Karakteristik dan Penyelidikan Tanah Lunak
Karakteristik dan Penyelidikan Tanah Lunak
TINJAUAN PUSTAKA
6
2.1.2 Karakteristik Tanah Lunak
Tanah lunak (Clay) memiliki tegangan geser dan
permeabilitas yang rendah namun plastisitas tanah lunak tinggi.
Karena koefisien permeabilitas tanah lunak yang rendah sehingga
penurunan konsolidasi tanah lunak terjadi sangat lama.
Untuk mengetahui karaktristik tanah para ahli berusaha
mengadakan penelitian baik di laboratorium maupun di lapangan.
1. Tanah Kohesif dan Tidak Kohesif
Tanah disebut kohesif yaitu apbila karakteristik
fisiknya yang selalu melekat antara butiran tanah sewaktu
pembasahan atau pengeringan. Sedangkan pada tanah non
kohesif butiran tanah terpisah-pisah sesudah dikeringkan dan
melekat hanya apabila dalam keadan basah.
2. Plastisitas dan Konsistensi Tanah Kohesif
Plastisitas yaitu kemampuan butiran untuk tetap
melekat satu sama lain. Untuk mendefinisikan tanah kohesif
diperlukan kondisi fisik tanah tersebut pada kadar air tertentu
yang disebut konsistensi. Konsistensi tanah kohesif pada
kondisi alamnya dinyatakan dalam istilah lunak, sedang dan
kaku.
3. Penentuan Klas Site Tanah
Penentuan Klas Site tanah sangat penting diketahui
profil atau Klas Site tanah dalam perencanaan konstruksi
bangunan untuk mengetahui seberapa besar tanah dasar
mengalami kompresible dan juga sebagai penentuan
parameter tanah yang digunakan sebagai input suatu desain.
Untuk menentukan Klas Site tanah digunakan tipe profil
tanah berdasarkan standard UBC 1997 yang dihitung
berdasarkan kedalaman tanah minimal 30 meter, sehingga
dalam investigasi tanah baik dengan test lapangan SPT
maupun Sondir sebaiknya mencapai kedalaman 30 meter.
7
4. Nilai Gelombang Geser (Vs) Berdasarkan N-SPT
Nilai kecepatan rambat gelombang geser (Vs) atau
modulus geser maksimum (Gmax) biasanya dikorelasikan
dengan kuat geser yang diperoleh dari test laboratorium atau
besar-besaran yang diperoleh dari test lapangan seperti nilai
N-SPT dan qc Sondir.
Dari penyelidikan tanah di lapangan dan di laboratorium
dapat disajikan hubungan parameter tanah dengan tujuan
kesesuaiannya, dilihat pada Tabel 2.1 – Tabel 2.2 sebagai berikut.
Tabel 2.1 : Hubungan Konsistensi, Identifikasi dan Kuat Geser Tekan Bebas (qu)
Konsistensi Identifikasi Di qu
Tanah Lapangan (kg/cm2)
Dengan mudah
ditembus beberapa
Very Soft < 0,25
inchi dengan kepalan
tangan
Dengan mudah
Soft ditembus beberapa 0,25 – 0,50
inchi dengan ibu jari
Dapat ditembus
Medium beberapa inchi pada
0,50 – 1,00
Stiff kekuatan sedang
dengan ibu jari
Melekuk bila ditekan
Stiff 1,00 – 2,00
dengan ibu jari
Melekuk bila ditekan
dengan ibu jari tetapi
Very Stiff 2,00 – 4,00
dengan kekuatan
besar
Dengan kesulitan,
Hard melekuk bila ditekan > 4,00
dengan ibu jari
8
Tabel 2.2 : Hubungan Antara Nilai N-SPT, Kepekatan Relatif dan qu Pada Tanah
Kohesif oleh Terzaghi dan Peck
N-SPT Harga Kuat Tekan Bebas (qu)
Kepakatan Relatif
(blows/ft) (kg/cm2)
Very Soft <2 < 0,25
Soft 2–4 0,25 – 0,51
Medium Stiff 4–8 0,51 – 1,02
Stiff 8 – 15 1,02 – 2,04
Very Stiff 15 – 30 2,04 – 4,08
Hard > 30 > 4,08
Tabel 2.3 : Hubungan antara Konsistensi dengan Tekanan Konus pada Tanah
Lempung
Konsistensi Tekanan Konus qc Undrained Cohesion
Tanah (kg/cm2) (t/m2)
Very Soft < 2,50 < 1,25
Soft 2,50 – 5,00 1,25 – 2,50
Medium Stiff 5,00 – 10,00 2,50 – 5,00
Stiff 10,00 – 20,00 5,00 – 10,00
Very Stiff 20,00 – 40,00 10,00 – 20,00
Hard > 40,00 > 20,00
9
Gambar 2.1 Korelasi N-SPT dengan Cohesion (c)([Link] )
Tabel 2.4 : Korelasi Empiris antara Nilai N-SPT dengan Unconfined Compressive
Strength dan Berat Jenis Tanah Jenuh (γsat) untuk Tanah Kohesif
Unconfined Compressive
N-SPT Γsat
Konsistensi Strength (qu)
(blows/ft) (kN/m3)
(t/ft2)
<2 Very Soft < 0,25 16 – 19
2–4 Soft 0,25 – 0,50 16 – 19
4–8 Medium Stiff 0,50 – 1,00 17 – 20
8 – 15 Stiff 1,00 – 2,00 19 – 22
15 – 30 Very Stiff 2,00 – 4,00 19 – 22
> 30 Hard > 4,00 19 – 22
(Sumber : Soil Mechanics, Lambe & Whitman, from Terzaghi and Peck 1948,
Internasional Edition 1969).
10
2.1.3 Penyelidikan Tanah Lunak
Untuk dapat melakukan analisis Geoteknik (Mekanika Tanah
dan Teknik Pondasi) yang benar dan baik, sangat diperlukan data-
data tanah (Soil Test) bawah permukaan yang lengkap dan akurat.
Data-data ada yang diperoleh langsung dari Survey geoteknik
lapangan dan ada yang diperoleh langsung dari uji laboratorium
terhadap contoh tanah yang diambil dari bawah permukaan melalui
pengeboran tanah (Boring).
Penyelidikan tanah di lapangan dapat berupa penggunan dan
interpretasi foto udara dan Remote Sensing, metode geofisik, metode
geolistrik, sumur uji (Test Pit), pengeboran tanah (Boring) dangkal
sampai dalam, uji Penetrometer, uji Sondir dengan Cone Penetration
Test (CPT), uji Vane Shear Test, Pocket Penetometer Test,
California Bearing Test (CBR) dan lain lain.
Pengeboran tanah (Boring) dan Sondir (CPT) adalah
pekerjaan yang paling umum dan akurat untuk tanah berlempung
dalam Survey geoteknik lapangan. Yang dimaksud dengan
pengeboran tanah adalah membuat lubang kedalam tanah dengan
menggunakan alat bor manual maupun alat bor mesin dengan tujuan
:
1. Mengidentifikasi jenis tanah sepanjang kedalaman lubang
bor,
2. Untuk mengambil contoh tanah asli maupun tidak asli pada
kedalaman yang dikehendaki,
3. Untuk memasukkan alat uji penetrasi baku Standart
Penetration Test (SPT) pada kedalaman yang dikehendaki.,
4. Untuk memasukkan alat uji lainnya kedalam tanah yang
dikehendaki, misalnya: uji rembesan lapangan, uji Vane
Shear, uji Presuremeter, pengukuran tekanan air pori dan
lain-lain.
11
Para peneliti geoteknik telah banyak membuat studi tentang
hasil SPT untuk membuat korelasi dengan hasil uji lapangan yang
lain, dengan berbagai sifat tanah, seperti jenis-jenis tanah dan
konsistensinya, kekuatan geser tanah, parameter konsolidasi,
Relative Density, daya dukung pondasi dangkal, daya dukung
pondasi dalam, tiang bor dan lain-lain.
2.2 Atterberg
Suatu hal yang penting pada tanah berbutir halus adalah sifat
plastisitasnya. Plastisitas disebabkan oleh adanya partikel mineral lempung
dalam tanah. Istilah plastisitas menggambarkan kemampuan tanah dalam
menyesuaikan perubahan bentuk pada volume yang konstan tanpa retak-
retak atau remuk.
Bergantung pada kadar air, tanah dapat berbentuk cair, plastis, semi
padat, atau padat. Kedudukan fisik tanah berbutir halus pada kadar air
tertentu disebut konsistensi. Konsistensi bergantung pada gaya tarik antara
partikel mineral lempung. Sembarang pengurangan kadar air menghasilkan
berkurangnya tebal lapisan kation yang menyebabkan bertambahnya gaya
tarik partikel. Bila tanah dalam kedudukan plastis, besamya jaringan gaya
antar partikel akan sedemikian hingga partikel bebas menggelincir antara
satu dengan yang lain, dengan kohesi yang terpelihara. Pengurangan kadar
air menghasilkan pengurangan voume tanah.
Atterberg (1911), memberikan cara untuk menggambarkan batas-
batas konsistensi dari tanah berbutir halus dengan mempertimbangkan
kandungan kadar air tanah. Batas-batas tersebut adalah batas cair (liquid
limit), batas plastis (plastic limit), dan batas susut (shrinkige limit).
Kedudukan batas-batas konsistensi untuk tanah kohensif ditunjukkan dalam
Gambar 2.2. berikut ini.
12
Gambar 2.2. Batas-batas Atterberg (Braja M. Das)
13
batas susut dilakukan dilaboratorium dengan menggunakan suatu mangkok
porselin yang mempunyai diameter kira-kira 1,75 in (44,4 mm) dan tinggi
kira-kira 0,5 in (12,7 mm). volume dari contoh tanah yang telah dikeringkan
ditentukan dengan cara menggunakan air raksa.
4. Indeks Plastis (plasticity index - PI)
Indeks plastisitas adalah perbedaan antara batas cair dan batas plastis
suatu tanah atau PI = LL – PL. Indeks plastisitas digunakan sebagai
identifikasi sifat plastis tanah. Jika tanah mempunyai PI tinggi, maka
tanah banyak mengandung butiran lempung. Jika PI rendah, seperti
lanau, sedikit pengurangan kadar air berakibat tanah menjadi kering.
Batasan mengenai indeks plastisitas, sifat, macam tanah, dan kohesi
diberikan oleh Atterberg terdapat dalam Tabel 2.5 berikut ini :
Tabel 2.5 Nilai Indeks Plastisitas Dan Macam Tanah, (Hardiyatmo, 1995:38)
PI Sifat Macam Tanah Kohesi
0 Non plastis Pasir Non kohesif
<7 Plastisitas rendah Lanau Kohesif sebagian
7 – 17 Plastisitas sedang Lempung berlanau Kohesif
> 17 Plastisitas tinggi Lempung Kohesif
14
Pada gambar ini diperlihatkan rembesan air pada suatu contoh
tanah akibat adanya perbedaan tegangan air pada kedua ujung contoh
tersebut.
Pada titik A dan B tegangan air dapat ditentukan dengan mengukur
ketinggian air dalam pipa- pipa yang dipasang pada kedua titik tersebut.
Selisih ketinggian air pada kedua pipa ini disebut “hydraulic head” (h)
antara titik A dan B. Jika terdapat hydraulic head (h) air akan mengalir
dari titik A ke titik B.
15
Menurut hukum Darcy kecepatan aliran air dalam tanah
sebanding dengan gradient hidrolik
Yaitu
v = k.i
Dimana v = kecepatan (discharge velocity)
k = konstanta yang disebut koefisien rembesan
atau permeabilitas (coefficient of permeability)
Kecepatan v pada rumus Darcy bukanlah kecepatan sebenarnya
pada air didalam pori tanah. Kecepatan v ini adalah suatu angka yang
dapat dipakai secara langsung untuk menghitung banyaknya air yang
merembes dalam tanah.
16
Pada tanah kering atau jenuh sebagian, pengurangan
volume selalu mungkin terjadi akibat kompresi udara dalam pori-
pori, dan terdapat suatu ruang untuk penyusunan kembali
partikel-tanah.
Tegangan geser dapat ditahan oleh kerangka partikel-padat
tanah dengan memanfaatkan. Gaya-gaya yang timbul karena
persinggungan antar partikel. Tegangan normal ditahan oleh gaya-
gaya antar partikel pada kerangka tanah. Jika tanah berada dalam
kondisi jenuh sempurna, air pori akan mengalami kenaikan tekanan
karena ikut menahan tegangan normal.
17
2.5 Kuat Geser
Kekuatan geser tanah merupakan perlawanan internal tanah
tersebut persatuan luas terhadap keruntuhan atau pergeseran sepanjang
bidang geser dalam tanah yang dimaksud (Braja [Link],1985 ). Dalam buku
yang lain disebutkan bahwa kekuatan geser tanah adalah kekuatan tanah
untuk memikul beban-beban atau gaya yang dapat menyebabkan
kelongsoran, keruntuhan, gelincir dan pergeseran tanah.
18
tanah disebabkan karena adanya kohesi atau lekatan antara butir – butir
tanah (csoil).
• Pada tanah berbutir kasar (non kohesif ), kekuatan geser disebabkan
karena adanya
gesekan antara butir – butir tanah sehingga sering disebut sudut gesek
dalam (φ soil )
• Pada tanah yang merupakan campuran antara tanah halus dan tanah kasar
( c dan φ soil ),
τ = c + σ[Link]φ..........................................................................................(2.1)
dimana,
s/ τ : Kekuatan geser tanah
c : Kohesi
19
φ : Sudut geser internal
20
2.6.2 Koefisien Pemampatan (Coefficient of Compression , av) dan
Koefisien Perubahan Volume (Coefficient of Volume Change ,
mv)
Koefisien pemampatan ( av) adalah koefisien yang
menyatakan kemiringan kurva e-p’. Jika tanah dengan volume V1
mampat sehingga volumenya menjadi V2, dan mampatnya tanah
dianggap hanya sebagai akibat pengurangan rongga pori, maka
perubahan volume hanya dalam arah vertikal dapat dinyatakan:
................................(2.2)
Dimana:
e1 = Angka pori pada tegangan p1’
e2 = Angka pori pada tegangan p2’
V1 = Volume ada tegangan p1’
V2 = Volume ada tegangan p2’
Cc = ....................................................(2.3)
21
Cc = 0.007 ( LL - 10 )
22
Jadi, lempung pada kondisi normally consolidated, bila
tekanan prakonsolidasi (preconsolidation pressure) (Pc’) sama
dengan tekanan overbuden efektif (P0’). Sedang lempung pada
kondisi overconsolidated, jika tekanan prakonsolidasi lebih besar
dari pada tekanan overbuden efektif yang ada pada waktu sekarang
(Pc’ > P0’). Nilai banding overconsolidation (overconsolidation
ratio, OCR) di definisikan sebagai nilai banding tekanan
prakonsolidasi terhadap tegangan efektif yang ada, atau bila
dinyatakan dalam persamaan :
OCR = .....................................................................................(2.4)
S c = Cr log ..........................................(2.8)
23
Cc = pada kurva penambahan beban atau pada P’ > Pc’
Dengan :
Cr = indeks pemammppatan kembali
Cc = indeks pemampatan
H = tebal lapis tanah
P c’ = tekanan prakonsolidasi
e0 = angka pori awal
∆p = tambahan tegangan akibat beban pondasi
p1’ = tegangan efektif
p0’ = tekanan overbuden efektif mula-mula sebelum dibebani
2.7 Penurunan
Jika lapisan tanah dibebani, maka akan mengalami regangan atau
penurunan (settlement). Regangan yang terjadi dalam tanah ini disebabkan
oleh berubahnya susunan tanah maupun oleh pengurangan rongga pori/air di
dalam tanah tersebut. Jumlah dari regangan sepanjang kedalaman lapisan
merupakan penurunan total tanah. Penurunan akibat beban adalah jumlah
total dari penurunan segera dan penurunan konsolidasi.
Dalam suatu penurunan akan diketahui kecepatan yaitu apakah akan lekas
selesai atau akan terus berjalan bertahun-tahun lamanya.
Kecepatan penurunan bergantung pada dua faktor :
1. Daya rembesan tanah (permeability). Ini yang menentukan
kecepatan air mengalirdari tanah.
2. Compressibility tanah. Ini akan menentukan banyaknya air yang
harus mengalir.
24
2.7.1 Penurunan segera (Immediate Settlement)
Penurunan segera adalah penurunan yang terjadi pada
tanah berbutir kasar dan tidak jenuh terjadi dengan segera sesudah
beban bekerja. Penurunan pada kondisi ini disebut penurunan segera
yang merupakan bentuk penurunan elastis. Kasus ini banyak di
jumpai pada pondasi struktur yang terletak pada tanah yang berbutir
kasar (granular).
Dalam kenyataannya, lapisan tanah mampat tidak
mempunyai ketebalan tak terhingga. Lapisan tanah yang diendapkan
secara alamiah terbentuk secara berlapis-lapis dengan sifat berbeda
diatas lapisan tanah keras. Dalam lapisan ini, kuat geser dan
modulus, biasanya bertambah bila kedalaman bertambah. Gibson
(1967) telah mengamati bahwa variasi modulus dengan kedalaman
mempunyai pengaruh yang kecil terhadap ditribusi tegangan, tetapi
mempunyai pengaruh yang berarti pada perubahan bentuk
permukaan.
Penurunan pondasi pada tanah granuler dapat dihitung dari hasil test
uji kerucut statis (static cone penetration test). De Beer dan Marten
(1957) mengusulkan persamaan angka kompresi (C) yang di kaitkan
dengan persamaan Buismann, sebagai berikut :
C= ........................................................................................(2.9)
Dimana :
C= angka pemampatan (angka kompresibilitas)
qc = tahanan kerucut statis
p0’ = tekanan overbuden efektif
satuan qc dan p0’ harus sama. Nilai C ini, kemudian disubstitusikan
kedalam persamaan Terzaghi untuk penurunan pada lokasi tanah
yang di tinjau, yaitu :
Si = In ...........................................................................(2.10)
25
Dimana :
Si = penurunan segera (m) dari lapisan setebal H (m)
P0’ = tekanan overbuden efektif awal, yaitu dengan efektif sebelum
beban bekerja
∆p = tambahan tegangan vertikal ditengah-tengah lapisan oleh
tegangan akibat beban pondasi neto
26
Bilamana tanah-tanah anorganik penurunan konsolidasi sekunder
jarang diperhitungkan karena pengaruhnya sangat kecil.
Penurunan total dari tanah berbutir halus yang jenuh adalah
jumlah dari penurunan segera dan penurunan konsolidasi.
S = Sc + Si ...................................................................................(2.11)
Dengan :
S = penurunan total
Sc = penurunan konsolidasi
Si = penurunan segera
27
2.8.2 Pemadatan Tanah
Pemadatan tanah adalah proses menaikkan berat jenis tanah
dengan cara mendesak tanah dengan energi mekanis agar partikel
solid pada tanah lebih merapat dan menjadi padat serta mengurangi
partikel udara yang mengisi rongga pada massa tanah. Tingkat
pemadatan diukur dari berat volume kering yang dipadatkan. Bila air
ditambahkan pada suatu tanah yang sedang dipadatkan, air tersebut
akan berfungsi sebagai unsur pembasah atau pelumas pada partikel-
partikel tanah. Karena adanya air, partikel-partikel tersebut akan
lebih mudah bergerak dan bergeseran satu sama lain dan membentuk
kedudukan yang lebih rapat. Untuk usaha pemadatan yang sama,
berat volume kering dari tanah akan naik bila kadar air dalam tanah
(pada saat dipadatkan) meningkat.
28
sebetulnya dapat ditempati oleh partikel-partikel padat dari tanah.
Kadar air dimana berat volume kering maksimum tanah dicapai
disebut kadar air maksimum.
Selain kadar air, ada beberapa faktor yang mempengaruhi
pemadatan tanah, yaitu jenis tanah, bentuk butiran tanah, berat
spesifik bagian padat tanah, jenis mineral lempung yang ada pada
tanah. Adapun tujuan pemadatan tanah antara lain :
1. Mengurangi kompresibilitas.
2. Menaikkan kekuatan tanah.
3. Mengurangi potensi likuifasi.
4. Mengontrol shrinkage dan swelling.
5. Mengurangi hydraulic compressibility atau permeabilitas.
6. Menaikkan daya tahan terhadap erosi.
29
Gambar 2.8 : Prinsip Pemadatan Hubungan antara Struktur dan Perilaku Tanah
Lempung.
(Bahan Ajar Mekanika Tanah 1,[Link] Karlinasari,MT,2013)
30
Jika sejumlah kecil udara terhisap masuk dalam air pori akibat
penurunan tekanan pori dari lokasi aslinya di lapangan, kemungkinan
terdapat juga penurunan yang berlangsung cepat, yang bukan bagian dari
proses konsolidasi. Karena itu, tinggi awal atau kondisi sebelum adanya
penurunan saat permulaan proses konsolidasi juga harus diinterprestasikan.
Koefisien konsolidasi vertikal (Cv) menentukan kecepatan
pengaliran air pada arah vertikal dalam tanah. Karena pada umumnya
konsolidasi berlangsung satu arah saja, yaitu arah vertikal, maka koefisien
konsolidasi sangat berpengaruh terhadap kecepatan konsolidasi yang akan
terjadi. Harga Cv dapat dicari mempergunakan persamaan berikut ini:
Cv = ....................................................................................(2.12)
Dimana:
Cv = Koefisien konsolidasi ( cm2/dtk )
Tv = Faktor waktu tergantung dari derajat konsolidasi
T= Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai derajat
konsolidasi U% (dtk)
H = Tebal tanah (cm)
31
pembentuknya sehingga dapat mempercepat waktu penurunan. PVD merupakan
semacam material geosintesis yang telah melalui berbagai macam uji dari pabrik
produksi. Pemasangan material ini dimulai dengan memasang sepatu pelat pada
ujung mandrel kemudian memasukkan mandrel kedalam tanah sampai kedalam
yang telah direncanakan. Setelah mencapai kedalaman yang direncanakan
mandrel ditarik keatas permukaan tanah kemudian dilakukan pemotongan PVD
diatas permukaan tanah dengan menyisakan ujung atas sesuai dengan yang telah
direncanakan.
32
Berikut ini adalah macam – macam / jenis / bentuk dari inti PVD:
33
Setelah mengamati grafik perbandingan penurunan tanah pada
gambar 2.10 di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tanah
yang menggunakan PVD mengalami penurunan (settlement) yang
lebih cepat, hal ini di sebabkan air pori yang berada dalam tanah
terhisap keluar dengan bantuan PVD dan ditambah dengan
pembebanan sementara sebelum banguanan / jalan dioperasikan
sehingga penurunan nya lebih cepat dibandingkan dengan penurunan
yang tidak menggunakan PVD dan hanya mengandalkan beban dari
atas saja. Selain itu dengan penurunan tanah yang lebih cepat dengan
menggunakan bantuan PVD dan pembebanan dari atas (preloading)
diharapkan pada saat bangunan sudah mulai dioperasikan / di
gunakan, sudah tidak terjadi penurunan (settlement) lagi dan kalau
pun terjadi penurunan juga sedikit dan masih dalam batas aman /
masih dalam batas yang diijinkan.
Kapasitas pengaliran (discharge capacity) material PVD
(Prefabricated Vertical Drain) tergantung dari tekanan lateral tanah
yang diterima material PVD.
34
b. Metode Vacuum Consolidation
c. Pada metode Vacuum consolidation, air pori di dalam tanah
dikeluarkan dengan cara pemompaan (vacum) dan
menggunakan lapisan kedap air
d. Metode Ceteau Vacuum System
Pada metode Ceteau Vacuum System , air pori di dalam tanah
dikeluarkan dengan cara pemompaan (vacum) tanpa
menggunakan lapisan kedap air.
t = F(n)In [ ] ……………...................................(2.15)
Dengan :
t = perhitungan penurunan dengan adanya PVD
D = diameter ekuivalen akibat pengaruh PVD
D = 1,13 Ds (pola pemasangan bujur sangkar)
D = 1,05 Ds (pola pemasangan segitiga)
S = jarak pemasangan PVD
F(n) = fungsi hambatan akibat jarak antara PVD = In (D/dw)
0,75
35
dw = diameter ekuivalen dari PVD = (a+b)/2
Ur = derajat konsolidasi tanah arah horizontal
Ch = koefi$sien konsolidasi arah horizontal
36