PROGRAM
7K
( KEAMANAN, KEBERSIHAN, KEIMANAN, KEKELUARGAAN,
KERINDANGAN, KERAPIHAN, KEINDAHAN)
DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA BARAT
SMA NEGERI 1 CIPEUNDEUY
Jl. Cinangsi Desa Nanggeleng Kecamatan Cipeundeuy Kabupaten Bandung Barat
Jawa Barat
2021/2022
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan
karunia_Nyaserta kesempatan sehingga penulis dapat menyelesaikan Program 7K
(KEAMANAN, KEBERSIHAN, KEIMANAN, KEKELUARGAAN, KERINDANGAN, KE
RAPIHAN, KEINDAHAN) ini tepat pada waktunya. Program ini merupakan salah
satu tugas Kepala Sekolah. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang ikut
membantu dalam pembuatan program ini, sehingga akhirnya program ini dapat terselesaikan.
Penulis menyadari “tidak ada gading yang tak retak’’ penulis mohon maaf apabila
terdapat kesalahan dalam pembuatan program ini. Semoga program ini dapat bermanfaat dan
menambah ilmu pengetahuan kita semua. Penulis juga mohon kritik dan saran dari pembaca
demi kesempurnaan program ditahun mendatang.
Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa meridhoi upaya-upaya kita dalam meningkatkan
mutu pendidikan. Aamiin
Bandung Barat, Juli 2022
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
Untuk mengembangkan sekolah yang bermutu (berkualitas) dibutuhkan adanya lingkungan dan
budaya sekolah yang kondusif, dinamis dan demokratis. Dalam rangka ke arah itu, beberapa hal yang
dapat dikembangkan terkait dengan lingkungan dan budaya di sekolah, sebagai berikut.
1. Disiplin
Disiplin adalah sikap mental yang mengandung kerelaan memenuhi semua ketentuan,
peratiuran dan norma yang berlaku dalam menunaikan tugas dan tanggung jawab. Untuk itu
sangat penting diperhatikan agar tugas dan tanggung jawab dapat dilakukan dengan sebaik-
baiknya. Ada dua jenis dorongan yang mempengaruhi disiplin, yaitu :
Dorongan yang datang dari dalam diri manusia, yaitu pengetahuan, kesadaran dan kemauan
untuk berbuat disiplin.
Dorongan yang datangnya dari luar yaitu perintah, larangan, pengawasan, pujian, ancaman,
hukuman dan ganjaran.
Peningkatan disiplin atas dasar dorongan dari dalam diri manusia dapat terlaksana, kalau
menyadari dan menerima disiplin itu sebagai hal yang wajar dalam kehidupan di manapun kita
berada. Begitu pula rasa tanggung jawab dapat ditingkatkan kalau orang dilibatkan sejak dari
merencanakan kegiatan, sehingga merasa bahwa kegiatan itu adalah miliknya.
Dorongan yang datangnya dari luar, dalam batas-batas tertentu dapat menunjang disiplin, tetapi
dalam batas-batas tertentu pula dapat menjadi penghambat tegaknya disiplin. Oleh karena itu,
pemanfaatan dorongan dari luar tersebut hendaknya dipertimbangkan lebih dahulu secara
matang.
Terwujudnya disiplin di sekolah secara nyata terlihat apabila :
1) Seluruh warga sekolah dari kepala sekolah, guru, pegawai, dan siswa hadir dan pulang pada
waktunya.
2) Mengikuti keseluruhan program sekolah yang diperuntukkan baginya.
3) Meningkatkan disiplin dirinya di dalam dan di luar sekolah.
4) Memakai seragam sekolah menurut ketentuan yang berlaku.
5) Mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menerima pelajaran bagi siswa, mengajar bagi
guru, melaksanakan tugas-tugas bagi kepala sekolah dan pegawai.
6) Mematuhi dan melaksanakan semua peraturan yang berlaku baginya.
2. Upacara Bendera
Upacara bendera merupakan kegiatan sekolah yang wajib dilaksanakan untuk menanamkan,
membina dan meningkatkan penghayatan serta pengamalan nilai luhur dan cita-cita bangsa
Indonesia.
Disamping itu pelaksanaan upacara bendera ini juga sangat penting dalam hal mewujudkan
disiplin, ketertiban, rasa cinta tanah air serta sebagai sarana untuk menyampaikan informasi
yang sifatnya menyeluruh kepada aparat sekolah atau warga sekolah.
Upacara bendera ini wajib diikuti oleh seluruh komponen manusiawi sekolah, dan diusahakan
untuk dapat dilaksanakan setiap hari Senin jam 07.00 di lapangan sekolah. Pembina dan petugas
upacara diatur sedemikian rupa, sehingga setiap guru serta siswa dapat ikut ambil bagian dalam
kegiatan ini.
Sarana upacara serta pengaturan jalannya upacara agar betul-betul dapat mencapai tujuan seperti
yang disebutkan di atas diatur oleh urusan kesiswaan, guru piket dan pengurus OSIS.
3. Jalur Informasi dan Komunikasi
Untuk kepentingan koordinasi dan fungsionalisasi organisasi, sekolah harus memiliki jalur
informasi dan komunikasi, diatur dan disiapkan waktunya secara terjadwal. Jalur informasi dan
komunikasi yang paling umum dikenal adalah rapat kerja/dinas (rapat rutin, rapat berkala, rapat
koordinasi dan lain-lainnya), baik yang berhubungan dengan tenaga pendidik dan tenaga
kependidikan maupun yang berkaitan dengan masyarakat (hubungan masyarakat).
Untuk dapat memberikan gambaran transparansi dan kuntabilitas yang dilakukan oleh
sekolah melalui program-program kerjanya, hendaknya sekolah memiliki sistem informasi
manajemen (SIM), dan membiasakan membuat pengumuman-pengumuman yang penting untuk
diketahui oleh warga sekolah dan masyarakat.
Semua kegiatan di atas, hendaknya dikemas dengan cara sebaik-baiknya dalam pelaksanaannya
dengan memperhatikan keefektifan dan keefesienannya. Disamping itu juga mempedomani
ketentuan/peraturan yang berlaku, dan memperhatikan kelengkapan administrasi
penyelenggaraan kegiatan, sehingga kegiatan terarsip dengan baik dan tidak menimbulkan
persoalan-persoalan yang tidak diinginkan.
4. Pelaksanaan 7 K
Pelaksanaan 7 K di setiap sekolah penting untuk dilaksanakan, dan dapat diupayakan melalui
langkah-langkah sebagai berikut :
a. Ketaqwaan, yaitu wujud dari rasa syukur kepada Allah dengan menjalankan perintah
dan larangan-Nya serta merupakan prasyarat bagi penciptaan keharmonisan dalam
kehidupan.
b. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan membimbing dan memberikan
kesempatan kepada warga sekolah untuk melaksanakan ibadah sesuai dengan ajaran
agama yang dianutnya (Islam).
Keamanan, yaitu rasa aman dan tenteram, bebas dari rasa takut, baik lahir maupun
bathin diusahakan dengan jalan :
Usaha penanggulangan gangguan keamanan dari luar dengan membuat pagar keliling,
pembentukan dan peningkatan kerja guru piket, pengadaan petugas satpam dan jaga
malam serta peraturan tamu yang tegas.
Usaha penanggulangan gangguan keamanan dari dalam dengan jalan mencegah sedini
mungkin gejala perkelahian di antara siswa melalui bimbingan fisik oleh guru, anjuran
untuk ikut menjaga keamanan sekolah dengan pembagian tugas dan tanggung jawab
kepada regu piket yang dilakukan oleh siswa. Disamping itu juga dengan menugaskan
guru piket dan satpam untuk mengawasi tamu atau orang-orang yang masuk lingkungan
sekolah tanpa kepentingan yang jelas dengan peraturan tamu yang tegas.
c. Kebersihan adalah wujud dari bersih jasmani dan rohani serta merupakan syarat untuk
kesehatan fisik dan mental spiritual.
Pelaksanaan kebersihan di sekolah adalah dengan anjuran agar semua pihak baik guru,
pegawai maupun siswa untuk selalu mengadakan gerakan kebersihan baik kebersihan
WC/kamar mandi, kantin/koperasi sekolah, ruang kelas, ruang perpustakaan, ruang
laboratorium, ruang guru dan TU, ruang kepala sekolah serta halaman kelas, kantor dan
halaman sekolah secara umum. Pelaksanaan kebersihan juga bisa dilakukan melalui
gerakan massal kebersihan pada tiap hari Jum’at (Jum’at Bersih) selesai kegiatan shalat
dhuha, dan diupayakan melalui lomba kebersihan antar kelas yang dilakukan setiap
minggu dan hasilnya selalu di umumkan setelah pembiasaan upacara bendera.
d. Ketertiban adalah keteraturan yang menimbulkan keserasian, keselarasan dan
keseimbangan dalam tata letak, tata hidup dan tata pergaulan.
Ketertiban ini dapat terlaksana dengan baik dengan memperhatikan kehadiran guru,
pegawai dan siswa sekolah. Untuk mengupayakan ketertiban, maka akan ditempuh
dengan cara monitoring dan evaluasi, serta dengan melakukan operasi ketertiban siswa.
Operasi ketertiban siswa dimaksudkan untuk mencegah tindakan, perilaku dan
perbuatan siswa yang mengarah kepada hal-hal yang negatif.
e. Keindahan, adalah perpaduan unsur alami ciptaan Allah yang menimbulkan rasa
estetika dalam kehidupan.
Pelaksanaannya di sekolah adalah dengan menata halaman sekolah dengan tanaman-
tanaman yang tidak mahal, namun serasi baik bentuk maupun jenisnya. Penataan dan
pemeliharannya dikoordinasikan oleh urusan kesiswaan dan perlengkapan, dengan
dibantu setiap dua kali dalam tahun pelajaran oleh seluruh warga sekolah dalam
kegiatan “Kemah Terpadu” dan “Kemah Bakti Pramuka”, yang pelaksanaannya pada
akhir setiap semester.
f. Kekeluargaan adalah wujud kehidupan yang dijiwai oleh tenggang rasa dan gotong
royong dalam mewujudkan saling asih, saling asah dan saling asuh dalam masyarakat
sekolah.
Hal ini dilaksanakan dengan tetap membina hubungan yang baik antara sekolah dan
komite [Link], guru – murid, guru dengan pegawai TU dan instansi lain.
Disamping itu akan diupayakan melalui “Temu Keakraban Warga Sekolah” yang
dilaksanakan satu kali dalam tahun pelajaran, yaitu pada akhir tahun pelajaran, dan
dilaksanakan (berlokasi) di objek-objek wisata atau tempat-tempat yang menarik di luar
wilayah (missal: Pangandaran).
g. Kerindangan, adalah suasana teduh yang diakibatkan oleh adanya tumbuhan baik
berupa pohon, perdu, semak maupun tanaman memanjat/merambat yang ditata sebagai
pelindung yang serasi di sekolah.
Pelaksanaannya di sekolah hendaknya diupayakan dengan memilih pohon-pohon dan
tanaman lain yang ditanam di lingkungan sekolah dengan sifat-sifat tidak mudah
sempal, tidak banyak daun yang gugur serta perakarannya tidak mengganggu pondasi
bangunan sekolah.
Bertitik tolak kepada pengertian dari masing-masing K tersebut di atas, maka
pelaksanaannya sangat penting bahkan mutelak dalam mewujudkan sekolah sebagai
pusat kebudayaan dan kehidupan masyarakat bernuansa pendidikan.
Pengelolaan 7 K di sekolah harus melibatkan seluruh warga sekolah yaitu, pesuruh dan
karyawan (pegawai), guru dan siswa secara terpadu di bawah koordinasi urusan
kesiswaan dan sarana prasarana (perlengkapan) sebagai mana tercantum dalam struktur
organisasi sekolah.