurut Djamarah dan Zain media diartikan sebagai “sumber belajar”16 dan
dengan mengutip Udin Saripuddin dan Winataputra mengelompokkan sumber
belajar menjadi lima kategori, yaitu “manusia, buku/perpustakaan, media
massa, alam lingkungan dan media pendidikan”.17
13
Amir Hamzah, Media Audio-Visual, (Jakarta: PT Gramedia, 1985), hal. 11
14
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008), hal. 4
15
Asnawir dan Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hal. 11
16
Djamarah dan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hal. 138
17
Ibid, hal. 139
Dari uraian tersebut di atas, dapat disampaikan bahwa media
pembelajaran adalah suatu alat yang dijadikan sebagai sumber belajar dalam
proses pembelajaran sehingga pesan atau materi yang disampaikan dapat
diterima dengan baik oleh peserta didik. Dengan bahasa lain dapat dijelaskan
bahwa dalam proses belajar mengajar keberadaan media sangat penting dalam
membantu tujuan pembelajaran.
Sedangkan kata audio-visual merupakan kata majemuk berasal dari
bahasa Inggris yakni audio yang berarti penerimaan bunyi pendengaran,18 dan
visually, yang berarti yang dapat dilihat, dengan cara yang tampak atau yang
dapat disaksikan.19 Sehingga dapat disimpulkan bahwa audio-visual dapat
diartikan sebagai sesuatu yang dapat didengar sekaligus dapat dilihat.
Menurut HM. Musfiqon “Media audio adalah media yang
penggunaannya menekankan pada aspek pendengarannya. Indera pendengaran
merupakan alat utama dalam penggunaan media jenis ini. Menurut Angkowo
dikutip dari buku HM. Musfiqon dalam penggunaan media audio, pesan yang
akan disampaikan dituangkan kedalam lambing-lambang audiktif, baik verbal
(kedalam kata-kata/bahasa lisan) maupun non verbal sehingga antara
pengiriman pesan dengan penerima pesan bisa memahami makna dari lambing
audiktif tersebut.20
Menurut Achmad Lutfi, “Media audio visual, yaitu jenis media yang
selain mengandung unsur suara juga mengandung unsure gambar yang bisa
18
Yan Peterson, Kamus Lengkap Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris, (Surabaya: Karya Agung,
2005), hal. 32
19
Ibid, hal. 390
20
HM. Musfiqon, Pengembangan Media dan Sumber Pembelajaran, (Jakarta: PT. Prestasi Pustakarya,
2012), hal. 89
dilihat, misalnya rekaman video, berbagai ukuran film, slide, suara, vcd,
internet dan lain sebagainnya.21
Menurut Yudhi Munadi audiovisual dapat dibagi menjadi dua jenis,
jenis pertama dilengkapi fungsi peralatan suara dan gambar dalam satu unit
dinamakan media audiovisual murni, seperti film gerak (movie) bersuara,
televise, dan video. Jenis kedua adalah media audiovisual tidak murni yakni
apa yang kita kenal dengan slide, opaqe, OHP dan peralatan visual lainnya.22
Menurut Ahmad Rohani media audio-visual diartikan media
instruksional modern yang sesuai dengan perkembangan zaman (kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi), meliputi media yang dapat dilihat, didengar
dan yang dapat dilihat dan didengar.23 Sementara itu, Wina Sanjaya
menyatakan bahwa pengertian media audio visual adalah jenis media yang
selain mengandung unsur suara juga mengandung unsur gambar yang bisa
dilihat. Misalnya rekaman video, berbagai rekaman film, slide suara, dan lain
sebagainya.24
Berdasarkan pengertian media audio-visual diatas, maka media
pembelajaran audio-visual dapat diartikan sebagai suatu alat bantu yang dapat
dilihat sekaligus didengarkan berupa rekaman video, berbagai rekaman film,
slide suara, dan lain sebagainnya yang digunakan dalam proses belajar
mengajar sehingga materi pembelajaran yang disampaikan dapat diterima
dengan baik oleh peserta didik (siswa). Sejalan dengan hal tersebut, Ngainun
Naim menjelaskan secara panjang lebar tentang media pembelajaran audio-
visual, sebagai berikut:
21
Achmad Lutfi, Pembelajaran Al-Qur’an dan Hadist, (Jakarta: Dirjen Pendidikan Islam, Depag RI,
2009), HAL. 74
22
Yudhi Munadi, Media Pembelajaran, (Jakrta: Gaung Persada Press, 2008), hal. 56
23
Ahmad Rohani, Media Pembelajaran Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), hal. 97
24
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran,(Jakarta: Kencana, 2007), hal. 172
Media audio-visual adalah sarana atau media yang utuh untuk
mengolaborasikan bentuk-bentuk visual dengan audio. Media ini
dipergunakan untuk membantu penjelasan guru sebagai peneguh, atau sebagai
sarana yang didalami. Media ini tidak hanya dikembangkan melalui bentuk
film saja, tetapi dapat dikembangkan melalui sarana computer dengan teknik
powerpoint dan flash player. Menjalankan media ini perlu keterampilan dan
sarana yang khusus. 25
Sehingga secara umum dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran
audio-visual dapat diartikan sebagai sarana atau media yang menggabungkan
bentuk suara dan gambar bergerak yang digunakan untuk membantu
penyampaian materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru sehingga siswa
dapat menerimanya dengan baik.
b. Jenis-jenis Media Audio-visual
Ada beberapa jenis media yang dapat dikelompokkan dalam media
audio-visual, anatara lain:
1) Televisi
Televisi system elektronik yang mengirimkan gambar diam dan
gambar hidup bersama suara melalui kabel atau ruang. System ini
menggunakan peralatan yang mengubah cahaya dan suara kedalam
gelombang elektronik dan mengkonversinya kembali kedalam
cahaya yang dapat dilihat dan suara yang dapat didengar. Dengan
demiian, ada dua jenis pengiriman (penyiaran) gambar dan suara
yaitu penyiaran langsung kejadian atau peristiwa yang kita
25
Ngainun Naim, Menjadi Guru Inspiratif, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hal. 224
saksikan sementara ia terjadi dan penyiaran program yang telah
direkam diatas pita film atau pita video. Televisi pendidikan dapat
menjadi alat yang baik bagi penyuluh.26 Televise instruksional
berbeda dari televise penyiaran, yaitu dalam hal materinya yang
tidak didesain untuk di distribusikan oleh stasiun penyiaran massa.
Menurut Gopper, menggunakan pelajaran melalui televise
untuk mengajarkan pelajaran disekolah lanjutan, dengan maksud
menunjukkan bahwa tujuan-tujuan tingkat rendah dapat dicapai
dengan cara televise yang konvensional. Sedangkan tujuan tingkat
lebih tinggi dapat dicapat apabila program televise mengandung
situasi yang memungkinkan siswa untuk secara aktif memberikan
respon terhadap program tersebut.27 Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa siswa yang belajar melalui program televise
untuk berbagai mata pelajaran dapat menguasai mata pelajaran
tersebut sama seperti mereka yang mempelajarinya melalui tatap
muka dengan guru kelas.
2) Proyektor Transparasi (OHP)
Overhead projector adalah alat audio-visual yang sangat sering
digunakan dalam berbagai program pendidikan orang dewasa.28
Beberapa pendidik merencanakan seluruh program pengajaran
mereka dengan menggunakan transparan atau Overhead projector.
Transparansi yang diproyeksikan adalah visual baik berupa
huruf, lambing, gambar, grafik atau gabungannya pada lembaran
26
Suprijanto, Pendidikan Orang Dewasa dari Teori Hingga Aplikasi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007),
hal. 197
27
Ivor K Davies, Pengelolaan Belajar, (Jakarta: Rajawali, 1991), hal. 162
28
Suprijanto, Pendidikan Orang Dewasa dari Teori Hingga Aplikasi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007),
hal. 181
bahan tembus pandang atau plastic yang dipersiapkan untuk
diproyeksikan ke sebuah layar atau dinding melalui sebuah
proyektor. Kemampuan proyektor memperbesar gambar membuat
media ini berguna untuk menyajikan informasi pada kelompok
yang besar dan pada semua jenjang OHP dirancang untuk dapat
digunakan di depan kelas sehingga guru dapat selalu berhadapan
atau menatap langsung dengan siswanya.
Menurut Chance membandingkan pemakaian papan tulis OHP
dalam mengajarkan gambar-gambar terbaik. Hasilnya, lebih baik
dengan OHP. Waktu pelaksanaan dikurangi 20%, yang berarti
bahwa lebih banyak waktu dapat di gunakan untuk menjawab
pertanyaan, untuk diskusi dan praktek. Hal-hal yang sama juga
ditemukan oleh peneliti-peneliti lain.29
3) Video
Video adalah teknologi untuk menangkap, merekam,
memproses, mentransmisikan dan menata ulang gambar bergerak.
Biasanya menggunakan film seluloid, sinyal elektronik, atau media
digital. Video juga bisa dikatakan sebagai gabungan gambar-
gambar mati yang dibaca berurutan dalam suatu waktu dengan
kecepatan tertentu. Gambar-gambar yang digabung tersebut
dinamakan frame dan kecepatan pembacaan gambar disebut
dengan frame rate.
Penggunaan multimedia dalam pendidikan memiliki beberapa
kelebihan, yaitu:
29
Ivor K Davies, Pengelolaan Belajar, (Jakarta: Rajawali, 1991), hal. 169-160
a. System pembelajaran lebih inovatif dan interaktif,
b. Guru akan selalu dituntut untuk kreatif inovatif dalam mencari
terobosan pembelajaran,
c. Mampu menggabungkan antara teks, gambar, audio, music,
animasi gambar, atau video dalam satu kesatuan yang saling
mendukung guna tercapainya tujuan pembelajaran,
d. Mampu menimbulkan rasa senang selama proses PBM
berlangsung. Hal ini akan menambah motivasi siswa selama
proses PBM hingga didapatkan tujuan yang maksimal,
e. Mampu memvisualisasikan materi yang selama ini sulit untuk
diterangkan hanya dengan penjelasan atau alat perga yang
konvensional,
f. Media menyimpan yang relative gampang dan fleksibel.30
4) Komputer
Komputer adalah mesin yang dirancang khusus untuk
memanipulasi informasi yang diberi kode, mesin elektronik yang
otomatis melakukan pekerjaan yang diperhitungkan sederhana dan
rumit. Satu unit computer terdiri atas empat kelompok komponen
dasar, yaitu input (missal, keyoard dan writingpad), prosesor
(CPU:unit memproses data yang diinput), penyimpanan data
memori yang menyimpan data yang akan diproses oleh CPU baik
secara permanen (ROM) maupun untuk sementara (RAM), dan
output (missal layar monitor, printer atau plotter).31
30
Hamdani, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: Pustaka Setia, 2011), hal. 254
31
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), hal. 52
Computer memilki kemampuan untuk menggabungkan dan
mengendalikan berbagai peralatan lainnya, seperti CD player,
video tape, dan audio tape. Disamping itu, computer dapat
merekam, menganalisis dan memberi reaksi kepada respon yang di
input oleh pemakai atau siswa.32
5) LCD Proyektor
Proyektor adalah perangkat yang menginte gresikan sumber
cahaya, system optic, elektronik dan display dengan tujuan untuk
memproyeksikan gambar atau video ke dinding atau layar.
Mengapa proyektor? Dibandingkan dengan media yang lain
seperti Plasma atau LCD Display, projector memiliki beberapa
kelebihan seperti, dapat membuat tampilan yang sangat besar,
dapat di bawa dengan mudah serta fleksibilitas yang tinggi.33
c. Fungsi dan Manfaat Media Audio-Visual
Seorang ahli dalam bidang audio-visual mengatakan “perhatian yang
semakin luas dalam penggunaan alat-alat audio-visual telah mendorong bagi
diadakan banyak penyelidikan ilmiah mengenai tempat dan nilai alat-alat
audio-visual tersebut dalam pendidikan”. Penyelidikan itu telah membuktikan,
bahwa alat-alat audio-visual jelas mempunyai nilai yang berharga dalam
bidang pendidikan, antara lain:
1) Media audio-visual dapat mempermudah orang yang
menyampaikan dan memudahkan dalam menerima sesuatu
pelajaran atau informasi serta dapat menghindarkan salah
perngertian
32
Ibid hal 53
33
Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran.,hlm. 57.
2) Alat-alat media audio-visual mendorong keinginan untuk
mengetahui lebih banyak lagi tentang hal-hal yang berkaitan
dengan materi yang telah disampaikan oleh guru.
3) Alat-alat audio-visual tidak hanya menghasilkan cara belajar yang
efektif dalam waktu yang lebih singkat, tetapi apa yang diterima
melalui alat-alat audio-visual lebih lama dan lebih baik, yakni
tinggal dalam ingatan.
4) Siswa dapat belajar dan maju sesuai dengan kecepatan masing-
masing. Materi pelajaran dapat dirancang sedemikian rupa
sehingga mampu memenuhi kebutuhan siswa, baik yang cepat
maupun yang lambat membaca dan memahami.34
Sejumlah penelitian tentang manfaat alat audio-visual telah dilakukan.
Hasil penelitian akhirnya membuktikan bahwa lat bantu audio-visual tidak
diragukan lagi dapat membantu dalam pengajaran apabila dipilih secara
bijaksana dan digunakan dengan baik. Ada beberapa manfaat alat bantu audio-
visual dalam pengajaran, antara lain:
1) Membantu memberikan konsep pertama atau kesan yang benar,
2) Mendorong minat,
3) Meningkatkan pengertian yang lebih baik,
4) Melengkapi sumber belajar yan lain,
5) Menambah variasi metode mengajar,
6) Meningkatkan keingintahuan intelektual,
7) Cenderung mengurangi ucapan dan pengulangan kata yang tidak
perlu,
34
Amir Hamzah, Media Audio-Visual, (Jakarta: Gramedia, 1985), hal. 17-18
8) Membuat ingatan terhadap pelajaran lebih lama.35
Akibat dari apa yang diuraikan diatas, sekarang orang gandrung
menggunakan ala-alat audio-visual karena dianggap sebagai salah satu media
yang mampu memenuhi kebutuhan dalam pengajaran di era modern seperti
sekarang ini, terutama pada alat-alat audio-visual yang dapat memberi
dorongan dan motivasi serta membangkitkan keinginan untuk mengetahui dan
menyelidiki yang akhirnya menjerumuskan kepada pengertian yang lebih baik.
35
Suprijanto, Pendidikan Orang Dewasa dari Teori Hingga Aplikasi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007),
hal. 173
d. Faktor Kelebihan dan Kekurangan Media Audio-Visual
Menurut Nana Sudjana dan Sudirman N. Menyimpulkan tentang
beberapa kelebihan-kelebihan media audio-visual, termasuk tekas terprogram,
adalah:
1) Perpaduan teks dan gambar dalam halaman cetak sudah merupakan
hal lumrah, dan ini dapat menambah daya tarik, serta dapat
memperlancar pemahaman informasi yang disajikan dalam dua
format, verbal dan visual.
2) Khusus pada teks terprogram, siswa akan berpartisipasi atau
berinteraksi dengan aktif karena harus memberi respon terhadap
pertanyaan dan latihan yang disusun, siswa dapat segera
mengetahui apakah jawabannya benar atau salah.
3) Menampilkan obyek yang selalu besar yang tidak memungkinkan
untuk dibawa kedalam kelas, misalnya: gunung, sungai, masjid,
ka’bah. Obyek-obyek tersebut dapat ditampilkan melalui foto,
gambar dan film.
4) Memberikan pengalaman yang nyata dan dapat menumbuhkan
kegiatan berusaha pada setiap siswa.
5) Meletakkan dasar-dasar yang konkret dari konsep yang abstrak
sehingga dapat mengurangi kepahaman yang bersifat verbalisme.
Misalnya, untuk menjelaskan bagaimana system peredaran darah
pada manusia, maka digunakanlah film.36
Adapun kekurangan-kekurangan yang dapat ditampilkan pada media
audio-visual ini adalah:
36
Ibid, hal. 156
1) Kecepatan merekam dan pengaturan trek yang bermacam-macam
menimbulkan kesulitan untuk memainkan kembali rekaman yang
direkam pada suatu mesin perekam yang berbeda dengannya.
2) Film dan video yang tersedia selalu sesuai dengan kebutuhan
tujuan belajar yang diinginkan kecuali film dan video itu dirancang
dan diproduksi khusus untuk kebutuhan sendiri.
3) Pengadaan film dan video umumnya memerlukan biaya yang
mahal dan waktu yang banyak.
4) Kekhawatiran muncul bahwa siswa tidak memiliki hubungan
pribadi dengan guru, dan siswa bisa jadi bersikap pasif selama
penayangannya.
5) Program yang tersedia saat ini belum memperhitungkan kreativitas
siswa, sehingga hal tersebut tentu tidak dapat mengembangkan
kreativitas siswa.
6) Media ini hanya akan mampu melayani secara baik bagi mereka
yang sudah mempunyai kemampuan dalam berfikir abstrak.37
e. Film dan Video
Film atau gambar hidup merupakan gambar-gambar dalam Frame
dimana frame demi frame diproyeksikan melalui lensa proyektor secara
mekanis sehingga pada layar terlihat gambar itu hidup. Film bergerak dengan
cepat dan bergantian sehingga memberikan visual yang kontinu. Sama halnya
dengan film, video dapat menggambarkan suatu obyek yang bergerak
bersama-sama dengan suara alamiah atau suara yang sesuai. Kemampuan film
37
Nana Sudjana dan Ahmad Rival, Media Pengajaran (Penggunaan dan Pembuatan), (Bandung: Sinar
Baru, 1991), hal. 131
dan video melukiskan gambaran hidup dan suara memberikannya daya tarik
tersendiri. Kedua jenis media ini pada umumnya digunakan untuk tujuan-
tujuan hiburan, dokumentasi, dan pendidikan.
f. Kelebihan Film dan Video
1) Film dan video dapat melengkapi pengalaman-pengalaman dasar
dari siswa ketika mereka membaca, berdiskusi, berpraktik, dll.
Film merupakan pengganti alam sekitar dan bahkan dapat
menunjukkan objek yang secara normal tidak dapat dilihat, seperti
cara kerja jantung ketika berdenyut.
2) Film dan video dapat menggambarkan suatu proses secara tepat
menggambarkan suatu proses secara tepat yang dapat disaksikan
secara berulang-ulang jika dirasa perlu. Misalnya, langkah-langkah
cara berwudhu yang benar.
3) Disamping mendorong dan meningkatkan motivasi, film dan video
menanamkan sikap dan segi-segi afektif lainnya. Misalnya, film
kesehatan yang menyajikan proses berbangkitnya penyakit diare
yang dapat membuat siswa sadar terhadap pentingnya kebersihan
makanan dan lingkungan.
4) Film dan video yang mendukung nilai-nilai positif dapat
mengundang pikiran dan pembahasan dalam kelompok siswa.
Bahkan, film dan video, seperti slogan yang sering di dengar, dapat
membawa dunia didalam kelas.
5) Film dan video dapat menyajikan peristiwa yang berbahaya bila
dilihat secara langsung seperti lahar gunung berapai atau perilaku
binatang buas.
6) Film dan video dapat ditunjukkan kepada kelompok besat ataupun
kelompok kecil, kelompok yang heterogen maupun yang
perorangan.
7) Dengan kemampuan dan teknik pengambilan gambar frame dan
frame, film yang dalam waktu normal memakan waktu satu
minggu dapat ditampilkan dalam satu atau dua menit saja.
Misalnya, proses kejadian mekarnya kembang mulai dari kuncup
bunga hingga kuncup itu mekar.
g. Kelemahan Film dan Video
1) Pengadaan film dan video pada umumnya memerlukan biaya
mahal dan waktu yang banyak.
2) Pada saat film dipertunjukkan, gambar-gambar bergerak terus
sehingga tidak semua siswa mampu mengikuti informasi yang
ingin disampaikan melalui film tersebut.
3) Film dan video yang tersedia tidak selalu sesuai dengan kebutuhan
dan tujuan yang diinginkan kecuali film dan video itu dirancang
dan diproduksi khusus untuk kebutuhan sendiri.38
38
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008), hal. 49-50
3. Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam MI
SKI merupakan mata pelajaran yang mengembangkan ilmu pengetahuan
agama, pengetahuan umum, dan sosial-budaya dalam islam. Pelajaran SKI yang
diajarkan di Madrasah berfungsi sebagai ilmu pengetahuan umum, agama Islam
dan ilmu pengetahuan sosial-budaya, disamping sebagai tuntunan teladan
berkhlaqul karimah dari ajaran yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu,
pelajaran SKI di Madrasah Ibtidaiyah tidak terpisahkan dari bidang-bidang studi
(mata pelajaran) lain yang diajarkan pada Madrasah Ibtidaiyah.
Pembelajaran merupakan interaksi antara subjek belajar dengan sumber
belajar pada suatu lingkungan belajar yang secara sengaja direncanakan atau
dibuat untuk mencapai tujuan tertentu.
Pembelajaran menurut Trianto “Pembelajaran merupakan aspek kegiatan
manusia yang kompleks, yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan”. 39 Sedangkan
pembelajaran menurut Syaiful Sagala adalah “membelajarkan siswa menggunakan
asas pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu utama
keberhasilan pendidikan.40 Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah.
Mengajar dilakukan pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar oleh peserta
didik. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003
menyatakan pembelajaran adalah “proses interaksi peserta didik dengan pendidik
dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”. Pemeblajaran sebagai proses
belajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreatifitas berpikir yang
dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa, serta dapat meningkatkan
kemampuan mengkontruksikan pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan
penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran.
39
Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (Jakarta: Kecana, 2009), hal. 17
40
Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2010), hal. 61
4. Motivasi Belajar
a. Pengertian Motivasi
Istilah motivasi berasal dari bahasa latin movere yang bermakna bergerak,
istilah ini bermakna mendorong, mengarahkantingkah laku manusi. 41 Motif adalah
keadaan dalam pribadi orang yang mendorong individu untuk melakukan aktifitas-
aktifitas tertentu guna mencapai suatu tujuan.42 Maka akan timbul sebuah
kekuatan yang menjadi pendorong kegiatan individu yang menu jukan suatu
kondisi dalam diri individu yang mendorong atau menggerakan individu tersebut
melakukan kegiatan mencapai tujuan.43 Jadai, Motivasi belajar merupakan
kekuatan (power motivation), daya pendorong (driving force), atau alat
pembangun kesediaan dan keinginan yang kuat dalam diri peserta didik untuk
belajar secara aktif, kreatif, efektif, inovatif, dan menyenangkan dalam rangka
perubahan perilaku baik dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotor.
Menurut [Link], motivasi is an energy change within the person
characterized by affective arousal and anticipatory goal reaction. Tetapi menurut
Clayton Aldelfer “motivasi belajar adalah kecenderungan siswa dalam melakuka
kegiatan belajar yang didorong oleh hasrat untuk mencapai prestasi hasil belajar
sebaik mungkin”. Menurut Abraham Maslow “motivasi belajar merupakan
kebutuhan untuk mengembangkan kemampuan diri secara optimum, sehingga
mampu berbuat yang lebih baik, berprestasi dan kreatif”.44 Meskipun para ahli
mendefinisikannya dengan cara dan gaya yang berbeda, namun esensinya menuju
41
Iskandar, Psikologi Pendidikan, (Jakarta selatan, referensi,2012), hal. 180
42
Suryabrata, Psikologi Pendidikan, ( Jakarta : Rajagrafindo Persada, 2003), hal. 70
43
Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung : Remaja Rosda karya,
2009) hal. 60
44
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengaja, (Bandung: Bumi Aksara,2001), hal. 158
kepada maksud yang sama, ialah bahwa motivasi itu merupakan: (1) Suatu
kekuatan (power) atau tenaga (forces) atau daya (energy).
b. Komponen-Komponen Motivasi
Motivasi memiliki dua komponen yakni komponen dalam dan komponen luar.
Komponen dalam adalah perubahan dari dalam diri seseorang, keadaan tidak puas
dan ketegangan psikologis. Komponen luar adalah apa yang diinginkan seseorang.
Tujuan yang menjadi arah kelakuannya. Jadi komponen dalam adalah kebutuhan-
kebutuhan yang ingin dipuaskan. Sedangkan komponen luar ialah tujuan yang
hendak dicapai.45
c. Fungsi Motivasi
Beberapa fungsi motivasi sebagai berikut : (a) Motivasi merupakan alat
pendorong terjadinya perilaku belajar peserta didik. (b) Motivasi merupakan alat
untuk mempengaruhi prestasi belajar peserta didik. (c) Motivasi merupakan alat
untuk memberikan direksi terhadap pencapaian tujuan pembelajaran. (d) Motivasi
merupakan alat untuk membangun sitem pembelajaran lebih bermakna.
d. Macam-Macam Motivasi
Motivasi belajar dibedakan dalam dua jenis, yaitu motivasi yang timbul dari
dalam diri individu atau motivasi intrinsik, dan motivasi yang timbul dari luar diri
individu atau motivasi ekstrinsik.
1) Motivasi intrinsik
Motivasi intrinsik adalah motif yang timbul tanpa adanya rangsangan
dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada motif atau dorongan
untuk melakukan sesuatu.46
45
Ibid, hal. 159
46
Noer Rohmah, Psikologi Pendidikan.(Yogyakarta: Kalimedia, 2015), hal. 254
Peserta didik yang mempunyai motivasi intrinsik akan memiliki tujuan
untuk menjadi orang yang terdidik, berpengetahuan, dan lain-lain. Jalan atau
cara untuk mewujudkan tujuan yang telah ditentukan itu ialah belajar, tanpa
dengan belajar tidak mungkin akan tercapai semua tujuan yang diharapkan.
Kepribadian peserta didik juga merupakan salah sati motivasi intrinsik.
Sifat dan kepribadian yang dimiliki masing-masing peserta didik akan
mempengaruhi terhadap pencapaian hasil belajar peserta didik. Masing-
masing peserta didik mempunyai perbedaan kemampuan yang mana hal ini
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar.
2) Motivasi ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah motif yang berfungsi jika ada rangsangan
dari luar diri individu.47 Rangsangan yang dimaksud adalah dorongan yang
datang dari orangtua, guru, teman-teman. Dorongan dari luar ini bisa juga
karena berupa hadiah, pujian, penghargaan dan juga hukuman.
Sebagai contoh seseorang belajar, karena besok pagi akan ada ujian ia
belajar dengan harapan agar mendapatkan nilai yang bagus, sehingga
nantinya akan mendapatkan pujian ataupun hadiah, dan lain-lain.
Motivasi ekstrinsik ini sangat penting dalam kaitannya dengan
kegiatan belajar mengajar. Dalam belajar tidak hanya memperhatikan kondisi
internal peserta didik, namun harus diperhatikan juga aspek eksternar seperti
aspek sosial yang meliputi lingkungan keluarga, sekolah, teman, masyarakat,
budaya, dan adat istiadat.48
Ada beberapa macam motivasi yang berkaitan dengan belajar yang dikemukakan
oleh herman hodojo, antara lain:
47
Ibid, hal. 255
48
Muhammad fathurrohman dan Sulistyorini, Belajar dan Pembelajaran Membantu Meningkatkan Mutu
Pembelajaran Sesuai Standar Nasional. (Yogyakarta: Teras, 2012), hal. 149
1) Kehendak : kemauan untuk mencari suatu tujuan yang khusus. Misalnya
peserta didik ingin menyelesaikan soal yang terdapat didalam buku teks.
Tingkah lakunya diarahkan untuk mencapai tujuan tersebut, sehingga
kehendaknya menggerakkan pencapaian tujuan itu.
2) Minat : macam motivasi ini sering dikaitkan dengan tingkah laku berikut.
Seseorang ingin sesuatu yang lebih banyak, orang itu secara suka rela
mencarinya dan bahkan mengulanginya ia tetap seperti itu untuk suatu
periode waktu dan mungkin ia memberikan rekonmendasi kepada orang lain.
3) Sikap : macam motivasi ini biasanya digunakan untuk mengacu pada suatu
gagasan yang berkaitan dengan emosi.
4) Penghargaan diri : tingkah laku pribadi kebanyakan terbawa oleh perasaan
harga diri. Sesorang mempertahankan harga dirinya dan ia cenderung tidak
berbuat yang merendahkan hargadirinya.
Macam-macam motivasi yang dikemukakan diatas saling mempengaruhi.49
e. Ciri-Ciri Motivasi Belajar
Marx dan Tombuch dalam buku Riduwan mengumpamakan motivasi
sebagai bahan bakar dalam beroprasinya mesin gasoline.50 Tidaklah menjadi
berarti betapapun baiknya potensi anak meliputi kemampuan intelekstual atau
bakat mahasiswa dan materi yang akan diajarkan serta lengkapnya sarana belajar,
namun bila mahasiswa tidak termotivasi dalam belajarnya, maka kegiatan
belajarpun tidak akan berlangsung optimal.
Prayitno menyatakan tentang indikator-indikator dalam motivasi belajar
yaitu sebagai berikut:51
49
Herman Hujojo, Strategi Mengajar Belajar, (Malang : Penerbit IKIP Malang, 1990), hal. 98
50
Riduan, Belajar Mudah Penelitian untuk Guru, Karyawan dan Peneliti Pemula, (Bandung: Alfabeta,
2005), hlm. 31
51
Ibid, hal 35
a. Ketekunan dalam belajar
b. Ulet dalam menghadapi kesulitan
c. Minat dan ketajaman perhatian dalam belajar
d. Berprestasi dalam belajar
e. Mandiri dalam belajar
Apabila seseorang memilki ciri-ciri di atas, berarti seseorang memiliki
motivasi yang kuat. Ciri-ciri motivasi tersebut sangat penting dalam kegiatan
belajar. Kegiatan belajar akan berhasil baik, jika siswa tekun mengerjakan
tugasnya, ulet dalam memecahkan berbagai masalah - masalah dan hambatan
secara mandiri.
f. Cara Membangkitkan Motivasi
Motivasi merupakan salah satu aspek utama dalam keberhasilan belajar.
Oleh karena itu, motivasi belajar dapat dipelajari supaya dapat tumbuh dan
berkembang. Berikut ini cara untuk membangkitkan motivasi belajar : (a) Peserta
didik memperoleh pemahaman (comprehension) yang jelas mengenai proses
pembelajaran. (b) Peserta didik memperoleh kesadaran diri (self consciousness)
terhadap pembelajaran. (c) Menyesuaikan tujuan pembelajaran dengan kebutuhan
peserta didik secara link and mach. (d) Memberi sentuhan lembut. (e)
Memberikan hadiah. (f) Memberi pujian dan penghormatan. (g) Peserta didik
mengetahui prestasi belajarnya. (h) Adanya iklim belajar yang kompetitif secara
sehat . (i) Belajar menggunakan multimedia. (j) Belajar menggunakan
multimetode. (k) Guru yang kompeten dan humoris. (l) Suasana lingkungan
sekolah yang sehat
5. Hasil Belajar
a. Pengertian Belajar
Belajar merupakan suatu proses yang dilakukan seseorang untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai
hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.52
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses
perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dari
lingkungannya dalam menentukan kebutuhan hidupnya. Perubahan-peruban
tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Menurut M. Sobry
Sutikno, dalam bukunya menuju pendidikan bermutu mengartikan:
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk
memperoleh suatu perubahan yang baru sebagai haril pengalamannya sendiri dan
interaksi dengan lingkungannya.53 Definisi-definisi lain ada beberapa pengertian
lain yang cukup banyak, baik yang dilihat secara mikro maupun secara makro
dilihat dalam arti luar ataupun terbatas/kusus. Dalam apengertian luas, belajar
dapat diartikan sebagai psiko fisik menuju perkembangan pribadi seutuhnya.
Kemudian dalam arti sempit, belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan
materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju
terbentuknya kepribadian seutuhya.54
Belajar adalah kegiatan berproses yang merupakan unsur yang sangat
fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjeng pendidikan. Ini
berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat
bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada
52
Slameto, Belajar Dan Faktor-Faktor Mempengaruhinya (Jakarta : Rineka Cipta, 2010) hal. 2
53
Pupuh fathurrohman, [Link] Sutikno, Strategi Belajar Mengajar Melalui Penanaman Konsep Umum
Dan Konsep Islami, (Bandung : Refika Aditama,2010), hal. 5
54
Sardiman, Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar…., hal. 20
disekolah maupun dilingkungan rumah atau keluarganya sendiri. 55 Dengan
demikian belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang dengan
serangkaian kegiatan dalam mencapai perubahan tingkah laku, pengetahuan,
kepribadian, keterampilan yang diakibatkan oleh terjadinya interaksi antara
seseorang dengan seseorang, seseorang dengan kelompok dan seseorang dengan
lingkungannya sebagai hasil dari pengalaman.
b. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan gambaran tentang apa yang harus digali,
dipahami dan dikerjakan peserta didik. Hasil belajar meliputi aspek pembentukan
watak peserta didik. Peran peserta didik adalah bertindak belajar, yaitu
mengalami proses belajar, dan menggunakan hasil belajar yang digolongkan
sebagai dampak penggiring.
Menurut Syaiful, hasil belajar adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah
dikerjakan, diciptakan, baik secara individual maupun kelompok, sebagai hasil
dari kegiatan belajar. Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan
dalam diri individu sebagai hasil aktifitas dari mengajar. 56
c. Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Kemampuan belajar peserta didik sangat menenentukan keberhasilan
dalam proses belajar. Didalam proses belajar tersebut banya faktor yang
mempengaruhinya antara lain motivasi, sikap, minat, kebiasaan belajar dan
konsep diri. Berhasil tidaknya seseorang dalam belajar disebabkan oleh beberapa
55
Zikri Neni Iska, Psikologi Pengantar Pemahaman Diri dan Lingkungan, (Jakarta: Kisi Brother’s,
2006), hal. 76
56
Indah Komsiyah, Belajar dan …., hal. 91
faktor yang mempengaruhi pencapaian hasil belajar yaitu berasal dari dalam dirib
orang yang belajar da nada pula yang dari luar dirinya.57
Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar terbagi
kedalam factor internal dan eksternal. Faktor Internal adalah faktor yang timbul
dari dalam diri anak itu sendiri seperti: kesehatan, rasa aman, kemampuan, minat
dan lain sebagainya. Faktor ini dapat dibagi menjadi dua yaitu: (1) Faktor
Jasmani (fisiologi), yaitu yang berhubungan dengan keadaan jasmani anak,
misalnya keshatan, cacat tubuh, (2) Faktor Psikologi (Rohani).
Sedangkan faktor eksternal dapat dipahami sebagai unsur-unsur yang
terdapat disekitar subyek yang seperti dikategorikan pada masalah ini. Dapat
dikelompokan menjadi tiga faktor yaitu: (1) faktor sosial yang terdiri dari:
lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat dan lingkungan
kelompok. (2) Faktor budaya seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi
dan kesenian. (3) Faktor lingkungan fisik seperti fasilitas rumah, fasilitas belajar
dan iklim.58
d. Pengukuran Hasil Belajar
i. Pengukuran ranah kognitif
Ranah kognitif ini merupakan ranah yang lebih banyak melibatkan kegiatan
mental. Pada ranah ini terdapat enam jenjang berpikir mulai dari yang tingkat
rendah sampai tinggi, yakni: (1) pengetahuan/ingatan (knowledge), (2)
pengetahuan (comprehension), (3) penerapan (application), (4) analisis
(analysis), (5) sintesis (synthesis), (6) evaluasi (evaluation)
ii. Pengukuran ranah afektif
57
M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), hal. 55
58
Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hal. 130
Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Beberapa ahli mengatakan
bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya, bila seseorang
memiliki penguasaan kognitif tingkat [Link] belajar hasil afektif tampak
pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap
pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas,
kebiasaan belajar dan hubungan sosial.
Pengukuran ranah afektif tidak semudah mengukur ranah
[Link] ranah afektif tidak dapat dilakukan setiap saat karena
perubahan tingkah laku siswa tidak dapat berubah sewaktu waktu. Pengubahan
sikap seseorang memerlukan waktu yang relatif lama, demikian juga
pengembangan minat dan penghargaan serta nilai-nilai. Ranah afektif yang
dirinci oleh Kathwohl dkk dalam Sofyan, menjadi lima jenjang yakni: (1)
perhatian atau penerimaan (receiving), (2) tanggapan (responding), (3)
penilaian atau penghargaan (valuing), (4) pengorganisasian (organization) dan
(5) karakterisasi terhadap suatu atau beberapa nilai (characterization by a
value or vale complex). 59
Sehubungan dengan tujuan penilaiannya ini maka yang menjadi
sasaran penilaian kawasan afektif adalah perilaku anak didik, bukan
pengetahuannya. Pertanyaan afektif tidak menuntut jawaban benar atau salah,
tetapi jawaban yang khusus tentang dirinya mengenai minat, sikap dan
internalisasi nilai.
iii. Pengukuran Ranah Psikomotorik
59
Ahmad Sofyan, Evaluasi Pembelajaran Berbasis Kompetensi, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), hal.
15
Pengukuran ranah psikomotor dilakukan terhadap hasil-hasil belajar
yang berupa penampilan. Namun demikian biasanya pengukuran ranah ini
disatukan atau dimulai dengan pengukuran ranah kognitif sekaligus. Hasil
belajar ini merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau
kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar
tertentu. Hasil belajar psikomotor merupakan kelanjutan dari hasil belajar
kognitif dan afektif, akan tampak setelah siswa menunjukkan perilaku atau
perbuatan tertentu sesuai dengan makna yang terkandung pada kedua ranah
tersebut dalam kehidupan siswa sehari-hari.60Proses belajar dan mengajar
yang ada di sekolah saat ini, tipe belajar yang memiliki hasil belajar kognitif
lebih dominan jika dibandingkan dengan tipe hasil belajar bidang afektif dan
psikomotor. Sekalipun demikian tidak berarti bidang afektif dan psikomotor
diabaikan sehingga tidak perlu lagi diberikan penilaian. Tipe hasil belajar
ranah psikomotor berkenaan dengan keterampilan atau kemampuan bertindak
setelah ia menerima pengalaman belajar tertentu. Hasil belajar ini sebenarnya
tahap lanjutan dari hasil belajar afektif yang baru tampak dalam
kecenderungan untuk berperilaku.
6. Pengaruh Penggunaan Media Audio Visual Terhadap Motivasi dan Hasil
Belajar Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam
Secara umum, semua mata pelajaran akan lebih efektif jika diajarkan dengan
media yang sesuai. Oleh karena itu, guru harus mengetahui terlebih dahulu materi
dan tujuan pemebelajaran. Audio-visual merupakan salah satu cara untuk
60
Ibid., hal. 23
membuat pembelajaran lebih dinamis dan menyenangkan. Adanya bahan ajar
yang cocok untuk dikembangkan dengan audio-visual.61
Materi sejarah kebudayaan islam yang bersifat pengetahuan, akan lebih
menarik jika dikembangkan dengan menggunakan media seperti sound slide, dan
menggunakan media film, sehingga memungkinkan siswa yang kurang dapat
menerima pembelajaran dengan hanya menggunakan indra pendengar, mampu
lebih memahami dengan adanya kombinasi gambar dan suara.
Berdasarkan perkembangan teknologi informasi yang semakin cepat, banyak
pemebelajaran yang sudah memanfaatkan media audio-visual, selain televise
adalah VCD, film yang digunakan dalam pemebelajaran. Sehingga diharapkan
siswa lebih menghayati dari apa yang disampaikan dan apa yang ia lihat dalam
film tersebut.
Untuk tujuan kognitif
Film dapat digunakan untuk:
a. Mengajarkan pengenalan kembali atau pembedaan stimulasi mulai gerak yang
relevan, seperti kecepatan objek yang bergerak, penyimpangan dalam gerakan,
dan sebagainnya. Dalam film dapat juga ditunjukkan serangkaian gambar
diam yang diiringi dengan audio.
b. Mengajarkan aturan dan prinsip. Film dapat juga menunjukkan deretan
ungkapan verbal, seperti pada gambar diam dan media cetak, tetapi tidak
ekonomis.
c. Memperlihatkan contoh model penampilan, terutama pada situasi yang
menunjukkan interaksi manusia.
Untuk tujuan psikomotor
61
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hal 61
Film digunakan untuk memperlihatkan contoh keterampilan gerak. Media ini
juga dapat memperjelas gerak dan memperlambat atau mempercepat,
mengajarkan cara menggunakan suatu alat, memanjat, berenang dan
sebagainnya. Selain itu, film juga dapat memberikan umpan balik “tertunda”
kepada siswa secara visual untuk menunjukkan tingkat kemampuan mereka
dalam mengerjakan keterampilan gerak, setelah beberapa waktu kemudian.
Untuk tujuan efektif
Film paling sesuai kalau digunakan untuk mempengaruhi sikap dan emosi,
yakni dengan menggunakan berbagai cara dan efek. Ia merupakan alat yang
cocok untuk memeragamkan efektif, baik melalui gambaran visual yang
berkaitan.62
7. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu atau penelitian pembanding yang akan peneliti paparkan adalah:
1. Penelitian Skripsi yang berjudul “Penggunaan Media Audio Visual Dalam
Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMKN 1
Bandung Kabupaten Tulungagung Tahun Ajaran 2014-2015”. Skripsi tersebut
disusun oleh Fuad Hermansyah (3211113075). Metode pengumpulan datanya
menggunakan metode observasi, wawancara dan metode dokumentasi. Jenis
penelitiannya adalah korelasi (correlation research). Adapun hasil dari penelitian
tersebut adalah:
62
Ronald H. Anderson, Pemilihan dan Pengembangan Media Untuk Pembelajaran, hal. 116-117
a. Adanya pengaruh yang signifikan dari penggunaan audio visual dalam
meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
b. Adanya hubungan antara penggunaan audio visual dalam meningkatkan
kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam, dengan rata-rata kelas
eksperimen adalah 68,25 dan rata-rata kelas kontrol adalah 60,75.63
2. Dari penelitian Setyowati. 2007. “Pengaruh Motivasi Belajar Terhadap Hasil
Belajar Siswa Kelas VII SMPN 13 Semarang”. Program Studi Pendidikan
Administrasi Perkantoran. Jurusan Manajemen. Fakultas Ekonomi. Universitas
Negeri Semarang.
a. Secara nyata motivasi belajar berpengaruh secara signifikan terhadap hasil
belajar siswa kelas VII SMPN 13 Semarang, terbukti dengan adanya
pengambilan data dengan cara observasi, dokumentasi, angket yang kemudian
diolah dengan cara silmultan.
b. Bersarnya pengaruh motivasi belajar terhadap hasil belajar siswa kelas VII
SMPN 13 Semarang sebesar 29,766 sedangkan sisanya sebesar 70,234
dipengaruhi oleh factor-faktor lain. Faktor-faktor tersebut tidak diteliti oleh
peneliti memberikan kesempatan kepada peneliti-peneliti lain untuk
menelitinya.64
3. Penelitian Skripsi yang berjudul “Hubungan Antara Pengetahuan Awal (nilai UN)
dan Motivasi Belajar Siswa Terhadap Prestasi Belajar Matematika Pada Siswa
Kelas VIII SMPN 1 Ngunut Tulungagung”. Skripsi tersebut disusun oleh Nurul
Hidayah (3214073055). Metode pengumpulan datanya menggunakan metode
63
Fuad Hermansyah, Penggunaan Media Audio Visual Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam di SMKN 1 Bandung Kabupaten Tulungagung Tahun Ajaran 2014-2015, (IAIN
Tulungagung, 2015).
64
Setyowati, Pengaruh Motivasi Belajar Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VII SMPN 13 Semarang,
(Universitas Negeri Semarang, 2007).
dokumentasi dan metode angket. Jenis penelitiannya adalah penelitian korelasi
(correlation research). Adapun hasil dari penelitian tersebut adalah:
a. Adanya pengaruh yang signifikan dari pengetahuan awal dan motivasi belajar
siswa terhadap prestasi belajar matematika dengan konstribusi sebesar 0,397.
b. Adanya hubungan antara pengetahuan awal dan motivasi belajar siswa
terhadap prestasi belajar matematika dengan konstribusi sebesar 0,227.
c. Dalam penelitian ini ada tiga instrument yang dignakan untuk memperoleh
data: Tes intelegensi yaitu CFIT skala 3, yang digunakan untuk menjaring
siswa yang memiliki intelegensi diatas.65
4. Penelitian ini ditulis oleh Puguh Prasetyo dengan judul “Pengaruh Persepsi Siswa
Tentang Kinerja Guru dan Kompetensi Guru Terhadap Prestasi Belajar
Akuntansi Keuangan Siswa Kelas XII Program Keahlian Akuntansi SMKN 1
Juwiring Klaten Tahun Ajaran 2010/2011”, pertanyaan penelitian dalan penelitian
ini adalah:
a. Bagaimana persepsi siswa tentang kinerja guru terhadap Prestasi Belajar
Akuntansi Keuangan Siswa?
b. Bagaimana Persepsi Siswa tentang kompetensi guru Terhadap Prestasi Belajar
Akuntansi Keuangan Siswa?
c. Bagaimana Persepsi Siswa tentang Kinerja Guru dan kompetensi guru
Terhadap Prestasi Belajar Akuntansi Keuangan Siswa?
Hasilnya menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara
Persepsi Siswa tentang Kinerja Guru terhadap Prestasi Belajar Akuntasi siswa
kelas XI Program Keahlian Akuntansi SMKN 1 Juwiring Klaten dengan r
hitung sebesar 0,411; koefisien determinan (r2) sebesar 0,169; hitung sebesar
65
Nuruh Hidayat, Hubungan Antara Pengetahuan Awal (nilai UN) dan Motivasi Belajar Siswa
Terhadap Prestasi Belajar Matematika Pada Siswa Kelas VIII SMPN 1 Ngunut Tulungagung, (IAIN
Tulungagung, 2014)
2,519, serta p-value sebesar 0,000. Posisi peneliti dalam penelitian yang ditulis
oleh Puguh Prasetyo ini adalah: persamaan, sama-sama mengukur variable
tentang Persepsi Siswa Tentang Kinerja Gurudan kompetensi, sedangkan
perbedaan dalam penelitian yang dilakukan oleh Puguh Prasetyo adalah subjek
dan tahun penelitian.66
5. Penelitian Skripsi yang berjudul “Hubungan Antara Motivasi Belajar dengan
Prestasi Belajar Siswa Kelas XI Bidang Studi Sejarah Kebudayaan Islam di MAN
Rejotangan Tahun 2013/2014”. Skripsi tersebut disusun oleh Lutfi Safitri
(05110160). Metode pengumpulan datanya menggunakan metode dokumentasi
dan metode angket. Jenis penelitiannya adalah penelitian korelasi (correlation
research). Adapun hasil dari penelitian tersebut adalah:
Hasilnya menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan
hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa kelas XI bidang
studi sejarah kebudayaan islam MAN Rejotangan tahun 2013/2014, diperoleh
koefisien korelasi product moment untuk motivasi intrinsic sebesar 0,998 dan
motivasi intrinsic sebesar 0,997 sedangkan untuk koefisien dari korelasi ganda
(variable motivasi belajar) sebesar 0,999 dan hasil ini lebih besar pada taraf 1%
maupun 5% sehingga dapat disimpulkan adanya hubungan yang positif dan
signifikan antara motivasi belajar dengan prestasi.67
Tabel 2.1
Kajian Penelitian Terdahulu
No Judul Penelitian Hasil Penelitian Persamaan Perbedaan
Penelitian Penelitian
1. Fuad Hermansyah Adanya Jenis Dalam
66
Puguh Prasetyo, Pengaruh Persepsi Siswa Tentang Kinerja Guru dan Kompetensi Guru Terhadap
Prestasi Belajar Akuntansi Keuangan Siswa Kelas XII Program Keahlian Akuntansi SMKN 1 Juwiring Klaten
Tahun Ajaran 2010/2011,(UNY 2011).
67
Lutfi Safitri, Hubungan Antara Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas XI Bidang Studi
Sejarah Kebudayaan Islam di MAN Rejotangan Tahun Ajaran 2014/2015, (IAIN Tulungagung, 2015).
(3211113075): pengaruh yang penelitiannya penelitian ini
Penggunaan media signifikan dari kuantitatif terdapat dua
audio-visual Dalam penggunaan variable.
Meningkatkan Kualitas media audio-
Pembelajaran Pendidikan visual dalam
Agama Islam di SMKN 1 meningkatkan
Bandung Kabupaten kualitas
Tulungagung Tahun pembelajaran
Ajaran 2014-2015, Jenis Pendidikan
penelitiannya adalah Agama Islam .
korelasi (correlation
research).
2. Setyowati. 2007: Secara nyata Jenis Dalam
Pengaruh Motivasi motivasi belajar penelitiannya penelitian ini
Belajar Terhadap Hasil berpengaruh kuantitatif terdapat dua
Belajar Siswa Kelas VII secara signifikan variable.
SMPN 13 Semarang”. terhadap hasil
Program Studi belajar siswa
Pendidikan Administrasi kelas VII SMPN
Perkantoran. Jurusan 13 Semarang,
Manajemen. Fakultas terbukti dengan
Ekonomi. Universitas adanya
Negeri Semarang. pengambilan
data dengan cara
observasi,
dokumentasi,
angket yang
kemudian diolah
dengan cara
silmultan.
3. Nurul Hidayah Dalam Jenis Dalam
(3214073055): penelitian ini penelitiannya penelitian ini
Hubungan Antara terdapat tiga kuantitatif terdapat tiga
Pengetahuan Awal (nilai instrument yang variable.
UN) dan Motivasi digunakan untuk
Belajar Siswa Terhadap memperoleh
Prestasi Belajar data: Tes
Matematika Pada Siswa intelegensi yaitu
Kelas VIII SMPN 1 CFIT skala 3,
Ngunut Tulungagung. yang digunakan
Metode pengumpulan untuk menjaring
datanya menggunakan siswa yang
metode dokumentasi dan memiliki
metode angket. Jenis intelegensi
penelitiannya adalah diatas.
penelitian korelasi
(correlation research).
4. Pengaruh Persepsi Siswa Hasilnya Jenis sama-sama
Tentang Kinerja Guru menyatakan penelitiannya mengukur
dan Kompetensi Guru bahwa terdapat kuantitatif, variable tentang
Terhadap Prestasi Belajar pengaruh positif sama-sama Persepsi Siswa
Akuntansi Keuangan dan signifikan mengukur Tentang Kinerja
Siswa Kelas XII Program antara Persepsi variable tentang Gurudan
Keahlian Akuntansi Siswa tentang Prestasi Belajar. kompetensi,
SMKN 1 Juwiring Klaten Kinerja Guru terdapat tiga
Tahun Ajaran 2010/2011. terhadap variable.
Prestasi Belajar
Akuntasi siswa
kelas XI
Program
Keahlian
Akuntansi
SMKN 1
Juwiring Klaten
dengan r hitung
sebesar 0,411;
koefisien
determinan (r2)
sebesar 0,169;
hitung sebesar
2,519, serta p-
value sebesar
0,000.
5. Pengaruh Persepsi Siswa Hasilnya Jenis Metode
Tentang Kinerja Guru menyatakan penelitiannya pengumpulan
dan Kompetensi Guru bahwa terdapat kuantitatif. datanya
Terhadap Prestasi Belajar pengaruh positif menggunakan
Akuntansi Keuangan dan signifikan metode
Siswa Kelas XII Program hubungan antara dokumentasi
Keahlian Akuntansi motivasi belajar dan metode
SMKN 1 Juwiring Klaten dengan prestasi angket
Tahun Ajaran 2010/2011. belajar siswa
kelas XI bidang
studi sejarah
kebudayaan
islam MAN
Rejotangan
tahun
2013/2014.
8. Kerangka Penelitian
Kerangka penelitian sama dengan dengan kerangka berfikir. Kerangka berfikir
merupakan kesimpulan untuk mengetahui adanya hubungan variabel-variabel yang ada
dalam penelitian. Menurut Sugiyono kerangka berpikir adalah sintesa tentang hubungan
antara variabel yang disusun dari berbagai teori yang telah dideskripsikan.68 Seperti
yang telah diungkapkan dalam landasan teori penelitian ini meyakinkan bahwa variabel
68
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D,,,. Hal. 60
bebas (media audio-visual) dan memiliki pengaruh positif terhadap variabel terikat
(motivasi dan hasil belajar siswa).
Disekolah siswa hanya mengenal metode ceramah, tanya jawab dan mediannya
hanya buku, papan tulis dan gambar disekitar dalam pembelajaran di kelasnya. Akan
tetapi, kadang-kadang ada variasi media belajar yang digunakan guru dalam
pembelajaran. Dengan pembelajaran seperti itu siswa sudah merasa terbiasa dan merasa
bosan dalam mengikuti pembelajaran. Hal seperti itu akan berdampak pada hasil belajar
yang kurang maksimal sehingga tujuan yang ingin dicapai siswa dalam pembelajaran
belum bisa terpenuhi.
Dengan semangat yang tinggi siswa cenderung ingin selalu belajar lebih giat
sehingga akan mendapatkan nilai yang memuaskan/ yang diinginkan. Disini motivasi
belajar dikaitkan dengan hasil belajar. Motivasi merupakan daya pendorong atau alat
pembangun kesediaan dan keinginan yang kuat dalam diri peserta didik untuk belajar
dalam rangka perubahan perilaku baik. Kerangka berfikir dari penelitian ini seperti
pada bagan berikut:
Media audio- Motivasi Motivas dan
visual Belajar Hasil
Belajar
Hasil
Belajar
Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran
9. Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah, karena
sifatnya yang sementara, maka perlu dibuktikan kebenarannya melalui data empirik.69
Hipotesis menunjukkan hubungan yang terjadi antar variable dalam suatu penelitian.
Ada tiga jenis hipotesis yang digunakan dalam penelitian, yaitu:
a. Ada pengaruh yang signifikan media audio-visual terhadap motivasi peserta
didik MI MIFTAHUN NAJAH SELOPURO BLITAR
b. Ada pengaruh yang signifikan media audio-visual terhadap hasil peserta didik MI
MIFTAHUN NAJAH SELOPURO BLITAR.
c. Ada pengaruh yang signifikan media audio-visual belajar terhadap motivasi dan
hasil belajar peserta didik MI MIFTAHUN NAJAH SELOPURO BLITAR.
69
Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis, (Bandung: Alfabeta, 2010), hal. 306