0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan7 halaman

Panduan Bedah Minor: Insisi Abses

Dokumen tersebut memberikan panduan tentang bedah minor insisi dan drainase abses. Ia menjelaskan prosedur lengkap mulai dari persiapan pasien, antiseptik area, anestesi, teknik insisi dan drainase, penanganan pasca operasi, dan komplikasi yang mungkin terjadi. Dokumen ini sangat berguna bagi mahasiswa kedokteran untuk mempelajari teknik bedah minor insisi dan drainase abses secara klinis.

Diunggah oleh

AZ Game AR
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan7 halaman

Panduan Bedah Minor: Insisi Abses

Dokumen tersebut memberikan panduan tentang bedah minor insisi dan drainase abses. Ia menjelaskan prosedur lengkap mulai dari persiapan pasien, antiseptik area, anestesi, teknik insisi dan drainase, penanganan pasca operasi, dan komplikasi yang mungkin terjadi. Dokumen ini sangat berguna bagi mahasiswa kedokteran untuk mempelajari teknik bedah minor insisi dan drainase abses secara klinis.

Diunggah oleh

AZ Game AR
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BEDAH MINOR

Dalam buku panduan keterampilan BEDAH MINOR ini tindakan


bedah minor yang akan dibahas adalah :
[Link] dan drainase abses
[Link] tumor superfisial/ kista
[Link]

Sebelum mempelajari berbagai tindakan bedah minor, mahasiswa


diharapkan telah memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang :
[Link] dan histologi kulit, subkutis, kuku dan organ genitalia laki-laki.
[Link] anatomi tumor kulit dan adneksanya.
[Link] obat-obat anestesi.
[Link] aseptik dan sterilisasi.
[Link] anestesi lokal.
[Link] instrumen bedah minor.
[Link] teknik menjahit dan membuat simpul.

INSISI DAN DRAINASE ABSES

Abses kulit dapat terjadi di bagian tubuh manapun, tapi paling


sering terjadi di aksila, gluteus dan ekstremitas. Insisi dan drainase
material infeksius dalam abses adalah terapi utama untuk penanganan
abses, karena terapi antibiotik saja sering tidak adekuat untuk
penyembuhan abses secara sempurna.

Diagnosis abses ditegakkan dari adanya gejala dan tanda kardinal radang
yaitu benjolan (tumor) dengan adanya warna kemerahan (rubor) pada
kulit disekitar abses, panas pada perabaan (kalor), nyeri tekan (dolor) dan
konsistensi kistik/ fluktuasi pada palpasi, serta fungsio laesa.

Setelah diagnosis ditegakkan, hal penting berikutnya adalah


menentukan apakah insisi dan drainase dengan anestesi lokal dapat
dilakukan. Abses kulit yang berukuran lebih dari 5 mm di lokasi yang
terjangkau merupakan indikasi insisi dan drainase.
kontraindikasi insisi abses dengan anestesi lokal :

1. Abses yang berukuran besar.


2. Abses yang letaknya cukup dalam di area yang sulituntuk
dilakukan anestesi lokal.
3. Terdapat selulitis.

Transient bacteremia yang dapat terjadi setelah insisi


dan drainase abses, terutama pada pasien dengan risiko
endokarditis (misalnya pada pasien dengan abnormalitas
katub jantung), memerlukan terapi antibiotika pre-operasi
dan pemilihan waktu pelaksanaan tindakan secara
seksama

Indikasi untuk merujuk ke dokter spesialis adalah bila abses


terdapat pada area tubuh di mana faktor kosmetik sangat
penting (misalnya wajah atau payudara) atau abses di
telapak tangan, telapak kaki dan lipatan nasolabial.

PERALATAN YANG DIPERLUKAN


1. Untuk pengamanan operator :

 Sarung tangan
 Masker
 Gown/ apron
2. Untuk tindakan antiseptik dan anestesi :
 Larutan antiseptic
 Kapas steril
 Anestetikum lokal : Lidocaine 1%, Lidocaine dengan
epinephrine memberi keuntungan yaitu mengurangi
perdarahan dan memberikan efek anestesi lebih lama.
 Spuit 5 –10 mL
 Jarum ukuran 25 atau 30
[Link] insisi dan drainase :
 Scalpel blade(nomor 11 atau 15) dengan handle
 Klem arteri (hemostat) ujung lengkung ukuran kecil
 Larutan NaCl 70% (normal saline) dalam mangkuk
steril
 Spuit ukuran besar untuk irigasi luka.
 Cotton swabsteril untuk mengambil sampel yang
diperlukan untuk pemeriksaan kultur.
 Kassa steril untuk packingluka insisi
 Gunting
 Kapas steril
 Plester

PERSIAPAN

1. Lakukan informed consentdan mintalah


persetujuan tertulis dari pasien/ orang tua atau
kerabat terdekat pasien.
2. Lakukan verifikasi atas identitas pasien
3. Lakukan verifikasi atas pemeriksaan status lokalis
4. Lakukan pengecekan apakahalat yang akan
dipergunakan sudah dipersiapkan dengan lengkap,
dapat berfungsi dengan baik, diletakkan di atas
trayalat sesuai urutan penggunaan dan di tempat
yang mudah dijangkau oleh operator.
5. Posisikan pasien sedemikian rupa sehingga area
abses yang akan diinsisi terpapar sepenuhnya
namun pasien tetap merasa nyaman.
6. Sesuaikan terang lampu sehingga visualisasi abses
optimal.
7. Siapkan obat anestesi lokal dalam spuit dengan
dosis sesuai berat badan pasien
8. Mencuci tangan dengan air dan sabun.
9. Kenakan sarung tangan, masker dan apron.
10. Lakukan antisepsis medan insisi dengan
chlorhexidine atau povidone iodine 10%, dimulai dari
puncak abses, memutar ke arah luar sampai di luar
medan insisi.
11. Lakukan anestesi infiltrasi intradermal. Terkadang
diperlukan anestesi local field block, pemberian
analgetik supaya pasien tetap merasa nyaman atau
sedative bila pasien kurang kooperatif.

PROSEDUR INSISI DAN DRAINASE ABSES


1. Pegang skalpel di antara ibu jari dan telunjuk untuk
membuat tusukan langsung di puncak abses.
2. Perluas insisi searah dengan skin-tension line, dengan
orientasi garis insisi sesuai aksis panjang abses,
kedalaman insisi sampai menembus kavitas abses.
Ujung skalpel jangan sampai menembus dinding
posterior abses karena akan mengakibatkan perdarahan
yang terkadang sulit dikontrol.
3. Panjang insisi sedemikian rupa sehingga diperkirakan
drainase isi abses cukup adekuat, untuk mencegah
kembali terbentuknya abses. Terkadang diperlukan insisi
sampai batas tepi abses. Hal ini juga diperlukan sebagai
akses untuk memasukkan material packingke dalam
kavitas abses.
4. Jika diperlukan pemeriksaan kultur, aspirasi material
absesdengan spuit dan lakukan swab dasar abses
menggunakan lidi kapas steril yang dilembabkan dengan
NaCl steril. Masukkan lidi kapas ke dalam kontainer steril
berisi sedikit NaCl steril. Kirim spuit dan kontainer berisi
lidi kapas secepatnya ke laboratorium.
5. Biarkan pus mengalir secara spontan. Setelah tekanan
intraabses berkurang, berikan tekanan perlahan
sehingga sisa pus di dalam abses keluar.
6. Lakukan diseksi tumpul menggunakan hemostat ujung
lengkung untuk membuka kavitas abses.
7. Insersikan hemostat ujung lengkung ke dalam kavitas
abses sampai terasa tahanan dari jaringan yang sehat,
kemudian buka ujung hemostat dan lakukan diseksi
tumpul dengan gerakan sirkular untuk membuka kavitas
abses secara komplit.
8. Lakukan irigasi luka dengan normal salinemenggunakan
spuit tanpa jarum sampai cairan irigasi jernih
9. Insersi packing materialke dalam kavitas abses

 Menggunakan kassa steril, dengan atau tanpa antiseptik,


perlahan-lahan insersikan ke dalam kavitas abses.
Lakukan secara sistematis dengan membagi
kavitas abses secara imajiner menjadi 4 kuadran, dan
memulai insersi dari 1 kuadran dilanjutkan ke kuadran
yang lain.
 Masukkan kassa steril secukupnya untuk drainase
maksimal dan mencegah dinding abses saling menempel
yang akan mengakibatkan luka menutup secara
prematur, sehingga terjadi akumulasi bakteri dan kembali
terbentuknya abses. Hindari insersikassa steril yang
terlalu padat karena akan mengakibatkan iskemia
jaringan di sekitarnya dan mengganggu drainase pus

PASCA INSISI
[Link] pasca insisi abses perlu diberikan pada pasien
yang sehat. Pemasangan drain saja sudah adekuat, dan
sistem pertahanan tubuh mampu mengeliminasi infeksi
tanpa pemberian antibiotika. Pasien yang memerlukan
antibiotika adalah pasien dengan selulitis luas di sekitar
abses atau pasien dengan kondisi komorbid.
[Link] luka insisi dengan penutup luka steril dan tidak
mudah menempel pada luka. Antibiotika topikal sering tidak
diperlukan.
[Link] pasien untuk datang bila terjadi tanda-tanda
seperti kemerahan, bengkak atau timbulnya gejala sistemik
seperti demam.
[Link] diperlukan, penggantian packing materialdan drain
dapat dilakukan 2-3 hari setelah insisi.
[Link] assessmentluka insisi saat pasien datang untuk
kontrol kedua kalinya. Dilihat apakah sudah terjadi
penyembuhan sekunder (healing by secondary intention),
ditandai dengan pembentukan jaringan granulasi.
[Link] kassa masih basah dan masih keluar cairan dari
dalam drain, ganti dengan kassa steril untuk melanjutkan
proses penyembuhan dan instruksikan pasien untuk datang
2-3 hari kemudian.
[Link] anestetik dan [Link] insisi dan
drainase abses merupakan salah satu tindakan bedah
minor yang dirasakan paling menyebabkan nyeri meski
sudah digunakan anestesi lokal. Kerja anestetik lokal
kurang efektif dalam lingkungan abses yang bersifat asam,
sehingga terkadang perlu diinfiltrasikan anestetik lokal ke
dalam jaringan di sekeliling abses dan tunggu 1-2 menit
sehingga obat mulai bekerja. Bila abses hanya
40berukuran kecil, sering tidak diperlukan anestesi lokal.
Nyeri yang terasa saat tindakan adalah saat membuka
lokulasi abses, bukan saat dilakukan insisi menggunakan
ujung scalpel.

KOMPLIKASI INSISI
[Link]
[Link]
[Link] sistemik
[Link] abses. Jika abses kembali terbentuk meski
drainase sudah optimal, lakukan assessment apakah
terdapat faktor risiko yang mendasari seperti kolonisasi
stafilokokus, kelainan anatomis atau kondisi
immunocompromised.

REFERENSI

[Link], M.T., Manthey, McGinnis, H.D., Nicks, B.A.,


Pariyadath, M, N Engl J Med 2007; 357: e20.
[Link], C., Allan, G.M., Evidence-Based Approach to
Abscess Management, Can Fam Physician2007; 53:
1680-1684.
[Link], A, Everett, W.W., Are Antibiotics Necessary After
Incision and Drainage of a Cutaneous Abscess?, Ann
Emerg Med. 2007, Volume XX, no. X; 1-3

Anda mungkin juga menyukai