0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
827 tayangan5 halaman

Unsur dan Jenis Wacana Bahasa Indonesia

Modul ini membahas tentang dasar-dasar wacana bahasa Indonesia. Terdiri dari dua kegiatan belajar yang membahas pengertian wacana dan elemen-elemennya, serta jenis-jenis wacana berdasarkan saluran komunikasi, fungsi bahasa, mitra tutur, dan cara memaparkan informasi. Modul ini juga menjelaskan tentang kohesi dan koherensi sebagai ciri penting suatu wacana yang utuh dan padu.

Diunggah oleh

Nurhasanah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
827 tayangan5 halaman

Unsur dan Jenis Wacana Bahasa Indonesia

Modul ini membahas tentang dasar-dasar wacana bahasa Indonesia. Terdiri dari dua kegiatan belajar yang membahas pengertian wacana dan elemen-elemennya, serta jenis-jenis wacana berdasarkan saluran komunikasi, fungsi bahasa, mitra tutur, dan cara memaparkan informasi. Modul ini juga menjelaskan tentang kohesi dan koherensi sebagai ciri penting suatu wacana yang utuh dan padu.

Diunggah oleh

Nurhasanah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODUL 4

Dasar-dasar Wacana Bahasa Indonesia

KEGIATAN BELAJAR 1

Pengertian Wacana dan Alat-alat Wacana

A. PENGERTIAN

Wacana adalah susunan ujaran yang merupakan  susunan bahasa terlengkap dan tertinggi,
saling berkaitan dengan koherensi dan kohesi berkesinambungan membentuk satu kesatuan
untuk tujuan berkomunikasi, baik secata lisan maupun tulisan.

B. ELEMEN-ELEMEN WACANA

Elemen-elemen wacana adalah elemen atau unsur-unsur pembntuk wacana. Elemen-elemen


wacana tertata secara sistematis dan hierarkis.

Jika diibaratkan sesosok tubuh, wacana terdiri atas kepala dan badan. Kepala wacana adalah
judul pada wacana tersebut, sedangkan badannya disebut tubuh wacana yang terdiri atas
paragraf-paragraf.

Jika wacana ditarik suatu bagan akan seperti gambar dibawah ini.
Berkaitan dengan elemen, dalam sebuah wacana terkandung elemen inti dan non-inti. Elemen
inti adalah elemen utama atau elemen penting. Elemen inti berisi informasi pokok atau
informasi inti dalam wacana. Elemen non-inti adalah elemen yang berada pada kedudukan
bukan inti. Informasi dlam elemen bukan inti merupakan informasi tambahan. Untuk lebih
memahami wacana non inti dan inti lihat contoh lagi dibawah ini.

Etika dan Estetika dalam pendidikan berbudaya

1. Pendidikan merupakan sebuah indikator penting untuk mengukur kemajuan sebuah bangsa.

2. Seorang Filosifi Yunani abad pertengahan mengatakan bahwa penaklukan dunia ditentukan
oleh sebrapa jauh pendidikan suatu bangsa dapat dicapai dan seberapa maju bangsa-bangsa
bersangkutan menguasai ilmu pengetahuan.

3. pembangunan pendidikan tidak dapat dipisahkan dari sistem kehdidupan masyarakat. Hal ini
menjadi indikator penitng dari proses pembangunan karakter bangsa.

4. Taraf pendidikan yang dimiliki suatu bangsa dapat memberikan gambaran bagaimana sebuah
bangsa itu berkarakter dan berperilaku.

Ide-ide pokok diatas dapat disimpulkan bahwa ide pokok paragraf 1 dikategorikan sebagai
pengantar atau pembuka. Ide pokok paragraf 2 dan 3 berisi informasi penting atau inti, dan
paragraf 4 berfungsi sebagai penguat atau penutup.

Elemen non inti ( pembuka terdapat pada paragraf 1), elemen inti di paragraf 2 dan 3 terakhir
Elemn non inti di paragraf [Link] tidak semua wacana strukturnya berurutan, jadi bagi yang
menganalisis wacana perlu diperhatikan lagi

C. Unsur-unsur Pembangun Wacana


Wacana dibentuk atau dibangun dengan menggunakan alat-alat pembangun wacana, yaitu
konjungsi (kata penghubung), kata ganti, repitisi, dan ellipsis. Penggunaan alat-alat pembantu
wacana ini bertujuan agar wacana yang disusun menjadi utuh dan padu.

Perhatikan penggunaan alat-alat tersebut pada contoh wacana-wacana berikut.

1. Pengunaan Konjungsi

a. Badu sakit dan Bidu meninggal.


b. Badu sakit karena Bidu meninggal.
c. Badu sakit ketika Bidu meninggal.
d. Badu sakit kemudian Bidu meninggal.
e. Badu sakit sebelum Bidu meninggal.
f. Badu sakit setelah Bids meninggal.

2. Penggunaan Kata Ganti

a. Lala dan Lili dua bersaudara, mereka belajar disekolah yang sama.
b. Baim seorang actor cilik, selain pandai ia sangat lucu.
c. Setiap hari Sabtu Anto pergi ke sanggar seni. Disana ia melatih para remaja menari
tarian tradisisonal.

3. Penggunaan Repitisi (Pengulangan)

Adikku Indam senang membaca buku, beragam buku dibacanya. Buku-buku yang sudah dibaca
disimpannya dengan rapi.

4. Penggunaan Elipsis (Pelepasan)

a. Adik dan ayah berangkat ketempat tugas masing-masing setelah sarapan pagi.
b. Kak Andi praktik lapangan dibengkel otomotif, kak Mayang di laboratorium botani.
KEGIATAN BELAJAR 2:

Kohesi, Koherensi, dan Jenis-jenis Wacana Bahasa Indonesia.

A. KOHESI DAN KOHERENSi

Kohesi adalah istilah yang digunakan dalam wacana yang membuat hubungan
antarunsur dalam kalimat (wacana). Wacana yang memenuhi syarat kohesi disebut
dengan istilah kohesif yang berarti utuh.

Apabila wacana memiliki ide pokok dan ide penjelas tidak hanya dituntut keutuhannya
tetapi juga dituntut kepaduan antarbagian (ide, pikiran atau gagasan) yang terkandung
di dalamnya. Wacana yang utuh belum tentu padu. Oleh karena itu, selain kohesif
sebuah wacana juga harus Koheren. Koherensi adalah kepaduan hubungan maknawi
antarbagian dalam wacana.

B. JENIS-JENIS WACANA BAHASA INDONESIA.

Wacana dibedakan atas jenis-jenisnya berdasarkan sudut pandang dari mana wacana itu
dilihat Yuwono (2006:93) menjelaksan, wacana dapat diklasifikasi berdasarkan beberapa
segi yakni berdasarkan saluran komunikasi, fungsi bahasa, mitra tutur, peserta tutur,
dan berdasarkan pemaparan.

Berdasarkan saluran komunikasi yang digunakan, wacana dibedakan menjadi wacana


lisan dan wacana tulis. Ciri wacana lisan adalah adanya penutur dan petutur (mitra
tutur), bahasa tutur, alih tutur (giliran bicara), serta konteks. Dari segi struktur kalimat,
wacana lisan kurang memperhatikan gramatika/tata bahasa. Bentuk-bentuk wacana
lisan misalnya: dialog, wawancara, ceramah, pidato, diskusi. Wacana tulisan ditandai
dengan adanya penulis, pembaca, tulisan, dan penerapan kaidah bahasa. Bentuk-bentuk
wacana tulis, misalnya buku, artikel, prosa, dan lain-lain.

Berdasarkan fungsi bahasa wacana diklasifikasi menjadi wacana ekspresi, fatis,


informasional, estetis, dan direktif. Wacana yang bersifat ekspresif kita temukan pada
kegiatan komunikasi yang menggambarkan hasil pemikiran, pengalaman atau perasaan
secara ekspresif. Bentuk wacana ini misalnya pidato,orasi, dan cerita atau dongeng.
Wacana fatis bertujuan untuk memperlancar komunikasi seperti memperkenalkan diri
(perkenalan). Wacana informasional bertujuan memberi informasi kepada seseorang
atau khalayak. Bentuk wacana dapat berupa berita, pengumuman atau iklan di mass
media. Wacana estetis adalah wacana yang menekankan pada segi keindahan, seperti
puisi, pantun, dan syair. Wacana direktif adalah wacana yang mengarah pada tindakan
atau reaksi dari mitra tutur. Bentuk wacana ini bisa pada kegiatan penyuluhan,
pelatihan, dan khotbah (ceramah).

Berdasarkan sudut pandang mitra tutur wacana dibedakan menjadi wacan interaksional
dan transaksional. Wacana transaksional diidentikkan dengan adanya pemenuhan oleh
rekan tutur/pembaca atas kehendak atau keinginan penutur/penulis, seperti dalam
perintah atau surat permohonan. Wacana interaksional ditandai adanya tanggapan
timbal-balik dari penutur dan mitra tutur, seperti dalam jual-beli.

Berdasarkan jumlah mitra tutur wacana dibedakan atas wacana monolog, dialog, dan
polilog. Wacana monolog dicirikan oleh adanya satu orang saja yang terlibat dalam
peristiwa komunikasi, seperti siaran berita di televisi dan radio. Wacana dialog ditandai
oleh adanya dua orang yang terlibat dalam peristiwa komunikasi, seperti dalam kontak
bicara melalui telepon dan surat-menyurat di antara dua orang. Wacana polilog
melibatkan banyak peserta komunikasi, seperti dalam rapat dan konferensi.

Berdasarkan cara memaparkan (pemaparan) wacana dibedakan atas wacana narasi,


deskripsi, eksposist, argumentasi, dan persuasi. Wacana naratif ditandai oleh adanya
peristiwa, alur, dan tokoh, seperti pada narasi faktual (berita, contohnya) dan narasi
fiktif (cerpen, contohnya). Wacana deskriptif dicirikan oleh adanya detail suatu hal,
seperti pada profil. Wacana ekspositoris diidentikkan oleh dominannya ungkapan
informasi, seperti pada karangan khas (feature). Wacana argumentatif dicirikan oleh
kuatnya argumentasi karena didukung oleh eksplorasi bukti dan prosedural
metodologis, seperti pada tesis dan disertasi. Wacana persuasif dicirikan oleh
menonjolnya rangsangan dan ajakan dari penutur atau penulis agar sahabat tutur atau
pembaca mengikuti apa yang diharapkan penutur atau penulis, seperti pada iklan.
Wacana hortatoris dicirikan oleh kuatnya amanat yang dikandung dalam bahasa, seperti
pada khotbah keagamaan. Akhirnya, wacana prosedural dicirikan oleh menonjolnya
proses, petunjuk penggunaan alat.

Anda mungkin juga menyukai