0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan31 halaman

Karakteristik dan Penyelidikan Tanah Lunak

Dokumen tersebut membahas tentang tinjauan pustaka mengenai tanah lunak, yang mencakup definisi, karakteristik, dan penyelidikan tanah lunak. Tanah lunak didefinisikan sebagai partikel mineral berukuran kecil yang memiliki gaya geser rendah dan permeabilitas rendah namun plastisitas tinggi. Untuk mengetahui karakteristiknya dilakukan penelitian di laboratorium dan lapangan, seperti menentukan klas situs, hubungan N-

Diunggah oleh

Ariisah Rozna
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan31 halaman

Karakteristik dan Penyelidikan Tanah Lunak

Dokumen tersebut membahas tentang tinjauan pustaka mengenai tanah lunak, yang mencakup definisi, karakteristik, dan penyelidikan tanah lunak. Tanah lunak didefinisikan sebagai partikel mineral berukuran kecil yang memiliki gaya geser rendah dan permeabilitas rendah namun plastisitas tinggi. Untuk mengetahui karakteristiknya dilakukan penelitian di laboratorium dan lapangan, seperti menentukan klas situs, hubungan N-

Diunggah oleh

Ariisah Rozna
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tanah Lunak


2.1.1 Pengertian Tanah Lunak
Tanah lunak adalah partikel mineral berkerangka dasar silikat
yang berdiameter kurang dari 4 mikrometer mengandung leburan
silika atau aluminium yang halus. Lempung terbentuk dari proses
pelapukan batuan silika oleh asam karbonat dan sebagian dihasilkan
dari aktivitas panas bumi. Pada umumnya lapisan tanah lunak adalah
lempung atau lanau yang mempunyai nilai percobaan Standart
Penetrasi Test (SPT) n = 4 atau tanah organis seperti gambut (Peat)
yang mempunyai kadar air alami (Natural Water Content) yang
sangat tinggi dan juga tanah pasir lepas yang mempunyai nilai n =
10.
Lapisan lunak umumnya terdiri dari tanah yang sebagian
besar terdiri dari butiran-butiran yang sangat kecil seperti lempung
atau lanau. Pada lapisan lunak, semakin muda umur akumulasinya,
semakin tinggi letak muka airnya. Lapisan muda ini juga kurang
mengalami pembebanan sehingga sifat mekanisnya buruk dan tidak
mampu memikul beban. Sifat lapisan tanah lunak adalah gaya
gesernya kecil, kemampatan yang besar, dan koefisien permeabilitas
yang kecil. Jadi, bilamana pembebanan konstruksi melampaui daya
dukung kritisnya maka dalam jangka waktu yang lama besarnya
penurunan akan meningkat yang akhirnya akan mengakibatkan
berbagai kesulitan.

6
2.1.2 Karakteristik Tanah Lunak
Tanah lunak (Clay) memiliki tegangan geser dan
permeabilitas yang rendah namun plastisitas tanah lunak tinggi.
Karena koefisien permeabilitas tanah lunak yang rendah sehingga
penurunan konsolidasi tanah lunak terjadi sangat lama.
Untuk mengetahui karaktristik tanah para ahli berusaha
mengadakan penelitian baik di laboratorium maupun di lapangan.
1. Tanah Kohesif dan Tidak Kohesif
Tanah disebut kohesif yaitu apbila karakteristik
fisiknya yang selalu melekat antara butiran tanah sewaktu
pembasahan atau pengeringan. Sedangkan pada tanah non
kohesif butiran tanah terpisah-pisah sesudah dikeringkan dan
melekat hanya apabila dalam keadan basah.
2. Plastisitas dan Konsistensi Tanah Kohesif
Plastisitas yaitu kemampuan butiran untuk tetap
melekat satu sama lain. Untuk mendefinisikan tanah kohesif
diperlukan kondisi fisik tanah tersebut pada kadar air tertentu
yang disebut konsistensi. Konsistensi tanah kohesif pada
kondisi alamnya dinyatakan dalam istilah lunak, sedang dan
kaku.
3. Penentuan Klas Site Tanah
Penentuan Klas Site tanah sangat penting diketahui
profil atau Klas Site tanah dalam perencanaan konstruksi
bangunan untuk mengetahui seberapa besar tanah dasar
mengalami kompresible dan juga sebagai penentuan
parameter tanah yang digunakan sebagai input suatu desain.
Untuk menentukan Klas Site tanah digunakan tipe profil
tanah berdasarkan standard UBC 1997 yang dihitung
berdasarkan kedalaman tanah minimal 30 meter, sehingga
dalam investigasi tanah baik dengan test lapangan SPT
maupun Sondir sebaiknya mencapai kedalaman 30 meter.

7
4. Nilai Gelombang Geser (Vs) Berdasarkan N-SPT
Nilai kecepatan rambat gelombang geser (Vs) atau
modulus geser maksimum (Gmax) biasanya dikorelasikan
dengan kuat geser yang diperoleh dari test laboratorium atau
besar-besaran yang diperoleh dari test lapangan seperti nilai
N-SPT dan qc Sondir.
Dari penyelidikan tanah di lapangan dan di laboratorium
dapat disajikan hubungan parameter tanah dengan tujuan
kesesuaiannya, dilihat pada Tabel 2.1 – Tabel 2.2 sebagai berikut.

Tabel 2.1 : Hubungan Konsistensi, Identifikasi dan Kuat Geser Tekan Bebas (qu)
Konsistensi Identifikasi Di qu
Tanah Lapangan (kg/cm2)
Dengan mudah
ditembus beberapa
Very Soft < 0,25
inchi dengan kepalan
tangan
Dengan mudah
Soft ditembus beberapa 0,25 – 0,50
inchi dengan ibu jari
Dapat ditembus
Medium beberapa inchi pada
0,50 – 1,00
Stiff kekuatan sedang
dengan ibu jari
Melekuk bila ditekan
Stiff 1,00 – 2,00
dengan ibu jari
Melekuk bila ditekan
dengan ibu jari tetapi
Very Stiff 2,00 – 4,00
dengan kekuatan
besar
Dengan kesulitan,
Hard melekuk bila ditekan > 4,00
dengan ibu jari

(Sumber : Sosrodarsono and Nakazawa, 1983)

8
Tabel 2.2 : Hubungan Antara Nilai N-SPT, Kepekatan Relatif dan qu Pada Tanah
Kohesif oleh Terzaghi dan Peck
N-SPT Harga Kuat Tekan Bebas (qu)
Kepakatan Relatif
(blows/ft) (kg/cm2)
Very Soft <2 < 0,25
Soft 2–4 0,25 – 0,51
Medium Stiff 4–8 0,51 – 1,02
Stiff 8 – 15 1,02 – 2,04
Very Stiff 15 – 30 2,04 – 4,08
Hard > 30 > 4,08

(Sumber : Tomlinson, 1977)

Hubungan antara konsistensi terhadap tekanan konus dan


Undrained Cohesion adalah sebanding dimana semakin tinggi nilai c
dan qc maka semakin keras tanah tersebut. Seperti yang terlihat
dalam Tabel 2.3 berikut ini.

Tabel 2.3 : Hubungan antara Konsistensi dengan Tekanan Konus pada Tanah
Lempung
Konsistensi Tekanan Konus qc Undrained Cohesion
Tanah (kg/cm2) (t/m2)
Very Soft < 2,50 < 1,25
Soft 2,50 – 5,00 1,25 – 2,50
Medium Stiff 5,00 – 10,00 2,50 – 5,00
Stiff 10,00 – 20,00 5,00 – 10,00
Very Stiff 20,00 – 40,00 10,00 – 20,00
Hard > 40,00 > 20,00

(Sumber : Begeman, 1965)

Untuk menentukan korelasi antara N-SPT dengan Cohesion


(c) untuk tanah kohesih dapat dilihat pada Gambar 2.1 berikut ini.

9
Gambar 2.1 Korelasi N-SPT dengan Cohesion (c)([Link] )

Untuk menentukan Korelasi Empiris antara nilai N-SPT


dengan Unconfined Compressive Strength dan berat jenis tanah
jenuh (γsat) untuk tanah kohesif dapat dilihat pada Tabel 2.4 berikut
ini.

Tabel 2.4 : Korelasi Empiris antara Nilai N-SPT dengan Unconfined Compressive
Strength dan Berat Jenis Tanah Jenuh (γsat) untuk Tanah Kohesif
Unconfined Compressive
N-SPT Γsat
Konsistensi Strength (qu)
(blows/ft) (kN/m3)
(t/ft2)
<2 Very Soft < 0,25 16 – 19
2–4 Soft 0,25 – 0,50 16 – 19
4–8 Medium Stiff 0,50 – 1,00 17 – 20
8 – 15 Stiff 1,00 – 2,00 19 – 22
15 – 30 Very Stiff 2,00 – 4,00 19 – 22
> 30 Hard > 4,00 19 – 22

(Sumber : Soil Mechanics, Lambe & Whitman, from Terzaghi and Peck 1948,
Internasional Edition 1969).

10
2.1.3 Penyelidikan Tanah Lunak
Untuk dapat melakukan analisis Geoteknik (Mekanika Tanah
dan Teknik Pondasi) yang benar dan baik, sangat diperlukan data-
data tanah (Soil Test) bawah permukaan yang lengkap dan akurat.
Data-data ada yang diperoleh langsung dari Survey geoteknik
lapangan dan ada yang diperoleh langsung dari uji laboratorium
terhadap contoh tanah yang diambil dari bawah permukaan melalui
pengeboran tanah (Boring).
Penyelidikan tanah di lapangan dapat berupa penggunan dan
interpretasi foto udara dan Remote Sensing, metode geofisik, metode
geolistrik, sumur uji (Test Pit), pengeboran tanah (Boring) dangkal
sampai dalam, uji Penetrometer, uji Sondir dengan Cone Penetration
Test (CPT), uji Vane Shear Test, Pocket Penetometer Test,
California Bearing Test (CBR) dan lain lain.
Pengeboran tanah (Boring) dan Sondir (CPT) adalah
pekerjaan yang paling umum dan akurat untuk tanah berlempung
dalam Survey geoteknik lapangan. Yang dimaksud dengan
pengeboran tanah adalah membuat lubang kedalam tanah dengan
menggunakan alat bor manual maupun alat bor mesin dengan tujuan
:
1. Mengidentifikasi jenis tanah sepanjang kedalaman lubang
bor,
2. Untuk mengambil contoh tanah asli maupun tidak asli pada
kedalaman yang dikehendaki,
3. Untuk memasukkan alat uji penetrasi baku Standart
Penetration Test (SPT) pada kedalaman yang dikehendaki.,
4. Untuk memasukkan alat uji lainnya kedalam tanah yang
dikehendaki, misalnya: uji rembesan lapangan, uji Vane
Shear, uji Presuremeter, pengukuran tekanan air pori dan
lain-lain.

11
Para peneliti geoteknik telah banyak membuat studi tentang
hasil SPT untuk membuat korelasi dengan hasil uji lapangan yang
lain, dengan berbagai sifat tanah, seperti jenis-jenis tanah dan
konsistensinya, kekuatan geser tanah, parameter konsolidasi,
Relative Density, daya dukung pondasi dangkal, daya dukung
pondasi dalam, tiang bor dan lain-lain.

2.2 Atterberg
Suatu hal yang penting pada tanah berbutir halus adalah sifat
plastisitasnya. Plastisitas disebabkan oleh adanya partikel mineral lempung
dalam tanah. Istilah plastisitas menggambarkan kemampuan tanah dalam
menyesuaikan perubahan bentuk pada volume yang konstan tanpa retak-
retak atau remuk.
Bergantung pada kadar air, tanah dapat berbentuk cair, plastis, semi
padat, atau padat. Kedudukan fisik tanah berbutir halus pada kadar air
tertentu disebut konsistensi. Konsistensi bergantung pada gaya tarik antara
partikel mineral lempung. Sembarang pengurangan kadar air menghasilkan
berkurangnya tebal lapisan kation yang menyebabkan bertambahnya gaya
tarik partikel. Bila tanah dalam kedudukan plastis, besamya jaringan gaya
antar partikel akan sedemikian hingga partikel bebas menggelincir antara
satu dengan yang lain, dengan kohesi yang terpelihara. Pengurangan kadar
air menghasilkan pengurangan voume tanah.
Atterberg (1911), memberikan cara untuk menggambarkan batas-
batas konsistensi dari tanah berbutir halus dengan mempertimbangkan
kandungan kadar air tanah. Batas-batas tersebut adalah batas cair (liquid
limit), batas plastis (plastic limit), dan batas susut (shrinkige limit).
Kedudukan batas-batas konsistensi untuk tanah kohensif ditunjukkan dalam
Gambar 2.2. berikut ini.

12
Gambar 2.2. Batas-batas Atterberg (Braja M. Das)

1. Batas Cair (liquid limit - LL)


Kadar air dinyatakan dalam persen, dari tanah yang dibutuhkan untuk
menutup goresan yang berjarak 0,5 in (12,7 mm) sepanjang dasar
contoh didalam mangkok. Sesudah 25 pukulan didefinisikan sebagai
batas cair (liquid limit), untuk mengatur kadar air dari tanah sangat sulit
maka biasanya percobaan dilakukan beberapa kali dengan kadar air
yang berbeda-beda dengan jumlah pukulan berkisar antara 15 sampai
35.
2. Batas Plastis (plastic limit - PL)
Batas plastis didefinisikan sebagai kadar air, dinyatakan dalam persen
dimana tanah apabila digulung sampai dengan diameter 1/8 in(3,2 mm)
menjadi retak-retak. Batas plastis merupakan batas terendah dari tingkat
keplastisan suatu tanah.
3. Batas Susut (shrinkage limit - SL)
Suatu tanah akan menyusut apabila air yang dikandungnya secara
perlahan-lahan hilang dalam tubuh. Dengan hilangnya air secara terus
menerus, tanah akan mencapai suatu tigkat keseimbangan di mana
penambahan kehilangan air tidak akan menyebabkan perubahan
volume.
Kadar air, dinyatakan dalam persen dimana perubahan volume suatu
massa tanah berhenti didefinisikan sebagai batas susut (shrinkage limit). Uji

13
batas susut dilakukan dilaboratorium dengan menggunakan suatu mangkok
porselin yang mempunyai diameter kira-kira 1,75 in (44,4 mm) dan tinggi
kira-kira 0,5 in (12,7 mm). volume dari contoh tanah yang telah dikeringkan
ditentukan dengan cara menggunakan air raksa.
4. Indeks Plastis (plasticity index - PI)
Indeks plastisitas adalah perbedaan antara batas cair dan batas plastis
suatu tanah atau PI = LL – PL. Indeks plastisitas digunakan sebagai
identifikasi sifat plastis tanah. Jika tanah mempunyai PI tinggi, maka
tanah banyak mengandung butiran lempung. Jika PI rendah, seperti
lanau, sedikit pengurangan kadar air berakibat tanah menjadi kering.
Batasan mengenai indeks plastisitas, sifat, macam tanah, dan kohesi
diberikan oleh Atterberg terdapat dalam Tabel 2.5 berikut ini :
Tabel 2.5 Nilai Indeks Plastisitas Dan Macam Tanah, (Hardiyatmo, 1995:38)
PI Sifat Macam Tanah Kohesi
0 Non plastis Pasir Non kohesif
<7 Plastisitas rendah Lanau Kohesif sebagian
7 – 17 Plastisitas sedang Lempung berlanau Kohesif
> 17 Plastisitas tinggi Lempung Kohesif

2.3 Permeabilitas Tanah


Semua macam tanah terdiri dari butir-butir dengan ruangan-
ruangan yang disebut pori (voids) antara butir-butir tersebut. Pori-pori
ini selalu berhubungan satu dengan yang lain sehingga air dapat
mengalir melalui ruang pori tersebut. Proses ini disebut rembesan
(seepage) dan kemampuan tanah untuk dapat dirembesi air disebut daya
rembesan atau permeabilitas (permeability). Persoalan rembesan air dalam
tanah sangat penting dalam bidang teknik sipil, misalnya pada pembuatan
tanggul untuk menahan air maupun bendungan. Prinsip ini dapat dilihat
pada Gambar 2.3.

14
Pada gambar ini diperlihatkan rembesan air pada suatu contoh
tanah akibat adanya perbedaan tegangan air pada kedua ujung contoh
tersebut.
Pada titik A dan B tegangan air dapat ditentukan dengan mengukur
ketinggian air dalam pipa- pipa yang dipasang pada kedua titik tersebut.
Selisih ketinggian air pada kedua pipa ini disebut “hydraulic head” (h)
antara titik A dan B. Jika terdapat hydraulic head (h) air akan mengalir
dari titik A ke titik B.

Gambar 2.3 : Rembesan air di dalam tanah akibat


gradien hidrolis
Selisih ketinggian air H dibandingkan jarak antara kedua titik ini
disebut gradient hidrolis dengan simbol i.

15
Menurut hukum Darcy kecepatan aliran air dalam tanah
sebanding dengan gradient hidrolik

Yaitu
v = k.i
Dimana v = kecepatan (discharge velocity)
k = konstanta yang disebut koefisien rembesan
atau permeabilitas (coefficient of permeability)
Kecepatan v pada rumus Darcy bukanlah kecepatan sebenarnya
pada air didalam pori tanah. Kecepatan v ini adalah suatu angka yang
dapat dipakai secara langsung untuk menghitung banyaknya air yang
merembes dalam tanah.

2.4 Tegangan Efektif


2.4.1 Pengertian Dasar
Tanah dapat divisualisasikan sebagai suatu kerangka
partikel padat tanah (solid skeleton) yang membatasi pori-pori
yang mana pori-pori tersebut mengandung air dan/atau udara.
Untuk rentang tegangan yang biasa dijumpai dalam praktek,
masing-masing partikel padat dan air dapat dianggap tidak
kompresibel, di lain pihak udara bersifat sangat kompresibel.
Volume kerangka tanah secara keseluruhan dapat
berubah akibat penyusunan kembali partikel-partikel padat pada
posisinya yang baru, terutama dengan cara menggelinding dan
menggelincir yang menyebabkan terjadinya perubahan gaya- gaya
yang bekerja di antara partikel-partikel tanah. Kompresibilitas
kerangka tanah yang sesungguhnya tergantung pada susunan
struktural partikel tanah tersebut.
Pada tanah jenuh, dengan menganggap air tidak
kompresibel, pengurangan volume hanya mungkin terjadi bila
sebagian airnya dapat melepaskan diri dan ke luar dari pori-pori.

16
Pada tanah kering atau jenuh sebagian, pengurangan
volume selalu mungkin terjadi akibat kompresi udara dalam pori-
pori, dan terdapat suatu ruang untuk penyusunan kembali
partikel-tanah.
Tegangan geser dapat ditahan oleh kerangka partikel-padat
tanah dengan memanfaatkan. Gaya-gaya yang timbul karena
persinggungan antar partikel. Tegangan normal ditahan oleh gaya-
gaya antar partikel pada kerangka tanah. Jika tanah berada dalam
kondisi jenuh sempurna, air pori akan mengalami kenaikan tekanan
karena ikut menahan tegangan normal.

2.4.2 Prinsip Tegangan Efektif


Besamya pengaruh gaya-gaya yang menjalar dari
partikel ke partikel lainnnya dalam kerangka tanah telah
diketahui sejak tahun 1923, ketika Terzaghi mengemukakan
prinsip tegangan efektif yang didasarkan pada data hasil
percobaan. Prinsip tersebut hanya berlaku untuk tanah jenuh
sempurna, tegangan yang berhubungan dengan prinsip prinsip
tersebut adalah :
1. Tegangan normal total (σ) pada bidang di dalam tanah,
yaitu gaya per satuan luas yang ditransmisikan pada arah
normal bidang, dengan menganggap bahwa tanah adalah
material padat saja (fase tunggal).
2. Tekanan air pori (u), yaitu tekanan air pengisi pori-pori di
antara partikel-partikel padat.
3. Tegangan normal efektif (σ') pada bidang, yang
mewakili tegangan-yang dijalankan hanya melalui
kerangka tanah saja.
Hubungan ketiga tegangan di
atas adalah : σ = σ' + u

17
2.5 Kuat Geser
Kekuatan geser tanah merupakan perlawanan internal tanah
tersebut persatuan luas terhadap keruntuhan atau pergeseran sepanjang
bidang geser dalam tanah yang dimaksud (Braja [Link],1985 ). Dalam buku
yang lain disebutkan bahwa kekuatan geser tanah adalah kekuatan tanah
untuk memikul beban-beban atau gaya yang dapat menyebabkan
kelongsoran, keruntuhan, gelincir dan pergeseran tanah.

Faktor yang mempengaruhi kuat geser tanah (pengaruh lapangan)


• Keadaan tanah : angka pori, ukuran dan bentuk butiran
• Jenis tanah : pasir, berpasir, lempung dsb
• Kadar air (terutama lempung)
• Jenis beban dan tingkatnya
• Kondisi Anisotropis

Faktor yang mempengaruhi kuat geser tanah ( pada saat pengujian di


laboraturium )
• Metode pengujian
• Gangguan terhadap contoh tanah
• Kadar air
• Tingkat regangan

Keruntuhan geser (Shear failure ) tanah terjadi bukan disebabkan


karena hancurnya butir – butir tanah tersebut tetapi karena andanya gerak
relative antara butir – butir tanah tersebut. Pada peristiwa kelongsoran suatu
lereng berarti telah terjadi pergeseran dalam butir – butir tanah tersebut.
Kekuatan geser yang dimiliki suatu tanah disebabkan oleh :
• Pada tanah berbutir halus (kohesif) misalnya lempung kekuatan geser
yang dimiliki

18
tanah disebabkan karena adanya kohesi atau lekatan antara butir – butir
tanah (csoil).
• Pada tanah berbutir kasar (non kohesif ), kekuatan geser disebabkan
karena adanya
gesekan antara butir – butir tanah sehingga sering disebut sudut gesek
dalam (φ soil )
• Pada tanah yang merupakan campuran antara tanah halus dan tanah kasar
( c dan φ soil ),

kekuatan geser disebabkan karena adanya lekatan ( karena kohesi )


dan gesekan antara butir – butir tanah ( karena φ). Teori yang dipakai dalam
kuat geser tanah.
Mohr ( 1910 ) menyuguhkan sebuah teori tentang keruntuhan pada
material yang menyatakan bahwa keruntuhan terjadi pada suatu material
akibat kombinasi kritis tegangan normal dan geser, dan bukan hanya akibat
tegangan normal maksimum atau tegangan geser maksimum saja.

Garis keruntuhan ( failure envenlope ) yang dinyatakan oleh


persamaan di atas sebenarnya adalah sebuah garis lengkung pada sebuah
grafik yang menyatakan hubungan antara tegangan normal dan tegangan
geser,namun untuk sebagian besar masalah – masalah mekanika tanah, garis
tersebut cukup didekati dengan sebuah garis lurus yang menunjukkan
hubungan linier antara tegangan normal dan tegangan geser (
Couloumb,1776 ), secara matematis dinyatakan dengan persamaan :

τ = c + σ[Link]φ..........................................................................................(2.1)

dimana,
s/ τ : Kekuatan geser tanah
c : Kohesi

19
φ : Sudut geser internal

Hubungan di atas disebut juga sebagai kriteria keruntuhan menurut Mohr –


[Link] bidang keruntuhan akibat geser. Keruntuhan geser (
keruntuhan akibat geser ) terjadi pada suatu bidang telah mencapai syarat
batas sebagai mana yang telah dirumuskan oleh Couloumb.

2.6 Konsolidasi Tanah


2.6.1 Pengertian Konsolidasi
Bila lapisan tanah jenuh berpermeabilitas rendah dibebani,
maka tekanan air pori di dalam lapisan tersebut segera bertambah.
Perbedaan tekanan air pori pada lapisan tanah, berakibat air mengalir
ke lapisan tanah dengan tekanan air pori yang lebih rendah, yang
diikuti penurunan tanahnya. Karena permeabilitas yang rendah ini
butuh waktu.
Konsolidasi tanah adalah suatu proses pengecilan volume
secara perlahan-lahan pada tanah jenuh sempurna dengan
permeabilitas rendah akibat pengaliran sebagian air pori. Proses
tersebut berlangsung terus sampai kelebihan tegangan air pori yang
disebabkan oleh kenaikan tegangan total telah benar-benar hilang
(Craig,1994:213). Dengan kata lain, pengertian konsolidasi adalah
proses terperasnya air tanah akibat bekerjanya beban, yang terjadi
sebagai fungsi waktu karena kecilnya permeabilitas tanah.
Proses ini berlangsung terus sampai kelebihan tekanan air
pori yang disebabkan oleh kenaikan tegangan total telah benar-benar
hilang. Kasus yang paling sederhana adalah konsolidasi satu
dimensi, di mana kondisi regangan lateral nol mutlak ada. Proses
konsolidasi dapat diamati dengan pemasangan piezometer, untuk
mencatat perubahan tekanan air pori dengan waktunya. Besarnya
penurunan dapat diukur dengan berpedoman pada titik referensi
ketinggian pada tempat tertentu.

20
2.6.2 Koefisien Pemampatan (Coefficient of Compression , av) dan
Koefisien Perubahan Volume (Coefficient of Volume Change ,
mv)
Koefisien pemampatan ( av) adalah koefisien yang
menyatakan kemiringan kurva e-p’. Jika tanah dengan volume V1
mampat sehingga volumenya menjadi V2, dan mampatnya tanah
dianggap hanya sebagai akibat pengurangan rongga pori, maka
perubahan volume hanya dalam arah vertikal dapat dinyatakan:

................................(2.2)

Dimana:
e1 = Angka pori pada tegangan p1’
e2 = Angka pori pada tegangan p2’
V1 = Volume ada tegangan p1’
V2 = Volume ada tegangan p2’

2.6.3 Compression Index (Cc)


Indeks Pemampatan Cc adalah kemiringan dari bagian lurus
grafik e - log p’. Untuk dua titik yang terletak pada bagian lurus dari
grafik dalam Gambar 2.9. nilai Cc dapat dinyatakan dalam rumus:

Cc = ....................................................(2.3)

Untuk tanah normally consolidated, Terzaghi dan Peck ( 1967 )


memberikan hubungan angka kompresi Cc sebagai berikut:
Cc = 0.009 ( LL - 10 )
Dengan LL adalah batas cair ( liqiud limit )
Untuk tanah lempung dibentuk kembali ( remolded )

21
Cc = 0.007 ( LL - 10 )

Gambar 2.4. Indeks pemampatan Cc


2.6.4 Tekanan Prakonsolidasi ( Preconsolidation Pressure, pc’)
Salah satu cara untuk menentukan nilai tekanan
prakonsolidasi ( pc’ ) adalah cara Casgrande ( 1963 ), yaitu dengan
menggunakan gambar grafik hubungan e-log p ( Gambar 2.5. ).

Gambar 2.5. Menentukan pc’ Dengan Metode Casagrande 1936


(Sumber : [Link], 1995)

22
Jadi, lempung pada kondisi normally consolidated, bila
tekanan prakonsolidasi (preconsolidation pressure) (Pc’) sama
dengan tekanan overbuden efektif (P0’). Sedang lempung pada
kondisi overconsolidated, jika tekanan prakonsolidasi lebih besar
dari pada tekanan overbuden efektif yang ada pada waktu sekarang
(Pc’ > P0’). Nilai banding overconsolidation (overconsolidation
ratio, OCR) di definisikan sebagai nilai banding tekanan
prakonsolidasi terhadap tegangan efektif yang ada, atau bila
dinyatakan dalam persamaan :

OCR = .....................................................................................(2.4)

Tanah normally consolidated mempunyai nilai OCR = 1,


dan tanah overconsolidated mempunyai OCR > 1. Dapat ditemui
pula, tanah lempung mempunyai OCR < 1. Dalam hal ini tanah
adalah sedang mengalami konsolidasi (underconsolidated).
Untuk lempung tertentu, penurunan konsolidasi
dinyatakan oleh persamaan-persamaan berikut ini :
Bila di definisikan :
P1’ = P0’ = ∆p....................................................................(2.5)
(a) Penurunan untuk lempung normally consolidated (Pc’ = P0’) dengan
tegangan efektif sebesar P1’.
S c = Cc log ...........................................................................(2.6)

(b) Untuk lempung overconsolidated (Pc’ > P0’) penurunan konsolidasi


primer total dinyatakan oleh persamaan yang bergantung nilai P1’.
1. Bila P1’ < Pc’
S c = Cr log ........................................................................(2.7)

2. Bila P1’ > Pc’

S c = Cr log ..........................................(2.8)

23
Cc = pada kurva penambahan beban atau pada P’ > Pc’

Dari penelitian, untuk tanah normally consolidated, terzaghi dan


peck (1967) menggusulkan nilai Cc sebagai berikut : 0,009 (LL-10).
Cr = pada kurva pelepasan beban atau pada P’ > Pc’

Dengan :
Cr = indeks pemammppatan kembali
Cc = indeks pemampatan
H = tebal lapis tanah
P c’ = tekanan prakonsolidasi
e0 = angka pori awal
∆p = tambahan tegangan akibat beban pondasi
p1’ = tegangan efektif
p0’ = tekanan overbuden efektif mula-mula sebelum dibebani

2.7 Penurunan
Jika lapisan tanah dibebani, maka akan mengalami regangan atau
penurunan (settlement). Regangan yang terjadi dalam tanah ini disebabkan
oleh berubahnya susunan tanah maupun oleh pengurangan rongga pori/air di
dalam tanah tersebut. Jumlah dari regangan sepanjang kedalaman lapisan
merupakan penurunan total tanah. Penurunan akibat beban adalah jumlah
total dari penurunan segera dan penurunan konsolidasi.
Dalam suatu penurunan akan diketahui kecepatan yaitu apakah akan lekas
selesai atau akan terus berjalan bertahun-tahun lamanya.
Kecepatan penurunan bergantung pada dua faktor :
1. Daya rembesan tanah (permeability). Ini yang menentukan
kecepatan air mengalirdari tanah.
2. Compressibility tanah. Ini akan menentukan banyaknya air yang
harus mengalir.

24
2.7.1 Penurunan segera (Immediate Settlement)
Penurunan segera adalah penurunan yang terjadi pada
tanah berbutir kasar dan tidak jenuh terjadi dengan segera sesudah
beban bekerja. Penurunan pada kondisi ini disebut penurunan segera
yang merupakan bentuk penurunan elastis. Kasus ini banyak di
jumpai pada pondasi struktur yang terletak pada tanah yang berbutir
kasar (granular).
Dalam kenyataannya, lapisan tanah mampat tidak
mempunyai ketebalan tak terhingga. Lapisan tanah yang diendapkan
secara alamiah terbentuk secara berlapis-lapis dengan sifat berbeda
diatas lapisan tanah keras. Dalam lapisan ini, kuat geser dan
modulus, biasanya bertambah bila kedalaman bertambah. Gibson
(1967) telah mengamati bahwa variasi modulus dengan kedalaman
mempunyai pengaruh yang kecil terhadap ditribusi tegangan, tetapi
mempunyai pengaruh yang berarti pada perubahan bentuk
permukaan.
Penurunan pondasi pada tanah granuler dapat dihitung dari hasil test
uji kerucut statis (static cone penetration test). De Beer dan Marten
(1957) mengusulkan persamaan angka kompresi (C) yang di kaitkan
dengan persamaan Buismann, sebagai berikut :
C= ........................................................................................(2.9)

Dimana :
C= angka pemampatan (angka kompresibilitas)
qc = tahanan kerucut statis
p0’ = tekanan overbuden efektif
satuan qc dan p0’ harus sama. Nilai C ini, kemudian disubstitusikan
kedalam persamaan Terzaghi untuk penurunan pada lokasi tanah
yang di tinjau, yaitu :
Si = In ...........................................................................(2.10)

25
Dimana :
Si = penurunan segera (m) dari lapisan setebal H (m)
P0’ = tekanan overbuden efektif awal, yaitu dengan efektif sebelum
beban bekerja
∆p = tambahan tegangan vertikal ditengah-tengah lapisan oleh
tegangan akibat beban pondasi neto

2.7.2 Penurunan Konsolidasi (Consolidation Settlement)


Penurunan konsolidasi adalah penurunan yang terjadi pada
tanah berbutir halus yang terletak dibawah muka air tanah.
Penurunan yang terjadi memerlukan waktu, yang lamanya
tergantung kondisi lapisan tanah.
Ada beberapa sebab terjadinya penurunan akibat pembebanan
yang bekerja di atas tanah :
1. Kegagalan atau keruntuhan geser akibat terlampauinya
kapasitas daya dukung tanah.
2. Kerusakan yang besar pada pondasi.
3. Distorsi geser dari tanah pendukungnya.
4. Turunnya tanah akibat perubahan angka pori.
Keruntuhan geser akibat terlampauinya kapasitas daya dukung
tanah akan mengakibatkan penurunan sebagian (differential
settlement) dan keseluruhan.
Bilamana tanah terbebani dan kemudian berkonsolidasi, maka
penurunan tersebut berlangsung dalam 3 fase, yaitu :
1. Fase awal, yaitu fase dimana penurunan terjadi dengan
segera sesudah beban bekerja.
2. Fase konsolidasi primer atau konsolidasi hidrodinamis,
yaitu penurunan yang di pengaruhi oleh kecepatan aliran air yang
meninggalkan rongga pori tanah akibat adanya tambahan tekanan.
3. Fase konsolidasi sekunder, merupakan proses lanjutan dari
konsolidasi primer, dimana prosesnya berjalan sangat lambat.

26
Bilamana tanah-tanah anorganik penurunan konsolidasi sekunder
jarang diperhitungkan karena pengaruhnya sangat kecil.
Penurunan total dari tanah berbutir halus yang jenuh adalah
jumlah dari penurunan segera dan penurunan konsolidasi.
S = Sc + Si ...................................................................................(2.11)
Dengan :
S = penurunan total
Sc = penurunan konsolidasi
Si = penurunan segera

2.8 Timbunan Tinggi


2.8.1 Pengertian Timbunan Tinggi
Timbunan tinggi adalah timbunan atau urugan yang
digunakan untuk pencapaian elevasi akhir subgrade yang
diisyaratkan dalam gambar perencanaan dengan tujuan tertentu,
misalnya untuk mengurangi tebal lapisan pondasi bawah, untuk
memperkecil gaya lateral tekanan tanah dibelakang dinding penahan
tanah talud jalan.
Timbunan tinggi dalam pekerjaan timbunan tanggul ini
berkaitan dengan c dan untuk menentukan bidang geser tanah.
Bidang geser tanah yang didapatkan, akan digunakan untuk
menghitung angka keamanan dengan metode plaxis.

Gambar 2.6: Pemadatan Untuk Timbunan Tinggi


(Bahan Ajar Mekanika TanahII,[Link],MST,Ph.D,2013)

27
2.8.2 Pemadatan Tanah
Pemadatan tanah adalah proses menaikkan berat jenis tanah
dengan cara mendesak tanah dengan energi mekanis agar partikel
solid pada tanah lebih merapat dan menjadi padat serta mengurangi
partikel udara yang mengisi rongga pada massa tanah. Tingkat
pemadatan diukur dari berat volume kering yang dipadatkan. Bila air
ditambahkan pada suatu tanah yang sedang dipadatkan, air tersebut
akan berfungsi sebagai unsur pembasah atau pelumas pada partikel-
partikel tanah. Karena adanya air, partikel-partikel tersebut akan
lebih mudah bergerak dan bergeseran satu sama lain dan membentuk
kedudukan yang lebih rapat. Untuk usaha pemadatan yang sama,
berat volume kering dari tanah akan naik bila kadar air dalam tanah
(pada saat dipadatkan) meningkat.

Gambar 2.7 : Prinsip Pemadatan Tanah


(Bahan Ajar Mekanika Tanah II,[Link],MST,Ph.D,2013)

Adanya penambahan kadar air justru cenderung menurunkan


berat volume kering dari tanah. Hal ini disebabkan karena air
tersebut kemudian menempati ruang-ruang pori dalam tanah yang

28
sebetulnya dapat ditempati oleh partikel-partikel padat dari tanah.
Kadar air dimana berat volume kering maksimum tanah dicapai
disebut kadar air maksimum.
Selain kadar air, ada beberapa faktor yang mempengaruhi
pemadatan tanah, yaitu jenis tanah, bentuk butiran tanah, berat
spesifik bagian padat tanah, jenis mineral lempung yang ada pada
tanah. Adapun tujuan pemadatan tanah antara lain :
1. Mengurangi kompresibilitas.
2. Menaikkan kekuatan tanah.
3. Mengurangi potensi likuifasi.
4. Mengontrol shrinkage dan swelling.
5. Mengurangi hydraulic compressibility atau permeabilitas.
6. Menaikkan daya tahan terhadap erosi.

 Perilaku Tanah Lempung yang Dipadatkan


Secara umum sifat-sifat mekanis dari lempung yang
dipadatkan bergantung pada cara pemadatan, energi (compactive
effort), kadar air saat pemadatan, dan perubahan kadar air dan
volume setelah pemadatan. Pemadatan dengan kadar air lebih
rendah dari kadar air optimum akan menghasilkan struktur tanah
yang floccuted dan aggregate. Pemadatan dengan kadar air lebih
besar dari kadar air optimum akan menghasilkan struktur tanah
yang deflocculated dan disperse.

29
Gambar 2.8 : Prinsip Pemadatan Hubungan antara Struktur dan Perilaku Tanah
Lempung.
(Bahan Ajar Mekanika Tanah 1,[Link] Karlinasari,MT,2013)

2.9 Koefisien Konsolidasi Arah Vertikal (Cv)


Kecepatan penurunan dihitung dengan menggunakan koefisien
konsolidasi. Kecepatan penurunan perlu diperhitungkan bila penurunan
konsolidasi yang terjadi pada suatu struktur diperkirakan sangat besar.
Derajat konsolidasi pada sembarang waktunya, dapat ditentukan dengan
menggambarkan grafik penurunan vs waktu untuk satu beban tertentu
yang diterapan pada alat oedometer. Dengan mengukur penurunan total
pada akhir fase konsolidasi. Kemudian dari data penurunan dan waktunya,
sembarang waktu yang dihubungkan dengan derajat konsolidasi rata – rata
tertentu (misalnya U = 50 %) ditentukan. Walaupun fase konsolidasi telah
berakhir, yaitu ketika tekanan air porinya telah nol, benda uji di dalam alat
oedometer masih terus mengalami penurunan akibat konsolidasi sekunder.
Karena itu, tekanan air pori mungkin perlu diukur selama proses
pembebanannya atau suatu interprestasi data penurunan dan waktu harus
dibuat untuk menentukan kapan konsolidasi telah selesai.

30
Jika sejumlah kecil udara terhisap masuk dalam air pori akibat
penurunan tekanan pori dari lokasi aslinya di lapangan, kemungkinan
terdapat juga penurunan yang berlangsung cepat, yang bukan bagian dari
proses konsolidasi. Karena itu, tinggi awal atau kondisi sebelum adanya
penurunan saat permulaan proses konsolidasi juga harus diinterprestasikan.
Koefisien konsolidasi vertikal (Cv) menentukan kecepatan
pengaliran air pada arah vertikal dalam tanah. Karena pada umumnya
konsolidasi berlangsung satu arah saja, yaitu arah vertikal, maka koefisien
konsolidasi sangat berpengaruh terhadap kecepatan konsolidasi yang akan
terjadi. Harga Cv dapat dicari mempergunakan persamaan berikut ini:

Cv = ....................................................................................(2.12)

Dimana:
Cv = Koefisien konsolidasi ( cm2/dtk )
Tv = Faktor waktu tergantung dari derajat konsolidasi
T= Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai derajat
konsolidasi U% (dtk)
H = Tebal tanah (cm)

2.10 Derajat Konsolidasi


Derajat konsolidasi tanah (U) adalah perbandingan penurunan tanah
pada waktu tertentu dengan penurunan tanah total. Untuk U 60% maka:
..\ ..........................................................................(2.13)

Untuk U > 60 maka:


Tv = 1,781 – 0,933 log ( 100 – U % ......................................................(2.14)

2.11 Prefabricated Vertical Drains (PVD)


Penggunaan PVD merupakan salah satu cara dalam mengatasi masalah
tanah dasar lunak, yaitu dengan kinerja pemampatan pada bahan-bahan

31
pembentuknya sehingga dapat mempercepat waktu penurunan. PVD merupakan
semacam material geosintesis yang telah melalui berbagai macam uji dari pabrik
produksi. Pemasangan material ini dimulai dengan memasang sepatu pelat pada
ujung mandrel kemudian memasukkan mandrel kedalam tanah sampai kedalam
yang telah direncanakan. Setelah mencapai kedalaman yang direncanakan
mandrel ditarik keatas permukaan tanah kemudian dilakukan pemotongan PVD
diatas permukaan tanah dengan menyisakan ujung atas sesuai dengan yang telah
direncanakan.

2.11.1 Bentuk dan Fungsi PVD (Prefabricated Vertical Drain)


a. Bentuk PVD (Prefabricated Vertical Drain)
PVD (Prefabricated Vertical Drain) berbentuk pipih
memanjang terdiri dari inti (core) dan dibungkus dengan filter
(jacket).

Gambar 2.9 Sket dan Bentuk dari PVD

32
Berikut ini adalah macam – macam / jenis / bentuk dari inti PVD:

Tabel 2.6 Bentuk - Bentuk dari Inti PVD

b. Bentuk PVD (Prefabricated Vertical Drain)


Prefabricated Vertical Drain (PVD) digunakan untuk
mempercepat proses waktu konsolidasi primer. Dengan melihat
grafik pada gambar 2.10 di bawah ini, cobalah bandingkan
penurunan tanah yang terjadi pada pengurugan tanah yang
menggunakan PVD dan yang tidak menggunakan PVD.

Gambar 2.10 Grafik Perbandingan Penurunan Tanah yang


Menggunakan PVD dan Tidak Menggunakan PVD

33
Setelah mengamati grafik perbandingan penurunan tanah pada
gambar 2.10 di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tanah
yang menggunakan PVD mengalami penurunan (settlement) yang
lebih cepat, hal ini di sebabkan air pori yang berada dalam tanah
terhisap keluar dengan bantuan PVD dan ditambah dengan
pembebanan sementara sebelum banguanan / jalan dioperasikan
sehingga penurunan nya lebih cepat dibandingkan dengan penurunan
yang tidak menggunakan PVD dan hanya mengandalkan beban dari
atas saja. Selain itu dengan penurunan tanah yang lebih cepat dengan
menggunakan bantuan PVD dan pembebanan dari atas (preloading)
diharapkan pada saat bangunan sudah mulai dioperasikan / di
gunakan, sudah tidak terjadi penurunan (settlement) lagi dan kalau
pun terjadi penurunan juga sedikit dan masih dalam batas aman /
masih dalam batas yang diijinkan.
Kapasitas pengaliran (discharge capacity) material PVD
(Prefabricated Vertical Drain) tergantung dari tekanan lateral tanah
yang diterima material PVD.

2.11.2 Penggunaan PVD (Prefabricated Vertical Drain)


PVD (Prefabricated Vertical Drain) digunakan pada pekerjaan
perbaikantanah dengan menggunakan metoda Preloading dan
Vacuum Consolidation.
a. Metode Preloading
Pada metode Preloading, air pori di dalam tanah dikeluarkan
dengan cara pembebanan (Preload) dengan menggunakan
timbunan tanah.

34
b. Metode Vacuum Consolidation
c. Pada metode Vacuum consolidation, air pori di dalam tanah
dikeluarkan dengan cara pemompaan (vacum) dan
menggunakan lapisan kedap air
d. Metode Ceteau Vacuum System
Pada metode Ceteau Vacuum System , air pori di dalam tanah
dikeluarkan dengan cara pemompaan (vacum) tanpa
menggunakan lapisan kedap air.

2.11.3 Perhitungan Perbaikan Tanah Dengan PVD


Untuk mempercepat penempatan pada tanah dasar dipasang
bahan Prefabricated Vertical Drains (PVD). Perhitungan PVD yang
utama adalah menentukan kedalaman pemasangan dan pola serta
titik pemasangan PVD. Untuk menentukan kedalaman pemasangan
PVD. Tidak dilakukan perhitungan melainkan hanya berdasarkan
kondisi lapisan tanah dasar. Dalam hal ini kedalaman pemasangan
Prefabricated Vertical Drains (PVD) ditentukan pada lapisan soft
clay sampai hard clay yaitu sedalam 19,5 m.
Penentuan pola serta jarak titik pemasangan PVD digunakan
formula Barron (1984), tanpa memperhatikan pengaruh gangguan
tanah (smear), sebagai berikut :

t = F(n)In [ ] ……………...................................(2.15)

Dengan :
t = perhitungan penurunan dengan adanya PVD
D = diameter ekuivalen akibat pengaruh PVD
D = 1,13 Ds (pola pemasangan bujur sangkar)
D = 1,05 Ds (pola pemasangan segitiga)
S = jarak pemasangan PVD
F(n) = fungsi hambatan akibat jarak antara PVD = In (D/dw)
0,75

35
dw = diameter ekuivalen dari PVD = (a+b)/2
Ur = derajat konsolidasi tanah arah horizontal
Ch = koefi$sien konsolidasi arah horizontal

36

Anda mungkin juga menyukai