KEPERAWATAN ANAK II
AUTISME
DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 2
KELAS B1 EKSTENSI
Ishak Randubada Mealy Smachaenas
Jesika B.E Makiolor Meifi Q Rantung
Joice Ludong Moningka K.B Josita
Juliana Kalidu Ni Wayan MediSeri Susiawati
Kurnia M Kaparang Ni Wayan Mesi Sri Astiti
Lidya Manibui Putri A Kumaat
Lusye T Saghawari Regina Lumingkewas
Margaritha J Lantaa Renaldo F.R Paulus
Marice Tatulus Reynaldi M Liando
UNIVERSITAS PEMBAGUNAN INDONESIA
MANADO
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur Kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat dan
karunia-Nya yang diberikan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Kami sadar dalam penyusunan makalah ini tentu saja masih jauh dari kata sempurna, oleh
karena itu kritik dan saran yang bersifat membagun sangat diperlukan untuk perbaikan makalah
ini dikemudian hari.
kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang ikut serta dalam
penyusunan makalah ini sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Manado, 21 November 2022
Penulis
Kelompok Autisme
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Autis adalah gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi,
interaksi sosial dan aktivitas imajinasi. Gejalanya mulai Nampak sebelum anak berusia 3
tahun, bahkan pada autistic infantile gejalanya sudah ada sejak lahir. Prevalensi autis di
dunia mencapai 10-20 kasus per 10.000 anak atau 0,15-0,20%.
Sampai saat ini penyebab autis belum diketahui secara pasti. Berdasarkan
penelitian, diperkirakan penyebab munculnya gejala autis adalah bahan metabolit sebagai
hasil proses metabolisme (asam organik) merupakan bahan yang dapat mengganggu fungsi
otak dan keadaan tersebut biasanya didahului dengan gangguan pencernaan. Penelitian
yang dilakukan Reichelt (1970), terdapat kandungan peptida yang tidak normal dalam
urine penderita autisme. Sebagian besar dari peptida yang terkandung dalam urine tersebut
terbentuk karena penderita mengonsumsi gluten atau kasein, atau keduanya. Bagian yang
tidak dapat terpisah dari peptida, yang disebut beta-casomorphin dan gliadinomorphin,
adalah zat yang mirip dengan opioid. Zat ini memiliki efek sama seperti heroin atau morfin
dan akan menimbulkan gejala sama seperti pecandu heroin (Kessick, 2009; Mashabi dan
Tajudin, 2009; Sofia, 2012).
Perilaku autis ada 2 jenis yaitu perilaku yang eksesif (berlebihan) dan perilaku
deficit (berkekurangan). Perilaku ekesif adalah perilaku yang hiperaktif dan tantrum
(mengamuk) seperti menjerit, mengepak, menggigit, mencakar, memukul dan termasuk
juga menyakiti diri sendiri (self abuse). Perilaku deficit adalah perilaku yang menimbulkan
gangguan bicara atau kurangnya perilaku sosial seperti tertawa atau menangis tanpa sebab
atau melamun ( Pratiwi, 2013; Judarwanto, 2005)
B. Rumusan Masalah
Bagaimana konsep dasar teoritis autisme dan asuhan kepererawatan pada anak dengan
autism?
C. Tujuan Penulisan
Mahasiswa mampu menerapkan konsep keperawatan pada anak dengan autisme
BAB II
PEMBAHASAN
A. KONSEP DASAR TEORITIS
1. Pengertian
Istilah autis pertama kali dikemukakan oleh Leo Kanner (1943) psikolog dari
Universitas John Hopkins. Ia memakai istilah autis yang secara sosial tidak mau bergaul
dan asyik tenggelam dengan kerutinan, anak-anak yang harus berjuang keras untuk bisa
menguasai bahasa lisan namun tak jarang menyimpan bakat intelektual tinggi. Gejala autis
disebabkan beberapa faktor yaitu genetik, infeksi virus rubella atau galovirus saat dalam
kandungan, faktor makanan seperti makanan yang mengandung gluten dan kasein,
gangguan metabolik yang menyebabkan kelainan pada system limbik, kondisi ibu yang
merokok pada saat hamil, serta pencemaran terhadap logam berat terutama timbal.
Autis berasal dari kata autos yang berarti diri sendiri dan isme yang berarti aliran.
Autisme berarti suatu paham yang tertarik hanya pada dunia sendiri. Autis diduga akibat
kerusakan saraf otak yang bisa muncul karena beberapa faktor, diantaranya: genetic dan
faktor lingkungan. (Sari ID 2009)
Autis adalah gangguan perkembangan yang mencakup bidang komunikasi,
interaksi, serta perilaku yang luas dan berat. Penyebabnya adalah gangguan pada
perkembangan susunan syaraf pusat yang menyebabkan terganggunya fungsi otak. Autis
bisa terjadi pada siapapun, tanpa ada perbedaan status sosial ekonomi, pendidikan,
golongan etnis, maupun bangsa (Indiarti MT 2007).
Autisme merupakan suatu gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada
anak, mulai tampak sebelum usia 3 tahun. Kondisi ini menyebabkan mereka tidak mampu
berkomunikasi maupun mengekspresikan keinginannya, sehingga mengakibatkan
terganggunya perilaku dan hubungan dengan orang lain. Prevalensi anak autis beberapa
tahun terakhir ini mengalami kenaikan yang signifikan. Autisme dapat terjadi pada seluruh
anak dari berbagai tingkat social dan kultur. Hasil survey yang diambil dari beberapa
negara menunjukkan bahwa 2-4 anak per 10.000 anak berpeluang menyandang autisme
dengan rasio 3:1 untuk anak laki-laki dan perempuan. Dengan kata lain, anak laki- laki
lebih rentan menyandang autisme dibandingkan anak perempuan (Wijayakusuma,2004).
Menurut Global Prevalence of Autism and Other Pervasive Developmental Disorders
disebutkan rata-rata kejadian autistic disorder di Asia Tenggara khususnya Indonesia
adalah sebesar 11.7/ 10.000 anak (Elsabbagh, dkk, 2012).
2. Klasifikasi Autisme
Menurut Cohen & Bolton (1994) dalam Hadrian J (2008), autism dapat
diklasifikasikan menjadi beberapa bagian berdasarkan gejalanya. Klasifikasi ini dapat
diberikan melalui Childhood Autism Rating Scale (CARS). Skala ini menilai derajat
kemampuan anak untuk berinteraksi dengan orang lain, melakukan imitasi, memberi respon
emosi, penggunaan tubuh dan objek, adaptasi terhadap perubahan, memberikan respon
visual, pendengaran, pengecap, penciuman dan sentuhan. Selain itu, Childhood Autism
Rating Scale juga menilai derajat kemampuan anak dalam perilaku takut/gelisah melakukan
komunikasi verbal dannon verbal, aktivitas, konsistensi respon intelektual serta penampilan
menyeluruh. Pengklasifikasiannya adalah sebagai berikut :
a. Autis ringan Pada kondisi ini, anak autis masih menunjukkan adanya kontak mata
walaupun tidak berlangsung lama. Anak autis ini dapat memberikan sedikit respon
ketika dipanggil namanya, menunjukkan ekspresi-ekspresi muka, dan dalam
berkomunikasi secara dua arah meskipun terjadinya hanya sesekali. Tindakan-
tindakan yang dilakukan masih bisa dikendalikan dan dikontrol dengan mudah.
Karena biasanya perilaku ini dilakukan masih sesekali saja, sehingga masih bisa
dengan mudah untuk mengendalikannya.
b. Autis sedang Pada kondisi ini, anak autis masih menunjukkan sedikit kontak mata,
namun tidak memberikan respon ketika namanya dipanggil. Tindakan agresif atau
hiperaktif, menyakiti diri sendiri, acuh, dan gangguan motorik yang stereotipik
cenderung agak sulit untuk dikendalikan tetapi masih bisa dikendalikan.
c. Autis berat Anak autis yang berada pada kategori ini menunjukkan tindakan-tindakan
yang sangat tidak terkendali. Biasanya anak autis memukul-mukulkan kepalanya ke
tembok secara berulang-ulang dan terus-menerus tanpa henti. Ketika orang tua
berusaha mencegah, namun anak tidak memberikan respon dan tetap melakukannya,
bahkan dalam kondisi berada dipeluka orang tuanya, anak autis tetap memukul-
mukulkan kepalanya. Anak baru berhenti setelah merasa kelelahan kemudian
langsung tertidur. Kondisi yang lainnya yaitu, anak terus berlarian didalam rumah
sambal menabrakkan tubuhnya ke dinding tanpa henti hingga larut malam, keringat
sudah bercucuran di sekujur tubuhnya, anak terlihat sudah sangat kelelahan dan tak
berdaya. Tetapi masih terus berlari sambal menangis. Seperti ingin berhenti, tapi
tidak mampu karena semua diluar kontrolnya. Hingga akhirnya anak terduduk dan
tertidur kelelahan
3. Factor Penyebab Anak Autis
Menurut Gayatri Pamoedji (2007) penyebab autis adalah gangguan perkembangan pada anak
yang disebabkan oleh gangguan pada fungsi susunan otak. Penyebab utama dari gangguan
ini hingga saat ini masih terus diselidiki oleh para ahli meskipun beberapa penyebab seperti
keracunan logam berat, genetik, vaksinasi, populasi, komplikasi sebelum dan setelah
melahirkan disebut-sebut memiliki andil dalam terjadinya autisme. Menurut Para ahli
penyebab autis dan diagnosa medisnya adalah:
a. Konsumsi obat pada ibu menyusui
Obat migrain, seperti ergotamine obat ini mempunyai efek samping yang buruk pada
bayi dan mengurangi jumlah ASI.
b. Faktor Kandungan (Pranatal)
Kondisi kandungan juga dapat menyebabkan gejala autisme. Pemicu autisme dalam
kandungan dapat disebabkan oleh virus yang menyerang pada trimester pertama.
Yaitu syndroma rubella.
c. Faktor Kelahiran
Bayi lahir dengan berat badan rendah, prematur, dan lama dalam kandungan (lebih
dari 9 bulan) beresiko mengidap autis. Selain itu bayi yang mengalami gagal napas
(hipoksa) saat lahir juga beresiko mengalami autis.
d. Peradangan dinding usus Sejumlah anak penderita gangguan autis, umumnya,
memiliki pencernaan buruk dan ditemukan adanya peradangan usus. Peradangan
tersebut diduga disebabkan oleh virus
e. Faktor Genetika
Gejala autis pada anak disebabkan oleh factor turunan. Setidaknya telah ditemukan
dua puluh gen yang terkait dengan autisme. Akan tetapi, gejala autisme baru bisa
muncul jika terjadi kombinasi banyak gen.
f. Keracunan logam berat
Kandungan logam berat penyebab autis karena adanya sekresi logam berat dari tubuh
terganggu secara genetis. Beberapa logam berat,seperti arsetik (As), antimony (Sb),
Cadmium (Cd), air raksa (Hg),dan timbale (Pb), adalah racun yang sangat kuat.
g. Faktor Makanan
Zat kimia yang terkandung dalam makanan sangat berbahaya untuk kandungan.
Salah satunya pestisida yang terpapar pada sayuran. Diketahui bahwa pestisida
mengganggu fungsi gen pada saraf pusat,menyebabkan anak autis.
Menurut Handojo (2008) penyebab autis adalah:
a. Pada kehamilan trimester pertama, yaitu 0-4 bulan, faktor pemicu inibisa terdiri dari:
infeksi (toksoplasmosis, rubella, candida, dsb),logam berat, obat-obatan, muntah-
muntah hebat (hiperemesis), perdarahan berat.
b. Proses kelahiran Proses kelahiran yang lama (partus lama) dimana terjadi gangguan
nutrisi dan oksigenasi pada janin.
c. Sesudah lahir (post partum) Infeksi berat-ringan pada bayi, imunisasi MMR dan
Hepatitis B, logam berat, MSG, pewarna, zat pengawet, protein susu sapi (kasein)
dan protein tepung terigu.
4. Etiologi dan patofisiologi
Menurut Sari ID (2009) Autis merupakan penyakit yang bersifat multifaktor. Teori pengenai
penyebab dari autis diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Faktor genetika
Faktor genetik diperkirakan menjadi penyebab utama dari kelainan autisme,
walaupun bukti kongkrit masih sulit ditemukan. Hal tersebut diduga karena adanya
kelainan kromosom pada anak autisme, namun kelainan itu tidak selalu berada pada
kromosom yang sama. Penelitian masih terus dilakukan sampai saat ini. Jumlah anak
berjenis kelamin laki-laki yang menderita autis lebih banyak dibandingkan
perempuan, hal ini diduga karena adanya gen pada kromosom X yang terlibat dengan
autis. Perempuan memiliki dua kromosom X, sementara laki-laki hanya memiliki
satu kromosom X. Kegagalan fungsi pada gen yang terdapat di salah satu kromosom
X pada anak perempuan dapat digantikan oleh gen pada kromosom lainnya.
Sementara pada anak laki-laki tidak terdapat cadangan ketika kromosom X
mengalami keabnormalan. Sejumlah penelitian menyimpulkan bahwa gen
pada kromosom X bukanlah penyebab utama autis, namun suatu gen pada kromosom
X yang mempengaruhi interaksi sosial dapat mempunyai andil pada perilaku yang
berkaitan dengan autis (Wargasetia, 2003).
b. Kelainan anatomis otak
Kelainan anatomis otak ditemukan khususnya di lobus parietalis, serta pada sistem
limbiknya. Sebanyak 43% penyandang autisme mempunyai kelainan di lobus
parietalis otaknya, yang menyebabkan anak tampak acuh terhadap lingkungannya.
Kelainan juga ditemukan pada otak kecil (serebelum), terutama pada lobus ke VI dan
VII. Otak kecil bertanggung jawab atas proses sensoris, daya ingat, berfikir, belajar
berbahasa dan proses atensi (perhatian). Jumlah sel Purkinye di otak kecil juga
ditemukan sangat sedikit, sehingga terjadi gangguan keseimbangan serotonin dan
dopamin, menyebabkan gangguan atau kekacauan lalu lintas impuls di otak. Kelainan
khas juga ditemukan di daerah sistem limbik yang disebut hipokampus dan amigdala.
Kelainan tersebut menyebabkan terjadinya gangguan fungsi kontrol terhadap agresi
dan emosi. Anak kurang dapat mengendalikan emosinya, sering terlalu agresif atau
sangat pasif. Amigdala juga bertanggung jawab terhadap berbagai rangsang sensoris
seperti pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan, rasa dan rasa takut.
Hipokampus bertanggung jawab terhadap fungsi belajar dan daya ingat. Gangguan
hipokampus menyebabkan kesulitan penyimpanan informasi baru, perilaku diulang-
ulang yang aneh dan hiperaktif.
c. Disfungsi metabolic
Disfungsi metabolik terutama berhubungan dengan kemampuan memecah komponen
asam amino phenolik. Amino phenolik banyak ditemukan di berbagai makanan dan
dilaporkan bahwa komponen utamanya dapat menyebabkan terjadinya gangguan
tingkah laku pada pasien autis. Sebuah publikasi dari Lembaga Psikiatri Biologi
menemukan bahwa anak autis mempunyai kapasitas rendah untuk menggunakan
berbagai komponen sulfat sehingga anak-anak tersebut tidak mampu memetabolisme
komponen amino phenolik. Komponen amino phenolik merupakan bahan baku
pembentukan neurotransmiter, jika komponen tersebut tidak dimetabolisme baik
akan terjadi akumulasi katekolamin yang toksik bagi s af. Makanan yang
mengandung amino phenolik itu adalah : terigu (gandum), jagung, gula, coklat,
pisang, dan apel.
d. Teori kelebihan opioid dan hubungan antara diet protein kasein dan gluten.
Pencernaan anak autis terhadap kasein dan gluten tidak sempurna. Kedua protein ini
hanya terpecah sampai polipeptida. Polipeptida dari kedua protein tersebut terserap
ke dalam aliran darah dan menimbulkan “efek morfin” di otak anak. Pori-pori yang
tidak lazim kebanyakan ditemukan di membran saluran cerna pasien autis, yang
menyebabakan masuknya peptida ke dalam darah. Hasil metabolisme gluten adalah
protein gliadin. Gliadin akan berikatan dengan reseptor opioid C dan D. Reseptor
tersebut berhubungan dengan mood dan tingkah laku. Diet sangat ketat bebas gluten
dan kasein menurunkan kadar peptida opioid serta dapat mempengaruhi gejala autis
pada beberapa anak. Sehingga, implementasi diet merupakan terobosan yang baik
untuk memperoleh kesembuhan pasien.
5. Gejala Autisme
Gejala-gejala yang terlihat pada anak yang menderita autis adalah diare atau sembelit yang
susah diatur, sakit pada bagian perut, adanya gas dankembung, buang air besar yang berbau
busuk dan bewarna lebih muda, dan kesulitan tidur setiap malam yang disebabkan oleh
saluran usus yang mengalami gangguan sepanjang malam akibat asam lambung naik dan
membakar esopaghus, yaitu tempat dilaluinya makanan menuju perut (Yuliana & Emilia E
2006). Menurut Acocella (1996) dalam Lubis MU (2009), ada banyak tingkah laku yang
tercakup dalam autis dan ada 4 gejala yang selalu muncul,yaitu:
a. Isolasi social
Banyak anak autis yang menarik diri dari segala kontak social kedalam suatu keadaan
yang disebut extreme autistic aloness. Hal iniakan semakin terlihat pada anak yang
lebih besar, akan bertingkah laku seakan-akan orang lain tidak pernah ada.
b. Kelemahan kognitif
Anak autis sebagian besar (±70%) mengalami retardasimental (IQ<70) tetapi anak
autis sedikit lebih baik,contohnya dalam hal yang berkaitan dengan kemampuan
sensori motorik. Terapi yang dijalankan anak autis meningkatkan hubungan sosial
mereka tapi tidak menunjukkan pengaruh apapun pada retardasimental yang dialami.
Oleh karena itu,retar dasimental pada anak autis,terutama sekali disebabkan oleh
masalah kognitif dan bukan pengaruh penarikan diri dari lingkungan sosial.
c. Kekurangan dalam Bahasa
Lebih dari setengah autis tidak dapat berbicara,yang lainnya hanya mengoceh,
merengek, menjerit atau menunjukkan ecolalia, yaitu menirukan apa yang dikatakan
orang [Link] anak autis 9 mengulang potongan lagu, iklan TV, atau potongan
kata yang terdengar tanpa tujuan. Beberapa anak autis menggunakan kata ganti
dengan cara yang aneh. Menyebut diri mereka sendiri sebagai orang kedua “kamu”
atau orang ketiga “dia”. Intinya anak autis tidak dapat berkomunikasi dua arah
(resiprok) dan tidak dapat terlibat dalam pembicaraan normal
d. Tingkah laku stereotif
Anak autis sering melakukan gerakan yang berulang-ulang secara terus-menerus
tanpa tujuan yang jelas. Seperti berputar-putar, berjingkat-jingkat dan lain
[Link] yang dilakukan berulang-ulang ini disebabkan adanya
kerusakan fisik, misalnya adanya gangguan neurologis. Anak autis juga mempunyai
kebiasaan menarik-narik rambut dan menggigit jari. Walaupun sering menangis
kesakitan akibat perbuatan sendiri, dorongan untuk melakukan tingkah laku yang
aneh ini sangat kuat dalam diri mereka. Anak autis juga hanya tertarik pada bagian -
bagian tertentu dari sebuah objek, misalnya pada roda mainan mobil-mobilan. Anak
autis juga menyukai keadaan lingkungan dan kebiasaan yang monoton.
Menurut Handojo (2003), deteksi dini autis pada anak yang dianjurkan untuk diwaspadai
oleh para orang tua adalah anak usia 30 bulan belum bisa bicara untuk komunikasi, hiperaktif
dan acuh kepada orang tua dan orang lain, tidak bisa bermain dengan teman sebayanya, ada
perilaku aneh yang diulang-ulang. Menurut Faisal Y (2003) dalam Hidayat (2004), autism
terdiri dari tiga jenis :
a. Autisme persepsi
Autisme persepsi merupakan autisme yang timbul sebelum lahir dengan gejala
adanya rangsangan dari luar baik kecil maupun kuat yang dapat menimbulkan
kecemasan.
b. Autisme reaktif
Autisme reaktif ditunjukkan dengan gejala berupa penderita membuat gerakan-
gerakan tertentu yang berulang-ulang dan kadang-kadang disertai kejang dan dapat
diamati pada anak usia 6-7 tahun. Anak memiliki sifat rapuh dan mudah terpengaruh
oleh dunia luar.
c. Autisme yang timbul kemudian
Jenis autisme ini diketahui setelah anak agak besar dan akan mengalami kesulitan
dalam mengubah perilakunya kerena sudah melekat atau ditambah adanya
pengalaman yang baru.
6. Mekanisme terjadinya autis
a. Mekanisme Racun Logam Berat
Logam berat dapat berpengaruh buruk pada sistem saluran cerna, sistem imun tubuh,
sistem saraf, dan sistem endokrin. Logam berat mengubah fungsi seluler dan
sejumlah proses metabolisme dalam tubuh, termasuk yang berhubungan dengan
sistem saraf pusat dan sekitamya. Sebagian besar kerusakan yang disebabkan oleh
logam berat disebabkan oleh perkembangbiakan radikal bebas oksidan. Radikal
bebas adalah molekul yang secara energi keberadaannya tidak seimbang, yaitu terdiri
dari elektron yang tidak berpasangan yang mengambil elektron dari molekul lainnya.
Radikal bebas umumnya muncul bila molekul sel-sel bereaksi dengan oksigen.
Produksi radikal bebas yang berlebihan dapat terjadi apabila seseorang
terpapar logam berat atau anak-anak memiliki defisiensi antioksidan secara genetis.
Radikal bebas akan dapat merusak jaringan di seluruh tubuh, termasuk otak.
Antioksidan seperti vitamin A, C, dan E melindungi tubuh terhadap radikal bebas dan
pada tingkat tertentu memperbaiki kerusakan akibat radikal bebas
(McCandless,2003).
b. Imun Tubuh dan Saluran Cerna Berinteraksi
Otak adalah bagian tubuh yang membutuhkan zat gizi penting. Kebutuhan tersebut
sangat bergantung pada interaksi kompleks antarasistem imun, kelenjar endoktrin,
dan saluran pencemaan. Imun tubuh adalah pemimpin pertahanan tubuh menghadapi
bakteri patogen, jamur, dan virus. Sistem imun juga dapat membedakan antarmolekul
asing (Foreign) dan molekul tubuh sendiri (self) dan menggerakkan sel-sel dan
antibodi untuk menghadapi molekul asing. Sistem imun seharusnya bereaksi apabila
ada masalah, tetapi anak autis mempunyai sistem imun yang malfungsi. Seringkali
perubahan fungsi ini menyebabakan tubuh salah mengidentifikasi sel-sel sendiri dan
molekul asing. Malfungsi ini menyebabkan terjadinya peradangan saluran cerna
(McCandless, 2003). Saluran cerna merupakan penghalang penting antara patogen
yang datang dari luar dan organ-organ dalam, dimana sejumlah mekanisme imun
terdapat pada ephitalium. Lapisan usus ini bertugas memblokir patogen luar agar
tidak melakukan perusakan.
c. Pertumbuhan Jamur yang Berlebih dapat Melukai Sistem Saluran Cerna
Pemberian antibiotik yang berlebihan mengakibatkan banyak bakteri yang resisten
terhadap antibiotik. Antibiotik bukan hanya membunuh patogen, tetapi sekaligus
membunuh bakteri-bakteri pelindung (probiotik) usus. Diare kronis atau sembelit
pada anak dapat menunjukkan gejala pertumbuhan jamur yang berlebihan pada
banyak individu. Pertumbuhan bakteri dan jamur yang berlebihan dapat
melukai sistem saluran cerna dan merupakan salah satu penyebab spektrum autis
(McCandless, 2003).
d. Peningkatan Permeabilitas Mukosa Usus dan Malabsorpsi
Menurut Walsh (2003) dalam Yuliana & Emilia E (2006) Jamur memproduksi hasil
sampingan yang beracun yang dapat menyebabkan berbagai jenis penyakit
pencernaan, terasuk sindrom iritasi usus besar (irritable bowel syndrome), sembelit
yang kronis atau diare. Salah satu racun hasil sampingan ini adalah enzim yang
membiarkan jamur tersebut menggali lubang di dinding usus yang dapat
mengakibatkan terjadinya keadaan leaky gut. Racun-racun yang diproduksi oleh
jamur ini benar-benar mengebor lubang-lubang pada dinding usus dan meresap ke
dalam aliran darah anak. Substansi racun ini dapat melukai atau merusak sawar darah
otak yang menyebabkan rusaknya kesadaran, kemampuan kognitif, kemampuan
bicara atau tingkah laku. Sawar darah otak merupakan suatu dinding yang
impermeabel. Sawar darah berfungsi melindungi otak dari berbagai gangguan yang
dapat menyebabkan disfungsi otak.
Penyerapan protein yang tidak cukup atau tidak sesuai oleh usus dapat menyebabkan
kelainan sistem pencernaan. Sistem pencernaan yang sehat akan mampu mencerna
makanan yang kompleks dan memecahnya ke dalam bentuk yang dapat diserap oleh
sel-sel tubuh yang kemudian diubah menjadi energi melalui metabolisme tubuh
(McCandless, 2003).
Sewaktu dicerna, banyak protein yang dipecah menjadi asam amino tunggal, yang
lainnya dibawa sebagai rantai yang sedikit lebih besar. Pada anak autis, protein dan
peptida yang tidak dapat dicema berasal dari casein dan gluten. Peptida yang tidak
bisa diterima tubuh dapat memasuki aliran darah dan apabila terbawa ke otak akan
memiliki efek seperti opioid. Lubang-lubang yang berukuran abnormal di antara
dinding-dinding lapisan sel usus akan membiarkan opioid dan zat-zat beracun lainnya
merembes memasuki aliran darah. Racun-racun ini tidak seharusnya berada di tempat
tersebut, maka sistem imun mengenali substansi-substansi ini sebagai benda asing
dan membuat antibodi menentang mereka. Beberapa patogen usus yang masuk dalam
aliran darah, biasanya akan dihancurkan oleh munculnya reaksi imun. Akan tetapi
pecahan dinding sel patogen yang telah dihancurkan ini dapat menyebabkan
peradangan dan sampai tingkat tertentu dapat tersangkut di lokasi-lokasi seluruh
tubuh termasuk hati dan otak itu sendiri. Substansi racun tersebut dapat merusak
bahkan melampaui kemampuan hati untuk membersihkan racun tersebut apabila
terdapat dalam jumlah yang cukup banyak. Penumpukan patogen tersebut dapat
menimbulkan kehilangan memori dan kebingungan.(Shattock 2002 dalam Yuliana &
Emilia E. 2004).
7. Karakteristik anak autis
Gambaran klinis anak autis secara khas ditandai oleh adanya gangguan yang muncul sebelum
usia 3 tahun, yaitu kegagalan dalam perkembangan berbahasa dan kegagalan dalam menjalin
hubungan dengan orang tuanya.
Menurut buku pedoman penanganan dan Pendidikan autism [2011]. Penyandang autis
memiliki karakteristik/gejaladalam hal:
a. Karakteristik dalam interaksi social
1) Menyendiri (aloof): terlihat pada anak yang menarik diri, acuh tak acuh, dan kesal
bila diadakan pendekatan sosial serta menunjukkan perilaku danperhatian yang
terbatas (tidak hangat).
2) Pasif : dapat menerima pendekatan sosial dan bermain dengan anak lain jika pola
permaiannya disesuaikan dengan dirinya.
3) Aktif tapi aneh: secara spontan akan mendekati anak lain, namun interaksi ini
seringkali tidak sesuai dan sering hanya sepihak
b. Karakteristik dalam komunikasi antara lain adalah:
1) Bergumam
2) Sering mengalami kesukaran dalam memahami arti kata-kata dan kesukaran dalam
mengggunakan bahasa dalam konteks yang sesuai dan benar
3) Sering mengulang kata-kata yang baru saja mereka dengar atau yang pernah
mereka dengar sebelumnya tanpa bermaksud untuk berkomunikasi
4) Bila bertanya sering menggunakan kata ganti orang dengan terbalik, seperti "saya"
menjadi "kamu" dan menyebut diri sendiri sebagai "kamu";
5) Sering berbicara pada diri sendiri dan mengulang potongan kata atau lagu dari
iklan tv dan mengucapkannya di muka orang lain dalam suasana yang tidak sesuai.
6) Penggunaan kata-kata yang aneh atau dalam arti kiasan, seperti seorang anak
berkata "sembilan" setiap kali ia melihat kereta api.
7) Mengalami kesukaran dalam berkomunikasi walaupun mereka dapat berbicara
dengan baik, karena tidak tahu kapan giliran mereka berbicara,memilih topik
pembicaraan, atau melihat kepada lawan bicaranya.
8) Bicaranya monoton, kaku, dan menjemukan.
9) Kesukaran dalam mengekspresikan perasaan atau emosinya melalui nada suara
10) Tidak menunjukkan atau memakai gerakan tubuh untuk menyampaikan
keinginannya, tetapi dengan mengambil tangan orangtuanya untuk mengambil
obyek yang dimaksud
11) Mengalami gangguan dalam komunikasi nonverbal; mereka sering tidak
menggunakan gerakan tubuh dalam berkomunikasi untuk mengekspresikan
perasaannya atau untuk merabarasakan perasaan orang lain, misalnya
menggelengkan kepala, melambaikan tangan, mengangkat alis, dan sebagainya
c. Karakteristik dalam pola perilaku dan bermain
1) Abnormalitas dalam bermain, seperti stereotip, diulang-ulang dan tidak kreatif
2) Tidak menggunakan mainannya dengan sesuai
3) Menolak adanya perubahan lingkungan dan rutinitas baru
4) Minatnya terbatas, sering aneh, dan diulang-ulang
5) Hiperaktif pada anak prasekolah atau sebaliknya hipoaktif
6) Gangguan pemusatan perhatian, impulsifitas, koordinasi motoric terganggu,
kesulitan dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari- hari
d. Karakteristik kongnitif
1) Hampir 75-80% anak autis mengalami retardasi mental dengan derajat rata-rata
sedang.
2) Sebanyak 50% dari idiot savants (retardasi mental yang menunjukan kemampuan
luar biasa) adalahseorang penyandang autism
B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS