0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan22 halaman

Panduan Lengkap Penyakit Asma

Dokumen tersebut membahas tentang penyakit asma. Ringkasannya adalah: (1) Asma adalah gangguan saluran napas yang menyebabkan penyempitan jalan napas, (2) Etiologi asma meliputi faktor genetik, alergen, olahraga, infeksi, stres dan perubahan cuaca, (3) Dokumen tersebut juga membahas definisi, epidemiologi, manifestasi klinis, komplikasi, diagnosis dan penatalaksanaan asma.

Diunggah oleh

Amelia Amel
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan22 halaman

Panduan Lengkap Penyakit Asma

Dokumen tersebut membahas tentang penyakit asma. Ringkasannya adalah: (1) Asma adalah gangguan saluran napas yang menyebabkan penyempitan jalan napas, (2) Etiologi asma meliputi faktor genetik, alergen, olahraga, infeksi, stres dan perubahan cuaca, (3) Dokumen tersebut juga membahas definisi, epidemiologi, manifestasi klinis, komplikasi, diagnosis dan penatalaksanaan asma.

Diunggah oleh

Amelia Amel
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

DAFTAR ISI

Kata Pengantar.................................................................................................... i
Daftar Isi............................................................................................................. 1
BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang.........................................................................2.
1.2 Tujuan Makalah..................................................................................... 2

BAB II Isi Tinjauan Teori 4


2.1 Anatomi Asma .......................................................................4
2.2 Fisiologi singkat Asma ............................................................7
2.3 Konsep penyakit......................................................................8
2.3.1 Pengertian Asma............................................................8
2.3.2 Etiologi Asma...............................................................8
2.3.3 Klasifikasi Asma............................................................9
2.3.4 Patofisiologi Asma........................................................11
2.3.5 Pemeriksaan Fisik Asma................................................12
2.3.6 Pengobatan Asma.........................................................13
BAB III Penutup
3.1 Kesimpulan............................................................................. 27
Daftar Pustaka.....................................................................................29

1
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Asma adalah salah satu Penyakit saluran nafas kronik utama, yang mengenai
1-18% penduduk di seluruh dunia. Asma ditandai oleh keluhan respirasi, seperti
mengi, sesak, rasa berat di dada, dan/atau batuk serta hambatan aliran udara ekspirasi
yang variable. Variable disini dimaksudkan bahwa semua gejala dan bukti hambatan
aliran udara ekspirasi tersebut terjadi fluktuatif dalam hal waktu dan intensitasnya.
Variasi tersebut terjadi akibat rangsangan berbagai factor pencetus seperti aktivitas
fisik, allergen, iritan, perubahan cuaca, atau onfeksi virus.

Asma terbukti menurunkan kualitas hidup penderitanya. Dalam salah satu


laporan di Journal of Allergy and Clinical Immunology tahun 2003 dinyatakan bahwa
dari 3.207 kasus yang diteliti, 44-51% mengalami batuk malam dalam sebulan
terakhir. Bahkan 28,3% penderita mengaku terganggu tidurnya paling tidak sekali
dalam seminggu. Penderita yang mengaku mengalami keterbatasan dalam berekreasi
atau olahraga sebanyak 52,7%, aktivitas sosial 38%, aktivitas fisik 44,1%, cara hidup
37,1%, pemilihan karier 37,9%, dan pekerjaan rumah tangga 32,6%. Absen dari
sekolah maupun pekerjaan dalam 12 bulan terakhir dialami oleh 36,5% anak dan
26,5% orang dewasa. Selain itu, total biaya pengobatan untuk asma di USA sekitar 10
milyar dollar per tahun dengan pengeluaran terbesar untuk ruang emergensi dan
perawatan di rumah sakit. Oleh karena itu, terapi efektif untuk penderita asma berat
sangat dibutuhkan.

Asma adalah penyakit jalan napas obstruktif intermitten, reversibel dimana


trakea dan bronki berespons dalam secara hiperaktif terhadap stimulun tertentu. Asma
dimanifestasikan dengan penyempitan jalan napas, yang mengakibatkan dispnea,
batuk dan mengi. Tingkat penyempitan jalan napas dapat berubah baik secara spontan
atau karena terapi. Asma berbeda dari penyakit paru obstruktif, dalam hal bahwa asma
adalah proses reversibel. Jika asma dan bronkitis terjadi bersamaan, obstruksi yang
diakibatkan menjadi gabungan dan disebut Bronkitis Asmatik Kronik.

2
Asma dapat terjadi pada semua golongan usia, sekitar setengah dari kasus
terjadi pada anak – anak dan sepertiga lainnya terjadi sebelum usia 40 tahun. Meski
asma dapat berakibat fatal, lebih sering lagi, asma sangat menganggu, mempengaruhi
kehadiran di sekolah, pilihan pekerjaan, aktivitas fisik dan banyak aspek kehidupan
lainnya.

Kemajuan ilmu dan teknologi di belahan dunia ini tidak sepenuhnya diikut
dengan kemajuan penatalaksanaan asma, hal itu tampak dari data berbagai negara
yang menunjukan peningkatan kunjungan ke daruratan gawat ,rawat inap,
kesakitan ,dan bahkan kemayian karena [Link] argumentasi diketengahkan
seperti perbaikan kolektif data ,perbaikan diagnosis dan deteksi perburukan dan
sebagainya.

B. Rumusan Masalah
1. Definisi Penyakit asma ?
2. Etiologi penyakit asma ?
3. Epiddemiologi penyakit asma ?
4. Manifestasi klinis asma
5. Komplikasi penyakit asma ?
6. Penatalaksanaan penyakit asma
7. Pemeriksaan diagnostik penyakit asma ?
8. Patofisologi penyakit asma.

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi Penyakit asma
2. Untuk mengetahui Etiologi penyakit asma
3. Untuk mengetahui Epidemiologi penyakit asma
4. Untuk mengetahui Manifestasi klinis asma
5. Untuk mengetahui Komplikasi penyakit asma
6. Untuk mengetahui Penatalaksanaan penyakit asma
7. Untuk mengetahui Pemeriksaan diagnostik penyakit asma
8. Untuk mengetahui Patofisologi penyakit asma

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Asma

Asma merupakan gangguan radang kronik saluran napas. Saluran napas yang
mengalami radang kronik bersifat hiperresponsif sehingga apabila terangsang oleh
factor risiko tertentu, jalan napas menjadi tersumbat dan aliran udara terhambat
karena kontriksi bronkus, sumbatan mucus, dan meningkatnya proses radang
( Almazini, 2012)

Asma adalah suatu keadaan dimana saluran nafas mengalami penyempitan


karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan peradangan,
penyempitan ini bersifat sementara. Asma dapat terjadi pada siapa saja dan dapat
timbul disegala usia, tetapi umumnya asma lebih sering terjadi pada anak – anak usia
di bawah 5 tahun dan orang dewasa pada usia sekitar 30 tahunan ( Saheb, 2011 )

B. Etiologi

Lewis et al. (2000) tidak membagi asma secara spesifik. Menurut mereka
secara umum pemicu asma adalah :

1. Factor Predisposisi

a. Genetic
Factor yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum
diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan
penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita
penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat
mudah terkena penyakit Asma Bronkhial jika terpapar dengan factor
pencetus. Selainitu hipersensitivitas saluran pernapasannya juga bisa
diturunkan.

4
b. Prespitasi
1) Alergen
Dimana allergen dapat dibafi menjadi 3 jenis, yaitu :

a) Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan seperti debu,


bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi
b) Ingestan, yang masuk melalui mulut yaitu makanan (seperti
buah – buahan dan anggur yang mengandung sodium
metabisufide) dan obat – obatan ( seperti aspirin, epinefrin,
ACE – Inhibitor, kronolin dll)
c) Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit. Contoh :
perhiasan, logam dan jam tangan.

Pada beberapa orang yang menderita asma respon terhadap Ig E jelas


merupakan allergen utama yang berasal dari debu, serbuk tanaman atau bulu binatang.
Allergen ini menstimulasi reseptor Ig E pada sel mast sehingga pernapasan terhadap
factor pencetus allergen ini dapat mengakibatkan degranulasi sel mas. Degranulasi sel
mast seperti histamindan protease sehingga berakibat respon allergen berupa asma.

2. Olahraga

Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika


melakukan aktivitas jasmani atau olahraga yang berat. Serangan asma
karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai beraktifitas.
Asma dapat diinduksi oleh adanya kegiatan fisik atau Latihan yang
disebut sebagai Exercise Induced Asthma (EIA) yang biasanya terjadi
beberapa aasetelah latihannya, misalnya : jogging, aerobik, berjalan
cepat, ataupun naik tangga dan dikarakteristikkan oleh adanya
bronkospasme, napas pendek, batuk, dan wheezing. Penderita asma
seharusnya melakukan pemanasan selama 2 – 3 menit sebelum
Latihan.

3. Infeksi pada saluran nafas

5
Infeksi bakteri pada saluran napas kecuali sinusitis
mengakibatkan eksaserbasi pada asma. Infeksi ini menyebabkan
perubahan inflamasi pada system trakea bronkial dan mengubah
mekanisme mukosilia. Oleh karena itu terjadi peningkatan
hiperresponsif pada system bronkial
4. Stress
Stress/gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain
itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Penderita
diberikan motivasi untuk mengatasi masalah pribadinya, karena jika
stresnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati.
5. Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering
mempengaruhi Asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan
factor pemicu terjadinya serangan asma. Kadang – kadang serangan
berhubungan dengan musim, seperti musim hujan dan musim kemarau.

C. Epidemiologi Asma

Berdasarkan RISKESDAS 2013, pravelensi asma di Indonesia didapatkan


4,5% dari seluruh penduduk Indonesia. Asma menduduki peringkat pertama dari
aktegori prevalensi penyakit kronik tidak menular. Apabila di proyeksikan dengan
jmlah penduduk Indonesia pada tahun 2013 yang berjumlah lebih dari 248 juta jiwa,
maka jumlah pasien asma di Indonesia lebih ari 11 juta jiwa. Angka tersebut
merupakan jumlah yang sangat banyak untuk ditangani oleh dokter, khususnya
spesialis terkait yang kebanyakan terdistribusi di kota – kota besar.

D. Manifestasi Klinis

Gejala – gejala yang lazim muncul pada asma adalah batuk dispnea dan
mengi. Selain gejala di atas ada beberapa gejala yang menyertai diantaranya sebagai
berikut (Mubarak 2016;198):

1. Takipnea dan Orthopnea


2. Gelisah
3. Nyeri abdomen karena terlibat otot abdomen dalam pernapasan.

6
4. Kelelahan
5. Tidak toleran terhadap aktivitas seperti makan berjalan bahkan berbicara
6. Serangan biasanya bermula dengan batuk dan rasa sesak dalam adada
disertai pernafasan lambat
7. Ekspirasi selalu lebih susah dan Panjang disbanding isnpirasi
8. Sianosis skunder
9. Gerak – gerak retensi karbon dioksida, seperti berkeringat, takikardi dan
pelebaran tekanan nadi
10. Serangan dapat berlangsung dari 30 menit sampai beberapa jam dan dapat
hilang secara spontan

E. Komplikasi Asma

Adapun komplikasi yang dapat ditimbulkan karena penyakit asma menurut (Wahid &
Suparpto, 2013) yaitu :

1. Status Asmatikus, suatu keadaan darurat medis berupa serangan asma akut yang
berrsifat refrator terhadap pengobatan yang lazim dipakai
2. Atelectasis, ketidakmampuan paru berkembang dan mengempis
3. Hipoksemia
4. Pneumothoraks
5. Emfisema
6. Deformitas Thoraks
7. Gagal Jantung

F. Penatalaksanaan Asma

Adapun penatalaksanaan yang dapat dilakukan untuk pasien asma yaitu :

1. Prinsip umum dalam pengobatan asma :

a. Menghilangkan obstruksi jalan nafas


b. Menghindari factor yang bisa menimbulkan serangan asma
c. Menjelaskan kepada penderita dan keluarga mengenai penyakit asma dan
pengobatannya

7
2. Pengobatan pada asma

a. Pengobatan farmakologi

1) Bronkodilator, oabat yang melebarkan saluran nafas


2) Kromalin

Bukan bronkodilator tetapi obat pencegah serangan asma pada penderita


anak. Kromalin biasanya diberikan Bersama obat anti asma dan efeknya
baru terlihat setelah satu bulan

3) Ketolifen

Mempunyai efek pencegahan terhadap asma dan diberikan dalam dosis


dua kali 1mg/hari

4) Kortikosteroid hidrokortison

b. Pengobatan non farmakologi

1) Memeberikan penyuluhan terhadap orang tua


2) Menghindari factor pencetus
3) Fisoterapi nafas (senam asma)
4) Pemberian oksigen jika perlu (Wahid & Suprapto, 2013)

G. Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan penunjang pada pasien asma dapat dilakukan berdasarkan


manifestasi klinis yang terlihat, Riwayat, pemeriksaan fisik, dan tes
laboratorium (Sujono riyadi & Sukarmin, 2009). Adapun pemeriksaan
penunjang yang dilakukan adalah :

1. Tes fungsi paru

8
Menunjukan adanya obstruksi jalan nafas reversible, cara tepat diagnosis
asma adalah melihat respon pengobatan dengan bronodilator

2. Pemeriksaan radiologi

Pada waktu serangan menunjukkan gambaran hiperinflamasi paru yakni


radiolusen yang bertambah da peleburan rongga intercostalis, serta
diafgrama yang menurun.

3. Pemeriksaan tes kulit

Dilakukan untuk mencari factor alergen yang dapat bereaksi positif pada
asma secara spesifik

4. Elektrokardiogafi
5. Scanning Paru

Melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa redistribusi selama serangan asma


tidak menyeluruh pada paru – paru (Wahid & Supapto, 2013)

H. Patofisiologi

9
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Asma adalah suatu keadaan di mana saluran nafas mengalami penyempitan
hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan peradangan,
penyempitan ini bersifat sementara. Asma dapat terjadi pada siapa saja dan dapat
timbul disegala usia, teatapi umumnya asma lebih sering terjadi pada anak – anak usia
di bawah 5 tahun dan orang dewasa pada usia sekitar 30 tahunan.
Kita dapat melakukan pencegahan asma antara lain, menjaga Kesehatan,
menjaga kebersihan lingkungan, menghindarkanfaktor pencetus seragan asma.
Menghindari allergen pada bayi dianjurkan dalam upaya menghindari sensitifitas atau
pencegahan primer.

B. Saran
Berdasarkan wacan diatas kita dapat menyadari betapa pentingnya
mengetahui tanda dan gejala penyakit asma pada anak. Maka sebaiknya kita harus
menjaga Kesehatan supaya terhindar dari penyakit asma tersebut.

10
DAFTAR PUSTAKA

Ida Bagus Ngurah. ( 2016 ). Asthma Meeting : Comprehenssive Approach of


Asthma. Denpasar : PT. Percetakan Bali

Almazini, P. (2016). Bronchial Thermoplasty pilihan terapi Baru untuk


asma BeratVol. 39 : 63-64. Jakarta: FK Universitas Indonesia

Behrman, dkk. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Edisi 15. Jakarta : EGC

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia .[Link] ,2004

11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22

Anda mungkin juga menyukai