0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
74 tayangan5 halaman

Pengambilan Keputusan Etis Pemimpin Pembelajaran

Dokumen tersebut membahas tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Terdapat empat paradigma dilema etika yaitu individu vs komunitas, keadilan vs belas kasihan, kebenaran vs loyalitas, dan jangka pendek vs panjang. Juga disebutkan tiga prinsip pengambilan keputusan yaitu berdasarkan hasil akhir, aturan, dan peduli. Serta sembilan langkah untuk mengambil keputusan dalam situasi dilema

Diunggah oleh

hery pan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
74 tayangan5 halaman

Pengambilan Keputusan Etis Pemimpin Pembelajaran

Dokumen tersebut membahas tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Terdapat empat paradigma dilema etika yaitu individu vs komunitas, keadilan vs belas kasihan, kebenaran vs loyalitas, dan jangka pendek vs panjang. Juga disebutkan tiga prinsip pengambilan keputusan yaitu berdasarkan hasil akhir, aturan, dan peduli. Serta sembilan langkah untuk mengambil keputusan dalam situasi dilema

Diunggah oleh

hery pan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI SEORANG PEMIMPIN PEMBELAJARAN

Seorang pemimpin pembelajaran diharapkan mampu melakukan pengambilan


keputusan berdasarkan prinsip pemimpin pembelajaran, mampu menyadari dan
menggunakan prinsip moral dalam melakukan pengambilan keputusan dan mampu
menerapkan strategi untuk menghindari adanya isu kode etik kepemimpinan sekolah
dan konflik kepentingan.

Guru sebagai pemimpin pembelajaran diharapkan: 

1. Dapat melakukan praktik keputusan yang berdasarkan prinsip pemimpin


pembelajaran.
2. Dapat mengidentifikasi jenis-jenis paradigma dilema etika yang dihadapi oleh
dirinya sendiri maupun orang lain dan mampu bersikap reflektif, kritis, kreatif,
dan terbuka dalam menganalisis dilema tersebut.
3. Dapat memilih dan memahami 3 (tiga) prinsip yang dapat dilakukan untuk
membuat keputusan dalam dilema pengambilan keputusan.
4. Dapat menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang
diambil dalam dilema pengambilan keputusan dan bersikap reflektif, kritis,
dan kreatif dalam proses tersebut.

Apa perbedaan antara ‘Dilema Etika’ dan ‘Bujukan Moral,’ serta paradigma apa
saja yang terkandung dalam sebuah kasus dilema etika?

Dilema etika merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara
dua pilihan di mana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan,
sedangkan bujukan moral merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus
membuat keputusan antara benar atau salah. Agar anda memahami perbedaan
dilema etika dan bujukan moral, perhatikan video berikut.

Empat Paradigma Dilema Etika

Dari pengalaman kita bekerja kita pada institusi pendidikan,  kita telah mengetahui
bahwa dilema etika adalah hal berat yang harus dihadapi dari waktu ke waktu.

Ketika kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari
yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan,
persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan  akan hidup.

Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema
etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini:

1. Individu lawan masyarakat (individual vs community)


2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
4. Jangka pendek lawan  jangka panjang (short term vs long term)

Individu lawan masyarakat (individual vs community)

Dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan
sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya. Bisa
juga konflik antara kepentingan pribadi melawan kepentingan orang lain, atau
kelompok kecil melawan kelompok besar.

Dilema individu melawan masyarakat adalah bagaimana membuat pilihan antara


apa yang benar untuk satu orang atau kelompok kecil , dan apa yang benar untuk
yang lain, kelompok yang lebih besar. Guru kadang harus membuat pilihan seperti
ini di dalam kelas. Bila satu kelompok membutuhkan waktu yang lebih banyak pada
sebuah tugas, tapi kelompok yang lain sudah siap untuk ke pelajaran berikutnya,
apakah pilihan benar yang harus dibuat? Guru mungkin menghadapi dilema
individu lawan kelompok.

Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

Dalam paradigma ini ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti
aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan
yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian karena
kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain.

Kadang memang benar untuk memegang peraturan, tapi terkadang membuat


pengecualian juga merupakan tindakan yang benar. Pilihan untuk menuruti
peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa hormat terhadap keadilan (atau sama
rata). Pilihan untuk membengkokkan peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa
kasihan (kebaikan)

Misalnya ada peraturan di rumah Anda harus ada di rumah pada saat makan
malam. Misalnya suatu hari Anda pulang ke rumah terlambat karena seorang teman
membutuhkan bantuan Anda. Ini dapat menunjukkan dilema keadilan lawan rasa
kasihan,  terhadap orang tua Anda. Apakah ada konsekuensi dari melanggar
peraturan tentang pulang ke rumah tepat waktu untuk makan malam, atau  haruskah
orang tua Anda membuat pengecualian?

Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam


situasi dilema etika.  Kadang kita perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur
dan berlaku setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain. Apakah kita akan
jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita menjunjung nilai
kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu,  atau komitmen yang telah dibuat
sebelumnya.

Pada jaman perang, tentara yang tertangkap kadang harus memilih antara 
mengatakan yang sebenarnya kepada pihak musuh atau tetap setia kepada teman
tentara yang lain. Hampir dari kita semua pernah mengalami harus memilih antara
mengatakan yang sebenarnya atau melindungi teman (saudara) yang  dalam
masalah. Ini adalah salah satu contoh dari pilihan atas kebenaran melawan
kesetiaan.

Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Paradigma ini  paling sering terjadi dan mudah diamati. Kadang perlu untuk memilih
antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang
akan datang. Paradigma ini bisa terjadi di level personal dan permasalahan sehari-
hari, atau pada level yang lebih luas, misalnya pada issue-issue dunia secara global,
misalnya lingkungan hidup dll.

Orang tua kadang harus membuat pilihan ini. Contohnya: Mereka harus memilih
antara seberapa banyak uang untuk digunakan sekarang dan seberapa banyak
untuk ditabung nanti. Pernahkah Anda harus memilih antara bersenang-senang atau
melatih instrumen musik atau berolahraga? Bila iya, Anda telah membuat pilihan
antara jangka pendek melawan jangka panjang.

3 Prinsip dalam Pengambilan Keputusan yang Memuat Unsur Dilema Etika


Tiga prinsip ini yang seringkali membantu  dalam menghadapi pilihan-pilihan yang
penuh tantangan, yang harus dihadapi pada dunia saat ini. (Kidder, 2009, hal 144).
Ketiga prinsip tersebut adalah:

1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)


2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

Saya lakukan karena itu yang terbaik untuk kebanyakan orang. Berpijak pada aliran
ulitarianism, yaitu mengerjakan apa yang dapat menghasilkan kebaikan terbesar
untuk jumlah orang terbanyak.

Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

Ikuti prinsip atau aturan – aturan yang telah ditetapkan. Berpijak dari filsafat, yaitu
deontologis, dari bahasa yunani “deon” yang berarti tugas atau kewajiban.

Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Memutuskan sesuatu dengan pemikiran, apa yang anda harapkan orang lain
lakukan terhadap anda.

 9 langkah Pengambilan Keputusan

Di bawah ini adalah 9 langkah yang telah disusun secara berurutan untuk memandu
Anda dalam mengambil keputusan dalam situasi dilema etika yang membingungkan
karena adanya beberapa nilai-nilai yang bertentangan

 Langkah 1.

Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.

Ada 2 alasan mengapa langkah ini adalah langkah yang penting dalam pengujian
keputusan. Alasan yang pertama, langkah ini mengharuskan kita untuk
mengidentifikasi masalah yang perlu diperhatikan, alih-alih langsung mengambil
keputusan tanpa menilainya dengan lebih saksama. Alasan yang kedua adalah
karena langkah ini akan membuat kita menyaring masalah yang betul-betul
berhubungan dengan aspek moral, bukan masalah yang berhubungan dengan
sopan santun dan norma sosial. Untuk mengenali hal ini bukanlah hal yang mudah.
Kalau kita terlalu berlebihan dalam menerapkan langkah ini, dapat membuat kita
menjadi orang yang terlalu mendewakan aspek moral, sehingga kita akan
mempermasalahkan setiap kesalahan yang paling kecil pun. Sebaliknya bila kita
terlalu permisif, maka kita bisa menjadi apatis dan tidak bisa mengenali aspek-aspek
permasalahan etika lagi.  

Langkah 2.

Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

Bila kita telah mengenali bahwa ada masalah moral di situasi tertentu.
Pertanyaannya adalah dilema siapakah ini? Hal yang seharusnya membedakan
bukanlah pertanyaan apakah ini dilema saya atau bukan. Karena dalam
hubungannya dengan permasalahan moral, kita semua seharusnya merasa
terpanggil.

 Langkah 3

Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

Pengambilan keputusan yang baik membutuhkan data yang lengkap dan detail,
seperti misalnya apa yang terjadi di awal situasi tersebut, bagaimana hal itu terkuak,
dan apa yang akhirnya terjadi, siapa berkata apa pada siapa, kapan mereka
mengatakannya.  Data-data tersebut penting untuk kita ketahui karena dilema etika
tidak menyangkut hal-hal yang bersifat teori, namun ada faktor-faktor pendorong dan
penarik yang nyata di mana data yang mendetail akan bisa menggambarkan alasan
seseorang melakukan sesuatu dan kepribadian seseorang akan tercermin dalam
situasi tersebut. Hal yang juga penting di sini adalah analisis terhadap hal-hal apa
saja yang potensial akan terjadi di waktu yang akan datang

 Langkah 4

Pengujian benar atau salah

Uji Legal

Pertanyaan yang harus diajukan disini adalah apakah dilema etika itu menyangkut
aspek pelanggaran hukum. Bila jawabannya adalah iya, maka pilihan yang ada
bukanlah antara benar lawan benar, namun antara benar lawan salah. Pilihannya
menjadi membuat keputusan yang mematuhi hukum atau tidak, bukannya
keputusan yang berhubungan dengan moral.

Uji Regulasi/Standar Profesional

Bila dilema etika tidak memiliki aspek pelanggaran hukum di dalamnya, mungkin ada
pelanggaran peraturan atau kode etik. Konflik yang terjadi pada seorang wartawan
yang harus melindungi sumber beritanya,  seorang agen real estate yang tahu
bahwa seorang calon pembeli potensial sebelumnya telah dihubungi oleh
koleganya? Anda tidak bisa dihukum karena melanggar kode etik profesi Anda, tapi
Anda akan kehilangan respek sehubungan dengan profesi Anda.

 Langkah 5

Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.

Dari keempat paradigma berikut ini, paradigma mana yang terjadi di situasi ini?

Individu lawan masyarakat (individual vs community)

Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Apa pentingnya mengidentifikasi paradigma, ini bukan hanya mengelompokkan


permasalahan namun membawa penajaman pada fokus kenyataan bahwa situasi ini
betul-betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang sama-sama
penting
 Langkah 6

Melakukan Prinsip Resolusi

Dari 3 prinsip penyelesaian dilema, mana yang akan dipakai?

 Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)


 Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
 Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

 Langkah 7

Investigasi Opsi Trilema

Mencari opsi yang ada di antara 2 opsi. Apakah ada cara untuk berkompromi dalam
situasi ini. Terkadang akan muncul sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak
terpikir sebelumnya yang bisa saja muncul di tengah-tengah kebingungan
menyelesaikan masalah

 Langkah 8

Buat Keputusan

Akhirnya kita akan sampai pada titik di mana kita harus membuat keputusan yang
membutuhkan keberanian secara moral untuk melakukannya.

 Langkah 9

Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan

Ketika keputusan sudah diambil. Lihat kembali proses pengambilan keputusan dan
ambil pelajarannya untuk dijadikan acuan bagi kasus-kasus selanjutnya.

Anda mungkin juga menyukai