MAKALAH KOMUNIKASI PADA PASIEN DENAN GANGGUAN FISIK
OLEH:
DANI AFRILA
FITRAH RAMADHANI
GITA AYU INDIANI RIDWAN
NUR FAJRIAH
NUR PITRIANI.H
NUR WIDYA
AKADEMI KEPERWATAN MAPPAUODANG MAKASSAR
TAHUN AJARAN 2022/2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena dengan limpahan rahmat dan hidayah-Nya
kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Komunikasi Pada Pasien Denan
Gangguan Fisik”. Shalawat serta salam semoga selalu selalu tercurahkan kepada Nabi
Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya hingga akhir zaman.
Adapun maksud dan tujuan dari penyusunan makalah ini selain untuk meyelesaikan
tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah Komunukasi, juga untuk memperluas
pengetahuan kami selaku mahasiswa. Pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan terimah
kasih kepada dosen mata kuliah Komunikasi karena telah memberikan ilmu bagi
mahaiswa(i) tentang pembuatan makalah tugas ini yang berjudul “Komunikasi Pada Pasien
Denan Gangguan Fisik”.
Tiada gading yang tak retak. Dari peribahasa itu, kami menyadari bahwa tugas ini
bukanlah karya yang sempurna karena memiliki banyak kekurangan baik dalam hal isi
maupun sistematika dan teknik penulisan. Oleh sebab itu kami sangat mengharapkan kritik
dan saran yang membangun demi kesempurnaan tugas ini. Akhir kata, semoga tugas ini bisa
memberikan manfaat bagi kami selaku penulis dan pembaca.
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Komunikasi adalah elemen dasar dari interaksi manusia yang
memungkinkanseseorang untuk menetapkan, mempertahankan dan meningkatkan
kontak dengansesama. Komunikasi dilakukan oleh semua orang setiap hari, maka
orang seringkali berpikir bahwa komunikasi adalah sesuatu yang mudah. Namun sebenarnya
adalah proses yang kompleks yang melibatkan tingkah laku dan hubungan yangmemungkink
an setiap individu bersosialisasi dengan orang lain dan denganlingkungan sekitarnya. Sebagai
pengobat, dalam berkomunikasi dengan pasien kitatidak boleh terburu-buru dan harus
mengurangi kebisingan dan distraksi.
Kesehatan adalah salah satu konsep yang telah sering digunakan namun
sukar untuk dijelaskan artinya. Beberapa faktor yang berbeda terkadang menyebabkansukarn
ya mendefinisikan kesehatan, kesakitan, dan penyakit. Pada tahun 1947, WHO mencoba
untuk menggambarkan kesehatan secara luas. Kesehatan (health) diartikansebagai keadaan
(status) sehat utuh secara fisik, mental (rohani), sosial, dan bukanhanya suatu keadaan yang
bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan.
Di sisi lain, penyakit merupakan gangguan fungsi atau adaptasi dari proses- proses
biologis dan psikofisiologis pada seseorang. Kesakitan adalah reaksi personal,
interpersonal serta kultural terhadap penyakit. Kesakitan juga merupakan responsubjektif
dari pasien, serta respon di sekitarnya terhadap keadaan tidak sehat,
tidak hanya memasukkan pengalaman tidak sehatnya saja, tapi arti dari pengalamantersebut
bagi pasien.
1.2. RUMUSAN MASALAH
A. Apa itu gangguan fisik dan gangguan jiwa
B. Bagaimana komunikasi terapeutik gangguanf isik
C. Bagaimana komunikasi terapeutik pada gangguan jiwa
1.3. TUJUAN
A. Mengetahui gangguan fisik dan gangguan jiwa
B. Mengetahui komunikasi terapeutik gangguan fisik
C. Mengetahui komunikasi terapeutik pada gangguan jiwa
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. GANGGUAN FISIK DAN GANGGUAN JIWA
Fisik dan psikologis seseorang seringkali saling terkait. Dari sakit fisik bisamuncul
gangguan psikologis. Sebaliknya pula, dari gangguan psikologis bisa munculsakit fisik.
Dalam mengkaji hubungan di antara keduanya, analisis permasalahan meliputi pencarian
/penggalian dan penjelasan hubungan antara kepribadian dan penyakit fisik yang diikuti
dengan pendekatan penelitian kontemporer. Secaralangsung, gangguan psikologis dapat dijela
skan dengan mengetahui penyebab psikologis itu sendiri seperti stres, pengalaman trauma,
dan masalah kanak- perilaku, sedangan gangguan fisik disembuhkan secara medis. Gangguan
psikologis berkisar dari penyakit mental yang serius sampaikasus yang depresi yang relatif
ringan yang biasanya disebabkan ketidak seimbang biokimia, sering dianggap sebagai
keturunan. Hal initerutama didukung oleh penelitian DNA.
2.2. KOMUNIKASI TERAPEUTIK GANGGUAN FISIK
[Link] Gangguan Fisik.
Fisik adalah suatu keadaan dimana seseorangmempunyai kekurangan padafisiknya atau
terganggunya systemorgan, sensorik, dan motorik didalam tubuh.
[Link] Pada Macam-Macam Gangguan Fisik
1)Klien Dengan Gangguan Pendengaran
Pada klien dengan gangguan pendengaran, media komunikasi yang paling
sering digunakan ialah media visual. Klien menangkap pesan bukan dari suara
yangdikeluarkan orang lain, tetapi dengan mempelajari gerak bibir lawan bicaranya.
Kondisi visual menjadi sangat penting bagi klien ini sehingga dalam melakukan
komunikasi, upayakan supaya sikap dan gerakan anda dapat ditangkap oleh indravisualnya.
Teknik-teknik komunikasi yang dapat digunakan klien dengan gangguan pendengaran, antara
lain:
[Link] kehadiran anda dengan cara menyentuh klien atau memposisikan diri di
depan klien.
[Link] bahasa yang sederhana dan bicaralah dengan perlahan untuk memudahkan klien
membaca gerak bibir anda.
[Link] berbicara dengan posisi tepat didepan klien dan pertahankan sikaptubuh dan
mimik wajah yang lazim.
[Link] melakukan pembicaraan ketika anda sedang mengunyah sesuatu (permen karet).
e. Bila mungkin gunakan bahasa pantomim dengan gerakan sederhana danwajar.
[Link] bahasa isyarat atau bahasa jari bila anda bisa dandiperlukan.
[Link] ada sesuatu yang sulit untuk dikomunikasikan, cobalah sampaikan pesan dalam
bentuk tulisan atau gambar (simbol).
2)Klien Dengan Gangguan Penglihatan
Gangguan penglihatan dapat terjadi baik karena kerusakan organ, misal.,kornea, lensa
mata, kekeruhan humor viterius, maupun kerusakan kornea, serta kerusakan saraf penghantar
impuls menuju otak. Akibat kerusakan visual,kemampuan menangkap rangsang ketika
berkomunikasi sangat bergantung pada pendengaran dan sentuhan. Oleh karena itu,
komunikasi yang dilakukan harus mengoptimalkan fungsi pendengaran dan sentuhan karena
fungsi penglihatan sedapat mungkin harusdigantikan oleh informasi yang dapat ditransfer
melalui indra yang lain.
A)Teknik Komunikasi
Berikut adalah teknik-teknik yang diperhatikan selama berkomunikasi denganklien yang
mengalami gangguan penglihatan:
1. Sedapat mungkin ambil posisi yang dapat dilihat klien bila ia mengalami
kebutaan parsial atau sampaikan secara verbal keberadaan / kehadiran perawat ketika anda
berada didekatnya.
2. Identifikasi diri anda dengan menyebutkan nama (dan peran) anda
3. Berbicara menggunakan nada suara normal karena kondisi klien tidak memungkinkanya
menerima pesanverbal secara visual. Nada suara andamemegang peranan besar dan bermakna
bagi klien.
4. Terangkan alasan anda menyentuh atau mengucapkan kata - kata sebelummelakukan
sentuhan pada klien.
5. Informasikan kepada klien ketika anda akan meninggalkanya / memutuskomunikasi.
6. Orientasi klien dengan suara - suara yang terdengar disekitarnya.
7. Orientasikan klien pada lingkunganya bila klien dipindah ke lingkungan /ruangan yang
baru.
B)Syarat-Syarat Komunikasi
Dalam melakukan komunikasi terapeutik dengan pasien dengan gangguansensori
penglihatan, perawat dituntut untuk menjadi komunikator yang baik sehinggaterjalin
hubungan terapeutik yang efektif antara perawat dan klien, untuk itu
syaratyang harus dimiliki oleh perawat dalam berkomunikasi dengan pasien dengangangguan
sensori penglihatan adalah:
[Link] kesiapan artinya pesan atau informasi, cara penyampaian, dansaluarannya harus
dipersiapkan terlebih dahulu secara matang.
[Link] artinya apapun ujud dari pesan atau informasi tersebut tetapharus
disampaikan secara sungguh-sungguh atau serius.
[Link] artinya sebelum individu memberikan informasi atau pesan
kepadaindiviu lain pemberi informasi harus merasa yakin bahwa apa yangdisampaikan itu me
rupakan sesuatu yang baik dan memang perlu serta berguna untuk si pasien
[Link] diri artinya jika perawat mempunyai kepercayaan diri maka halini akan sangat
berpengaruh pada cara penyampaiannya kepada pasien.
[Link] artinya sebaik apapun dan sejelek apapunyang akan disampaikan,
[Link] artinya bahwa keramahan ini merupakankunci sukses darikegiatan komunikasi,
karena dengan keramahan yang tulus tanpa dibuat-buatakan menimbulkan perasaan tenang,
senang dan aman bagi penerima.
[Link] artinya di dalam penyampaian informasi,sebaiknya dibuatsederhana baik
bahasa, pengungkapan dan penyampaiannya.
3). Klien Dengan Gangguan Bicara.
Gangguan wicara dapat terjadi akibat kerusakan organ lingual, kerusakan pitasuara, a
taupun gangguan persarafan. Berkomunikasi dengan klien dengan gangguanwicara
memerlukan kesabaran supaya pesan dapat dikirim dan ditangkap dengan benar.
[Link] saat berkomunikasi dengan klien gangguan wicara.
[Link] benar - benar dapat memperhatikan mimik dan gerak bibirklien.
[Link] memperjelas hal yang disampaikan dengan mengulang kembalikata kata yang
diucapkan klien.
[Link] pembicaraan supaya tidak membahas terlalu banyak topik.
[Link] pembicaraan sehingga menjadi lebih rileksdan pelan.
[Link] setiap detail komunikasi sehingga pesandapat diterimadengan baik.
[Link] perlu, gunakan bahasa tulisan dan simbol.
[Link] memungkinkan, hadirkan orang yang terbiasa berkomunikasi lisandengan klien
untuk menjadi mediator komunikasi.
4)Klien Dengan Keadaan Tidak Sadar
Ketidaksadaran mengakibatkan fungsi sensorik dan motorik klien
mengalami penurunan sehingga seringkali stimulus dari luar tidak dapat diterima klien
dan klientidak dapat merespons kembali stimulus tersebut. Keadaaan tidak sadar dapat
terjadi akibat gangguan organik pada otak, trauma otak yang berat, syok, pingsan,
kondisitidur dan narkose, ataupun gangguan berat yang terkait dengan penyakit tertentu.
Pada saat berkomunikasi dengan klien gangguan kesadaran, hal hal berikut
perludiperhatikan:
[Link] - hati ketika melakukan pembicaraan verbal dekat klien karena
adakayakinan bahwa organ pendengaranmerupakan organ terakhir yangmengalami
penurunan penerimaan rangsang pada individu yang tidak sadar danyang menjadi pertama
kali berfungsi pada waktu sadar.
[Link] asumsi bahwa klien dapat mendengar pembicaraan kita.
[Link] kata - kata sebelum menyentuh klien. Sentuhan diyakini dapatmenjadi salah satu
bentuk komunikasi yangsangat efektif pada klien dengan penurunan kesadaran.
[Link] mempertahankan lingkungan setenang mungkin untuk membantuklien pada
komunikasi yang dilakukan
5)Klien Atau Gangguan Kematangan Kognitif
Berbagai kondisi dapat mengakibatkan gangguan kematang ankognitif, antaralain
akibat penyakit : retardasi mental, syndrome down, ataupun situasi sosial, misal, pendidikan
yang rendah, kebudayaan primitif, dan sebagainya. Dalam berkomunikasi
dengan klien yang mengalami gangguan kematangan, sebaikanya anda memperhatikan
prinsip komunikasi bahwa komunikasi dilakukan dengan pendekatan komunikasi efektif,
yaitu mengikuti kaidah sesuai kemampuan audience (capabilityofaudience) sehingga
komunikasi dapat berlangsung lebih efektif.
Komunikasidengan klien yang mengalami gangguankematangan kognitif :
[Link] dalam tema yang jelas dan terbatas.
[Link] menggunakan istilah yang membingungkan klien, usahakan menggunakan kata
pengganti yang lebih mudah dimengerti, contoh, atau gambar dan simbol.
[Link] dengan menggunakan nada yang relatif datar dan pelan.
[Link] perlu, lakukan pengulangan dan tanyakan kembali pesan untuk memastikan
kembali maksud pesan sudah diterima.
[Link] - hatilah dalam menggunakan teknik komunikasi non verbal karena dapat
menimbulkan interprestasi yang berbeda pada klien.
[Link] Komunikasi Dalam Asuhan Keperawatan Pada PasienDengan
Gangguan Fisik (Gangguan Sistem Tubuh)
Gangguan kebutuhan oksigen adalah gangguan kebutuhan dasar manusia
yangdisebabkan oleh adanya kelainan atau gangguan sistem tubuh (masalah fisik) pada
sistem organ respirasi. Beberapa gangguan (penyakit) fisik yang dapat menyebabkan
gangguan kebutuhan oksigen antara lain penyakit paru obstruksi menahun
(PPOM) ,infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), tuberkulosis (TBC), pnemonia, dan
sebagainya.
1)Menerapkan komunikasi tahap pengkajian pada klien dengan gangguankebutuhan
dasar manusia (oksigen)
Pada pasien dengan gangguan kebutuhan oksigen tujuan keperawatandiarahkan untuk membe
rikan oksigen tubuh agar individu dapat melangsungkankehidupannya. Aspek yang penting
dikaji pada pasien dengan gangguan
kebutuhanoksigen adalah riwayat kesehatan/perawatan, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan p
enunjang.
a)Riwayat kesehatan/perawatan
Untuk mengetahui riwayat kesehatan/perawatan, teknik pengumpulan datayang penting
digunakan adalah wawancara. Data yang perlu dikaji adalah
masalah pernapasan (sesak, tidak toleransi aktivitas, wheezing), riwayat penyakit pernapasan
yang pernah dialami (bronchitis, asma, dll), gaya hidup (merokok), masalahcardiopulmonal,
dan obat-obatan yang biasa digunakan. Sehubungan dengan pengkajian untuk mendapatkan ri
wayat kesehatan ini, implementasi komunikasiterapeutik adalah sangat penting.
b)Pemeriksaan fisik dan penunjang
Pemeriksaan fisik pasien dengan gangguan oksigenasi dilakukan dengancara/teknik inspeksi
(melihat), palpasi (meraba), perkusi (mengetuk), dan auskultasi(mendengarkan).
Cara pengumpulan data dengan berbagai teknik ini jugamemerlukan kemampuan perawat dal
am melakukan komunikasi [Link] penunjang yang penting adalah
pengambilan darah vena, darah arteri, tes fungsi paru, dan sputum. Semua pemeriksaan
ini memerlukan kemampuan perawat dalam berkomunikasi. Contoh komunikasi tahap
pengkajian sebagai berikut. Perawat:
1)“Jelaskan sejak kapan ibu merasa sesak semakin berat.”
2)“Pada saat apakah sesak akan terjadi.”
3)“Pemeriksaan kadar hemoglobin penting dilakukan untuk mengetahuikemampuan ikatan
antara Hb dan oksigen.”
2)Menerapkan komunikasi tahap diagnosis keperawatan
pada klien dengan gangguan kebutuhan (oksigen)
Diagnosis/masalah keperawatan yang telah ditetapkan penting disampaikankepada pasien
agar mereka kooperatif dalam perawatan. Beberapa diagnosis/masalahkeperawatan
yang sering jalan napas, ketidakefektifan pola napas, dan gangguan pertukaran [Link]
komunikasi tahap diagnosis keperawatan:Perawat:
1. “Berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan diketahui bahwa kadar
hb ibu rendah sehingga kemampuan angkut oksigen ke jaringankurang yang mengakibatkan
ibu merasa sesak.”
2.“Sesak yang ibu alami karena adanya gangguan pada transportasi oksigen.”
3)Menerapkan komunikasi tahap perencanaan pada klien dengan gangguankebutuhan
(oksigen/nutrisi/eliminasi/pemberian pengobatan)
Aktivitas penting dalam perencanaan adalah menetapkan tujuan dan
rencanatindakan keperawatan. Beberapa aktivitas yang direncanakan dan harusdikomunikasik
an antara lain pengaturan posisi, latihan napas dan batuk efektif,humidifier dan nebulizer,
serta suctioning. Rencana ini perlu dikomunikasikan
kepada pasien agar mereka kooperatif dan dapat memberikan persetujuan terkait tindakanyan
g [Link] komunikasi tahap
perencanaan:Perawat:1.“Saluran napas ibu tidak bersih, saya merencanakan untuk melakukan
pengajaran tentang latihan napas dan batuk efektif.”2.“Untuk mengencerkan lendir
dan membebaskan jalan napas ibu, saya akanmelakukan nebilizer 2 kali sehari pagi dan
sore.”
4)Menerapkan komunikasi tahap Implementasi pada klien dengan gangguankebutuhan
(oksigen)
Sesuai dengan rencana, beberapa tindakan yang dilakukan kepada pasiendengan gangguan
kebutuhan oksigen, antara lain pengaturan posisi, latihan napas
dan batuk efektif, humidifier dan nebulizer, serta suctioning. Sebelum melakukantindakan ini,
penting bagi perawat untuk melakukan komunikasi terapeutik untuk memberikan penjelasan
terkait tujuan dan tindakan yang akan [Link] komunikasi tahap
implementasi:Perawat:
1.“Saya akan mulai mengajarkan bagaimana cara bernapas dan batuk yangefektif. Apakah ibu
sudah siap?”
5)Menerapkan komunikasi tahap evaluasi pada klien dengan gangguankebutuhan
(oksigen)
Tahap terakhir proses keperawatan adalah evaluasi. Aktivitas ini dilakukanuntuk mengukur
pencapaian keberhasilan asuhan dan tindakan yang telah dilakukansesuai standar. Pada pasien
dengan gangguan oksigen, komunikasi perlu dilakukanuntuk mengetahui respons subjektif
pasien terkait terpenuhinya kebutuhan [Link] komunikasi tahap evaluasi:Perawat:
1.“Setelah dilakukan nebulizer, jalan napas ibu telah kembali terbuka sehinggatidak ada lagi
suara napas yang keluar saat ibu bernapas.”
[Link] TERAPEUTIK PADA GANGGUAN JIWA
[Link] Gangguan Jiwa
Gangguan jiwa adalah gangguan otak yang ditandai oleh terganggunya
emosi, proses berpikir, perilaku, dan persepsi (penangkapan panca indera). Gangguan jiwaIni
menimbulkan stress dan penderitaan bagi penderita dan keluarganya (Stuart &Sundeen,1998).
Gangguan jiwa dapat mengenai setiap orang, tanpa mengenal umur,ras, agama, maupun
status sosial dan [Link] jiwa menurut Depkes RI (2000) adalah suatu perubahan
pada
fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang menimbulkan pende
ritaan pada individu danatau hambatan dalam melaksanakan peran [Link] gangguan
jiwa itu bermacam-macam ada yang bersumber dari berhubungan dengan orang lain yang tida
k memuaskan seperti diperlakukan tidak adil, diperlakukan semena-mena, cinta
tidak terbalas, kehilangan seseorang yangdicintai, kehilangan pekerjaan, dan lain-lain.
[Link] dan Gejala Gangguan Jiwa
[Link] perasaan (affect) tumpul dan mendatar. Gambaran alam perasaan ini dapatterlihat dari
wajahnya yang tidak menunjukkan ekspresi.
[Link] diri atau mengasingkan diri (withdrawn). Tidak mau bergaul ataukontak dengan
orang lain, suka melamun (daydreaming).[Link] atau
Waham yaitu keyakinan yang tidak rasional (tidakmasuk akal)meskipun telah dibuktikan
secara obyektif bahwakeyakinannya itu tidak
rasional,namun penderita tetap meyakinikebenarannya. Sering berpikir/melamun yangtidak
biasa
(delusi).[Link] yaitu pengalaman panca indra tanpa ada rangsanganmisalnya penderita
mendengar suara-suara atau bisikan-bisikan ditelinganya padahal tidak ada sumber dari
suara/bisikan [Link] depresi, sedih atau stress tingkat tinggi secara terus-
[Link] untuk melakukan pekerjaan atau tugas sehari-hari walaupun
pekerjaantersebut telah dijalani selama [Link] (cemas/takut) pada hal-hal
biasa yang bagi orang normal tidak perluditakuti atau [Link] obat
hanya demi [Link] pemikiran untuk mengakhiri hidup atau bunuh
[Link] perubahan diri yang cukup berarti.
[Link] komunikasi dalam asuhan keperawatan pada pasiendengan gangguan
kejiwaan
Pada bagian ini, akan dibahas penerapan komunikasi dalam asuhankeperawatan pasien
gangguan kejiwaan khususnya cemas. Kecemasan adalah responsemosi yang bersifat
subjektif dan individual. Cemas berentang mulai dari ringan,sedang, berat, dan panik.
Kondisi cemas yang berkepanjangan dapat menyebabkangangguan jiwa berat
(depersonaisasi), yaitu individu merasa asing dengan dirinyasendiri dan dalam keadaan serius
dapat terjadi exhaustion dan [Link] komunikasi pada pasien dengan gangguan
jiwa adalah hal
yang paling esensial karena komunikasi adalah alat kerja utama perawat untuk membantu pas
ien meningkatkan perilaku adaptif/memperbaiki perilakunya.
a)Menerapkan komunikasi pada tahap pengkajian klien dengan gangguankejiwaan
(kecemasan)
Tahap pengkajian adalah tahap yang penting dalam proses keperawatankarena hasil dari peng
kajian ini akan menentukan langkah selanjutnya dalammenangani masalah pasien. Pengkajian
yang penting dilakukan pada pasien dengangangguan jiwa (cemas) adalah perilaku,
mengidentifikasi faktor predisposisi, stressor presipitasi, penggalian sumber-
sumber koping, dan mekanisme koping yangdigunakan. Seorang perawat harus menggunakan
kemampuan komunikasi agar dapatmengidentifikasi data tentang [Link] komunikasi
tahap pengkajian:1.“Saya lihat ibu tampak gelisah, jelaskan apa yang menyebabkan ibu
merasa tidak tenang!”2.“Apakah yang biasa ibu lakukan jika menghadapi masalah yang
demikian?”
b)Menerapkan komunikasi pada tahap diagnosis keperawatan klien dengan gangguan
kejiwaan (kecemasan)
Setelah melakukan pengkajian, langkah selanjutnya adalah menentukandiagnosis atau masala
h keperawatan.
Diagnosis/masalah keperawatan yang telahditetapkan penting disampaikan kepada pasien aga
r mereka kooperatif dalam perawatan. Beberapa diagnosis/masalah keperawatan yang relevan
dengan kecemasanadalah kecemasan (sedang, berat, panik), koping individu tidak efektif,
[Link] komunikasi pada tahap diagnosis:Perawat:1.“Berdasarkan data dan
analisis, diketahui bahwa ibu mengalami cemas berat.”
c)Menerapkan komunikasi pada tahap perencanaan klien dengan gangguankejiwaan
(kecemasan)
Rencana asuhan keperawatan dilakukan sesuai dengan diagnosis keperawatandan tingkat
kecemasan yang terjadi. Beberapa rencana tindakan yang memerlukankemampuan perawat
dalam berkomunikasi adalah membina hubungan saling percaya,
meningkatkan kesadaran diri, pasien mengenal kecemasan yang terjadi,meningkatkan
relaksasi, dan melindungi pasien. Rencana ini perlu dikomunikasikankepada pasien agar
mereka kooperatif dan dapat memberikan bekerja sama [Link] komunikasi
tahap
perencanaan:Perawat:1.“Untuk membantu menurunkan kecemasan yang terjadi, saya akanme
ngajarkan teknik relaksasi yang dapat ibu lakukan setiap saat jika merasacemas.”
d)Menerapkan komunikasi pada tahap implementasi klien dengan gangguankejiwaan
(kecemasan)
Beberapa aktivitas yang direncanakan dan harus dikomunikasikan antara
lain pengaturan posisi, latihan nafas dan batuk efektif, humidifier dan nebulizer, sertasuctioni
ng. Sesuai dengan rencana, beberapa tindakan yang dilakukan kepada pasiendengan
gangguan kebutuhan oksigen antara lain pengaturan posisi, latihan napas
dan batuk efektif, humidifier dan nebulizer, serta suctioning. Sebelum melakukantindakan ini,
penting bagi perawat untuk melakukan komunikasi terapeutik untuk memberikan penjelasan
terkait tujuan dan tindakan yang akan [Link] komunikasi tahap
implementasi:1.“Mulailah dengan menajamkan mata, tenangkan pikiran Anda, buat
tubuhAnda serileks mungkin.”
2.“Tarik napas melalui hidung dan keluarkan secara perlahan-lahan melaluimulut.”
e)Menerapkan komunikasi pada tahap evaluasi klien dengan gangguankejiwaan
(kecemasan)
Tahap terakhir proses keperawatan adalah evaluasi. Aktivitas ini dilakukanuntuk mengukur
pencapaian keberhasilan asuhan dan tindakan yang telah
[Link] pasien kecemasan, komunikasi perlu dilakukan untuk mengetahui respons
subjektif pasien terkait tanda-tanda penurunan tingkat cemas dengan menurunnyatanda dan
gejala yang [Link] komunikasi tahap evaluasi:Perawat:
1.“Bagaimanakah perasaan ibu setelah melakukan latihan relaksasi napasdalam?”
2.“Sebutkan tanda-tanda kecemasan yang sudah berkurang setelah melakukanlatihan teratur.”
BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Komunikasi adalah suatu proses menyampaikan pesan yang dilakukan olehseseorang
kepada pihak lain yang bertujuan untuk menciptakan persamaan pikiranantara pengirim dan
penerima pesan. Komunikasi terapeutik adalah suatu pengalaman bersama antara pengobat
dan pasien yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah pasien yang mempengaruhi perilaku
[Link] langsung, gangguan psikologis / jiwa dapat dijelaskan denganmengetahui peny
ebab psikologis itu sendiri. Penyebab tersebut diantara lainnyaseperti stres, pengalaman
trauma, dan masalah pada masa kanak-kanak. Sementaraitu, gangguan fisik diakibatkan oleh
penyebab fisik yang beraneka ragam. Dengan mengetahui perbedaan tersebut, dapat
disimpulkan bahwa gangguan psikologisseharusnya disembuhkan dengan sarana psikologi
seperti psikoterapi dan terapi perilaku, sedangkan gangguan fisik disembuhkan secara medis.
3.2. SARAN
Saran-saran yang ingin disampaikan dengan penulisan makalah ini yaitu:
[Link] harus bisa menghadapi pasien dengan gangguan fisik dan jiwa
agar terjadi hubungan terapeutik dengan pasien. Walaupun pasien mempunyaigangguan
persepsi sensori, pengobat harus merawat pasien dengan baik danmengetahui teknik-teknik
komunikasi yang harus lebih [Link] mampu menguasai cara-
cara berkomunikasi denganpasien yangterganggu fisik dan mentalnya lebih efektif karena tela
h mengetahui bagaimana terapeutik berkomunikasi dengan pasien gangguan fisik dan jiwa,se
rta mengetahui hambatan yang akan ditemui pada saat akan berkomunikasi.
DAFTAR PUSTAKA