Desain Sensor Kecepatan Angin Dengan Kontrol
Adaptif Untuk Anemometer Tipe Thermal
Muhamad Yusuf #1) , Alrijadjis #2), Legowo#3)
#Department of Electrical Engineering, Faculty of Electronics Engineering
Polytechnic Institut of Surabaya
ITS Surabaya Indonesia 60111
1) apie_tech@[Link], 2) alrijadjis@[Link], 3) legowo@[Link]
Abstrak �Anemometer merupakan alat ukur kecepatan angin yang sering digunakan oleh
BMKG, untuk
mengukur kecepatan angin. Salah satu jenis anemometer adalah thermal anemometer
yang pernah dibuat oleh arif
harianto (2005) menggunakan diode yang diseri dengan heater, konfigurasi ini tidak
memperhatikan pengaruh suhu angin
dalam proses pengukuran (type CTA). Kelemahan alat ini suhu angin sangat
mempengaruhi proses pengukuran
kecepatan angin juga mempunyai batas ukur yang rendah. Permasalahan tersebut
diatasi dengan menggunakan dua buah
sensor suhu LM 35. Sensor yang pertama untuk mengukur kecepatan angin dan yang
kedua sebagai kompensator
temperatur sekitar, sehingga alat tersebut dapat beradaptasi terhadap perubahan
temperature lingkungan. Batas
maksimal pengukuran system ini adalah 6,9m/s karena keterbatasannya sumber angin
yang tersedia. Sedangkan untuk
meningkatkan respon time system pada saat pengukuran digunakan Proposional Integral
(PI) controller. Tanpa
controller (open Loop) pendekatan hasil pengukuran baru dapat diketahui setelah 50
detik, dengan menggunakan PI
controller setelah 15 detik pendekatan hasil pengukuran sudah bisa diketahui.
Pemrosesan data dilakukan oleh
mikrokontroller ATmega 16. Hasil pengukuran pada alat ini ditampilkan dalam LCD
karakter.
Kata kunci: Thermal Anemometer, sensor suhu LM35, ATmega 16, PI controller
I. Pendahuluan
Anemometer adalah sebuah perangkat yang digunakan untuk mengukur kecepatan angin,
merupakan salah satu instrumen yang sering digunakan oleh balai cuaca seperti Badan
Metereologi
Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Kata anemometer berasal dari Yunani anemos, yang
berarti angin.
Anemometer ini pertama kali diperkenalkan oleh Leon Battista Alberti dari Italia
pada tahun 1450. Secara
umum ada dua jenis anemometer, yaitu anemometer yang mengukur kecepatan angin
(velocity anemometer)
dan anemometer yang mengukur tekanan angin (anemometer tekanan). Dari kedua type
anemometer ini
velocity anemometer lebih banyak digunakan. Salah satu jenis dari velocity
anemometer adalah thermal
anemometer lebih dikenal dengan hot wire anemometer yaitu anemometer yang
mengkonversi perubahan
suhu menjadi kecepatan angin. Hot wire anemometer menggunakan kawat yang sangat
kecil dialiri panas
hingga suhu di atas temperatur Ambient. Bila ada udara / angin yang mengalir
melewati kawat maka akan
terjadi efek pendinginan pada kawat, perubahan temperatur dari kawat sebagai
indikasi perubahan dari
kecepatan angin yang diukur.
Anemometer type thermal ini pernah dibuat menggunakan diode seri dipanaskan oleh
heater,
sehingga terjadi perubahan karakteristik tegangan dan arus. Aliran angin
mengakibatkan proses
pendinginan, sehingga tegangan diode kembali naik maka diperoleh hubungan kecepatan
angin dan
tegangan diode. Anemometer yang pernah dibuat ini memiliki beberapa kekurangan
yaitu setelah beberapa
kali pemakaian, diode harus diganti karena mudah rusak, diode yang dipakai adalah
diode rectifier, bukan
diode untuk pengukur suhu. Batas ukur maksimal adalah 6 m/s. Anemometer yang dibuat
juga tidak
memperhatikan pengaruh suhu angin termasuk tipe Constant Temperature Anemometry/CTA
(Yoshihito
Shimada, 2003 dan Arif Harianto, 2005)
Dari berbagai kekurangan diatas maka pada Proyek Akhir ini akan dibuat thermal
anemometer
menggunakan dua buah sensor suhu LM35. Konfigurasi baru yang akan dibuat
menggunakan dua sensor
suhu LM35 dan heater untuk mendapatkan sensor velocity yang handal dan
memenuhi/meningkatkan batas
ukur sensor, linearity dan respon time system. Dengan menerapkan skema adaptive
controller untuk
mengatasi perubahan karakteristik sistem akibat pengaruh suhu angin. Diharapkan
anemometer dengan
konfigurasi baru ini dapat mengatasi permasalahan dari anemometer yang pernah
dibuat sebelumnya.
II. Dasar Teori
A. Anemometer
Anemometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur arah dan kecepatan angin.
Satuan
meteorologi dari kecepatan angin adalah Knots (Skala Beaufort) umumnya satuan yang
digunakan adalah
meter per detik (m/s). Sedangkan satuan meteorologi dari arah angin adalah 00 -
3600. Posisi 00 menunjukkan
arah utara.
Salah satu jenis anemometer adalah thermal anemometer. Pada anemometer type ini
terdapat sebuah
sensor suhu, cara kerja dari sensor ini berdasarkan pada jumlah panas yang hilang
secara konvektif dari
sensor ke lingkungan sekeliling sensor. Besarnya panas yang dipindahkan dari sensor
secara langsung
berhubungan dengan kecepatan fluida yang melewati sensor. Jika hanya kecepatan
fluida yang berubah,
maka panas yang hilang bisa diinterpretasikan sebagai kecepatan fluida (angin)
tersebut
B. Penguat Inverting
Sebuah penguat menerima arus atau tegangan kecil pada input dan menjadikan arus
atau tegangan
lebih besar pada outputnya. Penguat Op-Amp memiliki penguatan yang relatif linier
outputnya dikendalikan
sebagai fungsi input.
���
Rf
���
Vout
* Vin
Ri
................(1)
Ri
Rf
+Vcc
+
-
-Vcc
Vout
Vin
Gambar 1. Rangkaian penguat inverting
C. Rangkaian Mechanisme Adjusment
Rangkaian ini digunakan untuk menyamakan keluaran dari sensor dua agar sama dengan
sensor satu
pada saat tidak ada angin yang berhembus. Rangkaian ini terdiri dari dua buah Op-
Amp yang dipakai
sebagai penguat inverting. Salah satu penguatan pada Op-Amp bisa diatur nilai
penguatannya
menggunakan variabel resistor untuk mechanism adjustment.
D. Rangkaian Pengkondisian Sinyal
Rangkaian pengkondisian sinyal ini terdiri dari Op-Amp sebagai komponen utamanya.
R1
+Vcc
V1
R2
+
-
V2
output
-Vcc
R2
R1
Gambar 2 Rangkaian Pengkondisian sinyal
Op-Amp pada rangkaian ni difungsikan sebagai penguat diferensial yaitu kedua input
dari Op-Amp
digunakan, keluaran dari rangkaian ini merupakan selisih dari kedua input pada Op-
Amp yaitu input
Inverting (-) dan input non Inverting (+).
E. Mikrokontroller ATMega 16
Mikrokontroller AVR (Alf and Vegard�s Risc Processor) standar memiliki arsitektur 8
bit, dimana
semua instruktsi dikemas dalam kode 16 bit dan sebagian besar instruksi dieksekusi
dalam satu siklus clock.
AVR ini berteknologi RISC (Reduced Instruction Set Computing).
Didalam mikrokontroller ATMega 16 sudah terdiri dari :
1 Saluran I/O ada 32 buah, yaitu PORT A, PORT B, PORT C, dan PORT D.
2 ADC (Analog to Digital Converter) 10 bit sebanyak 8 channel.
3 Tiga buah timer / counter, dua buah 8 bit dan satu 16 bit.
4 Watchdog Timer dengan osilator internal.
5 Dan lain-lain.
F. Proposional Integral Controller
Aksi pengontrolan proporsional-integral (PI) adalah aksi pengontrolan hasil
kombinasi dari aksi
pengontrolan proporsional (P) dan aksi pengontrolan integral (I). Bentuk matematis
dari pengontrolan ini
merupakan kombinasi penambahan persamaan pengontrolan dari aksi pengontrolan P dan
aksi pengontrolan
I.
Kp
Ki =
Ti
Kp
t
u(t) = Kp *e(t) + *e(t)dt
Ti �
0
�� (3)
Kp adalah penguatan proporsional, dan Ti adalah waktu integral. Kedua parameter ini
dapat diset
harganya. Waktu integral mengatur aksi pengontrolan integral namun pengubahan
penguatan proporsional
mempengaruhi kedua bagian aksi pengontrolan, yakni bagian proporsional dan bagian
integral.
G.
LCD Karakter
Liquid Crystal Display adalah salah satu jenis display/layar yang banyak digunakan
dalam aplikasi
yang berbasis mikrokontroler. Ada dua macam jenis LCD, yakni :
1.
Text LCD, yakni LCD yang hanya mampu menampilkan text baik angka ataupun karakter.
Pada bebarapa
karakter khusus, Text LCD tidak mampu menampilkan.
2.
Grafik LCD, yakni LCD yang mampu menampilkan grafik, icon, dan gambar bitmap,
disamping juga
mampu menampilkan text layaknya Text LCD.
III. METODOLOGI
Metode atau sistem desain yang digunakan dalam melakukan proyek akhir ini
meliputi :
A.
Studi Literatur
Mencari referensi untuk mendapatkan informasi mengenai sistem ini, terutama tentang
anemometer,
controller, mikrokontroller, dan sensor suhu.
B.
Perancangan Hardware
Melakukan analisa design dan eksperimen untuk mendapatkan rangkaian sensor dengan
konfigurasi
baru yang sesuai seperti desain signal conditioning circuit, konfigurasi sensor
suhu, desain interface circuit
ke mikrokontroler.
C.
Perancangan Software
Membuat program PI controller untuk mempercepat respon time dari hasil pengukuran
kemudian
ditampilkan pada display LCD karakter.
.
D.
Uji Coba Sistem dan Analisa
Pada tahap ini dilakukan uji coba system yang telah dibuat serta melakukan
perbaikan apabila terjadi
kesalahan pada hardware maupun software. Kemudian melakukan Analisa terhadap hasil
yang tealh
diperoleh.
IV. Perancangan dan pembuatan
Sebelum membuat system ini, dilakukan perancangan system terlebih dahulu. sistem
secara
keseluruhan berdasarkan pada gambar 3.
Kecepatan
Angin
Adjustment
Mechanism
Pengkodisian
Sinyal
Sensor Suhu
Sensor Suhu
Heater
1
2
Controller
PI
+
-
DisplayPenguat
Konfigurasi
sensor
Gambar 3 Diagram Block Sytem
Input dari system ini berupa kecepatan angin Kecepatan angin kemudian dikonversi
menjadi
perubahan suhu pada sensor suhu LM35. Proposional Integral Controller digunakan
untuk mempercepat
respon time pada saat proses pengukuran.
V. Hasil Penelitian
A. Sensor Suhu sebagai Velocity sensor
Sensor suhu harus mempunyai linieritas yang baik agar dapat digunakan secara
maksimal. Berikut
adalah grafik dari respon time sensor suhu pada kecepatan angin mencapai maksimum.
Kemudian angin
kembali tidak berhembus secara perlahan lahan.
rise time dan fall time sensor suhu
-1
0
1
2
3
4
5
6
7
8
0 50 100 150 200 250 300 350
t (s)
v (m/s)
Gambar 4 Respon time sensor suhu LM35
B. Pengujian PI controller
Untuk mengetahui apakah respon time dari alat ini lebih cepat, maka digunakan PI
controller. Karena
respon time dari sensor suhu LM 35 relatif lambat. Proses PI controller ini
dilakukan oleh mikrokontroler
ATMega 16. Hasil pengujian system pengukuran dengan PI controller dapat
dibandingkan tanpa
menggunakan Controller (open loop).
Gambar 5 Respon PI Controller dan Open loop
Pengujian tersebut diambil pada saat kecepatan angin maksimal, terlihat bahwa
dengan PI controller output
hasil pengukuran dapat terlihat lebih cepat.
Pengujian PI controler juga bisa dilakukan menggunakan matlab untuk mendapatkan
nilai Kp dan
Ki yang sesuai bisa menggunakan metode direct syntesis atau metode trial and error.
Langkah yang
pertama dilakukan adalah menentukan model dari plant. Kemudian menentukan nilai Kp
dan Ki yang sesuai
untuk mendapatkan hasil yang yang diinginkan. Hasilnya terlihat pada gambar berikut
ini.
Respon PI controller
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
1.2
1.4
vout (volt)
tanpa controller
-
PI controller
0 10 20
3040506070
t (second)
Gambar 6 Respon PI controller dengan Matlab
1
Gp=
Model plant pada system diatas dapat didekati dengan bentuk orde satu yaitu 20s + 1
.
persamaan ini merupakan tranfer funsi dari system ini. Dengan metode direct
sintesis diperoleh nilai Kp= 20/
19 dan parameter Ki=1/20.
C. Mechanism Adjustment
Pengujian rangkaian ini dilakukan dengan memberikan perbedaan temperature pada
sensor kedua.
Rangkaian mechanism adjustmen dapat bekerja dengan baik dalam mengeliminasi
pengaruh perubahan
temperature lingkungan
Gambar 7 Pengaruh temperature lingkungan tanpa adaptasi (tidak menggunakan
mechanism adjustment)
Gambar 8 Pengaruh temperature lingkungan dengan adaptasi (menggunakan mechanism
adjustment)
D. Pengujian pengukuran kecepatan angin
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui persentase error dari alat yang telah
dibuat. Dari tabel
terlihat nilai error relatif kecil dari hasil pengukuran
Tabel 1 Hasil pengukuran
m mengeliminasi pengaruh p
han tem peratur e lingk
Gam bar 7 Pen garuh temp
ure li ngkun gan t anpa adapt
(tidak meng gunak an me chani
djustm ent) Gam bar 8 Pen
h temp eratu re li ngkun gan d
n adap tasi (meng gunak an me
ism ad justm ent) Peng � ujian
gukura � n kec � epata � n ang � inP
jian i ni di lakuk an un tuk m
tahui perse ntase erro r dar
at yan g tel ah di buat. Dari
el ter lihat nila i err or re
f keci l dar i has il pe nguku
Tabel 1 Ha sil p enguk uran
# Hasil Penguku
790#2.06##?
#
# ? ? 1.87#
? 13.49#5.30#3.53#?
1.89#8.76#?
? 2,321#6.06#6.23#6.24#? #2.95
?#(m/s)ran
1,238??#
#
# ? ? ? # Hitung#
Ukur 1
Ukur 21,6274.25
.
?5.38#.
? 1,0
####0.632.91#
[Link].66?
###?[Link].14,968#
[Link],205####
#####?2.366.672,499#####
?[Link].672,554#6.68##6.52##?[Link].348
#?2.026.88#
6.8 2,612#
#####?[Link],627####
?[Link].902,6450.49#####?[Link]
nSetelah melakukan tahap perancangan dan pe
mbuatan sistem yang kemudian dilanjutkan dengan tahap pengujian dan anal
isa maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut.1. Sensor LM35 dapat berfungsi
sebagai veloc
ity sensor untuk mengukur kecepatan angin dengan linearitas yang baik dan dapat
meningkatkan batas u
kur sampai 6,90 m/
s, tetapi memiliki ri
menggunakan PI controller hasilnya mendekati hasil pengukuran yang
[Link] angi
?
?
VI. Kesimp
2. yang lambat.e time dan fall time
Respon time hasil pengukuran dapat ditingkatkan dengan
[2]
Astrom K. J ,�Teory An Aplications Of Adaptive Control �, 1993
[3]
Bejo Agus, C & AVR Rahasia Kemudahan Bahasa C dalam Mikrokontroller ATMega 8535,
Yogyakarta: Graha Ilmu, 2008.
[4]
Harianto Arif,� Aplikasi Diode Sebagai Sensor Pada Alat Ukur Kecepatan Angin Type
Thermal,
Tugas akhir Jurusan Elektronika, PENS-ITS, 2005.
[5]
Ogata Katsuhiko ,�Teknik Kontrol Automatik �, Jakarta, Erlangga, 1994
[6]
Paul Malvino Albert, Prinsip-Prinsip Elektronika , Bandung: Erlangga, 2004.
[7]
Shimada Yoshihito, �Design Of Air Flowmeter Using Thermal Diode�, Transistor
Technique Megazine,
May 2003
[8]
[Link]/wiki/anemometer
[9]
[Link]/kecepatan/hertz
[10] [Link]/TR
[11] [Link]