Model ASSURE
Suatu model pengembangan dikembangkan oleh Sharon E. Smaldino, Robert Heinich,
Michael Molenda, dan James D. Russell. Model ini diformulasikan untuk kegiatan
pembelajaran disebut juga berorientasi kelas. Menurut Smaldino, dkk (2011), model
pembelajaran ASSURE adalah langkah sistematis dalam perencanaan pelaksanaan
pembelajaran di ruang kelas dengan memadukan penggunaan teknologi dan media
pembelajaran. Model pembelajaran ASSURE bersifat praktis dan mudah digunakan serta
berisi langkah-langkah yang sistematik dan sistemik. Model ASSURE akan membuat siswa
menjadi lebih aktif dan kegiatan belajar siswa semakin efektif.
Model ASSURE terdiri atas enam tahap antara lain sebagai berikut:
a. Analyze learners (menganalisis siswa)
Langkah pertama dari implementasi model ASSURE adalah mengidentifikasi siswa. Kita
harus mengetahui karakteristik siswa untuk dapat merumuskan tujuan pembelajaran. Analisis
terhadap karakteristik siswa meliputi: (1) karakteristik umum; (2) kompetensi spesifik yang
telah dimiliki siswa sebelumnya (pengetahuan, keterampilan, dan cara berpikir tentang
sebuah topik) dan gaya belajar siswa.
b. State Objectives (Merumuskan tujuan pembelajaran atau kompetensi)
Menurut Smaldino et al (2005:48) bahwa “tujuan pembelajaran dapat diperoleh dari silabus
atau kurikulum, informasi yang tercatat dalam buku teks, atau dirumuskan sendiri oleh
perancang atau instruktur setelah melalui proses penilaian kebutuhan belajar.
c. Select Methods, Media and Materials (Memilih metode, media dan bahan ajar)
Suatu rencana yang sistematik dalam penggunaan media dan teknologi tentu menuntut agar
metode, media dan materinya dipilih secara sistematis pula. Proses pemilihannya melibatkan
tiga langkah yaitu (1) menentukan metode yang tepat untuk kegiatan belajar tertentu, (2)
memilih format media yang disesuaikan dengan metode yang diterapkan dan (3) memilih,
memodifikasi, atau merancang/memproduksi bahan ajar.
d. Utilize Media and Materials (Memanfaatkan media dan bahan ajar)
Tahap keempat adalah penggunaan media dan bahan ajar untuk pembelajaran. Smaldino et al
(2005: 62-63) mengajukan rumus 5P dalam pemanfaatan media dan bahan ajar yaitu: 1)
Preview the Materials (Mengkaji bahan ajar) 2) Prepare the Materials (Menyiapkan bahan
ajar) 3) Prepare the Environment (Menyiapkan lingkungan pembelajaran) 4) Prepare the
Learners (Menyiapkan siswa) 5) Provide the Learning Experience (Tentukan pengalaman
belajar)
e. Require Lerner Participation (Melibatkan siswa dalam aktivitas pembelajaran)
Agar efektif, instruksi berbasis materi harus membutuhkan keterlibatan mental aktif oleh
peserta didik. Harus ada kegiatan dalam pelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk
memproses pengetahuan atau keterampilan dan untuk menerima umpan balik tentang
kepantasan upaya mereka sebelum dinilai secara formal.
f. Evaluate and Revise (Melakukan Evaluasi dan Revisi)
Smaldino, Sharon E, (et all) (2005:48) menyatakan bahwa setelah pengajaran, perlu untuk
mengevaluasi dampak dan efektivitasnya dan untuk menilai pembelajaran siswa. Untuk
mendapatkan gambaran total, Anda harus mengevaluasi seluruh proses pembelajaran.
Apakah peserta didik memenuhi tujuan? Apakah metode dan media membantu peserta dalam
mencapai tujuan? Bisakah semua siswa menggunakan materi dengan benar?
Model ADDIE
Model ADDIE adalah salah satu model desain pembelajaran yang memperlibatkan tahapan-
tahapan dasar sistem pembelajaran yang sederhana dan mudah di pelajari. Model ADDIE ini
muncul pada tahun 1990-an yang dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda. Model ADDIE
juga dapat diterapkan untuk profesionalitas guru dan tenaga kependidikan di lembaga
lembaga pendidikan. Model ini menggunakan tahap pengembangan yaitu Analysis, Design,
Development, Implementation, Evaluation. Sehingga dari tahap pengembangan yang
digunakan, model ini sering diset dengan model ADDIE.
1. Analysis
Analysis (Analisi) merupakan tahap awal ini merupakan suatu tahapan yang
menjelaskan mengenai hal-hal yang harus dipelajari oleh peserta didik digunakan
untuk mengklarifikasi apakah ada masalah yang akan dihadapi sehingga nantinya
dapat menemukan solusi yang tepat untuk menghadapi masalah dalam
penyelenggaraan program pembelajaran.
“Tahap analisis merupakan suatu proses mendefinisikan apa yang akan dipelajari
oleh peserta belajar, yaitu menganalisis kebutuhan, mengidentifikasi masalah, dan
melakukan analisis tugas.” (Muhammad Afandi dan Badarudin, 2011:24). Sehingga
hasil yang diharapkan dapat sesuai dengan hal-hal yang diharapkan sebelumnya.
2. Design
Design (Desain) merupakan tahap setelah proses analisis dimana tahap ini adalah
tidak lanjut atau kegiatan inti dari langkah analisis. Dikatakan sebagai rancangan
dalam proses pembelajaran. Desain disusun dengan mempelajari masalah, kemudian
mencari solusi melalui identifikasi dari tahap analisis kebutuhan pada proses
sebelumnya.
3. Development
Setelah terbentuknya desain pembelajaran pada tahap kedua, tahap selanjutnya
adalah development atau tahap pengembangan, dimana desain yang sudah tersusun
atau sudah terbuat kemudian ditindak lanjuti prosesnya melaui uji coba. Apakan
desain yang sudah dibuat tersebut layak untuk digunakan atau tidak. Jika berhasil
atau dapat digunakan, maka desain harus dikembangkan agar lebih baik dan
tentunya mendukung proses pembelajaran untuk mencapai tujuannya. Tahap
pengembangan ini juga harus dikombinasikan atau dipadukan dengan media –
media yang kiranya dapat mendukung pembelajaran
4. Implementation
Suatu rencana pembelajaran yang telah dibuat tidak akan kita ketahui hasilnya
apabila tidak ada suatu tindakan yang dilakukan. Adanya tindakan tersebut sangat
berarti karena pembelajaran akan memunculkan hal baru berupa dampak yang dapat
dijadikan pengalaman atau bahkan acuan apabila telah membuahkan hasil, untuk
itulah perlu adanya implementasi yang berarti pelaksanaan atau penerapan dari
suatu rencana dimana ini merupakan salah satu model ADDIE yang menjadi satu
kesatuan dengan tahap-tahap sebelumnya sebagai penyempurna dan cukup
berpengaruh dalam pelaksanaan pembelajaran.
5. Evaluation
Perencanaan pembelajaran yang disiapkan secara matang akan melewati tahap-
tahap pengembangan model ADDIE ini dengan lancar dan berakhir pada tahap yang
disebut dengan evaluasi. Evaluasi merupakan tahap dimana tindakan yang
dilakukan adalah bertujuan untuk mengetahui keberhasilan suatu rencana
pembelajaran, hal-hal yang dilakukan guna suksesnya tahap ini tidak semata-mata
utuh pada tahap ini saja namun evaluasi dapat terjadi pula pada tahap-tahap
sebelumnya. Dalam pelaksanaan evaluasi tersebut hendaklah memperhatikan
tujuan-tujuan yang hendak dicapai pada awal perencanaan karena suatu evaluasi
atau penilaian memiliki kriteria guna mengetahui ketercapaiannya sampai batas
yang ditentukan atau tidak dan dari kegiatan tersebut diperlukan adanya informasi
dan data-data yang diperlukan dari obyek yang akan dievaluasi guna kelancaran
proses evaluasi.
Model Kemp
Jelord E. Kemp mengembangkan model desain instruksional yang paling awal bagi
pendidikan. Model Jerold E. Kemp merupakan model desain pembelajaran yang dirancang
pada bagian awal pendidikan bertujuan untuk memberikan bimbingan kepada peserta
didiknya untuk berfikir tentang masalah-masalah umum dan tujuan-tujuan pembelajaran.
Model Kemp memberikan bimbingan kepada para siswanya untuk berfikir tentang masalah-
masalah umum dan tujuan-tujuan pembelajaran. Model ini juga mengarahkan para
pengembangan desain instruksional untu melihat karakteristik para peserta didik serta
menentukan tujuan-tujuan belajar yang tepat.
Model Banathy
Model Banathy dikembangkan pada tahun 1968 oleh Bela H. Banathy. Model yang
dikembangkannya ini berorientasi pada hasil pembelajaran, sedangkan pendekatan yang
digunakan adalah pendekatan sistem, yakni pendekatan yang didasarkan pada kenyataan
bahwa kegiatan belajar mengajar merupakan suatu hal yang sangat kompleks, terdiri atas
banyak komponen yang satu sama lain harus bekerja sama secara baik untuk mencapai hasil
yang sebaik-baiknya. Model pengembangan sistem pembelajaran ini berorientasi pada tujuan
pembelajaran. Model Bela H. Banathy adalah Model pembelajaran yang prosesnya terdiri
dari Merumuskan tujuan, Mengembangkan tes, Menganalisis kegiatan belajar, Melaksanakan
kegiatan dan tes serta mengadakan perbaikan.
Pada langkah ini dirumuskan tugas-tugas yang harus dilakukan oleh peserta didik/siswa
untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan, yakni perubahan tingkah laku
yang diharapkan. Pada langkah ini, perilaku awal peserta didik/siswa perlu dinilai dan
dianalisis. Berdasarkan gambar tentang perilaku awal tersebut dapat dirancang materi
pelajaran dan tugas-tugas belajar yang sesuai, sehingga mereka tidak perlu mempelajari hal-
hal yang telah diketahui atau telah dikuasai sebelumnya.
Model Dick Dan Carey
Model pembelajaran Dick dan Carey merupakan model pembelajaran yang dikembangkan
melalui pendekatan sistem (System Approach). Terhadap komponen-komponen dasar dari
desain sistem pembelajaran yang meliputi analisis, desain, pengembangan, implementasi dan
evaluasi. Model sistem pembelajaran yang dikembangkan oleh Dick dkk terdiri atas beberapa
komponen yang perlu dilakukan untuk membuat rancangan aktifitas pembelajaran yang lebih
besar. Dick dan Carey memasukkan unsur kognitif dan behavioristik yang menekankan pada
respon siswa terhadap stimulus yang dihadirkan. Komponen-komponen sekaligus langkah-
langkah utama dari model desain sistem pembelajaran yang dikemukakan oleh Dick dkk yang
terdiri atas:
1. Mengidentifikasi tujuan pembelajaran
2. Melakukan analisis instruksional
3. Analisis Siswa dan Konteks
4. Merumuskan tujuan pembelajaran khusus
5. Mengembangkan instrument penelitian
6. Mengembangkan strategi pembelajaran
7. Penggunaan Bahan Ajar
8. Merancang dan mengembangkan evaluasi formatif
9. Melakukan revisi terhadap program pembelajaran
10. Merancang dan mengembangkan evaluasi sumatif.
Model PPSI
Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional yaitu suatu model pengajaran yang teroragisasi
yang terdiri atas komponen yang menitik beratkan pada tujuan pengajaran. Sehingga
pengajaran selalu mengacu pada tujuan pendidikan khususnya tujuan instruksional. PPSI
merupakan proses dalam mengembangkan pengajaran sebagai suatu sistem, yaitu sebagai
kesatuan yang terorganisir, yang memuat sejumlah unsur antara lain tujuan, materi, metode,
alat bantu dan evaluasi pembelajaran. PPSI adalah langkah-langkah pengembangan sistem
instruksional yang mendasari efektivitas praktek pengajaran. Fungsi PPSI adalah untuk
mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistemik dan
sistematis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi pendidik dalam melaksanakan proses
belajar-mengajar.
PPSI digunakan sebagai pendekatan penyampaian pada kurikulum 1975 untuk tingkat SD,
SMP, dan SMA, dan kurikulum 1976 untuk sekolah lanjutan. PPSI menggunakan pendekatan
sistem yang mengutamakan adanya tujuan yang jelas, sehingga dapat dikatakan bahwa PPSI
merujuk pada pengertian sebagai suatu sistem, yaitu sebagai kesatuan terorganisasi yang
terdiri atas sejumlah komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya dalam
rangka mencapai tujuan yang diinginkan. PPSI merupakan model pembelajaran yang
menerapkan suatu sistem untuk mencaai tujuan secara efektf dan efesien.
Model Gerlach dan Ely
Model pembelajaran Gerlach dan Ely merupakan suatu metode perencanaan pengajaran yang
sistematis. Model ini menjadi suatu garis pedoman atau suatu peta perjalanan pembelajaran
karena dalam model ini diperlihatkan keseluruhan proses belajar mengajar yang baik,
sekalipun tidak menggambarkan secara rinci setiap komponennya. Dalam model ini juga
diperlihatkan hubungan antara elemen yang satu dengan yang lainnya serta menyajikan suatu
pola urutan yang dapat dikembangkan dalam suatu rencana untuk mengajar.
Model yang dikembangkan oleh Gerlach dan Ely (1971) dimaksudkan sebagai pedoman
perencanaan mengajar. Pengembangan sistem instruksional menurut model ini melibatkan
sepuluh unsur seperti terlihat dalam flow chart di halaman berikut.
Model UbD
Pendekatan Understanding by Design ini dikembangkan oleh Grant Wiggins dan Jay
McTighe 2006 dalam bukunya yang berjudul Understanding by Design Expanded 2nd
Edition . Understanding by Design sebagai sebuah pendekatan pembelajaran yang
meningkatkan pemahaman secara mendalam dan keterlibatan siswa, desain pembelajaran ini
berorientasi dari hasil belajar atau cara berpikir tentang pembelajaran, penilaian dan
pengajaran yang menempatkan siswa di tengah proses pembelajaran. Menurut Wiggins
McTinghe desain yang tepat untuk pendekatan Understanding by Design adalah backward
design , dimana suatu rancangan pembelajaran disusun dari belakang yaitu berawal dari
penentuan tujuan pembelajaran kemudian evaluasi dan kegiatan yang tepat untuk mencapai
tujuan tersebut. Desain ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa. Understanding
by Design adalah suatu pendekatan pembelajaran. Jadi Understanding by Design adalah sudut
pandang pendekatan dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang memandang
pembelajaran sebagai sebuah cara untuk membangun pemahaman siswa melalui backward
design
Model Kurikulum 2013
Model Kurikulum Merdeka