0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
102 tayangan8 halaman

Prinsip DAP dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Ringkasan dokumen tersebut adalah: (1) Dokumen tersebut membahas konsep Developmentally Appropriate Practice (DAP) dan prinsip-prinsip pembelajaran berorientasi pada perkembangan anak; (2) DAP memiliki tiga dimensi yaitu kesesuaian usia, individu, dan sosial budaya; (3) Prinsip-prinsip DAP meliputi pembelajaran melalui bermain, berorientasi pada kebutuhan anak, dan stimulasi yang terpadu.

Diunggah oleh

mahendra putra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
102 tayangan8 halaman

Prinsip DAP dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Ringkasan dokumen tersebut adalah: (1) Dokumen tersebut membahas konsep Developmentally Appropriate Practice (DAP) dan prinsip-prinsip pembelajaran berorientasi pada perkembangan anak; (2) DAP memiliki tiga dimensi yaitu kesesuaian usia, individu, dan sosial budaya; (3) Prinsip-prinsip DAP meliputi pembelajaran melalui bermain, berorientasi pada kebutuhan anak, dan stimulasi yang terpadu.

Diunggah oleh

mahendra putra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS TUTORIAL KE 2

Kode MK : PAUD4207 NIM : 858894003


Nama MK : KURIKULUM DAN BAHAN BELAJAR TK NAMA : SUSANA
Prodi/Semester : S1 PGPAUD / 9 Pokjar : IGTKI

Pertanyaan :

Jawaban :
1. Konsep DAP muncul berawal dari banyaknya kurikulum yang dikembangkan di
Amerika pada tahun 1960-1970 yang tidak sesuai dengan tahapan tumbuh kembang
anak. kurikulum tersebut dianggap gagal mencetak generasi anak yang dapat berpikir
kritis dan mampu menyelesaikan beberapa permasalahan yang datang. Kemudian
organisasi yang mengembangkannya adalah NAEYC (National Association for the
Education of Young Children) salah satu organisasi profesional pada pendidikan anak
usia dini mengeluarkan petisi untuk mereformasi pendidikan yang sesuai dengan
konsep DAP. Oleh karena itu, sejak tahun 1980-an sekolah-sekolah di AS sudah
melakukan perbaikan untuk menerapkan konsep lama. NAEYC mengembangkan
prinsip-prinsip pelaksanaan DAP untuk rentang usia sampai 8 tahun. Prinsip-prinsip
ini kemudian dikembangkan oleh NAEYC seiring dengan perkembangan dan
penerapan konsep DAP dalam program-program pendidikan anak usia dini. Konten
ini telah tayang di [Link] dengan judul "Konsep Developmentally
Appropriate Practice (DAP)",
Developmentally Appropriate Practice (DAP) adalah sebuah rencana program
pembelajaran yang akan diterapkan kepada anak lembaga PAUD sebagai wujud
pendekatan dan penerapan ilmu pengetahuan. Program pembelajaran
Developmentally Appropriate Practice (DAP) menggunakan perspektif
perkembangan anak, dan pengetahuan mengenai perkembangan anak.
Developmentally Appropriate Practice (DAP) merujuk pada aplikasi pengetahuan
tentang perkembangan anak usia dini dalam program pengembangan anak usia dini.
Segala teori dan riset tentang bagaimana anak berkembang dan belajar sesuai tahap
perkembangan digunakan dalam merekayasa lingkungan yang selaras dengan
kebutuhan dan kemampuan anak. Artinya DAP berdasarkan pengetahuan dan
pengertian tentang anak, bukan berdasarkan harapan atau keinginan orang tua belaka.

2. Konsep DAP ada tiga dimensi diantaranya sebagai berikut :


Menurut Sue Bredekamp (1987), konsep dari DAP memiliki dua dimensi,
yiatu : patut menurut usia (age appropriate) dan patut menurut anak Sebagai individu
yang unik (individual appropriate). Sementara Gary Glassenapp (Megawangi, 2005 :
5) menambahkan 1 dimensi lagi, yaitu : patut menurut Lingkungan dan [Link]
memiliki tiga dimensi yang harus dijangkau. Tiga dimensi tersebut adalah :

1) Kesesuaian Usia (Age Appropriate)


Dalam dimensi ini pendidik diharapkan memahami tahapan
perkembangan anak secara kronologis. Pemahaman tentang hal ini dapat
menjadi bekal bagi pendidik untuk mengetahui aktifitas, materi, dan interaksi
social apa saja yang sesuai, menarik, aman, mendidik, dan menantang bagi
anak. Hal ini sangat penting sebagai acuan dalam merancang dan menerapkan
kurikulum, serta menyiapkan lingkungan belajar yang patut dan
menyenangkan.

2) Kesesuaian Individu yang unik ( Individual Appropriate)


Pendidik harus memahami bahwa setiap anak merupakan pribadi yang
unik, dimana ia membawa bakat, minat, kelebihan dan kekerangannya, serta
pengalaman masing -- masing anak dalam berinteraksi. Program DAP yang
dikemukakan oleh Bredekamp bahwasanya pada proses pembelajaran
hendaknya menyediakan berbagai aktivitas dan bahan-bahan yang kaya serta
menawarkan pilihan bagi siswa sehingga siswa dapat memilihnya untuk
kegiatan kelompok kecil maupun mandiri dan memberikan kesempatan bagi
siswa untuk berinisiatif sendiri, melakukan keterampilan atas prakarsa sendiri
sebagai aktivitas yang dipilihnya. Pembelajaran terpadu juga menekankan
integrasi berbagai aktivitas untuk mengeksplorasi objek, topik, atau tema yang
merupakan kejadian-kejadian, fakta, dan peristiwa yang otentik. Pelaksanaan
pembelajaran terpadu pada dasarnya agar kurikulum itu bermakna bagi
anak. Proses pembelajaran seharusnya memperhatikan kebermaknaan artinya
apa yang bermakna bagi anak menunjuk pada pengalaman-pengalaman belajar
yang sesuai dengan minat-minatnya.
3) Kesesuaian Sosial dan Budaya ( Culture Appropriate)
Pemahaman pendidik terhadap latar belakang sosial budaya anak dapat
dijadikan sebagai acuan guru dalam mempersiapkan materi pembelajaran yang
relevan dan bermakna bagi anak. Disamping itu, pendidik juga dapat
mempersiapkan anak secara lebih dini untuk menjadi individu yang dapat
beradaptasi dengan lingkungan sosial budayanya.
3. Prinsip-Prinsip Pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan anak,
antara lain :

1) Bermain Sambil Belajar atau Belajar Seraya Bermain


Bermain merupakan kegiatan yang paling diminati anak. Saat bermain anak
melatih otot besar dan kecil, melatih keterampilan berbahasa, menambah pengetahuan,
melatih cara mengatasi masalah, mengelola emosi, bersosialisasi, mengenal
matematika, sain, dan banyak hal lainnya.
Bermain bagi anak juga sebagai pelepasan energi, rekreasi, dan emosi. Dalam keadaan
yang nyaman semua syaraf otak dalam keadaan rileks sehingga memudahkan menyerap
berbagai pengetahuan dan membangun pengalaman positif. Kegiatan pembelajaran
melalui bermain mempersiapkan anak menjadi anak yang senang belajar.

2) Berorientasi pada Kebutuhan Anak


Anak sebagai pusat pembelajaran. Seluruh kegiatan pembelajaran di
rencanakan dan dilaksanakan untuk mengembangkan potensi anak. Dilakukan dengan
memenuhi kebutuhan fisik dan psikis anak. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan
dengan cara yang menyenangkan sesuai dengan cara berpikir dan perkembangan
kognitif anak. Pembelajaran PAUD bukan berorientasi pada keinginan
lembaga/guru/orang tua.

3) Stimulasi Terpadu
Anak memiliki aspek moral, sosial, emosional, fisik, kognitif, bahasa, dan seni.
Kebutuhan anak juga mencakup kesehatan, kenyamanan, pengasuhan, gizi, pendidikan,
dan perlindungan. Pendidikan Anak Usia Dini memandang anak sebagai individu utuh,
karenanya program layanan PAUD dilakukan secara menyeluruh dan terpadu. Untuk
memenuhi stimulasi yang menyeluruh dan terpadu, maka penyelenggaraan PAUD
harus bekerjasama dengan layanan kesehatan, gizi, dan pendidikan orang tua. Dengan
kata lain layanan PAUD Holistik Integratif menjadi
keharusan yang dipenuhi dalam layanan PAUD.

4) Berorientasi pada Perkembangan Anak


Setiap anak memiliki kecepatan dan irama perkembangan yang berbeda, namun
demikian pada umumnya memiliki tahapan perkembangan yang sama. Pembelajaran
PAUD, pendidik perlu memberikan kegiatan yang sesuai dengan tahapan
perkembangan anak, dan memberi dukungan sesuai dengan perkembangan masing-
masing anak. Untuk itulah pentingnya pendidik memahami tahapan perkembangan
anak.

5) Lingkungan Kondusif
Lingkungan adalah guru ketiga bagi anak. Anak belajar kebersihan,
kemandirian, aturan, dan banyak hal dari lingkungan bermain atau ruangan yang tertata
dengan baik, bersih, nyaman, terang, aman, dan ramah untuk anak. Lingkungan
pembelajaran harus diciptakan sedemikian menarik dan menyenangkan serta
demokratis sehingga anak selalu betah dalam lingkungan sekolah baik di dalam
maupun di luar ruangan. Penataan ruang belajar harus disesuaikan dengan ruang gerak
anak dalam bermain sehingga anak dapat berinteraksi dengan mudah baik dengan
pendidik maupun dengan temannya. Lingkungan belajar hendaknya tidak memisahkan
anak dari nilai-nilai budayanya, yaitu tidak membedakan nilai-nilai yang dipelajari di
rumah dan di sekolah ataupun di lingkungan sekitar.

6) Menggunakan Pendekatan Tematik


Kegiatan pembelajaran dirancang dengan menggunakan pendekatan tematik.
Tema sebagai wadah mengenalkan berbagai konsep untuk mengenal dirinya dan
lingkungan sekitarnya.

7) Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM)


Proses pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif, efektif, dan menyenangkan
dapat dilakukan oleh anak yang disiapkan oleh pendidik melalui kegiatan-kegiatan
yang menarik, menyenangkan untuk membangkitkan rasa ingin tahu anak, memotivasi
anak untuk berpikir kritis, dan menemukan hal-hal baru. Pengelolaan pembelajaran
hendaknya dilakukan secara demokratis, mengingat anak merupakan subjek dalam
proses pembelajaran.

8) Menggunakan Berbagai Media dan Sumber Belajar


Piaget meyakini bahwa anak belajar banyak dari media dan alat yang
digunakannnya saat bermain. Karena itu media belajar bukan hanya yang sudah jadi
berasal dari pabrikan, tetapi juga segala bahan yang ada di sekitar anak, misalnya daun,
tanah, batu-batuan, tanaman, dan sebagainya. Penggunaan berbagai media dan sumber
belajar dimaksudkan agar anak dapat bereksplorasi dengan benda-benda di lingkungan
sekitarnya. Anak yang terbiasa menggunakan alam dan lingkungan sekitar untuk
belajar, akan berkembang lebih peka terhadap kesadaran untuk memelihara lingkungan.

4. Adapun aspek-aspek Perkembangan Anak yaitu sebagai berikut:


Tidak hanya pengetahuan umum, aspek-aspek perkembangan anak usia dini
juga masuk dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
Nomor 137 Tahun 2013 yakni (1) Nilai Agama dan Moral, (2) Fisik-Motorik, (3)
Kognitif, (4) Bahasa, (5) Sosial-Emosional, dan (6) Seni. Berikut 6 aspek
perkembangan anak usia dini :

1) Perkembangan Nilai Agama dan Moral


Aspek perkembangan pertama dan yang paling utama untuk diajarkan kepada anak
adalah nilai agama dan moral. Hal ini berfokus dalam menanamkan nilai-nilai dasar,
norma-norma yang berlaku hingga kesadaran. Si Kecil perlu mengenal agama dan
menjalankan ibadah agar lebih memahami arah hingga tujuan mereka dengan baik sejak
dini.

Tidak hanya itu, belajar agama dan moral banyak manfaat serta menanamkan sikap-
sikap baik pada anak seperti menolong sesama, bersikap jujur, sopan, menghormati
orang yang lebih tua, hingga toleransi dengan penganut agama yang berbeda.
Harapannya, anak akan tumbuh dengan persepsi yang tepat dan benar. Oleh karena
itulah, orang tua memiliki peran penting dalam memulainya sedari dini.

2) Perkembangan Fisik-Motorik
Sesuai dengan namanya, aspek fisik motorik ini merupakan segala sesuatu yang
langsung berhubungan dengan perkembangan tubuh anak. Antaranya :

 Perkembangan fisik dan perilaku keselamatan. Hal ini meliputi berat badan, tinggi
badan dan lingkar kepala yang sesuai dengan ukuran anak seumuran. Selain itu,
perilaku keselamatan ini meliputi kemampuan hidup anak yakni bersih dan juga
sehat untuk keselamatan diri sendiri.
 Anak juga memiliki motorik halus baik yang meliputi kemampuan mereka dalam
menggunakan alat untuk ekspresi diri dan juga eksplorasi. Contohnya yaitu
menggunakan pensil, bermain dengan boneka dan lain sebagainya.
 Tidak hanya itu, anak juga perlu memiliki motorik kasar yang baik. Hal ini meliputi
kemampuan tubuh dalam berkoordinasi antar anggota tubuh. Contohnya yaitu
menjaga keseimbangan, lincah, dan juga lentur sesuai peraturan. Bunda dapat
melatih motorik kasar anak dengan mengajak mereka berolahraga.

3) Perkembangan Kognitif
Aspek perkembangan kognitif berhubungan erat dengan akal dan pikiran
sehingga jangan heran jika pertumbuhan pada area ini memiliki jangkauan yang sangat
luas. Banyak pelajaran penting yang akan didapatkan oleh anak, beberapa diantaranya:

 Mampu berpikir logis dengan mengenal perbedaan, klasifikasi, perencanaan, pola,


sebab akibat dan inisiatif
 Anak dapat menyebutkan, mengenal, dan juga menggunakan lambang-lambang
seperti abjad dan angka. Tidak hanya itu, tahap ini juga akan membantu Si Kecil
untuk menggambarkan ulang banyak hal yang pernah mereka lihat.
 Pembelajaran yang paling penting adalah Si Kecil dapat belajar memecahkan
masalah dalam kehidupan sehari-hari dengan fleksibel, praktis, dan juga diterima
secara sosial. Anak juga dapat menerapkan pengetahuan dan pengalaman baru yang
mereka dapatkan baik di sekolah maupun rumah.

Perkembangan kognitif anak berkaitan erat dengan IQ anak. Memberikan anak


berbagai stimulasi kecerdasan bisa meningkatkan IQ anak.

4) Perkembangan Bahasa
Bahasa menjadi aspek perkembangan anak yang bisa amati dan latih sejak dini.
Si Kecil dapat mengerti berbagai hal yang dimaksud oleh orang tua seperti cerita,
aturan, perintah dan juga menghargai bacaan. Tidak sampai di situ, bahasa juga meliputi
bagaimana cara anak berbahasa dengan baik seperti tanya jawab, memahami bentuk
dan juga bunyi dari masing-masing huruf juga angka.
5) Perkembangan Sosial-Emosional
Perkembangan emosi anak usia pada usia dini menjadi hal yang perlu
diperhatikan karena berperan penting dan terkait erat dengan pengenalan diri anak
juga orang sekitar. Berbagai macam hal yang masuk dalam aspek ini adalah sebagai
berikut:

 Anak akan lebih senang jika bermain dengan teman sebayanya, memahami
perasaan, merespon pembicaraan, berbagai mainan dengannya, mendengarkan
ucapannya, hingga belajar menghargai hak dan pendapat orang lain sehingga
anak akan tetap berlaku sopan.
 Tidak hanya itu, aspek ini juga mengajarkan anak arti dari tanggung jawab, hak-
hak, hingga aturan bagi mereka dan orang lain.
 Selain hubungan dengan orang lain maupun teman sebayanya, hal ini akan
membantu anak untuk memperlihatkan kemampuan diri, mengenal perasaan
mereka, mengendalikan diri, hingga menyesuaikan diri untuk berinteraksi
dengan orang lain

6) Perkembangan Seni
Aspek terakhir pada perkembangan anak adalah seni. Setiap anak yang terlahir
bersifat imajinatif dan memiliki sisi seni mereka sendiri. Anak akan tertarik untuk
mengekspresikan diri dan juga mulai mengeksplorasi diri dalam banyak hal dari sisi
kesenian. Contohnya yaitu musik, lukisan, kerajinan, drama dan masih banyak lagi
yang lainnya.

5. Adapun prinsip-prinsip Pelaksanaan DAP adalah sebagai berikut :


1. Perencanaan Kurikulum
Pada perencanaan kurikulum sesuai DAP , perlu diperhatikan beberapa hal
berikut ini :
a. Kurikulum DAP harus mencakup semua aspek perkembangan anak ( fisik,
emosi, sosial, spiritual dan kognitif ) melalui pendekatan yang terpadu.
b. Perencanaankurikulum yang tepat harus didasarkan pada pengamatan pendidik
dan catatan yanglengkap tentang minat dan tingkat perkembangan anak.
c. Perencanaan kurikulum harus diarahkan pada pembelajaran sebagai proses
yang interaktif.
d. Kegiatan dan materi pengemabngan sebaiknya konkret,nyata dan relevan
dengan kehidupan anak.
e. Program pengembangan anak usia dini perlu menyediakan layanan dengan
cakupan yang lebih luas dari berbagai tingkat minat dna kemampuan anak
pada usia kronologis tertentu.
f. Pendidik perlu mengembangkan berbagai variasi kegiatan dan materi
pengembangan, dan mengupayakan kegiatan deangan tingkat kesulitan ,
kompleksitas dan tantangan yang lebih tinggi agar anak terlibat aktif dan dapat
mengembangkan pemahaman dan keahliannya.
g. Pendidik harus memberikan kesempatan pada anak untuk memilih sendiri
ragam kegiatan, materi, peralatan, dan waktu yang cukup untuk melakukan
eksplorasi melalui keterlibatan anak secara aktif
h. Pengalaman, bahan dan perlengkapan pengembbangan yang berasal dari
berbagai budaya (multikultur) dan tidak bias gender perlu dikembangakan
untuk anak segala usia
i. Program pengembangan yang dipersiapkan pendidik perlu memperhatikan
keseimbangan anak dalam beraktivitas dan istirahat.
j. Berbagai pengalaman dankegiatan diluar ruang perlu diperkenalkan pada anak
segala usia.

2. Interaksi antara anak dengan pendidik


Pelaksanaan DAP sangat tergantung pada pola interaksi anak
denganpendidiknya. Interaksi pendidik dengan anak –anak sesuai tahapan
perkembangannya sangat diperlukan. Beberapa hal yang perlu dilakukan pendidik
agar interaksi dengan anak-anak berjalan dengan baik adalah sebagai berikut (
Brekekamp & Coople, 1997)
a. Pendidik perlu segera merespon semua kebutuhan dan keinginan anak,
disesuaikan dengan perbedaan gaya dan kemampuan tiap anak.
b. Pendidik pelu memberikan kesepatan yang beragam bagi anak untuk
berkomunikasi.
c. Pendidik perlu memfasilitasi agar anak berhasil dalam menyelesaikan
tugasnya denga cara memberikan arahan, memfokuskan perhatian, mendekati
anak dan memberikan kata-kata semangat.
d. Pendidik perlu memahami tanda-tanda anak yang mengalami stres dan teknik
mengatasinya.
e. Pendidik perlu memfasilitasi perkembangan rasa percaya diri anak dengan
cara menghormatinya, menerima, menenangkan dan memaklumi perilaku
anak.
f. Pendidik perlu memfasilitasi perkembangan kontrol diri anak.
g. Pendidik setiap saat bertanggung jawab atas semua anak yang ada dibawah
asuhannya dan perlu memberikan kebebasan pada anak melakukan berbagai
kegiatan dalam rangka meningkatkan ketrampilannya.

3. Hubungan antara keluarga dan penyelenggara program (KB/TPA) sesuai


dengan DAP dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Orang tuamempunyai hak dan kewajiban untuk turut serta dalam
mengambil keputusan tentang pendidikan anaknya.
b. Pendidik KB/TPA perlu berbagi pengetahuan dengan orang tua tentang
ilmu atau rujukan tentang perkembangn anak.
c. Pendidik TPA/KB orang tua, lembaga TPA/KB dan konsultan pendidikan
anak pelu secara berkala menjalin komunikasi.
4. Prinsip evaluasi perkembangan anak sesuai DAP dapat diuraikan sebagai
berikut :
a. Kebijakan yang berdampak besar pada anak tidak boleh dibuat berdasarkan
satu jenis asesmen saja.
b. Assesmen perkembangan dan hasil observasi anak dapat dgunakan untuk
mengeidentifikasi anak yang memiliki kebutuhan khusus.
c. Prediksi perkembangan anak yang dibesarkan pada pengukuran dan norma
yang telah dibakukan hanya merupakan informasi normatif yang perlu
dipertanyakan kegunaanya.
d. Bagi tiap anak yang sudah memenuhi kelayakan usia pada program PAUD
tertentu , sebaiknnya diatur penempatan anak sesuai dengan tiangkat
perkembangannya.

Anda mungkin juga menyukai