0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
112 tayangan34 halaman

Ucapan Terima Kasih dalam Bahasa Inggris

Rangkuman dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas metode pembelajaran cooperative learning untuk meningkatkan pemahaman siswa kelas 2 SD tentang materi greeting and introduction dalam bahasa Inggris. 2. Teori konstruktivisme kognitif dan sosial mendukung penggunaan metode ini agar siswa dapat belajar secara aktif dan berinteraksi sosial. 3. Metode ini diharapkan dapat mengoptimalkan hasil pembelaj

Diunggah oleh

KURNIANINGTYAS
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
112 tayangan34 halaman

Ucapan Terima Kasih dalam Bahasa Inggris

Rangkuman dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas metode pembelajaran cooperative learning untuk meningkatkan pemahaman siswa kelas 2 SD tentang materi greeting and introduction dalam bahasa Inggris. 2. Teori konstruktivisme kognitif dan sosial mendukung penggunaan metode ini agar siswa dapat belajar secara aktif dan berinteraksi sosial. 3. Metode ini diharapkan dapat mengoptimalkan hasil pembelaj

Diunggah oleh

KURNIANINGTYAS
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

METODE PEMBELAJARAN DAN RPP BAHASA INGGRIS MATERI

GREETING AND INTRODUCTION KELAS II

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi Belajar

Dosen Pengampu : Ridwan Budi Pramono, [Link]., M.A

Oleh :

NAMA : KURNIANINGTYAS

NIM : 202160007

KELAS :P

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MURIA KUDUS

2022
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa,
karena dengan rahmat dan karuniat-Nya penulis tetap diberikan kesehatan dan kelancaran
untuk menyelesaikan tanggung jawab dalam mengerjakan tugas mata kuliah Psikologi
Belajar.

Sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang
telah menghantarkan kita dari zaman kegelapan menuju zaman yang benderang ini. Dengan
harapan mendapatkan syafaatnya di hari akhir.

Ucapan terima kasih, penulis sampaikan kepada :

1. Bapak Ridwan Budi Pramono, [Link]., M.A selaku dosen pengampu mata kuliah
Psikologi Belajar,
2. Orang tua yang telah memberikan dukungan dan doa untuk kelancaran pengerjaan
tugas ini,
3. Serta semua pihak yang telah membantu dalam pengerjaan laporan ini.

Sekian yang dapat penulis sampaikan, penulis menyadari bahwa dalam pembuatan
laporan ini masih banyak kekurangan. Maka dari itu, penulis sangat mengharapkan kritik
serta saran yang bersifat membangun untuk evaluasi penulis dalam membuat karya yang
lebih baik. Terima kasih.

Kudus, 26 Juni 2022

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................

KATA PENGANTAR...................................................................................... i

DAFTAR ISI.................................................................................................... ii

BAB I. PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG...........................................................................1
B. TUJUAN KEGIATAN..........................................................................2
C. MANFAAT KEGIATAN......................................................................3

BAB II. PEMBAHASAN

A. TINJAUAN PUSTAKA......................................................................3-5
B. METODE PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING ............5-10
C. LITERATUR PENDUKUNG KEEFEKTIFAN METODE
PEMBELAJARAN..............................................................................11-12
D. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN………........................12-15

BAB III. PENUTUPAN

A. KESIMPULAN...................................................................................16
B. SARAN...............................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran...............................................

Lampiran 2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Modifikasi.............................

Lampiran 3. Jurnal Dan Buku Acuan..................................................................

Lampiran 4. Hasil lembar kerja siswa..................................................................

ii
Lampiran 5. Surat pernyataan dari sekolah............................................................

Lampiran 6. Dokumentasi.......................................................................................

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Dalam bahasa Indonesia, istilah pendidikan berasal dari kata “`didik” dengan
memberinya awalan “pe” dan akhiran “an”, mengandung arti “perbuatan” (hal, cara
atau sebagainya). Istilah pendidikan ini semula berasal dari bahasa Yunani
“paedagogie”, yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah ini
kemudian diterjemahkan dalam bahasa Inggris “education” yang berarti
pengembangan atau bimbingan. Pada dasarnya pengertian
pendidikan menurut UU SISDIKNAS No.20 (2003) adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Dalam dunia pendidikan bahasa mempunyai peranan penting karena tanpa


adanya bahasa proses pembelajaran akan sulit terlaksana dan tujuan pembelajaran
tidak akan tercapai. KBBI mendefinisikan bahasa sebagai sistem lambang bunyi yang
arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama,
berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Perlu dipahami bahwa pendidikan dan
bahasa merupakan hal penting yang saling mengembangkan dan meningkatkan dalam
aspek kehidupan masyarakat. terlebih dalam zaman sekarang ini dimana tekhnologi
berkembang secara pesat sehingga menyebabkan masuknya bahasa asing ke negara
kita tak terkecuali bahasa Inggris. Kedudukan bahasa Inggris di Indonesia merupakan
bahasa asing pertama (the first foreign language). Kedudukan tersebut berbeda
dengan bahasa kedua. Mustafa (2007) dalam hal ini menyatakan bahwa bahasa kedua
adalah bahasa yang dipelajari anak setelah bahasa ibunya dengan ciri bahasa tersebut
digunakan dalam lingkungan masyarakat sekitar. Sedangkan bahasa asing adalah
bahasa negara lain yang tidak digunakan secara umum dalam interaksi sosial.
Sekarang ini bahasa Inggris merupakan bahasa yang paling banyak digunakan yaitu
oleh 1,13 miliar penutur serta lebih dari 60 negara menjadikan bahasa Inggris sebagai
bahasa nasionalnya.

Di Indonesia sendiri bahasa Inggris termasuk mata pelajaran mulai dari


tingkatan sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Namun, pembelajaran Bahasa
Inggris di Indonesia sejauh ini masih dianggap sebagas bahasa asing. Pembelajaran
Bahasa Inggris di Indonesia sudah ada sejak tahun 1994 baik pada sekolah negeri
maupun swasta. Pada mulanya, Bahasa Inggris mengalami perkembangan yang
sangat cepat. Namun dari tahun ke tahun, terutama sejak pemberlakuan kurikulum
2013, mulai terdapat kontroversi terhadap pembelajaran Bahasa Inggris. Polemik
yang santer terdengar ialah pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah dasar akan
dihapuskan. Gatra (2017) menyatakan bahwa dalam dunia Pendidikan sekolah dasar,
mata pelajaran yang cenderung banyak, tidak diimbangi dengan metode belajar yang
kreatif dan menyenangkan bagi anak. Seringnya, metode ceramah oleh guru membuat
anak menjadi pasif. Oleh karena itu guru harus bisa menggunakan metode balajar
yang benar sehingga peserta didik bisa aktif dalam mengikuti pembelajaran tersebut
yang nantinya akan meningkatakan prestasi peserta didik dalam mata pelajaran
bahasa Inggris.

Dengan adanya permasalahan tersebut penulis merancang kegiatan


pembelajaran dengan menggunakan metode cooperative learning agar peserta didik
dapat aktif ketika proses pembelajaran berlangsung. Metode ini diharapkan mampu
meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap materi greeting and introduction.

B. TUJUAN KEGIATAN

Rancangan pembelajaran ini bertujuan untuk mengoptimalkan hasil


pembelajaran materi greeting and introduction pada mata pelajaran bahasa Inggris
kelas 2 Sekolah Dasar.

2
C. MANFAAT

Rancangan pembelajaran ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan


acuan dalam menentukan metode pembelajaran yang tepat dalam materi greeting and
introduction pada mata pelajaran bahasa Inggris kelas 2 Sekolah Dasar.

BAB II

PEMBAHASAN

A. TINJAUAN PUSTAKA

Pengetahuan selalu menjadi akibat dari suatu konstruksi kognitif kenyataan


dari konstruk seseorang. Proses pembentukan itu terus berjalan terus menerus dengan
setiap kali mengadakan reorganisasi karena ada suatu pemahaman yang baru
(Martinis:2004). Pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja pada seseorang
(murid) dari seorang guru. Murid sendirilah yang harus mengartikan apa yang
diajarkan dengan menyesuaikan pengalaman yang mereka miliki. Tanpa pengalaman
seseorang tidak dapat membentuk pengetahuan. Bagi para kontruktivisme
pengetahuan bukanlah tertentu atau determinictic tetapi suatu proses menjadi tahu.
Menurut Bruning bahwa kontruktivisme adalah pandangan secara psikologis dan
filosofis yang memandang bahwa tiap-tiap individu membentuk atau membangun
sebagian besar apa yang mereka pelajari dan pahami.

Menurut Brown kontuktivisme mempunyai dua cabang utama yakni kognitif


dan sosial. Kontruktivisme kognitif menekankan bahwa pembelajar atau peserta didik
membangun realitas mereka sendiri,artinya peserta didik harus menemukan atau
mengubah informasi yang kompleks agar mereka mampu memperoleh pengetahuan
yang baru. Pandangan ini didukung oleh Piaget yang berpendapat bahwa
pembelajaran adalah proses perkembangan yang melibatkan perubahan,pemunculan
diri dan konstruksi yang dibangun dari pengalaman-pengalaman sebelumnya.
Konstruktivisme sosial dan pembelajran kooperatif dalam menyusun gambaran-

3
gambaran kognitif,emosional dan realitas. Pandangan ini didukung oleh Vygotsky
yang menyatakan bahwa pemikiran dan pembentukan makna pada anak-anak
dibentuk secara sosial dan muncul dari interaksi sosial dan lingkungannya.

Pembelajaran berbasis teori konstruktivisme melibatkan dua aspek yaitu


pembelajaran yang berasal dari konstruksi dari pengalaman peserta didik yang
sebelumnya dan pembelajaran yang dibangun dari interaksi sosial dari lingkungan
dari dua hal tersebut bisa membangun kegiatan belajar mengajar yang ideal
(Suryadi,Damopoli,Rahman:2022)

Teori konstruktivisme sejalan dengan pembelajaran kooperatif dimana


kegiatan belajar diorientasikan pada aktivitas yang saling mendukung antara satu
peserta didik dengan peserta didik yang lain sehingga mereka secara bersama-sama
tumbuh dalam memberikan makna pada suatu fenomena yang dipelajari. Yang perlu
dipahami yakni dalam pembelajaran kooperatif ada elemen penting yang harus
diperhatikan,yaitu saling ketergantungan yang positif akuntabilitas individu, interaksi
face-to-face, keterampilan sosial dan kelompok kecil,serta proses kelompok
(Sulisworo,Nurlistiyo,Artha:2018). Menurut slavin (2001) pembelajaran kooperatif
mengacu pada metode instruksional yang digunakan guru untuk mengatur siswa ke
dalam kelompok-kelompok kecil, di mana siswa bekerja sama untuk membantu satu
sama lain mempelajari konten akademik.

Pembelajaran kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan


partisipasi memfasilitasi siswa, dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan
membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan pada siswa
untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa yang berbeda latar belakangnya.
Jadi dalam pembelaiaran kooperatif siswa berperan ganda yaitu sebagai siswa
ataupun sebagai guru yaitu dengan bekerja secara kolaboratif untuk mencapai sebuah
tujuan bersama, maka siswa akan mengembangkan keterampilan berhubungan
dengan sesama manusia yang akan sangat bermanfaat bagi kehidupan di luar sekolah.

4
Pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang positif untuk peran siswa
terkhusus bagi siswa yang hasil belajarnya rendah sehingga mampu memberikan
peningkatan hasil belajar yang signifikan. Selain itu pembelajaran kooperatif juga
mempunyai manfaat lain diantaranya ,yaitu :
a. Siswa mempunyai tanggung jawab dan terlibat secara aktif dalam
pembelajaran.
b. Siswa dapat mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi
c. Meningkatakan ingatan siswa
d. Meningkatkan kepuasan siswa terhadap materi pembelajara

Sedangkan kelemahan model pembelajaran kooperatif yaitu:


a. Guru harus mempersiapkan pembelajaran secara matang, di samping itu
memerlukan lebih banyak tenaga, pemikiran dan waktu.
b. Agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar maka dibutuhkan dukungan
fasilitas, alat dan biaya yang cukup memadai.
c. Selama kegiatan diskusi kelompok berlangsung, ada kecenderungan topik
permasalahan yang sedang dibahas meluas sehingga banyak yang tidak sesuai
dengan waktu yang telah ditentukan.
d. Saat diskusi kelas, terkadang didominasi seseorang, hal ini mengakibatkan
siswa yang lain menjadi pasif
Sementara itu, Suprijono (2015) mengemukakan bahwa beberapa metode
pembelajaran kooperatif yaitu Jigsaw,Think-Pair-Share,Numbered Heads
Together,Group Investigation,Two Stay Two Stray,Make a Match,Listening
Team,Inside-Outside Circle,Bamboo Dancing,Point-Counter-Point,The Power of
Two,Listening Team

B. METODE PEMBELAJARAN

Proses pembelajaran merupakan suatu interaksi antar guru dan siswa untuk
mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Dalam suatu proses belajar mengajar
terdapat salah satu aspek yang sangat menentukan keberhasilan tujuan tersebut yaitu

5
penerapan model pembelajaran yang tepat. Model pembelajaran merupakan cara
yang digunakan oleh seorang guru untuk mengadakan proses interaksi dengan
siswanya didalam kelas saat berlangsungnya kegiatan pembelajaran
(Purwandari:2022). Penerapan model yang tepat pada proses pembelajaran dapat
meningkatkan hasil belajar siswa. Pada umumnya proses pendidikan dan pengajaran
di sekolah dewasa ini masih bersifat tradisional, yaitu guru menjelaskan materi
pembelajaran dan siswa mendengarkan.
Untuk mencapai tujuan pembelajaran, dibutuhkan sebuah strategi dalam
belajar sehingga diharapkan proses belajar dapat berlangsung dengan baik dan
terarah. Guru diharapkan selalu aktif dan kreatif dalam mengembangkan kualitas
kegiatan belajar mengajar, terutama harus terampil menggunakan berbagai metode
dan model pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran dan karakteristik siswa.
Selama ini masih banyak guru yang hanya terpaku pada satu model pembelajaran
konvensional. Guru hanya mentransfer ilmu pengetahuan yang dimilikinya kepada
peserta didik dengan metode ceramah/pembelajaran langsung. Siswa cenderung pasif
dan lebih banyak duduk, diam, mendengarkan, mencatat, dan mengerjakan tugas dari
guru. Bila ada siswa yang bertanya biasanya hanya tertentu pada satu atau dua orang
yang pandai saja. Sebagian besar siswa yang lain cenderung bersikap pasif, malu dan
takut untuk bertanya serta kurang terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

Untuk menggali potensi dan kreatifitas siswa, seharusnya guru menggunakan


metode dan model pembelajaran yang tepat. Dengan metode dan model pembelajaran
yang sesuai, diharapkan prestasi belajar siswa menjadi lebih baik. Hal ini dapat
ditunjukkan melalui siswa yang lebih termotivasi dalam belajar, lebih aktif terlibat
dalam proses pembelajaran, tidak malu dan takut untuk bertanya dan berpendapat,
serta terhindar dari kebosanan (Purwandari:2022). Terdapat berbagai macam model
pembelajaran yang dapat dijadikan alternatif bagi guru untuk menjadikan kegiatan
pembelajaran di kelas berlangsung efektif dan optimal. Salah satunya yaitu dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif

6
Metode Cooperative Learning

Dalam Krause (2019) mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai


pengaturan di mana orang belajar bersama dalam kelompok yang cukup kecil untuk
memungkinkan partisipasi aktif setiap anggota kelompok. Anggota kelompok
bersifat heterogen artinya terdapat perbedaan tiap anggota entah itu gender atau
kemampuan intelektual.

Mengacu pada zona perkembangan proksimal Vygotsky (1978), beberapa


penulis menekankan manfaat kelompok heterogen, di mana siswa berkemampuan
tinggi belajar dengan mengeksternalisasi dan mengelaborasi pengetahuan mereka
sendiri dan siswa berkemampuan rendah mendapat manfaat dari penjelasan dan
bantuan rekan (Hogan & Tudge , 1999).

Cooperative learning atau pembelajaran kooperatif sendiri merupakan


metode pembelajaran yang berdasarkan teori kontruktivisme. Dalam teori tersebut
menekankan siswa harus secara mandiri menemukan dan mentransformasikan
informasi yang kompleks, memeriksa informasi dengan aturan yang ada dan
merefisinya bila perlu. Pembelajaran kooperatif mengutamakan kerjasama antar
siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Menggunakan pembelajaran kooperatif
dapat mengubah peran guru, dari yang berpusat pada gurunya ke pengelolaan siswa
dalam kelompok-kelompok kecil. Model pembelajaran kooperatif dapat digunakan
untuk mengajarkan materi yang kompleks, dan yang lebih penting lagi, dapat
membantu guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang berdimensi sosial dan
hubungan antar manusia. Pembelajaran kooperatif memiliki manfaat atau kelebihan
yang sangat besar dalam memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih
mengembangkan kemampuannya. Hal ini dikarenakan dalam kegiatan pembelajaran
kooperatif, siswa dituntut untuk aktif dalam belajar melalui kegiatan kerjasama dalam
kelompok.

7
Lebih lanjut Paryanto (2020) menyatakan pembelajaran kooperatif
merupakan pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik dilingkungan sosialnya
sehingga guru harus berupaya menciptakan lingkungan belajar yang kondusif
sehingga anak dapat tumbuh seimbang dalam sikap,pengetahuan,dan keterampilan.
Hal tersebut ditegaskan oleh Tama (2017) pembelajaran kooperatif berakar dari
falsafah Pendidikan yang menekankan bahwa manusia sebagai mahkluk Kerjasama
dengan sesamanya. Selain itu,dalam bukunya mengutip pendapat dari Lie (2002:12)
yang memperkenalkan pembelajaran kooperatif dengan istilah pembelajaran gotong
royong dan juga didasari bahwa mausia pada dasarnya juga memiliki latar belakang
yang berbeda-beda. Dengan perbedaan itulah manusia bisa saling asah,asih,asuh.
Langkah–langkah pembelajaran menurut Rusman (2014: 212) pada prinsipnya
langkah pembelajaran kooperatif ada empat tahap,yaitu :

1. Penjelasan Materi.
Ini adalah tahapan menyampaikan pokok-pokok materi pelajaran sebelum
peserta didik belajar dalam kelompoknya. Tujuan tahap ini adalah memberikan
pemahaman peserta didik terhadap materi yang akan dipelajari.
2. Belajar Kelompok.
Tahap ini dilakukan setelah guru memberikan penjelasan materi. Peserta didik
bekerja dalam kelompok yang telah dibentuk sebelumnya.
3. Penilaian
Dalam pembelajaran kooperatif bisa dilakukan melalui tes atau kuis yang
dilakukan individu atau kelompok. Tes individu akan memberikan penilaian
kemampuan individu, sedangkan kelompok akan memberikan penilaian pada
kemampuan dalam kelompoknya. Sebagaimana dijelaskan oleh Sanjaya (2006:247)
bahwa hasil akhir setiap peserta didik adalah penggabungan keduanya dan dibagi dua.
Nilai setiap kelompok memiliki nilai sama dalam kelompoknya. Hal ini disebabkan
nilai kelompok adalah nilai bersama dalam kelompoknya yang merupakan hasil kerja
sama setiap anggota kelompoknya.
4. Pengakuan Tim atau Reward

8
Pengakuan tim adalah penetapan tim yang dianggap paling menonjol atau tim
paling berprestasi untuk kemudian diberikan penghargaan atau hadiah dengan
harapan dapat motivasi tim untuk terus berprestasi lebih baik lagi.

Metode Cooperative Learning Tipe Team Games Tournament (TGT)

Menurut Rusman (2014:224) TGT adalah salah satu tipe pembelajaran


kooperatif yang menempatkan peserta didik dalam kelompok yang beranggotakan 5
sampai 6 orang yang memiliki kemampuan,jenis kelamin,serta suku atu ras yang
berebeda. Guru menyajikan materi dan peserta didik belajar dalam kelompok masing-
masing. Dalam kerja kelompok guru memberikan lembar kerja peserta didik kepada
setiap kelompok. Tugas yang diberikan dikerjakan bersama-sama dengan anggota
kelompoknya. Apabila ada dari anggota kelompok yang tidak mengerti dengan tugas
yang diberikan,maka anggota kelompok yang lain bertanggung jawab untuk
memberikan jawaban atau menjelaskannya sebelum mengajukan pertanyaan tersebut
kepada guru.

Menurut Slavin dan Rusman (2014) pembelajaran kooperatif tipe TGT terdiri
dari lima tahapan yaitu penyajian kelas (class presentation),belajar dalam kelompok
(teams), permainan (games), pertandingan (tournament), dan penghargaan kelompok
(team recognition). Beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukan tipe TGT
efektif digunakan untuk meningkatkan prestasi siswa dalam materi matematika,seni
dan bahasa (Slavin:1995)

Metode Cooperative Learning Tipe Numbered Head Together (THT)

Bintari (2017) menyatakan bahwa NHT merupakan suatu cara alternatif guru
dalam membelajarkan siswa. Pada umumnya NHT digunakan untuk melibatkan
siswa dalam penguatan pemahaman pembelajaran ataupun mengecek pemahaman
siswa terhadap materi pembelajaran.

9
Lebih lanjut Iksan (2017) menjelaskan Numbered Heads Together (NHT)
adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif, sehingga semua prinsip dan konsep
pembelajaran kooperatif ada pada NHT ini. Dalam model NHT ada hubungan saling
ketergantungan positif antar siswa, ada tanggung jawab perseorangan, serta ada
komunikasi antar anggota kelompok. Dalam pembelajaran kooperatif tipe Numbered
Heads Together (NHT), semua siswa mendapatkan kesempatan dalam diskusi
kelompoknya untuk mengeluarkan gagasan atau ide kreatifnya tanpa harus
menggantungkan diri pada teman yang pandai saja. Sehingga semua anggota
kelompok memiliki tanggung jawab masing-masing untuk memberikan kontribusi
terhadap tugas yang diberikan Karba (2019)
Model pembelajaran NHT menekankan pada struktur khusus yang dirancang
untuk mempengaruhi pola interaksi serta memiliki tujuan untuk meningkatkan
keaktifan dan hasil belajar siswa. Metode ini sesuai dengan tahap perkembangan pada
anak middle childhood yang masih menyukai berkegiatan di dalam kelompok. Selain
itu, metode ini merupakan cara menyenangkan bagi anak dan memberikan
kesempatan pada anak untuk dapat menjadi pemimpin.
Hunter (2015) mengungkapkan NHT memiliki empat komponen utama yaitu:
(1) tim belajar yang heterogen; (2) peran terstruktur dalam tim; (3) kontinjensi
kelompok yang saling bergantung; dan (4) pengakuan atas upaya kolektif siswa.

Metode Penugasan

Metode penugasan adalah cara penyajian bahan pelajaran dimana guru


memberikan tugas tertentu agar murid melakukan kegiatan belajar, kemudian harus
dipertanggung jawabkan. Tugas yang diberikan guru dapat memperdalam bahan
pelajaran dan dapat pula mengecek bahan yang telah dipelajari. Tugas merangsang
anak untuk aktif belajar baik secara individu maupun kelompok (Sagala:2005)

Pupuh Fathurrohman (2010) mengatakan metode penugasan tidak sama


dengan pekerjaan rumah, tetapi jauh lebih luas dari itu. Tugas yang dapat diberikan
kepada anak didik ada berbagai jenis, karena itu tugas sangat banyak macamnya,

10
tergantung pada tujuan yang akan dicapai, seperti tugas meneliti, menyusun laporan
(lisan/tulisan), tugas di laboratorium dan lain-lain.

Roestiyah (2001) mengungkapkan bahwa pemberian penugasan biasanya


digunakan dengan tujuan agar siswa memiliki hasil belajar yang lebih mantap. Karena
siswa melaksanakan latihan-latihan selama melakukan tugas sehingga pengalaman
siswa dalam mempelajari sesuatu dapat lebih terintegrasi. Hal itu terjadi disebabkan
siswa mendalami situasi atau pengalaman yang berbeda, waktu menghadapi masalah-
masalah baru. Disamping itu untuk memperoleh pengetahuan, cara melaksanakan
tugas akan memperluas dan memperkaya pengetahuan serta keterampilan siswa di
sekolah atau di lingkungan sekolah itu. Dengan kegiatan melaksanakan tugas, siswa
aktif belajar dan merasa terangsang untuk meningkatkan pembelajaran menjadi lebih
baik. Memupuk inisiatif dan berani bertanggung jawab sendiri. Banyak tugas yang
harus dikerjakan siswa, hal itu diharapkan mampu menyadarkan siswa untuk selalu
memanfaatkan waktu senggangnya untuk hal-hal yang menujang belajarnya dengan
mengisi kegiatan- kegiatan yang berguna dan konstruktif.

C. LITERATUR PENDUKUNG KEEFEKTIFAN METODE PEMBELAJARAN

Penelitian sebelumnya mengenai metode team games together dilakukan oleh


lestari (2018) yakni bagaiman metode TGT meningkatkan prestasi belajar bahasa
inggris pada siswa kelas IX. Hasil dari penelitian ini menunjukan peningkatan pada
prestasi dan motivasi pelajar pada siswa serta timbulnya sikap tanggung jawab antar
anggota kelompok. Penilitian lain dilakukan oleh Kurniawati (2021) terkait
meningkatkan prestasi belajar bahasa inggris melalui pembelajaran kooperatif model
TGT dari hasil penelitian tersebut didapatkan hasil perlunya persiapan yang matang
dalam menerapkan metode TGT sehingga bisa diperoleh hasil yang maksimal dalam
proses belajar dan mengajar. Penelitian lainnya dilakukan oleh Purnamasari (2014)
terkait pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap kemandirian
belajar dan peningkatan kemampuan penalaran dan koneksi matematika peserta didik
dari penelitian tersebut didapatkan hasil penggunaan tipe TGT meningkatkan

11
kemampuan koneksi matematik peserta didik. Penelitian juga dilakukan oleh
cahyaningsih (2017) terkait pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe TGT
terhadap hasil belajar matematika siswa SD dalam penelitian tersebut ditemukan hasil
bahwa ada pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap hasil belajar
matematika aspek kognitif dan psikomotor. Hal ini ditunjukkan dengan hasil evaluasi
dan unjuk kerja siswa yang lebih baik antara kelas kontrol dan kelas eksperimen.
Hasil belajar aspek afektif, hasil antara angket kelas kontrol dan kelas eksperimen
tidak terdapat perbedaan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh
model pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap hasil belajar matematika aspek
afektif.

Penelitian sebelumnya terkait metode numbered heads together dilakukan


oleh Bintari (2017) yakni bagaimana metode tersebut efektif diterapkan dalam
pembelajaran matematika. Hasil dari penelitian ini menunjukkan hasil yang
signifikan untuk meningkatkan minat belajar siswa. Penelitian lain dilakukan oleh
Wijayanti et al (2017) dimana metode NHT dengan regulasi diri yang tinggi memiliki
hasil yang efektif untuk hasil belajar mata pelajaran sains. Terdapat cukup banyak
penelitian terdahulu menggunakan metode NHT ini, namun belum ditemukan
satupun jurnal yang menyatakan bahwa metode NHT tidak efektif. Penelitian lain
dilakukan oleh Mursal (2022) yaitu upaya meningkatkan prestasi belajar bahasa
Inggris melalui pembelajaran kooperatif model NHT dari penelitian tersebut
didapatkan hasil model NHT meningkatkan motivasi belajar siswa dalam belajar dan
kerjasama antara siswa dimana siswa yang lebih mampu mengajari temannya yang
kurang mampu.

D. LANGKAH- LANGKAH PEMBELAJARAN


1) PELAKSANAAN
Dalam pelaksanaannya penulis menggunakan pembelajaran kooperatif tipe
teams games together dan numbered head together. Adapun pelaksanaanya
adalah sebagai berikut

12
1) Teams Games Tournament (TGT)
Langkah pertama yaitu penulis mempresentasikan materi
(classs presentation) yang akan dipelajari didepan kelas kemudian
pembentukan kelompok yang dilakukan secara acak yaitu siswa
berhitung dengan satu sampai empat. Bagi siswa yang mendapat
angka satu maka akan menjadi kelompok satu begitu pula dengan
siswa yang mendapat angka dua,tiga, dan empat yang otomatis
menjadi anggota kelompok tersebut. Lalu penulis memberikan waktu
bagi siswa untuk mempelajari kembali materi yang telah
dipresentasikan dengan kelompoknya masing-masing (teams).
Kemudian penulis memberikan soal kepada tiap kelompok dan soal
yang diberikan antara satu kelompok dengan kelompok yang lain
berbeda. Soal tersebut kemudain dikerjakan secara berkelompok
(games), soal tersebut berisi lima pertanyaan. Setelah menemukan
jawaban para siswa berlomba untuk menuliskan jawaban tiap soal di
papan tulis (tournament). Setelah semua jawaban terisi kemudian
penulis bersama siswa mengoreksi jawaban yang telah [Link]
menentukan kelompok mana yang menjawab pertanyaan dengan
benar. Bagi kelompok yang menjawab pertanyaan dengan benar
mendapatkan reward (team recognition).
2) Numbered Head Together (NHT)
Dalam metode NHT langkah pertama yang dilakukan penulis yaitu
mempresentasikan materi yang akan dipelajari dipertemuan tersebut.
Kedua,pembentukan kelompok yang ditentukan dengan urutan meja.
Ketiga, pemberian soal kepada tiap kelompok. Keempat, menjawab
soal yang telah diberikan secara lisan dalam tahap ini semua anggota
kelompok menjawab pertanyaan yang diberikan sehingga Ketika ada
siswa yang kurang mampu dalam menjawab pertanyaan akan dibantu
anggota kelompoknya yang mampu menjawab pertanyaan tersebut.
Langkah selanjutnya dengan pemberian skor langsung terhadap

13
masing-masing kelompok. Dan yang terakhir berupa reward terhadap
kelompok yang berhasil menjawab pertanyaan dan memberikan
pengertian dan semangat bagi kelompok yang belum berhasil
menjawab pertanyaan.
2) EVALUASI
Setelah melakukan pratik mengajar selama tiga hari didapatkan hasil bahwa
para siswa antusias dalam mengikuti tiap pertemuan hal tersebut dikarenakan
sebelum memulai pelajaran penulis mengajak siswa untuk bermain games
sehingga bisa menumbuhkan semangat pada siswa.
Saat pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe team game tournament
motivasi siswa dalam belajar bahasa Inggris meningkat hal tersebut ditunjukan
dengan keaktifan siswa dalam bertanya mengenai materi yang belum dipahami.
Dan saat mengerjakan tugas kelompok para siswa ikut andil dalam mengerjakan
soal tersebut dan saling mengeluarkan jawaban serta opini masing-masing.
Terlebih ketika memasuki tahap tournament yaitu tahap dimana anggota
kelompok saling berlomba dengan anggota kelompok yang lain untuk menuliskan
jawaban di papan tulis, para siswa terlihat begitu antusias dan gembira ketika telah
menyelesaikan menulis jawaban. Meskipun dalam penulisan bahasa Ingrris masih
banyak yang salah namun para siswa sudah mengerti dan paham dengan
pertanyaan yang diberikan kepada kelompoknya masing-masing. Saat
pengoreksian jawaban dilakukan secara bersama-sama antara penulis dan siswa.
Pembelajaran kooperatif tipe numbered head together yang dilakukan
membuat siswa antusias hal itu dikarenakan pengerjaan soal yang dilakukan
secara berkelompok. Dalam pembentukan kelompok ditentukan oleh penulis
berdasarkan tempat duduk. Dalam menjawab soal dilakukan secara lisan oleh
tiap-tiap anggota kelompok sehingga terjalin hubungan saling tolong menolong
antar anggota kelompok dimana anggota kelompok yang tidak mampu menjawab
pertanyaan dibantu oleh anggota kelompoknya yang mampu menjawab soal
tersebut. Sehingga dalam kegiatan ini kemampuan speaking para siswa
meningkat. Bagi kelompok yang benar dalam menjawab soal akan diberikan skor

14
yang ditulis di papan tulis sehingga bisa dilihat semua siswa hal tersebut
memotivasi tiap kelompok supaya menjawab pertanyaan dengan benar.

3) KENDALA YANG DIHADAPI


Dalam melakukan proses penerapan model pembelajaran kooperatif learning
penulis mendapatkan beberapa kendala,yakni :
 Kegiatan dilaksanakan setelah PAT sehingga semangat belajar siswa menurun
 Mendapat gangguan dari siswa kelas lain. Siswa dari kelas lain terutama yang
bersebelahan dengan kelas yang penulis ajar sering mengganggu proses
pembelajaran saperti masuk ke ruang kelas atau mengoceh di jendela kelas
 Keadaan emosional siswa. Penulis melakukan praktik mengajar di kelas dua yang
rata-rata usia siswa delapan tahun hal tersebut menunjukan mereka berada di
masa anak-anak sehingga keadaan emosi mereka kurang stabil dan sering
tantrum.
 Kurangnya kesiapan siswa. Karena kegitan mengajar dilakukan setelah PAT
sehingga banyak dari siswa yang menganggap tidak ada pelajaran atau jam
kosong sehingga tidak membawa alat tulis sehingga pembelajaran lebih lambat
dalam pelaksanannya.
4) SARAN
Saran praktis yang dapat diberikan yakni perlunya persiapan yang lebih
matang sebelum mengaplikasikan pembelajaran kooperatif baik tipe team games
tournament atau numbered head together. Sehingga proses pembelajaran akan
lebih maksimal dan tujuan pembelajaran bisa tercapai. Guru juga harus
memahami karaktek tiap anak sehingga keadaan kelas bisa lebih kondusif. Dalam
menerapkan metode pembelajaran kooperatif guru harus ikut campur dan
membantu siswa atau kelompok yang kesulitan dalam memahami materi ataupun
soal. Bahasa yang disampaikan guru haruslah bahasa yang mudah dipahami oleh
anak-anak dan tidak rumit.

15
BAB III

PENUTUPAN

1. KESIMPULAN

Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran adalah metode


pembelajaran yang berdasarkan teori kontruktivisme. Dalam teori tersebut
menekankan siswa harus sacara mandiri menemukan dan mentransformasikan
informasi yang kompleks, memeriksa informasi dengan aturan yang ada dan
merefisinya bila perlu. Terdapat beberapa tipe dalam pembelajaran kooperatif
seperti team games tournament dan numbered head together. Dalam
pengaplikasiannya metode kooperatif bisa dikolaborasikan dengan metode
penugasan. Berdasarkan kelebihan pembelajaran kooperatif dan penelitian
keefektifan metode tersebut yang terdahulu maka sangat tepat digunakan dalam
pembelajaran bahasa Inggris dengan materi greeting and introduction pada kelas
dua di SDN 1 Rahtawu.

2. SARAN

Dari hasil penelitian ini, sebagai bahan rekomendasi dengan


mempertimbangkan hasil temuan baik dil apangan maupun secara teoritis, maka
bebrapa hal yang dapat menjadi bahan rekomendasi adalah sebagai berikut :

a. Bagi Guru

 Guru hendaknya meningkatkan pemahaman dan kemampuan pada


metode pembelajarn kooperatif sehingga penerapannya dalam
pembelajaran bisa optimal terutama dalam meningkatkan hasil belajar
siswa.
 Guru hendaknya lebih mengoptimalkan lagi perannya sebagai
fasilitator,evaluator,dan motivator.

16
 Guru supaya lebih kreatif dalam memotivasi siswa dalam menggunakan
metode pembelajaran kooperatif agar siswa optimal dalam mengikuti
pembelajaran.

b. Bagi Siswa

 Siswa sebaiknya melakukan persiapan sebelum pembelajarn yaitu dengan


menyiapkan alat tulis-menulis.
 Siswa harus meningkatkan minat dan motivasi belajar lebih baik lagi agar
dapat mengikuti proses pembelajaran dengan maksimal

17
DAFTAR PUSTAKA

Sulisworo, Dwi. (2018). Panduan Pelatihan Mobile Cooperative Learning. Sleman. CV


Budi Utama

Paryanto. (2020). Implementasi Model Pembelajarn Kooperatif Tipe STAD (Student Teams
Achievement Division) Untuk Pelajarn Passing Dalam Bola Voli. Malang.
Ahlimedia Press

Suryadi,Ahmadi. (2022). Teori Konstruktivisme Dalam Pembelajaran PAI Di Madrasah:


Teori Dan Implementasinya. Sukabumi. CV Jejak

Slavin, Robert E., johns Hopkins.,& Baltimore.(2015). Cooperative Learning in Schools .


International Encyclopedia of the Social & Behavioral Sciences, 2 (4),881-
[Link]: [Link]

Hunter, Wiliiam C.,Lawrence Maheady.,Andrea D Jasper.,Et All.(2015). Numbered Heads


Together As A Tier 1 Instructional Strategy In Multitiered Systems Of
Support. Education And Treatment Of Children.3(38),[Link]:
[Link]

Murwanto,Sri (2020). Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Nht (Numbered-


Head-Together) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas IX B
SMP Negeri 4 Alla Enrekang. Jurnal Sainsma T.1(9).DOI:
[Link]

Mursal.(2022). Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Bahasa Inggris Melalui


Pembelajaran Kooperatif Model Numbered Headss Together Pada Siswa
MAN Kota Pariaman. Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan .3(4).4733-
[Link]: [Link]

Krause,Ulrike Marie.,Robin Strak.,Heinz Mandl.(2008). The Effects Of Cooperative


Learning And Feedback On E-Learning In Statistics. Learning And
Instruction 158-170. DOI:110.1016/[Link].2008.03.003

Irawan,Adi., Mardiyana.,Dewi Retno Sari,. Experimentation Of Cooperative Learning


Model Numbered Heads Together (NHT) Type By Concept Maps And Teams
Games Tournament (TGT) By Concept Maps In Terms Of Students Logical
Mathematics Intellegences. International Conference On Mathematics:

18
Education, Theory And Application. DOI: 10.1088/1742-
6596/855/1/012019

Khusniyah, N., & Hakim, L. (2019). Efektivitas Pembelajaran Berbasis Daring: Sebuah
Bukti Pada Pembelajaran Bahasa Inggris. Jurnal Tatsqif, 17(1), 19-33.
DOI:[Link]

Cahyaningsih,Ujiati.(2017). Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Games


Tournament (Tgt) Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa SD. Jurnal
Cakrawala Pendas 1(3).1-5

Lestari,Sri Puji. (2018). Meningkatkan Prestasi Belajar Bahasa Inggris Melalui


Pembelajaran Kooperatif Model TGT Pada Siswa Kelas IX 1 SMP Negeri 3
Pasir Penyu Tahun Pelajaran 2017/2018 . Jurnal Pendidikan
Tambusai.5(2).1334-1344

Kurniawati,Isna. (2021). Meningkatkan Prestasi Belajar Bahasa Inggris Melalui


Pembelajaran Kooperatif Model Tgt. Jcoment (Journal Of Community
Empowerment). 1(2).25-29. DOI:
[Link]

Sutarna,Nana. (2016) Penerapan Metode Penugasan Untuk Meningkatkan Kemampuan


Memahami Peta Pada Siswa Sekolah Dasar .Jurnal Pendidikan
Geografi.1(16).Hal:24-33

Priskila,Vania., Heni Mularsih.(2020) Efektivitas Metode Numbered Heads Together


Untuk Meningkatkan Kosakata Bahasa Inggris Pada Siswa Sekolah Dasar
Di Sekolah X. Jurnal Psibernetika. 1(13). DOI: 10.30813/psibernetika.
v13i1.2315

Merti,Ni Made. (2020). Penerapan Model Pembelajaran Teams Games Tournament (Tgt)
Dengan Media Audio Visual Guna Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa
Inggris. Journal Of Education Action Research 4(3). DOI:
[Link]

Karlimansyah.(2022). Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas


IV SDN 6 Baamang Tengah Dengan Metode Penugasan Dan Latihan
2021/2022. Pedagogik Jurnal Pendidikan. 1(17) Hal 84-97.

Daulany,Pangihuitan.(2018). Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Inggris Dengan


Menerapkan Model Pembelajaran Tgt. Jurnal Global Edukasi 4(1). DOI:
[Link]

19
Lampiran-lampiran

Lampiran 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP )


KURIKULUM 2013 (3 KOMPONEN)
(Sesuai Edaran Mendikbud Nomor 14 Tahun 2019)

Satuan Pendidikan : SD 5 Rahtawu


Kelas / Semester. : 2/1
Tema : Greeting and Introduction (Tema 1)
Sub Tema : Self Introduction(Sub Tema 4)
Pembelajaran ke : 1
Alokasi waktu : 3 JP

A. TUJUAN
 Siswa mampu menyalin ungkapan greeting dan introduction.
 Siswa mampu melengkapi percakapan sederhana menggunakan ungkapan greeting
dan introduction.
 Siswa mampu menulis ungkapan perkenalan diri dalam Bahasa Inggris.

B. KEGIATAN PEMBELAJARAN

Alokasi
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Waktu
1. Melakukan Pembukaan dengan Salam dan Dilanjutkan Dengan Membaca Doa
Kegiatan (Orientasi) 15
Pendahuluan 2. Mengaitkan Materi Sebelumnya dengan Materi yang akan dipelajari dan menit
diharapkan dikaitkan dengan pengalaman peserta didik (Apersepsi)
3. Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari pelajaran yang akan
dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. (Motivasi)
Kegiatan Writing 60
Inti  Guru memberikan catatan tentang ungkapan greeting dan introduction. menit
 Siswa menyalin catatan yang diberikan guru
 Siswa melengkapi percakapan sederhana menggunakan ungkapan
greeting& introduction.
 Siswa menulis ungkapan perkenalan diri secara sederhana dalam Bahasa
Inggris.
 Siswa mengerjakan soal yang diberikan guru.

20
Kegiatan Peserta Didik : 15
Penutup  Membuat resume (CREATIVITY) dengan bimbingan guru tentang point-point menit
penting yang muncul dalam kegiatan pembelajaran tentang materi yang baru
dilakukan.
Guru :
 Memeriksa pekerjaan siswa yang selesai langsung diperiksa.
 Peserta didik yang selesai mengerjakan tugas projek/produk/portofolio/unjuk
kerja dengan benar diberi hadiah/ pujian
 Guru memberikan informasi tentang materi untuk pertemuan berikutnya
 Guru menutup pembelajaran dengan mengucapkan salam

C. PENILAIAN (ASESMEN)
Penilaian terhadap materi ini dapat dilakukan sesuai kebutuhan guru yaitu dari pengamatan sikap, tes
pengetahuan dan presentasi unjuk kerja atau hasil karya/projek dengan rubric penilaian.

Mengetahui Kudus, Juli 2022


Kepala Sekolah, Guru Mapel

Taufiq Akbar, [Link] Ristina Widiyanti, [Link]


NIP: 198508072011011009

Lampiran 2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Modifikasi

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Sekolah : SD

Kelas/semester : II/ 1

Mata pelajaran : Bahasa Inggris

Materi pokok : Greeting and Introduction

Alokasi waktu : 3 X Pertemuan (1jp X @45 menit)

A. TUJUAN
o Siswa mampu menyalin ungkapan greeting dan introduction.

21
o Siswa mampu melengkapi percakapan sederhana menggunakan ungkapan
greeting dan introduction.
o Siswa mampu menulis ungkapan perkenalan diri dalam Bahasa Inggris.
B. Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan Uraian kegiatan
Pendahuluan  Melakukan pembukaan dengan salam pembuka, memanjatkan
syukur kepada Tuhan YME dan berdoa untuk memulai
pembelajaran, memeriksa kehadiran peserta didik sebagai sikap
disiplin, Menyiapkan fisik dan psikis peserta didik dalam
mengawali kegiatan pembelajaran.
 Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari pelajaran
yang akan dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. (Motivasi)
Kegiatan Inti  Class Presentation, guru memberikan serta menjelaskan materi
mengenai greeting kepada peserta didik
 Team, guru membagi peserta didik menjadi 4 kelompok satu
kelompok terdiri dari 4 – 6 orang
 Games, guru memberikan soal kepada masing-masing kelompok
untuk kemudian didiskusikan dan dikerjakan secara berkelompok.
 Tournament, peserta didik menuliskan hasi kerja kelompok di
papan tulis secara berlomba-lomba
 Team recognition,guru bersama peserta didik mengoreksi jawaban
yang telah diisi oleh masing-masing kelompok dan menentukan
kelompok mana yang memiliki skor paling tinggi
Penutupan  Peserta didik dibimbing oleh guru untuk menarik kesimpulan
point penting pada materi yang dipelajari pada setiap pertemuan
1,2 dan 3.
 Guru memberikan apresiasi pada peserta didik atas kegiatan
pembelajaran yang telah dilakukan dengan pemberian pujian dan
hadiah
 Guru memberikan informasi tentang materi untuk pertemuan
berikutnya
 Guru menutup pembelajaran dengan mengucapkan salam

22
C. Penilaian

1. Tehnik penilaian

a. Penilaian pengetahuan : tes tertulis dan penugasan


b. Penilaian sikap

2. Instrument penilaian

a. Lembar kerja kegiatan diskusi

Mengetahui, Kudus,26 Juni 2022

Kepala sekolah Guru Mata Pelajaran

……………………. …………………….

23
Lampiran 3. Jurnal Dan Buku Acuan

24
25
26
27
Lampiran 4. Hasil Lembar Kerja Siswa (Sampling)

28
Lampiran 5. Surat Pernyataan Dari Sekolah

29
Lampiran 6. Dokumentasi

Berikut ini adalah link untuk dokumentasi video

[Link]
esdk

30

Anda mungkin juga menyukai