BAB II
KAJIAN TEORI
2.1. Work-Life Balance
Work-life balance (WLB) merupakan suatu teori yang menjelaskan bagaimana individu mengatur
lingkungan pekerjaan dan keluarga dan batasan diantara keduanya untuk mencapai keseimbangan
(Clark, 2000). Dengan kata lain, work-life balance adalah kemampuan yang dimiliki seseorang
dalam menyeimbangkan kehidupan pekerjaan dengan kehidupan pribadi. Pemahaman tentang
keseimbangan kehidupan kerja sangat penting karena dapat menghasilkan kepuasan dengan
keterlibatan peran yang berbeda – beda. Secara eksplisit menyatakan bahwa individu yang dapat
mencapai Work-Life Balance dengan baik terlihat dari pencapaian tiga hal utama yaitu keseimbangan
waktu, keseimbangan keterlibatan, dan keseimbangan kepuasan (McDonald dan Bradley, 2005).
Dalam menyeimbangkan kehidupan kerja dan pribadi, dibutuhkan upaya untuk mendamaikan
peran yang berbeda dalam kehidupan. Work-life balance menuntut untuk mendukung kebutuhan
karyawan dalam mencapai keseimbangan kebutuhan keluarga dan kehidupan kerja.
The work foundation dikenal sebagai industrial society yang percaya jika keseimbangan
kehidupan kerja dapat mengontrol dimana, bagaimana, dan kapan seseorang bekerja. Hal tersebut
dapat dicapai jika individu menjalani kehidupan sesuai dengan haknya, baik dalam maupun diluar
lingkungan pekerjaan. Sehingga hal tersebut dapat menghasilkan keuntungan bagi individu dan
perusahaan atau organisasi.
Konsep keseimbangan kerja – keluarga muncul dari pengakuan bahwa kehidupan kerja –
pribadi/keluarga dapat menimbulkan konflik (Purohit, 2013). Work-life balance didefinisikan
sebagai kemampuan seseorang dalam memenuhi kewajiban pekerjaan dan keluarga, serta tanggung
jawab non-pekerjaan lainnya (Delecta, 2011).
2.2. Dimensi Work Life Balance
Dimensi work-life balance memiliki keterkaitan dengan pengukuran dan pengembangan
keseimbangan kehidupankerja untuk penelitian, praktik manajemen, dan pengembangan fasilitas.
Keseimbangan kehidupan kerja tidak hanya meliputi kondisi pada konflik keluarga, tetapi konflik
dasar dan pribadi yang berbeda. Menurut Fisher, Bulger, dan Smith (2009) dalam (Novelia, 2013)
terdapat beberapa aspek pengukuran work-life balance, yaitu:
1. Work Interference with Personal Life (WIPL)
Dimensi ini merujuk pada sejauh mana kehidupan pribadi merasa terganggu dengan
kehidupan pekerjaan. Misalnya, seseorang kesulitan untuk mengatur kehidupan pribadinya
karena tuntutan pekerjaan.
2. Personal Life Interference with Work (PLIW)
Dimensi ini merujuk pada sejauh mana kehidupan pribadi mengganggu kehidupan pekerjaan.
Misalnya, kinerja individu pada saat bekerja terganggu dengan permasalahan di kehidupan
pribadinya.
3. Personal Life Enhancement of Work (PLEW)
Dimensi ini merujuk pada meningkatnya performa dalam dunia kerja yang dipengaruhi oleh
kehidupan pribadi seseorang. Misalnya, individu merasa senang dengan kehidupan
pribadinya sehingga menciptakan suasana hati yang baik pada saat bekerja.
4. Work Enhancement of Personal life (WEPL)
Dimensi ini merujuk pada meningkatnya kualitas kehidupan pribadi yang dipengaruhi oleh
pekerjaan. Misalnya, keahlian yang dimiliki individu ketika bekerja dapat dimanfaatkan
dalam kehidupan sehari-hari.
2.3. Faktor-faktor work-life balance
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Poulose & Sudarsan (2014) da;am (Hudson, 2014)
terdapat empat faktor utama dalam mewujudkan tercapainya work-life balance, yaitu :
1. Faktor pribadi (personal factors)
Faktor pribadi menjadi faktor internal yang berhubungan dengan work-life balance,
seperti kecerdasan emosional, kepribadian, dan kesejahteraan.
2. Faktor organisasi (organizational facotrs)
Faktor organisasi disebabkan oleh organisasi dan berada diluar kemampuan individu
sehingga dapat mempengaruhi keseimbangan kehidupan kerja individu. Faktor tersebut
meliputi adanya dukungan organisasi, dukungan rekan kerja, stres kerja, dukungan yang
baik, dan teknologi.
3. Faktor sosial (social factors)
Faktor sosial bersifat langsung atau pribadi, seperti adanya dukungan dari keluarga dan
pasangan. Dukungan sosial, tuntutan pribadi dan keluarga, konflik keluarga, dan
tanggung jawab yang timbul dari lingkungan sosial yang berinteraksi secara tidak
langsung.
4. Faktor lain
Faktor lain tidak dapat dispesifikasikan seperti faktor pribadi, sosial, dan organisasi.
Faktor – faktor tersebut meliputi pekerjaan, status pernikahan, pendapatan, jenis
kelamin, dan memiliki anak.
Berdasarkan teori diatas, dapat disimpulkan jika faktor work-life balance terdiri dari faktor – faktor
didalam kategori faktor pribadi, sosial, organisasi, dan faktor lainnya.
2.4. Komponen work-life balance
Work-life balance memiliki enam komponen yang berperan sebagai unsur – unsur pembentuknya,
yaitu :
1. Manajemen waktu
Manajemen waktu dikatakan efektif saat melibatkan penggunaan seluruh waktu dan
sumber daya sebagai pendukung dengan optimal. Manajemen waktu didasarkan pada
tujuan yang akurat, menyamakan kepentingan dan keperluan apa yang penting dan
mendesak. Untuk melaksanakan manajemen waktu, diperlukan pengetahuan yang terbaik
hingga membangun alat yang tepat dalam menjalankan tugas tertentu.
2. Manajemen diri
Manajemen diri sendiri atau proporsional diri sendiri terbilang sulit, terutama saat
mengalokasikan tidur yang tepat dan nutrisi. Manajemen diri merupakan pengakuan
tentang pentingnya menghabiskan waktu dalam hidup yang tersedia.
3. Manajemen perubahan
Kehidupan dapat berubah – ubah dengan cepat, dalam mendukung karier yang sukses dan
kehidupan keluarga yang harmonis, dibutuhkan metode baru untuk mewujudkan tujuan
tersebut. Manajemen perubahan dikatakan efektif jika dapat mencakup upaya rutin dan
kolaboratif jika dapat memastikan jumlah dan durasi perubahan ditempat kerja dan
dirumah tidak berlebihan.
4. Manajemen rekreasi(leisure)
Manajemen rekreasi menciptakan seberapa pentingnya istirahat dan relaksasi yang sering
diabaikan. Keseimbangan kehidupan kerja diperlukan dalam meningkatkan kedisiplinan
dan aktivitas rekreasi liburan.
5. Manajemen teknologi
Mengelola teknologi dengan efektif berarti menciptakannya berguna untuk manusia.
Teknologi selalu berdampingan dengan kehidupan manusia, laju perubahan yang dibawa
oleh teknologi dengan tujuan meningkatkan pangsa pasar semakin cepat. Dalam hal ini,
tidak ada pilihan selain bersaing dengan teknologi. Namun, manusia harus mendominasi
teknologi. Bukan sebaliknya.
6. Manajemen stres
Bukan hal yang asing, dari waktu ke waktu masyarakat menjadi cenderung lebih berbelit
– belit dalam mengelola permasalahan. Dalam menghadapi permasalahan kita tidak dapat
menghindari datangnya stres pribadi. Untuk mengatasinya dibutuhkan ketenangan dan
kemahiran dalam melindungi diri dari situasi stres.
Perusahaan memberikan hari libur dengan tujuan mempertahankan kesehatan pekerjanya. Liburan
dilaksanakan untuk menghindari kebosanan karyawan dalam bekerja, mengurahi tingkat stres, hingga
memperoleh vitalitas baru dalam bekerja keesokan harinya (Yoder, 1958). Secara umum work-life
balance berkaitan dengan waktu, fleksibilitas, pekerjaan dan sebagainya. Work-life balance merupakan
salah satu hal penting karena tidak tercapainya work-life balance menghasilkan rendahnya kepuasan
kerja, rendahnya kebahagiaan, konflik kehidupan kerja, burnout pada pekerja. Didalam work-life balance
terdapat tiga aspek yang berkaitan, diantaranya (Hudson, 2005) :
a. Keseimbangan Waktu (Time Balance)
Time Balance merujuk pada jumlah waktu yang diberikan oleh individu untuk kehidupan
pribadi dan kehidupan kerja, dengan kata lain individu harus memberikan jumlah waktu
yang setara untuk setiap perannya.
b. Keseimbangan Keterlibatan (Involvement Balance)
Involvement Balance berkaitan dengan jumlah keterlibatan psikologis dan komitmen
individu yang setara pada setiap perannya, baik pada kehidupan kerja maupun kehidupan
pribadi.
c. Keseimbangan Kepuasan (Satisfaction Balance)
Satisfaction Balance berkaitan dengan tingkat kepuasan individu terhadap perannya,
dengan kata lain satisfaction balance merupakan tingkat kepuasan yang setara dengan
perannya baik pada kehidupan kerja maupun kehidupan pribadi.
2.5. Manfaat Work-life Balance
Menurut Stephan Kaiser (2011) Work-life balance memiliki beberapa manfaat, terutama untuk
individu, yaitu:
a. Physical and Psychological Health Outcomes
Work-life balance mempengaruhi seseorang untuk meminimalisir adanya gangguan fisik
dan psikologis seperti kelelahan dan depresi hingga ketergantungan akan obat - obatan
dan alkohol.
b. Domain-Specific Satisfaction, Role Quality and Overall Satisfactio
Walau Sulit, namun para pekerja ekstrim yang profesional selalu mencoba mengurangi
waktu kerja mereka untuk menghasilkan waktu istirahat yang lebih puas. Pekerja yang
menghabiskan waktu lebih banyak untuk keluarga dapat menghasilkan kualitas hidup
yang lebih baik daripada pekerja yang menghabiskan waktu yang sama di dua peran
tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya peran kehidupan kerja dan kehidupan
pribadi dapat memberikan dampak positif satu sama lain.
c. Reduced Stress
Stigma konflik pada work-life balance selalu saja dikaitkan dengan tingkat Stres individu,
mengurangi konflik work-life balance sama dengan menurunkan tingkat Stres seseorang
yang artinya dapat meminimalisir hasil kesehatan yang negatif.
2.6. Strategi Menciptakan Work-life balance
Menurut Preeti Singh & Parul Khanna (Alim, 2010) terdapat sembilan strategi yang dikembangkan
khusus untuk keseimbangan kehidupan kerja, yaitu :
1. Jam kerja, waktu, dan dapat dikonsultasikan dengan semua karyawan.
2. Berikan lebih banyak pekerjaan paruh waktu dengan shift yang lebih sedikit atau
mengatur pembagian kerja kepada seluruh karyawan
3. Jam kerja yang wajar dan mengurangi jam kerja yang terlalu panjang
4. Sistem kerja yang fleksibel dalam gaya bekerja untuk menyesuaikan dengan kebutuhan
pribadi karyawan.
5. Cuti harian yang memungkinkan untuk karyawan ajukan.
6. Likuiditas pekerjaan yang lebih baik bagi karyawan untuk pindah dari rumah sakit,
tempat kerja, dan layanan medis untuk menemukan pengaturan pekerjaan yang lebih baik.
7. Meningkatkan keselamatan dan kesejahteraan dan rasa hormat bagi seluruh karyawan
ditempat kerja.
2.7. Penelitian Terdahulu
Peneliti menggunakan penelitian – penelitian terdahulu sebagai bahan perbandingan dan referensi
dalam penelitian ini.
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
Judul Analisis Work Life Balance pada Perawat Wanita Sudah Menikah
Peneliti Eka Kurnia Saputra
Tahun 2021
Sumber [Link]
Metode Teknik pengumpulan data menggunakan tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data,
Penelitian dan penarikan kesimpulan.
Hasil Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa penerapan work life balance pada perawat
penelitian wanita sudah menikah di Rumah Sakit Umum Daerah Raja Ahmad Tabis Provinsi
Kepulauan Riau dikatakan baik. Pada saat bekerja perawat wanita dapat berperan
sebagai pekerja serta berperan sebagai ibu rumah tangga disaat waktu bersamaan dan
perawat selalu melayani pasien dengan baik serta memiliki tanggung jawab terhadap
pekerjaan.
Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada fokus penelitian yang berfokus pada
Perbedaan penerapan work-life balance yang digunakan, objek dan subjek penelitian, yaitu PT
Tubagus Top Sentral Mandiri Karoseri.
Judul Keseimbangan Kerja dan Kehidupan (Work Life Balance) pada Wanita Bekerja
Peneliti [Link] Rahmayati
Tahun 2021
Sumber [Link]
Metode Teknik penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus
Penelitian instrumental tunggal dan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara
dan observasi
Hasil Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Subjek N adalah seorang wanita karir yang
penelitian berusia kurang lebih 26 tahun. Subjek N memiliki beberapa kesulitan, namun mulai
dapat menyeimbangkan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan dengan adanya
bantuan keluarga. Keberhasilan Subjek N dalam mencapai work life balance dilihat
dari aspek time balance, involvement balance, dan satisfaction balance yang perlahan
dapat diatasi. Dalam menuju pencapaian tersebut terdapat beberapa strategi yang
digunakan subjek N terutama strategi Outsourcing dan Techflexing.
Perbedaan Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada fokus penelitian yang berfokus pada
penerapan work-life balance yang digunakan, objek dan subjek penelitian, yaitu PT
Tubagus Top Sentral Mandiri Karoseri.
Judul Work-Life Balance Karyawan Milenial Level Manajerial Tabungan Negara Syariah
Peneliti Gineung Raditya Denira dan Dian Ekowati
Tahun 2020
Sumber [Link]
3658/2735
Metode Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif yang menggunakan pendekatan
Penelitian fenomenologi sesuai dengan tujuan penelitian yaitu eksplorasi secara mendalam.
Dalam mengumpulkan data dan informasi dalam penelitian ini menggunakan
wawancara mendalam (in-depth interview)
Hasil Keterbatasan individu dalam mendistribusikan personal resource yang dimiliki seperti
penelitian waktu, komitmen, perhatian, dan energi pada seluruh domain kehidupan menjadi
hambatan penyebab ketidakberhasilan penerapan work-life balance. Hambatan tersebut
menyebabkan terjadinya konflik peran dan menimbulkan dampak pada masalah
kesehatan individu. Pemaknaan konsep work-life balance oleh karyawan milenial level
manajerial berdasarkan faktor individu maupun organisasi. Perwujudan pemaknaan
setiap individu didasari dengan cara yang unik dan berbeda mencakup keadilan
pembagian resources, hubungan timbal balik, perolehan kualitas hidup, pemisahan
domain secara jelas, dan kesetaraan kehidupan duniawi maupun akhirat.
Perbedaan Perbedaan penelitian ini terletak pada fokus penelitian yang berfokus pada penerapan
work-life balance yang digunakan, objek dan subjek penelitian, yaitu PT Tubagus Top
Sentral Mandiri Karoseri.
Judul Work-Life Balance
Peneliti Sonal Gupta, Anshika Mittal
Tahun 2022
Sumber [Link]
Metode
Penelitian
Hasil
penelitian
Perbedaan Perbedaan penelitian ini terletak pada fokus penelitian yang berfokus pada penerapan
work-life balance yang digunakan, objek dan subjek penelitian, yaitu PT Tubagus Top
Sentral Mandiri Karoseri.
Judul Analisis Work Life Balance para Karyawan Bank BJB Cabang Indramayu
Peneliti Banatun Nafis, Arianis Chan, Sam’un Jaja Raharja
Tahun 2020
Sumber [Link]
Metode Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, penyimpulan dan
Penelitian verifikasi, dan kesimpulan akhir
Hasil Penelitian Work Life Balance pada Bank BJB Cabang Indrmayu dikategorikan baik, karena
semua dimensi yang dimiliki menunjukan hasil positif. Dimensi tersebut
diantaranya Work-Interference with Personal Life yaitu beban kerja yang banyak
dan jam kerja yang Panjang tidak membuat peran kehidupan pribadi dalam bertemu
keluargamenjadi bermasalah. Hal tersebut sudah dijalankan dengan baik karena
sudah dijalankan dengan baik sesuai dengan peran karyawan masing-masing.
Kemudian pada Personal Life Interference of Work tidak terdapat permasalahan
pada kehidupan pribadi karyawan yang dapat mengganggu pekerjaan terkait dengan
tanggung jawab dan ketepatan waktu dalam penyelesaian tugas yang diberikan.
Birokasi menjadi masalah dalam penyelesaian pekerjaan di Bank BJB Cabang
Indramayu. Personal Life Enhancement of Work Life meliputi suasana kerja,
hubungan dengan rekan kerja, dan kehidupan social di luar pekerjaan. Ketiga
indikator tersebut menunjukan hasil positif yang berdampak baik terhadap motivasi
kerja karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan yang di berikan. Dimensi Work
Enhancement of Personal Life berupa keterampilan yang didapat karyawan serta
bermanfaat untuk kehidupan di luar pekerjaan. Beberapa keterampilan berhasil
didapatkan karyawan selama bekerja juga dapat memberikan hasil positif terkait
peran diluar pekerjaan. Kemampuan tersebut didapatkan melalui pelatihan pelatihan
yang diberikan atau
Perbedaan Perbedaan penelitian ini terletak pada fokus penelitian yang berfokus pada
penerapan work-life balance yang digunakan, objek dan subjek penelitian, yaitu PT
Tubagus Top Sentral Mandiri Karoseri.