PROPOSAL
HUBUNGAN AKTIFITAS FISIK DENGAN STABILITAS
TEKANAN DARAH PADA PENDERITA DIABETES MELITUS
DI PUSKESMAS PADANG LUAR
TAHUN 2022
WAHYU MUSTIKA RANI
1811142010074
PRODI SI KEPERAWATAN
UNIVERSITAS MUHAMMAD NATSIR YARSI
BUKITTINGGI
2022
PROPOSAL
HUBUNGAN AKTIFITAS FISIK DENGAN STABILITAS
TEKANAN DARAH PADA PENDERITA DIABETES MELITUS
DI PUSKESMAS PADANG LUAR
TAHUN 2022
Bidang ilmu Keperawatan Medikal Bedah
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan ( S. Kep )
Pada Program Studi S1 Keperawatan
Universitas Muhammad Natsir Yarsi Bukitinggi
WAHYU MUSTIKA RANI
1811142010074
PRODI SI KEPERAWATAN
UNIVERSITAS MUHAMMAD NATSIR YARSI
BUKITTINGGI
2022
i
HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS
Proposal ini adalah karya saya sendiri,
dan semua sumber baik dikutip maupun yang dirujuk telah saya
nyatakan dengan benar
Nama : wahyu mustika rani
Nim : 1811142010074
Tanda tangan :
Tanggal : juli 2022
ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING PROPOSAL
Proposal ini telah disetujui
Juli 2022
Oleh :
Pembimbing I Pembimbing II
(Ns. Aulia Putri, [Link], [Link]) ([Link] Anggraini [Link].,[Link],[Link])
Mengetahui
Ketua Program Studi S1 Keperawatan
(Ns. Sri Hayulita, [Link], [Link])
iii
HALAMAN PENGESAHAN
Proposal ini diajukan oleh :
Nama : Wahyu Mustika Rani
Nim : 1811142010074
Program Studi: S1 Keperawatan
Judul Proposal : Hubungan Aktifitas Fisik dengan Stabilitas Tekanan Darah Pada
Penderita Diabetes Mellitus di Pukesmas Padang Luar Tahun
2022
Telah berhasil dipertahankan dewan penguji dan diterima sebagai
persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Keperawatan
pada Program Studi S1 Keperawatan Universitas Mohammad Natsir Yarsi
Bukittinggi.
DEWAN PENGUJI
Pembimbing I : Ns. Aulia Putri, [Link], [Link] ( )
Pembimbing II: [Link] [Link].,[Link],[Link] ( )
Penguji I : Ns. Sri Hayulita, [Link], [Link] ( )
Penguji II : Ns. Pera Putra Bungsu [Link], [Link], [Link] ( )
Ditetapkan di : Universitas Mohammad Natsir Yarsi Bukittinggi
Tanggal : Juli 2022
iv
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya ucapkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-
Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan proposal penelitian yang
berjudul “ hubungan aktivitas fisik dengan stabilitas tekanan darah pada
penderita Diabetes Melitus di Pukesmas Padang Luar tahun 2022 “. Penulisan
proposal ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk meraih
gelar sarjana Keperawatan Program Studi Ilmu Keperawatn Universitas
Muhammad Natsir Yarsi Bukitinggi.
Saya menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak,
sangat sulit bagi saya untuk menyelesaikan proposal ini, oleh sebab itu saya
mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Afridian Wirahadi Ahmad, SE.,[Link].,Ak, CA, AAP-B selaku
rektor Universitas Muhammad Natsir Yarsi Bukitinggi
2. Bapak Ns. Junaidy Suparman Rustam, S. Kep., [Link] selaku wakil
rektor 1 dan ibu Ns. Reny Chaidir, S. Kep., [Link] selaku wakil rektor
2 Universitas Muhammad Natsir Yarsi Bukitinggi
3. Ibu Ns. Liza Merianti S. Kep., [Link] selaku dekan Fakultas ilmu
kesehatan Universitas Muhammad Natsir Yarsi Bukitinggi
4. Ibu Ns. Sri hayulita S. Kep., [Link] selaku ketua program Studi S1
Keperawatan Universitas Muhammad Natsir Yarsi Bukitinggi
5. Ibu Ns. Aulia Putri S. Kep., [Link] selaku pembimbing 1 dan ibu
[Link] Anggraini S. Kep., [Link], Sp. KMB selaku pembimbing 2
v
yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan fikiran untuk mengarahkan
sayadalam penyusunan proposal ini.
6. Ibu dosen beserta staf pengajar di Program Studi Ilmu Kesehtan
Universitas Muhammad Natsir Yarsi Bukitinggi yang telah
memberikan ilmu pengetahuan dan bimbingan serta nasehat selama
menjalani pendidikan
7. Teristimewa kedua orang tua saya, bapak Asril dan ibu Elizar yang
telah memberikan dukungan material dan moral serta do’a dalam
penyusunan proposal ini.
8. Teman-teman Mahasiswa prodi S1 Keperawatan Universitas
Muhammad Natsir Yarsi Bukitinggi yang telah memberikan masukan,
kritik dan saran yang sangat berguna dalam menyelesaikan proposal
ini.
9. Dan juga ucapan terima kasih untuk diri saya sendiri sehingga sudah
mampu sampai pada totik ini dalam menyelesaikan proposal ini
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan proposal ini masih jauh dari
kata sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membagun. Harapan penulis, semoga proposal ini bermanfaat bagi kita semua ,
khususnya dibidang kesehatan, atas segala bantuan yang telah diberikan penulis
mendoakan budi baik Bapak /Ibu akan dibalas oleh Allah SWT
Galuang, juli 2022
Penulis
vi
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS
AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai civitas akademik Universitas Mohammad Natsir Bukittinggi, saya
yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Wahyu Mustika Rani
NIM : 1811142010074
Program Studi : S1 Keperawatan
Jenis Karya : Proposal
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan
kepada Universitas Mohammad Natsir Bukittinggi Hak bebas royalti noneklusif
(Non-exclusive Royalty free right) atas karya ilmiah saya yang berjudul :
Hubungan Aktivitas Fisik dengan Stabilitas Tekanan Darah Pada Penderita
Diabetes Melitus Di Puskesmas Padang Luar Tahun 2022
Dengan Hak Bebas RoyaltyNon ekslusive ini Universitas Mohammad
Natsir Bukittinggi berhak menyimpan, mengalih media/ formatkan, mengelola
dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan skripsi
saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/ pencipta dan sebagai
pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Galuang
Pada tanggal :
Yang menyatakan
(Wahyu Mustika Rani)
vii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL..........................................................................................................i
HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS.................................................................ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING PROPOSAL................................................................iii
HALAMAN PENGESAHAN...........................................................................................iv
KATA PENGANTAR.......................................................................................................v
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI .......................................vii
DAFTAR ISI..................................................................................................................viii
DAFTAR TABEL..............................................................................................................x
DAFTAR BAGAN...........................................................................................................xi
DAFTAR LAMPIRAN....................................................................................................xii
BAB IPENDAHULUAN...................................................................................................1
A. Latar Belakang......................................................................................................1
B. Rumusan Masalah..................................................................................................5
C. Tujuan Penelitian...................................................................................................5
D. Manfaat Penelitian..................................................................................................5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................................7
A. Diabetes Melitus.........................................................................................................7
1. Definisi Diabetes Melitus...................................................................................7
2. Klasifikasi Diabetes Melitus...............................................................................7
3. Faktor resiko Diabetes Melitus...........................................................................8
4. Manifestasi klinis Diabetes Melitus..................................................................10
5. Kriteria diagnosis Diabetes Melitus..................................................................11
B. Tekanan Darah.........................................................................................................12
1. Definisi Tekanan Darah........................................................................................12
2. Klasifikasi tekanan darah....................................................................................12
3. Pengukuran tekanan darah....................................................................................13
C. Aktivitas Fisik..........................................................................................................14
1. Definisi aktifitas fisik...........................................................................................14
2. Jenis jenis aktivitas fisik.......................................................................................15
3. Manfaat aktivitas fisik..........................................................................................16
viii
4. Pengukuran aktivitas fisik....................................................................................17
D. Hubungan Aktivitas Fisik dengan Tekanan Darah pada Penderita DM....................18
E. Kerangka Teori.........................................................................................................20
BAB III KERANGKA KONSEP.....................................................................................21
A. Kerangka Konsep................................................................................................21
B. Hipotesa Penelitian...............................................................................................22
BAB IV METODE PENELITIAN...................................................................................23
A. Desain Penelitian..................................................................................................23
B. Tempat dan Waktu Penelitian...............................................................................23
C. Populasi dan Sampel............................................................................................23
D. Kriteria Inklusi dan Eksklusi................................................................................25
E. Definisi Operasional.............................................................................................25
F. Instrumen Penelitian.............................................................................................26
G. Uji validitas dan Uji reabilitas..............................................................................27
H. Etika Penelitian....................................................................................................28
I. Pengumpulan Data...............................................................................................29
J. Pengolahan Data dan Analisa Data.......................................................................30
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................34
ix
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Klasifikasi Tekanan Darah ........................................................13
Tabel 2.1 Formula Perhitungan MET .......................................................17
Tabel 4.1 Definisi Operasional .................................................................25
Tabel 4.2 interpretasi uji korelasi sperman rank ......................................33
x
DAFTAR BAGAN
Skema 2.1 kerangka teori ..........................................................................20
Skema 3.1 kerangka konsep ......................................................................21
xi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : jadwal kegiatan penelitian
Lampiran 2 : Curiculum Vitae
Lampiran 3 : lembar konsul proposal
Lampiran 4 : surat pemohonan menjadi responden
Lampiran 5 : Informed Consent
Lampiran 6 : kuisoner penelitian
xii
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Diabetes Melitus (DM) merupkan salah satu penyakit metabolik
yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia)
yang terjadi akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya
(ADA, 2014). Menurut WHO DM merupakan salah satu penyakit
degenertif atau Penyakit Tidak Menular (PTM) yang menjadi ancaman
serius kesehatan global. Prevalensi DM terus meningkat selama beberapa
dekade terakhir (WHO, 2016). Pada tahun 2021, International Diabetes
Federation (IDF) melaporkan 537 juta orang menderita DM. Indonesia
menduduki peringkat kelima didunia setelah China, India, Pakistan dan
Amerika Serikat, penderita DM di Indonesia yaitu sebanyak 19,5 juta
(IDF, 2021). Menurut data dari Rikesdas (2018) di Indonesia prevalensi
penderita DM cenderung meningkat. Pada tahun 2013 prevalensi DM
6.9% dan di tahun 2018 menjadi 8,5%. Peningkatan prevalensi penderita
DM hampir disemua provinsi di Indonesia termasuk Sumatera Barat
(Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2020). Prevalensi total DM di
Sumatera Barat tahun 2018 adalah sebanyak 1, 6%, dimana Sumatera
Barat diurutan ke 23 dari 33 provinsi di Indonesia (Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia, 2020).
DM dikenal dengan the sillent killer, hal ini dikarenakan banyak
penderita DM tidak menyadari bahwa ia menderita DM, dan saat diketahui
telah terjadi komplikasi (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia,
1
2
2020). Salah satu komplikasi atau penyakit penyerta DM adalah
hipertensi. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya retensi natrium di ginjal
dan meningkatnya aktivitas saraf simpatik. Dua hal ini yang mampu
meningkatkan tekanan darah. Hipertensi pada penderita DM juga
disebabkan oleh hiperglikemia yang dapat meningkatkan angiotensin II
yang akan menyebabkan terjadinya hipertensi (Puspa et al., 2017).
Menurut penelitian Sustraini & Hadibroto ( 2010 ) dalam Prabowo
( 2019 ) menjelaskan kadar gula darah yang tinggi pada penderita DM
menyebabkan gula darah menempel pada dinding pembuluh darah. Setelah
itu akan terjadi proses oksidasi antara gula darah dan protein pada dinding
pembuluh darah yang akan menjadi proses inflamasi. Keadaan ini
menyebabkan dinding pembuluh darah menjadi keras dan kaku pada
akhirnya terjadi penyumbatan yang berakibat terhadap perubahan tekanan
darah yang dinamakan hipertensi.
Menurut penelitian Selim et al (2013) dalam Puspa et al (2017)
menjelaskan bahwa penderita DM dengan hipertensi memiliki resiko 7
kali lebih besar mengalami gagal ginjal dan 2-4 kali terjadi penyakit
kardivaskular seperti infark miokard, stroke, atau kematiandibandingkan
dengan penderita DM yang memiliki tekanan darah yang normal.
Penelitian terdahulu menjelaskan bahwa DM sulit diobati dengan adanya
hipertensi (Cervoni, 2020). Komorbid yang utama pada penderita DM
adalah hipertensi (Eren et al., 2014). Sebuah studi epidemiologi yang
sejalan dengan hal ini menunjukan bahwa kejadian hipertensi 1,52 lebih
besar pada pasien DM dibandingkan pada pasien yang tidak DM
3
(Anthonia & Frank, 2014). Menurut Long (2011) dalam Prabowo (2019)
75% penderita DM mempunyai kecenderungan untuk terkena hipertensi
dua kali lebih besar dibandingkan dengan individu yang tidak DM.
Penelitian Colosia et al.,(2013) menyatakan sebuah literatur yang
mengidentifikasi 2.688 studi obsevasional tentang prevalensi hipertensi
pada penderita DM di seluruh dunia menemukan 50-70% kasus hipertensi
menyertai DM. Penelitian lain oleh Sun et al., (2019) dari 13.931 subjek
penyandang DM terdapat 85, 1% (11.855) diantaranya menderita
hipertensi. Dua penelitian ini sejalan dengan penelitian cross-sectional
yang di lakukan Bengszhi pada tahun 2017 yaitu terdapat 85,6%
prevalensi hipertensi pada penderita DM (Nouh et al., 2017).
Tatalaksana penderita DM dengan hipertensi harus lebih tepat dan
diperhatikan karena tidak terkendalinya kadar gula darah pada penderita
DM dapat dicegah dengan menerapkan lima pilar penatalaksanaan yaitu
terapi nutrisi, aktivitas fisik, terapi farmakologis, edukasi, dan monitoring
kadar gula darah (PERKENI, 2021). Salah satu pilar penting dalam
pengelolaan DM adalah aktivitas fisik. Aktivitas fisik yang dianjurkan
pada penderita DM adalah olahraga yang bersifat aerobik, dan aktivitas
fisik beritensitas sedang. Menurut penelitian Plotnikoff (2013) dalam
Canadian Journal of Diabetes menjelaskan bahwa aktivitas fisik adalah
kunci dalam pengelolaan DM sebagai pengonrol gula darah dan
memperbaiki faktor resiko kardiovaskular seperti menurunkan
hiperinsulinemia, meningkatkan sensitivitas insulin serta menurunkan
tekanan darah.
4
Penelitian Pangestu (2020) menjelaskan aktivitas fisik yang rendah
akan meningkatkan resiko hipertensi sebesar 23,6 kali pada penderita DM.
penelitian lain juga menyebutkan bahwa aktivitas fisik yang dilakukan
secara teratur memiliki efek yang baik dan menguntungkan terhadap
kesehatan yaitu terhindar dari penyakit tekanan darah tinggi (Atun et al.,
2014). Menurut penelitian Febby (2012) dalam Kustiani (2020)
menjelaskan aktivitas fisik yang dilakukan penderita DM dapat
menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah.
Sebaliknya, orang yang kurang melakukan aktivitas fisik cenderung
memiliki frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi sehingga otot jantung
harus bekerja lebih keras pada setiap kontraksi. Makin keras dan sering
otot jantung memompa , makin besar tekanan yang dibebankan pada arteri
(Anggara & Prayitno, 2013)
Pukesmas Padang Luar adalah salah satu pusat pelayanan
kesehatan yang terletak dikabupaten Agam, lebih tepatnya di kecamatan
Banuhampu. Pukesmas yang berada dekat jalan raya ini di tunjang oleh
sumber daya , sarana dan prasarana yang cukup memadai dan dekat
dengan jalan raya sehingga memudahkan masyarakat untuk berkunjung
ke pelayanan kesehatan ini. Salah satu pelayanan di Pukesmas ini adalah
pelayanan pada penderita DM. Studi pendahuluan yang dilakukan oleh
peneliti di Pukesmas Padang Lua terhadap 7 orang penderita DM, 4
diantaranya memiliki tekanan darah berkisar antara 145/100 Sampai
175/110. Secara garis besar aktivitas fisik penderita DM yang
diwawancarai mempunyai aktivitas seperti berkebun dan berdangang.
5
Dari hasil wawancara juga didapatkan bahwa penderita DM jarang
melakukan olahraga bahkan 2 orang tidak pernah melakukan olahraga
sama sekali .
Bedasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik melakukan
penlitian tentang “Hubungan Aktivitas Fisik Stabilitas Tekanan Darah
pada Penderita Diabetes Melitus di Pukesmas Padang Luar Tahun 2022”.
2. Rumusan Masalah
Bedasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan, maka
rumusan masalah pada penelitian adalan apakah ada hubungan aktivitas
fisik dengan stabilitas tekanan darah pada penderita Diabetes Melitus di
Pukesmas Padang Luar Tahun 2022 ?
3. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
a. Diketahuinya hubungan aktivitas fisik dengan stabilitas tekanan
darah pada penderita diabetes melitus di Pukesmas Padang Luar
Tahun 2022
2. Tujuan khusus
a. Diketahuinya distribusi frekuensi karakteristik penderita Diabetes
Melitus di Pukesmas Padang Luar tahun 2022
b. Diketahuinya distribusi frekuensi aktivitas fisik penderita Diabetes
Melitus di Pukesmas Padang Luar tahun 2022
c. Diketahuinya distribusi frekuensi stabilitas Tekanan Darah
penderita Diabetes Melitus di Pukesmas Padang Luar tahun 2022
6
d. Diketahuinya hubungan aktivitas fisik dengan Tekanan Darah
penderita Diabetes Melitus di Pukesmas Padang Lua tahun 2022
4. Manfaat Penelitian
1. Bagi penulis
Sebagai pengaplikasian dari teori yang diperoleh selama pembelajaran
serta menambah wawasan , pengetahuan dan cara berfikir penulis
sebagai pengaplikasian ilmu pengetahuan tentang cara penelitian dan
sebagai pengalaman yang berharga yang dapat menjadi bekal penulis
dimasa depan. Selain itu, hasil penelitian ini dapat memberikan
wawasan tentang hubungan aktivitas fisik dengan Tekanan Darah pada
penderita Diabetes Militus.
2. Bagi institusi pendidikan
Sebagai bahan referensi serta menambah koleksi pustaka tentang
hubungan aktivitas fisik dengan Tekanan Darah pada penderita
Diabetes Melitus
3. Bagi instutusi Pukesmas Padang Lua
Sebagai bacaan keilmuan di Pukesmas Padang Lua tentang keteikaitan
aktivitas fisik dengan Tekanan Darah pada penderita Diabetes
Melitus
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Diabetes Melitus
5. Definisi Diabetes Melitus
Diabetes Melitus adalah suatu kondisi kronis dimana gula dalam
darah mengalami peningkatan yang dikarenakan tubuh di bisa
menghasilkan insulin atau memperkejakan insulin. Insulin dapat
diartikan sebagai hormon penting yang dihasilkan oleh tubuh, lebih
tepatnya pankreas. Transport glukosa dari darah ke sel sel tubuh, dan
dimana terjadinya perubahan glukosa menjadi energi (IDF, 2021)..
Kekurangan insulin atau ketidakmampuan insulin merespon,
mnyebabkan kadar glukosa menjadi meningkat (hiperglikemia) yang
merupakan ciri dari diabetes (IDF, 2021).
Diabetes melitus merupakan suatu penyakit yang tidak menular
ditandai dengan kelemahan tubuh dalam melakukan metabolisme
karbohidrat, lemak, dan protein, hai ini nantinya dapat menyebababkan
naiknya kadar gula dalam dalam darah. ( Black & Hawks (2014) dalam
Qifti et al. (2020)
6. Klasifikasi Diabetes Melitus
Klasifikasi diabetes melitus menurut PERKENI (2021) dibagi menjadi
4 yaitu:
a. Diabetes melitus tipe 1 (perusakan sel beta pankreas
memerlukan insulin estrogen seumur hidup, berhubungan
7
8
dengan defisiensi insulin) biasnya terjadi pada usia muda.
Penyebabnya bukan karena faktor keturunan, melainkan faktor
autoimun.
b. Diabetes melitus tipe 2. Tipe DM yang umum terjadi, biasanya
terjadi pada oarang dewasa. Bila tidak di kendalikan dapat
menyebabkan komplikasi
c. Diabetes gestasional. Diabetes yang terdiagnosis di trimester
kedua atau ketiga kehamilan, dimana sebelum masa kehamilan
tidak terdiagnosis diabetes, jika tidak di tangani secara dini
berisiko komplikasi persalinan, menyebabkan berat badan bayi
rendah, bahkan menyebakan kematian bayi dalam kandungan.
d. Diabetes melitus tipe lain. Sindroma diabetes
monogenik( diabetes neonatal, maturity onset diabetes of the
young ), penyakit esokri prakreas ( fibrosis kistik,
pankreatitis ), disebabkan oleh obat atau zat kimia
7. Faktor resiko Diabetes Melitus
Faktor faktor resiko kejadian Diabetes Melitus sebagai berikut:
a. Faktor genetik
Menurut naskah lengkap Diabetes Melitus menjelaskan bahwa
faktor genetik merupakan faktor yang sangat besar menyebabkan
seseorang menderita DM, meskipun gen spesifik yang bertanggung
jawab belum diketahui (Ritonga & Annum, 2019)
9
b. Faktor usia
Semakin tua seseorang semakin besar pula resiko menderita DM,
ketika usia seseorang bertambah akan menyebabkan resistensi
insulin yang berakibat tidak stabilnya gula darah dan berujung
menjadi DM (Isnaini & Ratnasari, 2018)
c. Faktor pola makan
Orang yang melaksanakan pola makan yang sehat akan
mengurangi resiko seseorang menderita DM dibandingkan orang
yang tidak melaksanakan pola makan sehat (Isnaini & Ratnasari,
2018)
d. Faktor obesitas
Orang yang mengalami kegemukan (obesitas) berisiko lebih tinggi
menderita DM dibanding orang yang tidak mengalami kegemukan.
Komplikasi obesitas menyebabkan tergannggunya insulin
membantu sel-sel tubuh menyerap glukosa sehingga tubuh
mengalami kelebihan glukosa (Nangge et al., 2018).
e. Faktor kebiasaan merokok
Penelitian yang telah dilakukan oleh Halim (2017) menyatakan
bahwa merokok beresiko menderita DM, semakin tinggi frekuensi
merokok semakin tinggi pula kadar glukosa darah yang berakibat
DM, hal inidisebabkan oleh banyaknya kandungan nikotin dalam
rokok menyebabkan resistensi insuln dan sekresi insulin turun oleh
sel beta.
10
f. Faktor stress
Respon stress yaitu sekresi sistem saraf simpatis untuk
mengeluarkan norepinefrin yang menyebabkan peningkatan
frekuensi jantung. Hal ini yang menyebabkan glukosa darah
meningkat guna sumber energi untuk perfusi. Stres merupakan
faktor yang berpengaruh penting bagi penyandang DM
peningkatan hormon stres diproduksi dapat menyebabkan kadar
gula darah menjadi meningkat. Kondisi yang rileks dapat
mengembalikan kotra-regulasi hormon stres dan memungkinkan
tubuh untuk menggunakan insulin lebih efektif. Pengaruh stres
terhadap peningkatan kadar gula darah terkait dengan sistem
neuroendokrin yaitu melalui jalur Hipotalamus-PituitaryAdrenal
(Derek et al., 2017)
8. Manifestasi klinis Diabetes Melitus
Beberapa keluhan atau gejala yang dialami oleh penderita Diabetes
Melitus menurut Lestari et al.,(2021) yaitu
a. Gejala khas Diabetes Melitus
1. Poliuri (sering buang air kecil)
Sering buang air kecil pada penderita DM dikarenakan
tingginya kadar gula darah di ginjal ( >180 mg/dl ) sehingga
kadar gula tersebut dikeluarkan melalui urine, untuk
mengurangi kosentrasi urine yang keluar, tubuh menyerap air
yang cukup banyak. Normal urine yang kita keluarkan adalah
sebanyak 1,5 liter sedangkan penderita DM mengeluarkan
11
urine lima kali lebih banyak dari orang normal, akibat dari
urine yang banyak keluar adalah tubuh menjadi dehidrasi dan
merasa haus sehinga penderita DM menjadi sering minum
(polidipsi)
2. Polifagi
Permasalahan pada penderita DM adalah insulin sehingga
pemasukan gula ke sel-sel tubuh sedikit dan energi yang
dihasilkan pun kurang. Hal ini yang menyebabkan penderita
DM merasa kurang bertenaga. Selain itu, sel menjadi miskin
gula sehingg otak berfikir bahwa kurang energi itu karena
kurang makan, maka tubuh berusaha meningkatkan asupan
makan dengan cara menimbulkan alarm rasa lapar.
3. Berat badan menurun
Ketika tubuh tidak mendapatkan energi yang cukup dari gula
karena kekurangan insulin, maka tubuh akan secepat mungkin
mengolah lemak dan protein menjadi energi, apabila hal ini
berlangsung lama maka orang akan tampak kurus. Penderita
DM bisa kehilangan 500 gram glukosa dalam urine per 24 jam
setara dengan 2000 kalori yang hilang dari tubuh.
b. Gejalan lain
Menurut Simatupang (2017) dalam Lestari et al., (2021) gejala
lain yang timbul pada penderita DM umunnya ditunjukan oleh
komplikasi dan paling sering dikeluhkan adalah kaki kesemutan,
gatal-gatal, atau luka yang tidak kunjung sembuh, dan paling
12
mengkhawatirkan adalah gatal pada derah selakangan ( pruritus
vulva )
9. Kriteria diagnosis Diabetes Melitus
Menurut (Kementrian kesehatan republik indonesia, 2020)
penegakan diagosa Diabetes Melitus dengan cara pengukuran gula
darah. Pengukuran yang disaran dengan pemeriksaan enzimatik dengan
sampel plasma darah vena. Kriteria diagnosis Diabetes Melitus ada 4
yaitu :
a. Glukosa plasma saat puasa mencapapi ≥ 126 mg/dL. Keadaan
puasa yang dimaskud adalah selama 8 jam tidak ada asupan
kalori.
b. Glukosa plasma mencapai ≥ 200 mg/dL yang pemeriksaannya
dilakukan dengan beban glukosa 75 gram 2 jam setelah TTGO
(Tes Toleransi Glukosa Oral).
c. Dilakukan pemeriksaan yang berstandar NGSP (National
Glychohaemoglobin Standardization Program) dimana HbA1c
≥ 6,5%.
d. Glukosa plasma sewaktu mencapai ≥ 200 mg/dL dengan
keluhan klasik
B. Tekanan Darah
1. Definisi Tekanan Darah
Menurut Abaa (2017) Tekanan darah merupakan tekanan yang
diberikan darah pada dinding pembuluh darah dan ditimbulkan oleh
13
dorongan darah terhadap dinding arteri ketika darah dipompa dari
jantung ke jaringan. Besar tekanan bervariasi tergantung pada
pembuluh darah dan denyut jantung. Tekanan darah paling tinggi
terjadi ketika ventrikel berkontraksi (tekanan sistolik) dan paling
rendah ketika ventrikel berelaksasi (tekanan diastolik) . Dimana
normalnya tekanan darah sistolik adalah 120 mmHg dan nilai normal
tekanan darah diastolik adalah 80 mmHg.
2. Klasifikasi tekanan darah
Tekanan darah tinggi ( hipertensi ) dan tekanan darah rendah
( hipotensi ) merupakan kelainan tekanan darah (Anggara & Prayitno,
2013). Tekanan darah seseorang dapat lebih atau kurang dari batas
tekanan darah normal, jika tekanan darah lebih dari batas normal
seseorang akan menderita tekanan darah tinggi atau hipertensi,
sebaliknya jika tekanan darah kurang dari batas normal seseorang akan
menderita tekanan darah rendah atau hipotensi (Huda, 2016)
Menurut Triyanto (2014) dalam buku pelayanan keperawatan bagi
penderita hipertensi secara terpadu. Klasifikasi tekanan darah adalah
sebagai berikut ;
Tabel 1. 1 klasifikasi tekanan darah
Kategori stadium TDS ( mmHg ) TDD ( mmHg )
Hipotensi <120 < 60
Normal 120 < 80
Prehipertensi 120-139 80-90
14
Hipertensi tingkat 1 140-159 90-99
Hipertensi tingkat 2 >160 >100
Sumber :Triyanto (2014)
3. Pengukuran tekanan darah
Alat pengukur tekanan darah adalah Sphygmomanometer atau yang
umum kita sebut dengan tensimeter. Menurut Budi (2016) ada 3 tipe
Sphygmomanometer yaitu yang mengunakan air raksa (merkuri),
aneroid, dan elektrik. Sphygmomanometer yang mengunakan air raksa
adalah yang paling akurat. Tingkat bacaannya dimana detak pertama
yang terdengar adalah tekanan sistolik, sedangkan bunyi detak
menghilang atau bunyi detak terakhir adalah tekanan distolik. Prinsip
dari penggunaan Sphygmomanometer aneroid adalah
menyeimbangkan tekanan darah dengan tekanan darah kapsul metalis
tipis yang menyimpan udara didalamnya. Sphygmomanometer
elektronik adalah alat pengukur tekanan darah yang terbaru dan lebih
mudah digunakan dibandingkan Sphygmomanometer air raksa dan
aneroid, tetapi akurasi dari Sphygmomanometer elektronik relatif
rendah
4. Tekanan Darah pada penderita Diabetes Melitus
Dalam JNC VIII penderita DM berusia diatas 18 tahun disaran
memulai terapi farmakologis untuk menurunkan tekanan darah pada
tekanan darah sistolik (SBP) ≥140 mmHg atau tekanan darah sistolik
(DPB) ≥90 mmHg dan memberi terapi hingga target SBP kurang dari
15
140 mmHg dan target DPB kurang dari 90 mmHg. Kendalinya tekanan
darah pada penderita DM diketahui melalui hasil pengukuran tekanan
darah yang dilakukan minimal dua kali pengukuran pada kunjungan
yang berbeda (Njoto, 2014)
C. Aktivitas Fisik
1. Definisi aktifitas fisik
Menurut Kemenkes (2017) aktuvitas fisik adalah setiap gerakan tubuh
yang meningkatkan pengeluaran energi, aktifitas fisik sebaiknya
dilakukan 30 menit perhari ( 150 menit perminggu). Sedangkan latihan
fisik adalah suatu bentuk aktivitas fisik terencana, terstruktur, dan
berkesinambungan dengan melibatkan gerakan tubuh berulang-ulang
serta ditunjukkan untuk meningkatkaan kesehatan dan kebugaran.
Aktifitas fisik adalah segala bentuk dari gerakan tubuh yang
dihasilkan otot rangka dan menimbulkan pengeluaran energi yang
signifikan dibagi menjadi kategori ringan, sedang dan berat. Setiap
aktivitas yang dilakukan membutuhkan jumlah energi yang berbeda
sesuai dengan intensitas dan kerja otot. Menurut perkiraan WHO, berat
badan aktivitas fisik berhubungan dengan berbgai penyakit kronis dan
penyebab kematian global di seluruh dunia ( Habut & Nurmawan,
2018)
2. Jenis jenis aktivitas fisik
Menurut Kusumo (2021) aktivitas fisik dibagi menjadi 3 kategori
beddasarkan intensitas dan besaran kalori yang digunakan
16
a. Aktivias fisik berat : selama beraktifitas, tubuh mengeluarkan
banyak, denyut jantung dan frekuensi nafas meningkat sampai
terengah-engah. Energi yang keluarkan >7 Kcal/menit. Contoh dari
aktivitas fisik berat yaitu berlari, bermain sepak bola, bela diri, dan
mencangkul.
b. Aktivitas fisik sedang : saat melakukan aktivitas sedang tubuh
sedikit berkeringat, denyut jantung dan frekuensi nafas menjadi
lebih cepat. Energi yang dikeluarkan 3,5 – 7 Kcal/menit. Contoh
dari aktivitas fisik sedang yaitu berkebun, memcuci mobilbermain
bulu tangkis rekreasional, bersepeda.
c. Aktivitas fisik ringan : kengiatan yang hanya memerlukan sedikit
tenaga dan biasanya tidak menyebabkan perubahan dalam
pernafasan. Energi yang dikeluarkan < 3,5 Kcal/menit. Contoh dari
aktivitas fisik ringan yaitu berjalan kaki, menyapu lantai, mencuci,
menyetir, melukis.
IPAQ (2005) juga menklasifikasi tingkatan aktivitas fisik melalui kriteria
–kriteria sebagai berikut
a. Aktivitas berat : melakukan aktivitas yang berat minimal 3 hari
dengan intensitas minimal 1500 MET-menit/minggu, melakukan
kombinasi aktivitas sedang-berat dan berjalan dalam 7 hari dengan
intensitas minimal 3000 MET menit/minggu.
b. Aktivitas sedang : seseorang yang tidak memenuhi kriteria untuk
tingkat tinggi dan memiliki salah satu kriteria yang diklasifikasikan
yaitu : intensitas aktivitas berat minimal 20 menit/hari selama 3
17
hari atau lebih, melakukan aktivitas yang sedang selama 5 hari atau
lebih atau berjalan paling sedikit 30 menit / hari, melakukan
kombinasi aktivitas fisik yang berat, sedang, dan berjalan 5 hari
atau lebih dengan intensitas minimal 600 MET-menit/minggu.
c. Aktivitas ringan : seseorang yang tidak memenuhi salah satu dari
semua kriteria yang telah disebutkan dalam kategori aktivitas berat
dan sedang
3. Manfaat aktivitas fisik
Menurut American Diabetes Associaton (2021) menjelaskan bahwa
aktifitas fisik bermanfaat untuk menjaga tekanan darah dan kolesterol,
menurunkan resiko penyakit jantung dan stroke, menjaga berat badan,
memperkuat jantung dan memperbaiki sirkulasi darah, meperkuat
tulang dan otot, serta menurunkan gejala depresi dan memperbaiki
kualitas hidup.
Menurut Welis & Rifki (2016) manfaat aktifitas fisik adalah menjaga
tekanan tetap stabil dalam batas normal, meningkatkan daya tahan
tubuh terhadap penyakit, menjaga berat badan ideal, menguatkan
tulang dan otot, meningkat kelenturan tubuh, meningkat kebugaran
tubuh, serta manfaat secara psikis seperti mengurangi stress,
meningkatkan percaya diri, membagun rasa sportivitas, dan memupuk
rasa tanggung jawab
18
4. Pengukuran aktivitas fisik
Ada berbagai metode yang dapat digunakan untuk mengukur
aktivitas fisik. Secara umum ada 2 metode yaitu metode subjektif dan
metode objektif. Metode subjektif mengunakan kuesioner, buku harian
aktivitas fisik, atau dengan observasi langsung. Metode objektif dibagi
menjadi dua kategori yaitu penilaian secara langsung dengan metode
laboratorium dan metode lapangan , contohnya mengunakan
pedometer, pematauan denyut jantung dan accelerometer. Metode
subjektif dan metode objek dapat digabungkan untuk mendapatkan
nilai aktifitas fisik yang lebih koprehensif (Anggunadi & Sutarina,
2017)
Tabel 2.1Nilai MET dan formula untuk perhitungan MET- menit
No Aktivitas Nilai MET
1 Aktivitas fisik yang berhubungan dengan pekerjaan
a. Berjalan di tempat kerja (ringan) 3,3
b. Aktifitas sedang di tempat kerja 4,0
c. Aktifitas kuat di tempat kerja 8,0
Jumlah aktivitas di tempat kerja (MET-menit/minggu) = jumlah skor berjalan +
aktifitas intensitas sedang di tempat kerja + aktifitas intensitas berat di tempat kerja.
2 Aktivitas fisik yang berhubungan dengan transportasi
a. Berjalan untuk transportasi 3,3
b. Bersepeda untuk transportasi 6,0
Jumlah aktivitas untuk transportasi (MET-menit/minggu) = jumlah skor berjalan +
bersepeda untuk transportasi.
3 Kegiatan rumah tangga dan mengurus kebun
a. Aktifitas yang sangat kuat 5,5
(Catatan: nilai MET 5.5 menunjukkan bahwa mengurus kebun yang
kuat harus dianggap sebagai aktivitas intensitas sedang untuk
19
penilaian dan menghitung total aktivitas intensitas sedang.)
b. Aktifitas kuat mengurus kebun 4,0
c. Aktifitas sedang melakukan pekerjaan rumah tangga. 3,0
Jumlah pekerjaan rumah tangga dan mengurus kebun
(MET-menit/minggu) = jumlah aktifitas kuat mengurus halaman +
aktifitas sedang mengurus halaman + aktifitas sedang dalam
pekerjaan rumah
4 Aktivitas fisik di waktu luang
a. Berjalan santai (ringan) 3,3
b. Aktifitas sedang saat waktu luang 4,0
c. Aktifitas kuat dalam waktu luang 8,0
Jumlah waktu luang (MET-menit/minggu) = jumlah berjalan santai + aktifitas
sedang waktu luang + aktifitas kuat dalam waktu luang
Sumber : (IPAQ., 2005)
D. Hubungan Aktivitas Fisik dengan Tekanan Darah pada Penderita
DM
Analisa hubungan aktivitas fisik dengan tekanan darah menurut
hasil penelitian Pangestu ( 2020 ) menunjukkan bahwa 98,7% penderita
DM dengan tekanan darah tinggi memiliki aktivitas fisik yang ringan dan
sebanyak 95,8% penderita DM yang memiliki tekanan darah normal
mempunyai aktivitas fisik yang sedang-tinggi. Penderita DM dengan
aktifitas fisik rendah (< 600 METS) memiliki kesempatan 23,6 kali lebih
besar terkena darah tinggi dibandingkan dengan penderita DM yang
memiliki aktivitas fisik sedang- tinggi ( > 600 METS ).
Menurut penelitian Febby (2012) dalam Kustiani (2020)
menjelaskan aktivitas fisik yang dilakukan penderita DM dapat
menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah.
Sebaliknya, orang yang kurang melakukan aktivitas fisik cenderung
20
memiliki frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi sehingga otot jantung
harus bekerja lebih keras pada setiap kontraksi. Makin keras dan sering
otot jantung memompa , makin besar tekanan yang dibebankan pada arteri
(Anggara & Prayitno, 2013)
E. Kerangka Teori
21
DIABETES MELTUS
Prankreas tidak dapat Retensi insulin
mesekresi insulin dan
gangguan kerja insulin
Retensi natrium di ginjal
dan meningkatkan saraf
Hiperglikemia
simpatik
Meningkatnya
anggiotensin II
Tekanan Darah
5 Pilar pengendalian DM
[Link] nutrisi Aktivitas fisik
2. Aktifitas fisik Aktivitas fisik berat
3. Terapi farmakologi Aktivitas fisik sedang
Aktivitas fisik ringan
4. Edukasi
5. monitoring kadar
gula darah
Sumber : Puspa et al.,( 2017), Prabowo ( 2019 ), PERKENI ( 2021 )
Skema 2.1 kerangka teori
BAB III
22
KERANGKA KONSEP
A. Kerangka Konsep
Kerangka konsep merupakan visualisasi hubungan antara berbagai
variabel, yang dirumuskan oleh peneliti setelah membaca berbagai teori
yang ada dan kemudian menyusun teorinya sendiri yang akan digunakan
sebagai landasan untuk penelitiannya (Masturoh , 2018).
Variabel independent adalah variabel yang dapat mempengaruhi
variabel lain, apabila variabel independent berubah maka variabel lain juga
akan berubah (Masturoh , 2018). Variabel independent pada penelitian ini
adalah aktivitas fisik pada penderita Diabetes Melitus.
Variabel dependent adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel
independent, variabel dependen akan berubah jika variabel independent
berubah (Masturoh, 2018). Variabel dependen pada penelitian ini adalah
tekanan darah pada penderita Diabetes Melitus
Adapun kerangka konsep penelitian ini mengambarkan hubungan
aktivitas fisik stabilisasi tekanan darah pada pasien Diabetes Melitus di
Pukesmas Padang Luar 2022 yang akan di gambarkan sebagai berikut :
Variabel independent variabel dependent
Aktivitas fisik Stabilitas Tekanan darah
skema 3. 1 Kerangka konsep hubungan
B. Hipotesa Penelitian
23
Hipotesis adalah pernyataan sementara yang akan diuji
kebenaranya (Masturoh, 2018). Penellitian ini dilakukan untuk mengetahui
adanya hubungan aktivitas fisik dengan stabilitas tekanan darah pada
penderita DM di pukesmas Padang Lua. Berikut ini perumusan hipotesis
dari penelitian ini :
Ha : Tidak adanya hubungan antara aktivitas fisik dengan
stabilisasi tekanan darah pada penderita DM di pukesmas
Padang Luar tahun 2022
H0 : Ada hubungan antara aktivitas fisik dengan stabilitas
tekanan darah pada penderita DM di pukesmas Padang
Luar tahun 2022
BAB IV
METODE PENELITIAN
24
A. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dan desain penelitian
mengunakan pendekanatan cross-sectional, yaitu pengumpulan yang
dilakukan secara serentak dalam satu waktu terhadap variabel depeden
dan independen diobservasi pada waktu yang sama (Masturoh, 2018).
Penelitian ini menganalisis terkai hubungan aktivitas fisik dengan
stabilisasi tekanan darah pada penderita Diabetes Melitus di Pukesmas
Padang Lua.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Pukesmas Padang Luar
2. Waktu Penelitian
Waktu dalam penelitian yaitu dimulai bulan bulan Agustus 2022
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Masturoh ( 2018 ) menjelaskan bahwa populasi adalah sekelompok
yang terdiri dari objek/subjek yang mempunyai karakteristik tertentu
yang ditetapkan peneliti untuk dipelajari dan kemudian menarik
kesimpulan. Populasi pada penelitian ini adalah semua penderita
Diabetes Melitus di Pukesmas Padang Luar dalam kurun waktu saat
penelitian berlangsung
2. Sampel
Sampel penelitian adalah sebagian dari populasi yang telah mewakili
25
karakteristik dari populasi (Masturoh, 2018). Teknik pengambilan
sampel pada penelitian ini adalah accdental sampling yaitu
pengambilan sampel yang kebetulan ada dilokasi penelitian pada saat
peneliti melakukan pengumpulan data. Responden yang kebetulan ada
dilokasi penelitian itulah yang diambil sebagai sampel penelitian.
Perhitungan besar sampel pada penelitian analisis korelatif dengan
mengunakan rumus (Dahlan, 2013)
( )
Zα + Zβ 2
n= +3
1+r
0,5 ln
1−r
( )
1,96+1,645 2
n= +3
1+0,5
0,5 ln
1−0,5
n= (
3,605 2
0,5 ln (3)
+3 )
( )
2
3,605
n= +3
0,549
2
n=6,55737705 +3
n=42,99+3
n=45,99
Dibulatkan menjadi 50
Keterangan:
n : jumlah sampel
Zα : kesalahan tipe I, Zα =1, 96
Zβ : kesalahan tipe II, Zβ=1,645
r : korelasi minimal yang dianggap bermakana nilainya 0,5
ln : naltural logaritma
26
untuk mengantipasi kejadian dropout, peneliti menambah jumlah
sampel menjadi 60 responden
D. Kriteria Inklusi dan Eksklusi
1. Kritera Insklusi
Kritera inklusi adalah karakteristik yang masuk dalam subjek yang
akan ditetli oleh peneliti. Kriteria inklusi dalam penelitian ini
adalah
a. Penderita DM yang rentang usia dari 25-65 tahun
b. penderita yang bersedia menjadi responden
2. Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi adalah kriteria subyek penelitian tidak dapat
mewakili sampel karena tidak memenuhi syarat sebagai sampel
penelitian yang penyebabnya antara lain hambatan etis, menolak
sebagai responden atau berada pada suatu keadaan yang tidak
memungkinkan untuk dilakukan penelitian (Cervoni, 2020).
a. Penderita DM yang mengalami gangguan dalam melakukan
aktivitas
b. Penderita yang menolak menjadi responden
E. Definisi Operasional
Tabel 4.1 definisi operasional
N Variabel Definisi Alat Skala ukur Hasil ukur
o operasional ukur
1 Variabel Setiap Internatio Ordinal 1. Aktivitas
. independe gerakan nal Fisik rendah
Physical
27
n yaitu tubuh yang Activity (Jika nilai
aktivitas dihasilkan Ouitioner MET –
fisik pada oleh otot (IPAQ) menit/
penderita rangka yang minggu <
DM memerlukan 600)
energi 2. Aktivitas
Fisik Sedang
(Jika nilai
MET –
menit/mingg
u > 600 - <
3000)
3. Aktivitas Fisik
Tinggi (Jika
nilai MET >
3000 )
Sumber: IPAQ., (2005)
2 Variabel Tekanan Sphygmo Ordinal 1.
. dependen yang manomet 1. Stabil ( jika
yaitu diterima oleh er perubahan TD
stabilitas pembuluh > 10 mmHg)
tekanan darah arteri 2. Tidak stabil
darah pada saat jantung ( jika
penderita memompa
DM darah perubahan TD
keseluruh ≥ 10 mmHg)
tubuh
Sumber :Khasanah & Irma
Susanti, ( 2019)
F. Instrumen Penelitian
Masturoh (2018) menjelaskan intrumen penelitian adalalah alat yang
diunakan dalam pengumpulan data pada sebuah penelitian. Intrumen
penelitian bisa berbentuk kuisoner atau daftar pertanyaan, formulir
observasi. Intrumen penelitian yang digunakan untuk pengumpulan data
dapat mengunakan intrumen yang telah digunakan pada penelitian
sebelumnya atau mengunakan intrumen tang dibuat sendiri. Pada
penelitian ini untuk mengetahui tekanan darah pada penderita DM
dilakukan pengukuran mengunakan Sphygmomanometer dan untuk
28
mengukur tingkat aktivitas fisik peneliti mengunakan kuisoner IPAQ.
Kuisoner IPAQ berisi pertanyaan tentang jenis aktivitas, durasi dan
frekuens seseorang melakukan aktivitas fisik dalam jangka waktu 7 hari
terakhir. Kuisoner IPAQ telah dikembangkan dan diuji untuk digunakan
pada orang dewasa (rentang usia 15-69 tahun) dan sampai pengembangan
dan pengujian lebih lanjut dilakukan penggunaan IPAQ dengan kelompok
usia yang lebih tua dan lebih muda tidak dianjurkan (IPAQ., 2005)
IPAQ.( 2005) metetapkan skor aktifitas fisik dengan rumus
METs-min/minggu :
METs Level (jenis aktivitas) X Jumlah Menit Aktivitas X Jumlah hari/minggu
.G.
G. Uji validitas dan Uji reabilitas
2. Uji validitas
Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu benar-
benar mengukur apa yang diukur. Maka perlu diuji dengan uji
korelasi antara nilai tiap-tiap item pertanyaan dengan skor total
kuisoner tersebut (Notoatmodjo, 2012)
Kuisoner aktivitas fisik dibuat bedasarkan Innternational Physical
Activity Questionnaire (IPAQ) untuk mengetahui bagaimana
aktivitas fisik seseorang. Kuesoner ini dilakukan uji validitas
sebelum melakukan penelitian dengan mengunakan teknik korelasi
pearson product moment yang dibantu dengan program SPSS for
windows.
29
Validitas dari kuisoner IPAQ memiliki nilai rata-rata sekitar 0,30
yang sebanding dengan kebanyakan studi validasi loporan mandiri
lainnya(Craig et al., 2003)
2. Uji reabilitas
Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu
alat pengukuran dapat dipercaya atau diandalkan. Hal ini harus
menunjukkan hasil pengukuran itu tetap konsisten bila dilakukan
pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama, dengan
menggunakan alat ukur yang sama (Notoatmodjo, 2012)
Hasil penelitian yang telah dilakukan di 12 negara menunjukkan
bahwa reliabilitas data untuk kuesioner IPAQ ini menunjukkan koefisien
korelasi Spearman berkisar antara 0,96 (USA2) sampai 0,46 (SA Ru),
namun sebagian besar sekitar 0,8 menunjukkan pengulangan yang sangat
baik .
H. Etika Penelitian
Masalah etika penelitian keperawatan merupakan masalah yang
sangat penting mengingat penelitian keperawatan berhubungan langsung
dengan manusia, maka dari segi penelitian harus diperhatikan karena
manusia mempunyai hak asasi dalam penelitian. Pada penelitian ini
menggunakan etika penelitian terdiri dari informed consent, anonymity dan
confindentiality yaitu sebagai berikut :
1. Informed consent (lembar persetujuan) Lembar persetujuan
penelitian yang diberikan, dengan tujuan keluarga responden
30
mengetahui maksud dan tujuan serta dampak penelitian selama
pengumpulan data.
2. Anonymity (tanpa nama)
Kerahasiaan identitas responden tetap diperhatikan, untuk peneliti
tidak akan mencantumkan nama responden pada lembar
pengumpulan data (kuesioner) yang diisi.
3. Confindentiality (kerahasiaan)
Peneliti menjamin kerahasiaan informasi yang diberikan oleh
keluarga responden dan hanya kelompok tertntu saja yang akan
dilaporkan sebagai hasil riset.
I. Pengumpulan Data
1 Jenis data
a. Data primer
Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh
peneliti secara langsung dari sumber datanya (Masturoh, 2018).
Data primer pada penelitian ini yaitu melalui penyebaran kuesoner
IPAQ dan Sphygmomanometer
b. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari berbagai
sumber yang telah ada (Masturoh, 2018). Data yang didapatkan
dari petugas Pukesmas Padang Lua.
2 Cara pengambilan data
a. Tahap persiapan
31
1) Mengajukan permohonan izin penelitian dari Kepala Program
Studi S1 Keperawatan Universitas Mohammad Natsir Yarsi
Bukittinggi.
2) Setelah permohonan izin disetujui, peneliti kemudian
melanjutkan izin penelitian dari Dinas Kesehatan agam
b. Tahap pelaksanaan
1) Mengumpulkan data sekunder yaitu jumlah kunjungan dan
jumlah penderita DM di Puskesmas Padang Luar
2) Melakukan pemilihan sampel yang memenuhi kriteria inklusi
dan eklusi
3) Mengunjungi penderita DM
4) Permintaan persetujuan responden dengan memberikan
penjelasan secara lisan tentang kuesioner dan penelitian
5) Memastikan bahwa sampel bersedia untuk menjadi responden
dalam penelitian ini
6) Melakukan pemeriksaan tekanan darah sebelum mengisi
kuesioner
7) Responden mengisi kuesioner
8) Mendampingi responden dalam mengisi kuesioner
9) Menjawab pertanyaan responden apabila ada hal yang tidak
dimengerti
10) Responden mengumpulkan kuesioner, kemudian setelah itu
data dikumpulkan dan dicek ulang
32
11) Peneliti mengucapkan terimakasih kepada responden atas
partisipasinya dalam penelitian ini
J. Pengolahan Data dan Analisa Data
1. Teknik pengolahan data
Menurut Masturoh ( 2018) pengolahan data pada dasarnya bagian
dari penlitian setelah pengumpulan data, data mentah atau raw data
yang telah dikumpulkan dan diolah atau dianalisis sehingga
menjadi informasi. Terdapat beberapa kengiatan yang dilakukan
peneliti dalam pengolahan data yaitu:
c. Editing
Editing atau penyuntingan data adalah tahapan yang
dilakukan setelah data sudah dikumpulkan dari
pengisian kuesioner disunting jawabanya. Jika pada
tahap ini didapatkan ketidaklengkapan dalam pengisian
jawaban, maka harus melakukan pengumpulan data
ulang.
d. Coding
Coding adalah mengelompokan data sesuai dengan
klasfikikasinya dengan cara menberikan kode tertentu. Data
yang di coding debagai berikut:
1. Jenis kelamin
1= laki-laki
2= perempuan
2. Tekanan darah
33
1=stabil
2= tidak stabil
3. Aktivitas fisik
1= Aktivitas Fisik rendah (Jika nilai MET
– menit/ minggu < 600)
2= Aktivitas Fisik Sedang (Jika nilai MET
– menit/minggu > 600 - < 3000)
3= Aktivitas Fisik Tinggi (Jika nilai MET
> 3000 )
e. Entry
Entry adalah tahapan memasukan data telah melewati
proses coding kedalam master tabel atau database komputer
f. Cleaning data
Cleaning data adalah tahpan pengecekan kembali data yang
sudah dientri, apakah sudah betul atau ada kesalahan saat
memasukan data
g. Procesing
Procesing adalah tahapan setelah semua kuisoner terisi
penuh dan benar, serta telah melewati pengkodean,
selajurnya data yang telah di-entry dapat dianalisi.
2. Analisa data
a. analisa univariat
analisa univariat dilakukan untuk melihat gambaran distribusi
frekuensi dan persentase setiap vriabel dependent dan variabel
independent yang diteliti. Variabel dependent yang dianalaisis
34
adalah tekanan darah pada subjek DM dan variabel independ yaitu
aktivitas fisik.
b. analisa bivariat
analisa bivariat dilakukan untuk menganalisis hubungan antara
variabel dependent dan variabel independent. Variabel depend dan
variabel independent dalam penelitian ini terdiri dari data kategorik
dan diuji mengunakan sperman rank yang merupakan bagian uji
statistik non parametrik (tidak memerlukan asumsi normalitas dan
linearitas), yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara
variabel. Untuk melihat signifikasi hubungan yaitu. jika nilai
signifikansi <0,05 maka berkorelasi, jika nilai signifikansi >0.05
maka tidak berkorelasi. Apabila dari perhitungan nilai signifikan
p>0,05, maka Ha ditolak dan H0 diterima. Jika p ≤ 0,05 , maka Ha
diterima dan H0 [Link] terhadap kekuatan hubungan
dari nilai yang didapat dari sperman rank dapat dilihat pada tabel
4.1
tabel 4.1 pendoman interpretasi Uji Korelasi sperman rank
Interval korelasi Hubungan variabel
< 0,20 Sangat rendah( tidak korelasi )
≥0,20-< 0,39 Rendah
≥0,40- <0,59 Sedang
≥0,40-<0,79 Kuat
≥0,80-1,00 Sangat kuat
Angka yang dihasilkan dari nilai yang menunjukkan hubungan
antara dua variabel yang diuji, angka mendekati angka 1 maka
35
hubungan semakin kuat dan semakin menuju angka 0 maka
hubungan semakin rendah.
BAB V
HASIL PENELITIAN
36
A. Gambaran Umun Penelitian
Penelitian ini meneliti tentang” hubungan aktivitas fisik dengan
stabilitas tekanan darah pada penderita Diabetes Melitus di Pukesmas
Padang Luar Tahun 2022”. Proses penelitian ini dilakukan pada tanggal 6-
23 september 2022 dengan jumlah responden 60 sesuai dengan kriteria
sampel yang telah ditentukan. Dengan variabel independen aktifitas fisik
dan variabel dependent stabilitas tekanan darah pendera DM
Setelah seluruh data terkumpul selanjutnya dilakukan pengolahan
data untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik dengan stabilitas tekanan
darah pada penderita Diabetes Melitus di Pukesmas Padang Luar Tahun
2022. Analisa dilakukan secara komputerisasi dengan aplikasi SPSS
dengan mengunakan metode spearman rank
B. Analisa Univariat
1. Gambaran Karakteristik responden bedasarkan jenis kelamin
Tabel 5.1
Distribusi frekuensi karakteristik bedasarkan jenis kelamin
penderita DM di Pukesmas Padang Luar tahun 2022
Jenis Kelamin Frekuensi (f) Presentase (%)
Laki-laki 17 28,3
Perempuan 43 71,7
Jumlah 60 100,0
Tabel 5.1 menujukkan bahwa dari 60 responden sebagian besar
responden berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 43 responden
(71,1 %)
2. Gambaran Karakteristik responden bedasarkan usia
Tabel 5.2
37
Distribusi frekuensi karakteristik bedasarkan umur penderita DM
di Pukesmas Padang Luar tahun 2022
Usia Frekuensi (f) Presentase (%)
26-35 tahun 4 6.7
36-45 tahun 5 8,3
46-55 tahun 22 36,7
56-65 tahun 29 48,3
Jumlah 60 100,0
Tabel 5.2 menunjukkan bahwa dari 60 responden sebagian besar
umur responden yang menderita DM berkisar antara 56-65 tahun yaitu
sebanyak 29 responden (48,3%)
3. Gambaran aktifitas fisik pada penderita DM di Pukesmas Padang Luar
tahun 2022
Tabel 5.3
Aktifitas fisik responden DM di Pukesmas Padang Luar tahun 2022
Aktifitas fisik Frekuensi (f) Presentase (%)
Ringan 12 20,0
Sedang 25 41,7
Berat 23 38,3
Jumlah 60 100,0
Tabel 5.3 menunjukkan bahwa dari 60 responden sebagian besar
aktifitas fisik responden adalah aktifitas sedang yaitu sebanyak 25
responden (41,7%)
4. Gambaran stabilitas tekanan darah pada penderita DM di Pukesmas
Padang Luar tahun 2022
38
Tabel 5.4
Stabilitas tekanan darah responden DM di Pukesmas Padang Luar
tahun 2022
Stabilitas TD Frekuensi (f) Presentase (%)
Stabil 23 38,3
Tidak stabil 37 61,7
Jumlah 60 100,0
Tabel 5.4 menunjukkan bahwa dari 60 responden sebagian besar
responden DM memiliki tekanan darah yang tidak stabil yaitu sebanyak
43 responden (71,7%)
C. Analisa Bivariat
Analisa bivariat digunakan untuk melihat hubungan antara variabel
independen (aktifitas fisik) dan variabel dependent (stabilitas tekanan
darah)
Tabel 5.5
Hubungan aktifitas fisik dengan stabilitas tekanan darah pada
penderita DM di Pukesmas Padang Luar tahun 2022
Aktifitas fisik r P value
Stabiltas Ringan sedang berat Jumlah
TD N % N % N % N % 0,471 0,000
stabil 9 15,0 11 18,3 3 5,0 23 38,3
Tidak 3 5,0 14 23,4 20 33,3 37 61,7
stabil
Jumlah 12 20,0 25 41,7 23 38,3 60 100
Tabel 5.5 menujukkan bahwa dari 23 responden dengan tekanan darah,11
responden (18,3%) dengan aktifitas sedang, sedangkan 37 responden dengan
tekanan darah tidak stabil sebagian besar dengan aktifitas sedang dan 20
responden (33,3%) dengan aktifitas berat
39
Analisis hubungan antara aktifitas fisik dengan stabilitas tekanan darah
dengan mengunakan uji statistik spearman rank didapatkan hasil p-value =0,000
(p<0,05) sehingga Ha diterima yang berarti ada hubungan antara aktifitas fisik
dengan stabilitas tekanan darah pada penderita DM di Puskesmas di Padang Luar
tahun 2022
BAB VI
PEMBAHASAN
A. ANALISA UNIVARIAT
40
1. Jenis kelamin penderita DM di Puskesmas di Padang Luar tahun
2022
Bedasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa sebagian besar
responden berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 43 responden
(71,1 %), sedangkan jenis kelamin laki-laki sebanyak 17 responden
(28,3%). Sehingga jenis kelamin perempuan masih mendominasi
sebagai mayoritas resiko terkena DM di Puskesmas di Padang Luar
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Usman et al., (2020) yang
menunjukkan bahwa mayoritas responden yang diperoleh berjenis
kelamin perempuan yaitu sebanyak 44 responden (69,8%), penderita
DM lebih banyak perempuan dibandingkan laki-laki, hal ini
dipengaruhi oleh penurunan hormone estrogen akibat menopouse. Pada
perempuan setelah menopouse akan terjadi perubahan hormone
estrogen yang akan memicu fluktuasi kadar gula gula darah.
Arania et al., (2021) menjelaskan bahwa prevalensi kejadian DM
bedasarkan pengukuran gula darah lebih tinggi pada perempuan
dibandingkan laki-laki, perempuan beresiko menderita DM lebih tinggi
dikarenakan pada pasca menopouse respon insulin menurun akibat dari
hormon estrogen yang rendah, faktor lain yang menyebabkan
perempuan beresiko DM adalah berat badan perempuan sering tidak
ideal sehingga dapat menurunkan sensitivtas insulin.
Bedasarkan penelitian diatas peneliti berasumsi bahwa perempuan
memiliki resiko tinggi menderita DM, beberapa penyebabnya adalah
faktor hormonal yaitu hormon estrogen dan faktor pola hidup. Oleh
41
karena itu responden diharapkan mampu melakukan dan menjaga pola
hidup sehat untuk mengurangi resiko menderita DM terutama perempua
yang memiliki resiko tinggi dibandingkan laki-laki.
2. Usia penderita DM di Puskesmas di Padang Luar tahun 2022
Bedasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti
didapatkan bahwa responden sebagian besar umur responden yang
menderita DM berkisar antara 56-65 tahun yaitu sebanyak 29 responden
(48,3%) .Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan
Nurhaliza et al., (2022) yang menyatakan bahwa mayoritas responden
berusia 56-65 tahun yaitu sebanyak 14 responden (46,7%)
Penelitian Lathifah (2017) mendapatkan 25 responden (52%)
menderita DM berumur >58 tahun. Pertambahan usia dapat
meyebabkan penurunan kerja sistem tubuh termasuk sistem endokrin
sehingga berdampak terjadinya resistensi insulin yang akan memicu
tidak stabilnya kadar glukosa darah (Isnaini&Ratnasari, 2018)
Berdasarkan penelitian diatas peneliti berasumsi bahwa pada
penelitian ini sebagian besar responden termasuk dalam usia Lansia
akhir yaitu pada usia 56-65 tahun. Peneliti menarik kesimpulan bahwa
semakin bertambah atau meningkatnya usia seseorang maka akan
mempengaruhi proses produksi insulin dalam pankreas yang akan
mengganggu proses sekresi insulin dalam tubuh.
Oleh karena itu, diharapkan responden seiring dengan
bertambahnya usia agar menjalankan pola hidup sehat dan secara rutin
memeriksakan kesehatan tubuhnya ke pelayanan kesehatan, agar dapat
42
dilakukan pencegahan resiko terkena diabetes mellitus terutama pada
usia diatas 46 tahun.
3. Aktifitas fisik responden DM di Pukesmas Padang Luar tahun
2022
Bedasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti
didapatkan bahwa sebagian besar aktifitas fisik responden adalah
aktifitas sedang yaitu sebanyak 25 responden (41,7%) Hasil penelitian
ini sejalan dengan penelitian Lestari & Laksmi (2020) dari 50 respoden,
25 responden (50%) memiliki aktifitas fisik sedang. Aktivitas Fisik
merupakan kegiatan menggerakkan badan yang dilakukan secara terus-
menerus dalam satu waktu. Sesuai dengan hasil penelitian yang
dilakukan Sudaryanto et al., (2014) bahwa aktivitas fisik yang kurang
menyebabkan seseorang memiliki risiko terhadap DM, Dalam
penelitiannya menjelaskan bahwa semakin lama seseorang melakukan
Aktivitas Fisik atau olahraga akan memberikan efek yang positif bagi
lemak dalam tubuh, tekanan dalam darah dan distribusi lemak dalam
tubuh, sehingga akan membuat tubuh terhindar dari berbagai penyakit
salah satunya DM
Menurut hasil penelitian Primahuda & Sujianto, (2016), didapatkan
bahwa mayoritas ketidakpatuhan responden diabetes mellitus dalam
melaksanakan aktivitas fisik karena responden pada saat di tempat kerja
jarang berdiri, di waktu luang bekerja responden jarang melakukan
olahraga, memiliki pekerjaan yang ringan, dan ketika memiliki waktu
luang jarang melakukan aktivitas fisik. Menurut Putri (2014), dalam
43
Primahuda & Sujianto (2016) faktor dalam ketidakpatuhan responden
dalam melakukan aktivitas fisik antara lain memiliki kesibukan secara
individu, belum terbentuknya kebiasaan melakukan olahraga sejak
awal, kurang tersedianya sarana dan prasarana, serta responden
didominasi oleh Lansia.
Berdasarkan penelitian diatas peneliti berasumsi bahwa sebagian
besar respoden di Pukesmas Padang Luar memiliki aktifitas fisik berat,
sebagian besar respoden bekerja sebagai petani yang intensitasnya berat
seperti mencangkul, sebagian responden yang lainnya memanfaatkan
jenis pekerjaannya untuk dapat sekaligus beraktivitas fisik
4. Stabilitas tekanan darah responden DM di Pukesmas Padang
Luar tahun 2022
Bedasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti
didapatkan bahwa sebagian besar responden DM memiliki tekanan
darah yang tidak stabil yaitu sebanyak 37 responden (61,7%).hasil
penelitian ini sejalan dengan penelitian Abdurrosidi et al., (2021)
menunjukkan bahwa sebagian besar tekanan darah responden tidak
stabil yaitu 44 responden (75,9%).
Pengukuran tekanan darah dilakukan sebanyak tiga kali dalam
rentang 6 hari, kemudian hasil dari pengukuran tekanan darah akan
direratakan menjadi hasil akhir apakah memenuhi atau tidak
memenuhi target tekanan darah yang diharapkan, sehingga dapat
dikategorikan apakah tekanan darah stabil atau tidak stabil. Tekanan
darah dikatakan stabil bila hasil rerata tekanan darah selama enam hari
44
memenuhi target tekanan darah yang diharapkan yaitu ≤ 130/70-79
mmHg (usia 18-65 tahun) dan ≤ 139/70-79 mmHg (usia > 65 tahun)
(Abdurrosidi et al., 2021). Ketidakstabilan tekanan darah bisa
dikaitkan dengan usia responden yang sebagian besar dalam rentang
usia 56-65 tahun. Pada usia tersebut pembuluh darah mungkin
telah banyak rusak akibat proses aging, degeneratif, permeabilitas
yang mal adaptif dan vasokontriksi yang semuanya ini bisa
menyebabkan kondisi ketidakstabilan tekanan darah (Amir, 2013)
Berdasarkan penelitian diatas peneliti berasumsi bahwa
responden cenderung memiliki tekanan darah yang tidak stabil karena
selain mereka menderita DM mereka juga memiliki tekanan darah
tinggi dan tidak minum obat hipertensi secara teratur selain itu faktor
usia juga menyebabkan ketidakstabilan tekanan darah.
B. ANALISA BIVARIAT
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara
Aktivitas Fisik dengan stabilitas tekanan darah pada Pasien Diabetes
Mellitus Di Pukesmas Padang Luar tahun 2022
Dari tabel analisa bivariat hubungan aktivitas fisik dengan
stabilitas tekanan darah pada penderita DM dari 60 responden,
menujukkan bahwa dari 23 responden dengan tekanan darah stabil yaitu 9
responden (15,0%) dengan aktifitas ringan,11 responden (18,3%) dengan
aktifitas sedang dan 3 responden (5,0%) dengan aktifitas berat , sedangkan
37 responden dengan tekanan darah tidak stabil sebagian besar yaitu 3
responden (5,0%) responden beraktifitas ringan, 14 responden (23,4%)
45
dengan aktifitas sedang dan 20 responden (33,3%) dengan aktifitas berat.
Hal ini menjelaskan sebagian besar penderita DM Di Pukesmas Padang
Luar mempunyai aktifitas yang berat dan tekanan darah tidak stabil.
Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,000 (p<0,05) kesimpulanya
adalah ada hubungan antara aktifitas fisik dengan stabilitas tekanan darah
pada penderita DM, nilai r=0,471 artinya terdapat korelasi sedang antara
variabel aktifitas fisik dengan stabilitas tekanan darah Di Pukesmas
Padang Luar tahun 2022
Penelitian ini sedikit berbeda dengan penlitian Abdurrosidi et al.,
(2021) yang menunjukan bahwa sebagian besar memiliki aktifitas fisik
ringan dengan tekanan darah tidak stabil sebanyak 39 responden (67,3%),
dalam penelitianya ia juga menjelaskan bahwa semakin kurang aktifitas
fisik maka tekanan darah cenderung tidak stabil dan seseorang yang
melakukan aktifitas fisik sedang dan berat cenderung memiliki tekanan
darah stabil. Penelitian ini juga sedikit berbeda dengan penelitian
Rihiantoro & Widodo (2018) yang menunjukkan aktifitas fisik ringan
sebanyak 23 responden (67,6%) mengalami ketidakstabilan tekanan darah
dan 11 responden (32,4%) tekanan darah stabil, sedangkan dari 30
responden yang aktifitas fisiknya sedang dan berat sebanyak 9 responden
(30%) mengalami ketidakstabilan tekanan darah dan 21 responden (70%)
tekanan darah stabil.
peneliti berasumsi bahwa perbedaan penelitian ini dengan
penelitian yang lainya terletak pada aktifitas fisik, dari kedua penelitian
sebelumnya menjelaskan bahwa ketidakstabilan tekanan darah terjadi jika
46
aktifitas fisik ringan sedangan pada penelitian ini ketidakstabilan tekanan
darah terjadinya pada aktifitas fisik sedang. peneliti berasumsi hal ini
disebabkan oleh responden yang beraktifitas sedang sebagian besarnya
menderita hipertensi dan tidak rutin meminum obat antihipertensi sehingga
menyebabkan ketidakstabilan tekanan darah pada penderita DM. Tekanan
darah akan stabil jika penderitanya minum obat anti hipertensi secara rutin
dan mengurangi mengosumsi makanan tinggi garam.
Peneliti juga berasumsi bahwa selain faktor tidak rutinnya minum
obat antihipertensi, faktor lain yang menyebabkan tidak stabilnya tekanan
darah pada penderita DM adalah usia, karakteristik usia responden pada
penelitian ini rata-rata sudah berusia lanjut. Hal tersebut menyebabkan
terjadinya penurunan fisiologis sehingga rentan terhadap peningkatan
tekanan darah. Hal ini sebagaimana teori yang mengatakan bahwa semakin
bertambahnya umur, struktur pembuluh darah pada seseorang akan
mengalami perubahan fisiologis seperti terjadinya penyempitan lumen dan
tingkat keelastisan pada dinding pembuluh darah mengalami penurunan
sehingga hal ini dapat meningkatkan tekanan darah(Unger et al., 2020)
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien
DM Di Puskesmas Padang Luar dengan aktifitas fisik sedang memiliki
ketidakstabilan tekanan darah. Banyaknya pasien DM yang memiliki
ketidakstabilan tekanan darah menunjukkan bahwa responden memiliki
47
kecenderungan tak acuh pada tekanan darahnya, yang seharusnya
penderita DM memiliki kestabilan tekanan darah. seorang pasien DM
harus mengetahui bahwa betapa pentingnya kestabilan tekanan darah.
Harus dipahami bagi seorang penderita DM yang memiliki ketidakstabilan
tekanan darah berisiko tinggi risiko tinggi menglami penyakit
kardivaskular lainya.
DAFTAR PUSTAKA
Abaa, Y. P., Polii, H., & Wowor, pemsi m. (2017). Gambaran Tekanan Darah ,
Indeks Massa Tubuh , dan Aktivitas Fisik. 5.
Abdurrosidi, A., Novitasari, D., & Khasanah, S. (2021). Hubungan Aktifitas Fisik
dengan Kestabilan Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi di UPTD
Puskesmas I Kembaran Kabupaten Banyumas. Seminar Nasional Penelitian
Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (SNPPKM), 1214–1224.
ADA. (2014). Diagnosis and Classi fi cation of Diabetes Mellitus. 37(January),
81–90. [Link]
Amir, F. (2013). P e n e l i t i a n. 13–19.
Anggara, F. H. D., & Prayitno, N. (2013). Faktor-Faktor Yang Berhubungan
Dengan Tekanan Darah Di Puskesmas Telaga Murni, Cikarang Barat Tahun
2012. [Link]
Anggunadi, A., & Sutarina, N. (2017). MANFAAT ACCELEROMETER UNTUK
PENGUKURAN AKTIVITAS FISIK. 13, 10–33.
Anthonia, A., & Frank, O. (2014). AWARENESS OF OBESITY AS A
CARDIOVASCULAR RISK FACTOR AMONG DIFFERENT
OCCUPATIONAL GROUPS IN A PRIMARY CARE CLINIC IN NIGERIA.
Arania, R., Triwahyuni, T., Esfandiari, F., & Nugraha, F. R. (2021). Hubungan
Antara Usia, Jenis Kelamin, Dan Tingkat Pendidikan Dengan Kejadian
Diabetes Mellitus Di Klinik Mardi Waluyo Lampung Tengah. Jurnal Medika
Malahayati, 5(3), 146–153. [Link]
Associaton, A. D. (2021). Standards of medical care in diabetes. .
[Link]
Atun, L., Siswati, T., & Kurdanti, W. (2014). Asupan Sumber Natrium, Rasio
Kalium Natrium, Aktivitas fisik, dan Tekanan Darah Pasie Hipertensi. Mgmi,
6(1), 63–71. [Link]
[Link]
48
Budi, A. (2016). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Hipertensi
Tidak Terkendali Pada Penderita Yang Melakukan Pemeriksaan Rutin di
Puskesmas Kedungmundu Kota Semarang Tahun 2014. Public Health
Perspective Journal, 1(1), 12–20.
Cervoni, B. (2020). how diabetes and hypertension are related.
Colosia, A. D., Palencia, R., & Khan, S. (2013). Prevalence of hypertension and
obesity in patients with type 2 diabetes mellitus in observational studies : a
systematic literature review. 327–338.
Craig, C. L., Marshall, A. L., Sjöström, M., Bauman, A. E., Booth, M. L.,
Ainsworth, B. E., Pratt, M., Ekelund, U., Yngve, A., Sallis, J. F., & Oja, P.
(2003). International physical activity questionnaire: 12-Country reliability
and validity. Medicine and Science in Sports and Exercise, 35(8), 1381–
1395. [Link]
Derek, M. I., Rottie, J. V., & Vandri. (2017). Darah Pada Pasien Diabetes Melitus
Kasih Gmim Manado. E-Journal Keperawatan, 5(1), 2.
Eren, N. K., Harman, E., Dolek, D., Tütüncüoʇlu, A. P., Emren, S. V., Levent, F.,
Korkmaz, G., Tülüce, S. Y., & Nazli, C. (2014). Rate of blood pressure
control and antihypertensive treatment approaches in diabetic patients with
hypertension. Turk Kardiyoloji Dernegi Arsivi, 42(8), 733–740.
[Link]
Halim, C. (2017). Pengaruh Perilaku Merokok Terhadap Kadar Glukosa Darah:
Tinjauan Jumlah Batang Rokok yang Dihisap Pada Pria Perokok Bersuku
Tionghoa di Indonesia. 110265, 110493.
Huda, S. A. (2016). Hubungan Antara Kadar Glukosa Darah Dengan Tekanan
Darah Manusia Di Rw 03 Kelurahan Kebayoran Lama Jakarta Selatan.
BIOEDUKASI (Jurnal Pendidikan Biologi), 7(2), 144–152.
[Link]
IDF. (2021). International Diabetes Federation. In Diabetes Research and Clinical
49
Practice (Vol. 102, Issue 2). [Link]
IPAQ. (2005). Guidelines for data processing and analysis of the IPAQ-short and
long forms. Med Sci Sports Exercise, April,
[Link]
Isnaini, N., & Ratnasari, R. (2018). Faktor risiko mempengaruhi kejadian
Diabetes mellitus tipe dua. Jurnal Kebidanan Dan Keperawatan Aisyiyah,
14(1), 59–68. [Link]
Kemenkes. (2017). Buku Ayo Bergerak.
Kementrian kesehatan republik indonesia. (2020). Tetap Produktif, Cegah Dan
Atasi Diabetes Mellitus. In pusat data dan informasi kementrian kesehatan
RI.
Khasanah, S., & Irma Susanti, M. P. (2019). Studi Kestabilan Tekanan Darah
Pada Penderita Hipertensi Dan Faktor Yang Memengaruhinya. Viva Medika:
Jurnal Kesehatan, Kebidanan Dan Keperawatan, 11(02), 84–96.
[Link]
Kustiani, A., & Arza, P. A. (2020). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tekanan
Darah Penderita DM Tipe 2 Terkontrol Peserta Prolanis Puskesmas. 1(1),
71–77.
Kusumo, M. P. (2021). Buku pemantauan aktivitas fisik (Issue April).
Lathifah, N. L. (2017). Hubungan Durasi Penyakit dan Kadar Gula Darah Dengan
Keluhan Subyektif Penderita Diabetes Melitus. Jurnal Berkala Epidemiologi,
5(2), 231–239. [Link]
Lestari, L., Zulkarnain, Z., & Sijid, S. A. (2021). Diabetes Melitus: Review
etiologi, patofisiologi, gejala, penyebab, cara pemeriksaan, cara pengobatan
dan cara pencegahan. Prosiding Seminar Nasional Biologi, 7(1), 237–241.
[Link]
Lestari, N. K. Y., & Laksmi, G. A. P. S. (2020). Aktivitas Fisik dengan Kadar
50
Gula Darah pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Jurnal Ilmu Kesehatan,
11(2), 296–305. [Link]
Martha Yuliani Habut, I Putu Sutha Nurmawan, I. A. D. W. (2018).
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DAN AKTIVITAS FISIK
TERHADAP KESEIMBANGAN DINAMIS PADA MAHASISWA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA. Majalah
Ilmiah Fisioterapi Indonesia, 2, 45–51.
Masturoh, I., & T, N. A. (2018). Metode Penelitian Kesehatan.
Nangge, M., Masi, G., & Oroh, W. (2018). Hubungan Obesitas Dengan Kejadian
Diabetes Melitus. E-Journal Keperawatan (e-Kp), 6(1), 6.
Njoto, E. N. (2014). Target Tekanan Darah pada Diabetes Melitus. Cermin Dunia
Kedokteran, 41(11), 864–866. [Link]/en/chep.
Notoatmodjo, S. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. In Jakarta: PT. Rineka
Cipta.
Nouh, F., Omar, M., & Younis, M. (2017). Prevalence of Hypertension among
Diabetic Patients in Benghazi: A Study of Associated Factors. Asian Journal
of Medicine and Health, 6(4), 1–11.
[Link]
Nurhaliza, S., Purwanti, N. U., & Yuswar, M. A. (2022). Instrumen Diabetes
Quality of Life Clinical Trial Questionnaire ( DQLCTQ ) Untuk Mengukur
Tingkat Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Journal Syifa
Sciences and Clinical Research., 4, 396–407.
Pangestu, A. D. (2020). Hubungan asupan natrium dan kalium, status gizi ,
aktivitas fisik dengan tekanan darah pada pasien diabetes melitus di
pukesmas kecamatan pesangrahan. ARGIPA (Arsip Gizi Dan Pangan), 4(2),
54–64. [Link]
PERKENI. (2015). konsensus Pedoman Pengelolaan Dan Pencegahan Diabetes
Melitus Tipe 2 Di Indonesia. In Perkeni.
51
PERKENI. (2021). Pedoman pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2
di Indonesia 2021. 46.
Plotnikoff, R. C. (2013). Physical activity in the management of diabetes:
Population-based perspectives and strategies. Canadian Journal of Diabetes,
30(1), 52–62. [Link]
Prabowo, R. H. (2019). Prevalensi Hipertensi pada Pasien Diabetes Melitus di
Kelurahan Mojosongo Kota Surakarta. Biomedika, 12(1), 41–46.
[Link]
Primahuda, A., & Sujianto, U. (2016). Hubungan Antara Kepatuhan Mengikuti
Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS) BPJS Dengan Stabilitas
Gula Darah Pada Penderita Diabetes Melitus di Puskesmas Babat Kabupaten
Lamongan. Jurusan Keperawatan, 1–8. [Link]
Puspa, G., Marek, S., & Adi, M. S. (2017). FAKTOR-FAKTOR YANG
BERPENGARUH TERHADAP TERJADINYA HIPERTENSI PADA
PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE II ( Studi di Wilayah Puskesmas
Kabupaten Pati ). XIII(1), 47–59.
Qifti, F., Malini, H., & Yetti, H. (2020). Karakteristik Remaja SMA dengan
Faktor Risiko Diabetes Melitus di Kota Padang. Jurnal Ilmiah Universitas
Batanghari Jambi, 20(2), 560. [Link]
Rihiantoro, T., & Widodo, M. (2018). Hubungan Pola Makan dan Aktivitas Fisik
dengan Kejadian Hipertensi di Kabupaten Tulang Bawang. Jurnal Ilmiah
Keperawatan Sai Betik, 13(2), 159. [Link]
Ritonga, N., & Annum, R. (2019). Analisis Determinan Faktor Risiko Diabetes
Melitus Tipe Ii Di Puskesmas Batunadua Tahun 2019. Jurnal Kesehatan
Ilmiah Indonesia, 4(2), 140–145.
[Link]
Sudaryanto, A., Setiyadi, Alis, N., & Frankilawati, Ayu, D. (2014). Hubungan
antara Pola Makan, Genetik dan Kebiasaan Kerja Puskesmas Nusukan,
52
Banjasari. Prosiding SNST, 3, 19–24.
Sun, D., Zhou, T., Heianza, Y., Li, X., Fan, M., Fonseca, V. A., & Qi, L. (2019).
Type 2 Diabetes and Hypertension: A Study on Bidirectional Causality.
Circulation Research, 124(6), 930–937.
[Link]
Triyanto, E. (2014). pelayanan keperawatan bagi penderita hipertensi secara
terpadu.
Unger, T., Borghi, C., Charchar, F., Khan, N. A., Poulter, N. R., Prabhakaran, D.,
Ramirez, A., Schlaich, M., Stergiou, G. S., Tomaszewski, M., Wainford, R.
D., Williams, B., & Schutte, A. E. (2020). International Society of
Hypertension Global Hypertension Practice Guidelines. Hypertension, 75(6),
1334–1357. [Link]
Usman, J., Rahman, D., & Sulaiman, N. (2020). Faktor yang Berhubungan dengan
Kejadian Diabetes Mellitus pada Pasien di RSUD Haji Makassar. Jurnal
Komunitas Kesehatan Masyarakat, 2, 16–22.
Welis, W., & Rifki, muhamad sazeli. (2016). gizi untuk aktifitas fisik dan
kebugaran.
WHO. (2016). Global report on diabetes. Global Report on Diabetes, 88.
53