PENANGANAN FLUOR ALBUS
Nomor Dokumen : SOP/KIA.16/2018
Nomor Revisi : 00
SOP Tanggal Terbit : 21-06-2018
Halaman : 1/5
UPT
YUSY MAITA ADRIATI, SKM
PUSKESMAS NIP.19850506 201001 2 011
MANDURO
1. Pengertian Vaginal discharge atau keluarnya duh tubuh dari vagina secara fisiologis
mengalami perubahan sesuai dengan siklus menstruasi. Cairan kental dan
lengket pada seluruh siklus namun lebih cair dan bening ketika terjadi
ovulasi. Masih dalam batas Nomorrmal bila duh tubuh vagina lebih banyak
pada saat stres emosi, kehamilan atau aktivitas seksual.
Vaginal discharge yang patologis bila terjadi perubahan-perubahan pada
warna, konsistensi, volume dan baunya.
2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penanganan fluor albus.
3. Kebijakan Keputusan Kepala UPT Puskesmas Manduro Nomor :
188.4/[Link]/01/416-102.19/2018 Tentang Pelayanan Klinis UPT
Puskesmas Manduro
4. Referensi PMK Nomor 5 tentang panduan praktik klinik bagi dokter di fasilitas
kesehatan primer
5. Prosedur/ Alat dan Bahan :
Langkah- 1. ATK
langkah 2. Rekam Medis
3. Handscoon
4. Speculum
5. Tang Aligator
6. Kasa Steril
7. betadine
Langkah-langkah :
1. Petugas melakukan anamnesa keluhan yaitu:
a. Biasanya terjadi pda daerah genitalia perempuan yang berusia diatas
12 tahun, ditandai dengan adanya perubahan pada duh tubuh disertai
salah satu atau lebih gejala rasa gatal, nyeri, disuria, nyeri panggul,
perdarahan antar menstruasi atau perdarahan pasca-koitus.
b. Terdapat riwayat koitus dengan pasangan yang dicurigai menularkan
penyakit menular seksual.
2. Petugas melakukan pemeriksaan fisik.
Penyebab discharge terbagi menjadi masalah infeksi dan Nomorn infeksi.
Masalah Nomorn infeksi dapat karena benda asing, peradangan akibat
alergi atau iritasi, tumor, vaginitis atropik, atau prolaps uteri, sedangkan
masalah infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, jamur, atau virus sebagai
berikut:
a. Kandidiasis vaginitis, disebabkan oleh Candida Albicans,duh tubuh
tidak berbau, pH < 4,5, terdapat eritema vagina dan eritema satelit di
luar vagina.
b. VagiNomorsis bakterial (pertumbuhan bakteri anaerob, biasanya
Gardnerella vaginalis), memperlihatkan adanya duh putih/ abu-abu
yang melekat di sepanjang dinding vagina dan vulva, berbau amis dan
pH > 4,5.
c. Cervisitis yang disebabkan oleh chlamydia, dengan gejala inflamasi
serviks yang mudah berdarah dan disertai duh mukopurulen.
d. Trichomoniasis, seringkali asimtomatik, kalau bergejala, tampak duh
kuning kehijauan, duh berbuih, bau amis dan pH > 4,5.
e. Pelvic inflammatory diesease (PID) yang disebabkan oleh chlamydia,
ditandai dengan nyeri abdomen bawah, dengan atau tanpa demam.
Servisitis bisa ditandai dengan kekauan adneksa dan serviks pada
nyeri angkat palpasi bimanual.
f. Liken planus.
g. GoNomorre.
h. Infeksi menular seksual lainnya.
i. Atau adanya benda asing (misalnya tampon atau kondom yang terlupa
diangkat).
Periksa klinis dengan seksama untuk menyingkirkan adanya
kelainan patologis yang lebih serius.
Pasien yang memiliki risiko tinggi penyakit menular seksual
sebaiknya ditawarkan untuk diperiksa Chlamydia, goNomorrrhoea,
sifilis, HIV.
Swab vagina atas (high vaginal swab) tidak terlalu berarti untuk
diperiksa, kecuali pada keadaan keraguan menegakkan
diagNomorsis, gejala kambuh, pengobatan gagal, atau pada saat
kehamilan, post partum, post aborsi, dan post instrumention.
3. Dokter menegakkan diagNomorsa klinis berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan spekulum, palpasi bimanual, uji pH duh vagina dan swab
(bila diperlukan).
4. Petugas melakukan pengobatan.
Pasien dengan riwayat risiko rendah penyakit menular seksual dapat
diobati sesuai dengan gejala dan arah diagNomorsisnya.
VagiNomorsis bakterial:
a. Metronidazole atau Clindamycin secara oral atau per vaginam.
b. Tidak perlu pemeriksaan silang dengan pasangan pria.
c. Bila sedang hamil atau menyusui gunakan mitronidazole 400 mg 2x
sehari untuk 5-7 hari atau per vaginam. Tidak direkomendasikan
untuk minum 2 g peroral.
d. Tidak dibutuhkan peningkatan dosis kontrasepsi hormonal bila
menggunakan antibiotik yang tidak menginduksi enzim hati.
e. Pasien yang menggunakan IUD tembaga dan mengalami
vagiNomorsis bakterial dianjurkan untuk mengganti metode
kontrasepsinya.
Vaginitis kandidiosis terbagi atas:
a. Infeksi tanpa komplikasi.
b. Infeksi parah.
c. Infeksi kambuhan.
d. Dengan kehamilan.
e. Dengan diabetes atau imuNomorkompromi.
Vulvovaginal kandidiosis:
a. Dapat diberikan azole antifungal oral atau pervaginam.
b. Tidak perlu pemeriksaan pasangan.
c. Pasien dengan vulvovaginal candidiosis yang berulang dianjurkan
untuk memperoleh pengobatan paling lama 6 bulan.
d. Hati-hati pada pasien pengguna kondom atau kontrasepsi lateks
lainnya, bahwa pengguanaan antifungi lokal dapat merusak
lateks.
e. Pasien pengguna kontrasepsi pil kombinasi yang mengalami
vulvovaginal kandidiasis berulang, dipertimbangkan untuk
menggunakan metoda kontrasepsi lainnya.
Chlamydia:
a. Azithromycin 1g single dose, atau Doxycycline 100 mg 2x sehari
untuk 7 hari.
b. Ibu hamil dapat diberikan Amoxicillinc500 mg 3x sehari untuk 7
hari atau Eritromisin 500 mg 4x sehari untuk 7 hari.
Trikomonas vaginalis:
a. Obat minum nitromidazole (contoh metronidazole) efektif untuk
mengobati trikomonas vaginalis.
b. Pasangan seksual pasien trikomonas vaginalis harus diperiksa
dan diobati bersama dengan pasien.
c. Pasien HIV positif dengan trikomonas vaginalis lebih baik dengan
regimen oral penatalaksanaan beberapa hari dibanding dosis
tunggal.
d. Kejadian trikomonas vaginalis seringkali berulang, namun perlu
dipertimbangkan pula adanya resistensi obat.
5. Petugas melakukan pengobatan untuk komplikasi:
a. Radang panggul (pelvic inflamatory diesease = PID) dapat terjadi bila
infeksi merambah ke atas, ditandai dengan nyeri tekan, nyeri panggul
kronis, dapat menyebabkan infertilitas dan kehamilan ektopik.
b. Infeksi vagina yang terjadi pada saat pasca aborsi atau pasca
melahirkan dapat menyebabkan kematian, namun dapat dicegah
dengan diobati dengan baik.
c. Infertilitas merupakan komplikasi yang kerap terjadi akibat PID, selain
itu kejadian abortus spontan dan janin mati akibat sifilis dapat
menyebabkan infertilitas.
d. Kehamilan ektopik dapat menjadi komplikasi akibat infeksi vaginal
yang menjadi PID.
6. Dokter melakukan rujukan apabila tidak terdapat fasilitas pemeriksaan
untuk pasangan, dibutuhkan pemeriksaan kultur kuman goNomorre, dan
adanya arah kegagalan pengobatan.
6. Diagram
Alir
7. Unit Terkait 1. Ruangan KIA dan KB
2. Polindes
8. Rekaman Historis
Tanggal Mulai
No. Yang Diubah Isi Perubahan
diberlakukan