0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan9 halaman

Panduan Resusitasi Jantung Paru

Dokumen tersebut memberikan panduan dasar tentang Bantuan Hidup Dasar & Resusitasi Jantung Paru (RJP) yang mencakup 3 tahap utama yaitu penguasaan jalan nafas, bantuan pernafasan, dan bantuan sirkulasi darah. Dokumen tersebut juga menjelaskan teknik-teknik khusus seperti Heimlich maneuver untuk mengatasi sumbatan jalan nafas dan resusitasi jantung paru baik dengan satu atau dua orang pen

Diunggah oleh

klinik dahlia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan9 halaman

Panduan Resusitasi Jantung Paru

Dokumen tersebut memberikan panduan dasar tentang Bantuan Hidup Dasar & Resusitasi Jantung Paru (RJP) yang mencakup 3 tahap utama yaitu penguasaan jalan nafas, bantuan pernafasan, dan bantuan sirkulasi darah. Dokumen tersebut juga menjelaskan teknik-teknik khusus seperti Heimlich maneuver untuk mengatasi sumbatan jalan nafas dan resusitasi jantung paru baik dengan satu atau dua orang pen

Diunggah oleh

klinik dahlia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Bantuan Hidup Dasar & Resusitasi Jantung Paru (RJP)

Hebbie Ilma Adzim, [Link]  P3K  | Juli 01, 2021

Bantuan hidup dasar harus segera dilaksanakan oleh penolong apabila


dalam penilaian dini  penderita ditemukan salah satu dari masalah antara lain :
tersumbatnya jalan nafas, tidak menemukan adanya nafas serta tidak
ditemukan adanya tanda-tanda nadi. Seperti diketahui bahwa tujuan dari  P3K
(Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan)  salah satunya ialah menyelamatkan
jiwa penderita sehingga dapat selamat dari kematian. Pengertian mati sendiri
terbagi menjadi 2 (dua) yaitu mati klinis dan mati biologis. Mati klinis berarti
tidak ditemukan adanya pernafasan dan nadi. Mati klinis dapat bersifat
reversibel (dapat dipulihkan). Penderita mati klinis mempunyai waktu 4-6 menit
untuk dilakukan resusitasi tanpa kerusakan otak. Sedangkan mati biologis
berarti kematian sel dimulai terutama sel otak & bersifat ireversibel (tidak bisa
dipulihkan) yang biasa terjadi 8-10 menit dari henti jantung.

Dalam memberikan bantuan hidup dasar dikenal 3 (tiga) tahap utama yaitu :
penguasaan jalan nafas, bantuan pernafasan dan bantuan sirkulasi darah yang
lebih dikenal juga dengan istilah pijatan jantung luar dan penghentian
perdarahan besar.

A. Penguasaan Jalan Nafas.

1. Membebaskan Jalan Nafas.

Pada penderita dimana tidak ditemukan adanya pernafasan, maka harus


dipastikan penolong memeriksa jalan nafas apakah terdapat benda asing
ataupun terdapat lidah penderita yang menghalangi jalan nafas.

o Teknik angkat dagu tekan dahi.

Teknik ini dilakukan pada penderita yang tidak mengalami cedera


kepala, leher maupun tulang belakang.

o Teknik jaw thrus maneuver (mendorong rahang bawah).

Teknik ini digunakan pada penderita yang mengalami cedera


kepala, leher maupun tulang belakang.
2. Membersihkan Jalan Nafas.
o Teknik sapuan jari.

Teknik ini hanya digunakan pada penderita yang tidak respon /


tidak sadar untuk membersihkan benda asing yang masuk ke jalan
nafas penderita. Jari telunjuk ditekuk seperti kait untuk mengambil
benda asing yang menghalangi jalan nafas.

o Posisi pemulihan.

Bila penderita dapat bernafas dengan baik dan tidak ditemukan


adanya cedera leher maupun tulang belakang. Posisi penderita
dimiringkan menyerupai posisi tidur miring. Dengan posisi ini
diharapkan mencegah terjadinya penyumbatan jalan nafas dan
apabila terdapat cairan pada jalur nafas maka cairan tersebut
dapat mengalir keluar melalui mulut sehingga tidak masuk ke jalan
nafas.

3. Sumbatan Jalan Nafas.

Sumbatan jalan nafas umumnya terjadi pada saluran nafas bagian bawah
yaitu bagian bawah laring (tenggorokan) sampai lanjutannya. Umumnya
sumbatan jalan nafas pada penderita respon/sadar ialah karena
makanan dan benda asing lainnya, sedangkan pada penderita tidak
respon / tidak sadar ialah lidah yang menekuk ke belakang. Untuk
mengatasinya umumnya menggunakan teknik heimlich maneuver
(hentakan perut-dada).

o Heimlich maneuver pada penderita respon / sadar.

Penolong berdiri di belakang penderita. Tangan penolong


dirangkulkan tepat di antara pusar dan iga penderita. Hentakkan
rangkulan tangan ke arah belakang dan atas dan minta penderita
untuk memuntahkannya. Lakukan berulang-ulang sampai berhasil
atau penderita menjadi tidak respon / tidak sadar.

o Heimlich maneuver penderita tidak respon / tidak sadar.

Baringkan penderita dengan posisi telentang. Penolong berjongkok


di atas paha penderita. Posisikan kedua tumit tangan di antara
pusat dan iga kemudian lakukan hentakan perut ke arah atas
sebanyak 5 (lima) kali. Periksa mulut penderita bilamana terdapat
benda asing yang keluar dari mulut penderita. Lakukan 2-5 kali
sampai jalan nafas terbuka.

o Heimlich maneuver pada penderita kegemukan atau wanita hamil


yang respon / sadar.

Penolong berdiri di belakang penderita. Posisikan kedua tangan


merangkul dada penderita melalui bawah ketiak. Posisikan
rangkulan tangan tepat di pertengahan tulang dada dan lakukan
hentakan dada sambil meminta penderita memuntahkan benda
asing yang menyumbat. Lakukan berulangkali sampai berhasil
atau penderita menjadi tidak respon / tidak sadar.
o Heimlich maneuver pada penderita kegemukan atau wanita hamil
yang tidak respon / tidak sadar.

Langkahnya sama dengan heimlich maneuver pada penderita tidak


respon / tidak sadar di atas namum posisi penolong berada di
samping penderita dan posisi tumit tangan pada pertengahan
tulang dada.

B. Bantuan Pernafasan

Terdapat beberapa teknik yang dikenal untuk memberikan bantuan pernafasan


pada penderita yang ditemukan tidak terdeteksi adanya nafas namun nadi
masih berdetak dan jalan nafas tidak mengalami gangguan antara lain :

1. Menggunakan mulut penolong :


o Mulut ke masker RJP (Resusitasi Jantung Paru).

o Mulut ke APD (Alat Pelindung Diri).


o Mulut ke mulut ataupun hidung.
2. Menggunakan alat bantu nafas : menggunakan kantung masker
berkatub.

Di udara bebas kandungan oksigen ialah sebesar kurang lebih 21%. Dari
kandungan oksigen sebanyak 21% tersebut, sebanyak 5% digunakan manusia
dalam proses pernafasan. Sehingga terdapat sekitar 16% kandungan oksigen
dari udara pernafasan yang manusia keluarkan. Sisa oksigen sebanyak 16%
inilah yang digunakan untuk memberi bantuan nafas kepada penderita yang
terdeteksi tidak terdapat nafas. Pada manusia dewasa frekuensi pemberian
nafas buatan ialah sebanyak 10-12 kali bantuan nafas per menit dengan durasi
tiap bantuan nafas ialah 1,5-2 detik tiap hembusan bantuan nafas.

Memberikan bantuan nafas kepada penderita bagi penolong bukan tanpa


resiko. Terdapat resiko yang mungkin dialami penolong antara lain :
penyebaran penyakit, kontaminasi bahan kimia dan muntahan penderita.
Langkah-langkah dalam memberikan bantuan nafas kepada penderita
terdeteksi tidak terdapat nafas antara lain :

1. Pastikan jalan nafas terbuka pada penderita.


2. Jika penolong menggunakan APD ataupun alat bantu pastikan alat
tersebut tidak bocor (tertutup rapat).
3. Pastikan juga bantuan nafas yang dihembuskan tidak bocor melalui
hidung penderita dengan cara mencapit lubang hidung penderita.
4. Berikan 2 (dua) kali bantuan nafas awal (1,5-2 detik pada manusia
dewasa). Tiupan/hembusan merata dan cukup (dada penderita bergerak
naik).
5. Periksa nadi penderita selama 5-10 detik dan pastikan nadi penderita
masih terdeteksi.
6. Lanjutkan pemberian nafas buatan sesuai dengan frekuensi pemberian
bantuan nafas (dewasa : 10-12 kali bantuan nafas per menit).
7. Apabila bantuan nafas berhasil dengan baik akan ditandai dengan
bergerak naik turunnya dada penderita.
C. Bantuan Sirkulasi

Tindakan paling penting dalam bantuan sirkulasi ialah pijatan jantung luar. Hal
tersebut dimaksudkan untuk memberikan efek pompa jantung yang dinilai
cukup untuk membantu sirkulasi darah penderita pada saat kondisi penderita
mati klinis. Kedalaman penekanan pijatan jantung luar pada manusia dewasa
ialah 4-5 cm ke dalam rongga dada.

Resusitasi Jantung Paru (RJP) merupakan gabungan dari tindakan A, B dan C


di atas. Resusitasi Jantung Paru dilaksanakan dengan memastikan bahwa
penderita tidak ada respon / tidak sadar, tidak terdapat pernafasan dan tidak
terdapat denyut nadi. Pada manusia dewasa resusitasi jantung paru dikenal 2
(dua) rasio, yaitu rasio 15 kali kompresi dada berbanding 2 kali tiupan bantuan
nafas (15:2) apabila dilaksanakan oleh satu penolong, serta rasio 5:1 per siklus
apabila dilaksanakan oleh 2 (dua) orang penolong.

Teknik kompresi dada pada manusia dewasa :

1. Posisikan penderita berbaring telentang pada bidang yang keras (misal :


lantai).
2. Posisikan penolong berada di samping penderita.
3. Temukan pertemuan lengkung tulang iga kanan dan kiri (ulu hati).

4. Tentukan titik pijatan (kira-kira 2 ruas jari ke arah dada atas dari titik
pertemuan lengkung tulang iga kanan dan kiri).
5. Posisikan salah satu tumit tangan di titik pijat, tumit tangan lainnya
diletakkan di atasnya untuk menopang.
6. Posisikan bahu penolong tegak lurus dengan tumit tangan.

7. Lakukan pijatan jantung luar.

Resusitasi jantung paru dengan satu orang penolong :

1. Tiupkan bantuan nafas awal 2 (dua) kali.


2. Jika penderita bernafas dan nadi berdenyut maka posisikan penderita
pada posisi pemulihan.
3. Apabila masih belum terdapat nafas dan nadi, maka lakukan pijatan
jantung sebanyak 15 kali dengan kecepatan pijatan 80-100 kali per
menit.
4. Berikan bantuan nafas lagi sebanyak 2 (dua) kali.
5. Lakukan terus 15 kali pijatan jantung dan 2 kali bantuan nafas sampai 4
siklus.
6. Periksa kembali nadi dan nafas penderita, apabila terdapat nadi namun
belum terdapat nafas maka teruskan bantuan nafas 10-12 kali per menit.

Resusitasi jantung paru 2 (dua) orang penolong :

1. Posisi penolong saling berseberangan.


2. Lakukan bantuan nafas awal sebanyak 2 (dua) kali.
3. Lakukan pijatan jantung luar sebanyak 5 (lima) kali dengan kecepatan
pijatan 80-100 kali per menit.
4. Berikan nafas bantuan sebanyak 1 (satu) kali.
5. Lakukan 5 pijatan jantung dan 1 nafas bantuan sampai 12 siklus
6. Periksa kembali nadi dan nafas penderita, apabila terdapat nadi namun
belum terdapat nafas maka teruskan bantuan nafas 10-12 kali per menit.

Dalam melaksanakan resusitasi jantung paru pun bukan tanpa resiko bagi
penderita, resiko-resiko yang mungkin dialami penderita antara lain : patah
tulang dada/iga, kebocoran paru-paru, perdarahan dalam pada dada/paru-paru,
memar paru dan robekan pada hati/limpa. Maka bagi penolong perlu berhati-
hati.

Anda mungkin juga menyukai