Sisa Plasenta (Rest Plasenta)
1. Prinsip Dasar sisa plasenta
Retensio sisa plasenta atau tertinggalnya sebagian plasenta (sisa plasenta) merupakan
penyebab umum terjadinya perdarahan lanjut dalam masa nifas (perdarahan pasca persalinan
sekunder) (Yanti, 2010). Suatu bagian dari plasenta,satu atau lebih lobus tertinggal di dalam
uterus (Prawiroharjo, 2008)
2. Penyebab dari sisa plasenta
Menurut rustam muctar dalam buku sinopsis obstetri (1998) peyebab sisa plasenta adalah
a) Plasenta belum terlepas dari dinding rahim karena tumbuh terlalu melekat lebih dalam
berdasarkan tingkat perlekatan dibagi menjadi:
Plasenta adhesive melekat pada desidua endometrium lebih dalam. Kontraksi
uterus kurang kuat untuk melepas plasenta
Plasenta akreta implantasi jonjot khoruo memasuki sebagian miometrium
plasenta inkreta, implantasi
Perdarahan segara (P3)
Uterus berkontraksi dan keras mengejan lainnya antara lain
Tali pusat putus akibat traksi berlebihan
Inversio uteri akibat tarikan dan perdarahan lanjut
3. Faktor yang berhubungan dengan sisa plasenta
a. Umur
Usia ibu hamil terlalu muda (<20 tahun) dan terlalu tua (>35 tahun) mempunyai
resiko yang lebih besar untuk melahirkan bayi kurang sehat. Hal ini dikarenakan pada umur
20
tahun, dari segi biologis fungsi organ reproduksi seorang wanita belum berkembang dengan
sempurna untuk menerima keadaan janin dan segi psikis belum matang dalam menghadapi
tuntutan beban moril, mental dan emosional, sedangkan pada umur diatas 35 tahun dan sering
melahirkan, fungsi reproduksi seorang wanita sudah mengalami kemunduran atau degenerasi
dibandingkan fungsi normal sehingga kemungkinan untuk terjadinya komplikasi pasca
persalinan terutama perdarahan lebih besar. Perdarahan post partum yang mengakibatkan
kematian maternal pada wanita hamil yang melahirkan pada umur dibawah 20 tahun, dua
sampai lima kali lebih tinggi dari pada perdarahan post partum yang terjadi pada usia 20-29
tahun. Perdarahan postpartum meningkat kembali setelah usia 30-35 tahun, (Wiknjosastro,
2010).
b. Paritas
Uterus pada saat persalinan, setelah melahirkan plasenta sukar untuk berkontraksi dan
berektraksi kembali sehingga pembuluh darah maternal pada dinding uterus akan tetap
tebuka. Hal inilah yang dapat menyebabkan meningkatkan perdarahan post partum,
(Winknjosastro, 2010). Jika kehamilan “terlalu muda, terlalu tua, terlalubanyak dan terlalu
dekat (4 terlalu” dapat meningkatkan resiko berbahaya pada proses reprodusi karena
kehamilan terlalu sering dan terlalu dekat menyebabkan intake (masukan) makanan atau gizi
menjadi lebih rendah. Ketika tuntunan dan beban fisik terlalu tinggi mengakibatkan
wanita tidak punya waktu untuk mengembalikan kekuatan diri dari tuntunan gizi, juga anak
yang telah dilahirkan perlu mendapat perhatian yang optimal dari kedua orang tuanya
sehingga sangat perlu mengatur kapan sebaiknya waktu yang tepat untuk
hamil.(Saifuddin, 2011).
c. Status Anemia dalam kehamilan
Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin di bawah 11
gr% pada trimester satu dan tiga atau kadar hemoglobin dibawah 10,5 gr% pada trimester dua
nilai batas tersebut dan perbedaannya dengan wanita tidak hamil terjadi hemodilusi, terutama
pada trimester dua, (Saifuddin, 2011). Darah akan bertambah banyak dalam kehamilan
yang lazim disebut hidramia atau hipervolemia. Akan tetapi, bertambahnya sel darah kurang
dibandingkan dengan bertambahnya plasma sehingga terjadi pengenceran darah.
Perbandingan tersebut adalah sebagai berikut plasma 30%, sel darah 18% dan hemoglobin
19%. Bertambahnya darah dalam kehamilansudah mulai sejak kehamilan 10
minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 36 minggu, (Wiknjosastro,
2010). Secara fisiologis, pengenceran darah ini untuk membantu meringankan kerja jantung
yang semakin berat dengan adanya kehamilan
4. Penilaian klinik
Tanda dan gejala klinik yang sering di rasakan pada pasien dengan sisa plasenta yaitu :
1. Sewaktu bagian dari plasenta (satu atau lebih lobus) tertinggal, maka uterus tidak dapat
berkontraksi secara efektif dan keadaan ini dapat menimbulkan perdarahan. Tetapi mungkin
saja pada beberapa keadaan tidak ada perdarahan dengan sisa plasenta.
2. Keadaan umum lemah
3. Peningkatan denyut nadi
4. Tekanan darah menurun
5. Pernafasan cepat
6. Gangguan kesadaran (Syok)
7. Pasien pusing dan gelisah
8. Tampak sisa plasenta yang belum keluar
5. Diagnosa Sisa Plasenta
Diagnosis pada rest plasenta dapat ditegakkan berdasarkan :
a. Palpasi Uterus : bagaimana kontraksi uterus dan tinggi fundus uteri.
b. Memeriksa plasenta apakah lengkap atau tidak
c. Lakukan eksplorasi cavum uteri untuk mencari sisa plasenta
d. Sisa Plasenta atau selaput ketuban
e. Robekan rahim
f. Plasenta suksenturiata
g. Inspekulo : untuk melihat robekan pada serviks, vagina dan varises yang pecah
h. Pemeriksaan Laboratorium periksa darah yaitu Hb, COT (Clot Observation Test), dll.
6. Penanganan umum
Dengan perlindungan antibiotik sisa plasenta dikeluarkan secara digital atau dengan
kuret besar. Jika ada demam ditunggu dulu sampai suhu turun dengan pemberian antibiotik
dan 3 – 4 hari kemudian rahim dibersihkan, namun jika perdarahan banyak, maka rahim
segera dibersihkan walaupun ada demam (Saleha, 2009) Keluarkan sisa plasenta dengan
cunam ovum atau kuret besar. Jaringan yang melekat dengan kuat mungkin merupakan
plasenta akreta. Usaha untuk melepas plasenta terlalu kuat melekatnya dapat mengakibatkan
perdarahan hebat atau perforasi uterus yang biasanya membutuhkan tindakan
hisrektomi (Prawirohardjo, 2009). Menurut Morgan & Hamilton (2009) terapi yang biasa
digunakan :
a. Pemasangan infus dan pemberian uterotonika untuk mempertahankan keadaan umum ibu
dan merangsang kontraksi uterus.
b. Kosongkan kandung kemih
c. Berikan antibiotik untuk mencegah infeksi
d. Antiobiotika ampisilin dosis awal 1 gr IV dilanjutkan dengan 3x1 gram per oral
dikombinasikan dengan metrodinazol 1 gram suppositoria dilanjutkan dengan 3x500 mg.
e. Oksitosin
Methergin 0,2 mg peroral setiap 4 jam sebanyak 6 dosis. Dukung dengan analgesik
bila kram.
Mungkin perlu dirujuk ke rumah sakit untuk dilatasi dan kuretase bila terdapat
perdarahan.
f. Observasi tanda – tanda vital dan perdarahan
g. Bila kadar HB <8 gr % berikan tranfusi darah. Bila kadar Hb >8 gr%, berikan sulfas
ferosis 600mg/hari selama 10 hari
Sisa plasenta bisa diduga bila kala uri berlangsung tidak lancar atau setelah melakukan
plasenta manual atau menemukan adanya kotiledon yang tidak lengkap pada saat melakukan
pemeriksaan plasenta dan masih ada perdarahan dari ostium ekternum pada saat eksplorasi
kedalam rahim dengan cara manual/digital atau kuret dan pemberian uterotonika. Anemia
timbul setelah perdarahan dapat diberi transfuse darah sesuai dengan keperluannya (Sarwono
Prawirohaardjo, 2008)
7. Penatalaksanaan khusus
Apabila diagnosa sisa plasenta ditegakkan maka bidan boleh mengeluarkan sisa
plasenta secara manual atau digital dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Perbaikan keadaan umum ibu (pasang infus)
2. Kosongkan kandung kemih
3. Memakai sarung tangan steril
4. Desinfeksi sarung tangan steril
5. Tangan kiri melebarkan genetalia eksternal, tangan kanan dimasukkan secara obstetri
sampai servik
6. Lakukan eksplorasi di dalam cavum uteri untuk mengeluarkan sisa plasenta
7. Lakukan pengeluaran plasenta secara digital
8. Setelah plasenta keluar semua diberikan injeksi uterus tonika
9. Berikan antibiotik untuk mencegah infeksi
10. Antibiotik ampisilin dosis awal 19 IV dilanjutkan dengan 3x1 gram. Oral dikombinasikan
dengan metronidazol 1 gr suppositoria dilanjutkan dengan 3x500 mg oral
11. Observasi tanda-tanda vital dan perdarahan
12. Antibiotik dalam dosis pencegahan sebaiknya diberikan
Sisa plasenta bisa diduga bila kala uri berlangsung tidak lancar atau setelah
melakukan plasenta manual atau menemukan adanya kotiledon yang tidak lengkap pada saat
melakukan pemeriksaan plasenta dan masih ada perdarahan dari ostium ekternum pada saat
eksplorasi kedalam rahim dengan cara manual/digital atau kuret dan pemberian uterotonika.
Anemia timbul setelah perdarahan dapat diberi transfuse darah sesuai dengan keperluannya
(Sarwono Prawirohaardjo, 2008)
8. Komplikasi
a) Sumber infeksi dan perdarahan potensial
b) Memudahkan terjadinya anemia yang berkelanjutan
c) Terjadinya plasenta polip
d) Degenerasi korio karsinoma
e) Dapat menimbulkan gangguan pembekuan darah
9. Pencegahan
Pencegahan terjadinya perdarahan post partum merupakan tindakan utama, sehingga
dapat menghemat tenaga, biaya dan mengurangi komplikasi upaya preventif dapat dilakukan
dengan :
1. Meningkatkan kesehatan ibu, sehingga tidak terjadi anemia dalam kehamilan.
2. Melakukan persiapan pertolongan persalinan secara legeartis.
3. Meningkatkan usaha penerimaan KB.
4. Melakukan pertolongan persalinan di rumah sakit bagi ibu yang mengalami perdarahan
post partum.
5. Memberikan uterotonika segera setelah persalinan bayi, kelahiran plasenta dipercepat
Daftar Pustaka
Abdul Bari Saifuddin. 2011. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal.
Jakarta ; PT Bina Pustaka sarwono Prawirohardjo
Martiningsih, Putu. 2012. Rest placenta pada Ibu Nifas P1A1 6 jam Post Partum Diruang
Bersalin RSUD Wangaya. [Link] .
Diakses pada tanggal 14 Agustus 2022 Pukul 10.03 WIB.
Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan
Prawirohardjo,S., 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Saleha, Siti. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta : Salemba. Medika
Wiknjosastro. 2010. Buku panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal,
Edisi 1. Cet. 12. Jakarta : Bina Pustaka.
Yanti. (2010). Buku Ajar Kebidanan Persalinan. Yogyakarta: Pustaka Rihama.