BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Kinerja Guru
a. Pengertian Kinerja
Kinerja merupakan kegiatan yang dijalankan oleh tiap-tiap
individu dalam kaitannya untuk mencapai tujuan yang sudah
direncanakan. Berkaitan dengan hal tersebut terdapat beberapa
definisi mengenai kinerja. Smith dalam (Mulyasa, 2005: 136)
menyatakan bahwa kinerja adalah “…..output drive from processes,
human or otherwise”. Kinerja merupakan hasil atau keluaran dari
suatu proses. Dikatakan lebih lanjut oleh Mulyasa bahwa kinerja atau
performance dapat diartikan sebagai prestasi kerja, pelaksanaan
kerja, pencapaian kerja, hasil-hasil kerja atau unjuk kerja.
Kinerja merupakan suatu konsep yang bersifat universal yang
merupakan efektifitas operasional suatu organisasi, bagian
organisasi, dan karyawannya berdasarkan standar dan kriteria yang
telah ditetapkan sebelumnya. Karena organisasi pada dasarnya
dijalankan oleh manusia maka kinerja sesungguhnya merupakan
perilaku manusia dalam menjalankan perannya dalam suatu
organisasi untuk memenuhi standar perilaku yang telah ditetapkan
agar membuahkan tindakan serta hasil yang diinginkan.
16
15
Menurut Prawirasentono (1999: 2):
“Performance adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh
seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi,
sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing,
dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi yang
bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai
dengan moral ataupun etika”.
Dessler (1997: 513) menyatakan pengertian kinerja hampir sama
dengan prestasi kerja ialah perbandingan antara hasil kerja aktual
dengan standar kerja yang ditetapkan. Dalam hal ini kinerja lebih
memfokuskan pada hasil kerja.
Dari beberapa pengertian tentang kinerja tersebut di atas dapat
disimpulkan bahwa kinerja adalah prestasi kerja yang telah dicapai
oleh seseorang. Kinerja atau prestasi kerja merupakan hasil akhir dari
suatu aktifitas yang telah dilakukan seseorang untuk meraih suatu
tujuan. Pencapaian hasil kerja ini juga sebagai bentuk perbandingan
hasil kerja seseorang dengan standar yang telah ditetapkan. Apabila
hasil kerja yang dilakukan oleh seseorang sesuai dengan standar
kerja atau bahkan melebihi standar maka dapat dikatakan kinerja itu
mencapai prestasi yang baik.
Kinerja yang dimaksudkan diharapkan memiliki atau
menghasilkan mutu yang baik dan tetap melihat jumlah yang akan
diraihnya. Suatu pekerjaan harus dapat dilihat secara mutu terpenuhi
maupun dari segi jumlah yang akan diraih dapat sesuai dengan yang
direncanakan.
17
b. Pengertian Kinerja Guru
Kinerja guru mempunyai spesifikasi tertentu. Kinerja guru
dapat dilihat dan diukur berdasarkan spesifikasi atau kriteria
kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap guru. Berkaitan dengan
kinerja guru, wujud perilaku yang dimaksud adalah kegiatan guru
dalam proses pembelajaran. Berkenaan dengan standar kinerja guru
Sahertian sebagaimana dikutip Kusmianto (1997: 49) dalam buku
panduan penilaian kinerja guru oleh pengawas menjelaskan bahwa:
“Standar kinerja guru itu berhubungan dengan kualitas guru
dalam menjalankan tugasnya seperti: (1) bekerja dengan siswa
secara individual, (2) persiapan dan perencanaan pembelajaran,
(3) pendayagunaan media pembelajaran, (4) melibatkan siswa
dalam berbagai pengalaman belajar, dan (5) kepemimpinan
yang aktif dari guru”.
UU Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas
pasal 39 ayat (2), menyatakan bahwa pendidik merupakan tenaga
profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses
pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan
dan pelatihan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada
masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.
Keterangan lain menjelaskan dalam UU No. 14 Tahun 2005
Bab IV Pasal 20 (a) tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa
standar prestasi kerja guru dalam melaksanakan tugas
keprofesionalannya, guru berkewajiban merencanakan pembelajaran,
melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu serta menilai dan
mengevaluasi hasil pembelajaran. Tugas pokok guru tersebut yang
18
diwujudkan dalam kegiatan belajar mengajar merupakan bentuk
kinerja guru.
Pendapat lain diutarakan Soedijarto (1993) menyatakan ada
empat tugas gugusan kemampuan yang harus dikuasai oleh seorang
guru. Kemampuan yang harus dikuasai oleh seorang guru, yaitu: (1)
merencanakan program belajar mengajar; (2) melaksanakan dan
memimpin proses belajar mengajar; (3) menilai kemajuan proses
belajar mengajar; (4) membina hubungan dengan peserta didik.
Sedangkan berdasarkan Permendiknas No. 41 Tahun 2007 tentang
Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Menengah dijabarkan beban
kerja guru mencakup kegiatan pokok: (1) merencanakan
pembelajaran; (2) melaksanakan pembelajaran; (3) menilai hasil
pembelajaran; (4) membimbing dan melatih peserta didik; (5)
melaksanakan tugas tambahan.
Kinerja guru dapat dilihat saat dia melaksanakan interaksi
belajar mengajar di kelas termasuk persiapannya baik dalam bentuk
program semester maupun persiapan mengajar. Berkenaan dengan
kepentingan penilaian terhadap kinerja guru. Georgia Departemen of
Education telah mengembangkan teacher performance assessment
instrument yang kemudian dimodifikasi oleh Depdiknas menjadi
Alat Penilaian Kemampuan Guru (APKG). Alat penilaian
kemampuan guru, meliputi: (1) rencana pembelajaran (teaching
plans and materials) atau disebut dengan RPP (Rencana Pelaksanaan
19
Pembelajaran); (2) prosedur pembelajaran (classroom procedure);
dan (3) hubungan antar pribadi (interpersonal skill).
Proses belajar mengajar tidak sesederhana seperti yang terlihat
pada saat guru menyampaikan materi pelajaran di kelas, tetapi dalam
melaksanakan pembelajaran yang baik seorang guru harus
mengadakan persiapan yang baik agar pada saat melaksanakan
pembelajaran dapat terarah sesuai tujuan pembelajaran yang terdapat
pada indikator keberhasilan pembelajaran. Proses pembelajaran
adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh seorang guru mulai
dari persiapan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran sampai pada
tahap akhir pembelajaran yaitu pelaksanaan evaluasi dan perbaikan
untuk siswa yang belum berhasil pada saat dilakukan evaluasi.
Dari berbagai pengertian di atas maka dapat disimpulkan
definisi konsep kinerja guru merupakan hasil pekerjaan atau prestasi
kerja yang dilakukan oleh seorang guru berdasarkan kemampuan
mengelola kegiatan belajar mengajar, yang meliputi perencanaan
pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran dan
membina hubungan antar pribadi (interpersonal) dengan siswanya.
c. Faktor yang Mempengaruhi Kinerja
Kinerja dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut
Malthis dan Jackson (2001: 82) dalam Wikipedia, ada beberapa
faktor yang mempengaruhi kinerja.
“Faktor-faktor yang memengaruhi kinerja individu tenaga kerja,
yaitu: 1) Kemampuan mereka.
2) Motivasi.
20
3) Dukungan yang diterima.
4) Keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan. 5) Hubungan mereka
dengan organisasi”.
Sedangkan menurut Menurut Gibson (1987) masih dalam Wikipedia
menjelaskan ada 3 faktor yang berpengaruh terhadap kinerja.
“Tiga faktor tersebut adalah:
1) Faktor individu (kemampuan, ketrampilan, latar belakang
keluarga, pengalaman kerja, tingkat sosial dan demografi
seseorang).
2) Faktor psikologis (persepsi, peran, sikap, kepribadian, motivasi
dan kepuasan kerja).
3) Faktor organisasi (struktur organisasi, desain pekerjaan,
kepemimpinan, sistem penghargaan atau reward system)”.
Penjelasan lain mengenai faktor yang berpengaruh terhadap
kinerja dijelaskan oleh Mulyasa. Menurut Mulyasa (2007: 227)
sedikitnya terdapat sepuluh faktor yang dapat meningkatkan kinerja
guru, baik faktor internal maupun eksternal:
“Kesepuluh faktor tersebut adalah: (1) dorongan untuk bekerja,
(2) tanggung jawab terhadap tugas, (3) minat terhadap tugas, (4)
penghargaan terhadap tugas, (5) peluang untuk berkembang, (6)
perhatian dari kepala sekolah, (7) hubungan interpersonal dengan
sesama guru, (8) MGMP dan KKG, (9) kelompok diskusi terbimbing
serta (10) layanan perpustakaan”. Selanjutnya pendapat lain juga
dikemukakan oleh Surya (2004: 10) tentang faktor yang
mempengaruhi kinerja guru.
“Faktor mendasar yang terkait erat dengan kinerja profesional
guru adalah kepuasan kerja yang berkaitan erat dengan
kesejahteraan guru. Kepuasan ini dilaterbelakangi oleh
faktorfaktor: (1) imbalan jasa, (2) rasa aman, (3) hubungan
antar pribadi, (4) kondisi lingkungan kerja, (5) kesempatan
untuk pengembangan dan peningkatan diri”.
Berdasarkan penjelasan yang dikemukakan diatas, faktor-faktor
yang menentukan tingkat kinerja guru dapat disimpulkan antara lain:
21
(1) tingkat kesejahteraan (reward system); (2) lingkungan atau iklim
kerja guru; (3) desain karir dan jabatan guru; (4) kesempatan untuk
berkembang dan meningkatkan diri; (5) motivasi atau semangat
kerja;
(6) pengetahuan; (7) keterampilan dan; (8) karakter pribadi guru.
d. Penilaian Kinerja Guru
Penilaian kinerja guru merupakan suatu proses yang bertujuan
untuk mengetahui atau memahami tingkat kinerja guru satu dengan
tingkat kinerja guru yang lainnya atau dibandingkan dengan standar
yang telah ditetapkan. Hani Handoko (1994: 135) menjelaskan
bahwa, “penilaian prestai kerja (performance appraisal) adalah
proses melalui mana organisasi-organisasi mengevaluasi atau menilai
prestasi kerja karyawan”. Penilaian kinerja pada dasarnya merupakan
faktor kunci guna mengembangkan suatu organisasi secara efektif
dan efisien, karena adanya kebijakan atau program yang lebih baik
atas sumber daya manusia yang ada dalam organisasi.
Terdapat berbagai model instrumen yang dapat dipakai dalam
penilaian kinerja guru. Namun demikian, ada dua model yang paling
sesuai dan dapat digunakan sebagai instrumen utama, yaitu skala
penilaian dan lembar observasi atau penilaian. Skala penilaian
mengukur penampilan atau perilaku orang lain melalui pernyataan
perilaku dalam suatu kontinum atau kategori yang memiliki makna
atau nilai. Observasi merupakan cara mengumpulkan data yang biasa
digunakan untuk mengukur tingkah laku individu ataupun proses
22
terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati baik dalam situasi yang
alami sebenarnya maupun situasi buatan. Tingkah laku guru dalam
mengajar, merupakan hal yang paling cocok dinilai dengan
observasi.
Menilai kinerja guru adalah suatu proses menentukan tingkat
keberhasilan guru dalam melaksanakan tugas-tugas pokok mengajar
dengan menggunakan patokan-patokan tertentu. Bagi para guru,
penilaian kinerja berperan sebagai umpan balik tentang berbagai hal
seperti kemampuan, kelebihan, kekurangan dan potensinya. Bagi
sekolah hasil penilaian para guru sangat penting arti dan perannya
dalam pengambilan keputusan.
e. Manfaat Penilaian Kinerja Guru
Penilaian kinerja guru memiliki manfaat bagi sebuah sekolah
karena dengan penilaian ini akan memberikan tingkat pencapaian
dari standar, ukuran atau kriteria yang telah ditetapkan sekolah.
Sehingga kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam seorang guru
dapat diatasi serta akan memberikan umpan balik kepada guru
tersebut. Menurut Mangkupawira (2001: 224), manfaat dari penilaian
kinerja karyawan adalah: (1) perbaikan kinerja; (2) penyesuaian
kompensasi; (3) keputusan penetapan; (4) kebutuhan pelatihan dan
pengembangan; (5) perencanaan dan pengembangan karir; (6)
efisiensi proses penempatan staf; (7) ketidakakuratan informasi; (8)
kesalahan rancangan pekerjaan; (9) kesempatan kerja yang sama;
(10) tantangan-tantangan eksternal; (11) umpan balik pada SDM.
23
Sedangkan Mulyasa (2007: 157) menjelaskan tentang manfaat
penilaian tenaga pendidikan:
“Penilaian tenaga pendidikan biasanya difokuskan pada
prestasi individu, dan peran sertanya dalam kegiatan sekolah.
Penilaian ini tidak hanya penting bagi sekolah, tetapi juga
penting bagi tenaga kependidikan yang bersangkutan. Bagi
para tenaga kependidikan, penilaian berguna sebagai umpan
balik terhadap berbagai hal, kemampuan, ketelitian,
kekurangan dan potensi yang pada gilirannya bermanfaat untuk
menentukan tujuan, jalur, rencana, dan pengembangan karir.
Bagi sekolah, hasil penilaian prestasi tenaga kependidikan
sangat penting dalam mengambil keputusan berbagai hal,
seperti identifikasi kebutuhan program sekolah, penerimaan,
pemilihan, pengenalan, penempatan, promosi, sistem imbalan
dan aspek lain dari keseluruhan proses pengembangan sumber
daya manusia secara keseluruhan”.
Berdasarkan uraian di atas dapat dilihat bahwa penilaian
kinerja penting dilakukan oleh suatu sekolah untuk perbaikan kinerja
guru itu sendiri maupun untuk sekolah dalam hal menyusun kembali
rencana atau strategi baru untuk mencapai tujuan pendidikan
nasional. Penilaian yang dilakukan dapat menjadi masukan bagi guru
dalam memperbaiki dan meningkatkan kinerjanya. Selain itu
penilaian kinerja guru membantu guru dalam mengenal tugas-
tugasnya secara lebih baik sehingga guru dapat menjalankan
pembelajaran seefektif mungkin untuk kemajuan peserta didik dan
kemajuan guru sendiri menuju guru yang profesional.
Penilaian kinerja guru tidak dimaksudkan untuk mengkritik dan
mencari kesalahan, melainkan sebagai dorongan bagi guru dalam
pengertian konstruktif guna mengembangkan diri menjadi lebih
profesional dan pada akhirnya nanti akan meningkatkan kualitas
24
pendidikan peserta didik. Hal ini menuntut perubahan pola pikir serta
perilaku dan kesediaan guru untuk merefleksikan diri secara
berkelanjutan.
2. Kompetensi Profesional Guru
a. Pengertian Guru
Menurut UU No.14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen
menjelaskan tentang guru:
“Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih,
menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak
usia dini jalur formal, pendidikan dasar, dan menengah”.
Kemudian menurut Sardiman (2006: 125), “guru adalah salah satu
komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar yang turut
berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang
potensial di bidang pembangunan”.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa guru adalah
semua orang yang mempunyai keahlian khusus dalam mendidik,
mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik serta mempunyai jabatan profesional di
mana dia mempunyai wewenang dan tanggung jawab terhadap
peserta didiknya.
b. Syarat Guru
Syarat guru dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19
tahun 2005 yang tertuang dalam pasal 28.
“Syarat guru yaitu:
25
1) Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan
kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan
rohani serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan
tujuan pendidikan nasional.
2) Kualifikasi sebagaimana dimaksud di atas adalah tingkat
pedidikan minimum yang harus dipenuhi oleh seorang
pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan atau sertifikat
keahlian yang relevan sesuai ketentuan yang berlaku.
3) Kompetensi sebagai agen pembelajaran meliputi:
a) Kompetensi pedagogik.
b) Kompetensi profesional
c) Kompetensi sosial.
d) Kompetensi kepribadian.
4) Seseorang yang tidak memiliki ijazah dan atau
sertifikatsertifikat keahlian sebagaimana dimaksud di atas
tetapi memiliki keahlian khusus yang diakui dan diperlukan
dapat diangkat menjadi pendidik setelah melewati uji
kelayakan dan kesetaraan”.
Istilah profesi selalu menyangkut tentang pekerjaan. Tetapi
tidak semua pekerjaan dapat disebut sebagai suatu profesi. Guru
sebagai suatu profesi harus memenuhi kriteria profesional menurut
(Hamalik,
2003: 36-38 dari hasil lokakarya pembinaan Kurikulum Pendidikan
Guru UPI Bandung).
“Kriteria profesional tersebut dijelaskan sebagai berikut:
1) Fisik, meliputi: sehat jasmani dan rohani, tidak mempunyai
cacat tubuh yang bisa menimbulkan ejekan atau cemoohan
maupun rasa kasihan dari peserta didik.
2) Mental atau kepribadian, meliputi: berjiwa Pancasila;
menghayati GBHN; mencintai bangsa dan sesama manusia
dan rasa kasih sayang kepada peserta didik; berbudi pekerti
luhur; berjiwa kreatif dapat memanfaatkan rasa
kependidikan yang ada secara maksimal; mampu
menyuburkan sikap demokrasi dan penuh tenggang rasa;
mampu mengembangkan kreativitas dan tanggung jawab
yang besar akan tugasnya; mampu mengembangkan
kecerdasan yang tinggi; bersifat terbuka, peka dan inovatif;
menunjukkan rasa cinta kepada profesinya; ketaatan akan
disiplin; dan memiliki sense of humor.
26
3) Keilmiahan atau pengetahuan, meliputi: memahami ilmu
yang dapat melandasi pembetukan pribadi; memahami ilmu
pendidikan dan keguruan dan mampu menerapkannya dalam
tugasnya sebagai pendidik; memahami, menguasai, serta
mencintai ilmu pengetahuan lain; senang membaca
bukubuku ilmiah; mampu memecahkan persoalan secara
sistematis, terutama yang berhubungan dengan bidang studi;
dan memahami prinsip-prinsip kegiatan belajar-mengajar.
4) Keterampilan, meliputi: mampu berperan sebagai
organisator proses belajar mengajar; mampu menyusun
bahan pelajaran atas dasar pendekatan struktural,
interdisipliner, fungsional, behavior, dan teknologi; mampu
menyusun GBPP; mampu memecahkan dan melaksanakan
teknik-teknik mengajar yang baik dalam mencapai tujuan
pendidikan; mampu merencanakan dan mengevaluasi
pendidikan; dan memahami dan melaksanakan kegiatan dan
pendidikan luar sekolah”.
Implikasi dari peranan guru dalam bidang kependidikan pada
umumnya dan bidang pengajaran pada khususnya, maka guru
sebagai suatu profesi dituntut bagi penyandangnya untuk memiliki
kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan kepribadian yang
mantap sebagai prasyarat bagi pencapaian performanya. Dalam
rangka menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas peran
guru tidak dapat diabaikan, dimana melalui guru yang benar-benar
profesional dalam mengelola pendidikan dan pembelajaran,
diharapkan dapat mengkontribusikan output pendidikan yang
berkualitas.
c. Kompetensi Guru
Adanya kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap guru
tentunya mempunyai maksud dan tujuan tertentu yang berimbas pada
berbagai aspek kependidikan. Pentingnya kompetensi guru tersebut
menurut Hamalik (2003: 35) bagi dunia pendidikan antara lain: (1)
27
kompetensi guru sebagai alat seleksi penerimaan guru, (2)
kompetensi guru penting dalam rangka pembinaan guru, (3)
kompetensi guru penting dalam rangka penyusunan kurikulum, (4)
kompetensi guru penting dalam hubungannya dengan kegiatan dan
hasil belajar siswa.
Kompetensi merupakan kemampuan seseorang baik kualitatif
maupun kuantitatif. Menurut UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru
dan Dosen, “kompetensi adalah seperangkat pengetahuan,
keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan
dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas
keprofesionalan”. Depdiknas (2004: 7) dalam Rasto merumuskan
definisi kompetensi sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-
nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan
bertindak.
Kompetensi merupakan kemampuan, kecakapan, dan
keterampilan yang dimiliki seseorang berkenaaan dengan tugas,
jabatan maupun profesinya (Triyanto, 2006: 62). Kompetensi bersifat
kompleks dan merupakan satu kesatuan yang utuh yang
menggambarkan potensi, pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai,
yang dimiliki seseorang yang terkait dengan profesi tertentu
berkenaan dengan bagian-bagian yang dapat diaktualisasikan atau
diwujudkan dalam bentuk tindakan atau kinerja untuk menjalankan
profesi tersebut (Dikti, 2001: 9).
28
Majid (2005: 6) dalam Rasto menjelaskan, kompetensi yang
dimiliki oleh setiap guru akan menunjukkan kualitas guru dalam
mengajar. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk
penguasaan pengetahuan dan profesional dalam
menjalankan
fungsinya sebagai guru.
Jadi kompetensi guru adalah kecakapan, kemampuan dan
keterampilan yang dimiliki oleh seorang yang bertugas mendidik
peserta didiknya agar mempunyai kepribadian yang luhur dan
keterampilan sebagaimana tujuan dari pendidikan. Oleh karena itu
kompetensi guru menjadi tuntutan dasar bagi seorang guru.
Jabatan guru adalah suatu jabatan profesi, dimana harus bekerja
secara profesional. Guru profesional adalah guru yang memiliki
kompetensi-kompetensi yang dituntut agar mampu melaksanakan
tugasnya secara baik dalam melaksanakan fungsi dan tujuan sekolah.
Agar kualifikasi guru terpenuhi sebagai tenaga pendidik yang
profesional maka pemerintah membuat peraturan terkait hal tersebut.
d. Kompetensi Profesional Guru
Menurut UU No.14 tahun 2005 tentang guru dan dosen,
kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi
pelajaran secara luas dan mendalam. Yang dimaksud dengan
penguasaan materi secara luas dan mendalam dalam hal ini termasuk
kemampuan untuk membimbing peserta didik agar memenuhi
29
standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional
Pendidikan.
Ditjen PMTK (2008: 7) menguraikan tentang kompetensi
profesional yaitu kemampuan yang harus dimiliki guru untuk
membimbing peserta didiknya dalam proses pembelajaran. Guru
mempunyai tugas untuk mengarahkan kegiatan belajar siswa untuk
mencapai kompetensi yang diharapkan.
Surya (2003: 138) dalam Rasto mengemukakan kompetensi
profesional adalah berbagai kemampuan yang diperlukan agar dapat
mewujudkan dirinya sebagai guru profesional, yang meliputi
kepakaran atau keahlian dalam bidangnya yaitu penguasaan bahan
yang harus diajarkannya beserta metodenya, sehingga dapat
membimbing peseta didik mencapai standar kompetensi yang telah
ditentukan.
Dalam pelaksanaan tugasnya guru dituntut untuk memiliki
penguasaan kemampuan akademik dan keterampilan lainnya yang
berperan sebagai pendukung profesionalisme guru. Kemampuan
akademik tersebut antara lain, memiliki kemampuan dalam
menguasai ilmu, memiliki kemampuan untuk melakukan penelitian
ilmiah yang dapat mendukung profesinya, menguasai wawasan dan
landasan pendidikan. Sedangkan kemampuan keterampilan adalah
kemampuan untuk mengembangkan kompetensi untuk mendukung
profesinya.
30
Dari berbagai pengertian di atas tentang kompetensi
profesional guru maka dapat disimpulkan bahwa kompetensi
profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pelajaran
secara luas dan mendalam. Sehingga memungkinkan guru untuk
membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi sesuai
dengan Standar Nasional
Pendidikan.
Ditjen PMTK (2008: 7) menguraikan tentang kemampuan yang
harus dimiliki guru untuk menunjang kompetensi profesional guru
sehingga mampu membimbing peserta didiknya dalam proses
pembelajaran untuk mencapai standar kompetensi yang ditetapkan.
“Kemampuan yang harus dimiliki guru dalam proses
membimbing peserta didiknya yaitu: (a) menguasai materi,
struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung
mata pelajaran yang diampu; (b) mengembangkan
keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan
tindakan reflektif melalui penelitian ilmiah dan membuat karya
ilmiah; (c) mengembangkan materi pelajaran yang diampu
secara kreatif; (d) memanfaatkan teknologi informasi dan
komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan
profesinya sebagai guru; (e) menguasai landasan pendidikan
berupa Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata
pelajaran atau bidang pengembangan yang diampu”.
Johnson sebagaimana dikutip Anwar (2004: 63) mengemukakan
kemampuan profesional mencakup: (1) penguasaan pelajaran yang
terkini atas penguasaan bahan yang harus diajarkan, dan
konsepkonsep dasar keilmuan bahan yang diajarkan tersebut; (2)
penguasaan dan penghayatan atas landasan dan wawasan
kependidikan dan keguruan; (3) penguasaan penelitian tindakan
kelas dan menyusun karya ilmiah.
31
Depdiknas (2004: 9) dalam Rasto mengemukakan kompetensi
profesional guru meliputi penguasaan bahan kajian akademik,
melakukan penelitian dan menyusun karya ilmiah, pengembangan
profesi, dan pemahaman wawasan pendidikan.
“Penguasaan bahan kajian akademik meliputi: (1) memahami
struktur pengetahuan, (2) menguasai substansi materi, (3)
menguasai substansi kekuasaan sesuai dengan jenis pelayanan
yang dibutuhkan siswa.
Melakuan penelitian ilmiah dan penyusunan karya ilmiah
meliputi: (1) melakukan penelitian ilmiah (action research);
(2) menulis makalah; (3) menulis atau menyusun diktat
pelajaran; Pengembangan profesi meliputi: (1) mengikuti
informasi perkembangan IPTEK yang mendukung profesi
melalui berbagai kegiatan ilmiah; (2) mengembangkan
berbagai model pembelajaran, (3) membuat alat peraga atau
media, (4) mengikuti pelatihan terakreditasi.
Pemahaman wawasan pendidikan meliputi: (1) memahami visi
dan misi, (2) memahami hubungan pendidikan dengan
pengajaran; (3) mengidentifikasi permasalahan umum
pendidikan dalam hal proses dan hasil belajar, (4) membangun
sistem yang menunjukkan keterkaitan pendidikan dan luar
sekolah”.
Berdasarkan Permendiknas No. 16 Tahun 2007 dijelaskan
tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru guna
menunjang kompetensi profesional guru.
“Kompetensi profesional meliputi:
1) Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan
yang mendukung mata pelajaran yang diampu.
2) Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata
pelajaran yang diampu.
3) Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara
kreatif.
4) Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan
dengan melakukan tindakan reflektif.
5) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk
mengembangkan profesi”.
32
Dari berbagai pengertian di atas terkait kompetensi profesional
guru dan aspek-aspek yang terkandung di dalamnya, maka definisi
konsep kompetensi profesional guru merupakan kemampuan
penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi
kemampuan guru dalam penguasaan bahan kajian akademik,
penelitian ilmiah dan penyusunan karya ilmiah, pengembangan
profesi, serta pemahaman wawasan dan landasan pendidikan.
Sehingga memungkinkan guru untuk membimbing peserta didik
memenuhi standar kompetensi sesuai dengan Standar Nasional
Pendidikan.
3. Motivasi Kerja
a. Pengertian Motivasi Kerja
Istilah motivasi kerja berasal dari bahasa latin “movere” yang
sama dengan “to move” dalam bahasa Inggris yang berarti mendorong
atau menggerakkan. Menurut G.R. Terry dalam Hasibuan (2005: 145),
“motivasi adalah keinginan yang terdapat pada diri seseorang individu
yang merangsangnya untuk melakukan tindakan-tindakan”. Menurut
Greenberg dan Baron (Djatmiko, 2005: 67) dalam Muhidin
mendefinisikan bahwa “motivasi adalah suatu proses yang
mendorong, mengarahkan dan memelihara perilaku manusia kearah
pencapaian suatu tujuan”. Menurut McClleand dalam Mulyasa (2005:
145) motivasi adalah unsur penentu yang mempengaruhi perilaku
yang terdapat dalam setiap individu. Motivasi adalah daya penggerak
33
yang telah menjadi aktif, yang terjadi pada saat tertentu, terutama bila
kebutuhan untuk mencapai tujuan sempat dirasakan atau mendesak.
Sedangkan menurut Hasibuan (2007: 65), “motivasi adalah
pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja
seseorang agar mereka mau bekerja sama, efektif dan terintegrasi
dengan segala upayanya untuk mencapai kepuasan”. Motivasi kerja
adalah sesuatu yang menimbulkan semangat atau dorongan kerja.
Oleh sebab itu, motivasi kerja dalam psikologi kerja disebut sebagai
pendorong semangat kerja (Anoraga, 1992: 35).
Istilah motivasi dalam ilmu perilaku mengandung makna yang
komplek karena di dalamnya termuat berbagai aspek yang mendorong
manusia untuk bertingkah laku. Motivasi merupakan pemberian atau
penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mau
bekerja sama, bekerja secara efektif dan terintergrasi dengan segalaya
daya dan upaya untuk mencapai kepuasan.
Dari berbagai pengertian di atas tentang motivasi kerja yang
dikemukakan para pakar, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi
adalah sebagai suatu kondisi di dalam pribadi seseorang yang
mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan
tertentu guna mencapai tujuan. Jadi motivasi kerja merupakan kondisi
psikologis yang mendorong seseorang melakukan usaha menghasilkan
sesuatu sehingga dapat tercapai suatu tujuan.
34
b. Teori Motivasi Kerja
Manusia adalah makhluk sosial yang memiliki kebutuhan,
perasaan, pikiran dan motivasi. Setiap manusia dalam melaksanakan
suatu kegiatan pada dasarnya di dorong oleh motivasi. Orang mau
bekerja keras dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan dan
keinginan dari hasil pekerjaannya. Telah banyak teoritis psikologi
yang telah mengemukakan teori-teorinya tentang kebutuhan dasar
manusia.
Teori-teori ini didasarkan pada hasil-hasil penelitian yang dilakukan
selama bertahun-tahun. Menurut Miftah Toha (1993: 221) terdapat
teori-teori motivasi yang digunakan sebagai acuan dalam motivasi
kerja, teori tersebut adalah Teori Hirarki Kebutuhan, Teori Dua
Faktor,
Teori ERG, Teori Tiga Motif Sosial.
1) Teori Hirarki Kebutuhan
Maslow membedakan tingkat kebutuhan manusia menjadi lima
hirarki yaitu: fisiologi, rasa aman, sosial, harga diri, dan aktualisasi
diri. Teori hierarki kebutuhan ini menyatakan bahwa manusia
dimotivasi untuk memuaskan sejumlah kebutuhan yang melekat
pada diri setiap manusia. Sesuai dengan teori hierarki kebutuhan
Maslow, orang cenderung untuk memenuhi kebutuhan yang
dirasakan sebagai kebutuhan pokok kemudian kebutuhan-
kebutuhan yang lebih tinggi. Dalam proses pemenuhan kebutuhan,
35
perilaku individu akan didominasi dan ditentukan oleh jenis
kebutuhan yang belum terpenuhi.
2) Teori Dua Faktor
Herzberg menyimpulkan bahwa ada dua faktor yang
menyebabkan kepuasan dan ketidakpuasan yaitu:
a) Faktor hygiene meliputi balas jasa, kondisi kerja, kepastian
pekerjaan, hubungan kerja, kehidupan pribadi.
b) Faktor motivators antara lain adalah kesempatan pencapaian
prestasi, adanya penghargaan, adanya pekerjaan kreatif dan
menantang, tanggung jawab serta kesempatan mengembangkan
diri.
Dalam implementasinya di lingkungan organisasi, teori ini
menekankan pentingnya menciptakan keseimbangan antara kedua
faktor tersebut. Jika salah satu diantaranya tidak terpenuhi maka
akan mengakibatkan pekerja menjadi tidak efektif dan tidak efisien.
Faktor motivator yang menyebabkan pegawai mengerahkan segala
tenaga yang dimiliknya demi pencapaian kinerja yang lebih tinggi
dan teori ini menyarankan agar manajer memanfaatkan faktor
motivator sebagai alat untuk meningkatkan kinerja pegawai.
3) Teori ERG Aldefer’s
Teori ini merupakan penyempurnaan dari teori hirarki
kebutuhan Maslow. Alderfer mengemukakan tiga kebutuhan yang
melandasi perilaku manusia, yaitu:
36
a) Existence,merupakan kebutuhan mendasar manusia bertahan
hidup.
b) Relatedness,merupakan kebutuhan melakukan interaksi dengan
sesama.
c) Growth, merupakan kebutuhan untuk menyalurkan kreatifitas
dan bersikap produktif.
4) Teori Tiga Motif Sosial
McClelland mengemukakan tiga jenis motif yang
mempengaruhi tingkah laku manusia, yaitu:
a) Kebutuhan akan prestasi (n Ach)
Kebutuhan akan prestasi merupakan daya penggerak yang
memotivasi semangat bekerja seseorang. Kebutuhan akan
prestasi ini akan mendorong seseorang untuk mengerahkan
seluruh kemampuan yang dimilikinya guna mencapai prestasi
kerja yang maksimal asalkan diberi kesempatan untuk
melakukannya. Pegawai yang menyadari bahwa dengan prestasi
kerja yang tinggi maka akan diperoleh pendapatan yang lebih
tinggi. Dan dengan pendapatannya tersebut maka kebutuhannya
akan terpenuhi.
b) Kebutuhan akan afiliasi (n Af)
Kebutuhan akan afiliasi menjadi daya penggerak yang akan
memotivasi pegawai sehingga menjadi termotivasi, kemudian
berusaha mengembangkan dirinya serta memanfaatkan semua
energi yang dimilikinya untuk menyelesaikan tugas. Kebutuhan
37
akan afiliasi ini mendorong gairah bekerja seseorang karena
setiap orang menginginkan:
(1) Kebutuhan akan perasaan diterima oleh orang lain di
lingkungan kerja.
(2) Kebutuhan akan perasaan dihormati.
(3) Kebutuhan akan perasaan maju dan tidak gagal.
(4) Kebutuhan akan perasaan ikut serta.
c) Kebutuhan akan kekuasaan (n Pow)
Kebutuhan akan kekuasaan merangsang dan memotivasi
seseorang untuk mengerahkan kemampuan yang dimilikinya
agar dapat memperoleh kekuasaan atau kedudukan yang lebih
baik.
Kebutuhan akan kekuasaan ini akan menimbulkan persaingan.
Seorang atasan harus mampu memotivasi pegawainya dengan
menciptakan persaingan yang sehat.
Dalam proses pemenuhan kebutuhan, perilaku individu akan
didominasi dan ditentukan oleh jenis kebutuhan yang belum terpenuhi.
Perilaku pada dasarnya dimotivasi oleh suatu keinginan mencapai
tujuan. Kebutuhan yang telah terpenuhi akan berkurang dalam
kekuatannya dan biasanya tidak memotivasi individu tersebut untuk
mencari tujuan guna memenuhinya.
Dari berbagai pengertian di atas terkait motivasi kerja dan
aspekaspek yang terkandung di dalamnya maka dapat disimpulkan
definisi konsep motivasi kerja dalam penelitian ini adalah dorongan
38
dan upaya seseorang untuk bekerja dalam rangka memenuhi
kebutuhan berprestasi, untuk berafiliasi, untuk mendapat penghargaan
dan dorongan akan aktualisasi diri.
c. Pandangan tentang Motivasi Kerja Guru
Menurut Hasibuan (2007: 100) terdapat 2 (dua) metode
motivasi, yaitu:
1) Metode Langsung (Direct Motivation)
Motivasi langsung merupakan motivasi yang diberikan secara
langsung pada pegawai baik dalam bentuk materiil maupun
nonmateriil untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pegawai.
2) Metode Tidak Langsung (Indirect Motivation)
Motivasi tidak langsung merupakan motivasi yang diberikan
pada pegawai dalam bentuk fasilitas-fasilitas yang mendukung serta
menunjang gairah kerja atau kelancaran tugas, sehingga pegawai
menjadi betah dan semangat dalam bekerja.
Untuk lebih dapat memahami motivasi maka diperlukan suatu
pendekatan. Terdapat 3 (tiga) model pendekatan motivasi. Menurut
Hani Handoko (1994: 252-253) ada beberapa model motivasi dengan
urutan atas dasar kemunculannya, yaitu:
1) Model Tradisional
Model tradisional ini menyatakan bahwa pimpinan
mengisyaratkan pekerjaan harus dilakukan dengan menggunakan
sistem pengupahan insentif untuk memotivasi. Pandangan ini
39
menganggap bahwa pekerja pada dasarnya hanya dapat dimotivasi
dengan penghargaan berupa uang.
2) Model Hubungan Manusiawi
Menurut Elton Mayo dalam Hani Handoko (1994: 253)
menemukan bahwa kontak sosial pekerja dengan pekerjaannya
adalah sangat penting dan kebosanan pada tugas yang bersifat
pengulangan adalah mengurangi motivasi kerja. Menurut Elton
Mayo, pimpinan mampu memotivasi lewat hubungan sosial
mereka.
3) Model Sumber Daya Manusia
Menurut Mc Gregor dan Maslow yang dikutip oleh Hani
Handoko (1994: 253) menyatakan bahwa para pekerja dimotivasi
oleh banyak faktor, tidak hanya uang atau keinginan mencapai
kepuasan, tapi juga kebutuhan untuk berprestasi dan memperoleh
pekerjaan, yang berarti karyawan lebih menyukai pemenuhan
kepuasan dari suatu prestasi kerja yang lebih baik.
Berdasarkan beberapa pandangan tentang motivasi kerja diatas,
dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja guru dapat muncul karena
adanya imbalan uang, kepuasan kerja yang ditunjukan dengan prestasi
kerja oleh guru, hubungan sosial yang baik, mendapat pengakuan dan
kesempatan untuk mengembangkan kemampuan.
d. Tujuan Pemberian Motivasi
Motivasi dan tujuan adalah sesuatu yang hendak dicapai oleh
suatu perbuatan dan jika telah tercapai maka akan memuaskan
40
kebutuhan individual. Adanya tujuan yang jelas dan disadari akan
mempengaruhi kebutuhan, yang nantinya akan mendorong timbulnya
motivasi dalam diri seseorang. Peranan motivasi menurut Martinis
Yamin (2006: 176-177) adalah untuk: (1) mendorong timbulnya
kelakuan atau suatu perbuatan, (2) motivasi berfungsi sebagai pengarah,
mengarahkan perbuatan pada pencapaian tujuan yang diinginkan, (3) motivasi
berfungsi sebagai penggerak.
Fungsi motivasi yaitu untuk mendorong timbulnya tingkah laku
atau suatu perbuatan dan mempengaruhi serta mengubah tingkah laku.
Tanpa motivasi tidak akan timbul suatu perbuatan ataupun tindakan.
Motivasi berfungsi sebagai pengarah artinya mengarahkan perbuatan
untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Sedangkan motivasi sebagai
penggerak mempunyai pengertian dengan besar kecilnya motivasi
maka akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.
Menurut Hasibuan (2007: 97) pemberian motivasi mempunyai
beberapa tujuan.
“Tujuan pemberian motivasi antara lain adalah: (1) mendorong
gairah dan semangat kerja karyawan; (2) meningkatkan moral
dan kepuasan kerja karyawan; (3) meningkatkan produktifitas
kerja karyawan; (4) mempertahankan loyalitas dan kestabilan
karyawan; (5) meningkatkan kedisiplinan dan menurunkan
tingkat absensi karyawan; (6) mengefektifkan pengadaan
karyawan; (7) menciptakan suasana dan hubungan kerja yang
baik; (8) meningkatkan tingkat kesejahteraan karyawan; (9)
meningkatkan kreativitas dan partisipasi karyawan; (10)
mempertinggi rasa tanggung jawab karyawan terhadap
tugastugasnya”.
Berdasarkan penjelasan tersebut, motivasi kerja guru memiliki
41
fungsi untuk mendorong, mengarahkan, meningkatkan,
mempertahankan dan menggerakkan suatu perbuatan guru untuk
mencapai tujuan.
e. Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Kerja
Menurut Ati Cahayani (2003: 61-62) motivasi orang bekerja
secara umum diklasifikasikan dalam dua faktor, yaitu:
1) Faktor Internal
Adalah faktor yang dibentuk oleh kebutuhan, keinginan dan
harapan yang terdapat dalam diri individu. Misalnya perasaan
berprestasi, pengakuan, perasaan kebebasan, dan sikap terhadap
pekerjaan.
2) Faktor Eksternal
Adalah suatu dorongan yang terdapat dalam diri individu yang
mudah dipengaruhi oleh pihak luar. Misalnya gaji, promosi,
perlakuan rekan kerja, dan kondisi kerja.
Berdasarkan keterangan diatas, faktor yang mempengaruhi
motivasi kerja guru terdiri dari faktor internal dan eksternal,termasuk
didalamnya adalah keinginan untuk berprestasi, kebebasan dalam
melaksanakan tugas, pengakuan, tanggung jawab, gaji, promosi, sikap
terhadap pekerjaan, hubungan dengan rekan kerja dan lingkungan
kerja.
4. Disiplin Kerja
42
a. Pengertian Disiplin Kerja
Disiplin berasal dari kata disciple yang berarti latihan. Hasibuan
(2005: 193) menjelaskan, “kedisiplinan adalah kesadaran dan
kesediaan seseorang mentaati semua peraturan organisasi dan norma-
norma sosial yang berlaku”. Kedisiplinan yang merupakan fungsi
operatif manajemen sumber daya manusia yang terpenting karena
semakin disiplin pekerja, maka akan semakin baik prestasi kerjanya.
Dalam bahasa Indonesia istilah disiplin kerap kali terkait dan
menyatu dengan istilah tata tertib dan ketertiban. Nitisemito (1984:
199) mengemukakan pengertian kedisiplinan sebagai suatu sikap,
tingkah laku dan peraturan yang sesuai dengan peraturan organisasi
baik yang tertulis maupun tidak. Disiplin yang baik mencerminkan
besarnya tanggung jawab seseorang terhadap tugas-tugas yang
diberikan kepadanya.
Menurut Prijodarminto (1994) dalam Amanah Agustin
menjelaskan disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk
melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai
ketaatan, kesetiaan, dan ketertiban. Pendapat yang lain mengenai
disiplin dikemukakan oleh (Sinungan, 1992: 145) mengatakan:
“Disiplin adalah sebagai sikap mental yang tercermin dalam
perbuatan atau tingkah laku perorangan, kelompok atau
masyarakat berupa ketaatan-ketaatan yang ditetapkan
pemerintah atau etika, norma, dan atau kaidah-kaidah yang
berlaku untuk tujuan tertentu”.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa
disiplin kerja adalah sikap kesetiaan dan ketaatan seseorang atau
43
sekelompok orang terhadap peraturan-peraturan pada suatu organisasi
untuk tujuan tertentu dengan kesadaran akan tugas dan kewajibannya.
Jadi disiplin dapat sebagai sikap mengendalikan diri, dan disiplin
dapat menjadi ketertiban lingkungan. Disiplin sebagai sikap
mengendalikan diri sendiri didasarkan pada kesadaran dan rasa
tanggung jawab pada tugas yang diemban, sedangkan disiplin sebagai
suatu ketertiban lingkungan didasarkan pada kepatuhan melaksanakan
nilai, aturan, ketertiban, dan norma yang ada.
Sikap kesetiaan dan ketaatan mempunyai aspek-aspek yang
dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana tingkat kedisiplinan
seseorang terhadap peraturan yang ada. Terkait dengan kedisiplinan
dalam kehidupan berorganisasi menurut Simamora (1997) dalam
Amanah Agustin dijelaskan keadaan disiplin kerja dari karyawan yang
dikategorikan ideal.
“Disiplin kerja dapat dikatakan ideal apabila memenuhi syarat
sebagai berikut:
1) Para karyawan datang ke kantor teratur dan tepat waktu.
2) Berpakaian rapi dan sopan ditempat kerja.
3) Menggunakan bahan dan perlengkapan perusahaan dengan
hati-hati.
4) Menghasilkan jumlah dan kualitas pekerjaan yang
memuaskan.
5) Mengikuti cara kerja yang ditentukan oleh organisasi.
6) Menyelesaikan tugas dengan semangat dan dedikasi yang
tinggi”.
Pendapat lain dikemukan Amriany, dkk. (2004: 182) menyebutkan
tentang aspek-aspek disiplin kerja. Aspek-aspek tersebut antara lain:
(1) kehadiran; (2) waktu kerja; (3) kepatuhan terhadap perintah; (4)
produktivitas kerja; (5) kepatuhan terhadap peraturan; (6) pemakaian
44
seragam. Sedangkan menurut Soejono (1986: 67) disiplin kerja dapat
dikatakan baik apabila memenuhi syarat: (1) para karyawan datang
tepat waktu, tertib dan teratur; (2) berpakaian rapi, (3) penggunaan
perlengkapan atau peralatan kantor dengan hati-hati; (4) menghasilkan
pekerjaan yang memuaskan; (5) kesetiaan atau patuh pada peraturan
yang ada; (6) memiliki tanggung jawab.
Berdasarkan pengertian disiplin kerja yang dikemukakan para
pakar maka dapat disimpulkan definisi konsep disiplin kerja dalam
penelitian ini adalah sikap kesetiaan dan ketaatan seseorang atau
sekelompok orang terhadap suatu organisasi untuk tepat waktu,
memanfaatkan dan menggunakan perlengkapan dengan baik,
menghasilkan pekerjaan yang memuaskan, mengikuti cara kerja yang
telah ditentukan dan memiliki tanggung jawab yang tinggi sehingga
tercapai suatu tujuan.
b. Jenis-jenis Disiplin Kerja
Dalam setiap organisasi yang diinginkan adalah jenis disiplin
yang timbul dari diri sendiri atas dasar kerelaan dan kesadaran. Akan
tetapi dalam kenyataan selalu menyatakan bahwa disiplin itu lebih
banyak disebabkan oleh adanya paksaan dari luar. Untuk itu perlu
adanya pelaksanaan kegiatan pendisiplinan yang mencakup disiplin
preventif dan disiplin korektif.
Hani Handoko (1994: 208) mengemukakan mengenai disiplin
kerja, ada dua tipe kegiatan pendisiplinan yaitu:
1) Disiplin Preventif
45
Disiplin preventif merupakan kegiatan yang dilaksanakan
untuk mendorong para pekerjanya untuk mengikuti berbagai
standar dan aturan sehingga penyelewengan-penyelewengan dapat
dicegah.
Lebih utama dalam hal ini adalah dapat ditumbuhkan self dicipline
(disiplin diri) pada setiap pekerja tanpa kecuali. Untuk
memungkinkan iklim yang penuh disiplin kerja tanpa paksaan
tersebut, tentunya diperlukan standar atau aturan itu sendiri bagi
setiap pekerja, dengan demikian dapat dicegah
kemungkinankemungkinan timbulnya pelanggaran-pelanggaran
atau
penyimpangan dari standar yang telah ditentukan.
2) Disiplin Korektif
Disiplin korektif merupakan kegiatan yang diambil untuk
menangani pelanggaran yang telah terjadi terhadap aturan-aturan
dan mencoba untuk menghindari pelanggaran lebih lanjut, kegiatan
korektif ini dapat berupa suatu hukuman atau tindakan
pendisiplinan (dicipline action) yang wujudnya berupa scorsing.
Semua bentuk pendisiplinan tersebut harus bersifat positif dan
tidak membuat pekerja merasa terbelakang dan kurang bergairah
dalam bekerja dan bersifat mendidik serta dapat mengoreksi
kekeliruan agar di masa mendatang tidak terulang kesalahan yang
sama.
46
c. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Kedisiplinan
Terdapat beberapa faktor yang dapat menentukan kedisiplinan
dari karyawan dalam sustu organisasi. Selain itu juga terdapat
beberapa indikator yang dapat mempengaruhi tinggi rendahnya
disiplin dari karyawan. Tohardi (2002) dalam I Wayan Siwantara
menyebutkan ada beberapa faktor yang menentukan disiplin kerja
karyawan: (1) funishment and reward, (2) motivasi, (3) keteladanan
pemimpin, (4) lingkungan sosial yang kondusif, (5) lingkungan fisik
yang nyaman.
Sedangkan Hasibuan (2001) masih dalam I Wayan Siwantara
menyebutkan tentang indikator yang mempengaruhi tingkat
kedisiplinan karyawan, antara lain: (1) tujuan dan kemampuan, (2)
teladan pemimpin, (3) balas jasa, (4) keadilan, (5) waskat, (6) sanksi
hukuman, (7) ketegasan, (8) hubungan kemanusiaan.
d. Aspek-Aspek Disiplin Kerja
Displin kerja mempunyai beberapa aspek yang dapat terlihat dari
perilaku guru yang dapat diamati. Menurut Prijodarminto (1994)
dalam
Amanah Agustin menjelaskan disiplin mempunyai tiga aspek.
“Aspek tersebut yaitu:
1) Sikap mental atau attitude, yang merupakan sikap taat dan
tertib sebagai hasil atau pengembangan pengendalian
pikiran dan pengendalian watak.
2) Pemahaman yang baik mengenai sistem atau perilaku,
norma kriteria dan standar yang sedemikian rupa sehingga
memiliki pemahaman yang mendalam atau kesadaran akan
aturan, norma, kriteria dan standar tersebut merupakan
syarat mutlak untuk mencapai keberhasilan.
47
3) Sikap kelakuan yang secara wajar yang menunjukkan
kesungguhan hati untuk mentaati segala hal secara cermat
dan tertib”.
Seseorang yang berhasil dalam menempuh karirnya adalah
mereka yang mempunyai disiplin kerja yang tinggi. Sehingga dalam
pola perilaku tersusun dengan rapi dan mendetail serta direalisasikan
pada tiap-tiap pekerjaan. Guru yang disiplin akan tepat waktu dalam
istirahat, makan dan berolahraga sehingga fisik dapat terjaga untuk
melaksanakan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Dengan
demikian ciri utama dari kedisiplinan adalah keteraturan dan
ketertiban.
B. Hasil Penelitian yang Relevan
Penelitian sebelumnya yang dapat menjadi masukan bagi peneliti
antara lain penelitian yang dilakukan oleh:
Penelitian yang dilakukan oleh Anton Wardoyo dalam ”Pengaruh
Persepsi Guru tentang Sertifikasi Guru dan Motivasi Kerja Guru terhadap
Kinerja Guru di SMK 45 Wonosari Tahun Pelajaran 2009/2010”. Adapun
tujuan untuk mengetahui hubungan dan besarnya sumbangan antara persepsi
guru tentang sertifikasi guru dan motivasi kerja guru baik secara
sendirisendiri maupun secara bersama-sama dengan kinerja guru di SMK 45
Wonosari Tahun Ajaran 2009/2010. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
terdapat hubungan positif dan signifikan antara motivasi kerja guru dengan
kinerja guru di SMK 45 Wonosari Tahun Ajaran 2009/2010 yang
dibuktikan dengan rhitung = 0,366 ; rtabel = 0,134 untuk thitung sebesar 2,955 lebih
48
besar dari ttabel sebesar 2,001 (thitung 2,955 > ttabel 2,001) dan sumbangan efektif
sebesar 17,21%.
Penelitian yang dilakukan oleh Ridha Canggih Pristian dalam
“Pengaruh Motivasi dan Disiplin terhadap Kinerja Pegawai pada Dinas
Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Jepara”. Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui pengaruh motivasi dan disiplin terhadap kinerja pegawai
Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Jepara baik secara parsial maupun
simultan. Hasil analisis regresi data menunjukkan persamaan sebagai berikut Y =
17.442 + 0,326 X1 + 0,382 X2. Secara parsial variabel motivasi memberikan
kontribusi sebesar 0,326 atau 32,6% dan disiplin sebesar 0,382 atau 38,2%
terhadap kinerja pegawai. Secara simultan (motivasi dan disiplin) berpengaruh
signifikan terhadap kinerja pegawai sebesar 43,5%. Sedangkan sisanya sebesar
56,5% dipengaruhi oleh faktor lain.
C. Kerangka Berpikir
1. Pengaruh Kompetensi Profesional Guru terhadap Kinerja
GuruOtomotif SMK Negeri se-Kabupaten Sleman.
Guru memiliki peran strategis dalam bidang pendidikan, bahkan
sumber daya pendidikan lain yang memadai sering kali kurang berarti
apabila tidak disertai kualitas guru yang memadai dan begitu juga
sebaliknya. Di dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan nasional
harus dipertimbangkan juga mengenai kompetensi yang di miliki para
guru. Kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan menunjukkan
kualitas guru dalam mengajar. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam
49
bentuk penguasaan pengetahuan dan profesional dalam menjalankan
fungsinya sebagai guru.
Kompetensi profesional guru adalah kompetensi atau kemampuan
yang berhubungan dengan penyesuaian tugas-tugas keguruan.
Kompetensi ini merupakan kompetensi yang sangat penting karena
langsung berhubungan dengan kinerja yang ditampilkan. Dengan
demikian kompetensi yang dimiliki oleh seorang guru mempunyai
pengaruh terhadap keberhasilan kinerja guru dalam menjalankan tugas
sebagai pengajar maupun pendidik. Kinerja guru sangat penting untuk
diperhatikan dan dievaluasi karena guru mengemban tugas profesional,
artinya tugas-tugas tersebut hanya dapat dikerjakan dengan kompetensi
khusus yang diperoleh melalui program pendidikan.
Kompetensi yang dimiliki oleh seorang guru menjelaskan bahwa
keprofesionalan dari seorang guru tidak hanya ditunjukkan pada saat
guru berada dalam proses pembelajaran atau pada saat proses belajar
mengajar berlangsung, namun keprofesionalan guru ditunjukkan lebih
dari itu, dalam arti mampu dan senantiasa melaksanakan tugas-tugas
keguruannya sesuai dengan bidangnya. Dengan kata lain, kompetensi
profesional guru diduga dapat mempengaruhi kinerja guru itu sendiri.
2. Pengaruh Motivasi Kerja terhadap Kinerja Guru Otomotif SMK
Negeri se-Kabupaten Sleman.
Motivasi merupakan dorongan yang timbul dari dalam diri
seseorang, baik secara sadar atau tidak untuk melakukan sesuatu tindakan
dengan suatu tujuan tertentu. Jadi seseorang dapat terdorong untuk
50
melakukan kerja secara lebih baik, karena ada dorongan dari dalam
dirinya (intrinsik) maupun karena dorongan dari luar (ekstrinsik).
Dorongan inilah yang menjadi sinergi sehingga seseorang mau bekerja
keras untuk melakukan tugas yang diberikan kepadanya.
Keberhasilan suatu organisasi atau lembaga dipengaruhi oleh
berbagai faktor, baik faktor yang datang dari dalam maupun yang datang
dari lingkungan. Dari berbagai faktor tersebut, motivasi merupakan suatu
faktor yang cukup dominan dan dapat menggerakkan faktor-faktor lain
ke arah efektifitas kerja. Dalam hal tertentu motivasi sering disamakan
dengan mesin dan kemudi mobil, yang berfungsi sebagai penggerak dan
pengarah.
Guru yang mempunyai motivasi kerja yang tinggi akan senantiasa
bekerja keras untuk mengatasi segala jenis permasalahan yang dihadapi
dengan harapan mencapai hasil yang lebih baik lagi. Pencapaian suatu
tujuan tidak terlepas dari motivasi guru dalam bekerja, karena motivasi
merupakan pendorong semangat dan kemauan untuk bekerja dalam
mencapai keberhasilan kerja guru. Dengan adanya motivasi kerja yang
dimiliki guru diduga akan meningkatkan kinerjanya. Dengan kata lain,
seorang guru akan melakukan semua pekerjaannya dengan baik apabila
ada faktor pendorong (motivasi).
Dari analisis di atas diduga guru yang memiliki motivasi kerja yang
tinggi akan lebih baik dibanding guru yang mempunyai motivasi kerja
yang rendah. Dengan demikian diduga terdapat pengaruh dari motivasi
kerja terhadap kinerja guru.
51
3. Pengaruh Disiplin Kerja terhadap Kinerja Guru Otomotif SMK
Negeri se-Kabupaten Sleman.
Guru yang berdisiplin dapat diartikan sebagai seorang guru yang
selalu datang dan pulang tepat pada waktunya, mengerjakan semua
pekerjaannya dengan baik, mematuhi semua peraturan organisasi dan
norma-norma sosial yang berlaku. Disiplin yang baik mencerminkan
besarnya rasa tanggung jawab seseorang terhadap tugas-tugas yang
diberikan kepadanya. Hal ini mendorong gairah kerja, semangat kerja,
dan mendukung terwujudnya tujuan organisasi, karyawan dan
masyarakat. Dengan demikian disiplin merupakan hal yang sangat
penting dalam upaya meningkatkan kinerja organisasi atau sekolah.
Dengan kata lain ketidakdisplinan individu dapat merusak kinerja
organisasi atau sekolah.
Disiplin kerja guru merupakan tindakan seseorang untuk mematuhi
peraturan-peraturan yang telah disepakati bersama. Tindakan ini bila
dilakukan secara benar dan terus-menerus akan menjadi kebiasaan yang
tertanam dalam perilaku guru dan akan membantu tercapainya tujuan
kerja yang telah ditentukan. Disiplin yang tinggi akan mampu
membangun kinerja yang profesional sebab dengan pemahaman disiplin
yang baik maka guru mampu mencermati aturan-aturan dan langkah
strategis dalam melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar.
Kemampuan guru dalam memahami aturan dan melaksanakan
aturan yang tepat, baik dalam hubungan dengan anggota lain di sekolah
maupun dalam proses belajar mengajar di kelas akan sangat membantu
52
upaya membelajarkan siswa ke arah yang lebih baik. Kedisiplinan bagi
para guru merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam melaksanakan
tugas dan kewajibannya sebagai seorang pendidik.
Berdasarkan uraian di atas dapat diduga bahwa terdapat pengaruh
dari disiplin kerja terhadap kinerja guru. Artinya semakin tinggi disiplin
kerja, maka semakin tinggi kinerjanya.
4. Pengaruh Kompetensi Profesional Guru, Motivasi Kerja dan Disiplin
Kerja terhadap Kinerja Guru Otomotif SMK Negeri se-Kabupaten
Sleman.
Kinerja guru merupakan sesuatu yang sangat penting dalam
pencapaian tujuan pada SMK Negeri di Kabupaten Sleman. Oleh karena
itu SMK Negeri 2 Depok dan SMK Negeri 1 Seyegan perlu untuk
mengarahkan dan membina gurunya agar mereka mempunyai kinerja
yang baik dalam menjalankan tugas terutama dalam pelaksanaan tugas
pokok dan fungsi sebagai guru.
Dengan kinerja guru yang memadai maka proses belajar mengajar
dapat diselesaikan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Banyak
tugas dan pekerjaan yang dapat diselesaikan sesuai dengan target yang
ditetapkan, frekuensi penyelesaian tugas dan pekerjaan yang sangat
tinggi, kerja sama yang baik dari para guru, munculnya gagasan dan
tindakantindakan terbaru untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang
timbul dari para guru, semangat yang tinggi untuk menyelesaikan
persoalanpersoalan yang timbul serta semangat yang tinggi untuk
melaksanakan tugas-tugas baru yang mempunyai tanggung jawab besar.
53
Kompetensi profesional guru, motivasi kerja dan disiplin kerja
inilah yang sangat menentukan kinerja seorang guru. Ketiga aspek
tersebut memiliki pengaruh langsung pada aktivitas guru. Motivasi akan
mengubah pola pikir guru menjadi seorang yang lebih termotivasi untuk
menjadi guru
yang kompeten, disiplin akan mampu membangun kinerja yang
profesional sebab dengan pemahaman disiplin yang baik maka guru
mampu mencermati aturan-aturan dan langkah strategis dalam
melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar, sedangkan kompetensi
profesional guru akan mendorong guru untuk lebih
meningkatkan keprofesionalannya agar proses pembelajaran dapat
berlangsung dengan baik, dan hasil belajar pun sesuai dengan standar
ketuntasan yang telah ditetapkan.
Berdasarkan hal tersebut, maka dapat diduga bahwa terdapat
pengaruh yang signifikan dari kompetensi profesional guru, motivasi
kerja dan disiplin kerja secara bersama-sama terhadap kinerja guru di
SMK Negeri 2 Depok dan SMK Negeri 1 Seyegan.
D. Hipotesis
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir yang telah
dikemukakan, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut.
1. Terdapat pengaruh yang signifikan dari kompetensi profesional
guruterhadap kinerja guru otomotif SMK Negeri se-Kabupaten Sleman.
54
2. Terdapat pengaruh yang signifikan dari motivasi kerja terhadap kinerja
guru otomotif SMK Negeri se-Kabupaten Sleman.
3. Terdapat pengaruh yang signifikan dari disiplin kerja terhadap kinerja
guru otomotif SMK Negeri se-Kabupaten Sleman.
4. Terdapat pengaruh yang signifikan dari kompetensi profesional guru,
motivasi kerja dan disiplin kerja secara bersama-sama terhadap kinerja
guru otomotif SMK Negeri se-Kabupaten Sleman.