0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan71 halaman

Motivasi dan Persepsi Siswa Fisika

Skripsi ini membahas hubungan antara motivasi belajar, persepsi siswa terhadap fisika, dan hasil belajar fisika. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan sampel 36 siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Lasem. Hasilnya menunjukkan ada hubungan positif antara motivasi belajar dan hasil belajar fisika, antara persepsi siswa terhadap fisika dengan hasil belajar, serta antara motivasi belaj

Diunggah oleh

Muhsin 123
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan71 halaman

Motivasi dan Persepsi Siswa Fisika

Skripsi ini membahas hubungan antara motivasi belajar, persepsi siswa terhadap fisika, dan hasil belajar fisika. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan sampel 36 siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Lasem. Hasilnya menunjukkan ada hubungan positif antara motivasi belajar dan hasil belajar fisika, antara persepsi siswa terhadap fisika dengan hasil belajar, serta antara motivasi belaj

Diunggah oleh

Muhsin 123
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

[Link] [Link].

id

HUBUNGAN MOTIVASI BELAJAR, DAN PERSEPSI SISWA TERHADAP


FISIKA, DENGAN HASIL BELAJAR FISIKA

Skripsi

Skripsi
Oleh :
Indah Nur Badi’ah
K 2307010

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
commit to user
2011

i
[Link] [Link]

HUBUNGAN MOTIVASI BELAJAR, DAN PERSEPSI SISWA TERHADAP


FISIKA, DENGAN HASIL BELAJAR FISIKA

Oleh :
Indah Nur Badi’ah
K 2307010

Skripsi
Ditulis Dan Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Dari Persyaratan Guna
Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Fisika Jurusan
Pendidikan Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2011
commit to user

ii
[Link] [Link]

commit to user

iii
[Link] [Link]

commit to user

iv
[Link] [Link]

ABSTRAK

Indah Nur Badi’ah. HUBUNGAN MOTIVASI BELAJAR DAN PERSEPSI


SISWA TERHADAP FISIKA DENGAN HASIL BELAJAR FISIKA. Skripsi,
Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sebelas Maret,
September 2011.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : (1) hubungan positif


yang signifikan antara motivasi belajar dengan hasil belajar fisika, (2) hubungan
positif yang signifikan antara persepsi siswa terhadap fisika dengan hasil belajar
fisika, (3) hubungan positif yang signifikan antara motivasi belajar dan persepsi
siswa terhadap fisika dengan hasil belajar fisika.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif korelasional kuantitatif.
Populasi penelitian adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Lasem Tahun Ajaran
2010 / 2011 yang terbagi menjadi enam kelas yang berjumlah 263 siswa. Sampel
penelitian adalah siswa kelas VIII E yang berjumlah 36 siswa. Pengambilan sampel
dilakukan dengan teknik cluster random sampling. Teknik pengumpulan data
variabel motivasi belajar dan persepsi siswa terhadap fisika menggunakan angket.
Sedangkan pengumpulan data hasil belajar fisika siswa menggunakan teknik tes
dengan soal berbentuk pilihan ganda. Teknik analisis data yang digunakan analisis
regresi ganda dengan uji prasyarat analisis meliputi uji normalitas, uji independensi
dan uji linieritas.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan: (1) ada hubungan positif
yang signifikan antara motivasi belajar (X1) dengan hasil belajar fisika (Y) (
ry.1  0,444 dan t  2,5168  t 0.975; 34  2.041 ); (2) ada hubungan positif yang
signifikan antara persepsi siswa terhadap fisika (X2) dengan hasil belajar fisika (Y)
( ry.1  0,3719 dan t  2,5168  t 0.975; 34  2.041 ); (3) ada hubungan positif yang
signifikan antara motivasi belajar (X1) dan persepsi siswa terhadap fisika (X2)
dengan hasil belajar fisika (Y) ( ry.1.2  0,51778 dan F  6,04393  F0.05;2;33  3.28 ).
Sumbangan relatif (SR) motivasi belajar (X1) terhadap hasil belajar fisika (Y)
sebesar 62,004%. dengan sumbangan efektif sebesar 14,26%. Sedangkan
sumbangan relatif persepsi siswa terhadap fisika (X2) terhadap hasil belajar fisika
(Y) sebesar 37,995%. dengan sumbangan efektif sebesar 8,739%.

Kata Kunci : Motivasi , belajar, persepsi,fisika dan hasil belajar

commit to user

v
[Link] [Link]

ABSTRACT

Indah Nur Badi’ah. THE CORRELATION OF LEARNING MOTIVATION


AND STUDENT’S PERCEPTION ABOUT PHYSICS WITH PHYSICS
ACHIEVEMENT. Thesis. Surakarta : Teacher Training and Education Faculty ,
Sebelas Maret University, October 2011

The aims of this research are to find out : 1) the correlation of learning motivation
with physics achievement, 2) the correlation of student’s perception with physics
achievement, and 3) the correlation of learning motivation and student’s perception
about physics with physics achievement.
This research used quantitatively correlational descriptive methods. The
population of research was all student in grade VIII of Lasem 1 Junior High in
school year 2010/2011 which consist of 263 students divided in to 6 class. The
sample of research was VIII E class in amount of 36 students. The sample was
taken by using cluster random sampling The data collecting tecnique of learning
motivation and student’s perception about physics variable used questionnaires.
While data collecting technique of physics achievement used multiple choices test.
The tecnique of data analysis was multiple regression analysis with some
requirement tests included normality test, independent test and linierity test.
. Based on this research it can be concluded that; (1). There is a significant
possitive relation between learning motivation with physic achievement (
ry.1  0,444 and t  2,5168  t 0.975; 34  2.041 ); (2). There is a significant possitive
relation between student’s perception about physics (X2) with physic achievement
(Y) ( ry.1  0,3719 and t  2,5168  t 0.975; 34  2.041 ); (3) There is possitive relation
of learning motivation and student’s perception about physics with physics
achievement ( ry.1.2  0,51778 and F  6,04393  F0.05;2;33  3.28 ). The relative
contribution of learning motivation (X1) toward physics achievement (Y) is
62,004% with its effective contribution is 14,26%. While the relative contribution
of student’s perception about physics (X2) toward physics achievement (Y) is
37,995% with its effective contribution is 8,739%

Keyword : learning, motivation, perception, physics, achivement

commit to user

vi
[Link] [Link]

MOTTO

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah


kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu
urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya
kepada Tuhan-mulah hendaknya kamu berharap.
(Q.S Al Insyirah: 5-8)

Sesungguhnya orang-orang yang tetap bersabar itu akan memperoleh ganjaran


tanpa perhitungan.
(Q.S Az Zumar: 10)

Lebih cepat, lebih baik


( JK)

commit to user

vii
[Link] [Link]

PERSEMBAHAN

Skripsi ini dipersembahkan kepada:


1. Kedua orang tuaku untuk kasih sayang, doa dan
kesabarannya.
2. Teman seperjuanganku Rosi dan Miyu untuk
dukungannya.
3. Teman-teman fisika 2007 untuk semangat dan
kebersamaannya selama ini.

commit to user

viii
[Link] [Link]

KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT yang telah memberikan


rahmat dan hidayah-Nya, sehingga Skripsi ini dapat diselesaikan untuk memenuhi
sebagian dari persyaratan guna mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.
Banyak hambatan yang menimbulkan kesulitan dalam penulisan Skripsi ini.
Namun berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnya kesulitan tersebut dapat dapat
teratasi. Oleh karena itu, atas segala bentuk bantuannya, penulis mengucapkan
terima kasih kepada yang terhormat :
1. Bapak Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatullah, [Link]. Dekan Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah
memberikan ijin penelitian.
2. Bapak Sukarmin, [Link], [Link], Ph.D. Ketua Jurusan [Link] Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah
menyetujui permohonan penyusunan skripsi ini.
3. Bapak Drs. Supurwoko, [Link]. Ketua Program Fisika Jurusan P. MIPA Fakultas
Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan
selaku Pembimbing II.
4. Bapak Prof. Dr. Widha Sunarno selaku Pembimbing I dan Pembimbing
Akademik (PA) yang senantiasa memberikan semangat.
5. Ibu Alm. Inayah Abdul Chanan M.M, Kepala SMP Negeri 1 Lasem yang telah
memberikan ijin untuk melakukan penelitian.
6. Siswa-siswi kelas VIIIE SMP 1 Lasem. Terima kasih atas bantuan dan
kerjasamanya.
7. Segenap keluarga yang telah memberikan do’a restu serta dorongan sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
8. Teman-teman Fisika terkhusus angkatan 2007.
9. Semua pihak yang telah membantu terlaksananya penelitian ini.
Semoga amal baik semua pihak tersebut mendapatkan imbalan dari Allah SWT.
Dalam skripsi yang telah dikerjakan ini masih jauh dari kesempurnaan
commit
maka sangat diharapkan atas segala kritik to user
dan saran yang bersifat membangun demi

ix
[Link] [Link]

kesempurnaan penulisan dimasa yang akan datang. Semoga karya ini bermanfaat
bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Surakarta, Oktober 2011

Penulis

commit to user

x
[Link] [Link]

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................... i


HALAMAN PENGAJUAN ........................................................................ ii
HALAMAN PERSETUJUAN .................................................................... iii
HALAMAN ABSTRAK ............................................................................. iv
HALAMAN ABSTRACT ............................................................................ v
HALAMAN MOTTO ................................................................................. vi
HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................. vii
KATA PENGANTAR ................................................................................ viii
DAFTAR ISI .............................................................................................. ix
DAFTAR TABEL ...................................................................................... x
DAFTAR GAMBAR .................................................................................. xi
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... xii
BAB I. PENDAHULUAN .......................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah ................................................................. 1
B. Identifikasi Masalah ....................................................................... 3
C. Pembatasan Masalah ...................................................................... 4
D. Perumusan Masalah........................................................................ 4
E. Tujuan Penelitian ........................................................................... 5
F. Manfaat Penelitian ......................................................................... 5
BAB II. LANDASAN TEORI .................................................................... 6
A. Kajian Teori ................................................................................... 6
1. Motivasi Belajar ....................................................................... 6
a. Pengertian Belajar ................................................................ 6
b. Pengertian Motivasi .............................................................. 6
c. Tujuan Motivasi...................................................................... 8
d. Fungsi Motivasi...................................................................... 8
e. Jenis-jenis Motivasi................................................................ 9
f. Faktor-faktor yang Memperngaruhi Motivasi................... ... 10
g. Indikator-indikatorcommit to user
Motivasi Belajar ................................... 10

xi
[Link] [Link]

2. Persepsi terhadap Fisika ........................................................... 11


a. Fisika.............................................................. ...................... 11
b. Pengertian Persepsi.......................................... .................... 12
c. Proses Terjadinya Persepsi .................................................. 13
d. Jenis Persepsi...................................................................... 14
e. Komponen Persepsi ............................................................ 14
3. Hasil Belajar ............................................................................. 15
a. Pengertian Hasil Belajar ..................................................... 15
b. Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar ........................... 15
c. Macam-macam Hasil Belajar .............................................. 16
4. Getaran dan Gelombang ........................................................... 17
a. Getaran ............................................................................... 17
b. Gelombang ......................................................................... 19
B. Kajian Penelitian yang Relevan ...................................................... 22
C. Kerangka Berpikir .......................................................................... 24
D. Perumusan Hipotesis ...................................................................... 25
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN.................................................... 26
A. Jenis dan Desain penelitian............................................................... 26
B. Tempat dan Waktu penelitian ......................................................... 27
1. Tempat Penelitian ..................................................................... 27
2. Waktu Penelitian ...................................................................... 27
C. Populasi dan Sampel Penelitian ...................................................... 27
D. Variabel penelitian ......................................................................... 29
E. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ...................................... 30
1. Teknik Pengumpulan Data........................................................ 30
2. Instrumen pengumpulan Data..................................................... 31
F. Validitas dan Reliabilitas Instrumen ............................................... 31
1. Validitas dan Reliabilitas Angket .............................................. 31
2. Validitas dan Reliabilitas Tes ................................................... 34
G. Teknik Analisa Data ...................................................................... 36
commit to user
1. Uji Prasyarat Hipotesis.................................................................. 36

xii
[Link] [Link]

a. Uji Linieritas.............................................................................. 37
b. Uji Independensi........................................................................ 37
c. Uji Normalitas........................................................................... 37
2. Pengujian Hipotesis......................................................................... 39
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN...... ....................... 42
A. Deskripsi Data ............................................................................... 42
1. Data Motivasi Belajar ................................................................... 42
2. Data Persepsi Siswa Terhadap Fisika......................... .................. . 43
3. Data Hasil Belajar Fisika................................ ............................. 44
B. Analisis Data .................................................................................. 45
1. Uji Prasyarat Analisis ............................................................... 45
2. Uji Hipotesis ............................................................................ 48
3. Uji Kontribusi........................................................................... 49
C. Pembahasan ................................................................................... 50
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN ..................................... 52
A. Simpulan ........................................................................................ 52
B. Implikasi ........................................................................................ 52
C. Saran .............................................................................................. 53
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 55
LAMPIRAN ............................................................................................... 57

commit to user

xiii
[Link] [Link]

DAFTAR TABEL
Hal
Tabel 3.1 Populasi Penelitian ................................................................... 27
Tabel 4.1 Rangkuman Deskripsi Data....................................................... 42
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Motivasi Belajar ....................................... 43
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Persepsi Siswa terhadap Fisika ................. 44
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Fisika .................................. 45
Tabel 4.5 Harga Statistik Uji Normalitas .................................................. 46
Tabel 4.6 Rangkuman Anava Regresi Sederhana Yˆ  27,566  0.5829 X1 . 46

Tabel 4.7 Rangkuman Anava Regresi Sederhana Yˆ  32,53  0,648 X 2 ... 47


Tabel 4.8 Rangkuman Anava Regresi Ganda............................................... 48

commit to user

xiv
[Link] [Link]

DAFTAR GAMBAR
Hal
Gambar 2.1 Ayunan Bandul .................................................................... 18
Gambar 2.2 Gelombang Transversal ........................................................ 20
Gambar 2.3 Gelombang longitudinal ....................................................... 21
Gambar 2.4 Gelombang Pantul pada Tali ................................................ 22
Gambar 2.5 Kerangka Berpikir ................................................................ 25
Gambar 3.1 Hubungan antar variable....................................................... 26
Gambar 4.2 Diagram Motivasi Belajar .................................................... 43
Gambar 4.2 Diagram Persepsi Siswa Terhadap Fisika ............................. 44
Gambar 4.3 Diagram Hasil Belajar Fisika ................................................ 45

commit to user

xv
[Link] [Link]

DAFTAR LAMPIRAN
Hal
Lampiran 1 Jadwal Penelitian ................................................................ 57
Lampiran 2 Kisi-Kisi Angket Try Out Motivasi ...................................... 58
Lampiran 3 Kisi-Kisi Angket Try Out Persepsi ....................................... 59
Lampiran 4 Kisi-Kisi Tes ........................................................................ 60
Lampiran 5 Angket Uji Coba Motivasi ................................................... 61
Lampiran 6 Angket Uji Coba Persepsi .................................................... 69
Lampiran 7 Uji CobaTes Getaran dan Gelombang ................................. 76
Lampiran 8 Uji Validitas dan Reliabilitas Angket Motivasi Belajar ........ 79
Lampiran 9 Uji Validitas dan Reliabilitas Angket Persepsi Siswa
Terhadap Fisika ................................................................... 83
Lampiran 10 Uji Validitas Tes Kognitif .................................................... 88
Lampiran 11 Uji Reliabilitas Tes Kognitif ................................................ 92
Lampiran 12 Daya Pembeda Tes ............................................................... 95
Lampiran 13 Tingkat Kesukaran Tes ......................................................... 96
Lampiran 14 Kisi-kisi Angket Penelitian Motivasi Belajar ........................ 97
Lampiran 15 Kisi-kisi Angket Penelitian Persepsi .................................... 98
Lampiran 16 Kisi-kisi Angket Penelitian Motivasi Belajar ........................ 99
Lampiran 17 Angket Penelitian Motivasi Belajar ...................................... 100
Lampiran 18 Angket Penelitian Persepsi Siswa ......................................... 106
Lampiran 19 Tes Kognitif Getaran dan Gelombang ................................... 113
Lampiran 20 Data Induk Penelitian ........................................................... 116
Lampiran 21 Uji Normalitas Motivasi Belajar ........................................... 117
Lampiran 22 Uji Normalitas Persepsi Siswa Terhadap Fisika .................... 119
Lampiran 23 Uji Normalitas Hasil Belajar Fisika ..................................... 121
Lampiran 24 Tabel Kerja Uji Independensi ............................................... 122
Lampiran 25 Tabel Kerja Uji Linearitas Motivasi Belajar (X1)
Dengan Hasil Belajar Fisika (Y) .......................................... 124
commit to user

xvi
[Link] [Link]

Lampiran 26 Uji Lineraritas dan Keberartian Regresi Motivasi Belajar


(X1) dengan Hasil Belajar Fisika (Y) ................................... 125
Lampiran 27 Tabel Kerja Uji Linearitas Persepsi Siswa terhadap Fisika
(X2) dengan Hasil Belajar (Y).............................................. 128
Lampiran 28 Uji Lineraritas dan Keberartian Regresi Persepsi Siswa
terhadap Fisika (X2) Terhadap Hasil Belajar Fisika (Y) ........ 129
Lampiran 29 Perhitungan Koefisien Regresi Linier Ganda ........................ 132
Lampiran 30 Uji Kontribusi ...................................................................... 135
Lampiran 31 Kunci Jawaban Tes Getaran dan Gelombang ........................ 136

commit to user

xvii
[Link] [Link]

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pembangunan nasional di bidang pendidikan adalah upaya untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa dan mewujudkan masyarakat Indonesia yang
maju, adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Pendidikan
memiliki peranan yang penting untuk membina manusia yang demikian, karena
hanya melalui pemenuhan pendidikanlah didapat manusia-manusia baru yang
berorientasi pada pembangunan. Pendidikan sains merupakan bagian terpenting
dalam rangka menciptakan sumber daya manusia yang kompeten untuk
pembangunan teknologi Indonesia.
Fisika merupakan salah satu pilar utama ilmu pengetahuan dan teknologi
yang memberikan pemahaman mengenai fenomena alam serta kemungkinan
aplikasinya dalam meningkatkan kesejahteraan hidup umat manusia. Duana
Saputra (2009) dalam blognya menulis,
Fisika adalah cabang sains yang mempelajari materi (matter), energi, ruang,
dan waktu. Sebelum akhir abad ke 19, cabang sains ini lebih dikenal dengan
nama “filsafat alam” (natural philosophy, dari bahasa Yunani “physikos”).
Bisa dikatakan, fisika merupakan sains murni yang paling dasar (basic).
Temuan dari fisika pun menjalar dan mempengaruhi cabang sains lainnya.
Tidak heran, karena fisika banyak mengulik materi dan energi yang pada
hakekatnya merupakan penyusun dasar (basic constituents) alam.

Fisika adalah mata pelajaran wajib Sekolah Menengah Pertama (SMP)


yang tergabung dalam mata pelajaran IPA. Bagi siswa SMP, pada mata pelajaran
ini mereka sering mengalami kesulitan belajar. Kebanyakan siswa menganggap
Fisika sebagai mata pelajaran yang sulit. Anggapan ini menjadi suatu persepsi
negatif terhadap pelajaran fisika. Kesulitan memahami fisika oleh siswa juga
disebabkan oleh proses pembelajaran yang kurang efektif sehingga siswa merasa
kurang mampu mempelajarinya.
Persepsi adalah apa yang dilihat oleh orang belum tentu sama dengan
fakta yang sebenarnya. Keinginan seseorang itulah yang menyebabkan mengapa
commit to user

1
[Link] [Link]

dua orang yang melihat atau mengalami hal yang sama memberikan intepretasi
yang berbeda tentang apa yang dilihat atau dialaminya itu (Siagian,2004).
Persepsi menurut Bimo Walgito (2003:54), adalah pengorganisasian,
penginterpretasian terhadap stimulus yang diterima oleh organisme atau individu
sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan aktifitas integrated
dalam diri individu. Persepsi yang kurang baik akan mempengaruhi motivasi
siswa dalam mengikuti pembelajaran fisika. Pada akhirnya hasil belajar siswa
menjadi kurang memuaskan.
Fisika merupakan salah satu ilmu pengetahuan alam yang dikembangkan
dengan pengamatan langsung, percobaan, atau mungkin diskusi ilmiah.
Keberhasilan belajar Fisika, seperti halnya pelajaran lain, dipengaruhi oleh banyak
faktor. Secara garis besar faktor-faktor itu dapat dibedakan menjadi dua yaitu
faktor dari dalam diri siswa (intern) dan faktor dari luar diri siswa (ekstern).
Faktor dari dalam diri siswa misalnya aktivitas belajar, intelegensi, minat, sikap,
keadaan jasmani, dan motivasi. Sedangkan untuk faktor dari luar diri siswa
misalnya lingkungan belajar, pendekatan, metode, kurikulum, serta sarana dan
prasarana sekolah. Hasil balajar yang optimal dapat dicapai manakala faktor-
faktor penunjang proses belajar di atas mendukung kegiatan belajar.
Salah satu faktor dari dalam diri siswa yaitu motivasi. Motivasi adalah
suatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar ia
tergerak hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau
tujuan tertentu (Purwanto,2010:71). Motivasi dalam belajar dapat dilihat dari
karakteristik dan tingkah laku peserta didik yang menyangkut persepsi, ketajaman
perhatian, konsentrasi dan ketekunan (Purwanto, 2010:78-79).
Motivasi belajar merupakan suatu keadaan dalam diri siswa yang
mendorong dan mengarahkan perilakunya kepada tujuan yang ingin dicapainya.
Dalam hal ini tujuan siswa belajar antara lain menguasai kompetensi, menguasai
keterampilan tertentu, memperoleh informasi baru dan lain sebagainya.
Sedangkan tujuan proses pembelajaran yaitu pada dasarnya merubah siswa
menjadi lebih baik. Dari awalnya tidak tahu menjadi tahu, sebelumnya belum
paham menjadi paham. commit to user
[Link] [Link]

Proses ini tidak dapat dilakukan secara instan. Hal ini harus dirancang
dan dilaksanakan secara runtut dan sebaik mungkin, sehingga akan menciptakan
lingkungan yang mendukung tercapainya tujuan tersebut. Harus diciptakan
suasana yang kondusif dan menyenangkan sehingga siswa dapat memiliki
motivasi dan perhatian lebih untuk belajar. Untuk mencapai semua ini, persepsi
tentang fisika dan motivasi belajar siswa perlu diperhatikan. Dengan demikian,
siswa dapat lebih semangat untuk belajar dan tidak menganggap belajar menjadi
sebuah beban.
Individu (siswa) yang memiliki persepsi positif atau baik tentang suatu
obyek (mata pelajaran fisika) maka ia akan memiliki motivasi belajar yang positif
atau baik, akan tetapi apabila individu memiliki persepsi yang negatif atau buruk
tentang suatu obyek maka ia akan memiliki motivasi belajar yang buruk. Pada
akhirnya persepsi siswa terhadap pelajaran fisika akan berpengaruh terhadap
pencapaian keberhasilan pembelajaran fisika itu sendiri.
Salah satu indikator keberhasilan pembelajaran yaitu hasil belajar siswa
yang tinggi. Hasil belajar merupakan indikator kualitas dan kuantitas yang telah
diketahui peserta didik, indikator daya serap, sebagai lambang pemuasan hasrat
ingin tahu, bahan informasi dalam inovasi pendidikan, selain itu juga bisa sebagai
indikator intern dan ekstern dari suatu institusi pendidikan (Arifin,2009:12).
Faktor yang mempengaruhi hasil belajar antara lain motivasi, minat, gaya belajar,
interaksi sosial, kemampuan berpikir abstrak, persepsi dan pengaruh dari lingkungan.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitian mengenai “HUBUNGAN MOTIVASI BELAJAR DAN PERSEPSI
TERHADAP FISIKA DIKAITKAN DENGAN HASIL BELAJAR FISIKA ”

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang masalah di atas dapat ditemukan
berbagai masalah yang ada kaitanya dengan usaha meningkatkan kualitas belajar
siswa, maka dapat diidentifikasi permasalahan sebagai berikut:

commit to user
[Link] [Link]

1. Persepsi siswa terhadap suatu mata pelajaran akan mempengaruhi motivasi


belajar dan prestasi hasil belajar fisika. Persepsi siswa terhadap mata pelajaran
fisika cenderung negatif.
2. Tidak semua siswa mempunyai hasil belajar yang baik.
3. Siswa hanya menaruh minat yang besar pada mata pelajaran tertentu saja,
sedangkan mata pelajaran yang lain misalnya Fisika kurang disenangi.
4. Mata pelajaran Fisika menjadi salah satu mata pelajaran yang kurang
disenangi dan bahkan ditakuti siswa karena dianggap sulit.
5. Motivasi belajar merupakan prasyarat bagi berjalannya belajar mandiri.
Motivasi belajar fisika siswa masih kurang.
6. Siswa yang motivasi belajarnya rendah tidak memikirkan kompetisi untuk
mencapai prestasi yang lebih tinggi atau bersaing dengan siswa yang lain.

C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas, maka
dalam penelitian ini penulis membatasi masalah agar penelitian ini dapat
mencapai tujuan, ruang lingkup dan arahan yang jelas. Adapun pembatasan
masalah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Materi Pelajaran
Materi pelajaran Fisika dibatasi pada materi pokok Getaran dan Gelombang.
2. Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Lasem semester
genap tahun pelajaran 2010/2011.
3. Objek Penelitian
Objek penelitian meliputi :
a. Hubungan motivasi belajar siswa terhadap hasil belajar fisika.
b. Hubungan persepsi belajar fisika terhadap hasil belajar fisika
c. Hubungan motivasi belajar dan persepsi siswa terhadap fisika dengan hasil
belajar.

commit to user
[Link] [Link]

D. Perumusan Masalah
1. Apakah terdapat hubungan positif yang signifikan antara motivasi belajar
dengan hasil belajar fisika?
2. Apakah terdapat hubungan positif yang signifikan antara persepsi siswa
terhadap fisika dengan hasil belajar fisika?
3. Apakah terdapat hubungan positif yang signifikan antara motivasi belajar dan
persepsi siswa terhadap fisika dengan hasil belajar fisika?
E. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui adanya hubungan antara motivasi belajar dengan hasil
belajar fisika
2. Untuk mengetahui adanya hubungan antara persepsi siswa tentang mata
pelajaran Fisika dengan hasil belajar fisika
3. Untuk mengetahui adanya hubungan antara persepsi siswa tentang mata
pelajaran fisika dan motivasi belajar dengan hasil belajar fisika
F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penulis berharap dapat memberikan informasi bagi perkembangan
ilmu pengetahuan sebagai bahan kajian bagi penelitian selanjutnya dan
masukan untuk peningkatan kualitas pendidikan.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Institusi Pendidikan
1) Sebagai bahan pertimbangan untuk meningkatkan sistem pembelajaran
oleh tenaga pendidik sehingga persepsi siswa tentang fisika tetap baik.
2) Sebagai masukan guna menyelenggarakan proses belajar mengajar
secara efektif, aktif dan kreatif sehingga memungkinkan siswa tetap
memiliki motivasi belajar fisika maupun mata pelajaran lainnya.
b. Bagi Peneliti
Peneliti berharap penelitian ini memberikan gambaran nyata tentang
adanya hubungan antara persepsi siswa terhadap fisika dan motivasi
belajar dengan hasil belajar fisika siswa SMP Negeri 1 Lasem.
commit to user
[Link] [Link]

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka
1. Motivasi Belajar
a. Pengertian Belajar
Hamzah Uno (2008:11) menyatakan bahwa “Belajar ialah proses
perubahan tingkah laku seseorang setelah memperoleh informasi yang disengaja”.
Drischoll dalam Hamzah Uno (2008:11) berpendapat bahwa ada dua hal yang
perlu diperhatikan dalam belajar antara lain : 1) belajar adalah suatu perubahan
yang menetap dalam kinerja seseorang, 2) hasil belajar yang muncul dalam diri
siswa merupakan akibat atau hasil dari interaksi siswa dengan lingkungan
Menurut Nicole dalam Hamzah Uno (2008:14), pada prinsipnya dalam
belajar terdapat empat komponen kegiatan yaitu : 1) melakukan persepsi terhadap
stimulus, 2) menggunakan pengetahuan prasyarat, 3) merencanakan respon, 4)
pelaksanaan respon yang dipilih.
Selanjutnya Uno (2008:78) menjelaskan lebih jauh bahwa belajar adalah
suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan
tingkah laku keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam
interaksi dengan lingkungannya secara sengaja.
Jadi belajar ialah proses perubahan tingkah laku yang dapat dinyatakan
dalam betuk penguasaan, penggunaan dan penilaian atau mengenai sikap dan
nilai-nilai pengetahuan serta kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek
kehidupan. Belajar sebagai suatu perubahan tingkah laku terjadi setelah siswa
mengikuti atau mengalami suatu proses belajar mengajar dengan hasil belajar
yang diperoleh dalam bentuk penguasaan kemampuan atau keterampilan tertentu

b. Pengertian Motivasi
Hamalik (2010 : 158) menyatakan motivasi sebagai perubahan energi
dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk
mencapai tujuan. Sedangkan menurut Ngalim Purwanto (2010:71), “Motivasi
adalah suatu usaha yang disadaricommit
untuk tomempengaruhi
user tingkah laku seseorang
6
[Link] [Link]

agar ia tergerak hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai


hasil atau tujuan tertentu”.
Sondang Siagian (2004 : 138) juga memiliki pendapat hampir sama
mengenai motivasi yang dituliskan sebagai berikut,
Motivasi adalah daya pendorong yang menyebabkan seseorang anggota
organisasi mau dan rela untuk mengerahkan kemampuan dalam bentuk
keahlian atau ketrampilan, tenaga dan waktunya untuk menyelenggarakan
berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan
kewajibannya dalam rangka pencapaian tujuan dan berbagai sasaran
organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.

Motivasi berhubungan dengan motif. Sedangkan motif adalah alasan atau


dorongan yang menyebabkan seseorang berbuat sesuatu atau melakukan tindakan
tertentu. Motif mempunyai dua unsur pokok yaitu dorongan atau kebutuhan dan
unsur tujuan dimana proses interaksi timbal balik antara kedua unsur tersebut
terjadi dalam diri manusia.
Selanjutnya, Hamalik (2009:159) menjelaskan bahwa motivasi
mempunyai dua komponen yaitu komponen dalam dan komponen luar.
Komponen dalam meliputi perubahan dalam diri seseorang, keadaan merasa tidak
puas dan ketegangan psikologis atau dengan kata lain merupakan kebutuhan –
kebutuhan yang ingin dipuaskan. Komponen luar adalah apa yang diinginkan atau
tujuan yang hendak dicapai seseorang.
Middleton dan Spanias (1999:67) mengatakan bahwa “Motivations help
guide children’s activity; they provide a structure for evaluating the outcomes of
activity; and they help determine whether or not children will engage in future
mathematical activity”. Motivasi membantu mengendalikan aktivitas anak;
menyediakan struktur untuk menilai hasil dari aktivitas; dan membantu
menentukan ada tidaknya penggunaan aktivitas matematika di masa depan.
Motivasi belajar adalah kekuatan pendorong dan pengarah perbuatan
belajar. Pendorong yaitu pemberi kekuatan yang memungkinkan perbuatan belajar
dijalankan. Pengarah yaitu pemberi tuntunan kepada perbuatan belajar ke arah
tujuan yang ditetapkan (Mudjiman,2008:54). Sedangkan menurut Pujadi
(2007:22), “Motivasi belajar merupakan
commit tosuatu
user keadaan dalam diri siswa yang
[Link] [Link]

mendorong dan mengarahkan perilakunya kepada tujuan yang hendak dicapainya


dalam mengikuti pendidikannya.”
Motivasi dalam belajar dapat dilihat dari karakterisitik dan tingkah laku
peserta didik yang menyangkut ketajaman perhatian, konsentrasi dan ketekunan
(Purwanto,2004 : 78-79). Apabila motivasi belajar bertambah tinggi maka
bertambah juga kemungkinan tingkah laku itu untuk disadari, dan akan lebih
dapat dituntut pertanggungjawabannya. Sedangkan menurut Hamzah Uno
(2008:23), “Motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa-
siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku”.
Jadi dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar berhubungan erat dengan
motif yaitu dorongan seseorang yang timbul dari dalam maupun luar diri yang
akan mempengaruhi keinginan belajar seseorang.
c. Tujuan Motivasi
Motivasi berkaitan erat dengan tujuan yang ingin dicapai seseorang.
Menurut Pudjadi (2007:24), tujuan adalah sesuatu yang hendak dicapai oleh
perbuatan yang apabila tercapai akan memuaskan individu dan idealnya tujuan
siswa dalam mengikuti pendidikannya bukan hanya sekedar lulus namun untuk
menguasai bidang ilmu yang dipelajarinya, sehingga dalam mempelajari setiap
bahan pembelajaran, siswa terdorong untuk menguasai bahan pembelajaran
tersebut dengan baik.
Adanya tujuan yang jelas dan disadari akan mempengaruhi kebutuhan
dan ini akan mendorong timbulnya motivasi. Jadi, suatu tujuan akan
membangkitkan timbulnya motivasi dalam diri seseorang (Hamalik,2010: 160).
d. Fungsi Motivasi
Fungsi motivasi menurut Hamalik (2010:161) meliputi : 1) mendorong
timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan. Tanpa motivasi maka tidak akan timbul
suatu perbuatan seperti belajar, 2) motivasi berfungsi sebagai pengarah. Artinya
mengarahkan perbuatan ke pencapaian tujuan yang diinginkan, 3) motivasi
berfungsi sebagai penggerak. Ia berfungsi sebagai mesin bagi mobil. Besar
kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.
commit to user
[Link] [Link]

Sardiman (2007: 34) menambahkan fungsi motivasi diantaranya : 1)


mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang
melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari
setiap kegiatan yang akan dikerjakan, 2) menentukan arah perbuatan yakni ke
arah suatu yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan
arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya, 3)
menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus
dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan dengan menyisihkan perbuatan-
perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.
e. Jenis-Jenis Motivasi
Menurut Hamalik (2009: 54 ), motivasi dapat dibagi menjadi dua yaitu :
1) Motivasi intrinsik, yaitu motivasi yang tercakup di dalam situasi belajar dan
menemui kebutuhan dan tujuan-tujuan murid. Motivasi intrinsik atau motivasi
murni yang timbul dari diri siswa sendiri dan tanpa pengaruh dari luar, misalnya
keinginan untuk mendapatkan keterampilan tertentu, memperoleh informasi dan
pengertian, mengembangkan sikap untukberhasil menyadari sumbangannya
terhadap usaha kelompok, keinginan diterima orang lain, dan lain lain. Motivasi
intrinsik adalah motivasi yang hidup dalam diri siswa dan berguna dalam situasi
belajar yang fungsional dan bersifat riil atau motivasi sesungghnya.
2) Motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi yang disebabkan oleh faktor-faktor dari
luar situasi belajar, seperti angka, kredit, ijazah, tingkatan hadiah, persaingan yang
bersifat negatif yaitu sarcasm, hukuman. Motivasi tetap diperlukan di sekolah
karena pengajaran di sekolah tidak semuanya menarik minat siswa atau sesuai
dengan kebutuhan siswa, terkadang siswa juga belum memahami untuk apa ia
belajar hal-hal yang diberikan oleh sekolah, sehingga motivasi terhadap pelajaran
itu perlu dibangkitkan oleh guru agar para siswa mau dan ingin belajar.
f. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi
Menurut Kosasih dalam Ropitasari (2009:16), faktor-faktor yang
mempengaruhi motivasi belajar yaitu : 1) faktor intelegensi, yakni faktor
pengetahuan ini diperlukan oleh seseorang dalam mempelajari sesuatu, 2) Faktor
commit
psikologis, yakni faktor yang timbul daritodalam
user diri individu yang berhubungan
[Link] [Link]

10

dengan kondisi psikologis. Hal ini mempengaruhi keadaan belajar individu. Bila
kondisi psikologis stabil memungkinkan motivasi belajar tinggi sehingga dapat
meraih hasil optimal, 3) faktor sosiologis, yakni faktor yang timbul dari luar diri
atau lingkungan, 4) faktor fisiologis, yakni faktor yang berkaitan dengan keadaan
jasmani. Apabila jasmani seseorang terganggu maka motivasinya akan terganggu
pula.
Keempat faktor tersebut saling mendukung dan timbul dalam diri siswa,
sehingga dapat mempengaruhi semangat belajar maupun dalam melakukan
aktivitas untuk mencapai pemenuhan tujuan yang diinginkan.
g. Indikator-Indikator Motivasi Belajar
Menurut Sardiman (2007 : 33), motivasi pada seseorang memiliki ciri :
1) tekun menghadapi tugas, 2) ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa),
3) menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah, 4) lebih senang
bekerja sendiri, 5) tidak cepat bosan terhadap tugas-tugas yang rutin, 6) dapat
mempertahankan pendapatnya, 7) tidak cepat menyerah terhadap hal-hal yang
diyakini, 8) senang mencari atau memecahkan masalah-masalah soal
Sedangkan menurut Uno (2008:23), indikator motivasi belajar meliputi :
1) adanya hasrat dan keinginan belajar, 2) adanya dorongan dan kebutuhan
belajar, 3) adanya harapan dan cita-cita massa depan, 4) adanya penghargaan
dalam belajar, 5) adanya kegiatan yang menarik dalam belajar, 6) adanya
lingkungan belajar yang kondusif sehingga mengakibatkan siswa belajar dengan
baik.
Kegiatan belajar mengajar akan berjalan baik jika siswanya memiliki
motivasi yang tinggi dalam belajar dan hal tersebut juga menjadi tanggung jawab
pendidik agar siswa tetap termotivasi dalam belajar.

2. Persepsi Terhadap Fisika


a. Fisika
Secara sederhana, Fisika adalah ilmu yang mempelajari gejala-gejala
alam dan benda-benda mati. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah ilmu yang
mempelajari alam dengan segala commit to user
isinya. IPA mempunyai beberapa cabang, salah
[Link] [Link]

11

satu diantaranya adalah Fisika. Untuk Fisika berasal dari bahasa Yunani physikos
yang berarti alamiah dan physics yang berarti alam. Fisika merupakan salah satu
cabang dari ilmu pengetahuan alam seperti halnya kimia dan biologi. Fisika
mempelajari gejala alam yang tidak hidup atau materi dalam lingkup ruang waktu.
Fisika adalah bagian dari IPA, sehingga karakteristik yang dimiliki IPA
berlaku juga untuk Fisika yang pada akhirnya akan mempengaruhi pelaksanaan
pengajaran Fisika. Menurut Gerthsen (1985) yang dikutip oleh Herbert Druxes
(1986 : 3): “Fisika adalah suatu teori yang menerangkan gejala-gejala alam
sesederhana mungkin dan berusaha menemukan hubungan antara kenyataan-
kenyataan persyaratan utama untuk pemecahan soal adalah dengan mengamati
gejala-gejala tersebut”. Sedangkan menurut pendapat Brockhaus (1972) yang
dikutip oleh Herbert Druxes (1986 : 3): “Fisika adalah pelajaran tentang kejadian
alam yang memungkinkan penelitian dengan percobaan dan pengujian secara
sistematis dan berdasarkan peraturan umum”.
Dari beberapa pendapat tentang Fisika di atas dapat disimpulkan bahwa
Fisika adalah salah satu cabang dari IPA yang menerangkan gejala-gejala alam
yang bersifat fisik yang dapat dipelajari melalui pengamatan, eksperimen, serta
teori. Secara pengamatan dan eksperimen, Fisika dapat dipelajari di alam secara
langsung di laboratorium, sedangkan secara teori Fisika dapat dipelajari dengan
kegiatan berdasarkan analisis rasional dengan berpijak pada teori yang telah
ditemukan sebelumnya. Hasil-hasil Fisika diungkapkan dalam bentuk fakta,
konsep, prinsip, hukum dan teori. Fisika meliputi proses, sikap, dan produk.
Proses Fisika berupa aktivitas-aktivitas yang bertujuan mempelajari, menggali,
mencari, dan menyelidiki kejadian alam. Sikap Fisika berupa sikap mental yang
diperlukan selama melakukan proses kegiatan Fisika (jujur, terbuka, kritis,
menghargai pendapat orang lain). Produk Fisika adalah hasil kegiatan Fisika
berupa konsep, hukum, dan teori yang tersusun berdasarkan fakta-fakta alam.
Mata pelajaran Fisika mempunyai tujuan yang akan dicapai. Menurut
Druxes (1986 : 4), tujuan pengajaran Fisika secara umum dapat dirumuskan
sebagai berikut :
commit to user
[Link] [Link]

12

1) Agar anak didik memahami ilmu yang membicarakan dan di mana


mereka hidup.
2) Membangkitkan dan menumbuhkan perhatian terhadap Fisika, ini dapat
dicapai melalui :
a) Menggunakan metode mengajar yang sesuai
b) Mengajarkan konsep-konsep Fisika yang modern
c) Menunjukkan hubungan antara Fisika dengan lingkungannya
3) Membangkitkan sikap ingin tahu. Hal ini dapat dicapai melalui:
a) Mengajukan banyak persoalan pada siswa
b) Merangsang anak didik mengadakan pengamatan atau percobaan
4) Mengajarkan anak didik berpikir ilmiah
5) Menumbuhkan keterampilan dasar tertentu yang diperlukan pada
penyelidikan sederhana.
6) Menekankan adanya hubungan antara Fisika dengan bidang ilmu yang
lain.

b. Pengertian Persepsi
Apabila orang berbicara tentang persepsi,yang dimaksud ialah bahwa
apa yang dilihat oleh orang belum tentu sama dengan fakta yang sebenarnya.
Keinginan seseorang itulah yang menyebabkan mengapa dua orang yang melihat
atau mengalami hal yang sama memberikan interpretasi yang berbeda.
(Siagian,2004:98-99).
Secord dan Backman dalam Azwar (2008:5) menyebutkan bahwa
persepsi merupakan suatu keteraturan tertentu dalam hal perasaan (afeksi),
pemikiran (kognisi), dan predisposisi (konasi) seseorang terhadap semua aspek di
lingkungan sekitarnya.
Pareek dalam Sobur (2003: 43), memberikan definisi persepsi yang
cukup luas yaitu sebagai proses menerima, menyeleksi, mengorganisasikan,
mengartikan, menguji dan memberikan reaksi pada panca indra. Persepsi timbul
melalui alat indra, baik melalui indra pendengar, indra penglihatan, indra peraba,
indra penciuman dan indra perasa. Sedangkan Widayatun dalam Ropitasari
(2009:23) menyatakan bahwa persepsi juga bisa berfungsi sebagai suatu cara
untuk menerima rangsangan..
Persepsi sebagai suatu proses, sebenarnya menyangkut masuknya pesan
dan informasi ke dalam diri seseorang. Persepsi dapat berisi relatif dan selektif,
commit to user
[Link] [Link]

13

serta mempunyai tatanan yang dipengaruhi oleh harapan dan kesiapan seseorang
(Slameto,1988 : 105-107)
Persepsi adalah bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Seiring dengan itu
Berkowitz berpendapat bahwa persepsi seseorang terhadap suatu objek adalah
perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak memihak
(unfavorable) pada objek tersebut. Secara lebih spesifik Thurston sendiri
memformulasikan perasaan sebagai derajat efek positif atau efek negatif terhadap
objek psikologis (Azwar,2008: 32). Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
persepsi merupakan proses seleksi untuk mengintepretasikan objek yang diamati
dan diterjemahkan dalam tingkah laku.
c. Proses Terjadinya Persepsi
Proses terjadinya persepsi pada diri individu tidak berlangsung begitu
saja, tetapi melalui suatu proses. Proses persepsi adalah peristiwa dua arah yaitu
sebagai hasil aksi dan reaksi. Menurut Bimo Walgito (2003:54), terjadinya
persepsi melalui suatu proses, yaitu melalui beberapa tahap sebagai berikut:
1) Suatu obyek atau sasaran menimbulkan stimulus, selanjutnya stimulus tersebut
ditangkap oleh alat indera. Proses ini berlangsung secara alami dan berkaitan
dengan segi fisik. Proses tersebut dinamakan proses kealaman,
2) Stimulus suatu obyek yang diterima oleh alat indera, kemudian disalurkan
ke otak melalui syaraf sensoris. Proses pentransferan stimulus ke otak disebut
proses psikologis, yaitu berfungsinya alat indera secara normal,
3) Otak selanjutnya memproses stimulus hingga individu menyadari obyek yang
diterima oleh alat inderanya. Proses ini juga disebut proses psikologis. Dalam
hal ini terjadilah adanya proses persepsi yaitu suatu proses di mana individu
mengetahui dan menyadari suatu obyek berdasarkan stimulus yang mengenai
alat inderanya.
d. Jenis Persepsi
Ada dua jenis pesepsi menurut Sunaryo (2004:40), yaitu : Eksternal
perception dan Self perception. : Eksternal perception adalah persepsi yang
datang dari luar individu. Sedangkan self perception adalah persepsi yang terjadi
commit to user
[Link] [Link]

14

karena adanya rangsang yang datang dari dalam individu. Dalam hal ini yang
menjadi objek adalah diri sendiri.
e. Komponen Persepsi
Saifuddin Azwar (2008:36) menyebutkan ada tiga komponen yang
membentuk struktur persepsi yaitu: komponen kognisi (pemikiran), komponen
afektif (perasaan) dan komponen konatif (tindakan)
Komponen kognisi berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang
berlaku atau apa yang benar bagi objek persepsi. Sekali kepercayaan itu telah
terbentuk maka akan mrnjadi dasar pengetahuan seseorang mengenai apa yang
diharapkan dari objek tertentu. Kepercayaan sebagai komponen kognitif tidak
selalu akurat, kadang kepercayaan itu terbentuk justru dikarenakan kurang atau
tiadanya informasi yang benar mengenai objek yang dihadapi
Komponen afektif menyangkut masalah emosional subjektif seseorang
terhadap suatu objek persepsi. Secara umum, komponen afektif disamakan dengan
perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu. Reaksi emosional banyak dipengaruhi
oleh kepercayaan atau apa yang kita percaya sebagai benar dan berlaku sebagai
objek yang dimaksud. Rasa senang merupakan hal yang positif, sedangkan rasa
tidak senang merupakan hal yang negatif.
Komponen konatif dalam struktur persepsi menunjukkan bagaimana
perilaku atau kecenderungan untuk berperilaku yang ada dalam diri seseorang
berkaitan dengan objek persepsi yang dihadapi. Kaitan ini didasari moleh asumsi
bahwa kepercayaan dan perasaan banyak mempengaruhi perilaku. Pengertian
kecenderungan berperilaku yang tidak hanya dilihat secara langsung saja akan
tetapi meliputi pula bentuk-bentuk perilaku berpa pernyataan atau perkataan yang
terucap oleh seseorang.

3. Hasil Belajar
a. Pengertian Hasil Belajar
Menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2004: 102-103):
Hasil belajar atau achievemet merupakan realisasi atau pemekaran dari
kecakapan-kecakapan potensial
commitatau kapasitas yang dimiliki seseorang.
to user
Penguasaan hasil belajar oleh seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik
[Link] [Link]

15

perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan berpikir


maupun keterampilan motorik. Hampir sebagian terbesar dari kegiatan atau
perilaku yang diperlihatkan seseorang merupakan hasil belajar. Di sekolah
hasil belajar ini dapat dilihat dari penguasaan siswa akan mata pelajaran
yang ditempuhnya. Tingkat penguasaan pelajaran atau hasil belajar dalam
mata pelajaran tersebut di sekolah dilambangkan dengan angka-angka atau
huruf, seperti angka 0-10 pada pendidikan dasar dan menengah dan huruf A,
B, C, D pada pendidikan tinggi.

Sebenarnya hampir seluruh perkembangan dan kemajuan hasil karya juga


merupakan hasil belajar, sebab proses belajar tidak hanya berlangsung di sekolah.
b. Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar.
Menurut R. M. Gagne dalam Sumadi Suryabrata (2008: 247), hasil
belajar pada proses belajar ditentukan oleh lima faktor, di antaranya:
1) Informasi Verbal (Verbal Information), adalah pengetahuan awal/dasar yang
memiliki seseorang dan dapat diungkapkan dalam bentuk bahasa, lisan dan
tulisan. Apabila siswa hendak belajar/ menerima pelajaran suatu pokok
bahasan, maka pengetahuan awal sebelum pokok bahasan diberikan siswa
harus sudah menguasai.
2) Kemahiran Intelektual (Intelektual Skill), adalah kemampuan untuk
berhubungan dengan lingkungan hidup dan dirinya sendiri dalam bentuk
suatu representasi.
3) Strategi kognitif (pengaturan kegiatan kognitif) merupakan aktivitas
mentalnya sendiri, sedangkan ruang gerak kemahiran intelektual adalah
representasi dalam kesadaran terhadap lingkungan hidup dan diri sendiri.
Strategi kognitif mencakup, penggunaan konsep dan kaidah yang telah
dimiliki, terutama bila sedang menghadapi suatu problem.
4) Ketrampilan Motorik (Motor Skill), adalah kemampuan melakukan suatu
rangkaian gerak-gerik jasmaniah dalam urutan tertentu yang terkoordinir dan
terpadu. Ciri khas dari ketrampilan motorik adalah otomatisme, yaitu
rangkaian gerak-gerik berlangsung secara teratur dan berjalan secara lancar
dan luwes tanpa banyak dibutuhkan refleksi tentang apa yang harus dilakukan
dan mengapa diikuti gerak-gerik tertentu.
5) Sikap (Attitude) commit to user
[Link] [Link]

16

Kecenderungan menerima atau menolak suatu obyek berdasarkan penilaian


terhadap obyek itu serta berguna/berharga atau tidak sering dinyatakan
sebagai suatu sikap dan hal bila dimungkinkan adanya berbagai tindakan.
Misalnya seorang siswa harus mengambil tindakan/ keputusan, apakah
belajar untuk menghadapi ujian, atau nonton film dengan temannya pada
waktu yang sama.
Jadi faktor yang mempengaruhi hasil belajar antara lain sikap,
ketrampilan motorik, strategi kognitif, informasi verbal dan kemahiran intelektual.
c. Macam-Macam Hasil Belajar
Berdasarkan teori Taksonomi Bloom hasil belajar dalam rangka studi
dicapai melalui tiga kategori ranah antara lain kognitif, afektif, psikomotorik.
1) Ranah kognitif. Berkenaan dengan hasil belajar intelektual terdiri dari enam
aspek yaitu
a) Pengetahuan (knowledge), yaitu perilaku mengingat atau mengenali
informasi (materi pembelajaran) yang telah dicapai sebelumnya.
b) Pemahaman (comprehention), yaitu kemampuan memperoleh makna dari
materi pembelajaran.
c) Penerapan (application), yaitu penerapan yang mengacu pada
kemampuan menggunakan pembelajaran yang telah dipelajari di dalam
situasi baru dan konkrit yang mencakup penerapan hal-hal seperti aturan,
metode, konsep, prinsip-prinsip, dalil dan teori.
d) Analisis (analysis), yaitu mengacu pada kemampuan memecahkan materi
ke dalam bagian-bagian sehingga dapat dipahami struktur organisasinya
yang mencakup identifikasi bagian-bagian, analisis antar bagian, dan
mengenali prinsip-prinsip pengorganisasian.
e) Sintesis (synthesis), yaitu mengacu pada kemampuan menggabungkan
bagian-bagian dalam rangka membentuk struktur yang baru dan
mencakup komunikasi yang unik (tema atau percakapan), perencanaan
operasional (proposal), atau seperangkat hubungan yang abstrak (skema
untuk mengklasifikasi informasi).
f) Penilaian (evaluation), commit to user pada kemampuan membuat
yaitu mengacu
[Link] [Link]

17

keputusan tentang nilai materi pembelajaran untuk tujuan tertentu.


2) Ranah afektif terdiri dari lima tingkatan yaitu
a) Pengenalan (ingin menerima, sadar akan adanya sesuatu).
b) Merespon (aktif berpartisipasi).
c) Penghargaan (menerima nilai-nilai, setia pada nilai-nilai tertentu).
d) Pengorganisasian (menghubung-hubungkan nilai-nilai yang dipercaya).
e) Pengamalan (menjadikan nilai-nilai sebagai bagian dari pola hidup).
3) Ranah psikomotorik terdiri dari lima tingkatan yaitu
a) Peniruan (menirukan gerak)
b) Penggunaan (menggunakan konsep untuk melakukan gerak)
c) Ketepatan (melakukan gerak dengan benar)
d) Perangkaian (melakukan beberapa gerakan sekaligus dengan benar)
e) Naturalisasi (melakukan gerak secara wajar).
Tipe hasil belajar kognitif lebih dominan daripada afektif dan psikomotor
karena lebih menonjol, namun hasil belajar psikomotor dan afektif juga harus
menjadi bagian dari hasil penilaian dalam proses pembelajaran terutama
pembelajaran di sekolah.

4. Getaran dan Gelombang


a. Getaran
Getaran adalah gerak bolak-balik (periodik) melalui titik kesetimbangan.
Kedudukan setimbang merupakan posisi benda ketika benda tidak bergerak atau
diam (Marthen Kanginan,2007:45). Gambar 2.1 adalah ilustrasi getaran dari
bandul sederhana:

commit to user
Gambar 2.1 Ayunan Bandul
[Link] [Link]

18

Dari gambar di atas satu getaran merupakan gerak bolak balik A-B-C-B-
A atau B-C-B-A-B atau B-A-B-C-B atau C-B-A-B-C
Amplitudo adalah simpangan terjauh atau maksimum dari titik
keseimbangan. Amplitudo dinyatakan dalam satuan meter (m). Semakin besar
nilai amplitudo maka semakin kuat getaran atau bunyi yang dihasilkannya, begitu
pula sebaliknya.
Frekuensi adalah banyaknya getaran yang dilakukan oleh suatu benda
tiap detik. Satuan frekuensi adalah Hertz (Hz). Periode adalah waktu yang
diperlukan untuk melakukan 1 getaran sempurna. Satuan periode adalah sekon
atau detik (s).
Hubungan antara frekuensi dan periode dinyatakan oleh persamaan :
1
=

dimana :
f = frekuensi (Hz)
T= periode (s)
Bila suatu benda melakukan n kali getaran dalam waktu t sekon, maka
frekuensinya dinyatakan dalam persamaan

dimana:
n= jumlah getaran
t = waktu getar
Gejala getaran banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari misalnya:
senar gitar yang dipetik, beduk yang dipukul, pita suara ketika kita berbicara dan
lain-lain. (Mangunwiyoto,2004:59)
b. Gelombang
Gelombang adalah getaran yang merambat melalui suatu medium.
Berdasarkan medium perambatannya, gelombang dibedakan menjadi dua
kelompok, yaitu gelombang mekanik dan gelombang elektromagnetik.

commit to user
[Link] [Link]

19

1) Gelombang Mekanik
Gelombang air, gelombang bunyi, gelombang tali, dan gelombang pada
slinki merupakan contoh-contoh gelombang mekanik. Gelombang-gelombang ini
memerlukan medium untuk dapat merambatkan gelombang. Air, udara, tali, slinki
adalah medium yang digunakan untuk merambatkan gelombang air, gelombang
bunyi, gelombang tali, dan gelombang pada slinki. Gelombang-gelombang ini
ditimbulkan oleh adanya getaran mekanik. Oleh karena itu, gelombang-
gelombang tersebut dikelompokkan ke dalam gelombang mekanik. Umumnya,
gelombang mekanik seperti contoh tersebut dapat diamati dengan mata telanjang.
2) Gelombang Elektromagnetik
Gelombang elektromagnetik dapat merambat meskipun tidak terdapat
medium untuk menjalarkan gelombangnya. Contohnya, gelombang sinar Matahari
dapat sampai ke bumi meskipun antara Matahari dan bumi tidak terdapat medium
untuk menjalarkan gelombang. Gelombang yang dapat merambat tanpa
membutuhkan medium disebut gelombang elektromagnetik.
Gelombang mekanik memiliki beberapa besaran diantaranya :
1) Panjang gelombang ialah jarak yang ditempuh gelombang dalam satu
periode. Panjang gelombang untuk gelombang transversal dinyatakan dengan
jarak dua bukit atau jarak dua lembahyang berdekatan. Sementara itu panjang
gelombang untuk gelombang longitudinal dinyatakan sebagai jarak dua
regangan atau rapatan yang berdekatan.
2) Amplitudo adalah simpangan gelombang yang paling besar.
3) Cepat rambat gelombang ialah jarak yang ditempuh gelombang dalam satu
sekon. Cepat rambat gelombang dirumuskan :

dengan = panjang gelombang (m) dan T= periode (s). Satuan cepat rambat
gelombang adalah m/s.
Hubungan periode dan frekuensi yaitu :
1
=
commit to user
dimana :
[Link] [Link]

20

f = frekuensi (Hz)
T= periode (s)
Selain membutuhkan medium untuk merambat, gelombang juga
mempunyai arah merambat dan arah getaran. Berdasarkan arah getarnya,
gelombang dibagi menjadi dua jenis, yaitu gelombang transversal dan gelombang
longitudinal.
1. Gelombang Transversal
Gelombang transversal adalah gelombang yang arah perambatannya
tegak lurus terhadap arah getarannya. Contoh dari gelombang transversal adalah
gelombang pada tali, gelombang cahaya, gelombang pada air laut. Satu
gelombang transversal terdiri dari titik tertinggi pada gelombang disebut puncak,
dan titik terendahnya disebut dasar seperti terlihat pada gambar 2.2.

Gambar 2.2 Gelombang Transversal


Titik B dan F merupakan puncak gelombang, yaitu titik-titik tertinggi
gelombang. Titik D dan H merupakan dasar gelombang, yaitu titik-titik terendah
pada gelombang. Lengkungan ABC dan EFG disebut sebagai bukit gelombang.
Sedangkan cekungan CDE dan GHI disebut lembah gelombang. Jarak BB’, DD’,
FF’, dan HH’ merupakan amplitudo gelombang, yaitu simpangan terbesar dari
gelombang tersebut.
Dalam konsep gelombang dikenal istilah panjang gelombang. Panjang
gelombang () suatu gelombang transversal didefinisikan sebagai:
a) Panjang satu lembah gelombang dan satu bukit gelombang (ABCDE atau
CDEFG).
b) Jarak antara dua puncak yang berdekatan (BCDEF) atau
c) Jarak antara dua lembah yangcommit
berdekatan (DEFGH)
to user
[Link] [Link]

21

2. Gelombang Longitudinal
Pola gelombang yang arah getarannya berimpit arah rambatnya inilah
yang dinamakan gelombang longitudinal. Yang termasuk gelombang longitudinal
adalah gelombang pada slinki, gelombang bunyi. Pada gelombang longitudinal
terdapat rapatan dan renggangan seperti yang terlihat pada gambar 2.3. Panjang
gelombang () suatu gelombang longitudinal didefinisikan sebagai:
a) jarak satu rapatan dan satu renggangan atau
b) jarak antara dua rapatan yang berdekatan atau
c) jarak antara dua renggangan yang berdekatan.

Gambar 2.3 Gelombang Longitudinal


Jika ujung slinki dirapatkan, kemudian dilepaskan akan terlihat pola
gelombang yang berbeda dengan gelombang transversal. Pada gelombang
longitudinal, slinki akan terlihat merapat, kemudian merenggang, demikian
seterusnya. Bagian yang merapat dinamakan rapatan, sedang bagian yang
renggang dinamakan renggangan. Rapatan dan renggangan pada slinki akan
merambat sepanjang slinki, sedangkan arah getaran berimpit dengan arah
memanjang slinki.
Gelombang memiliki sifat atau karakteristik tertentu. Sifat gelombang
tersebut antara lain: dapat dibiaskan, dapat terpolarisasi, dapat mengalami
interferensi, dapat mengalami difraksi, dan dapat mengalami pemantulan.
Untuk memahami peristiwa pemantulan gelombang, perhatikan gambar
2.4 di bawah ini. Jika seutas tali yang salah satu ujungnya diikatkan pada tiang
digetarkan maka akan terjadi gelombang pantulan yang merambat sepanjang tali
dengan arah berlawanan dengan arah semula.
commit to user
[Link] [Link]

22

Gambar 2.4 Gelombang Pantul pada Tali


Contoh pemantulan gelombang dan pemanfaatannya adalah sebagai berikut :
1) Gelombang air laut dipantulkan oleh pantai sehingga ada gelombang air laut
yang menuju ke tengah laut.
2) Pemantulan gelombang bunyi oleh dasar laut dapat dimanfaatkan untuk
menentukan kedalaman laut dengan menggunakan sistem sonar.
3) Pemantulan gelombang elektromagnetik oleh suatu benda dapat dimanfaatkan
untuk mendeteksi benda tersebut dengan menggunakan sistem radar.

B. Kajian Penelitian yang Relevan


1. Widoretno dalam skripsinya yang berjudul “Hubungan antara motivasi
belajar dan kondisi keluarga dengan prestasi belajar siswa kelas II Semester 3
Rumpun Bangunan SMK Negeri 2 Surakarta.” Menunjukkan bahwa ada
hubungan yang positif antara motivasi belajar dengan hasil belajar siswa
kelas II. Penelitian tersebut dilaksanakan di SMK Negeri 2 Surakarta tahun
ajaran 2006/ 2007. Penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif
kuantitatif. Teknik analisis data yang digunakan adalah korelasi product
moment yang dikonsultasikan r - tabel pada tingkat signifikansi 5% dan n=45.
Hasil analisis ditunjukkan ada hubungan yang signifikan antara motivasi
belajar dengan prestasi belajar.
2. Ropitasari pada tahun 2009 menulis tesis yang meneliti tentang persepsi dan
motivasi terhadap hasil belajar di ujian akhir program pada mahasiswa
Diploma IV Kebidanan UNS Surakarta. Penelitian ini menggunakan metode
deskriptif analitik korelasional dengan menggunakan pendekatan cross
sectional dan teknik analisanya menggunakan regresi linier ganda.
commit to user
Kesimpulan penelitian antara lain menyatakan ada hubungan antara persepsi
[Link] [Link]

23

dan motivasi terhadap hasil belajar di ujian akhir program pada mahasiswa
Diploma IV Kebidanan UNS.
3. Setyadi Wasito dalam tesisnya yang berjudul “Hubungan Persepsi Siswa
Tentang Kepemimpinan Guru Sains Dalam Proses Belajar Mengajar,
Motivasi Belajar Dan Sikap Siswa Pada Sumber Belajar Terhadap
Penguasaan Kompetensi Sains Siswa SMP Negeri 1 Wonogiri Tahun
Pelajaran 2006/2007”. Analisis data yang digunakan adalah analisis korelasi,
uji t dan regresi ganda dengan uji prasyarat analisis yaitu uji normalitas, uji
linearitas, pemeriksaan multikolinearitas dan uji non otokorelasi. Berdasarkan
hasil penelitian yang diperoleh, antara lain ada hubungan antara persepsi
siswa tentang kepemimpinan guru sains dalam proses belajar mengajar
dengan penguasaan kompetensi sains siswa di SMP Negeri 1 Wonogiri Tahun
Pelajaran 2006/2007 dengan rhitung > rtabel atau 0,545 > 0,254 pada taraf
signifikansi 5%.

C. Kerangka Berfikir

1. Hubungan Motivasi Belajar dengan Hasil Belajar Fisika


Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor baik faktor internal
maupun eksternal. Dalam penelitian ini penulis mengangkat faktor internal yaitu
motivasi belajar siswa. Adanya motivasi belajar akan mendorong terciptanya
tindakan atau usaha untuk meraih hasil belajar maksimal. Variabel ini diharapkan
memberi deskripsi tentang hasil belajar fisika siswa di tingkat SMP. Deskripsi
semacam ini penting dan diarahkan untuk kemajuan pendidikan pada umumnya
dan pendidikan sains khsusnya.
Motivasi memegang peranan penting dalam mencapai hasil. Individu yang
memiliki motivasi tinggi apabila dihadapkan pada masalah yang komplek maka
akan cenderung berusaha menyelesaikan masalah itu dengan semangat tinggi dan
hasilnya juga maksimal. Sehingga dapat dibuat hipotesis bahwa ada hubungan
positif yang berarti antara motivasi belajar dan hasil belajar.

commit to user
[Link] [Link]

24

2. Hubungan Persepsi Siswa terhadap Fisika dengan Hasil Belajar Fisika


Persepsi merupakan proses pengamatan seseorang yang berasal dari
komponen kognisi. Persepsi juga termasuk dalam faktor internal siswa yang dapat
menentukan hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Proses terjadinya persepsi terdiri
dari proses kealaman dan proses psikologis. Pada proses kealaman, setiap objek akan
memberikan stimulus kemudian terjadi proses psikologis dimana keputusan terhadp
objek tersebut dibuat. Keputusan tersebut bisa bernilai positif ataupun negatif.
Setiap individu tentu memiliki persepsi positif dan negatif terhadap sesuatu.
Individu (siswa) yang memiliki persepsi positif atau baik tentang suatu obyek (mata
pelajaran fisika) maka ia akan menyenangi objek tersebut. Objek yang dimaksud
dalam hal ini adalah fisika. Apabila siswa menyenangi fisika, maka siwa akan
berusaha agar mendapat hasil belajar fisika yang maksimal. Sebaliknya, apabila
individu memiliki persepsi yang negatif atau buruk tentang suatu obyek maka ia
cenderung acuh atau tidak menyukai fisika sehingga hasil belajarnya pun tidak
maksimal. Maka dari penelitian ini akan terungkap hubungan persepsi siswa terhadap
fisika dengan hasil belajar fisika.

3. Hubungan Motivasi Belajar dan Persepsi Siswa terhadap Fisika


dengan Hasil Belajar Fisika
Motivasi dan persepsi merupakan faktor internal dari dalam diri siswa
yang dapat menentukan hasil belajar siswa. Siswa yang memiliki motivasi tinggi,
hasil belajarnya pun baik. Siswa yang memiliki persepsi yang baik atau positif
terhadap fisika maka siswa akan lebih giat belajar dan hasil belajarnya pun baik.
Maka dapat dibuat hipotesis bahwa ada hubungan positif yang berarti antara
motivasi belajar dan persepsi siswa terhadap fisika dengan hasil belajar fisika.
Hubungan antara motivasi belajar dan persepsi siswa terhadap fisika
dengan hasil belajar di atas baik secara parsial maupun bersama-sama akan lebih
mudah dipahami dengan membuat paradigma penelitian seperti yang ditunjukkan
gambar 2.5.

commit to user
[Link] [Link]

25

Motivasi Belajar
Siswa
(X1)
SR

Uji Independensi
Hasil Belajar
Uji Linieritas
Populasi Sampel Fisika
(Y)

Persepsi Siswa SR
Terhadap Fisika
(X2)

Gambar 2.5. Paradigma Penelitian

D. Hipotesis Penelitian

1. Ada hubungan antara motivasi belajar dengan hasil belajar fisika


2. Ada hubungan antara persepsi siswa terhadap fisika dengan hasil belajar
fisika
3. Ada hubungan antara persepsi siswa terhadap fisika dan motivasi belajar
dengan hasil belajar fisika

commit to user
[Link] [Link]

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian


Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif. Hal ini ditinjau dari
kedalaman analisisnya. Penelitian deskriptif melakukan analisis hanya pada taraf
deskripsi, yaitu menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematik sehingga
lebih mudah dipahami dan disimpulkan. Uraian kesimpulan didasari oleh angka
yang diolah tidak secara terlalu dalam. (Azwar,1998:6)
Berdasarkan pendekatan analisis yang digunakan, penelitian ini
merupakan jenis penelitian kuantitatif dimana menekankan analisisnya pada data-
data numerikal (angka) yang diolah dengan metode statistika dalam rangka
pengujian hipotesis. Kalau dilihat dari karakteristik masalah berdasarkan kategori
fungsional maka penelitian ini merupakan penelitian korelasional dimana
penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keeratan hubungan di antara variabel-
variabel yang diteliti tanpa melakukan suatu intervensi terhadap variabel-variabel
yang bersangkutan. (Azwar,1998:21). Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan
penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif korelasional.
Penelitian ini mengkaji tiga variabel yaitu dua variabel bebas dan satu
variabel terikat. Variabel bebasnya yaitu motivasi belajar (X1) dan persepsi siswa
(X2), sedangkan variabel terikatannya adalah kemampuan kognitif (Y). Hubungan
antar variabel dapat digambarkan oleh gambar 3.1 di bawah ini :

Motivasi Belajar (X1) Persepsi siswa


terhadap fisika (X2)
RY X1 X2

X1Y X2Y

Hasil Belajar Fisika (Y)

Gambarcommit to user
3.1 Desain Penelitian
[Link] [Link]

Keterangan :
X1Y = parameter struktural hubungan X1 terhadap Y
X2Y = parameter struktural hubungan X2 terhadap Y
RYX1X2 = parameter struktural hubungan X1 dan X2 secara bersama-sama
terhadap Y

B. Tempat dan Waktu Penelitian


1. Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 1 Lasem dengan alamat Jalan
Raya Lasem No.1 Lasem, Kabupaten Rembang. Hal ini karena di SMP Negeri 1
Lasem tersedia data yang relevan dengan permasalahan yang akan diteliti,
populasi siswa SMP Negeri 1 Lasem bersifat heterogen, dan penelitian ini belum
pernah dilakukan di sekolah tersebut.
2. Waktu Penelitian
Waktu pelaksanaan penelitian dilaksanakan bulan Desember 2010 s.d.
September 2011 pada tahun pelajaran 2010/2011. Jadwal penelitian terlampir.

C. Populasi dan Sampel Penelitian


1. Populasi Penelitian
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Suharsimi Arikunto,
2006:130). Saifudin Azwar (1998 : 77) mendefinisikan populasi sebagai
kelompok subyek yang hendak dikenai generalisasi hasil penelitian. Berdasarkan
pengertian tersebut dapat ditegaskan bahwa populasi adalah keseluruhan individu
atau obyek penelitian yang diduga mempunyai ciri atau sifat yang sama.
Populasi yang akan diteliti adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1
Lasem yang terdiri berjumlah 263 siswa, dengan perincian sebagai berikut :
Tabel 1. Populasi Penelitian
Jumlah Siswa
Kelas Jumlah
Putra Putri
VIII 114 149 263
commit to user
Sumber : Data Statistik Jumlah Siswa SMP Negeri 1 Lasem
[Link] [Link]

2. Sampel Penelitian
Menurut Suharsimi Arikunto (2006 : 132) sampel adalah sebagian atau
wakil populasi yang diteliti. Pengambilan sampel ini dimaksudkan untuk
memperoleh keterangan mengenai obyek penelitian, dan mampu memberikan
gambaran dari populasi.
Mengingat keterbatasan waktu, biaya, tenaga, dan pikiran peneliti, maka
tidak mungkin seluruh populasi diteliti. Untuk itu dari populasi yang ada perlu
diambil sampel yang dapat mewakili populasi tersebut.
Generalisasi dari sampel ke populasi membawa resiko ketidaktepatan,
sebab tidak mencerminkan keadaan populasi secara tepat, karena itu perlu
penentuan teknik sampling yang akan digunakan untuk memperkecil kesalahan
generalisasi dari sampel ke populasi. Hal ini dapat dicapai apabila diperoleh
sampel yang representatif.
Sebagai pertimbangan penggunaan sampel penelitian ini, Suharsimi
Arikunto (2006: 134) menyatakan bahwa: “Untuk sekadar ancer–ancer, apabila
subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya
merupakan penelitian populasi. Tetapi, jika jumlah subjeknya besar, dapat diambil
antara 10-15% atau 20-25% atau lebih”. Hal ini tergantung setidak-tidaknya dari:
a. Kemampuan peneliti dilihat dari waktu, tenaga, dan dana.
b. Sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subyek, karena hal ini
menyangkut banyak sedikitnya data.
c. Besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti. Untuk penelitian yang
resikonya besar, tentu saja jika sampel besar, hasilnya akan lebih baik.
Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan satu kelas dari enam
kelas yang ada yaitu siswa kelas VIII E yang berjumlah 36.
3. Teknik Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel penelitian digunakan teknik cluster random


sampling, yaitu pengambilan sampel anggota populasi dilakukan secara acak
tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi ini dan pengambilan sampel
dilakukan perkelas bukan persiswa dengan asumsi bahwa kondisi kemampuan
commit to user
[Link] [Link]

awal siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Lasem adalah sama. Dengan cara ini setiap
kelompok mempunyai peluang yang sama untuk dipilih sebagai sampel.
Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah
teknik random sampling dengan cara undian. Alasan penulisan menggunakan
teknik ini adalah karena dalam teknik random sampling, pengambilan sampel
bersifat objektif, selain itu juga untuk mengetahui sejauh mana sampel tersebut
bisa muncul. pemilihan sampel dengan cara undian tidak dilakukan secara
subjektif, sehingga setiap anggota populasi memiliki kesempatan yang sama
(acak) untuk terpilih menjadi sampel. Dengan demikian diharapkan sampel yang
terpilih dapat digunakan untuk menduga karakteristik populasi secara objektif.

D. Variabel Penelitian
Menurut Suharsimi Arikunto (2006 : 118) variabel adalah obyek
penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian, sedangkan
menurut pendapat Saifudin Azwar (1998 : 59) variabel merupakan konsep
mengenai atribut atau sifat yang terdapat pada subyek penelitian yang dapat
bervariasi secara kualitatif ataupun secara kuantitatif.
Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut :
1. Variabel Bebas
Variabel bebas adalah kondisi yang oleh peneliti dimanipulasi dalam
rangka menerangkan hubungannya dengan fenomena yang diobservasi. Variabel
bebas dalam penelitian ini adalah motivasi belajar (X1) dan persepsi siswa (X2).
Adapun definisi operasional dari variabel bebas adalah sebagai berikut:

a. Motivasi belajar
1) Definisi Operasional : segala daya pendorong/ penggerak baik dari dalam
diri maupum luar siswa untuk melakukan kegiatan belajar.
2) Skala Pengukuran : Interval
3) Indikator : Nilai dari angket motivasi
b. Persepsi siswa terhadap fisika
commit to user
[Link] [Link]

1) Definisi Operasional : penginterpretasian siswa dalam mengenal,


memahami dan menanggapi obyek fisika,subjek fisika dan lingkungan
fisika.
2) Skala Pengukuran : Interval
3) Indikator : Nilai dari angket persepsi

2. Variabel Terikat

Variabel terikat adalah kondisi yang menunjukkan akibat atau pengaruh


dikarenakan variabel bebas. Variabel terikat pada penelitian ini adalah hasil
belajar fisika siswa (Y).

1) Definisi Operasional : keseluruhan hasil dari proses pembelajaran yang


dialami siswa, biasanya berupa skor yang diberikan guru.
2) Skala Pengukuran : interval
3) Indikator : tes formatif mata pelajaran Fisika pada pokok
bahasan Getaran dan gelombang.

E. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data


1. Teknik Pengumpulan Data
a. Teknik Angket / Kuisioner
Merupakan teknik pengumpulan data dengan cara menggunakan angket
yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan tujuan penelitian. Tujuan
dari teknik ini adalah untuk memperoleh informasi dari siswa. Adapun informasi
tersebut mengenai motivasi belajar dan persepsi siswa SMP Negeri 1 Lasem
terhadap pelajaran fisika. Angket dalam penelitian ini bersifat tertutup agar
terdapat kesamaan jawaban masing-masing responden sehingga proses
pengolahan datanya lebih mudah.
b. Tes
Tes digunakan untuk mengumpulkan data kemampuan kognitif fisika
siswa SMP Negeri 1 Lasem. Bentuk instrumen tes pilihan ganda.

commit to user
[Link] [Link]

2. Instrumen Pengumpulan Data


a. Angket Motivasi Belajar
Instrumen ini disusun dalam bentuk angket pilihan ganda 4 pilihan.
Masing-masing pernyataan diberi skor yaitu A=4, B=3 C=2, dan D=1 untuk
pernyataan positif dan A=1,B=2, C=3,dan D=4 untuk pernyataan negatif
b. Angket Persepsi Siswa terhadap Fisika
Instrumen angket persepsi disusun dalam bentuk angket yang
menyediakan empat opsi dengan alternative pilihan jawaban. Masing-masing
pernyataan diberi skor yaitu A=4, B=3 C=2, dan D=1 untuk pernyataan positif
dan A=1,B=2, C=3,dan D=4 untuk pernyataan negatif
Angket dibuat dua pernyataan yaitu pernyataan positif dan pernyataan
negatif. Pernyataan negatif disisipkan diantara pernyataan positif untuk
mengontrol tingkat ketelitian atau keseriusan responden dalam memberikan
respon. Responden yang tidak serius atau ceroboh dalam menjawab akan terjebak
dengan pernyataan tersebut.
c. Tes kognitif
Tes yang diberikan dalam bentuk pilihan ganda ( empat opsi). Pokok
bahasan yang diujikan adalah Getaran dan Gelombang. Untuk jawaban benar
bernilai 1, sedangkan jawaban salah bernilai 0.
Instrumen yang digunakan perlu diujicobakan dahulu. Maksud dari
ujicoba instrumen ini antara lain:
1) Mengetahui reliabilitas dan validitas instrumen
2) Menyeleksi item soal yang valid untuk diujikan kepada sampel penelitian
3) Mengetahui kemungkinan ada istilah yang tidak dimengerti responden
Penyebaran angket uji coba tersebut diberikan pada 20 siswa kelas VIII
SMP Negeri 2 Lasem yang tidak termsuk dalam sampel penelitian.

F. Validitas dan Reliabilitas Instrumen


1. Angket
a. Validitas angket
commit to user
[Link] [Link]

Validitas adalah sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur
dalam melakakukan fungsi ukurnya (Azwar,1992:). Suatu instrumen dikatakan
valid apabila dapat mengungkap data variabel yang diteliti secara tepat (Suharsimi
Arikunto, 2006:1168). Ada beberapa jenis validitas, antara lain validitas
permukaan, validitas isi, validitas empiris, validitas konstruk dan validitas faktor.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan validitas konstruk dan validitas isi.
Validitas isi sering digunakan untuk mengetahui sejauh mana peserta
didik menguasai materi pelajaran yang telah disampaikan, dan perubahan-
perubahan psikologis apa yang timbul pada diri peserta didik setelah mengalami
proses pembelajaran tertentu (Arifin,2009:248). Validitas isi dimaksud bahwa isi
atau bahan yang diuji atau dites relevan dengan kemampuan, pengetahuan,
pelajaran pengalaman atau latar belakang orang yang diuji.
Validitas konstruk adalah validitas yang menunjukkan sejauh mana tes
mengungkapkan suatu trait atau konstruk teoritik yang hendak diukurnya
Saifuddin Azwar (2003 : 480). Penelitian ini juga menggunakan validitas
konstruk karena item disusun berdasarkan teori yang relevan serta dalam
penelitian ini angket bertujuan mengungkapkan suatu konstruk teoritik yang
hendak diukur, dan pengujian validitas dalam penelitian ini menggunakan teknik
analisis statistika. Validitas soal ditentukan dengan menggunakan teknik korelasi
product moment angka kasar :
∑ − (∑ )(∑ )
=
[ ∑ − (∑ ) ][ ∑ − (∑ ) ]
Keterangan :
rxy = koefisien korelasi
X = skor butir
Y = skor total
N = jumlah subyek
(Arikunto, 2006:171)
Suatu butir angket dinyatakan valid apabila memiliki harga rxy >rtabel.
b. Reliabilitas Angket
commit to user
[Link] [Link]

Reliabilitas menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran dapat dipercaya


(Azwar,1992: 26). Adapun teknik pengukuran reliabilitas yang peneliti gunakan
adalah “Teknik Belah Dua”. Langkah-langkah yang peneliti lakukan berdasarkan
pendapat Masri Singarimbun dan Sofian Effendi yang telah dijelaskan di atas
yaitu :
1) Memberikan alat ukur (angket) kepada sejumlah responden. Dalam penelitian
ini responden yang digunakan untuk try-out sejumlah 30 siswa. Setelah diuji
validitasnya, maka akan terlihat item yang valid dan yang tidak valid. Maka
item-item yang valid dikumpulkan dan item-item yang tidak valid
disingkirkan.
2) Setelah item-item yang valid terkumpul, kemudian item-item tersebut dibagi
menjadi dua belahan. Dalam membelah item-item ini, penulis menggunakan
cara membagi item berdasarkan “nomor awal-akhir”.
3) Menjumlahkan skor masing-masing item pada tiap belahan. Maka akan
diperoleh dua skor total. Mengkorelasikan skor total belahan pertama dengan
skor total belahan kedua.
Untuk menguji reliabilitas digunakan rumus Cronbach’s Alpha sebagai berikut :

Keterangan :
Σσb2 = jumlah varians butir
k = jumlah butir angket
σt2 = varians skor total
r11 = koefisien reliabilitas
(Suharsini Arikunto, 2006:196)
Untuk mencari varians butir dengan rumus :

commit to user
[Link] [Link]

Keterangan :
σ = Varians tiap butir
X = Jumlah skor butir
N = Jumlah responden
(Suharsimi Arikunto, 2006:196)
Suatu instrumen dikatakan reliable jika memiliki harga r11 > rtabel .

2. Tes
a. Validitas Tes
Validitas instrumen tes diukur dengan

Mp  Mt P
rpBis 
St Q

Keterangan :
rpBis = koefisien validitas butir soal
Mp = Jumlah skor benar dari suatu butir soal
Mt = Jumlah skor keseluruhan
St = Standar deviasi
P = proporsi soal dijawab benar
Q = proporsi soal dijawab salah
b. Reliabilitas Tes
Untuk menghitung reliabilitas digunakan rumus yang dikemukakan oleh
Kuder dan Richardson yang dihitung dengan menggunakan rumus K-R 20,
sebagai berikut :

 n   S  pq 
2
r11 =   2 
 n  1  S 
Keterangan :
r11 = reliabilitas tes secara keseluruhan
p = proporsi subyek yang menjawab item dengan benar
q = proporsi subyek yang menjawab item dengan salah (q = 1-p)
commit to user
Σpq = jumlah hasil perkalian antara p dan q
[Link] [Link]

n = banyaknya item
S = standar deviasi dari tes
(Suharsimi Arikunto, 2006 : 101)
Hasil perhitungan tingkat reliabilitas tersebut kemudian dikonsultasikan
dengan tabel r product moment. Apabila harga rhitung > rtabel , maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa instrumen reliabel.
c. Taraf Kesukaran
Soal yang baik untuk alat ukur prestasi adalah soal yang mempunyai taraf
kesukaran yang memadai, dalam arti soal tidak terlalu sulit dan tidak terlalu
mudah. Untuk menentukan taraf kesukaran dari tiap-tiap item soal digunakan
B
rumus : P
Js

Keterangan :
P = Indeks kesukaran
B = Banyaknya siswa yang menjawab soal betul
Js = Jumlah seluruh siswa peserta tes
(Suharsimi Arikunto, 2001 : 208)
Menurut ketentuan indeks kesukaran sering terjadi klasifikasi sebagai
berikut :
1) Soal sukar jika : 0,00  P  0,30
2) Soal sedang jika : 0,30  P  0,70
3) Soal mudah jika : 0,70  P  1,00

d. Daya Pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan
antara siswa yang pandai (kemampuan tinggi) dengan siswa yang kurang pandai
(kemampuan rendah). Untuk menghitung daya pembeda setiap soal, dapat
digunakan rumus sebagai berikut :

B A BB
D   PA  PB
JA JB
commit to user
[Link] [Link]

Keterangan :
J = jumlah peserta tes
JA = banyaknya siswa kelompok atas
JB = banyaknya siswa kelompok bawah
BA = banyaknya siswa kelompok atas yang menjawab benar
BB = banyaknya siswa kelompok bawah yang menjawab benar
PA = proporsi siswa kelompok atas yang menjawab benar
PB = proporsi siswa kelompok bawah yang menjawab benar
Daya pembeda (nilai D) diklsifikasikan sebagi berikut :

1) soal dengan 0,00  D  0,30 = jelek


2) soal dengan 0,20  D  0,40 = cukup
3) soal dengan 0,40  D  0,70 = baik
4) soal dengan 0,70  D  1,00 = baik sekali
(Suharsimi Arikunto, 2006 : 211-213)
Berikut ini rangkuman data hasil uji coba instrumen :
Tabel 3.2 Rangkuman Data Hasil Uji Coba Instrumen
Angket Angket
Kriteria Tes
Motivasi Persepsi
Jumlah item 56 54 30
Validitas
Item Valid 36 38 23
Item Tidak valid 20 16 7
Reliabilitas 0,905 0,92 0,89
Tingkat Kesukaran Tes
Sukar - - 3
Sedang - - 8
Mudah - - 19
Daya Pembeda Tes
Baik Sekali - - 1
Baik commit -to user - 18
[Link] [Link]

Sedang - - 6
Jelek - - 5
Data selengkapnya dapat dilihat di lampiran 8 s.d. 13

G. Teknik Analisis Data


Setelah didapatkan semua data maka sebelum data tersebut dianalisis,
terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji linearitas. Penelitian ini
menggunakan teknik korelasi dan teknik regresi. Teknik korelasi yang digunakan
dalam penelitian ini adalah teknik korelasi sederhana dengan Product Moment dan
teknik korelasi ganda secara Regresi Linier Ganda.
Dengan asumsi semua variabel terdistribusi normal maka selanjutnya data
diolah dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Uji Prasyarat Analisis
a. Uji Linearitas
Uji linearitas digunakan untuk mengetahui apakah hubungan antara
variable- variable bebas dan terikat bersifat linear.
1) Mencari Persamaan Regresi
Persamaan Regresi Linear sederhana = + , a dan b dapat
dicari dengan rumus sebagai berikut:
(Σ Σ ) − (Σ )(Σ )
=
( Σ ) − (Σ )
(nΣ ) − (Σ )(Σ )
=
( Σ ) − (Σ )
2) Uji Linearnitas Persamaan Regresi Linear Sederhana
JK (T) = Σ
(Σ )
JK (a) =
(Σ )(Σ )
JK (b/a) = b Σ −

JK (S) = JK (T) - JK (a) - JK (a/b)


Σ (Σ )
JK (G) = ∑

JK (TC) = JK (S) - JK (G) commit to user


[Link] [Link]

S2 TC = JK (TC)/ k-2
2
S Reg = JK (b/ a)
S2 G = JK (G)/ n-k
Prosedur Pengujian
a) Hipotesis
Ho : Model regresi adalah linear
H1 : Model regresi adalah tidak linear
b) Statistik Uji
S TC
F=
S (G)
c) Daerah Kritik : F > F (a) ; (k-2) (n-k)
d) Keputusan Uji : H1 diterima jika F > F tabel
(Sudjana, 1996: 6- 22)
Keterangan :
F = bilangan F untuk uji linearitas
S2 TC = variansi tuna cocok
S2 G = variansi galat
JK (a) = jumlah kuadrat koefisien
JK (b/a) = jumlah kuadrat regresi
JK (S) = jumlah kuadrat sisa
JK (TC) = jumlah kuadrat tuna cocok
JK (G) = jumlah kuadrat galat

b. Uji Independensi
Uji independensi digunakan untuk menyelidiki kaitan antara variabel
bebas x1 dan x2 digunakan rumus :
N .  x1 . x2  x1 x2 
rxy 
N . 
x12    x1  N . x22    x2 
2 2

Keterangan :
rxy = koefisien korelasi
commit to user
[Link] [Link]

c. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data yang diambil/
diperoleh dari sampel penelitian berdistribusi normal atau tidak. Pengujian
normalitas menggunakan uji “ Liliefors” dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Menetapkan hipotesis
Ho: Sampel berasal dari populasi berdistribusi normal
Ha: Sampel berasal dari populasi tidak berdistribusi normal
Dipilih α= 5%
2) Statistik uji
L  maks FZ i   SZ i 

Keterangan:
Fzi   Pz  zi , Z ~ N(0,1)
Sz i   proporsi cacah z1 , z 2 , z 3 yang  z i
Banyaknya z 1 , z 2 , z 3 yang  z i
Sz i  
n
X X
z i  skor standar di mana z i  i
s
s  standar deviasi sampel
3) Daerah kritik (Dk)
Dk :L L  L α/n 

L  L α;n yang diperoleh dari tabel Lilieforss pada tingkat signifikansi

α = 5% dan derajat kebebasan n (ukuran sampel)


4) Keputusan uji
Ho ditolak jika L  DK atau diterima jika L DK
(Sudjana, 2005: 466-467)
2. Pengujian Hipotesis

a. Hipotesis 1 dan 2
1) Product Moment Sederhana
n  XY   X  Y 
rxy 
n  X 2

  X  n  Y 2   Y 
2 2

Keterangan : commit to user
[Link] [Link]

rxy = koefisien korelasi suatu butir atau item

x = Skor butir nomor tertentu


Jika r hitung > r tabel maka korelasi X dan Y bermakna.
2) Uji Keberartian Koefisien Korelasi Sederhana
Langkah- langkah :
a) Hipotesis : Tidak ada korelasi X1 dan Y1
b) Statistik Uji
√ −2
=
√1 −
c) Keputusan Uji : H1 diterima jika t hitung > t tabel
(Sudjana, 1996: 369)

b. Hipotesis 3
Dua variabel bebas dan satu variabel terikat.
1) Menentukan Persamaan Garis Regresi
= + +
= − −
(Σ )(Σ )(Σ )(Σ )
=
(Σ )(Σ ) − (Σ )
(Σ )(Σ )(Σ )(Σ )
=
(Σ )(Σ ) − (Σ )
Keterangan:
X1, X2 = prediktor
Y = kriteria
b0 = tetapan persamaan regresi
b1 = tetapan persamaan regresi prediktor 1
b2 = tetapan persamaan regresi prediktor 2
2) Uji Keberartian Regresi Linear Ganda
a) Hipotesis
H0 : Regresi ganda tidak berarti
commit to user
H1 : Regresi ganda berarti
[Link] [Link]

b) Statistik Uji
( )/
=
( ) /( − − 11)

( ) = Σ + ΣX Y

( ) =Σ − ( )

c) Keputusan Uji
H1 diterima jika Fhitung > Ftabel
3) Menentukan Koefisien Korelasi Ganda

( )
=
Σ

4) Uji Keberartian Koefisien Korelasi Ganda


a) Hipotesis
H0 : Koefisien korelasi ganda tidak berarti
H1 : Koefisien korelasi ganda berarti
b) Statistik Uji
/
=
(1 − )/( − − 1)
c) Keputusan Uji
H1 diterima jika Fhitung > Ftabel

3. Uji Kontribusi
a. Menghitung Sumbangan Relatif dalam % (SR%)
Σ
% ; = 100%
Σ + Σ
Σ
% ; = 100%
Σ + Σ
b. Menghitung Sumbangan Efektif dalam % (SE%)
Σ
% ; =
Σ + Σ
Σ
% ; =
Σ + Σ
commit to user
[Link] [Link]

BAB IV
HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Data Penelitian


Data penelitian yang diperoleh berupa data motivasi belajar siswa (X1),
persepsi siswa tehadap fisika (X2) dan hasil belajar fisika siswa (Y) yang ditinjau
dari kemampuan kognitif siswa kelas VIII semester II SMP Negeri 1 Lasem tahun
ajaran 2010/ 2011.
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas dari masing-masing variabel
dalam penelitian akan diberikan rangkuman deskripsi data dari masing-masing
variabel pada tabel 4.1. berikut
Tabel 4.1. Rangkuman Deskripsi Data
Variabel Mean Median Modus Standar Deviasi
X1 80,90278 81,944444 82 7,593661204
X2 65,09503 65,131579 65 5,728801283
y 74,74747 75 82 9,984902679

Deskripsi distribusi frekuensi dan histogram frekuensi masing-masing


data disajikan sebagai berikut:
1. Data Motivasi Belajar Siswa
Untuk menentukan banyaknya kelas dalam pembuatan tabel distribusi
bergolong menggunakan Rumus Sturges sebagai berikut
Banyaknya kelas = 1  3.3 log 36
= 6,1358 (banyaknya kelas dibuat 6)
98  65
Panjang kelas interval X1 =  5,3194 (panjang kelas interval dibuat 6)
6
Berikut adalah distribusi frekuensi data motivasi belajar siswa disertai
dengan histogram/ grafik.

commit to user

28
[Link] [Link]

29

Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Motivasi Belajar Siswa


Frekuensi
Interval Kelas
Real Relatif
65-70 3 8%
71-76 6 17%
77-82 12 33%
83-88 10 28%
89-94 3 8%
95-100 2 6%
Jumlah 36 100%

12

10

8
Frekuensi

0
65-70 71-76 77-82 83-88 89-94 95-100
Skor Angket Motivasi

Gambar 4.1 Diagram Balok Motivasi Belajar

2. Data Persepsi Siswa Terhadap Fisika


Nilai persepsi siswa terhadap fisika diperoleh dari angket persepsi siswa
terhadap fisika.
Banyaknya kelas = 1  3.3 log 36
= 6,1358 (banyaknya kelas dibuat 6)
76  53
Panjang kelas interval X2 =  3,7528 (panjang kelas interval dibuat 4)
6
Berikut adalah distribusi frekuensi data minat belajar siswa disertai
dengan histogram/grafik. commit to user
[Link] [Link]

30

Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Persepsi Siswa terhadap Fisika


Frekuensi
Interval Kelas
Real Relatif
53-56 3 8%
57-60 5 14%
61-64 8 22%
65-68 12 33%
69-72 5 14%
73-76 3 8%
Jumlah 36 100%

12

10

8
Frekuensi

0
53-56 57-60 61-64 65-68 69-72 73-76
Skor Angket Persepsi

Gambar 4.2 Diagram Balok Persepsi Siswa terhadap Fisika

3. Data Hasil Belajar Fisika Siswa


Hasil belajar siswa dalam hal ini hasil belajar kognitif siswa diperoleh
dari nilai tes materi Getaran dan Gelombang .
Banyaknya kelas = 1  3.3 log 36
= 6,1358 (banyaknya kelas dibuat 6)
91  50
Panjang kelas interval Y =  6,667 (panjang kelas interval dibuat 7)
6
Berikut adalah distribusi frekuensi data hasil belajar fisika siswa disertai
dengan histogram/grafik. commit to user
[Link] [Link]

31

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Fisika Siswa


Frekuensi
Interval
Real Relatif
50-56 2 6%
57-63 2 6%
64-70 6 17%
71-77 13 36%
78-84 9 25%
85-91 4 11%
Jumlah 36 100%

14
12
10
Frekuensi

8
6
4
2
0
50-56 57-63 64-70 71-77 78-84 85-91
Skor Tes

Gambar 4.2. Diagram Balok Hasil Belajar Fisika Siswa

B. Analisis Data
1. Uji Prasyarat Analisis
a. Uji Normalitas

Hasil uji normalitas dengan metode Liliefors diperoleh harga statistik uji
Lobs untuk taraf signifikansi 5% pada masing-masing variabel baik variabel bebas
maupun variabel terikat yakni sebagai berikut :
commit to user
[Link] [Link]

32

Tabel 4.5. Harga Statistik Uji Normalitas


No Variabel Statistik Uji Lobs Harga Kritik

1. Motivasi Belajar Siswa 0.112 0.14767


2. Persepsi Siswa Terhadap 0.079 0.14767
Fisika
3. Hasil Belajar Siswa 0.089 0.14767
Dari tabel tampak bahwa harga Lobs dari masing-masing variabel tidak
melebihi batas harga kritiknya ( Lobs < Ltabel ), maka dapat disimpulkan bahwa
sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Perhitungan selengkapnya
dapat dilihat pada lampiran 21,22 dan 23.
b. Uji Independensi
Uji independensi digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan
antar kedua variabel bebas yaitu motivasi belajar siswa dan Persepsi Siswa
Terhadap Fisika dengan menggunakan korelasi Product-Moment.
Dari perhitungan diperoleh hasil rx1x2 : 0,26146. Harga tersebut
dikonsultasikan dengan harga r product-momen dengan taraf signifikansi α : 5%
karena dan n = 36 diperoleh r tabel = 0,329. Karena rx1x2 < r tabel maka dapat
disimpulkan bahwa antara motivasi belajar siswa dan Persepsi Siswa Terhadap
Fisika tidak ada hubungan berarti atau independen. Perhitungan selengkapnya
dapat dilihat pada lampiran 24.

c. Uji Linieritas dan Keberartian

1) Motivasi Belajar (X1) dengan Hasil Belajar Fisika Siswa (Y)


Hasil uji linieritas dari X1 dengan Y dapat disajikan dalam tabel sebagai
berikut:

commit to user
[Link] [Link]

33

Tabel 4.6. Rangkuman ANAVA Regresi Sederhana Yˆ  27,566  0,5829 X 1


Sumber
variansi dk JK RJK F
Total 36 204603
Regresi(a) 1 201152
Regresi(b|a) 1 690,186 690,186
8,49951
Sisa 34 2760,9 81,203

Tuna Cocok 20 1835,28 91,7642


1,38793
Galat 14 926 66,1157

Dari hasil perhitungan diperoleh harga FTC = 1,38793. Sedangkan harga


Ftabel pada taraf signifikansi α : 5% dengan dk pembilang 20 dan dk penyebut 14
adalah 2,39. Sehingga didapat FTC < Ftabel yang berarti Ho diterima dan dapat
disimpulkan model regresi Y atas X1 adalah linier. Dari perhitungan juga didapat
harga Freg = 8,49951. Sedangkan harga Ftabel pada taraf signifikansi α : 5% dengan
dk pembilang 1 dan dk penyebut 34 adalah 4,14. Sehingga didapat harga Freg >
Ftabel yang berarti Ho ditolak dan dapat disimpulkan bahwa model regresi linier Y
atas X1 adalah berarti. Perhitungan selengkapnya disajikan pada lampiran 26.

2) Persepsi Terhadap Fisika (X2) dengan Hasil Belajar Fisika Siswa (Y)
Hasil uji linieritas dari X2 dengan Y dapat disajikan dalam tabel sebagai
berikut:
Tabel 4.7. Rangkuman ANAVA Regresi Sederhana Yˆ  32,53  0.64847 X 2

Sumber variansi dk JK RJK F


Total 36 204603
Regresi(a) 1 201111
Regresi(b|a) 1 483,029 483,03
5,45826
Sisa 34 3008,83 88,495
Tuna Cocok 20 1749,45 124,96
commit to user 1,38913
Galat 14 1259 89,956
[Link] [Link]

34

Dari hasil perhitungan diperoleh harga FTC = 1,38913 Sedangkan harga


Ftabel pada taraf signifikansi α : 5% dengan dk pembilang 20 dan dk penyebut 14
adalah 2,39. Sehingga didapat FTC < Ftabel yang berarti Ho diterima dan dapat
disimpulkan model regresi Y atas X1 adalah linier. Dari perhitungan juga didapat
harga Freg = 5,45826. Sedangkan harga Ftabel pada taraf signifikansi α : 5% dengan
dk pembilang 1 dan dk penyebut 34 adalah 4,14. Sehingga didapat harga Freg >
Ftabel yang berarti Ho ditolak dan dapat disimpulkan bahwa model regresi linier Y
atas X1 adalah berarti. Perhitungan selengkapnya disajikan pada lampiran 28.

3) Uji Linieritas dan Keberartian Antara Motivasi Belajar (X1) dan Persepsi
Siswa Terhadap Fisika (X2) dengan Hasil Belajar Fisika Siswa (Y)
Hasil uji keberartian dari X1 dan X2 dengan Y dapat disajikan dalam
tabel sebagai berikut :
Tabel 4.8 Rangkuman ANAVA Regresi Ganda Yˆ  4,0024  0,49011X 1  0,47767X 2
Sumber Variasi dk JK RJK F
Regresi (reg) 2 935,503 467,752 6,0439
Sisa (S) 34 2553,936 77,392

Dari perhitungan juga didapat harga Freg = 6,0439. Sedangkan harga Ftabel
pada taraf signifikansi α : 5% dengan dk pembilang 2 dan dk penyebut 33 adalah
3,293. Sehingga didapat harga Freg > Ftabel yang berarti Ho ditolak dan dapat
disimpulkan bahwa model regresi linier Y atas X1 dan X2 adalah berarti.
Perhitungan selengkapnya disajikan pada lampiran 29.

2. Uji Hipotesis
a. Hubungan Antara X1 dengan Y
Hasil uji tentang hubungan antara X1 dengan Y menggunakan rumus
Product-Moment menunjukkan koefisien korelasi ry .1  0,444 . Sedangkan dari uji

hipotesis dengan hasil t  3,229  t 0.975 ; 30  2.041 menyatakan bahwa koefisien

commit to user
[Link] [Link]

35

arah regresi motivasi belajar (X1) dengan hasil belajar fisika (Y) adalah berarti.
Perhitungan selengkapnya disajikan pada lampiran 32.
b. Hubungan Antara X2 dengan Y
Hasil uji tentang hubungan antara X2 dengan Y menggunakan rumus
Product-Moment menunjukkan koefisien korelasi ry .1  0,3719 . Sedangkan dari

uji hipotesis dengan hasil t  2,5168  t 0.975 ; 34  2.041 menyatakan bahwa

koefisien arah regresi persepsi siswa terhadap fisika (X2) dengan hasil belajar
fisika (Y) adalah berarti. Perhitungan selengkapnya disajikan pada lampiran 32.
c. Hubungan Antara X1, X2 dengan Y
Hasil uji tentang hubungan antara X1, X2 dengan Y menggunakan rumus
Product-Moment menunjukkan koefisien korelasi ry .1  0,51778 . Sedangkan dari

uji hipotesis dengan hasil F  6,04393  F0.05;2;33  3.28 menyatakan bahwa

koefisien arah regresi motivasi belajar (X1) dan persepsi siswa terhadap fisika (X2)
dengan hasil belajar fisika (Y) adalah berarti. Perhitungan selengkapnya disajikan
pada lampiran 32.

3. Uji Kontribusi
a. Perhitungan Sumbangan Relatif (SR)
1) Sumbangan Relatif (SR) X1 Terhadap Y
Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan diperoleh nilai SRX1=
62,004%. Perhitungan selengkapnya disajikan pada lampiran 25.
2) Sumbangan Relatif (SR) X2 Terhadap Y
Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan diperoleh nilai SRX2=
37,995%. Perhitungan selengkapnya disajikan pada lampiran 25.
b. Perhitungan Sumbangan Efektif (SE)
1) Sumbangan Efektif (SE) X1 Terhadap Y
Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan diperoleh nilai SEX1 =
14,26%. Perhitungan selengkapnya disajikan pada lampiran 25.
2) Sumbangan Efektif (SE) X2 Terhadap Y
commit to user
[Link] [Link]

36

Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan diperoleh nilai SEX2 =


8,739%. Perhitungan selengkapnya disajikan pada lampiran 30.

C. Pembahasan
Dari hasil penelitian diperoleh koefisien korelasi rhitung variabel X1 yaitu
motivasi belajar dengan variabel Y yaitu hasil belajar fisika siswa SMP Negeri 1
Lasem Kabupaten Rembang kelas VIIIE semester II tahun pelajaran 2010/ 2011
adalah sebesar +0,444. Sedangkan harga kritik rtabel Korelasi Product-Moment
untuk N = 36 dengan taraf signifikansi α = 5 % adalah sebesar = 0,329.
Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan antara motivasi
belajar dengan hasil belajar fisika siswa SMP Negeri 1 Lasem Kabupaten
Rembang kelas VIIIE semester II tahun pelajaran 2010/ 2011.
Sedangkan koefisien korelasi rhitung variabel X2 yaitu persepsi siswa
terhadap fisika dengan variabel Y hasil belajar fisika siswa SMP Negeri 1 Lasem
Kabupaten Rembang kelas VIIIE semester II tahun pelajaran 2010/ 2011 adalah
sebesar +0,3719. Sedangkan harga kritik rtabel Korelasi Product-Moment untuk N
= 36 dengan taraf signifikansi α = 5 % adalah sebesar = 0,329. Berdasarkan data
tersebut menunjukkan bahwa ada korelasi antara persepsi siswa terhadap fisika
dengan hasil belajar fisika siswa SMP Negeri 1 Lasem Kabupaten Rembang kelas
VIIIE semester II tahun pelajaran 2010/2011.
Menurut ketentuan tabel nilai koefisien korelasi rhitung variabel X1 sebesar
+0,444 termasuk dalam kategori korelasi cukup tinggi. Korelasi yang terjadi
antara motivasi belajar siswa terhadap fisika dengan hasil belajar siswa SMP
Negeri 1 Lasem Kabupaten Rembang kelas VIIIE merupakan hubungan yang
linier positif, artinya motivasi belajar yang tinggi diikuti dengan tingginya hasil
belajar siswa tersebut. Dengan demikian ada dorongan untuk siswa yang senang
dan punya semangat tinggi untuk belajar maka hasil belajar akan tinggi.
Sedangkan menurut ketentuan tabel nilai koefisien korelasi rhitung variabel
X2 sebesar +0,3719 termasuk dalam kategori korelasi rendah tapi pasti. Hubungan
yang terjadi antara persepsi siswa terhadap fisika dengan hasil belajar fisika siswa
SMP Negeri 1 Lasem Kabupaten commit to user
Rembang kelas VIIIE merupakan hubungan
[Link] [Link]

37

yang linier positif, artinya persepsi terhadap fisika yang makin positif akan diikuti
dengan tingginya hasil belajar siswa tersebut. Namun demikian masih ada faktor-
faktor lain yang mempengaruhi hasil belajar seorang baik dari dalam diri siswa
maupun dari luar. Faktor dari dalam seperti intelegensi anak, kemampuan
numerik, minat, bakat dan lain-lain serta faktor luar dapat berupa perhatian orang
tua, kondisi belajar yang kondusif, lingkungan sekitarnya dan lain-lain.
Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh motivasi dan intelegensi
(kecerdasan). Siswa yang mempunyai motivasi belajar yang tinggi, dimungkinkan
akan memperoleh prestasi belajar yang tinggi. Siswa dengan motivasi belajar,
dengan sendirinya akan timbul kesadaran untuk belajar, merasa senang belajar dan
menaruh perhatian yang besar yang masih berhubungan dengan pelajaran
sehingga mereka akan memiliki pengetahuan dan semangat lebih jika
dibandingkan dengan siswa lain yang memiliki motivasi belajar rendah. Begitu
juga apabila motivasi belajar rendah, akan membawa hasil yang rendah pula.
Siswa yang memiliki motivasi belajar rendah akan sulit untuk berkonsentrasi
dalam belajar.
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah persepsi siswa. Jika telah ada
motivasi untuk belajar yang besar tetapi persepsi terhadap suatu mata pelajaran
masih kurang maka akan berpengaruh pada hasil belajar. Lebih khususnya untuk
hasil belajar fisika dimana menurut hasil penelitian ini, nilai rata-rata persepsi
siswa terhadap mata pelajaran fisika masih belum tinggi. Hal ini mengakibatkan
hasil belajar fisika kurang maksimal.
Dari penelitian ini juga diperoleh informasi bahwa motivasi belajar
memiliki kontribusi lebih banyak daripada persepsi siswa dalam pencapaian hasil
belajar. Hal ini terlihat dari sumbangan relatif X1 62% , sedangkan sumbangan
relatif X2 hanya 37%.

commit to user
[Link] [Link]

BAB V
SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

A. Simpulan
Berdasarkan pada analisis data dan pembahasan maka diperoleh
kesimpulan sebagai berikut:
1. Ada hubungan positif yang signifikan antara motivasi belajar siswa dengan
hasil belajar fisika siswa SMP Negeri I Lasem Kabupaten Rembang kelas VIII
E tahun pelajaran 2010/ 2011.
2. Ada hubungan positif yang signifikan antara persepsi siswa terhadap fisika
dengan hasil belajar fisika siswa SMP Negeri I Lasem Kabupaten Rembang
kelas VIII E tahun pelajaran 2010/ 2011.
3. Ada hubungan positif yang signifikan antara motivasi belajar siswa dan
persepsi siswa terhadap fisika secara bersama-sama dengan hasil belajar fisika
SMP Negeri I Lasem Kabupaten Rembang kelas VIII E tahun pelajaran 2010/
2011.
B. Implikasi
Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukakan, maka implikasi dari
hasil penelitian sebagai berikut:
1. Implikasi Teoritis
Bagi para peneliti lain yang melakukan penelitian tentang permasalahan
yang berhubungan dengan motivasi belajar, persepsi siswa dan hasil belajar, maka
hasil dari penelitian dapat dijadikan sebagai salah satu sumber pemikiran dan teori
yang dapat digunakan sebagai materi penunjang dalam penelitian yang
dilakukannya.
2. Implikasi Praktis
a. Hasil penelitian dapat dijadikan pertimbangan bahwa hasil belajar siswa
berhubungan dengan motivasi belajar dan persepsi siswa terhadap fisika.
b. Hasil penelitian dapat digunakan guru sebagai bahan pertimbangan untuk
memperbaiki hasil belajar siswa.
commit to user

52
[Link] [Link]

53

C. Keterbatasan Penelitian
Berdasarkan pembahasan, maka keterbatasan dari penelitian sebagai
berikut:
1. Karena terbatasnya waktu dan biaya, penelitian hanya dapat dilakukan pada
sampel yang berjumlah sedikit sehingga data yang diperoleh kurang optimal.
2. Hasil angket motivasi belajar dan persepsi siswa terhadap fisika kurang
optimal keterbatasan waktu menjawab angket.

D. Saran
Berdasarkan pembahasan, hasil data dan kesimpulan, penelitian dapat
memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Kepada Komite Sekolah
a. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan peneliti menunjukkan bahwa
fasilitas dan media pendukung mata pelajaran fisika kurang dapat
memenuhi, untuk itu sebaiknya diadakan peninjauan ulang tentang fasilitas
yang telah ada.
b. Komite sekolah hendaknya menambah fasilitas yang telah ada, agar
kegiatan belajar mengajar dapat tercapai maksimal.
c. Komite sekolah hendaknya menambah koleksi buku pengetahuan di
perpustakaan, agar siswa dapat termotivasi untuk belajar lebih giat dengan
adanya rasa ingin tau.
2. Kepada Guru Mata Pelajaran Fisika
a. Guru sebaiknya memberikan suatu inovasi pembelajaran fisika sehingga
siswa lebih termotivasi untuk lebih aktif dalam mengikuti pelajaran fisika.
b. Guru sebaiknya menyempatkan diri berkeliling meja sehingga semua
siswa mendapat perhatian sama dan lebih termotivasi belajar.
c. Guru sebaiknya mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya, sehingga
waktu yang dibutuhkan dalam menyampaikan materi pelajaran tidak
berkurang dan materi yang disampaikan selesai tepat pada waktu yang
sudah ditentukan. commit to user
[Link] [Link]

54

3. Kepada siswa
a. Dari hasil angket menunjukkan bahwa persepsi siswa terhadap fisika
masih kurang besar. Sebaiknya siswa lebih menyukai atau memperhatikan
materi yang disampaikan guru.
b. Sebaiknya siswa lebih aktif dalam pembelajaran fisika
c. Siswa hendaknya berusaha untuk memperoleh prestasi yang maksimal
dalam suatu mata pelajaran dan menyadari pentingnya suatu prestasi
belajar.

commit to user

Anda mungkin juga menyukai